Diposkan pada Info Terbaru, Tulisan_ku

Puasa dan Riyadhoh

Wahai saudaraku. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang satu hal yang sangat penting bagi umat Manusia. Itulah puasa, sebuah kegiatan yang menuntut niatan yang mantap dan sikap yang bijaksana. Karena pada hakekatnya berpuasa itu tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga saja, tetapi lebih kepada menahan diri dari hal-hal yang tidak baik. Tanpa itu maka puasa yang di lakukan hanya akan berujung sia-sia.

Nah, untuk lebih jelasnya mari ikuti uraian berikut ini:

1. Sejarah puasa
Dalam kisah hidup umat Manusia, puasa telah dikenal sejak zaman pertama (Purwa Duksina-Ra), baik untuk ritual keagamaan maupun tujuan pengobatan. Adapun yang pertama kali mengajarkan tentang hal itu adalah Ayahanda Adam AS sendiri dengan istilah Syim. Dan yang pertama kali mengikuti Syim ini adalah anak-anaknya pula. Lalu bagaimana dengan istrinya, Ibunda Hawa AS? Beliau justru telah sama-sama berpuasa – dengan berbagai cara dan waktunya – pada saat mereka terpisah ketika turun ke Bumi. Tepatnya ketika anak-anak mereka belum lahir. Semua itu hanya atas petunjuk dari Tuhan.

Lalu dalam tradisi bangsa kita, maka penyebutan kata puasa yang dijadikan sebagai kata ganti untuk menyebut ash-Shiyam, rupanya berasal dari bahasa Sanskerta. Itu bisa dibuktikan dengan menengok kata Upa yang berarti dekat atau mendekat, dan Wasa yang berarti Tuhan. Jadi, Upawasa atau setelah diserap ke dalam bahasa Melayu lalu ke dalam bahasa Indonesia menjadi Puasa itu mempunyai arti mendekatkan diri kepada Tuhan. Tradisi Upawasa atau puasa menjadi perkara lazim dalam sejarah bangsa kita, bersanding dengan istilah Tirakat. Bahkan sejak jauh sebelum kedatangan agama Hindu, Buddha, dan Islam, maka kegiatan puasa ini telah di lakukan oleh para leluhur kita dan bentuknya pun beraneka ragam. Begitu pula niat dan tujuannya yang berbeda-beda.

Sementara itu, sejarah puasa dari bangsa-bangsa terdahulu juga telah disinggung dalam Al-Quran, yaitu pada surat Al-Baqarah [2] ayat 183 – yang menjadi dalil paling kerap disitir pada saat menjelaskan tentang kewajiban Puasa Ramadhan. Ayat tersebut berbunyi:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Sejarah ini banyak dituturkan oleh mufasir atau ahli tafsir klasik ketika menjelaskan maksud kata-kata: “Orang-orang sebelum kamu” dalam ayat tersebut. Dimana yang dimaksudkan adalah kaum-kaum dan ajaran agama sebelum kedatangan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Mereka semua telah mengenal ritual puasa, bahkan mewajibkannya.

2. Keistimewaan puasa
Kegiatan berpuasa itu banyak mendatangkan manfaat. Dalam dunia pengobatan klasik, puasa dipakai di antaranya oleh para dokter dari Alexandria, Mesir kuno, pada masa pemerintahan Batlimus. Bahkan seorang dokter Yunani kuno, Hippocrates, yang hidup pada abad ke-5 SM, telah menyusun cara-cara puasa untuk terapi pengobatan.

Ovivo Corna menggunakan terapi puasa untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Sebelumnya, ia mencoba pada dirinya sendiri dan berhasil sembuh dari penyakit kronis yang dideritanya. Ia berumur hampir 100 tahun lamanya. Di penghujung hayat, ia menulis sebuah buku tentang pentingnya puasa dalam mengobati beberapa penyakit. Buku itu ia beri judul Siapa Yang Sedikit Makan, Akan Berumur Panjang. Begitu tulis Hasan bin Ahmad Hammam dalam karyanya yang berjudul At-Tadawi bi Al-Istighfar bi Ash-Shadaqah bi Ad-Du’a bi Al-Qur’an bi Ash-Shalah bi Ash-Shaum.

