Mahayatra: Solusi Kehidupan Dunia

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Kali ini kita akan membahas salah satu kisah tentang hubungan antara Manusia dan para Dewa-Dewi. Dan memang dahulu kala kehidupan di Bumi ini terkait langsung dengan para penghuni Kahyangan tersebut. Dalam kondisi tertentu, sosok yang istimewa itu akan ikut campur dalam seluk beluk kehidupan di Bumi, tentunya dalam rangka kebaikan. Mereka akan berinteraksi langsung dengan Manusia, khususnya para kesatria yang terpilih.

Dan tersebutlah negeri yang di dalamnya hidup sebuah masyarakat rahasia. Mengapa rahasia? Itu karena mereka tak lagi berinteraksi dengan Manusia yang tinggal di tempat lain di sepenjuru Bumi ini. Mereka sangat tertutup, dan yang lebih membuatnya semakin terahasia adalah sebab terdapat 5 buah pusaka para Dewa yang mereka jaga. Kelimanya itu mewakili kekuatan dari kelima elemen alam (air, api, tanah, udara, dan petir). Siapapun yang bisa menggunakan kelima pusaka itu sekaligus, maka akan menjadi yang terpilih untuk menjaga ketertiban dunia.

Nah, untuk lebih jelasnya mari ikuti kisah berikut ini:

1. Awal kisah
Suatu ketika di masa awal periode zaman kelima (Dwipanta-Ra), para Dewa-Dewi yang tinggal di Kahyangan berkumpul untuk mendiskusikan tentang sebuah visi yang telah disampaikan oleh Begawan Murtiyasa. Adapun kabar masa depan itu mengenai akan datangnya banyak masalah yang bisa merusak keharmonisan di Bumi. Tanpa bantuan dari para Dewa-Dewi, maka Manusia akan sangat menderita dan terlalu susah untuk bisa keluar dari masalahnya. Sebab ini bukan masalah yang biasa dan atas petunjuk-Nya memang perlu campur tangan dari para Dewa-Dewi di Kahyangan.

Lalu, atas kesepakatan bersama, lima Dewa yang terpilih langsung mengheningkan cipta di suatu tempat untuk mendapatkan petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Di antara kelimanya itu adalah Bhatara Agni, Bhatara Bayu, Bhatara Waruna, Bhatara Indra dan Bhatara Yama. Mereka berdiam diri di tempat yang berbeda selama beberapa waktu. Sampai pada akhirnya para Dewa tersebut mendapatkan petunjuk untuk naik ke Langit dan mengambil sebuah pusaka disana. Meskipun sama-sama ke Langit, tapi setiap Dewa itu menuju ke tempat yang berbeda. Disana mereka lalu bertemu dengan seorang Malaikat yang memberikan sebuah pusaka. Setiap Dewa menerima satu buah, sehingga totalnya ada lima buah pusaka yang istimewa. Adapun di antaranya yaitu:

1. Hilsar (pusaka air)
2. Amerar (pusaka api)
3. Naiesar (pusaka udara)
4. Zattorar (pusaka tanah)
5. Kesmar (pusaka petir)

Kelima pusaka itu oleh para Dewa-Dewi  lalu disebut dengan Mahayatra. Kenapa Mahayatra? karena untuk bisa memilikinya maka seseorang harus sudah menjadi sosok yang istimewa, dalam hal ini harus pula waskita dan bijaksana. Dan atas izin Tuhan, kelimanya itu lalu di lengkapi dengan sebuah kitab ilmu pengetahuan yang di tulis oleh para Dewa-Dewi. Namanya adalah Alwiyas. Sehingga kelima pusaka Mahayatra dan di tambah lagi dengan kitab Alwiyas itulah yang kelak akan membantu bangsa Manusia untuk menyelesaikan masalahnya di Bumi. Dan hanya akan dimiliki oleh seorang kesatria utama yang berbudi luhur. Di tangannya akan hadir kedamaian dan kesejahteraan yang gemilang. Tapi pusaka ini tak bisa diwariskan begitu saja. Sebab siapapun harus bisa mengambilnya sendiri di tempat yang sangat dirahasiakan dengan syarat telah bisa mengendalikan kelima elemen alam dengan sempurna. Jelas ini bukanlah hal yang mudah, sekalipun bagi mereka yang sakti mandraguna.

Maka dari itu, atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME), para Dewa-Dewi lalu menciptakan sebuah negeri yang bernama Istarin di Kahyangan. Selanjutnya, ketika sudah waktunya negeri tersebut lalu diturunkan ke Bumi namun tersembunyi di balik perisai goib. Takkan ada yang bisa memasukinya, bahkan sekedar untuk bisa melihatnya jika tidak berhak. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat dan berkunjung kesana. Karena disitulah akhirnya kelima pusaka itu (Mahayatra) disimpan dengan sangat rahasia.

Dan perlu diketahui bahwa negeri Istarin itu adalah sebuah mekanisme kehidupan tersendiri yang bisa melengkapi seseorang dengan kemampuan yang tidak biasa dan pengetahuan yang tidak umum. Selain itu, mereka yang tinggal disana akan sangat mudah terhubung atau bahkan bertemu langsung dengan para leluhur yang bijak dan tentunya istimewa. Darinya akan mengalir energi besar yang terpusat ke tubuh seseorang. Dengan itu maka muncullah kombinasi yang harmonis dalam dirinya sehingga ia bisa menjadi sosok yang istimewa. Sungguh beruntung bisa berkunjung apalagi sampai tinggal disana.

Catatan: Pada masa itu kemampuan Manusia sudah jauh menurun bila dibandingkan dengan mereka yang hidup di periode zaman sebelumnya, misalnya pada masa Prabu Aghara yang hidup di periode zaman kedua (Purwa Naga-Ra) atau Prabu Nasathon yang hidup di periode zaman ketiga (Dirganta-Ra). Karena itulah pusaka Mahayatra dan kitab Alwiyas harus diturunkan untuk membantu Manusia dalam menyelesaikan masalahnya. Dalam hal ini untuk menangani konflik di antara mereka sendiri, tidak sampai perang antar Dimensi. Tapi ini tidak berarti mereka itu lemah, karena selemahnya mereka saat itu masih lebih hebat dari pada kita sekarang. Ada banyak kemampuan yang tidak lagi dimiliki oleh Manusia kini, bahkan tak pernah melihatnya.

2. Pemuda yang terpilih
Pada masa itu, hiduplah seorang pemuda desa di negeri Marosah yang bernama Haidara. Ia berasal dari keluarga sederhana yang hidup dari hasil bercocok tanam dan beternak hewan. Bersama tiga orang adiknya, setiap hari ia membantu kedua orang tuanya bekerja di ladang atau menggembalakan ternak. Disela-sela kesibukannya, Haidara tetap bisa berguru kepada kedua orang tuanya tentang berbagai ilmu pengetahuan (ilmiah dan batiniah). Maklumlah mereka itu sebenarnya setingkat Resi dan memang masih dari garis keturunan para Begawan yang terkenal. Jadi tradisi belajar dan mengajar tak pernah lepas dari kehidupan di keluarga mereka. Tetap diwariskan dari generasi ke generasi.

Catatan: Pada masa itu seluruh kawasan Nusantara masih dalam satu daratan dan menyatu dengan Asia dan Australia. Dan bisa dikatakan secara umum kondisi alam dan topografi wilayahnya sangat berbeda dengan sekarang. Flora dan faunanya pun begitu, banyak yang hidup pada masa itu namun sudah tidak ada lagi di masa sekarang. Sebagian punah, sebagiannya lagi berpindah Dimensi  kehidupan.

Ya. Karena telah dibesarkan dalam keluarga yang berbudi, Haidara hidup dalam sikap yang dermawan dan ringan tangan. Ia sering berbagi apapun yang ia punya kepada para tetangga dan mereka yang membutuhkan. Jika ada yang membutuhkan pertolongannya, dengan senang hati Haidara akan segera membantu baik dengan harta, pikiran atau tenaganya. Tak ada pengecualian disini, karena baginya semua orang itu sama. Sebuah kebahagiaan disaat bisa membantu dan meringankan beban orang lain.

