Atariya : Teknologi Yang Ditinggalkan

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Apa yang terjadi di masa kita sekarang sebenarnya pernah terjadi di masa lalu. Kehidupan peradaban Manusia itu pernah berada di puncak tertingginya, dan tidak sedikit yang melebihi apa yang sudah kita capai hari ini. Dan sesuai dengan ketetapan-Nya, maka kemampuan dari Manusia itu, di setiap zamannya, akan terus berkurang. Baik dalam hal fisik (ukuran tubuh, kekuatan) sampai dengan kecerdasan dan batas usianya.

Nah, di kesempatan kali ini kami akan membahas tentang satu kaum yang pernah sangat berjaya di seluruh dunia. Mereka ini di antara yang terbaik dari semua kaum yang pernah ada. Berikut kisahnya:

1. Awal kisah
Pada sekitar awal-awal periode zaman kelima (Dwipanta-Ra), hiduplah sebuah kaum yang di dalamnya terdiri dari berbagai ras yang berbeda. Kaum ini bernama Hustala. Mereka ini adalah di antara Manusia yang selamat dari azab pergantian zaman sebelumnya. Dan setelah lebih dari ±14.436 tahun berikutnya, atas petunjuk Tuhan maka ada sekelompok orang dari kaum ini yang dibimbing langsung oleh seorang Nabi yang bernama Syis AS. Mereka ini lalu mendirikan sebuah kaum tersendiri yang tinggal di sebuah kawasan yang kita sekarang menyebutnya sebagai kota Madinah. Kaum tersebut diberi nama Asmantiya.

Selama ±2.700 tahun mereka hidup makmur di wilayah yang dulunya disebut Maltasya itu. Peradaban mereka tinggi dan sangat kuat dalam hal ekonomi dan militer. Hingga pada akhirnya sebagian dari mereka itu lalu diperintahkan untuk berhijrah ke wilayah lain yang disebut dengan Mahtiram. Negeri ini sekarang dikenal dengan nama kota Makkah. Tapi pada masa itu kondisinya jauh berbeda dengan sekarang. Disana masih terhampar luas hutan-hutan yang lebat dan padang rumput yang menghijau. Tanahnya subur dan banyak terdapat sumber air, telaga dan sungai-sungai yang mengalir jernih. Dan dalam satu tahunnya terbagi ke dalam empat musim yang berbeda, yaitu musim semi, panas, gugur dan dingin (salju). Kondisi ini sama dengan yang terjadi di wilayah Maltasya pada masa itu.

Catatan: Manusia yang hidup pada masa kaum ini berukuran tubuh setinggi 10-12 meter, dengan umur rata-rata minimal 350 tahun. Ras-nya pun beragam, bahkan lebih banyak dari yang hidup di masa kita sekarang. Hanya saja jarak antar setiap kelahiran tidak sedekat sekarang, atau untuk bisa mendapatkan keturunan tidak semudah yang sekarang. Setiap orangnya butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa punya keturunan, bahkan sampai puluhan tahun. Dan ini normal untuk standar kehidupan di masa itu. Sehingga meskipun mereka bertubuh sangat besar dan berumur panjang, tapi kepadatan penduduk dunia tak seperti sekarang.

Sesampainya di wilayah Mahtiram, ke 313 orang dari kaum Asmantiya yang diutus kala itu mulai membangun peradaban baru disana. Karena sudah dibekali dengan ilmu yang cukup sejak di kota Maltasya, maka hanya dalam waktu yang relatif singkat mereka bisa mendirikan kota yang indah dengan gedung-gedung yang megah. Dan karena di negeri Mahtiram itu juga dianugerahi kekayaan alam yang berlimpah, maka kejayaan dari kaum Asmantiya disana perlahan-lahan mengalahkan apa yang ada di negeri asalnya, yaitu Maltasya. Bahkan setelah dua generasi berikutnya, dan karena saking majunya, pusat pemerintahan dari kaum Asmantiya pun akhirnya dipindahkan ke kota Mahtiram. Kota Maltasya hanya menjadi kota terbesar kedua yang dibangun oleh kaum Asmantiya.

Catatan: Kaum Asmantiya ini pernah memperbaiki bangunan Ka’bah yang kala itu posisinya miring ke utara. Jadi, walaupun di negeri Mahtiram itu belum pernah ada Manusia yang tinggal disana – sejak memasuki periode zaman kelima (Dwipanta-Ra), maka bangunan Ka’bah sudah ada. Bangunan suci ini bahkan sudah ada sejak periode zaman sebelumnya (Swarganta-Ra). Dan ketika terjadi proses transisi dari zaman ke empat (Swarganta-Ra) menuju zaman kelima (Dwipanta-Ra), negeri Mahtiram itu sempat terkena dampak perubahan besar tapi bangunan Ka’bah ini selamat dari kehancuran. Cuma miring saja posisinya. Namun bangunan Ka’bah tersebut sudah tidak ada lagi di masa sekarang, bahkan sejak di awal periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Yang di Masjidil Haram itu adalah bangunan yang lain, yang didirikan di tempat yang sama dan telah berulang kali mengalami pemugaran atau pembangunan ulang.

