Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Akhram : Kota Suci Yang Dibebaskan

Wahai saudaraku. Peradaban Manusia di muka Bumi ini bukanlah masa yang singkat, telah berlalu dalam rentang waktu miliaran tahun. Selama itu selalu ada masa pasang dan surutnya, atau kejayaan dan kehancuran yang disebabkan oleh perilaku Manusianya sendiri. Dan sejarah itu akan senantiasa berulang, hampir sama, baik dalam hal yang mulia ataupun kehinaannya. Hingga semuanya berakhir karena telah datangnya Hari Kiamat nanti.

Ya. Dari mengetahui kisah masa lalu, kita bisa mengambil suatu pelajaran. Kita bisa mengoreksi diri, tentang mana yang benar dan mana pula yang salah, mana yang pantas dan tidak pantas dengan kehidupan peradaban kita. Semuanya demi kebaikan dan keselamatan diri kita sendiri. Terlebih kita sekarang ini telah hidup di dalam dunia yang kian tak menentu. Terlalu banyak hal negatif yang bermunculan.

Karena itulah, mari ikuti kisah berikut ini:

1. Awal kisah
Dahulu kala di periode zaman ke empat (Swarganta-Ra), kehidupan di Bumi ini sudah begitu majunya. Beragam bentuk peradaban yang tinggi telah dibangun di banyak negeri, baik di Timur maupun di Barat. Semuanya lengkap dengan ciri khas budayanya masing-masing, yang membuat dunia menjadi kian berwarna.

Pada masa itu, kota Makkah sudah lama ada dan dianggap suci oleh banyak orang. Hanya saja namanya bukan Makkah atau pun Bakkah, melainkan Akhram. Dan seiring berjalannya waktu, kota ini pernah berganti-ganti nama dan penguasanya. Ada banyak namanya sebelum dan sesudah menjadi Akhram. Demikianlah fakta yang tidak banyak lagi diketahui. Dan pengetahuan formal sejarah peradaban Manusia yang ada kini, khususnya untuk yang di kota suci itu, cuma berkisar ribuan tahun belakangan saja.

Nah, seiring berjalannya waktu, maka dari zaman ke zaman kota Akhram ini secara berulang kali pernah diperebutkan. Semua terjadi karena perilaku buruk yang memenuhi kota itu sendiri. Dan ketika sudah mencapai puncaknya keburukan itu, maka tak lama kemudian tibalah masa pembersihan. Keteraturan dan kemuliaan di kota suci itu di kembalikan lagi. Hal inilah yang akan diceritakan dalam tulisan ini.

2. Kegelapan di kota suci
Kota Akhram termasuk yang paling mengagumkan pada masa itu. Namun setelah berabad-abad dalam masa yang damai dan sejahtera, akhirnya mengalami banyak kemunduran. Cahaya dan kebijaksanaan yang dulu menjadi ciri khasnya telah memudar dan berganti dengan kegelapan yang menyedihkan. Orang-orang semakin larut dengan kenikmatan duniawi yang menipu. Kalau tidak terang-terangan, perbuatan dosa kerap di lakukan dengan cara tertutup atau sembunyi-sembunyi. Ajaran kebajikan hanya menjadi simbol dan topeng kemunafikan saja. Karena sebenarnya mereka sudah tidak lagi patuh dengan hukum Tuhan, bahkan tidak lagi percaya dengan kekuasaan Tuhan.

Selain itu, atas segala kelimpahan yang didapatkan, mereka yang hidup di negeri Akhram semakin menggemari pesta pora dan kesenangan sesaat lainnya. Kemaksiatan pun merajalela dalam bentuk yang terbuka atau tersembunyi. Mereka pun tergiur untuk mendapatkan lebih banyak harta dan kekayaan – apapun caranya – tetapi semakin kikir dalam berbagi dan membantu sesama. Bahkan pada akhirnya mereka tak lagi percaya akan kehidupan di akherat nanti – meskipun tidak terang-terangan – dan ingin menentang kematian yang pasti datang bagi setiap Manusia dengan berbagai cara. Telah banyak usaha yang di lakukan oleh orang-orang yang mereka anggap pintar dan berilmu tinggi, tapi tak ada satupun yang berhasil.

Tak ada yang bisa menjadi abadi, karena hanya bisa memperpanjang umurnya saja, itu pun cuma sedikit. Dan saking inginnya menjadi abadi, mereka tetap berusaha meskipun gagal. Hingga akhirnya berhenti, karena hanya mampu menemukan teknik khusus dalam mengawetkan jasad Manusia agar tidak membusuk (semacam mummi di Mesir tetapi lebih canggih lagi). Banyak bangunan besar didirikan untuk menyimpan jasad-jasad yang telah diawetkan itu. Banyak juga bangunan monumental yang spektakuler didirikan untuk sekedar unjuk gigi kepada dunia bahwa mereka hebat. Dan mereka ini pun senang mendirikan gedung-gedung ibadah yang sangat megah tetapi cuma sebatas itu saja. Mereka hanya senang dengan kemegahan fisiknya saja, sehingga lupa pada esensi dari tempat ibadah yang sesungguhnya.

Pun, karena serakah akhirnya kerajaan Sogeya (yang menguasai kota Akhram) memberlakukan pajak yang tinggi bagi setiap pengunjung yang datang ke sana. Kian lama semakin naik tarifnya, sehingga ini menjadi hal yang meresahkan. Tak ada yang boleh masuk ke kota Akhram jika tak membayar biaya, atau bisa memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Padahal selama berabad-abad itu tak pernah terjadi. Siapapun bisa keluar masuk ke kota suci itu kapan saja dengan gratis, dan tak ada syarat khusus apapun di sana – kecuali tak boleh berbuat maksiat dan kejahatan. Dan begitulah yang seharusnya terjadi di sebuah kota suci.

Ya. Pada awalnya, selama berabad-abad dibawah pengaturan dari kerajaan Assiriyas, keadaan di kota Akhram itu penuh dengan kedamaian. Hukum dari Hyang Aruta (Tuhan YME) dijalankan dengan semestinya, tak boleh ada kemaksiatan dan kejahilan di sana. Tapi semua itu berubah sejak kota Akhram direbut secara licik oleh suku Sogeya. Mereka telah mengkhianati kerajaan yang sekian lama melindungi dan menjaganya. Hanya karena haus akan kekuasaan dan bersikap serakah, pemimpin dari suku Sogeya yang bernama Horasan itu bekerjasama dengan penguasa dari kekaisaran Mirigal untuk merebut paksa kota Akhram dan sekitarnya. Dan itu bisa terlaksana ditengah kondisi kerajaan Assiriyas yang kian memudar karena tak ada lagi raja yang kuat dan kharismatik. Terlebih pada waktu itu sedang terjadi perebutan pengaruh di antara kerajaan besar di seluruh dunia. Nah kerajaan Mirigal adalah salah satu yang paling kuat pada masa itu. Bisa dikatakan sebuah negara super power pada masanya.

Sungguh, kian lama kondisi di kota Akhram semakin tak mencerminkan tempat yang suci. Para kepala suku yang kemudian menjadi raja Sogeya dan anak-anaknya hidup glamor dan bersikap angkuh. Tak ada yang boleh menentang apa saja yang menjadi kehendak mereka. Dan ini mulai mencapai puncaknya ketika raja kelimanya yang bernama Karusan berkuasa. Ia adalah sosok yang kurang kasih sayang dan tak mengenal kompromi. Apapun yang ia lakukan tak ada yang boleh protes. Dan sifat ini lalu menurun pula ke anak sulungnya, Yoresan, bahkan ia lebih keras kepala dan angkuh. Dialah yang selanjutnya dinobatkan sebagai raja ke enam Sogeya, dan bukan adiknya yang lebih manusiawi jika seandainya hukum membolehkan hal itu.

Ya. Sejak waktu Yoresan masih sebagai putra mahkota, kerajaan Sogeya terus menunjukkan kemewahannya. Sang pangeran bahkan membangun sebuah kuil yang menaranya berbentuk segi enam dengan tinggi sekitar ±2.175 meter. Kuil yang diberi nama Morayah itu berbentuk lingkaran dengan tembok putih berlapis tiga setebal masing-masingnya ±25 meter. Tembok tiga lapis ini  tampak kokoh dan mengelilingi bangunan utama kuil yang ukuran panjang garis tengahnya sekitar ±1.750 meter. Sementara atapnya terbuat dari emas dan perak yang bertumpuk tiga, dengan kubah yang berbentuk setengah lingkaran tepat berada di tengah-tengah bangunan kuil. Atap dan kubah tersebut berkilauan indah dan bisa terlihat dari jauh. Belum lagi begitu banyaknya batu permata warna-warni yang disematkan pada dinding dan pilar kuil tersebut. Sungguh indah, hanya saja selang beberapa waktu kemudian berubah agak suram karena di dalamnya terdapat altar api yang tak pernah padam. Kuil ini menjadi kebanggaan dari Pangeran Yoresan, untuk menunjukkan kehebatan dan keagungannya sendiri. Benar-benar sikap yang angkuh dan ego yang sangat tinggi.

3. Pemuda terpilih
Di sebuah negeri yang ada di sebelah barat kawasan Amartulayas (penamaan Nusantara kala itu), di sebuah desa yang bernama Unora, hiduplah seorang pemuda yang baik hati dan murah tersenyum. Namanya Hiru, atau lengkapnya adalah Hirusana, anak pertama dari empat bersaudara. Meskipun hanya orang kampung, sebenarnya garis silsilah keluarganya masih terhubung sampai ke raja-raja besar dunia, bahkan para Begawan dan Nabi yang mulia di masa lalu.

Hanya saja hal itu tak pernah diungkapkan kepada siapapun, selalu dirahasiakan. Hiru dan keluarganya hidup seperti penduduk desa pada umumnya. Bahkan ia sendiri hanyalah seorang penggembala ternak. Setiap tiga minggu atau sebulan sekali ia baru pulang ke rumah, selebihnya sang pemuda harus mengembara kemana-mana bersama hewan ternaknya. Banyak hal yang ia alami, banyak pula yang bisa dilihat untuk dijadikan bahan renungan dan pelajaran hidupnya.

Dan sebagaimana Manusia pada umumnya, Hiru juga mengalami lika-liku kehidupan ini. Ia dan keluarganya bukanlah orang kaya, selalu hidup sederhana. Karena itulah, Hiru pun terpaksa untuk tidak menimba ilmu di sekolah formal kerajaan atau padepokan para Begawan yang bijak. Hidupnya sehari-hari harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, terlebih sejak ayah tercintanya jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Dan semua itu ia jalani dengan sabar dan lapang dada. Hanya kepada Tuhan sajalah ia mengadukan nasib hidupnya.

Ya. Dari segala sisi manusiawi, maka Hiru itu tidak punya kelebihan apapun. Maklumlah ia hanya seorang penggembala yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Ia memang bisa membaca dan menulis, dan itu pun karena pernah diajari oleh ayahnya saat beliau masih sehat. Selebihnya, ilmu pengetahuan apapun yang ia miliki hanya berasal dari melihat, mendengar, dan merasakan seisi dunia ini. Tentunya itu tak seberapa, dan Hiru perlu mencari bekal ilmu yang lebih banyak. Hanya saja itu tak mudah di lakukan, karena ia masih tidak tega untuk meninggalkan ibu dan adik-adiknya di desa.

Tapi ada tugas sangat penting yang harus di lakukan oleh Hiru di kemudian hari. Untuk itu ia pun harus menuntut ilmu dan menempa dirinya. Dan garis hidupnya berubah sejak di usianya yang ke 35 tahun. Ketika ia sedang menggembalakan ternak milik kepala desanya, Hiru yang sedang berada dipadang rumput Silos bertemu dengan seorang pria. Si bapak lalu menawarkan apakah ia mau mendapatkan ilmu pengetahuan yang tak didapatkannya selama ini. Tidak harus membayar apapun, karena yang penting Hiru mau mengikutinya pergi mengembara. Dan jika ia mau, maka sebulan kemudian mereka akan bertemu lagi di tempat yang sama.

