Falsafah Agung Leluhur Nusantara

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Membicarakan tentang betapa menakjubkannya Nusantara maka takkan ada habisnya. Terlebih mengenai siapakah para leluhur kita dulu, yang dengan segala kemampuannya telah mewariskan berbagai falsafah hidup yang luar biasa. Dan sebagai generasi sekarang, maka tiada alasan bagi kita untuk tidak menjadikannya sebagai pedoman hidup. Karena apa yang telah mereka wariskan itu sangat bagus dan akan berlaku sepanjang zaman.

Nah, dari sekian banyak falsafah hidup para leluhur Nusantara, maka ada yang sangat menarik untuk kita bahas kali ini. Kalimatnya tidak asing lagi bagi kita semua, yaitu “Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo“. Lantas apa makna yang terkandung di dalamnya? Inilah yang akan kita bahas dalam kesempatan ini.

Ya. Secara bahasa, jika diartikan secara bebas maka falsafah di atas berarti:

1) Gemah ripah loh jinawi : kekayaan alam yang berlimpah, yang semestinya mampu membawa kemakmuran, kesejahteraan dan kedamaian bagi rakyat seutuhnya.

2) Toto tentrem karto raharjo : dalam keadaan yang tertata dan tenteram dikarenakan telah memanfaatkan kekayaan alam yang berlimpah secara benar.

Jadi falsafah di atas adalah sebuah ungkapan yang cukup sederhana namun mempunyai makna yang luar biasa. Kalimat yang seharusnya bisa mengantarkan pada kesadaran akan kekayaan potensi (SDA, SDM) yang dimiliki oleh sebuah bangsa. Selanjutnya bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

Tapi, untuk bisa memahami apa dan bagaimana caranya bisa terwujud, maka tidak hanya sebatas penjelasan itu saja. Harus ada penggalian makna yang lebih mendalam. Dan untuk bisa memahami arti serta makna sebenarnya dari falsafah tersebut, mari kita bahas dalam bentuk perkata. Sebab para leluhur kita dulu memang senang menyampaikan ilmu pengetahuan dan wasiatnya itu dalam bentuk simbol-simbol kata. Ini menunjukkan betapa dalamnya pemahaman mereka akan arti kehidupan dunia ini.

Dan kalimat falsafah di atas memang tidak bisa dipahami secara harfiah saja, atau cukup dengan sekedar mengetahui terjemahannya saja, karena memang bukan hanya sebatas itu saja maksudnya. Terlebih untuk bisa mewujudkan apa yang diinginkan dalam kalimat itu, siapapun harus terlebih dulu memahami setiap makna yang tersembunyi dibalik kata-kata yang ada. Karena itu mari ikuti uraian berikut ini:

1. Gemah = Wong kang lumaku dagang layar rinten dalu datan ono pedhote labet tan ono sangsayaning margi.
Artinya: Perdagangan yang melalui darat maupun laut (telah) lancar aman tanpa ada gangguan apapun dalam perjalanannya. Ini berarti negara tersebut bisa menjamin proses jual beli, atau urusan dan transaksi apapun, dapat berjalan dengan aman dan lancar. Dan negara memang dalam keadaan aman dan terkendali, tak ada keributan, perampokan, apalagi peperangan.

2. Ripah = Janma manca kang sami gegriya ing salebeting praja jejel apipit aben cukit tepung taritis papan wiyar katingal rupak saking arjaning nagari.
Artinya: Sejak dulu urbanisasi antar wilayah atau negara sudah ada, mungkin juga para imigran atau wisatawan manca negara sudah banyak berdatangan di negara yang dimaksud. Sehingga digambarkan sebagai kawasan yang ramai tetapi kedamaian tetap terjaga. Dan alasan kenapa banyak orang yang bermigrasi ke negeri tersebut tentunya oleh sebab kemakmuran yang ada di sana. Alias ada harapan yang besar untuk bisa hidup lebih baik.

