Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Matterama: Kejayaan 5 Ras Manusia

Wahai saudaraku. Kali ini kami akan menyampaikan kisah tentang sebuah tempat yang telah berulang kali menjadi pusat kejayaan Manusia. Di sana pula harapan selalu muncul untuk menjadikan dunia lebih aman dan makmur. Dan ini pernah terjadi pada masa akhir periode zaman ke lima (Dwipanta-Ra) atau sekitar ±25.925.000 tahun silam. Kala itu berdirilah sebuah kerajaan besar yang bernama Matterama. Pusat negaranya dulu berada di antara Jogjakarta, Purworejo, dan Magelang sekarang. Pada masa itu jelaslah bahwa kondisi geografi dan topografi wilayahnya sangat berbeda dari sekarang. Banyak yang ada pada masa itu sudah tidak ada lagi di masa kini. Banyak yang telah berubah atau menghilang.

Dalam hal kejayaan, kerajaan ini termasuk yang paling hebat di masanya. Sulit dicari tandingannya di seluruh dunia. Semuanya mengakui kemajuan peradaban dan kesejahteraan di negeri yang juga dikenal dengan nama Armasta ini. Tak ada yang berani macam-macam dengan mereka, karena selain berteknologi tinggi, bangsa ini juga memiliki kesaktian yang luar biasa. Hal ini pun berlangsung selama ribuan tahun, dan banyak bangsa lain yang berguru kepada mereka.

Selanjutnya, untuk lebih jelasnya mari ikuti kisah berikut ini:

1. Awal kisah
Semuanya bermula ketika seorang Begawan yang bernama Arkayana mendapatkan petunjuk untuk mendirikan sebuah kaum. Mereka harus terdiri dari orang-orang yang berasal dari lima ras yang berbeda. Setelah terkumpul, mereka yang kelak akan menjadi cikal bakal kaum itu lalu di ajak untuk mengasingkan diri. Selama masa pengasingan itu, mereka lalu ditempa dengan berbagai keahlian yang sesuai dengan bakatnya masing-masing. Sesekali datang pula seorang utusan Tuhan, seperti Nabi Salbi AS, Nabi Muya AS, dan Nabi Malik AS untuk memberikan bimbingan dan pelajaran hidup. Hal yang sangat berharga.

Selama lebih dari 15 tahun proses itu harus dijalani oleh ke lima ras tersebut. Sampai akhirnya mereka pun siap untuk kehidupan yang baru sebagai kaum yang diberi nama Armastana. Di kemudian hari, setelah negaranya terbentuk, mereka lalu memberikan nama yang sesuai dengan petunjuk Ilahi. Nama tersebut didapatkan melalui perantara Nabi Muya AS, yaitu Matterama atau yang berarti kehidupan yang makmur dan penuh kejayaan.

2. Tata kota dan kondisi alam
Nama ibukota kerajaan Matterama di ambil dari nama kaumnya sendiri, yaitu Armasta. Sebuah kota yang melambangkan keindahan dan hikmat kuno yang mengagumkan. Istana-istananya yang memukau, yang berwarna-warni, menandakan tradisi lama yang tetap dipertahankan dengan takzim dalam ingatan tentang segala yang baik, bijaksana, dan indah. Taman-tamannya yang permai tidak untuk melakukan aksi, tetapi untuk refleksi yang menyegarkan. Jelas apapun yang ada di dalamnya terlihat sangat rapi dan mempesona, sulit dicari tandingannya. Membuat siapapun akan betah untuk berlama-lama di sana.

Ya, dibalik tembok-tembok kota Armasta yang berwarna putih, kaum lima ras ini mendirikan istana, tempat tinggal, gedung-gedung, candi-candi, piramida-piramida, taman-taman, kebun-kebun, dan menara-menara yang sangat megah. Di lingkungan yang terlindungi itu, mereka telah membangun peradaban yang gemilang dan segala yang berkaitan dengan keindahan. Negeri Matterama pun menjadi lebih permai dan penuh berkah dari tempat manapun di seluruh dunia. Tak ada kejahatan dan penyakit masyarakat di sana, karena semuanya tetap dalam hukum dan aturan Hyang Aruta (Tuhan YME). Dan DIA pun sangat dikuduskan tanpa cela.

Dan perlu diketahui bahwa dari zaman ke zaman kondisi Bumi ini terus mengalami perubahan. Bentuk daratan dan lautan pun ikut berubah, aliran sungai berganti-ganti arah, danau muncul dan menghilang, bukit dan gunung tak ada yang tetap tanpa silih berganti, dan tak ada pula hutan dan lembah yang tidak mengalami perubahan drastis. Dan khususnya di wilayah Jogjakarta dan Jawa Tengah, maka dulu masih terdapat dua buah gunung raksasa yang berada di sekitar Kabupaten Gunung Kidul dan di sekitar pegunungan Menoreh sekarang (Kabupaten Purworejo-Magelang). Keduanya adalah gunung berapi yang ketinggiannya di atas 5.000 Mdpl. Sementara itu, justru gunung yang kini disebut Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro masih belum ada. Di sana hanya ada bukit-bukit yang kelak menjadi cikal bakal dari gunung-gunung berapi.

Catatan: Secara otomatis pada masa itu Laut Selatan Jawa dan Laut Utara Jawa juga tak ada. Keduanya masih berupa daratan yang sangat luas dan menjadi penghubung antar daratan lainnya. Jadi bila Anda berkunjung ke pantai Parangtritis yang berada di Bantul (Jogjakarta) misalnya, maka di sana itu dulunya hanya ada daratan yang di tumbuhi oleh hutan dan padang rumput. Masih banyak pula perbukitan, gunung, dan lembah yang terbentang sampai ke daratan Australia. Ada banyak pula kerajaan besar-kecil yang tinggal di sana. Sungguh berbeda dari sekarang.

Selain itu, seluruh kawasan Nusantara pada masa itu masih menyatu dan membentuk daratan yang sangat luas. Bahkan kawasan ini pun masih bersatu dengan Oseania, Melanesia, Polinesia, dan benua Australia. Karena itulah aliran sungai besar menjadi jalur utama transportasi pada masa itu. Dengan pelabuhan-pelabuhan yang dibangun dalam keteraturan yang indah, semua proses perdagangan (termasuk ekspor dan impor) berlangsung dengan lancar. Dan lautan memang ada tapi berada jauh dari ibukota kerajaan Matterama. Posisinya sangat jauh ke arah Barat Daya, di balik menara Gosa sebelum runtuh dalam pertempuran kuno. Sedangkan untuk bisa sampai di sana, ada banyak sungai besar-kecil yang mengalir ke sana dari daratan-daratan tinggi di sebelah Barat Laut dan Utara. Semuanya bermuara di lautan luas yang disebut Veindala.

Jadi, negeri Matterama itu berada di sebuah lembah yang sangat subur di antara kedua gunung raksasa bersalju yang bernama Parubala dan Majaya. Di sanalah kaum Armastana membangun peradaban yang sangat gemilang. Kejayaan mereka berlangsung lama dalam hitungan ribuan tahun. Pada masa-masa itu, penduduk negeri Matterama telah hidup sempurna secara lahir dan batin. Berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan pun berkembang pesat. Tahun-tahun yang panjang terus diisi dengan kerja keras yang membawa pada hasil yang memuaskan. Karena itulah tak heran bila ada banyak penemuan baru yang indah dan memukau. Kaum ini lalu memimpin dunia tanpa perlu menaklukkan atau menjajah negeri lain. Justru bangsa-bangsa yang ada memilih untuk bergabung dengan kerajaan Matterama dan terus menikmati hasilnya.

Catatan: Pada masa itu, lantaran sangat memperhatikan ilmu pengetahuan dan penelitian, di negeri Matterama sudah banyak terdapat hal-hal yang berbau teknologi canggih. Mereka telah berhasil membuat: (1) Sultora (semacam mobil terbang) untuk bepergian jarak jauh – karena bila jaraknya dekat mereka hanya berjalan kaki atau menggunakan Kole (sepeda). (2) Mastan (pesawat terbang) yang bisa melesat dalam kecepatan cahaya dan digunakan khusus untuk menjelajahi luar angkasa. (3) Anort atau alat untuk berteleportasi kemanapun di seluruh dunia. Alat ini khusus dimiliki oleh raja/ratu dan beberapa pembesar kerajaan saja, tidak untuk umum. (4) Missale atau alat komunikasi jarak jauh tanpa menggunakan satelit atau tiang pemancar. Alat ini bentuknya semacam medali kecil yang ketika diaktifkan akan memunculkan hologram khusus. Siapapun yang memiliki alat ini bisa saling berkomunikasi tanpa batas di seluruh dunia. Itulah sebagian teknologi yang telah dikembangkan di kerajaan Matterama. Khusus untuk persenjataan (pistol, senapan, bom, dll), kaum ini tidak terlalu memperhatikannya. Terlebih pada masa itu yang namanya berperang itu ya harus berhadapan langsung, alias duel langsung di medan tempur. Persenjataan canggih tidak digunakan, karena orang-orang lebih memilih untuk mempersiapkan kemampuan diri sendiri dalam ilmu kanuragan dan kadigdayan. Mereka tidak mau menjadi pengecut dengan hanya mengandalkan persenjataan buatan pabrik dalam setiap pertempuran. Jika pun ada senjata, itu lebih kepada yang bersifat benda pusaka yang bertuah (sakti mandraguna) yang bisa didapatkan hanya dengan olah batin tertentu.

