Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Prabu Dikarata: Penjaga Kedamaian Dunia

Wahai saudaraku. Ada begitu banyak negara atau kerajaan besar yang pernah berdiri di masa lalu dalam rentang waktu jutaan bahkan miliaran tahun belakangan. Khususnya di kawasan yang kini disebut Nusantara adalah yang paling banyak adanya. Hanya saja memang perlu diakui bahwa fakta ilmiah sejarah atau bukti-bukti fisiknya sudah tidak terlihat lagi, telah menghilang oleh sebab bencana alam atau yang lainnya (berpindah ke Dimensi lain).

Nah, untuk lebih mengetahui tentang kehidupan para leluhur kita di masa lalu, kali ini kami akan menyampaikan kisah dari sebuah kerajaan yang berperadaban tinggi yang bernama Syahala. Sebuah negara yang pernah ada ketika gunung Parubala (±5.270 mdpl) yang berada di sekitar Jogjakarta masih gagah berdiri. Tepatnya pada masa akhir periode zaman ke lima (Dwipanta-Ra), atau sekitar ±59.000.000 tahun silam.

Untuk lebih jelasnya mari ikuti kisah berikut ini:

1. Awal kisah
Semua ceritanya dimulai dari kisah keturunan wangsa Tariyah yang bernama Wisarata putra Prabu Sahagirata. Wisarata adalah seorang raja yang termasyhur dan dicintai. Darinya muncullah wangsa Hisaka yang salah satu keturunannya itu lalu melahirkan Jamiraka, seorang raja yang bijak dan waskita. Raja ini mempunyai seorang putera yang bernama Kilataka. Setelah turun tahta, oleh Prabu Jamiraka tampuk kekuasaan di kerajaan Nuya diserahkan kepada anaknya itu, Kilataka. Kilataka pun menjadi raja yang bijak dan tersohor namun tidak begitu lama, sebab ia memilih jalan untuk mengasingkan diri jauh dari istana.

Kisah pun berlanjut. Di waktu yang lain Begawan Kanirasa telah mendapatkan petunjuk untuk mencari seorang pemuda yang kelak mendirikan sebuah kerajaan yang terpandang. Ternyata sang pemuda hanyalah orang biasa yang hidup dalam kesederhanaan. Di sebuah kampung yang bernama Dunt, ia hidup bersama ibu dan kedua adiknya. Ayahnya telah pergi meninggalkan dunia ini karena harus menjalankan tugas khusus di Dimensi lain dengan cara moksa terlebih dulu, alias berpindah tempat kehidupan (ke Dimensi lain).

Ketika itu, Begawan Kanirasa masih tinggal di wilayah barat, tepatnya di negeri Magura (sekitar India). Karena mendapatkan petunjuk itu, ia lalu pergi ke Jasiwala (penamaan Nusantara kala itu) untuk bisa menemukan sang pemuda dan harus melatihnya dengan berbagai keahlian khusus. Sekian lama sang Begawan mencari tapi belum juga ditemukan. Hingga pada akhirnya ia lalu memutuskan untuk ber-semedhi agar mendapatkan petunjuk. Tepat di lereng gunung Tura sang Begawan lalu mengheningkan cipta selama beberapa hari. Di hari yang ke tiga, tanpa dikira sebelumnya datang seorang pemuda yang sedang mencari kayu bakar dan jamur. Tanpa disengaja sang pemuda melihat ada seorang Begawan yang sedang duduk ber-semedhi tepat dibawah pohon besar.

Catatan: Pada masa itu seluruh kawasan Nusantara masih menyatu dengan Asia, Australia, Polinesia dan Oseania. Membentuk satu daratan yang maha luas, yang memuat beragam bentuk kehidupan makhluk, termasuk flora dan faunanya. Ada begitu banyak yang hidup pada masa itu namun tidak ada lagi di masa kini. Sebagian telah punah, dan sebagian lainnya telah berpindah ke Dimensi lain.

Singkat cerita, ternyata pemuda itulah yang selama ini dicari-cari oleh sang Begawan. Tanpa pikir panjang, segera saja ia mengajak sang pemuda yang bernama Dikarata itu untuk berbincang-bincang. Dan tanpa dikira olehnya, ternyata sang pemuda bisa mengimbangi semua pembicaraan dari sang Begawan, khususnya tentang arti hidup dan spiritual. Semakin kagumlah sang Begawan dan ia semakin yakin bahwa Dikarata itulah sosok yang tepat untuk menjadi pemimpin besar di masa yang akan datang.

Dalam pembicaraannya dengan Dikarata, ternyata Begawan Kanirasa mendapatkan informasi bahwa sebenarnya sang pemuda bukanlah dari kalangan awam. Kakek dari sisi ayahnya adalah seorang putra mahkota, bahkan sempat menjadi raja di kerajaan Nuya yang berada di Sinahuwa (penamaan daratan China-Korea-Jepang kala itu). Tapi semua jabatan itu ia tinggalkan karena memang tak begitu tertarik dengan keduniawian lagi. Terlebih sang kakek yang bernama Kilataka itu telah mendapatkan petunjuk untuk berhijrah ke Jasiwala (penamaan Nusantara kala itu). Sementara tahta kerajaan lalu ia serahkan kepada adiknya yang bernama Norataka. Dibawah kepemimpinan sang adik, kerajaan Nuya tetap dalam keadaan aman dan makmur.

Catatan: Jangan membayangkan bahwa mereka yang tinggal di daratan China-Korea-Jepang pada masa itu seperti mereka yang tinggal disana sekarang (bermata sipit), karena memang berbeda rasnya. Begitu juga dengan yang tinggal di kawasan India dan Nusantara pada masa itu jangan langsung disamakan dengan yang ada sekarang, lantaran juga berbeda. Dan maaf bila di tulisan ini kami tak bisa menjelaskan secara detil tentang ciri fisik dari bangsa-bangsa yang diceritakan dalam kisah ini. Ada protap yang harus dipatuhi.

Ya. Bersama seorang isteri dan kedua anaknya, Prabu Kilataka yang sudah turun tahta itu pergi dari kerajaan Nuya menuju kawasan Jasiwala, tepatnya di sekitar antara Jambi dan Palembang sekarang. Sesuai dengan petunjuk yang telah didapatkan, maka di kaki gunung Tura ia lalu memulai kehidupan yang baru, yang jauh dari kemewahan istana. Mereka tidak diikuti oleh seorang pun abdi atau pelayan, hanya mereka sekeluarga saja. Dan hal itu tak sulit bagi Kilataka dan keluarganya, karena sebelum semua itu terjadi mereka sudah membiasakan dirinya untuk hidup sederhana dan mandiri. Syukurlah isteri dan kedua anaknya itu mau mengerti dan bersedia mengikuti. Dan semenjak itu hiduplah keluarga kecil ini sebagai satu keluarga Begawan yang mengasingkan diri dan menyatu dengan alam.

Meskipun demikian, tentang urusan pendidikan tak pernah diabaikan oleh Kilataka. Sebagai mantan seorang raja, semua ilmu pengetahuan yang telah ia kuasai lalu diajarkan kepada putera dan puterinya itu. Dan karena memang lebih berbakat, maka Jasarata lebih unggul dari adik perempuannya yang bernama Nilasati. Jasarata menguasai setiap ilmu yang diajarkan oleh ayahnya; Kilataka. Bahkan ia masih mencari sendiri berbagai ilmu pengetahuan yang lain, tanpa diminta apalagi diperintah oleh sang ayah. Semuanya berangkat dari keinginan dan kesadaran dirinya sendiri.

Karena itulah, akhirnya Jasarata tampil sebagai laki-laki yang cerdas dan berilmu tinggi namun tetap rendah hati. Ia pun sering dimintai pertolongan, tapi tak pernah tertarik dengan harta dan jabatan duniawi meskipun berulang kali memiliki kesempatan untuk menjadi raja atau pembesar kerajaan. Ia hanya senang bisa membantu siapapun yang membutuhkannya, tanpa pamrih dan tedheng aling-aling.

Dan sifat ini menurun pula kepada puteranya yang bernama Dikarata. Hanya saja jalan hidup anaknya itu; Dikarata, harus berbeda dari ayah dan kakeknya yang tetap mengasingkan diri. Dikarata harus tampil kepermukaan untuk membangun sebuah peradaban yang gemilang. Tujuannya jelas untuk kebaikan orang banyak di tengah-tengah keadaan yang kadang tidak mengenakkan. Demikianlah takdir Hyang Aruta (Tuhan YME) sudah ditetapkan bagi dirinya. Meskipun ia lebih senang mengasingkan diri, tetapi tugas yang telah diberikan tak bisa ditolak. Dikarata memang harus tampil dalam percaturan dunia demi kedamaian bersama.

2. Persiapan diri
Dalam pertemuan yang pertama, Begawan Kanirasa belum sempat mengajak Dikarata untuk berlatih. Namun justru Dikarata sendiri yang ingin berguru kepada sang Begawan, tapi belum bisa dimulai pada saat itu. Ia masih harus membawa pulang jamur dan kayu bakar yang sudah di dapat untuk kebutuhan ibu dan adiknya di rumah. Selama beberapa waktu kemudian ia pun harus mencarikan berbagai stok keperluan dapur untuk kebutuhan beberapa lama. Dan tak lupa pula Dikarata harus meminta restu kepada ibunya untuk berguru kepada Begawan Kanirasa. Jika semua itu sudah terpenuhi, barulah sang pemuda tenang untuk pergi meninggalkan rumah.

Mengetahui hal itu, Begawan Kanirasa sangat mengerti. Karena itulah ia memberikan waktu secukupnya kepada Dikarata untuk bisa memenuhi semua kebutuhan keluarganya dan mendapatkan restu dari ibu dan adiknya. Sang Begawan akan menunggu di tempat semedhi-nya sampai Dikarata datang kembali. Dan akhirnya setelah 15 hari kemudian barulah Dikarata bisa menemui sang Begawan dan siap untuk belajar. Mereka pun akhirnya mulai berlatih dalam berbagai cara.