Selain itu, pada abad ke-6 SM seorang tabib dari Tiongkok bernama Shu Jhu Chi yang hidup di Tibet menulis satu bab khusus dalam kedokterannya tentang terapi puasa dan terapi makanan. Begitu pula Epicurus (seorang filsuf besar) sebelum memasuki ujian akhir di Universitas Alexandria, di Mesir kuno, berpuasa selama 40 hari untuk menambah kekuatan pikiran dan daya kreativitasnya.

Adapun menurut Louis Ma’luf (2003), dalam dunia keagamaan puasa merupakan ritual kuno dan sudah banyak dikenal. Dalam masyarakat yang memiliki peradaban maju, seperti Mesir dan bangsa Phoenisia yang hidup di wilayah Lebanon sekitar abad ke-26 SM, puasa telah dikenal. Mereka berpuasa untuk menghormati Izis. Penganut Hindu, Brahma, serta Buddha di India dan dunia Timur, melakukan puasa sesuai dengan aturan yang tertera dalam Kitab Suci mereka.

Demikianlah sekelumit tujuan dan manfaat dari puasa. Sedangkan berikut ini adalah contoh puasa yang di lakukan dalam banyak bangsa dan agama. Yaitu:

1. Orang Mesir kuno
Pemeluk agama Mesir kuno sebagai paganis (penyembah berhala) juga melakukan puasa untuk menghormati tuhan matahari dan sungai Nil sebelum adanya tuhan-tuhan lainnya. Pengabdian kepada matahari dan sungai Nil tersebut karena manfaat yang mereka rasakan. Orang-orang Mesir kuno juga melakukan puasa dalam rangka hubungan mereka dengan para Dewa. Karena itu, mereka mendirikan kuil-kuil pemujaan. Upacara pemujaan terhadap para Dewa ini secara teoretis dibawakan oleh sang raja, tetapi kenyataannya sering juga dibawakan oleh deputi atau para pendetanya.

2. Orang Yunani kuno
Puasa juga dikenal di kalangan pemeluk agama Yunani kuno. Puasa tersebut dilaksanakan oleh laki-laki maupun perempuannya. Orang-orang Yunani kuno mengambil tradisi puasa orang-orang Mesir kuno, kemudian mereka mewajibkan puasa tersebut di kalangan mereka. Meski mengadopsi tradisi Mesir kuno, namun puasa orang Yunani kuno dikerjakan dengan tata cara mereka sendiri. Misalnya, para wanita melakukan puasa dengan cara duduk di atas tanah dengan menunjukkan perasaan duka nestapa. Sebagian orang Yunani kuno berpuasa beberapa hari secara berturut-turut, terutama menjelang peperangan berlangsung

3. Orang Romawi
Orang-orang Romawi berpuasa pada hari-hari tertentu, terutama ketika menghadapi musuh, dengan maksud agar memperoleh kemenangan. Mereka biasa berpuasa pada bulan Oktober yang biasa disebut puasa Ceres. Kebiasaan ini kemungkinan pengaruh dari orang-orang Yunani Hellenis yang berpuasa dalam rangka memuja Dewa Attis.

4. Bangsa Nusantara
Sejak jauh sebelum agama impor (Hindu, Buddha, Islam, dll) datang ke Nusantara, para leluhur kita sudah mengenal berbagai jenis puasa. Tujuannya untuk melatih diri demi mencapai tujuan tertentu. Adapun di antaranya yaitu:

1. Ngrowot : Hanya makan sayuran tanpa garam atau gula dan cukup minum air putih saja.

2. Mutih : Hanya makan nasi putih tanpa lauk pauk yang berupa apapun juga, termasuk garam dan gula. Boleh minum air, itu pun harus terus dikurangi volumenya.

3. Sirik : Menjauhkan diri dari segala macam urusan keduniawian.

4. Ngebleng : Tidak makan atau minum apa-apa sama sekali (berpuasa) dan tidak tidur selama kurun waktu tertentu. Disini seseorang juga harus melakukan semedhi (meditasi).

