Semar Gugat

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Banyak kisah masa lalu yang mengandung pesan dan hikmah yang sangat berharga bagi kehidupan ini. Dan khususnya dalam kisah pewayangan, maka setiap lakon (cerita)-nya itu bisa dijadikan pembanding atau pelajaran hidup kita semua. Bahkan apa yang ada di dalamnya adalah gambaran nyata akan lika-liku kehidupan di dunia ini. Dan tak usah heran bahwa apa yang telah diceritakan dalam kisah pewayangan itu akan terulang lagi dan lagi di setiap zamannya, terutama sekarang ini.

Ya. Sebagaimana kodrat-Nya, maka kehidupan di muka Bumi ini selalu pasang surut, seperti ombak di tepian pantai. Dan ketika satu periode zaman akan berganti, maka banyak kekuatan supranatural dari Dimensi lain yang menyusup. Seperti pada masa para Pandawa masih hidup di mayapada ini. Para Dewa-Dewi justru ikut menyusup ke beberapa tokoh dan membuat gaduh seisi Bumi.

Sungguh, dulu zaman edan juga pernah terjadi. Saat itu terjadi perselisihan antara Bathara Guru (raja para Dewa-Dewi) yang menyamar sebagai Resi Wisuna dengan Bhatara Ismaya alias Semar (kakaknya Bhatara Guru), dimana Bhatara Guru kehilangan nalarnya karena rasa kasih sayang terhadap anaknya; Bhatara Kala. Singkat cerita Semar mengalami perang tanding dengan Resi Wisuna yang tidak lain adalah adiknya sendiri, dimana Semar terkena senjata Trisara sehingga menyebabkan ia sampai menggugat ke Sang Hyang Wenang, kakeknya sendiri di Kahyangan.

Pada masa lalu alam juga pernah murka, dimana hutan terbakar, hujan badai dan banjir melanda dimana-mana, petir menyambar-nyambar tak karuan, angin puting beliung mengamuk, dan musim sering tidak tepat waktu. Gunung-gunung pun ikut meletus dan Bumi bergerak (gempa bumi) lalu memuntahkan cairan kental berwarna hitam legam. Ada pula lemah terbam (tanah amblas) dibeberapa tempat yang menyebabkan banyak korban jiwa. Manusia berlarian kesana-kemari mencari selamat. Mereka dibuat bingung dan gelisah, hampir tak ada yang sempat memikirkan orang lain. Sementara saat kemarau air pun menghilang, tanah mengering, tanaman menjadi layu dan mati. Hewan dan Manusia juga banyak yang sakit dan kelaparan lalu mati. Udara jadi panas karena polusi. Itulah buah yang harus dipetik sebagai hasil dari perbuatan Manusia sendiri.

Sekelumit gambaran di atas adalah kenyataan dalam kehidupan Manusia sekarang. Kini alam telah dipaksa dan ditundukkan tanpa memperhatikan kelestariannya. Semua yang ada diambil dan dikuras untuk memenuhi kerakusan Manusia yang berujung pada murkanya alam itu sendiri. Ngunduh woh ing pakarti, itulah kolo bendu yang harus ditanggung karena Manusia mau dan rela menjalani zaman edan. Semua alur kehidupan tergerus dalam zaman edan, Manusia edan, dan seluruh lakon (kisah) kehidupan juga sama-sama edan. Semua tokoh juga ikut terseret dalam krisis besar kehidupan yang dapat dipahami dengan istilah KRISIS MENTAL dan KEBUDAYAAN.

