Diposkan pada Adventure, Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Kaen ast Amanta : Cinta dan Perjuangan

Wahai saudaraku. Sejarah peradaban Manusia senantiasa penuh dengan warna-warni yang unik. Tak sedikit yang juga dipenuhi dengan berbagai konflik dan intrik yang rumit. Dan pada dasarnya semua itu disebabkan oleh perilaku buruk dari Manusia-nya sendiri. Berawal dari Manusia dan kembali lagi kepada Manusia-nya juga. Itulah ketetapan yang tak bisa dihindari.

Sungguh Manusia itu pusat dari segala kehidupan di Bumi. Baik dan buruknya keadaan seisi Bumi tergantung dari sikap pribadi Manusia itu sendiri. Tidak perlu banyak orang yang menjadi pemicunya, karena bahkan cukup satu atau dua orang saja maka sudah bisa menentukan damai atau kekacauan di sepenjuru dunia. Dan hal yang semacam ini pernah terjadi berulang kali, baik di Barat maupun Timur, baik yang di daratan ataupun pesisir dan pegunungan.

Nah, dari sekian banyak kisah masa lalu, maka ada satu yang dapat kita ambil sebagai pelajaran. Mari ikuti ceritanya berikut ini:

1. Awal kisah
Pada zaman dahulu, tepatnya di periode zaman ketiga (Dirganta-Ra), berdirilah sebuah kerajaan besar yang bernama Kaliyata. Negerinya terletak di kaki gunung Agala yang bersalju. Di sana kehidupan rakyatnya makmur lantaran tanahnya subur dan kekayaan alamnya berlimpah. Dari waktu ke waktu tak ada masalah pelik yang terjadi, semuanya berjalan aman dan sebagaimana mestinya.

Namun pada suatu ketika, raja ke 12 Kaliyata yang bernama Megastarum melakukan kesalahan besar dan harus meninggalkan istana selama 39 bulan. Ia telah menjatuhkan hukuman berat kepada orang yang sebenarnya tak bersalah. Karena itulah sang raja pun harus melakukan penebusan dosa dengan mengembara jauh dari istana tanpa dikenali oleh siapapun jika dirinya itu adalah seorang raja. Tampuk pemerintahan lalu dititipkan kepada perdana menteri kepercayaannya. Dan tanpa menunda waktu lagi sang raja pun pergi meninggalkan istana dengan diiringi tangis sedih oleh para kerabatnya.

Setelah berjalan sekian lama, awalnya sang raja tak tahu harus pergi kemana. Tapi setelah berjalan selama 3 hari, ia memutuskan untuk duduk ber-semedhi di bawah pohon besar agar memperoleh petunjuk. Dan setelah tiga hari berlalu akhirnya sang raja mendapat wangsit untuk pergi ke arah selatan, ke sebuah negeri kecil yang berada di seberang sungai Elkan. Negeri tersebut bernama Asyta, tempat dimana banyak orang bijak yang tinggal dan mengajarkan ilmunya. Setelah lebih dari 35 hari berjalan, akhirnya sang raja tiba di perbatasan negeri tersebut. Di tempat yang berada di balik bukit batu merah itulah ia bisa melihat sebuah pemandangan yang sangat indah dan asri. Banyak sawah yang berundak-undak dan perkebunan buah yang bermacam-macam juga ada disana. Sungguh pemandangan yang sangat menyegarkan mata.

Singkat cerita, selama beberapa waktu tinggal di negeri Asyta tersebut, Raja Megastarum mendapatkan banyak hikmah kehidupan. Dan tepat 1,5 tahun kemudian sang raja pun menikah dengan seorang gadis yang bernama Heldama. Ia adalah putri dari seorang Begawan yang bernama Kosila. Dari pernikahan tersebut sang raja lalu mendapatkan seorang putera yang ia beri nama Kaen Urama. Lengkaplah sudah kebahagiaan dari sang raja karena ia memang belum punya anak dari istri sebelumnya. Tapi tanpa disadari waktu pengasingannya akan segera berakhir. Dan sebagai seorang raja ia memiliki kewajiban untuk segera kembali ke negerinya di Kaliyata. Karena sebuah negara akan selalu membutuhkan pemimpin yang sebenarnya. Tanpa hal itu akan mengancam kestabilan dan kedamaian di seluruh wilayah kerajaan.

Maka tibalah saatnya bagi Raja Megastarum harus berpamitan kepada istri dan mertuanya. Ia berjanji bahwa suatu saat nanti akan menjemput keluarganya itu untuk bisa tinggal bersamanya di istana. Hanya saja apa yang terjadi tak sesuai dengan rencana. Setelah tiga tahun berlalu sang prabu justru wafat secara mendadak, tanpa sakit sebelumnya. Dan karena tak meninggalkan seorang pewaris yang sah, tahta kerajaan lalu diamanahkan kepada adiknya yang bernama Hedaktarum. Dibawah kepemimpinannya, kerajaan tetap dalam kondisi aman dan makmur.

Lalu bagaimana dengan nasib dari Heldama dan anaknya, Kaen? Ternyata mereka tak pernah sampai ke istana Kaliyata. Keduanya pun tak pernah dikenali sebagai keluarga yang sah dari Raja Megastarum. Hanya saja sang raja telah memberikan sebuah cincin kerajaan kepada istrinya, Heldama, dengan pesan bahwa: “Cincin ini adalah bukti bahwa kalian berdua adalah keluargaku yang sah. Bersama dengan selembar surat wasiat ini (yang berstempelkan raja Kaliyata), cincin tersebut ku berikan kepadamu Heldama. Suatu saat nanti dan jika dibutuhkan, maka keduanya itu akan membantu anak kita untuk mendapatkan haknya. Jagalah dengan baik, dan serahkan kepada Kaen jika memang sudah waktunya.” Begitulah bunyi pesan dari sang prabu.

Ya. Demikianlah jalan hidup yang harus dilalui oleh Heldama dan anaknya; Kaen Urama. Mereka harus kehilangan orang yang sangat dicintai, dan merelakan dirinya untuk tidak hidup di istana sebagai bangsawan tinggi Kaliyata. Bahkan pada umur yang ke 5 tahun, Kaen sudah harus berpisah pula dengan ibunya. Ia perlu menuntut ilmu yang cukup dengan pergi bersama Nabi Syis AS ke berbagai tempat di sepenjuru dunia. Selama 20 tahun lebih ia terus bersama dengan sang Nabi. Banyak pelajaran hidup yang di dapatkan dan itu sebuah anugerah yang tak terkira. Hanya saja selama itu tak banyak ilmu bela diri (kanuragan dan kadigdayan) yang diajarkan oleh sang Nabi, lebih kepada ilmu ketatanegaraan, kesusastraan, dan ilmu-ilmu yang bersifat ilmiah saja. Dan tentunya sang pemuda mendapatkan pelajaran tentang keimanan, kesabaran dan ketabahan.

Catatan: Pada masa itu waktu 20 tahun adalah masa yang teramat singkat dalam kehidupan Manusia. Semuanya bisa terjadi karena di zaman itu umat Manusia masih berumur sangat panjang. Rata-rata mereka bisa hidup sampai di usia ke 500-700 tahun, bahkan tidak sedikit  yang lebih dari 1.000 tahun.

2. Petunjuk Ilahi
Setelah bersama selama lebih dari 20 tahun, maka tibalah saatnya bagi Kaen untuk berpisah dengan gurunya; Nabi Syis AS. Pesan terakhir dari sang Nabi agar Kaen tetap dalam kesabaran diri dan tak berputus asa dari rahmat Tuhan. Dan beliau pun bersabda: “Pergilah kemana cinta memanggilmu, tetapi waspadalah! karena ujiannya akan terasa berat dan menyiksa. Kau harus tekun dan sabar diri. Jika tidak, maka nasib buruk dan penyesalan besar akan terus kau rasakan

Kisah pun berlanjut. Kaen memulai hidup barunya dengan kembali ke kampung halamannya di Asyta untuk menjumpai ibu dan kakeknya. Selama beberapa waktu ia tetap berada di sana, sampai akhirnya memutuskan untuk kembali mengembara demi mengamalkan ilmu yang telah didapatkan dari sang Nabi. Pada saat itu ia tidak langsung menuju ke kerajaan Kaliyata, tempat asal-usul dari ayahnya; Raja Megastarum. Meskipun ia sudah tahu bahwa dirinya adalah pewaris yang sah dari kerajaan itu, namun Kaen tidak tertarik untuk menuntutnya. Ia lebih memilih berjalan ke arah barat menuju ke kota suci yang menjadi pusatnya dunia.

Ya. Kota yang diberi nama Hilmatiram itu adalah tempat dimana bapak dari seluruh umat Manusia, Ayahanda Adam AS, di turunkan ke Bumi. Tempat yang sangat istimewa, lengkap dengan warna-warni kehidupannya di setiap zaman. Dari sana maka menyebarlah peradaban Manusia ke seluruh dunia. Dan menurut gurunya, suatu ketika Kaen harus datang kesana sebab ada hal yang perlu ia kerjakan. Masalah kapan waktunya, biarlah takdir Tuhan yang akan menentukannya. Dirinya hanya perlu bersabar dalam mengikuti garis hidup yang telah DIA tentukan.

Maka dimulailah kisah yang baru dalam hidup seorang Kaen Urama. Ia berjalan mengembara sejauh ribuan kilometer. Kadang melalui jalan dan jalur resmi yang ada, tapi lebih banyaknya lagi yang tidak. Dengan bebas Kaen bisa memilih apa yang ia inginkan, kemanakah ia akan pergi, terlebih tak ada batasan waktu yang perlu ia sesuaikan. Dan sebelum tiba di kota Hilmatiram, banyak negeri yang sempat ia singgahi, banyak pula tantangan yang harus dihadapi. Semuanya menambah warna-warni kehidupan sang pemuda. Ia semakin memahami tentang arti hidup ini yang sebenarnya.

Sementara itu, di tempat lain ada seorang gadis yang bernama Amanta sedang asyik duduk merenung di tepi jurang bukit yang tinggi. Ia adalah anak yang berbakat dan memiliki kejernihan hati. Terhadap ilmu pengetahuan, ia merasa tak pernah bisa kenyang. Karena itulah sejak di usia kanak-kanak, sang pemudi sudah memiliki kebijaksanaan melebihi usianya. Dan ia terus menambah wawasannya dengan banyak berguru dan mengembara.

Lalu, di hari yang lain ketika Amanta sedang khusyuk ber-semedhi di tepi sungai yang jernih, ia mendapatkan petunjuk untuk pergi ke kota Hilmatiram. Sebuah kota yang berada di sebelah barat dan terkenal dengan kesuciannya. Apapun halangannya ia harus sampai kesana. Lalu dijelaskan pula bahwa suatu saat nanti sang pemudi akan menemukan permata yang terindah, tak ada duanya. Jika itu benar terjadi, maka kebahagiaan yang luar biasa akan ia dapatkan.

Demikianlah kedua teruna itu sama-sama menuju ke kota Hilmatiram. Hanya saja hal itu tidaklah mudah, karena pada masa itu kondisi dunia sedang tidak aman dan stabil. Banyak masalah dimana-mana, dan pertikaian pun sering terjadi di antara bangsa-bangsa yang ada. Tidak hanya sesama Manusia, karena pada masa itu bangsa Peri, Cinturia dan Karudasya masih tinggal di muka Bumi. Bahkan ada pula bangsa Jin yang hidup di alam nyata dunia ini. Mereka terdiri dari dua golongan yang berbeda, yang bersifat baik dan tentunya yang jahat. Dan sama dengan bangsa yang lain, bangsa Jin ini juga tetap butuh sandang, pangan dan papan yang tak jauh berbeda dengan umat Manusia. Mereka sangat terikat dengan hukum alam di Bumi, sama dengan Manusia. Karena itulah mereka juga sangat berperan dalam kebaikan dan keburukan yang melanda di seluruh Bumi pada masa itu.

3. Menuntut ilmu baru
Selama beberapa tahun Kaen terus mengembara untuk sampai ke kota Hilmatiram. Dari Arudala (penamaan kawasan Nusantara kala itu), maka untuk sampai di kota suci itu ada banyak negeri yang harus dilewati. Karena itulah, sang pemuda tak bisa langsung ke kota suci itu. Selama perjalanan, maka ada banyak persoalan dan tantangan yang harus dihadapi. Maklumlah pada masa itu banyak konflik internal dan eksternal yang terjadi di beberapa kerajaan. Dalam hal ini Kaen telah berulang kali terpaksa ikut terlibat dan harus membantu memecahkan masalah yang ada. Dengan bekal ilmu pengetahuan dari sang Nabi, satu persatu urusan dapat di selesaikan. Sang pemuda lalu menjadi idola dan pahlawan bagi penduduk.

Tapi pada saat Kaen berada di negeri Ghaluhar (di sekitar bagian utara daratan China, dekat Mongolia sekarang), ia tak mendapatkan sambutan yang bersahabat. Lantaran penampilan fisik dan pakaiannya yang sangat berbeda saja ia sudah dicurigai. Bahkan pernah berulang kali Kaen sampai dicaci maki, dituduh penjahat dan hendak disakiti. Tapi dengan kesabaran yang tinggi sang pemuda tak pernah membalas. Ia hanya tersenyum dan tetap berusaha untuk bisa diterima di negeri itu.