5. Patigeni : Tidak makan atau minum apa-apa sama sekali (berpuasa), di tambah dengan tidak tidur dan tidak terkena cahaya (api, matahari) dalam kurun waktu tertentu. Lalu selama melakukan patigeni ini seseorang juga terus ber-semedhi (meditasi).

6. Tapa brata : Setelah ke lima laku tirakat di atas dijalani dengan tekun, selanjutnya seseorang baru akan siap melakukan tapa brata secara terus menerus tanpa makan, minum, dan bergerak di suatu tempat khusus – biasanya di alam bebas seperti goa, puncak gunung, hutan, dan air terjun. Pada saat semedhi itulah, jika ia berhasil maka seseorang akan mendapatkan ilham atau wisik goib sesuai dengan apa yang ia butuhkan. Petunjuk itu akan membimbingnya untuk melakukan sesuatu agar bisa berhasil.

Hingga kini tetap ada yang menekuni berbagai jenis puasa di atas atau dalam istilah yang lebih tepat adalah tirakat. Tujuannya adalah untuk menempa diri dan mengolah batin. Hanya saja memang harus diakui jumlahnya semakin sedikit saja, dan orang-orang sudah tidak tertarik lagi, bahkan sampai tak tahu lagi manfaatnya. Tidak sedikit yang justru senang mencibir dan menganggapnya sesat. Sungguh bangsa ini kian menjauhkan diri dari jati dirinya sendiri. Sangat disayangkan.

5. Agama Zoroaster
Kebiasaan berpuasa juga dikenal di kalangan para pemeluk agama Zoroaster (agama ini berasal dari Persia). Di kalangan pemeluk Zoroaster dikenal puasa yang disebut ‘puasa tolak bala bencana’ (deprecated fasting).

Selain itu, terdapat 3 konsep penting dalam ajaran Zoroaster, yaitu Goftare Nik, Pendare Nik, dan Kerdare Nik (berkata, berpikir dan berlaku baik). Atau juga disebut dengan Humat, Hukht, dan Huvarsht yang juga berarti pikiran baik, perkataan baik, dan perbuatan baik. Inilah konsep etika dan moralitas yang diajarkan oleh agama ini. Dan untuk bisa mewujudkannya, maka peran dari puasa adalah sangat penting. Karena dengan berpuasa – yang berarti menahan segala yang tidak baik – maka seseorang telah melatih dirinya untuk mampu berpikiran baik, berkata-kata baik, dan bertindak baik.

6. Agama Taoisme dan kungfusianisme
Masyarakat China kuno yang menganut ajaran Taoisme dan Konfusianisme juga mengenal tradisi berpuasa. Orang-orang China kuno berpuasa pada hari-hari biasa, sedangkan pada hari-hari tertentu seperti ketika terjadi banyak fitnah dan bencana, mereka mengharuskan diri berpuasa, dengan tujuan agar terhindar dari fitnah dan bencana itu.

Sementara orang-orang Tibet membiasakan menahan diri dari makan dan minum selama 24 jam berturut-turut tanpa makan sedikit pun, sampai-sampai air liur pun tidak boleh ditelan, dengan tujuan magis maupun religius.

7. Agama Shinto
Menurut catatan kuno, agama Shinto di Jepang dikatakan sebagai agama yang para penganutnya dikenal sebagai “orang-orang yang berpantang”. Siapa saja tidak boleh menyisir rambut, mencuci, makan daging, maupun mendekati wanita-wanita. Kedudukan badan hukum alim-ulama yang turun-temurun dan disebut dengan Imbe, berfungsi untuk menyiapkan selamatan-selamatan bagi para Dewa, karena telah melakukan pantang dari segala pengotoran atau segala hal-hal yang tidak suci.

8. Agama Hindu
Puasa dalam agama Hindu disebut dengan Upawasa. Upawasa ada yang wajib ada juga yang tidak wajib. Upawasa yang wajib misalnya adalah Upawasa Siwa Ratri, dimana umat Hindu tidak boleh makan dan minum dari saat matahari terbit hingga terbenamnya. Lalu puasa Nyepi, yang di lakukan dengan cara tidak makan dan minum sejak fajar hingga fajar keesokan harinya (24 jam). Puasa lain yang dianggap wajib adalah puasa untuk menembus dosa yang di lakukan selama tiga hari, puasa tilem dan purnama.

