Wasiat Para Bijak Untuk Kesatria

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Dalam mengarungi kehidupan ini, sebagai makhluk yang lemah dan fana kita perlu diingatkan, bahkan harus sengaja mengingatkan diri kita sendiri. Tujuannya agar tidak mudah tergelincir dalam kesalahan dan kesesatan. Dan seandainya kita mau terus bersikap mawas diri dan introspeksi diri, maka keselamatan dan kebahagiaan pun bisa didapatkan, di dunia ataupun di akherat nanti.

Nah, untuk lebih cepat mendapatkan hikmah, kali ini kami sampaikan beberapa wasiat yang pernah diberikan oleh para Nabi, Begawan, dan Bhatara-Bhatari. Pesan dan nasehat itu telah disampaikan kepada orang-orang pilihan, para kesatria dan kesatriawati, khususnya sebelum mereka menjalankan tugas utamanya di Bumi. Dan sebenarnya bisa juga dijadikan pedoman hidup bagi kita sekarang.

Adapun di antaranya sebagai berikut:

1. Wasiat Nabi Syis AS kepada Wirasa yang hidup pada masa kehidupan kaum Nobala (kaum yang hidup di periode zaman ketiga: Dirganta-Ra). Yaitu:

Wahai ananda. Hidup ini adalah perjalanan, dan perjalanan itu dimulai dari diri kita sendiri. Diri kita sendiri bermula dari DIRI yang ada di dalam diri. Temukanlah hakekat yang tersembunyi darinya. Karena Alam Semesta beserta keindahan dan keganjilannya itu hanyalah sebagai saksi pencarian. Sedangkan kehidupan ini adalah jalan untuk meraih kehidupan yang hakiki. Maka tenangkanlah hatimu dari urusan kehendak. Dan sebelum bisa meraih kedamaian, maka kenalilah Tuhanmu lebih jelas dengan mengenali diri sejatimu dulu dengan benar.

2. Wasiat Nabi Khidir AS kepada Wirasa yang hidup pada masa kehidupan kaum Nobala (kaum yang hidup di periode zaman ketiga: Dirganta-Ra). Yaitu:

Ananda. Bersyukurlah hanya kepada-NYA dengan sebenar-benarnya rasa syukur. Tak akan ada artinya hidup ini tanpa hal itu, karena bersyukur (syakur) adalah jalan untuk bisa berserah diri (tawakal). Sedangkan dengan berserah diri, siapapun itu baru akan mampu bersikap rendah hati (tawadhuk). Satu hal yang begitu mulia dan menjadi tujuan utama dari para hamba-NYA yang setia.

Dan jalankanlah tugasmu untuk mengingatkan penduduk Bumi dengan hati yang tulus-ikhlas. Sebagaimana kami (para Nabi), kau juga akan merasakan penolakan yang tidak sedikit. Jangan bersedih, dan tenangkanlah jiwamu karena semua itu adalah bagian dari kehidupan ini. Lakukanlah apa yang bisa di lakukan. Dan mohonlah petunjuk dari-NYA, karena hanya dengan begitulah kebaikan akan terus menyertaimu

3. Wasiat Nabi Syis AS kepada Kaen Urama yang hidup pada masa kerajaan Kaliyata dan kota Hilmatiram, yang ada di periode zaman ketiga (Dirganta-Ra). Yaitu:

Pergilah kemana cinta memanggilmu, tetapi waspadalah! karena ujiannya akan terasa berat dan menyiksa. Kau harus tekun dan sabar diri. Jika tidak, maka nasib buruk dan penyesalan besar akan terus kau rasakan

Lalu, pada suatu ketika ia (Kaen) bertanya kepada sang Nabi. Katanya: “Wahai guru, jelaskan kepadaku tentang arti cinta yang sesungguhnya? Mengapa ia begitu hebatnya, hingga tak ada yang kuasa menghindarinya?

Dijawab oleh sang guru dengan berkata: “Cinta itu adalah cinta. Dan hanya bisa dipahami oleh cinta yang sejati

Lantas bagaimana pula cinta yang sejati itu? Jelaskanlah kepadaku wahai guru yang bijak” Tanya Kaen lagi.

Jika engkau bertanya tentang arti cinta yang sejati, itu sangatlah luas maknanya. Hanya sebagian saja yang bisa dijelaskan. Dan dari yang sedikit itu, maka akan bisa lebih dipahami salah satunya dengan cara membangkitkan Energi Ilahi yang ada di dalam dirimu” Jawab sang Nabi.

