Agama Budhi (1)

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Sebagaimana yang pernah kami jelaskan bahwa ada satu kekuatan Adikodrati Tunggal yang tidak hanya menjadi pusat dari segala kehidupan, tetapi juga yang menciptakan kehidupan itu sendiri. Dan sebelum semuanya terjadi, maka DIA-lah yang pertama kali ada, bahkan DIA itu adalah yang tanpa awal dan akhir, tak ada duanya dan tak ada pula yang sebanding dengan DIRI-NYA. Inilah kenapa kemudian DIA itu lalu disebut sebagai Yang Maha Esa dan Berkuasa. Dan sebenarnya ada begitu banyak istilah yang pernah diberikan untuk DIA Yang Maha Agung itu, untuk menyebutkan hakekat DIRI-NYA, tapi disini kami hanya akan menggunakan salah satunya saja, yaitu Hyang Aruta (Tuhan YME).

Sebagai Sang Maha Pencipta, DIA juga bertindak sebagai pengatur, penjaga, dan segala sesuatunya bisa terjadi hanya atas izin dan kehendak-NYA saja. DIA pun sebagai penghancur dan pemusnah yang tiada tara. Karena itu, maka DIA pun menjadi pusat dari segala sesuatu, sebab DIA adalah sumber yang memberikan penghidupan, kekuatan, dan keseimbangan. Dan sudah menjadi keharusan bagi setiap Manusia untuk berusaha terhubung dengan-NYA demi mencapai harmoni yang indah. Jika seseorang sudah mencapai tahapan ini, maka ia baru bisa dikatakan telah berserah diri sepenuhnya dalam hidup. Inilah hamba Tuhan yang sejati, karena telah menyadari betul tentang kedudukan/posisi dirinya sendiri.

Ya. Awalnya DIA yang tak terjangkau oleh pikiran dan imajinasi itu menciptakan Hu (hanya sebatas ini yang bisa kami sampaikan disini), dan dari “napas” Hu itu kemudian muncullah Waktu yang merupakan wadah yang maha besar. Sebelum Waktu memiliki isinya, maka tak ada apa-apa kecuali suwung (kekosongan). Hyang Aruta (Tuhan YME) memanglah DIRI yang sejatinya menciptakan Waktu, tapi pada kala itu – pada awalnya – belum ada apa-apa di dalam Waktu tersebut kecuali suwung (kekosongan). Atas kehendak-NYA, barulah sifat-sifat hidup dari Hyang Aruta (Tuhan YME) sendiri yaitu Hillah (tak berwujud), Nahillah (berwujud-tak berwujud), dan Manuhillah (berwujud) lalu mewujud dalam “getaran” yang terjadi terus menerus. Akibat dari “getaran” itu, maka muncullah lima “elemen” (hanya kata ini yang bisa kami berikan/padu padankan), yaitu:

1. Elemen biru -> muncul dari sifat Hillah (tak berwujud)
2. Elemen hitam -> muncul dari sifat Hillah (tak berwujud)
3. Elemen merah -> muncul dari sifat Nahillah (berwujud-tak berwujud)
4. Elemen kuning -> muncul dari sifat Nahillah (berwujud-tak berwujud)
5. Elemen hijau -> muncul dari sifat Manuhillah (berwujud)

Ke lima “elemen” tersebut juga ikut “bergetar” selama waktu yang ditentukan-NYA, sampai pada akhirnya melahirkan elemen ke enam yang berwarna putih. Elemen ini lalu diberi nama Nur (cahaya) atau lebih lengkapnya Nuriyah. Nur inilah inti atau cikal bakal atau bahan dasar dari semua penciptaan, juga segala isi yang berada di dalam Waktu. Dari percikannya, maka hadirlah Syurga, Neraka, Langit, Alam Semesta, Dimensi, Galaksi, Planet-planet, Bintang-bintang lama dan baru, dan makhluk hidup lainnya. Semuanya dengan kondisi yang beragam, punya ciri khas dan keunikannya sendiri. Dan tentu, semuanya itu tetap dalam pengaturan-NYA yang sempurna.

Demikianlah kehidupan makhluk itu bermula hingga sekarang. Dari waktu ke waktu, semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Sang Maha Pencipta. Sadar atau tidak, menerima atau tidak, semuanya akan tetap seperti itu. Sebab DIA adalah Penguasa yang tak bisa dihindari atau dipengaruhi. Serendah atau setinggi apapun pemahaman seorang makhluk, maka tak ada yang bisa menyaingi ilmu dan kebijaksanaan-NYA. DIA-lah Penguasa meskipun tak lagi diakui secara sadar oleh seseorang. DIA-lah Yang Maha Agung walaupun tak pernah lagi dimuliakan oleh seseorang.