Begitulah sosok pemuda desa yang bernama Haidara itu saat menjalani kehidupannya sehari-hari. Dan suatu ketika Haidara pergi menggembalakan ternak ke sebuah padang rumput. Kali ini tidak seperti biasanya, ia pergi sendirian lantaran sang adik yang sering menemaninya ditugaskan untuk membantu ayahnya memanen buah Nebit (bentuknya seperti pepaya tapi jika dibelah maka di dalamnya ada semacam anggur yang berwarna merah. Manis dan sangat wangi rasanya). Hasil panenan itu akan mereka jual ke pasar untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di waktu yang lain mereka akan memanen buah atau tanaman lain (sayuran dan rempah-rempah) untuk dijual ke pasar. Begitulah keluarga ini menjalani hidup dengan kerja keras dan gotong royong. Semuanya tertata rapi dan setiap orangnya mendapatkan tugas dan kewajibannya masing-masing.

Waktu pun berlalu dan Haidara telah membawa hewan ternak Hazeh-nya itu (bentuk dari hewan Hazeh ini campuran antara domba dan rusa. Berbadan domba yang berambut tebal, tapi kepalanya justru mirip kepala rusa yang bertanduk panjang bercabang) ke sebuah padang rumput yang luas. Sambil menunggui hewan ternaknya itu memakan rumput, tak henti-hentinya Haidara terus merenungi kekuasaan Tuhan atas kehidupan dunia ini. Sejauh matanya memandang, ia bisa melihat dengan jelas betapa kuasanya DIA yang telah menciptakan dan mengatur kehidupan makhluk di Bumi ini dengan sempurna. Semuanya bisa tetap teratur dan harmonis meskipun beragam jenis dan bentuknya. Sungguh takkan ada yang mampu membuatnya demikian kecuali ada satu kekuatan Yang Adidaya dan tanpa batas.

Di tengah asyik memikirkan tentang indahnya Alam Semesta dan betapa agungnya Tuhan, dari arah kejauhan Haidara bisa melihat ada sosok yang mendekat. Tak lama kemudian orang tersebut sudah tepat di hadapannya dengan penampilan seorang pengembara. Setelah mengucapkan salam, sosok pria paruh baya itu lalu bertanya: “Wahai anak muda, apakah engkau punya air minum. Bolehlah aku memintanya sedikit. Haus sekali rasanya tenggorokan ini

Mendengar pertanyaan itu Haidara langsung berkata; “Ada. Ini, silahkan tuan meminumnya“. Dengan tersenyum Haidara segera memberikan kantong air yang terbuat dari kulit hewan itu kepada sang pengembara. Tanpa menunggu lagi pria tersebut langsung mengambil tempat air itu lalu meminum isinya sampai habis. Melihat itu Haidara hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Ia tidak marah bahkan tak pula merasa heran. Baginya sudah sewajarnya orang tersebut menghabiskan air yang ada, jadi ia pun tak perlu marah atau ambil pusing. Dan jika masih dibutuhkan, Haidara pun siap mengambilkan air yang baru. Dan benar, seperti bisa membaca isi hati orang lain, pria tersebut lalu meminta air lagi kepada Haidara. Kantong kulit yang ia pegang telah kosong.

Mendapati permintaan itu, Haidara pun berkata: “Wahai tuan, aku tidak lagi memiliki air. Yang tuan minum itu adalah yang terakhir. Tapi jika mau menunggu, aku akan mengambilkannya lagi untukmu. Tempatnya tidak jauh dari sini

Baiklah jika demikian. Ambillah air itu, aku menunggunya disini” kata si pengembara.

Haidara pun pergi ke tempat dimana sumber air itu berada. Hanya saja ia terkejut, karena saat tiba disana mata airnya sudah kering padahal saat itu bukan musim kemarau. Ini aneh dan tak biasa, tidak ada yang tersisa sedikitpun untuk di ambil. Mendapati hal itu, Haidara mencoba kesana-kemari mencari sumber air yang lain. Dan setelah cukup jauh berjalan naik turun bukit, barulah ia bisa menemukannya. Di bawah jurang itu ia lalu mendapati sumber air yang jernih dan meminum secukupnya untuk menghilangkan dahaga. Setelah itu Haidara segera mengambil air yang ada untuk dibawa kembali ke tempat si pengembara menunggu.

Sesampainya di tempat semula Haidara segera memberikan kantong yang berisi air itu kepada si pengembara. Dalam waktu singkat, air yang ada telah habis diminum olehnya, tak tersisa sedikitpun. Ia pun berkata; “Wahai anak muda. Air di dalam kantong ini sudah habis. Sebenarnya aku masih merasa haus. Ambilkanlah lagi dan sisanya nanti cukup untuk bekalmu pulang ke rumah

Atas permintaan itu sekali lagi Haidara tidak marah dan hanya tersenyum saja. Ia pun berkata: “Baiklah tuan, tunggulah sejenak, aku akan mengambilkannya untukmu

Singkat cerita, Haidara sudah kembali membawa kantong yang penuh berisi air. Ia lalu memberikannya kepada sang pengembara. Tapi sesuatu yang aneh pun terjadi. Si pengembara cuma sedikit meminumnya, lebih kepada mencicipinya saja. Setelah itu ia justru membuang semua air yang ada dalam kantong ke tanah. Tanpa rasa berdosa ia lalu bertanya kepada Haidara yang sebenarnya masih terkejut dengan sikap itu. Katanya: “Wahai anak muda. Kau tahu kemana air itu pergi dan mengapa aku melakukannya?

Setelah berpikir sejenak Haidara lalu menjawab: “Air itu masuk ke dalam tanah, terserap kesana dan menghilang. Tapi mengenai alasan tuan melakukan hal itu aku tidak tahu. Sudilah kiranya memberikan penjelasan

Dengan tersenyum sang pengembara pun berkata: “Ketahuilah bahwa air yang masuk ke dalam tanah, jika di lihat akan hilang tanpa bekas. Tetapi sebenarnya air itu tidak pernah hilang. Ia hanya masuk ke dalam tanah untuk bisa berkumpul dengan air yang ada di dalam Bumi (sumber utamanya). Ini adalah isyarat bahwa kehidupan Manusia itu abadi. Begitu pula dengan amal dan perbuatannya tak ada yang hilang begitu saja. Semuanya akan menerima ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya, cepat atau lambat. Karena itulah kelahiran, kehidupan duniawi dan kematian itu adalah tahapan hidup bagi setiap diri Manusia. Dan selama itu ia membutuhkan tujuan yang jelas. Seperti air ketika di tuangkan ke tanah, maka ia akan mencari sumbernya. Itulah tujuan hidup yang sejati, yaitu mencari Sumber Kehidupan ini. DIA-lah Sang Maha Esa dan Kuasa

Mendengar penjelasan itu Haidara hanya bisa terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi, karena yang disampaikan oleh sang pengembara adalah kebenaran sejati. Dan sekali lagi sosok tersebut melakukan hal yang aneh. Air yang masuk ke dalam tanah itu lalu di tariknya kembali ke dalam kantong air yang ia pegang. Ia pun berkata: “Apa yang kau pikirkan tentang hal ini?

Tuan lebih tahu jawabannya. Mohon kiranya ananda diberikan petunjuk” Jawab Haidara dengan sikap hormat dan rendah hati.

Wahai ananda. Hanya orang-orang yang mengetahui tujuan hidupnya saja yang bisa kembali kepada Penciptanya dengan selamat. Dengan tujuan itu ia baru akan benar dalam menjalani kehidupan ini, sehingga bermanfaat bagi orang banyak. Seperti air yang jatuh ke tanah, ia lalu mencari sumbernya sampai ketemu. Dan setelah berhasil menemukannya, barulah ia bisa memahami tentang hakekat dirinya sendiri dan bisa pula kembali ke asalnya, yaitu DIA” Sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah atas, sang pengembara terus memberikan penjelasan kepada Haidara.

Begitulah kejadian unik yang di alami oleh sang pemuda. Dan setelah berkenalan lebih dekat, ternyata sosok pengembara itu adalah seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Salbi AS. Beliau sengaja menemui sang pemuda untuk memberikan petuah dan petunjuk hidup. Dan atas Wahyu dari Yang Maha Kuasa, maka sang pemuda harus mulai menempa dirinya lebih keras. Sang Nabi sendiri yang akan membimbingnya. Karena ada tugas penting yang harus Haidara lakukan nanti, dan ini menyangkut perdamaian dan keharmonisan dunia.

Catatan: Disinilah keistimewaan dari seorang Nabi. Mereka tidak lagi peduli dengan kedudukan, bahkan tak pula diketahui kedudukannya. Segala sesuatunya mereka lakukan hanya semata-mata atas petunjuk dari Tuhan saja. Tak ada hasrat keinginan dirinya sendiri. Karena itulah para Malaikat dan Dewa-Dewi sangat menghormati mereka.