Sebagaimana contoh, di masa lalu Bhatara Narada yang ikut larut dan menyusup dalam tubuh Prabu Kanekojati, tak mau kalah dalam menyemarakan zaman edan. Dosomuko (Rahwana) pun ikut menyusup pula pada tubuh Ontorejo. Maka kehidupan menjadi semakin kacau balau, karena semuanya larut dalam prahara. Dewa-Dewi menyusup pada tokoh Manusia dan ikut mendorong lahirnya pertempuran dan penghancuran tatanan kehidupan di dunia. Inilah yang menjadi awal kisah tentang “Semar Gugat“. Menggugat karena tinggal Sri Kresna, Wisanggeni dan Semar sendiri yang dapat bertahan dari arus krisis kehidupan dan menjadi kekuatan tri tunggal yang berusaha untuk menata kembali kehidupan dunia.

1. Amarah dan kekacauan
Adalah sebuah kisah tentang krisis yang terjadi di kerajaan Amarta, karena Prabu Puntodewo alias Yudistira yang bertahta dan memegang titah kerajaan kurang memperhatikan jalannya roda pemerintahan dengan baik. Dan justru terdengar kabar bahwa Prabu Puntodewo hendak menyatukan kerajaan Amarta dengan kerajaan Astinapura yang dipimpin oleh Prabu Duryudono. Mendengar kabar tersebut maka Prabu Kresna mengadakan pertemuan agung yang diikuti oleh Bolodewo, Setyaki, Sombo, dan Udowo untuk membahas persoalan krisis yang terjadi di kerajaan Amarta.

Pada saat pertemuan digelar, ditengah-tengah pembicaraan muncullah Ontorejo yang mengadu kepada Prabu Kresna tentang sikap Prabu Puntodewo yang tidak lagi memikirkan masa depan masyarakat dan pemudanya. Ontorejo berbicara dengan nada marah dan menyalahkan Prabu Kresna karena dianggap sebagai sesepuh dan penuntun yang tidak dapat mengendalikan sikap dan perilaku dari Prabu Puntodewo. Ontorejo yang wajahnya nampak merah padam itu sebenarnya telah dirasuki oleh Dosomuko (Rahwana).

Mendengar kemarahan Ontorejo, maka Bolodewa tidak dapat membendung amarahnya. Ontorejo sudah dianggap kurang ajar dan tidak punya tata krama. Maka terjadilah perang mulut yang sengit. Ontorejo bahkan diseret keluar oleh Bolodewo. Keadaan semakin memanas. Dan di saat perang tanding hampir dimulai, muncullah Semar untuk melerai pertengkaran tersebut. Lalu Semar mengingatkan pada Prabu Kresna untuk melihat keadaan yang sudah semakin rusaknya di kerajaan Amarta. Semar menyindir Prabu Kresna sebagai Dewa ketentraman dan Puntodewo sebagai Dewa kebahagiaan tidak berbuat apa-apa ketika melihat para pemuda dan masyarakat semakin kacau balau dalam terpaan krisis yang semakin besar. Semar menyerahkan persoalan besar tersebut pada Prabu Kresna untuk dapat menarik kembali Pandawa agar tidak berkumpul dan menyatu dengan Kurawa di Astina. Sementara Semar akan segera naik ke Kahyangan karena ia merasakan ada keganjilan di kadewataan yang menjadi sebab atas berbagai persolan yang terjadi di Amarta. Ia merasa ada pandito yang bernama Sabdo Dewo yang ternyata telah disusupi oleh Bhatara Guru.

2. Kerajaan Ombak Samudro
Suatu ketika penguasa kerajaan Ombak Samudro, Prabu Kanekojati, bersama-sama dengan Togok (alias Sang Hyang Antogo, kakak Semar dan Bhatara Guru yang menyamar) dan Bilung berada dalam suatu pembicaraan. Prabu Kanekojati yang di dalam dirinya telah disusupi oleh Bhatara Narada mengutarakan niatnya untuk menjajah tanah JAWA. Maka dari itu Prabu Kanekojati dari awal sudah menyiapkan siasat dengan jalan mengutus Begawan Sabdo Dewo untuk menyatu dengan Astina.