Mendengar jawaban itu, Kaen pun langsung penasaran. Ia segera meminta kepada sang Nabi dengan berkata: “Sudilah kiranya guru menjelaskan tentang Energi Ilahi itu? Apakah bisa dikuasai oleh seseorang?

Sang Nabi pun berkata: “Wahai ananda. Energi Ilahi itu adalah samudera yang sangat luas di dalam dirimu, yang bisa mengamuk atau menenangkan tanpa ada yang mampu menghalanginya. Kemampuan ini akan mengumpulkan “sungai-sungai yang mengalir tenang dari Langit” dan memberikan kehidupan yang istimewa di Bumi.

Tapi berbeda dengan energi yang ada sejak saat kita dilahirkan, atau energi alam pada umumnya, maka Energi Ilahi ini harus dirasakan perlahan setelah waktu yang lama. Tuhan sudah memberikannya di dalam diri setiap insan, tapi ia harus memiliki hati yang tenang dan pikiran yang jernih untuk bisa membangkitkannya.

Dan untuk bisa mewujudkan itu semua, maka siapapun harus bisa memahami setidaknya ke 75 jenis energi yang ada. Selain itu, ke 75 macam energi itu harus bisa dibangkitkan lalu disatukan di dalam diri seseorang satu persatu. Siapapun baru akan memahami tentang arti cinta yang sejati itu hanya ketika ia sudah berhasil membangkitkan ke 75 jenis energi tersebut. Tapi hanya dengan cinta yang sejati pula, maka semuanya itu baru bisa dibangkitkan.

Sehingga ketika seseorang telah mendalami ke 75 macam energi itu, dengan sendirinya ia akan memahami apa itu Energi Cinta yang sejati, kemudian bisa memadukannya dengan benar di dalam dirinya sendiri. Dan jika hal ini sampai berhasil di lakukan, maka Energi Ilahi yang menjadi tujuan utama bisa didapatkan. Ia akan muncul dan memberikan keuntungan luar biasa bagi yang bersangkutan. Apakah engkau ingin mempelajarinya?

Dijawab oleh Kaen dengan berkata: “Atas izin Tuhan dan perkenan dari sang guru, ananda siap berusaha. Ajarilah diri ini, sesulit apapun itu, agar bisa memahaminya

Lalu, suatu ketika pada waktu sedang berbincang-bincang dengan gurunya, Kaen pun berkata: “Terlalu banyak hal luar biasa di dunia ini yang layak dilihat dengan mata sendiri. Ananda takut tak bisa melihat semuanya dalam seluruh masa hidup yang singkat ini. Beberapa tahun lalu ananda sudah mengembara dan akhirnya sampai ke negeri tersembunyi ini secara tak sengaja. Sejak saat itu ananda baru menyadari tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Wahai guru, tapi apakah tujuan hidup dari setiap insan di dunia ini sebenarnya?

Dengan penuh kesadaran bisa mengenali siapakah dirinya sendiri dan siapa pula Tuhan yang sebenarnya. Itulah tujuan yang seharusnya. Karena kebersatuan itu adalah hal yang paling indah, damai dan membahagiakan” Jawab sang guru.

Mendengar itu Kaen langsung meneteskan airmatanya. Ia merasa bahwa masih terlalu banyak yang tidak ia ketahui meskipun telah dibimbing oleh seorang Nabi. Itu sebenarnya bukan karena ia benar-benar tidak tahu, melainkan karena sudah benar-benar tahu siapakah dirinya sendiri (sadar diri). Dan ketika melihat sikap muridnya yang seperti itu, sang Nabi pun bersabda: “Tetaplah engkau rendah hati (tawadhuk) anakku. Dan jangan pernah untuk tidak berserah diri (tawakal) serta pandai-pandailah bersyukur kepada-NYA (syakur). Itulah tiga kunci keselamatan hidup, yang jika dijalankan dengan tulus akan mendatangkan keberuntungan. Dan bebaskanlah dirimu, jadilah sosok yang merdeka seutuhnya. Karena banyak yang terus membawa penjara dalam hidupnya tanpa ia sadari

Demikianlah pesan dan nasehat dari Nabi Syis AS kepada muridnya, Kaen. Semuanya didengarkan dengan sungguh-sungguh dan dijalankan oleh sang pemuda dengan tekun dan penuh kesabaran. Hal ini menjadi sesuatu yang menakjubkan dan membawa pada kedamaian yang hakiki. Inilah bekal hidup yang ia bawa sampai kapanpun juga.

