Keistimewaan Nusantara (1)

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Berbicara mengenai Nusantara maka akan selalu menarik. Terlebih jika dikaitkan dengan kisah tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW (570/571-632 M) yang sangatlah luar biasa. Setiap keputusan yang beliau ambil penuh dengan kebijaksanaan lantaran kecerdasan diri dan dibimbing oleh Wahyu Ilahi. Termasuk ketika beliau meminta para sahabat dan sebagian umatnya kala itu untuk mendatangi atau berhijrah ke Nusantara. Apa alasannya, dan kenapa bukan ke negeri China, India, Eropa, Afrika dan Amerika saja? Di sini tentu ada pertimbangan khusus demi kebaikan dan kemuliaan orang banyak.

Nah untuk menjelaskan alasan itu, mari kita lihat dulu bagaimana kondisi di setiap wilayah dunia pada masa itu. Di daratan China misalnya, maka di masa kehidupan Nabi Muhammad SAW ada dua dinasti yang berkuasa di sana – yang sezaman dengan beliau – yaitu dinasti Sui (581 – 618 M) dan dinasti Tang (618-907 M). Dinasti Sui cukup pendek masanya karena hanya 2 kaisar yang benar-benar memerintah. Kaisar-kaisar berikutnya hanyalah kaisar boneka yang dipasang oleh para jenderal dan penguasa militer sebelum akhirnya mereka sendiri mendirikan dinastinya sendiri. Hal ini membuat kondisi negara tidak stabil dan banyak terjadi huru hara. Li Yuan, sepupu Yang Guang (kaisar dinasti Sui yang kedua) merebut kekuasaan dan mendirikan dinasti Tang. Artinya, selama dinasti Sui ini berkuasa di daratan China, maka kondisi negeri sering kacau dan banyak konflik. Begitu pula dengan dinasti Tang, karena didirikan setelah menggulingkan dinasti Sui, maka di awal pemerintahannya juga masih banyak terjadi kekacauan. Hal ini terjadi dalam kurun waktu yang sama dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW setelah diangkat menjadi Rosul. Sehingga tidak mungkin beliau memerintahkan umatnya untuk hijrah atau berkunjung kesana.

Lalu, kondisi di Eropa pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW sedang dalam masa kegelapan. Tak perlu ditanyakan lagi tentang kekacauan yang terjadi di sana, dan Eropa sedang berada di titik terendah peradabannya. Di benua Afrika tak ada lagi peradaban yang besar setelah yang terakhir di Alexandria, Mesir. Sementara di benua Amerika ada peradaban besar namun letaknya terlalu jauh dari Jazirah Arab, bahkan belum diketahui keberadaannya saat itu. Sehingga sangat tidak relevan untuk meminta para sahabat atau umat agar menuju ke sana.

Sebaliknya hanya di Nusantara yang kondisinya relatif aman dan peradabannya pun memang sudah tinggi pada waktu itu. Ini yang menjadi pertimbangan utama bagi sang Nabi ketika harus memerintahkan para sahabat dan umatnya untuk berhijrah atau menyebarkan ajaran Islam. Berbeda dengan di kawasan India yang memang berperadaban tinggi namun sedang dalam kekacauan. Buktinya setelah runtuhnya kekaisaran Gupta pada abad ke-6 Masehi, kawasan India kembali dikuasai oleh banyak kerajaan regional. Hal ini membuat kondisi di sana sering bergejolak dan tidak aman. Suatu klan Gupta kecil misalnya terus memerintah Magadha setelah terpecahnya kekaisaran. Tapi mereka pada akhirnya digulingkan oleh penguasa Wardhana, Harsha Wardhana, yang mendirikan sebuah kekaisaran baru pada paruh pertama abad ke-7 Masehi.

Ya. Di Nusantara pada waktu itu setidaknya ada empat kerajaan besar yang sezaman dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW. Khususnya di wilayah barat pulau Jawa maka ada kerajaan Tarumanagara, Indraprahasta, dan Kendan-Galuh. Sedangkan di wilayah tengah pulau Jawa ada kerajaan Mataram. Semuanya hidup dalam masa kejayaan dan kemakmuran.

Untuk lebih jelasnya mari ikuti uraian berikut:

1. Kerajaan Tarumanagara
Kerajaan ini didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasinghawarman pada sekitar tahun 280 Saka (358 M). Sang prabu adalah menantu dari Prabu Dewawarman VIII (sang penguasa kerajaan Salakanagara ke-8) karena menikahi putri sulungnya yang bernama Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi atau Dewi Minawati. Dimasa kerajaan ini berdiri, maka ada sekitar 48-63 kerajaan besar-kecil yang berhasil disatukan dalam satu pemerintahan Tarumanagara. Hal ini terjadi sejak masa raja ketiganya yang bernama Purnawarman atau yang bergelar Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaparakrama Suryamahapurusa Jagatpati. Ia adalah penguasa termasyhur di kerajaan Tarumanagara.