Di samping itu, kerajaan Matterama bukanlah sebuah kekaisaran yang memiliki wilayah yang sangat luas dan menguasai seluruh kawasan Arsanta (penamaan Nusantara kala itu). Mereka pun tidak suka berperang apalagi sampai menaklukkan negeri lain. Karena itulah kaum ini bukanlah satu-satunya kerajaan besar yang ada di Arsanta. Ada beberapa kerajaan lain yang menjadi tetangga mereka, seperti Inhava yang berada di sebelah timur, di seberang sungai besar Hirona. Aliran sungai ini sangat panjang, ribuan kilometer, lalu berkelok ke selatan dan langsung bermuara ke laut Veindala di ujung Barat Daya daratan Arsanta. Lalu ada kerajaan lain yang bernama Moselaya yang berada di utara dekat pegunungan Telguno. Untuk sampai di sana, siapapun harus melintasi lembah Nektas yang menghijau dan pinggiran hutan tua Atrenda yang penuh kenangan. Di pedalaman hutan itu ada sebuah negeri kecil bernama Dorthalos yang penghuninya adalah Manusia Pohon – karena rumahnya dibangun di atas pohon-pohon. Mereka tidak suka berurusan dengan Manusia biasa, berinteraksi pun tidak pernah kecuali bila terpaksa atau karena tidak sengaja. Sehingga karena itulah di pedalaman hutan ini selalu dijaga dengan ketat dan tak bisa dimasuki tanpa seizin penguasanya.

Selanjutnya ada pula kerajaan Noindala yang berada di sebelah Selatan, dekat perbatasan kerajaan Amosa dan Derenta. Kerajaan ini lebih dekat ke arah barat, di dekat lembah Nawase yang berada di lereng pegunungan Ulmon. Untuk bisa sampai ke sana, selain menggunakan kapal layar untuk mengarungi sungai Lowen, bisa juga melalui jalur yang melintasi rawa-rawa yang ditumbuhi semak rerumputan. Di seberang rawa-rawa yang bernama Rasut itu, ada hamparan pasir kuning yang luas dan kosong dari penduduk. Setelah melewati padang pasir yang bernama Gordata itu, barulah akan memasuki wilayah kerajaan Noindala yang tersohor itu.

Dan yang terakhir adalah kerajaan Yamata yang berada di sebelah barat daratan Arsanta. Negeri ini berada di antara hutan Nyowa yang lebat dan pesisir laut Veindala yang berpasir putih. Keberadaannya di pinggir aliran sungai Rosen yang bermuara ke laut lepas. Dari Matterama, maka untuk sampai di sana harus melewati celah Galvarod yang tak begitu lebar dan meliuk seperti naga. Mereka ini adalah kaum penjelajah lautan yang banyak memiliki kapal-kapal besar nan perkasa. Kehidupan di negeri ini di tunjang dari perdagangan antar negara, tidak hanya di kawasan Arsanta saja tetapi sampai ke kawasan lainnya di seluruh dunia. Mereka juga dikenal dengan nama kaum Niftarin atau yang berarti para penjelajah samudera.

Demikianlah beberapa kerajaan yang terdekat dengan negeri Matterama. Masih ada yang lainnya, tapi tak perlu dijelaskan disini. Cukuplah yang telah disebutkan di atas untuk dijadikan gambaran tentang kondisi yang ada pada masa itu. Di sini tentu sangat berbeda dari sekarang.

3. Penduduk
Mereka yang tinggal di kerajaan Matterama secara umum terdiri dari lima ras yang berbeda. Setiap ras lalu menyebut diri mereka dengan nama wangsa (klan)-nya masing-masing, yaitu Harten, Elohar, Sile, Marti, dan Kosah. Pada setiap klan, maka sejak awal mereka telah memiliki keistimewaannya sendiri, dan ini terus diwariskan dari generasi ke generasi. Ini pula yang menambah keagungan dari kaum Armastana, terlebih mereka tak pernah menjadikan perbedaan itu sebagai masalah. Justru dengan adanya perbedaan itulah mereka bisa saling melengkapi.

Catatan: Detil tentang ciri fisik dari ke lima ras yang hidup di negeri Matterama ini tak bisa kami jelaskan di sini, ada protap yang harus diikuti. Terlebih agar tidak terjadi “keributan” lantaran merasa ras yang satu lebih unggul dari yang lainnya.

Lalu, pada dasarnya masing-masing ras yang ada di negeri Armastana mempunyai masa hidup yang alami. Namun ketika mereka berhasil mengintegralkan secara khusus antara sifat biologis, spiritualnya dan alam semesta, mereka pun bisa hidup dalam umur yang sangat panjang. Setidaknya tiga kali lipat dari umur Manusia biasa – yang umumnya antara 250-400 tahun saja, atau lebih dari pada itu. Dan lebih istimewanya lagi ada banyak dari mereka yang pada akhirnya memilih untuk berpindah Dimensi kehidupan dengan jalan moksa. Disana mereka pun hidup abadi sampai Hari Kiamat nanti terjadi. Sesekali ada dari mereka itu yang kembali ke Bumi untuk sekedar berkunjung atau memberikan bantuan atau justru menjalankan tugas khusus seperti penyelamatan dan penghancuran.

Dan pada masa itu, di wilayah Arsanta (penamaan Nusantara kala itu) khususnya waktu pergantian musim sangatlah teratur. Dan untuk saat buah-buahan siap di panen, maka diadakanlah perayaan di setiap masa pemetikan pertama. Kala itu ada pula perjamuan besar untuk mengucapkan rasa syukur kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Dalam acara itu raja/ratu dan seluruh rakyatnya menumpahkan rasa suka cita dan harapan mereka dalam hikmatnya doa. Setelah itu, iringan musik dan nyanyian di kumandangkan dengan merdu. Siapapun yang mendengarnya bisa merasa tenang dan bahagia, begitu pun rasa damai ikut menjalar di sekujur jiwa raga.

4. Ketatanegaraan
Sesuai dengan penjelasan di atas, kaum ini terdiri dari lima ras yang berbeda. Dari setiap ras maka dipilihlah seorang yang terbaik – pria atau wanita – dan ia akan mewakili golongannya untuk duduk di dewan kerajaan sebagai anggota majelis tertinggi negara. Seorang dari ke lima orang dewan inilah yang secara musyawarah akan dipilih untuk menjalankan tugas sebagai Atar (raja) atau Atri (ratu) – sementara 4 orang sisanya menjadi penasihat dan pengawas. Raja atau ratu yang terpilih akan memimpin kerajaan seumur hidupnya atau sampai ia sendiri yang mengundurkan diri. Atau jika sang pemimpin melanggar hukum maka ia bisa diberhentikan oleh dewan kerajaan, atau yang biasa disebut dengan Munras itu. Tapi hal ini tak pernah terjadi di kerajaan Matterama, karena para raja/ratu adalah orang yang terbaik dan akan mengundurkan diri bila merasa cukup dan hendak moksa.

Di bawah Atar (raja) atau Atri (ratu) terdapat para Sehar (setingkat menteri) dan pejabat lain yang membantunya. Di antaranya yaitu:

1. Sehar Amura (menteri kesejahteraan)
2. Sehar Orula (menteri pendidikan dan penelitian)
3. Sehar Imala (menteri agama dan sosial)
4. Sehar Datiya (menteri pembangunan)
5. Sehar Altani (menteri pertanian dan perkebunan)
6. Sehar Altana (menteri peternakan dan perikanan)
7. Arsutara (hakim agung)
8. Gartara (panglima militer)
9. Sinera (pemimpin daerah/gubernur)

Semua pejabat yang disebutkan di atas saling berkoordinasi dalam menjalankan tugasnya dan melaporkannya langsung kepada raja/ratu yang berkuasa. Semuanya harus sesuai dengan aturan yang berlaku, dan hanya boleh melakukan sesuatu yang sekiranya di luar prosedur – biasanya dalam kasus tertentu – dengan seizin dari raja/ratu.

5. Huru-hara dunia
Selama ribuan tahun negeri Matterama semakin makmur dan megah dibawah pimpinan raja/ratu yang hebat, penuh wibawa dan berilmu tinggi. Umur mereka yang sangat panjang menjadi jaminan bahwa kehidupan di negerinya tetap aman dan terkendali. Tidak pernah terjadi kegaduhan, baik yang disebabkan oleh penduduk lokal atau mereka yang datang dari luar negeri. Semuanya baik-baik saja dan penuh keserasian.

