Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Pusaka Langit: Datton dan Harron

Wahai saudaraku. Untuk kesekian kalinya kami perlu menyampaikan tentang kisah masa lalu yang berhubungan dengan kekacauan dan kedamaian dunia. Mengapa ini di lakukan? Karena mengingat kita sudah berada di masa-masa yang tak menentu, penuh dengan ujian berat, fitnah, kekacauan, dan sedang menanti akan datangnya Al-Malhamah al-Kubro (perang maha dahsyat) di akhir zaman ini. Sebagai sesama makhluk, sudah menjadi tugas bagi kami untuk terus menyampaikan dan mengingatkan. Silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan apa yang dituliskan ini.

Nah, untuk mempersingkat waktu mari ikuti uraian berikut ini:

1. Awal kisah
Pada zaman dahulu, di awal periode zaman ke enam (Nusanta-Ra), tepatnya di sekitar ±383.000 tahun silam, ada dua buah pusaka yang di turunkan dari Langit. Bentuknya semacam batu mustika yang berpijar dengan nama Datton dan Harron. Sifat dan kekuatan dari keduanya ini saling bertolak belakang tapi sebenarnya berpasangan. Jika keduanya tetap bersatu, maka akan menyebabkan kedamaian dan kemakmuran. Sebaliknya jika sampai terpisah, maka akan menimbulkan banyak masalah dan bencana. Untuk bisa menghentikannya, maka kedua mustika itu harus bisa disatukan lagi. Dalam hal ini hanya mampu di lakukan oleh sosok yang berhati murni dan sudah terpilih.

Catatan: Perlu diketahui dulu bahwa periode zaman Nusanta-Ra itu dibagi ke dalam tiga periode waktunya, yaitu awal, tengah dan akhir. Periode awal di zaman ini berlangsung selama ±500.000 tahun, periode tengah selama ±200.000 tahun, sementara yang akhirnya berlangsung selama ±100.000 tahun. Jadi total waktu untuk periode zaman ke enam Manusia ini (Nusanta-Ra) adalah sekitar ±800.000 tahun saja. Selama itu, maka terdapat tiga periode waktu yang mewakili tiga jenis karakter dan model kehidupan Manusia-nya. Di periode awalnya, peradaban Manusia saat itu terdiri dari gabungan antara kesaktian dan teknologi, sementara yang keduanya lebih kepada kesaktiannya saja meskipun tetap ada teknologinya; tapi tak secanggih di periode awal. Sedangkan yang di periode akhirnya kembali seperti model kehidupan di periode awalnya, hanya saja saat itu levelnya sudah jauh berbeda. Di periode yang terakhir ini, khususnya tentang kesaktian dan teknologinya, maka sudah tak sehebat Manusia di periode yang awalnya. Sudah jauh menurun dan terus menurun sampai di periode zaman selanjutnya, yaitu zaman Rupanta-Ra ini (zaman kita sekarang).

Tentang bagaimana pusaka itu sampai berada di Bumi, berawal dari niat seorang Begawan untuk mendapatkan pusaka yang sakti mandraguna yang tidak berasal dari Bumi. Harus berasal dari tempat “yang tinggi”. Tujuannya adalah murni untuk kebaikan dunia dan segala isinya. Atas niatnya itu, ia lalu melakukan tapa brata yang sangat sulit di puncak gunung Kawila (di sekitar Jogja-Jateng sekarang) selama ±9.000 tahun. Selama itu sang Begawan mendapatkan berbagai ujian kesungguhan dan berhasil melaluinya dengan baik. Sampai pada akhirnya turunlah seorang Malaikat yang membawa dua buah mustika dari Langit. Satu berwarna hijau, dan satunya lagi berwarna biru. Keduanya memancarkan cahaya yang gemerlapan jika dikeluarkan dari wadahnya. Dan jika salah satunya di jauhkan, maka akan terjadi getaran yang kuat pada tanah sementara suasana alam langsung jadi mencekam. Kedua mustika itu bisa dipakai untuk keperluan baik atau buruk, tergantung dari niat pemiliknya.

Ya. Setelah menerima kedua benda pusaka itu, Begawan yang bernama Ramatasa itu lalu memanfaatkannya untuk segala tujuan baik. Banyak masalah yang bisa diselesaikan atas bantuan dari mustika itu – tentunya hanya atas izin Tuhan. Dan itu tidak hanya di satu tempat, melainkan di banyak tempat di seluruh dunia. Banyak bangsa yang pernah meminta bantuan kepada kedua pusaka, tentunya atas persetujuan dari sang Begawan. Dan syukurlah semuanya sukses dengan hasil yang memuaskan. Sampai akhirnya itu tak terjadi lagi karena sang Begawan harus meninggalkan dunia ini dengan jalan moksa. Tugas utamanya di Bumi ini memang sudah selesai.

Dan sebelum pergi, karena merasa bahwa kedua mustika itu bisa mendatangkan masalah yang besar sepeninggalnya nanti, Begawan Ramatasa lalu merahasiakan dimana keberadaannya. Ia tak mewariskannya kepada siapapun, termasuk murid-muridnya. Hanya saja ia telah memberikan beberapa petunjuk untuk bisa menemukan dimana lokasi rahasia dari pusaka Datton dan Harron tersebut. Jika seseorang memang layak atas kedua pusaka Langit itu, tentulah ia bisa memilikinya, bahkan tanpa mengikuti petunjuk yang diberikan. Jelas disini hanya bagi mereka yang cukup ilmu dan pengetahuannya.

2. Huru hara di dunia
Selama 2.000 tahun lebih pasca kepergian Begawan Ramatasa, maka kondisi dunia relatif stabil. Tidak pernah terjadi perang besar (perang dunia) yang memakan banyak korban jiwa. Hingga pada akhirnya muncul kegaduhan yang ditimbulkan dari sikap seorang raja yang ada di wilayah barat, tepatnya di sekitar antara negara Iraq dan Iran sekarang. Sebenarnya raja yang bernama Hekal itu tak berhak atas tahta di kerajaan Yejanah. Ia hanyalah anak dari seorang selir dan bukan pula putra mahkota. Kakaknya yang merupakan anak dari permaisuri adalah penerus tahta yang sah. Tapi pangeran Hekal sangat ingin menjadi raja. Hanya saja karena tak berhak, maka cita-cita itu tak mungkin bisa terwujud. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia memilih untuk pergi meninggalkan istana dan sibuk dalam mencari ilmu dan kesaktian. Puluhan tahun ia tak pernah kembali.

Singkat cerita, tahta kerajaan Yejanah diteruskan oleh putra mahkota yang bernama Moskal dari ayahnya yang bernama Sortakal. Sebagai penguasa di kerajaan Yejanah, ia sudah hidup makmur dan sangat berpengaruh. Wilayah kerajaannya telah membentang luas dari negeri Tesah (Iraq sekarang) sampai ke negeri Aslam (Palestina-Yordania-Suriah sekarang). Dan sebagai sosok yang bijaksana, ia tak pernah suka dengan penaklukkan dan perang. Cukuplah ia mengelola semua wilayah yang diwariskan oleh pendahulunya saja. Dan ini terbukti efektif, karena selama puluhan tahun kepemimpinanya maka kondisi negeri dan rakyatnya tetap aman dan makmur.

Catatan: Kerajaan Yejanah berdiri setelah kerajaan Aryawina tapi sebelum kaum Hilbatar. Meskipun hidup di periode zaman yang sama (Nusanta-Ra), ketiganya tidak hidup dalam masa yang sama. Mereka hidup dalam rentang waktu yang sangat jauh. Kerajaan Aryawina hidup di sekitar ±425.000 tahun silam, sementara itu kaum Hilbatar hidup sekitar ±361.000 tahun silam. Sedangkan kerajaan Yejanah hidup di sekitar ±382.000 tahun silam. Artinya di antara ketiganya ada jarak waktu selama puluhan ribu tahun.