Selanjutnya, setelah memahami tentang siapakah Tuhannya dan bagaimana dirinya berasal (melalui Nur itu), ia lalu bisa mempelajari tentang siapakah dirinya sendiri. Dan sesuai dengan ilmu yang telah dapatkan sejak dulu kala, maka Manusia itu pastilah diciptakan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME) melalui perantara Nur dan mempunyai tiga unsur, yaitu:

1. Wujud jasmani (badan kasar/jasad)
2. Wujud jiwa (badan halus/ruh + nyawa)
3. Wujud cahaya (suksma atau nur + hati)

Ketiga hal tersebut adalah satu kesatuan di dalam diri Manusia dan berasal dari kehendak Hyang Aruta (Tuhan YME) melalui perantara Nur (elemen ke enam di atas) yang merupakan cikal bakal atau asal usulnya. Tidak mungkin muncul dengan sendirinya tanpa ada yang mengatur atau menciptakannya. Semua bisa terjadi hanya karena ada satu kekuatan Adikodrati Tunggal yang telah menghendaki dan mengaturnya dengan sempurna.

***

Wahai saudaraku. Lantas apakah dunia ini sebenarnya? Siapakah Manusia itu yang sesungguhnya? Renungkanlah akan hal ini. Dan kau harus tahu bahwa Manusia itu tidak hanya terdiri dari tubuh tanah liatnya saja, tetapi juga unsur goib (non materi) yang bersemayam di dalamnya. Zahir hanyalah wadah bagi diri pribadi untuk menjalankan perannya di alam nyata dunia ini.

Karena itu, zahir Manusia tersusun dari beberapa unsur materi, yaitu tanah, air, api, udara dan ether. Kelima elemen inilah yang menjadi bahan utama terbentuknya jasad Manusia dan menjadi wujud keberadaannya. Sebab, tanpa jasad maka Manusia itu bukanlah Manusia, tetapi Malaikat atau sesuatu yang lainnya. Dan ini tidak boleh terjadi, karena sudah menjadi kodrat Manusia untuk tetap harus menjadi Manusia. Sebab Manusia itu sendiri adalah bukti nyata dari kesempurnaan penciptaan. Bukan lantaran keindahan fisiknya atau kekuatannya atau kesaktiannya, tetapi karena ujian hidup yang harus dan mampu ia jalani itu lebih berat dari semua makhluk. Dan bagi mereka yang berhasil menghadapi setiap ujian hidupnya itu, maka layaklah ia dikatakan sebagai Khalifah (pemimpin makhluk) karena kesempurnaannya sendiri. Tanpa ujian, maka siapapun takkan bisa terbukti keunggulannya.

Sementara itu, di dalam zahir Manusia itu ada bagian-bagian diri Manusia yang seolah-olah terpisah padahal satu kesatuan yang utuh. Ada Ruh, Jiwa, Sukma, Nyawa, dan Hati, yang semuanya adalah bagian terpenting dari sejatinya Manusia. Kelimanya harus diketahui lalu dipahami dan diusahakan untuk tetap dipersatukan oleh setiap pribadi – minimal dalam pikiran. Dan ini harus dengan ilmu yang cukup dan pengertian yang mumpuni. Setiap pribadi selayaknya mencari tahu dulu apa sebenarnya kelima bagian dirinya itu. Selanjutnya berkenalan, berbincang-bincang (diskusi), dan akhirnya bersatu kembali dengan kelimanya itu di dalam satu wadah yang bernama Diri Sejati.

Wahai saudaraku, dapatkah engkau memahami pengetahuan ini? Apakah dunia ini sebenarnya? Manusia, Jin, Malaikat, Peri, Cinturia, Karudasya, Walluha, Birmanu, Maltasi, Hewan, Tumbuhan, Bumi, Galaksi, benda-benda, elemen dan lainnya. Bagaimanakah semuanya diciptakan? Dari apa asal mereka, dan mengapa mereka itu tercipta dan untuk apa? Dan apakah yang akan terjadi setelah semuanya mati atau sirna? Pikirkan dan renungkanlah pengetahuan ini.

Dan apakah kau akan menjawab bahwa tubuh Manusia itu terbentuk dari tanah dan air yang mengalir didalamnya sebagai darah dan kebaikan. Api memberikan kekuatan dan kehangatan pada tubuh. Termasuklah rongga yang ada di dalam tubuh yang diisi oleh udara dan ether. Karenanya, dalam tubuh Manusia itu ada unsur tanah, air, api, udara dan juga ether. Kelima elemen dasar itu yang disebut dengan Panca Mahabhuta.

Ya. Kau tidak salah tentang hal itu, tapi perlu engkau renungkan lagi apakah sudah benar pendapatmu. Sebab jika sebatas itu pemahamanmu, maka setiap Manusia itu, sehebat apapun dia, maka tak lebih dari sekedar kelima unsur itu saja. Bahkan orang shalih dan penjahat pun terdiri dari kelima elemen itu, tidak lebih. Jika begitu, lantas apa yang menjadi keutamaan dari Manusia? Apa keunggulannya? Dan apa pula yang kau pikirkan, apakah tanah (zahir) saja?

Tidak saudaraku. Memang tubuh Manusia terbuat dari tanah yang melambangkan ciri khas dari Manusia itu sendiri. Semua ikatan dan unsur lainnya pun mengakar dari tubuh yang berasal dari tanah itu. Tapi, jika ini memang benar 100%, pertanyaannya adalah kenapa saat Manusia mati tubuhnya akan hancur? Apakah benar setelah tubuh mati Manusia itu juga mati?