Singkat cerita, setelah berlatih selama 5 tahun dibawah bimbingan seorang Nabi, akhirnya tiba saatnya bagi Haidara untuk mengambil pusaka Mahayatra. Kelima elemen alam telah ia kuasai dengan sempurna, sehingga ia pun layak untuk memiliki pusaka yang istimewa itu. Ia telah memenuhi syarat. Sebab ada banyak energi yang mengelilingi kita dan bisa dikuasai untuk dipergunakan. Hanya saja seseorang tidak akan bisa mengendalikan energi tersebut jika ia belum bisa membereskan gejolak dalam dirinya sendiri. Ia pun harus bisa terus menjaga keseimbangan dalam dirinya sebelum ingin mengendalikan setiap elemen. Dan itu baru akan terwujud sampai seseorang tidak lagi menyangkal bagian-bagian dalam kehidupan ini. Sehingga siapapun harus melepaskan ego, rasa dan perasaan dalam dirinya dengan segala ketenangan. Dan hanya dengan kerendahan hatilah maka akan muncul penawarnya. Karena itu, ketika seseorang bisa mengendalikan elemen alam, berarti ia tidak sedang menguasainya. Ia hanya mengikuti sifatnya dan memanfaatkan kekuatannya.

Lalu jika bisa menerima kenyataan tentang sejatinya hidup ini, dan tidak membiarkan segala kemungkinan alternatif tertutup dari jalan energi diri sendiri, siapapun akan dipenuhi dengan pengaruh yang positif dari dunia ini. Dan ketahuilah bahwa Air itu adalah elemen perubahan. Di dalamnya ada sifat beradaptasi, solidaritas, dan cinta kasih yang menyatukan. Api adalah elemen kekuatan. Di dalamnya ada kehendak dan dorongan yang sangat kuat untuk bisa mencapai sesuatu. Udara adalah elemen kebebasan. Di dalamnya ada kemerdekaan dan kedamaian, serta terlepas dari kekhawatiran duniawi. Petir adalah elemen kejutan. Di dalamnya ada berbagai aliran energi yang sangat kuat, bersatu, dan dapat berubah dengan sangat cepat. Sedangkan tanah adalah elemen kekokohan. Sifatnya beragam dan di dalamnya ada kegigihan dan ketangguhan.

Oleh sebab itulah, Nabi Salbi AS pernah berkata bahwa “Untuk bisa menguasai Air, seseorang harus bisa mengendalikan Api, begitu pula sebaliknya. Untuk bisa menguasai Udara, seseorang harus sudah bisa menguasai Air dan Api. Untuk bisa menguasai Petir, seseorang harus sudah bisa menguasai Air, Api, dan Udara. Dan untuk bisa menguasai Tanah (tanah, logam, batu, dll), seseorang harus sudah mampu menguasai Air, Api, Udara dan Petir. Sedangkan untuk bisa menguasai dengan sempurna kelima elemen tersebut, maka siapapun harus sudah bisa menguasai dirinya sendiri dan mengenal Tuhannya yang sejati.

Adapun yang harus di lakukan untuk bisa menguasai kelima elemen itu adalah sebagai berikut:

1. Air. Berlatihlah di sebuah telaga atau danau atau tempat yang banyak airnya.
2. Api. Berlatihlah di dekat sumber api abadi.
3. Udara. Berlatihlah di puncak sebuah bukit berbatu.
4. Petir. Berlatihlah di puncak gunung yang tinggi.
5. Tanah. Berlatihlah di sebuah hutan dan tanah lapang yang ada di padang rumput.

Lalu ketika berhasil menguasai kelima elemen itu, barulah seseorang bisa memegang benda pusaka yang dijaga oleh para Dewa-Dewi (Mahayatra). Dan kelima pusaka itu baru akan berfungsi secara maksimal setelah di aktifkan oleh sosok yang mampu mengendalikan kelima elemen alam dengan sempurna – karena ada yang bisa tapi tak sempurna. Ini adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi tanpa bisa ditawar

Catatan: Dalam penjelasan di atas disebutkan bahwa untuk bisa menguasai kelima elemen alam, maka seseorang harus bisa menguasai dirinya sendiri dan mengenal Tuhannya dengan benar. Ini berarti ia sudah memiliki ilmu yang tinggi, sikap yang penuh kesadaran dan bijaksana. Ketiga hal itu adalah modal utama untuk bisa membangkitkan kejayaan. Sehingga apapun yang ia kerjakan atau perjuangkan bisa menciptakan keindahan dan kedamaian.

Jadi, penguasaan terhadap setiap elemen itu sangat penting karena akan membuka lima portal Dimensi menuju tempat dimana setiap pusaka itu berada. Hanya yang menguasai ilmunya saja yang bisa. Sebab kelima pusaka itu tidak berada di satu tempat, melainkan terpencar di lima tempat – meskipun tetap berada di seputaran negeri Istarin. Untuk bisa memilikinya, seseorang harus mengambilnya sendiri di tempat yang tersembunyi. Dalam hal ini ada lima lokasi yang berbeda, dan siapapun itu harus sudah bisa mengendalikan kelima elemen alam dengan sempurna. Dengan begitu ia bisa mengaktifkan setiap pusaka dan mengambilnya untuk keperluan khusus.

Dan yang terpenting lagi adalah bahwa siapapun yang ingin mengambil kelima pusaka itu haruslah bisa mengaktifkan minimal indera ke tujuhnya. Tanpa hal itu, maka walaupun ia sudah bisa mengaktifkan indera keenamnya dengan sempurna atau bahkan sudah bisa mengendalikan kelima elemen, maka ia takkan bisa memiliki pusaka Mahayatra tersebut. Jangankan mengambilnya, menuju ke tempat dimana setiap pusaka itu disimpan saja ia takkan mampu. Sebab tempatnya itu berada di lima buah Dimensi yang berbeda. Ini memang khusus untuk menyimpan benda pusaka yang mengagumkan itu. Sehingga tidak bisa disalahgunakan oleh sembarangan orang. Hanya kesatria utama dan terpilih saja yang bisa memilikinya.

Catatan: Sebenarnya bisa saja Nabi Salbi AS segera memberikan ilmu kesaktian kepada Haidara, dalam hitungan detik malah. Tapi itu tidak di lakukan agar Haidara betul-betul memahami arti dari perjuangan dengan penuh kesadaran. Sudah menjadi sunnah kehidupan Manusia bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal, maka siapapun itu harus berusaha dengan sungguh-sungguh. Terlebih tujuan dari latihan Haidara kala itu adalah untuk bisa membangkitkan indera ke tujuhnya dan bisa mengendalikan kelima elemen alam dengan sempurna. Ini tidaklah mudah dan memang akan lebih baik dengan latihan yang tekun dan waktu yang cukup alias tidak instan. Dan tentunya ini semua untuk kebaikan dirinya sendiri serta pelajaran bagi generasi selanjutnya. Dan kalau bukan karena dibimbing oleh seorang Nabi, maka butuh waktu yang sangat lama (puluhan tahun) bagi Haidara untuk berhasil.

3. Mendapatkan pusaka Mahayatra dan kitab Alwiyas
Setelah dirasa cukup, Nabi Salbi AS pergi meninggalkan Haidara. Sebelum menghilang, sang guru berpesan agar muridnya itu berjalan menuju ke arah utara dan selatan. Selanjutnya, setelah ia mendapatkan petunjuk yang diinginkan, Haidara diperintahkan untuk mencari sebuah negeri tersembunyi yang bernama Istarin. Belum pernah ada yang sampai ke negeri itu, kecuali bagi mereka yang terpilih.

Singkat cerita, Haidara mulai berangkat ke utara sesuai dengan petunjuk dari gurunya. Setibanya disana ia tinggal sementara waktu untuk melakukan beberapa hal yang diajarkan oleh sang guru. Setelah mendapatkan hasil yang diinginkan, Haidara lalu berjalan menuju ke arah selatan. Sama dengan sebelumnya ketika di utara, disana (selatan) ia melakukan beberapa hal sesuai dengan petunjuk dari gurunya. Ketika yang diharapkan tercapai, barulah ia berjalan menuju ke negeri Istarin yang tersembunyi itu. Dan akhirnya ia memang bisa sampai disana, khususnya setelah mengaktifkan indera ke tujuhnya dan mengerjakan setiap petunjuk yang telah didapatkan ketika berada di wilayah utara dan selatan.

