Hukum Keseimbangan Dunia

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Sekali lagi kami mengajak untuk kembali merenungi bahwa Alam senantiasa menempatkan hukum kebebasan bagi Manusia pada posisi yang pertama tapi bukanlah yang utama. Karena bagaimana pun itu, keseimbangan dan keharmonisan hidup menjadi hal yang terpenting. Dan jika tiba waktunya, Alam Semesta justru akan membantu tujuan moral Manusia agar bisa terpenuhi dengan jalan bencana dan atau perang besar. Terlebih saat Manusia telah semakin lupa akan tugas dan tanggungjawabnya sebagai Khalifah di Bumi, maka disinilah akan ada proses seleksi yang ketat dan menjurus pada satu tujuan, yaitu memilih siapa saja yang layak hidup di zaman yang baru. Dengan begitu, maka kehidupan dunia akan normal kembali dan berlangsung secara damai.

Demikianlah ketentuan yang telah digariskan-Nya bagi setiap kehidupan di dunia ini. Ada kebangkitan tapi ada pula kehancuran, ada kedamaian dan ada juga kekacauan. Perang dan bencana adalah bagian dari sistem yang terkendali oleh-Nya, sebagai bentuk peringatan bagi para makhluk untuk selalu waspada dan sadar diri. Agar setiap pribadinya tidak lalai bahwa ada yang namanya hukum sebab akibat yang berjalan dengan tertib. Cepat atau lambat semuanya akan terjadi pada siapapun. Tak ada yang bisa menghindarinya, karena tak ada pula yang lebih perkasa dari ketetapan-Nya itu (hukum sebab akibat).

Ya, perang memang sering kali dimulai hanya untuk menunjukkan keberanian atau agar mendapatkan kehormatan. Bahkan dalam berbagai tradisi dan agama, perang telah mendapatkan tempat yang sangat tinggi dan mulia. Karena itu bukanlah hal yang mengherankan jika perang besar ini terus saja terjadi di setiap zamannya. Niat dan tujuannya bisa saja berbeda-beda. Hanya saja disadari atau tidak perang itu adalah jaminan dari Alam agar kehidupan dunia ini bisa terus bergerak, alias tidak stagnan (tidak berkembang, berhenti dan mundur kebelakang). Perang bisa menimbulkan gairah, meskipun memang tidak bisa dipungkiri bahwa perang itu juga menyebabkan banyak penderitaan dan kesedihan. Tapi itu semua hanya sebagai dampak dari hukum sebab-akibat yang terus berlangsung sampai kapan pun. Artinya, perang itu bisa terjadi lantaran ada yang menyebabkannya. Bisa saja oleh keserakahan dan kebodohan diri makhluk, sebaliknya justru karena demi menegakkan keadilan dan kebenaran yang sejati.

Begitu pula dengan bencana yang memiliki beberapa bentuk dan karakternya. Ada yang ringan dan ada juga yang berat, ada yang biasa saja namun ada pula yang luar biasa dahsyatnya. Dan pada periode waktu tertentu, akan datang bencana yang sangat mengerikan dan menjadi hakim yang sangat tegas, yang merupakan bagian akhir dari proses pemurnian total. Dimana kehidupan yang ada telah kacau balau dan harus di normalkan kembali seperti sedia kala. Nah bencana maha dahsyat yang datang pada skala waktu tertentu itulah yang bertindak sebagai penyeimbang keharmonisan dalam kehidupan dunia, khususnya di muka Bumi ini. Tanpa pilih-pilih, ia akan bertindak sangat “brutal” dan “kasar”. Sehingga siapapun akan merasakan betapa mengerikannya suasana pada masa itu. Sebagian kecilnya saja yang bisa selamat, lantaran mereka ini adalah yang tetap berpegang teguh pada perintah dan larangan dari Sang Maha Esa.