Sekali lagi tidak saudaraku, karena kenyataannya setelah tubuh mati Manusia akan tetap hidup. Semua bagian dirinya kecuali tubuh zahir akan terus hidup dan menjalani kehidupan lainnya. Dan tak ada satupun bagian dari tubuhnya, atau pun yang mengakar di dalam tubuhnya yang menjadi ciri khasnya. Sebab, yang menjadi ciri khas bagi setiap diri Manusia itu hanyalah sifat, tingkah laku dan amal ibadahnya.

Lalu berpikirlah tentang bagaimanakah sifat, tingkah laku dan amal diciptakan? Pahamilah itu hai saudaraku. Karena ketahuilah bahwa kehidupan Manusia itu adalah wujud keserasian antara sesuatu yang tampak dan yang tidak tampak. Tanpa keserasian dari keduanya, maka sebenarnya seseorang itu belumlah hidup dalam arti yang sesungguhnya. Makanya sifat, tingkah laku dan amal ibadahlah yang membedakan antara satu Manusia dengan yang lainnya. Bukan unsur/elemen dalam dirinya.

Oleh sebab Manusia tak bisa lepas dari unsur alam (elemen dasar), maka Manusia harus selaras dengan alam, alam dengan energi, energi dengan esensi Yang Esa. Dan tak harus melihat untuk bisa merasakan Yang Sejati. Manusia tak terpisahkan dengan-Nya. Karena DIA adalah dirinya, dirinya adalah DIA. Dirinya dan DIA satu.

***

Untuk itu, setiap pribadi harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bisa mengenal siapa dirinya sendiri dengan mencapai derajat yang mulia. Tanpa hal itu maka hidupnya hanya akan berakhir sia-sia. Dan untuk mewujudkannya, maka seseorang perlu memahami bahwa derajat Manusia itu terdiri dari tiga maqom (tingkatan). Kesemuanya harus di laksanakan dan di lalui satu persatu untuk bisa meraih kesempurnaan hidup. Tidak ada jalan yang mudah disini, karena harus disertai dengan ketekunan dan kesabaran hati yang tinggi. Hasilnya tentu akan sebanding dengan perjuangannya.

Adapun ketiga maqom (derajat) Manusia itu adalah sebagai berikut:

1. Kasekten
Ini adalah derajat pertama yang bisa dicapai oleh setiap orang. Dan pada dasarnya secara bahasa Kasekten itu sama artinya dengan kesaktian atau kekuatan/kemampuan yang dimiliki. Artinya di sini seseorang itu telah memiliki kemampuan lebih atau harta yang berlimpah atau kedudukan/jabatan yang tinggi dalam hidupnya. Ini bukanlah hal yang salah, hanya saja perlu sangat hati-hati di sini. Karena sebenarnya Kasekten itu bukanlah bukti dari kemuliaan diri seseorang. Meskipun ia sangat pintar, kaya raya, sakti mandraguna atau tinggi jabatannya, maka itu tak lebih dari sekedar alat untuk bisa membuktikan dirinya saja, atau cara untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Hanya sebatas itulah fungsinya.

Oleh sebab itu, jika seseorang masih ingin membuktikan dirinya atau mendapat pengakuan dari makhluk, itu artinya ia masih terbelenggu dan derajatnya terhenti di level pertama ini. Seseorang belum bebas merdeka dan menuhankan Tuhan yang benar. Tuhannya adalah materi dan pengakuan dari orang lain itu. Sehingga ini bukanlah hal yang luar biasa dan patut dibanggakan. Siapapun tak lebih hanyalah sebagai budak dari keduniawian semata.

Tapi bila ia mampu menggunakan semua Kasekten yang dimiliki itu hanya untuk tujuan kebaikan dan kemaslahatan bersama, maka perlahan-lahan ia akan mulai memahami hakekat dari materi duniawi ini (materi duniawi = hal yang menjadi belenggu hati dan jiwanya menuju kebebasan sejati) dan akan belajar untuk bisa terlepas dari ikatannya. Jika terus bertahan dalam sikap ini, ia baru bisa dikatakan telah hijrah dan akan terlepas dari ikatan materi duniawi. Hasilnya ia akan sampai di tingkat berikutnya, yaitu Kamukten. Tapi jika tidak, maka ia hanya akan terhenti di level terendah ini, dimana itu bukanlah hal yang baik untuk di lakukan.

Catatan: Banyak orang yang hanya berkutat di level terendah ini. Tak terkecuali para pemimpin dan pembesar di negeri ini, juga di seluruh dunia. Mereka masih terlalu ingin diakui dan menunjukkan siapa dirinya dihadapan makhluk. Sifat riya’ dan bangga diri tak jauh dari kehidupan mereka, sehingga lupa bahwa ia (hati dan pikirannya) selalu diawasi dan nanti – di akherat – akan dimintai pertanggungjawaban.

2. Kamukten
Arti yang lebih tepat untuk Kamukten itu adalah tujuan hidup yang di landaskan kepada nilai-nilai kejiwaan dan kebenaran yang hakiki. Sehingga untuk mencapai derajat ini, maka kepemilikan yang diraih atau kemampuan yang dimiliki seseorang itu haruslah sudah dimanfaatkan untuk kemaslahatan sesama. Tidak ada lagi keinginan untuk bisa mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain. Sifat riya’ dan bangga diri itu sudah lama ia tinggalkan.

