Astaniya: Kekaisaran Dunia

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Tersebutlah kisah tentang peradaban yang maju dan berjaya. Mereka ini hidup di periode awal zaman kelima (Dwipanta-Ra) atau sekitar ±205.000.000 tahun silam. Tepat pada waktu dimana kawasan Nusantara masih dalam satu daratan dan menyatu dengan Asia, Australia, Oseania dan Polinesia. Awalnya mereka terdiri dari dua kerajaan besar di tanah Jawa dan Sumatera sekarang. Tapi kemudian disatukan dan menjadi sebuah kekaisaran yang bernama Astaniya. Kekaisaran ini memiliki cakupan wilayah yang sangat luas, mereka juga pernah memimpin dunia.

Nah, untuk lebih jelasnya mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Suatu ketika hiduplah seorang raja bernama Mistaka. Ia pemimpin dari kaum Nosera yang dulu pernah tinggal di tanah Jawa bagian barat. Setelah menyepi selama beberapa waktu di lereng gunung Yansih, akhirnya sang raja mendapatkan petunjuk untuk menugaskan kedua anaknya berhijrah. Di tempat yang baru, kedua pangeran itu harus mendirikan kerajaannya masing-masing. Dengan kesungguhan dan kerja keras mereka bisa meraih kejayaan.

Singkat cerita, sesuai dengan hari yang telah di sepakati, pangeran Atsaka dan Natsaka mulai berjalan menuju tempat yang sudah ditentukan. Bersama para pengikutnya, pangeran Atsaka pergi ke arah timur Jalwata (penamaan tanah Jawa kala itu) dan sampai di sebuah tempat yang berada di sekitar antara kabupaten Nganjuk-Mojokerto-Lumajang-Blitar sekarang. Sementara itu pangeran Natsaka pergi ke Sarwana (penamaan Sumatera kala itu), terus berjalan sampai akhirnya tiba di sebuah tepat yang berada di sekitar propinsi Jambi sekarang. Sesampainya mereka di lokasi, tak lama kemudian kedua pangeran dan pengikutnya itu mulai menata kehidupannya. Perlahan tapi pasti mereka bisa membangun peradaban yang baru dan akhirnya dikenal oleh banyak kerajaan. Hubungan dagang dan diplomasi pun terjalin mesra untuk bisa saling menguntungkan.

Waktu pun berlalu, sepeningalnya Prabu Mistaka, kedua pangeran sudah berhasil mendirikan kerajaan baru dan menjadi raja pertama di sana. Atsaka menjadi raja di kerajaan Gumsara, sementara Natsaka menjadi raja di kerajaan Halmuk. Kedua kerajaan itu terbilang makmur dan memiliki pengaruh yang kuat di kawasannya. Bahkan sejak di masa rajanya yang ketiga, kedua kerajaan itu sudah menjadi yang paling kuat dari semua kerajaan yang ada di kawasannya masing-masing. Gumsara menjadi yang terkuat di Jalwata (tanah Jawa), sedangkan Halmuk adalah yang terkuat di tanah Sarwana (tanah Sumatera). Dan sebagaimana biasanya, maka pada akhirnya kedua kerajaan itu harus bersaing untuk menjadi yang terhebat di seluruh kawasan Mallayakas (penamaan Nusantara kala itu).

Dan buruknya pada masa itu keadaan dunia pun sedang tidak stabil karena ada banyak perselisihan antar kerajaan. Mereka saling berebut kekuasaan, pengaruh, dan tentunya sumber daya alam. Akibat dari kegaduhan ini, rakyat selalu menjadi korbannya. Tak jarang pula mereka itu di pimpin oleh raja yang serakah atau zalim yang tidak memikirkan kesejahteraan warganya. Para penguasa itu memiliki ego yang sangat tinggi dan hanya mementingkan dirinya sendiri atau yang segolongan dengannya. Rakyat selalu diabaikan, dan kalau perlu dimanfaatkan atau dikorbankan saja. Persis dengan yang terjadi di masa sekarang.

Catatan: Khususnya di kawasan Nusantara akan selalu ada sosok yang menantang arus (anti mainstream) dan melakukan perubahan serta penataan kembali dunia ini ketika telah dipenuhi dengan kekacauan. Dibawah kepemimpinannya, bangkitlah kejayaan yang semestinya bisa di miliki oleh Manusia yang berakal. Melalui kerajaan yang ia dirikan, kedamaian bisa kembali tercipta, sehingga kehidupan di Bumi ini penuh dengan cahaya dan kebahagiaan.

2. Cinta sejati
Awalnya persaingan antara kerajaan Gumsara dan Halmuk masih seputar kemakmuran dan tingkat peradabannya saja, tak sampai dalam urusan perang dan perebutan kekuasaan. Alasannya karena mereka masih menghormati hubungan antar saudara – karena sama-sama dari kaum Nosera. Ini berlangsung selama dua generasi. Tapi setelah itu, atau sejak di masa raja yang ke-6, mereka sudah mulai berselisih secara fisik dan militer. Dan puncaknya adalah di masa kepemimpinan rajanya yang ke-7. Oleh sebab tak adanya penerus tahta yang sah di kerajaan Nosera (asal usul mereka), maka penguasa di kerajaan Gumsara dan Halmuk lalu merasa paling berhak. Raja sebelumnya tak memiliki pewaris lantaran anak tunggalnya wafat karena sakit. Hal inilah yang akhirnya menjadi sumber masalah dan menyebabkan pertempuran. Awalnya hanya pertempuran kecil, tapi lambat laun menjadi besar.

Pada waktu itu kerajaan Gumsara dipimpin oleh raja bernama Altaruka, sementara kerajaan Halmuk dipimpin oleh seorang ratu bernama Sumirani. Dalam hal apapun kedua penguasa itu belum pernah bertemu, sekalipun. Tapi nyatanya mereka justru saling bermusuhan dan tak ada yang mau mengalah. Berbagai cara sudah mereka lakukan untuk mengalahkan pihak lawan, hanya tinggal pertempuran langsung yang belum diwujudkan. Dan agaknya hanya tinggal menunggu waktunya saja. Sebab kedua penguasa sudah mempersiapkan semua keperluan yang dibutuhkan jika memang harus berperang.

Catatan: Sebenarnya ada pihak-pihak yang sengaja mengadu domba kedua kerajaan agar terus bertikai. Mereka tak mau ada persatuan di antara anak keturunan kaum Nosera. Karena jika itu sampai terjadi maka kegelapan akan terancam, dan mereka itu adalah bagiannya. Orang-orang yang ingin kedua kerajaan itu tak bersatu adalah para pengikut setia kegelapan. Dan menurut tuannya (raja kegelapan), jika sampai kaum Nosera bisa mendirikan kekaisaran yang kuat, maka kekuatan dari kegelapan akan menghilang. Siapapun yang menjadi pengikutnya akan hidup dalam penderitaan. Karena itulah mereka harus berusaha mengagalkan penyatuan itu.

