Mardum : Batas Waktu Dunia

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Beberapa waktu yang lalu, di dalam tulisan yang lain kami pernah mengangkat kisah tentang pergantian zaman. Kali ini pun sama namun jalan ceritanya berbeda. Lantas mengapa ini kami sampaikan? Karena sekarang kita sudah berada di akhir zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Tidak berapa lama lagi kejadian di masa silam akan terulang kembali. Akan datang peristiwa yang menggemparkan sebagai bukti bahwa hukum dan aturan Tuhan selalu ada dan mengikat. Kebenaran dan keadilan yang sesungguhnya akan kembali ditegakkan di Bumi ini.

Nah untuk mempersingkat waktu, mari ikuti cerita berikut ini:

1. Awal kisah
Di penghujung zaman ketiga (Dirganta-Ra) tersebutlah negeri yang penuh kelimpahan bernama Nobala. Selama ribuan tahun, kondisinya tetap stabil dan penuh kedamaian. Sampai akhirnya di masa raja ke-107 yang bernama Hatsala, kerajaan ini dihadapkan dengan masalah perebutan tahta. Ada dua orang pangeran yang merupakan puteranya berambisi menjadi raja. Mereka tak mau mengalah meskipun harus mengorbankan banyak nyawa.

Dan terjadilah perang saudara yang melibatkan banyak pasukan. Bukan hanya dari kerajaan Nobala saja, tetapi juga kerajaan lain yang menjadi sekutu dari kedua pangeran. Dalam pertempuran itu banyak korban jiwa yang berjatuhan, sementara waktunya berlangsung cukup lama, beberapa bulan, sampai akhirnya Pangeran Dhasala yang berhasil menang dan ia bisa menduduki tahta. Sementara kakaknya, Pangeran Hamala harus mengaku kalah dan menyingkir jauh dari ibukota kerajaan. Ia lalu mengasingkan diri dengan keluar dari wilayah Nobala. Bersama dengan para pengikutnya, di tanah yang baru di sekitar kaki gunung Aur, ia mendirikan sebuah desa yang diberi nama Artikandaya. Di kemudian hari desa tersebut berkembang menjadi sebuah kerajaan yang terpandang. Dan dari para raja di kerajaan itulah kelak lahir seorang pemuda yang menjadi tokoh utama dalam kisah ini.

Ya. Desa itu berada jauh di arah timur negeri Nobala, di dekat perbatasan pegunungan Amasul. Untuk sampai di sana, selain harus berjalan kaki melewati lembah Orija, maka akan lebih mudah dengan menaiki perahu menyusuri sungai Lowe. Waktu yang diperlukan jadi semakin singkat. Inilah kenapa di kemudian hari orang-orang lebih memilih untuk menggunakan perahu menyusuri sungai Lowe untuk bisa sampai di negeri Artikandaya. Tidak banyak yang memilih berjalan kaki atau berkendara melewati lembah Orija.

2. Pemuda biasa
Dikalangan para bijak telah disampaikan bahwa perang dan kehancuran besar umat Manusia pernah terjadi berpuluh kali di zaman ketiga (Dirganta-Ra). Semuanya menimbulkan derita dan kesedihan. Dan dari semua itu, maka tidak ada yang menandingi apa yang akan terjadi di penghujung zaman tersebut. Atas kesalahan dari Manusia-lah, maka hukuman yang perih (azab) harus dirasakan. Tempat dimana mereka tinggal akan dilanda bencana dahsyat untuk membersihkan yang kotor. Semuanya demi menormalkan kembali kehidupan di Bumi.

Pada masa itu, ada beberapa orang bijak yang terus mengingatkan tentang akan datangnya azab Tuhan tersebut. Termasuklah di antaranya para Nabi, Wali, Begawan, dan Dewa-Dewi (yang menyamar). Mereka semua telah berusaha untuk mengajak penduduk Bumi agar kembali ke jalan yang benar. Di banyak wilayah mereka datang dengan membawa kabar dan peringatan. Hanya saja tak banyak yang mau mendengarkan dan segera memperbaiki dirinya. Sebagian besar justru menentang dengan cara mengejek atau bahkan sampai berusaha menyakiti mereka yang memberikan peringatan. Benar-benar sudah lupa diri dan bertindak konyol.

Kisah pun berlanjut. 50 tahun sebelum masa penghakiman itu terjadi, lahirlah seorang anak lelaki di negeri Syarol, tepatnya di sebuah desa yang bernama Turana. Anak tersebut oleh orangtuanya diberi nama Wirasa. Ketika beranjak remaja, ia bersikap agak berbeda dari umumnya anak muda kala itu. Jika yang lainnya suka bermain, Wirasa justru lebih senang menyendiri dan rajin berolah batin. Dirinya tetap akan bergaul dengan anak-anak seusianya, bermain dengan mereka, bahkan yang lebih dewasa sekalipun, tapi hanya sekedarnya saja atau demi kepentingan bersama. Tidak pernah mau jika hal itu hanya untuk berfoya-foya atau bersenang-senang saja. Terlebih kehidupannya saat itu tidaklah mudah, karena Wirasa berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Dan meskipun sebenarnya ia masih keturunan bangsawan tinggi kerajaan Artikandaya – lantaran kakek buyutnya adalah Pangeran Hamala, sang pendiri kerajaan Artikandaya – namun hal itu tak pernah diungkapkan kepada orang lain. Hanya keluarganya saja yang tahu.

Namun tidak seperti orang-orang yang rajin berolah batin dan mereka bisa mendapatkan kelebihan, Wirasa justru tak memperoleh apa-apa. Betapa pun yang ia lakukan terbilang tidak umum, amat sulit, dan lain dari pada yang lainnya, tetap saja dirinya seperti orang awam yang tanpa kelebihan. Kegagalan demi kegagalan hidup pun sering ia alami, begitu pula dengan derita kesedihan tak jarang dirasakan. Dan Wirasa tak pernah bisa meraih apa yang diinginkannya meskipun itu adalah hal yang baik. Seberapapun usaha yang ia lakukan, tetap saja tak berbuah seperti yang seharusnya. Tidak ada keistimewaan yang bisa dibanggakan, seolah-olah ia memang dilahirkan tanpa bisa meraih kesuksesan.

Ya. Hal yang menyedihkan terus saja di alami oleh Wirasa selama lebih dari 30 tahun masa hidupnya. Hal ini terasa menyakitkan, namun Wirasa tetap bisa menerima semua itu dengan sabar dan berusaha untuk selalu berserah diri dan pandai bersyukur. Sang pemuda terus mencoba untuk tenang dan giat melatih dirinya. Dan meskipun ujian hidupnya terasa semakin berat, maka kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) ia tak pernah ragu akan Kebijaksanaan-NYA. Jika memang tidak di dunia ini, mungkin di akherat nanti ia bisa merasakan kebahagiaan. Begitulah apa yang tertanam di hati sanubari Wirasa sejak masih remaja.