Begitulah kaum Asmantiya ini berpindah lagi ke tempat yang lain (Mahtiram). Awalnya mereka itu tinggal di kawasan barat Nusantara dengan nama kaum Hustala. Setelah hidup selama ±3.757 tahun, atas petunjuk Tuhan mereka lalu bermigrasi ke daratan India-Pakistan dan mendirikan kaum baru yang bernama Apuya. Disana mereka hidup selama ±4.679 tahun, sampai pada akhirnya diperintahkan untuk menyebar di seputar kawasan yang sekarang disebut dengan negara Afganistan, Turkmenistan, Azerbaijan, Armenia, Turki, Iraq dan Iran. Di ke tujuh wilayah tersebut mereka kembali membangun peradaban yang tinggi, dengan nama kaum yang berbeda-beda dan hidup selama ±6.000-an tahun disana. Tapi ini belum berakhir, karena sekali lagi sebagian dari mereka yang tinggal di wilayah Iraq, yang sudah bernama kaum Altam itu, di perintahkan untuk berhijrah ke sebuah wilayah yang sekarang disebut dengan Madinah. Disana mereka lalu mendirikan kaum yang baru dengan nama Asmantiya.

Selanjutnya, meskipun tak semuanya, maka dari kawasan Madinah ini mereka lalu menetap di wilayah yang kini disebut dengan Makkah. Selama ±13.789 tahun mereka tinggal disana dan menjaga peradabannya dengan baik, yang sesuai dengan hukum Tuhan. Hingga pada akhirnya datanglah petunjuk Ilahi melalui Nabi Syis AS bahwa sebagian dari mereka itu – yang tinggal di kota Mahtiram – harus berhijrah ke tempat lain dan mendirikan peradaban baru disana. Sisanya diperintahkan untuk berpindah ke Dimensi lain. Dan nanti, setelah tugasnya selesai, maka bagi siapapun yang telah menjalankan tugas berhijrah ke tempat lain itu – lalu mendirikan peradaban baru disana – boleh menyusul kaumnya yang telah lebih dulu berpindah Dimensi kehidupan. Tata caranya sudah diberi tahu sebelumnya.

Ya. Mereka yang berhijrah saat itu lalu terbagi ke dalam 5 kelompok. Di setiap kelompok terdiri dari berbagai ras yang berbeda, sama dengan yang hidup di kota Mahtiram sebelumnya. Tidak kurang dari 70 orang di setiap kelompoknya. Dan mereka ini terus menjalankan tugas yang telah diberikan dengan tulus, yaitu menyebar ke 5 tempat yang berbeda. Dengan semangat mereka pun memanfaatkan semua kemampuan yang ada untuk bisa membangun peradaban baru di tempat yang baru. Disini tentunya akan disesuaikan pula dengan kondisi wilayah dimana mereka tinggal. Sehingga terciptalah 5 masyarakat dan kebudayaan baru yang serupa tapi tak sama.

2. Kaum Atariya yang masyhur
Tersebutlah sebuah negeri yang di dalamnya hidup orang-orang yang telah di anugerahi dengan berbagai kenikmatan dan kelebihan. Wilayah mereka pun telah dipenuhi dengan kesuburan dan kemakmuran. Pada masa itu, susah dicari perbandingannya, karena negeri ini terkenal dengan kekayaan alam yang berlimpah dan letak geografi yang sangat strategis. Penduduknya pun hidup dalam keadaan aman dan damai, selalu bergotong royong, dan tak pernah ada pertikaian di antara mereka. Bahkan perdebatan pun tak ada, lantaran bagi mereka itu hanyalah tindakan bodoh yang tidak terpuji. Tata krama, sopan santun, cinta dan kasih sayanglah yang mereka utamakan dalam melakukan apapun.

Atas kenikmatan itu, maka hal ini jelas menjadi modal utama untuk bisa membangun peradaban yang gemilang. Terlebih orang-orang yang hidup di negeri yang disebut Suraya itu memiliki kemampuan yang tidak biasa. Mereka punya kecerdasan yang berbeda dengan umumnya Manusia pada masanya. Ide kreatif dan karya cipta terus mereka kembangkan. Dan dalam waktu yang relatif singkat, mereka sudah berhasil memiliki peradaban yang sangat tinggi.

Ya, kaum yang dikenal dengan nama Atariya itu termasuk di antara kaum-kaum yang tertinggi peradabannya dalam sejarah Manusia. Di masanya dulu, mereka bahkan menjadi yang terhebat dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Siapapun yang pernah melihatnya pasti berdecak kagum dengan apa yang telah dicapai oleh kaum ini. Apapun yang sudah pernah diraih oleh kaum-kaum terdahulu sudah mereka capai juga, begitu pula dengan kaum-kaum sesudahnya. Sangat sulit menyamai keberhasilan dari kaum Atariya ini, bahkan tak ada yang sebanding dengan mereka.