Namun sebelum pertempuran itu terjadi, suatu ketika kedua pemimpin kerajaan (Raja Altaruka dan Ratu Sumirani) mendapatkan petunjuk untuk keluar dari istananya dan pergi mengembara. Sementara itu urusan negara lalu mereka titipan kepada Mahapatih-nya masing-masing. Dan setelah tiba waktunya, Raja Altaruka diperintahkan untuk berjalan ke arah barat, sementara Ratu Sumirani ke arah selatan. Mereka tak pernah tahu apa maksud dari petunjuk itu, hanya mengikutinya saja. Dan seperti memang berjodoh, keduanya lalu bertemu di sebuah desa yang penduduknya terkena wabah penyakit dan kelaparan. Dalam pertemuan itu, keduanya tidak tahu jati diri masing-masing. Mereka selalu dalam penyamaran dan berpenampilan seperti pengembara biasa. Tak pernah sekalipun menyebutkan pangkat atau derajatnya.

Ya. Keduanya lalu tinggal selama beberapa waktu di dusun Kameya itu. Selama disana mereka terus membantu penduduknya untuk bisa terlepas dari penderitaan. Prabu Altaruka lalu mengajak warganya untuk bisa mendapatkan curah hujan dengan cara berdoa langsung kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) dengan khusyuk. Hujan pun turun dengan derasnya, tapi hal ini tak cukup kecuali hanya untuk beberapa hari. Untuk itulah, selanjutnya sang prabu mengajak semua pria untuk bisa menemukan mata air dengan cara menggali sumur-sumur. Usaha itu tidak sia-sia, karena akhirnya mereka mendapatkan sumber air yang sangat berlimpah. Setelah penemuan sumber air itu, atas bimbingan dari sang prabu mereka lalu membuatkan saluran irigasi untuk bisa mengairi kebun-kebun dan persawahan mereka. Berbagai teknik pertanian yang terbaik dan sudah diterapkan di kerajaan Gumsara juga di ajarkan. Sehingga tak butuh waktu lama maka hasilnya sudah terlihat memuaskan.

Sementara itu Ratu Sumirani membantu penduduk, khususnya ibu-ibu dalam urusan kesehatan dan pengaturan logistik dengan tertib. Semuanya ditata ulang dengan rapi, dan ia juga mengajarkan tentang berbagai teknik kerajinan tangan dan seluk beluk perdagangan. Dengan sabar sang ratu terus membimbing warga dusun dan memberikan motivasi kepada mereka bahwa mereka pasti bisa asalkan bersungguh-sungguh dalam usaha. Dan atas kesungguhan serta restu dari Sang Maha Pencipta, semuanya pun bisa mendatangkan hasil yang sepadan. Penduduk dusun Kameya akhirnya tampil sebagai masyarakat yang berkelas.

Dan atas kerjasama serta gotong royong itu, lamban laut penduduk dusun Kameya terlepas dari masalah, dan mereka bisa kembali menata hidupnya dengan lebih baik. Bahkan atas jasa dari kedua sosok pengembara yang datang membantu saat itu, kehidupan di dusun Kameya menjadi lebih makmur dari sebelumnya. Semua kebutuhan hidup bisa mereka penuhi sendiri, bahkan dijual ke tempat lain untuk bisa menghasilkan keuntungan yang berlimpah. Lambat laun dusun itu pun terkenal dimana-mana dan banyak yang menjalin hubungan perdagangan. Hanya saja mereka tak pernah tahu siapakah sebenarnya kedua pengembara itu. Bahkan di antara keduanya pun saling tidak mengetahui kebenarannya, alias saling menutupi jati dirinya masing-masing.

Selama dua tahun lebih kedua penguasa itu (Prabu Altaruka dan Ratu Sumirani) hidup di dusun Kameya dengan memakai nama samaran sebagai Diru dan Lasih. Selama itu hubungan keduanya sangat dekat dan menumbuhkan perasaan cinta yang mendalam. Bahkan ketika keduanya harus kembali ke negerinya, rasa cinta itu tak berkurang sedikitpun. Kerinduan terus bersarang di hati keduanya, tak bisa menghilang selain dengan cara bertemu. Dan mereka selalu ingin ada masa dimana mereka bisa bersama lagi dan mengungkapkan segala isi hati. Tak ingin lagi berpisah, dan hanya ada satu harapan yaitu bersatu dalam sebuah mahligai rumah tangga.

3. Pendirian kekaisaran Astaniya
Satu hal yang unik dari sosok Prabu Altaruka (raja ke-7 Gumsara) adalah karena ia bukanlah seorang putra mahkota ataupun anak raja yang berkuasa. Jati diri sebenarnya adalah orang biasa tapi masih berasal dari garis silsilah Prabu Mistaka (raja di kerajaan Nosera sekaligus leluhur dari raja-raja Gumsara). Kakek buyutnya adalah seorang putra mahkota yang tak mau naik tahta karena lebih memilih untuk jadi orang biasa dan meninggalkan kehidupan istana lalu menjadi seorang Begawan. Selama beberapa generasi akhirnya garis keturunan ini tak diketahui lagi, seolah-olah menghilang begitu saja. Sampai pada akhirnya Altaruka muncul dalam sebuah sayembara. Saat itu Prabu Yutsaka (raja ke-6 Gumsara) mengadakan sayembara untuk memilih siapa yang pantas menjadi panglima kerajaannya. Syaratnya ia bisa mengalahkan seorang raja zalim dari kerajaan Soyar (di sekitar antara Banjarmasin dan Makassar sekarang) yang bernama Uskumal. Dalam sayembara itu siapa saja berhak untuk ikut, tak peduli apakah ia dari golongan bangsawan ataupun rakyat biasa.

Catatan: Prabu Mistaka memiliki empat orang putera yang bernama Galika, Atsaka, Natsaka, Hutsaka, dan seorang puteri bernama Eldarin. Atsaka dan Natsaka mendirikan kerajaannya sendiri (Gumsara dan Halmuk). Galika menjadi putra mahkota tetapi akhirnya memutuskan untuk tidak menjadi raja dan meninggalkan kehidupan istana. Tahta kerajaan Nosera lalu diwariskan kepada adiknya, Hutsaka, dan selanjutnya diteruskan oleh keturunannya. Nah Galika itulah kakek buyut Altaruka dari sisi ayahnya. Sementara dari garis ibunya ia juga masih keturunan dari raja-raja yang terhormat di kerajaan Natilah (di sekitar Laut Selatan Jawa sekarang).