Singkat cerita, ada tiga tahapan yang harus dilalui oleh Dikarata untuk bisa menguasai semua ilmu yang perlu ia miliki. Yaitu Lahir, Batin dan Rahsa Sejati. Dalam ilmu Lahir ia harus menguasai berbagai jenis ilmu Kanuragan dan Kadigdayan. Sementara itu dalam ilmu Batin ia harus menguasai tentang seluk beluk ilmu Kasapuhan dan Kasunyatan. Sedangkan untuk tahapan ilmu Rahsa Sejati, maka ia harus menguasai berbagai hal dalam ilmu Kasampurnan dan Kawicaksanan. Ketiga level ini adalah bekal utama yang harus dimiliki oleh seorang kesatria utama. Meskipun tentang hal ini sudah pernah dipelajari oleh Dikarata, bahkan sudah banyak menguasainya, tapi apa yang diajarkan oleh Begawan Kanirasa merupakan level yang berbeda, lebih tinggi lagi, karena ini berdasarkan petunjuk Ilahi. Semuanya khusus untuk bekal hidup sang pemuda terpilih.

Selanjutnya, ketika semua tahapan itu telah rampung dikuasai, Dikarata harus melakukan tapa brata yang sulit. Selama 10 tahun ia harus melakukan tiga jenis tapa brata sekaligus, yaitu duduk bersila, berdiri di atas kedua kaki, dan berdiri di atas satu kaki. Semuanya di lakukan di atas puncak gunung Tura. Lalu setelah ketiga jenis tapa brata itu selesai dijalani, Dikarata harus ber-tapa brata lagi tapi di atas lautan selama 5 tahun. Dan ketika itu selesai di lakukan, ia harus kembali ber-tapa brata selama ±10.000 tahun tetapi tidak lagi di alam nyata dunia ini. Dikarata harus ber-tapa brata di sebuah tempat yang ada di Dimensi lain. Disana, selama ±10.000 tahun sang pemuda harus ber-tapa brata dengan khusyuk untuk menuntaskan semua pendidikannya.

Catatan: Di Dimensi itu waktunya berbeda dengan di Bumi. Karena 1 tahun di Bumi = 1.000 tahun disana. Artinya, Dikarata cukup ber-tapa brata selama ±10 tahun saja – untuk ukuran waktu di Bumi – maka hasilnya sama dengan 10.000 tahun. Ini adalah cara untuk mempersingkat waktu, dan bagi mereka yang terpilih di masa lalu (kesatria utama) selalu menggunakan cara khusus ini. Tentu dengan syarat yang khusus pula, tidak untuk semua orang.

Kisah pun berlanjut. Selama ber-tapa brata di Dimensi lain itu, Dikarata berulang kali didatangi oleh para Dewa dan Bhatara untuk sekedar menguji atau justru memberikan restunya. Semua itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dilalui oleh sang pemuda dengan sikap yang tekun dan sabar. Setiap kali ia mendapatkan ujian atau restu dari para Dewa dan Bhatara itu, maka kemampuan lahir batin Dikarata semakin meningkat. Ada semacam energi besar yang masuk ke dalam tubuhnya dan itu tak bisa ia tolak. Memang sudah haknya untuk mendapatkan itu, sebab apa yang akan ia lakukan nanti bukanlah tugas yang ringan.

Singkat cerita, setelah ±10.000 tahun ber-tapa brata akhirnya muncul seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Khidir AS. Tak lama kemudian turut hadir pula para Dewa dan Bhatara di sekeliling Dikarata. Mereka semua menunggu sang pemuda terpilih untuk membuka matanya dan menerima anugerah yang memang layak untuknya. Pada saat itu, setelah beberapa waktu membuka matanya, Dikarata mendapatkan berbagai wejangan hidup dari Nabi Khidir AS. Sangat mendalam dan penuh makna yang luar biasa. Sungguh keberuntungan yang besar bagi siapapun yang menerimanya.

Setelah itu, sang Nabi memberikan sebuah cincin pusaka dan kitab ilmu pengetahuan kepadanya. Keduanya adalah simbol bahwa Dikarata itu merupakan sosok yang terpilih untuk kembali menegakkan keadilan dan ketertiban dunia. Selanjutnya giliran para Dewa dan Bhatara yang memberikan beberapa benda pusaka seperti pedang, tombak, keris, busur panah, dan batu mustika untuk digunakan dalam perjuangan. Semuanya lalu disimpan – termasuk kitab pusaka pemberian dari Nabi Khidir AS – di dalam sebuah peti pusaka yang tak perlu dibawa-bawa atau diletakkan di tempat khusus. Cukup diniatkan saja oleh Dikarata atau siapapun yang kelak mewarisinya, maka peti tersebut akan muncul sendiri dihadapannya. Hanya cincin pusaka pemberian Nabi Khidir AS yang tidak disimpan di dalam peti tersebut, karena langsung dikenakan oleh Dikarata tepat di jari manisnya. Cincin tersebut juga bisa muncul atau menghilang sesuai dengan keinginan dari sang pemuda.

Demikianlah akhirnya Dikarata berhasil menuntaskan semua pendidikannya dengan memperoleh hasil yang luar biasa. Tak ada yang bisa ia utarakan selain bersyukur dalam linangan airmata. Dengan terisak-isak, sang pemuda menerima semua anugerah itu tanpa pernah berpikir untuk mendapatkannya. Selama ini apapun yang di lakukannya, termasuk berguru kepada Begawan Kanirasa, hanyalah untuk bisa lebih memperbaiki diri, agar semakin mengenal diri sendiri, dan agar benar saat mengabdi kepada Sang Maha Pencipta. Sungguh pemuda yang tulus dan rendah hati.

3. Bertemu bangsa Peri
Meskipun tinggal di lereng gunung, tetapi Dikarata bukanlah seorang pemuda yang ketinggalan zaman. Ia sering pergi ke pusat desa atau bahkan kota kerajaan untuk berdagang atau mencari kebutuhan keluarganya. Dalam setiap kali turun gunung, tak lupa pula ia mencari informasi tentang perkembangan dunia. Karena itulah Dikarata sampai tahu persis bahwa sebenarnya pada masa itu keadaan dunia sudah timpang, tidak lagi harmonis dan semakin kacau balau. Kejahatan lebih dominan tapi seolah-olah tak pernah ada. Selalu bersembunyi dibalik jubah kehormatan dan kemuliaan yang palsu.

Lalu ketika ia sudah menyelesaikan pendidikannya dengan Begawan Kanirasa dan menerima semua anugerah dari Yang Maha Kuasa melalui Nabi Khidir AS dan para Dewa serta Bhatara, Dikarata baru memahami arti hidupnya yang sebenarnya. Sebagai seorang kesatria, ia memang harus berjuang mengembalikan tatanan dunia pada tempat yang semestinya. Karena hanya dengan begitulah kehidupan seluruh makhluk di atas Bumi ini bisa selaras dengan keseimbangan. Hasilnya tentulah hidup dalam kenyataan, bukan ilusi yang menipu. Sehingga menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

Kisah pun berlanjut. Perlu diketahui bahwa pada masa itu yang tinggal di muka Bumi ini tidak hanya Manusia, tetapi ada bangsa lainnya seperti Peri, Cinturia dan Karudasya. Ketiganya itu hidup saling berdampingan tetapi tidak pernah menjalin hubungan khusus, apalagi dengan Manusia. Mereka hanya mengurusi kehidupan mereka sendiri, dan hanya dalam keperluan tertentu saja akan saling berhubungan. Sedangkan dengan Manusia, maka sangat jarang mereka itu berinteraksi. Seolah-olah kehidupan mereka terpisah di dua dunia yang berbeda.

Nah, setelah usai menempa dirinya, maka sesuai dengan petunjuk dari Nabi Khidir AS, Dikarata lalu berjalan menuju ke arah selatan. Disana ada kerajaan bangsa Peri yang terusik oleh sikap dari bangsa Manusia yang ada di kerajaan Kostaran. Mereka ini sering mengganggu ketenangan di perbatasan kerajaan bangsa Peri itu, atau yang disebut Salhatir. Bahkan pada akhirnya berencana untuk berperang dengan bangsa Peri selatan itu demi menguasai wilayah kerajaannya. Dan apalagi kalau bukan untuk menambah kekayaan, kekuasaan, dan kebanggaan diri (ego). Sungguh hati dan pikiran Manusia itu mudah dikotori.

Catatan: Lokasi pusat kerajaan Kostaran itu berada di sekitar Laut Jawa, atau lebih tepatnya antara pulau Madura dan Banjarmasin sekarang. Sebelum menyerang negeri bangsa Peri Salhatir, kerajaan ini sudah berhasil menaklukkan semua kerajaan bangsa Manusia yang berada di kawasan barat dan tengah Nusantara. Karena itulah mereka pun berhasrat untuk menaklukkan bangsa Peri yang ada di selatan sebagai tolak ukur untuk bisa menguasai dunia. Karena bangsa Peri adalah tantangan terberat yang harus mereka lalui. Dan selama kerajaan bangsa Peri itu masih hidup berdaulat, maka kerajaan Kostaran takkan diakui sebagai penguasa dunia. Begitulah anggapan dari Raja Hokta, sang penguasa Kostaran.