Catatan: Pada masa itu seluruh kawasan Asia dan Nusantara masih menyatu dengan Australia, Oseania, Melanesia, dan Polinesia. Semuanya masih membentuk satu daratan yang sangat luas, dengan iklim yang beragam. Dan khusus untuk di wilayah seputaran Asia Timur (China, Korea, Jepang, dan Mongolia) saat itu beriklim tropis, sama dengan di kawasan Asia Tenggara kini. Benua Afrika jauh lebih luas dari sekarang, dan pulau Madagaskar masih termasuk ke dalam bagiannya. Selain itu, Samudera Atlantik masih belum ada karena disana masih berupa daratan yang sangat luas dan menjadi penghubung antara benua Eropa,  Afrika, dan Amerika. Begitu pula dengan wilayah Eropa Timur pada masa itu masih bersatu dengan Amerika Utara. Bahkan masih ada satu daratan yang sangat luas – lebih luas dari Australia – yang berada di tengah Samudera Pasifik. Dan banyak pula Lautan seperti Laut Arabia, Laut Merah, Laut Mediterania, Laut Hitam, dan Laut Caspia, serta Teluk Persia, Selat Hormuz, Teluk Oman, Teluk Aden, dan Teluk Benggala yang juga belum ada pada masa itu karena di sana masih berupa daratan yang sangat luas. Banyak hutan, lembah, padang rumput dan gunung-gunung di sana. Termasuklah kerajaan besar kecil pun ada di sana dengan beragam jenis tradisi dan kebudayaannya.

Namun semua itu terasa sia-sia belaka. Penduduk Ghaluhar tak pernah bisa menerima Kaen. Sebaik apapun sikap yang ditunjukkan oleh sang pemuda, bahkan sampai membantu mereka untuk keluar dari masalah kelaparan dan perang, selalu dikira pamrih atau berpura-pura. Sampai akhirnya hal itu membuat Kaen tak tahan lagi. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan penduduk negeri yang tak bersahabat itu.

Demikianlah hal yang seperti itu sempat terjadi berulang kali. Kaen harus merasakan hinaan dan penolakan kasar setelah bersusah payah membantu. Dan anehnya seperti memang telah diatur, karena secara berurutan nasib yang serupa harus ia alami lagi di setiap negeri yang di singgahi berikutnya. Hal ini lalu membuat Kaen merasa sedih dan bingung.

Oleh karenanya, di masa-masa yang sulit dalam hidupnya itu, Kaen memutuskan untuk pergi mengembara jauh dari pusat-pusat kota demi menghibur diri. Kemana tujuannya ia tak pernah tahu, yang penting terus berjalan dan mengikuti kehendak takdir yang telah ditentukan bagi dirinya. Banyak hutan dan lembah yang ia jelajahi. Bukit dan gunung pun ia daki, sementara sungai besar kecil sering ia seberangi untuk mencari sesuatu yang belum pernah ditemukannya selama ini. Cukup lama ia melakukan hal itu.

Dan suatu ketika, tanpa dikira Kaen merasakan “sesuatu” yang aneh dan unik. Karena itulah di sebuah lembah yang menghijau ia pun ber-semedhi (meditasi) untuk mendapatkan petunjuk. Selama 15 hari ia terus duduk bersila dengan sikap yang memejamkan mata. Di pagi hari berikutnya, ketika ia membuka matanya – karena terdengar perintah untuk membuka mata – Kaen melihat sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Di depannya kini bukan lagi lembah yang menghijau seperti waktu sebelumnya, namun terlihat sebuah negeri yang tidak biasa. Dengan bekal ilmu dari gurunya dulu, ia bisa merasakan aura mistis yang sangat besar di tempat itu. Di sana bukanlah tempat yang angker, tetapi justru sangat indah dan tak ada yang seperti itu di sepenjuru Bumi ini. Banyak yang bertentangan dengan hukum alam pada umumnya. Sungguh luar biasa.

Catatan: Negeri misterius itu masih tetap berada di muka Bumi ini – bukan di Dimensi yang lain – namun memiliki ekosistem tersendiri dan periode waktu yang berbeda. Ada dinding tak kasat mata (goib) yang membatasinya dengan seluruh wilayah di Bumi ini sehingga tak bisa terlihat oleh mata biasa. Hanya orang tertentu saja yang mendapatkan kesempatan untuk bisa melihat atau sampai kesana. Tak bisa ditemukan jika bukan haknya. Dan khusus untuk Kaen, maka dari tempat misterius itu ia juga berlatih sampai ke beberapa Dimensi yang lain. Itu semua karena apa yang harus ia kuasai tidaklah mudah dan sungguh luar biasa. Tidak cukup jika hanya di tempat itu saja.

Dan hal yang istimewa kembali ia dapatkan. Setelah tiga hari menjelajah di negeri misterius itu, Kaen bertemu lagi dengan gurunya dulu, Nabi Syis AS. Kepadanya sang pemuda banyak menimba ilmu yang baru dan terus belajar untuk semakin memperbaiki diri. Dan pada suatu ketika ia bertanya kepada sang Nabi. Katanya: “Wahai guru, jelaskan kepadaku tentang arti cinta yang sesungguhnya? Mengapa ia begitu hebatnya, hingga tak ada yang kuasa menghindarinya?

Dijawab oleh sang guru dengan berkata: “Cinta itu adalah cinta. Dan hanya bisa dipahami oleh cinta yang sejati

Lantas bagaimana pula cinta yang sejati itu? Jelaskanlah kepadaku wahai guru yang bijak” Tanya Kaen.

Jika engkau bertanya tentang arti cinta yang sejati, itu sangatlah luas maknanya. Hanya sebagian saja yang bisa dijelaskan. Dan dari yang sedikit itu, maka akan bisa lebih dipahami salah satunya dengan cara membangkitkan Energi Ilahi yang ada di dalam dirimu” Jawab sang Nabi.

Mendengar jawaban itu, Kaen pun langsung penasaran. Ia segera meminta kepada sang Nabi dengan berkata: “Sudilah kiranya guru menjelaskan tentang Energi Ilahi itu? Apakah bisa dikuasai oleh seseorang?

Sang Nabi pun berkata: “Wahai ananda. Energi Ilahi itu adalah samudera yang sangat luas di dalam dirimu, yang bisa mengamuk atau menenangkan tanpa ada yang mampu menghalanginya. Kemampuan ini akan mengumpulkan “sungai-sungai yang mengalir tenang dari Langit” dan memberikan kehidupan yang istimewa di Bumi.

Tapi berbeda dengan energi yang ada sejak saat kita dilahirkan, atau energi alam pada umumnya, maka Energi Ilahi ini harus dirasakan perlahan setelah waktu yang lama. Tuhan sudah memberikannya di dalam diri setiap insan, tapi ia harus memiliki hati yang tenang dan pikiran yang jernih untuk bisa membangkitkannya.

Dan untuk bisa mewujudkan itu semua, maka siapapun harus bisa memahami setidaknya ke 75 jenis energi yang ada. Selain itu, ke 75 macam energi itu harus bisa dibangkitkan lalu disatukan di dalam diri seseorang satu persatu. Siapapun baru akan memahami tentang arti cinta yang sejati itu hanya ketika ia sudah berhasil membangkitkan ke 75 jenis energi tersebut. Tapi hanya dengan cinta yang sejati pula, maka semuanya itu baru bisa dibangkitkan.

Sehingga ketika seseorang telah mendalami ke 75 macam energi itu, dengan sendirinya ia akan memahami apa itu Energi Cinta yang sejati, kemudian bisa memadukannya dengan benar di dalam dirinya sendiri. Dan jika hal ini sampai berhasil di lakukan, maka Energi Ilahi yang menjadi tujuan utama bisa didapatkan. Ia akan muncul dan memberikan keuntungan luar biasa bagi yang bersangkutan. Apakah engkau ingin mempelajarinya?

Dijawab oleh Kaen dengan berkata: “Atas izin Tuhan dan perkenan dari sang guru, ananda siap berusaha. Ajarilah diri ini, sesulit apapun itu, agar bisa memahaminya

Catatan: Nama-nama dan detil informasi dari ke 75 jenis energi itu tak bisa kami sampaikan di sini, ada protap yang harus dipatuhi. Maaf.

Setelah mendengar jawaban itu sang Nabi hanya tersenyum. Selang dua hari kemudian dimulailah latihan yang lain dari sebelumnya. Kaen terus dicerca dengan berbagai pertanyaan aneh dari sang Nabi demi membangkitkan daya nalar dan logikanya. Ia juga sering diberikan berbagai tantangan yang sulit untuk mengasah daya kreativitasnya. Tak boleh berhenti atau istirahat sampai setiap ujian dari gurunya itu bisa diselesaikan dengan benar. Dan yang seperti ini berlangsung selama 15 tahun lebih. Sampai akhirnya berlanjut ke tingkat pelajaran yang lainnya. Demikianlah seterusnya, hingga menurut sang guru semua latihannya cukup dan pelajarannya pun telah usai.

Catatan: Sebenarnya mudah bagi Nabi Syis AS untuk menurunkan ilmu kepada Kaen, dalam hitungan detik malah. Hanya saja itu tidak di lakukan karena memang sebaiknya begitu. Seseorang harus berusaha dengan sungguh-sungguh demi kesempuranaan lahir batinnya. Tidak baik jika mendapatkan sesuatu itu dengan jalan yang instan. Dan khusus tempat dimana ia berlatih dengan sang Nabi, maka waktu di sana sangat berbeda dengan di muka Bumi (alam nyatanya). Satu hari di Bumi akan sama dengan 30 tahun di sana.

Lalu, suatu ketika pada waktu sedang berbincang-bincang dengan gurunya, Kaen pun berkata: “Terlalu banyak hal luar biasa di dunia ini yang layak dilihat dengan mata sendiri. Ananda takut tak bisa melihat semuanya dalam seluruh masa hidup yang singkat ini. Beberapa tahun lalu ananda sudah mengembara dan akhirnya sampai ke negeri tersembunyi ini secara tak sengaja. Sejak saat itu ananda baru menyadari tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Wahai guru, tapi apakah tujuan hidup dari setiap insan di dunia ini sebenarnya?

Dengan penuh kesadaran bisa mengenali siapakah dirinya sendiri dan siapa pula Tuhan yang sebenarnya. Itulah tujuan yang seharusnya. Karena kebersatuan itu adalah hal yang paling indah, damai dan membahagiakan” Jawab sang guru.

Mendengar itu Kaen langsung meneteskan airmatanya. Ia merasa bahwa masih terlalu banyak yang tidak ia ketahui meskipun telah dibimbing oleh seorang Nabi. Itu sebenarnya bukan karena ia benar-benar tidak tahu, melainkan karena sudah benar-benar tahu siapakah dirinya sendiri (sadar diri). Dan ketika melihat sikap muridnya yang seperti itu, sang Nabi pun bersabda: “Tetaplah engkau rendah hati (tawadhuk) anakku. Dan jangan pernah untuk tidak berserah diri (tawakal) serta pandai-pandailah bersyukur kepada-NYA (syakur). Itulah tiga kunci keselamatan hidup, yang jika dijalankan dengan tulus akan mendatangkan keberuntungan. Dan bebaskanlah dirimu, jadilah sosok yang merdeka seutuhnya. Karena banyak yang terus membawa penjara dalam hidupnya tanpa ia sadari

Demikianlah pesan dan nasehat dari Nabi Syis AS kepada muridnya, Kaen. Semuanya didengarkan dengan sungguh-sungguh dan dijalankan oleh sang pemuda dengan tekun dan penuh kesabaran. Hal ini menjadi sesuatu yang menakjubkan dan membawa pada kedamaian yang hakiki. Inilah bekal hidup yang ia bawa sampai kapanpun juga.

O.. Sekian lama diriku mencari sesuatu untuk menemukan damai. Sekian lama pula aku berusaha untuk bisa melihat lebih jelas ke dalam hati agar dapat menemukan diriku sendiri. Ternyata kini telah ku dapatkan dengan nyata. Sungguh hakekat itu adalah dekat di dalam diri kita sendiri” Begitulah akhirnya Kaen berkata dengan perasaan yang campur aduk. Ia telah mendapatkan jawaban yang selama ini belum ditemukan.

4. Penderitaan Amanta
Sudah lebih dari 25 tahun Amanta hidup di negeri Namaru yang berada di bagian tengah Arudala (penamaan kawasan Nusantara kala itu). Selama itu banyaklah lika-liku hidup yang harus ia alami, membuat kehidupannya terus berwarna. Tapi hal itu tak bisa menghilangkan beban di hatinya. Amanta merasa tetap ada yang kurang dalam hidupnya. Karena itulah sang pemudi memutuskan untuk pergi mengembara demi memuaskan dahaganya itu. Dengan restu dari kedua orang tuanya, Amanta lalu menjelajah ke berbagai tempat yang baru. Ada banyak kisah dan pengalaman yang berkesan ia dapatkan selama bertahun-tahun kemudian. Dan pada saat sedang duduk ber-semedhi di tepi sungai yang jernih, Amanta mendapatkan petunjuk untuk pergi ke arah barat, ke sebuah kota yang bernama Hilmatiram.

Waktu pun berlalu. Dalam usahanya untuk sampai di kota Hilmatiram, banyak ujian yang harus dihadapi oleh Amanta. Ada banyak negeri yang penduduknya tak bersahabat. Dan suatu ketika saat berada di kerajaan Dafkal, Amanta yang terlihat sangat rupawan itu mendapatkan kesulitan. Ada sekelompok pasukan penjaga perbatasan yang ingin berbuat cabul kepadanya. Untung saja ia punya bekal ilmu bela diri yang cukup, sehingga hal buruk itu tak sampai terjadi. Hanya saja pada saat melarikan diri dari kejaran para bajingan itu, ia pun terkena anak panah tepat di punggungnya. Karena daya tahan tubuhnya bagus, Amanta masih bisa bertahan lama. Ia pun terus berlari dan bisa menghanyutkan diri di aliran sungai yang dingin. Namun pada saat akan menepi dari sungai Bere itu, Amanta merasa tak sanggup lagi. Ia tetap berusaha sekuat tenaga untuk bisa sampai di pinggiran sungai. Dan ketika sampai di dekat tanah yang berumput, maka tak lama kemudian ia langsung pingsan.

Waktu pun berlalu, di saat Amanta dalam kondisi pingsan, ada seorang pencari jamur yang melihatnya. Saat itu hari sudah mulai gelap dan akan segera turun hujan. Di antara kilatan cahaya petir, pria tersebut melihat sosok wanita yang sedang tertelungkup dengan anak panah yang masih tertancap di punggungnya. Awalnya si bapak mengira bahwa wanita itu sudah mati, namun setelah diperiksa ternyata ia masih bernapas. Waktu itu si bapak sedang berjalan pulang ke rumahnya, maka segeralah ia menggendong tubuh pucat Amanta di tengah suasana hujan yang deras.