Tapi sebagaimana kodrat kehidupan dunia, maka ada masa pasang dan ada pula surutnya. Begitu pun anugerah yang diberikan kepada Manusia terkadang lebih berbahaya dari pada hukuman. Tak jarang pula ia muncul layaknya kutukan yang menyeramkan. Dan kelebihan yang dimiliki sering digunakan untuk maksud yang jahat. Begitu pula dengan kekuasaan yang ada ditangan justru disia-siakan untuk kekerasan dan tirani. Dan ini terbukti ketika suatu masa dari arah Selatan bangkit kekuatan jahat yang mengganggu keseimbangan. Hal ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh sang kegelapan, melainkan karena kelemahan hati Manusia yang telah dimanfaatkan. Dalam kelicikan, Manusia yang terpedaya lalu dijadikan alat untuk mencapai hasrat akan kekuasaan dan kesenangan duniawi.

Dengan berbagai dustanya ia (sang kegelapan yang menyamar) memperdayai raja serta sebagian pembesar kerajaan dan rakyat untuk mengikuti jalan pikirannya. Sampai akhirnya raja pun berani menyangkal tentang eksistensi dari YANG ESA dengan mengatakan bahwa itu hanyalah rekaan dari para leluhur yang berasal dari Utara (kawasan Nusantara). Baginya tak ada juga Pencipta dan yang diciptakan. Siapapun ada dengan sendirinya dan berhak menentukan apa yang ia mau. Dan ajaran para leluhur yang terdiri dari hukum pembatasan (halal-haram, surga-neraka, baik-jahat, dll) hanyalah kebohongan, alat yang timbul lantaran rasa ketakutan. Dan semua itu adalah cara untuk menahan agar Manusia yang hidup di Halvador (penamaan kawasan Selatan Bumi pada masa itu: Samudera Hindia dan Pasifik, Australia, Melanesia, Oseania, Polinesia) khususnya untuk tidak berkembang, berjaya, dan memperoleh hidup yang abadi.

Maka jatuhlah kemuliaan dan menyebarlah kebencian. Begitu pun muncullah agama baru yang memuja kekosongan. Dan bagi setiap penganutnya, sang penguasa yang sejati itu telah bertakhta di dalam kehampaan. Disana ia akan membangunkan kerajaan-kerajaan yang tak terhitung jumlahnya untuk para hambanya yang setia. Dan bagi yang tak setia atau tidak mempercayai apa yang mereka yakini, siapapun itu harus dibunuh untuk dijadikan kurban persembahan. Kejahatan ini pun mereka bawa ke tempat lain di segala penjuru yang mereka datangi/taklukkan. Disana para pemimpinnya menjadi penguasa yang kejam dan tak manusiawi. Segala cerita kuno tentang kearifan dan keimanan lalu mereka tutupi dengan berbagai kisah gelap yang penuh dongeng dan klenik. Membuat bingung orang-orang yang sebelumnya percaya akan Tuhan, Hari Akhir dan kehidupan yang abadi nanti.

Demikianlah kisah pilu itu terjadi. Tapi perlu diketahui, jauh sebelum yang dijelaskan di atas itu di mulai, maka pada suatu masa terjadilah kegaduhan besar di Almantera (istilah Kahyangan dalam bahasa kaum Armastana). Saat pertempuran dahsyat itu terjadi, tepatnya di hari yang kedua, si pembuat masalah yang bernama Koras itu dapat dikalahkan. Ia tak mampu lagi menandingi kesaktian dari seorang Bhatara dan terpaksa pergi meninggalkan medan pertempuran. Ia pun kabur menghindari murka dari sang Bhatara, meninggalkan Almantera, sehingga di sana bisa kembali aman dan damai.

Lalu, selama waktu yang cukup lama Koras tetap bersembunyi di beberapa tempat. Sampai pada akhirnya ia memilih Meya (Bumi) untuk dijadikan sebagai tempat tinggalnya. Dan seiring berjalannya waktu, Koras pun semakin terbiasa dengan kehidupan di Bumi. Ia sangat menyukainya meskipun sebagian kekuatannya harus menghilang – lantaran ada mantra khusus yang telah di pasang oleh Ainur di sekeliling Bumi bagi mereka yang bukan berasal dari Bumi. Tapi Koras tak ambil peduli, karena selama ribuan tahun ia bisa meningkatkan kesaktiannya dengan banyak ber-tapa brata. Hal ini lalu membuat Koras kembali percaya diri dan bangkitlah kejahatannya sekali lagi.

Catatan: Pada masa itu, atas perintah dari Hyang Aruta (Tuhan YME), seorang Ainur telah memasang mantra khusus yang menyelubungi Bumi. Mantra itu membuat siapapun dari Dimensi lain – termasuk para Dewa-Dewi dan bangsa Jin – yang berurusan di Bumi harus tampil dalam wujud yang kasat mata. Mereka bisa tampil dalam bentuk yang mereka pilih, hanya saja mereka itu akan terikat dengan hukum alam di Bumi, sama dengan Manusia. Kekuatan dan kesaktian tetap mereka miliki, hanya saja sebagiannya akan otomatis menghilang (berkurang) sampai mereka keluar dari Bumi atau kembali ke tempat asalnya di Dimensi lain.

Sungguh, pada akhirnya Koras berhasil menyebarkan bayang-bayang kegelapan dimana-mana. Hasrat utamanya adalah menanam benih ketakutan dan perpecahan di kalangan bangsa Manusia. Akibatnya terjadilah tindak kejahatan dari kebaikan sebelumnya, ketakutan dari pada kedamaian sebelumnya. Kawasan dunia, khususnya Halvador (wilayah selatan Bumi) dan Arsanta (penamaan Nusantara kala itu) yang dalam masa-masa yang panjang penuh dengan suka cita dan kedamaian telah berubah suram karena kegelapan yang datang. Banyak makhluk yang merasakan kerugian disebabkan cahaya kian meredup, dan kejayaan Manusia yang sesungguhnya pun terancam runtuh. Ya, kegelapan yang sengaja diciptakan itu telah berhasil menutup mata, menyelubungi hati dan pikiran, dan mencengkeram erat hasrat keinginan banyak orang.

Demikianlah di Selatan (Halvador) Koras terus membangun kekuatan untuk bisa menaklukkan dunia. Dia tidak pernah “tidur” melainkan terjaga dan terus mengawasi kinerja para pelayannya – yang sebagian besarnya adalah Manusia. Dengan cara menghasut, Koras telah berhasil membuat para raja Manusia yang berkuasa di Halvador bangkit hasratnya untuk memperoleh wilayah-wilayah yang lebih luas. Melalui berbagai dustanya, ia mampu menjadikan para raja dan bangsawan kerajaan bersikap pongah dan memiliki kedengkian terhadap mereka yang tinggal di Arsanta. Dalam kata-kata yang manis ia lalu menggiring pikiran orang banyak agar merasa seperti dipenjara jika hanya tinggal dan berkuasa di Selatan saja. Katanya: “Bukankah dunia ini sangat luas dan sudah menjadi hak kita untuk berkuasa dimana-mana? Dan bila ada yang merasa dirinya merdeka dan berani, maka aku akan membantunya. Begitupun aku akan membawanya pergi jauh dari negeri Selatan yang sempit ini menuju pada kebebasan

Begitulah Koras berulang kali berkata dalam rayuannya. Di waktu yang lain ia pun berucap: “Ikutilah seruanku! Jika kalian merasa enggan, kalian akan merugi karena tidak mendapatkan apa yang seharusnya milikmu. Ya, siapapun yang mengikutiku, ia akan menerima apa yang dituntut oleh hasrat keinginannya. Dengan kedua tanganku sendiri akan ku berikan dalam suka cita

Demikianlah dengan mudahnya Koras membuat janji. Padahal semua itu hanyalah ilusi yang ia tebarkan untuk menjerat mangsa (para pelayan). Dan begitulah tahun demi tahun ia terus memimpin dengan memasukkan niat jahatnya kepada Manusia, khususnya para raja yang tinggal di Halvador. Lalu demi mencapai tujuannya, maka dengan sihirnya, ia pun menciptakan berbagai monster yang menakutkan. Sebagian dari mereka ada yang diperintahkan untuk mengembara, sementara yang lainnya tetap di benteng-benteng Kaldum yang menjadi tempat perlindungan mereka di Selatan. Sungguh besar, luas dan kokohnya bangunan itu.

Dan tidak hanya itu, Koras juga mengumpulkan setan-setan yang bersedia mengabdi kepadanya. Mereka ini pelayanan yang setia dan menjadi sangat mirip sifatnya dengan Koras dalam hal kejahatan. Tugas mereka yaitu membuat kekacauan dan menyebarkan kengerian bagi dunia Manusia dalam waktu yang cukup lama. Akibatnya pengaruh dari sang tuan (Koras) kian meluas dan mulai memasuki daerah Arsanta (penamaan Nusantara kala itu) yang berada di Utara. Perlahan tapi pasti semakin banyak tempat yang jatuh dalam keterpurukan. Tak ada lagi kebahagiaan dan kebebasan karena telah berada di dalam kekuasaan raja kegelapan.