Catatan: Pada masa itu umur 35 tahun masih terbilang sangat muda, lantaran umur Manusia pun masih sangat panjang. Rata-rata mereka bisa hidup antara 300-500 tahun, bahkan ada yang sampai lebih dari 1.000 tahun. Karena itulah, usia 35 tahun pada masa itu belum seharusnya menikah. Seseorang masih perlu mencari ilmu dan pengalaman hidupnya.

Singkat cerita, Hiru lalu pulang ke rumahnya lebih cepat dari biasanya. Ternak-ternak milik sang kepala desa dikembalikan dengan jumlah yang sama, bahkan sudah bertambah puluhan ekor selama di urus olehnya. Sesuai kesepakatan, maka ada bagi hasil yang harus didapatkan oleh Hiru. Ia berhak atas 5 pasang Kisa (hewan yang bentuknya campuran antara domba dan yak), dan hewan-hewan itu lalu ia serahkan kepada adik lelakinya untuk dipelihara. Jadi selain beternak Noi (hewan sejenis kalkun tapi bulunya warna-warni) untuk diambil telur dan dagingnya, mereka juga mulai beternak Kisa. Hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka selama Hiru pergi menuntut ilmu. Disamping tetap harus bercocok tanam untuk dijual hasilnya ke pasar.

Sungguh berat rasanya harus berpisah dengan anak tercintanya. Tapi ibunya Hiru adalah seorang yang berpandangan luas dan ia ingin anaknya itu menjadi sosok yang berguna bagi orang banyak. Maka hanya dengan mengizinkan Hiru pergi mengembara menuntut ilmu, sang ibu yakin kelak anaknya itu bisa meraih kedudukan yang terhormat. Tidak hanya di desanya saja, tetapi sampai ke seluruh dunia. Terlebih itu juga merupakan harapan yang diinginkan oleh suaminya dulu. Dan ketika masih hidup, ayahnya Hiru pernah berkata; “Aku yakin bahwa anak kita Hiru bukanlah orang sembarangan. Ia masih keturunan dari orang-orang hebat di masa lalu. Dan kelak ia akan menjadi yang terpandang, bahkan melebihi leluhurnya dulu. Tapi ia tak bisa hanya tinggal di desa ini saja. Ia harus mengembara dan melihat dunia

Waktu pun berlalu, tibalah waktunya bagi Hiru untuk berpamitan dengan keluarganya. Meskipun semuanya berlinangan airmata, tapi restu mereka turut diberikan kepada sang pemuda untuk mendapatkan apa yang diiginkannya. Dan setelah berjalan selama beberapa jam, sampailah Hiru di tempat yang ditentukan oleh pria yang akan mengajaknya mengembara. Tapi di sana tidak ada siapapun. Bahkan setelah menunggu seharian tetap saja si bapak tak kunjung datang. Maka timbullah keraguan di hati Hiru tentang apakah benar yang dikatakan oleh orang tersebut. Jangan-jangan itu hanya sebuah kebohongan untuk sekedar menghiburnya saja. Atau mungkin si bapak adalah setan penunggu padang rumput yang ingin menipu dan bermain-main dengannya.

Begitulah yang dirasakan oleh Hiru selama menunggu kedatangan si bapak misterius. Meskipun ada rasa ingin pulang ke rumah, tetapi disaat yang bersamaan ada pula rasa ingin tetap menunggu sampai si bapak datang. Dan terjadilah pergulatan di pikiran Hiru. Apakah ia tetap menunggu atau pulang saja ke rumah. Mungkin ia memang tidak ditakdirkan untuk mendapatkan ilmu yang cukup bagi kehidupannya nanti. Dirinya harus menerima nasib hanya sebagai seorang penggembala ternak.

Lalu, setelah cukup lama merenung, akhirnya Hiru memutuskan untuk tetap menunggu kedatangan si bapak seberapapun lamanya. Di hatinya masih terbesit harapan yang besar, dan ia mengira mungkin saja ada halangan sehingga si bapak tidak bisa datang tepat waktu. Atau mungkin ini hanya sebuah ujian atas kesungguhan dirinya dalam menuntut ilmu. Ya, Hiru tetap berpikir positif atas apa yang terjadi. Tidak ada salahnya menunggu, toh ia sedang tidak ada kerjaan. Terlebih suasana alam yang indah dan sejuk tetap bisa menghibur jiwanya.

Dan apa yang dikira oleh Hiru benar adanya. Ia memang sedang diuji kesungguhannya oleh si bapak yang ternyata adalah Nabi Khidir AS. Jika ia tidak serius, tentunya akan pulang ke rumahnya. Tapi justru Hiru tetap bertahan selama beberapa hari meskipun tak ada kepastian. Jangankan bertemu dengan si bapak, bahkan nama sebenarnya saja ia tidak tahu. Maka untuk tahap pertama ia lulus, entahlah apakah masih ada lagi ujian lainnya. Semua itu tergantung dari situasi dan hanya sang Nabi sajalah yang tahu.

Singkat cerita, maka dimulailah pengembaraan Hirusana bersama Nabi Khidir AS ke berbagai tempat. Ada banyak negeri yang mereka datangi, dan darinya Hiru bisa mendapatkan pengalaman yang berharga. Ia bisa melihat langsung tentang berbagai karakter bangsa dan apa saja yang mereka lakukan, baik dan buruknya. Dan sesuai dengan pengamatan, maka pada masa itu lebih banyak yang telah menyimpang dari jalan kebenaran. Kemunafikan dan perbuatan dusta terus saja menyebar seperti wabah. Jika pun masih ada kebajikan, itu di lakukan untuk tujuan tertentu dan pencitraan. Agama selalu dijadikan topeng untuk menutupi setiap kejahatan yang mereka lakukan. Dusta dan kebencian jamak terjadi, seolah-olah hal itu bukan lagi dosa dan kejahatan. Sungguh memilukan.

Melihat itu semua, Hiru sampai berkata kepada gurunya, Nabi Khidir AS: “Wahai guru. Jika tahu seperti ini keadaan dunia, lebih baik ananda tetap hidup di Unora saja. Lebih enakan hidup bersama hewan ternak jika dibandingkan dengan Manusia. Betapa kotornya dunia ini

Tapi dibalas oleh sang Nabi dengan berkata: “Ananda. Sudah menjadi suratan dari-NYA bahwa kehidupan dunia kini harus berada di tepi jurang kehancuran. Meskipun terlihat aman dan makmur, tapi dimana-mana Manusia sudah menyerah pada kebatilan. Mereka tunduk dan menjadi hamba kegelapan, padahal itu yang seharusnya dihindari. Dan apa yang kau rasakan kini tidak salah namun juga tidak benar. Karena harus ada yang tetap berjuang untuk mengubah keadaan. Sebagai seorang pemuda, sudah menjadi kewajibanmu untuk terus mencari ilmu dan meningkatkan kemampuan diri, lahir dan batin. Hanya dengan begitu, kau layak disebut sebagai seorang hamba Tuhan. Dan hamba Tuhan yang sejati itu adalah dia yang terus mencari ilmu dan mau berjuang dalam menegakkan kebenaran tanpa ragu

Mendengar penjelasan itu sang pemuda hanya bisa terdiam dan tertunduk malu. Ia tak berkata apa-apa lagi, sampai akhirnya sang Nabi yang kembali berbicara: “Wahai ananda. Pada masa dahulu, perlahan-lahan Manusia akan menjadi tua dan akhirnya memilih untuk mengakhiri kehidupan duniawinya jika sudah penat atau merasa cukup. Caranya dengan berbaring untuk wafat atau menempuh jalan pelepasan jiwa (moksa). Tapi akhirnya, dan sampai kini, dimana-mana tumbuh subur kegilaan dan penyakit pun datang menyerang. Sementara Manusia takut mati dan tak pernah siap menghadapinya. Mereka terus larut dalam kegelapan, sampai tak pernah merasakan indahnya cahaya yang sesungguhnya. Banyak yang telah tertipu. Dan pada masa-masa yang lama, mereka sering mengangkat senjata, berperang dan saling bunuh untuk masalah yang remeh temeh sekalipun. Begitu mudahnya mereka naik pitam, senang berdebat, dan tak lupa pula sering berdusta dan menyebarkan fitnah. Semuanya demi hasrat keinginan yang harus selalu dipenuhi. Apalagi kalau bukan tentang harta dan tahta.

Tapi suatu saat nanti akan ada perubahan besar. Semua tatanan yang keliru akan dikembalikan pada yang benar dan sesuai dengan hukum dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Yang tak mungkin bisa menjadi mungkin, dan yang tak dikira justru akan terjadi. Siapapun yang menentangnya akan dikalahkan

Demikianlah sang Nabi menambahkan. Semuanya di dengarkan dengan takjub oleh Hirusana. Dan apa yang disampaikan oleh gurunya itu memang benar adanya.

Waktu pun terus beranjak dan setelah puas beristirahat, Nabi Khidir AS kembali mengajak Hiru untuk melanjutkan perjalanan. Lalu di suatu lembah, di saat mereka sedang duduk sebentar, sang Nabi berkata bahwa ia telah mendapatkan petunjuk untuk segera melatih Hiru dalam berbagai cara yang khusus. Di sebuah negeri yang terahasia, di sanalah mereka akan berlatih selama waktu yang tidak ditentukan. Semuanya demi tugas penting yang akan ditunaikan oleh sang pemuda.

Mengetahui hal itu, dengan senang hati Hiru menerimanya. Ia lalu di ajak oleh sang Nabi ke sebuah Dimensi yang sangat cocok untuk berlatih hal-hal yang luar biasa. Selama ratusan tahun Hiru terus berlatih tentang banyak hal di sana, termasuk menjalankan tapa brata yang sulit. Dan meskipun sebenarnya mudah bagi Nabi Khidir AS untuk menurunkan ilmunya, bahkan hanya dalam hitungan detik, tetapi hal itu tidak pernah di lakukan. Sang pemuda harus tetap berlatih keras dan menempa dirinya semaksimal mungkin. Itu demi kebaikannya sendiri, dan begitulah ajaran yang benar.

Catatan: Sama dengan tempat para kesatria pilihan lainnya berlatih, maka Dimensi tempat Hiru belajar dengan Nabi Khidir AS itu juga memiliki waktunya sendiri. Satu hari di Bumi akan sama dengan 15 tahun di sana.

4. Peringatan yang diabaikan
Di negeri bangsa Peri Sildran, rajanya yang bernama Sir el-Hamairin merasa resah dengan perkembangan di kota Akhram. Maklumlah bangsa Peri itu adalah golongan yang berperilaku santun dan lembut hatinya. Mereka sangat tidak menyukai ketidakteraturan dan apapun yang negatif. Oleh sebab itu, maka timbullah keinginan untuk membebaskan negeri tersebut dari praktik-praktik yang keliru dan tak sesuai lagi dengan aturan Tuhan. Meskipun kota tersebut adalah milik bangsa Manusia – karena warisan dari bapak mereka (Ayahanda Adam AS) – maka jika terkait dengan kebenaran dan keadilan tak ada perbedaannya. Terlebih di masa itu kota tersebut juga kadang dikunjungi oleh bangsa Peri untuk beribadah dan mencari ketenangan batin.

Oleh sebab itu, setelah dibicarakan dengan para sesepuh dan jajarannya, akhirnya Raja Sir el-Hamairin mengirimkan surat ajakan untuk mengembalikan kota suci Akhram seperti yang seharusnya. Beberapa orang utusan ditugaskan untuk menyampaikan surat tersebut langsung kepada penguasa kota Akhram di istananya. Dengan harapan sang raja mau mengikuti walaupun sedikit dan perlahan-lahan. Ini sangat penting untuk menghindari jatuhnya korban karena harus mengobarkan perang.