Di tempat lain, Pangeran Hekal masih terus mengembara ke berbagai negeri. Awalnya tetap biasa saja, selain ilmu dan kesaktiannya yang terus meningkat dan dirinya yang semakin dewasa dan tampil bijak. Tapi semua itu berubah ketika ia bertemu dengan sosok misterius yang memberikan sebuah mustika yang sakti mandraguna. Setelah memiliki mustika itu, sang pangeran merasa ada kekuatan sangat besar yang masuk ke dalam dirinya, jauh lebih besar dari semua ilmu kesaktian yang telah ia dapatkan. Akibat pengaruh dari benda pusaka itu ia sampai ingin menguasai dunia dan siapapun harus tunduk kepadanya. Dan ternyata mustika yang ia dapatkan dari sosok misterius itu sebenarnya adalah mustika Harron yang telah dicuri dari tempatnya. Adapun pencuri hebat itu adalah si iblis sendiri, yang kemudian menyerahkannya kepada Hekal. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk menyesatkan banyak Manusia dan merusak tatanan dunia.

Tapi semua keinginan itu haruslah dengan menempuh jalan yang tidak mudah. Pangeran Hekal yang hanya anak dari seorang selir harus naik tahta dengan cara merebutnya dari sang kakak. Kudeta pun harus di lakukan dari dalam, tepat di pusat pemerintahan. Caranya dengan terlebih dulu menghasut para pejabat dan bangsawan kerajaan untuk mau mendukungnya. Setelah cukup waktu, barulah perebutan tahta dilancarkan. Dan ternyata semua yang sudah ia rencanakan sekian tahun itu berjalan sesuai dengan keinginan. Tahta kerajaan dapat direbut paksa, tapi sayang kakaknya itu, Raja Moskal, sempat kabur meninggalkan istananya sebelum ditangkap.

Singkat cerita, Pangeran Hekal pun menjadi penguasa tertinggi di kerajaan Yejanah dengan memakai nama gelar Sal Marmastha Haroyas. Atas keinginannya sendiri, nama kerajaan lalu diganti menjadi Gosarah agar terasa lebih gagah dan perkasa. Lalu karena niatnya sejak awal adalah menguasai dunia, maka dimulailah segala persiapan untuk bisa menaklukkan kerajaan tetangga. Setelah semua kerajaan tetangga bisa ditaklukkan, kemudian giliran kerajaan-kerajaan lainnya di seluruh dunia. Dan keinginan itu terasa bisa terwujud karena mustika yang ia miliki bisa memberikan kekuatan yang tak terkira. Tak ada yang mampu menandinginya, baik dalam urusan diplomasi ataupun di medan pertempuran.

Maka terjadilah kegaduhan dimana-mana, ditempat-tempat yang ia datangi. Terlebih sang raja seperti tak peduli lagi dengan apa yang disebut kekejian dan kebrutalan. Apapun bisa di lakukan demi mencapai tujuannya. Termasuklah boleh merampas, menindas, dan membantai siapapun yang menentangnya. Baginya semua itu hanyalah cara yang efektif untuk bisa cepat meraih tujuan. Tak peduli lagi apakah itu berdosa atau tidak, pantas atau tidak. Yang penting semua keinginan bisa tercapai.

Dan selama lebih dari 25 tahun Raja Hekal telah berhasil menaklukkan negeri-negeri di kawasan Akmalan (Timur Tengah sekarang), Hasoru (Afrika bagian utara dan tengah sekarang), dan Ertunai (Eropa barat dan tengah sekarang). Hanya saja ketika ingin menaklukkan kawasan Ghatala (India, Pakistan, Bangladesh, dan Srilanka sekarang) ia mendapati perlawanan yang luar biasa. Tidak seperti pertempuran sebelumnya, kali ini musuh yang harus dihadapi memiliki kekuatan yang setara. Selain teknologinya yang tinggi, maka kesaktian dari para kesatrianya juga mumpuni. Baru kali ini pasukan dibawah komando Raja Hekal harus menghadapi “batu karang” yang sangat kokoh. Karena itulah, untuk sementara waktu sang raja memilih untuk berhenti berperang. Selama 3 tahun ia tak pernah lagi mengusik negeri-negeri di kawasan Ghatala. Tapi sebenarnya ini hanyalah sebuah siasat, karena tujuannya masih sama, yaitu menguasai seluruh dunia. Tiga tahun tidak bertempur bukan berarti pensiun, tapi justru untuk lebih mempersiapkan bala pasukannya.

Catatan: Pada masa itu Teluk Persia belum ada, karena di sana masih berupa daratan yang luas dan menyatu dengan kawasan Arabia sekarang (Jazirah Arab). Hanya ada sungai dan danau besar saja, belum ada laut yang kini menjadi bagian dari Laut Arabia. Sementara itu, Laut Merah tak seluas sekarang, alias hanya berukuran separuh dari yang sekarang. Seiring berjalannya waktu, Laut tersebut terus meluas sampai pada ukuran yang ada kini. Selain disebabkan oleh proses alamiah, maka sama dengan proses terbentuknya Teluk Persia, maka ada beberapa tempat yang ditenggelamkan. Apalagi kalau bukan karena kaum yang tinggal di sana sudah melakukan pembangkangan kepada aturan Tuhan, sehingga mereka di azab. Musnah lantaran tenggelam bersama dengan negerinya.

3. Menemukan pusaka Datton
Di tempat lain yang bernama Yant (di sekitar pulau Sumatera bagian tengah sekarang) hiduplah sekelompok orang yang tinggal di asrama/padepokan yang didirikan oleh Begawan Ramatasa. Meskipun hidup agak terasing, mereka telah mendengar kabar tentang perang yang dilancarkan oleh Raja Hekal dari kerajaan Gosarah. Terlebih ada seorang utusan dari kerajaan Minagala yang meminta bantuan kepada guru dan murid-murid di asrama Yant untuk bisa membantu mereka. Dan tiada cara lain kecuali bisa menemukan kembali dimana pusaka yang pernah dipakai oleh sang Begawan untuk mendamaikan dunia. Hanya saja masalahnya tidak ada yang tahu dimana benda pusaka itu berada. Mereka yang tinggal di asrama Yant hanya diberi petunjuk cara untuk bisa menemukannya, itupun tidak semua orang alias cuma bagi para seniornya saja. Terlebih pusaka itu hanya bisa didapatkan kembali saat ada sosok yang layak memakainya.

Singkat cerita, atas peristiwa yang memilukan dimana-mana itu, mereka yang tinggal di asrama Yant berusaha untuk menemukan pusaka Langit itu dengan berbagai cara. Semuanya berusaha mati-matian, kecuali satu orang yang bahkan tidak berusaha sedikitpun. Jika yang lainnya terus disibukkan dengan berbagai tirakat dan olah batin, sang pemuda hanya melakukan apa yang menjadi kewajibannya sehari-hari. Hanya sesekali saja ia ber-semedhi untuk menenangkan diri dan menyatukan rasa dan rahsanya kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Tak ada yang luar biasa yang ia lakukan, berbeda sekali dengan para murid dan guru-guru di asramanya itu.