Ya, awalnya konflik antara kedua bangsa ini relatif kecil dan hanya terjadi di sekitar perbatasan negeri mereka saja. Namun sejak Raja Hokta berkuasa di kerajaan Kostaran, sikap mereka bukan lagi sekedar mengusik, melainkan juga ingin menaklukkan. Usut punya usut ternyata sang raja telah disusupi pikiran jahat dari seorang raja kegelapan yang menyamar. Hal itu bermula ketika ia bertemu dengan seorang pria yang mengaku sebagai guru batin yang bisa memberikan berbagai kelebihan dan keistimewaan. Awalnya sang raja adalah sosok yang bijak, tapi sejak perkenalannya dengan sang Begawan palsu, sikapnya menjadi angkuh dan zalim. Siapapun yang menentang keinginannya akan dihukum berat, bahkan dibunuh dengan sebelumnya harus menerima siksaan yang perih. Dan atas hasutan dari si Begawan palsu itu, maka pada akhirnya sang raja ingin pula menguasai seluruh dunia dengan terlebih dulu bisa menaklukkan kerajaan bangsa Peri, terutama Salhatir. Alasannya untuk bisa memperluas wilayah dan merupakan kebanggaan yang luar biasa, dimana seorang raja Manusia dapat menaklukkan bangsa Peri yang terkenal dengan kekuatan dan kesaktiannya. Disinilah ego terus mengendalikan akal, pikiran dan hatinya. Sang raja menjadi semakin lupa diri dan angkuh.

Begitulah yang terpikirkan oleh Raja Hokta selama bertahun-tahun, tentang bagaimana ia bisa menaklukkan kerajaan Peri Salhatir. Dan menurut guru batinnya itu, ia pasti mampu karena kesaktian yang sudah ia miliki telah sempurna, ditambah lagi dengan kekuatan dari pasukannya sudah mapan. Dan bila perlu pasukan dari Dimensi lain akan datang membantunya dalam meraih kemenangan. Sang guru batin pasti akan terus membantunya dengan segala cara. Nah iming-iming yang seperti ini sangat menarik perhatian sang raja. Ia tak sadar lagi bahwa sebenarnya dirinya itu cuma dijadikan sebagai kacung oleh raja kegelapan yang ingin menguasai dunia.

Tapi keburukan memang harus berjaya terlebih dulu pada masa itu, sementara kemuliaan terus meredup. Dengan ambisi dan egonya yang tinggi, Raja Hokta memimpin pasukannya untuk terus menaklukkan kerajaan besar-kecil yang ada di sekitar kawasannya. Hingga pada akhirnya, setelah merasa cukup kuat, giliran kerajaan bangsa Peri Salhatir yang menjadi target utamanya. Apapun cara akan ditempuh demi mencapai kemenangan. Tak ada kata mundur dalam hal ini.

Nah, beberapa bulan sebelum penyerangan itu dimulai, Dikarata sudah memasuki wilayah kerajaan Peri Salhatir. Tujuannya kala itu adalah memenuhi petunjuk dari Nabi Khidir AS, bahwa ia harus membantu bangsa Peri Salhatir dalam menghentikan penjajahan dari Raja Hokta dan pasukannya. Akan sulit bagi bangsa Peri itu untuk bisa menandingi kesaktian dari Raja Hokta, sebab ia telah mendapatkan kekuatan dan senjata pusaka dari raja kegelapan. Pasukannya juga sangat banyak, jauh melebihi pasukan bangsa Peri. Jadi harus ada seorang kesatria pilihan dari golongan Manusia yang membantu dalam perjuangan. Karena selain itu adalah tugas dan kewajibannya, maka itu juga merupakan tujuan dari kelahirannya.

Ya, bagaimanapun kondisi umat Manusia, maka dalam siklus waktu tertentu akan ada satu orang yang terpilih sebagai Khalifah (pemimpin tertinggi di Bumi). Hal itu memang sudah menjadi hak yang telah Tuhan tetapkan sejak dulu di setiap zamannya. Dan kepada Khalifah tersebut, siapapun mereka dari bangsa Peri, Cinturia, dan Karudasya akan tunduk serta mengikutinya. Hanya raja kegelapan dan pengikutnya saja yang takkan mau mengakui, dan itu memang sesuai pula dengan sifat dan karakter buruk yang sudah mereka punya.

Kisah pun berlanjut. Awalnya belum ada pergerakan apapun dari Raja Hokta dan pasukannya di dekat perbatasan negeri Peri Salhatir. Mereka memang belum memulai usaha penaklukkan. Tapi atas titah dari penguasa Peri Salhatir, maka penjagaan di sekitar perbatasan negeri sudah diperketat. Tak ada lagi dari bangsa Manusia yang bisa masuk tanpa izin khusus ke wilayah kerajaan Peri Salhatir. Jika ada yang melawan harus ditangkap atau dihabisi bila memang ia berbahaya. Suasana pun menjadi semakin tegang dan tak nyaman lagi.

Padahal selain keindahan negerinya yang sudah terkenal, maka sebelum ada rencana perang terbuka dengan bangsa Manusia, bangsa Peri Salhatir adalah yang sangat ramah dan santun. Meskipun tertutup, mereka sangat bersahabat dengan siapapun. Mereka pun amat tidak menyukai kekerasan, karena lebih memilih ketenangan, keteraturan dan budi pekerti yang luhur. Saat berbicara saja, kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar merdu dan mendayu sendu, sangat halus dan sopan. Mendengar mereka berbicara seolah-olah sedang mendengarkan seorang pujangga ternama sedang membacakan indahnya syair cinta. Sungguh tak sebanding dengan sikap dari bangsa Manusia, bahkan yang tinggal di istananya.

Sungguh, bangsa Peri Salhatir adalah makhluk yang istimewa. Penampilan mereka tidak hanya menawan, tetapi juga awet muda, anggun dan bijaksana. Mereka pun hidup dengan umur yang sangat panjang dan bisa lebih dari 10.000 tahun. Itu pun waktu yang harus mereka lalui di muka Bumi ini, karena setelah 10.000 tahun biasanya mereka akan memilih untuk berpindah ke Dimensi lain, alias kembali ke asalnya (ini semacam hukum tak tertulis yang harus diikuti). Di Dimensi yang lain itu, mereka masih meneruskan hidupnya selama waktu yang juga sangat lama. Dan jika dibutuhkan atau sedang menjalankan tugas khusus, mereka akan kembali ke Bumi untuk menemui bangsanya atau para kesatria dari golongan Manusia. Biasanya untuk sekedar memberikan petunjuk dan peringatan atau bahkan membantu mereka dalam menghadapi masalah.

Singkat cerita, persoalan yang ada saat itu tidak lagi sebatas urusan dari dua kerajaan (Kostaran dan Salhatir) saja, melainkan menyangkut semua bangsa yang tinggal di dunia, khususnya di seputaran wilayah Jasiwala (penamaan kawasan yang meliputi Nusantara, Australia, Polinesia, dan Oseania kala itu). Apapun hasil akhir dari pertempuran besar itu akan menentukan nasib dunia selanjutnya. Jika Raja Hokta dan pasukannya berhasil menang, maka kondisi dunia akan lebih buruk dan penuh dengan penindasan. Sebaliknya, jika ia dapat dikalahkan maka kehidupan dunia akan stabil dan harmonis lagi.

Di waktu yang lain, karena telah memasuki wilayah kerajaan Peri Salhatir, selanjutnya Dikarata di tangkap tanpa perlawanan dan ia segera dibawa ke pusat kota Anamun Del. Di sana ia lalu dibawa ke istana dan dihadapkan langsung kepada Raja Sir el-Armusya, penguasa tertinggi negeri Salhatir. Sang pemuda lalu ditanyai tentang apa tujuannya datang kesana, padahal ada sengketa yang akan menyebabkan perang besar antar dua bangsa? Apakah ia adalah seorang mata-mata yang sengaja datang untuk mendapatkan informasi tentang kekuatan dari pasukan Peri Salhatir? Begitulah di antara pertanyaan yang dilontarkan secara tajam oleh sang raja.

Mendapatkan pertanyaan itu Dikarata hanya bisa tersenyum dan tidak mengubah sikapnya yang santai. Hal ini jelas membuat sang raja heran dan sangat penasaran. Apa yang membuat sang pemuda tak merasa cemas meskipun sedang ditawan dan dibawah ancaman? Dan semuanya baru jelas setelah Dikarata mengatakan sebait kalimat rahasia yang hanya diketahui oleh sang raja. Kalimat itu di dapatkan oleh Raja Sir el-Armusya dari Nabi Khidir AS beberapa tahun silam. Sang Nabi telah berpesan jika suatu saat nanti ada seorang pemuda – dari bangsa Manusia – yang juga mengetahui tentang kalimat rahasia itu, maka ia harus diterima dengan baik. Lalu sesuai dengan kehendak-Nya, sang pemuda akan membantu bangsa Peri dalam menghadapi krisis yang pelik.

Mendengar kalimat yang disampaikan oleh sang pemuda, Raja Sir el-Armusya segera paham dan lekas memerintahkan prajuritnya untuk segera melepaskan Dikarata. Semua yang ada lalu diminta untuk meninggalkan ruangan, karena sang raja ingin berbicara khusus – berdua saja – dengan sang pemuda. Ada beberapa hal yang ingin dibahas tentang pertempuran dengan Raja Hokta dan pasukannya itu. Dan sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Nabi Khidir AS, meskipun ia akan bertarung dengan bangsa Manusia, maka yang datang membantunya justru dari bangsa Manusia itu pula.

Dan selain menyampaikan pesan rahasia itu, Nabi Khidir AS juga memberikan petunjuk yang mendalam kepada Sir el-Armusya. Katanya: “Kini dunia telah dipenuhi oleh bayangan. Di semua daratan pun kian berbahaya. Cinta akan bercampur dengan kesedihan dan penderitaan. Penantian pun telah berada diujung harapan dan mulai tak menentu. Jika tak hati-hati akan gagal dan menyeret semuanya pada kehancuran. Masih ada satu harapan meski kalian sudah dilelahkan dengan duka dan usaha keras. Yaitu jika persaudaraannya sejati dan tak membiarkan hati menjadi gundah dan mati

Demikianlah sang raja tetap semangat dan tak mengenal takut dalam menghadapi segala masalah di dunia ini. Apa yang disampaikan oleh sang Nabi begitu menyentuh hati dan menjadi acuan dalam hidupnya. Di dalamnya terdapat peringatan dan bimbingan. Jika diikuti, maka bisa mendatangkan kebaikan dan keselamatan.