Sehingga kehidupan Nabi Muhammad SAW itu sezaman dengan Prabu Kertawarman (raja ke-8 Tarumanagara yang berkuasa tahun 561-628 M) dan Prabu Sudhawarman (raja ke-9 Tarumanagara yang berkuasa tahun 628-639 M).

2. Kerajaan Indraprahasta
Kerajaan ini didirikan pada tahun 285 Saka (363 Masehi) oleh Santanu, seorang Maharesi dari daerah sungai Gangga, di India. Seperti halnya dengan sang Maharesi Jayasinghawarman (pendiri kerajaan Tarumanagara), sang Maharesi beserta para pengikutnya meninggalkan negeri asalnya untuk bisa menyelamatkan diri dari pasukan kekaisaran Kanauj, pimpinan Samudra Gupta yang pada waktu itu sedang memperluas wilayah kerajaannya. Sang Maharesi masih mempunyai pertalian kekeluargaan dengan Sang Dewawarman VIII (raja ke-8 Salakanagara), sebab ia menikah dengan puteri ketiga Prabu Dewawarman VIII yang bernama Dewi Indari. Kerajaan Indraprahasta berdiri sampai tahun 645 Saka (747 Masehi). Selama berdiri kerajaan ini dalam kondisi makmur dan berperadaban tinggi.

Sehingga kehidupan Nabi Muhammad SAW itu sezaman dengan Prabu Jayagranagara (raja ke-8 kerajaan Indraprahasta yang berkuasa tahun 462-468 Saka/570-575 Masehi), Rajaresi Padmayasa (raja ke-9 kerajaan Indraprahasta yang berkuasa tahun 468-512 Saka/575-618 Masehi), dan Prabu Andbuana (raja ke-10 kerajaan Indraprahasta yang berkuasa mulai tahun 512-558 Saka/618-663 Masehi).

3. Kerajaan Mataram
Kerajaan Mataram yang ada di sekitar Jogjakarta dan Jawa Tengah ini didirikan oleh Prabu Anggara Wiseta pada sekitar tahun 301 Saka (379-an Masehi), dan ia berkuasa sampai tahun 346 Saka/424 Masehi. Kerajaan ini dulunya menguasai wilayah sekitar antara Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Salatiga, Boyolali, Surakarta, Sragen, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten dan Jogjakarta sekarang. Selama berdiri, kerajaan ini hidup dalam kelimpahan dan berperadaban tinggi. Dan begitulah fakta yang telah di lupakan hampir semua orang di Nusantara.

Sehingga kehidupan Nabi Muhammad SAW itu sezaman dengan Prabu Hanukertajaya (penguasa ke-4 Mataram yang berkuasa tahun 467-514 Saka/545-592 M), Prabu Aringgulasa (penguasa ke-5 Mataram yang berkuasa tahun 514-539 Saka/592-617 M), dan Ratu Sri Kencana Wulan (penguasa ke-6 Mataram yang berkuasa tahun (514-561 Saka/617-664 M). Bahkan sebenarnya antara sang Ratu Sri Kencana Wulan dan Nabi Muhammad SAW pernah bertemu langsung pada saat peradaban umat Islam di kota Madinah baru beberapa tahun dibangun. Kisah ini tak umum diketahui dan “sengaja” disembunyikan, meskipun terkait erat dengan peristiwa Perang Badar yang tersohor itu.

4. Kerajaan Kendan-Galuh
Kerajaan Kendan didirikan oleh Raja Maha Guru Manikmaya pada tahun 458 Saka (536 M), dan ia berkuasa sampai tahun 490 Saka (568 M). Sang pendiri adalah seorang Maharesi dari tanah India (Calangkayana) dan sekaligus juga suami dari Dewi Tirtakencana; seorang putri dari Maharaja Suryawarman (raja ke-7 kerajaan Tarumanagara).

Kerajaan ini termasuk yang paling makmur dan berdiri sampai pada masa raja keempatnya yang bernama Sang Wretikandayun, karena ia lalu mengganti nama kerajaannya menjadi Galuh pada tahun 534 Saka (612 M). Ia berkuasa sampai tahun 592 Saka (670 M). Sehingga bisa dikatakan bahwa Sang Wretikandayun itu adalah raja terakhir Kendan sekaligus pendiri kerajaan Galuh. Di masa kerajaan Galuh, kondisi Jawa bagian barat khususnya tetap makmur dan berperadaban tinggi.

