Hiltram as Kazalim : Tombak Azab dan Pedang Takdir

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Tak bisa dipungkiri bahwa ada begitu banyak kisah kehidupan dunia yang tak diketahui lagi. Dan seiring dengan berjalannya waktu, ada begitu banyak pula kisah-kisah yang luar biasa yang kini hanya dianggap sebatas mitos, dongeng dan atau khayalan belaka. Orang-orang tidak mau lagi percaya akan peristiwa “yang tak masuk di akal”. Padahal apa sih yang tidak mungkin bisa terjadi di dunia ini? Dan tidak ada yang namanya kebetulan itu, karena semuanya telah sesuai dengan kehendak dan pengaturan Tuhan.

Ya. Ada banyak sekali kisah-kisah purba yang pernah terjadi di masa lalu yang sifatnya mengagumkan. Semuanya jelas menunjukkan betapa dinamisnya kehidupan di atas dunia ini. Apapun yang terjadi di masa lalu, jangan disamakan dengan model kehidupan di masa sekarang. Dan setiap peristiwa luar biasa yang pernah terjadi itu bisa menjadi peringatan dan pelajaran yang berharga bagi siapapun yang mau berpikir. Lalu jika kita mau meresapinya dengan tenang dan mendalam, maka akan ada banyak kebaikannya pula. Tidak hanya untuk hidup di dunia ini saja, tetapi sampai ke akherat nanti.

Nah untuk mempersingkat waktu, mari ikuti kisah berikut ini:

1. Awal kisah
Pada awalnya, jauh sebelum Manusia di turunkan ke Bumi, para Malaikat level tertinggi diperintahkan untuk berkumpul di sebuah Dimensi khusus. Disana mereka lalu mendapatkan visi (penglihatan masa depan) tentang kehidupan baru di sebuah Alam Semesta. Di dalam Alam Semesta itu lalu terdapat kehidupan yang sangat menarik dan unik. Sebuah dunia yang melibatkan berbagai elemen kehidupan. Salah satu yang terpenting adalah seluk beluk kehidupan Manusia selama beberapa periode zaman. Mereka tinggal di sebuah tempat yang terbilang sangat kecil (Bumi), tapi bisa menjadi pusat dari segalanya. Meskipun mereka tampak lemah, tapi sebenarnya ada kekuatan dan keistimewaan pada dirinya yang tak diberikan kepada makhluk lainnya. Sungguh ini menarik sekali.

Semua hal itu membuat para Malaikat sampai terpesona dan ingin terlibat di dalamnya. Karena itulah, di antara mereka lalu terpilih tiga sosok yang harus menjalankan tugas khusus. Dan semuanya di mulai jauh sebelum Manusia di turunkan ke Bumi. Pada masa itu, tiga sosok Malaikat tingkat atas yang bernama Attasy’ira, Attamuril, dan Attahasyi diperintahkan untuk mengumpulkan 10 bahan dasar utama untuk membuat dua buah senjata pusaka sakti. Adapun bahan-bahan itu harus dicari di ke-10 dimensi khusus tingkat tinggi (hanya bisa dikunjungi oleh para Malaikat level atas saja). Semuanya sesuai dengan intruksi yang telah Hyang Aruta (Tuhan YME) berikan dan ini sangat dipatuhi oleh ketiga Malaikat tersebut.

Catatan: Seperti Manusia, maka para Malaikat juga terdiri dari berbagai tingkatan dalam hal kekuatan, kesaktian atau pun ilmu pengetahuannya. Sedikit dari mereka saja yang diketahui oleh penduduk Bumi, karena mereka itu digolongkan menjadi tiga level, yaitu bawah, menengah dan atas. Khusus yang di level menengah mereka dibagi menjadi 5 tingkatan, dan untuk yang teratas, maka para Malaikat ini lalu dibagi lagi menjadi 10 tingkatan. Semakin tinggi tingkatannya, maka semakin sedikit pula jumlah Malaikat-nya.

Setelah ke-10 bahan itu berhasil di dapatkan, sesuai dengan petunjuk dari YANG MAHA KUASA, ketiga Malaikat itu lalu diperintahkan untuk menemui para Ainur di tempat kediaman mereka. Tujuannya kala itu adalah untuk menyerahkan ke-10 bahan dasar yang sudah didapatkan agar kemudian di “tempa” menjadi dua buah pusaka yang sangat luar biasa. Dan para Ainur ini adalah makhluk supranatural adidaya yang pernah beberapa kali membuatkan benda pusaka yang sungguh mengagumkan; seperti mustika Mahayasya dan kitab Dharmayata. Tidak hanya untuk kalangan Manusia saja, tetapi juga bagi makhluk lainnya, termasuklah untuk golongan para Malaikat.

Ya. Para Ainur itu adalah makhluk supranatural abadi yang terdiri dari tujuh sosok dengan kemampuan dan tugasnya masing-masing. Golongan Ainur ini tidak sama dengan para Malaikat, karena mereka memiliki kedudukannya sendiri. Bahkan para Malaikat saja tidak banyak yang tahu tentang keberadaan mereka ini – apalagi Manusia. Sebab para Ainur tersebut selalu berada di suatu tempat yang khusus dan tidak ada seorang pun yang bisa kesana kecuali atas izin Tuhan. Hanya sesekali saja mereka keluar dari kediamannya, dan itu hanya atas perintah dari YANG MAHA ESA.

Kisah pun berlanjut. Selama lebih dari 700 miliar tahun (dalam ukuran waktu di Bumi), kedua pusaka yang diberi nama Hiltram (tombak azab) dan Kazalim (pedang takdir) itu telah dipakai oleh para Malaikat dalam menjalankan tugasnya. Dan selama itu pula, kedua senjata pusaka itu telah berulang kali digunakan untuk keperluan berperang. Tentu dalam hal ini adalah untuk pertempuran yang maha dahsyat dan tak bisa dibandingkan dengan yang pernah terjadi di Bumi, di zaman apapun itu.

Catatan: Kemampuan kedua senjata pusaka itu sungguh mengagumkan. Misalnya saja pedang Kazalim yang sekali sabetannya saja bisa langsung menghancurkan sebuah planet atau lebih. Itu baru salah satu jenis kekuatannya, masih ada lagi yang lainnya jika diperlukan.

Ya, pada masa itu para Malaikat harus sering bertempur menghadapi kekuatan dari kegelapan yang telah mengacaukan keseimbangan dunia. Mereka itu (pasukan kegelapan) mendapatkan kekuatan yang luar biasa secara misterius yang membuat mereka besar kepala dan lupa diri. Segala aturan Tuhan di langgar sesuka hatinya tanpa ada rasa penyesalan. Mereka pun sangat menyukai hal itu dengan bangga. Akibatnya kehidupan kosmos menjadi kacau dan jauh dari kata harmonis. Dan untuk mengembalikan itu semua ke jalur yang semestinya, para Malaikat lalu ditugaskan untuk menghentikan kejahilan dan kejahatan dari para serdadu kegelapan itu. Dalam hal ini adalah dengan jalan berperang sedahsyat mungkin.

Catatan: Tidak semua Malaikat yang ikut bertempur pada masa itu, terutama yang di tingkat tertinggi. Hanya sebagian kecilnya saja, karena yang lainnya tetap menjalankan tugas yang telah diberikan Tuhan kepadanya seperti biasa. Semua ada hak dan kewajibannya masing-masing. Mereka yang berperang menghadapi pasukan kegelapan pada masa itu adalah sekelompok Malaikat yang memang bertugas menjaga ketertiban dunia. Merekalah yang berada di level menengah di antara para Malaikat.

Sungguh, pertempuran yang terjadi pada masa itu susah untuk di jelaskan. Kejadian demi kejadian telah berada di luar batas imajinasi. Hal-hal yang tak masuk di akal – untuk ukuran orang sekarang – terjadi berulang kali dan nyata di depan mata. Sementara kegaduhan yang berlangsung sungguh mengerikan dan tak pernah terjadi lagi setelah itu sampai kini. Dan mereka yang terlibat dalam pertempuran itu memiliki kemampuan yang sungguh luar biasa. Tidak hanya dalam urusan kadigdayan saja, tetapi bisa sampai menciptakan dan menghancurkan apapun sesuka hatinya.

Karenanya pada masa itu, ketika perang maha dahsyat terjadi, maka ada banyak Alam Semesta yang ikut terlibat. Dari berbagai Alam Semesta itulah pasukan yang sangat menakjubkan terbentuk. Kesaktian mereka sungguh mengagumkan. Tidak jarang mereka yang bertarung kala itu sampai harus menghancurkan planet dan galaksi demi mengalahkan musuhnya, atau sebaliknya menciptakan kembali apa saja yang telah hancur itu atas izin Tuhan. Dan pertempuran pun tidak lagi hanya terjadi di sebuah planet, terlalu kecil, tetapi lebih banyak di angkasa luas dan di berbagai Dimensi yang berbeda.

Catatan: Tentang berbagai Alam Semesta ini, untuk lebih jelasnya silahkan baca artikel berikut: Multiverse: Bukti keagungan Tuhan.

Ya. Pertempuran demi pertempuran maha dahsyat terjadi berulang kali selama rentang waktu ±700 miliar tahun. Dan karena para Malaikat telah memiliki dua benda pusaka (tombak Hiltram dan pedang Kazalim), mereka terus-terusan menang. Di tambah lagi mereka juga memegang sebuah mustika warna-warni pemberian dari para Ainur untuk berbagai keperluan, maka kemenangan terus menyertai perjuangan dari para Malaikat. Mustika itu bernama Sriyam, dan tak perlu ditanyakan lagi tentang kemampuan apa yang bisa dikeluarkannya.

Tapi karena pihak kegelapan mendapatkan kesaktian misterius, berbagai jenis pusaka, dan hidup yang abadi – sampai Hari Kiamat nanti, meskipun kalah mereka tetap bisa bangkit kembali. Hal ini terus terjadi berulang kali sampai pada akhirnya seorang Ainur diperintahkan untuk turun tangan menertibkan keadaan. Dan benarlah ketika sosok Ainur yang bernama Mahsyira itu muncul di hadapan mereka yang bertempur, tak ada yang bisa menandinginya. Dalam waktu beberapa detik saja, sang Ainur tersebut mampu menghentikan pertempuran yang sangat dahsyat itu. Pasukan kegelapan yang jumlahnya sangat banyak pada waktu itu semuanya di “tangkap” dan kemudian di segel di sebuah dimensi khusus. Tidak ada yang bisa keluar dari “penjara” itu kalau belum waktunya.

Demikianlah titah dan kehendak dari YANG MAHA KUASA untuk menjaga keseimbangan dunia. Dan setelah Mahsyira menyegel pasukan kegelapan itu, tak lama kemudian muncullah para Ainur lainnya untuk memperbaiki apa saja yang rusak dan hancur akibat pertempuran dahsyat kala itu. Satu persatu planet dan galaksi yang hancur di berbagai Alam Semesta atau Dimensi lalu dikembalikan seperti sedia kala. Mereka yang tewas sebelum takdirnya juga dihidupkan kembali seperti tak pernah terluka atau mati sebelumnya. Apapun yang telah rusak dan tak sesuai pada tempatnya segera di perbaiki dan di kembalikan seperti semula.

Dengan begitu kehidupan dunia bisa berjalan normal dan harmonis lagi. Setiap Alam Semesta atau pun Dimensi yang sebelumnya kacau balau akhirnya kembali tenang dan stabil. Hanya saja meskipun masalah yang terjadi selama ±700 miliar tahun itu akhirnya bisa selesai, namun masalah yang lainnya akan tetap terjadi. Begitulah yang telah Hyang Aruta (Tuhan YME) tetapkan bahkan sebelum dunia ini diciptakan. Dan informasi ini telah disampaikan oleh Malaikat Jibril sebagai pembawa Wahyu Ilahi. Semua yang terlibat dalam pertempuran maha dahsyat kala itu langsung mendengarkannya dengan takjub dan berserah diri. Mereka hanya bisa menunggu dan bersiap untuk menjalankan tugas jika memang diperintahkan oleh Tuhan.

Catatan: Sesungguhnya perang besar itu akan selalu ada sampai Hari Kiamat nanti. Itu adalah bagian dari seleksi yang sangat ketat bagi setiap diri makhluk. Disitulah ujian untuk membuktikan siapakah yang tetap beriman atau justru telah ingkar. Siapakah yang tetap berjalan di lurus jalur-NYA dan senantiasa berserah diri kepada-NYA atau justru tetap membangkang. Tidak mudah untuk bisa lulus disini, karena rasa sedih, takut, penderitaan dan iming-iming kenikmatan duniawi akan sangat dirasakan. Bagi yang benar-benar kuat saja yang dapat lulus, selebihnya hanya akan menjadi budaknya kegelapan atau mati sia-sia.

2. Pemuda desa keturunan bangsawan
Sesuai dengan kehendak-Nya, maka di mulailah kehidupan Manusia di Bumi dengan turunnya Ayahanda Adam AS dan Ibunda Hawa AS dari Syurga. Dalam rentan waktu yang terus berjalan, dari keduanya maka lahirlah keturunan yang beragam jenisnya (beda ras). Dari situlah kemudian muncullah berbagai kaum yang berbeda, yang hidup di sepenjuru Bumi ini. Terus seperti itu, sampai zaman pertama (Purwa Duksina-Ra) pun berganti. Setelah melalui masa transisi yang sangat mengerikan, akhirnya keturunan Manusia yang tersisa bisa kembali menjalani kehidupannya di atas Bumi ini – di periode zaman kedua (Purwa Naga-Ra). Merekalah cikal bakal umat Manusia sampai hari ini. Tetap seperti itu selama miliaran tahun belakangan.

