Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Puisi_ku, Tulisan_ku

Siapa kita?

Wahai saudaraku. Jiwa yang bersemayam di dalam jasadmu memanglah abadi. Tetapi kehidupan duniawi yang harus ia jalani tak seberapa lama, cuma sementara saja. Kau dan jiwamu adalah satu dan harus bertanggungjawab atas apapun yang di lakukan kemarin, kini, dan nanti. Besar kecil nilainya akan dibalas dengan yang setimpal. Tak ada pilih kasih disini, karena semuanya tetap sama di hadapan Sang Maha Pencipta.

Lantas, siapakah diri kita ini?

Cobalah perhatikan betapa tak ada yang kekal selamanya di dunia ini, di dalam waktu. Tak ada pula yang lebih berkuasa dari waktu itu sendiri selain Sang Penciptanya. Dan cobalah juga renungkan dengan seksama bahwa tiada yang bisa menentukan apapun (susah-senang, kaya-miskin, rupawan-jelek, dll) di dalam waktu kecuali Sang Maha Kuasa.

Artinya, apakah ada yang perlu kita banggakan dalam hidup ini sementara diri kita sendiri tak berkuasa apa-apa. Diri kita pun hanyalah sosok yang sementara disebabkan oleh kefanaan yang nyata adanya. Dan jika kita bisa memahami lebih dalam tentang jalan hidup ini, maka tak ada yang bisa kita lakukan selain mengikuti kehendak-NYA saja. Karena meskipun kita memang diberikan pilihan, tetapi pilihan itu tetaplah sesuai dengan izin dan kehendak-NYA. Kita tak pernah bisa mengubah atau mengaturnya sendiri. Karena segala peristiwa dan kejadian itu tetaplah sama dengan ketetapan-NYA saja.

Nah, dari sini bisa disadari bahwa apa yang telah kita lakukan – setiap harinya – kecuali tak ada. Hanya saja tanpa sadar kita sering melakukan kesalahan besar dengan menganggap bahwa seolah-olah kita bisa menentukan apa yang kita mau. Kita pun tak jarang merasa bisa memastikan hasil dari apa yang telah di rencanakan. Dan lebih dari pada itu, banyak dari kita yang tidak merasa bersalah ketika tak lagi mengikuti setiap perintah dan larangan-NYA meskipun itu yang terbaik untuk diri kita sendiri. Kita pun tak jarang melakukan kekonyolan dengan dalih kebebasan dan hak asasi manusia. Sungguh ironi yang mengenaskan, lantaran sifat sombong yang telah dimiliki.

O.. Kesombongan itu telah sering di kerjakan tanpa disadari. Bahkan semakin banyak yang tak peduli, sehingga sifat inilah yang menjadi sumber utama dari rusaknya kehidupan dunia. Sebab kesombongan itu walaupun sedikit akan menimbulkan banyak masalah. Ini terjadi lantaran kesombongan itu pun adalah akar dari segala dosa dan kesalahan. Siapapun yang berbuat dosa, ia telah melakukan kesombongan – dalam level yang berbeda-beda. Dan jika sifat buruk ini masih melekat di dalam diri seseorang, maka selama itu pula ia akan terjerumus dalam kejahatan meskipun tak terlihat jahat. Hidupnya akan dipenuhi dengan keburukan dan perbuatan dosa.

Untuk itu, tiada yang lebih baik di lakukan oleh setiap pribadi selain tetap bersikap tawadhuk (rendah hati). Karena bukti kemuliaan dari seseorang itu pun jelas terlihat dalam sikap ini. Sehebat apapun ilmunya atau setinggi apapun jabatannya atau sebanyak apapun harta seseorang tak ada artinya bila tanpa kerendah-hatian. Dan jangan pernah mengabaikan sikap ini, lantaran hanya dengannya setiap pribadi bisa menemukan kesejatian dirinya. Dengan begitu barulah ia akan hidup dalam kebenaran yang hakiki. Hati dan jiwanya akan tenang dan mencapai kedamaian setelah menempuh jalan pencerahan.