Sehingga kehidupan Nabi Muhammad SAW itu sezaman dengan Prabu Putra Suraliman (raja ke-2 Kendan yang berkuasa tahun 490-519 Saka/568-597 M), Prabu Kandiawan (raja ke-3 Kendan yang berkuasa tahun 519-534 Saka/597-612 M), dan Prabu Sang Wretikandayun (raja ke-4 Kendan yang berkuasa tahun 534-592 Saka/612-670 M).

***

Catatan: Kerajaan Mataram yang dijelaskan di atas tidak sama dengan kerajaan Medang (yang oleh para sejarawan sering juga disebut dengan Mataram Hindu) yang didirikan oleh Prabu Sanjaya pada tahun 654 Saka (732 M). Beda kerajaan meskipun lokasinya bisa dibilang sama, sama-sama di kawasan sekitar antara Jogjakarta dan Jawa Tengah sekarang. Dan tentunya tidak sama pula dengan kesultanan Mataram yang didirikan oleh Danang Sutowijoyo alias Panembahan Senopati pada tahun 1587 Masehi di Kotagede-Jogjakarta. Kebetulan saja nama kerajaan dan lokasinya sama, karena Panembahan Senopati terinspirasi oleh kerajaan besar yang pernah ada di sekitar Jogjakarta dan Jawa Tengah itu. Beliau merasa sebagai penerus kejayaan leluhurnya dulu, yang berasal dari trah raja-raja Mataram kuno itu. Juga karena beliau pun masih ada trah dari raja-raja Tarumanagara yang kebetulan penyebutan namanya itu hampir mirip (MaTARAM dan TARUManagara). Jadilah kesultanan yang ia dirikan bernama Mataram, ada unsur Mataram dan Tarumanagara-nya sekaligus. Terlebih memang wilayah dimana ia tinggal saat itu pun sudah ratusan tahun telah dikenal dengan nama Bhumi Mataram. Ini sesuai dengan keterangan yang ada di prasasti Minto dan prasasti Anjuk Ladang.

Dan perlu dipahami juga bahwa pendiri kerajaan Medang yang bernama Sanjaya alias Rakyan Jambri itu adalah anak dari Sanna alias Bratasenawa bin Rahyang Sampakwaja bin Wretikandayun (raja ke-4 Kendan sekaligus pendiri kerajaan Galuh). Sementara ibu dari Sanjaya yang bernama Sannaha itu adalah anak dari Sang Mandiminyak dan Parwati binti Ratu Shima (Ratu kerajaan Kalingga). Keluarga Parwati adalah penguasa di wilayah Mataram sejak masa pemerintahan Ratu Shima (penguasa ke-4 Kalingga), bahkan sejak raja-raja sebelumnya. Pada masa itu, Kalingga telah menguasai dua kawasan besar yang berada di bagian tengah pulau Jawa yang disebut Bhumi Sambara (Kalingga Selatan) dan Bhumi Mataram (Kalingga Utara).

Jadi, pada masa Prabu Aringgulasa (penguasa ke-5 Mataram yang memerintah tahun 514-539 Saka/592-617 M), ada sebuah keluarga yang beragama Siwa berbahasa Melayu Kuno mulai bermukim di pesisir utara Jawa Tengah. Pada sekitar tahun 537 Saka/615 Masehi, mereka ini dipimpin oleh seorang yang bernama Santanu (tokoh ini tidak sama dengan Santanu yang mendirikan kerajaan Indraprahasta. Namanya saja yang kebetulan sama) menyeberangi lautan untuk sampai ke tanah Jawa. Oleh Prabu Aringgulasa mereka diizinkan bermukim dan membangun tempat tinggal di wilayah Mataram.

Sampai dengan tahun 545 Saka/623 Masehi, kepemimpinan keluarga ini tetap dipegang oleh Santanu. Namun karena telah uzur, akhirnya ia digantikan oleh anaknya yang bernama Dapunta Syailendra Partapura. Ia memimpin keluarga ini sampai dengan tahun 570 Saka/648 Masehi, dan bisa dibilang dialah yang mendirikan dinasti baru yang bernama Wangsa Syailendra. Syailendra juga menikahi seorang puteri dari Prabu Aringgulasa yang bernama Anasih. Dari pernikahan itu lahirlah seorang anak bernama Kartikeyasinga yang dikemudian hari menggantikan ayahnya, Syailendra, dari tahun 570-596 Saka/648-674 Masehi sebagai pemimpin dari Wangsa Syailendra. Pada masanya kerajaan Mataram melebur jadi satu dengan Wangsa Syailendra dan membentuk sebuah pemerintahan baru bernama Kalingga. Kartikeyasinga lalu menikah dengan Shima, puteri dari seorang Pendeta dari tanah Melayu. Disebabkan suaminya meninggal dunia, tampuk kekuasaan di Kalingga lalu dipegang oleh Shima, dan ketika dilantik menjadi Ratu ia lalu memakai gelar abhiseka Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara. Dibawah pemerintahannya kerajaan Kalingga mencapai puncak kejayaannya. Keadilan dan kemakmuran sangat diwujudkan di sana.