4. Pasukan khusus bangsa Peri
Waktu pun terus berlalu. Setibanya di negeri Salhatir, sehari kemudian Dikarata meminta kepada Raja Sir el-Armusya untuk mengundang para raja bangsa Peri lainnya untuk datang ke istana. Tujuannya adalah untuk bisa membentuk koalisi militer demi menghadapi serangan dari Raja Hokta dan bala pasukannya. Undangan pun segera dikirimkan melalui para utusan resmi dan langsung diterima oleh para raja bangsa Peri di istananya.

Ada empat orang raja yang berkuasa saat itu, yaitu Sir el-Andasya dari kerajaan Milnaril, Sir el-Hamasya dari kerajaan Hanatir, Sir el-Trinsya dari kerajaan Usmaril, dan Sir el-Maghisya dari kerajaan Qasitir. Semuanya adalah pemimpin tertinggi yang menguasai wilayah yang berbeda, bahkan penduduk yang rasnya pun berbeda-beda. Dan meskipun berbeda kerajaan, mereka semua sangat erat dalam hubungan persahabatan, bahkan kekerabatan. Dan khususnya kerajaan Peri Salhatir adalah yang paling mereka hormati lantaran para pemimpinnya adalah yang paling senior dan berwibawa.

Ya. Semuanya akan segera berkumpul jika diminta oleh pemimpin dari kerajaan Peri Salhatir. Tentulah apa yang dimaksudkan disini adalah tentang urusan yang sangat penting dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Dan benar adanya bahwa pada saat itu sudah terdapat ancaman yang pasti dari bangsa Manusia, khususnya yang dipimpin oleh Raja Hokta. Mereka sudah mengumpulkan kekuatan untuk bisa menaklukkan bangsa Peri. Dimulai dari kerajaan Salhatir, dan kemudian akan diteruskan ke kerajaan Peri lainnya. Tak ada niatan lain kecuali bisa mengalahkan dan menguasai semua bangsa Peri yang ada di Bumi.

Singkat cerita, dihadapan para raja bangsa Peri, Dikarata membeberkan strategi untuk bisa mengalahkan Raja Hokta dan pasukannya. Selain itu, sang pemuda meminta secara khusus kepada kelima raja untuk mengirimkan orang-orang terbaiknya agar bergabung dalam satu pasukan elit dibawah pimpinannya. Total dari pasukan itu adalah 100 orang ditambah dengan Dikarata sendiri sebagai komandannya. Selama 3 bulan kedepan, mereka akan digembleng secara khusus oleh sang pemuda. Tujuannya selain untuk menambah kesaktian dan ketangkasannya, juga demi membentuk kekompakan di antara mereka. Dan pasukan ini nantinya bisa menjadi yang sangat istimewa di medan pertempuran.

Kisah pun berlanjut. Selama 3 bulan Dikarata dan ke 100 pasukan terbaik dari bangsa Peri itu terus berlatih di luar kota. Tidak hanya di satu tempat, melainkan kemana-mana dan dalam bentuk yang bermacam-macam. Dan karena mereka adalah bangsa Peri yang sudah memiliki bekal keilmuan yang tinggi, maka tak butuh waktu lama bagi mereka untuk berlatih. Dan sesuai dugaan, mereka pun bisa menyelesaikan pendidikan lebih cepat dari rencana. Semuanya telah memiliki kemampuan di atas rata-rata para kesatria dari golongan Manusia dan Peri.

Kemudian, setelah semua latihan selesai ditunaikan, Dikarata dan ke 100 pasukannya kembali ke istana. Atas persetujuan dari para raja Peri, pasukan itu lalu dibagi menjadi dua. 50 orang berjaga-jaga di beberapa titik lokasi yang berada di sekitar perbatasan negeri, sementara yang ke 50 lainnya harus bersembunyi sampai batas waktunya nanti muncul dan membuat perhitungan. Pasukan yang kemudian dikenal dengan nama Aksyar ini bisa dikenali dengan melihat langsung medali khusus yang mereka kenakan. Terbuat dari bahan semacam emas dan titanium, lengkap dengan beberapa ukiran yang indah dan batu mulia yang berkilauan. Tak ada yang memakai medali itu selain Dikarata dan ke 100 orang pasukannya. Sebab, medali itu pun tidak diciptakan di Bumi ini. Berasal dari Dimensi ke-9 (Samsyi) dan hanya diperuntukkan bagi para kesatria yang terpilih dari bangsa Peri.

Adapun di antara kemampuan pasukan khusus Aksyar ini adalah bisa bergerak secepat kilat, berteleportasi, terbang, menghilang, memanah tanpa kehabisan anak panahnya, mengendalikan berbagai macam senjata hanya dengan pikiran, kebal terhadap senjata tajam dan serangan ajian, menguasai berbagai ajian tingkat tinggi, dan sampai bisa mengendalikan elemen alam. Jika mereka bergerak, maka tak perlu lagi berbicara. Semua komunikasi di lakukan hanya dengan telepati. Sehingga dalam hal apapun mereka akan selalu kompak dan berada dalam satu komando. Sungguh pasukan yang mengagumkan sekaligus menakutkan.

5. Mengalahkan “tuhan” dan mendirikan kerajaan
Waktu pun berlalu, dan sesuai dengan perkiraan maka pasukan Raja Hokta mulai bergerak menuju ke perbatasan negeri bangsa Peri Salhatir. Tidak kurang dari 1,5 juta orang prajurit yang ikut dalam rombongan itu. Semuanya telah dibekali dengan berbagai senjata dan kemampuan berperang. Maklumlah, sebelumnya mereka sudah banyak menaklukkan negeri-negeri Manusia. Belum ada yang mampu mengalahkan mereka ini, meskipun sudah banyak yang mencobanya. Benar-benar pasukan yang kuat, terlebih rajanya sendiri terkenal sakti mandraguna dan didukung oleh kekuatan goib dari raja kegelapan.

Dan pada setiap kali akan bertempur, semua pasukan ini diberikan minuman yang telah diberi ramuan dan mantra khusus oleh Raja Hokta. Dengan minuman itu setiap orangnya akan memiliki kekuatan 3-5 kali lipat dari biasanya. Karena itulah, sangat sulit untuk bisa mengalahkan pasukan ini. Selain berjumlah banyak, mereka telah mendapatkan kekuatan yang luar biasa. Semuanya itu berkat persekutuan Raja Hokta dengan raja kegelapan yang menyamar sebagai orang bijak. Maka terjadilah kekacauan dimana-mana, di tempat-tempat yang mereka datangi. Kondisi dunia kian bertambah carut marut dan penuh penderitaan.

Singkat cerita, pasukan dibawah komando Raja Hokta itu sudah tiba di sekitar perbatasan negeri Peri Salhatir. Mereka tidak langsung menyerang, tetapi berkemah selama 3 hari disana untuk memulihkan tenaga. Selama itu, tidak ada lagi perundingan, karena sang raja hanya berkeinginan menguasai seluruh negeri Salhatir. Bahkan selanjutnya akan menyusul satu persatu negeri bangsa Peri yang lain. Takkan segan ia melakukan kekejaman jika ada yang berani menentangnya. Dan meskipun ia tahu bahwa bangsa Peri itu lebih hebat dari semua bangsa Manusia yang pernah ia taklukkan, tapi sang raja yakin akan menang. Semua harapan itu ia tumpukan pada kesaktian dirinya dan perlindungan dari sekutunya, si raja kegelapan.

Lalu tibalah saatnya kedua pasukan yang saling bertentangan itu bertemu di medan perang. Keduanya sama-sama tampak perkasa dengan baju zirah dari besi, perak dan emas. Ada juga berbagai kendaraan perang, mulai dari hewan sampai dengan kereta kayu atau besi. Dan khusus bagi para senopati dan bangsawan tinggi kerajaan, mereka menggunakan kereta dari perak atau emas. Sebagiannya lagi mengendarai hewan kesayangan yang memang diperuntukkan dalam sebuah pertempuran. Hewan-hewan tersebut ada yang berjalan di darat dan ada pula yang terbang di udara. Semuanya dikendalikan dengan sangat piawai oleh sang pengendaranya, dan ini sangat membantu dalam setiap pertempuran.

Dan sebagaimana tradisi dimasa itu, meskipun mereka punya teknologi yang tinggi, maka dalam setiap pertempuran justru hanya dengan cara tradisional. Artinya, mereka bertarung langsung di tengah medan pertempuran dengan mengandalkan ilmu kanuragan dan kadigdayan-nya saja. Mereka adalah para kesatria yang gagah berani dan lebih mengutamakan kemampuan diri sendiri.

Bahkan meskipun mereka penjahat, tapi mereka tetap berperang secara terang-terangan. Tak ada yang sembunyi-sembunyi atau menyerang secara tiba-tiba. Karena bagi mereka itu adalah tindakan yang pengecut dan sangat memalukan. Siapapun akan dianggap kesatria hanya ketika ia berani menantang atau menerima tantangan dari musuhnya secara terbuka. Juga bagi mereka yang hanya mengandalkan kemampuan dirinya sendiri (ilmu kanuragan dan kadigdayan), bukannya justru teknologi. Jika tidak, maka ia akan dicap sebagai pecundang. Seumur hidupnya akan menanggung rasa malu. Hal ini akan lebih buruk dari pada kematian.