Dan pada masa-masa pertengahan awal periode zaman kedua (Purwa Naga-Ra), hiduplah seorang pemuda sederhana di sebuah desa yang permai bernama Kassah. Meskipun masih keturunan bangsawan tinggi di kerajaan Tasiruh, maka sejak kakeknya dulu keluarga kecilnya itu tak pernah menunjukkan keningratan mereka. Mereka hidup sederhana dan tak ada yang tahu bahwa mereka ini ternyata masih berdarah biru yang langsung dari garis silsilah para raja agung. Ini sengaja di lakukan sesuai dengan petunjuk yang pernah di terima oleh kakeknya dulu, yaitu Matosa bin Monsa (raja ke-12 Tasiruh). Ia dan keluarganya harus mengasingkan diri jauh dari kerajaan dan seluk beluk kehidupan istana. Ada rahasia dibalik itu semua, dan waktulah yang akan mengungkapkannya nanti.

Catatan: Setiap periode zaman itu dibagi menjadi tiga masa, yaitu awal, tengah dan akhir. Nah peristiwa dalam kisah ini berlangsung pada masa awal periode zaman kedua (Purwa Naga-Ra), tepatnya lagi di waktu yang pertengahannya.

Sang pemuda bernama Aghara. Anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya seorang wanita bernama Magiya, sementara adiknya seorang laki-laki yang bernama Senara. Mereka bertiga hidup rukun dan penuh kasih sayang. Semuanya atas didikan dari kedua orang tuanya (Matura dan Nisaya) yang bijak dan rendah hati. Dan meskipun mereka hidup sederhana, namun ilmu pengetahuan adalah yang utama. Karena itulah, walau kedua orang tuanya telah memberikan bekal yang cukup, ketiga bersaudara itu tetap harus berpetualang mencari ilmu dan wawasannya sendiri. Tidak diizinkan kembali jika belum mendapatkan sesuatu yang berharga dan luar biasa. Begitulah kebiasaan yang ada di dalam keluarga ini secara turun temurun.

Suatu ketika, saat menginjak usia yang ke-21 tahun, Aghara meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi mengembara. Kakak perempuannya, Magiya, telah lebih dulu tiga tahun darinya dalam berpetualang, dan kini giliran ia yang harus mencari ilmu dan pengalaman baru di tempat lain. Meski dengan berat hati, ayah dan ibunya lalu merestui kepergiannya itu. Ibunya bahkan berpesan dengan berkata: “Wahai anakku, sebelum engkau kembali maka jadilah sosok yang pantas menyandang gelar sebagai Manusia. Jangan mencoreng nama baik para leluhurmu dengan kemampuan ilmu yang sedikit”

Sungguh pesan yang sangat dalam, dan dengan bekal itulah Aghara mulai melangkahkan kakinya dengan semangat dan percaya diri. Sesulit apapun rintangan yang harus ia hadapi, pesan dari ibunya itu selalu dijadikan pengingat. Sang pemuda terus berusaha menemukan yang terbaik bagi dirinya dan bagi perjalanan hidupnya di dunia ini.

3. Sosok yang terpilih
Wahai saudaraku, perlu engkau ketahui bahwa pada masa itu kondisi daratan di Bumi ini lebih luas dari pada lautannya. Geografi dan topografinya pun sangat berbeda dari sekarang. Semua gunung dan perbukitan yang ada di seluruh dunia saat ini masih belum ada pada masa itu. Begitu pula dengan makhluk-makhluk yang tinggal di atas permukaan Bumi ini atau di dalamnya, atau di dalam lautannya, atau yang terbang di udara juga sangat berbeda dari sekarang, baik dalam hal ukuran maupun bentuknya, atau jenis spesies dan varietasnya. Dan kala itu, bangsa yang dikenal dengan sebutan Peri, Ruwan, Cinturia, Karudasya, dan Naga masih tinggal di Bumi ini. Bahkan bangsa Jin pun masih ada yang bisa tinggal di alam nyata dunia ini, tak jauh berbeda dengan Manusia. Mereka juga berwujud kasar seperti Manusia, hanya saja ukuran tubuhnya lebih besar dan umurnya pun jauh lebih panjang.

Nah, pada masa itulah pemuda yang bernama Aghara ini hidup dan melakukan pengembaraan. Karena ia berpetualang ke berbagai tempat, maka selain pernah berkunjung ke kota-kota besar Manusia, Aghara juga pernah singgah di beberapa kota yang dibangun oleh bangsa Peri, Ruwan, Cinturia, Karudasya dan Jin. Sebagian besarnya oleh sebab tak sengaja dan tidak ada pula niatan khusus untuk berkunjung kesana.

Ya, kunjungan itu memang sudah digariskan bagi dirinya, khususnya demi persiapan akan tugas berat yang kelak harus ia jalankan. Pertemuan Aghara dengan bangsa yang bukan Manusia itu jelas menambah wawasan dan pengalamannya. Berbagai ilmu baru telah ia dapatkan. Hal ini akan membantunya dalam melalui berbagai ujian hidup sebelum akhirnya tampil sebagai seorang kesatria yang terbaik dan layak untuk memimpin dunia.

Hanya saja, sebagai Manusia yang harus hidup sebagai penduduk Bumi, maka tak jarang Aghara harus mengalami berbagai kesedihan dan kegagalan dalam hidupnya. Ia pernah berulang kali di tolak saat ingin menuntut ilmu dan mencari pekerjaan atau harus kelaparan sebab tak ada apapun yang bisa di makan lantaran tak punya uang. Hinaan dan dilecehkan orang lain tak jarang ia dapatkan dari mereka yang hanya melihat penampilannya sebagai orang biasa (miskin).

Namun demikian, tahun demi tahun yang dilalui tetap ia jalani dengan sabar dan berserah diri. Tak ada dendam atau bahkan amarah dihatinya. Tak ada pula niatan untuk pamer kemampuan atau berusaha menonjolkan dirinya (karena Aghara memang punya banyak kemampuan) agar bisa dihormati orang. Aghara tetap bersikap rendah hati, dan sebagai seorang hamba yang beriman, ia pun hanya bisa pasrah atas segala yang Tuhan putuskan bagi dirinya. Sang pemuda tetap yakin bahwa selama ia bisa berbuat kebajikan, pandai bersyukur dan tetap tunduk pada hukum dari Hyang Aruta (Tuhan YME), maka SANG MAHA DAYA takkan pernah meninggalkan dirinya. Kehidupan yang berat dan harus ia jalani itu hanyalah karena Tuhan sedang ingin bermesraan dengannya. Sungguh ini adalah karunia yang besar meskipun tak mudah untuk dijalani.

“Berbahagialah duhai jiwa-jiwa yang sabar. Tenangkan dirimu, karena YANG MAHA PENGASIH sedang ingin bermesraan denganmu. YANG MAHA PENYAYANG pun ingin berdua-duaan bersamamu, jika engkau tetap dalam kepatuhan dan kesadaran diri”

Singkat cerita, di tengah kondisinya yang terpuruk akibat kurang makan, tidak diterima belajar (menjadi murid seorang guru besar), dan sering diremehkan orang lain (karena bukan bangsawan atau orang kaya), juga lantaran bingung karena merasa hidupnya semakin terlunta-lunta tanpa arah, Aghara hanya bisa duduk menyendiri di pinggir sungai yang berjeram dan ada air terjunnya. Disana ia hanya bisa merenung dan berdoa memohon kepada Tuhannya untuk dikuatkan dalam kesabaran dan tetap dijauhkan dari hal-hal yang di larang oleh-NYA. Dalam linangan airmata, berulang kali ia menghaturkan doa kehadirat Ilahi, sampai akhirnya tertidur.

Catatan: Perjalanan hidup seorang kesatria pilihan itu hampir sama. Mereka akan mengalami kesedihan, penderitaan, kegagalan, hinaan (caci maki, dilecehkan), bahkan sendirian dan putus asa. Demikianlah Tuhan mengaturnya untuk mempersiapkan lahir batin mereka sebelum menjalankan tugasnya.

Dalam tidurnya kala itu, Aghara bermimpi melihat sebuah negeri yang dipenuhi dengan keindahan dan kedamaian. Disana terdapat banyak gedung megah, dan di antaranya adalah yang memuat berbagai koleksi yang luar biasa (semacam perpustakaan). Saking terpesonanya pada mimpi itu, maka setelah terbangun Aghara lalu memutuskan untuk ber-semedhi – agar mendapatkan petunjuk – tepat di bawah pohon rindang yang bercabang dua. Tanpa terasa ia pun larut dalam meditasinya itu, dan sudah lewat 3 hari tak beranjak sedikitpun. Sampai akhirnya ada yang mendatanginya untuk menyampaikan kabar gembira. Sosok tersebut tiba-tiba muncul dari balik antah berantah.

Pada saat sosok tersebut muncul di hadapan Aghara, suasana mendadak terasa sangat tenang dan sejuk. Makin lama semakin sejuk dan menimbulkan perasaan yang damai. Hal ini membuat Aghara terbangun dari semedhi-nya, dan saat membuka matanya ia bisa melihat seorang pria yang sangat berwibawa dan tengah membawa sebuah cawan berisi makanan. Dari dalam dirinya memancar aura dan kharisma yang sungguh luar biasa. Senyumannya pun manis sekali. Dan ternyata sosok tersebut adalah seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Syis AS. Beliau datang untuk memberikan kabar gembira kepada sang pemuda.

Adapun kabar penting itu adalah Aghara diperintahkan untuk mencari sebatang pohon “ajaib” yang dulu sudah ditanam oleh seorang Malaikat, yang benihnya berasal dari Langit. Dengan menemukan pohon misterius itu, sang pemuda akan mendapatkan anugerah yang luar biasa. Ia akan menerima ilmu pengetahuan yang tak terkira dan itu akan sesuai dengan peran penting yang harus ia jalani nanti. Dan jika tetap tekun dalam kebajikan serta penuh kesabaran, maka ia akan layak menjadi Manusia dalam arti yang sesungguhnya. Sesuai dengan harapan ibunya dulu.

Lalu sesuai dengan Wahyu Ilahi, maka Nabi Syis AS memberikan bekal ilmu dan pengetahuan secukupnya untuk Aghara. Selama beberapa waktu sang Nabi terus mengajarkan berbagai hal kepada sang pemuda. Cawan yang ia bawa lalu diberikan kepada Aghara agar ia tak pernah lagi merasa kelaparan atau kehausan. Apapun yang ia inginkan, baik makanan atau minuman, bahkan obat-obatan akan muncul sendiri dari dalam cawan ajaib itu. Tak cuma sekali, tapi sesuai dengan kebutuhan dan itu berlaku untuk selamanya. Dan pada akhirnya karena sudah cukup waktunya, maka sang Nabi pun memberikan cincin putih yang bertahtakan permata biru kepada muridnya itu. Saat memberikan cincin tersebut, sang Nabi pun berkata: “Pergunakanlah cincin ini saat dibutuhkan. Ia akan membantumu dalam berbagai keperluan, termasuk untuk membuka rahasia di balik rahasia”.

Setelah mengatakan itu Nabi Syis AS raib dari pandangan. Tinggallah Aghara yang tetap diam di tempat untuk memikirkan waktu yang tepat dalam mencari pohon misterius itu – yang dikatakan oleh sang guru. Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk mulai mencarinya sejak esok hari, ketika Mentari mulai bersinar terang. Sedangkan perasaan di hatinya langsung menginginkan untuk berjalan ke arah timur saja.

Dan waktu yang telah direncanakan pun tiba. Sejak pagi hari Aghara sudah mulai berjalan ke arah timur. Namun ketika lewat tengah hari ia justru berbalik ke arah barat dengan memutari punggungan bukit. Mengikuti aliran sungai yang jernih, Aghara terus berjalan hingga sore hari. Di malam hari ia memilih untuk beristirahat dan kembali berjalan di pagi hari berikutnya. Begitulah seterusnya sampai memasuki hari yang ke 27. Dan Aghara masih belum menemukan pohon yang dikatakan oleh sang Nabi itu. Di hari ke 28, tepatnya setelah tengah hari, kedua kaki Aghara seolah-olah bertindak sendiri. Entah kenapa ia berjalan ke arah selatan, menuju sebuah padang rumput yang sangat luas. Secara logika Aghara tentu berpikir mana mungkin bisa menemukan pohon besar di sebuah padang rumput. Yang ada disana hanyalah rerumputan yang menghijau. Tapi kaki, tubuh bahkan hatinya pun tetap ingin berjalan terus ke arah selatan, memasuki padang rumput yang sangat luas itu.

Dan sebagai seorang murid dari utusan Tuhan, maka dengan sabar Aghara hanya bisa mengikuti hatinya saja. Lambat laun ia pun semakin menyadari pasti ada sesuatu yang penting di tengah pandang rumput itu, atau mungkin saja disanalah pohon misterius yang ia cari-cari selama ini. Dan benarlah apa yang ia pikirkan itu, karena setelah cukup lama berjalan, maka di hari yang ke 29, dari kejauhan ia bisa melihat sebatang pohon besar yang sangat rindang. Pohon tersebut terlihat sangat berbeda dari semua pohon yang ada. Lalu keanehan pun terjadi, karena semakin ia mendekati pohon besar tersebut, justru pohonnya semakin menjauh. Terus menjauh sampai ia tak bisa lagi melihatnya. Pohon tersebut seperti berjalan sendiri dan tak mau didekati oleh Aghara.

Melihat kejadian itu Aghara pun segera berhenti. Ia sadar ada sesuatu yang kurang disini. Tentu ada cara khusus untuk bisa mendekati pohon ajaib itu. Makanya tepat di hari yang ke 30 ia pun segera mengambil posisi duduk bersila dan langsung ber-semedhi untuk menenangkan hati dan pikirannya. Beberapa waktu kemudian ia mendengar suara gurunya (Nabi Syis AS) yang berbisik di telinganya. Sang guru pun berkata agar muridnya itu memakai cincin yang telah ia berikan dan menunjukkannya bila sudah bertemu dengan penjaga pohon misterius itu.

