Diposkan pada Adventure, Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Mallagur : Kawah Candradimuka Para Kesatria

Wahai saudaraku. Dalam kesempatan ini sekali lagi kami akan menyampaikan sebuah kisah masa lalu yang mungkin tidak pernah diketahui selama ini. Sebab jarak waktu yang begitu jauh, kisah ini telah “menghilang” dalam ingatan dan catatan formal. Tak ada lagi yang tahu, dan hal ini terjadi pada periode zaman ke lima (Dwipanta-Ra), lebih tepatnya di masa akhir zaman tersebut. Kisah ini berlangsung lama dalam rentang waktu jutaan tahun.

Nah untuk lebih jelasnya mari ikuti ceritanya berikut ini:

1. Awal kisah
Pada masa itu kehidupan di muka Bumi ini tidak hanya diisi oleh Manusia, Hewan dan Tumbuhan saja, melainkan juga ada bangsa Peri, Cinturia, dan Karudasya. Semua golongan makhluk hidup itu menjalani kodrat kehidupannya masing-masing. Kadang mereka saling berinteraksi dan bekerjasama, tapi tak jarang pula mereka justru saling bermusuhan dan bertikai. Demikianlah Hyang Aruta (Tuhan YME) mengatur kehidupan dunia ini dengan beragam warna-warninya, banyak ujian dan tantangan yang harus dihadapi oleh siapapun yang hidup di atas Bumi.

Waktu pun berlalu dan kehidupan di Bumi terus silih berganti dalam kedamaian dan kegaduhan. Dan pada suatu masa, ketika sering terjadi kegaduhan di seluruh dunia, maka muncullah ide untuk mencari sosok pemimpin tertinggi yang dirinya adalah yang terbaik dari semua orang. Cara yang dipilih pada saat itu adalah dengan menentukan syarat khusus bahwa siapapun itu maka dia haruslah sosok yang punya pengetahuan yang luas dan berilmu tinggi. Dari semua calon, yang akan terpilih sebagai pemimpin adalah yang paling cerdas dan sakti mandraguna. Dia harus bisa mengalahkan semua calon yang ada – sebaiknya tidak sampai membunuh, baik dari golongan Manusia atau Peri, Cinturia, Karudasya, bahkan Hewan dan Tumbuhan. Dan ketika ia diangkat sebagai pemimpin tertinggi, maka ia akan mendapat gelar khusus sebagai Hattar atau yang berarti yang dipertuan agung dan mulia. Selama menjabat, seorang Hattar tidak boleh memihak dan ikut campur dalam urusan politik dan kekuasaan. Ia harus bertindak sebagai seorang hakim yang bijak dan waskita. Harus netral, dan hanya dalam kondisi tertentu saja seorang Hattar akan turun tangan langsung ke medan perang. Tujuannya jelas hanya untuk kembali mendamaikan dunia.

Catatan: Pada masa itu di antara Hewan dan Tumbuhan ada yang bisa berbicara dan bergerak layaknya Manusia. Mereka juga memiliki kecerdasan dan kesaktian yang setara dengan para kesatria dari golongan Manusia, bahkan ada yang melebihinya. Nah, Hewan dan Tumbuhan yang bisa bersikap seperti Manusia ini biasanya adalah para pemimpin dari kaumnya.

Nah untuk melaksanakan itu semua, setelah melakukan olah batin tertentu, maka didapatkanlah sebuah tempat yang pantas. Tempat itu adalah sebuah kawah dari gunung raksasa yang telah lama meletus. Lokasinya terletak di sebuah kawasan netral yang berada di Selatan, di sebuah pulau besar bernama Soumel. Tidak ada kerajaan disana, dan kondisinya masih dipenuhi oleh hutan, lembah, padang rumput, perbukitan dan pegunungan tinggi, serta sungai-sungai dan danau yang jernih. Di sebuah kawah yang diberi nama Mallagur, maka disanalah tempat yang dijadikan lokasi untuk mengadakan ujian khusus bagi para kesatria terbaik. Pesertanya boleh siapa saja, tak memandang golongan dan dari mana ia berasal. Yang penting ia layak untuk mengikuti ujian kecerdasan, ketangkasan, dan kesaktian yang diberikan. Dan jelas bahwa tidak semua orang yang bisa memenuhi persyaratan itu. Hanya kalangan tertentu saja yang bisa.

2. Cinta yang tak mudah
Di antara kisah-kisah agung yang sampai kepada kita, maka ada satu yang sangat menyentuh. Di tengah-tengah kesedihan dan derita ia juga membawa suka cita, dalam jaring-jaring maut dan kegelapan ia memancarkan cahaya harapan yang tak pernah padam. Dan dari banyak sejarah masa lalu, maka kisah Arsal dan Naorin termasuk yang terindah. Riwayat mereka pun diceritakan dalam sajak panjang Mijarulah dan nyanyian syahdu Waridyam.

Kisah ini terjadi setelah kerajaan Matterama berpindah ke Dimensi lain. Setelah 5.000-an tahun berlalu, di sebuah negeri yang bernama Inhava (negeri di sebelah timur kerajaan Matterama) hiduplah seorang pemuda yang sederhana bernama Arsal. Ketika ia telah memasuki usia yang ke 35 tahun, cinta yang suci telah mencengkeram hatinya. Itu terjadi pada suatu hari di pinggiran hutan Wardu yang rindang Arsal melihat seorang gadis yang begitu rupawan. Di saat ia sedang mencari buah-buahan hutan untuk keluarganya, dari kejauhan ia mendengar suara nyanyian yang begitu merdu. Belum pernah ia mendengar yang seperti itu.

Gadis tersebut bernama Naorin, putri Raja Galatur, sang penguasa kerajaan Inhava. Dalam pandangannya, Arsal tak pernah menyaksikan yang seindah Naorin. Ia pun begitu terpesona saat melihat sang gadis tengah asyik menari dengan lincah dalam suka cita. Di rerumputan yang tak pernah layu di perbatasan lembah Kain itu, gemulainya Naorin tak terbandingkan. Sosoknya tidak hanya cantik, tetapi juga ayu dan sangat anggun. Maka seluruh kenangan pahit dalam hidup Arsal segera lenyap, digantikan dengan kebahagiaan. Dia pun terjatuh dalam pesona Naorin, sebab Naorin adalah yang paling rupawan dari semua wanita. Biru kehijauan warna bajunya memang terlihat begitu indah, tapi wajahnya yang menawan dan senyumannya yang ceria jauh lebih indah. Jubahnya yang dihiasi motif bunga warna-warni terlihat sangat elegan, sesuai dengan jati dirinya yang memang seorang putri kerajaan.

Namun disaat Arsal tengah menikmati anugerah itu, seorang pengawal yang baru tiba memberikan isyarat agar sang putri pergi. Bersama dua orang pelayan dan para pengawalnya yang berpakaian menyamar, Naorin beranjak pergi dengan mengendarai Gunsak (hewan sejenis kuda tapi bertanduk). Meninggalkan Arsal yang masih seperti orang yang terpasung mantra, dan untuk beberapa waktu belum menyadari bahwa semua yang ia saksikan itu bukanlah mimpi.

Maka sejak pertemuan itu, Arsal terus mengenang wajah Naorin. Ia bahkan sampai mengembara dan mencari-cari dimanakah sang pujaan hati berada. Tapi sebagai orang pelarian, Arsal tak bisa bebas memasuki kota-kota yang ada di semua kerajaan. Meskipun ia bukanlah orang yang bersalah, maka tak ada pilihan selain menghindari sergapan atau jebakan dari mereka yang menginginkan kematiannya. Dan Arsal bukanlah orang biasa. Ia adalah keturunan bangsawan tinggi kerajaan. Kakeknya adalah seorang raja di Unmar (sebuah negeri yang berada di Timur Laut-nya Inhava) yang digulingkan kekuasaannya oleh menterinya sendiri. Dalam kondisi terluka dan terkena racun, maka sebelum wafat raja dan keluarganya masih sempat melarikan diri keluar kota. Sejak saat itulah mereka jadi orang pelarian, dan pembunuh bayaran suruhan menteri yang berkhianat terus memburu mereka dengan semangat.

Ya, tak ada pilihan bagi Arsal dan keluarganya selain terus mengembara dari hutan ke hutan, dari satu negeri ke negeri lainnya. Mereka terus menyamar dan tak pernah sekalipun menunjukkan jati dirinya. Hanya di antara mereka saja yang tahu siapakah diri mereka sebenarnya demi keselamatan bersama. Dan ini terus berlangsung selama puluhan tahun. Sampai akhirnya Arsal bertemu dengan Naorin yang langsung mengikat hatinya. Pertemuan itu mengubah segalanya, khususnya jalan hidup dari sang pemuda.

Lalu pada suatu sore menjelang malam musim bunga, Naorin kembali bernyanyi di sebuah puncak bukit hijau. Lagunya syahdu dan menyentuh hati, yang tumpah ruah di antara bulan dan bintang-bintang yang mulai menampakkan diri. Diiringi tarian, Naorin terus melepaskan pesona yang tiada taranya. Ada cahaya terang yang tak bisa dijelaskan dari dalam tubuhnya. Dan untuk kedua kalinya Arsal terpesona saat mendengarkan nyanyian dari sang putri jelita. Tapi ketika melihatnya menari dalam gemulai yang indah, Arsal terbebas dari sihir kebisuan dan ia segera memanggil Naorin dengan nama yang lain. Arsal memang tak tahu siapakah nama dari sang putri, karena itulah Naorin dipanggilnya Melian atau yang berarti cantik jelita. Dan sejak itu bunga-bunga dan hutan-hutan pun mengumandangkan nama yang indah itu. Nama Melian pun menjadi perlambang bagi siapapun wanita yang anggun dan mempesona.

Maka Naorin tak menari lagi. Ia berhenti dan anehnya kali ini ia tidak ditemani oleh para pelayan atau pengawalnya. Sang putri hanya terdiam dan tetap ditempatnya dengan tatapan yang penuh keheranan. Dan ketika ia melihat Arsal lebih jelas, maka takdirnya telah ditentukan. Naorin mencintai sang pemuda tapi ia sengaja meloloskan diri dari pelukan Arsal, lenyap dari pandangan seiring malam yang kian terasa dingin. Dan Arsal langsung terdiam tak percaya. Ia terduduk lemas seperti orang yang menanggung kebahagiaan dan kesedihan sekaligus. Hatinya terasa hampa dan merana, tubuhnya pun mulai sedingin batu. Benaknya terus mengembara dan ia menggapai-gapai seperti orang yang mendadak buta dan ingin tetap berjalan demi menangkap cahaya yang telah hilang.