O.. Sekian lama diriku mencari sesuatu untuk menemukan damai. Sekian lama pula aku berusaha untuk bisa melihat lebih jelas ke dalam hati agar dapat menemukan diriku sendiri. Ternyata kini telah ku dapatkan dengan nyata. Sungguh hakekat itu adalah dekat di dalam diri kita sendiri” Begitulah akhirnya Kaen berkata dengan perasaan yang campur aduk. Ia telah mendapatkan jawaban yang selama ini belum ditemukan.

4. Wasiat Bhatari Milaya kepada seorang kesatriawati yang bernama Amanta (ia hidup sezaman dengan Kaen Urama, bahkan menjadi istrinya). Katanya:

Wahai ananda. Siapalah diri kita ini selain makhluk yang tak berdaya dihadapan-NYA. Tak ada yang perlu dibanggakan atas apapun yang telah kita raih, atas apapun kedudukan dan ilmu pengetahuan kita. Semuanya hanya atas izin dan kehendak-NYA saja, bukan lantaran usaha atau kemauan kita. Tetaplah sebagai hamba yang rendah hati dan mengenal dirinya sendiri. Teruslah berusaha untuk lebih kenal lagi, sampai tak ada lagi yang bisa dikenali selain Diri-NYA. Karena hanya DIA-lah Yang Esa dan Berkuasa. DIA-lah segalanya, tapi segalanya itu bukanlah DIA

5. Wasiat Nabi Syis AS kepada Hamulani yang hidup di masa kota Syinastra, pada periode zaman ketiga (Dirganta-Ra). Yaitu:
Ketika memberikan peti Samiyah (peti yang berisi lima buah pusaka) itu, sang Nabi sempat berpesan dengan berkata: “Wahai ananda Hamulani. Berjuanglah! Karena ada masanya kalian yang akan memimpin dan membawa kebaikan bagi umat Manusia. Tugasku hanya menjaga pusaka ini untuk digunakan dengan bijaksana dan penuh rasa tanggungjawab. Pusaka adalah alat dan nilai budaya suatu bangsa, bukan sesuatu yang wajib di agungkan apalagi di sembah. Pusaka ini terkumpul atas kehendak-NYA. Di antarkan dan diserahkan hanya kepada yang berhak lagi pantas

6. Wasiat Nabi Khidir AS kepada Hirusana yang hidup di masa kota Akhram, pada periode zaman ke empat (Swarganta-Ra). Yaitu:

Ananda. Sudah menjadi suratan dari-NYA bahwa kehidupan dunia kini harus berada di tepi jurang kehancuran. Meskipun terlihat aman dan makmur, tapi dimana-mana Manusia sudah menyerah pada kebatilan. Mereka tunduk dan menjadi hamba kegelapan, padahal itu yang seharusnya dihindari. Dan apa yang kau rasakan kini tidak salah namun juga tidak benar. Karena harus ada yang tetap berjuang untuk mengubah keadaan. Sebagai seorang pemuda, sudah menjadi kewajibanmu untuk terus mencari ilmu dan meningkatkan kemampuan diri, lahir dan batin. Hanya dengan begitu, kau layak disebut sebagai seorang hamba Tuhan. Dan hamba Tuhan yang sejati itu adalah dia yang terus mencari ilmu dan mau berjuang dalam menegakkan kebenaran tanpa ragu

Mendengar penjelasan itu sang pemuda hanya bisa terdiam dan tertunduk malu. Ia tak berkata apa-apa lagi, sampai akhirnya sang Nabi yang kembali berbicara:

Wahai ananda. Pada masa dahulu, perlahan-lahan Manusia akan menjadi tua dan akhirnya memilih untuk mengakhiri kehidupan duniawinya jika sudah penat atau merasa cukup. Caranya dengan berbaring untuk wafat atau menempuh jalan pelepasan jiwa (moksa). Tapi akhirnya, dan sampai kini, dimana-mana tumbuh subur kegilaan dan penyakit pun datang menyerang. Sementara Manusia takut mati dan tak pernah siap menghadapinya. Mereka terus larut dalam kegelapan, sampai tak pernah merasakan indahnya cahaya yang sesungguhnya. Banyak yang telah tertipu. Dan pada masa-masa yang lama, mereka sering mengangkat senjata, berperang dan saling bunuh untuk masalah yang remeh temeh sekalipun. Begitu mudahnya mereka naik pitam, senang berdebat, dan tak lupa pula sering berdusta dan menyebarkan fitnah. Semuanya demi hasrat keinginan yang harus selalu dipenuhi. Apalagi kalau bukan tentang harta dan tahta.