Singkat cerita, si bapak yang bernama Hane itu meminta istrinya, Janu, untuk menggantikan pakaian basah yang masih melekat di tubuh Amanta. Namun sebelum itu pak Hane pelan-pelan mencabut anak panah yang menancap di punggung sang pemudi lalu membersihkan lukanya. Setelah itu, tak lupa pula ia menjahit luka sobek yang ada dan segera memberikan ramuan obat. Untunglah tidak fatal, sehingga ada kemungkinan bagi Amanta untuk bisa selamat. Hanya saja di tengah kondisi pingsan tersebut mendadak tubuh sang pemudi gemetar hebat. Dia pun terserang demam tinggi dan jatuh sakit untuk waktu beberapa hari. Selama itu ia hanya terbaring lemah dan pucat, dalam posisi tubuh yang harus telungkup agar lukanya bisa cepat sembuh. Perjuangan hidup dan mati pun harus ia rasakan.

Begitulah perhatian yang diberikan oleh kedua suami istri tersebut. Anak gadis mereka yang masih remaja, Marin, juga ikut membantu menyiapkan segala kebutuhan Amanta selama ia sakit. Dan berkat keahlian dari pak Hane dalam meramu obat-obatan yang mujarab, maka sebelum musim semi tiba Amanta pun sembuh dari sakitnya. Lukanya telah mengering, pulih meskipun memberikan bekas di punggungnya.

Kisah pun berlanjut. Pada saat Amanta duduk sendirian di tepi sungai Bere, ia merasakan ada yang kurang dalam dirinya. Apakah itu? Ia masih belum tahu. Dan hal yang semacam ini terjadi berulang kali, setiap hari. Sampai akhirnya sangat mengganggu hati dan pikirannya. Lalu demi mendapatkan jawaban, Amanta segera mohon diri kepada orang yang telah menolongnya (Hane, Janu, dan Marin) untuk bisa menyendiri dan melakukan tapa brata selama beberapa hari. Dibawah pohon Ayut yang berdaun kemerahan, Amanta lalu duduk bersila. Di hari yang ketiga, ia merasa ada hawa dingin yang tidak biasa dari arah atas dan langsung menerpa tubuhnya. Tak lama kemudian, terdengar suara yang memanggil namanya dan meminta agar ia membuka mata.

Mendengar perkataan itu, awalnya Amanta tidak peduli. Ia masih tetap khusyuk dalam semedhi-nya. Tapi suara itu terdengar lagi lengkap dengan getaran energi dan aura yang tidak biasa. Mau tidak mau Amanta pun membuka matanya. Ketika sudah terbuka, ia langsung bisa melihat sosok yang begitu anggun dan berwibawa. Belum pernah Amanta melihat sosok wanita yang seperti itu. Sudahlah cantik, ia pun terlihat bijak dan penuh kharisma. Jelas ini bukanlah Manusia, melainkan Dewi dari Kahyangan.

Dan benarlah apa yang disangkakan oleh Amanta, karena yang datang pada waktu itu adalah Bhatari Milaya. Ia muncul untuk memberikan wejangan dan bimbingan khusus bagi sang pemudi, untuk bekal hidupnya nanti. Berbagai ilmu pengetahuan akan diajarkan kepada Amanta agar ia memiliki kemampuan yang tidak biasa. Terlebih agar kejadian yang memilukan seperti sebelumnya tidak pernah terulang lagi. Selain itu, memang ada tugas penting yang akan di laksanakan oleh Amanta di masa depan. Sehingga ia memang perlu menambah keahlian dirinya.

Ya. Selama beberapa waktu Amanta berguru kepada Bhatari Milaya di sebuah negeri yang tersembunyi. Tempat itu juga diselimuti oleh perisai goib sehingga tak kasat mata. Tak jauh berbeda dengan tempat dimana Kaen pernah berlatih dengan Nabi Syis AS, di sana juga terdapat hal-hal yang luar biasa dan bertentangan dengan hukum fisika pada umumnya. Dari tempat itu pun Amanta pernah di ajak oleh sang Bhatari ke tempat lain yang berada di Dimensi yang berbeda. Memang sang pemudi dipersiapkan untuk misi yang penting di masa depan.

Singkat cerita, sudah lebih dari 30 tahun Amanta dibimbing oleh Bhatari Milaya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian khusus. Sebenarnya bisa saja sang Bhatari menurunkan ilmunya, dalam hitungan detik malah, tapi itu tidak pernah di lakukan. Semua karena memang lebih baik mendapatkan sesuatu itu dengan jalan usaha yang maksimal. Harus dengan cara yang tekun dan penuh kesabaran. Sebab hal itu akan membangun karakter pribadi yang baik dan penuh kebijaksanaan. Inilah yang sebaiknya di lakukan oleh setiap orang. Karena tak ada jalan yang instan dalam meraih kemuliaan.

Catatan: Ada perbedaan waktu antara di muka Bumi ini dengan tempat dimana Amanta berguru kepada Bhatari Milaya. Satu hari di Bumi akan sama dengan 10 tahun di sana. Jadi meskipun Amanta sudah berlatih selama lebih dari 30 tahun, maka itu sebenarnya cuma memakan waktu 3 hari saja di Bumi.

Dan tibalah saatnya bagi Amanta untuk di wisuda. Dua hari kemudian ia pun harus berpisah dengan gurunya itu. Tapi sebelum berpisah, Bhatari Milaya sempat berpesan kepada Amanta dengan berkata: “Wahai ananda. Siapalah diri kita ini selain makhluk yang tak berdaya dihadapan-NYA. Tak ada yang perlu dibanggakan atas apapun yang telah kita raih, atas apapun kedudukan dan ilmu pengetahuan kita. Semuanya hanya atas izin dan kehendak-NYA saja, bukan lantaran usaha atau kemauan kita. Tetaplah sebagai hamba yang rendah hati dan mengenal dirinya sendiri. Teruslah berusaha untuk lebih kenal lagi, sampai tak ada lagi yang bisa dikenali selain Diri-NYA. Karena hanya DIA-lah Yang Esa dan Berkuasa. DIA-lah segalanya, tapi segalanya itu bukanlah DIA

Mendengar hal itu Amanta hanya bisa diam meresapi. Dan bercampurlah perasaan dihatinya, yaitu antara sedih, terharu dan bahagia. Sungguh apa yang telah disampaikan oleh sang Bhatari adalah hakekat yang tinggi. Hal yang harus terus diusahakan olehnya, bahkan sampai kapanpun juga.

5. Huru-hara di kerajaan Matmarun
Setelah berlatih di tempat yang misterius selama ±300 tahun (untuk waktu di sana), sudah waktunya bagi Kaen untuk di wisuda. Berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian khusus yang diperlukan sudah ia kuasai dengan sempurna. Semuanya berkat pelatihan yang diberikan oleh Nabi Syis AS. Sehingga sang pemuda bisa menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya. Dan cinta yang sejati telah ia miliki untuk bisa menjalankan sisa waktunya di Bumi.

Lalu, atas petunjuk dari gurunya, dari timur Kaen kembali berjalan menuju ke arah barat. Tapi sebelum itu ia harus berkelok ke selatan menuju ke sebuah kerajaan yang sedang dilanda konflik berkepanjangan. Nama kerajaan itu adalah Matmarun. Disana sedang terjadi perebutan tahta oleh ketiga anak raja sebelumnya. Dan sebagaimana pertikaian di setiap zamannya, maka yang menjadi korban selalu rakyatnya sendiri. Keadaan negeri semakin kacau dan menyedihkan, banyak penderitaan dan kesulitan yang harus dirasakan oleh penduduknya. Tapi meskipun begitu, ketiga saudara yang bertikai itu tak mau peduli sama sekali. Mereka tetap dengan hasrat keinginanannya untuk menjadi penguasa tertinggi kerajaan. Tak masalah apakah rakyatnya susah dan menderita.

Sesampainya di negeri Matmarun itu, Kaen bisa melihat langsung keadaan di sana yang begitu mengenaskan. Banyak orang yang kelaparan dan terserang penyakit. Hal ini jelas menggugah hati sang pemuda dan ia segera mengulurkan bantuan. Apapun ia lakukan untuk bisa meringankan beban hidup masyarakat di sana. Tapi aneh, bukannya dihargai Kaen justru dicurigai dan akan ditangkap oleh prajurit suruhan seorang bangsawan.

Sebagai kesatria yang waspada, Kaen tidak bersedia menyerahkan dirinya begitu saja. Ia merasa tidak bersalah, karena itulah hanya dalam hitungan detik semua prajurit yang akan menangkapnya itu dikalahkan. Cukup dengan sekali tiupan dari mulutnya, para prajurit itu jatuh tersungkur. Tak lama kemudian, mereka diperintahkan untuk kembali ke tuannya dan melaporkan apa yang terjadi. “Katakan kepada tuan kalian bahwa keadilan sudah datang. Kebenaran akan melibas habis siapapun yang berbuat jahat” Begitulah Kaen memberikan peringatan kepada mereka yang angkuh dan lupa diri.

Singkat cerita, hal yang dialami oleh para prajurit itu berbuntut panjang. Tuan mereka yang merupakan salah satu dari ketiga anak raja yang berebut tahta itu tak bisa menerima kekalahan dan penghinaan. Ia langsung memberi perintah kepada seorang senopati pilih tanding untuk menangkap orang asing itu; Kaen. Hidup atau mati tak jadi soal, yang penting jangan sampai ada duri di dalam daging kekuasaannya. Begitulah anggapan dari pangeran Sekatma, dan dia ini adalah yang paling kejam dari ketiga anak raja yang sedang bertikai.

Waktu pun berlalu dan akhirnya senopati utusan Pangeran Sekatma itu bertemu juga dengan Kaen di desa Dolasa. Dengan membawa 500 orang pasukan, ia langsung memerintahkan Kaen untuk segera menyerahkan diri. Tapi hal itu tak diikuti oleh sang pemuda. Dan ketika ia diserang oleh para prajurit itu, Kaen bahkan tak beranjak dari tempat duduknya. Ia hanya mengambil sebuah ranting pohon kering dan melemparkannya ke arah para prajurit. Dalam sekejap ranting tersebut berubah menjadi seorang kesatria yang sangar. Dan dengan gerakan yang secepat kilat ia sudah bisa menjatuhkan ke 500 prajurit yang ada. Tinggal sang komandan yang belum terkena serangannya.

Melihat itu senopati yang bernama Sulos itu sudah merasa gentar. Tapi ia juga seorang kesatria yang tidak akan mundur sebelum bertanding. Maka dengan segenap kemampuan yang ada ia segera maju dan berhadapan langsung dengan sosok kesatria ciptaan Kaen tersebut. Hanya saja kesaktian dari Sulos tak ada apa-apanya. Dalam tiga jurus saja ia sudah terkapar, hampir pingsan. Jika tidak segera meminta ampun, nyawanya pun sudah melayang. Dan memang Kaen sendiri tidak menginginkan hal itu. Tak perlu ada pertumpahan darah, cukuplah hanya dengan memberikan efek jeranya saja.

Selanjutnya, setelah kejadian itu semua pasukan dan senopati-nya diobati oleh Kaen dan mereka bisa sembuh seperti sedia kala. Mereka tak mau kembali kepada tuannya, Sekatma, karena lebih memilih untuk hidup bersama dengan penduduk yang dilindungi oleh Kaen. Sebenarnya apa yang mereka lakukan sebelumnya itu hanya terpaksa, karena jika tidak maka keluarga merekalah yang akan menerima dampak buruknya. Para pangeran yang berebut tahta itu sedang dalam kegilaan. Mereka akan melakukan apa saja demi meraih apa yang diinginkan. Para prajurit dan senopati bawahannya akan diperintah sesuka hatinya. Jika tidak mau, siapapun akan dituduh berkhianat dan segera dihukum keji.

Mengetahui hal itu, tak ada waktu lagi bagi Kaen untuk diam saja. Demi kebaikan semua orang, sudah waktunya kebenaran dan keadilan harus ditegakkan. Negeri Matmarun perlu dibersihkan dari para bangsawan yang jahat dan korup. Dan bersama Sulos dan ke 500 pasukannya itu, Kaen langsung menuju ke istana Pangeran Sekatma. Dengan kemampuan yang dimiliki, maka hanya dalam waktu sekejap mereka sudah tiba di sana. Dan ketika diserang oleh prajurit penjaga istana, maka hanya dengan sekali petikan jemarinya, siapapun yang datang menyerang langsung tumbang tak bergerak. Pada petikan jarinya yang kedua, seluruh istana berguncang keras dan membuat semua penghuninya berhamburan keluar. Termasuklah Pangeran Sekatma dan semua keluarganya.

Singkat cerita, atas kejadian itu semua yang ada cuma bisa tertunduk diam. Semuanya merasa ketakutan, termasuklah Pangeran Sekatma yang sejak pertama kali melihat sosok Kaen sudah teramat cemas. Kabar tentang dirinya memang sudah ia dengar, tapi ketika langsung berhadapan dengan sosok pemuda misterius itu ia sampai tak bisa berkata apa-apa lagi. Lidahnya kelu dan tubuhya terus bergetar karena rasa takut yang menyelimuti.