Dengan cara begitu Arsal mulai membayar derita dan kesedihan yang panjang atas takdir yang ditentukan baginya; dan Naorin pun terikat dengan jaring-jaring takdir itu. Dan selanjutnya penderitaan yang harus dirasakan oleh Naorin tak kalah hebatnya. Karena tanpa disangka sang putri kembali ke tempat dimana ia pergi meninggalkan Arsal tanpa sepatah katapun, namun sang pemuda sudah pergi. Dan lama berselang waktu batinnya tersiksa lantaran rasa rindu dan penyesalan. Seberapapun kuatnya ia ingin bertemu dengan Arsal, tapi nasib tak kunjung mengabulkannya. Harapan kian menjauh dan mulai terasa akan sirna.

Tapi disaat rasanya tak ada lagi harapan, justru disanalah keinginan bisa terwujud. Tanpa di sengaja, ketika menikmati indahnya bunga-bunga di pinggiran hutan Wardu yang menghijau, Naorin menemukan kembali cintanya. Di tempat yang sebenarnya adalah lokasi pertama kalinya mereka bertemu, Naorin kembali melihat Arsal yang duduk di tepian sungai. Tanpa menunda waktu lagi, disanalah mereka akhirnya bertegur sapa dan kian terikat dalam asmara. Canda tawa dan suka cita pun terus mengiringi pertemuan itu. Setelahnya, kerap kali mereka bertemu di tempat itu, dan diam-diam mereka pergi menyusuri luasnya hutan dan lembah bersama-sama. Dan tak ada yang merasakan suka cita yang sebesar itu, walaupun tak seberapa lama karena ujian hidup bagi orang yang terpilih tidaklah mudah.

3. Tantangan dan perjuangan
Negeri Inhava adalah tempat dimana kekayaan alam sangat berlimpah. Kehidupan rakyatnya makmur, sehingga tak pernah ada masalah yang pelik terjadi disana. Tapi seiring waktu berlalu, kemakmuran yang dirasakan itu telah memalingkan hati para pembesar kerajaan dari jalan kebenaran. Meskipun tidak dengan terang-terangan, banyak dari mereka yang telah menjadi ahli bayang-bayang dan ilusi, licik dan tindak-tanduknya memuakkan. Para pemimpinnya sering memelintir kata-kata yang baik, dan kekuasaannya menjadi ancaman dan kesedihan.

Sungguh, mereka tampil dengan gaya yang mengecoh mata, sementara lidahnya penuh dusta dan senang memberi janji-janji palsu. Tak jarang pula mereka menyebarkan fitnah untuk menjatuhkan atau agar lawan politiknya menjadi rusak nama baiknya. Para pemimpin mereka serakah dan suka saling mengkhianati. Mereka larut dalam kesenangan duniawi, dan rela menempuh cara apapun demi memenuhi apa yang menjadi hasrat keinginannnya. Tak peduli lagi dengan yang benar atau salah, halal atau haram. Dan karena terus disampaikan berulang kali, maka kebohongan yang ada akhirnya menjadi kebenaran bagi banyak orang. Para pengikut sang pemimpin atau pembesar yang busuk itu bahkan rela mati demi membela tuannya. Sangat disayangkan dan konyol.

Demikianlah realitas yang terjadi di kerajaan Inhava, negeri dimana Naorin tinggal dan menjadi putri raja di sana. Keadaan yang memilukan itulah yang membuat sang putri merasa tidak betah di istana dan lebih senang berada di luar kota, menyatu dengan alam bebas yang alami dan bersih. Dan ketika ia telah berkenalan dengan Arsal, maka sejak saat itu pula ia bisa merasakan kemerdekaan. Dengan mata batinnya, sang putri bahkan mampu melihat kedepan bahwa hanya dengan bersama Arsal sajalah kelak ia bisa mengarungi hidup dengan rasa senang. Meskipun harus menempuh banyak derita, tapi ia akan tetap merasa puas dan bahagia.

Dan babak baru dalam hidup Naorin akhirnya di mulai. Kepada ayahnya, Raja Galatur, sang putri membicarakan keinginannya untuk pergi berpetualang. Ia ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia ini dan mendapatkan pengalaman yang berharga. Tapi permintaan itu langsung ditolak, bahkan sang putri dibatasi untuk sekedar berlibur ke luar kota. Jika ia pergi ke hutan atau lembah, maka harus diikuti oleh para pelayan dan pengawal. Dengan ketat ia akan terus diawasi, dan tak ada yang boleh mendekatinya. Hal ini jelas membuat Naorin semakin tersiksa. “Apa bedanya diriku dengan tawanan?” Demikianlah sang putri sering berkata lirih di dalam hatinya.

Sampai pada suatu hari ketika Naorin diizinkan keluar istana, ia pergi ke tempat biasanya dia bertemu dengan Arsal. Tanpa sepengetahuan dari para pengawalnya, bersama dengan Arsal ia lalu berkuda ke arah selatan dengan maksud untuk melintasi lembah Diyat, menyusuri padang rumput Seandal, dan menyeberangi sungai Dalma. Itu adalah jalur paling pintas menuju Dalgone, tempat paman dari pihak ibunya, yaitu Raja Halmar bertahta. Dengan cepat mereka terus bergerak selama berhari-hari, berharap bisa melewati jalur tersebut dengan aman, sebab jalur itu letaknya dekat perbatasan Naule, wilayah kerajaan Defarak yang kerap tak bersahabat dengan tamu.

Singkat cerita, tibalah kedua sejoli itu di istana Raja Halmar. Mereka disambut dengan baik, dan sang raja bersedia untuk melindungi keduanya jika nanti sang penguasa Inhava, Raja Galatur, sampai murka. Dan benar, selang beberapa waktu kemudian akhirnya Raja Galatur mengetahui dimana keberadaan puterinya itu. Sebab Naorin amat disayanginya melebihi apapun, ia bahkan datang sendiri ke istana Raja Halmar untuk menjemput anak gadisnya. Dengan nada emosi ia bahkan menuduh penguasa Dalgone itu telah berbuat jahat dengan menyembunyikan puterinya. Tanpa sadar kata-kata yang kasar pun sampai terucapkan. Kata-kata yang sebenarnya tak pantas keluar dari mulut seorang bangsawan.

Tapi, dengan tenang Raja Halmar tidak terpancing. Ia bahkan langsung bersilat lidah (diplomasi) dan membujuk kerabatnya itu agar tidak marah. Dengan berbagai dalih, ia juga mengusulkan untuk menerima kisah cinta antara Naorin dan Arsal. Namun Raja Galatur tak sudi menerima nasehat itu. Terlebih Arsal sendiri bukanlah siapa-siapa. Ia bukan dari kalangan pangeran yang terkenal atau pun raja yang terhormat. Sang pemuda hanyalah seorang yang “kabur kanginan” dan belum pula ada jasa-jasanya yang membanggakan yang pernah terdengar. Sehingga dengan tatapan yang mencemooh Raja Galatur sangat tidak menyukai Arsal. Kebencianpun semakin terasa, karena baginya Arsal sungguh tidak pantas untuk bersanding dengan puteri yang paling rupawan, yang menjadi permata terindah di Inhava. Dan dengan begitu maka tanpa pikir panjang sang raja langsung menghardik Arsal berulang kali, tak mau menerima cinta sucinya apapun alasannya.

Namun Raja Halmar tak putus asa. Ia bisa melihat ketulusan cinta antara Arsal dan Naorin. Ia juga telah melihat bahwa suatu saat nanti kedua sejoli ini punya andil yang sangat penting bagi dunia. Namun hal itu bisa terwujud hanya jika keduanya tetap bersatu. Namun karena Raja Galatur tetap saja dengan pendiriannya, maka dipilihlah cara yang terakhir. Arsal harus memenuhi syarat yang diberikan oleh Raja Galatur, apapun bentuknya.

Dan syarat itu adalah bahwa Arsal harus menjadi pemenang dalam ujian para kesatria di pulau Soumel, tepatnya di Kawah Mallagur. Artinya, jika Arsal mampu menjadi yang terbaik dalam kompetisi tersebut dan terpilih sebagai Hattar (gelar untuk pemimpin tertinggi para kesatria), maka ia baru akan diterima sebagai menantu oleh Raja Galatur. Bahkan sang raja pun bersedia untuk mencuci kaki dan mengabdi kepada sang pemuda jika memang nantinya ia dilantik sebagai Hattar. Tanpa hal itu seharusnya Arsal mundur dan tak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya. Ia harus melupakan Naorin dan segera mengasingkan diri dengan tinggal jauh dari peradaban Manusia.

***

Kisahpun berlanjut. Entah karena yakin bisa atau justru hanya lantaran telah di mabuk oleh asmara, Arsal pun menyanggupi syarat dari Raja Galatur. Meskipun itu adalah permintaan yang teramat sulit, ia bahkan berkata: “Wahai raja, jika itu yang tuan inginkan, aku akan memenuhinya. Seberapapun sulitnya, maka aku takkan gentar atau bersikap seperti pengecut yang bertemu hantu. Pertemuan kita kali ini bukanlah yang terakhir. Dan saat kita bertemu lagi nanti, maka penuhilah semua janjimu. Dan ketahuilah bahwa diriku ini telah menjadi Hattar yang paling terhormat.

Lalu ditatapnya mata Naorin yang sudah berlinang airmata, dan ia mengucapkan kata selamat tinggal. Dan setelah membungkuk kepada Raja Galatur lalu kepada Raja Halmar, maka pergilah Arsal seorang diri. Dengan mengendarai seekor Gunsak (hewan sejenis kuda tapi bertanduk) sang pemuda langsung meninggalkan kota Dalgone. Terus ke arah selatan selama berhari-hari, dan ia hanya akan berhenti untuk makan dan minum. Dalam hatinya ia cuma punya satu tujuan, yaitu menjadi pemenang dalam ujian di Kawah Mallagur dan diangkat sebagai Hattar untuk membuktikan siapa dirinya.