Catatan: Maaf, disini kami tak bisa menjelaskan tentang detil lokasi dimana ibukota kaum Atariya itu berada. Ada protap yang harus dipatuhi agar selalu
terjaga kerahasiaannya. Tapi jika sudah waktunya nanti, semuanya akan terungkap dengan nyata.

Dan kaum yang hebat ini adalah di antara 5 kelompok Manusia yang dulu telah ditugaskan untuk mendirikan peradaban baru. Mereka berasal dari kaum Asmantiya yang pernah tinggal di kota Mahtiram. Dan mereka ini adalah satu kelompok yang diperintahkan untuk pergi ke arah selatan-tenggara, tepatnya ke wilayah Nusantara sekarang – bisa dibilang pulang kampung. Di masa itu kawasan ini belum terpisah-pisah oleh lautan, masih berupa satu daratan yang sangat luas dan menyatu dengan Asia dan Australia.

3. Kejayaan kaum Atariya
Dalam artikel ini kami tidak akan menjelaskan secara detil tentang kondisi perang – seperti dalam artikel sebelumnya. Tentulah kaum Atariya ini pernah berperang, beberapa kali malah, karena perang itu sendiri adalah bagian utama dari sunnah kehidupan ini. Tapi disini kami hanya akan membicarakan yang lainnya saja, khususnya tentang kejayaan dari peradaban mereka.

Dan salah satu penyebab utama kaum ini bisa bangkit dan meraih kejayaannya adalah karena mereka memiliki sumber energi yang berlimpah. Itu terjadi lantaran ada batu permata-kristal yang disebut Menas. Bentuknya selalu bundar alami (seperti mutiara) dan memancarkan cahaya warna-warni yang berkilauan. Keistimewaannya berada jauh di atas batu kristal energi, baik yang berwarna putih maupun yang biru. Karena satu butirannya saja bisa memiliki energi sebesar 5-10 pisi (1 pisi = 10 megaton) dan bila dipergunakan dengan cara yang tepat, maka energinya bisa bertambah dua kali lipat. Selain itu keistimewaan dari Menas ini adalah sifat energinya yang kekal, alias tak pernah habis walaupun terus dipakai – selama bentuknya masih utuh atau tidak hancur. Keutuhan bentuk juga akan mempengaruhi kemampuannya dalam menyerap energi alam.

Hanya saja barang tambang jenis ini tak mudah untuk ditemukan. Sangat langka, dan di Bumi ini hanya terdapat di dua tempat yang berbeda. Dan untuk bisa mendapatkannya, maka harus di lakukan dengan cara yang khusus. Tidak semua orang yang bisa, dan tidak pula hanya mengandalkan teknologi pertambangan saja. Hal ini sangat dirahasiakan, hanya beberapa orang saja yang tahu, dan ketika sudah mendapatkannya, maka hanya pemimpin tertinggi mereka sajalah yang bisa mengaktifkan Menas ini agar bekerja maksimal. Tanpa hal itu, maka permata-kristal Menas ini hanya akan sama dengan baru kristal energi pada umumnya.

Catatan: Pada masa itu, ada beberapa kerajaan yang sudah memanfaatkan energi batu kristal putih atau pun yang biru untuk kebutuhan teknologinya. Mereka memiliki teknik khusus untuk bisa mengeluarkan energinya. Tapi cuma kaum Atariya saja yang bisa menggunakan energi yang berasal dari Menas. Mereka pun bisa seperti itu karena telah diajari secara khusus oleh Nabi Syis AS. Dan sesekali seorang Malaikat pun turun membantu atau memberi petunjuk teknis tentang beberapa hal. Sebuah anugerah yang hanya diberikan kepada mereka saja. Tentunya disini karena mereka sangat patuh dan mengagungkan Hyang Aruta (Tuhan YME).

Sungguh, kaum ini telah sampai pada puncak peradaban Manusia. Di internal kerajaannya, mereka terbagi 4 dalam hal kemampuannya. Ini sesuai dengan karakter dan bakat dari masing-masing individu. Siapapun berhak memilih apa yang ia sukai. Dan hebatnya lagi mereka tak pernah saling iri-dengki-fanatik atau bahkan sampai bentrok lantaran beda keilmuan. Semua orang telah sadar diri terhadap peran dan kemampuan yang dimilikinya. Tidak ada perdebatan, karena justru mereka saling membantu dengan cinta dan ketulusan. Silaturahim di antara mereka sangat terjaga erat dan bukan hanya sebatas tampilan belaka (pura-pura).