Lalu dengan kata-kata yang tegas dan bermakna, Kaen langsung memerintahkan agar sang pangeran kembali ke jalan yang benar. Ia pun berpesan dengan berlata: “Jangan lagi mengabaikan rakyat hanya demi mendapatkan apa yang diinginkan. Meskipun seseorang berhak atas tahta, tetapi kesejahteraan penduduk harus lebih diutamakan. Biarlah takdir yang menentukan siapakah yang akan menjadi raja selanjutnya. Tugas utama seorang pangeran atau bangsawan itu adalah menciptakan keamanan dan kemakmuran bagi rakyatnya. Dan ia harus rela menderita atau mati demi kepentingan bersama, bukan justru hanya untuk kepentingan pribadinya saja

Demikianlah kejadian seperti yang dialami oleh Pangeran Sekatma terjadi berulang kali. Pangeran dan putri lainnya juga mengalami hal yang serupa di istananya masing-masing. Dan untuk menentukan siapakah yang berhak atas tahta kerajaan Matmarun, maka diadakanlah kompetisi di antara ketiga bangsawan. Mereka harus menyelesaikan apapun tantangan yang diberikan oleh Kaen. Setelah itu, bagi siapapun yang lulus, ia lalu diuji hatinya dengan cara apakah ia mau melepaskan hak atas tahta pada dirinya atau tidak dengan suka rela. Bagi yang bersedia, maka tantangan yang terakhir ia harus bisa membaca kitab pusaka Halma yang misterius. Jika bisa maka dialah yang berhak atas tahta kerajaan Matmarun, karena ilmu pengetahuan dalam kitab tersebut sangat luar biasa. Siapapun yang mampu membaca dan memahaminya dengan benar akan menciptakan kedamaian dan kemakmuran. Dan yang berhasil memenuhi itu semua adalah Pangeran Katsema, adik bungsu dari Pangeran Sekatma. Karena itu dialah yang akhirnya dinobatkan sebagai raja di kerajaan Matmarun selanjutnya. Dibawah kepemimpinannya, negeri itu kembali aman dan makmur.

6. Membebaskan kota suci
Kisah pun berlanjut. Setelah menyelesaikan masalah di negeri Matmarun, selang dua hari berikutnya Kaen meneruskan perjalanan. Ia tidak pernah menggunakan kesaktiannya kecuali terpaksa. Selama berbulan-bulan ia pun tetap dengan berjalan kaki, seperti pengembara biasa. Banyak negeri yang ia lalui dengan beragam pesonanya. Dan ketika sedang berada di dekat dermaga yang ada di tepian sungai Mal, ia mendengar berita bahwa kota Hilmatiram sudah lama diselimuti kegelapan. Di sana telah dipenuhi dengan berhala yang bermacam-macam bentuk. Sudah bertahun-tahun hal itu terjadi, sejak raja yang jahat menaklukkan negeri itu dan terus menyebarkan pengaruhnya kemana-mana.

Ya. Tak ada yang mampu menandingi kekuasaan dari raja yang bernama Samobala itu. Dibawah kepemimpinanya, wilayah kerajaan Akhante kian meluas dan melintasi berbagai kawasan di dunia. Dan karena sudah sejak lama ia menginginkan untuk tinggal di kota Hilmatiram, maka setelah berhasil menaklukkan negeri itu ia langsung menetap di sana. Ada banyak kerajaan yang menolak hal itu, tapi tak ada pula yang mampu mencegah keinginan dari Raja Samobala. Selain memiliki pasukan yang sangat banyak, sang raja juga terkenal sakti mandraguna. Terlebih dalam hal ini ia mempunyai banyak ilmu sihir yang jahat dan belum ada tandingannya. Siapapun yang berhadapan dengannya selalu dapat ditaklukkan dan akhirnya dijadikan pelayannya.

Catatan: Pada masa itu seluruh kawasan Jazirah Arab beriklim subtropis. Karena itulah dalam setahunnya terus mengalami empat musim yang berbeda (panas, semi, gugur, dan dingin). Dan khusus mengenai keadaan alamnya, maka topografi dan geografi di sana sangat berbeda dari sekarang. Di sana masih berupa hutan yang lebat, lembah dan padang rumput yang menghijau, serta banyak sungai yang mengalir jernih. Terdapat juga banyak gunung yang aktif, yang bersalju atau tidak. Begitu pula dengan beragam flora dan fauna yang juga masih hidup di sana – tapi kini sudah tidak ada lagi. Sungguh kawasan yang sangat indah dan subur makmur pada masanya.

Begitulah setidaknya informasi yang diterima oleh Kaen dari para pedagang yang berlayar dan singgah di dermaga sungai Mal. Hal itu adalah fakta, karena dimana-mana banyak orang yang membicarakan tentang kegelapan yang ada di kota Hilmatiram. Sebagian dari mereka bahkan sampai berharap akan segera datang perubahan, agar kota suci itu bisa kembali dikunjungi oleh siapapun. Sangat berbeda dengan waktu itu yang tak boleh dimasuki oleh siapapun bila tidak mengikuti ajaran sesat dari Raja Samobala. Jika berani masuk tanpa izin, siapapun itu akan dihukum berat, bahkan sampai dibunuh.

Ya. Pada masa itu dusta sering bercampur aduk dengan kebenaran. Segala yang baik sering dipelintir untuk tujuan yang jahat. Dan khusus bagi Raja Samobala, maka segala cara boleh ditempuh demi mencapai apa yang diinginkannya. Karena itulah, jauh sebelum menjadi raja di negeri Akhante, ia lebih dulu mencari bekal ilmu yang beragam. Banyak tempat dan guru yang ia datangi. Dan tak sedikit yang sebenarnya tidak baik, karena sifatnya licik dan jahat. Apalagi kalau bukan yang berasal dari kegelapan dan bertujuan untuk kesesatan. Dan itu jelas terbukti dengan dikuasainya kota Hilmatiram lalu dari sana pula disebarkanlah kegelapan kemana-mana.

Catatan: Kerajaan Akhante itu dulunya berada di sekitar Tunisia sekarang. Sebelum berhasil menguasai kota Hilmatiram, kerajaan ini sudah menaklukkan banyak kerajaan yang ada di Natmaru (penamaan kawasan Afrika Utara saat itu) dan Asirahak (penamaan kawasan Eropa Barat saat itu). Karena itulah, wilayah kekuasaannya meliputi seluruh daerah seputaran negara Sudan, Nigeria, Mali, Mauritania, Maroko, Algeria, Libya, Mesir, Tunisia, Laut Mediterania, Portugal, Spayol, Francis, Belgia, Jerman, Polandia, Belarus, Ukraina, Laut Hitam, Turki, Syria/Suriah, Iraq, Yordania, Palestina, dan Laut Merah sekarang. Semua wilayah itu ada dibawah kekuasaan kerajaan Akhante, khususnya ketika Raja Samobala berkuasa.

Waktu pun berlalu. Kaen terus berjalan menuju kota Hilmatiram dengan langkah yang sedikit cepat. Tapi setelah beberapa jam, tiba-tiba ia mendapatkan wangsit untuk tidak langsung ke kota suci tersebut. Sang pemuda diminta untuk berkelok ke selatan agar bisa sampai ke perbatasan hutan Lamonta. Di sana akan diadakan pertemuan rahasia bagi para raja atau ratu yang ingin membebaskan kota Hilmatiram. Tak ada yang tahu kecuali beberapa orang yang dipercaya.

Di hutan Lamonta itu, para raja dan ratu yang hadir langsung membahas tentang rencana apa yang akan di lakukan kedepan. Semuanya harus di rancang dengan baik dan terstruktur. Dan karena mereka tahu bahwa Raja Samobala bukanlah sosok yang biasa, maka perlu siasat yang jitu untuk menghadapinya. Dan yang dipilih saat itu, adalah dengan melakukan perang tertutup (gerilya). Mengurangi jumlah pasukan kerajaan Akhante satu persatu dengan cara tersembunyi. Tidak terang-terangan di medan pertempuran, karena mereka tahu sangat tidak mudah untuk melawan kekuatan musuh. Selain jumlahnya sangat banyak, mereka juga terdiri dari orang-orang yang punya banyak kemampuan lebih.

Nah, pada saat para raja dan ratu sedang serius membahas siasat mereka itu, sebenarnya Kaen sudah ada di sana tapi tak kelihatan. Ia sengaja bersembunyi dan entah kenapa saat itu belum diizinkan untuk menunjukkan diri sampai beberapa hari kemudian. Dan ketika siasat yang diputuskan oleh para raja dan ratu itu akan dimulai, barulah Kaen diperkenankan untuk muncul dan ikut bergabung dalam pasukan gerilya. Hanya saja ia pun tak pernah menunjukkan kemampuan yang sebenarnya. Sang pemuda hanya tampil seperti prajurit pada umumnya, dengan kemampuan beladiri yang cukup lumayan.

Perang gerilya pun di laksanakan dan semua pasukan koalisi dibagi ke dalam beberapa divisi. Sesuai dengan harapan, banyak dari pasukan Akhante yang berhasil dikalahkan. Tapi, setelah sekian lama berlalu Kaen pun merasa bosan dan malu jika berperang hanya dengan taktik sembunyi-sembunyi, menyergap tiba-tiba dengan anak panah rahasia, dan mengalahkan musuh satu persatu. Menurutnya itu bukanlah sifat dari seorang kesatria, dan Kaen merindukan adu kekuatan dengan gagah berani dalam pertempuran terbuka. Menang atau kalah ditentukan dengan strategi tempur dan keahlian dari masing-masing pasukan di medan laga. Terlebih kemampuan ilmu kanuragan dan kadigdayan dari para kesatrianya akan menentukan jalannya pertempuran.

Maka diusulkanlah perang terbuka kepada para petinggi pasukan koalisi. Kaen dalam hal ini berusaha untuk meyakinkan pendapatnya, tapi masih tak begitu ditanggapi. Dan memang pada saat itu ia belum menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya, karena itulah apa yang di katakan oleh Kaen tak mendapatkan perhatian yang serius dari para bangsawan. Mereka tetap saja melaksanakan perang tertutup, namun pada akhirnya sering mengalami kekalahan. Ternyata pasukan Raja Samobala telah belajar dari pengalaman. Kekalahan yang mereka derita sebelumnya menjadi pemicu untuk memperbaiki kekurangan.

Dan yang terjadi selanjutnya adalah bahwa pasukan koalisi kerajaan terus-terusan dikalahkan. Strategi apapun yang mereka pilih selalu bisa dipatahkan oleh pasukan Akhante. Hal ini memaksa para raja/ratu untuk mempertimbangkan usulan dari Kaen sebelumnya; perang terbuka. Dan ketika terjadi peristiwa yang tragis di lembah Usahi, pada saat para raja/ratu tiba-tiba disergap dan hampir dihabisi oleh pasukan Akhante, barulah Kaen menunjukkan kemampuan sebenarnya. Dengan kesaktian yang tinggi ia bisa menaklukkan semua pasukan musuh kala itu seorang diri. Suatu hal yang belum pernah disaksikan oleh siapapun. Bagaimana tidak, ribuan pasukan musuh bisa dikalahkan hanya dalam waktu hitungan menit. Berbagai elemen alam tiba-tiba muncul dan menjadi senjata yang mengerikan. Sebagian besar pasukan Akhante terpaksa harus meregang nyawa dengan berbagai cara. Terbakar, terkoyak-koyak atau terpotong-potong, begitulah keadaan mereka.

Mengalami peristiwa seperti itu, tiada alasan bagi para raja/ratu untuk tidak mengikuti usulan Kaen. Mereka langsung setuju untuk melakukan pertempuran yang terbuka. Di hati setiap orang bahkan meyakini bahwa selama dibawah komando seorang Kaen maka kemenangan bisa terwujud. Dan mereka percaya bahwa kesaktian Raja Samobala – yang selama ini menjadi halangan terbesar untuk bisa membebaskan kota suci Hilmatiram itu – akan teratasi. Meskipun masih terbilang muda, Kaen sangat diyakini bisa mengalahkan raja sihir itu.

***

Kisah pun berlanjut. Berita tentang kekalahan telak pasukannya di lembah Usahi itu telah sampai dengan cepat kepada Raja Samobala. Dengan kesaktiannya, sang raja langsung bisa merasakan ancaman yang serius terhadap kekuasaannya di Hilmatiram. Karena itulah, tanpa menunda waktu ia langsung meminta bantuan kepada penguasa kerajaan lain yang sejalan dengan prinsipnya. Tidak hanya dari kalangan bangsa Manusia saja, tetapi ada juga dari bangsa Jin dan mereka yang berasal dari Dimensi lain. Semuanya diminta untuk datang membantu jika sudah waktunya.

Dan langkah pertama yang di lakukan adalah membuat gaduh di banyak tempat. Tugas itu lalu diserahkan kepada bangsa Jin yang berpusat di kerajaan Orenga. Karena kemampuannya yang diluar batas rata-rata Manusia, maka tak begitu sulit bagi serdadu Jin itu untuk membuat kekacauan dimana-mana – di seputar kawasan. Tak ada yang bisa mencegahnya, kecuali di suatu negeri yang bernama Nulabar. Di sana mereka tak bisa berkutik, karena ada seorang kesatriawati yang bisa mengalahkan mereka. Dialah Amanta yang ketika itu sedang singgah dalam perjalanannya menuju ke kota Hilmatiram.

Ya. Kabar tentang kalahnya pasukan Jin di kerajaan Nulabar itu segera menyebar kemana-mana. Banyak orang yang penasaran dengan sosok kesatriawati yang bernama Amanta itu. Bagaimana tidak, ia bisa mengalahkan satu pasukan Jin yang terkenal sakti dengan begitu mudahnya seorang diri. Banyak pendekar yang berusaha melawan tapi semuanya tinggal nama. Sementara Amanta bisa mengalahkan pasukan itu hanya dalam hitungan menit. Sungguh kemampuan yang luar biasa, dan ini menjadi ancaman yang serius bagi siapapun yang berada di dalam barisan kegelapan.