Ya, Upawasa merupakan bagian dari brata, dan brata sendiri adalah bagian dari brata-yoga-tapa-samadhi, yang menjadi satu kesatuan dalam konsep Nyama Brata. Kewajiban warga Hindu menggelar brata-yoga-tapa-samadhi diisyaratkan dalam kakawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut.

Hana mara janma tan pamihutang brata-yoga-tapa-samadhi angetul aminta wiryya suka ning Widhi sahasaika, binalikaken purih nika lewih tinemuiya lara, sinakitaning rajah tamah inandehaning prihatin.

Artinya:
Ada orang yang tidak pernah melaksanakan brata-yoga-tapa-samadhi, dengan lancang ia memohon kesenangan kepada Widhi (dengan memaksa), maka ditolaklah harapannya itu sehingga akhirnya ia menemui penderitaan dan kesedihan, disakiti oleh sifat-sifat rajah (angkara murka/ambisius) dan tamah (malas dan loba), ditindih oleh rasa sakit hati. Tegasnya, bila ada orang yang tidak pernah menggelar brata-yoga-tapa-samadhi lalu memohon sesuatu kepada Hyang Widhi, maka permohonannya itu akan ditolak bahkan akan mendatangkan penderitaan baginya. Yang dimaksud dengan brata adalah mengekang hawa nafsu panca indra, yoga adalah tepekur merenungi kebesaran Hyang Widhi; tapa adalah pengendalian diri; samadhi adalah mengosongkan pikiran dan penyerahan diri total sepenuhnya pada kehendak Hyang Widhi.”

Jadi berpuasa yang baik menurut agama Hindu itu adalah senantiasa disertai dengan kegiatan lainnya seperti di atas, tidak dapat berdiri sendiri. Upawasa batal jika melanggar/tidak melaksanakan brata-yoga-tapa-samadhi.

9. Agama Buddha
Dalam agama Buddha, puasa disebut sebagai Uposatha. Tanggal puasa bergantung pada aliran Buddha yang diikuti, namun mereka sama-sama mengikuti perhitungan kalendar Buddhis. Ketika berpuasa, umat Buddha masih diperbolehkan untuk minum namun tidak boleh makan. Selama berpuasa maka setiap orang harus melaksanakan delapan aturan yang disebut dengan uposathasila. Adapun ke delapan hal itu adalah tidak membunuh, tidak mencuri, tidak melakukan kegiatan seksual, tidak berbohong, tidak makan pada siang hari hingga dini hari, dan tidak menonton hiburan atau memakai kosmetik, parfum, dan perhiasan.

Jenis puasa lain yang dilaksanakan dalam ajaran Buddha adalah puasa vegetaris atau tidak boleh mengkonsumsi makanan yang berasal dari produk hewani dan tidak mengkonsumsi bawang-bawangan. Puasa ini di lakukan pada tanggal 1 dan 15 berdasarkan kalender bulan.

10. Agama Konghucu
Puasa dalam kepercayaan Konghucu juga merupakan cara untuk mensucikan diri dan melatih diri, baik itu untuk menjaga perilaku, perkataan, dan agar diri kita dipenuhi cinta kasih. Puasa dalam agama Konghucu ada dua jenis: puasa rohani dan jasmani. Puasa rohani di lakukan dengan menjaga diri dari hal-hal yang dianggap asusila. Sementara puasa jasmani di lakukan pada bulan Imlek.

Adapun tata caranya maka puasa di lakukan dengan cara berpantang makan daging secara bertahap, ada yang hanya sehari, dua hari, dan seterusnya hingga berpantang permanen. Pada tanggal 8 bulan pertama Imlek, di lakukan puasa penuh dari pukul 05.30 hingga 22.00. Puasa diawali dengan mandi keramas dan berakhir setelah sembahyang.