Tapi justru sang pemudalah yang beruntung mendapatkan pusaka Langit itu. Suatu hari ketika ia sedang duduk-duduk untuk menikmati pemandangan, sang pemuda yang bernama Astrayana itu melihat sinar terang dari kejauhan. Sinar itu sampai menyilaukan kedua matanya. Karena penasaran ia lalu mendekatinya, dan ternyata setelah sampai di dekat bola cahaya itu tiba-tiba ia terserap masuk ke dalamnya. Selang beberapa detik Astrayana sudah berada di sebuah tempat yang lain, tidak berada di muka Bumi ini lagi karena sudah berada di Dimensi yang berbeda. Di sana ia melihat ada seorang pria tua yang sedang asyik memancing di tepi sungai. Tanpa menghiraukan kedatangan Astrayana, si kakek tetap saja duduk sambil memegangi tangkai pancingnya. Cukup lama seperti itu, sampai membuat Astrayana bingung dan bertanya-tanya.

Dan anehnya lagi setelah merasa cukup dengan memancing, si kakek langsung saja pergi meninggalkan Astrayana. Tak ada sepatah kata pun terucap. Seolah-olah memang tak ada orang lain di sana kecuali dirinya sendiri. Ini jelas membuat sang pemuda bertambah bingung. Dan ketika ia berusaha mengejar sang kakek, justru sosok tersebut tiba-tiba menghilang tak tahu rimbanya. Tanpa jejak, tanpa ada pesan apapun.

Melihat itu semua, Astrayana hanya bisa terdiam kemudian duduk merenungi. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa ia tiba-tiba berada di tempat yang sangat asing? Siapakah kakek itu sebenarnya dan kenapa ia bersikap aneh seperti itu? Jangankan berbicara, menoleh pun tidak. Sungguh peristiwa yang aneh dan membingungkan. Demikianlah sang pemuda masih terus berpikir. Setelah sekian lama ia belum juga menemukan jawabannya.

Ya. Cukup lama Astrayana duduk merenungi kejadian yang telah ia alami. Tapi jawaban yang diinginkan tak kunjung tiba. Hal ini membuatnya terpaksa mengembara kemana-mana sekaligus melihat-lihat keindahan yang belum pernah ia saksikan di Bumi. Dan di Dimensi itu ia bebas melangkahkan kakinya kemanapun ia mau. Secara umum kondisi disana mirip dengan yang ada di Bumi ini, hanya saja level dan hukum alamnya yang sedikit berbeda. Flora dan fauna yang terdapat di sana juga tak sama, karena tampilannya lebih unik dan beragam dari yang hidup di muka Bumi ini. Ada pula bukit-bukit dan daratan yang mengambang di udara, sedangkan di sana hiduplah makhluk-makhluk yang mengagumkan seperti halnya Naga dan Krosa (campuran antara singa dan elang tapi memiliki cula keemasan di kepalanya). Sungguh alam yang indah dan menakjubkan.

Singkat cerita, sudah tiga minggu lebih Astrayana masih belum mendapatkan jawaban atas segala pertanyaan yang bersarang di otaknya. Sudah cukup rasanya ia berjalan kesana kemari, hingga akhirnya duduk di tepi jurang yang berada di ketinggian. Dari sana sang pemuda bisa menyaksikan alam yang luas lengkap dengan beragam keindahannya. Cukup lama ia duduk di sana sambil memakan buah-buahan segar yang ia petik sendiri di hutan. Saat tengah asyik menikmati suasana, dari arah sampingnya terlihat seorang pria yang berjalan mendekati. Ternyata dialah kakek yang sebelumnya pernah ia temui.

Melihat itu, Astrayana menjadi senang karena ia sangat ingin bertanya kepada sang kakek tentang semua yang terjadi padanya. Tapi sebelum sempat bertanya, justru sang kakeklah yang terlebih dulu berbicara. Katanya: “Memang benar sikapmu yang tidak ingin melakukan sesuatu karena untuk sesuatu. Tapi salah jika engkau sampai tak peduli dengan keadaan dunia, tentang huru-hara yang sudah melanda Bumi. Sudah menjadi tugas dari seorang kesatria untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Tak ada alasan untuk membuang muka (cuek) dan hanya sibuk dengan urusan sendiri. Kau dilahirkan bukan untuk jadi pengangguran, tetapi sebagai pemimpin yang bijaksana

Dan sekali lagi, dengan tanpa basa-basi sang kakek langsung pergi dan akhirnya menghilang dari pandangan. Tinggallah Astrayana yang hanya bisa terdiam bingung dengan kata-kata barusan. Apa yang dimaksudkan oleh si kakek misterius itu? Lalu dengan kesadaran diri, sang pemuda berusaha untuk menelaah makna dibalik kata-kata si kakek. Setiap kalimatnya coba ia pahami dan dikaitkan dengan apa yang terjadi pada dirinya belakangan ini. Hingga akhirnya Astrayana dapat mengerti semuanya. Ternyata ia telah melakukan kesalahan yang fatal meskipun tak terlihat fatal.

Untuk itulah sang pemuda segera mengheningkan cipta dan bermunajat kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Ia pun mengambil posisi duduk bersila selama beberapa hari seraya memohon ampunan-Nya. Terus seperti itu sampai akhirnya datang lagi kakek yang membuat dirinya tersadar akan kekeliruannya. Kali ini sosok tersebut mau berbicara dan meminta Astrayana untuk segera mengakhiri semedhi-nya itu. Setelah sang pemuda membuka mata, tak lama kemudian ia pun menjelaskan tentang beberapa hal, termasuk siapakah dirinya dan apa hubungannya dengan Astrayana. Ternyata sang kakek misterius itu adalah kakek buyut dari Astrayana sendiri. Dialah Begawan Ramatasa yang sangat terkenal itu, yang menyimpan rahasia dari pusaka Langit.

Dan kemunculan sang Begawan saat itu jelas karena ada urusan yang sangat penting. Meskipun sudah tidak lagi tinggal di Bumi, ia masih tetap mengikuti perkembangan yang ada. Ia tahu bahwa sudah terjadi kegaduhan dimana-mana yang disebabkan oleh seorang raja yang mendapatkan satu dari kedua pusaka Langit. Namun lantaran sudah moksa, maka sang Begawan pun tak bisa berbuat banyak lagi seperti dulu. Ia hanya bisa memberikan saran dan bimbingan kepada keturunannya. Dan pada saat itu adalah untuk Astrayana sendiri. Dari semua keturunannya, maka dialah yang terpilih sebagai pewaris mustika Datton dan Harron. Tujuannya jelas untuk kembali mendamaikan dunia.

Singkat cerita, sebelum menerima mustika Datton, oleh sang Begawan cucunya itu dilatih tentang berbagai hal. Banyak ilmu pengetahuan yang harus ia kuasai, tidak hanya untuk kesiapannya dalam memegang mustika Langit, tetapi lebih kepada agar dirinya siap mengemban tugas untuk kembali menertibkan dunia. Kemampuan lahir batin seseorang jauh lebih penting, sedangkan benda pusaka itu hanya sebatas pelengkap. Benda pusaka adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam mencapai tujuan, karena memang bagian dari usaha dan hukum alam yang sudah ditetapkan. Tetapi diri Manusia akan selalu menjadi yang terutama.

Ya. Astrayana terus mendapatkan pelatihan dan bimbingan dari kakek buyutnya itu. Mereka juga sering berdiskusi tentang berbagai hal, termasuk urusan spiritual, ketuhanan (tauhid), dan sejarah. Sungguh pantaslah Begawan Ramatasa menyandang nama besar di seluruh dunia, karena memang wawasan ilmu dan hikmahnya sangat luas. Belum pernah Astrayana bertemu dengan orang yang semacam kakek buyutnya itu, karena apapun yang ia katakan penuh dengan makna dan filosofi yang mendalam. Itu pun masih ditambah lagi dengan begitu banyak kemampuan yang telah ia kuasai, bahkan para Dewa pun sangat menghormatinya. Semakin bersemangatlah ia untuk tetap menjaga nama baik keluarganya, terutama para leluhurnya. Tak ada lagi alasan untuk bersantai apalagi malas, sebab tanggungjawab besar kini telah berada dipundaknya.