Waktu pun berlalu. Karena sudah mempersiapkan dirinya, maka dengan mudah Haidara bisa memasuki portal goib negeri yang tersembunyi itu. Bahkan ketika baru saja melewati gerbang dimensinya, ia sudah disambut oleh penghuni disana. Hanya sedikit dari golongan Manusia, karena selebihnya adalah sosok-sosok yang oleh penduduk alam nyata ini (Manusia) disebut sebagai makhluk halus – lantaran tidak tercipta dari tanah. Dan mereka itu semuanya bersikap sangat sopan dan ramah kepada sang pemuda. Dan tak usah ditanyakan lagi tentang kemampuan mereka yang memang di atas rata-rata Manusia.

Catatan: Dalam hal ukuran, luas dari negeri Istarin itu sama dengan Bumi. Tapi siklus waktu disana sangat berbeda dengan waktu yang ada di muka Bumi ini, di alam nyatanya. Satu hari di Bumi akan setara dengan 100 hari di negeri Istarin. Dan uniknya lagi, siapapun yang tinggal disana tak merasakan ketuaan atau kondisi fisik yang berubah (semakin melemah). Waktu disana seolah-olah berhenti dan mereka selalu dalam keadaan muda dan segar bugar selama tinggal disana.

Ya, sebagai seorang pemuda tentunya Haidara sangat kagum dengan negeri tersebut. Belum pernah ia melihat yang seindah itu dalam hidupnya, semakmur apapun negerinya. Karena disana semuanya tertata rapi dan penuh keharmonisan. Tak ada yang terlihat kacau atau tidak sesuai pada tempatnya. Dan disanalah ia tinggal beberapa hari hanya untuk berkeliling dan menikmati keindahan yang ada. Banyak hal yang telah ia dapatkan. Hingga pada akhirnya ia pun bertemu dengan para Dewa yang memberikan petunjuk.

Dalam sebuah pertemuan khusus, seorang dari mereka yang bernama Bhatara Hanggasya lalu berkata: “Wahai ananda. Ketahuilah bahwa dirimu itu bukanlah siapa-siapa dan tak berarti apa-apa. Kau tak ubahnya seorang makhluk yang lemah dan hanya mengharapkan belas kasih-Nya. Karena itulah, tak ada hakmu untuk merasa bangga dan puas diri. Kau hanyalah sosok yang tak berdaya. Jadilah pribadi yang berbudi luhur dan tetap rendah hati.

Dan hanya karena kehendak-Nya saja, maka dirimu telah dipilih untuk mengemban tugas yang penting. Yaitu menggunakan pusaka Mahayatra dan kitab Alwiyas untuk kebaikan di Bumi. Tapi untuk bisa memilikinya, engkau pun harus mengambilnya sendiri dengan meningkatkan terlebih dulu kemampuanmu. Yaitu dengan cara:

1. Air. Berlatihlah di sebuah telaga kaca yang bernama Nilana. Jika berhasil kau akan mendapatkan pusaka Hilsar.
2. Api. Berlatihlah di dekat sumber api abadi yang bernama Auras. Jika berhasil kau akan mendapatkan pusaka Amerar.
3. Udara. Berlatihlah di puncak sebuah bukit batu yang bernama Sigis. Jika berhasil kau akan mendapatkan pusaka Naiesar.
4. Petir. Berlatihlah di puncak gunung Mujar. Jika berhasil kau akan mendapatkan pusaka Kesmar.
5. Tanah. Berlatihlah di sebuah hutan dan tanah lapang yang ada di padang rumput bernama Huyapa. Jika berhasil kau akan mendapatkan pusaka Zattorar.
6. Laut. Ber-tapa bratalah di atas laut Masila untuk menyempurnakan latihan dan usahamu.

Dan jika engkau sudah memenuhi syarat-syaratnya, setiap pusaka itu akan muncul sendiri dihadapanmu dan bisa kau pakai untuk kebaikan. Ingat hanya untuk kebaikan saja! Sebab jika tidak maka pusaka tersebut akan menghilang sebelum sempat kau pergunakan

Catatan: Latihan yang harus di lakukan oleh Haidara disini (di negeri Istarin) berbeda dengan sebelumnya. Levelnya lebih tinggi lagi dan sifatnya khusus untuk dia seorang. Karena itulah syaratnya pun sangat berbeda dari siapapun yang pernah menguasai kelima elemen. Laku ini hanya untuk sosok yang terpilih saja agar bisa memakai pusaka Mahayatra dan kitab Alwiyas.

Mendapatkan penjelasan itu, Haidara langsung teringat dengan apa yang pernah disampaikan oleh Nabi Salbi AS dulu, ketika ia berlatih mengendalikan kelima elemen alam. Hanya saja kali ini tempat latihan dan levelnya berbeda. Dan ternyata di tempat-tempat yang ditunjukan oleh Bhatara Hanggasya itulah setiap benda pusaka Mahayatra tersimpan. Sedangkan khusus untuk kitab Alwiyas hanya akan diberikan oleh para Dewa-Dewi ketika sang pemuda telah berhasil memiliki kelima pusaka Mahayatra. Sebab kitab itu terdiri dari lima bagiannya, yang akan diberikan oleh lima orang Dewa-Dewi tertinggi di Kahyangan.

Dan seperti bisa membaca isi hati sang pemuda, maka sambil tersenyum Bhatara Hanggasya pun berkata: “Ada apa dengan beliau? Kau tak usah heran, karena beliau itu sangat kami hormati. Selain sebagai sahabat, sang Nabi (Salbi AS) juga telah menjadi guru bagi kami. Sungguh beruntung bisa menimba ilmu dari seorang utusan Tuhan. Dan semuanya itu hanya atas kehendak-NYA saja

Mendengar perkataan itu, Haidara hanya bisa tersipu malu lantaran isi hatinya telah dibaca oleh sang Bhatara. Meskipun ia sadar itu bukanlah hal yang aneh bagi seorang Dewa, maka tetap saja Haidara terkejut. Sampai-sampai ia terbata-bata saat membalas pertanyaan dari Bhatara Hanggasya kala itu. Dan tanpa diduga sebelumnya, tiba-tiba orang yang dibicarakan itu telah muncul di tengah-tengah mereka. Sang Nabi datang dengan senyumannya yang khas tapi penampilannya tak seperti biasanya. Kala itu dari tubuhnya memancar cahaya yang sangat terang seperti Malaikat. Dan karena sudah waktunya, beliau pun langsung menyampaikan petunjuk bahwa sudah saatnya bagi Haidara untuk melalui proses mendapatkan pusaka Mahayatra. Dan ketika ia berhasil, segeralah naik ke Kahyangan untuk menerima kelima bagian dari kitab Alwiyas.

Singkat cerita, setelah menyampaikan itu sang Nabi raib dari pandangan. Selanjutnya Bhatara Hanggasya langsung membimbing Haidara untuk bisa mendapatkan kelima pusaka Mahayatra. Selain terus berlatih, sesekali mereka pun berdiskusi dan sang Bhatara banyak memberikan ilmu pengetahuan kepada Haidara. Dan satu persatu akhirnya kelima pusaka itu bisa dimiliki juga oleh Haidara. Setelah itu, sang Bhatara langsung mengajak Haidara untuk naik ke Kahyangan demi mendapatkan kitab Alwiyas. Disana, satu persatu kediaman para Bhatara-Bhatari yang memegang setiap bagian dari kitab Alwiyas ia kunjungi. Dan karena sudah menjadi haknya, kelima bagian itu akhirnya lengkap diterima. Pesan dari semua Bhatara-Bhatari adalah agar kitab pusaka itu dipergunakan dengan bijaksana dan demi kebaikan bersama. Tak boleh ada kesombongan disini, karena yang berhak untuk sombong itu hanyalah Hyang Aruta (Tuhan YME) saja.

Dan yang terakhir, seorang Dewa tertinggi di Kahyangan yang bernama Bhatara Syagara memberikan sebuah senjata pusaka bernama Assandir kepada Haidara. Senjata ini berwarna keemasan dan berbentuk cakram yang bergerigi 33 buah. Mirip dengan senjatanya Bhatara Wisnu tetapi bukan, karena pada bagian tengahnya ada 5 garis (jari-jari) yang berulir dan ada pula sebait kalimat yang diukir menggunakan aksara Aswaraya. Dan senjata ini tak perlu dibawa-bawa, karena bisa muncul sendiri jika diinginkan oleh pemiliknya. Sedangkan kemampuannya tak perlu diragukan lagi, karena salah satunya adalah bisa membelah gunung atau lautan.