Selain itu, seseorang juga terus melatih dirinya dengan laku tapa brata yang benar. Yaitu mencukupkan perihal keduniawian hanya sebatas apa yang menjadi kebutuhannya saja. Karena itulah seseorang yang sudah berada di level ini tidak lagi tertarik dengan pangkat-jabatan, harta berlimpah, popularitas, atau pun ilmu ajian kesaktian dan yang sejenisnya. Ia sudah bisa melepaskan itu semua dan fokus hanya kepada pembersihan dirinya menuju Tuhan.

Dengan kata lain, bagi seorang yang berada di tingkat Kamukten ini maka tak ada lagi yang terlalu menarik dari dunia ini. Karena hidup itu adalah sarana untuk bisa selalu mengabdi kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Dunia ini di pandang sementara, semu dan sebatas waktu untuk mempersiapkan bekal kehidupan selanjutnya (akherat). Karena itulah dunia ini pun bukanlah cita-cita akhir dari pengabdian hidupnya. Sebab setelah dunia ini berakhir (Kiamat) tentu masih ada Alam Akherat yang kekal dan abadi. Dan ia hanya ingin nanti bisa kembali kepada Tuhannya dalam keadaan telah diampuni dan diridhoi oleh-NYA saja. Caranya tentu dengan bisa melepaskan segala ikatan dari hasrat keinginan duniawi ini.

Inilah alasan kenapa pola hidup sederhana dan menikmati hidup dengan penuh kerendahan hati serta rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa menjadi ciri khas dari sedikit orang Nusantara yang mengutamakan keadaan jiwanya. Mereka itulah yang sudah sampai di level Kamukten ini. Tidak banyak yang mau dan bisa, sebab derajat Kamukten ini adalah pilihan hidup yang sangat berat dan dipenuhi dengan kesadaran diri. Dan siapapun yang berada di tingkatan ini tetap tidak akan terlepas dari ujian yang lebih berat lagi. Segala daya, potensi diri, kelebihan dan hatinya akan terus diuji dengan ego dan kesombongan diri yang bahkan sering menemaninya. Jika ia mampu melaluinya dengan baik, maka ia akan sampai ke tingkat yang tertinggi, yaitu Kamulyan. Jika tidak, maka derajatnya akan tetap di level kedua ini, bahkan bisa turun lagi ke level terendah (Kasekten).

Artinya, meskipun seseorang telah berada di tingkat Kamukten, maka tetap saja dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa sampai ke derajat yang ketiga (Kamulyan). Hal ini berkaitan dengan latihan kesetiaan atau untuk menjadi setia dalam keberpalingan pada bujuk rayu duniawi dan kesombongan diri (ke-aku-an). Karena semakin ia mendalami derajat Kamukten ini, maka ujian akan ego, kesombongan dan rasa puas diri itu semakin kuat. Sehingga memang sangat dibutuhkan latihan menggunakan getaran kekuatan batin yang bersih dan senantiasa mengintropeksi diri sendiri (muhasabah). Ia harus bisa terus menemukan ketenangan hati dan kedamaian jiwanya tanpa pernah merasa hebat, atau bahkan merasa mampu. Yang berarti ia pun selalu bersikap rendah hati.

3. Kamulyan (kemuliaan)
Dalam bahasa Jawa ada satu falsafah yang berbunyi: “Urip Sing Prasojo Bakalan Pinemu Kamulyan” atau yang berarti jika kita mau hidup dengan sederhana tentunya akan menemukan kemuliaan. Kata kuncinya disini adalah kesederhanaan hidup. Sehingga jika seorang yang berada di level kedua (Kamukten) sedang berusaha untuk tidak lagi memiliki ambisi terhadap apapun di dunia ini (terutama harta, tahta dan popularitas), maka mereka yang berada di level ketiga ini sudah bisa menghilangkan semua ambisinya. Ia telah bebas merdeka dengan berhasil menundukkan ego dan kesombongan dirinya, bahkan ia pun tak lagi memikirkan tentang derajat, kemuliaan atau apapun itu. Telah lama pikiran dan hatinya meninggalkan itu semua dan terus larut dalam percintaannya dengan Sang Maha Cinta.

Lalu jika ia bersentuhan dengan kehidupan makhluk, maka itu tak lebih dari sebatas untuk bisa menegakkan kebenaran dan keadilan serta memberikan manfaat yang luas bagi sesama. Tidak ada kepentingan lain kecuali dua hal itu saja. Karena pikiran, hati dan jiwanya sudah sangat terikat erat dengan Tuhannya saja. Tak ingin lagi ia berpaling atau selingkuh – terutama dengan materi duniawi. Ia hanya melakukan apapun yang sesuai dengan kehendak-Nya saja dengan menghilangkan semua hasrat keinginannya sendiri. Karena cinta sejatinya hanyalah kepada Kekasihnya; Hyang Aruta (Tuhan YME).