Hanya saja apa yang diharapkan tak berbuah manis. Surat dari sang raja Peri dirobek-robek oleh penguasa kota Akhram, Raja Yoresan. Bahkan seorang utusan sampai di lukai wajahnya, dan mereka diperintahkan untuk segera pulang ke negerinya dengan diiringi caci maki dan pengusiran. Penguasa kota Akhram tak sudi mengabulkan ajakan dari sang raja Peri. Bahkan ia sesumbar akan menghabisi siapapun yang mencoba untuk mengusik apa yang selama ini mereka senangi.

Dan pulanglah ketiga utusan raja Peri ke negerinya, di kerajaan Sildran, dengan rasa kecewa. Mereka pun merasa gagal dalam menjalankan tugas. Tapi sebagai seorang raja besar, Sir el-Hamairin masih bersikap tenang. Dengan kebijaksanaannya ia tak langsung marah dan memuaskan nafsunya untuk segera balas dendam. Namun karena ini menyangkut harga diri dan kebenaran yang telah dilecehkan, sang raja tetap ingin berjuang mengubah keadaan. Dua hari berikutnya, ia bahkan keluar istana untuk menemui beberapa sahabat lamanya. Mereka berjumlah 9 orang kesatria dari berbagai bangsa yang ada. Tiga di antaranya adalah Manusia yang berkemampuan luar biasa.

Ke 9 kesatria itu direkrut kembali oleh Raja Sir el-Hamairin untuk bisa membantunya dalam membebaskan kota Akhram. Kota itu harus dibersihkan kembali karena sudah tidak lagi suci. Apapun harus di lakukan agar niat baik itu bisa terlaksana. Dan selang beberapa hari berikutnya, setelah ke 9 kesatria itu berada di istana Sildran, maka dimulailah persiapan untuk berperang. Semua kebutuhan terus dilengkapi, sementara para prajurit dari bangsa Peri itu sudah membekali dirinya dengan keahlian dan keterampilan. Mereka pun siap menuju medan pertempuran yang paling mengerikan sekalipun. Tak ada yang bisa menghentikan mereka kecuali takdir kematian.

Dan pada suatu ketika, Raja Sir el-Hamairin mendapatkan sebuah petunjuk untuk pertempuran besar yang akan dihadapi. Di saat ia sedang menyendiri di pinggiran kota, tak disangka muncul seorang leluhurnya, yaitu Raja Sir el-Aindalain. Dari alam keabadian ia datang untuk memberikan nasehat dan petunjuk. Katanya: “Carilah mereka yang setia, yang hatinya tidak berpaling. Biarlah mereka ikut denganmu, baik dengan cara terbuka ataupun tersembunyi. Dan carilah seorang pemuda dari golongan Manusia yang hatinya terpaut dengan kota suci dan Yang Maha Suci. Dari arah timur ia akan datang. Dialah penggembala yang rendah hati dan murah tersenyum

Demikianlah petunjuk itu terus di pegang erat-erat oleh sang raja. Dan seiring waktu, ia terus menerima para kesatria terbaik – dari berbagai golongan dan bangsa – yang ingin bergabung dan membantu perjuangannya. Lalu di tengah-tengah kesibukannya, ia pun terus mencari siapakah sosok pemuda tersebut. Karena dialah yang dijanjikan bisa membawa perubahan besar di seluruh dunia.

5. Keangkuhan diri
Di istananya, Raja Yoresan tetap merasa aman karena selama ini mendapat dukungan penuh dari kekaisaran Mirigal, negeri di sebuah daratan yang sangat luas di wilayah utara. Dan ia akan segera meminta bantuan ketika ada yang mengganggu kesenangan mereka di negeri Sogeya, khususnya di kota Akhram. Hal ini tentunya langsung ditanggapi serius oleh penguasa Mirigal yang bernama Gazilor, sebab ia pun tak ingin kesenangan duniawi yang ada di seluruh wilayah Sogeya lantas menghilang. Jika perlu ia sendiri yang akan datang membantu dengan sejumlah pasukan besar. Siapapun harus digagalkan jika ingin mengubah model kehidupan di kota Akhram agar kembali suci. Maklumlah penguasa kerajaan Mirigal itu adalah pengikut setia dari sang kegelapan.

Sungguh, untuk waktu yang lama bangsa Sogeya merasa bahwa kemakmuran mereka kian berlimpah. Dan kalaupun mereka tidak bertambah bahagia – dalam arti yang sesungguhnya, setidaknya mereka semakin kaya raya. Sebab dengan cara-cara yang licik dan penuh keserakahan mereka berhasil melipatgandakan harta bendanya. Dan di masa Raja Yoresan, puncak dari semuanya itu telah terwujud. Mereka bukan lagi orang-orang yang baik budi, tapi semakin tenggelam dengan kesenangan duniawi. Keserakahan terus meningkat, dan di antara mereka tak ada lagi yang tulus menyebarkan pesan mulia dari kota yang suci, karena justru sering mengkampayekan berbagai kesesatan, dengan cara terselubung atau pun terang-terangan.

Oleh sebab itulah, hal yang semakin buruk di kota suci Akhram semakin membangkitkan semangat dari Raja Sir el-Hamairin untuk segera turun gelanggang. Dan sebelumnya, Raja Sir el-Hamairin telah mengutus beberapa telik sandi untuk mengumpulkan informasi secukupnya tentang kondisi di negeri Sogeya. Informasi tersebut digunakan untuk memutuskan langkah apa yang harus di lakukan selanjutnya. Dan keputusannya adalah mengirimkan surat peringatan terakhir kepada penguasa kerajaan Sogeya dan jajarannya untuk kembali ke jalan yang benar. Dalam surat itu diberikan tenggang waktu selama 3 bulan. Jika tidak mengindahkannya, maka jalan perang akan diambil sebagai pilihan terakhir.

Catatan: Peta dunia telah berulang kali berubah, dan benua-benua yang ada tidak selalu tetap pada bentuknya. Semua daratan dan lautan sering berganti, begitu pula dengan topografi dan geografi wilayahnya. Dan khusus di masa kisah ini terjadi, maka seluruh kawasan Nusantara masih bersatu dengan Asia, Australia, Oseania, Melanesia, dan Polinesia. Bahkan benua Afrika pada masa itu juga masih dalam satu daratan dengan Nusantara. Hanya ada dua lautan yang bernama Nirnawas dan Olgafar di tengahnya, mirip dengan kondisi Laut Caspia atau Laut Hitam di masa kita sekarang. Karena itulah ada banyak kerajaan besar kecil di kawasan seluas itu. Tidak hanya dari bangsa Manusia, tetapi juga Peri, Karudasya, Cinturia dan bahkan Jin.

Maka bagi mereka yang hidupnya tetap baik, atau mereka yang bertobat dan ingin menjadi orang baik, setelah mendapatkan berita tentang peringatan terakhir bagi penguasa Sogeya itu, mereka langsung bergegas untuk keluar dari negerinya. Di antara mereka itu ada yang berkendara dan berjalan kaki untuk bisa secepatnya menjauh dari kota yang akan ditaklukkan itu. Tapi tidak untuk mereka yang keras hatinya. Dengan sikap yang angkuh mereka bahkan sempat berkata: “Peri Sildran dan para penguasa Manusia di Timur dan Selatan telah berkomplot untuk memerangi kita. Merekalah yang memulai lebih dulu, tapi kemenangan akan bersama kita. Kekuatan kita tak tertandingi, dan masih ada bangsa Mirigal yang pasti membantu kita menuju kejayaan” Dan perkataan ini diucapkan langsung oleh penguasa Sogeya, Raja Yoresan, di halaman depan istananya.

Catatan: Pada masa sebelum direbut oleh bangsa Sogeya, kondisi alam di kota Akhram sangatlah indah. Di sana cuacanya sangat bersahabat, karena hujan tepat pada waktunya, tidak lebih dan tidak pula kurang alias secukupnya. Matahari kadang sejuk tapi kadang hangat disertai hembusan angin sepoi-sepoi dari selatan. Dan bila anginnya berhembus dari timur, terasa seperti membawa keharuman yang khas, lembut dan menggugah hati. Ada rasa tenang dan bahagia di kota tersebut. Tapi semuanya itu berubah sejak bangsa Sogeya berkuasa di sana. Langit sering menggelap dan kadang ada hujan badai yang disertai bola-bola es yang berjatuhan. Hewan-hewan pun bersikap tidak biasa, dan terlihat sekali bahwa mereka itu seperti merasa tidak tenang lagi.

Ya. Lantaran tidak mau sadar diri, maka pengampunan tidak begitu saja diberikan atas pengkhianatan yang di lakukan oleh bangsa Sogeya. Mereka harus menerima balasan yang setimpal satu persatu demi keadilan. Dan tibalah saat yang luar biasa pun terjadi. Setelah mendung gelap datang, tak lama kemudian petir langsung menyambar-nyambar keras. Semakin dahsyat dan membunuh orang-orang yang berada di jalan-jalan kota, taman-taman, padang rumput, dan perbukitan. Lalu terlihat kilat berapi yang melesat dan petirnya langsung menghantam kubah kuil Morayah yang ada di tengah kota Akhram sampai terbelah pada kali pertama. Petir yang kedua langsung menyambar puncak menara kuil itu sampai akhirnya runtuh menghujam Bumi. Api berkobar-kobar, sementara tanah ikut bergetar hebat dan membuat suasana kian mencekam. Itulah peringatan terakhir yang diberikan kepada siapapun yang mengikuti kemungkaran di kota Akhram.

Tapi mungkin sudah menjadi kodrat Tuhan, maka mereka yang tetap tinggal dengan angkuh di kota Akhram itu, meskipun sudah melihat ada petir yang telah menghancurkan kuil Morayah dan menaranya, tetap saja tak peduli. Atas dukungan dari pasukan kekaisaran Mirigal, dengan angkuhnya mereka tetap siap berperang. Mereka maju ke perbatasan kota, di lembah Alfanta, untuk menyambut pasukan dibawah pimpinan Raja Sir el-Hamairin. Entah karena sombong atau bodoh mereka maju ke medan tempur itu dengan kekuatan penuh.

6. Persiapan perang
Bersama dengan Nabi Khidir AS, selama ratusan tahun (untuk waktu di sana) Hirusana pun terus berlatih. Ada banyak teknik dan jenis latihan khusus yang harus dilaluinya, secara lahir maupun batin. Dan sesekali sang Nabi memberikan wejangan yang berarti. Salah satunya ketika beliau ditanya mengenai kekuatan Ilahi.

Wahai guru. Apakah kekuatan Ilahi itu? Jelaskanlah dengan cara yang bisa ananda pahami” tanya Hiru.

Sang Nabi pun menjawab: “Ananda. Ketahuilah bahwa apapun sistem dan bentuk pola yang ada di dunia ini adalah kekuatan Ilahi. Begitu pula dengan yang kasar dan halus, yang nyata dan goib, yang besar dan kecil, yang jauh dan dekat, yang kuat dan lemah. Itu adalah aturan dasar, dan jika kita bisa meresapinya dengan baik lalu menampungnya di hati secara benar, kita bisa mengendalikannya dengan menggunakan medan/pusat kekuatan

Bukankah itu sangat sulit dan butuh ketekunan yang tidak biasa? Apa yang bisa membuat seseorang mampu menggapainya wahai guru?” tanya Hiru lagi.

Jawaban atas pertanyaan itu terletak pada dua alasan yang membuat seseorang tetap kuat dan bisa mencapai tujuannya. Pertama adalah cinta sejati, dan yang kedua yaitu niat yang suci dalam keingintahuan” Jawab sang Nabi.

Mendengar penjelasan itu, maka pahamlah Hiru sehingga dari wajahnya terpancar kebahagiaan. Meskipun tidak mudah, apa yang barusan dijelaskan oleh gurunya itu laksana pelita di tengah gelap gulita. Dengan cahaya dari “pelita” itu, Hiru pun bisa meneruskan perjalanan dan tidak sampai terjerumus ke dalam jurang yang menyesatkan.