Waktu pun berlalu, dan setelah tinggal dan berlatih selama ±20 tahun di alam Dimensi khusus tersebut, maka tibalah saatnya bagi Astrayana untuk di wisuda dan menerima mustika Datton dari kakek buyutnya sendiri; Begawan Ramatasa. Sementara yang satunya lagi, Harron, tidak bisa diberikan karena telah dicuri oleh iblis dan kini dipegang oleh Raja Hekal. Sebenarnya bisa saja mustika Harron itu diambil oleh sang Begawan, cukup dengan memanggilnya saja. Tetapi apa yang harus terjadi berikutnya tidak boleh seperti itu. Semuanya sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur kehidupan untuk bisa merevolusi dan menata kembali setiap lini kehidupan di Bumi. Karena itu menjadi tugas utama bagi Astrayana untuk bisa merebut kembali pusaka Harron tersebut. Dalam hal ini tentunya dengan mengikuti jalan para kesatria yang gagah berani di medan perang.

Catatan: Waktu yang ada di Dimensi khusus itu sangat berbeda dengan di Bumi. Karena 10 tahun di sana hanya akan sebanding dengan 1 tahun di Bumi. Artinya selama ±20 tahun berlatih di sana hanya akan sama dengan 2 tahun saja di Bumi. Dan mengapa jika dibandingkan dengan latihannya para kesatria pilihan di zaman sebelumnya maka waktu latihan bagi Astrayana ini begitu singkat? Itu semua karena telah disesuaikan dengan zaman yang ada. Tidak mungkin lagi seseorang itu latihan atau ber-tapa brata dalam waktu yang sangat lama, atau sampai ribuan tahun, karena zaman sudah berganti dan waktunya semakin singkat. Jika di zaman sebelumnya waktu yang diberikan sampai jutaan bahkan miliaran tahun, maka waktu yang diberikan dalam periode zaman ke enam (Nusantara-Ra) hanya sampai ±800.000 tahun saja. Jauh lebih singkat dan cepat dari semua zaman yang ada sebelumnya. Terlebih lagi umur Manusia yang hidup di zaman ke enam itu pun sudah semakin dikurangi, tak sepanjang mereka yang hidup di periode zaman sebelumnya. Karena itulah masa latihannya harus disesuikan dengan waktu yang ada, semakin singkat.

Sungguh, pada saat itu suasananya sangat mengharukan sekaligus membahagiakan. Terlebih hadir pula seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Sakari AS untuk memberikan wejangan hidup beserta dua buah pusaka. Satu berupa cincin kepemimpinan, sementara yang kedua adalah kitab ilmu pengetahuan. Keduanya adalah simbol utama bahwa Astrayana memang telah dipilih sebagai pemimpin dunia. Selain itu, turut hadir juga para Dewa-Dewi dari Kahyangan, tetapi mereka tidak memberikan pusaka apapun, karena apa yang telah diberikan oleh sang Nabi sudah lebih dari cukup. Ditambah lagi dengan mustika Datton dan Harron yang merupakan pusaka sangat istimewa bagi Astrayana. Mereka hanya memberikan restu dan bekal energi kepada sang pemuda. Dan semua merasa bahagia karena akhirnya ada satu lagi Manusia yang terpilih untuk kembali menegakkan keadilan dan kebenaran di Bumi.

4. Pertempuran sengit di lembah Soura
Setelah mendapatkan mustika Datton, maka tibalah saatnya bagi Astrayana untuk pulang ke asrama Yant dan menjelaskan bahwa satu dari kedua pusaka Langit telah ditemukan. Karena sudah menjadi tugasnya, maka selang beberapa hari ia dan beberapa orang kesatria penghuni asrama Yant pergi ke kerajaan Minagala untuk memberikan bantuan. Setibanya disana, ternyata mereka sudah bersiap-siap untuk kembali berperang. Setelah 3 tahun beristirahat, Raja Hekal dan pasukannya mulai mendekati perbatasan negeri Minagala. Apalagi kalau bukan untuk menaklukkan?

Pada saat itu, penguasa dari kerajaan Minagala dengan cekatan sudah menggabungkan kembali kekuatan negeri-negeri yang ada di tanah India saat itu, khususnya yang berada di bagian barat dan tengah. Tujuannya agar bisa mengusir Raja Hekal dan pasukannya. Mereka berkoalisi dalam bidang militer dan apapun yang bisa membantu dalam perjuangan. Hanya saja mereka pun menyadari bahwa akan sangat sulit untuk bisa menandingi kekuatan dari pihak musuh. Selain memiliki pasukan yang sangat banyak; sekitar 2 juta orang, Raja Hekal juga telah memegang satu mustika Langit. Belum ada yang mampu menandingi kesaktiannya.

Singkat cerita, tak ada lagi perundingan karena kedua belah pihak sama-sama tahu tujuan dari perang besar itu. Menaklukkan atau ditaklukkan, itulah satu-satunya jalan yang harus ditempuh. Sehingga sejak di hari pertama, setelah matahari berada tepat di atas ufuk Timur, sejak saat itulah pertempuran dimulai. Kedua belah pasukan saling serang tanpa ampun. Dalam waktu singkat wajah bumi sudah berwarna merah. Bau anyir pun ikut membahana bersama dengan jerit kesakitan dan suara bising pertempuran. Tak ada yang mau mengalah, karena semuanya masih kuat memegang keinginannya masing-masing.

Sungguh, pertempuran di lembah Soura itu sangat menegangkan. Tak ada yang seperti itu selama Raja Hekal melakukan penaklukkan dimana-mana. Untuk kedua kalinya ia harus menghadapi lawan yang begitu tangguh dan berilmu tinggi. Begitu pun saat ia mengerahkan armada pesawat tempurnya, maka juga dihadapi dengan armada yang sama oleh pihak musuh. Ternyata negeri-negeri di kawasan Ghatala (penamaan daratan India kala itu) juga sudah menguasai teknologi canggih. Pesawat terbang yang mereka miliki tak kalah hebatnya dengan yang dimiliki oleh pasukan Raja Hekal. Sama-sama dibekali dengan teknologi yang super canggih dan menggunakan kristal sebagai sumber energinya.

Waktu pun terus berlalu. Sejak di hari pertama pertempuran, kedua belah pasukan terus melancarkan serangan dalam berbagai strategi dan formasi tempur. Meskipun jumlahnya lebih banyak, ternyata Raja Hekal harus menerima keadaan bahwa pasukannya tak bisa berbuat banyak, apalagi sampai bisa menang hanya dalam waktu singkat. Dan setelah tiga hari berlalu, kemenangan justru semakin menjauh dari harapan. Mau tidak mau Raja Hekal dan pasukannya harus mengakui kehebatan bala pasukan kerajaan Minagala dan sekutunya dalam olah keprajuritan dan siasat perang. Tanpa mengenal takut, mereka yang sedang mempertahankan negerinya itu terus bertahan dan menyerang habis-habisan.

Oleh sebab itu, karena semakin terpojok akhirnya Raja Hekal mulai menggunakan cara-cara yang tidak sportif. Ia meminta bantuan dari pasukan kegelapan untuk segera membantunya. Dengan bantuan mustika Harron, sang raja membuatkan portal Dimensi. Dari sanalah tiba-tiba muncul sekelompok pasukan yang berukuran sangat besar (raksasa) dan langsung bergabung dalam barisan pasukannya. Di belakangnya ada lagi pasukan yang berukuran normal dalam jumlah yang sangat banyak. Tak lama kemudian mereka pun langsung menyerang barisan pasukan kerajaan Minagala tanpa ampun. Banyak yang gugur dalam serangan itu, dan terus bertambah tanpa ada yang bisa menghentikannya.

