Kematian Sempurna

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Pada dasarnya semua orang itu selalu berada di depan pintu kematian, hanya saja mereka sering tidak menyadarinya. Lantas apa yang sebaiknya di lakukan oleh setiap pribadi? Jawabannya adalah dia harus menghilangkan perasaan cinta pada kehidupan jasmaninya, dan hanya mengingat kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Ia pun harus mengendalikan pikiran dengan kekuatan batinnya, karena sejatinya pikiran itu harus bisa mengendalikan nafsu-nafsunya.

Dan ingatlah untuk senantiasa mengheningkan cipta kepada DIA Yang Tunggal, yang bermanifestasi ke dalam berbagai wujud dan tak berwujud. Kemudian leburkanlah dirimu ke dalam rasa cinta yang tulus kepada-NYA. Dengan begitu engkau akan sampai pada tahapan untuk bisa menyadari tentang hakekat dari sesuatu. Kau pun akan bisa menemukan arti dari yang berarti. Inilah jalan untuk bisa lebih mengenali-NYA dengan benar dan terang benderang.

Tapi, memutuskan segala keterikatan pada keduniawian tidaklah mudah. Itu bukanlah perkara yang setiap orang bisa melakukannya. Sebab perlu semedhi (tafakur) dan puasa seumur hidup. Dan di masa Kaliyuga ini, di akhir zaman Rupanta-Ra ini, semuanya menjadi kian sulit oleh berbagai faktor yang mengganggu konsentrasi. Setiap orang lalu dihadapkan pada persoalan materi yang mengikat dan kenikmatan semu yang menggiurkan. Sementara berserah diri secara total kepada Yang Tunggal takkan bisa di lakukan oleh yang masih terikat dengan keduniawian.

Karena itu, cara yang terbaik untuk bisa menyelamatkan hidup di zaman ini hanyalah satu, yaitu ber-bhakti kepada-NYA. Dan jalan untuk bisa ber-bhakti adalah dengan cara penuh kesadaran diri. Sebab kesadaran diri itu akan membantu siapapun untuk bisa memusatkan hati dan pikirannya kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Dengan begitu ia pun akan meraih ketenangan, sebuah syarat mutlak untuk bisa mencapai kesempurnaan.

Ya. Siapapun yang telah mencapai kesempurnaan, maka ia takkan memikirkan lagi tentang dualisme. Ia hanya akan mengagungkan Yang Tunggal tanpa perlu keagungan-NYA. Ia sudah penuh kesadaran, sehingga tak perlu lagi iming-iming, katanya, atau pun sekedar pembuktian. Pemahamannya tentang hakekat DIRI-NYA sudah melebihi yang semestinya. Karena itulah ia pun terus bersikap rendah hati (tawadhuk), pandai bersyukur (syakur), dan senantiasa berserah diri (tawakal) dalam hidupnya.

O.. Lautan bhakti, ilmu pengetahuan, dan kekuatan terus bergelora. Bagi siapapun yang bijak dalam ketiganya, ia telah berjalan dalam keselamatan. Dan itu bisa terjadi setelah mengikuti ajaran para leluhur yang sebenarnya merupakan tuntunan dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Adapun di antara yang paling utama dari semua ajaran itu adalah introspeksi diri (muhasabah) yang di lakukan setiap harinya, di waktu fajar maupun petang. Jika tekun dalam hal ini, niscaya siapapun akan menjadi baik dan berbudi pekerti yang luhur. Ia akan sangat mencintai kebajikan yang di lakukan dengan tulus murni.

Dan kebajikan itu adalah tolak ukur dalam keadilan. Karena itulah kekuatan yang besar bukanlah acuan untuk bisa menguasai/memiliki. Kekuatan juga tidak menjadi patokan untuk keadilan, sebab ia justru berfungsi hanya untuk melindungi keadilan. Sehingga orang yang telah memahami kebajikan dan keadilan secara tepat, maka ia tidak lagi membutuhkan kata-kata dan ungkapan. Ia pun tidak akan perlu memberikan pujian atau melakukan penghinaan. Sebab dirinya tak terhalang oleh siapapun juga, tidak pula terikat kepada apapun – kecuali Yang Maha Tunggal, karena justru terus mengembara kemanapun yang ia sukai dalam kedamaian. Dirinya telah bebas merdeka dalam arti yang sebenarnya.