Tiga hari pun berlalu dan pasukan Raja Hokta sudah cukup dengan istirahatnya. Kini mereka mulai berbaris rapi di perbatasan negeri Peri Salhatir, di tengah lembah yang menghijau itu. Dengan kekuatan penuh, semuanya tampak gagah sekaligus mengerikan. Begitupun di barisan pasukan bangsa Peri. Meskipun jumlah mereka lebih sedikit, tetapi pasukan ini justru terlihat lebih perkasa. Perawakan dan seragam perang yang mereka kenakan saat itu tampak sangat menawan, jauh lebih rapi dan indah dari yang dimiliki oleh pasukan Raja Hokta. Hal ini lalu memberikan efek intimidasi bagi pasukan raja angkuh itu. Karena meskipun mereka biasa berperang dan sudah mendapatkan ramuan kekuatan, tak sedikit yang bergetar ketakutan saat melihat pasukan bangsa Peri itu berbasis di depannya. Itu pun masih ditambah lagi dengan adanya pasukan bangsa Cinturia dan Karudasya yang ikut bergabung dalam barisan bangsa Peri. Mereka datang atas kemauan sendiri.

Catatan: Lokasi pertempuran kala itu berada di tengah Samudera Hindia, tepatnya di sekitar Laut Selatan Jawa bagian barat atau ke arah tenggaranya kepulauan Cocos (Keeling) sekarang. Dulu kawasan itu masih berupa daratan yang sangat luas dan menyatu dengan Australia, sehingga banyak bangsa yang hidup disana. Tidak hanya Manusia, tetapi juga bangsa Peri, Cinturia dan Karudasya. Bangsa Peri-lah yang tinggal paling dekat dengan wilayah Manusia. Sedangkan bangsa Cinturia dan Karudasya berada jauh dan sangat terasing dari peradaban Manusia.

Singkat cerita, pertempuran yang sudah diperkirakan itu akhirnya dimulai. Hari pertama dimulai dengan pergerakan pasukan baris depan dalam berbagai formasi tempur. Kedua belah pihak yang saling bermusuhan itu kemudian saling bantai dan tak ada yang mau mengalah. Suara dentingan senjata dan teriak kesakitan terus mewarnai jalannya pertempuran. Menggema kemana-mana dan mengundang burung-burung pemakan bangkai untuk segera datang berpesta.

Ya, pertempuran kala itu sangat menegangkan. Pasukan dari kedua belah pihak bertarung dengan maksimal dan sudah menggunakan banyak cara untuk menang. Tapi sampai matahari berada condong ke arah barat justru masih belum ada yang terlihat menang. Meskipun jumlah pasukan Raja Hokta jauh lebih banyak, maka itu tidak bisa dijadikan jaminan bahwa mereka akan cepat menang. Bahkan sejak di hari pertama itu saja mereka sudah banyak mengalami kekalahan. Pasukannya yang selalu menang dalam setiap pertempuran itu harus mengakui kekuatan dari pasukan bangsa Peri. Hari itu mereka langsung membuktikan betapa pasukan bangsa Peri itu memang layak menyandang gelar sebagai yang terkuat di seluruh dunia. Hanya karena jumlah yang banyak dan pengalaman dalam berbagai pertempuran saja, mereka tetap bertahan sampai matahari tenggelam. Dan sesuai dengan hukum perang saat itu, maka pertempuran akan dilanjutkan esok harinya.

Hari kedua pertempuran. Kedua belah pasukan kembali saling berhadapan di tengah medan pertempuran. Setelah terompet perang dibunyikan, mereka pun langsung bergerak dan menyerang tanpa ampun. Tidak seperti pasukan Raja Hokta yang bergerak kurang teratur, pasukan Peri justru selalu kompak dan menyerang dengan sangat cepat. Setiap sabetan pedang, tusukan tombak atau bidikan anak panahnya langsung mematikan. Di tambah lagi dengan gagah perkasanya pasukan dari bangsa Cinturia dan Karudasya yang terus menyerang dari darat dan udara. Maka dalam waktu yang tidak begitu lama, sudah banyak pasukan Raja Hokta yang tewas. Meskipun mereka telah mendapatkan ramuan khusus, tetap saja tak mampu menandingi kesaktian dari ketiga bangsa (Peri, Cinturia dan Karudasya) yang sedang mempertahankan negerinya itu.

Ya. Sejak di hari kedua itu, maka selain di tanah lapang, pertempuran juga terjadi di hutan yang ada di sekitar lembah. Mau tidak mau sebagian pasukan dari kedua belah pihak harus terlibat pertarungan sengit di dalam hutan. Dan ini merupakan keuntungan bagi bangsa Peri yang memang lebih menguasai hutan. Banyak pasukan Raja Hokta yang tewas di hutan ini, tak tersisa kecuali sedikit. Merekalah yang berhasil kabur dan kembali ke dalam barisan pasukan utamanya di tengah lembah. Yang tidak, akan segera tewas atau menjadi tawanan.

Di hari ketiga pertempuran, ketika begitu banyak pasukannya yang tewas dan makin porak-poranda diterjang kekuatan dari pasukan bangsa Peri, akhirnya Raja Hokta marah-marah dan mulai turun tangan langsung. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengeluarkan tiga buah kristal berwarna merah dan langsung membacakan kalimat mantra. Ketiga kristal itu lalu terbang di udara dan berputar-putar sehingga menyebabkan angin menderu-deru. Beberapa kilatan petir pun terlihat dan tak lama kemudian muncul sebuah lorong cahaya kehitaman yang menembus langit. Suara yang ditimbulkan oleh lorong cahaya itu sangat keras berdentum. Dan pada setiap kali dentuman, tak lama kemudian muncul sepasukan yang berpakaian serba hitam lengkap dengan senjatanya. Mereka adalah serdadu raja kegelapan yang diutus untuk membantu Raja Hokta dalam melawan pasukan bangsa Peri. Perawakan mereka lebih tinggi dari bangsa Peri dan terlihat sangat menyeramkan dengan mata yang semerah darah.

Tidak kurang dari 1.000 orang yang muncul dari lorong/portal dimensi itu. Semuanya lalu bergerak brutal dan terus menyerang tanpa ampun ke arah pasukan bangsa Peri. Nah karena keadaan sudah begitu genting, saat itulah Dikarata dan ke 100 pasukannya bertindak di garis depan. Dengan telepati yang sempurna, Dikarata lalu mengomandoi semua pasukan Aksyar untuk segera maju menghadapi serdadu kegelapan itu. Dan terjadilah pertempuran yang luar biasa dan belum pernah disaksikan oleh mereka yang hidup saat itu. Antara pasukan kegelapan dan pasukan Aksyar sama-sama berilmu tinggi dan sangat tangguh. Yang mereka lakukan saat itu sudah diluar kebiasaan dalam pertempuran di Bumi. Berbagai senjata pusaka dan kesaktian terus dikeluarkan. Tapi lantaran pasukan Aksyar telah mendapatkan pendidikan khusus, maka perlahan tapi pasti akhirnya serdadu raja kegelapan itu bisa dikalahkan. Satu persatu dari mereka dapat ditaklukkan atau tewas meregang nyawa.

Hanya saja itu semua belum berakhir. Tiba-tiba muncul seorang yang sangat berbeda di tengah-tengah medan pertempuran. Hanya Raja Hokta yang tahu bahwa sosok itu adalah seorang panglima raja kegelapan. Jelas kesaktiannya tak bisa dianggap enteng, karena dengan sekali baca mantra saja, maka ke 1.000 pasukan yang tewas itu bisa hidup kembali. Tak pelak hal itu membuat kaget semua yang ada di medan pertempuran. Dan hanya dengan bisa mengalahkan senopati kegelapan itu sajalah, maka ke 1.000 pasukan kegelapan itu bisa dihancurkan.

Waktu pun berlalu. Ternyata tak hanya satu orang senopati kegelapan yang datang, tetapi sampai ada 5 orang lainnya. Karena itulah, tugas pun dibagi antara pasukan Aksyar dan para raja bangsa Peri. Ke 101 pasukan Aksyar harus melawan ke 1.000 serdadu kegelapan, sementara ke 5 orang raja Peri langsung menghadapi ke 5 orang senopati kegelapan itu. Pertempuran pun berlangsung sengit, lebih menegangkan dari sebelumnya. Dan tentang kedahsyatan yang ditimbulkannya tak perlu lagi dijelaskan, karena semakin mengagumkan sekaligus menyeramkan.

Ya. Dalam pertempuran saat itu, dimana-mana terjadi ledakan dan kehancuran yang mengerikan. Hutan ikut terbakar, bukit-bukit hancur berantakan, dan cuaca menjadi tak karuan sebab kesaktian dari mereka yang sedang bertarung. Para kesatria yang terlibat saat itu sudah mengeluarkan berbagai ajian dan kesaktian benda pusaka yang mereka miliki. Mereka juga bertarung tidak hanya di satu tempat, tapi sampai kemana-mana dengan cara terbang atau berteleportasi. Tidak sedikit pasukan dari kubu Raja Hokta yang sampai berhenti bertarung atau ingin lari dari medan pertempuran. Karena apa yang ia lihat saat itu sudah diluar nalar dan kebiasaan. Dan seiring berjalannya waktu, akhirnya pasukan Aksyar mampu mengalahkan ke 1.000 serdadu raja kegelapan itu lagi.

Hanya saja itu tak membuat khususnya Dikarata merasa puas. Karena selama para senopati kegelapan itu masih hidup, maka ke 1.000 serdadu kegelapan itu bisa hidup kembali. Dan untunglah pada akhirnya para raja Peri berhasil mengalahkan ke 5 senopati kegelapan itu, sehingga tak bisa lagi menghidupkan ke 1.000 serdadu kegelapannya. Hal ini jelas membuat semua orang di kubu pasukan bangsa Peri menjadi lega dan semakin percaya diri untuk bisa mengalahkan Raja Hokta dan semua pasukannya.

Tapi setelah pertarungan sengit itu, tiba-tiba dari arah Langit muncul sesosok bercahaya warna-warni yang mengaku sebagai yang tertinggi. Penampakannya sangat luar biasa dan siapapun yang ikut dalam pertempuran itu belum pernah melihat yang seperti itu. Tapi sejak awal Dikarata sudah curiga, dan benar sekali bahwa sosok bercahaya yang menyilaukan itu tiada lain adalah raja kegelapan yang selama pertempuran masih bersembunyi. Sosok luar biasa itu lalu diketahui bernama Murak’hul. Raja kegelapan yang teramat sakti dan selalu berusaha menyesatkan umat Manusia, terutama para pemimpinnya selama ada kesempatan.