Tapi dunia banyak dipenuhi oleh bahaya. Dan di semua daratan kebahagiaan telah bercampur dengan kesedihan dan kejahatan. Kini perjuangan mulai berada di ujung tanduk. Sedikit tak menentu dan akan gagal bila tak sungguh-sungguh. Begitulah yang harus dilalui oleh Arsal demi mencapai tujuannya. Bahkan sekedar untuk bisa sampai ke pulau Soumel saja ia sudah mengerahkan semua kemampuannya. Karena dari Inhava maka perjalanan menuju ke kawasan netral itu tidaklah mudah. Jaraknya saja sangatlah jauh, ribuan kilometer. Belum lagi medan yang harus ditempuh tidak hanya hutan rimba yang angker dan banyak perampok serta binatang buasnya, tetapi padang rumput yang sangat luas, perbukitan yang curam dan pegunungan yang tinggi juga banyak. Belum lagi cuaca ekstrim yang harus dihadapi di beberapa tempat. Jika bukan lantaran janjinya, maka sudah lama Arsal ingin berhenti dan kembali pulang.

Catatan: Untuk bisa sampai ke samudera Veindala, maka dari Dalgone siapapun harus melewati beberapa negeri, yaitu Defarak, Hasrin, Derenta, dan akhirnya sampai ke Naint, negeri yang berbatas langsung dengan samudera Veindala. Atau dari Derenta lalu berkelok ke selatan menuju ke negeri Kaldum yang berbukit-bukit, dan akhirnya langsung ke barat untuk sampai ke negeri Naint dengan cara menyusuri sungai Doresa. Hanya saja jalur yang kedua ini jarang dipilih karena jaraknya lebih jauh dan medannya lebih sulit. Atau bisa juga melalui jalur yang lain dengan melewati wilayah Defarak, lalu ke Munyela, Selur, Ghalgur, Kaldum, dan akhirnya Konu. Atau jika mau maka dari Ghalgur bisa saja langsung ke Mores, kota dekat muara sungai Aron di pesisir samudera Veindala. Tapi pilihan yang kedua ini jarang diambil, karena jaraknya lebih jauh dan tidak cocok bagi mereka yang terbatas oleh waktu.

Ya, sudah lebih dari 16 bulan Arsal berjalan terus ke selatan menuju ke pulau Soumel. Selama itu banyak hambatan dan cobaan yang harus dihadapinya. Dan ia pun sudah merasa jenuh dan sangat letih, bahkan memutuskan untuk berhenti selama beberapa hari. Di tepi sebuah sungai yang jernih airnya, ia pun berdiam diri sambil memikirkan tentang langkah apa yang harus di lakukan selanjutnya. Kemanakah ia harus melangkah? Karena setelah menyeberangi sungai itu ia akan bertemu dengan persimpangan jalan di antara tiga buah bukit yang menjulang. Tidak ada petunjuk apapun di sana, untuk itulah jika ia salah memilih jalan maka resikonya akan fatal. Bisa membuang-buang waktu, padahal ujian di Kawah Mallagur akan diselenggarakan pada bulan Kasedah (bulan ke 5 menurut kalender di negeri Inhava) tahun depan. Artinya tinggal 9 bulan lagi dari saat ia duduk berpikir kala itu.

Kisahpun berlanjut. Di hari yang ketiga Arsal berdiam di tepi sungai itu, disaat hatinya kian merasa gundah, datanglah seorang pria yang mengenakan baju berwarna krem dan berjubah abu-abu. Sosok tersebut berjalan mendekat dari arah timur dengan perawakan yang berwibawa. Meskipun tidak lagi muda, lelaki itu masih terlihat segar bugar dan perkasa. Belum pernah Arsal bertemu dengan sosok paruh baya itu. Mungkinkah ia hanya sebatas imajinasi atau justru penunggu hutan yang sedang mencari mangsa?

Tapi setelah berada dihadapan Arsal, pria tersebut langsung tersenyum dan segera mengucapkan salam. Hal itu lalu dibalas oleh Arsal dengan sikap yang sama. Namun lantaran sedang bingung dan hampir putus asa, maka senyumannya saat itu terasa dipaksakan. Melihat itu, sosok yang ternyata seorang Begawan yang bernama Mirata ini sudah memahami apa yang terjadi. Karenanya ia datang menemui sang pemuda untuk memberikan jawaban. Atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME), sang Begawan juga akan membimbing Arsal untuk menguasai berbagai keilmuan. Dan atas izin-NYA pula mereka lalu berpindah ke Dimensi lain yang bernama Alawin. Di sana sang Begawan akan melatih si pemuda dengan berbagai cara agar ia siap menghadapi segala tantangan di masa depan.

Catatan: Sebagai seorang yang sering mengembara, sebenarnya Arsal sudah memiliki bekal ilmu yang cukup. Tapi itu tidaklah cukup untuk dijadikan modal dalam mengikuti uji tanding di Kawah Mallagur. Kompetisi itu hanya bisa lalui oleh mereka yang berilmu tinggi dan luas wawasannya. Dan pada saat itu Arsal masih belum pantas, ia perlu banyak belajar lagi.

Singkat cerita, setelah berada di Dimensi Alawin maka keduanya terus berikhtiar. Arsal yang kini telah menjadi murid dari sang Begawan dengan tekun tetap berlatih, mulai dari yang bersifat lahiriah sampai ke yang batiniah. Ada banyak hal baru yang ia dapatkan. Dan sesekali utusan Tuhan yang bernama Nabi Syis AS pun datang menemui mereka untuk memberikan pesan dan arahan. Hal ini sangat berarti, khususnya bagi Arsal yang sedang menempa diri.

Dan setelah mengikuti semua petunjuk dari sang guru dan Nabi Syis AS, sang pemuda lalu mulai menjalankan tapa brata yang khusus. Di hari yang ke 140 ia ber-semedhi, Arsal lalu bertemu dengan sosok yang serupa dengan dirinya sendiri tapi berwarna merah. Sosok tersebut lalu memberikan latihan ketahanan dan kekuatan selama beberapa waktu. Setelah usai, sosok yang berwarna merah itu menghilang dan muncul pula sosok yang sama tapi berwarna kuning. Sosok ini lalu memberikan latihan ketangkasan dan keluwesan selama beberapa waktu. Setelah usai ia pun menghilang dan digantikan oleh sosok yang serupa tapi berwarna hitam. Ia lalu memberikan latihan kesaktian yang bermacam-macam selama beberapa waktu. Setelah usai ia pun menghilang dan digantikan oleh sosok yang serupa tapi berwarna putih. Kepada Arsal sosok ini lalu mengajarkan tentang ketenangan, kewaskitaan dan kebijaksanaan. Setiap pengetahuan dan kemampuan yang didapatkan sungguh tidak biasa. Beruntunglah Arsal mendapatkan pelajaran yang ke empat ini, dan ia bisa tampil dalam pribadi yang semakin matang dan dewasa.

Dan selang tujuh hari berikutnya, tibalah saatnya bagi Arsal untuk bertarung menghadapi ke empat sosok yang serupa dengan dirinya sendiri itu. Tujuannya adalah untuk membuktikan sebatas mana kemajuan dari latihan sebelumnya. Tanpa ujian maka tak bisa diketahui batas dari kemampuan seseorang. Selain itu, pertarungan tersebut juga untuk bisa menaikkan level diri sang pemuda sampai ke tingkat yang ketiga. Di atas level itu biasanya hanya mampu dicapai oleh para Bhatara-Bhatari yang tinggal di Almantera (istilah Kahyangan pada masa itu).

Adapun ketiga tingkatan ilmu itu adalah: (1) Datran, (2) Satran, (3) Yatran. Perbedaan dari setiap tingkatannya sangat jauh. Dan siapapun yang bisa mencapai level Yatran, maka ia akan menjadi Manusia super dan hanya dapat ditandingi oleh yang setingkat dengan para Dewa-Dewi.

Tapi hal itu sungguh tidak mudah sebab khusus di level Yatran maka dibagi lagi menjadi lima tingkatan, yaitu (1) Yuanda, (2) Yuansa, (3) Yuanma, (4) Yuanta, dan (5) Yuanra. Sehingga ketika baru sampai di level Yatran saja maka itu tidaklah cukup. Itu baru permulaan untuk menjadi kesatria yang paripurna. Karena itulah setiap latihan dibagi menjadi dua hal, yaitu Harmon dan Mentral. Energi spiritual-ruhani dan daya hidup yang murni juga harus seimbang demi mendapatkan hasil yang diinginkan. Tak bisa sembarangan karena akan berakibat fatal.

Dan perlu diketahui bahwa terdapat perbedaan yang mencolok bagi yang telah menguasai ketiga level ilmu itu. Pada level pertama (Datran), seseorang bisa menguasai berbagai ajian tingkat tinggi seperti kebal terhadap berbagai senjata pusaka, punya kekuatan sangat luar biasa, bisa terbang dan menghilang, mampu bergerak secepat kilat dan berteleportasi, bisa mengubah wujud, mampu menghancurkan bongkahan batu atau bukit hanya dengan sekali pukulan jarak jauh, dan sebagainya yang sifatnya kekuatan. Sementara di level yang kedua (Satran), seseorang bisa menyerap berbagai energi dan unsur alam lalu mengubahnya menjadi beragam jenis senjata yang berkekuatan dahsyat. Tapi di level ini setiap orang akan berbeda kekuatannya, tergantung dari bentuk latihan yang telah dijalani. Dan yang jelas level kedua ini tentu bisa mengalahkan level yang pertama dengan mudah, karena sebelumnya seseorang telah berhasil menguasai apa saja yang ada di level pertama. Artinya, untuk bisa menguasai level kedua ini (Satran), maka seseorang harus sudah menguasai level pertamanya (Datran) dulu.