Mendengar petunjuk itu, Aghara langsung mengenakan cincin bermata biru itu dan bangkit dari tempat duduknya. Tak lama kemudian kedua matanya seolah-olah terbuka dari penutupnya. Ia bisa melihat dengan jelas sebatang pohon yang tadinya menghilang kini berada tak jauh di depannya. Namun masih seperti sebelumnya ketika ia berusaha mendekat maka pohon itu pun terus menjauhinya. Sampai pada akhirnya ia teringat sebait kalimat “mantra” yang pernah di sampaikan oleh Nabi Syis AS. Dengan kalimat itu dan sesuai dengan sikap hormat yang telah diajarkan gurunya, akhirnya pohon ajaib tersebut berhenti menjauh. Aghara pun bisa mendekatinya sampai tepat berada dibawah daun-daunnya yang rindang.

Pohon besar itu tak seperti pohon pada umumnya. Mulai dari akar sampai daunnya tidak sama dengan semua jenis pohon yang pernah Aghara lihat di muka Bumi ini. Bahan dasarnya sangat berbeda (lebih mirip kristal atau berlian) dan ada pula sinar yang terang dari pohon tersebut. Terdapat bunga dan buah yang bermacam-macam jenis di setiap dahan dan ranting pohon tersebut, membuatnya semakin bertambah misterius. Dan ketika ia berada di bawahnya, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang sangat rupawan tapi tak seperti Manusia – lebih mirip bangsa Peri. Sang pemuda pun menyapa dengan berbagai pertanyaan dan teka-teki yang harus dijawab dengan benar oleh Aghara. Dan karena Aghara adalah murid yang cerdas dari seorang Nabi, semua pertanyaan itu bisa dijawab dengan tepat.

Singkat cerita, sang pemuda misterius itu lalu bertanya kepada Aghara tentang apa yang menjadi bukti bahwa dirinya layak mendekati pohon itu? Tapi di jawab oleh Aghara dengan sikap yang rendah hati dan berkata bahwa ia tak tahu apa-apa dan tak pernah merasa layak. Ia hanya berusaha mengikuti petunjuk dari gurunya saja karena ia yakin kebenarannya. Apapun yang terjadi nanti ia serahkan hanya pada kehendak Tuhan Sang Penguasa Jagat. Mendengar jawaban itu sang pemuda misterius masih saja bertanya tentang kelayakan diri Aghara. Berulang kali, dan jawabannya pun masih tetap sama. Hingga akhirnya pemuda misterius itu justru tersenyum puas. Tapi ia kembali bertanya tentang bukti yang diberikan oleh Nabi Syis AS kepada Aghara.

Mendengar pertanyaan itu, sejenak Aghara pun berpikir tentang apakah yang dimaksudkan itu adalah cincin permata biru? Tak lama kemudian dengan mantap ia merasa yakin bahwa itulah saatnya untuk menunjukkan cincin pusaka pemberian Nabi Syis AS itu. Dan benar, ketika melihat cincin itu berada di jari manis Aghara, sang pemuda misterius langsung tersenyum dan segera memeluk tubuh Aghara. Ia pun berkata bahwa Aghara memang sudah terpilih untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang sangat luas. Apa yang terjadi sebelumnya hanya untuk menguji kesabarannya saja. Dan setelah menjelaskan itu, sang pemuda misterius lalu berjalan mendekati pohon ajaib. Ia pun berkata kepada Aghara bahwa ketika nanti di bawah pohon itu muncul sebuah pintu besar, maka Aghara harus segera memasukinya. Tanpa ragu dan tetap dengan sikap yang berserah diri.

Dan benar, ketika pemuda misterius mendekati pohon ajaib itu, tiba-tiba ia menghilang dengan cara masuk ke dalam pohon besar tersebut. Tak lama kemudian muncul sebuah pintu yang bercahaya tepat di pangkal batang pohon ajaib itu. Sesuai dengan petunjuk dari pemuda misterius, Aghara pun segera memasuki pintu besar tersebut. Dan ketika masuk ke dalamnya, Aghara langsung bisa melihat sebuah kota yang sangat megah tapi tak ada seorang pun Manusia disana. Ia telah berpindah dimensi kehidupan, yang kondisinya sangat berbeda dengan di Bumi. Tak lama kemudian Aghara langsung disambut oleh seorang pria yang sangat ramah kepadanya. Dan sebagaimana mereka yang tinggal di kota itu, maka sosok penyambut itu juga bisa terbang kesana kemari dengan mudah. Kemanapun ia hendak pergi, maka tinggal terbang atau bahkan berteleportasi saja. Sungguh kehidupan yang sangat berbeda dari semua kota yang telah dibangun oleh bangsa Manusia.

Catatan: Pohon ajaib itu adalah sebuah portal ke Dimensi lain tapi hanya bisa digunakan oleh orang tertentu saja. Aghara adalah salah satunya, bahkan yang pertama kali selain dari para Nabi. Dan hingga kini pohon tersebut masih ada di suatu tempat yang tersembunyi.

Kisah pun berlanjut. Awalnya Aghara diajak berkeliling melihat kondisi kota yang ternyata bernama Aviar itu. Dalam hal ini tentunya Aghara merasa kagum dengan apa saja yang ada disana. Belum pernah ia melihat kota yang seperti itu. Semuanya telah ditata dengan sangat teratur dan indah. Keseimbangan alam sangat dijaga, sehingga menciptakan keharmonisan yang luar biasa. Hingga pada akhirnya ia dibawa ke sebuah lokasi yang disebut Erahat. Di tempat itu ia bisa melihat ada 5 buah gedung megah yang didalamnya tersimpang berbagai jenis koleksi. Mulai dari buku dan gulungan, senjata pusaka, sampai dengan berbagai peralatan yang super canggih. Disana juga terdapat “bank data” yang menyimpan triliunan informasi tentang jagad raya. Ini jelas membuat Aghara makin terpana dan sangat ingin tinggal disana.

Dan karena memang sudah menjadi haknya, Aghara di persilahkan untuk tinggal disana (Erahat) sesuka hatinya. Apapun yang menjadi kebutuhannya akan segera dipenuhi oleh beberapa orang yang diperintahkan untuk melayani. Sang pemuda hanya perlu berkonsentrasi untuk menimba ilmu dan mengasah kemampuan dirinya saja. Yang lain tak perlu ia pikirkan, karena akan disediakan semuanya oleh penghuni kota Aviar. Dan ketika ia butuh teman berdiskusi atau untuk sekedar berlatih, maka ada banyak orang yang bersedia membantunya. Dengan begitu, semakin cepatlah Aghara menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan kesaktian tingkat tinggi. Bahkan sesekali Nabi Syis AS dan Nabi Khidir AS pun datang berkunjung untuk sekedar berdiskusi atau bahkan melatihnya. Di lain waktu Nabi Sahab AS, Nabi Harkasyi AS, dan Nabi Lakiya AS juga pernah menemuinya dan memberikan banyak pelajaran yang sangat berharga. Bahkan para Malaikat tingkat tinggi pun turut mendatanginya untuk memberikan bekal khusus (lahir batin) kepada sang pemuda. Ini perlu di lakukan mengingat tugas yang harus Aghara laksanakan nanti sangatlah penting.

Pernah suatu ketika Nabi Syis AS memberikan informasi yang sangat penting kepada Aghara. Salah satunya adalah mengenai tingkatan diri Manusia yang sebenarnya. Semuanya bermula ketika Aghara bertanya kepada sang guru tentang siapakah sebenarnya diri Manusia itu? Sang guru pun menjelaskan dengan berkata:

“Wahai ananda. Ketahuilah bahwa makhluk yang bernama Manusia itu memiliki keistimewaan yang tak diberikan kepada yang lainnya. Dan pada dasarnya minimal ada 10 tingkat keilmuan (kemampuan) bagi diri Manusia. Di antaranya yaitu:

1. Dasyirah
2. Himaliyas
3. Kastanin
4. Wanabasi
5. Yamanira
6. Uranamils
7. Isnamaya
8. Qasinaya
9. Valhatari
10. Astariyasya

Nah, jika seseorang bisa melalui ke sepuluh tahapan itu, maka ia akan menjadi Manusia dalam arti yang sesungguhnya. Makhluk yang sejatinya telah diciptakan oleh Tuhan dalam kesempurnaan (lahir batin). Dan khusus sejak di level ke lima (Yamanira), seseorang akan setara dengan para Malaikat, baik dalam hal ilmu pengetahuan atau pun kesaktiannya. Bahkan, berdasarkan petunjuk yang telah di terima, maka masih ada 5 tingkatan lagi di atas Astariyasya itu. Semuanya istimewa dan sungguh luar biasa bagi siapapun dari Manusia yang bisa sampai di kelima tingkatan itu. Dan jelas tidak semua orang bisa mencapainya, karena memang sangat tidak mudah. 

Inilah kenapa sebenarnya diri Manusia itu memiliki keistimewaan yang tak diberikan kepada makhluk lainnya. Tapi karena itulah, sebagai ujiannya Manusia harus menjalani kehidupan yang sangat tidak mudah. Di tengah-tengah keterbatasannya, ia harus tetap menjadi yang terbaik di hadapan Tuhan meskipun sering mengalami kegagalan dan keputusasaan, kesedihan dan kegelisahan, kesusahan dan penderitaan, atau ragu-ragu, bingung, takut, cemas, khawatir, rasa sakit, dan kadang salah memilih jalan. Tapi sebaliknya, Manusia juga bisa merasakan kebahagiaan, kasih sayang dan cinta yang luar biasa jika ia bisa terus mengikuti aturan Tuhannya.

Sehingga karena itulah, jika Manusia mampu menyeimbangkan perasaan dari keduanya itu, lalu melepaskan diri dari rasa suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, boleh atau tidak boleh, harus atau tidak harus, dan benar atau salah, maka ia akan merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Dan ketika bisa merdeka, maka disaat itulah ia baru akan menjadi sosok hamba Tuhan yang sejati. Satu kedudukan yang terbaik dari yang terbaik. Karena ia telah menemukan rahasia di balik rahasia”

Singkat cerita. Setelah mendapatkan penjelasan dari gurunya itu, Aghara terus melatih dirinya dalam berbagai keahlian dan kesadaran. Dan setelah ia tinggal puluhan tahun di negeri Aviar – menurut ukuran waktu disana, Malaikat Mikail datang menemuinya. Saat itu Aghara sedang berbincang-bincang dengan Nabi Syis AS. Lalu karena memang sudah waktunya, sang Malaikat segera menyampaikan petunjuk dari YANG MAHA BIJAKSANA. Ia mengajak sang pemuda dan gurunya itu ke suatu Dimensi khusus tingkat tinggi. Disana, di hadapan para Malaikat yang telah menunggu, ia pun memberikan dua buah pusaka luar biasa berupa pedang dan tombak kepada sang pemuda. Ternyata keduanya itu adalah yang pernah di pakai oleh para Malaikat di masa lalu – jauh sebelum Manusia hidup di Bumi – saat berperang melawan pasukan kegelapan. Kedua senjata pusaka itu bernama Hiltram (tombak azab) dan Kazalim (pedang takdir). Sebuah anugerah yang sangat luar biasa.

Catatan: Sebenarnya nama tombak azab dan pedang takdir yang disematkan kepada dua buah pusaka itu (Hiltram dan Kazalim) bukanlah arti yang sebenarnya. Keduanya itu hanyalah gelar yang diberikan oleh Manusia di kemudian hari, sejak Aghara mulai menggunakannya di hadapan umum.

Mendapatkan anugerah yang sebesar itu, sebenarnya Aghara merasa takut dan tak pantas. Ia menganggap dirinya tak layak menerima amanah yang seberat itu. Bayangkan saja bahwa kedua pusaka itu tak pernah dipegang oleh siapapun kecuali bangsa Malaikat. Dan itu pun untuk keperluan berperang menghadapi pasukan kegelapan yang pada masa itu telah menimbulkan kekacauan di berbagai Alam Semesta. Aghara pun berpikir tentang apa kelebihan dirinya yang cuma sebagai orang biasa dan hanya bisa tinggal di Bumi yang teramat kecil? Kenapa harus dirinya, padahal ia tak pernah menginginkannya? Sungguh Aghara tak pernah merasa pantas.

Tapi, dalam kebijaksanaannya, Malaikat Mikail justru memberikan wejangan tentang rasa syukur dan berserah diri. Hal ini membuat Aghara semakin tersadar dan lalu menangis tersedu. Suasana pada saat itu pun menjadi kian sendu tetapi membangkitkan gairah hidup. Aghara mendapatkan semangat yang tak biasa dan akhirnya bertekad untuk terus menjaga amanah yang telah diberikan itu sebaik mungkin. Apapun yang harus dihadapi nanti hanya akan ia usahakan semaksimal mungkin dan sesuai dengan petunjuk Tuhan. Dan setiap yang ia kerjakan itu hanyalah untuk kebenaran dan keadilan saja. Demikianlah akhirnya Aghara menjadi sosok yang terpilih dan memang layak untuk hal itu.

4. Perang besar
Kisah pun berlanjut. Setelah menerima kedua senjata pusaka itu, Aghara masih terus melatih dirinya dengan sabar dan tekun. Tidak hanya di negeri Aviar, tapi sampai harus pindah ke Dimensi lainnya lagi. Disana ia berlatih sangat lama, sampai 150 tahun. Bahkan terus dilanjutkan dengan ber-tapa brata selama 2.500 tahun untuk menyempurnakan ilmu dan kesaktiannya. Dan ini bukanlah hal yang mustahil, karena ukuran waktu di Dimensi khusus itu akan sangat berbeda dengan di negeri Aviar, apalagi dengan di Bumi. Satu hari di Aviar akan sama dengan 50 tahun di Dimensi khusus itu. Sehingga cukup berlatih selama beberapa puluh hari saja – untuk ukuran waktu di Aviar – maka kemampuan Aghara sudah setara dengan berlatih selama ribuan tahun. Inilah fasilitas yang diberikan khusus untuk orang yang terpilih.