Tapi suatu saat nanti akan ada perubahan besar. Semua tatanan yang keliru akan dikembalikan pada yang benar dan sesuai dengan hukum dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Yang tak mungkin bisa menjadi mungkin, dan yang tak dikira justru akan terjadi. Siapapun yang menentangnya akan dikalahkan

Di waktu yang lain sang Nabi memberikan wejangan yang lainnya. Salah satunya ketika beliau ditanya mengenai kekuatan Ilahi, yaitu:

Wahai guru. Apakah kekuatan Ilahi itu? Jelaskanlah dengan cara yang bisa ananda pahami” tanya Hiru.

Sang Nabi pun menjawab: “Ananda. Ketahuilah bahwa apapun sistem dan bentuk pola yang ada di dunia ini adalah kekuatan Ilahi. Begitu pula dengan yang kasar dan halus, yang nyata dan goib, yang besar dan kecil, yang jauh dan dekat, yang kuat dan lemah. Itu adalah aturan dasar, dan jika kita bisa meresapinya dengan baik lalu menampungnya di hati secara benar, kita bisa mengendalikannya dengan menggunakan medan/pusat kekuatan

Bukankah itu sangat sulit dan butuh ketekunan yang tidak biasa? Apa yang bisa membuat seseorang mampu menggapainya wahai guru?” tanya Hiru lagi.

Jawaban atas pertanyaan itu terletak pada dua alasan yang membuat seseorang tetap kuat dan bisa mencapai tujuannya. Pertama adalah cinta sejati, dan yang kedua yaitu niat yang suci dalam keingintahuan” Jawab sang Nabi.

7. Wasiat Nabi Usmal AS kepada Kasorai yang hidup di masa kerajaan Najase atau yang kemudian berubah nama menjadi Astaliyum. Mereka hidup di pertengahan zaman kelima (Dwipanta-Ra). Yaitu:

Wahai ananda. Diri Manusia itu diciptakan oleh DIRI Yang Maha Pencipta. DIA berkuasa dalam segala hal, bahkan tak perlu berkuasa karena DIA-lah Yang Tunggal. Sehingga carilah jalan hidup yang bisa mengantarkan dirimu menuju kebenaran yang sejati (yang universal). Teruslah mencari, karena kebenaran yang sejati itu ada ragam bentuknya. Dan jika engkau dapat menemukan sebanyak yang kau bisa, dengan begitu dirimu akan semakin dekat kepada-NYA. Satu hal yang paling utama bagi setiap pribadi jika ia menyadarinya.

Adapun hakekat Tuhan itu adalah sangat luas dan tak terbatas. DIA sangat agung dan tanpa cela. Makhluklah yang sering mengada-ada tentang sifat-NYA dan mengkerdilkan DIRI-NYA menjadi sebatas apa yang ia ketahui saja. Bahkan tak sedikit yang menjadikan Tuhan itu hanya sebatas keinginan dan kebutuhannya semata. Disadari atau tidak, mereka terus menghina Tuhan dengan sikap bodohnya itu. Sementara Tuhan tak terpengaruh atau berubah karena anggapan atau perbuatan dari makhluk-NYA.

Untuk itu, temukanlah hakekat Tuhanmu dengan mencarinya di dalam dirimu sendiri. DIA ada dan selalu ada di sini, di sana, di sisimu, bahkan di hati dan pikiranmu. Dan engkau sejatinya adalah percikan dari Cahaya Ilahi, yang suatu saat nanti bisa kembali kepada-NYA. Engkau berasal dari-NYA, karena DIA-lah sumber dari segala kehidupan. Dan ketika seseorang mati, maka Ruh dan Jiwanya akan tetap hidup, abadi. Sementara jasadnya lalu berubah menjadi lima unsur, yaitu alpah (zat cair), ratiwi (zat padat), baiyu (gas), tejah (suhu), dan akusa (ether). Dari kelima unsur inilah, bisa dikatakan pula bahwa sebenarnya jasadiah seorang makhluk itu pun tetap kembali kepada-NYA. Hanya saja memang harus melalui perantara alam semesta (yang juga akan kembali kepada-NYA).

