Jalan Kembali

Posted on Updated on

Wahai saudaraku, duhai jiwa yang merindukan kedamaian. Kesuksesan dari seorang pribadi itu tidaklah hanya ketika ia masih hidup di atas dunia ini saja, tetapi bagaimana ia mengakhirinya nanti. Bukan dari tingginya kedudukan, banyaknya kepemilikan, atau seberapa terkenalnya dia, tetapi apakah rasa bahagia tetap bersamanya atau justru kecemasan saja yang tersisa? Apakah ketenangan yang ia rasakan, atau malah takut dan gundah gulana saja yang ada?

Di sinilah arti pentingnya dalam memahami kebebasan dan kemerdekaan yang sejati. Sebab untuk kesekian kalinya umat Manusia telah jatuh ke dalam jalan hidup yang sia-sia sebagai akibat dari pemberontakan mereka melawan hukum dan aturan Ilahi. Mereka sendiri yang telah menjual diri mereka kepada perbudakan duniawi. Dan sayangnya itu sebagai akibat dari kelancangan mereka untuk memutuskan apa yang benar dan salah menurut pikirannya sendiri. Bahkan mereka telah menjual hati dan hak kebebasan jiwanya dengan kenikmatan duniawi yang semu.

Ya. Atas kebodohannya sendiri maka seorang yang terikat duniawi itu senantiasa melihat perkara yang tampak saja, sehingga tidak lagi bisa melihat perkara yang tak terlihat. Dia beriman hanya dengan meyakini sesuatu yang kelihatan atau yang terasa olehnya saja. Tidak mau terus mencari tahu yang hakiki dibalik tirai rahasia. Dan dia pun selalu mengutamakan yang bersifat materi duniawi, sehingga tanpa sadar telah berbuat zalim kepada dirinya sendiri atau pun orang lain. Ia telah lupa diri, sehingga menjadi sosok yang merugi.

Padahal setiap pribadi itu adalah bebas dan merdeka sejak dilahirkan. Hanya saja ia sering keliru memilih untuk tunduk kepada sesuatu yang menariknya untuk naik (mulia) atau malah turun (kehinaan). Ia juga lupa bahwa seharusnya hati itu kosong dari segala kekotorannya. Apabila itu kosong (hati bersih), maka ketenangan pun datang dan kesempurnaan diri dapat diraih. Darinya akan tumbuh kesadaran yang tinggi, yang membuat kebaikan murni bisa terwujud dalam kenyataan. Hasilnya adalah kebahagiaan sejati.

Dan apabila seseorang ingin mengetahui apakah dirinya selalu naik atau malah turun, maka hendaklah ia melihat dirinya sendiri dengan jalan muhasabah (introspeksi diri), tadabbur (berpetualang mencari ilmu), dan tafakur (perenungan, semedhi, meditasi). Lakukanlah ketiganya itu secara istiqomah (terus menerus, tekun). Dan janganlah ia merasa takut atau sedih dengan keadaannya saat ini, karena Tuhan menyediakan harapan bagi para hamba-NYA agar mereka dapat dibebaskan dari perbudakan. Teruslah semangat dalam menggapai rahmat dan petunjuk-NYA dengan selalu mengikuti hukum dan aturan-NYA secara ikhlas. Niscaya akan ada kemudahan.

Untuk itu saudaraku. Dunia ini bukanlah kampung halamanmu, bukan pula rumahmu. Lantas apa tujuanmu datang kesini? Cepatlah pulang, karena disini hanyalah tempat tinggal sementaramu. Sudah seharusnya kau pulang ke tempat aslimu yang penuh kebebasan dan kemerdekaan. Tempat itu berada di luar batas imajinasi, melewati awan dan angkasa jiwa. Jauh dari beban dan himpitan rasa, melampaui kedamaian di Nirwana dan kesucian dari Kahyangan. Itulah Arunamaya, satu jalan kembali kepada-NYA.

Jambi, 27 Mei 2019
Harunata-Ra

Iklan

12 respons untuk ‘Jalan Kembali

    latifadelina said:
    Mei 28, 2019 pukul 3:20 am

    Maa syaa Allah, bagus sekali tulisannya. Izin share ya

      Harunata-Ra responded:
      Mei 28, 2019 pukul 3:28 am

      Terima kasih mbak Latifadelina untuk kunjungan dan dukungannya… silahkan saja di share, semoga bermanfaat.. 🙂

        latifadelina said:
        Mei 28, 2019 pukul 1:40 pm

        Sama2. Terima kasih atas izin share nya

        Harunata-Ra responded:
        Mei 28, 2019 pukul 8:55 pm

        Wokey.. 👍

    Asyifa Wahida said:
    Mei 28, 2019 pukul 4:09 am

    Subhanallah…..
    matur suwun kagem ilmunya yg dahsyat ini enggih mas….
    smg hyang aruta mmpermudah kita semua khususnya kulo dlam mnggapai jiwa yg tenang supaya mudah untuk kembali pulng kekampung halaman kita yg asli …..aamiin ya rabbal

      Harunata-Ra responded:
      Mei 28, 2019 pukul 4:26 am

      Nggih sami2lah mbak Asyifa, nuwun juga ya karena masih mau berkunjung.. semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Aamiin.. semoga kita sama2 mendapatkan kemudahan utk bisa kembali.. 🙂

        Asyifa Wahida said:
        Mei 28, 2019 pukul 4:31 am

        Enggih sami2 mas …
        Alhamdulillah akan sellu berkunjung dn setia menantikan ilmu2 trbaru panjengan mas

        Aamiin yarabbal alamiin….engggih mas

        Harunata-Ra responded:
        Mei 28, 2019 pukul 5:56 am

        Sekali lagi terima kasih yg mbak… Biarlah Hyang Aruta yg akan membalasnya.. 🙂

    Maulana said:
    Mei 29, 2019 pukul 9:54 pm

    Iy benar sekali..rasa plong damai tenang bahagia…bisa kemana mana..bumi hy tempat ujian buat manusia itulah tujuan manusia diciptakan…karena semua yg terlihat di alam ini adalah nur illahi…..kita semua berada di dalam naunganNya…

      Harunata-Ra responded:
      Mei 30, 2019 pukul 5:59 am

      Ya begitulah mas Maulana.. terima kasih loh karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

    Maulana said:
    Mei 30, 2019 pukul 1:35 am

    Kok nyambung mas oedi sama tulisan yg lalu tentang kematian yg sempurna…lalu jalan kembali…wow luar biasa..mengingatkan bagi yg masih hidup asal muasal darimana dia….

      Harunata-Ra responded:
      Mei 30, 2019 pukul 6:02 am

      Memang nyambung sih mas.. dan sebenarnya hampir semua artikel di blog ini saling sambung menyambung kok, satu dengan lainnya berkaitan, yg tujuannya adalah utk saling mengingatkan.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s