Kasorai : Pemuda Yang Tak Terduga

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Sekali lagi kami akan menyampaikan sebuah kisah tentang kehancuran dan kebangkitan dunia. Mengapa ini di lakukan? Karena sejarah peradaban Manusia itu terus berulang dan berulang sampai Hari Kiamat nanti. Adapun tujuan utamanya di sini adalah agar kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran, yang bisa kita terapkan di masa kini. Bahwa tak ada yang tak mungkin bisa terjadi, terlebih disaat kemerosotan akhlak telah semakin memenuhi Bumi ini lagi. Dan proses transisi zaman yang mengerikan terus mendekat.

Dan karena kita sudah berada di penghujung zaman yang ke tujuh ini (Rupanta-Ra), maka kisah berikut ini akan sangat berarti jika dicermati. Yaitu:

1. Awal kisah
Semua kisah ini berawal dari pertikaian yang pernah terjadi sebelumnya, di antara dua bangsa yang berbeda. Saat itu, di masa awal pertengahan zaman ke lima (Dwipanta-Ra) atau sekitar Β±30.000 tahun sebelum berdirinya kaum Najase, terjadilah pertempuran dahsyat yang menelan banyak korban. Peristiwa tragis itu bisa terjadi lantaran ada sosok raja kegelapan yang telah memanipulasi pikiran dari seorang raja Manusia. Ia menyamar sebagai seorang Begawan yang terlihat sangat “bijaksana”, sehingga berhasil menghasut penguasa di kerajaan Siltanta. Raja tersebut bernama Hamali.

Singkat cerita, atas hasutan dari raja kegelapan yang menyamar sebagai Begawan Dasthula itu, Raja Hamali lalu menyerang negeri tetangganya yaitu kerajaan Goldayun dengan kekuatan penuh. Dalam pertempuran itu berbagai kemampuan dikerahkan, baik teknologi maupun kadigdayan. Tak ada yang mau mengalah, sampai ada yang kalah di antara mereka.

Dan benar, akhirnya pertempuran itu berhenti tapi bukan lantaran ada pihak yang kalah – di antara kedua pasukan, namun karena hadirnya seorang kesatria yang luar biasa bernama Ambata. Dialah yang mampu mengubah keadaan setelah berhasil mengalahkan Raja Hamali dan juga raja kegelapan yang menyamar sebagai Begawan Dasthula. Namun kisah ini tidak lantas berakhir, lantaran si raja kegelapan telah berucap sumpah bahwa dia akan kembali lagi dan membuat kekacauan yang lebih besar. Dan sumpah serapah itulah yang kelak menjadi sumber masalah dimana-mana.

2. Kegelapan yang merajai
Waktu terus berlalu dan peradaban Manusia tetap berlangsung, bahkan semakin berkembang. Dan sampailah akhirnya di masa Β±30.000 tahun setelah kesatria Ambata mengalahkan raja kegelapan yang menyamar sebagai Begawan Dashtula. Pada masa itu, kehidupan antara jasmani dan rohaninya seimbang, antara teknologi dan spiritual selaras, dan antara lahiriah dan batiniah tetap harmonis. Karena itulah, mereka yang hidup pada waktu itu termasuk di antara generasi yang paling beruntung dari umat Manusia. Kesejahteraan dalam arti yang sesungguhnya sudah terwujud. Orang-orang pun merasakan bahagia.

Tapi sesuai dengan kodrat-Nya, maka datanglah kejahatan besar sebagai ujian. Berawal dari satu tempat, lalu menyebar ke segala penjuru. Sistem dan ideologi yang diusung telah dikelola dengan baik, sehingga terlihat bagus meskipun menyesatkan. Dan jika terpaksa, maka cara-cara kekerasan dan tak manusiawi juga di lakukan. Yang penting semua yang telah diinginkan bisa terpenuhi. Tak ada halangan – kecuali kematian – yang dapat menghentikan gerakan mereka. Apapun kendalanya akan dihadapi dengan segala cara, bahkan tak peduli salah atau benar.

Dan semua kejahatan itu bangkit oleh sebab telah kembalinya raja kegelapan. Karena ia pernah bersumpah, di Β±30.000 tahun lalu, maka selama itu pula sang raja kegelapan yang bernama asli Samorah itu terus meningkatkan kesaktiannya. Tapa brata selama ribuan tahun pun di lakukan, dan hasilnya ia memang bertambah kuat dan sakti mandraguna. Namun pada awalnya kemampuan itu tak pernah ia tunjukkan secara terbuka, karena ia lebih memilih untuk menggunakan kepintaran, tipu muslihat, dan kelicikannya saja. Dan hasilnya memuaskan, karena selama puluhan tahun telah banyak Manusia yang berhasil ia sesatkan dan bersedia mengabdi kepadanya. Karena itulah kegelapan terus menyebar luas, dan ini semakin membuat cemas negeri-negeri yang merdeka dan hidup dalam cahaya.

Catatan: Samorah itu adalah yang dulu pernah menyamar sebagai Begawan Dasthula. Dialah sosok yang menghasut Raja Hamali untuk menyerang kerajaan Goldayun tetapi gagal.

3. Pemuda yang terpilih
Di tengah kondisi dunia yang kian carut marut lantaran kegelapan telah bangkit, hiduplah seorang pemuda di sebuah desa bernama Senyah atau biasa juga disebut dengan Damor. Sang pemuda adalah pribadi yang bersahaja dan pandai bersyukur. Apapun yang ia dapatkan selalu diterima dengan lapang dada. Dan meskipun kehidupan keluarganya teramat sederhana, hal itu tak pernah membuatnya untuk tidak bersabar. Sosok pemuda yang bernama Kasorai itu tetap berserah diri kepada Tuhan dengan hati yang tulus.

Ya. Sebagai seorang petani dan penggembala, Kasorai biasa hidup dalam kesederhanaan. Tapi karena ia masih keturunan dari orang-orang hebat di masa lalu (para Nabi, Raja dan Begawan), meskipun tak pernah mengikuti pendidikan formal, beberapa kali Kasorai pernah bertemu – secara tidak disengaja – dengan orang-orang yang berilmu tinggi dan sempat menimba ilmu kepada mereka. Tapi lantaran Kasorai adalah sosok yang sangat rendah hati, kemampuan yang telah ia dapatkan itu tak pernah membuatnya ingin menonjolkan diri. Dihadapan orang-orang, sang pemuda selalu tampil dalam kesederhanaan dan tidak menunjukkan bahwa dirinya itu adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itulah tak ada yang tahu bahwa Kasorai adalah seorang pemuda yang istimewa.