6. Sang terpilih
Kisah pun berlanjut. Di sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, hiduplah seorang pemuda yang sederhana tetapi berilmu tinggi. Kerendah-hatian dirinya membuat sang pemuda tidak banyak dikenal, khususnya oleh para raja dan bangsawan. Ia tidak tertarik dengan pangkat, derajat dan popularitas. Sebaliknya justru sering menyendiri hanya untuk bisa meresapi lebih dalam tentang hakekat hidup ini. Selain itu, sosok yang bernama Nahire ini adalah pribadi yang memang sangat menyukai keindahan alam bebas. Alasannya untuk lebih menenangkan hati dan pikiran, karena kehidupan dunia ini takkan ada artinya tanpa hal itu.

Suatu ketika, Nahire yang sedang ber-semedhi di sebuah lembah di datangi oleh seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Muya AS. Kepadanya disampaikanlah suatu tema yang besar. Karena itu pula sang Nabi lalu membukakan tirai-tirai rahasia yang lebih mulia dan lebih mengherankan dari yang pernah dilihat oleh Nahire sebelumnya. Setelah itu, di bukakanlah hijab masa lalu dari bangsa-bangsa purba yang telah sampai pada kejayaan tertinggi di Bumi. Begitu pun bagi mereka yang pada akhirnya mengalami kejatuhan dan binasa. Maka takjublah Nahire saat melihatnya, dan semakin dalam pula pemahamannya tentang arti kehidupan ini. Ia pun bersujud kehadirat-NYA sebagai tanda rasa syukur dan berserah diri.

Dan sang Nabi pun berkata: “Wahai ananda. Kehancuran yang kau lihat itu adalah akibat dari keangkuhan diri yang dibiarkan terus berkembang. Bangsa-bangsa yang mengalami kejatuhan itu, pada mulanya mereka – khususnya para pemimpinnya – memiliki hasrat yang tertuju pada Cahaya Murni Ilahi. Hanya saja lantaran bangga diri dan ingin menjadi yang terbaik dalam “memiliki Cahaya” itu, sampai akhirnya mereka sadar tak mampu lagi mendekatinya. Mereka lalu berpaling pada kegelapan yang dirasa lebih mudah didekati dan bisa memberikan kekuatan sangat besar dan keabadian. Namun tanpa sadar kekuatan tipu daya kegelapan itu telah menjerumuskan mereka dan hanya digunakan untuk perbuatan yang jahat terhadap kehidupan di Meya (Bumi). Ketakutan pun menyebar dan membuat gaduh dimana-mana.

Pun, sesungguhnya Manusia itu adalah makhluk yang memang dilepaskan di tengah-tengah berbagai pergolakan antara kekuatan baik dan jahat. Karena itulah mereka akan sering menyimpang dan takkan menggunakan anugerah-anugerah yang didapatkan secara bijak dan harmonis. Dan semuanya itu adalah karya Tuhan untuk dipahami oleh ciptaannya sendiri. Tapi sayang tak semuanya mau peduli, mengambil hikmahnya, dan berusaha untuk tetap kembali kepada-NYA.”

Demikianlah singkatnya kisah pertemuan antara Nahire dan Nabi Muya AS. Di lain waktu, saat Nahire sedang duduk merenung, dari kejauhan ia melihat seorang pria yang datang mendekatinya. Pria tersebut ternyata Begawan Arkayana, sosok yang sangat penting dalam terbentuknya kaum Armastana. Dan kedatangannya saat itu demi menjalankan perintah Hyang Aruta (Tuhan YME) untuk memberikan bimbingan kepada sang pemuda. Mereka lalu berlatih di berbagai tempat, bahkan berpindah ke Dimensi lain.

Singkat cerita, selama lebih dari 5 tahun Nahire dilatih oleh sang Begawan di berbagai tempat di Bumi. Sisa waktu berikutnya sang Begawan lalu mengajak Nahire untuk berpindah ke Dimensi lain. Disana latihan terus di lanjutkan dengan metode yang berbeda. Lebih banyak olah batin dan tapa brata-nya. Dan sampailah akhirnya semua latihan itu rampung di laksanakan. Di saat itu, di puncak gunung Soudama, ketika guru dan murid itu sedang asyik berbincang tentang kesejatian diri dan keadaan dunia, tiba-tiba muncullah para Nabi dan Dewa-Dewi. Mereka datang lengkap dengan kebesaran dan kharismanya.

Melihat itu, dengan sikap hormat keduanya lalu duduk bersimpuh, mencakupkan kedua tangan di dada, dan memberi salam. Hal itu dibalas dengan ucapan salam pula. Selanjutnya terjadilah perbincangan yang hangat dan mencerahkan di antara mereka. Para Nabi dan Dewa-Dewi lalu memberikan wejangan yang sangat berharga kepada Nahire. Selain itu, beberapa di antaranya memberikan bekal kekuatan, senjata pusaka, dan kitab ilmu pengetahuan. Sungguh anugerah yang besar untuk sang pemuda. Dan semuanya itu memang pantas untuk dirinya, terlebih apa yang kelak ia lakukan bukanlah pekerjaan yang mudah.

Demikianlah akhirnya Nahire sebagai pemuda yang terpilih dan siap untuk menjalankan tugas mulia nantinya. Di tempat yang lain, tepatnya di istana kerajaan Matterama, para raja telah berkumpul untuk membicarakan ancaman yang datang dari Halvador (penamaan wilayah Selatan Bumi: Samudera Hindia dan Pasifik, Australia, Melanesia, Oseania, Polinesia). Mereka juga mendengarkan laporan-laporan yang dibawa oleh beberapa telik sandi tentang berbagai keadaan baik di negeri-negeri di wilayah Selatan (Halvador) atau pun yang berada di sekitar perbatasan.

Di tengah-tengah pembicaraan, tiba-tiba muncullah seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Salbi AS. Dihadapan semua yang hadir beliau lalu berkata: “Telah datang waktunya bagi penduduk Arsanta (penamaan Nusantara kala itu) untuk menerima ujian berat. Dan yakinlah saat itu telah dekat, dan dalam masanya nanti harapan akan terasa pudar. Kegelapan yang bangkit di Halvador akan semakin kuat dan berjaya. Siapapun akan dilibas habis olehnya jika menentang. Hanya ada satu harapan. Carilah seorang pemuda yang rendah hati dan berilmu tinggi. Dia tak dikenali meskipun berada di antara kalian. Bersamanya akan datang petunjuk Ilahi yang membawa pada kemenangan

Setelah mengatakan hal itu dan sedikit berbincang-bincang, sang Nabi akhirnya pergi dan lenyap dari pandangan. Tinggallah mereka yang hadir di balairung istana Matterama itu dengan rasa yang penasaran. Siapakah sosok pemuda yang dimaksudkan oleh sang Nabi? Benarkah orang yang seistimewa itu bukan sosok yang terkenal, bahkan tak pernah diketahui oleh mereka?

Di tengah-tengah mereka sibuk berbincang tentang siapa kiranya diri sang pemuda itu, maka dengan langkah yang dipercepat seorang punggawa kerajaan datang untuk melaporkan bahwa pasukan besar dari Selatan (Halvador) mulai bergerak. Mereka hanya punya satu tujuan yaitu menaklukkan semua negeri yang berada di Arsanta (penamaan Nusantara kala itu). Tak ada yang boleh hidup dengan tidak mengikuti hukum dan aturan mereka. Demikianlah sang raja bengis, Koras, telah memutuskan. Dia pun ingin secepatnya mengangkat dirinya sebagai penguasa tertinggi di Bumi. Siapapun yang menentangnya akan dihabisi tanpa belas kasihan.

Singkat cerita, karena keadaan itu maka semua raja dan jajarannya langsung mempersiapkan diri. Segala kebutuhan untuk menghadapi pertempuran segera di atur dengan baik. Begitu sibuknya dalam membuat persiapan, dan oleh sebab timbulnya rasa panik, akhirnya mereka sampai melupakan tentang cara menemukan sosok pemuda yang terpilih. Terlebih ketika sebagian raja-raja itu ada yang harus segera kembali ke negerinya untuk bertempur, maka usaha untuk mencari sang pemuda terpilih lalu diabaikan dan semakin terlupakan.

Dan tibalah masa dimana pasukan dibawah pimpinan Koras itu mulai menyerang di sekitar perbatasan. Mereka cuma sebagian tapi sudah berhasil menguasai beberapa tempat yang ada. Kekuatan mereka terlalu kuat untuk ditandingi. Hanya dalam waktu singkat satu persatu negeri yang merdeka di dekat perbatasan telah menjadi jajahannya. Siapapun yang tak mau mengikuti hukum dan tradisi dari sang penakluk akan disiksa. Sebagian lainnya sampai dibunuh atau dijadikan budak.