4. Menjaga ketertiban dunia
Setelah mendapatkan kelima bagian dari kitab Alwiyas dan sebuah senjata cakram yang bernama Assandir, tak lama kemudian Haidara kembali ke negeri Istarin. Untuk beberapa waktu ia masih tinggal disana dan terus melatih dirinya. Dan meskipun sebenarnya mereka yang hidup di negeri Istarin itu tak membutuhkan pemimpin – lantaran sudah mengenal dirinya, merdeka dan bisa mengatur hidupnya sendiri – namun karena sosok Haidara sudah terpilih untuk memiliki pusaka Mahayatra dan kitab Alwiyas, ia lalu di angkat menjadi pemimpin disana. Dalam kebijaksanaan Haidara menerima dan melaksanakan tugasnya itu dengan baik. Hingga pada akhirnya ia pun mendapatkan petunjuk untuk pulang ke kampung halamannya.

Ketika pulang, Haidara tidak langsung menuju ke kampung halamannya di negeri Marosah. Ia sengaja berkunjung ke berbagai negeri lain untuk melihat keadaan terkini selepas kepergiannya dulu. Dan ternyata yang bisa ia saksikan adalah banyaknya kejahatan dan kezaliman yang terjadi. Peradaban Manusia telah jatuh dalam kekacauan dan sangat jauh dari keharmonisan. Orang-orang menderita karena konflik yang tak berkesudahan atau justru sebab banyaknya keserakahan. Seiring berjalannya waktu keadaan ini pun semakin memburuk.

Singkat cerita, dalam perjalanannya kembali ke kampung halaman, Haidara dihadapkan dengan persoalan yang memilukan. Ada sebuah negeri yang dikepung oleh kerajaan lain yang ingin menguasainya. Negeri itu bernama Sossan dengan rajanya yang bernama Elmo. Mereka sudah tak kuasa lagi menahan serangan dan pengepungan yang di lakukan oleh pasukan kerajaan Arbatala. Banyak penduduk yang kelaparan dan terkena wabah penyakit yang mematikan. Dan pertempuran kala itu sejak awal memang sudah tidak sebanding, kerajaan Sossan kalah jumlah. Hanya karena ibukota kerajaannya dikelilingi oleh benteng yang sangat kokoh saja mereka masih bisa bertahan. Tapi yang namanya di kepung tentu sangat merugikan dan menyebabkan pasokan makanan cepat berkurang. Kurang dari tiga hari lagi maka tak ada yang tersisa selain kelaparan dan kematian.

Melihat itu, maka sudah menjadi sifat Haidara untuk segera memberikan bantuan. Dengan kemampuan yang dimiliki, tak lama bagi sang pemuda untuk bisa menyelesaikan permasalahan yang ada. Bersama raja dan penduduk negeri Sossan, sang pemuda maju digaris depan pertempuran. Dalam satu hari saja mereka pun bisa menang. Bahkan raja Rhijalas yang memimpin pasukan kerajaan Arbatala itu telah berhasil dikalahkan. Ia lalu menjadi tawanan dan harus menjalani hukuman mati di pengasingan atas perbuatan jahatnya itu.

Waktu pun berlalu dan sejak peristiwa itu nama Haidara terdengar dimana-mana. Orang-orang menceritakan kehebatannya dalam segala hal, mulai dari strategi perang sampai dengan ilmu pengobatan dan ketatanegaraan. Siapapun akan kagum kepadanya, tapi ini tak membuat diri Haidara besar kepala. Ia justru segera menarik diri dari pentas dunia dan kembali ke kampung halamannya untuk menjadi petani sekaligus penggembala ternak hazeh.

Tapi sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa tugas Haidara belum selesai. Ia dipilih lantaran ada pekerjaan besar yang menantinya. Setelah konflik dua kerajaan, Sossan dan Arbatala, berhasil diselesaikan, ada banyak kerajaan besar kecil yang meminta bantuannya. Entah untuk urusan perang atau kesejahteraan penduduknya, satu persatu mereka datang menemui Haidara di rumahnya. Tapi tak semua permintaan itu dikabulkan oleh sang pemuda. Ia akan mengamati dulu setiap kerajaan yang meminta bantuannya. Hanya yang benar-benar butuh dan mereka dalam posisi yang benar saja yang akan dibantu. Bagi yang tidak maka Haidara akan menolaknya dengan sopan.

Begitulah selanjutnya kehidupan Haidara sebagai sosok Begawan yang sangat dihormati. Dan kehidupan di sekitar wilayah tempat tinggalnya pun menjadi sangat aman dan makmur. Berulang kali Haidara mengambil manfaat dari kitab Alwiyas untuk membangun peradaban yang semestinya. Walaupun tidak ada raja yang memimpin disana, namun bagi semua orang Haidara adalah pemimpin tertinggi mereka. Apapun ajakan dan nasehat darinya akan diikuti. Sebab telah terbukti sangat bermanfaat bagi mereka semua, tidak hanya Manusia, tetapi setiap makhluk yang ada.

Namun ternyata hanya dalam waktu tiga tahun berikutnya telah muncul masalah yang baru. Kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya (Sossan vs Arbatala), lantaran melibatkan banyak kerajaan yang tinggal di kelima kawasan dunia (timur, tengah, barat, utara, dan selatan). Kerajaan-kerajaan yang tinggal di setiap kawasan itu telah berkoalisi membentuk pasukan yang sangat kuat dan siap bertempur mengalahkan lawan, dari kawasan manapun itu. Dengan begitu, maka dalam waktu yang relatif singkat telah menimbulkan kegaduhan dimana-mana. Hanya di wilayah tempat tinggal Haidara saja yang luput dari kekacauan yang ada. Selain tak ada yang berani mengganggu ketenangan mereka, desa tersebut berada jauh di pedalaman.

Dalam kondisi itu, orang-orang yang tinggal di desa Nicaru (kampung halaman Haidara) termasuk yang terlambat menerima informasi tersebut. Mereka ini hidup jauh di lereng pegunungan. Tapi dengan kemampuan mata ketiganya, Haidara justru sudah lama mengetahui bahwa akan terjadi perang dunia. Sesekali disaat sedang menggembalakan ternak, ia bisa melihat dari kejauhan kondisi negeri-negeri yang ada di berbagai kawasan. Hanya saja sama dengan para kesatria pilihan Tuhan lainnya, maka tak ada yang bisa di lakukan oleh Haidara kecuali menunggu. Apapun yang akan ia lakukan harus sesuai dengan petunjuk Ilahi. Demikianlah keadaan dari setiap sosok yang terpilih agar setiap tindakannya terhindar dari nafsu buruk dan sikap pamrih atau bahkan ingin dipuji.

Hingga pada akhirnya petunjuk Ilahi pun datang kepadanya melalui seorang Dewa yang bernama Bhatara Widata. Sang pemuda diperintahkan untuk turun gunung dan menyelesaikan konflik yang ada. Kepada 10 kerajaan yang berada di perbatasan Timur dan Tenggara (Patsala, Malturah, Wasitana, Malyapati, Sanjariya, Aspunala, Sossan, Zenmak, Gatprani, dan Dilayu), sang pemuda harus menyatukan mereka dan membentuk satu pasukan yang siap bertarung. Dan karena nama besarnya, semua kerajaan itu bersedia bersatu dibawah komando sang pemuda. Tak ada yang berani menolak, karena mereka tahu bahwa Haidara sudah terpilih dan memang bertugas menjaga ketertiban dunia. Bagi yang tidak bersedia dengan berbagai alasan yang konyol akan segera menerima akibatnya.

Dan hal itu bukan hanya sebatas kata-kata. Sebab Haidara tidak lagi beramah tamah kepada mereka yang merusak keharmonisan dunia. Sosok pemuda yang terkenal sangat sopan dan rendah hati itu, ketika menghadapi masalah dalam keseimbangan dunia akan bertindak sangat tegas. Yang angkuh akan dihabisi, tapi yang menyerah akan diampuni. Siapapun yang ingin bergabung akan dirangkul sebagai saudara, dan yang netral – dengan catatan tidak ikut melakukan kerusakan – tidak akan diganggu sedikitpun. Begitulah Haidara ketika menjalankan tugasnya sebagai penjaga perdamaian dunia.