Melihat kejadian itu, semua yang ada di medan pertempuran menjadi ketakutan. Semakin lama semakin tak terbendung kekejian yang dilancarkan oleh pasukan kegelapan itu. Hal ini membuat terutama Astrayana sedih. Ia lalu mengheningkan cipta, memohon pertolongan kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) agar bisa menghadapi pasukan raksasa itu. Dan doanya pun dikabulkan. Tak lama berselang, tiba-tiba muncul sepasukan raksasa ke dalam barisan pasukan kerajaan Minagala. Ukuran mereka itu luar biasa tingginya – sama dengan pasukan raksasa dipihak musuh – karena setara dengan bukit. Dan itu masih bisa lebih besar lagi sesuai dengan kebutuhan atau yang mereka inginkan.

Lalu siapakah mereka itu? Ternyata mereka adalah sosok-sosok yang selama ini diceritakan dalam berbagai kisah legenda sebagai kaum Raksasa. Dan mereka itu bukanlah golongan yang tersendiri, melainkan berasal dari bangsa Jin yang memang ukuran tubuhnya sangat besar. Dari sekian banyak ras bangsa Jin, mereka ini adalah salah satu yang istimewa. Di alamnya sana, mereka termasuk yang paling disegani karena kekuatan dan kesaktiannya. Dan kali ini mereka hadir/menampilkan dirinya secara zahir adalah untuk membantu umat Manusia yang sedang dirundung masalah. Selain itu, juga untuk meluruskan anggapan bahwa bangsa raksasa itu semuanya jahat. Padahal kenyataannya tidak begitu. Hanya bagi yang sudah termakan oleh tipu daya iblis sajalah yang jahat, selebihnya tetap baik dan beriman kepada Hyang Aruta (Tuhan YME).

Karena itulah kali ini mereka sengaja muncul untuk membuktikan bahwa masih ada dari bangsa Jin yang juga memusuhi apapun yang tidak benar pada tempatnya. Meskipun mereka berbeda bangsa, maka tergerak hatinya untuk bisa membantu Manusia ketika sedang mempertahankan kebenaran dan keadilan. Semua itu hanya karena cinta dan merasa sama-sama hamba Tuhan yang beriman kepada-Nya. Terlebih saat itu pasukan raksasa bawahan raja kegelapan sudah ikut campur dalam memerangi Manusia yang tinggal di muka Bumi. Biarlah mereka saja yang menghadapi para raksasa jahat itu, sementara Astrayana dan pasukannya tetaplah fokus dalam menghadapi Raja Hekal dan serdadunya.

Ya. Atas bantuan dari pasukan raksasa yang dipimpin oleh sosok bernama Satarung, maka terhentilah pembantaian umat Manusia. Pasukan raksasa bawahan raja kegelapan mendapatkan lawan yang sebanding. Dan mereka harus mengalami kekalahan demi kekalahan, karena pasukan dibawah komando Satarung itu bukanlah kesatria biasa. Kekuatan mereka berada di atas pasukan raksasa kegelapan. Dan jangan ditanyakan lagi tentang kegaduhan dan kengerian yang terjadi saat kedua pasukan raksasa itu bertarung, karena banyak sekali kehancuran yang terjadi. Untunglah sebagian besar dari mereka itu bertarungnya di udara, sehingga kerusakan di muka Bumi bisa di minimalisir.

Singkat cerita, akhirnya pasukan raksasa raja kegelapan itu bisa dikalahkan oleh pasukan Satarung. Tak ada yang diberi ampun, karena tradisi dari bangsa Jin saat mereka berperang adalah hidup atau mati saja. Artinya, mereka akan bertarung sampai mati, baik ia dari golongan yang jahat ataupun baik. Kedua belah pihak akan melakukan hal yang sama, karena itu semacam hukum tak tertulis yang selalu mereka patuhi sampai kapanpun. Mereka rela mati ketimbang merasa malu karena kalah atau menyerah dalam pertarungan.

Waktu pun berlalu. Melihat hasil di medan pertempuran kala itu, kubu pasukan Minagala bersuka ria. Dengan bantuan dari pasukan pimpinan Satarung, akhirnya pasukan raksasa bawahan raja kegelapan dapat dikalahkan, tak ada yang tersisa. Begitu pula dengan pasukan kegelapan lainnya – yang berukuran normal – juga ikut dibantai sampai habis. Namun ternyata ini bukanlah akhir dari semuanya. Tanpa dikira sebelumnya, tiba-tiba muncul sosok cahaya yang berwujud Manusia dari dalam mustika Datton. Sosok tersebut melakukan hal yang luar biasa dengan menarik mustika Harron – yang merupakan pasangannya – dari kejauhan.

Atas tindakan itu, Raja Hekal sangat terkejut lantaran mustika yang ia pegang saat itu tiba-tiba menghilang. Dalam waktu sekejap, ternyata mustika Harron sudah berada di dekat Astrayana, tepat dihadapan mustika Datton. Dan sama dengan pasangannya, dari dalam mustika Harron kemudian muncul sosok cahaya yang berwujud Manusia. Sama persis, hanya saja berbeda warna. Jika mustika Datton berwarna putih kebiruan, maka mustika Harron berwarna putih kehijauan. Keduanya lalu memancarkan energi yang sangat besar sampai mengetarkan Bumi. Siapapun yang ada pada waktu itu menjadi ketakutan jika seandainya pusaka Langit tersebut meminta korban jiwa. Tapi itu tidak terjadi, karena goncangan energi tersebut hanya sebagai pertanda bahwa kedua mustika yang terpisah itu telah bersatu kembali. Maklumlah keduanya bukan pusaka sembarangan.

Ya. Begitulah akhirnya bagaimana kedua pusaka Langit itu bisa kembali bersatu. Namun sekali lagi ini bukan berarti pertempuran telah berakhir. Raja Hekal masih tetap ingin menang dan bisa menguasai dunia. Maka tanpa menunggu waktu, dengan sombongnya ia langsung menyerang Astrayana dengan berbagai ilmu sihir dan ajian. Tapi semuanya dapat dihancurkan oleh sang pemuda. Hingga pada akhirnya Raja Hekal terpaksa mengaku kalah setelah ilmu andalannya tak mampu menyakiti Astrayana. Dalam kondisi yang terluka ia pun meminta ampun. Atas belas kasihan dari sang pemuda, maka raja angkuh tersebut masih bisa diampuni. Setelah perang berakhir, barulah ia akan menerima hukuman yang sesuai dengan kejahatannya.

Tapi sekali lagi, meskipun Raja Hekal telah berhasil ditaklukkan, ternyata pertempuran masih belum bisa diakhiri. Karena tanpa disangka sebelumnya, tiba-tiba muncul sosok luar biasa di tengah medan pertempuran. Ia berdiri mengambang di udara dengan sikap yang serius. Pada saat itu, sosok misterius tersebut sudah langsung mengenakan baju zirah perang warna merah bercampur emas. Terlihat gagah dan perkasa dari siapapun yang berperang saat itu. Hanya saja bisa dirasakan bila sosok tersebut adalah pribadi yang sangat jahat.

Dan benar, bahwa ternyata sosok misterius itu adalah seorang raja kegelapan yang sakti mandraguna. Salah satu kesaktian yang dimilikinya adalah bisa menciptakan sebuah cermin ajaib yang mampu menggandakan siapapun yang tercermin di atasnya tapi untuk tujuan yang jahat. Artinya, jika seorang kesatria yang menjadi musuh dari raja kegelapan itu melihat ke arah cermin ajaib atau tanpa sengaja tercermin di atasnya, maka sekejap kemudian akan muncullah sosok yang serupa dengannya dalam segala hal (fisik dan kesaktian) tapi ia bersifat jahat. Nah sosok yang berasal dari cermin inilah yang akan bertarung habis-habisan dengan yang aslinya (kesatria baik tersebut). Kekuatan dan kesaktiannya sama dengan yang asli. Sehingga akan sangat sulit untuk dikalahkan. Hanya orang tertentu saja yang bisa menang melawan sosok kembaran yang muncul dari cermin ajaib itu.