Ya. Bagi diri yang telah sempurna dan paripurna, dimana pun telah berkumpul kebaikan, maka ia akan mau hadir dalam kebahagiaan. Begitu pula jika keburukan yang berkumpul, maka ia akan berkenan hadir dalam kasih sayang. Kepada semuanya ia akan memberikan pelayanan dan jalan pencerahan. Tak ada lagi kecenderungan. Sehingga bagi siapapun yang berkenan mengikutinya akan mendapatkan keberuntungan.

Tapi kini dimana-mana tak ada lagi kegembiraan, semuanya terasa hambar dan bahkan penuh kesedihan. Tak ada pula penghiburan, karena sering terjadi pertengkaran dan kebencian. Hanya yang telah sempurna batinnya saja yang tetap merasa damai dan bahagia. Sebab garis keturunan, pangkat-derajat, martabat, kepemilikan, popularitas dan keberanian tak dipedulikannya lagi. Bahkan kebaikan dan keburukan, kebajikan dan kejahatan, serta keimanan dan kekufuran tak lagi dipikirkannya. Semuanya telah sirna dihadapan Yang Esa. Dan yang ada itu hanyalah DIA, DIA, dan DIA saja.

Untuk itu, mengertilah tentang apa itu kematian yang sesungguhnya. Dan matikanlah dirimu di setiap waktu, di hadapan-NYA. Tak ada lagi yang hidup kecuali DIA, tidak ada pula yang ada kecuali DIRI-NYA saja.

Jambi, 24 Mei 2019
Harunata-Ra

20 respons untuk ‘Kematian Sempurna

    Asyifa Wahida said:
    Mei 25, 2019 pukul 5:00 am

    Matur suwun kagem ilmu yg super dahsyat enggih mas…..

    Mugi2 kita semua khususnya diri kulo mnjadi pribadi2 yg tersadarkan untuk dapaat berbakti dn mncintainya dngn cinta yg sebenar2nya….aamiin

      Harunata-Ra responded:
      Mei 28, 2019 pukul 2:15 am

      Nggih mbak Asyifa, sami2lah.. nuwun juga karena masih mau berkunjung.. semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Aamiin.. semoga gitu mbak.. kita saling berdoa dan berusaha ya.. ttp semangat.. 🙂

    awandoku said:
    Mei 25, 2019 pukul 5:29 am

    Assalamu alaikum mas Oedi..
    Salam sejahtera untuk semua, semoga rahmat dan nikmat tuhan senantiasa selalu terasa pada diri

    Amiin

    Mas Oedi, kalo begitu artikel yang diatas itu apakah berarti membahas tentang Pohon pengetahuan, yang mana di Kitab umat nasrani tentang Bab kejadian disebutkan ada 2 pohon di dalam Surga. 1 pohon pengetahuan satunya lagi pohon kehidupan. Dimana pohon pengetahuan membuat diri seseorang menjadi mati. Mungkin kalau menurut orang Indonesia tentang Ilmu Padi itu.

    Sehingga para ulama banyak yang mengasingkan diri, kecuali yang sedang ditugaskan di tengah masyarakat.

    Semakin orang mengetahui sesuatu maka kenyamanan yang dirasakan berbeda. Oleh sebab itu para raja raja dahulu meninggalkan dunia dengan cara moksa.

    Dualitas dan waktu, satu kesatuan tentang keseimbangan.

    Dualitas = ayat tuhan yang biasa ada dalam undangan pernikahan

    Semua menjalankan perannya masing-masing terikat oleh waktu dan tempat

    Terima kasih, mohon dibimbing diri yang hina dan bodoh ini

    Rahayu

      Harunata-Ra responded:
      Mei 28, 2019 pukul 2:40 am

      Wa`alaikumsalam mas Awandoku.. terima kasih juga karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Waaah jg bilang gitu mas, justru saya ini yg teramat hina dan bodoh, tak layak memberikan bimbingan.. paling cuma bisa mengingatkan aja..