Dan waktupun terus berlalu hingga tibalah saatnya Hiru akan berpisah dengan gurunya, Nabi Khidir AS. Sebelum berpisah, sang guru sempat berpesan: “Berbuat baik untuk orang lain adalah kehidupan yang sangat berharga. Itu adalah sesuatu yang mulia dan perlu diperjuangkan. Wahai anakku, berangkatlah menuju ke kota suci Akhram untuk membebaskannya dari belenggu kegelapan. Tapi sebelum itu, pergilah ke arah utara lalu berkelok ke barat. Jika sudah waktunya, kau akan bertemu dengan seorang raja dari bangsa Peri. Tak perlu mencarinya, karena dia sendiri yang akan menemukanmu. Dan jika kalian sudah bertemu, maka teguhkanlah niat dan berjuanglah tanpa pamrih. Tunduklah hanya kepada Yang Maha Esa, berserah dirilah kepada-NYA saja. Semoga kalian beruntung dan mendapatkan keridhoan-NYA

Begitulah pesan dan nasehat terakhir dari Nabi Khidir AS kepada Hirusana sebelum mereka akhirnya berpisah. Sang Nabi meneruskan tugasnya di tempat lain, sementara sang pemuda harus kembali ke Bumi dan menjalankan tugasnya sebagai seorang kesatria. Dan sebelum semuanya dimulai, Hiru memilih untuk pulang dulu ke rumahnya demi menemui keluarga tercinta dan mendapatkan restu dari mereka. Betapa senangnya ibu dan adik-adik Hiru saat mendengar ceritanya. Sungguh harapan yang terwujud.

Singkat cerita, karena ada tugas yang harus dilaksanakan, Hiru tidak bisa berlama-lama tinggal di rumah. Ia harus berpamitan dengan keluarganya dan segera mengikuti petunjuk dari Nabi Khidir AS sebelumnya. Sang pemuda harus berjalan ke utara lalu berkelok ke barat. Berapa lama waktunya ia tak tahu, karena yang penting berjalan saja mengikuti garis takdirnya. Dan pada waktu itu Hiru tak pernah menggunakan kemampuan terbang atau teleportasi kecuali terpaksa. Ia hanya berjalan kaki selama berminggu-minggu, bahkan sampai hitungan bulan. Ada banyak negeri yang telah ia lalui, beragam model kehidupan dan permasalahan yang bisa disaksikan. Jika dibutuhkan sang pemuda akan ikut membantu, tapi jika tidak ia hanya akan singgah sebentar saja.

Demikianlah hari-hari yang dilalui oleh Hirusana dengan penuh kesabaran. Disisi lain Raja Sir el-Hamairin tengah berlayar menyusuri sungai Gon yang airnya jernih dan dingin. Di suatu tikungan, tanpa sengaja ia melihat seorang pemuda dari bangsa Manusia yang duduk seorang diri. Dari kejauhan ia sudah menduga bahwa sosok tersebut bukanlah orang biasa, bahkan mungkin saja pemuda yang pernah dijelaskan oleh leluhurnya dulu, Raja Sir el-Aindalain. Entah mengapa hatinya sangat yakin dengan hal itu.

Dan ternyata benar, setelah berkenalan dan berbicara banyak dengan sang pemuda, Raja Sir el-Hamairin akhirnya menemukan sosok yang dicari selama ini. Ciri-ciri yang pernah disebutkan oleh leluhurnya itu, Raja Sir el-Aindalain, semuanya ada pada diri Hirusana. Terlebih ia pun bisa merasakan aura yang tidak biasa dari sang pemuda, yang sulit untuk dijelaskan. Dan ketika ia hendak menguji kemampuan dari sang pemuda, Hirusana justru lebih dulu berkata: “Tak perlu mengujiku wahai penguasa Sildran. Aku sudah tahu apa yang harus ku lakukan. Membebaskan kota suci Akhram adalah bagian dari tugas utamaku. Mari kita sama-sama berjuang sebagai saudara

Mendengar kata-kata barusan membuat hati sang raja sampai terenyuh. Dan ia sangat senang bisa menjadi saudara dari seorang yang terpilih. Dengan wajah yang berbinar, sang raja langsung memberi hormat kepada sang pemuda. Ia juga sampai berkata: “Wahai kesatria. Selamatkanlah dunia ini dari belenggu kegelapan. Ambillah peranmu dengan kembali menyulutkan jiwa kepahlawanan dari masa lampau, di dalam dunia yang telah dingin membeku ini. Kepadamu harapan itu kini tertuju, kami akan setia mengikutimu sampai maut datang menjemput

Singkat cerita, setelah mengatakan itu maka tak lama kemudian sang raja pun mengajak Hirusana untuk datang ke negerinya. Di sana mereka bisa merencanakan segala sesuatu untuk keperluan perang besar nanti. Dan ketika kabar tentang sosok yang terpilih itu menyebar, banyak kesatria yang berdatangan ke negeri Peri Sildran. Mereka sengaja datang untuk bergabung dalam pasukan yang ingin membebaskan kota suci Akhram. Jika ditotal seluruhnya, pasukan yang terkumpul saat itu tidak kurang dari 1 juta orang. Semuanya berasal dari berbagai bangsa dan golongan makhluk yang mendiami Bumi pada saat itu. Tidak hanya Peri dan Manusia, tetapi juga ada dari golongan Jin, Cinturia, Karudasya, Hewan dan Tumbuhan. Semuanya siap bertempur demi menegakkan kebenaran dan keadilan di dunia.

Catatan: Pada masa itu golongan Peri, Jin, Cinturia, dan Karudasya masih tinggal di atas muka Bumi ini. Mereka juga bertubuh kasar, tidak jauh berbeda dengan Manusia. Sedangkan khusus untuk kalangan Hewan dan Tumbuhan, maka di masa itu ada yang bisa bertindak seperti Manusia juga. Mereka mampu berbicara dan bergerak seperti halnya Manusia. Mereka inilah yang ikut bergabung dalam pasukan Raja Sir el-Hamairin.

7. Kejayaan dari timur
Tersebutlah negeri yang subur makmur bernama Tamarun. Sebuah negeri yang berada jauh di arah timur kota Akhram, dan pada waktu itu sudah berada di puncak peradabannya. Banyak yang ingin tinggal di sana, hanya saja negeri ini tak mudah untuk ditemukan. Ada pelindung rahasia yang dipasang di batas negeri tersebut, sehingga tak semua orang bisa menembusnya, bahkan sekedar untuk melihatnya. Ada syarat tertentu yang harus dipenuhi, jika tidak maka jangan berharap untuk bisa masuk ke negeri yang damai sentosa itu.

Sungguh, bangsa ini memang luar biasa dan mereka senang mengabadikan kisah-kisah, nyanyian, syair, puisi dan ilmu pengetahuan yang ada sejak awal zaman ke empat (Swarganta-Ra), bahkan sejak masa awal kehidupan Manusia di Bumi. Semuanya dicatat dengan menciptakan huruf-huruf khusus lalu dituliskan ke dalam gulungan-gulungan naskah dan kitab-kitab tertentu. Tak lupa pula mereka menuangkan berbagai kebijaksanaan dan hal-hal yang unik tentang kejayaan masa lalu, khususnya di masa mereka sendiri, yang kini telah dilupakan.

Dan kaum ini sangat terampil dalam menciptakan barang-barang yang bagus dan berkualitas tinggi, beragam pula jenisnya. Sehingga mudah bagi mereka untuk menimbulkan perang atau menaklukkan negeri lainnya. Akan tetapi mereka adalah orang yang cinta damai, sehingga tak banyak membuat persenjataan bahkan hanya sedikit memiliki tentara. Mereka lebih fokus dengan penelitian, ilmu kebatinan (agama, spiritual, dll), serta ilmu kanuragan dan kadigdayan saja. Kebutuhan akan militer tetap ada namun hanya secukupnya saja. Tak perlu berlebihan, karena pada dasarnya setiap orang di kaum ini adalah kesatria. Mereka tinggal berangkat jika memang harus berperang menegakkan kebenaran dan keadilan.

Nah, ketika mendengar kabar akan adanya usaha untuk membebaskan kota suci Akhram, kerajaan Tamarun itu memutuskan untuk terlibat. Selama ini mereka tidak pernah lagi berurusan dengan keadaan apapun di seluruh dunia, mereka memang telah “mengasingkan diri” untuk itu. Tapi karena ini menyangkut keadaan kota suci yang harus diperbaiki, terlebih ada panggilan dari seorang pemuda yang terpilih, sang raja dan penduduk negeri Tamarun ingin ikut berjuang. Bersama ribuan pasukan yang diseleksi, mereka lalu berangkat ke negeri Peri Sildran untuk bergabung dengan para pejuang di sana. Hal ini memberikan semangat kepada semua orang yang telah berkumpul di pinggiran kota Sildran.

8. Perang besar
Waktu pun terus berlalu, dan persiapan menuju perang besar telah selesai. Kubu pasukan Raja Sir el-Hamairin mulai bergerak ke Barat menuju kota suci Akhram. Begitu pula dengan kubu pasukan Raja Yoresan telah siap sedia, bahkan mereka sudah mendapatkan dukungan dari pasukan kekaisaran Mirigal yang kala itu langsung dipimpin oleh rajanya sendiri, Gazilor. Jika pasukan koalisi dibawah pimpinan Raja Sir el-Hamairin berjumlah 1,3 juta orang, maka pasukan besar dalam kubu Raja Yoresan mencapai angka 2,5 juta orang. Raja Gazilor membawa hampir semua pasukan dari seluruh wilayah kekaisarannya, yang tentunya dari berbagai bangsa dan kerajaan yang sudah ditaklukkan olehnya.

Di hari ke tujuh bergerak menuju kota suci Akhram, Hirusana melihat pasukannya mulai gelisah ketika mendengar kabar bahwa Raja Yoresan mendapat dukungan penuh dari Kaisar Gazilor. Sosok yang terkenal sakti dan biasa memenangi pertempuran. Oleh sebab itu, sang pemuda harus memberikan semangat. Dan salah satu nasehat yang paling berkesan dari Hirusana kala itu adalah ketika mereka sedang berkemah di lembah Yakul. Saat itu orang-orang di kubu pasukannya sedang merasa tegang dan tak banyak berbicara. Demi mencairkan suasana, Hirusana lantas berkata dengan lantang. Katanya: “Masalah pertobatan, perenungan, dan melepaskan keduniawian lebih kepada urusan hati. Begitu pula dengan perasaan cemas dan harapan. Jangan sampai hal itu bisa menghilangkan senyuman di wajahmu. Dan tenangkanlah hatimu hai saudaraku, jangan tegang, karena kita sedang menjemput kemenangan

Mendengar kata-kata singkat tersebut akhirnya suasana yang tegang menjadi cair kembali. Orang-orang dalam pasukan Raja Sir el-Hamairin mulai tersenyum dan berusaha untuk bisa menghilangkan beban kecemasan yang telah menghimpit perasaan. Kini yang tertinggal hanyalah semangat untuk bisa menegakkan kebenaran dan keadilan saja. Tak ada lagi rasa khawatir dan ragu-ragu dalam menghadapi pertempuran yang besar itu nanti. Dan meskipun jumlah mereka hanya separuh dari pasukan musuh, tetap ada keyakinan bahwa mereka pasti menang. Sungguh perubahan yang drastis, dan itulah bedanya dampak tindakan dari sosok yang terpilih dengan yang ingin dipilih. Apapun orasi dari Hirusana segera mengubah suasana, itulah kharisma dari seorang pemimpin agung.

Dan terus bergeraklah pasukan pembebas kota suci itu dari arah selatan menuju ke dekat perbatasan kota Akhram. Di lembah yang bernama Alfanta itulah semuanya akan ditentukan, apakah kemuliaan kembali bangkit di kota suci itu atau justru kegelapanlah yang akan terus berjaya. Dan selang tiga hari kemudian, maka pertempuran yang dahsyat pun terjadi. Kedua belah pasukan tak ada yang mau mengalah dan tetap pada pendiriannya masing-masing. Mereka sama-sama menginginkan kemenangan dengan niat dan cara yang berbeda.