Catatan: Dikarenakan pada masa itu umur Manusia bisa mencapai ratusan tahun, maka pandangan tentang usia 30-an tahun tidak seperti sekarang. Seumuran itu masih terbilang sangat muda dan tidak semestinya menikah. Namun demikian waktu yang dilalui tetaplah waktu, bahkan pada masa itu terasa jauh lebih lama dari sekarang. Satu hari pada saat itu akan sama dengan tiga hari di masa kita sekarang. Demikianlah waktu telah diatur semakin cepat berlalu di setiap zamannya.

Dan begitulah adanya Wirasa, pemuda desa biasa yang hidup dari hasil bercocok tanam dan beternak hewan. Untuk bisa menambah gizi bagi keluarganya, tak jarang pula ia harus pergi ke hutan dan lembah untuk mencari jamur atau apapun yang bisa dijadikan lauk makan. Sesekali ia pun pergi ke sungai-sungai untuk mencari ikan dan kerang. Jika yang didapatkan banyak, maka akan ia jual sebagiannya. Tapi jika hanya sedikit, itu cukup untuk kebutuhan keluarganya saja. Tak ada ambisi yang berlebihan dalam hidupnya, karena bisa memenuhi kebutuhan keluarganya saja sudah cukup. Wirasa akan sangat berbahagia untuk hal itu.

3. Mendapatkan tugas
Sebagai gambaran, bahwa pada masa itu peradaban Manusia sudah tinggi dan tak asing lagi dengan teknologi canggih. Hidup mereka pun dilengkapi dengan berbagai kemudahan fasilitas dan kelimpahan materi. Hanya saja itu justru membuat sebagian besar orangnya semakin larut dengan kenikmatan duniawi dan lupa dengan bekal untuk di akherat nanti. Karena itulah dimana-mana terjadi kemerosotan akhlak dan sering pula rusuh atau banyak terjadi pertempuran. Apalagi kalau bukan disebabkan oleh kekufuran, keserakahan dan keangkuhan diri.

Nah, dalam kondisi yang seperti itu suatu ketika Wirasa pernah diajak oleh tetangganya untuk berdagang ke beberapa negeri. Di antaranya ke negeri Malwir yang berada di arah barat desanya dan ke negeri Asilba yang berada jauh di sebelah utara. Selama berbulan-bulan mereka berdagang dari satu tempat ke tempat yang lain. Selama itu, Wirasa pun mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang baru dalam hidupnya. Salah satunya tentang betapa rusaknya akhlak sebagian besar penduduk Bumi. Terlebih ada begitu banyak bangsa yang sudah tidak lagi peduli dengan hukum dan aturan Tuhan. Mereka hanya menuruti setiap ketentuan yang mereka buat sendiri. Disini tentunya banyak yang tak sesuai dengan perintah dan larangan Tuhan.

Singkat cerita. Bersama ke 25 orang yang ikut dalam rombongan kabilah dagang itu Wirasa menjelajah ke berbagai negeri untuk menjajakan barang dagangan seperti rempah-rempah, nicah (semacam kemenyan), ndarus (parfum), serta aneka macam kerajinan anyaman dan tenun. Semuanya dibawa dengan menggunakan nobora atau kendaraan truk yang bertenaga kristal putih. Mereka juga membawa hewan yata (semacam kuda namun bertanduk) dan some (semacam kerbau tapi berbulu lebat dan bertanduk tiga). Keduanya untuk ditunggangi dan juga bisa membawa barang-barang yang tidak terlalu berat.

Lalu, setelah cukup berdagang di negeri Asilba, rombongan itu berniat untuk pulang ke kampung halamannya di Turana. Selain barang dagangan yang sudah habis, alasan mereka juga karena sudah begitu lama tidak pulang ke rumah. Tentunya ada rasa rindu yang sangat kepada sanak keluarga. Karena itu tanpa menunda waktu lagi mereka pun segera beranjak pulang. Dengan melewati lembah, hutan dan padang rumput, rombongan kabilah dagang tersebut bergerak perlahan.

Hanya saja selama di perjalanan itu sikap Wirasa bukannya senang tapi justru muram. Ada kebingungan yang terpancar diraut wajahnya. Semua itu karena sudah dua kali Wirasa mendapatkan mimpi yang sama. Ia bertemu dengan sosok yang mengajaknya untuk pergi mengembara. Dan anehnya bukan lagi di Bumi, tetapi di Langit dan Dimensi lainnya. Dalam perjalanan itu, siapapun yang ia temui menaruh hormat kepadanya. Betapa bahagianya mereka karena bisa bertemu dengan Wirasa, seperti kekasih yang berjumpa dengan kekasihnya. Sungguh mimpi yang terasa nyata.

Selanjutnya, ketika rombongan itu sedang berkemah untuk beristirahat selama dua hari, sekali lagi Wirasa bermimpi hal yang serupa. Saking penasarannya dengan makna dari mimpi itu, sang pemuda pun akhirnya memutuskan untuk ber-semedhi. Dibawah pohon kalta (sejenis oak tapi berdaun tiga warna; hijau, merah, dan kebiruan) yang rindang, ia duduk bersila selama beberapa hari. Tapi sebelum itu, ia telah mengatakan kepada pemimpin rombongan agar tak usah menunggunya. Mereka boleh melanjutkan perjalanan, karena dari sana Wirasa akan menempuh jalan hidup yang baru. Sang pemuda hanya meminta untuk menyampaikan kabar itu kepada keluarganya di desa. Tak perlu khawatir, karena ia akan baik-baik saja.

Singkat cerita, setelah tiga hari ber-semedhi akhirnya Wirasa mendapatkan wangsit (petunjuk goib) untuk berjalan ke arah timur selama 30 hari. Selama berjalan ia tidak boleh tidur, dan terus berjalan lurus tanpa berkelok sedikitpun. Dan khusus untuk di hari yang ke 28, 29, dan 30 ia bahkan tidak boleh makan, minum dan tidur sekaligus. Pokoknya harus tetap berjalan apapun halangannya. Dan ketika sudah waktunya nanti sang pemuda akan tahu apa yang harus di lakukan selanjutnya.

Ternyata Wirasa tiba di sebuah lembah yang di dalamnya terdapat sungai yang begitu jernih. Di pinggiran sungai itu terdapat sebatang pohon Iwa (mirip pohon akasia tetapi bunganya persis bunga sakura dan sangat wangi) yang rimbun dan bercabang dua. Tepat di bawah pohon tersebut ada sumber air yang terus mengeluarkan airnya. Di samping mata air itu, ada sebongkah batu ceper berwarna hitam legam. Di sanalah akhirnya Wirasa ber-semedhi lagi selama 40 hari 40 malam. Selama itu ia tak pernah berpindah tempat, tetap di situ, bahkan tanpa makan, minum, dan bergerak sedikitpun seperti patung.

Singkat cerita, datanglah sosok yang berpenampilan penuh wibawa. Ia lalu meminta agar Wirasa mengakhiri semedhi-nya itu, karena jawaban atas berbagai pertanyaan di hatinya akan diberikan. Mendengar itu, tak lama kemudian Wirasa membuka mata. Tanpa diberi tahu, ia langsung membungkuk untuk memberi hormat kepada sosok yang ada dihadapannya saat itu. Wirasa bisa merasakan bahwa sosok tersebut sangatlah istimewa. Dan ternyata ia adalah seorang Malaikat yang bernama Anuttarsya. Ia sengaja turun dari Langit untuk menyampaikan kabar dan mengajak Wirasa pergi ke berbagai tempat di luar Bumi. Hal yang biasanya didapatkan oleh para Nabi.