Singkat cerita, Altaruka berhasil mengalahkan raja Uskumal dalam sebuah pertarungan sengit. Meskipun lawannya terkenal sakti mandraguna, Altaruka bisa menandinginya dalam waktu yang tak begitu lama. Duel tersebut disaksikan oleh orang banyak, sehingga tak ada yang bisa menyangkal kalau suatu saat nanti Altaruka mengklaim kemenangannya. Dan akhirnya kejadian itu cepat diketahui oleh Prabu Yutsaka, dan sesuai janjinya maka Altaruka dilantik sebagai panglima kerajaan Gumsara. Jabatan itu ia pegang dengan penuh amanah. Sampai akhirnya ia pun diangkat menjadi Sigas (setingkat Mahapatih atau perdana menteri) setelah pejabat yang sebelumnya pensiun.

Lalu dari jabatan Sigas tersebut maka terbukalah jalan untuk dirinya menjadi seorang raja. Sebenarnya Altaruka tak pernah menginginkan kedudukan itu, tapi keadaanlah yang memaksanya. Karena Prabu Yutsaka tak lagi memiliki keturunan (sebab kedua anaknya telah gugur di medan perang), tahta kerajaan lalu ia serahkan kepada Altaruka. Keputusan itu tak mendapatkan pertentangan, karena bagi semua orang Altaruka memang layak menerimanya. Selain ia adalah sosok yang berilmu tinggi, maka telah banyak jasanya untuk kemajuan di negeri Gumsara. Dan benar adanya ketika Altaruka menjadi raja di sana kehidupan penduduknya bisa makin sejahtera. Sistem pertahanan dan militer mereka juga bertambah kuat dan disegani. Ini adalah sebuah prestasi yang patut dibanggakan.

Demikianlah sekilas tentang kisah bagaimana akhirnya seorang pemuda biasa yang bernama Altaruka itu menjadi pemimpin tertinggi di kerajaan Gumsara. Dan sesuai dengan kebiasaannya, maka pada setiap 7 bulan sekali Prabu Altaruka pergi mengasingkan diri agar lebih dekat dengan Sang Pencipta. Tempatnya bisa di manapun, bisa di pinggiran kota kerajaan atau pun jauh di luarnya. Dan suatu ketika sang prabu memilih untuk menyendiri selama 7 hari di alam bebas, di sebuah hutan yang ada kali (sungai kecil) dan air terjunnya. Setelah puas dengan memandangi keindahan alam raya, di tepi kali yang jernih itu ia lalu ber-semedhi dengan khusyuk. Sejak di hari yang kelima sang prabu mendapatkan petunjuk melalui para Begawan yang mendatanginya.

Di hari yang kelima, Prabu Altaruka di datangi oleh Begawan Siluya dan ia menyampaikan peringatan tentang perang besar tetapi unik. Setelah itu sang Begawan mengajaknya pergi ke Dimensi lain yang waktunya berbeda dengan di Bumi (perbandingan waktunya adalah 1 jam di Bumi = 40 hari disana). Di hari ke enam datanglah Begawan Muldira dan ia menyampai petunjuk tentang bersatunya dua kekuatan yang menjadi puncak kejayaan Manusia. Setelah itu ia pun mengajak sang prabu untuk pergi ke Dimensi lain yang waktunya juga berbeda dengan di Bumi (1 jam di Bumi = 30 hari disana).

Lalu di hari yang ke tujuh datanglah Begawan Kasili untuk menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan spiritual dan kebijaksanaan. Setelah itu ia pun mengajak sang prabu untuk pergi ke Dimensi lain yang waktunya juga berbeda dengan di Bumi (1 jam di Bumi = 10 hari disana). Sebelum pergi, ketiga Begawan itu memberikan sebuah benda pusaka yang kelak akan membantu sang prabu dalam menjalankan tugasnya. Selain itu, ketiga benda pusaka itu (pedang, selendang, dan mustika) akan menjadi warisan yang hanya bisa dipegang oleh pewaris yang sah di kerajaannya. Tanpa hal itu, maka siapapun takkan berhak atas tahtanya.

Demikianlah peristiwa itu terjadi setelah dua tahun Diru alias Prabu Altaruka berpisah dengan Lasih alias Ratu Sumirani. Setahun kemudian, pertempuran besar antara kerajaan Gumsara dan Halmuk tak bisa lagi dihindari. Kedua pasukan mereka pernah beberapa kali bertikai di perbatasan negerinya, karena itulah harus terus dipersiapkan dengan serius. Tinggal menunggu waktunya saja untuk pergi bertempur besar-besaran dan menentukan nasib negaranya. Siapapun yang menang dalam pertempuran itu akan mengambil alih kerajaan Nosera dan bisa menyatukan kedua kerajaan yang ada (Gumsara dan Halmuk) untuk dijadikan sebuah kekaisaran.

Namun Manusia hanya bisa berencana, karena yang berhak memutuskan hanyalah Hyang Aruta (Tuhan YME). Semua yang telah dipersiapkan oleh kedua kerajaan – untuk berperang – menjadi tak berarti lagi ketika cinta yang perkasa telah memegang kendali. Setelah bertemu langsung di medan pertempuran, baik Prabu Altaruka ataupun Ratu Sumirani tak bisa apa-apa. Cinta sejati telah menguasai hati keduanya, sehingga pada akhirnya justru memutuskan untuk menghentikan pertempuran. Terlebih permusuhan antara kedua kerajaan mereka itu bukan lantaran adanya dendam pribadi di antara mereka atau ada yang berkhianat, melainkan hanya tentang perebutan kekuasaan dan pengaruh. Hanya sebatas persaingan dalam hal kejayaannya saja. Yang sebenarnya bukanlah hal yang begitu penting dan berarti.

Karena itulah, setelah merenung dan berdiskusi selama beberapa waktu dengan petinggi kerajaannya, kedua penguasa itu justru memilih untuk berdamai. Terlebih sebelumnya Prabu Altaruka sudah mendapatkan petunjuk dari para Begawan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Sehingga ia pun tersadar untuk segera menjalankan tugas utamanya, yaitu menyatukan kedua kerajaan mereka (Gumsara dan Halmuk) tanpa perlu berperang. Dan saat itulah waktu yang paling tepat untuk bisa mewujudkannya.

Bahkan lantaran rasa cinta yang tak lagi bisa ditahan sejak lama, akhirnya mereka berdua melangsungkan pernikahan. Ikatan itu secara otomatis menyatukan kedua kerajaan yang sebelumnya bersaing tanpa perlu menumpahkan darah. Tentang tahta di kerajaan Nosera, maka ditunjuklah seorang kerabat yang dipercaya untuk mewakili mereka berdua sebagai penguasa disana. Dan akhirnya masalah turun temurun di kedua kerajaan itu bisa dituntaskan dengan baik. Mereka bisa kembali bersatu dalam sebuah negara yang lebih besar – karena sebenarnya berasal dari kaum dan leluhur yang sama. Dan sejak saat itulah kekaisaran Astaniya berdiri dan terus berkembang sebagai negara yang terkuat dan paling berpengaruh di seluruh dunia. Nama Astaniya sendiri berarti kejayaan peradaban yang gemilang.