Adapun demografi di wilayah kerajaan kaum Atariya ini (Suraya) adalah sebagai berikut:

1. Di utara, penduduknya hebat dalam bidang molekuler dan rekayasa genetika.
2. Di selatan, penduduknya hebat dalam bidang teknologi mesin dan elektronik.
3. Di timur, penduduknya hebat dalam bidang spiritual dan kebatinan.
4. Di barat, penduduknya hebat dalam bidang kesaktian (ilmu kanuragan dan kadigdayan).
5. Di tengah, ini merupakan pusat negara sehingga mereka yang tinggal disana mengadopsi semua keahlian dari ke empat kawasan lainnya.

Ke empat hal di atas – kemampuannya – merupakan hal yang sangat menonjol di setiap wilayah negara Suraya. Ini adalah pencapaian yang luar biasa dari kaum Atariya. Mereka pun sangat memperhatikan urusan pendidikan dan teknologi, terus mengembangkannya dengan banyak melakukan penelitian. Namun demikian mereka juga sangat mendalami ilmu spiritual dan kesaktian. Setiap orang terbiasa dalam mengasah kedua hal itu (ilmiah dan batiniah) secara bersamaan. Inilah yang membuat mereka hidup dalam keseimbangan. Dampaknya pun sangat positif bagi diri mereka sendiri dan alam sekitarnya.

Berikut ini beberapa contoh Neitu (teknologi) yang telah mereka miliki, yaitu:

1. Halum
Mereka telah berhasil membangun beberapa tempat semacam komplek istana yang mengambang di udara. Itu bisa terjadi lantaran kaum ini sudah sangat menguasai teknologi anti gravitasi bumi. Teknologi ini oleh mereka disebut dengan Halum.

2. Ultram
Ini adalah pesawat antariksa yang berkecepatan melebihi cahaya. Ukurannya sangat besar (15-20 kali stadion GBK), sehingga bisa menampung banyak penumpang dan berbagai jenis kehidupan. Ada pula taman bunga yang indah, kolam ikan, dan perkebunan buah dan sayuran yang subur di dalamnya. Yang semuanya itu diperuntukkan sebagai kebutuhan hidup mereka (makanan dan penghasil oksigen) selama menjelajahi angkasa raya. Dan dengan pesawat ini mereka telah berhasil menjelajahi banyak Planet dan Galaksi.

3. Masim
Ini adalah kendaraan sejenis mobil terbang yang bisa membawa 4-6 orang penumpang.

4. Koral
Ini adalah kendaraan sejenis motor terbang yang bisa membawa 2-3 orang sekaligus.

5. Midir
Ini adalah alat transportasi yang bentuknya seperti papan seluncur tapi bisa terbang.

6. Assahil
Ini adalah alat transportasi yang berbentuk baju terbang bermesin jet yang hampir tak bersuara.

7. Nifel
Ini adalah alat komunikasi jarak jauh tanpa batas, tanpa satelit. Perangkatnya ada yang berbentuk seperti jam tangan, liontin, dan cincin. Ada motte (hologram)-nya jika diaktifkan.

8. Rastra
Ini adalah alat yang bisa digunakan untuk ber-teleportasi dalam jarak ribuan kilometer.

9. Wiltra
Ini adalah karya yang sangat istimewa dari kaum ini lantaran berupa mesin penjelajah waktu. Siapapun yang menggunakannya bisa datang ke masa lalu atau pun ke masa depan. Hanya saja tidak semua orang yang boleh menggunakannya. Ada syarat khusus yang harus dipenuhi agar tidak disalahgunakan.

10. Hultra
Ini juga merupakan karya cipta yang sangat istimewa dari kaum ini, sebab mesin ini bisa membuka portal Dimensi  lain. Hanya saja selalu dibatasi jumlahnya dalam setiap kali di aktifkan. Dan tentunya tidak untuk semua orang, alias hanya bagi kalangan tertentu saja.

Demikianlah sebagian contoh tentang pencapaian yang pernah dialami oleh kaum Atariya. Dan tidak lengkap jika tidak menerangkan tentang sisi lain dari kehebatan mereka yang bukan terkait dengan teknologi. Di antaranya:

1. Mampu ber-telepati.
2. Mampu ber-telekinesis.
3. Mampu berbicara dengan hewan dan tumbuhan.
4. Bisa mengendalikan 5 elemen alam (air, api, tanah, udara, dan petir).
5. Bisa terbang, menghilang, dan mengubah wujudnya.
6. Menguasai berbagai jurus beladiri (kanuragan) dan ajian kesaktian (kadigdayan).
7. Bisa berpindah ke dimensi lain (dalam waktu sementara).

Ke tujuh hal di atas tentulah baru bisa dikuasai oleh kaum ini dengan teknik dan latihan yang khusus. Tak ada yang ujug-ujug bisa menguasainya. Memang tidak semua orang bisa menguasai ke semuanya itu, tapi setiap pribadi dari kaum ini setidaknya menguasai 1-2 poin dari ke tujuh hal di atas. Karena itu tak ada yang berani macam-macam dengan mereka.