Di lain waktu, dua kerajaan yang berada dekat perbatasan antara sungai Laten dan lembah Hourase, yaitu kerajaan Amosa dan Derenta bersama dengan pasukan yang di utus oleh kerajaan Matterama siap menyambut serangan dari bala pasukan Koras. Pertempuran besar pun terjadi, yang membuat daerah di sebelah timur bukit Rokeyan, seluruh kawasan tersebut sampai mengalami kerusakan yang parah. Desa-desa yang berada di sekitarnya pun ikut terbakar dan hancur berantakan. Bala pasukan Koras datang dari kedua arah dan dari balik bukit Nagron, dan juga datang dari arah dataran Erreba yang terletak di sisi Timur. Mereka terus datang menyerang dengan sengit dan merusak tanpa ampun sampai ke wilayah-wilayah yang jauh letaknya.

Ya. Dalam waktu yang relatif singkat, Koras dan serdadunya telah berhasil memenangkan banyak pertempuran di perbatasan. Sebagian pasukan yang tersisa serta rakyat Amosa dan Derenta kocar-kacir lalu pergi secepatnya ke negeri Matterama untuk mendapatkan perlindungan. Besar harapan mereka agar bisa aman di sana, dan jika memungkinkan akan kembali melakukan perlawanan terhadap penjajah yang datang dari Selatan itu.

Sungguh ngeri membayangkan kesedihan dan penderitaan yang harus ditanggung dunia ketika perseteruan besar itu terjadi. Memang perang itu adalah jalan untuk bisa menuntaskan pemasalahan, tapi bayangkan kerugian besar yang bisa ditimbulkannya. Siapapun yang mengobarkan perang, maka pada saat yang sama pula ia telah menyulut bara api kehancuran. Dalam perang, sungguh tak mudah mengetahui siapakah yang benar atau salah. Hasrat begitu mengendalikan diri, dan nafsu tak pula mudah untuk dihindari. Dibutuhkan kebijaksanaan yang tinggi dalam hal ini agar tidak terjerumus dalam kejahatan.

Dan pertempuran yang terjadi berulang kali tak dapat di hindari. Setidaknya ada tiga kali yang terbesar, dan sebanyak itu pula pasukan koalisi kerajaan Matterama telah dipukul mundur, harus mengaku kalah. Banyak korban jiwa yang berjatuhan dipihak mereka, dan ini semakin menambah kesedihan yang dirasakan. Sebaliknya pasukan di kubu Koras semakin di atas angin dan merasa akan segera menang telak dengan kekuatan mereka yang tak tertandingi.

Tapi, ketika harapan dalam koalisi pasukan Matterama kian memudar lantaran berulang kali kalah dalam pertempuran, seorang pembesar kerajaan teringat dengan sabda Nabi Salbi AS. Ia pun berseru kepada semua raja bahwa betapa sang Utusan telah mengingatkan mereka untuk segera mencari sang pemuda terpilih. Selain itu, ketika mereka mulai sibuk untuk berperang, maka untuk kedua kalinya sang Nabi datang dan berkata: “Nasihatku untuk kalian jangan mengikuti rasa takut dan ketergesaan. Jangan berangkat tanpa bekal yang cukup yang sudah ku jelaskan (harus bersama sang pemuda terpilih). Sebab ini adalah masa yang jahat dan jalan yang kalian tuju itu akan membawa kalian pada kesedihan dan kekalahan. Takkan ada kemenangan karena penyesalan akan kalian rasakan teramat perih“. Sungguh mereka telah melakukan kesalahan dengan tidak mengikuti anjuran dari sang Nabi yang mulia.

Lalu disaat para raja dan pembesar kerajaan yang ada di dalam koalisi pasukan Matterama tersadar akan kekeliruan mereka, maka tak lama kemudian muncullah seorang Utusan Tuhan lainnya yang bernama Nabi Malik AS. Beliau pun berkata: “Carilah oleh kalian seorang yang telah berdamai dengan alam semesta. Sang pemuda adalah sosok yang dikasihi dan berjiwa pengasih. Ia memiliki mustika berwarna putih (bening), yang ketika terkena cahaya bulan atau bintang akan memancarkan sinar biru kehijauan. Cahaya dari “api” itu memancar ke segala arah dan lebih terang dari lentera.

Singkat cerita, meskipun pertempuran terbesar belum terjadi, namun waktunya kian mendekati. Kekuatan dari Selatan semakin berjaya dan mereka sudah berada di atas angin. Tak ada waktu lagi untuk bingung selain segera mencari sang pemuda yang dijanjikan. Dan tanpa pikir panjang, setiap raja langsung mengirim para utusan terbaiknya untuk mencari sang pemuda di segala penjuru. Setiap dari mereka membawa lencana khusus sebagai tanda bahwa para raja telah mengutusnya.

7. Pertemuan yang berkesan
Tenggang waktu yang diberikan kepada para utusan itu tidak lama, tidak lebih dari 30 hari. Itu di lakukan lantaran ancaman dari Koras dan serdadunya bisa datang kapan saja. Waktu sebulan adalah masa yang tepat mengingat kondisi yang berkembang saat itu tidak menentu. Jika lebih lama dari itu maka harapan untuk menang sangatlah tipis. Sang Pemuda yang diyakini bisa membawa kemenangan mungkin saja takkan sampai di medan pertempuran walaupun Koras sudah menang.

Oleh sebab itu, penguasa Matterama, Raja Airamu, memerintahkan anaknya sendiri untuk ikut mencari sang pemuda. Kecakapannya dalam urusan telik sandi tak perlu diragukan lagi. Sang pangeran juga punya indera yang di atas rata-rata orang, dan ia pun terkenal bijak dan berilmu tinggi. Sehingga di hari yang ke 25 sang pangeran yang bernama Motena itu akhirnya bertemu dengan sosok yang dirasanya sebagai pemuda yang dicari-cari. Ketika itu ia tak sengaja bertemu seorang pemuda yang sedang asyik memetik buah-buahan hutan. Dengan sikap yang ramah sang pemuda langsung menawari Pangeran Motena untuk menikmati buah-buahan yang sudah ia petik. Sungguh sikapnya baik, murah senyum, dan rendah hati. Tidak sedikitpun menunjukkan sebagai orang yang begitu istimewa dan berilmu tinggi. Karena itulah sang pangeran sempat ragu-ragu tentang apakah benar dialah orangnya. Tapi ia pun sangat yakin dengan inderanya yang tak mungkin salah.

Nah untuk meyakinkan hatinya, Pangeran Motena sengaja ingin menguji kemampuan dari sang pemuda. Tapi sebelum itu terjadi, sang pemuda yang bernama Nahire itu telah berkata: “Tak perlu mengujiku wahai pangeran, karena aku tahu maksud perjalananmu. Aku pun telah melihat bahwa kalian sudah bertempur habis-habisan tapi tak mendapatkan kemenangan

Mendapatkan kata-kata barusan, membuat Pangeran Motena langsung tertegun. Apa yang ia katakan benar adanya. Tidak salah lagi bahwa memang pemuda inilah yang ia cari-cari. Tapi untuk lebih memastikan, maka masih ada satu bukti yang harus ia lihat sendiri ada pada diri sang pemuda. Yaitu mustika putih (bening) yang pernah dikatakan oleh Nabi Malik AS. Dari mustika itu akan memancar sinar yang terang berwarna biru kehijauan – jika terkena cahaya bulan atau bintang. Dan ternyata mustika itu berada di telapak tangan kanannya (di bawah kulit), yang akan muncul – jika diinginkan – ketika bulan purnama atau langit cerah penuh bintang.

Tapi, saat pertama kali bertemu dengan Nahire, sang pangeran tidak bisa melihat mustika itu. Berkali-kali ia mencoba tetap saja tak kelihatan. Waktu itu masih siang hari, sehingga ia harus menunggu malam tiba untuk bisa memastikan apakah sang pemuda memiliki mustika bertuah tersebut.

Dan malam yang ditunggu pun tiba. Karena tahu bahwa Morena sejak siang memendam rasa penasaran, maka dengan sengaja Nahire membalikkan telapak tangannya ke arah Langit. Saat itu sedang bulan purnama. Mereka yang sedang duduk di tengah lembah langsung terkena sinar rembulan. Dan tak lama berselang, dari dalam kulit telapak tangan Nahire muncul sebuah mustika yang bersinar terang. Bentuk dan warna yang dipancarkan oleh mustika itu persis dengan apa yang telah dijelaskan oleh sang Nabi. Oleh sebab itu, tanpa pikir panjang sang pangeran langsung duduk bersimpuh dan menghormat kepada sang pemuda. Sampai diminta oleh Nahire, barulah Morena melepaskan cakupan kedua tangannya di depan dada. Dengan sikap yang lembut, Nahire meminta agar sang pangeran bersikap layaknya sahabat. Tak perlu berlebihan.