Pun, ada yang sangat berkesan dari Amanta pada masa itu. Karena melihat adanya perbedaan sikap antara kaum pria dan wanitanya, ia lantas bertindak yang sesuai dengan ketentuan Ilahi. Dalam sebuah kesempatan, dihadapan semua orang Amanta sampai berkata: “Mengapa membedakan antara pria dan wanita? Bukankah setiap Manusia itu sama? Dan sesungguhnya wanita memang telah diberikan kekuatan yang luar biasa dari pada pria, yaitu kekuatan untuk melahirkan. Makanya bukan hal yang mustahil jika wanita juga bisa melahirkan berbagai keajaiban dalam perang ataupun damai

Sungguh, kata-kata itu telah disampaikan oleh Amanta setelah ia berhasil mengalahkan pasukan Jin yang membuat gaduh di negeri Nulabar. Dan pada masa itu memang terjadi perbedaan sikap antara pria dan wanita. Bahkan tak sedikit yang beranggapan bahwa wanita itu cuma sebatas ibu rumah tangga yang tugasnya hanya mengurus rumah, anak dan suaminya saja, tidak diberikan kesempatan lain yang produktif. Karena itulah, banyak dari kaum wanita yang tidak diberikan pendidikan yang cukup dan hidupnya terkekang. Dan ketika mereka seharusnya juga ikut memperjuangkan kebenaran yang diyakininya, itu pun tetap dihalang-halangi dengan alasan tidak pantas dan melanggar tradisi. Padahal kejahatan itu tak mengenal jenis kelamin, dan siapapun wajib memeranginya.

Maka, kata-kata yang tegas dari Amanta kala itu bisa menggerakkan hati banyak orang. Siapapun wanita yang berkenan, ia diperbolehkan untuk ikut berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan di dunia, khususnya di kota Hilmatiram. Dan ternyata kekuatan dari golongan wanita ini tidak main-main. Banyak hal yang bisa di lakukan, dan ini sangat membantu para lelaki dalam berbagai urusan. Semakin ringanlah beban yang harus mereka tanggung dalam perjuangan itu. Begitulah baiknya jika takdir Tuhan yang bijaksana dapat dipahami dengan benar. Semuanya akan mendatangkan keuntungan.

Dan pada waktu itu telah disebarkan seruan kepada negeri-negeri merdeka yang ingin kota suci Hilmatiram bisa dibebaskan. Sebab di sana memang sudah dibelenggu oleh kesesatan yang nyata. Terlebih tak ada yang boleh mengklaim bahwa tempat suci itu sebagai miliknya. Sejak awal kota tersebut adalah milik seluruh umat Manusia. Dan khusus bagi siapapun yang beriman, maka wajib baginya untuk ikut menjaganya dari kejahatan dan kegelapan. Jika ia mampu berjuang dengan cara berperang, maka lakukanlah dengan matang. Karena apapun bentuk kesesatan tidak boleh ada di sana, harus segera disingkirkan.

Nah, inilah yang kemudian terus menggerakkan hati banyak orang khususnya di kerajaan Nulabar untuk ikut berjuang membebaskan kota suci itu. Sebagian dari mereka adalah kaum wanita yang dipimpin langsung oleh Amanta. Dan setelah apapun yang dibutuhkan sudah dipersiapkan, maka bergeraklah mereka untuk bergabung dengan pasukan dari negeri lainnya. Mereka lalu berkumpul di dekat perbatasan Yamuran, di padang rumput luas dan menghijau itu. Pada hari yang ditentukan nanti, dari sanalah akan dimulai perang terbesar di dunia.

Ya. Dari arah timur, pasukan yang dipimpin oleh Amanta itu datang memasuki perbatasan Yamuran. Ternyata di sana sudah banyak yang berkumpul, semuanya pasukan dari berbagi bangsa dan kerajaan yang ada di seputar kawasan. Mereka disambut dengan baik dan langsung diterima sebagai saudara. Apapun warna kulit dan ras mereka tak jadi soal. Yang penting mereka sama-sama berjuang untuk membebaskan kota suci Hilmatiram dari kemungkaran. Semuanya tentu atas dasar cinta dan keimanan.

7. Perang besar
Sesuai rencana, maka tibalah waktunya pertempuran terbuka itu harus di lakukan. Kedua belah pasukan saling berhadap-hadapan di medan perang, di lembah Sowara yang menghijau. Bersama semua pasukan dan bala bantuan dari para sekutunya, Raja Samobala tetap yakin bahwa ia akan menang dengan cepat. Tak ada keraguan lagi dihatinya, karena ia melihat bahwa pasukan koalisi para raja dan ratu musuhnya itu tak seperti yang sering dikabarkan. Mereka tidak terlihat hebat melebihi pasukannya, apalagi bila dibandingkan dengan pasukan dari para sekutunya yang berasal dari Dimensi lain.

Catatan: Lembah Sowara itu berada di sebelah timur laut Padang Arofah sekarang. Di sanalah pertempuran kuno yang sangat dahsyat pernah terjadi. Sementara padang luas yang ada di sana, yang menjadi pusat pertempuran pada waktu itu diberi nama Issanuh. Kondisinya saat itu sangat jauh berbeda dari sekarang. Seperti kebalikannya saja.

Perlu diketahui bahwa pasukan koalisi para raja dan ratu saat itu sengaja dibagi dua, dan mereka bergerak dari arah utara dan selatan. Mereka akan menjalankan rencana dengan menyerang pasukan Raja Samobala dari arah yang berbeda. Khusus dari arah utara, pasukan besar itu dipimpin oleh Amanta yang kharismatik. Dalam satu kesempatan, di tengah masih adanya keragu-raguan di hati banyak orang ia pun berkata: “Kita adalah orang yang tetap berharap meski tak ada lagi harapan. Kita adalah sosok yang terus percaya walaupun kepercayaan itu telah dianggap bodoh. Kelemahan bukan berarti kita lemah. Karena ada kekuatan yang tersembunyi dibalik keinginan

Di waktu yang lain, Amanta juga pernah berkata: “Sesungguhnya ada banyak hal yang menyatukan kita dari pada yang menceraikan. Bersatulah! Terlepas dari apa dan siapakah dirimu. Karena kita akan menang

Sekali lagi, dengan kata-kata yang mendalam seperti itu Amanta bisa membangkitkan semangat orang banyak. Mereka tidak lagi ragu-ragu atas apa yang di perjuangkannya nanti. Bahwa pertempuran itu harus terjadi karena memang hanya itulah cara untuk bisa menegakkan keadilan, untuk bisa membebaskan kota suci Hilmatiram dari belenggu kegelapan. Perang memang selalu menyakitkan, tetapi perang itu sendiri juga merupakan satu pilihan yang kadang perlu diambil. Dengan perang semuanya akan tampak jelas. Dengan perang terkadang kebaikan dan keindahan itu bisa diraih secara nyata.

Dan dimulailah pertempuran besar di perbatasan kota Hilmatiram. Di padang luas Issanuh itu, ratusan ribu pasukan dibawah pimpinan Amanta – yang bergerak dari arah utara – datang menyerang terlebih dulu. Mereka langsung berhadapan dengan bala tentara Raja Samobala yang berada dibawah komando Haniwal, seorang raja bawahan yang sakti mandraguna. Dengan satu perintahnya, Raja Haniwal langsung membentuk formasi tempur Goldan (seperti mata tombak yang berjumlah tiga lapis), dengan barisan prajurit bertameng yang berada di bagian depan. Formasi ini terkenal sangat kuat dan sulit untuk ditembus.

Catatan: Dalam pertempuran besar itu, yang terlibat tidak hanya dari bangsa Manusia saja, tetapi juga ada bangsa Jin, Peri, Cinturia, Karudasya, Hewan dan Tumbuhan. Semua ikut melibatkan diri karena menganggap kota suci Hilmatiram itu sangat penting dalam kehidupan mereka.

Tapi dihadapan mereka ada seorang kesatriawati bernama Amanta yang telah berguru kepada seorang Dewi Kahyangan. Setelah dirasa cukup lama mencoba, akhirnya ia memutuskan untuk merusak formasi Goldan itu dengan menembakkan anak panah saktinya ke barisan paling depan. Dan hanya dengan satu kali serangan saja, maka ratusan orang prajurit yang menggunakan tameng itu langsung berhamburan. Mereka terpental setelah menerima hantaman dan ledakan keras dari anak panah sakti milik Amanta. Seperti bom, anak panah itu segera membakar dan sangat merusak.

Selanjutnya, dengan rusaknya barisan depan formasi Goldan itu, maka terbukalah kesempatan untuk bisa menghancurkan bala pasukan yang ada di belakangnya. Karenanya tanpa menunda waktu lagi, Raja Syijaname langsung memimpin divisinya untuk merangsek kedepan. Ribuan prajurit dibawah komando Raja Haniwal segera tumbang meregang nyawa. Tak ada yang mampu mencegah sang raja dan pasukannya itu untuk menyerang ganas. Sampai akhirnya kedua komandan pasukan yang ada (Syijaname dan Haniwal) saling berhadapan di tengah pertempuran. Dan sebagaimana tradisi para kesatria di masa itu, maka keduanya lalu bertarung sampai mati.

Sungguh pertarungan yang luar biasa antara kedua komandan pasukan itu. Berbagai keahlian dan kesaktian terus mereka keluarkan, membuat siapapun terkagum-kagum. Bahkan karena semakin hebatnya pertarungan itu, semua pasukan yang ada disekitarnya bergerak menjauh. Mereka tak mau terkena dampak buruk dari berbagai ajian tingkat tinggi yang dikeluarkan saat itu. Sampai pada akhirnya Raja Syijaname berhasil mengalahkan Raja Haniwal dalam sebuah serangan mematikan. Dan saking hebatnya benturan energi yang terjadi, membuat Raja Haniwal sampai termuntah darah. Selang beberapa menit kemudian ia pun tewas dengan luka yang sangat parah.

Ya. Pasukan koalisi para raja dan ratu mampu meluluh lantahkan kepongahan Raja Samobala tidak lebih dari satu jam. Pasukan elit yang berada di garda terdepan, ketika ada komando dari Amanta, langsung berhadapan dengan pasukan elit dari sang raja bengis. Mereka pun terus bergerak menyerang dengan lincah tanpa takut. Dan ketika ada isyarat tertentu, maka pasukan terdepan itu tiba-tiba berhenti dan semuanya langsung bergerak ke arah kanan dan kiri pasukannya. Hal ini tidak disadari oleh lawannya. Padahal tak lama kemudian serbuan anak panah yang mematikan dari prajurit divisi pemanah langsung menghujani mereka (pasukan Raja Samobala) berulang kali. Dalam waktu singkat ribuan pasukan lapis kedua dari raja jahat itu langsung berjatuhan. Semuanya tumbang karena terluka parah atau tewas secara mengenaskan.

Catatan: Sama dengan umumnya pertempuran di masa lalu, maka yang terjadi di padang Issanuh waktu itu adalah perang dengan gaya kesatria. Artinya, meskipun bangsa-bangsa yang ada pada masa itu sudah berperadaban tinggi dan mereka tidak asing lagi dengan teknologi yang canggih, tetap saja mereka mengikuti tradisi perang yang sesungguhnya. Yaitu saling berhadapan langsung, alias bertarung di medan tempur sampai mati. Tidak ada yang menggunakan persenjataan selain pedang, pisau, tombak, panah, gada dan yang sejenisnya. Selebihnya mereka hanya mengandalkan ilmu kanuragan dan kadigdayan saja.

Sungguh kejadian itu mengejutkan Raja Samobala dan bala pasukannya. Mereka tak mengira musuhnya itu bisa menerapkan strategi tempur yang cepat dan sangat jitu. Sekuat apapun barisan terdepan sang raja sihir dihancurkan dengan cepat. Terlebih akhirnya diketahui pula bahwa arsitek dalam siasat perang itu adalah seorang wanita. Dialah Amanta, sosok pemudi yang pernah mengalahkan sepasukan bangsa Jin yang mengusik ketenangan di kerajaan Nulabar.

Tapi lantaran mereka terdiri dari sangat banyak pasukan, tidak kurang dari 1,5 juta orang, maka pasukan lapis ketiganya tidak sampai lari terbirit-birit. Mereka cuma mundur untuk beberapa langkah, hingga akhirnya berhenti dan kembali merapatkan barisannya. Dengan komando seorang Senopati yang cakap, pasukan itu bahkan melancarkan serangan balik dengan tombak dan anak panahnya. Hal ini membuat pasukan koalisi para raja dan ratu harus berhenti bergerak maju. Mereka perlu mempertahankan posisi dan kembali mengatur strategi yang baru untuk menghadapi musuhnya itu.

Dan pertempuran sengit terjadi lagi untuk yang kedua kalinya. Setiap kubu pasukan langsung membentuk formasi baru dan menyerang lawannya dengan gigih. Lalu Raja Samobala yang telah belajar dari pengalaman, langsung memecah belah barisan koalisi para raja dan ratu itu dengan membagi pasukannya sendiri dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari pasukan infanteri dan kavaleri yang bersenjata lengkap. Hanya dengan begitu mereka bisa mengurangi kekuatan musuhnya. Dan mau tidak mau pasukan koalisi para raja/ratu harus ikut dalam permainan itu.

Catatan: Khusus untuk pasukan kavaleri, maka pada saat itu mereka tidak menunggangi kuda karena hewan ini memang belum ada. Ada hewan lain yang disebut Dimal, yang rupanya campuran antara rusa, kuda dan domba. Hewan ini berbulu lebat warna coklat atau hitam dan mampu bergerak lincah serta punya daya tahan tubuh yang kuat. Sangat cocok untuk keperluan berperang.

Maka keadaan pun berubah. Dengan strategi yang baru itu, pasukan Raja Samobala mulai terlihat unggul. Kekuatan pasukan koalisi para raja dan ratu yang seharusnya tetap bersatu kini sudah terpecah belah. Dan karena jumlahnya pun lebih sedikit, maka sulit bagi mereka untuk bisa menahan kekuatan dari pasukan sang raja bengis. Amanta bahkan sampai harus bertarung habis-habisan demi mempertahankan barisan depan pasukannya. Ia harus terus berhadapan dengan para Senopati yang memang ingin membunuhnya. Meskipun dibantu oleh para raja dalam pasukannya, tetap saja sulit bagi Amanta untuk mengalahkan para Senopati yang mengeroyoknya saat itu. Mereka juga memiliki banyak keahlian dan kesaktian yang luar biasa.