4. Puncak kejayaan
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, maka kaum Atariya ini sudah memiliki peradaban yang sangat tinggi, bahkan jauh di atas kita sekarang. Hanya saja apakah hal itu sudah memuaskan hati mereka? Apakah yang mereka “cari” di dunia ini telah ditemukan? Jawabannya tidak. Sebab pada akhirnya mereka justru meninggalkan semua teknologinya. Mereka pun hidup sederhana layaknya orang di pedesaan.

Catatan: Walaupun kaum ini hidup dalam kecanggihan teknologi, mereka tidak pernah lalai dengan kewajibannya. Mereka tetap patuh dengan setiap hukum Tuhan dan senang dalam menunaikannya. Karena itulah banyak orang bijak yang tinggal di negeri mereka. Tapi entah mengapa semakin mereka hebat dalam kemegahan dunia, maka rasa tenang dan bahagia yang diinginkan tak kunjung di dapat. Itu sangatlah mereka sadari, karena prestasi apapun yang bisa mereka capai – yang bersifat keduniawian – tetap saja membuat mereka terus merasakan hampa dalam hidup dan kehidupannya – walau sudah berperadaban sangat tinggi. Karena itulah, dengan kesadaran hati mereka lalu memutuskan untuk beralih ke cara hidup yang lain. Dan ternyata itulah yang bisa membuat mereka tenang dan bahagia.

Tapi, kesederhanaan mereka ini tidak biasa. Sebelum mereka benar-benar meninggalkan teknologinya, maka secara bergotong royong mereka sudah menata sebuah kawasan khusus yang akan dijadikan sebagai tempat tinggal barunya. Dalam pada itu Nabi Syis AS juga ikut membantu, sehingga beberapa mukjizat pun terjadi pada saat pembangunan. Sehingga ada dua tempat yang selesai dibangun, pertama yang berada di daratan yang disebut Niwata, dan yang kedua yang berada di angkasa dengan sebutan Niwatu. Kondisinya sangat alami khas pedesaan yang indah permai.

Dan siapapun yang ingin menetap disana, maka ia harus memenuhi syarat tertentu. Misalnya sudah meninggalkan segala bentuk keduniawian, dan mengerti tentang seluk beluk urusan spiritual/keyakinan/agama minimal di tingkat ketiga, atau yang disebut Haqqin (kita sekarang menyebutnya sebagai  Hakekat). Selain itu, seseorang juga harus sudah menguasai setidaknya 4 jenis kemampuan utama dalam kaumnya, yaitu telepati, telekinesis, mampu berbicara dengan hewan dan tumbuhan, serta harus bisa terbang, menghilang, dan mengubah wujudnya (minimal ke dalam 3 bentuk yang berbeda). Standar ini berlaku bagi siapapun tanpa pandang bulu.

Catatan: Kedua tempat itu (Niwata dan Niwatu) sebenarnya simbol dari perjalanan hidup seseorang, karena itu tidak bisa seenaknya dimasuki. Ada dinding pembatas yang tak kasat mata mengelilinginya – yang tak bisa ditembus jika tidak berhak. Setelah meninggalkan urusan keduniawian dan memenuhi syarat khusus lainnya, ia baru akan diterima untuk tinggal di sebuah tempat yang tenang dan damai, yang jauh dari hiruk pikuk duniawi. Itulah Niwata, suatu tempat yang jauh dari kemewahan duniawi. Karenanya mereka yang tinggal di sana tidak membawa apa-apa dari tempat tinggalnya dulu, kecuali pakaian yang melekat ditubuhnya saja. Itu pun hanya pakaian seperti yang biasa dikenakan oleh para Resi atau orang-orang yang pergi ber-Haji (pakaian ihram). Dengan kata lain cuma dua helai kain panjang warna putih atau krem saja yang dibentuk pakaian. Bahkan sandal atau sepatu pun tidak mereka pakai lagi, lantaran mereka ingin lebih menyatu dengan alam.

Ya. Di Niwata seseorang akan terus mensucikan dirinya dengan berbagai laku dan kegiatan. Pikiran tentang hal ihwal duniawi selalu mereka abaikan, bahkan terus ditinggalkan. Selanjutnya, ketika sudah memenuhi syarat, barulah ia akan diterima untuk tinggal di Niwatu. Level kehidupan di tempat kedua ini lebih tinggi dan akan menjadikan seseorang lebih banyak bersyukur, rendah hati, dan berserah diri kepada-NYA. Jika tidak, ia akan turun lagi ke Niwata untuk bisa memperbaiki diri sebelum bisa kembali lagi ke Niwatu.

Sungguh, pada akhirnya kedua tempat itu (Niwata dan Nuwatu) menjadi tujuan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kaum Atariya. Dengan kesadaran yang tinggi, setiap orang berusaha untuk bisa ke sana. Karena mereka yang tinggal di sana adalah orang-orang yang telah mencapai pencerahan. Hati dan pikirannya selalu dalam keadaan tenang dan damai. Lalu jika mereka tidak berada di tempat itu, tentunya mereka sedang berada di belahan Bumi lainnya untuk menambah wawasan dan atau menjalankan tugas. Sesekali di antara mereka juga ada yang berpetualang ke dimensi lain untuk menjalankan tugas khusus.