Catatan: Posisi lembah Alfanta itu berada di sebelah Barat Daya kota Makkah sekarang. Kondisi di sana pada waktu itu jelas sangat berbeda dari sekarang karena masih menghijau oleh hutan dan padang rumput. Begitu pula dengan topografi wilayahnya yang juga tidak sama dengan sekarang, sangat berbeda. Sementara itu, pasukan Raja Sir el-Hamairin bergerak dari arah selatan, melalui kawasan yang bernama Sowagara. Kawasan ini sekarang yang disebut dengan Laut Merah tapi pada waktu itu belum ada lautnya, karena di sana masih berupa daratan yang sangat luas.

Singkat cerita, setelah berkemah selama tiga hari akhirnya kedua belah pasukan saling berhadapan di medan pertempuran. Di tengah lembah Alfanta itu, berlapis-lapis prajurit telah berbaris rapi dan siap bertaruh nyawa. Dan sesuai tradisi pada masa itu, maka pemimpin dari kedua pasukan harus bertemu dan berunding dulu di tengah-tengah medan pertempuran. Di pihak Barat ada Raja Yoresan (penguasa Sogeya), Raja Gazilor (kaisar Mirigal), dan Raja Suriyat (penguasa Nor). Sedangkan di kubu Selatan ada Raja Sir el-Hamairin (raja Peri Sildran), Raja Namals (penguasa Tamarun), dan Ratu Astiyah (penguasa Malma). Mereka lalu berunding dan menyepakati beberapa hal yang berhubungan dengan perang. Tak ada lagi rencana damai, karena kedua belah kubu tetap saling bertentangan dan sama-sama tak mau berhenti.

Dan terjadilah pertempuran yang mengerikan. Sejak sangkakala dibunyikan, tak lama kemudian terdengarlah suara riuh dan gaduh. Pasukan dari kedua belah pihak saling serang dan menggempur dengan keras. Banjir darah pun terjadi, orang-orang saling bunuh atau dibunuh tanpa ampun. Berbagai formasi tempur terus dipertunjukkan, dan selama beberapa jam kedua belah pasukan masih terlihat seimbang. Dan keduanya sama-sama tak ada yang mau mengalah.

Selain itu, makhluk-makhluk buas dan menyeramkan juga ada di dalam barisan pasukan Mirigal. Ada yang berjalan di darat, tapi ada pula yang terbang di udara. Semuanya memang sengaja di datangkan dari negeri-negeri jauh di utara, bahkan ada pula yang berasal dari Dimensi lain. Ini sangat berpengaruh dalam pertempuran, hanya saja pasukan dari Selatan itu bukanlah prajurit kacangan. Mereka bisa menahan serangan ganas dari makhluk-makhluk mengerikan itu dengan berbagai keahlian dan formasi. Suatu pemandangan yang mengagumkan, betapa dengan semangatnya para pejuang-pejuang itu tak pernah mundur dan terus menyerang. Tujuannya hanya satu, yaitu bisa memenangkan pertempuran demi membebaskan kota suci.

Ya. Kedua belah pasukan memang sudah mempersiapkan dirinya dengan baik. Mereka pun sama-sama memiliki divisi pasukan infanteri, kavaleri, dan artileri. Dan lebih istimewanya lagi adalah pasukan yang berasal dari Selatan. Karena meskipun jumlah mereka hanya separuh dari pasukan Barat, tetap saja mereka bisa bertahan dan memberikan perlawanan yang sengit. Bahkan lama kelamaan terlihat lebih unggul. Itu pun bisa lebih hebat lagi saat para kesatria terbaiknya mulai mengeluarkan kemampuan utamanya. Pertarungan yang terjadi pun sangat mengagumkan.

Catatan: Semua pasukan telah mengenakan baju zirah dari logam (besi baja, emas, perak, titanium). Begitu pun setiap prajurit menggunakan beragam jenis senjata yang ia pilih sendiri, misalnya pedang, panah, tombak, kapak, gada, atau pisau. Entah itu berupa senjata biasa atau pusaka yang sakti, kedua belah pihak sama-sama memilikinya. Dan khusus untuk pasukan kavaleri, maka kendaraan yang mereka tunggangi saat itu bukanlah kuda – karena kuda masih belum ada, tetapi Diwas. Hewan ini bentuknya campuran antara rusa dan kuda tetapi lebih berotot, dengan warna rambut hitam, cokelat atau putih. Sangat lincah dan memiliki ketahanan tubuh yang kuat. Cocok untuk keperluan perang dan ekspedisi.

Dan mulai terjadilah pertarungan yang luar biasa di antara para kesatria terbaik. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan senjata, melainkan sudah mengeluarkan berbagai ajian tingkat tinggi dan keahlian khusus. Karena itulah suasana di medan pertempuran semakin ramai dan gaduh. Ledakan demi ledakan, guncangan demi guncangan, dan gejolak alam yang berubah-ubah terus mewarnai saat itu. Sungguh mengagumkan sekaligus mengerikan. Dan setelah beberapa waktu, satu persatu dari para kesatria itu ada yang tumbang.

Tapi sesuai kesepakatan, maka pertempuran saat itu harus berakhir ketika senja telah tiba. Dan sesuai tradisi para kesatria, maka tanpa diminta pun mereka akan berhenti saat Matahari mulai tenggelam di ufuk Barat. Tak peduli apakah ia penjahat atau yang berhati mulia, semuanya akan mematuhi hukum kebiasaan itu. Sementara perang akan dilanjutkan esok hari, setelah Mentari berada di setinggi busur.

Ya. Pada masa itu orang-orang masih menghormati sikap kesatria sejati. Mereka tidak mau bertempur jika tidak langsung berhadapan di medan perang. Bagi mereka, seorang kesatria itu harus berani bertarung sampai mati menghadapi musuhnya. Tidak ada yang sembunyi-sembunyi, karena harus bertemu langsung. Tidak pula hanya mengandalkan senjata, melainkan kemampuan diri sendiri (ilmu kanuragan dan kadigdayan). Menang atau kalah ditentukan oleh kekuatan dan strategi yang dimiliki. Sedangkan yang terluka atau gugur akan dihormati sebagai pahlawan. Mereka akan dirawat dengan baik, dan apapun urusan mengenai korban ini harus dipermudah. Tak ada yang boleh mempersulitnya, karena akan di kutuk sampai tujuh turunan.

Namun, di hari kedua pertempuran keadaan berubah drastis. Karena melihat pasukannya mulai terdesak lantaran mendapatkan serangan yang mematikan dari pihak Selatan, Raja Gazilor mulai menggunakan cara lain yang licik. Dia meminta bantuan pasukan dari Dimensi lain, yang penampilannya menyeramkan. Mereka ini adalah para serdadu raja kegelapan yang memang dipersiapkan untuk perang besar saat itu. Hanya ada satu tujuan mereka, yaitu menghabisi pasukan Selatan. Dan tak ada yang perlu dijadikan tawanan.

Oleh sebab itu, setelah Raja Gazilor membaca mantra khusus, muncullah portal Dimensi di tengah-tengah barisan pasukan Barat. Suasana alam bergejolak dan tak lama kemudian datanglah pasukan yang menyeramkan dan terdiri dari dua jenis. Sebagian berwujud menakutkan dalam ukuran yang beragam dan serba hitam, sedang yang lainnya justru sebaliknya. Mereka ini berpenampilan menarik lengkap dengan baju zirah yang indah, mirip dengan para kesatria dari golongan Peri. Dan tentunya mereka pun memiliki kemampuan yang tidak biasa. Hal ini terbukti dengan hanya sekali serang saja sudah menumbangkan banyak lawan.

Sungguh, karena serangan dari pasukan kegelapan itu banyak pasukan di pihak Selatan yang jadi korbannya. Hal ini tak bisa dibiarkan oleh Raja Sir el-Hamairin, dan ia pun harus turun tangan langsung bersama raja dan ratu yang lainnya untuk bertarung dengan pasukan jahat tersebut. Dan raja bangsa Peri itu pun berharap kepada sang pemuda terpilih, Hirusana, mau turun tangan langsung memimpin. Tapi harapan itu tak sejalan dengan apa yang ia saksikan. Dilihatnya Hiru justru tidak berbuat apa-apa, sang pemuda hanya berdiam diri dan memejamkan matanya.

Awalnya sang raja sedikit kecewa, namun setelah diperhatikan lagi barulah ia sadar. Bahwa Hirusana sedang menunggu petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Inilah bedanya orang yang terpilih saat akan bertindak. Ia harus selalu menunggu petunjuk dari Tuhannya, tidak boleh ada terbesit keinginannya sendiri, sekecil apapun itu, agar tak salah dan kalah.

Dan akhirnya Hirusana mendapatkan petunjuk dari-NYA. Maka dalam waktu singkat ia langsung beraksi di garis depan, yang membuat siapapun terkagum-kagum. Belum pernah ada yang menyaksikan hal seperti itu. Awalnya Hirusana masih berdiri di atas tanah, namun akhirnya mengambang di udara. Penampilannya berubah, dan hanya dengan sekali gerakan tangannya saja, maka tiba-tiba muncul dan berdatanganlah ke 10 elemen alam untuk dijadikan senjata. Tiga di antaranya lalu melindungi dan menyelamatkan pasukan Selatan dari serangan yang mematikan dari pasukan kegelapan. Selebihnya bergerak menyerang dan menghabisi pasukan kegelapan itu, yang sebelumnya sulit untuk dikalahkan.

Ya. Dalam hitungan menit, semua pasukan kegelapan yang berjumlah ±10.000 itu akhirnya dapat dihabisi kecuali tiga orang senopati-nya. Ke tiga sosok itu tak mudah untuk dikalahkah, sehingga harus dihabisi oleh Hiru dengan menembakkan anak panah sakti yang tiba-tiba muncul ditangannya. Tak ada yang mampu menangkisnya, karena kemampuan senjata pusaka itu jauh di atas kesaktian dari ketiganya. Mereka lalu terbakar dan akhirnya musnah tak bersisa. Dan hal ini langsung membuat siapapun yang melihatnya jadi terkesima. Apa yang dipertunjukkan oleh Hiru saat itu adalah hal yang mengagumkan dan belum pernah disaksikan oleh siapapun yang ada di medan pertempuran itu. Dan tak salah jika sang pemuda memanglah sosok yang terpilih.

Waktu pun berlalu. Di sisi pasukan Raja Gazilor, ketika melihat dengan mudahnya Hirusana bisa menghabisi pasukan kegelapan itu, semuanya begitu ketakutan dan ingin segera menyerah. Tapi disaat itu pula terdengar suara dari arah Langit yang memerintahkan mereka untuk tetap berperang. Tak lama kemudian tiba-tiba muncul satu lagi portal Dimensi lain dan dari sana datang pula sepasukan yang tampak lebih hebat. Dan memang, meskipun jumlahnya tak sebanyak yang sebelumnya, tetapi kemampuan yang dimiliki lebih hebat dan mereka ini tak bisa dibunuh – sebab bisa hidup kembali selama pemimpinnya masih kuat berdiri. Karena itu, Hirusana lalu meminta kepada sembilan kesatria yang telah di rekrut oleh Raja Sir el-Hamairin untuk menghadapinya. Tetapi sebelum itu setiap orangnya telah diberikan senjata pusaka oleh Hiru. Dengan senjata itu mereka akan menahan dan menyerang balik ribuan pasukan kegelapan tersebut.

Dan terjadilah pertempuran yang luar biasa yang terus mengguncang medan pertempuran. Berbagai keahlian khusus dan kesaktian yang tinggi dikeluarkan oleh para kesatria yang bertarung. Yang tidak terlibat segera menjauh, jika tidak akan terkena dampak yang menyakitkan. Sementara itu, untuk menghadapi para senopati pasukan kegelapan itu, Hirusana lalu mengajak Raja Sir el-Hamairin, Raja Tamals, Raja Nemerus, dan Ratu Astiyah untuk membantunya. Mereka berlima lalu menjadi satu kekuatan tunggal yang luar biasa. Karena itulah dalam waktu yang tidak begitu lama semua senopati dari pasukan kegelapan itu dapat dikalahkan. Tinggal seorang pemimpinnya yang bernama Ghafar yang tetap tak bergeming. Dia bahkan masih belum tersentuh.