4. Puncak kejayaan
Di setiap pusat kota yang ada di negeri Astaniya, maka gedung-gedung yang telah mereka bangun sangatlah indah dan megah. Ada banyak gedung yang bertingkat, bahkan terdapat beberapa piramida yang dibangun dalam ukuran dan bentuk yang berbeda. Setiap bangunan yang ada, sebagian besarnya terbuat dari bahan dasar batu marmer dan pualam yang dihaluskan. Lalu untuk menambah keindahannya, ada banyak logam mulia dan batu permata yang disematkan di beberapa sisi bangunan. Selain itu, ada pula taman-taman yang indah yang di dalamnya terdapat kolam ikan dan air mancur.

Sungguh indah kota-kota yang dibangun oleh kekaisaran Astaniya ini. Tentang gaya arsitekturnya pun bermacam-macam. Ada yang berkubah, ada yang berundak-undak, ada yang beratap segitiga atau meruncing, dan ada pula yang berpilar-pilar besar (seperti model bangunan kuil Yunani kuno). Dan khusus yang menjadi ibukota negaranya, atau yang bernama Tumari itu, telah di lindungi oleh 3 lapis tembok besar yang sangat kokoh. Terbuat dari batu berwarna krem yang sangat keras, dan tanpa perlu di semen. Dengan ukurannya yang sangat besar, balok-balok batu itu cukup ditumpuk saja dengan teknik kaitan yang sangat kuat. Artinya, pada setiap balok batu itu terdapat pengait – berupa pahatan dari batu itu sendiri – yang saling berpasangan. Jika di tumpuk, otomatis balok-balok batu tersebut akan saling terikat dengan sangat kokoh.

Ya, kekaisaran Astaniya ini berdiri dengan segala keagungannya. Tak heran bila akhirnya menjadi yang sangat terkemuka dan paling berpengaruh di seluruh dunia. Sebab di negeri itu banyak orang bijak dan luhur budi pekertinya. Penduduknya pun hidup dalam rasa cinta dan kebersamaan. Mereka itu orangnya ramah-ramah dan memiliki sopan santun yang tinggi. Saling berbagi dan gotong royong adalah kebiasaan yang sudah mendarah daging sejak kecil. Di wariskan oleh para bijak, dan di ajarkan langsung oleh para orang tua kepada anak-anaknya. Sungguh peradaban yang beradab.

Lalu tentang keindahan istananya tak perlu lagi dipertanyakan, sungguh indah dan tak kalah dengan Kahyangan milik para Dewa-Dewi. Berbagai jenis batu mulia (intan berlian) warna-warni sangat banyak di sana, batu permata (zamrut, safir, giok, ruby, dll) tak terhitung lagi jumlahnya, sementara emas, perak dan titanium sudah seperti barang biasa. Semuanya bertaburan dimana-mana melapisi atap, dinding, pilar-pilar, lantai bangunan, bahkan jalan-jalannya. Begitu pula dengan kaca dan kristal yang banyak digunakan disana, membuat semuanya tampak lebih berkilauan indah dan tak ada bandingannya. Dan tak ada pula yang bisa menyangsikan jika istana kekaisaran Astaniya itu adalah yang terbaik pada masanya. Segalanya tampak megah dan menawan, lengkap dengan gaya arsitektur yang mengagumkan dan penuh makna simbolis.

Catatan: Apa yang kita sekarang bilang sebagai Surga di Bumi itu sudah pernah terwujud di kekaisaran Astaniya ini. Khususnya di kawasan Mallakayas (penamaan Nusantara kala itu), maka sejak dipimpin oleh raja yang mendapatkan restu Ilahi dan ia juga menerima Wahyu Keprabon (Prabu Altaruka), maka kehidupan disana menjadi aman dan makmur. Tak ada lagi konflik yang berkepanjangan. Alam pun memberikan hasil bumi yang berlimpah, cuaca dan musim tepat pada waktunya, dan tidak ada lagi bencana alam yang menyebabkan banyak korban jiwa. Orang-orang hidup rukun dan saling menguntungkan. Tak ada lagi yang berbuat kezaliman, baik terhadap sesama ataupun kepada hewan, tumbuhan dan lingkungannya. Sungguh peradaban yang mengagumkan.

Dan hal ini tetap berlangsung selama ribuan tahun, sejak kekaisaran itu masih dipimpin oleh Prabu Altaruka dan Ratu Sumirani. Bermula dari kaum Nosera yang hidup di sekitar Jawa bagian barat, lalu semakin berjaya dengan berdirinya kekaisaran Astaniya yang berpusat di sekitar Laut Jawa sekarang. Pada masanya, tak ada yang mampu mengalahkan kejayaan dari kekaisaran ini. Karena selain makmur dan sejahtera, mereka telah hidup dalam kedamaian dan tingkat spiritualitas yang tinggi. Banyak bangsa yang datang ke negerinya untuk bisa menimba ilmu di sana. Tentang apapun itu, yang penting bisa mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan bagi negaranya. Bahkan tanpa perlu ditaklukkan, satu persatu kerajaan yang ada ikut bergabung dengan kekaisaran Astaniya. Dibawah hukum dan aturan yang sudah ditetapkan di ibukota Astaniya (Tumari), siapapun yang mematuhinya bisa hidup dengan aman dan sentosa.

Khusus untuk penduduknya, baik pria dan wanitanya mengenakan pakaian yang mirip dengan yang pernah dipakai oleh orang Yunani atau Romawi kuno – tentunya dengan beragam modelnya. Serba kain panjang, dan tidak ada yang berbahan dasar transparan, alias semuanya di desain tertutup dan sopan walau ada yang berlengan baju pendek. Selain itu, ada pula model pakaian lainnya yang disesuaikan dengan tempat dimana mereka bekerja atau beraktivitas. Tidak identik lagi dengan yang serba kain panjang, sebab akan mengganggu kegiatan. Artinya, pakaian model serba kain panjang itu, atau yang biasa disebut Taca, akan digunakan untuk sehari-hari di luar jam kerja (sepulang jam kerja, liburan, kondangan) atau untuk acara-acara khusus warga dan kerajaan.

Mereka pun sudah memakai sandal dan sepatu dari bahan kulit hewan atau karet atau yang sudah dikolaborasikan dengan emas dan perak. Berbagai bentuk perhiasan seperti kalung, anting, gelang, cincin, sabuk, bros dan bando telah mereka kenakan sehari-hari. Semuanya terbuat dari bahan-bahan pilihan dan dikerjakan dengan sangat rapi, halus dan indah. Tidak kalah dengan yang ada di masa kita sekarang.

Catatan: Khusus untuk ciri-ciri fisik dari mereka ini (kaum Nosera) sengaja tidak kami sertakan karena ada protap yang harus diikuti. Tapi mengenai usianya, maka rata-rata mereka itu bisa hidup antara 350-400 tahun, dengan tinggi tubuh sekitar 10-11 meter. Bagi yang rajin olah batin dan ber-tapa brata, umurnya menjadi lebih panjang, bahkan sampai lebih dari seribu tahun. Lalu ada banyak dari kaum ini yang memilih untuk berpindah Dimensi kehidupan dengan jalan moksa.