      Hmm.. secara spesifik artikel ini tidak sedang membahas ttg pohon kehidupan dan pohon ilmu pengetahuan itu, karena lebih kepada internal diri pribadi manusianya kok.. Dan menurut saya ini jauh lebih penting kok.. karena apapun itu akan kembali ke diri manusianya juga, sehingga mengenali diri sendiri lebih utama dan bermanfaat..

      Kalo ulama dulu sih iya mas, mrk banyak yg mengasingkan diri demi menemukan pencerahan dan kedamaian.. tapi kalo skr justru sebaliknya, karena mrk justru byk yg menonjolkan dirinya dihadapan makhluk…

      Ttg mengetahui sesuatu, mungkin lebih tepatnya bukan kenyamanan, tetapi ketenangan.. sedangkan moksa yg di lakukan oleh para raja terdahulu adalah cara untuk melepaskan dirinya dari keterikatan duniawi. Itu adalah tahap akhir kehidupannya di dunia ini setelah berhasil melalui 4 tahap hidup sebelumnya: Brahmacharya, Grahastha, Wanaprastha, dan Sanyasin…

      Di tingkat dasar, antara dualitas dan waktu memang bisa dikatakan satu kesatuan, tetapi di tingkat yg lebih tinggi ia tidak bisa lagi dikatakan begitu, apalagi jika dikaitkan dengan keseimbangan.. karena keduanya telah berdiri sendiri, terpisah.. dan keseimbangan itu pada hakekatnya adalah Satu saja, tidak ada lagi dualitas di dalamnya..

      Mungkin lebih tepatnya adalah bahwa tidak semua orang bisa atau telah menjalankan perannya, karena faktanya banyak yg tidak mau atau bahkan tidak pernah tahu apa perannya di dunia ini.. karena itulah disini waktu dan tempat menjadi relatif, pikiran dan hati seseorang lah yang menentukannya, sebab Tuhan hanya memberikan beberapa pilihan yg bisa diambil..

      Itu saja mas, maaf kalo tidak memuaskan.. Rahayu.. 🙂

      Harunata-Ra responded:
      Mei 28, 2019 pukul 2:40 am

      Wa`alaikumsalam mas Awandoku.. terima kasih juga karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Waaah jg bilang gitu mas, justru saya ini yg teramat hina dan bodoh, tak layak memberikan bimbingan.. paling cuma bisa mengingatkan aja..

      Hmm.. secara spesifik artikel ini tidak sedang membahas ttg pohon kehidupan dan pohon ilmu pengetahuan itu, karena lebih kepada internal diri pribadi manusianya kok.. Dan menurut saya ini jauh lebih penting kok.. karena apapun itu akan kembali ke diri manusianya juga, sehingga mengenali diri sendiri lebih utama dan bermanfaat..

      Kalo ulama dulu sih iya mas, mrk banyak yg mengasingkan diri demi menemukan pencerahan dan kedamaian.. tapi kalo skr justru sebaliknya, karena mrk justru byk yg menonjolkan dirinya dihadapan makhluk…

      Ttg mengetahui sesuatu, mungkin lebih tepatnya bukan kenyamanan, tetapi ketenangan.. sedangkan moksa yg di lakukan oleh para raja terdahulu adalah cara untuk melepaskan dirinya dari keterikatan duniawi. Itu adalah tahap akhir kehidupannya di dunia ini setelah berhasil melalui 4 tahap hidup sebelumnya: Brahmacharya, Grahastha, Wanaprastha, dan Sanyasin…

      Di tingkat dasar, antara dualitas dan waktu memang bisa dikatakan satu kesatuan, tetapi di tingkat yg lebih tinggi ia tidak bisa lagi dikatakan begitu, apalagi jika dikaitkan dengan keseimbangan.. karena keduanya telah berdiri sendiri, terpisah.. dan keseimbangan itu pada hakekatnya adalah Satu saja, tidak ada lagi dualitas di dalamnya..

      Mungkin lebih tepatnya adalah bahwa tidak semua orang bisa atau telah menjalankan perannya, karena faktanya banyak yg tidak mau atau bahkan tidak pernah tahu apa perannya di dunia ini.. karena itulah disini waktu dan tempat menjadi relatif, pikiran dan hati seseorang lah yang menentukannya, sebab Tuhan hanya memberikan beberapa pilihan yg bisa diambil..

