Diposkan pada Info Terbaru, Tulisan_ku

Ibnu Khaldun dan Teori Siklus Negara

Wahai saudaraku. Nama Ibnu Khaldun (1332 – 1406 M) begitu masyhur dikalangan pemikir dan ilmuwan Barat. Ia adalah seorang tokoh Muslim yang gagasannya dianggap murni dan baru pada zamannya. Tak heran bila ide-idenya tentang masyarakat Arab lalu dianggap sebagai bibit dari kelahiran ilmu Sosiologi. Bahkan tak berlebihan jika kini sosok yang bernama lengkap Abu Zayd ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami itu disebut sebagai bapak pendiri ilmu sosiologi, historiografi, dan ekonomi.

Sebagai mantan pejabat di pemerintahan, Ibnu Khaldun tampil sebagai pribadi yang berwawasan luas dan kenyang dengan pengalaman. Itu dibuktikan dengan pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh sebelum Adam Smith (1723-1790 M) dan David Ricardo (1772-1823 M) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.

Sungguh, Ibnu Khaldun adalah sosok yang begitu piawai dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Keahliannya dalam bidang sosiologi, filsafat, ekonomi, sejarah, dan budaya tampak jelas dalam buku Mukaddimah. Pada saat yang sama, ia juga tampak sangat menguasai ilmu-ilmu keIslaman saat menguraikan tentang ilmu hadits, fiqh, ushul fiqh, dan lainnya. Karena itulah, Ibnu Khaldun berhasil mengeluarkan banyak pemikiran dan teori yang terkenal hingga kini.

Penelitiannya tentang sejarah dengan menggunakan metode yang berbeda dari penelitian ilmuwan pada saat itu juga disebut sebagai bibit dari kemunculan Filsafat Sejarah seperti yang ada sekarang. Kehidupannya yang malang melintang di Tunisia (Afrika Utara) dan Andalusia (Spanyol) serta berkecimpung dalam dunia politik, tak ayal mendukung pemikirannya tentang Politik serta Sosiologi sangat tajam dan mampu memberikan sumbangsih yang besar pada Ilmu Pengetahuan.

Lalu dari sekian banyak karya tulis Ibnu Khaldun, Mukaddimah adalah buku yang paling sering dibahas dan dikemukakan. Karya agung ini berisi tuntunan bagaimana memahami sejarah (fiqh al-tarikh) dan berisi ringkasan sejarah para raja dan pemerintahan. Di dalamnya juga memuat tentang ilmu geografi, sosiologi, antropologi, politik, filsafat, budaya, dan ekonomi. Dengan berulang kali membaca Mukaddimah, siapapun akan mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman.

Ya. Mukaddimah inilah yang mendapat sambutan luas, baik di Timur dan di Barat. Para ilmuwan Barat maupun Timur tertarik mengkajinya. Bahkan di perguruan-perguruan tinggi terkemuka di Amerika, Inggris, dan Perancis juga sering diselenggarakan kajian khusus tentang karya monumental dari Ibnu Khaldun tersebut.

Catatan: Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Mukaddimah ini menjadi setebal 1.120 halaman (dalam ukuran kertas 17 x 24,5 cm), dan berat sekitar 2 kg. Gambar di atas adalah foto cover bukunya. Dan uniknya, ternyata Mukaddimah ini hanyalah pengantar dari kitab yang berjudul Al-‘Ibar. Sungguh karya tulis yang mengagumkan.

Lalu mengapa hingga sekarang kitab itu masih saja menarik untuk dikaji? Jawabannya karena saat membaca Mukaddimah saja, seseorang akan menemukan keasyikan tersendiri, mengingat analisisnya yang cermat, pemaparannnya yang bagus, kesimpulannya yang indah, dan menampilkan banyak pengalaman nyata. Terlebih memang sudah terbukti bisa memberikan kontribusi pemikiran selama berabad-abad, baik di Timur ataupun Barat.

***

Setelah mundur dari percaturan politik praktis, Ibnu Khaldun bersama keluarganya memutuskan untuk menyepi di Qal’at Ibnu Salamah, sebuah istana yang terletak di negeri Banu Tajin, selama empat tahun. Selama masa kontemplasi itulah, Ibnu Khaldun akhirnya bisa menyelesaikan karya yang sangat fenomenal bertajuk Al-Muqaddimah.

Dalam pengunduran diri inilah saya merampungkan Al-Muqaddimah. Sebuah karya yang seluruhnya orisinal dalam perencanaannya dan saya ramu dari hasil penelitian luas yang terbaik” Ungkap Ibnu Khaldun dalam biografinya yang berjudul Al-Ta’rif bi Ibn-Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Sharqan.

Karena itulah buah pikir Ibnu Khaldun itu begitu memukau. Dan tak heran jika ahli sejarah Inggris, Arnold J Toynbee, menganggap Al-Muqaddimah sebagai karya terbesar sepanjang sejarah dalam jenisnya.