Bagi Prabu Kanekojati, tanah Jawa adalah tanah yang dikaruniahi dengan kekayaan alam yang sangat melimpah. Masyarakatnya hidup dalam suasana tentram dan damai. Tradisi dan kebudayaan yang adi luhung membuat masyarakat yang hidup di tanah Jawa memiliki pengetahuan yang tinggi serta budi pekerti yang luhur. Tanah Jawa adalah tanah yang didalamnya terbangun peradaban yang maju, terutama dibidang kesusastraan, pertanian, ketataprajaan, keprajuritan, seni budaya dan lain sebagainya. Tanah Jawa juga dikenal dengan kedalaman cipta, rasa dan karsa yang mewujud dalam ketinggian dan keluasan akal budi, kedalaman spiritual dan ke adi luhung-an seni budayanya.

Namun hasrat untuk menjajah tanah Jawa itu mendapat nasehat dari Togog dan Bilung agar tidak dilanjutkan. Mereka berdua mengharapkan agar Prabu Kanekojati mengurungkan niatnya. Namun Prabu Kanekojati tidak menggubris nasihat tersebut, bahkan ia segera menyiapkan pasukannya untuk menyerang tanah Jawa. Di tengah perjalanan pasukan mereka bertemu dengan prajurit Dorowati yang diikuti oleh putera-putera dari Pandawa seperti Gatot Koco, Wisanggeni, Ontoseno dan lain-lain. Maka terjadilah pertempuran yang sangat hebat.

3. Wrekudoro (Bima) dan Nogo Gini
Suatu ketika Nogo Gini memendam amarahnya pada Wrekudoro (Bima) karena sebagai isteri ia sangat jarang diperhatikan. Namun Wrekudoro selalu berkilah jikalau ia dianggap tidak memperhatikan Nogo Gini. Karena sangat kesal, maka pembicaraan yang membahas tentang biduk keluarga mereka itu sedikit memanas. Nogo Gini mengungkit bahwa Wrekudoro tidak sayang dan memperhatikan keluarga dengan baik. Ini terbukti dengan diamnya Wrekudoro padahal anaknya sendiri, Ontorejo, dihajar dan dijadikan bulan-bulanan oleh Bolodewo.

Akhirnya beranglah hati Wrekudoro saat ia mendengar kalau anaknya itu dihajar oleh Bolodewo. Ia segera berangkat mencari Bolodewo. Pertempuran sengit tak bisa dihindarkan. Namun belum sempat jatuh korban, segera Prabu Kresna melerai pertempuran di antara mereka. Prabu Kresna juga mendatangkan Hanoman yang memiliki aji Pengkabaran untuk melihat ke dalam diri Ontorejo yang ternyata sudah disusupi oleh Dosomuko (Rahwana). Maka wajar bila sikap Ontorejo menjadi sangat kasar pada Prabu Kresna dalam pertemuan agung.

Hanoman segera mengeluarkan Dosomuka (Rahwana) dari diri Ontorejo. Prabu Kresna memberikan wejangan bahwa pemuda-pemuda harus memiliki pengetahuan dan membangun dirinya dengan pengetahuan agar hidupnya menjadi lebih baik. Karena jika para pemuda tidak memiliki konsep dan aktivitas yang jelas, maka akan sangat gampang dirinya disusupi oleh kegelapan. Prabu Kresna juga menyampaikan pada Wrekudoro dan Bolodewo bahwa ia sedang mencari siapa yang mampu menandingi kesaktian Begawan Sabdo Dewo dan Prabu Kanekojati. Bahkan Prabu Kresna mencarinya hingga ke Kahyangan.