Ya. Wirasa bukanlah seorang Nabi, tapi atas kehendak-NYA maka tak ada yang mustahil. Semua bisa terjadi karena DIA berhak untuk memberikan sesuatu kepada yang DIA kehendaki. Dan kepada Wirasa, maka dirinya memang pantas mendapatkan anugerah yang luar biasa itu. Meskipun selama ini ia tak memiliki kelebihan saat dibandingkan dengan orang lain – hanya sebagai orang awam saja, namun itu bukanlah pertanda bahwa dirinya tak berarti. Di hadapan Yang Maha Kuasa, ternyata kedudukan Wirasa sangatlah dekat disisi-NYA. Sangat jarang yang seperti itu meskipun tak pernah terlihat di muka Bumi ini, atau diketahui orang banyak. Hanya penduduk Langit saja yang benar-benar mengetahuinya.

Sungguh, Wirasa lebih dikenal di Langit ketimbang di Bumi. Di Bumi ia sering diremehkan, sementara di Langit justru dipuja seperti raja lantaran sikap dan kepribadiannya. Karena itulah ia memang layak mendapatkan anugerah untuk berjalan-jalan di Langit dan beberapa tempat di Dimensi lainnya. Dari perjalanan tersebut, sang pemuda bisa mendapatkan hikmah dan ilmu pengetahuan yang tak ternilai. Dan semuanya itu kelak harus ia sebarkan di Bumi, baik sebelum maupun sesudah pergantian zaman ketiga (Dirganta-Ra).

Catatan: Perjalanan Wirasa kala itu tidak sama dengan peristiwa Isra’ Mi’raj-nya Nabi Muhammad SAW. Karena Wirasa tak sampai melewati Sidratul Muntaha (batas terjauh pengetahuan di Bumi) dan bertemu langsung dengan Tuhan. Sang pemuda hanya diberi kesempatan untuk mengunjungi beberapa lapis Langit dan tempat-tempat yang lainnya saja.

Dalam perjalanan itu, ketika berada di Langit ke tujuh, Wirasa bertemu dengan Nabi Syis AS. Dalam pertemuan itu, sang Nabi sempat menyampaikan wejangan-nya lantaran mengetahui apa yang dipikirkan sejak lama oleh Wirasa. Dan tepat di pelataran Alamurtah (penamaan Baitul Makmur kala itu) beliau pun berkata: “Wahai ananda. Hidup ini adalah perjalanan, dan perjalanan itu dimulai dari diri kita sendiri. Diri kita sendiri bermula dari DIRI yang ada di dalam diri. Temukanlah hakekat yang tersembunyi darinya. Karena Alam Semesta beserta keindahan dan keganjilannya itu hanyalah sebagai saksi pencarian. Sedangkan kehidupan ini adalah jalan untuk meraih kehidupan yang hakiki. Maka tenangkanlah hatimu dari urusan kehendak. Dan sebelum bisa meraih kedamaian, maka kenalilah Tuhanmu lebih jelas dengan mengenali diri sejatimu dulu dengan benar.”

Sementara itu, di tempat lain, di sebuah Dimensi tingkat atas yang bernama Agania, sang pemuda bertemu dengan Nabi Khidir AS. Selain banyak berdiskusi, sang Nabi juga memberikan wejangan dan bimbingan lahir batin. Atas izin dari Yang Kuasa, maka hanya dalam waktu singkat Wirasa dapat menguasainya. Kini kemampuan sang pemuda sudah berada di atas rata-rata Manusia dari golongan kesatria. Dan hal yang semacam itu sangat lumrah bagi seorang yang akan mengemban tugas berat. Lalu jika Nabi Syis AS memberikan sebuah cincin pusaka, maka Nabi Khidir AS memberikan berbagai senjata pusaka untuk bekal perjuangan Wirasa nanti. Dan sebelum berpisah, Nabi Khidir AS pun berpesan; “Ananda. Bersyukurlah hanya kepada-NYA dengan sebenar-benarnya rasa syukur. Tak akan ada artinya hidup ini tanpa hal itu, karena bersyukur (syakur) adalah jalan untuk bisa berserah diri (tawakal). Sedangkan dengan berserah diri, siapapun itu baru akan mampu bersikap rendah hati (tawadhuk). Satu hal yang begitu mulia dan menjadi tujuan utama dari para hamba-NYA yang setia.

Dan jalankanlah tugasmu untuk mengingatkan penduduk Bumi dengan hati yang tulus-ikhlas. Sebagaimana kami (para Nabi), kau juga akan merasakan penolakan yang tidak sedikit. Jangan bersedih, dan tenangkanlah jiwamu karena semua itu adalah bagian dari kehidupan ini. Lakukanlah apa yang bisa di lakukan. Dan mohonlah petunjuk dari-NYA, karena hanya dengan begitulah kebaikan akan terus menyertaimu

Demikianlah apa yang disampaikan oleh sang Nabi kepada Wirasa. Dengan linangan air mata, ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Diam adalah hal yang terbaik saat itu. Dan setelah berpamitan dengan sang Nabi, oleh Malaikat Anuttarsya ia lalu di ajak untuk berjalan-jalan lagi. Ada banyak tempat yang dikunjungi yang tak bisa kami jelaskan di sini lantaran adanya protap, Maaf.

4. Peringatan terakhir
Pada masa itu, kondisi dunia memang tampak makmur dan berperadaban tinggi. Manusia hidup dengan berbagai fasilitas yang memanjakan. Tapi itu bukan berarti semuanya tetap baik-baik saja. Karena justru kian menjerumuskan umat Manusia ke jalan yang sesat. Dan itu pun semakin diperparah dengan terus meningkatnya kemaksiatan, keserakahan, fitnah, dusta, kebencian, dan pamrih di antara sesama. Hal ini turut menjadi alasan kenapa transisi zaman ketiga itu (Dirganta-Ra) harus terjadi.

Ya. Setidaknya ada tiga faktor utama kenapa saat itu menjadi batas akhir dari zaman yang ketiga (Dirganta-Ra), yaitu:

1. Seringnya terjadi pertempuran yang di lakukan oleh berbagai bangsa yang ada. Semua terjadi karena fitnah, keserakahan dan kebencian.
2. Kemerosotan akhlak kian kentara, semakin parah dan tak bisa lagi diperbaiki. Sementara agama hanya dijadikan sebatas formalitas belaka, bahkan diperjualbelikan dan sekedar alat untuk bisa meraih keinginan duniawi.
3. Meskipun bencana alam telah sering melanda, gerhana bulan dan matahari juga sering terjadi, bahkan waktu pun terasa semakin cepat berlalu, tapi orang-orang tetap saja tak peduli dan semakin lupa diri.