3. Loh = Tulus kang sarwa tinandur.
Artinya: Apa yang ditanam pasti tumbuh. Ini berarti negara tersebut sudah terkenal dengan kondisi yang subur makmur dan berlimpah kekayaannya.

4. Jinawi = Murah kang sarwa tinuku.
Artinya: Apa yang diperjual-belikan terjangkau oleh masarakat. Ini berarti sudah berbanding lurus dengan kemampuan (daya beli) masyarakatnya. Lagi-lagi karena penduduknya telah hidup serba kecukupan dalam hal sandang, pangan, dan papan-nya.

5. Toto tentrem = Kahanan sing aman amargo ditoto kanthi apik.
Artinya: Keadaan yang tenteram lantaran sudah tertata dengan sangat baik. Ini berarti semua SDA dan SDM-nya telah dengan penuh kesadaran bisa dikelola dengan baik dan hanya demi kesejahteraan bersama, bukan untuk segelintir orang saja. Sehingga dari tingkat pusat sampai ke daerah, semuanya sudah tertata rapi dan memberikan keuntungan yang berlimpah secara adil.

6. Karto = Kawula ing padhusunan padha tentrem atine, mungkul pangolahing tetanen. Ingon-ingon kebo, sapi, pitik, iwen datan ana cinancangan, rahina aglar ing pangonan yen bengi padha mulih marang kandhange dhewe-dhewe.
Artinya: Suasana orang di dusun/desa sangat aman, damai, tenang dan tenteram. Para petani hidup rukun, hewan peliharaan juga tidak ada yang dikebat (diikat), sebab kalau siang bebas merumput namun malam harinya akan pulang ke kandang masing-masing tanpa ada yang hilang satu ekorpun. Ini berarti semua yang ada dan terjadi di negara tersebut telah sesuai dengan harapan, dan tetap dalam kondisi yang aman dan terkendali. Tidak ada lagi masalah kriminal, baik pidana maupun yang perdata.

7. Raharjo = Tebih ing parangmuka, dene para mantri bupati padha kontap kautamane, wicaksana limpad ing kawruh putus marang wajib pangerehing praja, tansah ambudi wewahe kaluhuraning nata.
Artinya: Tidak ada kejahatan; penipuan, pencurian, perampokan apalagi korupsi, lantaran para pegawai dan pejabat negara selain jujur dan cerdas, mereka juga kompak hanya demi satu kata yaitu mengabdi demi kemajuan serta keluhuran negara dan bangsanya. Ini berarti tidak ada lagi KKN dan perilaku menyimpang lainnya di negara tersebut. Semuanya dimulai dari para pembesar dan pemimpinnya sendiri.

Ya. Itulah semboyan yang tak asing lagi bagi kita saat ini. Sering didengungkan, tapi sayang tak banyak yang benar-benar memahami makna dan maksud yang ada dibalik kalimat itu. Padahal hanya dengan memahami dulu makna yang ada di setiap kata dalam falsafah tersebut barulah kita bisa mewujudkan apa yang diinginkannya, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dan atas uraian di atas, kini bisa dipahami bahwa untuk bisa mencapai apa yang dimaksudkan dalam falsafah tersebut, maka sebuah negara itu (khususnya Nusantara) harus bisa menerapkan ke tujuh syarat di atas. Tak ada cara lain, karena tanpa hal itu maka bisa dipastikan takkan pernah berhasil. Sementara kehidupan di negeri tersebut justru akan terus rusak dan menderita.

Selain itu, para leluhur kita juga sudah mengisyaratkan tentang ciri-ciri negeri yang bisa dikatakan sebagai negeri yang “Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo“, atau setidaknya negeri yang memiliki modal untuk bisa mewujudkan cita-cita dari falsafah tersebut. Hal ini bahkan terdapat dalam pakem dunia pewayangan, tepatnya pada Janturan (deskripsi tentang kondisi sebuah negara yang dijadikan pembuka dalam cerita wayang) lakon Nagari Ngamarta atau Amarta.