Sedangkan untuk di level yang ketiga (Yatran), maka bentuk kemampuan yang dimiliki oleh seseorang jauh lebih menakjubkan, susah untuk dijelaskan karena ini sudah sampai di tahap menciptakan dan menghancurkan. Sehebat apapun kedua level sebelumnya (Datran dan Satran) takkan mampu menandinginya. Apalagi di level ketiga ini masih ada lagi lima buah tingkatannya. Semakin tinggi tingkatannya, maka semakin luar biasa pula jenis kemampuannya. Karena itulah level ini biasanya hanya mampu dikuasai oleh para Dewa-Dewi di Kahyangan. Sangat langka terjadi pada makhluk di Bumi, khususnya umat Manusia yang hidupnya singkat.

Sungguh tidak mudah melatih diri untuk sampai ke tingkat Yatran, apalagi sampai di tingkatan yang kelimanya itu (Yuanra). Dibutuhkan fokus dan kesabaran yang tinggi, bahkan takdir yang berjodoh. Makanya bagi siapapun yang bisa menguasai level ketiga itu dengan sempurna, bisa dipastikan ia akan memenangkan pertandingan di Kawah Mallagur. Ia akan menjadi sosok yang sangat luar biasa dan setara dengan para Dewa-Dewi. Tapi hal itu serasa tak mungkin dan langka terjadi, karena memang tak sembarangan orang yang dapat kesempatan untuk mempelajari tata cara di setiap level yang ada. Tak ada lagi yang tahu bagaimana detilnya, karena ilmu itu sangat dirahasiakan. Hanya bagi yang terpilih saja yang bisa, dan melalui perantara sosok yang istimewa pula hal itu akan terwujud.

Oleh sebab itu, sebelum mulai menjalankan apa yang menjadi syarat dalam menguasai ketiga level ilmu tersebut, Arsal telah menerima wejangan yang sangat mendalam. Sang Begawan pernah berkata: “Wahai ananda. Bukalah hatimu untuk menerima kebenaran yang sejati dan abadi. Dimulai dengan mencapai kesadaran bahwa hanya dengan kesadaran diri yang tinggi maka setiap pribadi itu akan selalu (berada) dekat dengan Yang Maha Esa, baik di dunia ataupun di akherat nanti. Dia akan mengenali siapakah dirinya sendiri dan siapa pula Tuhan yang sesungguhnya. Dan Tuhan itu memang hanya ada satu, tidak ada yang kedua. DIA hanya satu tapi banyak yang menyebutnya dengan berbagai nama. DIA pun melebihi segalanya, Maha Besar dan Luas, sungguh tak terbatas. DIA-lah Yang Maha Kuasa dan setiap kehendak-NYA pasti terwujud, karena hanya DIA pula Sang Pencipta, yang Adikodrati dan tak dapat diubah. Tuhan selalu bisa mencapai dan berada di segala sisi, tidak ada tempat kosong dari-NYA. DIA meresap dan melingkupi segala ciptaan-NYA, termasuk yang berada di setiap sel dan partikel, juga yang kasar dan halus (goib). Dan khusus di dalam setiap Manusia, maka dirinya itu adalah percikan dari cahaya suci-NYA, yang membuatnya hidup tapi pada saatnya nanti akan pergi meninggalkan duniawi ini (mati). Kembali menyatu dengan asalnya, yaitu Tuhan yang merupakan sumber dari segala sesuatu. Sementara tubuhnya akan terurai kembali menjadi lima unsur (air, api, tanah, udara, dan ether). Demikianlah kodrat yang telah ditentukan bagi Manusia. 

Makanya seorang kesatria itu harus kembali kepada Tuhannya yang merupakan sumber asalnya. Setelah hidup beberapa lama di dunia ini, maka hanya dengan jalan bhakti yang benarlah seseorang itu baru akan sampai pada tujuan dari hidupnya. Sikap rendah hati dan pandai bersyukur juga perlu dijadikan prinsip utama. Dan melalui jalan bekerja keras serta tekun dalam kebajikan, seorang kesatria itu akan mendapatkan kemuliaan yang semestinya. Sedangkan dengan terus menenangkan hati dan pikirannya, maka dirinya itu baru akan memperoleh kebahagiaan yang sejati.

Untuk itu, dibukanya rahmat dan anugerah Tuhan bukan hanya sebatas janji, tetapi keniscayaan bagi siapapun yang tetap berserah diri dan berbudi luhur. Tuhan akan bersama dengan hamba yang setia dan terus mencintai-NYA. Sebaliknya, bagi siapapun yang membangkang dan tidak mengikuti hukum dan aturan Tuhan, maka ia akan menerima ganjaran yang menyakitkan. Cepat atau lambat, kebaikan yang ia rasakan – meskipun tidak lagi patuh – akan berganti dengan derita keburukan dan siksaan yang perih. Ia akan menyesal setelah terlebih dulu merasakan kesedihan

Demikianlah Begawan Mirata pernah berpesan, sebuah wasiat hidup yang teramat penting. Dan lantaran Arsal sudah bisa melepaskan segala hasrat keinginannya, ia berhasil menguasai berbagai tahapan ilmu yang diberikan. Setiap latihan mampu ia lalui dengan baik, dan setiap level ilmu yang ada (Datran, Satran, dan Yatran) telah berhasil ia selesaikan dengan sempurna. Hal ini membuat sang Begawan merasa puas, terlebih Arsal sendiri yang begitu senang dengan pencapaian itu. Hanya saja kali ini sikapnya berbeda dari sebelumnya, karena Arsal telah lupa dengan keinginannya untuk bisa menunjukkan siapa dirinya dan memiliki Naorin. Di dalam hatinya hanya ada tujuan untuk menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhannya saja. Apapun itu, Arsal hanya akan berserah diri pada setiap ketetapan yang telah DIA gariskan. Dan jika nanti ia berhasil keluar sebagai pemenang dalam ujian di Kawah Mallagur lalu diangkat sebagai Hattar, maka itu hanya atas izin dan kehendak-NYA saja. Tak ada lagi ambisi di hatinya. Termasuk bila akhirnya nanti ia bisa bertemu lagi dengan Naorin lalu menjadi suaminya, maka itu pun hanya atas anugerah-NYA saja. Bukan lantaran usaha dirinya atau hasrat keinginannya, tetapi hanya karena DIA, DIA, dan DIA saja yang memutuskannya.

Kisah pun berlanjut. Setelah berhasil menguasai ketiga level ilmu yang ada (Datran, Satran, dan Yatran), maka tibalah saatnya bagi Arsal dan Begawan Mirata untuk pergi dari Dimensi Alawin. Setelah berlatih selama seribu tahun lebih di sana, kini sudah waktunya untuk berpisah. Arsal harus kembali ke Bumi dan meneruskan perjalanannya ke pulau Soumel, sementara Begawan Mirata terus melanjutkan tugasnya di tempat lain. Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu lagi sampai akhirnya Arsal memilih untuk meninggalkan Bumi ini dengan cara moksa.

Catatan: Ada perbedaan waktu antara di muka Bumi ini dengan di Dimensi Alawin. Satu hari di Bumi akan sama dengan 100 tahun di Dimensi Alawin. Artinya, jika menggunakan patokan waktu di Bumi maka Arsal hanya berlatih selama 10 hari saja meskipun sebenarnya ia telah berlatih selama lebih dari 1.000 tahun. Ya, kemampuan Arsal memang setara dengan mereka yang sudah berlatih selama seribu tahun lebih. Bahkan dikarenakan ia adalah sosok yang terpilih dan bentuk latihan yang dilalui bersifat khusus, kemampuan Arsal bahkan jauh berbeda dengan mereka yang sudah berlatih selama seribu tahun lebih.

4. Kawah Candradimuka para kesatria
Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, maka pada setiap kali ada banyak kekacauan di dunia, akan muncul pertanda khusus untuk mengikuti uji tanding di pulau Soumel. Kompetisi itu tidak diadakan sesuai jadwal tertentu, tetapi oleh sebab kondisi yang terjadi di seluruh dunia. Alam akan memberikan pertanda khusus, dan hanya mampu dipahami oleh kalangan tertentu saja.

Catatan: Pada masa kerajaan Matterama masih ada di sekitar 5.000-an tahun sebelumnya, kondisi dunia selalu aman. Para raja/ratu yang berkuasa di kerajaan itu menjadi penjaga ketertiban dunia. Tapi semenjak kerajaan itu berpindah Dimensi, maka tak ada lagi yang bisa menjaga ketertiban dunia. Dimana-mana lalu terjadi banyak kekacauan dan ketidakteraturan, sehingga memunculkan ide untuk memilih seorang pemimpin tertinggi yang kemudian disebut Hattar. Hattar ini dipilih dari golongan kesatria yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Dia tidak berkecimpung dalam urusan politik dan kekuasaan, tidak pula menguasai atau dikuasai oleh siapapun, tapi semua raja/ratu akan tunduk dan menghormatinya. Seorang Hattar adalah sosok yang bijaksana dan waskita. Apapun yang ia lakukan hanya demi kepentingan bersama.

Ya, di dalam Kawah Mallagur itu akan diadakan ujian khusus untuk menentukan siapakah Hattar berikutnya. Boleh diikuti oleh setiap kesatria dari bangsa Manusia, Peri, Cinturia, dan Karudasya. Bahkan ada pula dari golongan Hewan dan Tumbuhan, karena pada masa itu kedua golongan itu ada yang bisa bersikap seperti Manusia (bisa berbicara, bergerak lincah, punya kecerdasan dan kesaktian yang tinggi). Siapapun boleh asalkan ia telah memenuhi syarat. Jika tidak, jangankan untuk mengikuti pertandingan, maka untuk bisa memasuki kawasan Mallagur saja ia takkan mampu. Ada perisai goib yang telah dipasang di sana, dan hanya bisa di lewati oleh mereka yang berilmu tinggi. Di sini ada standar (level keilmuan) tertentu yang telah ditetapkan sejak kompetisi di Kawah Candradimuka itu pertama kali diadakan ribuan tahun silam.