Tentang teknologinya, kekaisaran Astaniya ini termasuk yang tidak terlalu mengutamakannya. Mereka lebih senang hidup secara manual dan lebih fokus dalam urusan olah batin dan kesaktian. Tapi meskipun begitu tidak lantas membuat mereka jadi masyarakat yang tertinggal dan hidup tradisional. Tidak, karena mereka tetap menguasai teknologi canggih namun tidak terlalu mengandalkannya. Hanya seperlunya saja, dan ini bukan berarti mereka lantas biasa-biasa saja. Sebab atas ide dari Prabu Ditsaka (raja ke-7), dibuatlah pesawat terbang yang bisa melaju dengan kecepatan cahaya (kira-kira 299.792.458 meter per detik). Ukuran pesawat itu cukup besar, 10-15 kali stadion GBK, dan uniknya pesawat ini bisa terbang tanpa suara alias senyap dan tak terlihat oleh mata.

Lalu dengan pesawat yang disebut Mosram itu, mereka telah berhasil menjelajahi ke 13 planet terbesar dalam sistem tata surya kita. Di kesempatan lain bahkan pernah juga berkunjung ke sistem tata surya lainnya. Dan semua itu bisa terjadi karena sang prabu telah mendirikan sebuah lembaga khusus yang dipimpin oleh 7 orang pintar di berbagai bidang keilmuan. Salah satu hasilnya adalah pesawat terbang yang bisa melesat dengan kecepatan cahaya itu; Mosram. Sedangkan tujuan dari pembuatan pesawat super canggih tersebut adalah untuk penelitian sekaligus berwisata. Hasilnya sangat memuaskan dan bisa membuat mereka semakin yakin akan keagungan Tuhan.

Selain itu, ada hal yang unik sekaligus luar biasa di kekaisaran Astaniya ini. Dimana pada setiap kerajaan yang telah bergabung dengan kekaisaran Astaniya langsung dibangunkan sebuah kuil yang didalamnya terdapat Vasral (portal teleportasi). Portal itu digunakan untuk berpindah tempat dalam sekejap ke istana kekaisaran Astaniya atau ke tempat lain yang diinginkan. Paling sering di pakai untuk pertemuan rutin para raja atau sidang umum di ibukota kekaisaran. Tapi fasilitas ini hanya dipergunakan secara terbatas oleh raja dan ratu atau mereka yang mendapatkan tugas khusus dari kerajaannya. Dan kuil-kuil tersebut masih tetap ada hingga kini meskipun kerajaan yang bersangkutan telah lama runtuh. Disembunyikan secara khusus (ilmiah dan batiniah) agar tidak disalahgunakan. Dan mungkin suatu saat nanti akan kembali digunakan oleh mereka yang berhak.

5. Hukum dan ketatanegaraan
Sebagai negara yang besar dan maju, tentulah kekaisaran Astaniya ini sudah menerapkan sistem hukum dan ketatanegaraan yang baik. Semua warga terikat dengan hal itu dan terdapat sanksi yang tegas bila melanggarnya. Dan di dalam kekaisaran Astaniya, maka ada tujuh hukum dasar yang ditetapkan sejak masa kepemimpinan Prabu Altaruka. Adapun di antaranya sebagai berikut:

1. Tisan (raja) atau Nasin (ratu) dilantik dan diberhentikan oleh Kaisal (dewan penasehat kerajaan). Rakyat tidak boleh ikut campur.
2. Pengaturan hak dan kewajiban oleh pemerintah dijadikan tujuan utama kepada rakyat.
3. Hasil panen (pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan) diserahkan kepada negara sesuai dengan aturan yang berlaku untuk disimpan sebagai cadangan negara.
4. Pemenuhan semua kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) dan fasilitas umum di lakukan oleh pemerintah demi kesejahteraan bersama.
5. Rakyat mendapatkan jaminan keamanan, pendidikan dan kesehatan oleh pemerintah.
6. Kebebasan untuk melakukan peribadatan sesuai dengan keyakinannya masing-masing.
7. Bela negara di lakukan oleh tentara dan rakyat yang di atur di dalam undang-undang kemiliteran.

Lalu tentang jenis hukuman yang diterapkan sudah cukup kompleks. Di antaranya sebagai berikut:

1. Mencuri: Terpidana akan di arak keliling kota dimana tangan dan kakinya di rantai. Si pencuri juga harus membawa/memikul barang hasil curiannya. Dalam hal ini, masyarakat yang menyaksikannya diizinkan untuk melempari terpidana itu dengan buah-buahan atau telur busuk. Jika nilai pencuriannya besar, maka satu tangannya harus dipotong. Tapi jika nilainya kecil, si pelaku hanya akan dipenjara selama minimal 7 bulan dan harus ikut kerja paksa di pertambangan atau perkebunan negara.

2. Berzina: Jika pelakunya masih berstatus bujang atau gadis (single), maka ia harus di cambuk (dengan cambuk berduri) sebanyak 30 kali, dan dipenjara selama minimal 5 tahun di pengasingan. Tapi jika itu perselingkuhan (sudah menikah) atau pelakunya adalah duda atau janda, maka terpidana harus di hukum rajam sampai mati. Sedangkan khusus untuk pelaku sex menyimpang (homo, lesbi, biseksual, inces, pedofilia, beastiality, dll) harus dikenai hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup di alun-alun kota.

3. Membunuh: Jika di lakukan atas dasar kesengajaan, maka terpidana akan di bakar hidup-hidup di dalam stadion dengan disaksikan oleh orang banyak. Tapi jika di lakukan karena tidak sengaja dan keluarga si korban tak mau memaafkan, maka pelaku akan dikenai hukuman bayar denda dan kerja bakti selama 7 tahun di pertambangan atau perkebunan negara. Jika ia tidak mampu membayar, maka harus digantikan dengan hukuman penjara selama 10-25 tahun sesuai dengan keinginan dari keluarga si korban. Tapi jika keluarga si korban mau memaafkannya, si pelaku hanya dikenai hukuman kerja bakti kepada negara selama 3 tahun.

4. Penipuan dan korupsi: Terpidana harus mengembalikan semua yang telah ia ambil secara tidak sah sebanyak 2 kali lipatnya dan menjalankan hukuman minimal 10 tahun penjara sesuai dengan nilai penipuan atau korupsinya. Semakin banyak nilainya, maka semakin lama pula ia dipenjara dan si terpidana lalu dicap stempel besi panas pada pipinya, sebagai tanda bahwa ia pernah melakukan kejahatan. Selama di penjara, si terpidana juga dikenai hukuman kerja paksa di pertambangan atau perkebunan. Dan jika sampai nilai kejahatannya melebihi batas yang telah ditentukan, maka semua harta dan kekayaannya diambil oleh negara dan ia akan dikenai hukuman mati di tiang gantungan.