Adapun di antara ciri-ciri tersebut yaitu:

1. Satus tan angsal kalih.
Artinya: Dalam seratus (semua negara) hanya ada dua yang istimewa. Ini berarti negara tersebut haruslah minimal termasuk di antara dua negara yang terbaik dalam segala bidang di kawasannya.

2. Sewu datan antuk sadosa.
Artinya: Dalam seribu belum tentu akan mendapatkan sepuluh. Ini berarti negara tersebut haruslah masuk ke dalam jajaran 10 negara terbaik, terkaya, dan teraman di seluruh dunia.

3. Panjang = Dawa pocapane.
Artinya: Panjang atau banyak julukannya. Ini berarti negara tersebut sejak dulu kala sudah memiliki nama julukannya. Di sini harus dalam konotasi yang baik dan luar biasa. Nah, ternyata Nusantara termasuk dalam kategori ini, sebab ada banyak gelar yang pernah disematkan seperti Eden of the East, Zamrut Khatulistiwa, Negara Bahari, Negara Maritim, Negara Agraris, dll.

4. Punjung = Luhur kawibawane.
Artinya: Luhur dan berwibawa. Ini berarti negara tersebut memiliki kewibawaan yang tinggi dan disegani oleh negara-negara lain. Tak ada yang berani mengganggu atau meremehkan, sedangkan penduduknya hidup dalam akhlak yang mulia.

5. Pasir = Samodra. Nagari kang kapit Benawi Agung/Samodra laya.
Artinya: Negara yang diapit oleh beberapa lautan, seperti Samudera Hindia, Samudera Pasifik, Laut China Selatan, dll. Ini berarti negara tersebut terletak di tempat yang sangat strategis untuk hal apapun, khususnya dalam urusan perdagangan internasional. Dalam hal ini Nusantara pun telah memenuhi syarat.

6. Wukir = Gunung. Nagari kang ngungkuraken pagunungan, ngeringaken pasabinan nengenaken benawi ngayunaken bandharan ageng.
Artinya: Negara yang membelakangi pegunungan atau banyak berdiri gunung-gunung di sana sebagai modal kejayaannya, dan warganya sangat menghormati kerja keras demi mencapai tujuan yang lebih besar. Ini berarti di negara tersebut segala kekayaan alamnya telah berhasil dikelola dengan baik demi kemakmuran penduduk dan negaranya. Rakyat dan pemimpinnya kompak dan saling bekerjasama demi mewujudkan kesejahteraan bersama.

Wahai saudaraku. Dari semua uraian di atas, pertanyaannya kini adalah bagaimana semua itu bisa terwujud? Dan apakah ada yang sudah berhasil mewujudkannya kini, khususnya di Nusantara? Hal ini bukan berarti tak mungkin, karena dulu para leluhur kita pernah membuktikannya. Di antaranya pada masa kerajaan Attalani, Matterama, Migdala, Syahala, dan Astaniya. Semuanya telah hidup dalam kemakmuran dan penuh kesejahteraan. Suatu keadaan yang di masa kita sekarang menjadi sangat langka, bahkan tak ada.

Dan mengapa leluhur kita mewariskan kalimat falsafah itu kepada kita sekarang? Itu dikarenakan mereka telah melihat ke masa lalu tentang betapa hebatnya peradaban di negeri ini, sekaligus diizinkan untuk bisa melihat ke masa depan bahwa keturunan mereka nanti memiliki potensi yang sama untuk bangkit dan berjaya. Tinggal bagaimana sikap pribadi dari setiap orangnya saja, khususnya para pemimpin, demi terwujudnya kebangkitan peradaban Nusantara yang sesungguhnya.