Suatu ketika di saat Kasorai sedang menggembalakan amot (hewan yang bentuknya campuran antara kijang, domba, dan sapi. Berbulu lebat warna hitam, putih, atau coklat, dengan tanduk yang cukup panjang mirip tanduk kijang. Hewan ini bisa diambil susunya, di makan dagingnya, dan diolah kulit serta bulunya) di sebuah lembah, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Karena rasa penasaran, sang pemuda lalu berdiam diri sejenak dengan mengambil posisi duduk bersila (semedhi). Setelah beberapa waktu, Kasorai mendapatkan petunjuk untuk menemukan sebuah kota yang bernama Avanya. Kota tersebut bukanlah kota yang biasa, karena ia tersembunyi di tempat yang dirahasiakan. Di sana, banyak hal yang bisa dipelajari oleh sang pemuda.

Singkat cerita, Kasorai kembali ke rumahnya dan hewan-hewan ternaknya itu lalu dititipkan kepada sang adik untuk merawatnya. Atas izin dari kedua orang tuanya, sang pemuda lalu pergi mengembara untuk bisa menemukan kota Avanya yang misterius. Dan ternyata itu tidaklah mudah, karena butuh waktu lama dan kesabaran yang tinggi. Kasorai juga pernah salah mengira saat ia memasuki sebuah negeri yang begitu indah, lengkap dengan pohon-pohon yang sangat besar. Di atas pohon itu juga terdapat rumah-rumah yang dibangun sangat mewah. Adapun yang tinggal di sana adalah para bangsawan dan keluarga rajanya.

Di negeri yang bernama Nayorah itu, Kasorai sempat tinggal selama beberapa hari. Ia diterima dengan baik di sana, karena penduduknya pun sangat ramah dan bersahabat. Memang jarang sekali orang asing yang datang ke sana, tapi itu tidak berarti mereka terus menutup diri atau memusuhi orang lain. Selama yang datang ke negeri mereka punya tujuan yang baik, maka selama itu pula bangsa Nayorah akan bersikap baik. Seperti halnya Kasorai yang dijadikan tamu dan sahabat lantaran ia adalah sosok yang santun dan berhati murni.

Ya, di negeri pohon itu Kasorai merasa nyaman dan bahagia. Semua yang ada di sana begitu menyejukkan mata, sangat indah dan berkualitas. Semuanya telah ditata dengan sangat rapi dan teratur. Banyak juga hal aneh dan unik yang terjadi di sana. Tapi itu tidak sampai melenakan dirinya untuk tidak terus mencari negeri Avanya. Inilah kenapa akhirnya membuat sang pemuda segera meninggalkan kota Nayorah. Dari kota itu ia lalu berjalan ke arah selatan lalu ke timur selama beberapa hari. Sampai akhirnya setelah lebih dari 15 hari mengembara, barulah Kasorai mendapatkan titik terang. Ia bertemu dengan seorang pria yang kemudian memberikan petunjuk arah dan cara yang harus di lakukan untuk bisa menemukan kota tersebut (Avanya). Atas petunjuk itu, akhirnya sang pemuda berhasil menemukannya.

Catatan: Sosok pria yang memberikan petunjuk itu ternyata pemimpin tertinggi di negeri Avanya. Tapi saat pertama kali bertemu, Kasorai belum mengetahuinya dan sang pemimpin memang tidak memperkenalkan dirinya.

Sesampainya di negeri yang misterius itu, sejak memasuki gerbang kotanya saja Kasorai bisa langsung melihat keindahan dan kemegahan yang melebihi apa yang selama ini dibayangkannya. Dan saat melihat langsung keadaan di sana, amat takjublah ia dengan kekuatan kota itu dan tentang sekian banyak hal asing dan unik yang ada. Dari semua kota yang pernah ia lihat, maka tak ada yang seunggul Avanya dalam hal kerapian, keindahan, kemegahan, dan kedamaiannya. Semuanya telah ditata dengan perhitungan yang akurat, ditambah lagi dengan para penduduknya yang memiliki sikap ramah dan berbudi luhur. Tinggal di sana tidak lagi seperti di Bumi ini, sangat nyaman dan tenang seperti di Kahyangan.

Catatan: Maaf, di sini kami tak bisa menjelaskan tentang dimana lokasi dari negeri Avanya. Ada protap yang harus tetap diikuti.

Sungguh, di negeri itu kondisinya tenang, hidup serba kecukupan, sesama warga tetap rukun dan damai tanpa permusuhan. Setiap orang yang berpapasan selalu melempar senyum dengan tulus dan mau saling membantu serta bergotong royong. Kemudian pemimpinnya terus memerhatikan rakyatnya dan rakyatnya juga sangat mencintai pemimpinnya. Tak ada lagi sifat iri, dengki, dan perdebatan. Penduduk Avanya adalah orang-orang yang hidup dalam kebijaksanaan. Oleh sebab itulah, maka peradaban mereka menjadi sangat maju dan damai. Mirip gambaran negeri Asgard dalam film Thor, tapi bangunan-bangunannya jauh lebih besar dan kotanya lebih luas lagi. Kota yang telah mereka bangun itu di kelilingi oleh benteng yang sangat kokoh sebanyak tiga lapisan dan berwarna emas. Sementara pintu gerbangnya di jaga oleh dua sosok yang bertubuh raksasa dan berpakaian zirah perang warna merah. Mereka itu amatlah sangar dan tegas kepada siapapun, kecuali bagi mereka yang terpilih.

Selain itu, di negeri Avanya hidup pula makhluk dari golongan lainnya, seperti bangsa Jin, Peri, Ruwan, Cinturia, dan Karudasya. Hal ini dikarenakan peradaban mereka telah menjadi pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan dunia. Jumlah penduduknya banyak, susah untuk dihitung berapa totalnya, karena mereka sering keluar masuk kapanpun mereka mau. Jika urusannya telah selesai di negeri Avanya itu, mereka akan pergi dan menyebarkan ilmunya di tempat lain. Hanya saja tak semua orang bisa dengan mudah untuk masuk ke negeri Avanya, karena selain harus lulus seleksi, maka kota tersebut tak kasat mata. Hal itu terjadi karena ada selubung/perisai goib yang menutupi negeri tersebut, sehingga tak semua orang bisa melihatnya. Begitu pula untuk memasukinya, sebab hanya bagi yang telah memenuhi syarat tertentu sajalah yang bisa.

Lalu, sebagaimana yang telah disebutkan di atas, mereka juga punya militer (pasukan) yang tangguh dan terstruktur, karena di sana juga telah menjadi pusatnya pengetahuan militer. Dan kaum Avanya ini pernah berperang dengan kaum Yores karena mereka itu hebat tapi suka menindas bangsa lain. Bangsa Yores ini adalah para Jin yang pada waktu itu masih diizinkan kasat mata dan bisa tinggal di muka Bumi ini, berdampingan dengan Manusia. Dulu mereka itu tinggal di sebuah daerah sekitar kawasan India-Srilangka sekarang. Dalam pertempuran dahsyat itu, selain menggunakan kesaktiannya, maka kedua bangsa tersebut sama-sama mengerahkan peralatan perang yang hebat dan canggih. Dan setelah berperang selama 2 hari, akhirnya kemenangan bisa diraih oleh bangsa Avanya. Sementara itu, karena telah kalah dan mengalami banyak kehancuran, kaum Yores yang tersisa memilih untuk pergi dari muka Bumi ini. Mereka semua akhirnya pindah ke Dimensi lain dan melanjutkan kehidupannya di sana.