Oleh sebab itu, ketika pasukannya hampir habis, giliran Ghafar yang harus dikalahkan. Hiru dan keempat orang yang bersamanya lalu menghadapi kesaktian si Ghafar dimana-mana – karena mereka bertarung dengan terbang kemana-mana. Dan sesuailah jika dia menjadi pemimpin dari pasukan kegelapan itu, karena tidak mudah untuk mengalahkannya. Menyerangnya saja sulit, karena ia selalu bergerak dengan sangat cepat, dan kadang tak terlihat atau justru menjadi banyak. Penampilannya pun berubah-ubah, lengkap pula dengan kesaktian yang berbeda-beda. Tapi lantaran yang bertarung melawannya adalah para raja/ratu yang juga sakti mandraguna, maka akhirnya si Ghafar tak bisa berkutik. Dalam sebuah serangan gabungan, mau tidak mau Ghafar harus mengaku kalah. Hanya karena nyawanya telah ditangguhkah sampai Hari Kiamat nanti, ia tidak sampai tewas dan akhirnya bisa kabur meninggalkan medan pertempuran.

Tapi sebelum kabur, Ghafar telah meminta bantuan kepada tuannya untuk datang. Dan permintaan itu pun dikabulkan tak lama setelah ia kabur dari medan pertempuran untuk mengobati lukanya. Kali ini tak ada pasukan besar yang datang dari Dimensi lain, karena hanya seorang saja. Lalu diketahui namanya adalah Demula, sosok yang sangat berbahaya dan tentunya sakti mandraguna. Melihatnya saja orang-orang jadi ciut nyalinya. Bukan karena penampilan tubuhnya yang menyeramkan – karena dia justru sangat rupawan, tetapi lantaran pancaran aura dan energi besar yang keluar dari tubuhnya.

***

Perlu diketahui bahwa sosok Demula itu sebenarnya raja kegelapan yang menyamar. Dia menjadi guru dan penasehat dari para penguasa kerajaan Sogeya sekaligus yang di kekaisaran Mirigal. Dengan kata-kata yang manis, sejak awal kemunculannya di Utara dan Barat, Demula sering membiuskan maksud yang jahat. Kepada bangsa Manusia ia sering “membantu” dan sangat diterima karena pengetahuannya amat banyak. Tapi semua itu hanya demi melancarkan niat buruknya saja. Mengapa Manusia? Karena bila dibandingkan dengan makhluk lainnya, Manusia adalah yang paling mudah digoyahkan hatinya tetapi mereka memiliki kekuatan yang sangat besar. Dan Manusia itu lebih mudah untuk ditundukkan, karena mereka sering terbagi, tercerai berai, dan tanpa pemimpin yang sesungguhnya.

Sungguh liciknya Demula itu, bahkan ia sangat mahir memainkan perannya sebagai orang yang bijak padahal hanya sebatas pura-pura saja. Jika ada kesempatan ia akan bermain kata-kata untuk menyesatkan. Dalam sebuah kesempatan ia juga pernah berucap: “Sayang sekali banyak orang yang katanya terhormat dan mulia ternyata lemah. Apakah mereka tidak ingin dunia ini dipenuhi oleh negeri-negeri yang makmur dan indah. Mengapa dibiarkan banyak negeri yang harus tetap sunyi padahal bisa gemerlapan, gegap gempita? Bukankah dengan mencintai dunia ini, kita bisa menciptakan kehidupan seperti di Syurga? Bukankah sudah menjadi tugas kita untuk bekerjasama demi meraih kejayaan itu?

Begitulah dalam penyamarannya Demula terus menggunakan kata-kata yang manis hanya untuk memelintir hati dan pikiran orang-orang agar mengikuti niat buruknya. Sekilas memang terlihat benar, tidak ada yang aneh, tapi jika dicermati dengan seksama maka kata-katanya itu bermata dua. Di tambah lagi dengan liciknya si raja kegelapan itu pun terus menipu dan mengarahkan setiap korbannya untuk berpaling dari jalan kebenaran. Tidak dengan sekaligus, tetapi secara halus dan perlahan agar tak dicurigai. Begitu pintarnya Demula bersilat lidah dan menyesatkan orang-orang tanpa mereka sadari.

***

Ya. Sejak kemunculan Demula dalam wujud yang sebenarnya itu, suasana di lembah Alfanta segera berubah. Semua orang bisa merasakan bahwa sosok yang baru datang itu takkan mudah untuk dikalahkan. Hal inipun langsung disadari oleh para raja/ratu yang berjuang bersama Hiru. Tapi sebagai seorang kesatria mereka takkan lari dari pertarungan. Mereka takkan berhenti sebelum berusaha maksimal. Oleh sebab itu, bersama dengan Hirusana keempatnya lalu menyerang Demula dengan kekuatan besar. Untung saja pertarungannya terjadi di angkasa, karena jika tidak maka bisa menghancur-leburkan lembah Alfanta, bahkan sampai ke kota Akhram juga.

Namun Demula adalah seorang raja kegelapan yang luar biasa. Meskipun dikeroyok oleh para raja/ratu yang sakti mandraguna, ia tetap tak terkalahkan. Bahkan mampu membalikkan keadaan. Tapi disaat hendak membunuh para raja/ratu itu, ia tak berhasil. Mereka dilindungi oleh satu kekuatan yang tak dikira. Ternyata dalam waktu sekejap Hirusana sudah meningkatkan kemampuannya dan memberikan perlindungan. Kekuatan besar yang dilepaskan untuk menghabisi nyawa para raja/ratu itu terpental jauh ke luar angkasa dan meledak di sana. Hal ini membuat Demula terkejut, karena bagaimana bisa ada yang mampu menangkis serangan mematikan itu. Setelah di cari-cari, ternyata Hirusana yang melakukannya. Sang pemuda sudah berbeda penampilannya, lebih mengagumkan lengkap dengan baju zirah yang berkilauan.

Singkat cerita, Hirusana meminta para raja/ratu yang telah membantunya untuk mundur ke dalam barisan pasukan. Dia sendiri yang akan menghadapi raja kegelapan itu, kemanapun tak jadi masalah. Dan pertarungan saat itu sungguh tidak biasa, sangat mengagumkan, sampai-sampai tak ada yang mampu melihatnya kecuali oleh mereka yang berilmu tinggi. Sangat cepat dan terjadi dimana-mana di angkasa luas. Mereka yang ada di medan pertempuran hanya bisa terdiam dan menghentikan pertempuran. Dan meskipun itu berlangsung jauh dari daratan, tetap saja getaran dan guncangan yang keras bisa di rasakan. Suara yang dikeluarkan pada saat keduanya bertarung terdengar jelas. Bahkan di saat kekuatan ajian dari keduanya beradu sampai terdengar mengelegar dan menakutkan. Dimana-mana terus berguncang seperti gempa besar.

Dan sampailah akhirnya Demula yang perkasa itu dapat dikalahkan oleh Hirusana. Ketika sang pemuda menaikkan level kesaktiannya, selanjutnya Demula harus mengakui kekalahannya. Dan sebelum pergi untuk mengobati lukanya, ia pun meminta tuannya untuk datang membalas dendam. Lalu karena Demula termasuk “anak kesayangannya”, maka si maharaja kegelapan itu segera datang. Diketahui namanya adalah Doreyana, sosok yang jauh lebih sakti dari Demula. Karena ketika ia baru saja muncul, dunia langsung menjadi gelap gulita. Beberapa menit kemudian menjadi terang karena banyak bola-bola api (sebesar bola golf) yang jatuh dari atas, dan ini banyak membunuh kedua belah pasukan tanpa pandang bulu. Begitu pun terdengar suara-suara yang mengerikan dan memekakkan telinga. Membuat orang-orang jadi putus asa dan ingin bunuh diri.

Hanya saja masih ada Hirusana yang segera mengambil sikap. Sang pemuda lalu menghentikan sihir dari maharaja kegelapan itu dengan melemparkan tombak sakti ke angkasa. Tak lama kemudian alam kembali normal meskipun sudah terjadi banyak kerusakan. Setelah itu, sebagai seorang kesatria Hiru pun langsung berdiri tepat dihadapan musuhnya, Doreyana. Dan terjadilah pertarungan yang lebih menakjubkan, sehingga membuat para Dewa-Dewi turun ke Bumi. Sekali lagi mereka ingin menyaksikan langsung bagaimana seorang Manusia mampu mengeluarkan kemampuan sejatinya. Sungguh mengagumkan.

Ya. Keduanya mengeluarkan kemampuan yang dahsyat dan memilih angkasa raya untuk dijadikan medan pertarungan. Keduanya sering mengubah-ubah wujudnya sesuka hati, dalam ukuran yang berbeda-beda dan kesaktian yang beragam. Dan ketika merasa cukup, mereka pun memilih Langit sebagai tempat pertarungannya. Beberapa lapis Langit sempat mereka datangi dengan kecepatan yang melebihi cahaya. Siapapun yang bisa menyaksikan pertarungan itu – termasuk mereka yang tinggal di Langit – sampai terkagum dibuatnya. Terlebih kepada sosok Hirusana yang hanyalah seorang Manusia yang ditakdirkan hidup di Bumi yang sangat kecil. Dan karena ia dipihak yang benar, maka sudah menjadi ketetapan-NYA bahwa Hiru bisa mengalahkan Doreyana. Peristiwa itu tidak terjadi di Langit, melainkan justru di Bumi dan bisa disaksikan oleh orang banyak.

Singkat cerita, pada akhirnya Hirusana harus menaikkan level kesaktianya sekali lagi. Dan ketika itu terjadi, penampilannya berubah drastis. Dari yang sebelumnya mengenakan baju zirah yang berkilauan, kini hanya terlihat seperti orang biasa, lengkap dengan model pakaian ala para Begawan (serba kain panjang berwarna putih). Meskipun begitu, hanya dengan sekali tunjuk saja ia bisa menumbangkan si maharaja kegelapan. Tak berselang waktu, kesaktian yang ada di dalam diri Doreyana pun ia ambil lalu dimusnahkan. Bahkan wujud kasarnya pun dihancurkan agar tidak lagi mudah berbuat kejahatan.

Tapi Doreyana bukanlah makhluk fana yang bisa mati dengan mudah. Hal itu langsung dijelaskan oleh sang pemuda pilihan, Hirusana. Katanya: “Walaupun dia (Doreyana) telah kehilangan wujud jasmaniahnya, yang ia pergunakan untuk menyesatkan dan melakukan kejahatan di Bumi, tapi rohnya tetap abadi. Meskipun tak lagi terlihat, namun seiring berjalannya waktu Doreyana akan mengumpulkan kekuatan dan akhirnya mencari para pelayan yang bisa membantunya. Untuk sekian lama dia akan berdiam diri, membisu, dan seolah-olah tak pernah ada. Namun ketika ia sudah merasa cukup kuat dan kesaktiannya telah pulih, si raja kegelapan itu akan kembali dan membuat perhitungan. Dalam wujud barunya dia akan mengacaukan lagi tatanan dunia, yang juga berpusat di kota suci Akhram atau di tempat lain. Dengan cara yang tersembunyi atau terang-terangan akan dia lakukan. Yang penting keinginannya bisa tercapai. Dan topeng segala kepalsuan akan terus dia kenakan demi mendapatkan pelayan dan para pengikut. Sehingga apabila dia menghendaki, maka lewat penampilan yang “bijak” serta menarik, sangguplah dia menipu banyak orang

Demikianlah apa yang telah dijelaskan oleh sang pemuda terpilih, Hirusana. Semuanya didengarkan dengan baik-baik oleh semua orang, khususnya pasukan di kubu Selatan. Meskipun itu bukanlah kabar yang baik, tetapi mereka bisa merasakan tenang karena mendapatkan penjelasan yang penting. Sebagai pengingat dan wasiat yang harus disampaikan turun temurun. Dan karena Hirusana bisa mengalahkan kesaktian dari si maharaja kegelapan, maka Raja Gazilor dan pasukannya harus mengaku kalah. Tapi sang raja justru masih bersikap angkuh dan ia tak mengindahkan hal itu. Bahkan tanpa berpikir panjang ia pun menyerang Hiru dengan kesaktian tertingginya. Hanya saja serangannya itu justru berbalik kepada dirinya sendiri. Dan ia harus terpental sejauh beberapa ratus meter sampai akhirnya tewas mengenaskan.