***

Waktu pun terus berlalu. Pada saat keadaan telah semakin genting, dari arah selatan terdengar suara trompet yang begitu nyaring. Ternyata itu berasal dari pasukan koalisi para raja/ratu yang lainnya. Suara dari sangkakala itu lalu bergema ke segala arah, memenuhi medan pertempuran, dan membuat semua yang sudah bertempur sampai berhenti. Semuanya langsung melihat ke arah selatan, dan di sana tampak jelas ada bala pasukan yang sangat banyak dan siap berperang. Mereka mengenakan baju zirah yang bentuknya bermacam-macam, dan panji-panji yang warnanya pun beragam. Terlihat sangat perkasa.

Ya. Kedatangan pasukan kedua itu jelas membuat pasukan dibawah komando Amanta langsung kegirangan. Seperti mendapatkan air di tengah gurun yang kering, harapan kemenangan pun segera di alamatkan. Dan benar apa yang terjadi selanjutnya. Pasukan kedua itu bertempur dengan gagah berani. Dalam waktu singkat mereka sudah berhasil mengacaukan berbagai formasi musuh. Ketangkasan dan kekompakan yang mereka pertunjukan saat itu terlihat mengagumkan. Terlebih para kesatria dan raja/ratu yang ada di dalamnya memang bukan orang biasa. Mereka adalah para pendekar yang hebat dan berilmu tinggi.

Sungguh, pertempuran saat itu berlangsung sengit dan mengagumkan. Para kesatria yang terlibat terus mengeluarkan kemampuan andalan mereka. Membuat suasana di medan pertempuran semakin menegangkan. Dan ketika dirasa mulai terpojok, Raja Samobala langsung menggunakan ilmu sihirnya. Tiba-tiba suasana alam berubah dari terang menjadi gelap. Hal ini membuat bingung semua orang, terlebih tak lama kemudian muncul pasukan yang menyeramkan. Mereka adalah Jin yang menjadi sekutu dari sang raja penyihir.

Tapi di barisan lawan ada Amanta yang sebelumnya pernah berhadapan langsung dengan pasukan Jin. Karena itulah ia langsung mengeluarkan kemampuan khusus untuk menyingkirkan kegelapan yang ada. Dan untuk pasukan Jin yang bisa menghilang itu ia harus menghadapinya langsung. Maka terjadilah pertarungan yang luar biasa, kadang terlihat tapi sering pula cuma terdengar suaranya saja. Semua orang bisa menyaksikan bagaimana seorang Manusia bisa menandingi kemampuan pasukan yang terkenal kuat dan sakti mandraguna. Bahkan tidak lama kemudian Amanta berhasil menang atas mereka.

Ya. Hal itu langsung membuat kagum banyak orang, baik dari pihak kawan maupun lawan. Tak terkecuali Kaen yang pada saat itu juga menyaksikan kemampuan luar biasa dari seorang Amanta. Selama ini ia hanya mendengar cerita dari orang-orang tentang kehebatan sang pemudi. Dan kini kebenarannya bisa langsung ia saksikan, di medan pertempuran lembah Sowara itu.

Kisah pun berlanjut. Pertempuran di padang Issanuh itu terus berlangsung. Dan karena sudah hampir gelap, maka sesuai tradisi yang berlaku saat itu kedua belah pasukan harus berhenti. Perang akan dilanjutkan esok hari, setelah fajar menyingsing setinggi busur. Sementara untuk pasukan yang gugur, semuanya akan dikumpulkan dan dimakamkan secara massal. Bagi mereka yang terluka harus segera dibawa ke kemah-kemah yang telah disediakan untuk segera diobati. Ini berlaku untuk kedua belah pihak, tanpa ada hambatan sedikitpun.

Pada hari kedua pertempuran, kedua belah pihak yang berperang itu ingin mengubah keadaan tempo hari. Karena itulah, tanpa menunda-nunda waktu lagi Raja Samobala mulai mengeluarkan sihir lainnya. Dengan sihir itu, ia langsung menciptakan pasukan yang tidak biasa. Setiap orang dalam pasukan koalisi raja/ratu harus berhadapan dengan sosok yang menyerupai dirinya sendiri. Maka banyaklah yang gugur dalam barisan para pejuang kemerdekaan kota suci Hilmatiram. Musuh yang muncul dari kekuatan sihir Raja Samobala itu memiliki kemampuan yang sama dengan aslinya, bahkan bisa lebih sakti lagi. Hal ini jelas membuat gaduh, panik, dan cemas siapapun yang membela kebenaran.

Tapi sekali lagi untunglah ada Amanta yang memiliki keahlian khusus. Atas bimbingan dari Bhatari Milaya, kekuatan sihir itu dapat dipatahkan. Sebuah mantra tandingan dibacakan oleh Amanta dengan tujuan untuk segera menghancurkan kekuatan sihir dari Raja Samobala. Dan ia berhasil, sehingga korban dipihak koalisi dapat segera dihentikan. Ya, setelah terjadi benturan kekuatan dari kedua mantra, yang mengguncang medan pertempuran, tak lama kemudian satu persatu sosok yang menyerupai pasukan koalisi itu menghilang.

Melihat itu, Raja Samobala tak hanya tinggal diam. Ia meminta kepada para sekutunya dari Dimensi lain untuk segera bergabung. Maka setelah membaca mantra khusus, tiba-tiba alam bergemuruh dan petir menyambar-nyambar. Tak lama kemudian muncul portal Dimensi yang berbentuk segitiga di tengah-tengah barisan pasukan Akhante. Dari sana lalu keluarlah ribuan pasukan yang bentuknya aneh-aneh dan tidak biasa. Mereka adalah bawahan dari raja kegelapan yang memang senang dengan kerusakan dan pertumpahan darah Manusia. Tanpa diminta pun mereka akan dengan senang hati memerangi siapapun yang ingin membebaskan kota suci Hilmatiram dari belenggu kesesatan.

Dan terjadilah pertempuran yang dahsyat. Pasukan dari Dimensi lain itu langsung menyerang tanpa ampun dan segera membantai siapapun yang ada di hadapan mereka. Mereka ini sulit untuk dikalahkan kecuali dengan kemampuan yang tinggi. Hanya para kesatria yang sakti mandraguna saja yang mampu menandinginya. Tapi hal itu pun belum cukup, lantaran pasukan kegelapan itu bisa hidup kembali setelah terbunuh. Harus dicari kelemahannya dulu baru bisa benar-benar mati. Dan ternyata itu berada di tangan komandannya. Selama sang komandan masih hidup, maka selama itu pula pasukan kegelapan ini akan tetap hidup dan terus melakukan serangan mematikan.

Maka tiada pilihan lain kecuali bisa mengalahkan sang komandan musuh. Dalam pada itu, Amanta langsung bergerak maju untuk melawan sang komandan yang diketahui bernama Dortal. Kesaktiannya luar biasa, karena itulah Amanta harus mengeluarkan kemampuan tingkat tingginya. Belum ada yang pernah menyaksikan kekuatan yang sebesar itu, dan siapapun yang melihatnya semakin terkesima dengan sang pemudi. Sungguh kesatriawati yang mengagumkan, karena selama pertarungan alam ikut bergejolak, petir menyambar-nyambar dan Bumi terus berguncang. Dan hanya dalam tempo waktu yang tidak begitu lama ia pun berhasil mengalahkan Dortal. Hanya karena umurnya ditangguhkan sampai Hari Kiamat, Dortal masih bisa hidup dan segera melarikan diri. Tapi tidak dengan pasukannya yang akhirnya bisa dibunuh oleh para kesatria di pihak koalisi setelah komandannya itu, Dortal, berhasil dikalahkan.

Ya. Melihat kemenangan Amanta saat itu membuat semua orang dalam pasukannya langsung bersorak-sorak gembira. Mereka begitu senang dan kagum dengan sang pemudi hingga lupa untuk tetap bersikap waspada, termasuklah Amanta sendiri. Nah pada saat itulah, tiba-tiba dari arah Langit muncul serangan yang mematikan. Sang pemudi tak sempat mempersiapkan dirinya. Dan untung saja ada seorang pemuda yang bisa menangkis serangan besar itu dengan sekali kibasan tangannya. Peristiwa itu sangat cepat, sampai tak ada yang sempat menyadarinya. Semua orang hanya bisa terkejut setelah tiba-tiba ada sebuah ledakan besar sementara Kaen sudah berdiri di samping Amanta untuk melindungi tubuhnya. Dan itulah waktu pertama kalinya kedua teruna ini bertemu. Mereka pun saling bertatapan dan sama-sama mengagumi.

Singkat cerita, setelah peristiwa serangan mendadak terjadi, tak lama kemudian muncul sosok yang misterius di angkasa. Ia tak berbicara atau pun tertawa, hanya menatap tajam ke arah Kaen dan Amanta. Melihat itu, Raja Samobala sampai menunduk hormat dan langsung berdiri di samping belakang sosok tersebut – mengambang di udara. Semua pasukannya pun sampai terheran-heran, bagaimana bisa seorang raja selevel Samobala sampai hormat kepada sosok yang baru saja muncul itu. Tak ada yang pernah melihat sosok tersebut, termasuklah orang-orang terdekat dari sang raja. Dan ternyata dia adalah tuannya Raja Samobala yang bernama Gorsade. Ia adalah penguasa kegelapan dari sebuah Dimensi yang bernama Honarti.

Dan terjadilah pertarungan yang sangat mengagumkan. Mengubah-ubah wujud adalah hal yang biasa di antara mereka. Kaen dan Amanta lalu berduet untuk melawan Raja Samobala dan Gorsade. Seperti pernah berlatih bersama, kesaktian dari Kaen dan Amanta langsung bisa menyatu. Sangat kompak dan saling mengisi, benar-benar sepasang. Sehingga ini membuat musuhnya sampai kewalahan dan akhirnya harus mengaku kalah.

Waktu pun terus berlalu. Setelah dapat dikalahkan, Gorsade yang membantu Raja Samobala kabur meninggalkan medan pertempuran. Ia sadar bahwa takkan mampu lagi menandingi kesaktian dari sepasang Manusia pilihan itu. Kekuatannya sungguh luar biasa, dan jika tak segera pergi ia akan menanggung perih yang sangat. Tapi hal ini tidak berarti pertempuran di padang Issanuh menjadi selesai. Sekali lagi ada yang datang membantu Raja Samobala. Sosok yang luar biasa itu bernama Uruktano. Tuan dari tuannya Raja Samobala.

Melihat ada musuh lainnya datang, Kaen dan Amanta segera menghadapinya. Kali ini mereka bertarung kemana-mana di sepenjuru dunia. Tidak semua orang dapat melihat pertandingan itu, karena kecepatan yang mereka keluarkan sangat luar biasa. Hanya suara gesekan dan dentuman yang berulang kali bisa terdengar. Begitu pula dengan beragam ajian dan senjata pusaka yang terus dikeluarkan kesaktiannya. Sungguh pertarungan yang dahsyat melebihi imajinasi banyak orang. Dan untung saja duel itu sering terjadi di angkasa, karena jika tidak maka kehancuran di Bumi akan sangat memilukan.

Ya. Sosok yang bernama Uruktano itu memang lebih sakti dari pada Gorsade. Sehingga wajarlah ia menjadi tuan dari tuannya Raja Samobala. Dan ternyata semua kesaktian yang dimiliki oleh sang raja itu berasal dari Uruktano ini. Hanya saja memang tidak langsung diberikan olehnya, tapi melalui perantara Gorsade yang telah menjadi guru dari sang raja sihir. Karena itulah hal yang membahagiakan bagi Raja Samobala ketika sang mahaguru bersedia datang membantunya. Dihatinya lantas berkata pasti akan menang selama mahagurunya itu ada.

Tapi apa yang diharapkan itu tak sesuai dengan kenyataannya. Mahaguru dari Raja Samobala itu pun dapat dikalahkan oleh sepasang teruna dalam hitungan menit. Tapi tak seperti yang sebelumnya, Uruktano tidak sampai kabur meninggalkan medan pertempuran. Ia tetap di tempatnya dan meminta kepada tuannya untuk datang membalas dendam. Dan hal itu langsung dijawab dengan munculnya sosok yang lebih sakti lagi. Ini jelas terasa dengan tekanan energi yang sangat besar di seluruh lembah Sowara. Setiap orang langsung merasakan hempasan energi yang sangat menyesakkan dada. Bahkan tak sedikit yang sampai muntah-muntah lalu pingsan.

Sungguh, sosok yang bernama Voldor itu jauh berbeda dari siapapun. Melihatnya saja bisa membuat seorang kesatria bergetar ketakutan. Ia tidak berpenampilan menyeramkan, karena justru sangat rupawan bak seorang Malaikat yang turun dari Syurga. Hal ini jelas bisa mengubah hasil pertempuran. Meskipun ada sepasang teruna yang luar biasa menghadapinya, itu tak langsung memberi jaminan akan kemenangan. Sosok Voldor memang sangat luar biasa dan tak bisa diperkirakan lagi. Ia bahkan pernah berulang kali mengalahkan para Dewa yang tinggal di Kahyangan dalam sebuah pertarungan.

Oleh sebab itu, dengan bijaksananya Amanta segera mundur dari pertarungan. Ia sudah tahu batasannya, dan jika tetap memaksa maka itu hanya akan mengganggu Kaen. Dan ia juga tahu bahwa hanya Kaen-lah yang mampu melawan sosok Voldor itu. Di dalam diri sang pemuda ada kekuatan yang belum dikeluarkan. Karena itulah, kemudian Amanta hanya membuatkan pelindung khusus untuk mereka yang ada di medan pertempuran. Siapapun yang berada di dalam kubah  tembus pandang itu akan terlindungi dari kekuatan dahsyat yang dikeluarkan oleh kedua sosok yang bertarung saat itu.

Singkat cerita, di awal-awal pertarungan, Kaen terus mengeluarkan kemampuan yang sebaliknya dari Voldor. Belum ada sama sekali ia menggunakan kekuatan yang sama. Itu saja sudah membuat Voldor kewalahan karena apapun serangan yang ia berikan dapat dipatahkan dengan mudah, bahkan Kaen sampai tak perlu mengeluarkan energinya. Sang pemuda hanya memanfaatkan serangan yang menuju kepadanya lalu segera mengembalikannya kepada si empunya. Ini jelas membuat repot dan bisa memojokkan.