5. Kecurangan: Siapapun yang terbukti curang dalam dagang atau apapun jenis usahanya akan dikenai hukuman penjara minimal 10 tahun, tergantung nilai dari kecurangannya. Semakin banyak nilainya maka semakin lama pula ia di penjara. Dan selama di penjara, si terpidana harus ikut kerja paksa di pertambangan atau perkebunan negara.

6. Berkhianat: Pengkhianatan kepada negara dikenai hukuman penjara seumur hidup dalam pengasingan. Dalam kasus tertentu harus di hukum mati dengan cara di pancung.

7. Fitnah: Pelakunya bisa dikenai hukuman penjara selama minimal 25 tahun atau dihukum mati dengan cara ditenggelamkan. Selama di penjara ia harus ikut kerja paksa di perkebunan atau pertambangan negara.

8. Perjudian dan miras: Terpidana harus dikenai hukuman penjara selama 5 tahun, dengan 3 tahunnya harus ikut kerja paksa di pertambangan atau perkebunan negara.

9. Merusak alam: Siapapun yang terbukti melakukan kerusakan alam harus dikenai hukuman penjara bawah tanah minimal selama 20 tahun, tergantung dari tingkat kerusakannya. Jika sampai menyebabkan jatuhnya korban jiwa, si pelaku akan dikenai hukuman yang sama dengan pembunuhan.

10. Durhaka: Siapapun yang terbukti melakukan kedurhakaan kepada orang tuanya, ia harus dikenai hukuman cambuk sebanyak 50 kali dan menggendong orang tuanya keliling kota. Jika masih mengulanginya, maka harus dicambuk lagi dan ikut kerja paksa selama 7 tahun kepada negara. Jika masih tetap mengulanginya lagi, pelaku harus dipenjara seumur hidup di pengasingan.

11. KDRT: Siapapun yang terbukti melakukan kekerasan dalam rumah tangga, khususnya kepada pasangannya, dikenai hukuman cambuk berduri sebanyak 30 kali lalu di penjara selama 3 tahun. Jika masih melakukannya lagi, si pelaku dikenai hukuman penjara selama 5 tahun yang pada setiap tiga hari sekali akan dihajar (dipukuli) oleh algojo sesuka hati mereka, yang penting tidak sampai tewas. Jika masih belum tobat juga, si pelaku harus di penjara seumur hidup di pengasingan.

12. Malas: Siapapun yang kedapatan menjadi pengangguran akan dikenai hukuman kerja bakti oleh negara selama 7 bulan di perkebunan atau pertambangan. Undang-undang ini hanya berlaku bagi kaum muda-mudi.

Demikianlah sekilas tentang hukum yang berlaku di kekaisaran Astaniya. Siapapapun tunduk dengan aturan itu, tak ada yang bisa menghindar walau setinggi apapun jabatannya. Karena itulah kondisi di kekaisaran ini relatif aman dan tertib. Bahkan hampir tidak ada lagi kriminalitas, karena mereka sadar bahwa dengan mematuhi hukum secara tulus akan mendatangkan kebahagiaan. Hukum dibuat bukan untuk dipatuhi saja, tetapi sebagai pedoman hidup agar tidak susah atau melakukan hal-hal yang konyol dan bodoh. Dan ini terbukti di kekaisaran Astaniya, karena hukum atau undang-undang yang ada seperti tak berguna lagi. Semua terjadi lantaran penduduknya sudah hidup dengan penuh kesadaran diri.

Selanjutnya mengenai sistem ketatanegaraannya. Disini tentu sudah tertata rapi dan sesuai pula dengan kebutuhan mereka sendiri. Tidak harus meniru atau sekedar mengikuti bangsa lain, karena mereka benar-benar tahu apa yang mereka perlukan. Adapun di antara nama-nama jabatan yang ada di kekaisaran Astaniya ini adalah sebagai berikut:

1. Tisan (raja) atau Nasin (ratu) -> pemimpin tertinggi kekaisaran.
2. Itsar (mahapatih atau perdana menteri) -> dijabat oleh isteri raja atau suami ratu yang sedang berkuasa.
3. Dij Wirah (panglima militer, menteri keamanan dan pertahanan).
4. Dij Hamal (menteri kesejahteraan) -> mengurusi bidang ekonomi, perdagangan dan pembangunan.
5. Dij Adhire (menteri pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan).
6. Dij Mosiya (menteri pendidikan dan penelitian) -> kementerian ini dibantu oleh dua biro, yaitu:
1) Suwar (biro pendidikan) -> sistem pendidikan dibagi dua, yaitu secara ilmiah dan batiniah.
2) Wisit (biro penelitian) -> biro ini dipimpin oleh 7 orang pintar dan waskita.
7. Dij Siruh (menteri hukum, agama, seni dan budaya) -> dibawah kementerian ini ada tiga buah lembaga yang membantunya, yaitu:
1) Hikamti (pengadilan urusan pidana).
2) Hikamta (pengadilan urusan perdata).
3) Nikam (biro urusan agama, seni dan budaya).
8. Dij Tossa (menteri sosial dan kemasyarakatan).
9. Dittar (duta besar atau wakil raja di daerah dan mancanegara).
10. Kaisal (dewan penasehat kerajaan) -> diisi oleh orang-orang bijak dan waskita.
11. El-Nitras (gelar kehormatan untuk raja yang bergabung dalam kekaisaran Astaniya)

Sungguh, apa yang ada di kekaisaran Astaniya ini adalah gambaran tentang penataan dan pengelolaan negara yang baik dan tidak ribet. Karena itulah pada masanya mereka bisa tampil sebagai yang terpandang di seluruh dunia. Kejayaannya menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah umat Manusia.

6. Daftar raja
Sebagai negara yang besar, kekaisaran Astaniya ini tentu memiliki banyak pemimpin yang hebat. Karena berdiri selama ±20.927 tahun, maka ada sebanyak 89 orang Tisan (raja) dan Nasin (ratu) yang pernah memimpin. Semuanya adalah sosok yang kharismatik dan berilmu tinggi. Kewibawaannya terkenal dimana-mana, namun demikian mereka tetaplah sosok yang rendah hati dan senang berbaur dengan rakyatnya. Mereka sering berpenampilan sebagai orang biasa dan turun langsung ke daerah untuk langsung melihat kondisi rakyatnya. Hanya di istana dan dalam urusan tertentu saja mereka akan tampil sebagai bangsawan, lengkap dengan segala bentuk kebesarannya.