4. Pertapaan Sapto Argo
Di pertapaanya, Begawan Abiyoso (Maharesi Wiyasa) menerima kedatangan Abimanyu yang diiringi oleh Gareng, Petruk, dan Bagong. Disana mereka diajarkan tentang kewajiban-kewajiban yang harus diemban sebagai kesatria. Sang Begawan lalu berkata: “Siro ugo satrio arane kudu anteng jatmiko ing budi ruruh sarto wasis samubarang ipun“, yang bisa dimaknai sebagai berikut:

1) Siro ugo satrio arane (kamu juga kesatria namanya) ini berarti seorang kesatria itu adalah pemegang tiga kebaikan atau menjaga tiga kebaikan, yaitu:

1. Baik kepada Sang Pencipta.
2. Baik kepada Alam.
3. Baik kepada sesama.

2) Kudu anteng jatmiko ing budi ruruh sarto wasis samubarang ipun (harus tenang dan bagus budi pekertinya, semuanya tentang itu semua), yaitu dengan melakukan tiga hal berikut:

1. Banyak perduli pada sesama baik manusia, hewan maupun alam.
2. Memiliki tenggang rasa dan perasaan terhadap orang lain, siapapun.
3. Jangan sombong dan harus belajar dan belajar untuk lebih tahu tentang arti hidup dan kehidupan ini.

Selain itu, sang Begawan juga menambahkan bahwa ada lima prinsip dasar yang harus di laksanakan oleh seorang kesatria, yaitu:

1. Rumekso Kayuwaning Projo (memelihara/menjaga kedamaian dan kesejahteraan negara).
2. Ngayomi Poro Pandito Resi (mengayomi atau melindungi para pemuka agama atau tokoh masyarakat).
3. Tresno Marang Bongso lan Welas Asih Marang Sapodo-Padaning Tumitah (cinta terhadap bangsa dan welas asih terhadap seluruh ciptaan Tuhan).
4. Setyo Tuhu Marang Janji Sarto Nuhoni Marang Sabdo Kang Wus Kawedar (setia/berpegang teguh pada janji serta memenuhi setiap perintah yang sudah ditetapkan).
5. Tunduk Marang Bebener Kang Adedasar Adil (tunduk/patuh pada kebenaran yang berdasarkan keadilan).

Selain itu beliau juga menyampaikan lima hal yang harus dimiliki oleh seorang kesatria, yaitu;

1. Guno (kehebatan, kemampuan, kesaktian)
2. Sudiro (keberanian, gagah perkasa)
3. Susilo (kebenaran jiwa)
4. Anurogo (kehormatan, kebahagiaan)
5. Sambirogo (……..?)

Setelah mendapatkan wejangan dari Begawan Abiyoso itu, Abimanyu diminta untuk segera berangkat mencari Begawan Pamintosih (perwujudan dari Semar) yang sedang laku “Topo ngrame“: artinya bertirakat di keramaian. Di perjalanan, Abimanyu dihadang oleh bala tentara Ombak Samudro dan terjadilah pertempuran sengit. Perang yang hebat itu dimenangkan oleh Abimanyu.

5. Pertapaan Condro Wulan
Suatu ketika, Begawan Kanesworo Yekso dan Dewi Kanesworo Wati ingin mencari ketenangan dan ketentraman batin, namun jalan ketenangan itu terganggu karena Dewi Kanesworo Wati telah tergila-gila kepada Janoko (Arjuna). Akhirnya Kanesworo Wati berangkat menuju ke Amarta. Di perjalanan ia bertemu dengan Abimanyu dan terjadilah perang yang sangat hebat. Karena kesaktiannya Abimanyu terpental hanya dengan bentakan saja. Tubuhnya terlempar sangat jauh hingga jatuh dipangkuan Begawan Pamintosih (Semar).

Di Astinapura juga sedang terjadi pembicaraan serius. Duryudono, Puntodewo (Yudistira), Janoko (Arjuna), Nakulo dan Sadewo, berkumpul dengan Begawan Sapto Dewo untuk membicarakan gagalnya perang Bharotoyudho. Perang itu akan gagal dengan cara membunuh Semar. Janoko menyanggupi untuk menjalankan misi tersebut. Ia lalu mencari Semar untuk dibunuh, namun tidak disadari bahwa dibalik itu Begawan Sapto Dewo ikut bermain dan mendorong Janoko secara halus. Diperjalanan Janoko (Arjuna) bertemu dengan Begawan Kanesworo Yekso, dan terjadilah perang tanding hingga Janoko tak mampu meladeni kesaktiannya.

