Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Puisi_ku, Tulisan_ku

Pengorbanan Diri

Wahai saudaraku. Pengembaraan di atas jalan yang benar menuju Kebenaran itu haruslah berdasarkan pada kepahaman dan pengertian atas tujuan. Hidup takkan berarti tanpa hal ini, dan siapapun akan terjerembab di dalam fitnah dan kebodohan jika tak peduli. Sehingga tiada alasan lagi kecuali senantiasa menginstropeksi diri (muhasabah) dan berusaha untuk tetap sadar diri. Tidak lagi tertidur dalam hidup dan aktivitas sehari-hari.

Ya. Untuk mencapai kesejatian diri, siapapun haruslah siap berkorban dan bisa mengungkap rahasia terdalam dari jiwanya sendiri. Kesuciannya perlu dipahami lebih seksama agar mengerti tentang hakekat dari Yang Maha Suci. Kebersihan batin juga perlu dijaga, lebih ketat dari kebersihan zahir. Karena hanya dengan begitulah seseorang akan pantas menghadap kepada Yang Maha Agung. Jika tekun dalam hal ini, ia pun akan beralih dari seorang makhluk menjadi seorang hamba. Maqom (kedudukan) yang seharusnya terjaga sejak lahir hingga mati.

Pun, kesucian batin itu hanya akan terwujud ketika seseorang telah mengambil wudhu kerohanian dan menjaganya dengan baik. Hal ini pun bisa terjadi ketika ia telah bertobat dengan ikhlas, bisa menyadari kesalahannya sendiri, menyesalinya dengan sangat (yang disertai tangisan ketulusan), serta memohon ampunan kepada Sang Pencipta dan berusaha untuk tidak mengulangi lagi kesalahan. Dalam hatinya pun tak pernah putus berharap agar Yang Maha Kuasa sudi menjaganya dari melakukan kekeliruan dan dosa. Siang malam ia akan berusaha menjaga hatinya sendiri dari hal-hal yang tak sesuai lagi dengan hukum dan aturan-NYA.

Oo.. Seorang yang mulia itu adalah dia yang selalu berusaha untuk menjaga diri dari sifat buruk perangai. Sikap ini akan membuatnya pergi meninggalkan rasa sombong, dusta, kemunafikan, maksiat, kufur, riya’, serakah, kikir, amarah, benci, dan apapun yang mendatangkan kejahatan. Sebab, walaupun tindakan seseorang itu terlihat bagus dalam pandangan orang lain, tapi bila sifat buruk perangai masih saja menyertainya, ia tetap dianggap telah berkhianat dan menipu dirinya sendiri dan orang lain. Ini sebuah dosa yang banyak tak disadari lagi, khususnya di masa kini.

Sungguh, barang siapa yang percaya akan pertemuan dengan Tuhannya nanti, hendaklah ia tidak berperangai buruk. Sepanjang hidupnya tak ada kata berhenti dalam ber-muhasabah (introspeksi diri), tadabbur (berpetualang menambah ilmu), dan tafakur (merenungi segala sesuatu dan mengambil hikmahnya). Selain itu, ia pun akan menjalani hidup ini dengan terus ber-khalwat (berdua-duaan dengan Sang Kekasih), uzlah (mengasingkan diri), dan bila perlu sampai harus melakukan tahannuts (menyendiri) dari kehidupan duniawi yang melenakan ini. Caranya dengan terus menutupi hatinya dari kemegahan, sikap sombong, merasa paling benar, iri, dengki, riya’, amarah, benci, serakah, dusta, maksiat, malas, dan segala bentuk kepalsuan diri. Karena jika hal itu sampai masuk ke dalam hatinya, ia tidak akan bisa lepas dari dunia yang menjijikan ini. Jiwanya pun akan terkungkung dalam penjara batin yang gelap dan sesak. Dan jika itu perlahan-lahan masuk ke dalam hati, ia telah kehilangan kesuciannya, jauh dari cinta sejati, dan semua kebaikannya akan batal. Kebenaran yang diharapkan pun akhirnya tak pernah kesampaian. Semuanya telah menguap bersamaan dengan hati dan pikirannya yang telah kotor.

Untuk itu, apalagi yang harus di lakukan selain tetap pandai bersyukur (syakur), selalu rendah hati (tawadhuk), dan terus berserah diri kepada-NYA (tawakal)? Inilah makna berkorban yang semestinya, yaitu meninggalkan ego diri sendiri dan menggantikannya dengan ketundukan kepada Yang Maha Esa. Sebab diri kita ini bukanlah siapa-siapa dan tak berdaya. Hanya bisa berbuat sesuai dengan izin dan kehendak-NYA saja. Dan mengenai apakah kita sudah beriman atau tidak, maka itu diluar batas kemampuan diri kita untuk mengetahuinya. Siapapun hanya bisa berikhtiar dengan cara yang murni, karena itulah syarat untuk bisa diridhoi dan kembali kepada-NYA.

Jambi, 09 Dzul Hijjah 1439 H/21 Agustus 2018 M
Harunata-Ra

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

5 tanggapan untuk “Pengorbanan Diri

    1. Panggil Oedi atau Haru aja mbak Asyifa Wahida… saya biasa dipanggil dg nama itu.. 🙂
      Sama2lah mbak, saya yg harusnya berterima kasih karena mbaknya sudah mau berkunjung di blog ini, semoga bermanfaat.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s