11. Agama Yahudi
Puasa atau Ta’anit dalam agama Yahudi dibagi menjadi dua, yaitu pada hari besar, Yom Kippur dan Tisha B’Av, juga pada hari kecil, misalnya puasa Esther dan puasa Gedhalia. Pada saat puasa, mereka tidak diperkenankan untuk makan dan minum, berhubungan sex, mengenakan sepatu kulit, dan khusus pada hari Yom Kippur, umat Yahudi tidak diperkenankan untuk menggosok gigi. Kecuali pada saat Yom Kipur, puasa tidak boleh di lakukan pada hari Sabat. Sehingga, apabila puasa selain puasa Yom Kippur jatuh para hari Sabat, para Rabbi akan memutuskan hari pengganti untuk berpuasa.

12. Agama Nasrani
Umat Nasrani pada masa lalu sudah diwajibkan berpuasa. Mereka tidak makan sebelum tidur dan tidak berhubungan sex sama sekali selama satu bulan penuh. Pada umumnya, bulan puasa jatuh pada musim panas yang sangat terik atau pada musim dingin yang menusuk tulang, sehingga ibadah ini dirasa mengganggu aktivitas perekonomian mereka. Hal ini mendorong para cendekiawan Nasrani bersepakat memindahkan waktu puasa pada musim semi untuk memudahkan ritual puasa ini bagi umatnya. Mereka menambahkan sepuluh hari, sebagai kafarah (penebus) atas perbuatan mereka, sehingga hari wajib puasa bagi umat Nasrani adalah 40 hari.

Khusus umat Katolik juga mengenal istilah berpantang dan berpuasa. Masa puasa pra-Paskah misalnya berlangsung selama 40 hari, dihitung dari hari Rabu hingga Jumat Agung. Dan berpuasa ini wajib bagi mereka yang sudah berusia 18 tahun. Saat berpuasa, mereka hanya diizinkan untuk makan kenyang sekali saja dalam sehari. Sementara itu, berpantang wajib untuk mereka yang berusia 14 tahun ke atas. Berpantang di lakukan dengan cara menghindari diri dari melakukan hal-hal yang disukainya, misalnya makan daging, garam, atau merokok. Berpuasa dan berpantang merupakan cara untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan menyatukan pengorbanan umat Katolik dengan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.

13. Agama Islam
Puasa wajib selama 29-30 hari di bulan Ramadhan (bulan ke 9 dalam kalender Hijriyah) yang di laksanakan oleh umat Islam baru diperintahkan pada bulan Sya’ban (bulan ke 8 dalam kalender Hijriyah), dua tahun setelah hijrah ke Madinah. Artinya, ibadah puasa itu baru disyariatkan 15 tahun setelah dikabarkannya ajaran Islam oleh Nabi Muhammad SAW di kota Makkah. Hal ini bertujuan agar umat Islam pada waktu itu tidak terlalu dibebani atau setelah mereka siap terlebih dulu, maklumlah mereka belum lama mengikuti ajaran agama baru tersebut. Jika sejak awal sudah diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh, dikhawatirkan justru bisa menjadi beban berat dan menjauhkan Manusia dari ajaran Islam. Demikianlah agama ini disampaikan dengan cara bertahap dan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Setiap amalan kebaikan yang di lakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-KU. AKU sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-KU. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Muslim)

Sedangkan makna puasa dalam ajaran Islam, yang dalam bahasa Arab disebut Shiyam atau Shaum itu berarti al-Imsaq (menahan), yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang tidak baik atau yang bisa merugikan diri sendiri atau orang lain, sekaligus menjadi sarana untuk mengevaluasi diri agar bisa turut hidup berdampingan dengan orang lain secara harmonis, tidak merasa sombong, tidak egois, bersikap tepa selira, penuh cinta kasih, rendah hati, toleransi, menjalin hubungan yang baik dalam perbedaan untuk mewujudkan kebersamaan, serta melatih diri untuk peka terhadap lingkungan. Ash-Shiyam atau Shaum (puasa) juga merupakan riyadhoh (latihan diri) untuk bisa hidup lebih baik secara sosial (horizontal) dan bisa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa (vertikal). Dalam Islam hal ini disebut dengan istilah hablumminannas dan hablumminallah.