Catatan: Sebenarnya bisa saja Aghara cepat mendapatkan kesaktian, bahkan hanya dalam hitungan menit. Tapi itu tidak terjadi karena memang sebaiknya harus ada proses yang alamiah. Untuk mendapatkan hasil yang luar biasa, seseorang memang harus tekun berlatih dan bila perlu sampai melalui banyak tantangan yang berat. Tujuannya untuk lebih mempersiapkan lahir batinnya sendiri.

Selanjutnya, karena sudah dirasa cukup maka tibalah waktunya bagi Aghara untuk meninggalkan negeri Aviar. Sebagaimana petunjuk dari Nabi Syis AS, ia harus kembali ke Bumi dan melakukan kebajikan. Kemanapun ia melangkah, tetaplah berserah diri dan mengikuti hati nuraninya sendiri. Dan ketika sudah tiba waktunya harus berjuang dengan gigih, maka jangan pernah menundanya atau bahkan mundur. Karena mundur hanyalah sikap dari seorang pecundang, sedangkan penundaan hanya akan menimbulkan banyak masalah. Ini jelas bukanlah sikap dari seorang kesatria atau bahkan Manusia. Sungguh, selama masih bernyawa Aghara memang tak boleh hanya tinggal diam dan membiarkan apa yang seharusnya bisa dikerjakan. Namun semuanya tetap harus sesuai pula dengan petunjuk Tuhan.

Ya. Pada umumnya kondisi di Bumi pada masa itu relatif aman dan makmur. Dimana-nama banyak negeri yang telah sampai pada puncak peradabannya. Teknologi canggih bukanlah hal yang aneh, karena semua orang pernah melihatnya. Begitu pula dengan kesaktian, karena memang banyak orang yang memiliki apa yang disebut sekarang dengan ilmu kanuragan dan kadigdayan yang sangat luar biasa. Keadaan ini terus menggerakkan roda kehidupan di Bumi. Hingga pada suatu ketika, ada sebuah kerajaan besar bernama Soradas yang membuat kekacauan. Rajanya bersikap arogan, dan dengan pasukan yang jumlahnya hampir sejuta, ia mulai menaklukkan banyak kerajaan. Satu persatu berhasil di kuasai dalam sebuah pertempuran yang sengit atau tidak. Tak ada yang mampu menandingi kekuatan dari kerajaan Soradas dan raja sombongnya itu, karena bahkan jumlah pasukannya pun terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Dan keadaan ini tidak serta merta terjadi dengan sendirinya. Sebab sang raja yang bernama Kasutark itu berhasil mendapatkan kedudukan tertinggi di kerajaan Soradas dengan melakukan kudeta berdarah. Semua itu pun terkait dengan perjanjiannya dengan raja kegelapan yang berkedudukan di alam goib (dimensi lain). Beberapa tahun sebelum menjadi raja, maka setelah ber-tapa selama puluhan tahun, Kasutark bertemu dengan sosok yang mengaku sebagai sang pencerah. Karena tahu dengan ambisi Kasutark yang ingin menjadi raja dunia, sosok yang sebenarnya raja kegelapan itu lalu memberikan kekuatan dan kesaktian. Hanya saja semua itu tidak untuk membuat diri Kasutark menjadi lebih baik. Tidak ada yang gratis disini, sebab Kasutark harus “menandatangi semacam kontrak” dengan raja kegelapan itu. Di antara isi perjajian itu adalah ia harus merebut tahta kerajaan Soradas meskipun dengan mengorbankan banyak nyawa. Setelah menjadi raja disana, ia pun harus menyerang satu buah kerajaan pada setiap 3-5 bulan sekali. Semakin banyak kerajaan yang berhasil di taklukkan, maka ia akan semakin perkasa dan menjadi penguasa dunia. Hal inilah yang akhirnya membuat Kasutark perlahan-lahan berubah menjadi sosok yang sangat jahat dan bengis. Ia telah dibutakan oleh keangkuhan dan hatinya pun telah mati.

Setelah 15 tahun sejak pertama kali ia menyerang dan menaklukkan kerajaan tetangganya, kini tibalah saatnya bagi Kasutark untuk menyerang negara-negara yang berada di kawasan Timur. Satu persatu kerajaan yang tak mau tunduk dengan pemerintahannya, segera diperangi lalu dihancurkan. Tak ada perundingan disini, karena tujuan Kasutark hanyalah ingin menguasai dunia seluruhnya. Semua negeri di wilayah Barat telah ia kuasai sepenuhnya, tinggal yang berada di Timur yang masih melawan meskipun tak sebanding dengan kekuatannya.

Catatan: Pada masa itu, meskipun ada empat belahan/wilayah di Bumi (utara, selatan, timur, barat), namun mereka yang hidup saat itu membagi wilayah di Bumi ini menjadi dua kawasan saja, yaitu Timur dan Barat. Penyebutan kawasan utara dan selatan tidak umum dipakai.

Di antara kerajaan yang melawan saat itu adalah Tasiruh, negeri dimana Aghara berasal. Bangsa ini terkenal tangguh dan berjiwa kesatria, karena itu mereka tak mau menyerah begitu saja tanpa perlawanan. Bahkan lebih baik mati berkalang tanah dari pada harus hidup dalam penjajahan. Dan lantaran mereka menyadari betapa besarnya kekuatan dari musuh, Prabu Gzani (raja ke-14 Tasiruh) mengirimkan surat kepada semua raja-raja di kawasan Timur untuk berkoalisi melawan pasukan raja Kasutark. Hanya saja ini tak berhasil, lantaran hanya 5 kerajaan saja yang mau bergabung. Selebihnya memilih netral atau bahkan bersedia menyerah sebelum bertempur.

Hal ini jelas membuat cemas Prabu Gzani, sebab ia sangat menyadari kekuatan mereka takkan mampu menahan serangan dari pasukan raja Kasutark. Bagaimana tidak, kini pasukan yang disebut Masoras itu sudah berjumlah setidaknya tiga juta orang. Belum lagi mereka-mereka yang datang dari dimensi lain, yang terkadang muncul dan membantu raja Kasutark untuk memenangi pertempuran. Artinya, dengan jumlah yang jauh lebih sedikit, maka Prabu Gzani dan pasukan koalisinya takkan bisa bertahan lama, bahkan bisa hancur berantakan walau baru di hari pertama pertempuran.

Singkat cerita, di tengah-tengah kekhawatiran itu ada secercah harapan yang timbul di hati sang prabu. Ia mendapatkan petunjuk bahwa akan ada seorang pemuda yang bisa membantunya. Sosok tersebut masih berhubungan dengan dirinya, karena sama-sama keturunan dari Prabu Samir, sang pendiri kerajaan Tasiruh. Namanya tiada lain adalah Aghara, seorang pemuda yang memang telah dipersiapkan untuk menghadapi permasalahan yang pelik semacam itu. Tapi sang prabu tak perlu mencarinya, karena sang pemuda sendiri yang akan muncul ke permukaan. Ia akan tampil sebagai kesatria pilih tanding yang siap membantu tentang banyak hal. Apapun yang dia sampaikan, saran dan usulannya, harus segera diikuti oleh sang prabu tanpa perlu bertanya. Semuanya harus tunduk dalam arahannya, karena memang itulah yang terbaik dan sesuai dengan petunjuk Tuhan.

Waktu pun berlalu dan raja Kasutark beserta pasukannya sudah mulai memasuki kawasan Timur. Negeri-negeri yang berada di antara perbatasan kawasan Timur dan Barat mulai ditaklukkan. Kehancuran terjadi dimana-mana dan menelan korban jiwa yang tak terhitung. Kian hari keadaan pun semakin gaduh, sehingga ini menyebabkan Aghara harus segera muncul ke permukaan. Dan dari sebuah desa kecil, ia bangkit lalu memberikan semangat kepada warganya untuk melawan. Tapi karena itu baru yang pertama kalinya, maka untuk membuktikan ucapannya itu Aghara harus bertarung sendirian melawan satu kompi pasukan (100 orang) kelas penyerbu milik raja Kasutark. Pasukan ini adalah pasukan khusus yang oleh raja Kasutark juga diperintahkan untuk melakukan pengawasan terhadap negeri-negeri yang akan ditaklukkan. Sepanjang sejarahnya mereka belum pernah dikalahkan. Tapi ketika berhadapan dengan seorang Aghara, mereka itu justru harus tumbang tak berdaya.

Melihat kejadian yang luar biasa itu, warga yang tinggal di desa Laswah itu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aghara. Mereka bersedia mengikuti apa saja yang disampaikan oleh sang pemuda. Dan hal ini terus menyebar ke desa-desa lainnya, bahkan akhirnya Prabu Gzani pun mendapatkan kabarnya. Dan ketika ia menerima informasi itu, sang prabu segera menyadari bahwa inilah waktu yang dijelaskan dalam petunjuk yang pernah ia terima. Akan muncul seorang pemuda yang bisa membantunya dalam mengatasi masalah. Tapi sebagaimana petunjuk yang telah didapatkan, maka ia tak bisa mengundang sang pemuda untuk datang ke istananya. Kesatria tersebut hanya akan datang sendiri sesuai dengan petunjuk Tuhan.

Dan benar, setelah lebih dari 6 bulan kemudian barulah Aghara mendatangi kota Haltani (ibukota Tasiruh). Itu pun tak diketahui oleh siapapun, karena tiba-tiba ia sudah berdiri di tengah-tengah ruang sidang kerajaan. Di hadapan Prabu Gzani yang duduk di atas singgasananya itu, sosok Aghara muncul seketika dengan perbawa yang mengagumkan. Wajahnya yang tampan dan bentuk fisik yang sempurna langsung membuat orang-orang terkesima. Setelah memberi salam dan sikap hormat sesuai tradisi, sang pemuda mengutarakan usulannya. Semua orang pun mendengarkan dengan takjub, karena apa yang ia sampaikan itu adalah kebenaran. Tak ada yang bisa menyangkalnya, terlebih sang prabu, lantaran sudah mendapatkan petunjuk sebelumnya.

Ya, apapun yang disampaikan oleh Aghara sangat baik untuk perjuangan mereka nanti. Tak ada pilihan lagi selain harus menghadapi langsung pasukan raja Kasutark itu. Aghara sendiri yang akan berada di garis depan, tapi sebelumnya ia akan mencoba untuk mengajak kerajaan-kerajaan yang ada di kawasan Timur untuk bergabung. Dan syukurlah keadaan jauh lebih baik dari sebelumnya, karena atas lobi-lobi yang Aghara lakukan, maka ada sekitar 33 kerajaan besar kecil yang mau berkoalisi. Semuanya terdiri dari 3 kerajaan bangsa Peri, 2 kerajaan bangsa Cinturia, 2 kerajaan bangsa Karudasya, 2 dari kerajaan bangsa Ruwan, 1 dari kerajaan bangsa Jin, 1 dari kerajaan Hewan, beberapa sosok dari golongan Naga, dan selebihnya berasal dari kerajaan bangsa Manusia yang telah sadar diri. Sementara yang lainnya – ada lebih dari 19 kerajaan Manusia – tetap bersikap netral atau malah ragu-ragu lantaran ketakutan. Bahkan ada satu yang justru berkhianat dengan bergabung dalam pasukan raja Kasutark.

Singkat cerita, pasukan koalisi dari ke 33 kerajaan itu telah berkumpul dibawah pimpinan Prabu Gzani. Mereka lalu bergerak ke arah utara untuk melawan pasukan raja Kasutark karena telah memasuki daerah itu. Sebagai sosok yang rendah hati, Aghara tidak berkenan menerima jabatan sebagai panglima pasukan. Jabatan itu ia kembalikan pada dewan raja-raja yang dipimpin oleh Prabu Gzani. Sang pemuda justru memilih tetap sebagai penasehat yang hanya memimpin 100 orang pasukan khusus. Penampilan mereka ini berbeda dari semua pasukan yang ada, karena telah dibekali dengan kemampuan yang khusus oleh Aghara. Kekompakan mereka pun tiada bandingannya. Tak ada yang bisa menembus sistem pertahanan yang telah mereka bangun jika sudah menyerang.

Catatan: Pada masa itu pemimpin bangsa Manusia masih sangat dihormati oleh bangsa Jin, Peri, Ruwan, Cinturia, Karudasya, Naga, dan Hewan, apalagi yang sekelas raja di kerajaan Tasiruh. Sehingga bukanlah hal yang aneh ketika koalisi dari ke 33 kerajaan itu justru dipimpin oleh Prabu Gzani, bukan dari bangsa lainnya. Sangat berbeda sekali dengan sekarang yang tak ada lagi seorang pemimpin Manusia yang dihormati oleh ke tujuh bangsa itu.

Dan pertempuran yang sangat dahsyat pun akhirnya menjelang di depan mata. Pada waktu itu, tidak hanya jumlah pasukan yang sangat banyak, tetapi berbagai jenis peralatan dan kendaraan juga ada. Mulai dari yang berada di darat, sampai yang bisa terbang di udara. Mulai dari yang bersifat manual alias digerakkan oleh tangan Manusia, sampai ke yang otomatis dan berteknologi super canggih. Dan itu masih di tambah lagi dengan berbagai jenis benda pusaka dan kesaktian dari para kesatria yang terlibat. Membuat suasana menjadi semakin menegangkan dan tak pernah terlihat lagi di masa sekarang. Sungguh pemandangan yang mengerikan sekaligus mengagumkan.

Lalu sesuai tradisi, mereka lebih memilih untuk bertarung secara langsung dengan musuhnya (berduel) ketimbang mengandalkan alat perang dan senjata. Hal itu sudah menjadi kebanggaan bagi seorang kesatria yang ikut berperang. Karena itulah kondisi pertempuran di masa itu lebih mirip dengan perang yang terjadi di abad-abad pertengahan Masehi. Kedua belah pasukan mengerahkan sejumlah pasukan besar dan bertarung di sebuah lembah untuk menentukan siapakah yang menjadi pemenangnya.