Catatan: Perlu diketahui bahwa seorang raja atau ratu di kekaisaran Astaniya ini tidak lantas tinggal-menetap di istana. Mereka tetap tinggal di rumahnya sendiri bersama dengan keluarga terkasih. Hanya dalam urusan atau acara tertentu saja para raja atau ratu dan keluarganya akan tinggal di istana, itu pun cuma sementara waktu. Karena sejak awal berdirinya kekaisaran Astaniya ini, maka istana kerajaannya memang hanya diperuntukkan sebagai kantor dan tempat menerima tamu kerajaan.

Adapun di antara nama-nama pemimpin di kekaisaran Astaniya adalah sebagai berikut:

1. Altaruka alias Sar Altaruka el-Hadaniwasya dan Sumirani -> pendiri kekaisaran Astaniya.
2. Sar Aroyaka
3. Sar Netaroka
4. Sar Valdhana
5. Sar Hijayata
6. Sar Moreka
7. Sar Ditsaka
8. Sar Bistha
9. Sar Zattara
10. Sar Osmayaka
………
………
80. Sin Kanini -> seorang Nasin (ratu)
81. Sar Yanika
82. Sar Hurtaka
83. Sar Nusha
84. Sin Metini -> seorang Nasin (ratu)
85. Sar Anakhsun
86. Sar Dwarka
87. Sar Qosama
88. Sar Herolka
89. Sar Tafaruka -> pemimpin terakhir kekaisaran Astaniya. Di masanya pusat negara (kota Tumari) dipindahkan ke Dimensi lain.

Setiap raja atau ratu yang memimpin kekaisaran Astaniya ini di anugerahi umur yang panjang dan tubuh yang sehat. Karena itulah tidak ada dari mereka itu yang memimpin kekaisaran selama kurang dari 200 tahun. Selain berilmu tinggi, mereka adalah sosok yang penuh wibawa dan kharismatik. Maklumlah tidak sembarang orang yang bisa menduduki jabatan tertinggi itu. Ada syarat dan kriteria yang tidak mudah untuk dipenuhi. Dan hanya orang yang terpilih saja yang berhak atas tahta kekaisaran, baik ia laki-laki ataupun wanita. Tidak pula ada yang namanya tahta warisan disini, karena siapapun berhak asalkan ia mampu dan layak. Dan meskipun jabatan raja atau ratu itu seumur hidup, namun setiap raja atau ratu pun tak bisa berbuat sesukanya, karena ia selalu diawasi oleh orang-orang bijak dan waskita yang tergabung dalam Kaisal (dewan penasehat kerajaan). Mereka inilah yang melantik, mengawasi, memberi masukan, dan memberhentikan seorang Tisan (raja) atau Nasin (ratu) di kekaisaran Astaniya. 

Catatan: Gelar Sar pada setiap nama penguasa di atas berarti sang penjaga kedamaian. Sementara Sin itu adalah padanan kata khusus untuk penguasa wanitanya. Untuk itu tak bisa sembarang orang yang berhak memakai gelar ini, karena selain harus memiliki banyak kemampuan (ilmiah dan batiniah), maka sebelum menjadi raja atau ratu seseorang harus lolos seleksi yang diadakan oleh para Kaisal (dewan penasehat kerajaan) dan bisa memakai ketiga pusaka warisan Prabu Altaruka. Dalam hal ini cuma ada satu orang saja yang akan berhasil, dan dialah sosok yang layak menjadi raja atau ratu berikutnya. Ketika sudah menjadi raja atau ratu, barulah seseorang berhak untuk menggunakan kitab pusaka warisan dari Nabi Maliq AS. Kitab itu akan diberikan oleh pemimpin yang lama kepada pemimpin yang baru. Dengan bimbingan kitab itu siapapun akan mengatur negara dengan arif dan bijaksana.

Lalu, tentang luas wilayah kekaisaran ini terbentang mulai dari kerajaan Bogata (sekitar India) di sebelah barat sampai ke wilayah kerajaan Nipacu (kepulauan Jepang) di sebelah Timur. Kemudian dari kerajaan Yors (sekitar Mongol) di bagian utara sampai ke wilayah kerajaan Numia (sekitar wilayah bagian tengah benua Australia sekarang) di sebelah selatan. Dan jelas seluruh kawasan timur Indonesia sampai ke kepulauan Solomon sekarang juga masuk ke dalam wilayah kekaisaran Astaniya ini. Lalu sebagaimana penjelasan sebelumnya, maka pada masa itu seluruh kawasan Nusantara masih menyatu dengan Asia, Australia, Oseania dan Polinesia. Membentuk sebuah daratan yang sangat luas dan lengkap dengan ragam bentuk kehidupannya. Tidak hanya Manusia, tetapi ada juga bangsa Peri, Cinturia dan Karudasya di dalamnya.

Sungguh luar biasa kekaisaran ini, karena meskipun pernah terjadi pertempuran maka sebagian besar wilayahnya itu dapat disatukan dengan jalan damai. Ada yang melalui proses diplomasi, tapi ada pula yang dengan kesadaran sendiri – para raja yang bersangkutan. Mereka dengan suka rela meminta untuk bergabung dengan kekaisaran Astaniya. Alasannya bahwa di kekaisaran itu ada seorang pemimpin yang luar biasa yang telah mendapatkan hak dari “Langit”. Bahkan kehidupan mereka disana telah dipenuhi dengan kebaikan, rasa aman, makmur dan sejahtera. Dan itu masih ditambah lagi dengan sikap tegas dan kesatria dari pemimpin di kekaisaran Astaniya itu yang membuat kondisi dunia menjadi aman dan stabil. Jika ada kekacauan, maka penguasa di kekaisaran Astaniya akan bertindak sebagai penengah atau jika perlu sebagai hakimnya. Siapapun yang bertindak zalim atau semena-mena akan ditumpas. Dan semua itu dengan tujuan agar kondisi dunia ini tetap aman dan harmonis.

6. Akhir kisah
Sejak di masa kepemimpinan Prabu Altaruka (pendiri kekaisaran Astaniya), atau lebih tepatnya di tahun ke 100 kepemimpinannya, mereka sudah menerapkan hukum dan ketatanegaraan yang diajarkan oleh seorang utusan Tuhan. Sosok mulia tersebut bernama Nabi Maliq AS. Beliau ini bukanlah penduduk asli di kekaisaran Astaniya, tapi isterinya berasal dari Mallayakas (penamaan Nusantara kala itu). Atas Wahyu Ilahi, beliau datang dari negeri Makturah (yang ada di Timur Tengah sekarang) ke kekaisaran Astaniya untuk menyampaikan Risalah. Sang Nabi bertugas untuk lebih menyempurnakan kehidupan di kekaisaran Astaniya, khususnya di ibukota Tumari.