***

Dan di antara yang paling menarik dari Mukaddimah itu adalah tentang pembahasan mengenai siklus atau fase-fase dari sebuah negara. Lalu berdasarkan teori ‘Ashabiyyah (kekuatan penggerak negara dan merupakan landasan tegaknya suatu negara atau dinasti), Ibnu Khaldun membuat tahapan timbul tenggelamnya suatu negara atau sebuah peradaban menjadi lima fase, yaitu:

1. Fase pendirian negara
Ini adalah tahapan untuk mencapai tujuan, menaklukan segala rintangan, serta meraih kekuasaan. Negara sendiri tidak akan tegak kecuali dengan ‘Ashabiyah. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa ‘Ashabiyah itulah yang membuat orang menyatukan upaya untuk tujuan yang sama, mempertahankan diri dan menolak atau mengalahkan musuh. Darinya akan berdirilah sebuah kerajaan atau negara yang berdaulat.

2. Fase tirani
Tahap dimana penguasa berbuat sekehendaknya pada rakyatnya. Pada tahap ini, orang yang memimpin negara senang mengumpulkan dan memperbanyak pengikut. Penguasa menutup pintu bagi mereka yang mengkritik atau ingin turut serta dalam pemerintahannya. Maka segala perhatiannya ditujukan untuk kepentingan mempertahankan dan memenangkan kekuasaannya. Selain itu, pada waktu itu pemegang kekuasaan bisa melihat bahwa kekuasaannya telah mapan sehingga ia akan berupaya untuk menghancurkan ‘Ashabiyah, memonopoli kekuasaan dan menjatuhkan anggota-anggota ‘Ashabiyah dari roda pemerintahan.

3. Fase kejayaan
Tahap ini adalah menikmati buah kekuasaan seiring watak Manusia, seperti mengumpulkan kekayaan, mengabdikan peninggalan-peninggalan (membuat bangunan monumental, dll) dan meraih kemegahan. Negara pada tahap ini sedang berada pada puncak perkembangannya.

4. Fase ketundukan dan kemalasan
Pada tahap ini, negara dalam keadaan statis, tidak ada perubahan apapun yang terjadi, dan negara seakan-akan sedang menantikan permulaan dari akhir kisahnya.

5. Fase kerusakan dan kehancuran 
Negara telah memasuki masa ketuaan dan dirinya telah diliputi oleh penyakit kronis yang tidak dapat dihindari. Penguasa dan para pembesarnya pun menjadi perusak warisan pendahulunya, pemuas hawa nafsu dan kesenangan duniawi. Pada tahap ini, negara tinggal menunggu waktu kehancurannya saja.

Nah, tahap-tahap itu pun menurut Ibnu Khaldun memunculkan tiga generasi, yaitu:

1. Generasi pembangun
Ini adalah generasi yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus-tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya.

2. Generasi penikmat
Yakni mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan, menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. Generasi ini kehidupannya beralih dari kesederhanaan menuju yang penuh dengan kemewahan dan foya-foya.

3. Generasi perusak
Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa memedulikan nasib negara. Generasi ini tenggelam dalam kemewahan, sikap licik, picik, penakut dan kehilangan makna kejujuran, kehormatan, keperwiraan dan keberanian. Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi yang ketiga ini, maka keruntuhan negara sebagai sunnatullah sudah di ambang pintu.

Ibnu Khaldun juga menuturkan bahwa sebuah peradaban besar itu dimulai dari masyarakat yang sudah ditempa dengan kehidupan yang keras, kemiskinan dan penuh perjuangan. Keinginan untuk hidup dengan makmur dan terbebas dari kesusahan hidup lalu ditambah dengan ‘Ashabiyyah di antara mereka, membuat mereka berusaha keras untuk mewujudkan cita-citanya dengan perjuangan yang tekun. Impian yang tercapai kemudian memunculkan sebuah peradaban baru yang lebih baik. Dan kemunculan peradaban baru ini pula biasanya selalu diikuti dengan kemunduran dari suatu peradaban yang lain. Tahapan itu kemudian terulang lagi, dan begitulah seterusnya hingga teori ini dikenal dengan nama Teori Siklus.

Jadi, menengok dari apa yang sudah dijelaskan oleh seorang ilmuwan dan pemikir hebat sekaliber Ibnu Khaldun itu, maka kita sekarang bisa lebih bercermin diri. Dengan melihat apa yang terjadi di negeri ini, maka sudah di fase manakah bangsa ini berada? Tak ada waktu lagi untuk tidak peduli dan berlehah-lehah. Sesuatu yang besar akan terjadi di negeri ini, cepat atau lambat. Sehingga bersiaplah dan bersiaplah. Karena sebelum kebangkitan itu, maka akan ada kehancurannya terlebih dulu.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Rahayu… 🙏

Jambi, 23 Oktober 2018
Harunata-Ra

(Disarikan dari berbagai sumber)

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s