Singkat cerita, tanpa menunggu waktu lagi dan karena melihat ada banyak orang yang sudah terpana dengan penampakan raja kegelapan yang mengaku sebagai tuhan itu, tiba-tiba Dikarata mengeluarkan busur panah dan langsung menembakkannya ke arah raja kegelapan itu. Anak panah sakti itu tepat ke sasarannya, dan membuat sosok tuhan palsu itu mengeram kesakitan. Sosok yang awalnya tampil bersinar-sinar penuh cahaya warna-warni itu akhirnya menunjukkan wujud aslinya. Meskipun tidak menyeramkan, tapi semua orang jadi tahu bahwa dia itu adalah raja kegelapan yang menyamar.

Kisah pun berlanjut. Setelah menembakkan panahnya dan raja kegelapan itu sudah tampil dalam wujud aslinya, tanpa aba-aba Dikarata langsung melesat ke udara dan menyerang dengan sebilah pedang pusaka. Semua orang yang melihatnya terkagum-kagum dengan sikap yang ditunjukkan oleh sang pemuda. Tanpa rasa takut sedikitpun, Dikarata terus menyerang tanpa ampun dan bertubi-tubi. Membuat si raja kegelapan sangat kewalahan. Pertarungan itupun berlangsung sengit selama beberapa waktu. Dan karena sebelumnya Dikarata sudah mendapatkan kekuatan dari para Dewa, Bhatara dan olah tapa brata yang sulit, ia pun bisa mengalahkan si raja kegelapan itu. Dalam adu kesaktian tingkat tinggi, ajian yang dikeluarkan oleh Dikarata mampu menghancurkan ajian milik raja kegelapan. Bahkan sang raja kegelapan itu sampai terbakar dan akhirnya menjadi abu.

Melihat kejadian itu, setiap orang yang melihatnya sampai tak bisa berkata-kata lagi. Semuanya terpana dengan apa yang mereka saksikan dan merasa sangat lega. Hanya Dikarata yang tidak dan masih terus bersikap waspada. Ia masih curiga bahwa yang telah dikalahkannya itu bukanlah sosok yang sebenarnya. Yang sebelumnya itu hanyalah sosok bayangannya saja. Bagian dari diri raja kegelapan yang bertugas untuk mengalahkan Dikarata tapi ia tak mampu. Karena itulah akhirnya raja kegelapan yang asli, yang sebenarnya bernama Murak’hul itu harus muncul untuk mengalahkan Dikarata sekaligus bertujuan untuk menyesatkan semua yang ada di medan pertempuran.

Dan benar, tak lama kemudian muncullan sesosok pria yang terlihat seperti seorang Malaikat yang berpakaian serba putih. Auranya terlihat terang benderang dan dari dalam tubuhnya pun keluar cahaya yang mengagumkan. Ia pun memendarkan senyuman yang menawan serta tutur kata yang santun dan berwibawa. Siapapun yang mendengarkannya langsung tersihir dan percaya akan kata-kata manis yang disampaikan kala itu. Kecuali para raja Peri, pasukan Aksyar dan beberapa orang kesatria berilmu tinggi yang tidak terpedaya dengan sihir raja kegelapan itu. Sama dengan Dikarata, mereka justru semakin waspada dan curiga dengan sosok yang tiba-tiba muncul dengan perbawa yang sangat mengagumkan itu.

Singkat cerita, tanpa menunggu waktu lagi Dikarata langsung mengubah penampilannya lengkap dengan baju zirah kombinasi warna putih, emas dan biru yang berkilauan. Dan tak lama kemudian sekali lagi ia melepaskan anak panah sakti ke arah sosok yang terlihat “berwibawa” itu untuk mengungkap kepalsuannya. Tapi kali ini tidak berhasil, karena Murak’hul tetap tak bergeming dan ia masih tetap dalam keadaan semula yang tersenyum. Ia bahkan berkata: “Sudahlah, kau takkan mampu mengusikku dengan kesaktianmu itu. Ikutilah aku, karena akulah sang kebenaran sejati, akulah tuhan seluruh alam

Mendengar kata-kata itu bukannya membuat Dikarata berhenti atau jadi percaya, tapi justru semakin geram untuk membongkar kepalsuan si raja kegelapan. Dan dalam waktu singkat sang pemuda segera mengheningkan cipta untuk meningkatkan kesaktiannya. Seketika itu juga terpancar sinar terang dari dalam tubuhnya, mirip dengan gabungan antara elemen air, api, udara, saripati tanah, dan petir. Lalu atas izin Tuhan, tombak pusaka yang ia pegang saat itu bertambah energinya. Bersinar terang dan mengeluarkan petir yang menyambar-nyambar, siap diarahkan ke sasaran. Dan ketika tepat mengenai tuhan palsu itu, langsung bisa membongkar kepalsuannya dan segera melepaskan pengaruh sihirnya kepada semua orang. Murak’hul akhirnya muncul dalam wujud aslinya. Ia bahkan tak lebih hanya sebatas sosok yang berpakaian seperti raja lengkap dengan mahkota dan jubah kebesarannya. Meskipun tak terlihat menyeramkan, namun aura negatifnya bisa dirasakan oleh mereka yang berilmu tinggi.

Ya. Tipu daya si raja kegelapan itu akhir terbongkar. Karena itulah ia sangat marah dan langsung menyerang Dikarata dengan berbagai senjata pusaka. Tapi sang pemuda bukanlah orang sembarangan. Serangan dari senjata pusaka itu ia hadapi dengan berbagai senjata pusaka yang dimiliki. Tak butuh waktu lama, maka semua senjata kepunyaan Murak’hul bisa dihancurkan. Hal ini semakin membuat Murak’hul bertambah marah dan ia langsung membagi dirinya menjadi 5 sosok. Setiap sosok lalu memegang berbagai senjata dan segera menyerang Dikarata tanpa ampun.

Menghadapi serangan itu, Dikarata pun membagi dirinya menjadi lima sosok yang berbeda. Setiap sosok memiliki warna kulit yang berbeda dan mengenakan pakaian yang berbeda pula. Kelimanya pun memegang senjata yang berbeda dan tanpa rasa takut segera melawan kelima sosok raja kegelapan itu. Maka terjadilah pertarungan yang luar biasa dahsyat dan belum pernah disaksikan sebelumnya oleh semua orang. Dentuman demi dentuman, ledakan demi ledakan terus menggetarkan tanah, memekakkan telinga dan membuat takut semua orang. Untung saja mereka itu bertarungnya di udara, karena jika tidak sudah bisa dipastikan bahwa semua lokasi pertempuran akan hancur lebur dan tak menyisakan apapun selain kematian.

Sungguh, tak ada yang lebih menarik selain menyaksikan pertarungan yang luar biasa itu. Mereka yang hidup saat itu belum pernah melihat peristiwa yang seperti itu. Sebagian dari mereka hanya pernah mendengar kisah masa lalu yang semisal dari cerita turun temurun. Tak terbayangkan jika saat itu mereka akhirnya bisa langsung menyaksikan pertarungan yang selama ini hanya dianggap sebagai dongeng pengantar tidur. Betapa seorang Manusia itu bisa mendapatkan kemampuan yang luar biasa jika ia telah mengenal diri sejatinya sendiri. Dan tak salah jika Manusia itu memanglah Khalifah (pemimpin tertinggi) di Bumi ini.

Dan pertarungan saat itu sudah tidak lagi mengendalikan elemen alam, karena bagi mereka hal itu sudah ketinggalan. Kemampuan itu cuma untuk para kesatria lainnya, tidak untuk mereka berdua. Sehingga tiada lagi yang lain kecuali adu kesaktiannya saja. Berulang kali mereka menciptakan berbagai wujud atau membentuk energi khusus lalu saling di adu untuk menentukan siapakah yang lebih kuat. Terus seperti itu, sampai pada akhirnya Dikarata kembali mengheningkan cipta untuk meningkatkan level kesaktiannya lagi. Dan atas izin Tuhan, tiba-tiba ada cahaya warna-warni yang turun dari Langit dan langsung masuk ke dalam tubuhnya. Dengan cahaya itu, kemampuan Dikarata semakin meningkat dan sebenarnya membuat Murak’hul cemas. Ia sadar bahwa dirinya takkan mampu lagi menandingi kesaktian sang pemuda. Tapi lantaran ego dan kesombongannya, tetap saja si raja kegelapan itu terus menyerang.

Sampai pada akhirnya ia tak lagi berkutik saat Dikarata mengeluarkan cahaya berpijar dari telapak tangan kanannya. Cahaya itu terus menerus menyerap kesaktian yang dimiliki oleh Murak’hul dan membuatnya semakin lemah. Kali ini tak ada lagi adu kesaktian, karena sejak Dikarata mengeluarkan cahaya dari telapak tangannya itu, Murak’hul tak mampu lagi menguasai dirinya, energinya kian menghilang. Semakin lama raja kegelapan itu merasakan kesakitan dan daya kekuatannya terserap habis. Hingga pada akhirnya ia tak mampu lagi berdiri dan hanya bisa terduduk lemah – meskipun tetap berada di udara.