Singkat cerita, karena sudah menjadi kehendak Tuhan maka perang dunia tetap saja terjadi. Perang yang akan menentukan bagaimana nasib kehidupan di Bumi selanjutnya. Tidak hanya bagi Manusia, tetapi juga bangsa-bangsa yang lainnya seperti Peri, Cinturia, Karudasya dan Naga. Dan perang kala itu memang melibatkan lima bangsa yang ada, sehingga dampaknya sangat luar biasa. Perang besar yang terjadi di masa kini tidak ada apa-apanya. Sebab para kesatria yang terlibat pertempuran adalah orang-orang yang sakti mandraguna. Pria dan wanitanya memiliki kemampuan yang luar biasa seperti bisa terbang, menghilang, mengubah-ubah wujud, memiliki berbagai ajian yang mengerikan, dan tentunya senjata pusaka yang mengagumkan. Jika tidak seperti itu, mereka tidak akan dianggap sebagai kesatria, tetapi hanya seorang prajurit biasa.

Dan sejak hari Asat bulan Disala tahun ke 35.179 Himarik, perang dunia itu pun mulai terjadi. Di setiap perbatasan wilayah telah meletus pertempuran besar. Mereka yang terlibat saat itu terus mengeluarkan kemampuan terbaik mereka, mulai dari kesaktian sampai dengan teknologi canggihnya. Selama lebih dari satu tahun keadaan ini pun terus berlangsung tanpa ada pemenangnya. Mereka terbilang seimbang dalam segala hal. Hingga pada akhirnya, sesuai dengan kesepakatan bersama, maka diputuskanlah semua kubu pasukan itu harus bertempur di sebuah lembah yang bernama Ortaum. Oleh sebab itu, untuk menentukan siapakah pemenang dari perang dunia kala itu, maka setiap kubu pasukan harus bertempur habis-habisan disana. Tapi kali ini tidak boleh hanya mengandalkan teknologi bom dan sejenisnya, harus mengutamakan ilmu kanuragan dan kadigdayan. Layaknya seorang kesatria yang sebenarnya.

Catatan: Pada masa itu, akhirnya semua pasukan yang terlibat perang dunia itu tergabung dalam dua kubu utama, yaitu timur dan barat. Disisi timur tergabung semua kerajaan yang tinggal di kawasan timur, tenggara, selatan dan barat daya. Sedangkan yang disisi barat tergabung semua kerajaan yang hidup di kawasan barat, barat laut, utara, dan timur laut. Perang ini mirip dengan apa yang terjadi dalam kisah Bharatayudha atau perang Mahabharata karena melibatkan sangat banyak kerajaan besar dan kecil.

5. Akhir perang dunia
Waktu pun berlalu dan semua pasukan sudah hadir di lembah Ortaum. Semuanya telah siap memulai pertempuran yang menentukan itu. Dan ketika sangkakala telah dibunyikan oleh setiap pemimpin pasukan, sejak saat itulah pertarungan yang mematikan segera dimulai. Baik prajurit infantri atau kaveleri terus maju dan langsung bertarung dengan sengit di garis depan. Diiringi oleh para kesatria dan bangsawan tinggi kerajaan di belakangnya, semua pasukan terus bertaruh nyawa dan ingin menang. Tak ada dari mereka yang ingin mundur atau menyerah. Semua entah karena pemberani atau hanya sekedar ego tetap saja maju bertarung. Dan yang jelas siapapun yang terlibat dalam pertempuran itu hanya ada dua pilihan yang bisa diambil, yaitu menang atau kalah, hidup atau mati saat meninggalkan medan pertempuran.

Dan sungguh apa yang terjadi dalam pertempuran itu sangat mengagumkan. Para panglima terus mengatur strategi dan menggerakkan setiap pasukannya dalam berbagai formasi tempur yang rumit dan mematikan. Di lain tempat, para kesatria dan senopati juga bertarung dengan sangat gagah berani. Mereka terus-terusan mengeluarkan berbagai keahlian yang membuat kagum. Satu persatu ajian kadigdayan pun mereka keluarkan hanya untuk bisa lebih cepat mengalahkan lawan. Hingga pada akhirnya mereka saling beradu kesaktian andalannya, yang membuat siapapun yang melihat sampai terpana sekaligus ngeri. Ledakan demi ledakan selalu mewarnai pertarungan mereka ini (para kesatria dan senopati), dan tentunya hal-hal yang aneh dan tak masuk akal juga sering terjadi. Sungguh pertempuran saat itu telah menunjukkan kemampuan sebenarnya dari Manusia yang kini sudah tidak ada lagi.

Ya. Pertempuran yang sengit terus saja terjadi sampai hari yang ke 12. Di hari berikutnya, hari yang ke 13 merupakan puncak dari pertempuran itu. Saking hebatnya pertarungan di hari itu, sampai-sampai para prajurit berhenti bertempur. Yang ada hanyalah para kesatria, senopati, panglima dan raja/ratu saja yang terus mengadu kesaktian mereka. Semuanya telah mengeluarkan kemampuan yang luar biasa. Dan mereka tidak lagi bertarung di satu tempat atau di lembah Ortaum itu saja, tetapi sudah kemana-mana dengan cara terbang atau bergerak secepat kilat.

Tapi dari semua pertarungan itu, maka apa yang terjadi pada Haidara-lah yang paling mengagumkan. Meskipun ia dikeroyok oleh banyak kesatria yang sakti mandraguna, sang pemuda bisa memenangkannya. Dan ketika dikeroyok lagi oleh para raja dan panglima dari kubu sebelah barat, Haidara mulai menunjukkan kesaktian yang sebenarnya. Sebanyak apapun musuhnya, ia akan membagi dirinya sebanyak itu pula. Setiap bagian dirinya itu lalu memiliki kemampuan yang sama dan bisa mengendalikan kelima elemen alam dengan sempurna. Dengan kesaktian itu, satu persatu musuh yang mengeroyok dapat dikalahkan. Tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan lantaran memang lebih sakti dari yang lainnya.

Waktu pun berlalu sampai pada akhirnya tinggallah Haidara dan lima orang raja dan kesatria yang masih mengeroyoknya. Kelimanya ini adalah yang paling sakti dan mendapatkan bantuan kekuatan dari kegelapan. Karena itulah, Haidara sampai harus mengeluarkan senjata pusaka yang bernama Assandir. Dengan senjata cakram pemberian Dewa itu, kesaktian dan semua senjata pusaka milik kelima musuhnya dapat di kalahkan. Ada yang terkulai lemas dan akhirnya sampai tewas. Tapi itu bukan berarti selesai, karena satu dari raja yang terkulai lemas itu sempat meminta bantuan kepada junjungannya – dari alam kegelapan – untuk bisa mengalahkan Haidara.

Dan permintaan itu pun segera dijawab dengan hadirnya sesosok raja kegelapan bernama Kosambis. Tapi penampilannya tak seperti bayangan orang-orang saat mendengar kata kegelapan. Dia justru berwajah tampan dan mengenakan pakaian yang berkilauan emas permata. Dari dalam tubuhnya pun memancar sinar terang ke segala arah, membuat orang-orang sampai mengira bahwa dia itu adalah Dewa yang sengaja turun dari Kahyangan.

Melihat itu Haidara langsung tahu bahwa dia adalah raja kegelapan. Tanpa menunda waktu, keduanya langsung bertarung dengan mengeluarkan berbagai senjata pusaka. Termasuklah sekali lagi Haidara harus mengeluarkan senjata cakram Assandir. Tapi kali ini tak langsung berhasil, lantaran Kosambis juga memiliki senjata pusaka yang serupa. Ketika keduanya diadu, ternyata seimbang. Kedua kalinya diadu, barulah terlihat siapakah yang menang. Senjata pusaka milik Haidara lebih unggul dan bahkan menghancurkan senjata milik Kosambis. Namun itu tak mengakhiri pertarungan dari keduanya. Dan untuk yang terakhir kalinya mereka lalu memutuskan untuk mengadu kesaktian tertinggi dirinya sendiri. Antara Haidara dan Kosambis sama-sama mempersiapkan diri untuk mengeluarkan ajian yang belum pernah dikeluarkan sebelumnya. Dan agar dampaknya tak menghancurkan medan pertempuran, mereka lalu bertarung dalam sebuah perisai tembus pandang yang sangat kokoh. Disana mereka bisa sepuasnya mengeluarkan kemampuan.

