Bhakti Nyata Seorang Hamba

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Ketika engkau merenungkan tentang keberadaan dirimu yang sejati, kau akan bisa menemukan keberadaan dirimu itu terhubung dengan Alam Raya. Jika engkau merenungkannya lebih dalam, maka engkau baru akan menemukan bahwa dirimu itu jelas terhubung dengan Diri-Nya. Dan seperti juga diri mereka yang tercerahkan, di waktu yang lain kau akan bisa menemukan Wujud-Nya yang hakiki.

Tetapi, untuk bisa mencapai posisi itu, maka sangatlah penting untuk mengerti tentang arti dari bhakti yang sesungguhnya. Sebuah dedikasi yang sepenuhnya kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) ketika pikiran seseorang telah hilang dari keinginan dirinya sendiri. Dan pada kenyataannya, ketika engkau sudah mendedikasikan dirimu hanya kepada-Nya, maka akal dan pikiranmu, pengetahuanmu, hasrat keinginanmu, emosimu, cintamu, dan semua yang kau rasa dan miliki juga akan tertuju hanya kepada Diri-Nya. Nah disaat itulah engkau baru akan disebut telah mengabdi kepada-Nya. Itulah bhakti yang sesungguhnya.

Lantas apakah tubuh Manusia itu tak ada nilainya?

Jelas ada nilainya, karena tubuh Manusia itu menjadi media yang nyata untuk bisa mengabdi kepada-Nya. Sedangkan jiwanya sendiri adalah cara untuk bisa bertemu langsung dengan Diri-Nya. Dan pemahaman yang mendalam tentang tubuh dan jiwa ini haruslah tetap aktif, tak boleh terabaikan. Sebab dengannya akan tampak jelas setiap kebenaran dan kebatilan yang asli.

Ya, tubuh Manusia bagi Manusia itu sendiri adalah kekayaannya, sedangkan jiwanya adalah sebagai harga dirinya. Mereka yang menempuh jalan kebenaran akan memurnikan tubuh dan jiwanya sendiri. Dan melalui jalan itu, ia akan bertemu dengan Jiwa-Nya yang agung. Inilah hubungan intim antara hamba dan Tuhannya. Karena seperti memahami bahwa tubuh itu berasal dari kisma (tanah), maka seorang yang mengerti tentang asal usulnya juga telah mengerti tentang siapakah Sang Penciptanya. Dan pengetahuan ini bisa terus berkembang seiring dengan pengabdian tulus hanya kepada Yang Maha Kuasa.

Catatan: Amat disayangkan banyak dari Manusia yang telah menganggap bahwa tubuh mereka adalah segalanya. Mereka pun mengira bahwa mereka itu berbeda dengan jiwa itu sendiri, yang tidak mereka ketahui. Dan mereka tak pernah berusaha untuk lebih baik, dengan mencari tahu tentang siapakah jiwanya dan terus berlatih untuk mengenal jiwa itu sendiri.

O.. Apakah yang harus di lakukan oleh seorang hamba itu adalah ber-bhakti atau pengabdian?

Ketahuilah bahwa dalam kenyataannya ber-bhakti dan pengabdian itu bukanlah tugas, tetapi itu merupakan sebuah keputusan yang sadar dari seseorang. Perlu bagi Manusia untuk ber-bhakti, tetapi pengabdian itu jauh lebih utama. Dengan ber-bhakti seseorang akan menjadi sosok yang patuh saja, namun dengan pengabdian ia akan jadi pribadi yang shalih (cerdas, taat, beriman dengan tulus murni) dan telah mengerahkan segala hidupnya untuk Yang Maha Kuasa. Tak ada lagi ke-aku-an diri, dan inilah kedudukan yang tinggi dan luar biasa.

Lalu apakah artinya amal ibadah, doa, dan penebusan dosa?

Semua itu hanyalah cara dan alat untuk membersihkan diri pada hari ini, tapi esok lusa akan kotor lagi. Hanya pikiran dan hati yang tertuju kepada Yang Maha Esa sajalah yang dirinya bisa terjaga bersih. Adapun amal ibadah, doa, dan penebusan dosa itu hanyalah agar engkau selalu ingat di setiap waktu bahwa hidupmu itu adalah bentuk pengabdian kepada Yang Maha Pencipta. Dan pengabdian itu adalah untuk menjaga agar kebaikan dan kebajikan tetap ada dalam hidupmu.

Lantas apakah arti dari kebaikan dan kebajikan itu?

Ketahuilah bahwa segala bentuk kejujuran, pengorbanan, jiwa kesatria, perasaan welas asih (cinta dan kasih sayang), tidak menjelekkan orang lain, tidak angkuh, tidak iri dan mendengki, tidak tertarik dengan keduniawian (zuhud), tidak melakukan sesuatu tanpa alasan, rajin menginstropeksi diri (muhasabah), terus menambah ilmu pengetahuan (tadabbur), sering merenungi tentang segala sesuatu (tafakur), sabar, tenang, tekun, pemaaf, kejernihan batin, serta tidak melawan keadilan adalah bagian dari kebaikan dan kebajikan. Inilah sifat-sifat yang benar, yang mulia, dan harus ditegakkan oleh setiap pribadi. Karena dengan itulah diri Manusia baru akan bisa ber-bhakti dan melakukan pengabdian dengan benar. Artinya, bisa dengan tulus murni melakukan kewajiban dalam hidupnya sambil terus mengabdi kepada Yang Maha Kuasa tanpa pamrih (secara murni). Sedangkan hasilnya akan meraih ketenangan, dan ketika meninggalkan dunia fana ini akan mendapatkan tempat yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan yang abadi.