Untuk itu, siapapun yang sampai di tingkatan ini (Kamulyan) adalah pribadi yang waskita dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Ia bisa memahami apa yang tak dipahami oleh orang banyak, dan mampu melihat dengan jelas walaupun dalam kegelapan suasana. Derajatnya menjadi lebih tinggi namun tanpa merasa bahwa ia sudah mulia dan terhormat. Dirinya justru merasa sangat hina dan sadar bahwa tak memiliki daya upaya apapun kecuali hanya atas izin Tuhannya saja. Semuanya hanya dari dan untuk-NYA saja, sementara dirinya telah lama “sirna” dari hadapan makhluk. Sungguh beruntunglah siapapun yang bisa sampai di level ini, sebab akan mendapatkan kesempurnaan hidupnya.

Makanya, jika kebenaran Ilahi – yang bisa dijangkau oleh semua Manusia – hanya bisa dicapai oleh segelintir Manusia, ini jelas menunjukkan bahwa hanya sedikit itu saja yang mau berjuang untuk mencapainya. Perasaan tidak puas atau selalu merasa kurang, kegersangan dan kegelapan batin adalah bagian dari karya Tuhan yang akan membawa kita menuju kesempurnaan. Inilah misteri yang tersembunyi di sudut terdalam hati makhluk ciptaan Tuhan. Sedangkan tugas setiap pribadi itu adalah mencari hakekat kebenaran yang sejati di balik karya-karya misterius itu. Dan bangsa Nusantara sejak dulu sudah mengetahuinya. Hanya saja kini tidak lagi diperhatikan, terlebih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seakan-akan tidak pernah ada sama sekali.

Padahal kesempurnaan pada tingkat Manusia merupakan tugas yang harus dicapai oleh setiap pribadi dengan upaya yang sadar. Citra Tuhan yang berkarya di dalam diri kita membuat kita merasa ada yang kurang. Manusia lalu dihantui oleh kesombongan, kesementaraan, dan kerentanan pada kebahagiaan. Mereka yang menjalani kehidupan secara dangkal tak merasakan tekanan ini, atau merasakan jiwa yang terkoyak-koyak dan mungkin tidak merasakan adanya dorongan batin untuk mencari kebaikan yang sejati. Manusia semacam ini adalah binatang dalam rupa Manusia (purusapasu), dan seperti binatang yang sekedar lahir, tumbuh dewasa, kawin, beranak cucu dan akhirnya mati. Tapi sebaliknya, mereka yang menyadari martabat luhur Manusia – yang diwariskan oleh leluhur bangsa Nusantara – akan menyadari sepenuhnya tentang “rasa ada yang kurang” di atas dan berusaha mencari prinsip keseimbangan dan kedamaian.

Untuk itulah, dalam mencapai tingkatan “rasa ada yang kurang” atau hidup yang lebih tinggi, kita bisa menempuh jalan Jijnasa atau pengingkaran nafsu buruk demi pengetahuan. Jijnasa ini akan mengangkat seorang Manusia dari keterbatasannya yang serba sempit dan membuatnya melupakan dirinya sendiri dalam kontemplasi prinsip-prinsip eksistensi universal. Pengetahuan yang dicari demi kekuasaan atau kemasyhuran tak akan membawa kita pada tingkatan keluhuran itu. Pengetahuan harus dicari demi pencapaian kebenaran sejati.

Ya. Manusia memang saling berbeda. Ada yang reflektif dan ada yang emosional, ada juga yang aktif. Namun demikian, mereka tidak eksklusif. Dimana pada akhirnya pengetahuan, cinta dan kerja itu bercampur menjadi satu. Tuhan sendiri adalah sat (realitas), cit (kebenaran) dan ananda (kebahagiaan). Sehingga bagi mereka yang mencari pengetahuan, DIA adalah Cahaya Abadi, yang terang benderang seperti Matahari pada siang hari, dimana tak ada kegelapan; bagi mereka yang memperjuangkan keluhuran budi, DIA adalah Kebenaran Hakiki, yang teguh dan tak memihak; dan bagi mereka yang cenderung bersifat emosional, DIA adalah Cinta Sejati, Keindahan dan Kesucian.

Sehingga kebijaksanaan yang murni dan transenden (yang ditinggikan: cara berpikir tentang hal-hal yang melampaui apa yang terlihat) berbeda dengan pengetahuan ilmiah, meskipun keduanya tidak terpisahkan sama sekali. Setiap ilmu pengetahuan itu mengungkapkan dengan caranya sendiri, dalam rentang tatanan tertentu, cerminan kebenaran abadi yang luhur dari setiap bagian realitas. Pengetahuan ilmiah atau pengetahuan diskriminatif mempersiapkan kita untuk menerima kebijaksanaan yang lebih tinggi. Kebenaran parsial (mencakup tidak secara keseluruhan) ilmu pengetahuan ilmiah dibutuhkan karena menghalaukan kegelapan yang meliputi pikiran Manusia, memperlihatkan ketaksempurnaan dunianya sendiri, dan mempersiapkan pikiran untuk sesuatu yang lebih tinggi. Tapi untuk mencapai kebenaran, maka dibutuhkan pertobatan jiwa dan pematangan visi spiritual.