Kembali ke tokoh Sang Wretikandayun (raja ke-4 Kendan sekaligus pendiri Galuh), dimana ia adalah anak dari Sang Kandiawan bin Suraliman bin Resiguru Manikmaya (pendiri kerajaan Kendan) dan menikah dengan Manawati binti Resi Makandria (setelah jadi Permaisuri nama Manawati diubah menjadi Candrasemi). Dari pernikahan itu maka lahirlah tiga orang putera yang bernama:

1. Rahyang Sampakwaja
2. Rahyang Kidul
3. Rahyang Mandiminyak

Putera yang pertama, Rahyang Sampakwaja, beristrikan Pwahaci Rababu dan mempunyai 3 orang putera yakni Damunawan, Purbasora dan Bratasenawa alias Sanna. Anak kedua, Rahyang Kidul, cacat fisik dan tidak diketahui kisahnya. Sementara anak ketiga, Sang Mandiminyak, beristrikan Endang Parwati (putri Maharani Shima; Ratu di Kalingga). Rahyang Mandiminyak mempunyai seorang puteri bernama Sannaha yang kemudian di jodohkan dengan anak bungsu dari Rahyang Sampakwaja yang bernama Bratasenawa. Alhasil kedua saudara Bratasenawa, yaitu Damunawan dan Purbasora, merasa iri dengan Bratasenawa karena ia yang dinobatkan menjadi raja Galuh selanjutnya. Mereka lalu melakukan kudeta dibantu oleh pasukan dari kerajaan Indraprahasta, karena mereka mengklaim kalau sesungguhnya mereka lebih berhak daripada Bratasenawa baik menurut garis keturunan ataupun moral.

Setelah di kudeta, Bratasenawa alias Sanna dan istrinya Sannaha pun mengungsi ke Sundapura. Tapi perpecahan dan dendam tidak usai disitu. Rakyan Jambri atau yang lebih dikenal dengan nama Sanjaya – yang merupakan anak Bratasenawa alias Sanna – melakukan misi balas dendam. Ia merebut kembali tahta Galuh setelah menikahi cucu dari Prabu Tarusbawa (raja terakhir Tarumanagara sekaligus pendiri Sundapura) yang bernama Tejakencana. Sedangkan ayah dari Tejakencana yang didaulat bakal menggantikan ayahnya untuk menduduki tahta Sundapura, justru meninggal terlebih dahulu. Maka dari itu tahta Sundapura akan jatuh ke puterinya (Tejakencana) atau bisa saja ke menantunya (Sanjaya).

Maka dengan membawa pasukan Sundapura, Pangeran Sanjaya pun berhasil menyingkirkan Purbasora dan antek-anteknya. Sanjaya yang merupakan pewaris sah kerajaan Galuh akhirnya menjadi raja. Akan tetapi hanya beberapa tahun saja karena ia pun memberikan tahta Galuh kepada Permana Dikusuma yang merupakan cucu dari pamannya sendiri, yakni Purbasora. Dan tahta Sundapura diserahkan kepada puteranya yang bernama Rakai Tamperan. Sedangkan Prabu Sanjaya sendiri mengambil warisan yang terdapat di Kalingga yang telah dibagi menjadi dua; sebelah selatan disebut Bhumi Sambara dan sebelah utara disebut Bhumi Mataram. Di Bhumi Mataram akhirnya Sanjaya mendirikan kerajaan baru yang bernama Medang. Kelak dari kerajaan Medang inilah silsilah keluarganya akan terus berlanjut sampai ke raja-raja Majapahit.