Jadi, oleh sebab ketiga alasan itulah pada akhirnya hukum keseimbangan dunia harus ditegakkan lagi. Waktu penghakiman bagi umat Manusia akan datang dengan cara yang sangat menyakitkan. Tak ada yang bisa selamat kecuali bagi mereka yang berhati baik dan berbudi pekerti yang luhur. Hanya bagi yang tunduk-patuh kepada hukum dan aturan Tuhan sajalah yang beruntung, sebab mereka akan menjadi cikal bakal dari generasi berikutnya. Tentunya disini harus berasal dari pribadi-pribadi yang beriman dan berakhlak mulia. Sementara yang tidak – yang membangkang dari ketentuan Tuhan – akan dimusnahkan tanpa pilih kasih.

Catatan: Pada masa itu golongan bangsa Peri, Cinturia, Karudasya, dan Ruwan sudah pergi dari atas Bumi. Mereka telah diperintahkan untuk berpindah tempat kehidupan beberapa puluh tahun sebelumnya. Dan setelah transisi zaman selesai, beberapa puluh tahun kemudian ke empat golongan itu diperintahkan untuk kembali lagi ke Bumi ini. Mereka lalu membangun peradaban dan hidup berdampingan dengan Manusia lagi. Sampai batas waktu yang ditentukan terus seperti itu.

Untuk itu, selama bertahun-tahun para bijak yang ada terus mengingatkan umat Manusia untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka mengajak dengan berbagai cara yang halus dan santun. Termasuklah Wirasa yang sudah lebih dari lima tahun tetap berusaha untuk mengingatkan meskipun tak banyak didengarkan. Jangankan diikuti, Wirasa malah sering diejek, di cemooh, di anggap gila atau sesat, dan tak di pedulikan sama sekali lantaran dia hanyalah seorang pemuda desa yang bukan dari kalangan terpandang. Tak ada gelar dan kedudukan dunia yang melekat pada dirinya. Sedangkan pada waktu itu orang-orang sangat mengandalkan hal-hal yang bersifat materi duniawi.

Sungguh, tidaklah mudah apa yang harus dikerjakan oleh Wirasa. Hanya karena perintah dari Hyang Aruta (Tuhan YME) sajalah ia masih tetap bertahan. Kaum yang ia datangi sering kali menolak atau tidak pernah mau mengindahkan apa yang ia sampaikan. Mereka telah benar-benar lupa diri, dan sebagiannya lagi tetap menjalankan agama tapi hanya sebatas formalitas belaka. Karena itu, setelah lebih dari 10 tahun mengingatkan, atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME) maka di hadapan kaum Nobala, sang pemuda pun berkata:

Zaman yang baru hampir tiba. Akan datang masa penghakiman di seluruh dunia. Api yang menghancurkan segalanya. Sementara Air lah yang membersihkan apapun yang tidak benar. Bersiaplah! Karena seleksinya sangat ketat dan tak pandang bulu. Dan beruntunglah bagi orang-orang yang beriman tanpa pamrih, karena mereka akan selamat dan bahagia

Demikianlah apa yang harus di sampaikan oleh Wirasa kepada semua orang. Bukan lagi dalam bentuk peringatan, tetapi sudah menjadi ancaman yang serius. Semua terjadi lantaran pada masa itu orang-orang terus melawan ketentuan Tuhan dan banyak dari mereka yang juga bersikap jumawa (angkuh, sombong, egois) . Mereka telah lupa bahwa apapun yang mereka miliki dan ketahui sesungguhnya adalah pemberian dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Dusta dan kemunafikan kian merajalela, sementara perbuatan dosa selalu diabaikan. Tak ada lagi rasa cemas ketika nanti harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan di dunia ini. Sehingga di hati dan pikiran mereka yang menyala-nyala itu berkobarlah hasrat untuk bisa memperoleh kebebasan yang sebebas-bebasnya. Tanpa ada batasan mereka bisa melakukan apapun yang diinginkannya. Dan meskipun itu sebuah kesalahan atau berdampak buruk, tak ada yang boleh melarang. Setiap orang berhak untuk berbuat sesuka hatinya. Sungguh konyol dan keterlaluan.

Maka di mulailah proses transisi zaman. Pertama di awali dengan cuaca yang ekstrim dimana-mana lalu diikuti dengan bencana kekeringan dan kelaparan. Akibatnya mulai terjadi perselisihan di antara bangsa-bangsa yang berujung pada pertempuran yang mematikan. Dan perang pun terus menyebar di hampir semua kawasan di Bumi. Semakin lama semakin sengit dan tak tahu lagi mana yang benar dan mana pula yang salah. Kebencian dan sikap tak peduli nasib orang lain pun kian menjamur.

Hingga pada akhirnya Wirasa mendapatkan petunjuk untuk memimpin sebuah pasukan terbaik dari yang terbaik. Mereka adalah kumpulan dari orang-orang pilihan yang terdiri dari para kesatria yang sakti mandraguna. Sebagian dari mereka itu ada yang memang tinggal di Bumi, sebagian lainnya datang dari alam kelanggengan (alam keabadian) lantaran ia sudah moksa. Semuanya berkumpul atas perintah dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Dan semenjak Wirasa menjalankan tugas dalam mengingatkan Manusia, para kesatria itu sudah bersiap untuk turun gelanggang. Hanya saja karena memang belum waktunya maka tak ada dari mereka itu yang bergerak atau menampakkan dirinya. Mereka tetap menunggu komando dari Wirasa yang sebenarnya adalah komando dari Sang Maha Pencipta.

Singkat cerita, sesuai dengan petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME) tak lama kemudian Wirasa mulai bertindak. Kali ini sangat berbeda dari sebelumnya, karena sang pemuda tampil sebagai seorang kesatria yang gagah berani. Tak ada yang menyangka, termasuk mereka yang sebenarnya masih beriman, bahwa Wirasa itu adalah sosok yang terpilih. Dan mereka sangat menyesal, karena selama ini tak peduli dengan Wirasa lantaran ia selalu tampil sebagai orang biasa. Mereka pun tak mau menghormati sang pemuda, lantaran ia tidak seperti kaum bijak yang berkedudukan tinggi. Sungguh pintar Wirasa menyembunyikan jati dirinya, dan semua itu berdasarkan petunjuk Tuhan untuk menguji kebersihan hati Manusia.

Catatan: Pada masa itu, setiap golongan punya persepsi sendiri tentang sosok yang terpilih. Misalnya di kalangan kesatria muncul anggapan bahwa sosok tersebut pastilah dari kalangan kesatria yang sakti mandraguna. Sedangkan di antara para agamawan telah meyakini bahwa sosok tersebut adalah seorang yang sangat alim dan tentunya ia juga rohaniawan yang paling mumpuni. Tapi ternyata semuanya keliru dan mereka terus mencari seorang yang tidak seperti perkiraan mereka. Karena itulah, di saat Wirasa muncul kepermukaan dan terus mengingatkan tentang jalan kebenaran dengan penampilan sebagai orang biasa, maka tak ada yang merasa bahwa dialah sosok yang terpilih itu. Mereka justru menganggap remeh temeh sang pemuda dengan tidak mau mendengarkan apa yang ia sampaikan. Semuanya tak bisa melihat yang sejati lantaran masih tertipu keduniawian.