Demikianlah sekilas informasi tentang kota yang sudah berdiri selama 25 juta tahun itu. Negeri yang tak bisa ditaklukkan tersebut dibangun oleh para murid dari tiga orang Nabi yang mulia; yaitu Nabi Syis AS, Nabi Khidir AS, dan Nabi Usmal AS. Mereka terpilih untuk menjaga ilmu pengetahuan yang murni agar tetap bisa dimanfaatkan oleh penduduk Bumi, khususnya bagi yang terpilih. Tidak hanya untuk di masa mereka saja, tetapi sampai ke masa-masa yang seterusnya. Karena itulah, para Dewa-Dewi di Kahyangan sesekali datang ke kota Avanya. Di sana mereka lalu berbincang-bincang dan saling berbagi ilmu pengetahuan dengan suka cita.

Dan pada akhirnya, kesempatan untuk bisa mendapatkan berbagai kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan itu jatuh kepada seorang pemuda bernama Kasorai. Sebab kondisi di muka Bumi telah menjadi kacau balau – lantaran telah kembalinya si raja kegelapan; Samorah – maka sudah waktunya bagi seorang pemuda yang terpilih untuk muncul kepermukaan demi menegakkan keadilan dan kebenaran yang murni. Seperti pendahulunya, yaitu Ambata, kini giliran Kasorai yang dilatih dengan berbagai ilmu pengetahuan dan kesaktian khusus. Bahkan pelatihan itu tidak hanya berlangsung di negeri Avanya saja, karena dari sana Kasorai juga diajak ke Dimensi lain untuk bisa meningkatkan levelnya. Dan pernah satu kali ia pun mendapatkan bimbingan langsung dari seorang Malaikat yang memang ditugaskan untuk melatihnya. Malaikat itu bernama Nassauril. Dialah yang juga memberikan tongkat pusaka yang bernama Arganatasya kepada Kasorai sebagai bukti kepemimpinannya.

Selain itu, di suatu tempat yang berada di Dimensi Syilran, ketika sedang asyik berjalan-jalan menikmati suasana, Kasorai pernah bertemu dengan seorang utusan Tuhan bernama Nabi Usmal AS. Darinya sang pemuda lalu mendapatkan banyak wejangan hidup. Salah satunya mengenai diri sejati. Sang Nabi pun berkata:

Wahai ananda. Diri Manusia itu diciptakan oleh DIRI Yang Maha Pencipta. DIA berkuasa dalam segala hal, bahkan tak perlu berkuasa karena DIA-lah Yang Tunggal. Sehingga carilah jalan hidup yang bisa mengantarkan dirimu menuju kebenaran yang sejati (yang universal). Teruslah mencari, karena kebenaran yang sejati itu ada ragam bentuknya. Dan jika engkau dapat menemukan sebanyak yang kau bisa, dengan begitu dirimu akan semakin dekat kepada-NYA. Satu hal yang paling utama bagi setiap pribadi jika ia menyadarinya.

Adapun hakekat Tuhan itu adalah sangat luas dan tak terbatas. DIA sangat agung dan tanpa cela. Makhluklah yang sering mengada-ada tentang sifat-NYA dan mengkerdilkan DIRI-NYA menjadi sebatas apa yang ia ketahui saja. Bahkan tak sedikit yang menjadikan Tuhan itu hanya sebatas keinginan dan kebutuhannya semata. Disadari atau tidak, mereka terus menghina Tuhan dengan sikap bodohnya itu. Sementara Tuhan tak terpengaruh atau berubah karena anggapan atau perbuatan dari makhluk-NYA.

Untuk itu, temukanlah hakekat Tuhanmu dengan mencarinya di dalam dirimu sendiri. DIA ada dan selalu ada di sini, di sana, di sisimu, bahkan di hati dan pikiranmu. Dan engkau sejatinya adalah percikan dari Cahaya Ilahi, yang suatu saat nanti bisa kembali kepada-NYA. Engkau berasal dari-NYA, karena DIA-lah sumber dari segala kehidupan. Dan ketika seseorang mati, maka Ruh dan Jiwanya akan tetap hidup, abadi. Sementara jasadnya lalu berubah menjadi lima unsur, yaitu alpah (zat cair), ratiwi (zat padat), baiyu (gas), tejah (suhu), dan akusa (ether). Dari kelima unsur inilah, bisa dikatakan pula bahwa sebenarnya jasadiah seorang makhluk itu pun tetap kembali kepada-NYA. Hanya saja memang harus melalui perantara alam semesta (yang juga akan kembali kepada-NYA).

Dan kosongkanlah dirimu dari setiap kehendak, keberadaan, dan prasangka. Lalu hanya dengan cara ber-bhakti, melakukan pengabdian, dan cinta yang murni kepada Tuhan sajalah engkau akan mendapatkan keselamatan. Dan keselamatan itu akan mengantarkan dirimu pada kebahagiaan yang sempurna. Itulah kehidupan yang sejati.”

Demikianlah di antara wejangan yang pernah disampaikan oleh Nabi Usmal AS kepada Kasorai. Mendengarnya saat itu membuat sang pemuda hanya bisa tertunduk dan meneteskan airmatanya. Apa yang disampaikan oleh sang Nabi terus menjadi pedoman hidup bagi Kasorai, dan layak pula untuk kita yang ada di masa kini. Karena apa yang disampaikan itu adalah begitu indah dan menakjubkan. Sungguh beruntung bagi siapapun yang mau memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

4. Kecemasan Raja Gumadha
Di sebuah negeri kaum Najase hiduplah seorang raja yang bernama Gumadha. Ia sedang dilanda perasaan cemas lantaran dimana-mana telah terjadi kehancuran yang disebabkan oleh raja kegelapan yang telah kembali: Samorah. Dan karena negerinya telah dijadikan sasaran berikutnya, maka sang raja pun berusaha untuk mendapatkan petunjuk. Selama beberapa waktu ia rutin mengasingkan diri dan melakukan semedhi. Sampai akhirnya sang raja mendapatkan apa yang ia inginkan.

Ya, seorang Bhatara yang bernama Aldirasa datang menemuinya dan memberikan petunjuk Ilahi. Dengan sikap yang ramah sang Bhatara menyapa sang raja. Dan tak lama kemudian ia pun berkata: “Wahai raja, tenangkanlah hatimu dan jangan berputus asa dengan karunia Tuhan. Karena akan tiba waktunya seorang pemuda yang terpilih muncul. Dia adalah seorang kesatria yang tak terduga namun bisa menegakkan kebenaran di Bumi. Bersamanya kesadaran rohani orang-orang yang masih hidup pada saat itu akan dibangkitkan, dan akan menjadi sebening kristal. Orang-orang yang dibangkitkan kesadaran rohaninya itu akan menjadi benih-benih Manusia, dan akan menurunkan ras Manusia yang mengikuti aturan Ilahi pada zaman Sidya, zaman kemurnian.”