Setelah kejadian itu, Dikarata langsung menghentikan tindakannya. Bola cahaya yang ada di telapak tangannya itu segera ia hilangkan, sehingga meredakan suasana yang sangat mencekam di medan pertempuran. Tak lama kemudian sang pemuda pun berkata: “Bagaimana hai Murak’hul? Apakah engkau masih tetap mengaku sebagai tuhan? Tipu dayamu bisa menyesatkan banyak orang, namun tidak bagi mereka yang beriman dan berhati murni. Cepat atau lambat kebenaran itu akan terungkap

Mendengar kata-kata tajam itu, Murak’hul hanya bisa tertunduk diam. Meskipun dihatinya tetaplah merasa angkuh, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kekuatannya telah pudar, dan hanya karena umurnya ditangguhkan sampai Hari Kiamat nanti, maka ia bisa tetap hidup. Dan setelah beberapa waktu, raja kegelapan itu akhirnya menghilang dari pandangan. Ia pun kabur, kembali ke tempatnya semula di Dimensi lain. Di sana Murak’hul terus berusaha untuk bisa mengembalikan kekuatannya, dan suatu saat nanti akan menuntut balas atas kekalahannya saat itu. Apalagi kalau bukan dengan tujuan untuk kembali menyesatkan umat Manusia.

Kisah pun berlanjut. Setelah raja kegelapan dapat dikalahkan, kini giliran Raja Hokta yang harus ditaklukkan. Dan karena raja bengis itu tetap tidak mau menyerah meskipun junjungannya sudah kalah, maka tak ada jalan lain selain bertarung sampai mati. Nah untuk menghormati para raja bangsa Peri, maka kesempatan itu ditawarkan oleh Dikarata. Lalu sesuai kesepakatan, maka yang harus maju adalah Raja Sir el-Armusya sendiri. Sebab awalnya pertempuran itu adalah masalah mereka berdua, yang lain hanya ikut terlibat.

Singkat cerita, kedua raja itu bertarung dengan kemampuan yang mengagumkan. Memang pantaslah mereka menyandang gelar sebagai raja besar, sebab kesaktian yang dimilikinya berada di atas rata-rata para kesatria. Hanya saja jika kesaktian dari Raja Sir el-Armusya berasal dari kemuliaan, maka yang dimiliki oleh Raja Hokta datangnya dari kejahatan. Meskipun ia teramat sakti mandraguna, tapi akhirnya tak berkutik menghadapi Raja Sir el-Armusya. Dalam adu kesaktian tingkat tinggi, akhirnya raja sombong itu harus tumbang dengan luka bakar yang serius. Sebelum tewas, ia baru tersadar atas semua kesalahannya. Tapi apa daya jika itu sudah terlambat. Yang tertinggal hanyalah penyesalan dan kesedihan yang perih.

Demikianlah akhirnya pertempuran dahsyat itu selesai. Kemenangan berada dipihak yang sejak awal tetap berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan. Merekalah bangsa Peri, Cinturia, dan Karudasya. Di perbatasan yang dikenal dengan nama Almart Sul itu, petualangan dari kerajaan Kostaran harus berakhir. Dan untuk mengenang peristiwa akbar tersebut, maka pertempuran dahsyat itu lalu diberi nama Almart. Di ambil dari nama lokasi pertempuran besar itu terjadi.

Selanjutnya, pasukan kerajaan Kostaran yang tersisa diberikan pilihan untuk menyerah atau dihabisi. Dan ternyata mereka memilih untuk menyerah dan kembali ke negerinya. Semua kerajaan yang sebelumnya ditaklukkan oleh kerajaan Kostaran lalu dibebaskan dan bisa kembali mengelola negerinya sendiri. Raja yang masih hidup, atau anak keturunannya yang berhak dipersilahkan untuk naik tahta disana. Mereka bebas menentukan nasib kerajaannya sendiri. Sedangkan untuk nasib kerajaan Kostaran sendiri telah diputuskan khusus. Sementara waktu kerajaan itu akan dipimpin oleh utusan dari bangsa Peri, kerabat dekat Raja Sir el-Armusya. Di kemudian hari, barulah ada raja dari bangsa Manusia yang dilantik atas kesepakatan dari para raja Peri.

6. Mendirikan kerajaan Syahala
Waktu pun berlalu sebagaimana mestinya. Setelah pertempuran besar di lembah Almart Sul itu, Dikarata lalu tinggal di ibukota bangsa Peri Salhatir (Anamun Del). Di sana ia beserta ibu dan adiknya lalu diberikan tempat khusus yang berada di lingkaran dalam istana raja Peri. Sungguh nyaman berada disana, tapi hal itu tak bisa membuat sang pemuda menetap selamanya. Terlebih masih ada tugas lain yang perlu ia kerjakan. Dikarata harus mendirikan kerajaannya sendiri untuk bisa menjaga ketertiban dunia.

Dan setelah merasa cukup, Dikarata mohon diri kepada Raja Sir el-Armusya untuk melanjutkan pengembaraannya. Bersama kedua sahabat Peri-nya yang bernama el-Rigala dan el-Masagil, sang pemuda pergi ke arah utara. Di suatu tempat, ia memutuskan untuk ber-tapa brata selama 3 tahun agar mendapatkan petunjuk. Dan akhirnya Dikarata menerima tugas baru untuk mencari sebuah kerajaan yang sudah dipersiapkan untuknya oleh para Dewa. Lokasinya berada di sekitar Laut Jawa bagian barat sekarang.

Singkat cerita, bersama kedua orang sahabatnya itu, Dikarata menuju ke tempat yang dimaksudkan. Dengan menggunakan cincin pusaka pemberian dari Nabi Khidir AS, di tengah lembah itu tiba-tiba muncul sebuah istana yang sangat megah. Sebenarnya istana itu sudah lama berada disana, hanya saja masih terselubung oleh perisai goib tak kasat mata. Tak ada yang tahu keberadaannya selain para Dewa. Dan istana itu memang sengaja dibangun khusus untuk Dikarata dan rakyatnya nanti. Dari sanalah kelak akan terpusat peradaban dunia.

Ya. Sangat indah dan megah komplek istana tersebut, tak ada yang seindah itu di seluruh dunia pada masanya. Karena selain mewah, ada banyak hal yang unik dan diluar nalar. Ada banyak bangunan yang mengambang tanpa tiang, bahkan tak perlu kecanggihan teknologi. Semuanya berkat kekuatan supranatural yang disebarkan disana. Dan tentang fasilitasnya, maka semua yang dibutuhkan oleh Manusia ada di sana. Sungguh anugerah yang sangat mengagumkan.

Dan seiring berjalannya waktu, satu persatu datanglah orang-orang dari berbagai bangsa (Manusia, Peri, Cinturia dan Karudasya) untuk ikut tinggal di sana. Atas bantuan dari bangsa Peri yang terkenal dengan kemampuan arsitekturnya, maka setiap keluarga di bangunkan pemukiman yang layak. Dalam hal ini tentu lebih bagus dari yang biasanya dimiliki oleh bangsa Manusia. Hanya saja, atas bimbingan Dikarata, maka semua orang bisa hidup dalam kesederhanaan dan menyatu dengan alam. Tujuan hidupnya bukan lagi meraih kemuliaan dunia, tetapi lebih kepada mengejar kebahagiaan di akherat nanti. Karena itu, mereka pun sibuk dengan urusan olah batin dan memupuk rasa cinta dan kedamaian.

Selama bertahun-tahun tinggal di sana, Dikarata belum mengangkat dirinya sebagai raja. Tapi setelah kedatangan Nabi Khidir AS di kota itu, beberapa hari kemudian di lakukanlah penobatan. Sudah waktunya bagi sang pemuda untuk di angkat menjadi pemimpin tertinggi di negeri yang oleh sang Nabi diberi nama Syahala atau yang berarti kejayaan dan kedamaian yang gemilang. Atas petunjuk Ilahi yang didapatkan oleh sang Nabi, Dikarata lalu memakai nama gelar sebagai Tar-Marun Dikarata Anhiyanastra. Sungguh penobatan yang luar biasa, karena saat itu turut dihadiri oleh para raja dari ke empat bangsa (Manusia, Peri, Cinturia dan Karudasya). Bahkan tanpa disangka-sangka juga ikut dihadiri oleh para Dewa dan Bhatara dari Kahyangan. Sungguh acara yang luar biasa hikmat dan mengagumkan.

Selanjutnya, beberapa waktu kemudian Prabu Dikarata mulai menata sistem ketatanegaraannya. Selain dibantu oleh para menteri yang cerdas, ia juga dibantu oleh ke 9 orang dewan penasehat. Mereka ini adalah kumpulan dari orang-orang bijak dan waskita yang berasal dari bangsa Manusia, Peri, Cinturia, dan Karudasya. Minimal satu orang dari setiap bangsa itu, dan mereka ini bertugas untuk memberi masukan atau nasehat kepada sang raja. Apapun yang mereka sampaikan, sangat penting untuk didengarkan karena pastilah sesuatu yang bijaksana.

Selain itu, untuk bisa menjaga ketertiban dunia, Prabu Dikarata lalu membentuk pasukan khusus yang diseleksi dari para kesatria dari ke empat bangsa. Mereka yang diberi nama Huldaran ini dilatih secara khusus untuk bisa menghadapi berbagai konflik dimanapun di seluruh dunia. Pasukan elit Aksyar tetap ada, hanya saja mereka baru akan turun tangan jika pasukan Huldaran sudah tidak mampu lagi mengatasi masalah. Itu pun tidak perlu semuanya, karena cukup beberapa orang saja maka sudah bisa menyelesaikan konflik yang ada.

Ya. Sejak Prabu Dikarata memimpin kerajaan Syahala, kondisi dunia kembali tenang dan stabil. Dimana-mana pun tampak aman dan makmur. Jika ada yang berbuat kerusakan, dimana pun itu, maka sang prabu akan bertindak sebagai hakimnya. Jika tak bisa diselesaikan dengan cara damai dan kekeluargaan, maka jalan pertempuran harus di lakukan. Tak peduli dari bangsa apapun, keadilan itu harus tetap ditegakkan.

Sungguh, Prabu Dikarata adalah sosok pemimpin yang sangat mengagumkan. Memang wilayah kerajaannya tidak begitu luas atau meliputi semua kawasan, tapi sejatinya ia telah memimpin semua bangsa di dunia. Pada masanya, begitu banyak kerajaan yang tunduk dan mengikuti hukum kerajaan Syahala tanpa dipaksa atau ditaklukkan terlebih dulu. Dengan kesadaran diri mereka semua mengikuti sang Khalifah dengan senang hati. Karena itulah, meskipun Prabu Dikarata tak pernah menyatakan dirinya sebagai pemimpin dunia, tapi semua orang menganggapnya sebagai raja dunia. Tak ada yang lebih masyhur dari Prabu Dikarata, sang pemuda terpilih.