Untuk itu, siapapun diri Manusia itu haruslah mengerti betul tentang jiwanya yang abadi namun berada di dalam tubuh yang fana hanya untuk sementara waktu. Ia pun harus menyadari bahwa hanya dengan tindakan yang tanpa pamrih sajalah maka ia baru akan menjalankan tugasnya dengan benar dan bisa mencapai ketenangan serta kebahagiaan dalam hidupnya. Dan melalui disiplin kerohanianlah, maka seseorang baru akan mengerti tentang arti pentingnya penyerahan diri kepada Tuhan (tawakal). Ia pun akan terus berada di jalan cahaya yang terang. Itulah seorang hamba yang telah ber-bhakti dan melakukan pengabdian dengan benar.

Jambi, 30 Oktober 2018
Harunata-Ra

Iklan

16 respons untuk ‘Bhakti Nyata Seorang Hamba

    Asyifa said:
    Oktober 30, 2018 pukul 10:47 am

    Matur suwun sanget untuk ilmu trbarune mas oedi

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 30, 2018 pukul 6:13 pm

      Nggih sami2lah mbak Asyifa.. Nuwun juga karena masih mau berkunjung.. Semoga ttp bermanfaat.. 😊🙏

    Asyifa wahida said:
    Oktober 31, 2018 pukul 4:06 pm

    alhamdulillahi rabbil alamiin
    Sangat bermanfaat mas oedi yg baik …

      Harunata-Ra responded:
      November 2, 2018 pukul 1:30 am

      Syukurlah kalo gitu mbak Asyifa Wahida… Nuwun ya karena masih mau berkunjung… 🙂

    Asyifa wahida said:
    November 2, 2018 pukul 6:42 am

    Sami2 mas oedi

    sasmito said:
    November 2, 2018 pukul 8:11 am

    jiwa???

    sasmito said:
    November 2, 2018 pukul 8:19 am

    wejangan sri krisnaa

    sasmito said:
    November 4, 2018 pukul 7:52 am

    Petruk : Bapak, sampun, kulo pamit wangsul, tempat saya bukan disini,
    Semar : sampun ngger, sabar.
    Petruk : bapak, dalem niku satriyo piningit sejati,
    Semar : aku reti anakku, bapak mu Ismoyo jati, zat ingkang ngatasi angkoro ono panggenan iki.
    Petruk : dalem boten saget, pirso tanah jawi ngoten

    Asyifa wahida said:
    November 9, 2018 pukul 5:26 pm

    sugeng dalu mas oedi ,kengeng menopo akun fb nya d pun tutup ?

      Harunata-Ra responded:
      November 12, 2018 pukul 7:22 am

      Sugeng sonten mbak Asyifa Wahida.. 🙂
      Hmm.. mboten kok mbak.. akun kulo mboten nate di tutup loh.. ttp OL terus..

    sayyid said:
    Maret 5, 2019 pukul 5:40 am

    Assalamualaikum wr.wb,
    mas oedi,

    perasaan (hati) tidak memiliki tempat….
    jika Allah S.W.T memberikan manusia perasaan,apakah Allah S.W.T tidak memiliki perasaan?
    Bukankah Ar rahmaan dan Ar rahiim adalah sifat utama bagiNYA?
    Allah S.W.T bersemayam di hati setiap manusia, sudah tentu pertanyaannya manusia yg gimana bukan? sudah tentu judul di atas itu lah rahasianya.

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustadz sayyid habib yahya

      Harunata-Ra responded:
      Maret 5, 2019 pukul 6:46 am

      Wa`alaikumsalam…
      Ow begitu ya Ustadz Sayyid? oke, terima kasih utk kunjungan dan komentarnya.. 🙂

    sayyid said:
    Maret 6, 2019 pukul 4:43 am

    Assalamualaikum wr.wb,

    iya mas Oedi,
    Begitulah para rasul/nabi menerima wahyu/ilham
    karena wahyu/ilham tidak dapat di lihat.
    Dilihat oleh manusia setelah dituliskan .

    mustahil nabi Muhammad s.a.w seorang pedagang terkenal saat itu tidak dapat menulis atau membaca.
    Begitu juga dengan nabi musa selama 40 hari/mlm di bukit thursina menerima wahyu yg dituliskan pada batu luh saat itu untuk umatnya.

    pesan Allah S.W.T mengenai hati(perasaan) telah diwahyukan kepada Adam saat di surga dahulu.(inilah cara komunikasi antara Allah S.W.T dan hamba2nya).

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustadz sayyid habib yahya.

      Harunata-Ra responded:
      Maret 6, 2019 pukul 7:10 am

      Ow gitu ya..

    Kematian Sempurna – Perjalanan Cinta said:
    Mei 24, 2019 pukul 2:46 pm

    […] itu, cara yang terbaik untuk bisa menyelamatkan hidup di zaman ini hanyalah satu, yaitu ber-bhakti kepada-NYA. Dan jalan untuk bisa ber-bhakti adalah dengan cara penuh kesadaran diri. Sebab […]

    Keistimewaan Nusantara (2) – Perjalanan Cinta said:
    Juni 2, 2019 pukul 6:12 am

    […] Catatan: Tentang ber-bhakti dan mengabdi kepada-NYA, silahkan baca tulisan di link ini: Bhakti Nyata Seorang Hamba. […]

Tinggalkan Balasan ke sayyid Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s