Mendapatkan petunjuk itu, sang raja lantas merasa tenang. Selanjutnya ia disibukkan dengan berbagai persiapan dalam menghadapi kemungkinan terburuk dari pergerakan si raja kegelapan. Sebagai pemimpin yang bijak, tak ada alasan baginya untuk hanya sekedar menunggu datangnya sosok yang terpilih itu. Dan sebagai seorang kesatria, Raja Gumadha tetap mempersiapkan bala pasukannya dengan matang untuk siap bertempur. Semua di lakukan karena ia pun tak pernah tahu kapankah pastinya sosok pemuda yang terpilih itu akan datang. Semuanya masih penuh dengan misteri.

Catatan: Karena Chakra Manggilingan terus berputar, maka pada masa-masa tertentu akan muncul seorang pemuda yang terpilih. Darinya akan bangkit keadilan dan kebenaran yang sejati. Hal ini tetap terjadi sejak masa periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra) hingga yang ke tujuh sekarang (Rupanta-Ra). Dan dia yang terpilih itu bisa dari bangsa atau ras manapun, tidak secara eksklusif dari kalangan tertentu saja. Karena yang terpenting itu adalah keadaan hati dan tindakannya sehari-hari.

5. Persiapan perang
Waktu terus berlalu dan kegelapan kian menyebar kemana-mana, ke segala penjuru mata angin. Dari sebuah negeri bernama Northan, dari arah utara ideologi sesat itu terus meluas. Hal ini jelas mengganggu keseimbangan dunia, karena lebih banyak menimbulkan kekacauan dan penderitaan. Tak terhitung lagi jumlah korban jiwa yang harus berjatuhan. Dan itu akan terus bertambah sebelum ada yang bisa menghancurkannya.

Ya. Sudah berpuluh-puluh tahun hal yang memilukan itu terjadi, dan selama itu belum ada yang mampu menahan kekuatan dari kegelapan yang dipimpin oleh Samorah. Jika mereka telah menargetkan sebuah negeri untuk dijadikan jajahannya, maka negeri tersebut pasti berhasil ditaklukkan. Belum pernah ada yang mampu menandingi kekuatan besar yang dimiliki oleh sang raja kegelapan itu. Karena selain memiliki banyak pasukan dari golongan Manusia yang telah menjadi hambanya, Samorah juga memiliki pasukan khusus dari Dimensi lain.

Sampai pada akhirnya giliran negeri Najase yang menjadi target untuk ditaklukkan. Hal ini pun diketahui oleh Raja Gumadha, sehingga ia semakin mempersiapkan diri dan pasukannya. Sedangkan di tempat lain, pada akhirnya Kasorai telah berhasil menyelesaikan semua latihannya. Dengan bekal yang cukup itu, kini sudah waktunya bagi sang pemuda untuk memenuhi tujuan utama hidupnya di Bumi. Dan sesuai dengan petunjuk yang didapatkannya, setelah keluar dari kota Avanya itu Kasorai tidak langsung menuju ke negeri Najase. Ia justru ke sebuah tempat, di sebuah hutan yang berada di lembah Lousang, untuk mengumpulkan para kesatria yang akan membantunya berjuang. Dan karena Kasorai telah memegang sebuah tongkat komando tertinggi bernama Arganatasya, maka berdatanganlah para kesatria dari berbagai penjuru. Mereka lalu bersumpah setia dan siap membantu sang pemuda sampai titik darah penghabisan.

Catatan: Tongkat komando yang dipegang oleh Kasorai itu adalah sebuah pusaka khusus dari Langit yang hanya bisa dipegang oleh sosok yang terpilih. Siapapun yang memegangnya, ia akan diikuti oleh para kesatria yang terbaik, yang masih tinggal di Bumi ataupun yang sudah moksa. Para kesatria itu dengan sendirinya akan mengetahui ada seorang yang terpilih sedang menggunakan tongkat komando itu. Dan sebelum dipegang oleh Kasorai, tongkat itu pernah juga dipegang oleh Ambata untuk menghadapi raja kegelapan yang merusak kehidupan di Bumi.

Singkat cerita, setelah mengumpulkan para kesatria di lembah Lousang, selang dua hari berikutnya Kasorai baru pergi ke negeri Najase. Para kesatria yang bersama dengannya kala itu tidak ikut serta kecuali yang bernama Yonda dan Namiwa. Keduanya itu mengikuti Kasorai kemanapun ia pergi, sementara yang lainnya akan datang ketika dibutuhkan nanti. Dengan kesaktian yang tidak biasa, maka para kesatria itu bisa berpindah-pindah tempat (teleportasi). Tak butuh waktu lama, cukup hanya dalam sekejap mata saja.

Catatan: Yonda adalah seorang raja di negeri Namasen, sedangkan Namiwa adalah seorang raja yang dulunya memimpin sebuah kerajaan bernama Atsuyu. Keduanya telah moksa di sekitar 3-5 juta tahun sebelum bertemu dengan Kasorai.

Kisah pun berlanjut. Sebelum tiba di negeri Najase, di tengah perjalanan Kasorai dan kedua sahabatnya itu menyaksikan dengan jelas betapa banyak dan lengkapnya pasukan si raja kegelapan. Tidak kurang dari 3 juta orang pasukan lengkap, dan semua peralatan perang yang tradisional dan canggih sudah dibawa. Mereka pun bergerak hanya dengan tujuan menaklukkan negeri-negeri yang ada, khususnya Najase, dengan apapun caranya. Ambisi dan keserakahan telah menguasai diri mereka. Entah sadar atau sudah terkena sihir, semua pasukan itu sangat patuh kepada junjungannya. Tak ada dari mereka yang keberatan atau merasa kasihan jika harus merusak dan membantai. Yang penting apa yang diperintahkan oleh tuannya itu bisa terlaksana.

Melihat itu semua, Kasorai tidak langsung mengambil tindakan. Ia lebih memilih untuk segera ke negeri Najase untuk membantu. Dan kali ini ia tidak hanya dengan berjalan kaki, tetapi dengan cara berteleportasi. Dalam waktu sekejap, Kasorai dan kedua sahabatnya itu sudah tiba di istana Raja Gumadha, di pusat kota Najase. Pada saat itu sedang berlangsung rapat yang dihadiri oleh semua pejabat kerajaan, bahkan beberapanya adalah raja dari negeri tetangga. Sehingga apa yang di lakukan oleh Kasorai segera membuat gaduh suasana. Siapapun yang ada di istana saat itu tak menyangka akan datang tiga sosok dengan cara yang seperti itu, tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.