Artinya, Prabu Sanjaya itu sebenarnya masih keturunan dari Prabu Anggara Wiseta (pendiri kerajaan Mataram kuno) baik melalui garis ayah atau pun ibunya. Selanjutnya, ketika ia berhasil mendirikan kerajaan Medang pasca peristiwa geger antara kerajaan Sunda-Galuh dengan Indraprahasta, ratusan tahun kemudian ibukota kerajaan yang berada di sekitar Purworejo-Jawa Tengah itu terpaksa harus dipindahkan ke Jawa Timur, di sekitar Jombang dan Nganjuk akibat dari bencana alam meletusnya gunung Merapi. Keturunannya yang bernama Mpu Sindok lah yang memimpin migrasi kala itu. Lalu di tempat yang baru ia mendirikan wangsa/dinasti baru yang dikenal dengan nama Wangsa Isyana. Di sana Mpu Sindok memakai gelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa, dan ia menyatakan kerajaannya adalah penerus dari Medang di Jawa Tengah. Kelak dikemudian hari Wangsa Isyana ini menjadi cikal bakal dari beberapa kerajaan besar seperti Kahuripan, Kadiri dan Singhasari. Hingga pada akhirnya sampai pula ke kerajaan Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram Islam. Demikianlah sejarah panjang orang-orang Mataram kuno terus berlanjut.

***

Jadi, karena Nabi Muhammad SAW itu hidup sejak sekitar tahun 570/571 sampai 632 Masehi, maka itu berarti sezaman dengan masa kerajaan Tarumanagara, Indraprahasta, Mataram, dan Kendan-Galuh. Semua kerajaan itu, pada masa hidup Nabi Muhammad SAW, dalam kondisi aman dan makmur disertai peradaban yang tinggi. Itu baru yang di tanah Jawa, belum lagi yang di Sumatera dan Kalimantan, bahkan yang di pulau-pulau lainnya di seluruh Nusantara. Karena di sana pun, pada masa yang sama telah berdiri kerajaan-kerajaan besar seperti Malayupura di Sumatera dan Bakulapura-Kutai Martadipura di Kalimantan. Demikianlah fakta yang tak banyak lagi diketahui. Dan masih banyak lagi yang tidak diketahui lagi.

Dan dari semua uraian di atas, ini jelas bisa langsung mematahkan anggapan sebagian orang bahwa kehidupan Nabi Muhammad SAW itu sezaman dengan kerajaan Wilwatikta (Majapahit) dan Pajajaran. Alasannya adalah bahwa kerajaan Wilwatikta itu didirikan oleh Sang Rama Wijaya pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 Saka (1293 M), sementara kerajaan Pajajaran didirikan oleh Prabu Siliwangi pada sekitar tahun 1225 Saka (1303 M). Jadi ada selisih waktu selama ratusan tahun, dan Nabi Muhammad SAW itu hidupnya jauh sebelum kedua kerajaan itu berdiri. Yang benar adalah bahwa beliau itu hidup sezaman dengan kerajaan Tarumanagara, Indraprahasta, Mataram, dan Kendan-Galuh. Dimana keempat kerajaan ini merupakan asal usul dari kerajaan
Majapahit dan Pajajaran.

Kembali ke pembahasan awal kita. Melihat kondisi yang stabil di Nusantara, pada masa itu Nabi Muhammad SAW lalu mengutus beberapa orang sahabat untuk mengabarkan tentang Islam. Alasannya karena di Nusantara pada saat itu keadaannya lebih baik dan peradabannya sudah tinggi. Sangat berbeda dengan keadaan umum di seluruh dunia kala itu. Apalagi di Eropa yang bahkan sedang memasuki zaman kegelapan dan di titik terendah peradaban Manusia.

Adapun di antara para sahabat yang pernah datang ke Nusantara yaitu:

1. Sayidina Ali bin Abi Thalib RA
Beliau pernah datang ke kerajaan Tarumanagara dan Kendan-Galuh pada sekitar tahun ke 3 Hijriyah/625 Masehi (setelah Perang Badar). Hal ini jelas sezaman dengan masa pemerintahan Raja Kertawarman (raja ke-8 Tarumanagara) yang berkuasa tahun 561-628 Masehi. Dan sezaman pula dengan Raja Wretikandayun (penguasa ke-4 kerajaan Kendan sekaligus pendiri kerajaan Galuh) yang berkuasa tahun 534-592 Saka/612-670 M. Sepeninggal Sayidina Ali bin Abi Thalib RA, ajaran Islam secara perlahan mulai diperkenalkan oleh Rakeyan Sancang, putera dari Prabu Kertawarman di pesisir selatan wilayah Tarumanagara (Cilauteureun, Leuweung/Hutan Sancang dan Gunung Nagara).

2. Ubay bin Ka’ab RA
Beliau pernah ke kerajaan Malayu, tepatnya di sekitar wilayah Sumatera Barat pada tahun ke 4 Hijriyah/626 Masehi.