Kisah pun berlanjut, ada banyak orang yang ingin bergabung dalam pasukan Wirasa tetapi mereka tidak langsung diterima. Mereka tak layak karena sebelumnya telah gagal dalam ujian kebersihan hati. Meskipun mereka termasuk orang-orang yang beriman, tapi masih tidak bisa melihat yang sejati dan terus saja terjebak dengan hal-hal yang bersifat materi. Dan memang bala pasukan yang berada dibawah pimpinan Wirasa itu bukanlah orang sembarangan. Standar mereka sangat tinggi dan tidak pernah ada yang seperti itu sebelumnya. Mereka adalah orang-orang yang berhati murni dan berjiwa bersih, yang tujuan hidupnya hanya untuk mengabdi kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) saja.

Selanjutnya, karena telah diperintahkan maka negeri-negeri yang sudah melampaui batas segera diperangi oleh Wirasa dan bala pasukannya. Bangsa-bangsa yang bertikai, jika tak mau berdamai, mereka juga akan ikut diperangi habis-habisan. Tak ada yang mampu menghentikan pergerakan dari pasukan elit terbaik ini. Sampai pada waktu dimana ada dari kaum-kaum terbesar yang berkoalisi dan mereka mampu mengimbangi kekuatan Wirasa dan pasukannya. Mengapa begitu, apakah karena mereka benar-benar hebat dan kuat? Jawabannya tidak. Karena sebenarnya mereka telah mendapatkan bantuan dari raja kegelapan dan bala pasukannya.

Ya. Pada waktu itu kerajaan Dagoya telah mengajak para sekutunya, yaitu puluhan kerajaan lain, untuk menyatukan kekuatan demi menahan serangan dari pasukan Wirasa. Tidak hanya sampai disitu saja, Raja Hanaso, sang penguasa Dagoya juga telah mendapatkan dukungan penuh dari raja kegelapan yang bernama Mortenka. Ia dan pasukannya siap membantu jika memang sudah waktunya. Jika perlu semua kekuatan mereka dikerahkan agar kemenangan menjadi milik Raja Hanaso dan sekutunya. Terlebih sebagai raja kegelapan Mortenka pun sangat bahagia jika Bumi ini hanya dipenuhi oleh kekufuran dan kejahilan. Begitu semangatnya dia untuk ikut campur dalam segala urusan umat Manusia, terutama untuk bisa menyesatkan mereka.

Dan terjadilah pertempuran besar yang tidak hanya berlangsung di satu tempat melainkan di berbagai tempat di kawasan Nasiyah (seputaran Timur Tengah sekarang). Wirasa terpaksa harus membagi dirinya untuk bisa memimpin pasukan di beberapa tempat yang berbeda secara bersamaan. Karena memang pasukan koalisi Raja Hanaso jumlahnya sangat banyak, jutaan orang. Itu pun masih ditambah lagi dengan bala pasukan kegelapan yang juga ikut dalam setiap pertempuran. Sungguh pertarungan yang sengit, terlebih banyak dari kalangan kesatria di kubu Raja Hanaso yang punya kesaktian yang tinggi. Hal itu bisa terjadi karena sebelumnya mereka telah mengikat kontrak jiwa dengan kegelapan.

Singkat cerita, kedua belah kubu pasukan yang saling bertentangan itu bertempur dengan kekuatan maksimal. Tak perlu dijelaskan lagi tentang bagaimana dahsyatnya pertempuran saat itu, karena mereka telah mengeluarkan semua kemampuan ilmiah dan batiniahnya. Jika tidak menggunakan persenjataan canggih buatan pabrik, mereka lalu menggunakan berbagai pusaka yang sakti mandraguna. Dan khusus bagi golongan kesatrianya, mereka sama-sama mengeluarkan kemampuan ilmu kanuragan dan kadigdayan yang tidak biasa. Apa yang terjadi pada mereka sampai membuat kagum siapapun yang melihatnya. Mereka bertarung dengan kekuatan yang menakjubkan.

Tapi di kubu Wirasa terdiri dari orang-orang yang istimewa. Karena itulah seberapapun kuat dan saktinya pasukan Raja Hanaso tak mampu menandingi mereka. Dan meskipun telah dibantu oleh bala tentara kegelapan, tetap saja harus mengalami kekalahan. Sampai akhirnya si raja kegelapan yang bernama Mortenka sendiri yang turun tangan. Dan karena ia adalah seorang yang teramat sakti, maka sejak awal kehadirannya telah membuat bingung banyak orang. Dengan kekuatan sihirnya ia langsung membagi dirinya dalam jumlah yang sangat banyak dan langsung menyerang semua pasukan elit pimpinan Wirasa. Tidak mudah mengalahkan sosok tersebut karena ia bisa mengubah-ubah wujudnya. Sampai akhirnya Wirasa merasa bosan. Ia lalu meningkatkan kemampuannya dan hanya dengan satu kali tembakan anak panah bisa melenyapkan semua kembaran si raja kegelapan.

Lantas bagaimana dengan Mortenka? Dengan sikap yang gagah berani Wirasa langsung menantang si raja kegelapan itu. Tanpa menunggu persetujuannya, sang pemuda langsung menyerang tanpa henti. Dan terjadilah pertarungan yang luar biasa di angkasa yang belum pernah disaksikan sebelumnya di medan pertempuran itu. Mortenka pun tak pernah bisa mati. Setiap kali terbunuh ia bisa hidup kembali dan kekuatannya pun semakin meningkat. Wirasa terus mencoba menghabisinya dengan berbagai cara namun tak berhasil. Hingga akhirnya ia bisa menyadari bahwa penapesan (titik kelemahan) dari Mortenka itu terletak pada bayangannya. Bayangan itulah yang harus dihabisi, dengan begitu si raja kegelapan itu akan tumbang.

Dan sesuai dengan perkiraan akhirnya Mortenka harus mengaku kalah. Tapi hal itu tak menyurutkan niatnya untuk tetap memenangkan pertempuran. Sang raja kegelapan lalu meminta bantuan dari tuannya yang bernama Nabahu. Hanya dalam waktu singkat sosok yang jauh lebih sakti dari Mortenka itu datang dan langsung membuat gaduh. Ketika ia muncul, dimana-mana langsung terasa tekanan energi yang sangat besar hingga semua orang tak bisa bergerak kecuali Wirasa dan pasukannya. Tanpa menunggu waktu lagi, Nabahu pun segera mengguncang Bumi dengan berbagai bencana mengerikan yang ia ciptakan. Petir menyambar-nyambar keras, angin bertiup kencang, dan getaran gempa terasa sangat kuat. Siapapun yang hidup saat itu langsung merasa ketakutan, dan jika bisa mereka ingin lari dari kenyataan tersebut.