Dan kosongkanlah dirimu dari setiap kehendak, keberadaan, dan prasangka. Lalu hanya dengan cara ber-bhakti, melakukan pengabdian, dan cinta yang murni kepada Tuhan sajalah engkau akan mendapatkan keselamatan. Dan keselamatan itu akan mengantarkan dirimu pada kebahagiaan yang sempurna. Itulah kehidupan yang sejati.

8. Wasiat Bhatara Aldirasa untuk Raja Gumadha yang hidup sezaman dengan Kasorai. Yaitu:

Wahai raja, tenangkanlah hatimu dan jangan berputus asa dengan karunia Tuhan. Karena akan tiba waktunya seorang pemuda yang terpilih muncul. Dia adalah seorang kesatria yang tak terduga namun bisa menegakkan kebenaran di Bumi. Bersamanya kesadaran rohani orang-orang yang masih hidup pada saat itu akan dibangkitkan, dan akan menjadi sebening kristal. Orang-orang yang dibangkitkan kesadaran rohaninya itu akan menjadi benih-benih Manusia, dan akan menurunkan ras Manusia yang mengikuti aturan Ilahi pada zaman Sidya, zaman kemurnian.”

9. Wasiat Begawan Mirata kepada Arsal yang hidup di masa kerajaan Inhava, yang berlangsung di periode zaman ke lima (Dwipanta-Ra), lebih tepatnya di masa akhir zaman tersebut. Yaitu:

Wahai ananda. Bukalah hatimu untuk menerima kebenaran yang sejati dan abadi. Dimulai dengan mencapai kesadaran bahwa hanya dengan kesadaran diri yang tinggi maka setiap pribadi itu akan selalu (berada) dekat dengan Yang Maha Esa, baik di dunia ataupun di akherat nanti. Dia akan mengenali siapakah dirinya sendiri dan siapa pula Tuhan yang sesungguhnya. Dan Tuhan itu memang hanya ada satu, tidak ada yang kedua. DIA hanya satu tapi banyak yang menyebutnya dengan berbagai nama. DIA pun melebihi segalanya, Maha Besar dan Luas, sungguh tak terbatas. DIA-lah Yang Maha Kuasa dan setiap kehendak-NYA pasti terwujud, karena hanya DIA pula Sang Pencipta, yang Adikodrati dan tak dapat diubah.

Tuhan selalu bisa mencapai dan berada di segala sisi, tidak ada tempat kosong dari-NYA. DIA meresap dan melingkupi segala ciptaan-NYA, termasuk yang berada di setiap sel dan partikel, juga yang kasar dan halus (goib). Dan khusus di dalam setiap Manusia, maka dirinya itu adalah percikan dari cahaya suci-NYA, yang membuatnya hidup tapi pada saatnya nanti akan pergi meninggalkan duniawi ini (mati). Kembali menyatu dengan asalnya, yaitu Tuhan yang merupakan sumber dari segala sesuatu. Sementara tubuhnya akan terurai kembali menjadi lima unsur (air, api, tanah, udara, dan ether). Demikianlah kodrat yang telah ditentukan bagi Manusia.

Makanya seorang kesatria itu harus kembali kepada Tuhannya yang merupakan sumber asalnya. Setelah hidup beberapa lama di dunia ini, maka hanya dengan jalan bhakti yang benarlah seseorang itu baru akan sampai pada tujuan dari hidupnya. Sikap rendah hati dan pandai bersyukur juga perlu dijadikan prinsip utama. Dan melalui jalan bekerja keras serta tekun dalam kebajikan, seorang kesatria itu akan mendapatkan kemuliaan yang semestinya. Sedangkan dengan terus menenangkan hati dan pikirannya, maka dirinya itu baru akan memperoleh kebahagiaan yang sejati.