Di lain waktu, Uruktano juga ikut menyerang Kaen dengan kesaktian yang belum pernah di keluarkan sebelumnya. Salah satu kemampuan istimewa darinya adalah bisa menyerap energi dan kekuatan dari musuhnya. Hasil dari serapan itu akan digunakan untuk menambah kekuatan dirinya, sekaligus untuk keperluan menyerang lawan. Karena itulah, tanpa segan-segan lagi ia pun segera menyerap energi dan kekuatan dari para kesatria yang ada di medan pertempuran untuk menambah kesaktiannya. Tapi hal itu tak berlaku bagi Kaen. Kesaktiannya berada di atas level Uruktano, dan ia bisa balik menyerap kemampuan yang dimiliki oleh musuhnya itu. Hanya karena dibela oleh tuannya, Voldor, maka si Uruktano itu tak sampai tewas.

Ya. Apa yang di lakukan oleh Kaen membuat siapapun terheran-heran, apalagi Raja Samobala dan Uruktano yang pernah menjadi seterunya kala itu. Jika orang lain akan berkurang kekuatannya setelah mengeluarkan energi yang besar untuk menyerang, Kaen justru tak terpengaruh sama sekali. Ia tak terlihat melemah, karena bahkan bisa terus meningkatkan kekuatannya tanpa batas. Hal ini sangat tidak wajar, tapi bukan sesuatu yang mustahil bagi seorang yang telah membangkitkan Energi Ilahi dalam dirinya. Sebab dengan begitu ia juga telah menguasai ke 75 jenis energi yang ada dan bisa dengan mudah untuk menggunakannya. Bahkan sebenarnya seseorang telah mengubah dirinya menjadi energi itu sendiri. Sehingga kekuatannya menjadi tak terbatas.

Oleh karenanya, pada saat Kaen mulai menggunakan Energi Ilahi tingkat tingginya, justru penampilannya menjadi sangat biasa. Jika sebelumnya ia mengenakan baju zirah perang lengkap ala kesatria, kini hanya memakai baju biasa seperti para Begawan. Sekilas tak terlihat seperti orang yang sakti mandraguna, karena justru hanya tampak seperti orang awam saja. Dan yang lebih istimewanya lagi adalah bahwa kesaktiannya saat itu tidak bisa lagi di rasakan, bahkan oleh Voldor yang memiliki tingkat kemampuan yang sangat luar biasa. Karena itulah, pada saat Kaen mulai mengeluarkan kemampuan tingkat tinggi dari Energi Ilahi, para Dewa-Dewi di Kahyangan sampai turun ke Bumi. Mereka ingin menyaksikan langsung peristiwa yang agung dan sangat langka itu. Tentang bagaimana Manusia bisa membuktikan keunggulannya dari pada makhluk yang lain.

Dan pertarungan saat itu sulit untuk digambarkan. Kedua kesatria itu tidak lagi bertarung di Bumi ini tetapi di luar angkasa dan Galaksi lain. Bahkan akhirnya sampai harus menembus Langit sebanyak beberapa tingkat. Siapapun yang tinggal di atas sana, yang menyaksikan pertarungan kedua kesatria itu merasa kagum. Hampir tidak pernah terjadi peristiwa yang seperti itu. Tentang bagaimana seorang Manusia yang tinggal di Bumi bisa menembus Langit dengan kesaktiannya. Itu sudah melawan kodrat Manusia pada umumnya.

Ya. Pertarungan terus berlangsung tanpa jeda. Setelah puas di atas Langit, mereka pun memutuskan untuk kembali ke Bumi. Di udara, Kaen lalu melakukan sesuatu yang berbeda. Ia menaikkan level kesaktiannya sekali lagi. Sangat tinggi level ini, hingga akhirnya pertarungan selanjutnya tidak pernah terjadi. Voldor pun telah menyadari akan batasan dirinya. Dan Kaen pun tidak lagi menyerang, karena cukup dengan menunjukkan satu jemarinya saja ke arah Voldor.

Dalam waktu sekejap, tak lama kemudian sang mahaguru kegelapan itu segera mematung. Berbagai kesaktiannya langsung keluar dari tubuhnya dan menghilang, musnah. Sementara itu daya kehidupannya tetap dibiarkan ada, karena demikianlah petunjuk dari Yang Maha Kuasa kepada sang pemuda. Sehingga dengan kekuatan yang tersisa itulah Voldor bisa pulang ke tempat asalnya. Di sana ia kembali menempa dirinya dalam waktu yang sangat lama, sampai akhirnya kesaktian yang luar biasa berhasil didapatkan. Tapi dengan itu pula Voldor akan kembali melakukan kejahatan di Bumi atau di tempat lain. Sungguh takdir kehidupan yang unik dan rumit.

Singkat cerita, setelah Voldor dapat dikalahkan, mau tidak mau pertempuran di padang Issanuh harus berakhir. Tak ada lagi yang berani menantang Kaen, bahkan Raja Samobala pun sangat ketakutan dan ingin kabur dari medan pertempuran. Tapi tindakan itu langsung dicegah oleh Kaen dengan menangkapnya dari jarak jauh. Sang raja langsung diikat dengan sebuah tali khusus yang diberi mantra. Tak ada yang bisa melepasnya kecuali atas keinginan dari Kaen sendiri. Dan sesuai dengan aturan perang di masa itu, maka penguasa kekaisaran Akhante tersebut harus menerima hukuman yang setimpal. Tujuh hari berikutnya ia harus pergi dari dunia ini dengan cara dipancung.

Lalu, dalam kesempatan yang tidak bisa didapatkan setiap harinya itu, Kaen langsung menyampaikan ajaran kebajikan kepada mereka yang berada di padang Issanuh. Dan salah satu yang paling berkesan saat itu adalah ketika sang pemuda berkata: “Bukan karena pedangmu yang menjadikanmu sebagai pemimpin. Bukan pula sebab kekuatanmu. Tetapi bagaimana engkau memerintah jalan pikiran dan hatimu dengan benar“. Sungguh kata-kata yang mendalam dan harus di lakukan oleh setiap orang.

8. Menemukan permata terindah
Kisah pun berlanjut. Setelah pertempuran di lembah Sowara berakhir, tibalah saatnya keputusan akhir harus ditetapkan. Kota Hilmatiram kembali dibebaskan, sementara kekaisaran Akhante harus melepaskan negeri-negeri yang selama ini dikuasainya. Setiap kerajaan itu lalu diserahkan kepada ahli warisnya yang sah. Dan khusus untuk kerajaan Akhante sendiri, maka ditunjuklah seorang wali untuk memimpinnya. Tidak boleh ada kekosongan dalam tahta kerajaan itu, karena akan menimbulkan kegaduhan.

Selanjutnya, setelah semuanya selesai, setiap pasukan yang terlibat dalam pembebasan kota Hilmatiram mulai kembali ke negerinya masing-masing. Sedangkan Kaen justru memutuskan untuk tinggal di kota suci itu sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Selama di sana, ia banyak mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siapapun yang mau. Dan semua orang sangat senang menerima apa saja yang diajarkan oleh Kaen. Karena itulah kehidupan di sana pun menjadi luar biasa, dengan akhlak mulia yang selalu diutamakan. Segalanya diatur dengan sangat baik dan setiap orang merasa bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban dan keharmonisan.

Waktu pun berlalu. Ditengah asyik menikmati suasana alam yang ada di dekat hutan Noren, Kaen sampai mengingat pertemuannya dengan Amanta. Saat itu terjadi di medan pertempuran, ketika mereka harus menghadapi kesaktian dari tuan-tuannya Raja Samobala. Itulah saat pertama kalinya mereka bertemu dan saling bertatapan. Dan entah kenapa sejak saat itu pula Kaen sangat mengagumi sosok Amanta. Belum pernah ia berjumpa dengan wanita yang seperti dirinya, dan hati Kaen serasa utuh saat mengenangnya.

Sungguh, Amanta adalah sosok wanita yang teramat sempurna. Karena selain menguasai ilmu kanuragan dan kadigdayan yang luar biasa, ia juga sangat cerdas dan piawai dalam banyak urusan. Sang pemudi juga ahli dalam membuat syair, memainkan alat musik Nolsin (seruling kecil) dan Seghar (sejenis harpa yang berukuran kecil), dan tentunya ia pandai menari. Tidak kalah dengan para seniman kenamaan, maka kemampuan Amanta dalam bidang seni budaya memang tak perlu diragukan lagi.

Ya. Suatu ketika Kaen pernah mendapatkan kesempatan untuk melihatnya langsung, bagaimana Amanta menari sambil bernyanyi dengan indahnya. Saat itu ia sedang berjalan menyusuri sungai Alban yang berada di pinggiran kota Hilmatiram. Tanpa sengaja di padang rumput yang menghijau itu, Kaen melihat Amanta sedang berwisata dengan teman-teman wanitanya. Atas permintaan dari teman-temannya itu, akhirnya Amanta bernyanyi sambil menari dengan begitu indahnya. Siapapun akan terkagum-kagum saat melihatnya, apalagi Kaen yang memang sejak awal sudah menyukai sang pemudi.

Sungguh, peristiwa itu sangat membekas dihati seorang Kaen. Dan ternyata hal yang sama juga terjadi pada diri Amanta. Diam-diam ia juga sangat mengagumi sosok Kaen. Sejak pertama kali bertemu dengannya, Amanta bahkan sudah jatuh hati. Bukan hanya karena sang pemuda adalah kesatria yang sakti mandraguna, tetapi juga karena ia adalah sosok yang baik hati dan sangat rendah hati. Dengan ringan tangan Kaen terus menyebarkan kebaikan kepada semua orang. Kebijaksanaannya tak perlu diragukan lagi. Siapapun akan menghormati sekaligus mengaguminya. Termasuklah Amanta sendiri. Dan ketika ia sedang mengingat kenangan indahnya selama berinteraksi dengan Kaen, ia pun baru memahami apa yang pernah disampaikan oleh gurunya dulu, Bhatari Milaya. Bahwa di kota Hilmatiram itulah ia akan menemukan permata yang terindah.

Dan ternyata benarlah itu semua. Bahkan tidak hanya Amanta yang bisa menemukan permata terindahnya, sebab Kaen pun sama. Tapi seperti biasanya cinta yang suci, maka kedua teruna ini tetap bersikap malu-malu. Butuh keadaan tertentu atau orang lain yang menjadi perantara bagi keduanya untuk bersatu dalam mahligai pernikahan. Nah itulah yang di lakukan oleh Bhatari Milaya dengan mengirimkan surat cinta kepada Amanta tapi atas nama Kaen. Dengan surat itu, akhirnya mereka berdua saling berbalas kata dan puisi. Hingga akhirnya terbukalah kesempatan bagi Kaen untuk langsung menyatakan cintanya. Amanta pun menerimanya dengan senang hati. Dan setelah 7 bulan kemudian mereka pun akhirnya menikah. Acaranya sangat meriah karena dihadiri oleh para Malaikat, Nabi, Dewa-Dewi, dan Begawan yang termasyhur.

9. Penataan kota suci
Kota Hilmatiram adalah pusat dari kerajaan Astanlaya. Dibangun oleh bangsa Asyilam pada sekitar 30.000 tahun sebelum direbut oleh Raja Samobala. Sebuah kota yang luar biasa indahnya dan tertata rapi. Melalui sentuhan seni dan arsitektur yang tinggi, kota tersebut laksana Syurga yang diturunkan ke Bumi. Dimana-mana banyak taman yang dihiasi oleh beragam bunga warna-warni dan pohon buah-buahan. Hal ini membuat setiap mata yang melihatnya langsung terpesona. Belum lagi dengan begitu banyaknya sungai yang mengalir jernih dan telaga bening yang menyegarkan saat airnya diminum langsung. Pun ada banyak bukit yang menghijau, dan gunung-gunung bersalju yang aktif dan tidak aktif. Disanalah tempat hidup beragam jenis flora dan fauna. Sungguh luar biasa dan menambah keindahannya.

Selain itu, kota ini juga sangat makmur karena menghasilkan beragam jenis hasil pertanian dan perkebunan yang berlimpah. Lalu karena terdapat padang rumput yang luas dan sungai-sungai yang mengalir bersih, di negeri itu juga banyak menghasilkan hewan ternak dan ikan segar. Sebagian dari komoditi itu lalu di ekspor ke luar negeri, ke beberapa kerajaan yang telah lama menjadi sahabat. Keuntungan dari perdagangan itu semakin memperkaya negara Astanlaya. Kehidupan penduduknya pun tetap sejahtera, tak kurang apapun juga. Sampai akhirnya semua itu berubah sejak kedatangan bangsa Akhante. Terlebih setelah kota suci Hilmatiram itu dipenuhi oleh kesesatan dari Raja Samobala dan pengikutnya.

Tapi semuanya pun kembali normal setelah pertempuran akbar di padang Issanuh berakhir. Dan berdasarkan petunjuk Ilahi, kota yang bernama Hilmatiram itu lalu diganti namanya oleh Kaen menjadi Almatiram atau yang berarti suci dan menyatukan. Sistem ketatanegaraan pun diatur ulang, disesuikan dengan hukum Tuhan yang dibawa oleh Nabi Syis AS. Di sana pun tidak ada lagi jabatan raja, tetapi hanya seorang Haran (semacam walikota) yang diberi amanah untuk menjaga dan mengurus negeri Almatiram dengan baik. Siapapun berhak untuk datang dan tinggal di sana, dengan catatan hanya untuk tujuan yang baik.

Ya. Seiring berjalannya waktu, Almatiram tumbuh menjadi sebuah kota yang sangat indah alami dan damai. Siapapun yang tinggal disana, atau sekedar berkunjung, akan merasakan kebahagiaan yang tidak bisa di dapatkan di tempat lain. Suasananya membuat hati merasa tenang dengan segala bentuk kehidupan yang harmonis. Dan meskipun peradaban yang dibangun di sana tinggi, maka penduduknya tidak larut dalam kesenangan duniawi. Mereka telah menjadi pribadi yang sadar diri dan penuh dengan kebijaksanaan. Suatu keadaan yang memang seharusnya ada di sebuah kota suci.