      Itu saja mas, maaf kalo tidak memuaskan.. Rahayu.. 🙂

    Maulana said:
    Mei 26, 2019 pukul 10:57 am

    Ya Allah mas..pas sy baca postinganmu kok sama dg meninggalnya ibu sy di tgl 13 mei 2019 lalu…..

      Harunata-Ra responded:
      Mei 28, 2019 pukul 2:50 am

      Oh ya? ttp semangat ya mas Maulana, semoga ttp sabar dan ikhlas.. semoga ibunya Husnul khotimah.. Dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat.. Terima kasih sudah mau berkunjung… 🙂

      Harunata-Ra responded:
      Mei 28, 2019 pukul 2:50 am

      Oh ya? ttp semangat ya mas Maulana, semoga ttp sabar dan ikhlas.. semoga ibunya Husnul khotimah.. Dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat.. Terima kasih sudah mau berkunjung… 🙂

    Waragil DP ae said:
    Mei 26, 2019 pukul 3:41 pm

    Dunia tanpa cermin menuju ke hidupan yang langgeng mugi mugi sedoyo langgeng sangking kersane Gusti ingkang dumadi

      Harunata-Ra responded:
      Mei 28, 2019 pukul 2:52 am

      Aamiin… Matur nuwun mas Waragil DP ae karena sudah berkunjung, semoga bermanfaat.. 🙂

    Maulana said:
    Mei 29, 2019 pukul 9:45 pm

    Hehehe balasanny mpe 2x…matur nuwun..amien mas…InshaAllah Husnul Khotimah…sy pun seminggu sebelum ibu meninggal alhamdulillah sdh di beri firasat oleh Allah SWT…sehingga sy bisa dampingi ibu terus termasuk memenuhi permintaan akhir beliau…dan sy menyaksikan tanda2 sakaratul maut yg luar biasa didepan mata sy…dari yg ibu sy tidur lalu berubah drastis nafasnya sgt cepat dan suara gemuruh dari kerongkongannya tak lama 4 x hirupan nafas pendek dan melambat ibu sy dipanggil oleh yg Kuasa dg tenang….seperti org tidur…bahkan tubuh jenasah ibu sy sampe 5 jam hingga dimandikan masih lemas dan putih bersih…sy menangis bisakah sy nanti meninggal dimudahkan jalannya seperti ibu sy..Wallahualam bishawab..

      Harunata-Ra responded:
      Mei 30, 2019 pukul 5:58 am

      Oh ya? hmm.. berarti kmaren saya gak sengaja ke double klik dan lupa di hapus.. hehe.. 😀

      Waah beruntungnya sampeyan dapat menemani dan berbakti disaat2 terakhir beliau.. Dan kalo dari ceritanya mas itu, tampak sekali bahwa itu merupakan ciri-ciri dari husnul khotimah.. Semoga demikian.. 🙂

      Skr pertanyaannya bagaimana dg kita ini?? husnul khotimah atau malah su`ul khotimah nantinya?

        Maulana said:
        Mei 30, 2019 pukul 9:54 am

        Iya mas..sebelum meninggal dari awal tahun sy sdh dapat firasat didatangin kakak ibu sy yg sdh meninggal tanya ke sy mana ibumu sambil senyum ke sy…lalu pas mei seminggu sebelum meninggalnya sy sempat bawa ke rumah sakit tapi di cek tensi ibu normal akhirnya entah kenapa sy minta dipasangkan kateter ke ibu sy..selama itu sy amati ibu suka liat ke atas arah kiblat…banyak tidur..2 hr sebelum kematian ibu makannya buanyak minum nya juga tapi pas dini hari menjelang meninggal selimut di buang…kencing ga ada yg keluar..westalah firasat sy bener ibu mw dijemput..yaud ku talqinkan ku syahadatin kuputarin quran ditelinganya…yg kuingat selalu bilang yuk kita pulang….
        Inshaa Allah sy berusaha sekuat diri mendekatkan ke Ilahi untuk mendapat ridho agar kematian sy kelak berlangsung baik tanpa siksaan…

        Harunata-Ra responded:
        Mei 31, 2019 pukul 4:30 am

        Waah beruntunglah masnya karena mendapat firman yg benar, jadi lebih siap menghadapi kepergian beliau.. Bersyukurlah dan mari kita sama2 perbaiki diri, bersiap untuk menghadapi kematian yg pasti mendatangi kita nanti..