Dan setelah menempuh perjalanan sejauh ribuan kilometer di daratan Arsanta (penamaan seluruh kawasan Asia dan Nusantara kala itu) dan Halvador (penamaan kawasan Australia, Oseania, Melanesia, dan Polinesia), di tambah dengan harus mengarungi samudera Veindala yang banyak terdapat monster sejauh ribuan mile, akhirnya di bulan Nurah (bulan ke 4 menurut kalender bangsa Inhava) Arsal sampai di pulau Soumel. Sebenarnya bisa saja dengan cepat – dengan cara terbang – ia sampai di pulau itu, bahkan langsung ke Kawah Mallagur, tetapi itu tidak di lakukan. Sang pemuda tetap bertindak sebagai Manusia biasa dengan berjalan kaki atau menunggangi Gunsak. Hanya dalam kondisi tertentu saja ia menggunakan kesaktiannya, itu pun cuma untuk mempercepat langkah kakinya. Karena itulah tak ada yang mengira bahwa sosok yang berpenampilan sederhana itu adalah orang yang istimewa. Dan meskipun sering diremehkan, ia tak pernah membalas, apalagi sampai menyakiti orang yang menghinanya. Arsal hanya tersenyum dan tak mempedulikan caci maki dan anggapan miring orang kepadanya. Yang penting ia tidak pernah mengganggu atau sampai merugikan orang lain.

Singkat cerita, setelah berjalan selama berhari-hari di pulau Soumel, akhirnya  Arsal sampai di sekitar kawasan Kawah Mallagur. Sejak mendekati daerah paling netral itu, aura yang aneh dan energi yang sangat besar bisa dirasakan. Ternyata banyak orang yang sengaja datang jauh-jauh kesana untuk bisa melatih diri dan meningkatkan kesaktiannya. Sang pemuda juga bertemu dengan banyak kesatria dari berbagai bangsa dan melihat tentang beragam kemampuan mereka yang unik. Ada yang berasal dari kalangan bangsawan dengan melihat baju atau lencana yang mereka kenakan, tapi tak sedikit yang dari orang biasa. Sungguh hal yang semacam itu belum pernah ia saksikan selama hidupnya, khususnya di sebuah kawasan tertentu.

Catatan: Pulau Soumel itu berukuran lebih besar dari pulau Kalimantan. Disana tidak sama dengan tempat manapun di seluruh dunia. Suasananya amat berbeda dan terdapat energi alam yang tidak biasa, sehingga bagi siapapun yang tinggal di sana dan rajin melatih dirinya akan beroleh keistimewaan. Karenanya banyak orang yang berusaha mati-matian untuk bisa sampai di pulau itu hanya agar ia bisa meningkatkan kemampuannya. Meskipun tidak mudah lantaran pulau itu sering tertutup kabut misterius dan letaknya yang memang sulit ditemukan, tetap saja banyak yang berusaha untuk menemukannya.

Dan bisa kami jelaskan di sini tentang kondisi alam yang ada di pulau Soumel itu. Di sana topografi wilayahnya sangat beragam dan unik. Pada bagian tengah pulau terdapat pegunungan Amarul yang memanjang sampai ke timur, ke tempat dimana Kawah Mallagur berada. Ke utaranya Kawah Mallagur itu terdapat hutan Dorena yang lebat dan misterius. Tempat dimana banyak para kesatria akan menempa dirinya sampai puas. Lalu di bagian utara pulau ini terdapat padang rumput Morten yang sangat luas dan membentang sampai ke pegunungan Korel. Di sana juga terdapat danau Asul yang jernih airnya. Sementara itu, di sebelah timur pegunungan Korel terdapat lembah dan hutan Ksutar yang sangat luas. Di bagian barat pulau terdapat hutan Mishal yang sangat tua dan luas terbentang sampai ke pegunungan Amarul dan Noste. Wilayah ini sangat jarang di datangi kecuali dalam kondisi tertentu saja. Sedangkan di bagian selatan pulau terdapat padang rumput Senowa yang sangat luas, yang di dalamnya terdapat sungai besar Holser yang mengalir panjang sampai ke samudera Veindala di bagian timur pulau. Sungguh kondisi alam yang sangat indah dan berkesan.

Kisah pun berlanjut. Tepatnya di bulan Kasedah (bulan ke 5 menurut kalender di negeri Inhava), pertanda untuk dimulainya uji tanding di Kawah Mallagur sudah terlihat di angkasa. Ada cahaya putih kebiruan yang mengambang tepat di atas Kawah Mallagur. Cahaya itu bukan dari bintang ataupun planet, tetapi sebuah pusaka kristal yang telah ada sejak ribuan tahun silam. Pusaka itu akan muncul dengan sendirinya bila sudah tiba waktunya. Lalu ketika cahaya putih kebiruannya memancarkan terang, tak lama kemudian muncul pula tiga orang Begawan yang masyhur. Mereka ini lalu bertindak sebagai juri yang akan menentukan jalannya pertandingan saat itu. Bahkan tanpa disangka-sangka turut pula hadir dua orang penghuni Kahyangan yang berkedudukan sebagai Bhatara dan Bhatari. Keduanya ikut menyaksikan para kesatria yang ada untuk bertanding dalam kecerdasan, ketangkasan, dan kesaktiannya.

Kisahpun berlanjut. Di mulailah seleksi demi seleksi bagi setiap kesatria yang hadir di Kawah Mallagur. Ujian yang diberikan bermacam-macam dalam tingkat ilmu ilmiah dan batiniah, juga ilmu kanuragan dan kadigdayan. Dan bagi yang mampu menyelesaikannya, maka ia boleh melanjutkan ke tahap selanjutnya. Ujian tersebut berlangsung dengan atau tanpa batasan waktu. Sampai pada akhirnya tinggallah dua orang saja dari setiap golongan (Manusia, Peri, Cinturia, Karudasya, Hewan, dan Tumbuhan) yang berhasil melewati semua tantangan yang diberikan. Atas hal itu, diputuskanlah bahwa kedua orang di setiap golongannya harus mengadu kemampuan terbaik mereka. Pilihannya hanya ada dua, yaitu menyerah setelah berduel habis-habisan atau bertarung sampai mati.

Catatan: Kawah Mallagur itu berukuran sangat besar, seluas kaldera gunung Bromo yang ada di Malang, Jawa Timur. Ada banyak pohon dan tumbuhan lain yang hidup di sana, begitu pula dengan hewan yang beragam. Ada pula banyak mata air yang bisa menunjang kehidupan. Ya, semuanya itu lalu membentuk sebuah ekosistem tersendiri, yang berlangsung selama ratusan ribu tahun lamanya. Hanya saja tebing Kawah Mallagur itu masih tetap tinggi, dan dari kejauhan terlihat seperti gunung yang menjulang ke angkasa.

Dan pertarungan yang sengit pun terjadi. Satu persatu dari setiap golongan makhluk bertanding dengan gagah berani. Mereka terus mengeluarkan segala kemampuan yang dimiliki untuk bisa menjadi yang terbaik. Kemana-mana saja mereka bertarung, hingga pada akhirnya tinggallah enam orang saja yang masih tetap bertahan. Mengetahui hal itu, para juri memutuskan agar ke enam kesatria tersebut harus beradu kesaktian. Mereka bebas mengeluarkan kesaktian apapun, dan bertarung dimanapun yang mereka mau, tidak harus di sekitar Kawah Mallagur saja.

Maka terjadilah pertarungan yang begitu sengit dan mengagumkan. Setiap kesatria yang ada bebas memilih siapa lawan tandingnya. Jika ada yang merasa tak mampu lagi, maka ia bisa segera mengundurkan diri. Karena dalam pertarungan itu yang akan keluar sebagai pemenang hanyalah bagi yang paling lama bertahan. Karena itu waktunya tidak dibatasi, dan tak ada pula aturan yang ditetapkan. Siapapun bebas menggunakan berbagai cara kecuali membopong dari belakang. Jika itu di lakukan, maka yang bersangkutan akan di keluarkan dari pertandingan dan dianggap kalah.

Sungguh pertarungan yang terjadi saat itu membuat suasana alam berubah-ubah dan getaran keras sering terjadi di seluruh kawasan. Jika tidak dibatasi oleh perisai goib buatan sang Bhatara, maka sudah hancurlah Kawah Mallagur itu. Hal ini terus terjadi sampai akhirnya tinggallah dua orang kesatria yang tetap berdiri kokoh. Satu dari bangsa Manusia, dan satunya lagi dari bangsa Peri. Dan tanpa disangka-sangka sebelumnya oleh semua orang, maka yang mewakili bangsa Manusia pada saat itu adalah Arsal. Sebelumnya ia hanya dianggap sebagai kesatria tingkat bawah yang hanya coba-coba untuk ikut bertanding.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Arsal yang tak dianggap itu ternyata sosok yang luar biasa dan membuat semua yang hadir dalam pertandingan itu terkejut. Penampilannya yang biasa saja telah mengecoh para kesatria yang sakti mandraguna. Dengan kemampuan yang dimiliki, Arsal mampu menyembunyikan kekuatan diri yang sebenarnya. Hanya beberapa orang saja yang sejak awal telah mengamati dengan curiga tentang sosok pemuda ini. Karena sejak awal seleksi ia bisa menyelesaikan setiap tantangan yang ada. Jika yang lainnya kesusahan, maka justru dengan mudahnya Arsal mampu mengatasinya.

Ya, “Jangan melihat isi buku itu dari sampulnya“, begitulah pepatah lama telah menjelaskan. Hal itulah yang terjadi pada diri Arsal kala itu. Dengan penampilan yang sederhana ia bukannya tidak memiliki kelebihan. Sang pemuda telah sadar diri, terlebih ketika sudah memiliki ilmu yang tinggi maka penampilan itu takkan ada artinya lagi. Hanya dalam kondisi tertentu saja seorang kesatria sejati itu perlu menunjukkan kemampuan sebenarnya.

Dan tibalah waktunya bagi Arsal dan lawan tandingnya, seorang pangeran dari bangsa Peri yang bernama Sir el-Masaril, untuk beradu kemampuan terbaik mereka. Awalnya mereka berdua tetap seimbang dalam segala hal, tapi setelah Arsal menaikan level kesaktiannya di tingkat Yatran, sejak saat itulah Sir el-Masaril mulai kewalahan. Semakin lama semakin jauhlah jarak kesaktian di antara mereka, tapi sang pangeran tetap ngotot untuk bertahan. Hal itu lalu diikuti oleh Arsal dengan sikap yang tenang. Sampai pada akhirnya ia menaikkan level ilmu Yatran ke tingkat yang kedua (Yuansa), sehingga lawannya tak mampu lagi bertahan. Dengan kesadaran diri ia lalu mengaku kalah. Dan itu memang harus di lakukan karena jika tidak akan berakibat kematian.