Singkat cerita, setelah memastikan bahwa Nahire adalah sosok pemuda pilihan, sang pangeran bukannya langsung tenang, melainkan tetap gelisah. Bagaimana tidak, Nahire justru bersikap seolah-olah tak peduli dengan ancaman di medan perang. Padahal kapanpun pasukan Koras itu bisa muncul dan menyerang secara besar-besaran. Dengan tersenyum, kepada Morena ia justru berkata: “Tenanglah wahai pangeran. Jangan gelisah atau terburu-buru. Segala sesuatunya itu ada waktunya sendiri. Sabarlah, karena kesabaran akan berbuah kebaikan

Dalam kondisi yang setengah percaya, Morena mengikuti apa yang dikatakan oleh Nahire. Meskipun pikirannya terus berkecamuk, malam itu ia paksakan untuk bisa tidur cepat. Keesokan paginya, ketika terbangun ternyata Nahire sudah lebih dulu bersiap untuk pergi. Sang pangeran langsung diminta bersiap untuk bisa ikut dengannya. Dan ternyata dengan kemampuan khususnya, Nahire mengajak Morena berteleportasi ke suatu tempat yang jauh. Di dekat air terjun, di depan tebing batu putih itu, Nahire lantas merapalkan mantra. Dalam waktu singkat, tiba-tiba muncul pintu yang berukir indah. Ia lalu meminta Pangeran Morena untuk masuk ke dalamnya dan memilih satu jenis senjata pusaka yang ada di sana. Senjata itu kelak akan membantunya di medan perang.

Setelah mengambil senjata pusaka, keesokan harinya Nahire kembali mengajak Morena untuk pergi ke suatu tempat. Dengan berteleportasi, sekali lagi keduanya berpindah dalam waktu sekejap. Di tempat itu, di tepi sungai yang mengalir jernih, Nahire meminta Pangeran Morena untuk duduk bersila. Dengan teknik khusus, Nahire lalu mengajarkan tentang cara untuk bisa menambahkan energi bagi diri sang pangeran. Dalam pada itu, perlahan Morena pun bisa menyerap energi alam untuk disimpan ke dalam tubuhnya. Akibatnya, sang pangeran mendapatkan energi yang sangat besar dan kekuatannya bertambah berkali lipat dari sebelumnya.

Dan selesailah persiapan yang dibutuhkan, khususnya bagi Pangeran Morena, sebelum beraksi di medan pertempuran. Namun hal itu tidaklah cukup, karena sekali lagi Nahire memberikan contoh sikap yang mulia. Ia lalu mengajak sang pangeran untuk pulang ke rumahnya yang berada di sebuah desa yang permai di sudut negeri Matterama. Di sana, yang tertinggal hanyalah ibu dan seorang adik perempuan Nahire. Kepada keduanya, terutama sang ibu, Nahire lalu meminta restu sebelum menjalankan tugas besar dalam hidupnya. Tak puas rasanya jika Nahire pergi sebelum mendapatkan restu dari keduanya. Melihat itu, Pangeran Morena langsung tersadar akan kekeliruannya. Ia belum benar-benar secara khusus meminta restu kepada ibu dan adiknya di istana. Karena itulah, setelah urusan Nahire selesai dengan keluarganya, sang pemuda langsung membawa Pangeran Morena pulang ke istananya untuk meminta restu. Setelah itu, barulah mereka pergi ke medan pertempuran yang berada di lembah Halfar. Tentunya dengan cara berteleportasi.

8. Pertempuran besar
Ketika melihat anaknya tiba-tiba muncul bersama seorang pemuda yang diyakiini sebagai yang ditunggu-tunggu, Raja Airamu dan para raja yang lainnya segera memberi hormat. Mewakili yang lainnya, Raja Airamu lalu meminta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan. Dalam kebodohan, tak ada satupun yang berusaha untuk tetap mencari sosok yang telah dijanjikan oleh Sang Utusan Tuhan (Nabi Salbi AS dan Nabi Malik AS). Satu kesalahan yang berakibat fatal.

Mendengar itu Nahira lantas berkata: “Tak perlulah tuan-tuan meminta maaf karena semuanya sudah terjadi. Tugas kita sekarang lebih penting, yaitu mengalahkan Koras dan bala pasukannya yang ingin merusak dunia. Hanya saja perlu diingat! Apa yang membuat kalian selalu kalah dalam pertempuran ini bukan karena tidak memiliki kemampuan, tetapi lantaran bersikap abai dan terburu-buru. Rasa ketakutan yang kalian tutup-tutupi dengan mempersiapkan segala keperluan dalam pertempuran, tidaklah membuat kalian lebih baik. Justru telah mengatarkan diri kalian pada kehancuran yang nyata karena sudah bersikap sombong dan terlalu percaya diri. Tetaplah tenang dan jadilah hamba yang berserah diri. Niscaya kemenangan akan kalian dapatkan

Mendapati kata-kata barusan, membuat para raja dan pembesar kerajaan tertunduk malu. Sebagiannya bahkan sampai meneteskan airmata tanda menyesal dan tak kuasa lagi menahan kesedihan. Sementara itu, tanpa menunda waktu lagi Nahira berjalan ke arah depan barisan pasukan Matterama. Tanpa berkata sedikitpun, ia hanya berdiri mematung dengan mata yang memandang tajam ke arah pasukan Halvador itu. Setelah itu, ia lalu mengeluarkan busur panah dan menembakkannya ke arah barisan depan musuh. Dalam sekejap puluhan orang yang terkena hantaman dari anak panah sakti itu langsung roboh tak bernyawa. Hal ini membuat semua yang melihatnya terkesima, betapa tidak pernah ada yang melakukan hal yang semacam itu sebelumnya. Sungguh tak salah apa yang pernah dikatakan oleh Sang Nabi.

Tapi itu barulah permulaan, sekedar pemanasan untuk memberikan semangat baru bagi bala pasukan Matterama yang sempat memudar. Dan Nahire tidak lagi melakukan hal yang sama, melainkan berbalik arah dan menghadap tepat ke arah pasukan Matterama yang telah berbaris rapi dan masih bersorak-sorai. Melihat itu, semua orang lalu terdiam dan menunggu apa yang akan di lakukan oleh sang pemuda. Maka dengan penuh kharisma Nahire pun berkata: “Wahai kesatria. Akankah kita biarkan negeri-negeri tempat tinggal kita terbengkalai? Akankah kita biarkan negeri kita yang damai ini dikuasai oleh kejahatan? Apakah kita biarkan mereka berjalan dengan kegelapan sementara kita memiliki cahaya? Apakah kita biarkan kelak anak cucu kita harus menerima bahwa Koras adalah raja dan junjungannya? Tidak! Mari kita maju berperang sampai mati. Karena kematian di medan tempur ini adalah kemuliaan

Mendengar kata-kata itu, semua pasukan koalisi Matterama bersorak-sorai. Yang memiliki tameng pun langsung memukul-mukul tamengnya sampai menggema ke segala arah. Membuat suasana menjadi riuh, ramai sekali. Dan tak lama kemudian, pertempuran besar pun di mulai. Pasukan koalisi Matterama kalah jumlah, dan diserang bertubi-tubi dengan keras. Akan tetapi dengan sigap mereka melawan, membalas dengan gagah berani. Beberapa jam kemudian kemenangan mulai berada di pihak mereka sebab cahaya Ilahi masih bersemayam di hatinya. Dan gerakan mereka pun gesit dan kuat. Luapan emosi mereka telah membuat tebasan pedang dan tusukan tombaknya lebih mematikan.

Suatu ketika, dengan satu komando Nahire memerintahkan para raja untuk tetap bertahan dalam barisan pasukannya dengan formasi chakra dan trisula. Sementara itu, ia mengajak para pangeran dari setiap kerajaan untuk terus maju ke arah depan dengan menerobos barisan pasukan musuh. Selanjutnya, Pangeran Motena lalu ia perintahkan untuk memimpin dalam menggempur barisan para raja, sementara dirinya sendiri yang akan melesat dan berhadapan langsung dengan si pembuat masalah, Koras. Maka dalam waktu singkat terjadilah pertarungan yang paling sangit antara kebaikan dan kejahatan. Tanpa ampun Nahire menjadi sangat agresif dan terus menyerang Koras sampai ia kewalahan.

Tapi Koras bukanlah lawan yang sembarangan. Sosok yang pernah membuat gaduh Almantera (Kahyangan) itu memiliki kesaktian yang luar biasa. Selain bisa membagi dirinya, ia tak bisa mati meskipun terbunuh berulang kali. Justru semakin lama mereka bertarung, membuat Koras bertambah sakti dan sering tertawa sombong untuk menunjukkan kekuatannya. Sampai pada akhirnya pertarungan harus di lakukan dengan mengeluarkan berbagai kemampuan tingkat tinggi. Belum pernah yang hidup pada waktu itu melihat kesaktian yang telah dikeluarkan oleh keduanya. Tidak sedikit yang sampai ketakutan dan ingin lari dari medan pertempuran.