Lalu ketika sosok raja kegelapan itu muncul, tiba-tiba suasana jadi mencekam dan semua pasukan langsung dilanda oleh perasaan cemas, takut, dan putus asa. Itu pun masih ditambah lagi dengan si raja kegelapan yang bisa mengubah siang menjadi malam. Hal ini membuat orang-orang sampai tak berdaya dan banyak yang ingin bunuh diri. Hanya para kesatria berilmu tinggi yang masih bisa menahan sihir yang telah dikeluarkan oleh si raja kegelapan.

Tapi entah mengapa jika banyak orang yang tak bisa menguasai dirinya lagi, Astrayana justru sangat geram dengan sikap dari raja kegelapan itu. Gejolak dalam dada Astrayana itu langsung ditanggapi oleh kedua mustika Langit yang sudah berada di tangan sang pemuda. Sekali lagi, muncullah sosok dari dalam mustika Datton dan Harron. Keduanya lalu masuk ke dalam tubuh Astrayana sehingga membuat sang pemuda tampak bercahaya gilang gemilang lengkap dengan baju zirah baru. Tak lama kemudian, ia segera membacakan mantra untuk bisa menghilangkan malam yang telah dibuat oleh raja kegelapan. Setelah itu ia langsung mendekati sosok raja kegelapan dan membuat perhitungan dengannya. Hanya saja itu tak bisa terlaksana karena tiba-tiba muncul cermin ajaib ciptaan raja kegelapan tepat didepan Astrayana. Sekejap kemudian muncullah sosok yang sama persis dengan sang pemuda dan langsung menyerangnya.

Maka terjadilah pertarungan yang sengit antara kedua sosok yang sama persis itu. Pada awalnya kekuatan dan keahlian mereka sama. Tapi lantaran Astrayana sudah dibekali dengan kesaktian dari kedua pusaka Langit, ia lalu membagi dirinya. Satu untuk tetap melawan sosok yang berasal dari cermin ajaib, sementara yang satunya lagi langsung menghadapi raja kegelapan. Dan terjadilah pertarungan singkat yang dahsyat. Untunglah mereka bertarung di udara dan di dalam sebuah perisai yang tembus pandang, sehingga tak berakibat fatal bagi kehidupan di muka Bumi. Walaupun posisinya agak tinggi, tapi masih bisa disaksikan oleh semua orang dengan jelas.

Dalam pertarungan itu, si raja kegelapan tak bisa berbuat banyak. Ia tak mampu menandingi kesaktian dari Astrayana yang telah bersatu dengan kedua mustika Langit. Semua kesaktian yang dimiliki selama jutaan tahun belakangan tak berdampak apapun bagi sang pemuda. Dan hanya karena umurnya telah ditangguhkan sampai Hari Kiamat, maka ia masih bisa bertahan. Lalu dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, si raja kegelapan itu segera kabur dari medan pertempuran. Ia kembali ke alam asalnya dan menunggu waktu yang tepat untuk bisa kembali membuat masalah di Bumi.

Catatan: Perlu diketahui bahwa sosok yang telah dikalahkan oleh Astrayana itu bukanlah iblis yang sebenarnya, tetapi seorang raja kegelapan yang bernama Dorasal. Ia bukanlah pemimpin tertinggi di alam kegelapan, tetapi hanya seorang bawahan dari iblis. Dalam sejarahnya, iblis tidak pernah mau langsung menghadapi anak keturunan Adam AS dalam sebuah pertempuran. Dia hanya sebagai penyebab utama yang bekerja dibelakang layar dan memerintahkan anak buahnya untuk turun tangan langsung di alam nyata dunia. Berhasil 100% atau tidak, bagi iblis sendiri tidak masalah. Baginya yang penting itu adalah sudah bisa menyesatkan umat Manusia dan menimbulkan pertikaian yang mengakibatkan pertumpahan darah. Dari zaman ke zaman selalu begitu. Dialah sosok aktor paling intelektual dibelakang semua masalah dan huru-hara yang terjadi di muka Bumi ini. Terus seperti itu sampai Hari Kiamat nanti.

Singkat cerita, maka setelah raja kegelapan dapat dikalahkan, tak ada alasan lagi untuk melanjutkan pertempuran di lembah Soura kala itu. Semua orang telah melihat bahwa Astrayana menjadi pemenang dari semua pertarungan yang paling akbar saat itu. Dan sebagaimana hukum perang yang berlaku pada masa itu, maka yang menjadi pemenangnya adalah pihak kerajaan Minagala dan sekutunya. Mau tidak mau pasukan Raja Hekal harus menyerah jika tak ingin dihabisi oleh Astrayana yang jelas-jelas tak tertandingi itu. Jika ia mau, cukup dengan sekali serang saja maka semua pasukan Raja Hekal yang tersisa bisa tewas mengenaskan. Kesaktian dari kedua pusaka Langit memang tak tertandingi. Siapapun yang memilikinya, maka ia bisa melakukan apa saja yang diinginkan.

Tapi sebagai sosok yang terpilih, tentunya Astrayana tak mungkin melakukan hal-hal yang keji. Dengan bijaksana ia hanya berkata tegas kepada semua pasukan Raja Hekal untuk segera menyerah. Bahkan mereka tak perlu ditawan atau menerima hukuman picis. Mereka boleh kembali ke negerinya dengan damai. Hanya saja dengan satu catatan untuk tidak lagi berbuat masalah yang sama. Jika mereka melakukannya lagi, maka tak segan-segan Astrayana akan melumat habis siapapun mereka itu. Hukuman mati akan dikenakan bagi siapapun yang berbuat zalim dan menyengsarakan rakyat.

Catatan: Selain berguna untuk menyelesaikan berbagai masalah dan bisa membawa pada kemakmuran, kedua pusaka Langit itu sebenarnya adalah bentuk ujian yang sengaja diturunkan ke Bumi. Dalam hal ini Manusia selalu dituntut untuk bersikap hati-hati dan waspada. Ia harus menjadi bijak dan bisa mengendalikan hasrat keinginannya sendiri, jika tak ingin terjebak dalam kejahatan dan kehancuran. Sebagai makhluk yang diberi amanah sebagai Khalifah (pemimpin tertinggi) di Bumi, maka setiap diri Manusia itu tentunya akan mengalami ujian yang sangat berat – terutama para pembesar/pemimpinnya. Itulah cara untuk membuktikan dirinya.

5. Menjadi pemimpin
Setelah pertempuran di lembah Soura, keadaan dunia kembali stabil dan tidak ada lagi kegaduhan dimana-mana. Perlahan-lahan semua negeri kembali aman dan makmur, terutama di wilayah kerajaan Minagala. Pada masa itu, setelah menikah dengan seorang puteri dari penguasa kerajaan Minagala, selang beberapa tahun kemudian Astrayana memilih untuk kembali ke negerinya, di asrama Yant. Karena terbukti sebagai keturunan langsung dari Begawan Ramatasa dan juga pewaris dari kedua pusaka Langit (Datton dan Harron), Astrayana lalu diangkat sebagai pemimpin di asrama Yant selama beberapa tahun. Tapi atas desakan rakyat, akhirnya ia harus mendirikan sebuah kerajaan yang kelak menjadi panutan bagi semua bangsa di dunia, khususnya yang tinggal di kawasan Malleyata (penamaan Nusantara kala itu).