Untuk itu, dibukanya rahmat dan anugerah Tuhan bukan hanya sebatas janji, tetapi keniscayaan bagi siapapun yang tetap berserah diri dan berbudi luhur. Tuhan akan bersama dengan hamba yang setia dan terus mencintai-NYA. Sebaliknya, bagi siapapun yang membangkang dan tidak mengikuti hukum dan aturan Tuhan, maka ia akan menerima ganjaran yang menyakitkan. Cepat atau lambat, kebaikan yang ia rasakan – meskipun tidak lagi patuh – akan berganti dengan derita keburukan dan siksaan yang perih. Ia akan menyesal setelah terlebih dulu merasakan kesedihan

10. Wasiat Nabi Khidir AS untuk Sir el-Armusya yang hidup di masa kerajaan Syahala di masa akhir periode zaman ke lima (Dwipanta-Ra), atau sekitar ±59.000.000 tahun silam. Yaitu:

Kini dunia telah dipenuhi oleh bayangan. Di semua daratan pun kian berbahaya. Cinta akan bercampur dengan kesedihan dan penderitaan. Penantian pun telah berada diujung harapan dan mulai tak menentu. Jika tak hati-hati akan gagal dan menyeret semuanya pada kehancuran. Masih ada satu harapan meski kalian sudah dilelahkan dengan duka dan usaha keras. Yaitu jika persaudaraannya sejati dan tak membiarkan hati menjadi gundah dan mati

11. Wasiat Nabi Muya AS untuk Nahire pada masa kerajaan Matterama, yang ada di akhir periode zaman ke lima (Dwipanta-Ra), atau sekitar ±25.925.000 tahun silam. Yaitu:

Wahai ananda. Kehancuran yang kau lihat itu adalah akibat dari keangkuhan diri yang dibiarkan terus berkembang. Bangsa-bangsa yang mengalami kejatuhan itu, pada mulanya mereka – khususnya para pemimpinnya – memiliki hasrat yang tertuju pada Cahaya Murni Ilahi. Hanya saja lantaran bangga diri dan ingin menjadi yang terbaik dalam “memiliki Cahaya” itu, sampai akhirnya mereka sadar tak mampu lagi mendekatinya. Mereka lalu berpaling pada kegelapan yang dirasa lebih mudah didekati dan bisa memberikan kekuatan sangat besar dan keabadian. Namun tanpa sadar kekuatan tipu daya kegelapan itu telah menjerumuskan mereka dan hanya digunakan untuk perbuatan yang jahat terhadap kehidupan di Meya (Bumi). Ketakutan pun menyebar dan membuat gaduh dimana-mana.

Pun, sesungguhnya Manusia itu adalah makhluk yang memang dilepaskan di tengah-tengah berbagai pergolakan antara kekuatan baik dan jahat. Karena itulah mereka akan sering menyimpang dan takkan menggunakan anugerah-anugerah yang didapatkan secara bijak dan harmonis. Dan semuanya itu adalah karya Tuhan untuk dipahami oleh ciptaannya sendiri. Tapi sayang tak semuanya mau peduli, mengambil hikmahnya, dan berusaha untuk tetap kembali kepada-NYA.

12. Wasiat Begawan Ramatasa untuk Astrayana yang hidup di masa kerajaan Minagala dan Migdala (yang ada di awal periode zaman ke enam: Nusanta-Ra), tepatnya di sekitar ±383.000 tahun silam. Yaitu:

Memang benar sikapmu yang tidak ingin melakukan sesuatu karena untuk sesuatu. Tapi salah jika engkau sampai tak peduli dengan keadaan dunia, tentang huru-hara yang sudah melanda Bumi. Sudah menjadi tugas dari seorang kesatria untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Tak ada alasan untuk membuang muka (cuek) dan hanya sibuk dengan urusan sendiri. Kau dilahirkan bukan untuk jadi pengangguran, tetapi sebagai pemimpin yang bijaksana

13. Wasiat Bhatari Nisya untuk Ratu Tiyasati yang hidup di masa kerajaan Attalani, yang ada di awal periode zaman ke tujuh (Rupanta-Ra), atau sekitar ±13.000-17.000 tahun silam. Yaitu:

Wahai ananda, aku senang engkau berhasil menjalankan apa yang telah disampaikan oleh Begawan Alwani. Semuanya telah menjadi ketetapan dan petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Tak ada yang bisa menunda atau pun mendahuluinya. Karena itu, tetaplah engkau tunduk dan bersyukur hanya kepada-Nya. Dalam hari-harimu, maka teruslah engkau berserah diri dan jangan pernah lupa untuk selalu bersikap rendah hati. Tetaplah sabar dan ikhlas, karena dirimu bukanlah siapa-siapa kecuali makhluk yang fana dan tak berdaya. Hanya atas karunia dan rahmat-Nya saja, engkau bisa hidup dan menjalani kehidupan ini dengan baik