Dan pertarungan dari keduanya di lakukan dengan terus mengeluarkan berbagai jenis senjata pusaka. Selain itu berbagai ajian mengerikan turut di keluarkan, dan ketika keduanya beradu sampai mengeluarkan suara yang sangat keras menggelagar dan membuat Bumi berguncang. Pertarungan tidak lagi di daratan, tetapi selalu di udara dan kemana-mana yang mereka mau. Sungguh luar biasa apa yang mereka pertunjukkan, sampai-sampai mereka pun berubah-ubah wujud dalam berbagai ukuran. Cuaca ikut berubah-ubah dan petir yang mengerikan berulang kali menyambar-nyambar ke segala arah. Terus seperti itu, hingga pada akhirnya Koras mulai terlihat kewalahan dan hampir kalah.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Nahire. Setelah mengheningkan cipta sejenak, tiba-tiba sang pemuda tampil dalam balutan baju perang yang memukau dan berkilau-kilau. Tak lama berselang dari arah Langit turun cahaya berwarna-warni dan langsung masuk ke dalam tubuhnya. Siapapun yang melihatnya langsung merasakan kekuatan dan aura yang tak bisa dijelaskan. Jika semua kesaktian yang dimiliki oleh para raja dan kesatria yang bertempur di lembah Halfar itu disatukan, maka takkan sebanding. Masih jauh lebih unggul Nahire yang terlihat sudah tidak lagi seperti Manusia, melainkan seperti Bhatara yang turun dari Kahyangan.

Melihat sosok Nahire yang seperti itu, sebenarnya Koras sudah merasa gentar. Ia sadar bahwa kesaktiannya takkan mampu lagi menandingi Nahire. Hanya saja lantaran sifat sombongnya, Koras tetap saja melawan dengan mengeluarkan kemampuan maksimalnya. Tapi semua itu sia-sia belaka, karena hanya dengan satu tepisan tangan saja ajian itu hilang musnah, tak berdampak apapun bagi Nahire. Lalu hanya dengan satu telujuk saja ia telah dikalahkan oleh sang kesatria. Kala itu, dari ujung telunjuk Nahire keluar semacam cahaya terang-lurus yang langsung menyasar ke arah kening si Koras. Dalam waktu sekejab cahaya itu langsung menembus kening sang raja kegelapan itu. Hanya karena ajalnya ditangguhnya sampai Hari Kiamat, maka luka itu bisa pulih dan Koras tidak sampai tewas seketika. Dengan sisa-sisa tenaganya, sang raja kegelapan itu tak sempat berkata-kata lagi. Ia langsung kabur dan hilang dari pandangan.

Begitulah akhirnya Nahire berhasil mengalahkan sang raja kegelapan, Koras. Dengan perasaan yang campur aduk, semua yang melihatnya hanya bisa terdiam. Atas apa yang ia lakukan di medan perang saat itu, Nahire lalu mendapat gelar khusus sebagai Attanira (yang perkasa dan wibawa). Dan ada lagi nama lain yang diberikan oleh rakyat seperti Alpanor (yang tak bisa ditebak) dan Hirimar (yang rendah hati dan bijaksana). Ya, semua itu memang layak untuk sang pemuda. Tak ada yang bisa menyangkal tentang hal itu.

Singkat cerita, setelah berhasil mengalahkan si raja kegelapan, Koras, dengan kata-kata yang tegas Nahire lalu menantang siapapun dari kubu Selatan untuk bertarung dengannya sampai mati. Sebagai seorang kesatria, tantangan itu bukanlah omong kosong. Karena itulah, lantaran secara tiba-tiba ia diserang oleh tiga orang raja, tanpa berlama-lama Nahire menghunuskan pedang pusakanya. Hanya dengan sekali tebas saja, maka sudah bisa membuat para raja itu jatuh tersungkur. Mereka tidak sampai dibikin tewas karena rasa kemanusiaan di hati Nahire yang tinggi. Selain itu, apa yang ia lakukan saat itu untuk memberikan peringatan tegas bagi siapapun yang lain untuk tidak macam-macan dan segera menyerah serta kembali ke jalan yang benar.

Atas peristiwa itu, banyaklah yang menyerahkan diri dan ingin kembali ke jalan cahaya. Seperti baru terbangun, mereka lantas menyesali apa yang sudah di lakukan selama ini. Apa yang dikatakan oleh Koras hanyalah tipu daya yang menyesatkan dan membawa mereka pada kegelepan yang jahat. Dan kini semuanya terbukti salah. Koras yang telah menjadi junjungan mereka itu ternyata seorang raja kegelapan yang licik. Ia bisa dikalahkan dan tak ada bantuan yang datang sesuai dengan apa yang ia janjikan dulu. Sang penguasa sejati yang Koras jelaskan itu, yang kelak akan membangunkan istana-istana megah untuk mereka, tak lebih dari sekedar omong kosong belaka.

Kini tinggal bagaimana selanjutnya. Atas petunjuk Ilahi, Nahire lalu memutuskan untuk membebaskan semua yang berasal dari Halvador. Keputusan ini diikuti saja oleh semua raja dalam kubu pasukan Matterama. Mereka memasrahkan semua urusannya kepada sang pemuda terpilih, karena yakin apa yang ia putuskan itu adalah yang paling tepat. Sehingga bagi semua pasukan yang datang dari Halvador itu diperintahkan untuk kembali ke negerinya masing-masing dengan catatan tidak lagi membuat masalah. Semua negeri yang telah mereka taklukkan harus segera dibebaskan dan sebagai gantinya maka selama beberapa tahun kemudian para raja yang ikut menyerang kawasan Arsanta – yang berasal dari Halvador – harus memberikan upeti kepada kerajaan-kerajaan yang telah mereka rusak. Dan mereka hanya dibolehkan menguasai negeri tempat asalnya saja. Jika hal itu dilanggar, tanpa segan-segan Nahire sendiri yang akan menghancurkan mereka.

Dan demikianlah berakhirnya penderitaan dunia. Selang beberapa waktu kemudian keadaan di Arsanta dan Halvador bisa kembali normal. Semuanya kembali dalam tatanan hidup yang baik, teratur dan membawa kebahagiaan. Dan meskipun kerajaan Matterama tidak pernah mengklaim sebagai pemimpin tertinggi, tapi kerajaan-kerajaan lainlah yang justru menginduk kepadanya. Tak puas rasanya tanpa meminta saran dan nasehat jika ingin mengambil keputusan yang penting. Dan banyaklah bangsa-bangsa yang menjadikan kota Armasta (ibukota kerajaan Matterama) sebagai guru dengan memilihnya sebagai tujuan utama dalam pendidikan.

Lalu tentang diri sang pemuda terpilih, Nahire, maka meskipun banyak yang ingin ia menjadi raja namun yang dipilihnya adalah duduk di dewan tertinggi kerajaan Matterama saja. Bersama ke empat Munras lainnya, Nahire menjadi penasihat  kerajaan yang memberikan masukan dan peringatan. Selain itu, ia juga mengabdikan dirinya sebagai guru yang mengajarkan tentang berbagai keilmuan. Di sebuah asrama (padepokan) yang ada di pinggiran kota, Nahire membimbing para muridnya untuk memahami tentang arti kebijaksanaan. Di waktu yang lain ia juga mengajarkan tentang cara mengasah dan meningkatkan kemampuan diri sejati. Hal ini sangatlah bermanfaat.

9. Daftar raja-raja
Dalam sejarahnya, kerajaan Matterama diberi waktu selama ±450.857 tahun untuk berdiri di muka Bumi. Selama itu terdapat 357 orang yang pernah memimpin, baik ia sebagai Atar (raja) maupun Atri (ratu). Semuanya adalah orang-orang yang terbaik dan bijaksana. Dan setiap masa pergantian kepemimpinan tak pernah ada masalah atau kegaduhan, alias berjalan secara aman dan damai sesuai dengan yang diinginkan.

Adapun di antara nama-nama para pemimpin di kerajaan Matterama adalah sebagai berikut:

1. Zelhanata
2. Kulsata
3. Urshula
4. Doreyata
5. Grundapa
6. Hirendil
7. Askona
8. Sildran
9. Meltanu
10. Menagtor
11. Oldaka
12. Hiragma
13. Sogara
14. Nolbata
15. Jalani
16. Ristanta
17. Miyana -> seorang Atri (ratu)
18. Airamu
19. Motena
20. Freyan
…..
…..
101. Romanya
102. Daftun
103. Sinajwa
104. Milnaya -> seorang Atri (ratu)
105. Baltama
…..
…..
353. Rokasta
354. Yamaru
355. Qashima
356. Ultana
357. Dierota

Dikarenakan sudah waktunya, maka kerajaan Matterama, khususnya yang berada di kota Armasta, dan seluruh penduduknya mendapatkan anugerah untuk berpindah Dimensi kehidupan. Di masa raja yang ke 357 (Dierota) hal itu terjadi. Sejak saat itu tinggallah kenangan bahwa dulu ada sebuah kerajaan yang paling gemilang bernama Matterama. Siapapun yang tahu kisahnya akan merasa ingin hidup di negeri itu.