Kerajaan yang bernama Migdala itu berdiri selama ±2.775 tahun sampai akhirnya dipindahkan ke Dimensi lain. Selama itu, kerajaan Migdala menjadi panutan bagi bangsa-bangsa di seluruh kawasan, bahkan dunia. Meskipun kerajaan ini tak begitu besar dalam hal wilayah, tetapi pengaruhnya sangat luas. Semua kerajaan yang ada di kawasan Malleyata saat itu menjadikannya sebagai sesepuh yang wajib dimintai nasehat dan pertimbangan. Tidak abdol rasanya jika harus mengambil keputusan besar tanpa mendapatkan restu dari kerajaan Migdala. Karena selama berdiri, di kerajaan Migdala tersimpan dua buah pusaka Langit yang sangat bertuah. Siapapun raja yang memimpin kerajaan itu pastilah sosok yang terbaik dan menjadi pewaris dari kedua pusaka sakti tersebut. Sehingga secara otomatis apapun yang ia sampaikan – untuk kepentingan orang banyak – tentunya berdasarkan kebijaksanaan.

Adapun nama-nama penguasa di kerajaan Migdala adalah sebagai berikut:

1. Astrayana -> pendiri kerajaan yang kemudian dikenal dengan nama Begawan Ayana.
2. Anggarayana
3. Humanarun
4. Arlayunata
5. Purmarataya
6. Jagarata
7. Sumartapani
8. Suwaktira
9. Aswaritana
10. Jayaputra
11. Sobarayana
12. Jayawani
13. Wardalika
14. Suhaqtali
15. Martapulana
16. Kustaliyan
17. Pariyata
18. Meruwegti
19. Hudayana
20. Karyata
21. Murtahanika
22. Ardhaka
23. Sambariya
24. Nodalma
25. Hanuyata
26. Tagata
27. Zarikayana
28. Urdanasa
29. Vastawa
30. Anggastu
31. Hidarasa
32. Mogana
33. Ayotta
34. Saturama
35. Rodanawi
36. Jasurayana -> raja terakhir yang berkuasa. Di masanya kerajaan Migdala dipindahkan ke Dimensi lain.

Semua raja yang berkuasa di kerajaan Migdala menjabat dalam kisaran waktu antara 70-100 tahun saja. Tidak ada yang lebih dari 100 tahun karena mereka akan berhenti jika memang waktunya berhenti. Dari semua raja yang ada, maka tidak semuanya berasal dari garis keturunan Prabu Astrayana. Siapapun berhak asalkan ia mampu memenuhi semua syarat yang telah ditentukan. Terutama bisa memegang dan menggunakan dengan benar kedua pusaka Langit (Datton dan Harron). Jika tidak, maka siapapun takkan bisa menduduki singgasana warisan dari Prabu Astrayana. Dengan cara yang terhina ia akan terpental dari singgasana raja.

6. Keadaan kota dan penduduknya
Perlu diketahui bahwa mereka yang tinggal di kerajaan Migdala hidup dengan umur antara 150-250 tahun, sementara tinggi rata-ratanya adalah 2-2,5 meter. Mengenai jumlah penduduknya, maka di akhir kehidupannya (sebelum pindah Dimensi), jumlah populasi di kerajaan Migdala mencapai angka sekitar ±3.000.200-an orang. Lalu dari jumlah itu, maka terdapat ±25.000 orang yang menjadi tentara, yang bertugas menjaga keamanan dan kedaulatan negara. Disamping itu mereka juga bertugas menjaga stabilitas di seluruh kawasan. Artinya, mereka ini adalah pasukan yang selalu siap membantu atau menyelesaikan konflik yang terjadi di seluruh kawasan, bahkan di manapun di sepenjuru Bumi ini.

Lalu, pada masa itu kawasan Nusantara sangat subur dan sumber daya alamnya berlimpah seperti emas, perak, batu permata (intan, safir, ruby, zamrud, giok), marmer, dan pualam. Karena itulah, kerajaan Migdala bisa membangun gedung-gedung megah dan bangunan spektakuler dari bahan batu marmer, pualam dan logam mulia. Contohnya, istana raja terbuat dari batu marmer warna krem untuk pondasinya dan marmer warna putih, hijau, dan hitam untuk dinding dan lantainya, serta batu pualam untuk tiang/pilarnya. Sedangkan atapnya terbuat dari perak dan emas. Ada banyak pula batu permata warna-warni yang sengaja disematkan pada dinding dan tiang/pilar istana, sehingga menambah keindahannya.

Untuk rumah penduduknya juga luar biasa, karena dindingnya terbuat dari batu alam warna krem dan lantainya dari marmer putih yang dihaluskan, sementara atapnya juga terbuat dari perak atau emas. Lalu mengenai tata kotanya, maka seluruhnya berada di sebuah lembah yang sangat subur dan diatur melingkar dengan istana raja sebagai titik pusatnya. Terdapat banyak taman yang ada kolam ikan dan air mancurnya di sekeliling kota. Dan ada pula kanal-kanal air yang mengelilingi komplek istana, tepatnya di luar batas pagar istananya. Selain untuk menambah keindahan, kanal-kanal yang ada itu berguna untuk jalur transportasi dan sistem penanggulangan banjir.

Dalam hal perekonomian, mereka sudah melakukan perdagangan lintas bangsa dan negara yang ada di kawasan regional Malleyata (penamaan Nusantara kala itu), bahkan yang berada di kawasan Australia, India, China, Timur Tengah, dan Afrika. Komoditi yang di perdagangkan saat itu adalah hasil pertanian, perkebunan, peternakan, barang tambang (emas, perak, tembaga, dll), perhiasan, peralatan rumah tangga, kain, pakaian, dan kerajinan tangan (gerabah, patung, dll). Lalu untuk memperlancar proses transaksi, mereka sudah menggunakan mata uang koin yang terbuat dari emas dan perak. Jika berdagang dengan negara lain, maka yang digunakan sebagai alat pembayarannya hanyalah emas.

Cara berpakaian mereka sangat sopan, karena jenis yang dikenakan sehari-hari adalah tertutup, serba panjang, dan untuk yang laki-laki bahkan sampai mengenakan jubah. Lalu, jika yang wanitanya mengenakan selendang penutup kepala, maka yang prianya sering memakai ikat kepala atau sorban tipis. Warnanya bisa bermacam-macam, tapi lebih dominan ke warna putih, krem, dan jingga. Selain itu mereka juga sudah memakai alas kaki berupa sandal dan sepatu yang terbuat dari bahan kayu, getah pohon (semacam karet), dan kulit hewan. Dan tentang perhiasan, maka jelas mereka sudah memakainya. Ada kalung, gelang, anting-anting, cincin, bando, dan sabuk yang terbuat dari emas lengkap dengan batu mulia yang berwarna-warni. Semuanya dikerjakan dengan sangat rapi dan halus. Tidak kalah dengan yang ada di masa kita sekarang.

Ya, mereka telah sampai pada puncak peradaban Manusia. Hanya saja mereka tak lantas sampai menjadi gila duniawi seperti di masa kini. Terlebih lagi mereka pun hidup dalam budi pekerti yang luhur. Tak ada yang mau melanggar hukum dan aturan Tuhan. Semuanya patuh dengan kesadaran diri yang tinggi. Karena itulah banyak dari penduduk negeri Migdala yang pada akhirnya menempuh jalan moksa. Bagi mereka kehidupan dunia ini tak berarti dan cuma sebatas persinggahan saja. Fokus mereka adalah masa depan di akherat nanti. Sehingga peradaban dunia tetap mereka bangun tetapi tidak untuk tujuan akhir dari kehidupan.