3. Salman Al-Farisi RA
Beliau pernah ke wilayah Perlak (di Aceh Timur) sekitar tahun ke 4 Hijriyah/626 Masehi.

4. Ja’far bin Abi Thalib RA
Beliau pernah ke kerajaan Mataram dan Kalingga pada tahun ke 4 Hijriyah/626 Masehi.

5. Muawiyah bin Abu Sofyan 
Beliau pernah ke Kalingga pada sekitar tahun ke 52-53 Hijriyah/674-675 Masehi.

6. Lain-lain
Di kota Barus (sekitar Tapanuli, Sumatera Utara) ada beberapa sahabat Nabi lainnya yang juga datang berdakwah bahkan ada makamnya disana. Di antaranya adalah Syekh Mahmud Fil Hadratul Maut RA yang ditarikhkan pada tahun ke 34-44 Hijriyah/656-666 Masehi, dan Syekh Rukunuddin RA yang ditarikhkan pada tahun ke 48 Hijriyah/670 Masehi.

Lalu, mengenai alasan kenapa Nusantara menjadi tujuan utama oleh Nabi Muhammad SAW adalah karena disana sudah dipenuhi dengan kemakmuran dan kondisinya aman. Sebagai contoh di kerajaan Tarumanagara, mereka telah membangun istana dan candi-candi dari bahan batu bata yang kuat dan disusun dengan indah. Bahkan ada yang terbuat dari emas dan perak. Sebuah teknologi yang sangat tinggi dizamannya. Dan sejak masa raja ketiganya, yaitu Purnawarman, sudah dibangun berbagai infrastruktur yang mendukung perekonomian kerajaan. Adapun salah satunya adalah dengan perombakan sungai Gomati dan Candrabaga. Kedua sungai ini selain untuk mencegah terjadinya banjir saat musim hujan, juga berperan penting dalam pengairan lahan pertanian sawah yang dulu menjadi salah satu penggerak kehidupan ekonomi masyarakat kerajaan Tarumanagara. Masa kepemimpinan Raja Purnawarman dianggap sebagai masa kejayaan dari kerajaan Tarumanagara, selain itu juga karena kemampuan kerajaan yang bisa berkurban 1.000 ekor sapi saat pembangunan kedua sungai itu.

Demikianlah gambaran singkat tentang betapa maju dan tingginya peradaban di kerajaan Tarumanagara pada masa itu. Hal ini juga sama dengan keadaan di kerajaan lainnya, baik di pulau Jawa, Sumatera atau Kalimantan. Terlebih bangsa Nusantara ini pun sudah sejak lama – jauh sebelum kelahiran sang Nabi – terkenal di seluruh dunia lantaran kegiatannya dalam menjelajahi lautan. Para leluhur Nusantara sudah lama melakukan kontak perdagangan dengan bangsa-bangsa di dunia. Karena itulah berbagai informasi yang valid tentang kemakmuran dan keamanannya telah Nabi Muhammad SAW dapatkan dari para penjelajah dan pedagang Nusantara sendiri, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Rosul – maklumlah beliau juga seorang pedagang yang sering kemana-mana dalam setiap ekspedisinya. Beliau pun dikenal di Syam (Suriah), Yaman, Yordania, Irak, dan pusat-pusat perdagangan lainnya. Tercatat ada 17 negara yang telah beliau kunjungi untuk berdagang. Makanya tak salah jika Nabi Muhammad SAW memiliki informasi yang cukup tentang kondisi Nusantara dan meminta kepada umatnya untuk datang kesana. Sebab di Nusantara ada harapan yang besar akan berkembangnya ajaran Islam.

Catatan: Di saat orang Eropa masih hidup primitif dan tinggal di gua-gua, di kala bangsa Arab masih bermukim di tenda-tenda dan hidup nomaden, bangsa Nusantara sudah memiliki sistem pemerintahan yang tertib – mulai dari desa sampai ke pusat kerajaannya. Bangsa Nusantara juga telah mengekspor rempah-rempah, kayu jati, gading, dan kapur barusnya dengan maskapai sendiri ke Afrika, Jazirah Arabia, Eropa, China, India, dan tempat-tempat lainnya di berbagai belahan dunia. Ini jelas menunjukkan betapa bangsa Nusantara pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW sudah maju dan berperadaban tinggi. Jarang yang seperti itu pada masanya.