Kemudian setelah memberikan hadiahnya, sang Bhatari pun kembali berkata; “Ananda Tiyasati, apa yang ku berikan kepadamu itu (ilmu dan lima pusaka) bukanlah berasal dariku. Semuanya hanya atas izin dan perintah-Nya saja, sementara diriku adalah perantaranya. Maka pergunakanlah dengan niat dan tujuan yang baik. Tetaplah engkau rendah hati dan pandai bersyukur kepada-Nya.

Khusus untuk pusaka, maka kelimanya itu punya kemampuannya sendiri dan tak bisa dipegang oleh sembarangan orang. Ia akan sangat diperlukan dalam perjuanganmu nanti. Untuk itu, sejak masa kepemimpinanmu atau sampai sepeningalmu nanti, jadikanlah kelimanya sebagai pusaka utama kerajaan. Siapapun yang ingin menggantikan dirimu, ia harus mampu memegang dan menggunakan kelima pusaka itu dengan benar. Itulah jalan terbaik untuk menentukan siapakah yang paling layak menjadi pemimpin.

Lalu, ada satu hal yang harus kau lakukan sebelum menjalankan tugas. Belajarlah kepada orang-orang bijak di negeri Hur ’Anura. Berdiskusilah dengan mereka tentang apa saja sampai engkau mengerti apa itu kebenaran yang sejati. Bersamaku, kau bisa tiba disana dan kemudian tinggal selama waktu yang dibutuhkan

***

Demikianlah apa yang pernah di wasiatkan oleh para bijak di masa lalu. Intinya adalah mengenal diri sendiri dan Tuhan Yang Esa. Dan semuanya tidak hanya berlaku di masa itu saja, tetapi sampai di masa kita sekarang. Adapun semua wasiat di atas terdapat di dalam kisah-kisah yang pernah dituliskan sebelumnya. Sengaja kami kumpulkan di sini agar kita semua bisa lebih mudah untuk mengingat dan meneladaninya. Tujuannya pun tidak lain kecuali demi kebaikan dan keselamatan bersama. Semoga bermanfaat. Rahayu.. 🙏

Jambi, 19 Juni 2019
Harunata-Ra

18 respons untuk ‘Wasiat Para Bijak Untuk Kesatria

    Asyifa said:
    Juni 20, 2019 pukul 12:54 pm

    Alhamdulillah…
    Matur swun sampun diingatkan kembali tentang dlam mengingat pelajaran Dn nasehat2 yg super luar biasa ini enggih mas….

      Harunata-Ra responded:
      Juni 22, 2019 pukul 10:45 am

      Nggih sami2lah mbak, nuwun juga karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

    abdurohman said:
    Juni 21, 2019 pukul 4:37 am

    Alhamdulillah, hadir kembali 🙂

      Harunata-Ra responded:
      Juni 22, 2019 pukul 10:52 am

      Syukurlah kalo gitu mas Abdurohman.. terima kasih karena masih mau berkunjung, moga ttp bermanfaat.. 🙂

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    Juni 21, 2019 pukul 10:28 am

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA and commented:
    Tmbahakan malah menjadi tidak tepat.

    rakeyan said:
    Juni 22, 2019 pukul 3:04 am

    Salam Mas Oedi…..

    Seperti biasanya Artikel2 Jenengan yg memiliki branded, anti-mainstream, out of the box dan step ahead, serta inspiratif, konstrukktif dan bermanfaat , plus WINGIT…….(tdk jarang terselip “silent message” bahkan… “TOR, “ serta “spirit & energi” bagi mereka2 para “sesama” / “para super alpha,” yg sedang diperjalankan & dipengalamankan oleh GUSTI ALLAH SWT), pun sbg EARLY WARNING instrument (safety of life and lives), saling mengingatkan, saling menjaga & saling menguatkan, the past, the present ‘n the future.

    Acungan Jempol untuk ketulusan, kreativitas & proaktifnya, huebat……. (langsung) menangkap & ditangkap vibrasi2 yg ada di semesta (bermain di kebun….. kebun yg super spesial…..).
    Itulah branded-nya para “super alpha” dimana IQ (Intelligence Quotient), EI (Emotional Intelligence), dan SI (Spiritual & Supranatural Intelligence) yang di atas rata2.