Tubuh Janoko terpental sangat jauh dan terjatuh dipangkuan Begawan Pamintosih yang sesungguhnya adalah Semar. Di pertapaan Condro Wulan itu Janoko (Arjuna) akhirnya bertemu dengan Abimanyu, anaknya. Mereka tidak mengetahui bahwa Begawan Pamintosih itu adalah Semar yang sedang menyamar. Janoko dan Abimanyu meminta pertolongan kepada Begawan Pamintosih agar mereka bisa mengalahkan Begawan Kanesworo Yekso. Terjadilah perang antara Begawan Pamintosih dengan Begawan Kanesworo Yekso. Pertempuran tersebut sampai merubah diri Begawan Pamintosih ke wujud asal sebagai Semar dan Begawan Kanesworo Yekso sebagai Bhatari Kanestren yang tidak lain adalah isteri dari Semar sendiri yang tengah menyusup.

Selanjutnya, terjadilah perang alang-alang kumitir yang melibatkan Kresna, Wisanggeni dan Semar. Mereka bertiga berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk menyelesaikan persoalan dunia yang sedang dilanda krisis di segala bidang. Semar mengatakan pada Kresna dan Wisanggeni untuk memetik hikmah dari semua kejadian ini. Sebab ada kalanya di zaman edan ini Dewa-Dewi juga sama-sama ikut edan. Orang yang sadar dan ingat tiba-tiba ikut hanyut dalam keadaan. “Sing eling dadi gendeng, sing gendeng dadi eling”. Inilah dinamika kehidupan di zaman yang serba gila itu.

Catatan: Dengan berbagai kesaktian sebenarnya bisa saja Semar atau Kresna segera menyelesaikan masalah di zaman edan itu, tapi itu tidak terjadi. Sebab tak ada yang mampu melawan kehendak takdir dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Karena pada setiap siklus tertentu, zaman edan akan tetap muncul dan siapapun harus terlibat di dalamnya terlebih dulu. Semuanya hanya bisa mengikuti apa yang sudah Tuhan putuskan pada waktu itu. Kisah akhirnya pun tetap akan sesuai dengan yang semestinya. Ada proses dan waktu tertentu untuk bisa selesai, sementara keadaan dunia baru akan kembali normal setelah itu.

Semar terus bertutur kepada Kresna dan Wisanggeni untuk tetap meneguhkan diri mereka menjadi tri tunggal yang dapat bersama-sama menata kembali kehidupan dunia. Disertai Kresna dan Wisanggeni inilah Semar melakukan gugat pada kehidupan dan mengadu pada Sang Maha Kuasa. Berharap keadaan segera berubah dan kembali normal seperti seharusnya. Masalah waktunya tentu hanya DIA-lah yang menentukannya. Ia hanya bisa berusaha dengan gigih bersama mereka yang tetap sadar diri.

Dan rasanya keadaan yang seperti pada kisah di atas sudah mulai terjadi di dunia ini. Banyak kekuatan supranatural yang dahsyat yang sudah turun ke Bumi dan mengendalikan keadaan. Semuanya juga terlarut dalam keadaan yang memihak pada kebatilan. Dan semua itu hanya bisa berakhir saat sosok “tri tunggal” mulai mengambil perannya. Mereka adalah sosok yang bertugas menata kembali kehidupan dunia ini menuju keadaan yang semestinya. Siapakah mereka itu di zaman ini? Kita tunggu saja tanggal mainnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan kita termasuk di antara kalangan yang selamat dan diselamatkan. Rahayu.. 🙏

Jambi, 29 Oktober 2016
Harunata-Ra

[Disarikan dari berbagai sumber]

Catatan: Terdapat banyak makna simbolik dalam kisah di atas, sehingga perlu dipahami lebih dalam untuk mendapatkan sari patinya. Apa yang diceritakan telah pula terjadi dan akan terus terjadi di dunia ini, khususnya di akhir periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Sampai zaman pun berganti yang baru, yaitu zaman Hasmurata-Ra.