O.. Kebijaksanaan adalah pengalaman langsung yang mewujud setelah hambatan-hambatan bagi perwujudannya disingkirkan. Upaya orang yang mencari kebijaksanaan harus diarahkan untuk menyingkirkan hambatan-hambatan, untuk menghilangkan kecenderungan avidya atau kedunguan yang membutakan. Kebijaksanaan ini selalu ada, karena kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang harus diraih dari luar diri kita. Apa yang harus kita lakukan adalah membuka diri pada penyingkapan ruhani dan spiritual. Pemahaman sehari-hari yang didasari oleh keinginan-keinginan dan prasangka, tak akan bisa menyingkapkan realitas yang sebenarnya. Ketenangan pikiran dan kemurnian kehendak, pengingkaran ego akan membawa kita pada pencerahan, kebijaksanaan dan cahaya terang yang akan membawa kita pada kesejatian hidup. Inilah keabadian hidup, kepenuhan purna kemampuan kita untuk mencinta dan mengalami kebijaksanaan.

***

Makanya di dalam kehidupan bangsa Nusantara, sejak awal dulu mereka sudah mengenal sebuah ajaran yang luhur, yang sekarang bisa disebut dengan Budhi Dharma. Suatu tatanan kehidupan yang membimbing bangsa Nusantara hingga bisa membangun peradaban yang besar dan tertata rapi. Karena dalam hal ini Budhi sendiri berarti tingkah laku yang baik dan mulia yang harus menjadi pedoman hidup Manusia. Tujuan dari Budhi adalah membina hubungan yang selaras dan harmonis antara seseorang dengan yang lainnya, dirinya dan siapapun yang ada disekitarnya. Juga hubungan kekeluargaan di dalam masyarakat, hubungan bangsa dengan bangsa lainnya, hubungan Manusia dengan makhluk di sekelilingnya, sampai pada hubungan Manusia dengan Sang Penciptanya.

Selain itu, Budhi akan membina watak Manusia untuk menjadi anggota keluarga, anggota masyarakat yang baik, menjadi Manusia yang berperilaku mulia, dan membimbing Manusia untuk menuju pada kebahagiaan. Budhi juga menuntun seseorang untuk mempersatukan dirinya dengan makhluk sesamanya dan akhirnya menuntun mereka untuk mencapai kesatuan jiwa dengan Tuhannya. Dengan begitu ia pun akan mendapatkan kenikmatan yang tak terkira, karena kebahagiaan yang mutlak dan abadi itu hanya dapat dinikmati bilamana hati dan jiwa seseorang dapat mencapai “kesatuan” dengan Tuhannya.

Sehingga dalam hal ini dibutuhkanlah empat macam praktek perbuatan yang luhur untuk bisa mencapai kehidupan yang sempurna. Yaitu:

1. Mitra (kawan, sahabat, saudara atau teman)
Artinya, sifat-sifat yang menghendaki persahabatan terhadap semua makhluk di Alam Semesta ini. Mitra mengajarkan agar Manusia memandang semuanya itu seperti keluarga besar. Dan seseorang wajib saling mengasihi, tolong menolong, gotong royong, dan saling menghormati.

2. Tresna (cinta kasih)
Artinya, perasaan belas kasihan kepada semua makhluk yang ada. Selain itu, suka menolong dan rela berkorban demi kebahagiaan orang lain. Sifat ini akan selalu merasakan penderitaan orang lain layaknya penderitaan dirinya sendiri. Dan orang yang menjalankan sifat ini tentu tidak akan segan-segan menolong orang lain tanpa pandang bulu, dan juga mempunyai sifat suka mengampuni dan memaafkan kesalahan orang lain. Karena ia sadar bahwa pada dasarnya Manusia itu tidak luput dari kesalahan.

3. Gumbira (bahagia, senang, puas atau simpati)
Artinya, telah melepaskan sifat iri hati, dengki, dusta dan benci. Orang yang memiliki sifat ini akan merasa menderita bila melihat orang lain mengalami penderitaan dan akan berusaha membantunya. Begitu pula sebaliknya, ia akan merasa bahagia saat melihat orang lain bahagia.

4. Upeksa (tidak mencampuri urusan orang lain)
Artinya, sifat ini mengajarkan kepada Manusia untuk selalu waspada dan bijaksana dalam meneliti segala keadaan atau suatu masalah. Apakah suatu masalah itu benar atau salah. Sifat ini tidak suka menceritakan kesalahan dan kejelekan orang lain, tidak suka menyinggung perasaan orang lain, atau dalam artian selalu menjaga perasaan orang lain.

Selanjutnya, setelah Budhi maka ada pula ajaran tentang Dharma. Dimana Dharma sendiri mempunyai pengertian yang sangat luas, seperti segala perilaku yang luhur. Perilaku yang luhur ialah perbuatan Manusia yang sesuai dengan ajaran Hyang Aruta (Tuhan YME). Ajaran Tuhan dalam bentuk aturan yang jelas bisa menuntun, membina dan mengatur hidup Manusia sehingga mencapai kesejahteraan hidup lahir dan batin. Kewajiban untuk berbuat kebaikan adalah Dharma. Sehingga Dharma juga bisa berarti kebajikan.

Makanya, di dalam Dharma itu ada dua kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap orang, yaitu:

1. Swa Dharma, yaitu kewajiban diri sendiri, karena setiap orang itu punya kewajibannya sendiri, baik kepada Tuhan ataupun kepada sesama makhluk.