        Maulana said:
        Mei 30, 2019 pukul 9:58 am

        Oya mas sy ada dimimpiin indonesia gelap…banyak bencana..dan gunung meletus..ada perang..pengungsian..banyak suara sirene…ada tangisan meratap dan kesedihan…ada angka 2 dan 3…ada suara berkata hati2 nusantara…bolehkah mas artikan tabir mimpi sy…sy berada dalam rumah yang terang..sy ga boleh keluar karena panas sekali..dan gelap

        Harunata-Ra responded:
        Mei 31, 2019 pukul 4:44 am

        Waduh.. Saya bukan ahlinya dalam men-takwil mimpi mas.. Jadi kurang tepat sampeyan bertanya ke saya ttg makna dari mimpi yg pernah masnya alami itu.. 😊

        Tapi, mimpi yg pernah mas lihat/rasakan itu sebelumnya pernah juga di alami/rasakan oleh bbrp orang temen saya.. Malah sejak bbrp tahun silam.. Meski gak sama persis, tapi secara garis besarnya sama, sama2 ada perang besar dan bencana dahsyat.. Dan entah mengapa Nusantara selalu menjadi pusat dr semua peristiwa dalam mimpi mrk..

        Nah utk itu, saya sendiri menjadi tambah yakin bahwa benar akan datang masa pergantian zaman yg di dalamnya ada perang besar dan bencana dahsyat.. Tujuannya utk membersihkan bumi ini dan menormalkan kembali keadaannya.. Karena itulah, beberapa artikel di blog ini sering menyampaikan hal2 yg terkait dg perang dan bencana dahsyat atau bahkan proses transisi zaman yg pernah terjadi di masa lalu.. Tujuannya utk memberi peringatan dan gambaran kpd orang2 skr ttg apa yg bakal terjadi nanti, dan apa yg harus dipersiapkan utk menghadapinya, agar termasuk ke dalam golongan orang2 yg beruntung.. Semoga kita termasuk yg selamat atau di selamatkan nanti.. 🙏

    sayyid said:
    Juni 14, 2019 pukul 8:34 am

    Assalamualaikum wr.wb,
    saya permisi sama mas Oedi boleh kiranya menjelaskan mimpi saudara maulana tersebut.
    Allah memberikan mimpi kepada seseorang itu karena ada tujuan yg benar agar si pemimpi dapat mengubah keadaan yg dialaminya.
    contoh mimpi yg benar seperti mimpi raja firaun yg saat itu memenjarakan nabi yusuf a.s.
    seorang raja mimpi bahwa dalam waktu singkat negaranya akan mengalami kekeringan tetapi mimpinya tersebut tidak leterlik kepadanya , beliau dpt mimpi ini oleh karena beliau adalah pemimpin negara yg harus menyelesaikan masalah ini jika tidak bangsanya akan mengalami kelaparan.
    Tujuan mimpi raja firaun ada beberapa tetapi saya ambil 2 saja.
    -dia seorang raja(pemimpim) dan harus menyelamatkan bangsanya
    – nabi yusuf a.s mengetahui tabir mimpi agar dilepaskan dari penjara

    sekarang mengenai mimpi sdra maulana.
    -jika saudara adalah seorang pemimpin harus segera mengubah keadaan
    -jika anda bukan pemimpin berarti mimpi ini untuk diri anda sendiri.
    anda harus menjahui orang-orang yg mengikuti hawa nafsu mereka.

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustadz sayyid habib yahya

      Harunata-Ra responded:
      Juni 16, 2019 pukul 1:07 am

      Oh silahkan aja, monggo… 🙂

      Maulana said:
      Juli 2, 2019 pukul 8:13 am

      Terima kasih banyak sy haturkan untuk ustadz sayyid habib yahya…adakah email yg bisa sy hubungi karena sedari kecil sy sering mendapat mimpi ttg akhir jaman.mohon di bls ustadz

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    Juni 23, 2019 pukul 8:48 pm

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s