Demikianlah keadaan mereka di sana, tidak lagi memikirkan urusan duniawi kecuali ada tugas yang teramat penting. Mereka hanya fokus pada urusan batin dan bertindak hanya berdasarkan petunjuk Tuhan. Selalu seperti itu, sampai pada akhirnya satu persatu dari mereka berpindah Dimensi kehidupan.

Dan inilah puncak kejayaan Manusia  versi kaum Atariya, yang sebenarnya juga untuk kita semua. Tidak lagi berurusan dengan hiruk pikuk duniawi, karena selalu fokus pada ketenangan hati dan pikiran. Jika pun mereka tetap berlatih “ilmu kebatinan”, maka itu hanya untuk bisa terus mengasah kemampuan yang tersembunyi di dalam dirinya sendiri. Selebihnya mereka hidup dalam kesederhanaan dan cuma untuk keperluan bertahan hidup secukupnya. Dan semuanya itu hanya agar bisa mengabdi dan mengagungkan Hyang Aruta (Tuhan YME) dengan lebih fokus. Sebab kehidupan dunia ini bersifat sementara dan penuh ilusi.

Catatan: Sebenarnya kita tidak boleh menilai tentang siapakah kaum yang paling hebat di antara semua kaum yang hidupnya mulia dan mendapatkan bonus untuk berpindah Dimensi kehidupan. Sebab di antara mereka itu ada perbedaan zaman, model kehidupan, dan ujian hidup yang tidak sama untuk di lalui. Demikianlah Tuhan mengaturnya sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan dari hamba-Nya sendiri. Dan hanya DIA-lah yang tahu siapakah yang terbaik, sedangkan tugas kita adalah terus berusaha untuk mengikuti jejak para leluhur yang telah bijaksana dalam kehidupannya. Di antaranya seperti kaum Atariya ini.

5. Daftar raja-raja
Sebagai kaum yang terpandang, sudah barang tentu mereka ini telah memiliki pemimpin tertinggi yang hebat. Bahkan hal ini sudah terjadi sebelum kaum Atariya didirikan – alias ketika masih menjadi kaum Asmantiya. Dan sesuai dengan petunjuk dari Nabi Syis AS, maka kepemimpinan di negeri ini di lakukan secara estafet dari satu orang ke yang lainnya. Tetapi disini bukannya tahta warisan, karena siapapun berhak menjadi pemimpin asalkan ia bisa memenuhi syarat yang sudah ditentukan. Termasuk telah berhasil memegang 3 benda pusaka utama warisan Nabi Syis AS (tongkat, cincin, dan mustika) dan mendapatkan restu dari Daiwan (majelis umat yang diisi oleh orang-orang bijak). Hanya akan ada satu orang saja yang terpilih di setiap masa pergantian kepemimpinan. Dan dialah sosok yang terbaik dari kaumnya.

Catatan: Bisa memegang tiga pusaka warisan Nabi Syis AS merupakan simbol telah mendapatkan restu dari Tuhan, sedangkan disetujui oleh para Daiwan (majelis umat) adalah simbol telah direstui pula oleh alam dan makhluk di Bumi. Keduanya adalah wujud keseimbangan, lantaran memuat kesatuan restu antara yang vertikal dan horizontal.

Adapun nama-nama pemimpin dari kaum ini adalah sebagai berikut:

1. Harken -> pendiri kaum Atariya.
2. Moreyan
3. Galtah
4. Sedar
5. Asham
6. Kelura
7. Magaru
8. Sahuni
9. Jasalu
10. Nebata
……
……
51. Nyajala
52. Hessah
53. Posani
54. Ustani
55. Rakani
56. Tartani
57. Wisala
58. Erdanu
59. Qultub
60. Disatim
……
……
121. Serakel
122. Menyar
123. Raweda
124. Hietan
125. Osmalin
126. Niyadani
127. Gharat
128. Bismora
129. Falfaye
130. Ismurin
131. Zaktanir
132. Semura -> pemimpin terakhir kaum Atariya. Di masanya negeri mereka (Suraya) lalu dipindahkan ke Dimensi lain.

Dalam sejarahnya, setiap pemimpin di kaum ini telah memiliki kemampuan di atas rata-rata penduduk dan di anugerahi umur yang sangat panjang. Tidak ada dari mereka yang memimpin selama kurang dari 200 tahun. Karena itulah kaum ini tetap berdiri selama ±27.457 tahun, sampai akhirnya pindah ke Dimensi lain. Dan setiap pemimpin di kaum ini selalu berhenti dari jabatannya ketika memang harus berhenti. Biasanya terjadi antara 3-5 tahun sebelum ia berpindah Dimensi kehidupan (moksa).