Namun apa daya, Nabahu tidak mau berhenti karena bahkan ia juga membawa bala pasukan yang lebih sakti lagi. Melihat itu, pasukan Wirasa langsung maju menghadapinya. Hanya merekalah yang mampu menandingi kekuatan pasukan kegelapan itu. Dan terjadilah pertarungan yang sangat mengerikan, dimana kedua belah pihak sama-sama mengeluarkan kesaktian yang menakjubkan. Mereka pun bertarung dimana-mana, dan di setiap tempat yang mereka datangi selanjutnya menjadi rusak akibat ajian yang mereka keluarkan. Kedua belah kubu tak ada yang mau mengalah, dan semuanya akan berhenti jika salah satu dari mereka tumbang atau terbunuh.

Sungguh dahsyat pertarungan saat itu, terlebih antara Wirasa dan Nabahu. Karena sama-sama sakti, mereka tidak lagi memerlukan berbagai intrik dan tipuan. Mereka langsung bertarung dengan mengadu kemampuan dan kesaktian yang dimiliki. Semuanya terjadi di angkasa dan luar angkasa. Siapapun yang bisa menyaksikannya jelas berdecak kagum karena hal yang semacam itu belum pernah ia saksikan dalam hidupnya. Level kesaktian dari kedua kesatria itu sangat berbeda dengan siapapun di Bumi, dan mereka bertarung dengan cara yang berbeda pula. Tidak lagi hanya mengandalkan ajian, tetapi sudah di tahap menciptakan dan menghancurkan. Dan hal itu sampai membuat para Dewa-Dewi yang tinggal di Kahyangan lalu menampakkan dirinya di Bumi. Mereka ikut menyaksikan pertarungan yang mengagumkan tersebut.

Hingga pada akhirnya kemenangan bisa diraih oleh Wirasa. Energi dan kekuatan yang ia miliki tanpa batas, dan itu tak mungkin bisa ditandingi oleh Nabahu dengan segala kemampuannya. Dan hanya karena umurnya telah ditangguhkan sampai Hari Kiamat nanti, maka si raja dari raja kegelapan itu tak sampai tewas. Ia lalu kabur dan kemudian bersembunyi di tempat asalnya. Di sana ia akan mengumpulkan kembali kekuatannya dan menunggu waktu yang tepat untuk bisa menyesatkan umat Manusia lagi.

Kisah pun berlanjut. Setelah raja diraja kegelapan Nabahu berhasil dikalahkan, maka tak ada alasan lagi bagi kubu Raja Hanaso untuk melanjutkan pertempuran. Sudah pasti mereka akan tewas mengenaskan jika masih saja melawan Wirasa dan pasukannya. Apa yang sudah mereka saksikan sebelumnya jelas menunjukkan bahwa kekuatan pasukan musuh tak bisa dikalahkan. Hanya dengan menyerah sajalah mereka akan selamat, setidaknya untuk saat itu. Sebab ternyata di kemudian hari mereka tetap saja berulah jahil dan harus diperangi lagi oleh Wirasa dan pasukannya. Tapi lantaran sudah mendapatkan petunjuk, Wirasa dan pasukannya tidak menghabisi semua pasukan di kubu Raja Hanaso itu. Alasannya bahwa nanti mereka akan musnah sendiri karena azab Tuhan akan datang.

Demikianlah Wirasa dan pasukannya tetap bertempur menegakkan keadilan dan kebenaran di Bumi. Mereka tidak pernah bisa dikalahkan. Dan hal itu berlangsung selama tiga tahun, sampai akhirnya mereka diperintahkan untuk segera menyingkir dari Bumi ini.

5. Pergantian zaman yang mengerikan
Sebelum azab besar itu datang, beberapa hari sebelumnya muncul para leluhur Manusia (kaum-kaum terdahulu) dengan menggunakan beragam bentuk armada luar angkasanya. Mereka ini adalah orang-orang yang ditakdirkan selamat dari azab besar di masa lalu atau memang diizinkan untuk berpindah tempat kehidupan (selain di Bumi) lantaran akhlak mereka yang mulia, dan pada akhir zaman ketiga (Dirganta-Ra) itu diperintahkan untuk menyelamatkan sebagian Manusia yang beriman. Dengan teknologi yang super canggih, maka dengan mudahnya mereka bisa membawa siapapun yang terpilih untuk menjauh dari planet Bumi. Tujuannya jelas untuk bisa terhindar dari azab besar yang akan menyelimuti seluruh wilayah di Bumi.

Maka sesuai dengan perintah dari Hyang Aruta (Tuhan YME), para leluhur tersebut segera mengajak siapapun yang terpilih, termasuk hewan dan tumbuhan, untuk naik ke pesawat yang sudah dipersiapkan bagi mereka. Tidak lebih dari 10% saja yang telah lulus seleksi, selebihnya ditinggalkan begitu saja di Bumi. Dan meskipun di waktu sebelumnya Manusia sangat mengandalkan teknologi yang dimiliki, namun sejak kedatangan para leluhur saat itu, semua teknologinya tak berfungsi lagi. Tak ada satu pun yang bisa digunakan dan hanya menjadi beban.

Catatan: Armada pesawat terbang yang digunakan oleh para leluhur saat itu rata-rata berukuran sebesar pulau Bali, dan sebagian lainnya sebesar pulau Kalimantan. Karena itu di dalamnya terdapat berbagai fasilitas yang layak dan cocok untuk semua jenis makhluk hidup dari Bumi.

Selanjutnya, disaat mereka yang terpilih sudah dibawa keluar dari planet Bumi, selang tiga hari berikutnya datanglah apa yang sebelumnya telah dikabarkan. Azab yang sangat mengerikan segera menghukum bagi siapapun yang kufur. Dan pada waktu itu sebuah asteroid berdiameter 20-25 kilometer melesat dengan kecepatan puluhan kali kecepatan suara langsung menghujam Bumi. Ketika sedang mendekati Bumi saja, asteroid itu sudah memberikan tekanan energi yang sangat besar dan menimbulkan getaran yang begitu keras di permukaannya. Sedangkan saat ia menghantam Bumi, langsung saja menimbulkan gelombang kejut dan guncangan yang sangat keras setara dengan 10-15 miliar bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki. Terutama dalam radius ribuan kilometer di sekeliling lokasi benturan, semuanya bahkan tersapu bersih. Api radioaktif pun menyebar ke segala arah dan menyebabkan kerusakan yang sangat parah.

Kemudian, salah satu dampak terburuk dari hantaman asteroid itu hingga menyebabkan gunung-gunung berapi segera aktif kembali dan meletus dimana-mana. Hal ini semakin menambah banyak jumlah korban jiwa di seluruh dunia tanpa bisa dihentikan. Di tambah lagi dengan munculnya tsunami setinggi 100-300 meter yang segera merusak garis pantai hingga akhirnya merendam separuh planet ini. Flora dan fauna yang sebelumnya tidak di bawa oleh armada-armada para leluhur ke luar Bumi tak punya harapan hidup sama sekali. Mereka mati akibat temperatur yang sangat tinggi, hempasan angin kuat dan badai petir, gempa setara 10-12 skala richter, tsunami yang sangat mengerikan, letusan gunung berapi, atau batu-batuan yang jatuh dari angkasa. Begitu pula dengan Manusia, karena hampir semuanya terbakar dan pada akhirnya dilamun obak dahsyat untuk membersihkan seisi Bumi.