Semoga tulisan ini tetap menambah wawasan, menjadi inspirasi, dan tentunya bisa bermanfaat. Rahayu.. 🙏

Jambi, 24 Juni 2019
Harunata-Ra

(Disarikan dari berbagai sumber dan diskusi)

Iklan

11 respons untuk ‘Falsafah Agung Leluhur Nusantara

    Asyifa Wahida said:
    Juni 25, 2019 pukul 8:50 am

    Matur suwun kagem pelejaran nya yg sngat berharga dn sangat langka ini enggih mas ..
    mugi2 bangsa/negara kita bisa mnjadi sperti yg leluhur kita harapkn ….bhkn kl bisa mnjadi lebih hebat dr harapan para leluhur kita …
    Dn mugi2 dngn mmbc pelajaran panjenengan niki para generasi terakhir bangsa/negara ini mnjadi sadar sesadar2nya siapaa jati diri mereka yg sesungguhnya…aamiin ya rabbal alamiin

      Harunata-Ra responded:
      Juni 26, 2019 pukul 4:04 am

      Nggih mbak Asyifa, sami2lah.. Nuwun juga karena masih mau berkunjung.. Moga ttp bermanfaat.. 😊🙏

      Aamiin.. Semoga begitu mbak.. Kan bisa jadi lebih baik dunia ini..

        Asyifa Wahida said:
        Juni 26, 2019 pukul 10:15 am

        Sami2 mas,insyaallah akan selalu berkunjung dn sangat bermanfaat Untuk kita Semua khususnya kulo mas ….
        Insyaallah akan selalu setia menanti ilmu2 panjenengan disisa waktu yg terakhir ini mas

        Enggih mas bukn hny lebih baik namun jg lebih berwarna …

        Semangat terus dlam berkarya enggih mas …mugi sllu sehat dn sllu bahagia aamiin

        Harunata-Ra responded:
        Juni 27, 2019 pukul 2:29 am

        Aamiin.. semoga ttp begitu.. 🙂
        Nuwun utk dukungannya dan doanya mbak.. begitu juga untukmu.. 🙂

    Kuntidewi said:
    Juni 27, 2019 pukul 2:33 am

    Mas……….😍😍😇

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    Juni 29, 2019 pukul 9:43 am

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

    Maulana said:
    Juli 2, 2019 pukul 7:46 am

    Cie cie cie mas oedi ada penggemar berat alias admirer..tuh mbk kunti dewi mw curcol😍😍

      Harunata-Ra responded:
      Juli 15, 2019 pukul 5:56 am

      Apaan sih mas Maulana?? 🙂

        Maulana said:
        Juli 16, 2019 pukul 12:56 am

        Ahahahaha😋😋😋

      Kuntidewi said:
      Juli 16, 2019 pukul 1:24 am

      Maaf ya mas Maulana…..
      Sy ini bukanlah anak kamaren sore yg kebanyakan lebay dn omong kosong gak jelas spt kebanyakan anak muda jaman sekarang. Biasa aja lah mas Maulana, biar tdk menimbulkan kesalahpahaman yg tdk perlu dn membuat renggang hubungan silaturahmi yg sdh terjalin baik ini. Siapa lah sy ini mau curcol sm mas oedi…., Sy di sini bukan siapa-siapa, belajarlah untuk bs bersikap bijak dlm mengkaji dn menilai sesuatu dg baik dn benar mas maulana. Sehingga baik tdk hny buat mas maulana kususnya ttpi jg buat semuanya.

    Kuntidewi said:
    Juli 16, 2019 pukul 2:29 am

    Buat mas Maulana ….,
    Terimakasih bnyak sdh menulis kata – kata spt itu ttg sy , yg kata mas Maulana sy penggemar berat nya mas oedi.
    Yg perlu mas maulana ketahui adl bhw mas oedi itu orangnya tdk penting ada penggemarnya ato tdk , ada yg mau menggemari sosok dn dirinya ato tdk , krn sy yakin mas oedi bukanlah orang yg spt itu. yg terpenting di sini adl bhw pesan yg di sampaikan oleh mas oedi dlm artikel2 nya ini bs anda terima dn di jadikan pengingat bagi siapa sj yg mau menerimanya. Jd mas maulana …..mari…kita bersama-sama merekatkan lg tali silaturahmi kita sehingga tercipta hubungan yg lbh harmonis lg , dn tolong tdk usah menuliskan kata-kata yg tdk penting spt itu lg ya……saudaraku……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s