6. Akhir kisah
Kehidupan dari kaum Atariya ini sangatlah berbeda dari kaum yang lainnya. Setelah di antara mereka mulai tinggal di kawasan Niwata dan Niwatu, satu persatu teknologi yang telah diciptakan tidak lagi dipakai tapi disembunyikan – termasuklah permata-kristal Menas. Di tempat yang dirahasiakan, semuanya itu tersimpan dengan sangat baik karena suatu saat nanti akan dipergunakan lagi tapi oleh kaum yang lain. Tak ada yang bisa tahu jika tidak mereka beri tahu atau telah memiliki “kunci” rahasianya.

Selanjutnya, ketika kloter terakhir dari kaum ini sudah tinggal di Niwata, tiba-tiba kota besar yang mereka bangun (Suraya) hilang tak berbekas. Ada seorang Malaikat yang ditugaskan untuk memindahkannya ke Dimensi lain. Sejak saat itu, tempat yang sebelumnya menjadi lokasi ibukota kaum Atariya  berubah menjadi hutan belantara yang sangat lebat. Seolah-olah tidak pernah ada peradaban disana. Butuh waktu ribuan tahun sampai ada kaum lainnya yang menetap disana dan membangun peradaban baru.

Catatan: Dalam waktu tertentu, beberapa orang dari kaum Atariya yang sudah berpindah Dimensi itu mendapatkan tugas untuk kembali ke Bumi. Tujuannya adalah untuk membantu kaum-kaum yang terpilih agar bisa membangun peradaban yang tinggi. Hal ini pernah terjadi berulang kali sampai di awal periode zaman ini (Rupanta-Ra).

Tapi, 50 tahun sebelum ibukota kaum Atariya dipindahkan, maka kepada beberapa orang yang ditugaskan untuk menyebar ke berbagai penjuru, diberikanlah petunjuk yang penting. Seorang Utusan Tuhan yang menjadi guru mereka, yaitu Nabi Syis AS, datang lagi untuk menemui. Beliau sengaja datang hanya untuk menyampaikan pesan dan wasiat. Dan karena kaum ini terbiasa menggunakan dua bahasa dalam kehidupan sehari-harinya, maka pesan tersebut disampaikan dalam dua bahasa yang berbeda pula. Berikut ini kalimatnya:

Akhe dama teya kalo nae makte namur yame aosi megana elah monta. Moseru nayi kamsul Nusantare manyu der hatik nor naleb sinah magh anasta. Reh mate yakul hatam dis syahi nande kayate maktera. Swandi nayamo dalut hanaketa sij anam tal hatera nu Sri Maharaja Almusyana Hattaniwa biye nantir. Teru nas halis kel arn 110-235-467-980-001 wel harat manus rabatin

Arkamiruza muliatamayasa nahruwiya hunalin syaparuwasa. Yamaditasya mayadipatan himal Nusantara ahmulaya batayasyiri paryana. Martapuyasa nikramuya paridasani hayatena battaniyasa. Supayinamah antayuwasa judilakani murudana Sri Maharaja Almusyana Hattaniwa suwambayatisa. Alsaniya marutan 110-235-467-980-001 nahasiya mitapuyasna

Demikianlah pesan dan wasiat yang disampaikan oleh sang Nabi kepada mereka yang bertugas untuk menyebar ke berbagai penjuru. Ini berlaku bagi mereka dan keturunannya, sebelum atau sesudah mendirikan kaum yang baru. Juga berguna pula bagi kita sekarang jika bisa memahaminya.

Catatan: Maaf, kami tak bisa memberikan terjemahan dari pesan dan wasiat di atas. Ada protap yang harus diikuti.

Selain itu, seperti pada kisah kaum yang lainnya, maka kepada kaum Atariya ini pun kita bisa mengambil pelajaran bahwa dengan tetap patuh mengikuti hukum Tuhan, maka kehidupan pun akan tetap maju dan makmur. Justru dengannya akan datang petunjuk dan anugerah besar, yang bisa membangkitkan kejayaan yang luar biasa. Terlebih dengan bisa meninggalkan segala hiruk pikuk duniawi, maka seperti kaum yang hebat ini kita pun bisa mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Karena segala pencapaian duniawi itu bukanlah yang terbaik, sehebat apapun itu. Semuanya itu hanyalah ujian dan rayuan yang sangat memengaruhi diri siapapun. Tak ada yang didapatkan kecuali sementara dan akhirnya hampa.