2. Para Dharma, yaitu kewajiban untuk menghormati dan menghargai tugas dan kewajiban orang lain. Tidak memandang rendah kewajiban orang lain.

Ya. Memperhatikan uraian di atas, maka ajaran Budhi Dharma adalah alat untuk mencapai kesempurnaan dan kebebasan diri. Ia menghilangkan segala macam penderitaan, sumber datangnya kebaikan bagi yang melaksanakannya, dan dapat melebur dosa-dosa. Budhi Dharma adalah harta kekayaan yang dimiliki oleh orang shalih yang tidak bisa dicuri atau dirampas. Budhi Dharma adalah landasan untuk mendapatkan arta (kepemilikan) dan mengontrol kama (nafsu) dengan baik.

Sungguh, Manusia adalah makhluk multidimensional yang kompleks. Termasuk di dalamnya, di dalam diri Manusia itu terdapat berbagai macam elemen materi, kehidupan, kesadaran, kecerdasan dan percikan Cahaya Ilahi. Manusia akan bebas jika ia bertindak dari tingkatan yang paling tinggi dan menggunakan elemen-elemen yang lain untuk mewujudkan tujuan hidupnya. Tapi, jika ia berada pada level alam objektif, ketika ia tidak menyadari perbedaan dirinya dari non-diri, ia hanya akan menjadi budak dari mekanisme alam.

Untuk itulah, setiap tingkatan kehidupan mempunyai kesadaran, pikiran yang bersifat permukaan, pola perasaan, pikiran dan tindakannya sendiri-sendiri. Ego tak boleh memaksakan kesadarannya yang kabur dan terbatas. Pemaksaan ini sama saja dengan penyimpangan dari sifatnya yang sebenarnya. Ketika kita mengalahkan dan mengendalikan panca indera, maka nyala api ruh akan terang dan menyala, seperti terangnya pelita di tengah ruang yang berangin tenang. Cahaya kesadaran akan bersinar terang, memperlihatkan sifat dasarnya, dan diri empiris dengan gelombang pengalaman yang selalu berubah-ubah akan di kendalikan oleh Budhi Dharma. Dan melalui Budhi Dharma inilah terpancar cahaya kesadaran. Jika demikian, kita akan melampaui belenggu duniawi dan melihat diri sejati, dan merasakan sumber kekuatan-kekuatan kreatif. Kita tidak lagi menjadi alat permainan alam yang tanpa daya. Karena kita akan menjadi bagian dari dunia bebas yang mengatasi dunia bawah (kungkungan, perbudakan, tekanan, kejahatan).

Sungguh, bangsa Nusantara dulu sangat menyadari bahwa hanya atas rahmat Tuhan sajalah yang bisa membawa diri seseorang pada keluhuran budi. Karena ketika jiwa tunduk, memasrahkan diri ke hadapan Tuhan, DIA akan memberikan berbagai pengetahuan, mengangkat kesalahan dan membuang jauh semua kekurangan serta mengubahnya masuk ke dalam cahaya terang-NYA yang tak terbatas dengan kemurnian kebaikan universal. Sehingga di dalam ajaran Budhi Dharma, maka setiap pribadi harus mampu mempersatukan 5 sifat utama yang luhur ke dalam dirinya sendiri. Di antaranya yaitu:

1. Ngesti Aji (mencari ilmu pengetahuan suci)
Artinya, seseorang harus bijaksana dan mahir dalam segala ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan suci (agama).

2. Ngesti Giri (mencari kekuatan seperti gunung)
Artinya, seseorang harus kuat iman, teguh pendirian, tangguh dalam menegakkan kebenaran, serta tabah dan tegar dalam menghadapi segala kendala ataupun penderitaan.

3. Ngesti Jaya (mencari kemenangan)
Artinya, seseorang dapat menundukkan musuh-musuhnya dan segala sifat-sifat buruk yang ada di dalam dirinya, serta sempurna lahir dan batin. Disinilah pula seseorang harus memperhatikan kemampuan olah raga (ilmu kanuragan), olah batin (ilmu kadigdayan)-nya demi kebenaran dan keadilan.

4. Ngesti Nangga (mencari ketangguhan dalam rasa dan perasaan)
Artinya, seseorang harus tangguh dan tanggap dalam segala keadaan serta tahu membawa diri, sehingga tidak mudah terjerumus dalam kehancuran dan kehinaan atau hal-hal yang merugikan. Disinilah ia perlu memperhatikan tentang bagaimana maqom (level) kamukten, dan kamulyan-nya sendiri.

5. Ngesti Priyambada (senang berbagi kebaikan)
Artinya, seseorang terus memberikan rasa bahagia, ketenteraman dan kedamaian lahir dan batin kepada orang-orang yang ada disekitarnya atau masyarakat.

Ya. Dengan memahami dan mau menerapkan ke lima sifat mulia di atas, maka bangsa Nusantara ini dulunya mampu memecahkan segala kebuntuan kehidupan sehari-hari, baik dalam bidang spiritual maupun dalam berbangsa dan bernegara. Tapi kini semua itu serasa tiada, karena telah terkikis oleh aturan, budaya dan tradisi kehidupan dari bangsa lain – yang sebenarnya tidak sesuai dengan sifat dasar dan karakter asli bangsa ini. Yang mengakibatkan bangsa ini kian terpuruk dan terus saja menjadi pengekor dan jongos dari bangsa lain.