Pun, sebaiknya kita tetap menempatkan sikap berserah diri (tawakal) itu dalam setiap perbuatan. Dalam setiap apapun yang diniatkan dan dikerjakan. Karena siapapun kita pada dasarnya tak memiliki daya upaya. Kita hanyalah sosok yang teramat lemah dan fana. Hanya atas izin dan kehendak-NYA sajalah kita bisa melakukan atau merasakan sesuatu. Dan ingatlah bahwa semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban, sebesar atau sekecil apapun itu. Sehingga hanya bagi yang mampu berserah diri sajalah yang bisa merasakan kebahagiaan dan keberuntungan. Ia pun telah meraih kedamaian.

Kemuliaan itu bukan terletak pada kemuliaanmu. Tetapi pada kerendah-hatian (tawadhuk), berserah diri (tawakal) dan pandainya engkau bersyukur (syakur)

Sungguh, kerendah-hatian (tawadhuk) dan berserah diri (tawakal) menjadi dasar sekaligus puncak dari perilaku yang terbaik. Bahkan jalan yang perlu dilalui pun senantiasa membutuhkan sikap yang khusus ini di tambah dengan sikap yang pandai bersyukur (syakur) tanpa henti. Takkan ada kemuliaan yang sejati tanpa ketiganya. Dan jika diabaikan, maka tunggulah kehinaan yang nyata akan terlihat dan mendatangkan penyesalan.

Semoga kita bisa mengetahui siapa diri kita dan dimana posisi kita yang sebenarnya.

Jambi, 15 Januari 2019
Harunata-Ra

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

12 tanggapan untuk “Siapa kita?

    1. Syukurlah kalo suka dg post ini, terima kasih juga utk mbak Yanti karna udah mau berkunjung, semoga bermanfaat.. 🙂

      Ttp semangat nulisnya mbak.. saya suka tulisannya, seperti yg berjudul “Dia yang berwajah sendu” dan ttg yg trekking di Nepal.. saluuut.. 🙂

  1. Terima kasih petuah nya mas Oedi, makasih msh mau mengingatkan, semoga bermanfaat. Lama ga kelihatan nih padahal selalu ditunggu lho update nya mas Oedi 😀

    1. Sama2lah mas Yoga Budi, sudah menjadi tugas kita utk saling mengingatkan… Terima kasih juga sudah mau berkunjung, semoga bermanfaat.. 🙂
      Iya mas, lagi ada yg di kerjakan, makanya jarang update skr.. Maaf kalo bikin masnya nunggu2… 🙂

    1. Nggih sami2 mba Asyifa, nuwun juga karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Aamiin.. semoga kita termasuk yg demikian, tentunya dg niat yg tulus dan ikhtiar yg tekun..

  2. Terimakasih untuk tetep selalau mengingatkan kang… Sy termasuk yg slalu menunggu updatan petuah2nya kang oedi… Semoga sehat selalu dan terus berkarya….

    1. Samalah mas Safar, sudah menjadi tugas kita utk saling mengingatkan… terima kasih juga atas kunjungan dan dukungannya, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Terima kasih juga utk doanya, begitu juga utk sampeyan.. 🙂

    1. Sugeng siang mas Rizki Maulana.. Syukurlah kalo suka dg tulisan ini, terima kasih karena sudah baca, semoga bermanfaat.. Rahayu.. 🙂

  3. Allaah S.W.T adalah cinta mas,
    Dia menjadikan makhluk karena cintaNYA.

    Dia menjadikan kita karena cinta tetapi tidak semua kita mencintai Dia.
    Janganlah kita kembali sebagai serendah2 rendahnya makhluk, kita akan lebih rendah lagi.
    kerendahan kita dari segala makhluk adalah perangai buruk kita sendiri.

    selamat berjuang mas.

    wassalamualaikum wr.wb,
    ustadz sayyid habib yahya

Tinggalkan Balasan ke sayyid Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s