Sungguh, apa yang terjadi pada saat itu membuat semua orang yang melihatnya terpukau sekaligus ketakutan. Belum pernah yang hidup saat itu menyaksikan peristiwa yang seperti itu. Meskipun mereka sakti mandraguna, tak ada yang pernah melihat kesaktian seperti yang dikeluarkan oleh kedua kesatria tersebut. Dan meskipun keduanya bertarung dalam sebuah perisai yang sangat kokoh, maka dampaknya tetap terasa di Bumi. Tanah ikut bergetar kuat, air berguncang hebat, angin berhembus kencang, dan petir turut menyambar-nyambar. Membuat suasana menjadi semakin mencekam.

Dan akhirnya mereka berdua siap melepaskan pukulan yang terakhir. Pada saat itu, dari dalam tubuh Kosambis terpancar energi yang sangat kuat dan mengerikan. Ada banyak benda pusaka yang juga masuk ke dalam tubuhnya dan menyebabkan tubuhnya itu berubah-ubah wujud, kadang tampan namun sebaliknya menyeramkan. Sementara itu Haidara terus menyerap semua elemen alam dalam level yang belum pernah di lakukan oleh orang lain. Dari segala arah masuk berbagai energi yang memukau ke dalam tubuhnya. Dan ketika dirasa cukup, ia pun segera melepaskannya ke arah Kosambis. Maka terjadilah adu kekuatan yang sangat mengagumkan. Meskipun itu terjadi di angkasa, tapi dampaknya sampai menghempaskan semua yang ada di medan pertempuran. Tak sedikit yang sampai terlempar jauh dan mengalami luka. Sangat mengerikan.

Selanjutnya, setelah adu kesaktian itu terjadi maka terlihatlah bahwa raja kegelapan itu terluka dan kalah. Ia sampai tak mampu berdiri dan hanya bisa duduk bersila. Tapi dengan begitu ia tetap bisa meminta bantuan kepada sosok yang lebih tinggi kedudukannya. Dan benar saja, tak lama kemudian muncul lima sosok kembar tapi dalam warna kulit dan pakaian yang berbeda. Kelima sosok tersebut juga berpenampilan rupawan dan memancarkan sinar yang terang dari dalam tubuhnya. Membuat siapapun yang melihatnya langsung berpikir bahwa ini pasti raja di atas raja kegelapan sebelumnya.

Melihat itu, tanpa basa-basi Haidara langsung mempersiapkan dirinya. Dan karena sudah tahu bahwa musuhnya itu lebih hebat dari Kosambis, kali ini barulah ia mengeluarkan pusaka Mahayatra. Ketika di keluarkan, kelima pusaka itu terbang di sekeliling tubuhnya dan berputar-putar. Dari setiap pusaka itu lalu memancar energi yang luar biasa dan langsung masuk ke dalam tubuh Haidara. Semakin lama energi itu semakin besar dan ketika berhenti, maka dari dalam tubuh Haidara tiba-tiba muncul lima sosok kembarannya. Setiap sosok juga mewakili warna dan sifat yang berbeda. Lebih mirip kelima elemen alam (air, api, tanah, udara dan petir), hanya saja telah berwujud seorang Manusia.

Singkat cerita, setelah kelima sosok kembaran Haidara muncul, tak lama kemudian ia menyerang kelima sosok raja kegelapan yang baru datang itu. Mereka bertarung dalam level yang sangat berbeda. Tak ada lagi yang bisa melihatnya kecuali bagi mereka yang berilmu tinggi. Sebagian besar orang hanya bisa mendengarnya saja, karena pergerakannya melebihi kecepatan kilat. Tempatnya pun sering berpindah-pindah, kadang menjauh tapi kadang mendekati lembah Ortaum, dan semuanya berlangsung di udara. Terus seperti itu, sampai pada akhirnya Haidara tak mau “main-main” lagi. Berdasarkan petunjuk yang ia dapatkan, sudah waktunya untuk mengalahkan raja diraja kegelapan itu.

Dan itu memang terjadi. Ketika mereka jeda waktu beberapa saat, Haidara langsung berdoa kehadirat Tuhan Sang Penguasa Jagat. Doanya pun dikabulkan dengan adanya cahaya putih kebiruan dari Langit yang turun dan masuk ke dalam tubuhnya. Kelima pusaka Mahayatra pun ikutan masuk ke dalam tubuhnya. Sehingga dengan kekuatan itu, maka hanya dengan sekali pukulan jarak jauh saja kembar lima raja diraja kegelapan itu langsung tumbang. Sebagian tubuh mereka terluka parah dan itu membuatnya sangat kesakitan. Hanya karena umur mereka ditangguhkan sampai Hari Kiamat, maka tak ada kematian di hari itu. Setelah kembali menyatu ke dalam satu tubuh, ia pun kabur meninggalkan medan pertempuran.

Catatan: Sebenarnya raja diraja kegelapan itu hanya ada satu. Kembar lima yang bertarung dengan Haidara itu adalah wujud dari kesaktiannya saja. Semakin banyak ia membagi dirinya, maka semakin saktilah dia. Hanya saja pada saat itu ia sedang berhadapan dengan seorang yang terpilih. Sebelum bisa meningkatkan kesaktiannya dengan lebih banyak membagi dirinya, ia telah dikalahkan sebab tak mampu lagi menandingi kesaktian Haidara.

Sungguh pertarungan yang terjadi pada saat itu adalah peristiwa yang luar biasa dan sangat mengagumkan. Semua yang hadir pada saat itu tak bisa lagi berkata-kata. Ada rasa kagum kepada sosok Haidara, tetapi seiring itu pula turut serta rasa segan dan bahkan takut kepadanya. Belum pernah ada sosok kesatria – di zaman mereka – yang di anugerahi dengan kemampuan yang seperti itu. Bagi semua orang, kesaktian Haidara bukan lagi di level Manusia. Itu sudah setara dengan para Dewa di Kahyangan. Karena itulah, ketika Haidara mendekat kepada mereka, semua orang langsung tertunduk hormat dengan sikap tangan yang mencakup di dada. Tak ada yang berani mengangkat kepalanya sampai Haidara sendiri yang memintanya.

Dengan kerendahan hatinya, sang pemuda lalu berkata: “Wahai semuanya, saudara seperjuanganku. Diriku ini bukanlah siapa-siapa dan tak memiliki kemampuan apa-apa. Semua yang terjadi padaku hanyalah atas izin dan kehendak-Nya semata. Karena itu janganlah kalian berlebih-lebihan dalam bersikap. Tak sepatutnya kalian menghormatiku melebihi rasa hormat kepada dirimu sendiri dan juga kedua orang tuamu. Cukuplah di antara kalian menganggapku sebagai saudara. Itu jauh lebih berarti bagiku, dan bagi kita semua

Mendengar itu, semua orang semakin kagum kepada sang pemuda. Tak sedikit dari mereka yang berlinangan air mata, karena sosok yang sangat tinggi ilmunya itu punya kerendahan hati yang luar biasa. Dan itu tak hanya sebatas ucapan saja, karena Haidara benar-benar bersikap sangat rendah hati dan mau merangkul siapa saja yang ada didekatnya. Ia pun duduk di atas tanah agar semua orang pun merasa tak ada jarak di antara mereka. Hanya karena waktu sudah senja, maka barulah mereka beranjak. Apa yang bisa dikerjakan lalu mereka kerjakan sampai selesai. Tugas dan kewajiban tetaplah yang utama.

Dan begitulah akhir dari pertempuran di lembah Ortaum. Di hari ke 17 mereka sudah mulai beres-beres untuk pulang ke negerinya masing-masing. Yang gugur lalu dikuburkan secara massal dengan penghormatan yang tinggi, sementara yang terluka terus diobati sampai sembuh. Selanjutnya, tinggal memutuskan bagaimana keputusan akhir dari perang dunia kala itu. Karena setelah Haidara berhasil mengalahkan raja diraja kegelapan, semua orang lantas menghentikan pertempuran. Setiap orang sadar bahwa tak ada gunanya lagi bertempur, karena siapa yang menang sudah diketahui dengan jelas.

Tapi semuanya dikembalikan kepada Haidara sebagai sosok kesatria yang paling mengagumkan. Apapun keputusan yang ia sampaikan akan diikuti oleh semua orang, bangsawan atau tidak. Dan keputusan itu adalah menandatangani surat perjanjian damai bagi semua kerajaan yang terlibat dalam perang dunia kala itu. Setiap pemimpin kerajaan, baik itu dari bangsa Manusia, Peri, Cinturia dan Karudasya, harus menyertakan cap stempel resmi kerajaannya sebagai bukti bahwa mereka telah sepakat untuk berdamai dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Dan surat itu lalu dipegang oleh Haidara, yang kemudian di wariskan kepada siapapun yang ia tunjuk nanti.