7. Akhir kisah
Setelah merasa cukup dengan kewajibannya sebagai raja, Prabu Astrayana memutuskan untuk turun tahta. Bersama dengan isterinya, Permaisuri Hanika, ia sempat kembali ke kerajaan Minagala (asal usul sang isteri) sebelum akhirnya kembali ke asrama Yant dan menetap di sana. Selama beberapa tahun berikutnya Astrayana masih tinggal di asrama Yant untuk mengajarkan berbagai keilmuan kepada para muridnya. Sejak tinggal di asrama leluhurnya itu, sang prabu lebih dikenal dengan sebutan Begawan Ayana. Dan ini berlangsung cukup lama. Sampai pada akhirnya sang Begawan merasa sudah waktunya untuk meninggalkan dunia ini dengan cara moksa. Bersama-sama dengan isterinya, ia mempersiapkan diri dan akhirnya berpindah ke Dimensi keabadian.

Sebelum pergi, sang Begawan sempat berpesan kepada rakyatnya. Pesan ini tidak hanya berlaku untuk di zaman itu saja, tetapi sampai di masa-masa selanjutnya. Adapun kalimatnya sebagai berikut:

Semla torakh ulugur tasana avrot nea orada hern gundafa heras goliyan fazlier. Deftaril gotuda anuen las korkuc egdir balyun aniralta. Dahasi yamunte hazan kerakh mordafas biruce Nosyantara, olanun yerudah salhiji tervan ismilda rudhaur. Neikos lajarun hatakil omada niyet tul 0115793824601 ruksyanar amoragala. Yowa nektata suezla hiyan Sri Maharaja Amuradafasya Hikamtalayana kilocha rima heyante. Mosakon niyen akhliyas dagha hakine zakhba li Ilahiyah suekire bozkal sune. Mur atakhon deralba leyajara neropa asgilat anamirat

Lantas bagaimana dengan nasib dari kedua pusaka Langit? Atas wasiat dari Begawan Ayana, maka sebelum kerajaan Migdala dipindahkan ke Dimensi lain, mustika Datton dan Harron dibawa jauh ke arah selatan, di salah satu tempat dimana kerajaan Singgalata berada. Hanya raja dan permaisurinya saja yang tahu mengenai pusaka itu. Dan informasi ini diturunkan kepada pewaris mereka yang sah. Terus seperti itu selama ribuan tahun dengan pesan bahwa; “Suatu saat nanti akan ada yang mengambilnya karena dialah pemilik sesungguhnya dari kedua pusaka tersebut. Tunggulah, jagalah, dan pergunakanlah keduanya sesuai dengan keperluan. Dan jika sudah tiba waktunya nanti, maka serahkanlah kepada yang berhak. Karena dialah sosok yang terbaik dan terus dinantikan serta dirindukan

Sedangkan selama ribuan tahun pasca berpindahnya kerajaan Migdala ke Dimensi lain, tepatnya sampai akhir zaman ke enam (Nusantara-Ra), kedua pusaka Langit itu sempat dipergunakan beberapa kali oleh para kesatria yang terpilih. Siapapun yang bisa memilikinya adalah sosok yang telah berhasil memecahkan salah satu syarat yang harus dipenuhi. Jadi, sebelum moksa Begawan Ayana pernah berwasiat dalam bentuk sloka yang misterius. Berikut ini kalimatnya:

Takkan ada yang bisa memiliki kedua cinta.
Kecuali hitam sebagai tangan untuk melindungi,
Dan putih sebagai tangan untuk mengasihi.
Jika keduanya disatukan, akan saling melengkapi.
Keseimbangan darinya bisa membuka gerbang kebenaran.
Keadilan bagi yang berhak dan memahami rahasia dibalik rahasia.
O.. Hanya anak-anak yang bisa memegang bara api.
Hanya jiwa anak-anak yang mampu bersatu dengan kami.

Demikianlah petunjuk yang ditinggalkan oleh Begawan Ayana untuk bisa menemukan kedua pusaka Langit. Ini tidak berlaku dimasa lalu saja, tapi hingga di akhir zaman ini (Rupanta-Ra). Siapapun yang bisa memecahkan rahasia dibalik sloka itu, ia memiliki peluang besar untuk bisa menemukan keberadaan dari kedua pusaka Langit. Jelas disini hanya untuk mereka yang berhati suci dan terlepas dari keduniawian. Terlebih mustika Datton dan Harron itu hanya akan dimiliki oleh sosok yang terpilih dan tidak untuk sembarang orang.

Semoga tulisan ini bermanfaat.. Rahayu.. 🙏

Jambi, 20 Nopember 2018 M
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan sebelumnya, maka tak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Semua kembali ke diri Anda sekalian, karena tugas kami disini hanyalah sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Bacalah dengan tenang dan terurut kisah ini. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahaminya. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat banyak perbedaannya.
3. Ada banyak hal yang tak bisa kami sampaikan disini, ada protap yang harus dipatuhi. Maaf.
4. Tetaplah mempersiapkan diri dan terus saja bersikap eling lan waspodo. Karena apa yang pernah terjadi di masa lalu bisa saja terjadi lagi di masa sekarang. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

18 tanggapan untuk “Pusaka Langit: Datton dan Harron

    1. Nuwun juga mas Guntur atas kunjungannya… 🙂
      Hmm.. Silahkan baca catatan terakhir pada tulisan di atas, di bagian paling bawah.. semoga itu bisa menjelaskan… Tapi jika sampeyan tidak percaya dg kisah ini, ya silahkan diabaikan sajalah mas.. Anggap saja angin lalu, gak usah dipikirkan lagi… 🙂

  1. membaca tulisan2 mas Oedi, ilustrasi alam dan gambarnya, kadang ada perasaan seperti tidak asing. dan muncul perasaan rindu yang dalam. terimakasih mas, terus berbagi.

    1. Hmm.. mungkin itu adalah memori kolektif yang diturunkan oleh para leluhur masnya melalui DNA dan Genetika.. Jika ada yang “memancingnya” maka ingatan masa lalu itu akan muncul lagi, makanya serasa tak asing..

      Okey, terima kasih juga mas Ajar Wedhatama karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

    1. Wa’alaikumsalam.. sudah lama saya ada rencana untuk membahas ttg keris pusaka Nusantara, cuma belum fokus aja kesitu.. Sekarang ada hal yg lebih penting dari itu, yg tidak lagi diketahui bahkan dalam mitos dan legenda rakyat.. Di antaranya ya ttg dua pusaka langit dalam kisah di atas… Mungkin nanti akan saya share di blog ini tentang keris pusaka itu.. mohon di tunggu.. 🙂

  2. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh, saya hanya miris saja bahwa keris dianggap sebagai benda syirik bagi orang-orang yang tidak tahu filosofi serta kegunaannya sebagai senjata pusaka warisan Nusantara. Keris adalah salah satu keindahan Pusaka Agung karya Peradaban Nusantara serta Keris wujud dari Ilmu Allah SWT yang terdapat di besi. Wallahu A’lam Bishowab

  3. Membacanya luar biasa perasaan bercampur antara senang sedih dan sangat rindu nya, adakah situs atw kebendaan yang masih tersisa dari jaman tersebut diatas ya

    1. Syukurlah kalo suka dengan kisah ini… terima kasih atas kunjungannya mas/mbak Delphi.. Semoga bermanfaat.. 🙂

      Ttg situs dan kebendaannya, sebenarnya masih ada sebagian yg tersisa tapi disembunyikan di suatu tempat yang terahasia.. hanya orang tertentu saja yg diizinkan melihat atau berkunjung kesana, dan itu pun tak boleh diceritakan kpd orang lain lagi.. cukup mrk saja yg tau..

Tinggalkan Balasan ke Asyifa wahida Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s