Tapi sebelum keadaannya bertambah riuh, segera saja Yonda menjelaskan. Ia katakan bahwa mereka bertiga bukanlah musuh, tetapi justru yang datang membantu. Mendengar itu Raja Gumadha langsung teringat dengan petunjuk yang pernah ia dapatkan. Dan ketika melihat sosok Kasorai, ia bisa langsung tahu bahwa sosok pemuda itulah yang dijanjikan. Meskipun penampilannya biasa saja, tapi dari dalam dirinya terasa aura yang begitu besar dan mengagumkan. Belum pernah Raja Gumadha merasakan hal yang seperti itu dalam hidupnya. Ia langsung jatuh hati kepada sang pemuda, dan bersedia pula untuk tunduk kepadanya.

Maka dengan sikap yang berlutut Raja Gumadha segera memberi hormat kepada Kasorai. Hal ini lalu diikuti oleh semua jajarannya. Setelah itu, sang raja menjelaskan bahwa para kesatria itu memang yang datang membantu mereka. Terlebih Kasorai sendiri adalah sosok yang telah dijanjikan bisa menegakkan kebenaran di Bumi. Dialah pemimpin tertinggi yang sesungguhnya. Dan informasi itu telah ia dapatkan ketika beberapa waktu yang lalu pernah mengasingkan diri. Bhatara Aldirasa sendiri yang langsung datang menyampaikan kepadanya.

Mendengar penjelasan itu, para raja yang awalnya ragu-ragu segera berlutut dan memberi hormat kepada Kasorai. Mereka sangat bahagia dengan hal itu, dan yakin bahwa perjuangan mereka nanti tidak akan sia-sia. Tapi hal itu justru membuat diri Kasorai tak merasa nyaman. Ia meminta semua orang untuk lekas berdiri dan bersikap biasa saja. Baginya apa yang terjadi hanyalah atas izin dan kehendak dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Dirinya bukanlah siapa-siapa dan tak perlu diagungkan secara berlebihan.

Namun sebagaimana tradisi pada masa itu, maka tak ada yang mau berdiri begitu saja. Mereka sangat takjub dan segan kepada sosok istimewa itu, yang meskipun belum menunjukkan kehebatannya tapi sudah bisa dirasakan kharisma dan kewibawaannya. Sampai akhirnya Kasorai benar-benar meminta mereka untuk segera berdiri, karena jika tidak maka dialah yang akan berlutut kepada mereka. Dan hal ini tidak sampai terjadi, karena dengan segera semua yang ada lalu bangkit dan berdiri tegak. Mereka juga berani memandang wajah Kasorai dengan penuh kagum dan penghormatan.

Catatan: Inilah bedanya antara orang yang berilmu tinggi dengan yang ilmunya hanya sebatas kulit luar saja. Jika yang berilmu tinggi tak perlu melihat penampilan yang “luar biasa atau keren” untuk bisa mengetahui bahwa seseorang itu istimewa, maka mereka yang ilmunya cuma sebatas kulit luar justru mudah terpedaya dengan sosok-sosok yang sebenarnya tidak istimewa namun berpenampilan “keren”. Orang yang berilmu tinggi itu bisa melihat sejatinya seseorang meskipun ia berpenampilan biasa saja, sedangkan yang ilmunya cuma sebatas kulit luar tidak. Mereka masih terikat dengan materi dan yang kasat mata saja, akibatnya tak mampu mengetahui apa yang sesungguhnya, yang berada dibalik tampilan lahiriah.

6. Perang besar
Singkat cerita, segala yang dibutuhkan untuk menghadapi serangan dari pasukan kegelapan telah dipersiapkan. Atas bantuan dari Kasorai dan kedua sahabatnya itu, kapanpun pasukan koalisi Najase itu siap untuk masuk dalam medan pertempuran yang dahsyat. Dan mereka semua telah sadar bahwa musuh yang akan dihadapi bukanlah pasukan biasa. Kekuatan mereka sangat besar dan mendapatkan bantuan dari Dimensi lain. Belum pernah ada yang bisa menandinginya.

Dan setelah menunggu selama lebih dari tiga hari dibatas kota Najase, pasukan besar dan keji itu akhirnya tiba. Dari arah utara mereka datang dan langsung berbaris rapi dan siap menyerang. Pasukan itu terlihat mengerikan, karena mereka terdiri dari berbagai elemen pasukan. Ada banyak bangsa Manusia yang berbeda ras yang ikut dalam barisan tentara, juga ada yang bentuk fisiknya menakutkan dan tidak bisa disebut Manusia. Mereka semua berada dibawah satu komando raja kegelapan yang ingin menguasai seluruh dunia. Dia ingin mematikan cahaya Ilahi yang masih ada.

Waktu pun terus berlalu dan pertempuran yang dinantikan pun terjadi. Tak ada lagi perundingan sebagaimana tradisi yang berlaku pada masa itu, karena semua orang sudah tahu tujuan dari pertempuran itu. Hanya menang atau kalah saja yang menjadi pilihan. Dan sejak terompet perang dibunyikan, sejak saat itu pula kengerian terus terjadi. Suara dentingan senjata dan teriakan kesakitan terus mewarnai jalannya pertempuran. Darah segar pun membasahi tanah, yang menambah ketakutan.

Catatan: Pada masa itu, meskipun mereka sudah memiliki teknologi yang canggih namun pertempuran masih di lakukan dengan cara kesatria. Artinya mereka bertempur dengan cara saling berhadapan langsung di medan perang. Di sanalah tempat untuk membuktikan siapakah yang lebih unggul, di sanalah waktunya untuk menentukan kisah kehidupan selanjutnya. Semuanya di lakukan dengan terang-terangan, tak ada yang sembunyi-sembunyi, karena bagi mereka itu hanyalah tindakan yang sangat memalukan.

Ya. Pertempuran saat itu begitu riuh, dan orang-orang terus mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Berbagai formasi tempur dan siasat perang dikerahkan, dan sampai tengah hari kedua belah pihak masih terlihat seimbang. Para kesatria saling mengadu kesaktiannya, tidak hanya di medan pertempuran saja tetapi sampai ada yang kemana-mana (karena mereka bisa terbang atau berpindah-pindah tempat dalam sekejap/teleportasi). Dan tidak pula ketinggalan ada bermacam senjata pusaka sakti dan kendaraan perang yang canggih yang mereka pergunakan dalam pertempuran itu. Semuanya bahkan lebih canggih dari apa yang ada di masa kita sekarang.

Sungguh, perang yang terjadi kala itu sangat menakjubkan. Ada banyak hal yang tak masuk akal terjadi, dan para kesatria yang terlibat terus saja mengeluarkan kemampuan yang tidak biasa. Akibatnya dimana-mana terus terdengar suara gaduh dan dentuman yang keras serta berbagai getaran kuat yang ikut terasa. Banyak kehancuran yang terjadi, bahkan kondisi alam menjadi kacau dan terus berubah-ubah dengan cepat. Semua terjadi sebagai dampak dari kesaktian para kesatria yang bertarung. Siapapun yang tak kuat mentalnya akan segera lari dari medan pertempuran. Terlebih yang harus dihadapi saat itu adalah para kesatria yang sakti mandraguna, yang kemampuannya memang luar biasa.