Sungguh, kawasan Nusantara ini telah dianggap spesial oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Semua itu karena negeri ini memanglah negeri yang dijanjikan dan diberkahi. Betapa indah dan suburnya negeri ini. Dan ada pula keistimewaan yang tidak terdapat di negeri atau kawasan lainnya di dunia, khususnya pada masa lalu. Terlebih pada masa itu, ketika dimana-mana terjadi kekacauan bahkan memasuki zaman kegelapan, di Nusantara justru sedang makmur dan berperadaban tinggi. Artinya, bangsa ini pada dasarnya adalah bangsa yang hebat dan punya kemampuan yang luar biasa. Sejak zaman dahulu telah disegani dan dikagumi oleh bangsa-bangsa di dunia. Dan jika bisa kembali kepada jati dirinya sendiri, maka akan kembali memimpin dunia.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Rahayu.. 🙏

Jambi, 29 April 2019
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber dan diskusi.
2. Silahkan percaya atau tidak percaya dengan informasi di atas, tugas kami hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
3. Bacalah dengan perlahan dan terurut sampai selesai agar tidak gagal paham.
4. Maaf, ada banyak hal yang tak bisa disampaikan disini karena ada protap yang harus diikuti.

Iklan

17 respons untuk ‘Keistimewaan Nusantara (1)

    Asyifa wahida said:
    Mei 11, 2019 pukul 10:32 pm

    Subhanalllah ….
    Smg hyang aruta segera mmbongkar kebenaran2 yg sengaja mereka sembunyikan dn palsukan dngn salah satu melalui goresan2 pena panjenengan enggih mas …aamiin ya rabbal alamiin
    Matur suwun kagem pengetahuan yg baru ini mas,alhamdulillah sangat bermanfaat

      Harunata-Ra responded:
      Mei 12, 2019 pukul 5:03 am

      Nggih sami2lah mbak Asyifa… Syukurlah nek ngoten.. Nuwun juga karena masih mau berkunjung.. 😊🙏

      Aamiin.. Semoga begitu mbak, karena memang ada byk hal yg disembunyikan atau sengaja dihilangkan.. Tujuannya apalagi kalo bukan agar bangsa ini tidak bangkit dan berjaya memimpin dunia.. 🙏

    Asyifa wahida said:
    Mei 11, 2019 pukul 10:32 pm

    Subhanalllah ….
    Smg hyang aruta segera mmbongkar kebenaran2 yg sengaja mereka sembunyikan dn palsukan dngn salah satu melalui goresan2 pena panjenengan enggih mas …aamiin ya rabbal alamiin
    Matur suwun kagem pengetahuan yg baru ini mas,alhamdulillah sangat bermanfaat

    ARia-Ra said:
    Mei 12, 2019 pukul 6:33 am

    Bersembunyi dan ditekan itu tak selamanya…sudah waktunya bangkit, bahu membahu membangun neheri Nusantara penuh gema ripah loh jinawi. Tinggal menunggu waktu dan komando saja. WALLAHU A’LAM BISH SHAWAB.

      Harunata-Ra responded:
      Mei 12, 2019 pukul 10:54 am

      Semoga begitu dan kita bisa merasakannya langsung.. 🙏

      Terima kasih mas Aria-Ra karena masih mau berkunjung.. Moga ttp bermanfaat.. 😊🙏

    Ndeso said:
    Mei 13, 2019 pukul 6:43 am

    Saya suka sama artikel2 ini makanya saya bookmark dari dulu, dan tak tunggu updatenya. Namun kali ini sangat berbeda, tulisan ini menguggah dan menyadarkan kita semua tentang jati diri bangsa ini. Dan kekayaan alam yang melimpah ini sudah pernah menjadikan kejayaan di masa silam… Semoga banyak yang tergugah dan bangun dari mimpi panjang untuk mengulangi kejayaan masa silam…

      Harunata-Ra responded:
      Mei 13, 2019 pukul 2:15 pm

      Terima kasih mas/mbak Ndeso atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Aamiin.. semoga makin banyak yang “terbangun” dan berusaha untuk kembali ke jati diri bangsa Nusantara ini, hanya dengan begitu maka kejayaan masa silam akan terulang, bahkan lebih.. 🙂

    Delphi said:
    Mei 13, 2019 pukul 9:54 am

    Kalau pada masa itu eropa masuk dalam dark age, bagaimana dengan afrika mas, pyramid giza, spinx dan alexandira nya, bukanya peradaban itu sangat tinggi dan itu berdiri sebelum masa rasul kita,