Dan khusus untuk daerah seluas ±10 kilometer persegi dari pusat kota Almatiram, tepatnya dari bangunan Ka’bah, tidak ada bangunan apapun di sana kecuali gedung-gedung tempat peristirahatan (resort). Tidak ada pula rumah-rumah penduduk atau pasar. Semuanya dibiarkan tetap alami dengan perawatan yang sangat baik. Karena itulah, siapapun yang berada di sana untuk tujuan beribadah atau melakukan kegiatan positif lainnya bisa merasa khusyuk dan damai. Seseorang akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan yang semestinya. Demikianlah yang seharusnya terjadi di sebuah kota suci. Sedangkan pusat negara/pemerintahan dan tempat tinggal penduduknya dibangun di luar radius 10 kilometer dari Ka`bah. Di sana mereka bisa menjalani hidup dengan normal dan berbahagia.

Catatan: Tidak menutup kemungkinan bahwa keadaan seperti yang dijelaskan di atas akan terulang kembali, khususnya di zaman yang baru nanti (Hasmurata-Ra). Sejak saat itulah, siapapun yang berada di kota suci Makkah akan merasakan keindahan yang nyata. Dan kini pun tanda-tandanya sudah terlihat, dimana kawasan Arab Saudi sudah mulai menghijau kembali.

Demikianlah bentuk kehidupan di kota suci Hilmatiram yang telah berganti nama menjadi Almatiram. Hal ini sesuai pula dengan pesan dari Kaen Urama tidak lama setelah membebaskan kota tersebut. Di hadapan semua orang ia pun berkata: “Wahai semuanya. Di dunia ini kita harus menjalani kehidupan yang lengkap. Caranya dengan terus berbakti, sampai akhirnya bisa merasakan keberadaan Tuhan. Caranya dengan terus mencari, sampai akhirnya bisa menemukan Tuhan di dalam diri sendiri. Caranya dengan melakukan perbuatan baik dan terus mengikuti kehendak-NYA secara tulus, hingga akhirnya bisa mengenali Diri-NYA dengan benar.

Maka jadilah sosok yang sadar diri dengan terus mengusahakannya. Jangan pernah berhenti. Belajarlah untuk melepaskan hasrat keinginan dengan tidak memujanya. Cukupkanlah kebutuhanmu seperlunya saja, jangan berlebihan. Dan ingatlah bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara. Ada bekal yang harus dipersiapkan kini untuk kehidupan yang abadi nanti (akherat)

Sungguh nasehat yang mendalam dan perlu diikuti oleh banyak orang. Tidak hanya berlaku di masa itu saja, tetapi sampai akhir dunia nanti.

10. Akhir kisah
Sejak perang dahsyat di padang Issanuh berakhir, kondisi dunia tetap aman dan stabil selama puluhan tahun. Setiap kerajaan bisa hidup dalam kemakmuran tanpa perang. Oleh sebab itu, ini menjadi batas waktu bagi Kaen Urama untuk kembali merenungi tentang jalan hidupnya. Setelah berdiam diri (semedhi) selama beberapa waktu, ia pun mendapatkan petunjuk untuk kembali ke negerinya di Arudala (penamaan Nusantara kala itu). Bersama istri dan ketiga anaknya, dua bulan kemudian ia pun pergi meninggalkan kota suci Almatiram. Ini harus di lakukan karena memang begitulah petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Dan ketika sampai di lokasi tujuan, Kaen tidak pernah menuntut haknya sebagai pewaris yang sah di kerajaan Kaliyata (kerajaan bapaknya). Ia memilih untuk membangun kediamannya sendiri, di sebuah lembah yang diberi nama Alwari. Di sana, di kaki gunung Harima itu, atas permintaan dari orang banyak ia dan istrinya lalu memberikan pelajaran tentang berbagai keilmuan.

Ya. Banyak murid yang berguru kepada Kaen dan Amanta. Dari berbagai ras dan bangsa di dunia. Mereka lalu mendapatkan apa yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dan jika mereka tekun, maka sang guru tidak keberatan untuk memberikan pengetahuan yang tidak biasa, bahkan rahasia. Meskipun tetap sangat selektif dalam menerima murid, kedua suami istri tersebut dikenal dengan kebaikan dan kemurahatiannya.

Sungguh, kehidupan di tempat Kaen dan Amanta tinggal itu sangatlah asri. Kecuali bangunan rumah dan asrama para siswa, maka semuanya dibiarkan tetap alami. Karena itulah di waktu-waktu tertentu sampai dijadikan tempat untuk menenangkan diri oleh banyak orang. Di lain waktu juga diadakan pertemuan khusus yang diikuti oleh para kesatria, raja/ratu, dan Begawan. Beberapa hal akan dibahas dalam pertemuan itu. Dan sebagai puncaknya, kepada Kaen selalu dimintakan untuk memberikan wejangan. Lalu dari sekian banyak hal yang pernah disampaikan olehnya, ada satu hal yang sangat menarik. Kaen Urama pernah memberikan wasiat penting dengan berkata:

Asyirahayun karuyatwa daftakali niwatanu alsaharisa yolandaka. Neratana kalonahiyan bisharu na’indala yahuyata billahiyas moyakuweru syahijam. Lasyatina rus aneharatu Niela 01, Siera 05, Kieda 07, Yiena 09, ast Ziega 03 namoram tenuyatwel hurakasya. Yisatarung dataruniwa sehagharani 103-759-246-801-019 benaratih alwaniyattu hadam.

Wahadunya lamusarita nanhadoka Sri Maharaja Alhattanarasya huringgana biyastani murakallahiyah. Neyan harimantaba disyam Malaik, Jiin, Pri, Cintura, Karust, Hiwan, Nal, Dev, Bhat, Sihara, Birmanu, Nura, Ainur, Nurrataya, Arnu, Hiir, Wiltra, Riltan, Walluha, Maltasi, Rihasa, Himasya, Syilha, Kalsun, Mighal, Zenara, Rastu, ast Hismal. Yamodala ruwennuri sojanam alhikanuya baniratanam taronabisam

Wasiat itu disampaikan dihadapan para raja/ratu, kesatria, dan Begawan tepat pada saat purnama di bulan Asaga. Setiap kata-katanya berlaku tidak hanya untuk di zaman itu saja, tapi bahkan sampai di masa kini. Dan ternyata itu adalah pesan terakhir yang disampaikan oleh Kaen Urama bagi semua orang. Karena beberapa bulan kemudian ia dan istrinya berpindah tempat kehidupan. Keduanya moksa setelah merasa cukup dengan tugasnya di Bumi. Tinggalah ketiga anaknya yang tetap meneruskan apa yang sudah mereka perjuangkan. Dan ini terus berlanjut sampai ke beberapa generasi berikutnya.

Demikianlah kisah ini berakhir. Semoga bermanfaat. Rahayu.. 🙏

Jambi, 23 Maret 2019
Harunata-Ra

Catatan:
1. Ada banyak hal yang tak bisa disampaikan disini karena memang harus dirahasiakan dulu, belum waktunya untuk disampaikan sekarang. Maaf.
2. Seperti artikel sebelumnya, silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Kami tidak akan memaksa atau merasa kecewa. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
3. Bacalah dengan tenang dan terurut kisah ini. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahaminya. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat banyak perbedaannya.
4. Tetaplah mempersiapkan diri dan terus saja bersikap eling lan waspodo. Karena apa yang pernah terjadi di masa lalu bisa saja terjadi lagi di masa sekarang. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

38 tanggapan untuk “Kaen ast Amanta : Cinta dan Perjuangan

    1. Dengan penuh kesadaran bisa mengenali siapakah dirinya sendiri dan siapa pula Tuhan yang sebenarnya. Itulah tujuan yang seharusnya. Karena kebersatuan itu adalah hal yang paling indah, damai dan membahagiakan,, inti dari ilmu yg diajarkan nabi syis, kereeennn

      1. Apa yang disampaikan oleh para Nabi itu pada dasarnya sama.. Di antaranya ttg mengenal diri dan Tuhan.. Jelas, ini kereeen bingiiit.. 🙂

        Terima kasih mas Delphi karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

    2. Nggih sami2lah mbak Asyifa.. Kita bareng2 sinaunya.. Nuwun juga ya karena masih mau berkunjung.. Semoga ttp bermanfaat.. 😊🙏

  1. Kang oedi menurut panjenengan siapakah batara yang pasasanganya /istrinya hasil dr ciptaanya sendiri (sabdanya) ?klo dr pewayanigan ada batara yg istrinya dr ciptaanya sendiri.
    Krna bln kmrin sy dpt ilham sy di ajak jalan jalan sama seorang batara beliau menunjukan istrinya itu ciptaanya dan mempunyai 3orang anak yg slh satunya mempunyai tangan 4 .cuma di ilham itu bathin sy mengenal batara itu sebagai batara wisnu .
    Bgmn menurut kang oedi?

      1. Terima kasih atas kunjungannya mbak Kuntidewi, semoga bermanfaat.. 😊🙏

        Oh ya, btw waktu apa yg telah tiba itu mbak?

      2. Dan terimakasih banyak tuk informasinya , sangat – sangat bermanfaat. Mudah2an akn semakin bnyak lg saudara2 kita yg mau blajar tuk segera berbenah dn jg mau belajar lebih baik lg tuk bisa memahami apa yg sedang panjenengan coba sampaikan di sini, sehingga mereka bisa terijinkan untuk bs sampai pd yg namanya hakekatnya rahsa.

      3. Iya mbak sama2lah.. syukurlah kalo bermanfaat.. dan semoga ada banyak yg bisa memahami apa yg sebenarnya dimaksudkan dalam kisah di atas.. Memang waktunya sudah semakin dekat.. 🙂

      4. Mas nya bener banget. Krn tdk mudah dn bukan hal yg mudah tuk bs memahami pesan inti dn rahasia serta maksud yg tersembunyi yg pd sebenarnya benar dr tulisan2 dn kisah2 yg mas nya sampekan ini. Sy sng mbaca tulisan2 mas nya , sangat lah berfaedah. Energinya sdh sangat terasa sekali, dn semakin dashyat sj ……

      5. Syukurlah mbaknya sudah mengerti.. Semoga bisa memahami makna tersirat itu seperti melihat permata dari atas air yang bening.. Dan sekali lagi nuwun bgt karena mau baca kisah-kisah yang di share di blog ini.. Ikutan seneng deh kalo bisa merasakan energinya.. 🙂

  2. Wuiihh……dalam banget maknanya mas nya. Sy tdk tau maksud tersirat dri spt melihat permata dari atas air yg bening, sy hny akn tau maknanya hny jika Yang Maha Kuasa sajalah yg tlh mengijinkan sy maka tentu tdk akn sulit bgi sy tuk menemukan jwbnya. Apa pun jwbnya tentunya smua itu berasal hny dri sisi dan rahmat Yang Maha Kuasa sj . Meskipun sy paham tp tdk boleh sy tuliskan di sini kr hal itu ranahnya sdh ke arah yg rahasia. Bukan begitu , mas …….??!!

    1. Hehe.. dalem yah? kayak sumur dong.. 🙂

      Ya kalo sudah waktunya dan DIA mengizinkan, mbaknya akan tau kok, sejelas melihat permata dari atas air yg bening kok..

      Betul mbak, memang sebaiknya apa yg udah dipahami dari tulisan ini gak perlu disampaikan disini.. Bukan tempatnya juga.. 🙂

      1. karena ,, Percaya itu bukan di suruh tuk percaya, tetapi percaya itu berangkat dn berasal dri hati yg bersih, serta dri kesadaran diri dn pribadi yg suci sehingga kita mendapatkan ijin dr Sang maha hidup tuk bersaksi atas kebenaranNya..🙏🙏🙏

    2. Hehe.. dalem yah? kayak sumur dong.. 🙂

      Ya kalo sudah waktunya dan DIA mengizinkan, mbaknya akan tau kok, sejelas melihat permata dari atas air yg bening kok..

      Betul mbak, memang sebaiknya apa yg udah dipahami dari tulisan ini gak perlu disampaikan disini.. Bukan tempatnya juga.. 🙂

    1. Walah nyante aja mbak, gak usah sungkan.. bahkan kalo gak percaya juga gak apa2.. Tugas saya bukan untuk bikin orang percaya, saya cuma menyampaikan dan mengingatkan aja kok.. semuanya kembali ke diri masing2.. 🙂

      1. Memang benar, dn sy jg tdk akan memaksa mas nya tuk percaya dg apa yg sy sampekan ini. Krn smua itu kembali ke dlm diri msg2. Cukuplah Yang maha Kuasa sajalah , sang waktu dn alam semesta yg akan membenarkan kata2 sy ini.☺️🙂🙂🙏🙏🙏

      2. Waaahhh ,, nyante aja mas ……,, Sy ini bkn org pintar jd gak perlu salut gt. Biasa aja. Yg pantas dn yg paling berhak tuk mendpt sanjungannya mas nya ,, itu ….. Adlh Yang Maha Kuasa sj. Sy di sini bkn siapa2 dn bkn apa2 mas……. , mgkn pas lg kebetulan aja 😇😇

  3. karena ,, Percaya itu bukan di suruh tuk percaya, tetapi percaya itu berangkat dn berasal dri hati yg bersih, serta dri kesadaran diri dn pribadi yg suci sehingga kita mendapatkan ijin dr Sang maha hidup tuk bersaksi atas kebenaranNya..🙏🙏🙏

  4. Khusus utk mas Ajar Wedhatama, jika membaca ini, mohon maaf karena komentar sampeyan gak sengaja terhapus tadi.. jadi disini aja saya kasih balasannya.. 😊🙏

    Iya mas, saya ttp berusaha utk berbagi. Sampai kapan? saya belum tau, mudah2an gak lama lagi… Dan semoga kita bisa menikmati hal yg sama nanti, di kota yg sama… karena waktunya emg semakin dekat.. Mari ttp bersiap-siap dan ttp eling lan waspodo.. 😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s