Lantas bagaimana dengan Raja Yoresan? Maka sesuai tradisi perang kala itu ia harus berhadapan langsung dengan Raja Sir el-Hamairin dalam sebuah bertarung bebas. Ada urusan yang harus mereka selesaikan – ini berkaitan dengan surat ajakan dan utusan yang dilukai wajahnya dulu. Dan singkat cerita, hanya dalam waktu beberapa menit Raja Yoresan dapat dikalahkan. Ia harus tewas setelah dadanya tertembus oleh ajian dari Raja Sir el-Hamairin. Sehingga dengan kejadian itu, maka tak bisa lagi dielak bahwa kubu pasukan Selatan-lah yang keluar sebagai pemenang. Hal ini akan menentukan bagaimana nasib dunia selanjutnya, khususnya yang ada di kota suci Akhram.

Dan setelah perang besar itu selesai, setelah beberapa minggu, maka satu persatu pasukan yang terlibat akhirnya pulang ke negerinya. Sementara kekaisaran Mirigal dibubarkan dan negeri-negeri yang sebelumnya dikuasai telah dibebaskan. Mereka pun mendirikan kerajaan leluhurnya lagi dan menata kembali peradaban di sana. Hal ini juga terjadi pada kerajaan Sogeya yang sebelumnya menguasai kota suci Akhram. Kerajaan ini dibubarkan dan digantikan dengan sistem pemerintahan yang baru. Sistem itu sangat bagus, dan kemudian banyak diadopsi oleh kerajaan-kerajaan yang ada di sepenjuru Bumi.

9. Menata peradaban
Pada masa itu, topografi di seluruh kawasan Jazirah Arabia sangat berbeda dengan sekarang. Di sana pun kondisinya masih menghijau oleh hutan belantara dan padang rumput yang sangat luas. Ada gunung-gunung yang menjulang tinggi, yang berapi maupun tidak, yang bersalju ataupun tidak. Ada banyak pula sungai besar kecil yang mengalir, begitu juga dengan sumber mata air dan telaga yang juga banyak di sana. Dan khusus di seputaran wilayah kota Akhram (kota Makkah sekarang), di sebelah tenggaranya ada sungai besar bernama Lonmas. Sungai ini mengalir terus ke arah barat lalu berkelok ke selatan dan akhirnya bermuara di sungai yang lebih besar lagi bernama Dunel. Satu sungai yang mengalir sangat panjang sampai akhirnya langsung bermuara ke Samudera Inggatar.

Catatan: Dari zaman ke zaman hanya Manusia yang tetap bertahan dalam hal bentuk dan rupanya – tapi ukurannya terus mengecil. Sedangkan Hewan dan Tumbuhan senantiasa berubah seiring zaman berganti. Semua jenis Hewan dan Tumbuhan yang hidup di zaman kisah ini terjadi sudah tidak ada lagi di masa sekarang. Yang ada kini adalah jenis dan spesies yang baru.

Ya. Pusat kota suci Akhram pada masa itu berada tidak begitu jauh dari sungai Lonmas, sekitar 12-15 kilometer saja. Karena itulah, penduduk di sana juga hidup sebagai nelayan dan penjelajah sungai dan lautan. Kapal-kapal besar dan tinggi sering berdatangan dari luar negeri ke dermaga kota Akhram untuk berdagang. Mereka (penduduk Akhram) juga membangun kapal-kapal yang sangat besar dan kuat, sulit dicari tandingannya, untuk berbagai keperluan. Hasil dari semua kegiatan pelayaran mereka itu membuat bangsa Sogeya menjadi semakin kaya raya dan bisa membangun gedung-gedung yang terlihat megah saat dipandang.

Catatan: Dalam bahasa penduduk Akhram, kapal kecil itu disebut Selah, sementara yang besar disebut Nolah, dan khusus yang berukuran paling besar disebut Norsah. Semuanya dibangun dengan bahan kayu terbaik, yang dipadukan dengan berbagai jenis logam agar semakin kuat. Selain itu, karena peradabannya sudah tinggi, mereka juga membuat semacam pesawat terbang tanpa suara yang disebut Swarus. Bentuk pesawat ini ada yang bulat pipih dan oval pipih. Di setiap sisinya telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang canggih, dan pesawat ini bisa melaju sampai dengan kecepatan 10 kali kecepatan suara. Bahkan jika dibutuhkan untuk menjelajah luar angkasa, maka pesawat super canggih ini akan melaju dengan kecepatan cahaya. Tidak pernah digunakan untuk berperang, karena lebih kepada urusan penelitian dan pembuktian akan kejayaan. Hanya ada tiga saja di seluruh negara Sogeya, dan sering dipakai oleh keluarga kerajaan dan para bangsawan tinggi untuk berwisata.

Nah, dermaga yang ada di sungai Lonmas itu, setelah perang besar usai lalu ditata kembali, bahkan dibangun ulang dan kondisinya lebih menakjubkan. Maklumlah yang membangunnya tidak hanya Manusia, tetapi juga bangsa Jin dan Peri. Semuanya atas permintaan dari Hirusana setelah mendapatkan petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Di sana juga dibangun menara-menara yang tinggi dari batu putih yang atapnya terbuat dari emas dan perak. Pada malam harinya, dari menara itu muncul sinar yang terang benderang, yang berasal dari batu-batu kristal. Selain untuk keperluan navigasi, cahaya dari menara itu juga untuk penerangan di dermaga dan sekitarnya.

Sementara itu, khusus di pusat kota suci Akhram justru tak ada apapun yang megah di sana. Apapun bangunan yang ada di sana lalu disingkirkan. Semuanya dibiarkan tetap alami kecuali beberapa gedung yang sengaja dibangun untuk keperluan istirahat (semacam resort). Apapun yang menjadi bentuk dan simbol kesesatan segera dihilangkan, bahkan yang mengisyaratkan keduniawian pun di tiadakan. Hal ini di lakukan sesuai dengan contoh dari para leluhur yang bijak di masa lalu. Tujuannya agar siapapun yang datang ke sana bisa merasakan tenang dan damai dalam arti yang sesungguhnya. Dan sejauh radius ±10 kilometer dari bangunan Ka’bah itu, maka tak ada rumah ataupun pasar di sana. Artinya tak ada hal-hal keduniawian di sana, begitu pun dengan siapapun yang datang kesana terlebih dulu harus sudah melepaskan keduniawian sebelum ia memasuki zona suci itu. Semua yang ada di sana dibiarkan tetap alami dengan perawatan yang baik. Barulah setelah di luar radius ±10 kilometer itu ada rumah-rumah penduduk, pasar, pusat pemerintahan, kantor-kantor, dan sebagainya.

Catatan: Sebenarnya ukuran yang tepat pada masa itu – mengenai daerah steril (sterile area) – bukan 10 kilometer, tetapi 1 kir. 1 kir = 10 tur, sementara 1 tur = 100 har. Demikianlah istilah Manusia pada masa itu untuk mengukur luas wilayah/kawasan. Di sini kami hanya menyesuaikan dengan kondisi standar ukuran di zaman kita sekarang. Sedangkan untuk Ka’bah, maka bangunan itu sudah ada sejak zaman sebelumnya. Hanya saja bahan bangunan, bentuk, dan ukurannya terus berubah-ubah sesuai dengan siapa yang berkuasa atau pengurus dari negeri itu.

Sedangkan sejak berhasil dibebaskan, kota suci Akhram itu langsung diganti namanya oleh Hirusana menjadi Malram atau yang berarti damai dan membebaskan. Semuanya hanya atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Karena itulah di sana tak ada lagi pajak dan kemaksiatan dalam bentuk apapun. Semuanya telah sesuai dengan hukum dan aturan Tuhan yang benar.

Selain itu, di kota suci Malram tidak boleh ada lagi raja atau ratu di sana. Yang ada hanyalah seorang Ursan (semacam walikota) yang bertugas memelihara kota suci. Ia dilantik setelah memenuhi persyaratan khusus. Dia pun harus mendapat restu dari para pemimpin semua golongan (Manusia, Peri, Jin, Cinturia, Karudasya, Hewan, dan Tumbuhan). Dan meskipun menjabat seumur hidup, tapi seorang Ursan itu tetap bisa diberhentikan kapanpun jika ia melanggar hukum dan aturan Tuhan. Ada dewan yang disebut Amarsun yang mengawasi kinerja dan tindak tanduk seorang Ursan. Mereka terdiri dari 9 orang bijak yang berasal dari ke tujuh golongan makhluk. Tiga di antaranya adalah Manusia. 

10. Akhir kisah
Sejak berhasil membebaskan kota suci Akhram dan membangun ulang peradaban di sana, Hirusana sempat kembali ke Amartulayas (penamaan Nusantara kala itu), ke desa Unora, tempat ibu dan adik-adiknya tinggal. Selama tiga tahun ia pun tinggal di sana, kembali menjadi petani dan penggembala Kisa (hewan yang bentuknya campuran antara domba dan yak). Ia pun sangat bahagia di sana meskipun tanpa jabatan, kekayaan dan popularitas. Tapi atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME) Hiru dan keluarganya itu harus menetap di kota suci Akhram, atau yang telah berganti nama menjadi Malram itu. Selama beberapa tahun mereka tinggal di sana, dan ketiga saudara Hiru sampai menikah dan membina keluarganya sendiri. Tinggallah Hiru dan ibunya saja di rumah.

Ya. Selama beberapa tahun kemudian Hiru dan ibunya masih tinggal di kota suci Malram. Ada banyak kegiatan yang mereka lakukan. Terutama Hiru yang terus menyebarkan kebaikan dengan memberikan bimbingan dan pelajaran tentang berbagai ilmu pengetahuan. Tidak hanya sekali ia harus keluar dari kota Malram dengan membawa pasukan untuk mendamaikan negeri-negeri yang berselisih, atau menumbangkan para penguasa yang zalim. Dan jika diminta, para raja/ratu yang pernah berjuang bersamanya dulu siap mengirimkan pasukannya, bahkan dirinya sendiri juga. Karena itulah, keadaan dunia pada akhirnya tenang dan damai. Bisa ditertibkan, dan kekuatan dari kegelapan bisa di minimalisir untuk waktu yang lama.

Sampai akhirnya, Hirusana merasa cukup dengan berbagai tugasnya dan ingin meninggalkan hiruk pikuk duniawi. Ia pun berdoa selama beberapa waktu, memohon kepada Tuhannya agar diberikan petunjuk. Dan setelah 3 bulan, maka doa Hirusana itu dikabulkan. Atas izin dari Hyang Aruta (Tuhan YME), dalam waktu singkat di tengah Samudera Inggatar muncul sebuah pulau yang begitu indah dan misterius. Dengan ajaib, pulau itu diliputi oleh segala yang indah dan di kuduskan lantaran hanya bisa ditempati oleh mereka yang berhati bersih.

Awalnya pulau itu bisa disaksikan langsung dan siapapun yang beruntung bisa datang kesana – namun itu tidak mudah, karena ada kekuatan tidak biasa yang melindungi pulau itu. Tapi selang beberapa tahun kemudian, justru tak ada lagi yang bisa kesana tanpa menemukan jalan lurus yang dirahasiakan. Tak ada yang bisa selain bagi yang diizinkan untuk melihatnya. Jalan itu sungguh unik, laksana jembatan kokoh yang tak kasatmata dan mengambang di atas udara yang tipis dan sunyi. Dari Hordet ia akan melintasi Atsugar yang takkan dapat dicapai oleh makhluk fana tanpa bantuan. Sampai akhirnya setelah melewati beberapa rintangan, barulah seseorang bisa sampai ke Hal-Ibran, pulau yang misterius itu.