Dan sesuai dengan adat kebiasaan di masa itu, maka sebelum berperang kedua belah pihak saling bertemu di tengah lembah yang sangat luas untuk berunding. Mereka diwakili oleh para petinggi pasukannya masing-masing. Ada Prabu Gzani dan beberapa orang raja di pihak Timur, sedangkan raja Kasutark dan beberapa orang senopatinya berada di pihak Barat. Mereka lalu mengutarakan sepatah dua patah kata untuk sekedar tawar menawar. Tapi sebagaimana yang bisa ditebak, maka tak ada kata damai pada akhirnya. Raja Kasutark tetap ingin menguasai semua kawasan Timur, apapun risikonya. Itulah tujuan utama kenapa selama ini ia berperang dan menaklukkan banyak kerajaan. Ia tahu bahwa tiada yang lebih indah dan makmur di muka Bumi ini selain di kawasan Timur. Siapapun yang berkuasa disana akan dipuja sebagai pemimpin dunia.

Singkat cerita, mengikuti tradisi yang berlaku di masa itu, maka dari kedua belah pihak harus mengutus seorang kesatria terbaik mereka untuk beradu kemampuan di tengah medan pertempuran. Ini harus di laksanakan sebelum pertempuran besar di mulai di lembah Sigaran. Sangat penting sifatnya, karena bisa mengukur kekuatan lawan. Dan siapapun yang menang akan mempengaruhi semangat juang dari pasukannya.

Dari pihak Timur diutuslah Almat, seorang senopati sayap kanan dari kerajaan Tasiruh. Sementara di pihak Barat ditunjuklah Hamora, seorang pangeran yang berasal dari kerajaan Morakena. Sebuah negeri yang telah berhasil di taklukkan oleh raja Kasutark. Keduanya lalu bertarung dengan gagah berani. Kemampuan mereka bisa dibilang seimbang dalam menggunakan berbagai senjata dan ilmu kanuragan. Sampai pada akhirnya keduanya mulai mengeluarkan berbagai ajian kadigdayan yang memukau. Kedua kesatria itu sama-sama memiliki kesaktian yang luar biasa, bisa terbang dan menghilang, dan terus saja mengeluarkan kemampuan di atas rata-rata pasukan. Mengendalikan berbagai elemen alam sudah biasa bagi mereka. Hingga pada akhirnya mereka sepakat mengeluarkan ajian pamungkasnya. Dan setelah ledakan demi ledakan besar terjadi, juga petir yang menyambar-nyambar akibat dari kesaktian mereka, akhirnya yang keluar sebagai pemenang adalah senopati Almat. Meskipun tidak sampai tewas, pangeran Hamora harus segera mengakui kekalahannya. Ia kehabisan tenaga dan harus mundur ke barisan belakang pasukan.

Mengetahui hasil yang seperti itu, langsung terdengar sorak sorai dari kubu pasukan Timur. Sementara itu, di kubu pasukan Barat terlihat sunyi, bahkan raja Kasutark sendiri hanya bisa menahan amarahnya. Dan tanpa menunggu waktu lagi, ia pun memerintahkan pasukannya untuk segera menyerang. Pasukan yang bergerak itu lalu dibagi menjadi tiga tahapan. Pasukan yang pertama menyerang adalah yang menggunakan berbagai senjata jarak dekat seperti pedang, kapak dan gada. Di lapisan yang kedua adalah pasukan yang memakai senjata tombak panjang dan panah. Sedangkan yang di barisan ketiga adalah para kesatria yang mengendarai hewan dan kendaraan perang. Yang paling belakang adalah barisan dari para pembesar dan bangsawan tinggi kekaisaran Soradas.

Sementara itu, dalam menghadapi pasukan Barat, maka atas arahan dari Aghara, pasukan Timur langsung dibagi menjadi tiga kelompok besar dan satu yang tetap berada dibarisan paling belakang. Ketiga pasukan itu lalu memisahkan diri menjadi tiga kelompok besar, yang didalamnya terdiri dari para prajurit yang memakai senjata pedang, kapak, gada, tombak dan panah. Dan ketiga pasukan itu lalu memisahkan diri dengan maju ke arah depan, kanan dan kiri medan pertempuran. Ini bertujuan untuk memecah belah kekuatan pasukan raja Kasutark sehingga lebih mudah untuk dihadapi. Maklum pasukan Barat itu jumlahnya jauh lebih banyak. Hanya dengan bisa memecah belah kekuatan merekalah maka akan ada kesempatan untuk bisa meraih kemenangan.

Dan pertempuran pun berlangsung dengan sengit. Kedua belah pihak tak ada yang mau mengalah, karena justru semakin bersemangat untuk bertarung. Tak perlu dikatakan lagi tentang kengerian yang terjadi, karena darah segar terus mengalir dan suara teriakan kesakitan semakin banyak terdengar. Suasana pada saat itu benar-benar mencekam, karena orang-orang jadi beringas tanpa mengenal rasa kasihan. Dibunuh atau membunuh, hanya itu saja yang ada di pikiran mereka. Begitu pula dengan segala peralatan dan kemampuan semakin banyak yang digunakan. Mulai dari yang manual sampai dengan yang otomatis (canggih). Dan pertempuran terus meluas sampai ke beberapa tempat di Bumi ini. Maklumlah pada saat itu mereka bertempur dengan berbagai kesaktian dan peralatan yang super canggih. Jarak dan tempat tidak menjadi masalah.

Sungguh, pertempuran yang terjadi pada masa itu susah dijelaskan. Lebih memukau dari yang digambarkan dalam novel atau film kolosal saat ini. Bahkan sejak di hari ketiga pertempuran sudah melibatkan antar Dimensi, alias tidak lagi hanya bagi mereka yang hidup di muka Bumi. Satu persatu pasukan dari Dimensi lain, khususnya serdadu kegelapan ikut terlibat. Mereka membantu raja Kasutark untuk bisa memenangkan pertempuran dahsyat itu. Tapi yang mereka hadapi bukanlah prajurit biasa. Para kesatria yang tinggal di kawasan Timur adalah orang-orang yang mumpuni, sehingga bisa terus menahan serangan dahsyat dari pasukan Dimensi lain itu. Bahkan mereka juga mampu memberikan perlawanan yang sengit tanpa kenal takut. Benar-benar kesatria yang mengagumkan.

Catatan: Dalam pertempuran itu, setidaknya ada 10 Dimensi yang terlibat. Dengan bantuan raja kegelapan, Kasutark bisa membuka portal Dimensi lain untuk mendatangkan pasukan besar ke alam nyata dunia ini.

Waktu pun berlalu sampai di hari kelima pertempuran. Senjata dan peralatan tempur yang canggih sudah ditinggalkan. Para kesatria yang terlibat pertarungan hanya mengandalkan kesaktian dan benda pusakanya saja. Dan sebenarnya ini jauh lebih hebat dari semua teknologi canggih yang ada. Belum lagi saat ada dari mereka itu (para kesatria) yang bisa mengubah-ubah wujudnya sesuka hati, kadang besar kadang kecil, kadang satu tapi kadang justru menjadi banyak. Sehingga terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Tidak hanya di lembah Sigaran itu saja, tetapi sampai ke tempat lain di seluruh penjuru Bumi. Dan karena banyak kesatria yang bisa terbang, maka pertarungan pun terjadi di angkasa dan luar angkasa. Siapapun yang menyaksikan peristiwa itu akan terpana dan merasa tak percaya. Apa yang mereka lihat didepan matanya saat itu mulai sulit untuk diterima akal. Tapi memang begitulah kemampuan yang dikuasai oleh para kesatria yang hidup di zaman kedua itu.

Di hari ke enam pertempuran, akhirnya Aghara berhadapan langsung dengan raja Kasutark. Orang yang menjadi penyebab utama perang besar itu terjadi. Ego dan keserakahannya telah menimbulkan penderitaan dimana-mana, sementara kehidupan di muka Bumi jadi kacau balau. Sehingga tak ada alasan bagi Aghara untuk tidak mengalahkan sang raja keji itu. Dan benar adanya, kesaktian apapun yang dikeluarkan oleh sang raja tak begitu berarti di hadapan Aghara. Sang pemuda telah dibekali dengan berbagai kemampuan istimewa dari para Nabi dan Malaikat. Karena itulah, hanya dalam hitungan menit saja ia bisa menumbangkan raja Kasutark. Untung saja raja jahat itu diselamatkan oleh junjungannya, si raja kegelapan yang bernama Dahatur itu, karena jika tidak ia pasti tewas terkena ajian Gamusal milik Aghara.

Singkat cerita, kini Aghara harus berhadapan langsung dengan si raja kegelapan Dahatur – sosok yang berhasil menyesatkan Kasutark. Jika sebelumnya ia mengenakan baju zirah, kini hanya mengenakan pakaian berjubah putih pemberian dari seorang Malaikat. Pakaian ini terbuat dari bahan semacam kain khusus yang bersinar. Bentuknya seperti pakaian yang biasa dikenakan oleh seorang bangsawan Peri, hanya saja motif yang ada di atasnya bersinar terang dan bergerak-gerak membentuk pola tersendiri di atas permukaan kainnya. Sangat unik dan tentunya memiliki kemampuan yang luar biasa. Tak ada yang bisa menembus pakaian itu karena ada kesaktian yang luar biasa di dalamnya. Pakaian khusus ini adalah pakaian kebesaran seorang kesatria pilihan, dan siapapun yang mengenakannya akan dianugerahi dengan kemampuan yang istimewa.

Dan terjadilah pertarungan yang sangat dahsyat di antara kedua sosok tersebut. Baik Aghara maupun Dahatur sama-sama memiliki kemampuan istimewa yang unik dan tak biasa. Dan mereka tidak lagi bertarung di atas Bumi ini, melainkan di angkasa raya. Bahkan tidak hanya di alam nyata dunia ini, tetapi sampai ke berbagai Dimensi lainnya. Belum ada yang hidup pada masa itu yang pernah menyaksikan pertarungan yang sehebat itu. Hanya orang-orang yang level kesaktiannya sangat tinggi saja yang bisa terus menyaksikan pertarungan dari kedua kesatria itu. Tidak semua orang bisa melihat, karena keduanya bergerak dalam kecepatan cahaya. Bahkan sesekali lebih cepat dan keduanya terus meningkatkan kemampuan mereka.

Ya. Hanya suara yang menggelagar saja yang masih tetap terdengar – dari pertarungan mereka berdua – oleh semua orang. Dan sampai pada akhirnya Dahatur mulai terpojok dan hampir kalah. Mengetahui dirinya tak mampu lagi melawan Aghara, tak lama kemudian Dahatur meminta bantuan dari atasannya. Mereka pun datang, tiga sosok sekaligus. Ketiganya ini jauh lebih sakti dari Dahatur, itu terlihat dari aura yang terpancar dari dalam tubuh mereka. Karena itulah, tak ada alasan bagi Aghara untuk tidak meningkatkan kemampuannya lagi. Dan untuk tidak mengulur-ulur waktu, akhirnya Aghara mengeluarkan pedang Kazalim yang sangat sakti itu.

Melihat pedang takdir itu, sebenarnya ketiga raja kegelapan itu sadar bahwa mereka takkan mungkin bisa melawannya. Mereka pernah mendengar bahwa pusaka yang sangat istimewa itu pernah dipakai oleh pasukan Malaikat untuk menghabisi pasukan kegelapan yang jauh lebih hebat dari mereka. Selama pedang itu digunakan, maka tak ada yang pernah bisa menang atasnya. Tapi sebagaimana sifat dari kegelapan yang memang teramat angkuh, maka ketiganya itu tetap saja menyerang Aghara. Dan karena itulah mereka pun harus menerima balasannya. Satu persatu dari mereka tumbang dan akhirnya harus melarikan diri. Untung saja umur mereka itu ditangguhkan sampai Hari Kiamat, karena jika tidak tentulah sudah tewas mengenaskan.

Sungguh luar biasa apa yang terjadi pada saat itu. Siapapun yang melihatnya semakin mengagumi sosok pemuda yang bernama Aghara. Tapi ternyata masalah belum selesai. Karena tiba-tiba muncul sosok yang sangat misterius tapi bercahaya. Tak ada yang tahu siapakah dia, termasuklah raja kegelapan Dahatur sendiri. Hal ini membuat semua orang bertanya-tanya siapakah sosok itu dan apa tujuannya? Dan semua pertanyaan itu segera terjawab ketika sosok tersebut langsung menarik Bulan agar mendekati Bumi. Selain itu, di belakang Bulan itu ada pula dua benda yang serupa dengan Bulan hanya saja berwarna kuning dan merah. Akibat dari perbuatannya itu, mereka yang ada di Bumi merasakan hentakan energi yang sangat kuat dan terus menekan mereka ke arah bawah. Tak ada yang bisa bergerak kecuali yang sangat sakti mandraguna.

Dan itu barulah permulaan, sebatas pemanasan bagi sosok yang misterius itu. Karena tak lama kemudian tiba-tiba muncul satu pasukan yang tubuhnya bersinar dan langsung menyerang pasukan Aghara. Kesaktian mereka itu luar biasa dan tak ada yang mampu melawannya kecuali sedikit. Satu persatu pasukan Timur akhirnya tewas dibantai oleh pasukan yang sebenarnya tampak sangat mengagumkan itu – lantaran mereka tidak terlihat jahat dan terus bersinar. Terus seperti itu tanpa ada yang mampu mencegahnya.

Lalu saat keadaan menjadi semakin kritis, Aghara tampil ke depan dan berkata dihadapan semua raja dan pasukannya. Dengan suara lantang dan nada yang tegas ia lalu berkata: “Wahai semuanya. Tidak ada dari kita yang benar-benar sendiri. Kita adalah kekuatan yang dipersatukan dalam jiwa kesatria”. Dan setelah itu ia pun berdiri menghadap ke arah barat lalu mengangkat kedua tangannya ke atas depan kepala. Dengan memejamkan mata, Aghara lalu berdoa memohon pertolongan kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Doa itu pun dikabulkan. Karena tiba-tiba muncul sepasukan Malaikat yang telah lengkap dengan baju zirahnya. Mereka pun siap bertempur menghadapi pasukan misterius itu.