Dan itu masih ditambah lagi dengan berdatangannya pasukan dari Dimensi lain. Sang raja kegelapan memerintahkan pasukannya itu untuk menyerang koalisi pasukan Najase. Sehingga terjadilah pertarungan yang mulai tak seimbang. Dan itu semakin diperparah lagi ketika ada pasukan dibawah pimpinan Murdal yang ikut menyerang. Mereka ini adalah pasukan Jin dari bangsa Yores, yang dulu pernah berperang dengan bangsa Avanya. Ternyata dendamnya kepada umat Manusia belum juga hilang, bahkan kini justru sampai ikut menyerang dan berniat menghabisi.

Tapi di kubu pasukan Najase ada seorang pemuda terpilih, Kasorai. Dan ketika melihat ada tambahan pasukan dari Dimensi lain itu, ia segera meminta para kesatria yang sebelumnya telah bersumpah setia kepadanya untuk datang membantu. Maka hanya dalam waktu sekejap, satu persatu dari para kesatria yang dimaksudkan itu muncul. Mereka datang lengkap dengan baju zirah perang yang beragam bentuknya (sesuai dengan kebudayaannya dulu), lalu bertempur dengan kemampuan yang menakjubkan. Hanya dalam waktu singkat, kekuatan musuh bisa dibendung, bahkan perlahan-lahan mulai dikalahkan.

Lalu, dengan kesaktian yang dimiliki, Kasorai juga tak mau ketinggalan. Ia bahkan tak perlu membawa-bawa senjata, karena setelah berlatih secara khusus, maka dari telapak tangannya bisa mengeluarkan berbagai jenis senjata – tanpa batasan jumlah – untuk menyerang lawan atau sekedar mempertahankan diri. Sesuai dengan kehendaknya pula, maka senjata-senjata itu bisa terus muncul tanpa henti dan menyerang dengan tepat. Dan satu hal lagi yang sangat istimewa dari sang pemuda itu adalah ia tidak pernah kehabisan tenaga atau kehilangan energinya selama bertarung. Sehingga di setiap pertempuran bisa dipastikan bahwa Kasorai akan unggul dan akhirnya menang.

Begitulah yang terjadi selama pertempuran itu. Namun karena lawan terberatnya adalah raja kegelapan, Samorah, maka senjata-senjata yang keluar dari telapak tangannya itu tak begitu berarti. Musuhnya itu sangatlah sakti mandraguna, sehingga hanya bisa dihadapi dengan mengeluarkan berbagai ajian tingkat tinggi. Bahkan sampai harus mengaktifkan kekuatan energi khusus yang ada di dalam diri dan luar dirinya, juga mengendalikan berbagai elemen dan unsur yang ada di alam semesta. Sebuah pertarungan yang sangat luar biasa menakjubkan, yang tidak pernah disaksikan oleh siapapun yang hidup pada masa itu.

Dan terjadilah pertarungan yang paling menakjubkan antara Kasorai dan Samorah. Awalnya si raja kegelapan itu bersikap angkuh lantaran selama ribuan tahun ia sudah membekali dirinya. Tapi seiring berlangsungnya pertarungan, lawan yang ia hadapi itu bukanlah kesatria biasa. Apapun yang ia lakukan dapat ditangkis oleh Kasorai, bahkan hanya dengan satu tangan saja. Hal ini jelas membuat Samorah tak habis pikir tentang bagaimana bisa ada seorang Manusia yang mampu menandinginya. Karena itulah Samorah langsung menaikkan level kesaktiannya dan membagi dirinya menjadi 10 sosok yang berbeda. Semuanya lalu menyerang Kasorai secara bertubi-tubi dari segala arah.

Namun yang dihadapi saat itu adalah seorang pemuda yang terpilih. Meskipun telah diserang dengan kesaktian yang luar biasa, Kasorai tetap saja kokoh berdiri, bahkan terlihat semakin gilang gemilang. Dengan baju zirah yang berkilauan, sang kesatria pilihan balas menyerang raja kegelapan. Kali ini ia tak memberikan kesempatan kepada musuhnya itu untuk istirahat. Kasorai juga membagi dirinya dan bergerak sangat cepat. Ia menyerang dengan kekuatan yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Siapapun yang melihatnya langsung terpana, tapi lantaran apa yang mereka lihat itu di luar kebiasaan, tak sedikit pula yang ketakutan dan ingin lari dari medan pertempuran.

Sungguh, pertarungan itu adalah yang paling menakjubkan. Keduanya tidak hanya bertarung di Bumi, tetapi sampai ke luar angkasa. Dan karena saking cepatnya, maka tak semua orang bisa melihatnya. Hingga pada akhirnya, setelah lebih dari satu jam bertarung, kemenangan berada di tangan Kasorai. Raja kegelapan itu tak mampu lagi mengimbangi kesaktian sang pemuda pilihan. Hanya karena umurnya sudah ditangguhkan sampai Hari Kiamat nanti, maka Samorah tak sampai tewas mengenaskan. Ia hanya terluka parah, dan sebagian besar kesaktiannya telah disingkirkan oleh Kasorai. Dan sebelum diizinkan pergi, ia diperingatkan oleh sang pemuda. Kasorai berkata: “Kita bertemu saat ini karena adanya sebab akibat. Karena sebab yang kau mulai adalah kejahatan, maka tibalah kini saatnya harus dihentikan. Pergilah sejauh yang kau bisa dan jangan kembali lagi jika memang belum waktunya. Bertobatlah seandainya mau, tapi jika tidak, maka bersiaplah untuk selalu dikalahkan. Kau akan hidup dalam kegagalan dan kekecewaan

Demikianlah kata-kata yang disampaikan oleh sang pemuda. Setelah itu barulah Samorah bisa pergi meninggalkan medan pertempuran. Ia kembali ke tempat asalnya di Dimensi lain. Dan di sana, ternyata ia rajin menempa dirinya agar kembali sakti dan akhirnya bisa menyalurkan hasrat keinginannya lagi. Ia tetap ingin kehidupan di Bumi ini jauh dari cahaya.

Catatan: Mungkin Anda merasa bahwa kisah di atas mirip dengan apa yang pernah terjadi dalam kisah-kisah yang lainnya. Dan begitulah faktanya, bahwa kehidupan di Bumi ini selalu berulang, yang baik atau buruknya. Hanya saja amat disayangkan tidak banyak dari Manusia yang mau mengambil pelajaran dan mempersiapkan dirinya. Karena itulah pernah berulang kali pula kehancuran besar itu terjadi, dan sebagian besar Manusia tak bisa berbuat apa-apa kecuali ikut menderita dan mati sia-sia. Terlebih di masa sekarang banyak yang tidak tahu menahu atau bahkan tak mau tahu dengan sejarah masa lalu. Padahal itu adalah bentuk kerugian yang besar.