7. Daftar raja-raja
Sebagai kerajaan yang terpandang, tentulah di negeri Syahala memiliki para pemimpin yang terhormat. Dimulai dari Prabu Dikarata, seterusnya tetap dipimpin oleh orang-orang yang berwibawa, bijaksana, dan waskita. Mereka adalah sosok yang terbaik, meskipun tidak semuanya keturunan dari Prabu Dikarata. Sebab, dalam konstitusi negara Syahala telah dijelaskan bahwa siapapun berhak untuk menjadi raja asalkan ia layak dan terpilih. Adapun syaratnya adalah sudah memiliki kebijaksanaan, kesaktian, dan mampu menggunakan beberapa benda pusaka kerajaan warisan dari Prabu Dikarata. Ke 9 orang dewan penasehatlah yang bertugas untuk menyeleksi raja di negeri Syahala.

Adapun di antara nama para raja yang pernah memimpin kerajaan Syahala adalah sebagai berikut:

1. Dikarata, bergelar Tar-Marun Dikarata Anhiyanastra -> pendiri kerajaan Syahala.
2. Naradata
3. Senarata
4. Asvrat
5. Nodesh
6. Bartarum
7. Sorukh
8. Ghasam
9. Zokasha
10. Iskavan
……..
……..
50. Nourjah
52. Arnata
53. Solgoti
54. Algitra
55. Maraghota
56. Hanase
57. Vadhanye
58. Moweran
59. Dinora
60. Asithaka
……..
……..
110. Kasurama
111. Anogata
112. Keyase
113. Noredata
114. Isymalaku
115. Yojena
126. Urdhu
127. Rafatuka
128. Eltarul
129. Somadata
130. Koseara
131. Arunantaka -> raja terakhir Syahala. Dimasanya pusat kerajaan dipindahkan ke Dimensi lain.

Selain Prabu Dikarata, maka semua raja di kerajaan Syahala ini memakai gelar Tar-Marun pada nama depannya. Sedangkan sang pendiri kerajaan itu sendiri khusus menggunakan gelar tambahan yaitu Anhiyanastra. Sehingga namanya pun menjadi Tar-Marun Dikarata Anhiyanastra. Selain nama ini adalah pemberian dari Nabi Khidir AS, juga sebagai bentuk penghormatan, mengingat telah begitu banyaknya jasa yang pernah ia lakukan. Terlebih takkan ada yang bisa menyamai kemampuan dari sang pendiri, selama kerajaan itu berdiri.

Lalu, dalam sejarahnya tak ada satupun pemimpin di kerajaan Syahala ini yang menjabat selama kurang dari 200 tahun. Karena itulah kerajaan Syahala bisa berdiri selama ±30.275 tahun. Para raja itu telah di anugerahi umur yang panjang dan fisik yang sehat. Dan pada setiap mereka sudah turun tahta, beberapa tahun kemudian semuanya menempuh jalan moksa (berpindah ke Dimensi lain). Permaisurinya pun melakukan hal yang sama, kadang secara bersamaan atau justru menyusul kemudian. Sebuah tradisi yang terus diikuti sampai akhir riwayat di kerajaan ini.

8. Akhir kisah
Seiring berjalannya waktu Prabu Dikarata menyadari bahwa sudah saatnya untuk berumah tangga. Karena itulah suatu ketika ia berkunjung ke negeri Peri Salhatir tanpa disadari oleh siapapun. Sang Prabu tampil dalam mode penyamaran dan takkan diketahui kecuali oleh pasukan Aksyar dan beberapa bangsawan tinggi bangsa Peri. Tujuannya saat itu adalah untuk bersilaturahmi, sekaligus menjumpai kekasih hatinya. Dialah puteri bungsu Raja Sir el-Armusya yang bernama Ainaril.

Dan ternyata mereka berdua sudah saling jatuh cinta sejak Prabu Dikarata masih tinggal di kota Anamun Del. Dulu, sewaktu menjadi tamu diistana kerajaan Salhatir itu, Dikarata pernah berulang kali berbincang tentang banyak hal dengan Putri Ainaril. Mereka saling mengisi dan melengkapi. Karena itulah hati keduanya pun saling terpaut dalam ikatan cinta yang suci. Dan perasaan itu semakin kuat saat keduanya sama-sama terlibat dalam pertempuran Almart. Betapa kagumnya Ainaril kepada sosok Dikarata, begitu pun sebaliknya.

Singkat cerita, Prabu Dikarata meminang Putri Ainaril untuk dijadikan sebagai pendamping hidupnya. Kepada ayahnya, Raja Sir el-Armusya, permohonan itu lalu ditujukan. Dan syukurlah langsung diterima karena memang tak ada alasan untuk menolaknya. Terlebih sang raja sudah mengetahui bahwa keduanya memang sudah dijodohkan oleh Tuhan. Keduanya pun terlihat sangat serasi.

Demikianlah akhirnya Prabu Dikarata menjadi suami dari Putri Ainaril. Keduanya lalu mendapatkan sepasang anak yang mewarisi bakat dan kemampuan dari kedua orang tuanya. Putera yang tertua bernama Naradata, sementara puteri bungsunya bernama Nimala. Naradata akhirnya menjadi pengganti ayahnya untuk memimpin kerajaan Syahala. Ia tampil sebagai raja yang mewarisi sikap dan kebijaksanaan dari ayahnya sendiri. Dimasa kepemimpinannya keadaan dunia tetap stabil dan makmur. Sementara itu, Nimala memilih untuk tinggal di negeri leluhur ibunya, Peri Salhatir, karena ia telah menikah dengan seorang bangsawan Peri disana, yaitu anak dari sepupu ibunya.

Lalu, karena memang sudah waktunya, maka tibalah saatnya bagi Prabu Dikarata untuk turun tahta dan menempuh jalan moksa. Sebelum pergi, sang prabu sempat mengumpulkan rakyatnya. Di halaman depan istananya itu, ia pun berpesan:

Yakhi anahte sugam timalun dakta wa’umhiya nimahatani yajukal arahus. Nirajam hika niyasta rwandila damun aharima te 101-257-346-980-01 rahatunawi lasijim usahti. Ainamah pristar aen halti akh namathon hanne Sri Maharaja Tar-Amarun Hakilamusya Wedhanatya hejahla nei ache anakhin. Anhan neda histon swalitem mayuti asteru namakel hodam Nusanta-Ra tasakh auran diyem. Huwar arani kal taruhis nayota einda yautah anakhten. Yee inakho ya’iman anoyah al-Ilahiyah, musal tarokya Swajawi diyam soreta handoras uwelekun. Anih khiyalam sewetu nai artulah oyaniya kallu bishabatur diamasu anali. Notara sithayasi hale saturem ganru, eyojanah martuda himakan aeratusyi la’uwina zakhral

Demikianlah apa yang pernah disampaikan oleh Prabu Dikarata menjelang kepergiannya dari Bumi ini. Selanjutnya, sang prabu pergi meninggalkan rakyatnya. Tidak hanya sendirian, tetapi bersama isterinya; Putri Ainaril. Mereka tak pernah terpisahkan dan selalu bersama sampai ke lain dunia. Sungguh peristiwa yang sangat mengharukan dan semua orang hanya bisa menangis tersedu saat melepas kepergian pemimpin yang sangat dicintai. Mereka ingin bisa mengikuti, tapi apa daya tak ada yang mampu menandingi kesaktiannya. Setelah melewati gerbang kota, raja dan permaisurinya itu dalam sekejap langsung menghilang.

Selanjutnya, karena penduduk di negeri Syahala mampu hidup sesuai dengan hukum Tuhan, maka pada akhirnya mereka pun mendapatkan bonus untuk berpindah Dimensi kehidupan. Peristiwa itu terjadi pada masa raja yang ke 131 (Prabu Arunantaka). Tapi sebelum semuanya dipindahkan, beberapa orang keturunan dari Prabu Dikarata diperintahkan untuk menjalankan tugas. Mereka harus menyebar dan meneruskan trah Prabu Dikarata. Setelah cucunya lahir, barulah mereka itu diizinkan untuk menyusul bangsanya yang telah lebih dulu berpindah Dimensi kehidupan.

Demikianlah akhirnya negeri dan penduduk Syahala itu menghilang dan menjadi kenangan selama ribuan tahun. Di kemudian hari, beberapa keturunan dari Prabu Dikarata yang masih tinggal di Bumi berhasil mendirikan kerajaannya sendiri. Sama seperti leluhurnya dulu, mereka juga tampil sebagai pemimpin yang disegani.

Semoga kisah ini bermanfaat. Rahayu… 🙏

Jambi, 31 Oktober 2018
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Seperti pada tulisan sebelumnya, maka disini pun tak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Semua kembali kepada Anda sekalian, tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Ada banyak hal yang tak bisa kami sampaikan disini, ada protap yang harus dipatuhi. Pada waktu yang tepat nanti, semuanya akan terbukti.
3. Bukalah cakrawala hatimu seluas mungkin untuk bisa memahami kisah ini. Jika tidak, kau hanya akan menghujat dan melecehkan saja.

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

16 tanggapan untuk “Prabu Dikarata: Penjaga Kedamaian Dunia

    1. Wa`alaikumsalam mbak Novi.. terima kasih sudah mau berkunjung, semoga bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. ttg hal itu sepertinya tulisan yg mbak klik sudah tidak ada, alias memang sengaja kami hapus sesuai dg protap.. Beberapa tulisan ada yg pake masa berlakunya gitu.. maaf yah.. 🙂

Tinggalkan Balasan ke Harunata-Ra Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s