Dan terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Karena takut menghancurkan seisi Bumi, mereka pun (para Malaikat) menciptakan dinding pembatas yang sangat kokoh. Jadi mereka bertarung di dalam sebuah bola perisai yang sangat kuat tapi tembus pandang. Sehingga masih bisa dilihat namun dampak pertempuran dahsyat mereka itu tak sampai ke Bumi. Semuanya terjadi di angkasa, di dalam bola perisai yang tembus pandang itu. Sementara Aghara sendiri harus menghadapi sosok misterius yang tiba-tiba muncul itu. Dan sampai detik itu pun tak ada yang tahu siapakah dia sebenarnya.

Ya, pertarungan antara Aghara dan sosok penuh misteri itu sudah dalam level yang sangat berbeda. Hanya para Malaikat dan orang-orang terpilih saja yang bisa mengeluarkan kesaktian seperti pada waktu itu. Dan karena Aghara telah dibekali dengan dua pusaka yang luar biasa. Akhirnya ia bisa mengalahkan sosok misterius itu. Sesuai dengan namanya, maka kedua pusaka itu memang penakluk kegelapan yang melanggar keseimbangan kosmos. Tapi ternyata sekali lagi masalah pun belum juga usai. Karena tiba-tiba muncul lagi sosok yang lebih misterius lagi. Ia tidak menunjukkan kesaktian apapun, kecuali hanya senyum-senyum dan kadang sedikit tertawa.

Melihat itu, dengan kemampuan batinnya Aghara langsung bisa merasakan sesuatu yang tidak baik. Sosok yang kini berhadapan dengan dirinya itu memang tak terlihat jahat – lantaran mirip para Malaikat, tapi ia bisa merasakan ada kekuatan negatif yang sangat besar dan bersarang di dalam diri sosok tersebut. Dan benar dugaannya, karena tak lama kemudian tiba-tiba Aghara sudah berpindah ke Dimensi lain dan ia ditinggalkan begitu saja disana. Setelah itu, ternyata berbagai planet yang ada disana satu persatu mendekati dirinya dengan sangat cepat dan meledak (hancur berantakan). Semakin lama semakin banyak dan ini sama saja dengan serangan tanpa akhir kepada Aghara. Karena itulah ia harus berusaha menangkis ledakan demi ledakan planet yang di alamatkan kepadanya saat itu.

Ya. Ini adalah ulah dari sosok misterius itu, karena itulah Aghara berusaha untuk bisa keluar untuk terus mengejar sosok paling misterius itu. Dan akhirnya ia bisa menemukan sosok tersebut di Dimensi lainnya lagi. Dan tanpa menunggu lagi, Aghara langsung menyerang tanpa ampun. Tapi musuh yang ia hadapi kali ini jauh lebih hebat dari yang sebelumnya. Karena itulah Aghara langsung berdoa kehadirat Tuhan untuk diberikan kekuatan dan perlindungan. Doanya pun langsung dikabulkan, karena tiba-tiba ada cahaya yang memasuki tubuhnya. Tak lama kemudian muncul pula lima sosok yang menyerupai dirinya sendiri dan langsung ikut masuk ke dalam tubuhnya. Setelah itu, dari tubuh Aghara memancar cahaya yang sangat terang ke segala arah dan terasa sekali energi dan kesaktiannya pun terus meningkat. Lalu ia mengeluarkan tombak Hiltram untuk melawan sosok yang paling misterius itu.

Melihat itu, sosok misterius itu juga mengeluarkan kesaktiannya yang luar biasa. Ia lalu mengubah wujudnya yang semula bertangan dua menjadi yang bertangan empat dan semuanya memegang senjata. Kepalanya pun berubah menjadi yang berwajah empat. Dari dalam tubuhnya juga bersinar cahaya warna warni yang menyilaukan ke segala arah. Tidak hanya itu, ia lalu membagi dirinya menjadi tiga sosok dengan warna yang berbeda. Saat itulah sosok misterius ini baru mengeluarkan kemampuan yang sebenarnya. Dan tanpa menunggu waktu lagi akhirnya ia langsung mengadu kesaktiannya dengan Aghara.

Sungguh, pertarungan antara kedua sosok itu tak bisa lagi digambarkan. Mereka pun tidak hanya mengadu ajian, tetapi lebih kepada menciptakan dan menghancurkan segala sesuatu. Sangat luar biasa yang terjadi pada saat itu, hingga tak bisa lagi dijelaskan. Semua pertarungan yang terjadi sebelumnya bahkan tidak ada apa-apanya. Sampai pada akhirnya sosok misterius itu harus kembali menaikkan level kesaktiannya. Ia mengubah wujudnya menjadi sosok cahaya yang memukau. Ini berbeda sekali dengan yang sebelumnya, karena bahkan tak terasa sedikitpun aura yang negatif.

Melihat itu, Aghara pun menaikkan level kesaktiannya lagi. Ia juga mengubah wujudnya menjadi sosok yang bersinar terang. Tidak lagi seperti Manusia, kali ini Aghara justru tampak seperti Malaikat yang bercahaya. Dan terjadilah pertarungan yang tak masuk akal dan susah untuk dijelaskan dalam kata-kata. Sampai pada akhirnya sosok misterius itu harus mengaku kalah. Selain memakai dua buah pusaka, Aghara memang sosok yang terpilih dan sudah dibekali dengan kemampuan yang istimewa. Hanya karena telah mendapatkan keabadian, maka sosok misterius itu tak sampai mati di tangan Aghara. Ia masih bisa hidup sampai batas waktu yang Tuhan tentukan baginya nanti.

Tapi lantaran sudah berbuat salah, maka sebagai hukumannya ada sebanyak 50% kesaktian yang ia miliki harus lenyap terserap oleh tombak Hiltram. 25 % lainnya lenyap tak berbekas. Artinya ia hanya tinggal memiliki 25% kesaktiannya saja. Dan bisa mendapatkan kembali kesaktiannya itu hanya dengan melakukan tapa brata lagi, dalam waktu yang sangat lama. Dan benar, itulah yang kemudian ia lakukan sejak berhasil melarikan diri dari Aghara. Dan hal itu memang sengaja Aghara lakukan sesuai dengan petunjuk yang telah ia dapatkan saat itu. Semua telah diatur oleh YANG MAHA BIJAKSANA. Tak ada yang bisa mencegahnya. Karena ada rahasia dibalik rahasia.

Singkat cerita, setelah berhasil mengalahkan sosok misterius yang sangat luar biasa hebatnya itu, Aghara kembali ke medan pertempuran. Disana keadaan sudah mereda dengan kemenangan yang berada di pihak Timur. Memang tak semua orang bisa menyaksikan detil pertarungan maha dahsyat yang di lakukan oleh Aghara, tapi semua raja dari bangsa Peri, JinManusia, Ruwan, Cinturia, Karudasya dan Hewan mendapatkan kesempatan untuk bisa menyaksikannya dari jarak jauh. Ada juga dari golongan kesatria yang berilmu tinggi, yang dengan mata batinnya mereka bisa melihat secara jelas dan lalu menceritakan setiap peristiwa agung itu kepada semua orang. Sehingga ketika Aghara kembali ke medan pertempuran, yang terjadi bukannya pekikan sorak sorai dari pasukan, melainkan keheningan. Semuanya diam dan mencakupkan kedua tangannya di depan dada. Semua orang menunduk hormat kepada sang pemuda yang sangat luar biasa itu.

Melihat itu, sebagai sosok yang sangat rendah hati Aghara langsung meminta semuanya untuk bersikap biasa saja. Tak perlu memberi hormat kepadanya, karena apapun yang ia lakukan itu hanya atas izin dan petunjuk Tuhan. Tapi meskipun sudah diminta oleh Aghara sendiri, tetap saja kekaguman dan rasa sungkan dari semua pasukan tak bisa langsung berubah. Mereka tetap saja merasa sangat segan – atau bahkan sedikit takut – kepada sang pemuda. Betapa tidak, belum pernah ada sosok yang seperti dirinya dalam segala hal. Sungguh beruntungnya mereka bisa berjuang bersama pemuda pilihan Tuhan itu.

5. Menjadi raja
Waktu pun terus berlalu di medan pertempuran itu. Orang-orang masih saja lebih banyak diam dari pada berbicara. Ada rasa kagum dan tak percaya bila saat itu mereka bisa keluar dari pertempuran dahsyat tapi masih dalam keadaan selamat. Apa yang terjadi sebelumnya sungguh mengerikan sekaligus mengagumkan. Pertempuran yang mereka alami sungguh dahsyat dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tidak hanya melibatkan mereka yang tinggal di Bumi, tetapi juga yang berasal dari Dimensi lainnya. Sungguh luar biasa.

Catatan: Susah untuk menentukan siapakah yang paling hebat dari semua kesatria yang luar biasa di masa lalu. Karena di setiap zaman itu permasalahannya berbeda-beda. Setiap kemampuan dan kesaktian seorang tokoh akan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada pada masanya. Demikianlah Hyang Aruta (Tuhan YME) telah mengaturnya dengan tepat. Sehingga menjadi hal yang perlu untuk tetap bersikap rendah hati dan menghormati siapa saja. Tak perlulah membanding-bandingkan lagi.

Dan sudah menjadi seharusnya, maka seiring berjalannya waktu suasana pun tetap berubah. Terutama dipihak pasukan Timur, karena mereka berhak untuk merasa bahagia lantaran berhasil memenangkan pertempuran. Dan karena mereka tahu bahwa tidak semua pasukan Barat itu bertindak atas keinginan mereka, maka keputusan akhirnya berada di tangan mereka sendiri. Apakah masih ingin bertempur sampai mati atau kembali ke negeri mereka dengan damai? Dan mereka lebih memilih untuk kembali ke negeri mereka di Barat untuk bisa kembali membangun peradaban disana. Lalu sejak saat itu kekaisaran Soradas dinyatakan bubar, sementara rajanya, yaitu Kasutark, harus menjalani hukuman mati atas semua kejahatannya.

Begitulah akhirnya pertempuran maha dahsyat itu selesai dan semua pasukan kembali ke negerinya masing-masing. Lalu atas permintaan khusus dari Prabu Gzani, akhirnya Aghara pun menjadi tamu kehormatan di istana kerajaan Tasiruh. Disana ia tinggal selama beberapa waktu sebelum akhirnya kembali ke desanya, tempat kedua orang tuanya berada. Ia kembali ke desa Kassah itu setelah merasa sudah bisa memenuhi pesan dari ibunya dulu. Yaitu takkan kembali sebelum bisa melakukan hal yang luar biasa.

Selanjutnya. Sebagai seorang pemuda yang istimewa, maka ada banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya. Semakin banyak, tapi entah kenapa hati Aghara hanya tertuju pada Amiya, putri bungsu dari Prabu Gzani. Sejak pertama kali bertemu di halaman istana, sejak saat itu pula benih cinta terus saja tumbuh dihatinya. Dan ternyata hal itu pun terjadi juga pada diri Amiya. Hari demi hari yang dilalui sejak pertama kali bertatapan dengan Aghara membuat Amiya semakin tak berdaya. Ia semakin jatuh cinta, terlebih saat bisa melihat sendiri di medan pertempuran bahwa Aghara itu adalah sosok kesatria yang gagah perkasa dan bersedia mengorbankan nyawanya demi kepentingan bersama. Selain itu, Aghara pun adalah sosok yang lemah lembut, sopan dan sangat menghargai kaum wanita. Ia juga sangat pinter dalam merangkai kata-kata nan indah (syair, puisi) yang bisa “menyihir” orang-orang yang mendengarnya. Sungguh tak ada alasan bagi gadis manapun yang bisa menolak pesona diri Aghara.

Dan cinta itu memanglah sangat memabukkan tapi mencerahkan. Tak ada yang bisa lari dari cinta ketika ia sudah merangkulnya. Begitulah yang dirasakan oleh Amiya dan Aghara sekaligus. Keduanya tak bisa menolak perasaan terindah itu dan akhirnya tunduk dihadapan cinta yang suci. Dan atas persetujuan dari Prabu Gzani, mereka pun menikah di istana, dihadapan para pembesar kerajaan dan tamu undangan (dari semua kerajaan yang pernah terlibat pertempuran). Nabi Syis AS, Nabi Khidir AS dan Nabi-Nabi yang lainnya juga hadir memberikan restu dan berkat kepada sang pengantin. Bahkan tanpa diduga para Malaikat pun ikut hadir. Membuat suasana bertambah meriah dan teramat sakral.

Lalu, setelah dua tahun akhirnya Aghara dan Amiya mendapatkan keturunan yaitu seorang anak laki-laki yang rupawan. Setelah dewasa ia pun memiliki berbagai keahlian khusus meskipun tak sehebat ayahnya. Adiknya yang seorang wanita juga memiliki kemampuan khusus karena dilatih langsung oleh ayah dan ibunya sendiri. Sungguh keluarga yang sempurna dan menjadi suri tauladan yang baik.

Selanjutnya, karena merasa cukup dengan jabatannya, Prabu Gzani lalu menyerahkan tahta kerajaan Tasiruh kepada anak menantunya sendiri, Aghara. Tak ada yang menolaknya, karena selain Prabu Gzani hanya memiliki tiga orang anak perempuan, maka sosok Aghara adalah yang paling tepat menerima tampuk kekuasaan itu. Bagaimana tidak, siapa yang lebih pantas dari Aghara dalam hal kemampuan ilmu pengetahuan dan kesaktian. Jasanya yang luar biasa sudah tak perlu ditanyakan lagi. Bahkan memang tak ada orang yang sehebat dirinya. Sehingga ini adalah bukti nyata bahwa hanya Aghara-lah yang paling pantas untuk menerima tampuk kekuasaan di kerajaan Tasiruh.