7. Akhir kisah
Setelah raja kegelapan, Samorah, bisa dikalahkan dan ia pergi dari Bumi ini, pertempuran pun segera berakhir. Tak ada lagi yang ingin bertarung, karena selain raja kegelapan telah dikalahkan, maka pasukan-pasukan dari Dimensi lainnya itu juga telah dihancurkan. Yang tersisa dari mereka langsung kabur dan kembali ke tempat asalnya. Sementara pasukan dari golongan Manusia yang sebelumnya menjadi bawahan Samorah diberikan pilihan untuk terus bertempur sampai mati atau segera menyerahkan diri. Mereka juga diberikan tawaran untuk kembali ke negerinya dan menata kehidupan di sana seperti sedia kala. Tak boleh lagi mengusik bangsa lain, karena lebih baik bekerjasama dan saling membantu.

Atas tawaran itu, maka tak ada pilihan lain kecuali mengambilnya. Sisa-sisa dari pasukan raja kegelapan itu telah sadar diri bahwa apa yang mereka lakukan sebelumnya adalah kesalahan besar. Tak sedikit dari mereka yang sampai meneteskan air mata dan sangat menyesal. Tapi kehidupan tetap harus berlanjut dan mereka harus menebus kesalahannya. Karena itulah, dengan tekad yang mantap akhirnya mereka kembali ke negeri asalnya dan berusaha untuk membangkitkan kejayaannya lagi. Dan mereka tidak malu-malu untuk meminta bantuan kepada bangsa yang lainnya, juga tentunya kepada Kasorai untuk berkenan membimbing mereka.

Ya. Begitulah akhirnya raja kegelapan dapat dikalahkan dan kehidupan di Bumi kembali aman dan teratur lagi. Dimana-mana cahaya Ilahi telah kembali dan kehidupan peradabannya kian sempurna. Hanya saja hal itu tak bisa menahan keinginan Kasorai untuk tidak pergi. Sang pemuda hanya tinggal selama 25 tahun saja di Najase, atau yang kemudian berubah nama menjadi Astaliyum itu. Selama itu ia terus membangun peradaban yang ada agar sesuai dengan tuntunan dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Banyak hal yang disampaikan dan diajarkan oleh sang pemuda, termasuk bahasa dan aksara yang baru. Ia pun menikah dengan seorang puteri dari Raja Gumadha yang bernama Nilata. Dari pernikahan itu ia dikaruniai sepasang anak kembar yang diberi nama Hanusai dan Hanisa. Keduanya mewarisi sifat dan kemampuan dari kedua orang tuanya.

Catatan: Maaf jika di sini tidak kami jelaskan dimana lokasi dari negeri Astaliyum itu. Ada protap yang harus diikuti.

Waktu pun terus berlalu dan kehidupan di negeri Astaliyum semakin makmur dan indah. Di sana pun menjadi kiblat peradaban dunia, dan dari mana-mana orang-orang datang untuk berdagang atau menuntut ilmu. Tapi sekali lagi hal itu tak bisa mengubah niatan Kasorai untuk undur diri. Ia ingin kembali ke negeri Avanya, terlebih hal itu adalah sebuah petunjuk yang harus ia laksanakan. Dan sebelum akhirnya memilih untuk kembali ke negeri Avanya, di hadapan semua penduduk Astaliyum yang berkumpul di halaman istana kerajaan sang pemuda terpilih sempat berpesan. Dengan irama yang perlahan, Kasorai lalu berkata:

Di setiap zamannya, ketika angkara murka (kegelapan) bangkit dan berjaya, maka akan muncul seorang pemuda yang terpilih. Seperti diriku, dia akan berjuang dengan restu dari Yang Maha Kuasa. Bersamanya akan hadir keadilan dan kebenaran yang sejati. Apapun yang datang menghalangi akan disingkirkan, dan ia adalah sebaik-baiknya generasi pada masanya. Sehingga jangan pernah meremehkan seseorang, terlebih jangan pula berputus asa pada rahmat Tuhanmu yang Menciptakan.”

Selain itu, dalam bahasa yang lain (bahasa khusus) ia pun berwasiat. Katanya:

Vam’an maladoghna hiyamla maning arhiyabat, suramajwan difaturah harikadasa. Dumas hadokiyya lavanim bawarayuna heyakon syal’amur inharutam. Mohamuyosha bhumirayattu kasiten 10-189-756-342-01 alhemajat novalumerun. Hanekayaum nawijirah basthorahiyam koranaye rasthani yamodharam. Monyarum heghalatra namaiwan Sri Maharaja Dwipa Eka Mandala Sri Hyang Arya Wangsa Bhuwana Pasya, hanikatumta dunyawangkasa nasyelah amurakayum. Anoratum henaliwas Nes 01, Aes 05, Yom 03, Syer 07, an Zen 09, yamoruna baltasirah gasholachan. Namiki yaluwatabah hineindal sertavan Nu Re Kan Ta La, hayanurriyahi bashurena ilahiyahinam aswanuyahiram

Demikianlah pesan yang pernah disampaikan oleh Kasorai untuk mereka yang hidup di masa itu dan juga yang setelahnya. Kalimat itu ia sampaikan dua hari sebelum bersama dengan istrinya, Nilata, kembali ke negeri Avanya. Dan di sana nanti, ketika sudah waktunya, Kasorai lalu berpindah Dimensi kehidupan, tidak lagi menetap di negeri Avanya. Tujuannya untuk bersatu dengan para leluhurnya yang telah moksa di alam kelanggengan. Sedangkan di alam sana, ia juga akan menjalankan tugas lain yang Tuhan berikan kepadanya. Hal itu bahkan masih dijalankan sampai di zaman kita sekarang. Dan mungkin nanti sang pemuda terpilih akan turut serta dalam proses transisi zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Bersama dengan kesatria terbaik lainnya, ia juga akan ikut bertempur dalam perang yang maha dahsyat nanti (Al-Malhamah al-Kubro).

Semoga kisah ini bermanfaat. Rahayu.. πŸ™

Jambi, 12 Juni 2019
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Seperti pada tulisan sebelumnya, silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Kami tidak akan memaksa atau merasa kecewa. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Bacalah dengan tenang dan terurut kisah ini. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahaminya. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat banyak perbedaannya.
3. Ada banyak hal yang tak bisa disampaikan disini karena memang harus dirahasiakan dulu, belum waktunya untuk disampaikan sekarang. Maaf.
4. Mari tetap persiapkan diri sebaiknya, teruslah bersikap eling lan waspodo, karena apa yang pernah terjadi di masa lalu tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi, bahkan lebih dashyat dan mengerikan.