Lalu berakhirlah semua hirup pikuk perang dunia saat itu. Setiap pasukan kembali ke negerinya masing-masing. Setelah itu mereka kembali melanjutkan kehidupan mereka seperti biasanya. Hubungan diplomasi dan perdagangan di antara kerajaan dan kawasan bisa kembali terjalin mesra. Tidak seperti sebelumnya yang rumit dan banyak masalah, kini setelah perang dunia akhirnya bisa lebih baik dan terus meningkatkan kesejahteraan. Kehidupan dunia benar-benar kembali aman dan makmur.

Selanjutnya, karena sudah menjadi tugasnya, Haidara pun mengajarkan tentang berbagai hal yang bersumber dari apa yang terdapat di dalam kitab pusaka Alwiyas. Ada banyak informasi dan pengetahuan yang sangat tinggi dari Dewa-Dewi untuk membangun peradaban di muka Bumi ini. Jika diikuti, akan membangkitan kejayaan dan itu sesuai dengan aturan dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Dan begitulah yang terjadi kemudian. Semua kerajaan yang mengikuti petunjuk yang terdapat dalam kitab Alwiyas menjadi semakin makmur dan lebih tinggi peradabannya.

6. Daftar raja-raja
Dalam sejarahnya, sejak negeri Istarin di turunkan ke Bumi dari Kahyangan, maka ada 20 orang yang menjadi pemimpinnya. Selama jutaan tahun, apapun yang ada disana selalu tertata rapi dan sesuai dengan prinsip keseimbangan. Baik pemimpin atau yang dipimpin selalu dapat hidup merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Mereka telah sampai pada keharmonisan hidup dan tidak terikat lagi dengan apapun kecuali aturan Tuhan.

Adapun di antara nama-nama dari para pemimpinnya adalah sebagai berikut:

1. Haidara -> pemimpin pertama di negeri Istarin.
2. Madahira
3. Kalimor
4. Holdar
5. Dumdala
6. Tisamo
7. Nenyah
8. Wistarin
9. Nobutsa
10. Hurankah
11. Pursai
12. Sendai
13. Kosrak
14. Sarturu
15. Odani
16. Hekan
17. Yejjah
18. Aztorat
19. Meyaka
20. Sajinara -> pemimpin terakhir yang sampai kini masih memimpin negeri Istarin. Ke 19 pemimpin sebelumnya sudah berpindah ke Dimensi yang lebih tinggi.

Mereka yang menjadi pemimpin di negeri Istarin ini telah dianugerahi umur yang sangat panjang, karena mereka bisa memimpin selama minimal 1 juta tahun (dalam ukuran waktu di Bumi). Hanya jika sudah mendapatkan petunjuk untuk berpindah Dimensi saja barulah mereka mengakhiri masa jabatannya. Selanjutnya akan digantikan oleh siapapun yang layak dan memenuhi syarat.

7. Akhir kisah
Setelah mendamaikan negara-negara yang terlibat dalam perang dunia kala itu, sekali lagi Haidara menjauh dari pentas dunia. Ia tak peduli apakah dirinya dikenal atau tidak, dipuji atau dicaci maki. Dan meskipun ia telah diminta untuk menjadi pemimpin tertinggi di seluruh dunia, Haidara tetap saja pada pendiriannya. Ia hanya ingin menjadi orang biasa yang tinggal di desa namun tetap bisa membantu serta mengawasi kehidupan di muka Bumi saja. Tak ada niatan untuk menjadi raja atau pemimpin tertinggi, karena semua yang ia lakukan hanya atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Hanya satu tempat dimana ia mau menjadi pemimpin, tidak di muka Bumi ini, tetapi di negeri Istarin yang tersembunyi itu. Dan karena memang tugasnya sudah selesai di muka Bumi ini, ia pun diperintahkan untuk kembali ke negeri Istarin. Tak ada yang ia bawa serta, kecuali keluarganya saja (istri, anak, orang tua, dan adik-adiknya). Hanya sesekali saja Haidara muncul di Bumi untuk sekedar memberikan nasehat dan atau melaksanakan tugasnya.

Tapi sebelum pergi ke negeri Istarin, Haidara sempat menyampaikan pesan kepada semua orang dalam bahasa Kiyaning. Adapun kalimatnya sebagai berikut:

Ingmahidyaning lil barokasyaning nahakawulah tahwatirasiya hisanamur aryabuming nahikantasuril. Jawarakatuh mugiyanamo tuhlamaning kasiyaning balhabarusya hisabataning hil syiratuyasa niyaratikah. Amiranaying bumiyang kakhiwaning matadyanya laturdayah mosambataning hidatmananya hikas. Majirakanaming puratayas purataying dur hisamsaya nah Sri Mahadiyasya Hal Atakasyara mijaramiya angtabahaning. Rahutakang syilamanawa gsatalingga swaruding almadyani rat 101-573-264-910-801 sahamursita ratuyasanur halanasaring. Hiramatasya hirhamataya ingyugalani ajiningwa buryatabun Lillah burtahayakh

Setelah itu, ia pun memberikan 10 buah cincin pusaka kepada 10 orang raja dan ratu. Fungsi dari cincin tersebut adalah untuk bisa masuk ke negeri Istarin. Mereka yang memakainya akan diterima dengan baik dan bisa bertemu langsung dengan Haidara sebagai pemimpin disana. Jika ada urusan pelik yang mengganggu ketertiban dunia, siapapun yang memakai cincin tersebut bisa segera meminta bantuan kepada Haidara atau siapapun yang hidup di negeri Istarin – dan cincin itu boleh diwariskan dari generasi ke generasi. Atas restu dari pemimpinnya – karena selanjutnya bukan hanya Haidara saja – beberapa orang akan ditugaskan untuk membantu. Bahkan jika perlu pemimpinnya sendiri yang akan turun tangan langsung. Dan ini pernah terjadi berulang kali, di zaman yang berbeda.

Demikianlah kisah ini berakhir. Apapun yang pernah terjadi dimasa lalu tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi di zaman ini. Sebab kehidupan dunia ini laksana roda pedati yang terus berputar, terus berulang sampai batas waktu Hari Kiamat nanti terjadi. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang selamat dan beruntung. Rahayu.. 🙏

Jambi, 13 Agustus 2018
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Seperti dalam tulisan sebelumnya, disini tidak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Semuanya kembali pada diri Anda sekalian, tugas kami hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Ada banyak hal yang tak bisa dijelaskan secara detil disini, ada protap yang harus dipatuhi. Maaf.
3. Semoga ada banyak yang lebih memahami tentang siapakah sebenarnya Dewa-Dewi itu dan apa kaitannya dengan para Nabi. Karena yang lama tak selamanya harus dipertahankan, terlebih jika itu tak sesuai lagi dengan fakta dan hati nurani.

6 respons untuk ‘Mahayatra: Solusi Kehidupan Dunia

    Casra Wijaya said:
    Agustus 17, 2018 pukul 10:37 am

    Terimakasih Mas Oedi (Harunata Ra)
    kisah ini sangat memotivasi saya untuk selalu bersyukur, menolong sesama tanpa pamrih, rendah hati dan tidak sombong… dan semoga kita dijauhkan dari berbagai penyakit hati serta semoga kita semua selalu mendapatkan rahmat, pertolongan & hidayahNya… Aamiin

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 18, 2018 pukul 1:41 am

      Sama2lah mas Casra Wijaya, nuwun juga atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Syukurlah kalo kisah ini bisa memotivasi ke arah yg lebih baik.. Karena mulai skr kita memang butuh itu jika ingin selamat.. khususnya di masa transisi zaman nanti.. Semoga kita termasuk orang yg beruntung.. 🙂

    Bunga said:
    Agustus 17, 2018 pukul 5:02 pm

    Salam Rahayu Mas Oedi 🙏 Mas ciri-ciri aktifnya indera ke 7 apa ya?

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 18, 2018 pukul 1:47 am

      Rahayu juga mbak Bunga, Nuwun karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Hmm.. tentang ciri2nya gak bisa saya share disini.. Itu adalah informasi yg sgt rahasia dan gak bisa sembarangan disampaikan.. Maaf ya.. 🙂

    Paijo said:
    Agustus 30, 2018 pukul 12:50 am

    Pertanyaannya,bisakan manusia jaman now melakukan itu

      Harunata-Ra responded:
      September 9, 2018 pukul 3:19 am

      Tidak ada yang tidak mungkin mas… apa saja bisa terjadi jika memang diizinkan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s