Selain itu, ketika asteroid menghantam Bumi, hal itu juga menyebabkan bongkahan besar di dasar Bumi sampai ada yang menguap ke atas. Puing-puingnya terlempar bagaikan kembang api ke atas lokasi tubrukan, hingga ke angkasa. Pijaran panas dari puing-puing yang kembali memasuki atmosfer menjadikan planet Bumi seperti oven, sangat panas. Dan puing-puing itu lalu menyebar ke timur dan barat hingga menyelimuti seluruh planet Bumi. Kemudian, semuanya jatuh ke Bumi bagaikan hujan deras tetapi sangat merusak. Jutaan ton jumlahnya, dan ikut mengubur kehidupan yang tersisa. Dan kengerian itu pun belum berakhir, karena peta dunia ikut berubah drastis dengan banyaknya daratan yang bergeser atau tenggelam dengan sangat cepat. Tak ada yang bisa lari dari kenyataan memilukan ini.

Sedangkan semua peristiwa itu hanya berlangsung dalam hitungan menit sampai jam saja. Akibatnya Bumi yang sebelumnya adalah tempat yang subur dan penuh kehidupan yang beragam segera menjadi kacau balau dan penuh dengan kehancuran yang dahsyat. Lalu setelah semua azab itu selesai, justru keadaan di Bumi menjadi sunyi. Ada seorang Malaikat yang ditugaskan untuk menghentikan semua kerusakan dan kegaduhan di Bumi saat itu dan menggantikannya dengan ketenangan. Tapi air yang berlimpah masih terus memenuhinya selama beberapa bulan. Sampai akhirnya diperintahkan oleh Tuhan untuk surut, masuk ke dalam perut Bumi.

Ya. Pada akhirnya di beberapa lokasi di Bumi daratannya kemudian membelah dirinya dan air yang berlimpah saat itu ikut masuk ke dalamnya. Apapun yang mati dan hancur akibat terkena dampak hantaman asteroid kala itu juga tersedot masuk ke dalam perut Bumi. Selang beberapa waktu kemudian, kondisi di seluruh Bumi terlihat sangat tenang dan bersih. Semuanya telah berubah drastis. Tak ada suara apapun kecuali alam yang berbisik bahagia karena Tuhan sudah menunjukkan keadilan-NYA sekali lagi.

Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para Rosul) sedang orang-orang itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa yang telah KAMI berikan kepada orang-orang terdahulu itu namun mereka mendustakan para Rosul-KU. Maka lihatlah bagaimana dahsyatnya akibat dari kemurkaan-KU” (QS. Saba’ [34] ayat 45)

Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah KAMI binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya (lebih sakti dan lebih canggih teknologinya) dari pada mereka ini, maka mereka (yang sudah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” (QS. Qaaf [50] ayat 36)

Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat sebelum mereka yang telah KAMI binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Tuhan). Maka apakah mereka tidak mendengarkan?” (QS. As-Sajdah [32] ayat 26)

6. Akhir kisah
Setelah proses transisi zaman ketiga (Dirganta-Ra) selesai dengan jatuhnya asteroid ke Bumi, maka untuk waktu yang cukup lama planet Bumi kosong dari makhluk hidup. Pada masa itu, berselang waktu 30 tahun kemudian, para Malaikat diperintahkan untuk menata kembali kehidupan di Bumi dengan menanam kembali berbagai jenis tumbuhan, di darat dan lautan. Benihnya disebarkan ke segala penjuru dan di tempat-tempat tertentu mereka juga meletakkan hewan-hewan yang beraneka ragam speciesnya, yang semuanya diambil dari tempat yang terahasia.

Catatan: Pada masa itu tak butuh waktu lama bagi para Malaikat untuk bisa menata kembali seisi Bumi. Tak perlu lagi mengikuti hukum fisika dan biologi yang ada. Karena hanya dalam waktu singkat beragam flora dan fauna sudah memenuhi Bumi ini. Berbagai keajaiban terjadi dan semua itu hanya atas izin dan kehendak Yang Maha Pencipta.

Dan kehidupan di Bumi kembali semarak dengan adanya bermacam flora dan fauna. Semuanya kembali normal dan tampak seimbang. Beberapa tahun kemudian, barulah giliran mereka yang telah diselamatkan oleh para leluhur (yang dibawa dengan pesawat ke luar Bumi) untuk kembali ke Bumi. Semuanya lalu disebar ke segala penjuru, termasuk Manusia yang awalnya tinggal di sebuah kawasan lalu diperintahkan menyebar ke berbagai arah. Di tempat yang baru itu mereka pun membangun peradaban yang sesuai dengan karakter mereka masing-masing namun tetap sesuai dengan hukum Tuhan.

Singkat cerita, Wirasa dan mereka yang selamat dari azab besar transisi zaman ketiga (Dirganta-Ra) itu mulai membangun peradaban di Bumi. Di awal periode zaman ke empat, yang disebut dengan Swarganta-Ra, siapapun yang tinggal di Bumi hanya mengikuti hukum dan aturan dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Dan atas petunjuk yang didapatkan, Wirasa pun mengajak orang-orang untuk membangun sebuah negeri yang kemudian diberi nama Amaruya atau yang berarti keindahan yang damai. Dalam waktu yang relatif singkat, kehidupan di sana sudah aman dan makmur. Dan karena mereka pernah hidup bersama para leluhur yang bijak, di negeri Amaruya itu keadaannya terasa sangat tenang dan damai. Segala sesuatunya di lakukan dengan bijaksana tanpa tedeng aling-aling (maksud jahat yang tersembunyi). Penduduk di sana adalah orang-orang yang berbudi luhur dan sangat dewasa dalam bertindak. Sungguh kehidupan yang indah dan membahagiakan.

….., dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu KAMI pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); …..” (QS. Ali-‘Imran [3] ayat 140)

Ya. Kehidupan yang penuh keindahan dan kedamaian itu berlangsung lebih dari 1 juta tahun. Sampai pada akhirnya negeri Amaruya dan penduduknya diperintahkan untuk berpindah Dimensi kehidupan, maka secara perlahan-lahan Manusia mulai tergelincir dari jalan kebenaran. Pembangkangan terhadap hukum dan aturan Tuhan mulai terjadi, secara terang-terangan ataupun tersembunyi. Dari waktu ke waktu lalu terjadi perselisihan karena perbedaan keyakinan. Dan ini sampai menyebabkan pertempuran yang kembali memakan banyak korban jiwa. Demikianlah zaman ke empat itu (Swarganta-Ra) terus berlanjut dengan berbagai warna-warninya. Jika ada kebatilan, maka tak lama kemudian akan muncul kebajikan yang mengalahkannya. Begitu pula sebaliknya, dan ini terus terjadi silih berganti sampai akhir zaman.