Demikianlah akhirnya pertarungan sengit itu berakhir dengan kemenangan ditangan Arsal. Semua orang mengakuinya, namun tanpa disangka Bhatara Anurasa yang hadir saat itu tidak serta merta setuju. Ia bahkan langsung menyerang Arsal dengan kesaktian yang belum disaksikan sebelumnya. Mendapat serangan itu maka dengan reflek Arsal lalu melindungi dirinya. Tiba-tiba ia menaikan level kesaktiannya ke tingkat Yatran yang ketiga (Yuanma). Melihat itu, maka semua yang ada terkesima, termasuk sang Bhatara sendiri. Ia bahkan sampai berkata: “Sudah ribuan tahun berlalu, baru kali ini ada Manusia yang bisa sampai di level Yuanma. Sungguh luar biasa dirimu hai kesatria

Mendapatkan kata-kata barusan, tiba-tiba Arsal mendapatkan wisik goib. Tak lama kemudian ia justru menaikkan kesaktiannya sampai ke level yang ke empat dari ilmu Yatran (Yuanta). Ada cahaya berwarna-warni yang masuk ke dalam tubuhnya, lalu memancar keluar ke segala arah. Dalam pada itu tekanan energi yang dirasakan sangat kuat dan mengancam siapapun. Membuat semua orang merasakan sesak di dadanya, bahkan sampai ada yang muntah-muntah.

Menyaksikan itu semua, maka yang hadir di Kawah Mallagur kian terpukau, termasuklah para Begawan dan Bhatara-Bhatari. Tapi Arsal tidak lantas menurunkan kesaktiannya. Sekali lagi ia menaikkan level kesaktiannya sampai ke tingkat akhir dari ilmu Yatran (Yuanra). Suasana alam menjadi berubah-ubah, begitu pula dengan Arsal yang juga berubah-ubah wujud. Hal ini menakutkan bagi mereka yang ada di Kawah Mallagur saat itu. Dan tekanan energi yang ditimbulkannya semakin kuat dan mengancam, membuat semua yang hadir kecuali para Begawan dan BhataraBhatari, sampai sulit untuk bergerak.

Melihat itu para Begawan, Bhatara Anurasa, dan Bhatari Anilasa sampai terdiam dan merasa takjub. Sudah jutaan tahun berlalu hal yang seperti itu tak pernah terjadi lagi dalam sejarah kehidupan Manusia di Bumi. Dan ternyata itu pun belum selesai, karena sekali lagi Arsal meningkatkan level kesaktiannya bahkan di luar batasan ilmu Yatran. Hal ini hingga membuat semua kesatria yang ada tak bisa lagi bergerak; seperti patung, bahkan untuk sekedar bernapas pun sulit. Tekanan energinya semakin kuat dan mengerikan.

Menyaksikan itu, bahkan kedua Bhatara-Bhatari sampai turun dari tempat duduknya lalu berdiri dan memberi hormat kepada sang pemuda. Sudah sekian lama hal yang seperti itu tak pernah terjadi. Dan ketika Arsal ingin menaikkan level kesaktiannya lagi, Bhatari Anilasa sampai berkata; “Cukup wahai kesatria! Tak perlu dilanjutkan, karena kami sudah tahu bahwa engkaulah yang terpilih

Ya, mendengar permintaan dari Bhatari Anilasa itu akhirnya Arsal berhenti. Dalam waktu singkat ia lalu menurunkan kesaktiannya sampai ke level orang biasa. Semua yang hadir tak bisa berkata apa-apa selain terpukau dengan sosok pemuda yang sebelumnya dipandang sebelah mata. Tak sedikit yang merasa takut karena ia pernah bertarung dengan Arsal. Tapi Arsal bukanlah sosok yang pendendam, karena sebaliknya ia hanya tersenyum dan ingin bersahabat dengan siapapun. Dan semua orang pada akhirnya senang bersahabat dengan sang pemuda, bukan hanya lantaran ia sakti mandraguna, tetapi karena pribadinya yang luhur. Memang pantaslah Arsal terpilih sebagai Hattar yang bisa menata kembali kehidupan dunia.

Dan sesuai dengan ketetapan yang ada, maka Arsal pun ditasbihkan sebagai Hattar atau yang dipertuan agung dan mulia oleh para Begawan dan Bhatara-Bhatari. Sejak saat itu ia menjadi pemimpin tertinggi dari para kesatria di seluruh dunia. Kepadanya akan diharapkan segala keadilan dan ketertiban di Bumi bisa terwujud. Begitulah istimewanya kedudukan Hattar ini bila dibandingkan dengan para raja dan ratu. Pemimpin tertinggi tanpa perlu memiliki kekuasaan dan wilayah.

5. Menjaga ketertiban dunia
Pada masa itu kondisi dunia memang relatif aman dan makmur. Hanya saja jika diperhatikan dengan seksama maka dimana-mana terdapat banyak kemunafikan terjadi. Khususnya para pembesarnya telah larut dalam tipu daya dan intrik-intrik yang licik. Mereka tidak lagi mengindahkan ajaran kebajikan dan kebenaran yang sejati. Segala cara rela ditempuh demi memenuhi hasrat keduniawian. Aturan agama hanya dijadikan slogan dan tak jarang pula sebatas topeng untuk menutupi kejahatan yang mereka lakukan. Sungguh memilukan.

Ya. Kini seluruh negeri telah dipenuhi oleh kejahatan dan semua yang baik perlahan telah pergi. Dan pada saat itulah pula Arsal akhirnya keluar sebagai pemenang dalam uji tanding di pulau Soumel, di Kawah Mallagur. Dan sesuai tradisi yang berlangsung selama ribuan tahun, maka sang pemuda lalu ditasbihkan sebagai Hattar, atau pemimpin tertinggi bagi para kesatria sedunia. Sejak saat itu ia pun harus menjalankan tugasnya untuk bisa menata dan menjaga ketertiban dunia.

Kisah pun berlanjut. Pada suatu ketika terdengar kabar bahwa kerajaan Inhava akan berperang dengan kerajaan Unmar. Dalam hal ini Inhava menjadi pihak yang diserang dan ingin ditaklukan oleh kerajaan Unmar. Penguasa yang bernama Sorjan itu sedang giat-giatnya memperluas wilayah kerajaannya. Setelah dua kerajaan besar lain (Milut dan Soneca) berhasil ditaklukkan, maka tak terkecuali Inhava juga ingin ia kuasai dengan jalan bertempur. Selain terkenal kaya akan sumber daya alam, negeri Inhava juga sangat indah dan cocok untuk dijadikan ibukota kerajaan yang baru.

Ya, penguasa Unmar itu memang suka berperang demi mencapai keinginannya. Ia terkenal sakti mandraguna dan memiliki banyak pasukan dan kesatria yang tangguh. Siapapun yang ia perangi selalu dapat dikalahkan. Dan kini giliran kerajaan Inhava yang menjadi sasarannya. Meskipun kerajaan ini diakui sebagai negara yang kuat, tapi Raja Sorjan sudah tahu bahwa sebenarnya di dalam tubuh kerajaan Inhava itu telah keropos. Meskipun masih memiliki banyak pasukan, tetapi para petingginya sudah layu oleh kesenangan duniawi. Mereka bukan lagi orang-orang yang hebat dan berjiwa kesatria.

Singkat cerita, mengetahui hal itu membuat hati Arsal langsung tersentuh. Sebagai seorang Hattar, maka sudah menjadi tugasnya untuk menyelesaikan masalah yang ada. Terlebih ia teringat bahwa di Inhava ada Naorin yang terus menanti kedatangannya, dan ada pula janji yang harus ia tepati kepada Raja Galatur. Karena itu pergilah ia bersama dengan beberapa orang kesatria sahabatnya untuk menemui Raja Halmar di kerajaan Dalgone. Di sana, kabar pertempuran yang akan terjadi di Inhava juga telah diketahui oleh sang raja. Karena itu, sebagai kerabat dekat ia langsung menerima ajakan dari Arsal untuk datang membantu. Bersama dengan pasukan yang di seleksi, Raja Halmar lalu bergerak cepat menuju ke negeri Inhava.

Waktu pun berlalu dan akhirnya pertempuran antara kerajaan Inhava dan Unmar harus terjadi. Pada awalnya belum sampai di ibukota kerajaan Inhava, karena tepat di akhir bulan Tursah (bulan ke 9 dalam kalender di negeri Inhava) Raja Sorjan sudah memimpin pasukan dalam jumlah besar melintasi lembah Solem di lereng pegunungan Hitlim dan padang rumput Redaya, dan mereka berdatangan dengan menaklukkan setiap desa dan kota yang dilalui. Setelah itu, mereka terus menuju ke benteng Nathon lalu menyerangnya habis-habisan. Tembok perbatasan luar kota itu memang kokoh, tapi tak sanggup mencegah gerakan pasukan Raja Sorjan dan akhirnya runtuh. Hanya sebagian kecil pasukan dan penduduk yang tinggal di sana yang selamat. Mereka ini lalu melarikan diri ke ibukota kerajaan Inhava. Selebihnya dijadikan tawanan atau budak.

Selanjutnya, pasukan Unmar itu tak lama beristirahat, cuma dua hari saja. Karena berikutnya mereka langsung bergerak menuju ibukota kerajaan Inhava. Sesampainya disana, tak ada lagi perundingan dan Raja Sorjan tetap pada kemauannya untuk bisa menguasai kerajaan Inhava sepenuhnya. Maka terjadilah pertempuran yang sengit selama berhari-hari. Dan ketika sudah lima hari lebih perang itu berlangsung, kerajaan Inhava semakin tersudut. Kekuatan dari pasukan Unmar seperti tak ada habisnya dan mereka terus mengempur sistem pertahanan yang dimiliki oleh Inhava tanpa ampun. Hanya karena pasukannya banyak dan benteng kotanya itu sangat kokoh, maka pembantaian dan pengerusakan masih bisa dihindari. Tapi sepertinya kota besar itu takkan mampu lagi bertahan walau cuma untuk satu hari saja. Mereka sudah terlihat sangat kewalahan dan hampir kalah.