Sedangkan kisah akhir dari kaum ini adalah mereka tidak lagi tinggal di alam nyata dunia ini, di muka Bumi ini, sejak jutaan tahun silam. Mereka semua telah berpindah Dimensi kehidupan, kecuali bagi yang mendapatkan tugas untuk melanjutkan garis keturunan dari kaum AtariyaSetelah mereka selesai menjalankan tugasnya, mereka pun menyusul kaumnya yang telah lebih dulu pindah Dimensi. Tinggallah anak keturunannya yang terus melanjutkan estafet generasi dari kaum yang sebelumnya bernama Asmantiya ini. Mereka juga berhasil membangun peradaban yang tinggi di tiga tempat yang berbeda selama ribuan tahun. Dan di antara mereka itu, ada sedikit orang yang masih tetap memegang amanah dari kaum Atariya. Tidak menutup kemungkinan amanah-amanah itu akan kembali muncul untuk menata kehidupan dunia.

Sungguh kaum yang luar biasa, dan semoga tulisan ini bermanfaat. Rahayu.. 🙏

Jambi, 22 Agustus 2018
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan sebelumnya, maka disini pun tak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Semuanya adalah hak Anda sekalian. Tugas kami disini hanyalah sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Ada banyak hal yang tak bisa disampaikan disini karena ada protap yang harus dipatuhi. MAAF.

9 respons untuk ‘Atariya : Teknologi Yang Ditinggalkan

    Suryo said:
    September 2, 2018 pukul 6:21 am

    Om Oedi avatarnya ya

      Harunata-Ra responded:
      September 9, 2018 pukul 3:22 am

      Maksudnya?

    Guntur Satria Putra said:
    November 27, 2018 pukul 7:58 am

    ini referensinya dari mana ya mas? kog bisa sedetail itu

      Harunata-Ra responded:
      November 28, 2018 pukul 2:45 am

      Maaf mas saya gak bisa kasih tau, ada protap.. kalau sampeyan keberatan silahkan diabaikan ajalah.. gak usah pusing dg artikel ini.. anggap aja gak pernah ada.. 🙂

    kalkhy said:
    Agustus 28, 2019 pukul 5:36 pm

    mas astraler ya? sering time travel.. ? asyik kayaknya bisa jalan2 kemasa lalu dan luar angkasa.. dan memperipikasi sendiri..bukan asal katanya.katanya

    klo bleh nanya.. lucid dream sama astral itu sama atau tdk? kbetulan sy lgi blajar entah astral atau lucid dream secara otodidak dgn metode pas hendak tdur. niat afirmasi agar ketika bangun tetap diam tdk brgerak ..lalu pas bangun fokus bolak balik teknik.1
    mendengarkan dengung telinga.2.mengamati ruang mata.3.visualisasi berputar.dll masing 5 detik .bolak balik. sampai ada sensasi muncul
    .lalu bangun pemisahan. smpai sekarang sudah 100x lebih sy berhasil..tpi hasilnya sangat tidak memuaskan. sulit dikontrol. mau teleport atau buat portal sering gagal. pas terbang pun sering trasa berat kayak mau belok..sering bangun palsu..

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 29, 2019 pukul 3:56 am

      Waah saya ini bukan siapa2 kok mas/mbak Kalkhy.. cuma orang awam yg bodoh kok..

      Hmm ttg lucid dream dan astral saya kurang begitu paham karena itu istilah baru dan berasal dari dunia Barat.. tapi setau saya, keduanya berbeda baik dalam hal cara dan bentuknya.. Lucid dream, maka sesuai dg istilahnya di lakukan atau terjadi pada saat tidur alias tidak dalam kondisi sadar 100% (sepertinya ini yg udah mas/mbak lakukan), sementara astral sebaliknya karena terjadi atau di lakukan dalam kondisi sadar.. Dan sepertinya keduanya itu akan berbeda lagi dengan apa yg disebut Rogo Sukmo..

      Maaf mas/mbak kalo jawaban saya ini kurang memuaskan, maklumlah cuma org awam gini.. 🙂

    kalkhy said:
    Agustus 29, 2019 pukul 5:50 am

    trus cerita2 tentang masa lalu yg canggih itu didapat dri pnelusuran dgn metode apa mas.? krena sy prnh baca dsitus2 barat bhwa dgn astral/lucid dreaming yg terkontrol.kita bisa mmbaca rekaman masa lalu yg mereka sebut akhasic record.jdi saya sangka mas nya pkai metode tersebut..jadi ternyata bukan ya.. tpi terima kasih atas tanggapannya

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 29, 2019 pukul 7:39 am

      Iya sama2lah..
      Hmm ttg apa metodenya maaf saya gak bisa jelaskan disini, ada protap.. Tapi apapun istilahnya, maka membaca rekaman masa lalu, atau melihat ke masa lalu, atau bahkan pergi ke masa lalu itu benar adanya, alias bisa terjadi bagi yg tahu caranya.. tentunya disini tidak mudah dan rahasia.. 🙂

    Membangun Peradaban Baru « Perjalanan Cinta said:
    September 25, 2019 pukul 7:24 am

    […] kembali, atau mungkin seperti Valhadir dapat kembali muncul di Bumi ini lagi, atau Astana, atau Niwata, atau jika memang diizinkan-NYA maka yang seperti Hur ‘Anura pun dapat hadir pula di muka […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s