Catatan: Sebagai pengingat lagi, berikut ini kami berikan nama-nama dan urutan periode zaman yang telah berlalu dan akan terjadi. Di antaranya yaitu:

1. Purwa Duksina-Ra (zaman asal usul dan perkembangan Manusia pertama) => zaman kehidupan Ayahanda Adam AS dan anak keturunannya.
2. Zaman Purwa Naga-Ra (zaman asal muasal Manusia kedua)
3. Zaman Dirganta-Ra (zaman puncak peradaban dan kesaktian Manusia)
4. Zaman Swarganta-Ra (zaman puncak ilmu pengetahuan dan teknologi)
5. Zaman Dwipanta-Ra (zaman keseimbangan peradaban)
6. Zaman Nusanta-Ra (zaman kerajaan besar/kekaisaran)
7. Zaman Rupanta-Ra (zaman edan/membingungkan, penuh kemunafikkan dan kerusakan akhlak) => zaman kita sekarang.
8. Zaman Hasmurata-Ra (zaman puncaknya keindahan peradaban Manusia) => zaman yang akan datang.

Kisah pun berlanjut. Dalam sebuah kesempatan ketika masih hidup di negeri Amaruya, dihadapan kaumnya Wirasa pernah berpesan. Katanya: “Hidupmu bukanlah milikmu sendiri. Kau takkan lemah ketika melindungi kehidupan yang hakiki. Temukanlah yang sejati dengan menganggap bahwa kehidupan di Bumi ini berarti. Dan dirimu adalah sama berharganya dengan orang lain. Makanya jangan abaikan siapapun. Hanya dengan begitulah engkau baru akan menemukan kebahagiaan

Di waktu yang lain ia juga sempat berkata: “Sungguh begitu banyak yang menyia-nyiakan hidupnya dengan tidak menyadari segala nikmat dan anugerah Tuhan. Begitu pun tak sedikit yang lupa diri dengan cara menghabiskan waktu hidupnya hanya dengan memenuhi setiap keinginan yang ada. Apalah gunanya hidup ini jika tanpa arah yang sesuai dengan jalan kebenaran Tuhan? Untuk apa hidup di dunia yang sementara ini, jika malah semakin cinta dengan hal-hal yang sebenarnya menipu. Mungkin akan terasa indah dan nikmat, tapi sadarlah bahwa itu semua hanyalah ilusi. Semuanya tak lebih dari sekedar sementara belaka. Cepat atau lambat semuanya akan berakhir dan setiap yang bernyawa akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-NYA.

Demikianlah apa yang pernah disampaikan oleh Wirasa dihadapan kaumnya saat itu. Dan ketika sudah merasa cukup untuk hidup di Bumi ini, sang pahlawan dan istrinya, Anikan, memutuskan untuk berpindah tempat kehidupan. Sehingga berakhirlah kisah pemuda desa yang terpilih menjadi pemimpin besar dunia. Tapi sebelum ia pergi, tiga bulan sebelumnya Wirasa sempat berwasiat. Katanya:

Abnahika yasyata’aru jam’arunayahi surtinamiyah arimantusa. Tahkalinurriyah antaniyatulsi Nes 01, Awu 05, Helt 03, Yaj 07, an Dur 09 tatwakalin burj’amurah. Asalahiyanam uriyanamus Sri Maharaja Hattanariyas Angruwarbhumi hiran bashaliman. Nurriyahinah tus’anukahi jawalakasya nettar 013-257-864-901 huktamas damarajaya. Yusnamahiyam daritakalta assalam biharatunah wallunahisya

Sungguh, pesan itu sangat berarti bagi mereka yang tinggal di negeri Amaruya saat itu. Dan informasi tersebut terus disampaikan dari generasi ke generasi melalui lisan dan tulisan. Hingga kini pun tetap bisa disampaikan meskipun tidak dilengkapi dengan arti dan penjelasannya. Kami tidak diizinkan untuk itu, terlebih pesan tersebut di tujukan tidak kepada semua orang. Hanya bagi kalangan tertentu saja, yang telah siap dan memahami dirinya sendiri.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Rahayu.. 🙏

Jambi, 13 Mei 2019
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Seperti pada tulisan sebelumnya, silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Kami tidak akan memaksa atau merasa kecewa. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Bacalah dengan tenang dan terurut kisah ini. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahaminya. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat banyak perbedaannya.
3. Ada banyak hal yang tak bisa disampaikan disini karena memang harus dirahasiakan dulu, belum waktunya untuk disampaikan sekarang. Maaf.
4. Mari tetap persiapkan diri sebaiknya, teruslah bersikap eling lan waspodo, karena apa yang pernah terjadi di masa lalu tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi, bahkan lebih dashyat dan mengerikan.

Iklan

12 respons untuk ‘Mardum : Batas Waktu Dunia

    Asyifa Wahida said:
    Mei 19, 2019 pukul 9:30 am

    Matur suwun kagem ilmu trbarunya enggih mas ….
    Alhamdulillah sangat bermanfaat kagem kulo

      Harunata-Ra responded:
      Mei 19, 2019 pukul 1:35 pm

      Syukurlah kalo gitu mbak Asyifa, senang mengetahuinya… sama2lah mbak, terima kasih juga loh karena masih mau berkunjung.. Ttp semangat ya.. 💪😊

        Asyifa Wahida said:
        Mei 27, 2019 pukul 4:56 am

        Enggih mas…
        matur suwun kagen suportnya….
        bgtu jg panjenengan tetap semangat dlam mnyebarkan mengajak menasehati dn mndoakan saudara2 kita meskipun terasa sangat sulit …..

        Harunata-Ra responded:
        Mei 28, 2019 pukul 2:54 am

        Siaap mbak, nuwun ya utk dukungannya.. doakan saya ttp istiqomah.. 🙂

        Harunata-Ra responded:
        Mei 28, 2019 pukul 2:54 am

        Siaap mbak, nuwun ya utk dukungannya.. doakan saya ttp istiqomah.. 🙂

    ary said:
    Mei 22, 2019 pukul 8:38 am

    Kalau di sejarah, Nabi Adam sampai jaman sekarang ini hanya berjarak ratusan ribu tahun, namun bila dari berbagai tulisan yang mas buat, jaraknya sampai milyaran tahun, kalau ada penduduk bumi yang dimusnahkan, apa ada yang tersisa ? atau sebagian dibawa ke dimensi lain, terus dibawa lagi ke bumi ?

    Delphi said:
    Mei 23, 2019 pukul 4:44 am

    Luar biasa, semoga kita termasuk orang2 yang ditunjuki hyang aruta jalan kebenaran dan dikasihiNya,, aamiin

      Harunata-Ra responded:
      Mei 24, 2019 pukul 2:27 am

      Aamiin.. Semoga begitu mas Delphi.. Terima kasih karena masih mau berkunjung.. 😊🙏

    Asyifa Wahida said:
    Juni 6, 2019 pukul 8:33 am

    Enggih pasti mas …

    siapp mas tanpa panjenengan minta sll kulo doakn yg terbaik kagem panjenengan lan kagem keluargi panjenengan

      Harunata-Ra responded:
      Juni 9, 2019 pukul 7:47 am

      Syukurlah kalo gitu.. Nuwun ya mbak.. 🙂

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    Juni 21, 2019 pukul 11:57 am

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s