Iklan

18 respons untuk β€˜Kasorai : Pemuda Yang Tak Terduga’

    Asyifa Wahida said:
    Juni 19, 2019 pukul 12:19 am

    Alhamdulillahi rabbil alamiin ….
    matur suwun kagem pelajaran lan nasehat2nya lewat sentuan tangan arif panjenengan nggih mas
    smg lewat ini bnyak dr saudara2 kita yg turut mmbc lalu berkenan mengambil pelajaran dn memotifasi diri untuk segera berubah mnjaadi pribadi/hamba yg kembali tunduk dn patuh serta mnjlnk sgl aturan dn hukum gusti allah yg sdh bnyak mereka tinggalk dn lupakan …aamiin ya rabbal alamiin ….

    Tetap semangat dlam berdakwah untuk menyampaikan dn mngajari tentang kebenaran yg benar kpd saudara2 kita diseluruh alam ini ,meskipun mayoritas dr mereka yg tidak mnyukai dn mndustakannya enggih mas …dn sugeng beraktivitas dihari rabu yg indah ini bersama sang surya yg bersinar dngn malu2 …..

    Dn kulo izin share
    matur suwuun ..
    Smg hyang aruta sllu mmberikan panjenengan kesehatan lahir maupun batin dn sllu mnjg melindungi dimanapun panjenengan melangkahkan kaki dn rezeki yg melimpah ruah dn barokah …aamiin ya rabbal alamiin

      Harunata-Ra responded:
      Juni 19, 2019 pukul 6:14 am

      Nggih mbak sami2lah.. sekali nuwun juga karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. πŸ™‚

      Aamiin.. semoga begitu mbak, karena tak banyak waktu lagi utk mempersiapkan diri di akhir zaman ini..

      Nuwun juga utk dukungannya mbak.. Tentang diterima atau tidak saya mah terserah yg baca.. tugas saya ya cuma menyampaikan dan mengingatkan aja kok.. tentu dg harapan ada yg sudi menerima dan mau mengikutinya..

      Waaah hari ini cuacanya mendung terus mbak.. mataharinya gak kelihatan disini..

      Silahkan aja di share mbak.. dan nuwun juga atas doanya.. semoga mbaknya pun demikian.. πŸ™‚

    abdurohman said:
    Juni 19, 2019 pukul 10:16 am

    Seperti biasa, hadir mas….

      Harunata-Ra responded:
      Juni 20, 2019 pukul 7:00 am

      Seeeplah.. makasih mas Abdurohman karena udah berkunjung.. moga ttp bermanfaat.. πŸ™‚

    Asyifa said:
    Juni 19, 2019 pukul 3:37 pm

    Enggih mas..
    insyaallah kulo akan sllu berkunjung mas…

    Enggih mas..
    Mugi2 hyang aruta berkenan mmberikan kesempatan kpd saudara2 kita untuk mmbenahkn diri mereka di waktu yg trsisa niki enggih Mas..

    Aamiin ya rabbal alamiin…
    Mugi2 hyang aruta sllu mmberikan sgl apapun yg mnjadi harapan dn impian panjenengan mas

    O ngoten enggih mas..
    Alhamdulillah jakarta wau mndung tipis2 mas

    Matur suwun kagem izinnya dn matur suwun juga kagem doanya mas ….

    Sugeng rehat enggih mas

      Harunata-Ra responded:
      Juni 20, 2019 pukul 7:17 am

      Seeplah mbak.. πŸ™‚

      Aamiin.. semoga aja ya mbak.. Ngeerii ngebayangkan apa yg akan terjadi nanti..

      Nuwun untuk doanya, gitu juga utk jenengan.. πŸ™‚

      Iya mbak.. skr pun masih mendung kayak mau hujan gitu..

      Sami2lah mbak.. kita saling mendoakan aja.. πŸ™‚

        Asyifa Wahida said:
        Juni 20, 2019 pukul 4:59 pm

        Enggih mas ..

        Mugi2 kita semua tidak sampe melihat kengerian yg akan trjadi mangke enggih mas

        Sami2 dn matur suwun kagem doane mas

        Syukur alhamdulillah nek ngoten jadi tambah adem nek ngoten mas

        Enggih mas

        Harunata-Ra responded:
        Juni 22, 2019 pukul 10:46 am

        Hmm.. melihat atau tidak, merasakan atau tidak, semua ditentukan oleh-NYA, kita gak bisa apa2 selain terus mempersiapkan diri..

        Nggih mbak, saling mendoakan aja kitanya.. πŸ™‚

    febi sw said:
    Juni 24, 2019 pukul 5:32 am

    Bagus diambil pelajaran positif nya

      Harunata-Ra responded:
      Juni 24, 2019 pukul 7:49 am

      Syukurlah kalo gitu mas Febi SW, terima kasih udah mau berkunjung, moga bermanfaat.. πŸ™‚

      Harunata-Ra responded:
      Juni 24, 2019 pukul 7:49 am

      Syukurlah kalo gitu mas Febi SW, terima kasih udah mau berkunjung, moga bermanfaat.. πŸ™‚

    Kuntidewi said:
    Juni 24, 2019 pukul 3:17 pm

    Bgm dgn kue nya mas ??!
    Udah di masukin ke freezer belum ??!
    Jgn lupa sm minumanya ya , spt biasa …… Susu murni….πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜‡…….. hehehe……

      Harunata-Ra responded:
      Juni 25, 2019 pukul 2:34 am

      Udah ready kok.. tinggal dinikmatin dg minumannya… oh ya sekalian bill-nya juga deh.. hehe.. πŸ™‚

        Kuntidewi said:
        Juni 25, 2019 pukul 2:48 am

        Waduhh tak kira gratis kok pake bill-bill an segala to 😚😚…. Biasa nya jg kan sy di kasih gratis mas…..
        Ohh…ya…susu murninya rasanya spt yg biasa sy pesen yo….πŸ˜‡

        Harunata-Ra responded:
        Juni 25, 2019 pukul 4:01 am

        Ya kan skr semuanya hrs bayar mbak.. gak ada yg gratis “katanya”… πŸ˜€
        Oke, siaaaap.. sesuai pesanan deh.. πŸ™‚

    Kuntidewi said:
    Juni 25, 2019 pukul 5:55 am

    Emohh aku nek di kon mbayar…..πŸ˜’, Lha Gusti Pangerane wes nggratisi meng aku kok , hayoo…….πŸ˜‰

      Harunata-Ra responded:
      Juni 26, 2019 pukul 4:01 am

      Lah trus piye? Sesekali mbayar kan ora opo2 toh.. 😊

        Kuntidewi said:
        Juni 27, 2019 pukul 2:19 am

        Mosok aku di Kon mbayar terus to mas …😭😭, Awit mbiyen lho…..
        Mbok aku pisan2 di gratisin to mas….., Yo…entuk Yo…please…..πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜πŸ˜

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s