Catatan: Pada masa itu sebenarnya mereka telah hidup dengan peradaban yang tinggi. Mereka juga sudah tidak asing lagi dengan beragam teknologi yang canggih. Hanya saja untuk urusan berperang mereka tidak lantas menggunakan peralatan yang berteknologi maju. Mereka tetap memilih bersikap kesatria dengan hanya menggunakan peralatan tempur seperti pedang, panah, tombak dan gada. Pertempuran pun dilaksanakan secara terang-terangan dan saling berhadapan. Setiap orang hanya mengasah kemampuan ilmu kanuragan dan kadigdayan-nya saja. Jika pun ada senjata, maka itu lebih kepada benda pusaka yang sakti mandraguna. Demikianlah tradisi yang masih dipegang teguh pada masa itu oleh semua orang, dan jika tidak begitu maka siapapun akan dianggap sebagai pengecut. Satu hal yang paling dihindari oleh siapapun.

Tapi, ditengah keputusasaan maka datanglah harapan. Pada hari yang ditentukan, di suatu pagi pertengahan bulan Murtah (bulan ke 11 dalam kalender bangsa Inhava), trompet-trompet bangsa Dalgone telah berkumandang. Dari sebelah selatan berkibarlah panji-panji hijau milik Raja Halmar, penguasa tertinggi kerajaan Dalgone. Bersamanya ada pula seorang Hattar yang belum lama ditasbihkan. Dialah Arsal yang mengenakan baju biasa ala pendekar. Dengan membawa 30.000 lebih pasukan yang siap bertempur dan mengenakan baju zirah dari logam putih, baris demi baris prajurit pimpinan Raja Halmar itu tampak berkilauan seperti sungai dibawah Matahari. Mereka terlihat sangar dan siap untuk bertarung sampai mati. Dengan satu komando dari sang raja, pasukan terlatih itu bergerak maju dan mulai mengempur pasukan Unmar dengan cekatan.

Dan dimulailah pertempuran yang sengit. Melihat bala pasukan Raja Halmar datang dari arah timur, semua orang di kota Inhava merasa lega. Harapan yang dinantikan akhirnya tiba, dan mereka yakin bahwa pasukan Dalgone itu mampu menandingi kekuatan pasukan Unmar. Tapi kenyataannya pasukan pimpinan Raja Sorjan itu memang tidak mudah untuk dikalahkan. Selain mereka sangat berpengalaman dalam urusan perang, banyak kesatria dalam barisan pasukannya yang berilmu tinggi. Hal ini sangat berpengaruh dalam menentukan hasil pertempuran. Dan hanya bisa diatasi oleh para kesatria sahabat dari Arsal.

Maka terjadilah pertarungan yang luar biasa di antara para kesatria dari kedua belah pihak. Satu persatu dari mereka lalu mengeluarkan kemampuan yang mengagumkan, membuat semua orang berdecak kagum sekaligus merasa ngeri. Banyak dari mereka yang tidak pernah menyaksikan hal yang seperti itu meskipun ia pernah ikut bertempur dalam banyak pertempuran. Karena itulah, orang-orang segera menyingkir menjauh dari para kesatria yang sedang bertarung. Ini untuk kebaikan diri mereka sendiri, karena ledakan demi ledakan sering terjadi akibat senjata pusaka atau ajian yang dikeluarkan oleh para kesatria.

Hingga pada akhirnya Arsal pun turun langsung ke garis depan pasukannya. Tanpa basa-basi ia langsung menyerang siapapun kesatria yang ada didepannya. Hanya dalam waktu singkat semuanya tumbang namun tak sampai tewas. Hal itu langsung membuat semua orang terkesima dan sampai menghentikan pertempuran. Sungguh luar biasa yang di lakukan oleh sang pemuda yang pada waktu itu masih belum kenali sebagai Hattar. Maklumlah pengangkatan dirinya belum lama terjadi dan orang-orang belum mengetahui siapakah diri Arsal itu sebenarnya.

Melihat itu, sebenarnya Raja Sorjan sudah merasa gentar. Bagaimana tidak, para kesatria terbaiknya satu persatu tumbang hanya dalam tempo hitungan detik. Belum pernah ada yang bisa seperti itu. Tapi lantaran sudah dikuasai oleh keserakahan dan kesombongan diri, Raja Sorjan tetap tak peduli. Ia bahkan memerintahkan lebih banyak lagi pasukan dan para kesatrianya untuk menyerang Arsal. Hal itu lalu ditanggapi oleh sang pemuda dengan tindakan yang lebih memukau. Hanya dengan sekali bentakan saja maka semua yang menyerangnya saat itu langsung tersungkur tak berdaya. Mereka tak bisa bergerak dan tak lama kemudian menjerit kesakitan seperti orang yang terbakar. Hanya bila mereka sudah meminta ampun saja maka rasa sakit itu akan menghilang tapi mereka tetap tak berdaya karena kekuatannya tetap menghilang. Tubuhnya akan lumpuh sampai Arsal menghendakinya pulih.

Demikianlah dahsyatnya kesaktian yang dikeluarkan oleh Arsal. Hal itu belumlah seberapa menurut pandangan dari para kesatria sahabatnya, tetapi sudah luar biasa bagi semua orang yang ada di medan pertempuran saat itu. Karenanya banyak dari pasukan Unmar yang segera menyerahkan diri. Tapi tindakan itu tidak diikuti oleh Raja Sorjan. Ia masih dengan sikap angkuhnya dan marah-marah. Tak lama kemudian sang raja bahkan menyerang Arsal dengan kekuatan yang besar.

Memang sang raja terkenal sakti mandraguna, tetapi jika dibandingkan dengan Arsal ia lebih seperti anak ingusan. Hanya dengan satu kibasan tangan saja, sang raja sudah dapat dilumpuhkan. Ia tak mampu lagi bergerak, seperti orang lumpuh, sebelum akhirnya dibebaskan oleh Arsal. Dan sebagai seorang Hattar, maka Arsal harus bersikap adil dan bijaksana. Ia tidak menghukum mati si raja angkuh, tetapi mengambil semua kesaktiannya. Arsal juga memerintahkan sang raja untuk kembali ke negerinya di Unmar. Sedangkan semua kerajaan yang telah ia kuasai harus dibebaskan kembali. Dan untuk menebus kesalahannya, maka Raja Sorjan diwajibkan untuk membayar upeti selama 10 tahun kepada setiap negeri yang pernah ia rusak. Ia harus bertanggungjawab atas semua kerugian yang telah di timbulkannya. Jika menolak, maka hukuman mati sudah menantinya.

Ya, hukuman itu tak bisa ditawar-tawar lagi, bahkan tak bisa pula dihindari oleh Raja Sorjan. Jika sampai melanggar ketetapan itu, sekali saja, ia dan keluarganya akan diasingkan ke sebuah pulau yang dipenuhi oleh monster-monster yang buas. Dan ini juga berlaku bagi siapapun yang menjadi pendukung setia dari sang raja, yaitu para petinggi kerajaan Unmar. Jika mereka sampai membangkang, maka tak ada yang bisa menyelamatkan dirinya. Sang Hattar akan bertindak tegas dengan menegakkan hukuman mati tanpa ampun. Hal ini sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku di seluruh dunia pada masa itu, khususnya bagi setiap penjahat perang.

6. Membangun peradaban dunia
Setelah pertempuran besar di batas kota Inhava usai, tibalah waktunya bagi Arsal untuk menempati janjinya dulu. Bersama dengan Raja Halmar dan para kesatria sahabatnya, sang pemuda lalu menemui Raja Galatur di istananya. Sesuai tradisi, siapapun raja atau ratu akan bersimpuh di hadapan seorang Hattar. Itulah yang juga terjadi pada saat itu. Dengan rasa bersalah dan menyesal, penguasa Inhava itu ikhlas berlutut kepada orang yang dulu pernah ia cemooh dan paling dibencinya.

Ya, begitulah keadaan bisa berubah secara drastis. Arsal yang sebelumnya bukan siapa-siapa kini telah menjadi pemimpin tertinggi dunia. Ia dulu yang tak pernah dikenali, kini telah berjasa besar sebab menyelamatkan kerajaan Inhava dari kehancuran. Dan sesuai dengan kesepakatan yang terjadi sebelumnya, kini Arsal datang dengan kemenangan. Ia telah memenuhi semua syarat yang diberikan oleh Raja Galatur sebelum diizinkan bersatu dengan Naorin. Bahkan apa yang kemudian terjadi melebihi semua harapan.

Lalu dalam sebuah kesempatan dihadapan semua bangsawan yang hadir, Arsal sempat mengingatkan. Katanya: “Kebangsawanan tidak bisa menjamin akan jadi apa dirimu, akan seperti apa dirimu nanti. Aku juga dari kalangan bangsawan, tapi buat apa itu dibangga-banggakan. Bukan karena itu diri ini bisa menjadi seorang Hattar. Bukan pula hanya karena usaha yang gigih, tapi atas izin dan kehendak-NYA saja maka semuanya bisa terjadi. Sehingga marilah bersikap rendah hati dan pandai-pandailah bersyukur. Teruslah mengintrospeksi diri, maka siapapun akan beruntung

Ya. Apa yang disampaikan oleh Arsal kala itu langsung membuat malu banyak orang, khususnya para bangsawan dan pembesar kerajaan yang selama ini bersikap tinggi hati. Benarlah apa yang dikatakan oleh sang pemuda. Karena sejatinya setiap orang itu sama dan punya kesempatan untuk bisa menjadi lebih baik. Justru bagi seorang bangsawan atau pejabat itu maka tanggungjawabnya lebih besar. Dibandingkan dengan orang biasa, seorang bangsawan atau pejabat itu harus lebih bisa membuktikan kebaikan dan kemuliaan dirinya. Bukannya malah sebaliknya dengan bersikap bangga diri dan merasa paling terhormat sendiri.

Singkat cerita, dengan ikhlas Raja Galatur merestui hubungan cinta antara Arsal dan Naorin. Ia pun berjanji untuk berubah dan mengembalikan hukum dan aturan Tuhan sesuai pada tempatnya. Tak boleh ada lagi kemunafikan dan intrik-intrik yang memuakkan. Oleh sebab itulah, Arsal dimintanya untuk memberikan bimbingan, baik kepada para bangsawan maupun orang biasa. Semuanya demi kebaikan dan kemuliaan bersama.