***

Wahai saudaraku. Demikianlah uraian dari apa yang telah ada sejak masa kehidupan para leluhur kita dulu. Sebuah ajaran hidup yang luhur karena mengedepankan keseimbangan diri Manusia demi terlaksananya kedamaian dan kebahagiaan hidup. Ini berlaku universal, dan dengannya maka setiap pribadi itu akan menemukan jati dirinya sendiri dan bisa menghantarkannya pada tujuan hidup yang sesungguhnya. Sebab kehidupan ini tidak hanya terbatas pada urusan materi-duniawi saja, juga bukan sekedar yang terlihat oleh mata kepala saja, melainkan hingga pada alam keruhanian dan akherat nanti serta yang menciptakan itu semua; Hyang Aruta (Tuhan YME). Sehingga pada akhirnya semua kebutuhan hidup di dunia dan akherat nanti akan terpenuhi dengan baik hanya dengan mengikuti semua ajaran di atas. Dan disanalah letak kebahagiaan yang sesungguhnya, yang bisa di rasakan bagi siapa saja yang mau menjalankannya.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Rahayu… 🙏

Jambi, 03 Maret 2019
Harunata-Ra

Raferensi:
* https://oediku.wordpress.com/2017/07/22/tapa-brata-leluhurku/
* https://oediku.wordpress.com/2017/04/27/jenis-elemen-makhluk-dan-dimensi-kehidupan/
* https://oediku.wordpress.com/2017/03/29/diri-manusia-itu/#more-8371
* https://oediku.wordpress.com/2015/05/05/ajaran-luhur-budhi-dharma-nusantara/

Iklan

12 respons untuk ‘Agama Budhi (1)

    mochjuna said:
    Maret 7, 2019 pukul 4:01 pm

    Mas bisa menjelaskan arti kata “hu” tidak? soalnya amalan yang di berikan guru saya intinya di kata “hu” itu. tapi pas bilang hu tidak boleh menyebutkan di lisan, hanya ”hm” tapi di dalam hati berkata ”hu”. suruh membaca itu sampai menemukan cahaya di dalam hati katanya tapi sampai saat ini q belum mengerti maksudnya

      Harunata-Ra responded:
      Maret 7, 2019 pukul 4:25 pm

      Maaf ya mas Mochjuna, ttg hal itu saya gak bisa jelasin detilnya, itu bersifat rahasia dan ada protapnya juga.. Makanya di artikel udah saya terangkan di dalam tanda kurung “(hanya sebatas ini yang bisa kami sampaikan disini)”..

      Tapi terima kasih sudah mau berkunjung, moga bermanfaat.. 😊🙏

      Oh ya, ttg amalan “Hu” itu, setau saya ada byk versinya.. Dari sisi katanya sih emg sama tapi cara mengamalkan, maknanya, maksud dan tujuannya beda2.. Asal-usul amalan itu pun berbeda.. Utk itu sebaiknya mas tanya aja langsung ke gurunya.. Kalo saya yg jelaskan nanti tidak tepat..

        mochjuna said:
        Maret 7, 2019 pukul 4:42 pm

        Aduh, terhalang protap ya mas. Hehe makasih atas sarannya mas, selamat malam

        Harunata-Ra responded:
        Maret 8, 2019 pukul 12:43 am

        Iya mas, sekali lagi maaf ya..
        Oh sama2lah mas, moga bisa cpt menemukan pencerahan nya.. 🙏

      Nur asika himaya said:
      Maret 9, 2019 pukul 3:10 am

      Matur suwun untuk ilmu trbarunya mas…

        mochjuna said:
        Maret 9, 2019 pukul 4:30 am

        Ilmu terbaru apa ya maksudnya?

        Asyifa said:
        Maret 16, 2019 pukul 8:02 am

        Matur suwun kagem ilmu trbarunya mas oedi

        Harunata-Ra responded:
        Maret 17, 2019 pukul 12:58 am

        Nggih mbak Asyifa, sami2lah kalo gitu.. Ttp semangat ya.. 🙂

        Tapi sebenarnya ini bukanlah ilmu yg baru loh, karena tulisan ini adalah sebuah rangkuman dari apa yg pernah disampaikan sebelumnya di blog ini.. 🙂

    Asyifa said:
    Maret 26, 2019 pukul 10:34 am

    Bagi kulo apapun itu tetaplah ilmu mas …..sepindah melih matur suwun

      Harunata-Ra responded:
      Maret 27, 2019 pukul 2:27 am

      Baguslah kalo gitu mbak.. Ilmu itu ada dimanapun. Tergantung kitanya yg bisa mengambilnya atau tidak? Apakah dipakai atau tidak? semua kembali ke diri kita sendiri.. 🙂

    Didi irawadi said:
    April 12, 2019 pukul 8:50 am

    Menarik dan dalam tulusannya…bisa beri petunjuk kpd sy….bagaimana mencapainya…karena ketika sy mencoba mencari dan merenungi perjalanan hidup sbg “guru ” kok semakin merasa nda ada apA2nya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s