Suatu ketika Prabu Altaruka melakukan kebiasaannya untuk menyendiri di alam bebas. Ketika akan pulang, di suatu dusun kecil ia pun bertemu dengan seorang Nabi yang bernama Maliq AS. Pada saat itu beliau sedang berbicara dihadapan orang banyak dan menyampaikan Risalah yang ia terima dari Tuhannya. Mendengar itu, Prabu Altaruka sangat tertarik dan akhirnya ia banyak bertanya kepada sang Nabi. Setelah itu, Prabu Altaruka kembali ke istananya dan membuat keputusan bahwa ia akan meninggalkan semua urusan kerajaan untuk sementara waktu. Sang raja ingin berguru kepada Nabi Maliq AS sampai ia benar-benar memahami apa itu kesempurnaan dan kebijaksanaan.

Selama 3 tahun lebih sang prabu berguru kepada sang Nabi dan ikut mengembara ke beberapa tempat di sepenjuru Bumi. Selama itu banyak ilmu dan hikmah yang bisa ia dapatkan, dan sebelum akhirnya berpisah, Nabi Maliq AS memberikan sebuah kitab ilmu pengetahuan kepadanya. Kitab tersebut lalu menjadi benda pusaka yang sangat berharga di kekaisaran Astaniya. Karena selain bisa membantu seseorang agar tetap hidup di jalan yang benar, kitab tersebut juga berisi tentang banyak hal yang bersifat ilmiah dan batiniah. Jika diikuti, maka peradaban yang dibangun akan gemilang.

Singkat cerita, setelah merasa cukup dalam memimpin kerajaannya, Prabu Altaruka dan Permaisuri Sumirani memutuskan untuk pensiun. Selang 2 tahun kemudian mereka sudah meninggalkan keduniawian dengan menyepi di hutan. Dan sebelum meninggalkan dunia fana ini (moksa), Prabu Altaruka atau yang bergelar Sar Altaruka el-Hadaniwasya itu pernah menyampaikan sebuah pesan dihadapan para pembesar kerajaan dan rakyatnya. Di halaman depan istana itu, ia pun berkata:

Nojanuwe pate kal nabusya tiangra sano kertapan taroheyakh narohi. Yaum tatano kasebat hatur, nasorah bahtul manao sekam. Renajah tan batowal kaji hakamu taftan dapora segana heraktam modzal. Monya kawisi dafurwa tasil biyak, jahtano kosalsata gharache hodam. Sames tazakab esmel korah tanta Mallayakas bintamu hiyame, nosse taf anaktiya ovala saturi. Sekala diman tasoreh art nah Sri Maharaja Auramal Hijayanamasya neeratin makwal kesbatma dirarati. Soye nukat hinamta rozan tufar avoranam sale 12-5379-01 orta mettanamo. Syirtah amantah gwena lajjum manikwata noyakin isbhanta Illahiyal suranamos

Catatan: Maaf, disini kami tak bisa memberikan terjemahannya. Ada protap yang harus dipatuhi.

Waktu pun berlalu selama ribuan tahun. Selama itu keadaan di kekaisaran Astaniya tetap aman dan makmur. Tidak pernah terjadi hal-hal yang bisa merusak tatanan kehidupan dunia. Hingga pada akhirnya tepat di masa raja yang ke 89 (Sar Tafaruka) memimpin, datanglah Nabi Salbi AS ke istananya. Sang Nabi datang hanya untuk menyampaikan kabar bahwa mereka harus berpindah Dimensi kehidupan. Sejak kedatangan sang Nabi, siapapun yang berkenan maka diberi waktu selama 1 tahun untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Ada beberapa tata cara khusus yang diajarkan oleh sang Nabi agar mereka layak untuk berpindah Dimensi kehidupan.

Dan akhirnya, seluruh penduduk yang telah mempersiapkan diri segera berpindah ke Dimensi lain bersamaan dengan ibukota Tumari-nya. Di tempat lain, siapapun orangnya atau apapun kotanya, maka jika sudah mempersiapkan diri sesuai dengan petunjuk sang Nabi mereka pun ikut berpindah ke Dimensi lain. Tinggallah beberapa kota yang harus tetap ada demi melanjutkan kepemimpinan dari kekaisaran Astaniya. Hal ini berlangsung selama lebih dari 2.000 tahun dan bergilir di beberapa kerajaan yang ada secara musyawarah. Sampai pada akhirnya keadaan harus berubah. Bekas kekaisaran Astaniya itu terbagi-bagi lagi dalam banyak kawasan dan kerajaan yang berdaulat. Sejak saat itulah kekaisaran Astaniya benar-benar menghilang (runtuh) tapi dikenang sebagai negara kesatuan yang termasyhur.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Rahayu… 🙏

Jambi, 13 Oktober 2018
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan sebelumnya, maka disini pun tidak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Adalah hak Anda sekalian untuk memilihnya. Kami di sini hanya bertugas menyampaikan dan mengingatkan saja. Percaya syukur, tapi kalau tidak ya silahkan.
2. Ada banyak hal yang tak bisa kami jelaskan disini, ada protap yang harus dipatuhi. Jadi apa yang disampaikan disini hanya sebatas yang diizinkan saja.
3. Bukalah lebar-lebar cakrawala hati dan pikiranmu. Persiapkanlah diri terus menerus dalam urusan ilmiah dan batiniah, karena apa yang pernah terjadi di masa kekaisaran Astaniya itu bisa saja terulang lagi di masa kita sekarang. Tidak ada yang tidak mungkin, meskipun kini terlihat banyak kekacauan dimana-mana. Karena jika sudah waktunya nanti, akan muncul sosok-sosok yang tercerahkan dan mereka itu akan menata kembali dunia ini. Siapapun yang rusak akan dihancurkan, sedangkan yang “waras” bisa merasakan kejayaan.

Iklan

3 respons untuk ‘Astaniya: Kekaisaran Dunia

    Asyifa wahida said:
    Oktober 21, 2018 pukul 9:21 am

    Subhanallah ….matur suwun mas sampun berbagi ilmu yg sngat bermanfaat untuk dunia dn akherat

    Smg dngn adanya ilmu ini dpat mnggerakkn hati saudara2 kita untuk tetap hidup dngn mntaati mnjalani sgl aturan/hukum yg allah tetapkn untuk kita semua ,supaya selamat didunia dn diakharet ….aamiinn

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 22, 2018 pukul 1:52 am

      Nggih sami2lah mbak Asyifa, nuwun juga karena masih mau berkunjung, syukurlah kalo bermanfaat.. 🙂
      Aamiin.. semoga aja begitu mbak.. karena hidup dalam ketaatan pada hukum dan aturan-Nya adalah kemuliaan, sekaligus modal untuk aman dan makmur.. Kejayaan dan keselamatan akan mengikuti… 🙂

    Falsafah Agung Leluhur Nusantara – Perjalanan Cinta said:
    Juni 25, 2019 pukul 3:33 am

    […] pernah membuktikannya. Di antaranya pada masa kerajaan Attalani, Matterama, Migdala, Syahala, dan Astaniya. Semuanya telah hidup dalam kemakmuran dan penuh kesejahteraan. Suatu keadaan yang di masa kita […]

Tinggalkan Balasan ke Harunata-Ra Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s