Dan bisa saja Aghara mendirikan kerajaannya sendiri, tapi itu tidak ia lakukan. Aghara memanglah sosok yang tak pernah berambisi dengan tahta dan kekuasaan. Hanya karena sudah menjadi amanah yang tak bisa ia tolak, makanya Aghara bersedia menerima jabatan sebagai raja. Terlebih petunjuk yang telah ia dapatkan pun memang memerintahkan agar dirinya memimpin kerajaan Tasiruh yang kemudian diganti namanya menjadi Mahiram atau yang berarti cahaya yang sangat terang. Ada tugas khusus yang harus ia laksanakan.

Demikianlah pada akhirnya Aghara menjadi pemimpin di sebuah kerajaan besar bernama Tasiruh, atau yang akhirnya bernama Mahiram. Selama masa kepemimpinannya, keadaan negara selalu aman dan sentosa, bahkan dunia pun ikut stabil dan harmonis. Terlebih tak ada yang berani macam-macam karena ada Prabu Aghara yang siap memerangi siapapun yang berbuat nista.

6. Daftar raja-raja
Dalam sejarahnya, kerajaan Tasiruh atau yang kemudian bernama Mahiram ini pernah dipimpin oleh 101 orang Altur (raja) dan Iltar (ratu). Selama lebih dari 95.000 tahun kerajaan ini tetap berdiri. Berbagai macam kondisi pun telah dilalui, suka dan dukanya. Dan setiap pemimpin itu punya ciri khas dan karakternya sendiri. Ada yang luar biasa hebatnya, tapi ada pula yang standar saja. Tapi yang jelas mereka tetap bertanggung jawab atas jabatan yang di pegang.

Adapun di antara nama-nama mereka itu adalah berikut ini:

1. Samir -> Altur (raja) pendiri kerajaan Tasiruh.
2. Nakiar
3. Antrai
4. Kudarak
5. Segana
6. Kessan
7. Entrias
8. Taldor
9. Baimog
10. Tumil
11. Lasan
12. Monsa -> Altur (raja) yang menjadi asal-usul dari Aghara (raja ke-15). Ia memiliki putra bernama Matosa yang dari dialah kelak lahirnya Aghara.
13. Siratar
14. Gzani
15. Aghara alias Hamadha alias Mahkimatisya (hakim dunia) -> Altur (raja) ke-15 kerajaan Tasiruh sekaligus pendiri kerajaan Mahiram. Ia putra dari Matura bin Sowera bin Matosa (raja ke-12). Penguasa paling masyhur di kerajaan ini.
16. Osenara
17. Narase
18. Krotas
19. Helakh
20. Zigarah
…..
…..
61. Seraku
62. Mojar
63. Utsha
64. Toren
65. Idahaya -> seorang Iltar (ratu).
66. Ranor
67. Ottena
68. Peragon
69. Tasion
70. Mikros
…..
…..
91. Namoya -> seorang Iltar (ratu).
92. Ksidatan
93. Rammut
94. Jayata
95. Mudde
96. Esenti
97. Gunah
98. Yota
99. Roten
100. Kesma
101. Hadarik -> Altur (raja) terakhir dan dimasanya kerajaan Mahiram  dipindahkan ke dimensi lain.

Setiap Altur (raja) dan Iltar (ratu) di anugerahi umur yang panjang sampai ribuan tahun. Karena itu mereka bisa memimpin kerajaan lebih dari 900 tahun dan akan turun tahta sesuai dengan keinginannya sendiri (dalam hal ini ia tahu kapan harus naik tahta dan kapan harus mundur). Dan biasanya, tak lama kemudian sang Altur (raja) atau Iltar (ratu) yang telah lengser keprabon ini akan menjalani hidup dengan menjauhi keduniawian. Selanjutnya, jika sudah waktunya mereka pun akan moksa alias berpindah ke Dimensi lainnya.

Adapun mengenai bagaimana caranya seorang itu bisa dilantik menjadi penguasa di kerajaan ini, maka pada awalnya di lakukan secara turun termurun (tahta warisan), namun kemudian di lakukan dengan cara seleksi. Artinya, sejak masa kepemimpinan Aghara, tahta kerajaan akan diserahkan kepada siapapun yang layak dan pantas saja. Disini tentu dengan syarat-syarat khusus dan tidak mudah untuk dipenuhi oleh semua orang. Sangat ketat, dan hanya sosok terpilih saja yang bisa terpilih.

7. Akhir kisah
Demikianlah lika-liku kehidupan seorang pemuda yang bernama Aghara. Mulai dari hanya sebagai pemuda desa biasa, akhirnya ia tampil sebagai pemimpin dunia yang sangat disegani. Meskipun tak mendirikan kekaisaran, namun bagi semua kerajaan yang ada – khususnya di Timur – Prabu Aghara itu adalah pemimpin tertinggi mereka. Semua tahu bahwa Prabu Aghara adalah seorang pemimpin yang ditunjuk oleh Tuhan untuk mengayomi seluruh kehidupan di Bumi. Karena itulah, semua kerajaan akan meminta saran dan nasehat dari sang prabu saat mereka sedang menghadapi masalah. Kehidupan dunia pun menjadi stabil dan penuh kedamaian.

Lalu suatu ketika, turunlah seorang Malaikat yang bernama Attasy’ira ke pusat kerajaan Mahiram, di kota Haltani. Atas perintah Tuhan, ia turun dari Langit untuk sekedar menyampaikan sebuah petunjuk. Katanya:

“Wahai semuanya, ketahuilah bahwa perang besar (maha dahsyat) sebelum Manusia di turunkan ke Bumi memang sudah berakhir (pertempuran para Malaikat dan kegelapan), dan perang-perang besar yang terjadi pada masa berikutnya – khususnya yang terjadi pada masa Aghara – juga telah berhasil dihentikan. Namun akan ada pertempuran yang maha dahsyat di suatu zaman nanti. Bahkan apa yang akan terjadi itu bisa jauh lebih dahsyat dari semua pertempuran yang pernah terjadi. Karena itu, ketiga pusaka para Malaikat (Hiltram, Kazalim dan Sriyam) memang sangat diperlukan, namun bukanlah satu-satunya yang bisa di andalkan. Ada banyak pusaka yang digunakan, mulai dari yang pernah dipakai oleh Manusia sampai yang belum pernah sama sekali. Seorang pemuda pilihan Tuhan akan menerimanya. Dia bukanlah Manusia biasa, karena semuanya tunduk dan hormat kepadanya. Semua orang merindukannya, karena tak ada pahlawan yang lebih agung darinya. Dialah sang pemimpin yang menata kehidupan dunia”

Demikianlah petunjuk yang disampaikan oleh Malaikat Attasy’ira dihadapkan mereka yang berkumpul di istana kerajaan Mahiram. Semua pembesar kerajaan dan sebagian penduduk negeri Mahiram langsung menyaksikan peristiwa itu. Sehingga kabar ini cepat menyebar ke segala penjuru seperti wabah. Banyak yang percaya dengan informasi tersebut, hanya sedikit yang masih ragu-ragu.

Selanjutnya, selang beberapa bulan kemudian, di masa kepemimpinan Prabu Aghara yang ke 307 tahun, turunlah Malaikat Mikail menemuinya. Sang Malaikat datang untuk menyampaikan petunjuk Ilahi, bahwa sang raja harus mengemban tugas khusus sebagai hakim di muka Bumi. Artinya, sesuai dengan petunjuk Tuhan, ia harus menjatuhkan hukuman bagi mereka yang bersalah atau membela siapapun yang membutuhkannya. Dalam hal ini, atas arahan dari seorang Malaikat atau pun Nabi senior ia harus menggunakan tombak Hiltram untuk menghancurkan sebuah kaum, atau memakai pedang Kazalim untuk membantu bangsa-bangsa yang terpuruk atau tertindas. Tugas ini harus tetap ia laksanakan, baik selama masih menjabat sebagai raja atau pun setelah ia turun tahta. Batasan waktunya akan diberi tahu kemudian.

Dan ketika menjelang Prabu Aghara menyerahkan tahtanya kepada penggantinya (yang kebetulan adalah anaknya sendiri; Osenara) beliau sempat menyampaikan pesan dalam bahasa Aseyam. Katanya:

“Ya hissa. Han anaton iyamar akhaye nah maris tasuwa. Biye kaltu wanuya kiba hadim nah tasutani labanu. Presta haenda nayen amar ais hakime syedan. Halith aneya nison tahilos naketa watuli sabakhtur. Remen biya Ilahiya Nurri yamuki, syahinan tal zirani yamadani. Mekha barus nayoli uwi yan Nusentaru wajja elem ahain seran tasul. Abiyan helam uneya kalu ning Jawiya masse natar Swarne kayya hasula. Nase hala mal sekayi mour Hoseranta-Ra yija nem ayon. Makwe nemah hujaani mazab diya Rupenta-Ra sirae naken. Oyama namek taka Hasmurata-Ra neza kasion dabaruh. Yojah mastur anaken syeral nima Sri Mahatura Al-Asrar nejaya jayahidam kardhil. Nedayan teha nam sauri Kazalim as Hiltram netanoh Sriyam makedah heyatal nolem bayami. Yon kasiyon nezam ataruh, nelaka sihat tasahuri”

Catatan: Maaf tidak disertai terjemahannya. Ada protap yang harus dipatuhi.

Suatu pesan dan nasehat yang sangat berharga dari seorang pemimpin yang istimewa dan rendah hati. Apa yang disampaikannya itu berlaku sejak masa itu hingga kini. Karena itulah selama waktu yang sangat lama pesan dari Prabu Aghara ini masih menjadi pedoman hidup dan terus dipegang oleh banyak orang. Disampaikan dari generasi ke generasi, baik secara terang-terangan atau pun tersembunyi. Sampai pada akhirnya pelan-pelan menghilang kecuali bagi orang-orang tertentu. Dan kini telah kembali muncul sebagai pengingat bahwa akan datang perubahan besar di seluruh dunia ini. Zaman akan berganti baru lagi, tidak hanya untuk Manusia, tetapi juga yang lainnya.

Ya. Demikianlah kisah Prabu Aghara yang pada akhirnya menjadi hakim luar biasa di Bumi (Mahkimatisya) – khususnya di periode zaman kedua (Purwa Naga-Ra). Sebagai seorang yang sholeh dan rendah hati, beliau sering berdiskusi dengan para Nabi yang mulia tentang tugasnya itu, khususnya dengan para gurunya (Nabi Syis AS dan Nabi Khidir AS). Mereka juga saling membantu jika memang diperlukan. Semua atas bimbingan dari Hyang Aruta (Tuhan YME).

Dan pada akhirnya, di sekitar akhir periode zaman kedua (Purwa Naga-Ra), maka di karenakan Prabu Aghara harus mengemban tugas yang lainnya (tidak di Bumi ini lagi), maka kedua benda pusaka “yang selalu ia bawa” itu di titipkan kepada keturunannya. Mereka lalu menggunakannya untuk tetap menjaga ketertiban di muka Bumi – meskipun tak pernah menggunakannya, khususnya di kawasan dimana mereka tinggal. Lalu, setelah lebih dari 25.000 tahun berada di kerajaan Rimatan, maka sesuai petunjuk yang telah didapatkan, akhirnya kedua pusaka itu harus meninggalkan kerajaan besar tersebut. Dua orang kesatria kembar putra raja Almudda (raja ke-29 kerajaan Rimatan) yang mendapatkan tugas penting tersebut. Tombak azab Hiltram dibawa ke arah utara oleh sang kakak, sementara pedang takdir Kazalim dibawa ke arah selatan oleh sang adik. Mereka tinggal di suatu tempat selama beberapa waktu, sampai akhirnya menyembunyikan diri dan menghilang.

Catatan: Kedua pusaka itu tidak dalam artian harus dibawa-bawa seperti kita saat membawa barang pada umumnya. Karena keduanya selalu goib dan baru akan muncul bila memang dibutuhkan. Hanya orang tertentu saja yang bisa menggunakannya, bahkan untuk sekedar melihat dan tahu keberadaannya.

Lalu atas petunjuk yang didapatkan, maka suatu saat nanti kedua pusaka itu akan dipegang sekaligus oleh seorang keturunan dari mereka berdua yang telah menyatu. Bahkan keturunan mereka itu juga akan menerima pusaka yang ketiga, yaitu mustika Sriyam. Tujuannya tiada lain hanya untuk menegakkan keadilan di atas dunia ini lagi. Dialah sosok yang pernah dikatakan oleh Malaikat Attasy’ira sebelumnya. Seorang pemuda yang menjadi pemimpin dari segala pemimpin. Yang dirindukan dari zaman ke zaman.

Demikianlah kisah ini berakhir. Semoga bermanfaat. Rahayu… 🙏

Jambi, 10 Juli 2018
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan sebelumnya, maka tak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Semua kembali ke diri Anda sekalian, karena tugas kami disini hanyalah sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Bacalah dengan tenang dan terurut kisah ini. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahaminya. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat banyak perbedaannya.
3. Ada banyak hal yang tak bisa kami sampaikan disini, ada protap yang harus dipatuhi. Maaf.
4. Tetaplah mempersiapkan diri dan terus saja bersikap eling lan waspodo. Karena apa yang pernah terjadi di masa lalu bisa saja terjadi lagi di masa sekarang. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

32 respons untuk ‘Hiltram as Kazalim : Tombak Azab dan Pedang Takdir

    maliki said:
    Juli 28, 2018 pukul 8:37 am

    pemuda terpilih itu sudah hadir di zaman sekarg ini..
    dan dia sudah melakukan tugasnya

      Harunata-Ra responded:
      Juli 29, 2018 pukul 6:17 am

      Waaah sudah pernah ketemu ya mas Maliki?? Ampe tau kalo beliau sudah melakukan tugasnya… Bolehlah saya di kenalkan.. 🙂

    selfiakusman20599 said:
    Agustus 12, 2018 pukul 1:46 am

    Nice.

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 14, 2018 pukul 7:21 am

      Terima kasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

    al jalal said:
    Agustus 13, 2018 pukul 11:14 am

    kang oedi ,apakah makhluk musterius itu sebenarnya bangsa azazil ? dan klo bisa tlong diartikan 10 tingkan manusia itu? biar lbh faham lg.