Iklan

16 respons untuk ‘Semar Gugat

    Asyifa wahida said:
    Oktober 12, 2018 pukul 3:31 pm

    Matur suwun sanget mas..
    Mugi2 kita semua dipertemukan dngn sosok TRI TUNGGAL dn ikut dalam misi2nya….
    Dn mugi2 kita semua trselamatkn pd zaman super edan ini.. Aamiin ya rabbal alamiin

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 14, 2018 pukul 2:49 am

      Oke, sami2lah mbak Asyifa Wahida, nuwun juga masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Aamiin.. tapi sepertinya tidak semuanya loh mbak, kalau pun ketemu maka akan terbagi dua golongan tuh. Yang mengikuti atau justru bertentangan/bermusuhan dengan ketiganya itu.. Semoga kita termasuk yang ikut dipihaknya dan berusaha mengembalikan zaman edan ke zaman keidahan.. 🙂

        Asyifa wahida said:
        Oktober 14, 2018 pukul 3:36 pm

        Alhamdulillah Sngat bermanfaaat mas OEDI

        Enggih leres mas dn juga kita trmasuk yg mngikuti nya dlm perjuangnnya dimalam mngembalikn zaman keindahan yg tiada doanya.. Aamiin ya rabbal alamiin

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 15, 2018 pukul 1:37 am

        Syukurlah kalo gitu..
        Ya jika diberi umur panjang, semoga kita bisa ikutan dalam barisannya.. Karena tujuan dan hasilnya akan sangat indah.. 🙂

    Mr. X said:
    Oktober 12, 2018 pukul 10:35 pm

    Gempa terus menerus, gunung erupsi bersamaan, yang belum bencana banjir, bencana kerusuhan massal, serta meteor-meteor menghantam bumi. O…. Apakah kita tak menyadari bahwa masa itu sebentar lagi? Pertanda alam untuk menyambut Raja besar…. Nusantara menggeliat menatap masa depan. Timur ke Barat, Selatan ke Utara…

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 14, 2018 pukul 2:58 am

      Terima kasih mas Mr.X atas kunjungan dan dukunganya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Setuju mas karena sejarah emang sedang terulang lagi.. kian jelas dan bisa langsung dirasakan sendiri.. Dan kali ini bukanlah hal yg biasa atau pernah terjadi sebelumnya, sebab akan datang peristiwa yg luar biasa yg belum pernah terjadi sebelumnya… Pergantian zaman akan terjadi dan pembersihan total akan mengiringinya.. hanya yang mempersiapkan diri yg bakal selamat atau diselamatkan..

    sasmito said:
    Oktober 15, 2018 pukul 5:49 pm

    nyimaak

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 17, 2018 pukul 7:41 am

      Silahkan mas Sasmito, terima kasih atas kunjungannya.. semoga bermanfaat.. 🙂

    lukman said:
    November 27, 2018 pukul 11:37 am

    mas saya mau tanya. semar itu jin apa malaikat atau manusia atau gambaran . soalnya tentang semar banyak versi. mohon pencerahanya.