      Harunata-Ra responded:
      Mei 13, 2019 pukul 2:38 pm

      Sekali lagi terima kasih mas Delphi atas kunjungannya, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Hmm.. memang di Mesir ada Piramida, Spinx dan Alexandria, tetapi ingat itu sudah menjadi kenangan di masa kehidupan Nabi Muhammad SAW. Artinya, bangunan Piramida dan Spinx memang masih ada, tetapi itu cuma sebatas peninggalan sejarah saja, tidak ada lagi negara atau kerajaan besar aktif yg berkuasa disana kecuali penjajah Romawi.. Dan khusus ttg kota Alexandria, maka disana telah memudar sejak paruh abad ke-3 masehi. Lalu mengenai perpustakaannya (termasuk yg terbesar di dunia), maka keanggotaan perpustakaan ini sudah tidak ada lagi sejak tahun 260-an Masehi. Pada tahun 270-275 Masehi pemberontakan pun meletus di Alexandria, akibatnya perpustakaan terbesar itu dirusak dan koleksinya dibakar. Selanjutnya serangan balasan dari kekaisaran Romawi sampai menghancurkan sisa dari perpustakaan besar itu. Sejak saat itu tak ada lagi peradaban besar disana, semuanya tinggal kenangan.

      Jadi, pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW memang ada Piramida, Spix dan kota Alexandria sebagai bukti kejayaan peradaban Mesir kuno. Tetapi itu hanya sebatas peninggalan sejarah saja – sama dengan status Candi Borobudur dan Prambanan sekarang yg tidak lebih hanya sebagai bukti kejayaan dari kerajaan kuno di Jawa. Kehidupan di Mesir pada masa Nabi tidak bisa dikatakan berperadaban besar lagi. Semuanya sudah pudar sejak hancurnya perpustakaan di Alexandria. Mesir pada waktu itu hanyalah negeri jajahan Romawi. Hal ini jelas menjadi pertimbangan utama mengapa Nabi tidak menganjurkan umatnya untuk ke Mesir, karena negeri itu dalam kekuasaan bangsa Romawi. Negeri yg dijajah tentu tidak aman dan layak untuk ditempati, apalagi bagi mereka yg menganut agama baru seperti Islam.

        Delphi said:
        Mei 13, 2019 pukul 4:19 pm

        Terimakasih mas penjelasanya, akibat siklus timbul dan tenggelamnya peradaban ya mas maka beberapa monumen sisa2 peradaban masalalu masih bisa kita lihat untuk menunjukan kebesaran hyang aruta dan sebagai pengingat kita bahwasanya peradaban dahulu yang telah mencapai puncaknya juga akan rusak dan binasa akibat kesombongan dan ke angkuhan manusia didalamnya,

        Lantas ada beberapa artikel yg saya baca, saat rasul berdagang dengan berlayar menuju wilayah syam pada masa itu syam disini bukan la syria atw suriah sebab pada masa itu penamaan syriah sendiri bukan la syam dan dinamai syam setelah beberapa ratus tahun rasul kita berpulang, dan kalau pun penamaan merujuk pada syria bukan kah rasul harusnya menggunakan jalur darat, bukan berlayar menggunakan perahu,
        Dan syam pada masa itu merujuk kepada sulawesi, benarkah demikian mas,?

        Harunata-Ra responded:
        Mei 13, 2019 pukul 9:50 pm

        Ya begitulah mas, maju dan hancurnya peradaban manusia itu ya tergantung dari perilaku Manusianya sendiri.. Disini lah kita harus mengambil hikmah dan pelajaran..

        Ttg kaitan antara Syam dan Sulawesi saya kurang tau mas, maaf.. 🙏

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    Mei 13, 2019 pukul 5:21 pm

    salamkenal mas

      Harunata-Ra responded:
      Mei 13, 2019 pukul 9:55 pm

      Salam kenal juga mas Abhiseka.. Terima kasih sudah berkunjung.. 😊🙏

    Keistimewaan Nusantara (2) – Perjalanan Cinta said:
    Juni 2, 2019 pukul 6:12 am

    […] sudah memiliki peradaban yang tinggi dan mengagumkan (tentang hal ini sudah kami bahas di artikel: Keistimewaan Nusantara (1)). Dan itu tidak hanya sebatas urusan bangunannya saja, melainkan juga sampai kepada urusan sastra […]

    Anom Prambudi said:
    Juli 11, 2019 pukul 1:55 pm

    Assalamualaikum mas, untuk sumber data tentang mataram kuno sebelum melebur dengan kerajaan Kalingga itu darimana ya? Kalau boleh saya minta informasinya mas. Terimakasih.

      Harunata-Ra responded:
      Juli 15, 2019 pukul 5:58 am

      Wa`alaikumsalam.. Utk skr info lebih detil tentang hal itu blm bisa saya share mas Anom Prambudi.. ada protap yg hrs diikuti.. Maaf 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s