Dan sejak saat itulah hukum dan aturan Tuhan kembali berjaya dalam kehidupan masyarakat Inhava. Setiap orang menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Hal ini juga ikut menyebar ke negeri lain dan terus menyebar karena dunia sudah memiliki pemimpin barunya. Dialah Arsal yang telah ditasbihkan sebagai Hattar. Meskipun ia tidak berkecimpung dalam urusan politik dan kekuasaan, seorang Hattar harus ikut menata kehidupan dunia. Ketertiban perlu ditegakkan, baik dengan cara diplomasi ataupun secara tegas dalam pertempuran. Siapapun tak ada yang diizinkan berbuat zalim atau menindas. Jika melanggar, maka hukuman yang setimpal akan diterima. Tak ada yang mampu menghindar, karena tak ada pula yang bisa menandingi kesaktian dari seorang Hattar yang sedang bertugas.

7. Akhir kisah
Selama beberapa tahun Arsal tinggal di kerajaan Inhava. Ia tidak menetap di istana karena memilih tinggal di sebuah asrama (padepokan) di pinggiran kota. Bersama dengan istrinya, Naorin, sang Hattar terus membimbing orang-orang untuk hidup dalam kemuliaan. Sehingga di negeri Inhava saat itu kehidupan peradabannya sangat teratur dan indah. Semua penduduknya bisa mengikuti hukum dan aturan Tuhan dengan benar, membuat kemakmuran dan kedamaian semakin bisa dirasakan. Semakin mereka patuh, maka semakin bahagia pula kehidupannya. Dan hal ini ikut menyebar ke negeri lain.

Tapi, sebagai seorang Hattar maka tidak baik jika Arsal hanya menetap di sebuah kerajaan. Hal itu akan menimbulkan anggapan yang buruk dari bangsa-bangsa yang ada. Karena itu ia dan istrinya, Naorin, memutuskan untuk tinggal selamanya di pulau Soumel yang merupakan kawasan netral. Dari sana ia akan memantau keadaan dunia meskipun tidak terlibat langsung dalam tata kelola pemerintahan. Hanya jika ada yang tidak sesuai dengan norma kebaikan dan keadilan saja seorang Hattar baru akan bertindak. Selebihnya ia hanya bisa menjadi tempat untuk meminta pendapat dan nasehat. Ya, tugas utamanya adalah memberikan bimbingan menuju pada kebenaran yang sejati.

Makanya, khusus di sekitar pulau Soumel itu kehidupan di sana begitu damai dan indah. Tak ada penguasa dan yang dikuasai, karena setiap orang bebas melakukan apa yang ia mau. Tapi ini bukan dalam artian bisa seenak hatinya tanpa batasan, karena harus sesuai dengan kebenaran yang hakiki. Dan mereka yang hidup di sana adalah orang-orang yang sudah mencapai kesadaran diri sepenuhnya. Meskipun ada banyak bangsa yang berbeda tinggal di sana (Manusia, Peri, Cinturia, Karudasya, Hewan dan Tumbuhan), semuanya bisa hidup rukun dan saling menghormati. Cinta dan kasih sayang begitu nyata di sana.

Ya. Mereka yang berkesempatan tinggal di sana – karena tidak mudah untuk bisa sampai ke pulau Soumel itu – adalah guru bagi dirinya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang bijak dan terus membimbing dirinya sendiri untuk bisa menemukan pencerahan. Mereka pun terus menggali potensi pada diri mereka sendiri dan tetap mengembangkannya dengan sangat baik. Karena itulah dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak terlalu banyak berbicara tapi senang bertindak. Mereka terus memberikan kebaikan yang tulus kepada siapapun. Kepada alam pun mereka sangat menghargainya, tak ingin merusak atau sampai mengganggu keseimbangannya. Tak ada lagi sifat iri, dengki dan ego di dalam dirinya, karena semuanya telah mereka singkirkan sejak lama. Mereka adalah orang-orang yang telah merdeka, sehingga bisa menjadi sosok yang sangat berilmu dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi.

Demikianlah Arsal dan Naorin hidup bersama orang-orang yang terbaik di pulau Soumel. Jika ada masalah di negeri lain, yang membutuhkan tenaga dan pikirannya, maka keduanya akan datang membantu. Peran Naorin di sini juga tak kalah pentingnya. Ia banyak memiliki keahlian khusus yang bisa diajarkan kepada siapapun yang membutuhkannya. Bahkan sempat beberapa kali Naorin harus ikut serta dalam pertempuran yang sengit. Dan ternyata sang putri juga seorang kesatriawati yang berilmu tinggi. Terlebih sejak bertemu kembali dengan Arsal, sang putri mendapatkan banyak pengetahuan dan bimbingan khusus dari suaminya itu. Hal ini jelas menambahkan kemampuan yang dimilikinya secara lahir dan batin.

Dan pada sebuah kesempatan, pada saat banyak raja dan ratu yang berkunjung ke pulau Soumel, maka di sore hari menjelang malam musim bunga Arsal memberikan wasiatnya. Katanya: “Astahatarin aiya nasinawa hutule, ‘aindala souren namataka. Mal kanuyani hisbaral, orondafa yunas asyiraya khera. Masiya netta bayani kal autmanu yase Alan, Akun, an Ayin. Yena hidam anata 01389752460 siranuya laca rinaya selbah. Nun basita urn hiyanamo Ilahiyah tafasun almanurriyah

Wasiat itu didengarkan dengan khusyuk oleh semua yang hadir. Di renungkan baik-baik dan langsung dimasukkan ke dalam hati. Di waktu yang lain, wasiat itu juga di sampaikan kepada anak keturunan mereka. Menjadi warisan yang sangat berharga. Dan ini tidak hanya berlaku untuk di masa itu saja, tapi hingga kini dan nanti.

Dan begitulah kisah lama yang bisa disampaikan disini. Apa yang ada di dalamnya bisa dijadikan sebagai pelajaran hidup. Semoga bermanfaat. Rahayu.. 🙏

Jambi, 10 Maret 2019
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan sebelumnya, maka tak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Semuanya kembali ke diri Anda sekalian, karena tugas kami disini hanyalah sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Bacalah dengan tenang dan terurut kisah ini. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahaminya. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat banyak perbedaannya.
3. Ada banyak hal yang tak bisa kami sampaikan disini, ada protap yang harus dipatuhi. Maaf.
4. Tetaplah mempersiapkan diri dan terus saja bersikap eling lan waspodo. Karena apa yang pernah terjadi di masa lalu bisa saja terjadi lagi di masa sekarang. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

12 tanggapan untuk “Mallagur : Kawah Candradimuka Para Kesatria

    1. Hmm kenapa mas Delphi nanya itu? pengen bisa kesana ya? hehe.. 😀

      Setau saya sih pulau itu masih ada kok, hanya saja seperti yg di jelaskan dlm tulisan bahwa pulau itu misterius, gak mudah utk bisa sampai kesana…

      1. Hahaaai,
        Iya, dari bentang alam yg mas odi ceritakan sangat indah rasanya,
        Kalau bisa berkunjung pasti seru,
        Gak akan bisa kalau gak atas kehendak hyang aruta ya kan,
        Hihihiiii,

      2. Tentu mas, disana sangatlah indah dan beruntung banget bisa berkunjung kesana walau sebentar.. Tapi ya itu, gak sembarang orang yg dapat kesempatan itu.. Apalagi skr orang2nya gak percaya lagi dg hal-hal yg bersifat kesaktian.. Semuanya dinilai dari materi sampai lupa dg yg nonmateri, yg dipercayai cuma ilmiah hingga lupa dg yg batiniah.. 😦

  1. Ngarep sama hyang aruta dah, mudah2n diberi kesempatan, mujuk2 biar diijinkan,
    Apa karena daya tahan tubuh manusia saat ini berbeda jauh lebih lemah ketimbang manusia pada masa lalu maka tidak bisa lagi melakukan latihan, tapa atw laku untuk olah tubuh sampai seperti itu ya mas odi,

    1. Silahkan berharap mas dan jg lupa ttp berusaha.. siapa tau dikabulkan.. 🙂

      Tidak bisa dipungkiri bahwa daya tahan tubuh manusia zaman skr tak sekuat yg dulu, begitu pun dg umurnya yg semakin singkat.. Niat dan ketekunan orang dulu juga jauh berbeda dg yg ada skr. Terlebih model kehidupan skr yg tak seperti dulu yg akrab dg hal-hal mistis dan kesaktian.. Tapi Tuhan itu adil, karena setiap manusia yg hidup di setiap zamannya itu punya keistimewaannya sendiri.. Artinya kita juga punya kesempatan yg sama, hanya saja tantangannya jelas berbeda..

      Dan khusus mengenai olah batin atau laku tapa brata yg keras itu, maka di zaman skr ttp ada kok yg menjalaninya, hanya saja mrk tak diketahui lagi dan jumlahnya sgt sendikit.. Pokoke gak umum deh.. Bahkan ada kok yg masih ber-tapa sampai skr padahal dimulainya sejak zaman Majapahit dulu ato bahkan sejak kerajaan sebelumnya (Singhasari, Kadiri, Medang, Galuh, dll).. Artinya, di setiap zaman, bahkan di akhir zaman ke tujuh ini, tetap ada kok yg olah raga dan batin dg keras tapi jumlahnya tak sebanyak mrk yg hidup di zaman dulu..

  2. teima kasih atas share kisahnya mas
    membuka cakrawala pikiran dan hati bahwa Alloh Yang Maha Kuasa membuat zaman yg berbeda penuh himah dan pengajaran bagi manusa dan makhluk-Nya

    1. Sama2lah mas Tri Joko.. Terima kasih juga karena sudah berkunjung, moga bermanfaat.. 😊 🙏

      Demikianlah DIA dg segala keagungan dan kekuasaan-Nya.. Setiap zaman itu berbeda dan unik.. Dan nanti, setelah zaman kita skr ini (Rupanta-Ra) berakhir, akan datang zaman yg baru (Hasmurata-Ra) yg telah dijanjikan penuh dg keindahan, kemakmuran dan kemuliaan.. Semoga kita termasuk yg terpilih dan selamat dalam proses transisinya nanti.. 🙏😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s