      Harunata-Ra responded:
      November 28, 2018 pukul 2:48 am

      Pertanyaan mas Lukman udah dijelaskan kok di artikel.. coba dibaca lagi baik2, yg tenang dan teliti.. 🙂

    lukman said:
    Desember 12, 2018 pukul 2:25 pm

    ok trimah kasih mas. beri sedikit bocoran saja. tentang asal usul semar dan semar hidup di zaman periode brapa dan di populerkan siapa di indonesia? setau saya tentang semar di populerkan wali 9

      Harunata-Ra responded:
      Desember 13, 2018 pukul 3:32 am

      Iya sama2lah mas, moga bermanfaat.. 😊

      Hmm.. Ttg detilnya maaf saya gak bisa jelaskan, ada protap yg harus dipatuhi.. Tapi bisa saya kasih sedikit info, bahwa Semar itu pada dasarnya bukanlah nama asli dari tokoh yg dimaksud.. Itu hanyalah sebuah gelar yg diberikan oleh masyarakat Jawa, khususnya pada masa2 penyebaran Islam yg dipimpin oleh para Wali Songo, khususnya oleh Sunan Kalijaga dalam pertunjukan wayang kulit.. Disinilah terjadi pergeseran dan perubahan kisah, ada pula yg sengaja ditambahkan utk disesuaikan dg misi dakwah yg ada pada masa itu.. Tokoh Semar sendiri sering menjadi tokoh central dalam sebuah lakon (cerita).. Sehingga pada akhirnya byk orang yg sampai tak mengenal lagi siapakah sosok Semar yg sebenarnya..

      Nah, menurut yg saya ketahui, nama sebenernya dari tokoh Semar itu adalah Ismaya. Lantaran berkedudukan tinggi di Kahyangan, nama lengkapnya adalah Sang Hyang Ismaya. Beliau memiliki kedua orang tua yg juga dari kalangan para Dewa (maaf tak bisa saya kasih tau namanya) dan dua orang saudara. Kakaknya bernama Sang Hyang Antogo, sementara adiknya bernama Sang Hyang Manikmaya. Di kemudian hari, di dalam pewayangan, Sang Hyang Antogo lebih dikenal sebagai Togog, sedangkan Sang Hyang Manikmaya dikenal sebagai Bhatara Guru, rajanya para Dewa di Kahyangan.. Ketiga kakak beradik ini memainkan peran yg sgt penting dalam kehidupan di Bumi di masa lalu.. Ttg periode waktunya, maaf gak bisa saya jelaskan disini, ada protap.. 🙏

    lukman said:
    Desember 14, 2018 pukul 4:04 pm

    trimah kasih mas. hemmm padahal sya pingin tau aj yg selama ini yg sya cri tau sejatihnya semar

      Harunata-Ra responded:
      Desember 16, 2018 pukul 9:31 am

      Sama2lah mas Lukman, teruslah mencari karena mungkin saja nanti sampeyan bisa mendapatkan info yg dicari selama ini dari orang selain saya dg lebih detil dan jelas.. Sekali lagi maaf kalo saya gak bisa byk menjelaskan, ada protap yg harus dipatuhi.. Terlebih emang belum waktunya bagi saya utk mengungkap fakta masa lalu ttg diri beliau itu secara gamblang.. 😊🙏

      Dan pesan saya, temukanlah jawaban yg benar dg melepaskan segala informasi umum ttg sosok beliau itu, termasuk gambaran fisiknya yg sudah populer dalam pewayangan (seperti yg ada dalam artikel ini), dg begitu kebenaran sejati akan bisa ditemukan.. Semoga berhasil.. 🙏

    Harja Jaya Wijayanti said:
    Januari 28, 2019 pukul 5:23 am

    Matur Nuwun,,,,mugi saged ndadosaken pepedang ing wedal sakmeniko, menentukan serta meneladani sikap kesatria dimasa kini,,,

      Harunata-Ra responded:
      Februari 4, 2019 pukul 3:34 am

      Sami2 mas Harja Jaya Wijayanti, terima kasih karena udah mau berkunjung, moga bermanfaat.. 🙂
      Semoga jiwa dan sikap kesatria yang sejati muncul kembali.. dg begitu dunia akan kembali tertata dan seimbang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s