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 14, 2018 pukul 7:33 am

      Terima kasih mas Al-Jalal karena sudah mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat.. 🙂

      Hmm… makhluk misterius yg mana maksudnya mas? Kalo azazil sih setauku itu bukanlah jenis/golongan makhluk, tetapi nama dari sosok yg membangkan perintah Tuhan..

      Ttg 10 tingkat keilmuan manusia, maaf tidak bisa saya share disini, belum waktunya dan ada protap yang harus dipatuhi. Adapun disampaikannya perihal itu memiliki dua tujuan utama. Pertama, agar kita semua tak pernah tinggi hati, atau merasa hebat dengan kemampuan yang dimiliki skr. Karena bisa jadi sebenarnya itu masih di tingkat dasar. Kedua, sebagai motivasi untuk tetap percaya diri dan tekun berusaha melatih diri. Karena sesungguhnya manusia itu adalah makhluk yang sangat istimewa. Ada banyak tingkatan yang bisa dicapai oleh manusia, bahkan sejak di tingkat yg kelima saja (Yamanira) manusia sudah setara dengan malaikat… 🙂

    Bunga said:
    Agustus 14, 2018 pukul 1:37 pm

    Ciri-ciri kemampuan atau sifat yang ada pada diri manusia yang mencapai tingkat yang kelima apa saja mas kalau boleh tau? Apakah seperti para wali songo Mas?

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 15, 2018 pukul 1:10 am

      Terima kasih mbak Bunga karena sudah berkunjung, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. Detil mengenai tingkatan keilmuan (kemampuan) manusia, khususnya sampai yg kelima tidak bisa saya share disini.. belum waktunya dan ada protap yg harus dipatuhi, maaf.. 🙂
      Tentang para Wali Songo, maka dari semua angkatannya itu (angkatan 1-8) ada yg sampai di level kelima (Yamanira) dan keenam (Uranamils), selebihnya baru sampai di level ke empatnya (Wanabasi) saja.. Mereka baru berhasil menaikkan levelnya lagi setelah berpindah dimensi kehidupan..

        Guntur Satria Putra said:
        Desember 10, 2018 pukul 7:31 am

        yang angkatan kelima Sunan Kali Jagar
        yang angkatan ke enam Syekh Siti Jenar ?

    Bunga said:
    Agustus 15, 2018 pukul 6:41 am

    Woww keren mas. Makanya kenapa para wali dulu memiliki karomah yang luar biasa ya Mas. Lalu jika pada artikel2 Mas Oedi mengenai kisah ksatria yang saat mereka sedang berperang menggunakan baju jirah dan beberapa terdapat sayap dipunggung mereka melengkapi baju jirah tersebut. Untuk ksatria seperti ini kira2 mereka sudah sampai pada level brp y Mas? Terlebih untuk ksatria pilihan yang berhasil memegang tombak azab Dan pedang takdir ?

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 16, 2018 pukul 4:17 am

      Hmm.. kalo karomah itu akan beda lagi mbak, itu hanya dalam waktu dan kondisi tertentu saja, bahkan gak bisa diulang lagi oleh yg bersangkutan.. Sifatnya anugerah yg sangat terbatas bagi para Wali sebagai bukti kewaliannya (ini mirip dengan mukjizat kalo bagi para Nabi). Di mata orang awam sih akan sulit membedakan antara karomah dan kesaktian.. Orang-orang sering mengira sosok yang “alim” trus dia bisa menunjukkan kemampuan yang di luar logika lantas dikira itulah karomah, padahal hanyalah bentuk kesaktian saja.. Banyak kok orang yang dikira Wali padahal bukan, karena dia itu sakti, bukannya memiliki karomah..

      Perlu saya jelaskan, bahwa ada perbedaan antara keilmuan dalam arti luasnya pengetahuan, dengan keilmuan dalam arti kesaktian. Nah, para Wali itu umumnya lebih kepada keilmuan dalam arti pengetahuan, bukan dalam hal kesaktian – meskipun banyak dari mereka yg juga sakti karena berlatar belakang dari seorang kesatria; contohnya Sunan Kalijaga. Sedangkan para kesatria itu umumnya memang dalam urusan kesaktian.. Karena itulah mereka juga bertugas menjadi pemimpin (raja, ratu, khalifah, amir, dll), sedangkan para Wali adalah orang yang membimbing (syekh, sunan, syifu, ki, guru, dll).. Jadi kita pun tak bisa langsung menyamaratakan antara para Wali dan Kesatria pilihan dalam urusan keilmuan ini, atau membandingkan dan mengukur kedudukan mereka.. Mereka memiliki peran dan kedudukannya sendiri. Dan semua kesatria pilihan pasti akan sangat menghormati para Wali, begitu pula sebaliknya..

      Kalo tentang levelnya, dalam hal ini keilmuan dalam arti kesaktiannya, maka para kesatria yang sudah saya jelaskan di beberapa artikel itu semuanya sudah di atas level keenam.. Itulah kenapa mereka yg terpilih dari sekian banyak kesatria yg sakti mandraguna.. Tujuan hidup dan tugasnya memang begitu, sedikit berbeda dengan para Wali tapi sama-sama menuju kebenaran dan keindahan..

    Mahayatra: Solusi Kehidupan Dunia – Perjalanan Cinta said:
    Agustus 17, 2018 pukul 4:25 am

    […] menurun bila dibandingkan dengan mereka yang hidup di periode zaman sebelumnya, misalnya pada masa Prabu Aghara yang hidup di periode zaman kedua (Purwa Naga-Ra) atau Prabu Nasathon yang hidup di periode zaman […]

    Bunga said:
    Agustus 17, 2018 pukul 1:34 pm

    Salam Rahayu Mas 🙏 terimakasih Mas jawabannya menambah wawasan Saya🙏 😊 Saya ingin menanggapi hanya saja sya tdk punya pengetahuan lebih mengenai hal itu mas.🙏

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 18, 2018 pukul 1:43 am

      Rahayu juga mbak Bunga, nuwun karena masih mau berkunjung… 🙂

      Hmm… ya gak perlu ditanggapi sih mbak kalo emang gak bisa.. udah mau baca aja sudah cukup baik kok.. tetap semangat 🙂

    Bunga said:
    Agustus 17, 2018 pukul 1:40 pm

    Jika sempat tolong emailku dibalas ya Mas. Trimakasih. Salaam Rahayu😊🙏

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 18, 2018 pukul 1:44 am

      Rahayu… Iya mbak, sudah saya balas kok emailnya.. semoga bisa menjawab pertanyaannya.. 🙂

    Mailan said:
    Agustus 27, 2018 pukul 11:59 pm

    Terima kasih atas pengetahuannya ini….sgt mencerahkan, meski hrs mengulang2 membacanya krna msh sgt awam dgn ini semua….tp sgt menambah wawasan, smg sy dimudahkan memahami🙏🙏🙏

    al jalal said:
    September 22, 2018 pukul 9:13 am

    kang oedi kok artikel tentang eyang mahidara kok gk ada ,apa di hapus kang? mungkin kang oedi tau nama sebenarnya malaikat izroil/maut ato malaikat putih yg sbgian orang mengenalnya?

      Harunata-Ra responded:
      September 23, 2018 pukul 2:35 am

      Hmm.. Artikel itu memang sengaja dihapus mas Al-Jalal karena emang sudah habis masa “tayangnya”.. Dan setiap artikel yg telah di upload di blog ini, yg berkaitan ttg sejarah masa lalu, ada masa “tayangnya” juga.. Kalo sudah habis waktunya akan segera di hapus dari blog.. Gitu sih protapnya.. Hal ini pernah saya jelaskan juga dlm bbrp forum dan komentar..

      Ttg nama asli dari Malaikat Izroil, setau saya sih benar bahwa beliau itu punya nama aslinya.. Izroil itu bisa dibilang hanya nama gelar saja, dan itu sesuai pula dg tugasnya.. Tapi maaf kalo saya gak bisa kasih tau nama aslinya itu, biarlah ttp jadi rahasia.. Ada protap yg gak bisa dilanggar, dan silahkan masnya cari sendiri, saya gak bisa bantu kali ini.. Maaf 🙂

    Setyo p said:
    Oktober 17, 2018 pukul 1:31 pm

    Kang Harinya Ra apakah pohon ajaib itu sama dgn pohon Bidara ( pohon side r) sekarang ini

    Setyo p said:
    Oktober 17, 2018 pukul 1:32 pm

    Kang Harunata Ra maaf salah ketik

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 18, 2018 pukul 1:41 am

      Iya mas Setyo P, gak apa2, nyante ajalah.. 🙂

      Beda sih mas, dan sesungguhnya ada banyak pohon ajaib yang tujuan dan fungsinya berbeda-beda… Tempat atau lokasinya pun macem2, bahkan beda2 dimensinya.. Nah yg tersebut dalam kisah di atas adalah salah satunya..

    Guntur Satria Putra said:
    Desember 10, 2018 pukul 7:49 am

    keren mas sekarang jadi tahu tentang Ainur padahal gk semua malaikat tau apalagi manusia

      Harunata-Ra responded:
      Desember 12, 2018 pukul 1:53 am

      Syukurlah kalo gitu mas Guntur, semoga bermanfaat.. 🙂

    Lukman said:
    Desember 10, 2018 pukul 1:40 pm

    saya mau tanya mas. selama kita ketahui nabi ada 25 mulai nabi Adam sampai nabi Muhammad SAW. di zaman periode berapa kah nabi adam sampai nabi SAW dan berapa lama zaman periode masing setiap nabi? terimah kasih. mohon percerahaannya

      Harunata-Ra responded:
      Desember 12, 2018 pukul 2:31 am

      Terima kasih mas Lukman atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Hmm.. perlu diperjelas dulu bahwa sebenarnya jumlah para Nabi itu tidak hanya 25 orang saja, tetapi ada 124.000 orang. Dari semua itu, terdapat 315 orang yg terpilih sebagai Rosul, dan dari 315 Rosul itu, terpilih lagi sebanyak 25 orang dan ini yg umum diketahui.. Lalu dari ke 25 orang Nabi dan Rosul itu maka terpilih lagi sebanyak 5 orang sebagai Ulul Azmi (gelar khusus bagi golongan Nabi dan Rosul pilihan yang mempunyai ketabahan luar biasa) yaitu Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Berikut ini dalilnya:

      Dalam riwayat Abu Umamah, bahwa Abu Dzar RA bertanya kepada Nabi SAW: “Berapa jumlah persis para Nabi.” Beliau menjawab: “Jumlah para Nabi itu 124.000 orang, 315 di antara mereka adalah Rosul. Banyak sekali” (HR. Ahmad no.22288 dan sanadnya dinilai shahih oleh al-Albani dalam al–Misykah).

      “Maka bersabarlah kamu seperti Rosul-Rosul ulul azmi.” (QS. Al-Ahqaf: 35)

      “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (QS. Al-Ahzab: 7)

      Nah, menjawab pertanyaan masnya, maka Nabi Adam AS itu hidup di periode awal manusia di Bumi yg disebut dg zaman Purwa Duksina-Ra. Alasannya karena beliau adalah manusia pertama yg tinggal di Bumi – tentu bersama dg Hawa AS – dan darinya pula semua umat manusia itu berasal hingga kini dan sampai Hari Kiamat nanti. Untuk semua Nabi dan Rosul, maka mereka itu hidup di setiap zaman yg berbeda. Ada enam periode zaman yg telah dilalui oleh umat manusia, dan kini sudah berada di periode yg ke tujuh. Adapun urutan setiap zamannya yaitu: (1) Purwa Duksina-Ra, (2) Purwa Naga-Ra, (3) Dirganta-Ra, (4) Swarganta-Ra, (5) Dwipanta-Ra, (6) Nusanta-Ra, (7) Rupanta-Ra. Jika Nabi Adam AS itu hidup di zaman pertama (Purwa Duksina-Ra), maka Nabi Muhammad SAW hidup di zaman ke tujuh (Rupanta-Ra), zaman yg sama dengan kita sekarang, hanya saja kita sudah tiba di akhir periode zaman ini.. Akan datang masa pergantian zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) menuju ke yg ke delapan nanti (Hasmurata-Ra), tanda-tanda dan pemanasannya telah dimulai…

      Ttg lama waktu di setiap zamannya, maaf tidak bisa saya share disini, ada protap.. hanya saja bisa saya jelaskan sedikit bahwa dari ke tujuh zaman yg di lalui umat manusia itu, maka ada yg berlangsung selama ribuan tahun, ratusan ribu tahun, jutaan tahun, bahkan ada yang sampai miliaran tahun.. tidak ada yg sama di setiap zamannya, dan itu sesuai dengan kondisi yg ada dimasanya.. Semuanya sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur kehidupan. Tentu ada maksud dan tujuannya.. Dan jika masnya cermat, maka beberapa kisah yg dimuat di blog ini sudah menjelaskan ttg keadaan dan waktu yg berlangsung di beberapa periode zaman yg lalu.. Silahkan dibaca dg teliti..

        huri said:
        Juli 5, 2020 pukul 4:18 am

        Penasaran Dwipantara mas🙏🙏🙏

        Harunata-Ra responded:
        Juli 6, 2020 pukul 2:43 am

        Hmm.. emang knapa?

    lukman said:
    Desember 12, 2018 pukul 1:15 pm

    terimah kadih mas atas pencerahanya

      Harunata-Ra responded:
      Desember 13, 2018 pukul 3:16 am

      Oke, sama2lah.. 😊

    […] membaca terlebih dulu beberapa artikel lainnya, seperti Jenis Elemen Makhluk dan Dimensi Kehidupan, Hiltram as Kazalim : Tombak Azab dan Pedang Takdir, Pusaka Warisan dan Perang Antar Dimensi, Kerajaan Nawali: Sang Pemimpin dari Timur, dan Kisah 9 […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s