Lalu, setelah semua urusannya selesai di kota suci Akhram, atau yang telah berganti nama menjadi Malram itu, Hirusana pergi mengajak ibunya ke pulau Hal-Ibran untuk menetap di sana. Hanya dalam urusan tertentu saja ia akan keluar dari pulau tersebut dan berinteraksi dengan penduduk Bumi. Di pulau misterius itu Hirusana tidak hidup berdua saja, karena ada banyak juga yang lain tinggal di sana, dari berbagai golongan makhluk. Hanya saja mereka itu bukan orang sembarangan, lantaran harus terpilih untuk bisa tinggal di sana.

Selain itu, tidak jarang pula para Malaikat, Nabi, Dewa-Dewi dan Begawan yang masyhur datang ke pulau itu. Mereka pun kadang tinggal di sana selama beberapa waktu, karena suasananya memang begitu indah dan aura yang terpancar darinya sangat menenangkan jiwa. Di sana, para tamu agung itu akan hidup seperti halnya Manusia dan senang berbagi ilmu. Dalam kondisi tertentu mereka juga akan berdiskusi dengan penduduk tetap pulau itu untuk saling melengkapi. Tak ada yang seperti itu di sepenjuru Bumi.

Namun sebelum pergi dari kota Malram, Hirusana sempat menyampaikan pesan kepada semua yang hadir di dekat Ka’bah saat itu. Tepat di sore hari yang cerah, dengan menggunakan bahasa Niwasa, sang pemuda pun berkata:

Neyadatra hibanutasya manuratam hinu alsadaniwa. Yisyarani kahimaro dunyanah ersansadaka nasinura biyan Ilahiyahya namuramtah. Turiyahatra asmayanarin ulanhasim yenala Sri Maharaja Altanurriyahasya Balsarunggabhumi neranitra kasbhirantah. Maswatanal oraghasifa haj’anuwat yarun 132-785-463-90, mosheladaya ahriyadasya. Solabayah hamuswa tavarudam elya nidan massora Insan, Jin, Fri, Sentur, Kradusy, Nagi, Uwan, Renu, Adesta, Bhat, Div, Niswara, Malaikah, Hiir, Nura, Nurrataya, Arnu, Birmanu, Ainur, Wiltra, Walluha, Riltan, Maltasi, Himasya, Rihasa, Mighal, Syilha, Kalsun, Zenara, Hismal en Rastu. Dalmuwan nigarahasya hikanayah ashuratunam, kolsihayan denta naye ksatriyan

Demikianlah pesan dan wasiat yang disampaikan oleh Hirusana dalam bahasa yang mulai dipakai di kota suci Malram (bahasa Niwasa ini berasal dari negeri asal usul Hirusana dan kemudian menjadi salah satu bahasa internasional). Kalimat itu didengarkan dengan takjub dan kemudian disampaikan turun temurun dengan cara yang terbuka ataupun tersembunyi. Menjadi pedoman hidup dan acuan hari depan.

Selanjutnya, sang pahlawan besar itu pun pergi mengasingkan diri. Semua orang lalu mengiringinya dengan tangis kesedihan. Dan setelah 7 tahun sejak pertama kali Hirusana menginjakkan kakinya di pulau Hal-Ibran itu, ia bertemu dengan jodohnya. Wanita cantik itu bernama Miriona. Dia adalah seorang kesatriawati yang berhati lembut dan berjiwa bersih. Tingkat keilmuannya juga sangat tinggi. Sungguh pasangan yang serasi. Dan dari pernikahan mereka berdua, lahirlah tiga orang anak yang rupawan. Ketiganya juga mewarisi kebaikan dan keunggulan dari kedua orangtuanya. Di kemudian hari mereka pun menjadi pemimpin besar. Itulah tugas yang harus mereka jalani, sampai akhirnya kembali ke pulau Hal-Ibran untuk melepaskan keduniawian.

11. Penutup
Wahai saudaraku. Hendaknya engkau terus bersiaga dengan sikap yang eling lan waspodo, karena akhir dari dunia yang kita kenal sekarang ini sudah dekat. Tanda-tandanya kian terlihat di alam nyata dan goib. Apa yang diceritakan di atas bisa saja terjadi lagi di zaman ini, karena sejarah hanya akan berulang lagi dan lagi. Sementara pada akhirnya hanya kebenaranlah yang menang, keadilanlah yang akan ditegakkan. Dan siapapun yang hidup dalam penyimpangan harus menerima hukuman yang telah sekian lama diabaikan. Sungguh kerugian yang besar.

Dan sadarilah bahwa peradaban kita kini, jika dibandingkan dengan masa lalu hanyalah ibarat gema suara yang sayup-sayup. Kehidupan kita sekarang ini bukanlah yang terbaik, karena para leluhur kita dulu telah sampai pada puncaknya kejayaan Manusia, jauh melebihi kita sekarang. Kecuali iman dan taqwa, maka dalam hal apapun (ilmiah dan batiniah) kita tak sebanding dengan mereka dulu. Tapi bagi siapapun yang berpikiran sempit dan tak paham akan sejarah asli dari para leluhurnya, justru merasa sekaranglah kehidupan yang agung. Sekarang inilah yang paling hebat, padahal sebenarnya cuma sepersepuluhnya saja dari kejayaan masa lalu.

Sedangkan nanti, setelah zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) berakhir, akan datang zaman yang baru yang disebut Hasmurata-Ra. Suatu zaman yang telah dijanjikan penuh dengan keindahan dan kemuliaan. Bersiaplah! Karena sungguh beruntung bagi siapapun yang terpilih untuk hidup di zaman itu. Semoga kita termasuk di antaranya. Rahayu.. 🙏

Jambi, 07 April 2019
Harunata-Ra

Catatan:
1. Seperti tulisan sebelumnya, silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Kami tidak akan memaksa atau merasa kecewa. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Bacalah dengan tenang dan terurut kisah ini. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahaminya. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat banyak perbedaannya.
3. Ada banyak hal yang tak bisa disampaikan disini karena memang harus dirahasiakan dulu, belum waktunya untuk disampaikan sekarang. Maaf.

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

30 tanggapan untuk “Akhram : Kota Suci Yang Dibebaskan

    1. Nggih sami2lah mbak Asyifa.. Waah mboten opo2 kok.. nuwun juga karena masih mau berkunjung, moga ttp bermanfaat.. 🙂

      1. Alhamdulillahi rabbil alamiin…bermanfaat sanget mas …..dn mugi2 kita semua hyang aruta selamatkn dr huru hara dr akhir dunia ini enggih mas …aamiin

      2. Syukurlah kalo gitu mbak.. 😊
        Aamiin.. Iya, semoga kita termasuk yg terpilih dan diselamatkan nanti.. Semakin dekat waktunya..

    1. Terima kasih mas/mbak MR atas kunjungannya, moga bermanfaat.. 😊🙏

      Betul mas, kita skr sedang mengulangi kisah masa silam, dan sayangnya keburukannya pun byk diikuti.. Cakra Manggilingan sedang diputar ulang.. Akan datang revolusi terbesar di seluruh dunia..

    1. Hmm.. Kalo ada sih tentunya ttp ada mbak, cuma persentasenya ya sedikit dan makin sedikit aja.. Moga kita ttp sadar diri sampai hari “H” itu datang.. 🙂

      1. Iya mbak emg ironis.. Tapi mau gimana lagi, semuanya hrs terjadi sebab perilaku manusia nya sendiri.. Tinggal bagaimana nanti di wkt penghakiman..

  1. Pengen nya singgah ke Hal-Ibran, keren x pasti ya disana, ketenangan dan kedamianya itu lo,,

    Trus mas oedi tanda2 apa yg sudah sangat nyata terjadi di alam nyata ini sebagai pertanda zaman ini akan berakhir yg bisa mas oedi bagi ke kita2 ya mas,?

    1. Siapapun jelas pengen bisa kesana mas Delphi, termasuk saya ini… Mengingat kondisi dunia yg makin edan aja skr.. Cuma ya itu dia, ketat bgt seleksinya.. 😊

      Hmm.. Di antara tanda2 yg gampang di ketahui yaitu:
      1. Arab Saudi yg sering hujan deras, bahkan turun salju dan mulai menghijau lagi. Kini pun sudah bermunculan sumber2 air disana, bahkan sungai2 pun mulai mengalir lagi.
      2. Danau Tiberias di Palestina-Israel yg kian mengering.
      3. Mata air Zughar di Palestina yg kering.
      4. Kebun kurma di Baisan (di Palestina, dekat perbatasan Yordania) yg tak lagi berbuah.
      5. Sering terjadi gerhana, bahkan ada gerhana bulan dan matahari dalam setahun.
      6. Sering terjadi gempa dan tsunami.
      7. Gunung-gunung meletus.
      8. Musim yg tidak lagi tepat pada waktunya, alias salah musim.
      9. Waktu yg terasa semakin cepat berlalu.
      10. Khusus di waktu magrib terasa sumug (gerah, panas, berkeringat), entah dalam kondisi cerah ataupun hujan.
      11. Perang yg terjadi dimana-mana. Begitu pula banyak migrasi kemana-mana.
      12. Maksiat kian merajalela, dusta dan fitnah menyebar kemana-mana, sementara halal dan haram sudah tidak lagi di pedulikan.
      13. Pengerusakan alam yg kian parah.
      14. Dll

  2. Baru yw point no 10 juga tanda2 nya mas, tp keliayanya makin kesini memang hari makin gerah walaupun keadaan tidak ada matahari,
    Klau tanda2 khusus mas?

    1. Ya point ke 10 itu emg termasuk mas, bisa dibilang yg khusus juga malah.. Tapi yg pas di wkt magrib loh..

      Kalo ttg tanda2 yg khusus, biarlah ttp jadi rahasia aja mas.. Saya pun gak bisa dg gamblang sampaikan disini.. Ada protap.. Maaf. Tapi kalo masnya cermat, sebenernya sih udah bbrp yg pernah saya sampaikan dlm bbrp artikel lainnya.. Silahkan di baca.. 😊

  3. Ada kabar bahwa awal Ramadhan ini ada meteor muncul di langit?kalo iya ada pertanda suatu peristiwa besar yg terjadi

    1. Terima kasih mas ARYA-Ra karena sudah mau berkunjung, moga bermanfaat.. 😊🙏

      Hmm ttg meteor itu saya blm tau mas, blm update berita.. Dan kalo boleh tau peristiwa besar apakah itu mas?

    1. Kabarku baik2 aja kok mbak Kuntidewi.. Mbaknya sendiri gimana?

      Terima kasih karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 😊🙏

  4. “Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku sehingga aku bisa melihat timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai apa yang telah dinampakkan untukku. Aku diberi dua harta simpanan: Merah dan putih. Dan sesungguhnya aku meminta Rabbku untuk ummatku agar Dia tidak membinasakan mereka dengan kekeringan menyeluruh, agar Dia tidak memberi kuasa musuh untuk menguasai mereka selain diri mereka sendiri sehingga menyerang perkumpulan mereka. Dan sesungguhnya Rabbku berfirman, “Hai Muhammad, sesungguhnya Aku bila menentukan takdir tidak bisa dirubah, sesungguhnya Aku memberikan untuk umatmu agar mereka tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh dan Aku tidak akan memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang perkumpulan mereka, walaupun musuh mengepung mereka dari segala penjurunya, hingga akhirnya sebagian dari mereka (umatmu) membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain.” (HR. Muslim no. 2889).
    TANDA-TANDANYA SUDAH MAKIN JELAS….HANYA UNTUK ORANG YANG MAU MERENUNGI HADIST INI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s