Catatan: Shiyam itu di laksanakan pada waktu tertentu, sedang Shaum di laksanakan sepanjang tahun, bahkan sepanjang masa hidup seseorang. Keduanya sama-sama berarti al-Imsaq (menahan diri) dari segala sesuatu yang tidak baik dan merugikan.

Adapun jenisnya, maka selain puasa Ramadhan maka ada bermacam jenis puasa sunnah (dianjurkan, bukan wajib). Misalnya puasa Daud yang di lakukan dengan cara satu hari berpuasa dan satu hari berikutnya tidak, terus seperti itu. Selanjutnya puasa putih atau yang disebut dengan ayyamul bidh. Puasa jenis ini di lakukan pada setiap tanggal 13, 14, dan 15 di setiap bulannya (disini harus mengikuti perhitungan kalender bulan/tahun Hijriyah).

Selain kedua jenis puasa sunnah di atas, maka ada lagi yang lainnya seperti puasa Asyura di tanggal 10 Muharam, puasa Arafah di tanggal 9 Dzulhijjah, puasa Senin-Kamis di setiap hari Senin dan Kamis, dan puasa Syawal yang di kerjakan sebanyak enam hari di bulan Syawal. Semua jenis puasa ini memang tidak diwajibkan, lebih kepada sunnah (anjuran) bagi umat Islam sebagai bentuk riyadhoh (latihan diri) dan ibadah kepada Tuhannya. Sedangkan mengenai tata caranya, maka akan sama dengan puasa wajib di bulan Ramadhan. Yaitu menahan segala yang tidak baik, termasuk tidak makan, minum, berhubungan sex, amarah, dan dusta, yang dimulai dari subuh sampai magrib. Atau jika di tempat-tempat tertentu – seperti di Islandia, Alaska, Venezuela, dan Chili – akan disesuaikan dengan kondisi alam dan waktu di sana. Bisa lebih lama atau justru malah lebih singkat waktunya dalam sehari.

***

Untuk itu, dari semua uraian di atas, maka inti dari puasa itu adalah riyadhoh (latihan diri) untuk bisa menahan diri dari segala yang tidak baik demi memperbaiki diri dan juga mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa – atau siapapun yang diyakini sebagai Entitas Tertinggi. Hasilnya akan mengantarkan seseorang pada ketenangan batin dan hidup dalam keseimbangan. Selain itu, puasa juga merupakan bentuk nyata dalam upaya mengevaluasi diri dan menyelaraskan diri pada lingkungan sekitar, kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan. Dimana orang yang mampu berpuasa dalam arti yang sebenarnya akan menjadi pribadi yang sabar, penuh welas asih, santun, dan mengutamakan rasa cinta. Siapapun yang berpuasa dengan benar akan bisa meningkatkan kualitas dirinya sendiri ke arah yang lebih mulia. Orang yang seperti ini hanya akan berbuat kebaikan di dunia. Sehingga amat rugilah bagi siapapun yang tidak mau berpuasa.

Karena itulah yang sejak awal kehidupan Manusia di Bumi ini telah diajarkan oleh Ayahanda Adam AS, bahwasannya puasa itu termasuk ibadah yang paling utama. Alasannya karena hanya dengan berpuasalah seseorang bisa lebih memahami tentang arti hidup ini. Ia pun akan lebih mengenal tentang siapakah dirinya dan siapa pula Tuhannya. Dan itu akan membuatnya hidup dalam kebaikan dan kemuliaan. Karena ada begitu banyak manfaat dari kegiatan ini, secara lahir maupun batin. Makanya dimana-mana, di berbagai bangsa, agama, dan zamannya, puasa itu selalu dianjurkan, bahkan diwajibkan. Tujuannya jelas hanya untuk kebaikan diri sendiri, apapun substansinya.

Demikianlah yang bisa kami sampaikan disini. Semoga tulisan ini bermanfaat. Rahayu.. 🙏

Jambi, 10 Mei 2019
Harunata-Ra

(Disarikan dari berbagai sumber dan diskusi)

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

2 tanggapan untuk “Puasa dan Riyadhoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s