    Matur nuwun,
    Monggo di wedar, apa yg bisa di wedar Mas….,
    Saya ndeprok… menyimak wedaran Jenengan

    Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti
    Good luck ‘n God bless u there…….
    Mugia Rahayu Sagung Dumadi

      Harunata-Ra responded:
      Juni 22, 2019 pukul 10:55 am

      Salam juga mas Rakeyan, nuwun karena masih mau berkunjung, moga ttp bermanfaat.. 🙂

      Waah.. jangan berlebihan gitu mas, rasanya gak seperti itu deh.. ini cuma tulisannya anak kemaren sore kok.. Tapi syukurlah kalo masnya bisa menangkap apa yg tersirat dalam tulisan ini, karena memang itulah tujuan sebenarnya.. 🙂

      Nuwun utk doanya.. Rahayu bagio.. 🙂

    Hariyanto said:
    Juni 22, 2019 pukul 3:22 pm

    Rahayu
    Matur nembah nuwun dumateng wedaran ingkang sampun kahaturaken mugi saget nyumrabahi dumateng bebrayan agung puniko , kulo nderek ijin katularaken dateng konco” mugio dados tombo anggenipun sami ngelak dateng pitedah ingkang mekaten meniko. Nuwun
    Rahayu Rahayu Rahayu Sagung Dumadi

      Harunata-Ra responded:
      Juni 23, 2019 pukul 2:42 am

      Rahayu pak Hariyanto..
      Nggih sami-samilah pak, mugio saget dados pepadang kagem sedoyo.. 🙂
      Sumonggo pak, mugio dados migunani kagem poro sederek.. 🙂

    Kuntidewi said:
    Juni 25, 2019 pukul 6:27 am

    Ndang to mas……., Mana neh ” susu murni ” , pesenan ku…..!???😁

      Harunata-Ra responded:
      Juni 26, 2019 pukul 4:02 am

      Udah dikirim lewat email mbak.. 😁

        Kuntidewi said:
        Juni 26, 2019 pukul 6:05 am

        Ojo lewat email mas..e….,, Ntar di sabotase dn di hack gimana dong ??! 😱
        Ngirimnya ” lewat belakang ” aja mas….., Kan ” susu murni ” itu khusus buat sy …😍😇

        Harunata-Ra responded:
        Juni 27, 2019 pukul 2:26 am

        Yo ora opo2 lah mbak.. siapa juga yg mau nge-hack, gak pentinglah bagi mereka… 😀

        Kuntidewi said:
        Juni 27, 2019 pukul 5:15 am

        Jaman sekarang mas….., Banyak orang jail bkn hny org/manusia aja tp dari yg tdk tampak pun banyak yg rese……, Sa’jane Iki opo seng di golek’i. Kabeh mung do kokehan reka ….
        Dadi mas..e.. lek arep ngirim pesenanku Ojo lewat email lewat ” belakang ” aja , kan cm kita yg tau password-nya..😉😉

    Hariyanto said:
    Juni 26, 2019 pukul 4:42 am

    Rahayu
    Matur suwun dateng pepeling ingkang sampun kahaturaken mugi saget migunani tumrap bebrayanipun gesang , kulo nderek mengkopi kagem kadang” kulo .Nuwun
    Rahayu Rahayu Rahayu

      Harunata-Ra responded:
      Juni 27, 2019 pukul 2:24 am

      Rahayu pak Hariyanto.. Maturnuwun ugi amargi tasih kerso ningali blog niki.. 🙂
      Aamiin.. mugio dados migunani kagem panjenengan lan poro sederek.. 🙂

    Kuntidewi said:
    Juni 27, 2019 pukul 5:29 am

    Memang sih gak pentinglah bagi mereka …tp Khusus bagi sy ” susu murni ” itu sangatlah penting mas…. , Jd paket dn pengirimanya hrs lwt paket yg sangat khusus , mas mau ngirim lwt ” depan ” ato ” belakang ” ato lwt samping kiri dn kanan it’s Ok , pasti tak Tompo….🙂

    Kuntidewi said:
    Juni 27, 2019 pukul 6:54 am

    Maaf ya mas , ……….🙏🙏

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s