Dan sebelum berpindah, 25 pasang orang yang hidup di kerajaan Matterama – yang terdiri dari 5 ras yang berbeda – ditugaskan untuk melanjutkan keturunan. Mereka harus tinggal sementara waktu di Bumi sebelum diizinkan berpindah Dimensi kehidupan untuk mengikuti kaumnya tinggal di sana. Kepada anak dan cucunya, ke 25 pasangan itu mengajarkan tentang berbagai hal yang menjadi ciri khas di kerajaan Matterama. Di kemudian hari, sebagian dari keturunannya itu ada yang sampai mendirikan kerajaannya sendiri. Selebihnya memilih untuk hanya mendirikan klannya saja dan mereka ini hidup terpisah-pisah di berbagai tempat.

10. Akhir kisah
Setelah 5 tahun berlalu sejak berhasil mengalahkan Koras, penguasa Matterama ke-18 saat itu, Raja Airamu, menyelenggarakan pesta panen yang sangat meriah sebagai rasa syukur. Banyak pemimpin negara tetangga yang hadir. Pada waktu itu, banyak pula niatan baik disampaikan, dan ikrar persekutuan juga di kumandangkan. Sehingga peristiwa itu lalu dinamakan Meltaharanu atau yang berarti perjamuan akbar dan persatuan kembali. Sungguh meriah acaranya, dan belum pernah ada yang seperti itu sebelumnya. Dan ini tidaklah berlebihan, karena saat itu pula di umumkan bahwa sang pahlawan besar, Nahire, akan menjadi menantu dari Raja Airamu dengan menikahi seorang putrinya yang bernama Estelada. Tiga belas purnama berikutnya, akad nikah akan diselenggarakan di istana Matterama. Semua yang hadir dalam perjamuan besar itu begitu senang mendengarnya dan mereka langsung di undang dengan segala hormat untuk bisa menghadirinya.

Singkat cerita, tiga belas purnama sudah berlalu dan tibalah saatnya pernikahan Nahire dan Estelada di laksanakan. Acara itu begitu meriah dan dihadiri oleh banyak tamu kehormatan. Bahkan para Nabi, Begawan, dan Dewa-Dewi ada yang turut hadir dan memberikan restu mereka. Sungguh peristiwa yang luar biasa. Dan ini sangat berpengaruh pada pernikahan Nahire dan Estelada. Keduanya lalu mendapatkan keturunan yang rupawan dan shalih. Baik putra dan putrinya mewarisi sifat dan kemampuan dari kedua orang tuanya. Bahkan putra tertuanya yang bernama Freyan sampai terpilih sebagai salah satu Munras (dewan tertinggi kerajaan). Di kemudian hari ia pun dipercaya sebagai raja ke-20 di kerajaan Matterama. Dibawah kepemimpinannya, kerajaan tetap dalam kondisi stabil dan semakin berkembang.

Selanjutnya, setelah 35 tahun berlalu sejak pertempuran di lembah Halfar melawan Koras, penguasa ke-18 kerajaan Matterama yang bernama Airamu itu kembali mengadakan perjamuan yang sangat meriah. Kala itu acaranya diselenggarakan di dekat telaga Dimwe yang kejernihan airnya laksana kaca. Di kaki gunung Parubala itu, suka cita perjamuan terus dikenang sampai abad-abad berikutnya. Mereka yang berjasa dalam perjuangan menjatuhkan Koras, yaitu para kesatria dan rajanya, semua turut di undang tanpa terkecuali.

Ya, sungguh meriahnya perjamuan itu sehingga dinamakan Milandari atau yang berarti perjamuan akbar penuh suka cita. Namun disamping itu, ada pula kesedihan yang mendalam karena di perjamuan itu pula sang pahlawan besar, Nahire, berpamitan. Ia dan istrinya hendak melanjutkan kehidupan di alam yang tinggi. Dengan jalan moksa, mereka tidak akan tinggal lagi di muka Bumi ini, melainkan berpindah ke Dimensi lain. Tugas mereka pun telah usai, dan untuk selanjutnya maka anak-anak merekalah yang akan meneruskannya.

Sungguh pilu yang dirasakan oleh banyak orang karena harus berpisah dengan sosok yang telah menyelamatkan mereka. Karena itulah, pada hari-hari selanjutnya perjamuan itu juga dinamakan Addoriat atau yang berarti kesedihan yang dalam. Orang-orang terus mengingat peristiwa itu selama berabad-abad. Tidak hanya di negeri Matterama, tetapi juga di negeri-negeri lainnya di kawasan Arsanta dan Halvador. Para pujangga pun menggambarkan perjamuan akbar itu dengan syair dan nyanyian. Dari generasi ke generasi selanjutnya, kisahnya tetap dibaca dan dipentaskan dalam berbagai acara.

Dan sebelum pergi Nahire sempat memberikan pesan dan nasihat kepada semuanya. Yaitu:

Tumpahtani diyangtapa ralenakata ingmanatya.
Armaniyakawa tungsal waniramun rasutanah koranilayam.
Sowaring hakunabaca Ilahiyah palinawata hatmar nombatala.
Yujjanusewa fruda palwanukani nahikatusya.
Oltanahure qashiyalamu dangfattu mojaruwana hindaram.

Demikianlah kisah ini berakhir dengan perasaan suka dan duka yang bersamaan. Meskipun tidak pernah menjadi raja, namun sosok Nahire lebih dikenal dunia dari siapapun raja yang ada. Sifatnya yang rendah hati dan berilmu tinggi paling dikenang oleh semua orang. Tak ada cacat ketika para orang tua menceritakan jasa-jasa dari sang pemuda terpilih kepada anak-anaknya. Dan kerajaan Matterama sendiri terus dikenang sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah dunia. Siapapun tentu ingin tinggal di sana.

Semoga kisah ini bermanfaat untuk kita semua. Rahayu… 🙏

Jambi, 13 Februari 2019
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan sebelumnya, maka tak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Semuanya kembali ke diri Anda sekalian, tanyakan sendiri kepada hatimu, karena tugas kami disini hanyalah sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Bacalah dengan tenang dan terurut kisah ini. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahaminya. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat banyak perbedaannya.
3. Ada banyak hal yang tak bisa kami sampaikan disini, ada protap yang harus dipatuhi. Maaf.
4. Tetaplah mempersiapkan diri dan terus saja bersikap eling lan waspodo. Karena apa yang pernah terjadi di masa lalu bisa saja terjadi lagi di masa sekarang. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

9 tanggapan untuk “Matterama: Kejayaan 5 Ras Manusia

    1. Hmm gini mas.. Skr ada pesawat gak? Ada helikopter gak? Ada mobil truk juga gak? Trus knapa masih byk yg masih pake mode transportasi kapal laut atau perahu di sungai?

  1. Assalamu’alaikum
    Mas Oedi kalau boleh tahu penggunaan bahasa apakah dan arti dari pesan dan nasehat Nahire?
    Tumpahtani diyangtapa ralenakata ingmanatya.
    Armaniyakawa tungsal waniramun rasutanah koranilayam.
    Sowaring hakunabaca Ilahiyah palinawata hatmar nombatala.
    Yujjanusewa fruda palwanukani nahikatusya.
    Oltanahure qashiyalamu dangfattu mojaruwana hindaram.
    Dan pada kisah di atas, sebelum era Nabi Hanoch/Nbai Idris kah?
    Maaf sebelumnya mas Oedi.
    Matur suwun sebelummya

    1. Wa`alaikumsalam.. nuwun juga mas Rosikin karena sudah berkunjung, semoga bermanfaat.. 🙂

      Hmm ttg bahasa apa yg digunakan, maaf ya mas saya gak bisa kasih tau, ada protap yg harus dipatuhi. Begitu juga dg arti dari pesan itu, saya gak bisa sampaikan juga disini.. dan hal ini sudah saya sampaikan di catatan akhir tulisan, di point ketiga nya.

      Kalo ttg kapan terjadinya kisah di atas, maka jelas tidak sezaman dg Nabi Idris AS. Dan ini sudah dijelaskan sejak di awal tulisan bahwa kisah ttg kerajaan Matterama ini terjadi pada masa akhir periode zaman ke lima (Dwipanta-Ra). Sementara kehidupan Nabi Idris AS itu berlangsung di periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra).. ttg detil nama2 zaman sudah pernah saya jelaskan di artikel yg lain, seperti yg berjudul Hukum keseimbangan dunia.. Silahkan dibaca mas.. 🙂

      Itu saja ya mas jawaban saya, maaf kalo tidak memuaskan.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s