Dan setelah peristiwa yang memilukan itu selesai, maka sejak saat itulah model kehidupan yang baru akan berlangsung. Sungguh beruntung bagi siapapun yang berhasil melaluinya dengan selamat atau di selamatkan. Karena setiap pribadi yang celaka atau tewas pada masa transisi itu adalah termasuk mereka yang di azab oleh Tuhan. Dan sangat buruklah akhir hidup yang seperti ini – kecuali bagi mereka yang memang sudah waktunya wafat sementara ia sendiri telah hidup dalam kebaikan dan kebenaran. [Untuk gambaran tentang perang besar dan bencana maha dahsyat, silahkan baca tulisan ini: Pusaka warisan dan perang antar dimensi atau Azkariyah: Negeri di penghujung zaman]

“Segala sesuatunya ada sebab dan akibatnya.
Semuanya akan kembali lagi ke awal jika sudah sampai di ujung ceritanya”

Catatan: Dalam sejarahnya, maka sejak masa kehidupan Ayahanda Adam AS dulu, makhluk yang bernama Manusia telah melalui 6 periode zaman yang berbeda. Kita sekarang sedang berada di akhir periode zaman ke-7 yang disebut dengan Rupanta-Ra (zaman edan, membingungkan, penuh kekacauan, kemunafikkan dan kerusakan akhlak). Sebelum periode zaman kita ini, terdapat beberapa periode zaman sebelumnya, yaitu:

1. Purwa Duksina-Ra => zaman asal muasal dan perkembangan Manusia pertama.
2. Purwa Naga-Ra => zaman asal usul Manusia kedua.
3. Dirganta-Ra => zaman puncak peradaban dan kesaktian Manusia.
4. Swarganta-Ra => zaman puncak ilmu pengetahuan dan teknologi.
5. Dwipanta-Ra => zaman keseimbangan peradaban.
6. Nusanta-Ra => zaman kerajaan-kerajaan besar/kekaisaran.

Setiap periode zaman itu berlangsung dalam jangka waktu yang berbeda. Mulai dari yang sampai miliaran tahun hingga cuma ribuan tahun saja. Begitu pun dengan karakternya, maka setiap periode zaman itu memiliki banyak persamaan dan tentunya perbedaan. Mulai dari bentuk peradaban, keyakinan (agama), sampai dengan keadaan fisik Manusianya dan juga kondisi alamnya terus mengalami perubahan yang signifikan. Semuanya telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Maha Pencipta. Tak ada yang bisa mencegahnya, karena demikianlah ketetapan-Nya yang absolut. Dan faktanya ke enam periode zaman itu selalu di akhiri oleh sebuah bencana alam yang maha dahsyat dan “membersihkan” semuanya. Ya, Alam Semesta sudah menunaikan tugasnya sebagai hakim yang tegas bagi kehidupan di muka Bumi ini. Dan akan tetap seperti itu selama makhluk, khususnya Manusia, telah mengabaikan amanah yang ia terima.

Oleh sebab itu, ketahuilah bahwa kita sekarang sedang menunggu proses transisi periode zaman ke-7 ini (Rupanta-Ra) menuju periode zaman ke-8 nanti (Hasmurata-Ra : zaman puncaknya keindahan peradaban Manusia). Teruslah bersiap, karena tanda-tanda dan peringatannya sudah kerap terjadi dimana-mana, bahkan di dekat tempat kita tinggal sendiri. Baik keadaan sosial masyarakat atau pun fenomena alam telah semakin jelas terasa dan terlihat nyata kekacauannya. Dan bila kita mau menggunakan mata, teliga dan rasa di hati kita, maka tak ada alasan untuk tidak mempersiapkan diri sebaik mungkin. Cepat atau lambat peristiwa yang sangat mengerikan itu akan datang menimpa kita semua. Tanpa pandang bulu, siapapun akan “di hakimi” sesuai dengan kadar perbuatannya sendiri. Dan sungguh beruntunglah bagi siapapun yang tetap bersikap eling lan waspodo dalam kehidupannya. Terlebih bagi yang mau tetap tunduk patuh dan berserah diri kepada Hyang Aruta ; Tuhan Sang Penguasa Alam Semesta.

Semoga peringatan ini bermanfaat, dan semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang terus sadar diri dan selamat nanti. Rahayu… 🙏

Jambi, 25 Juni 2018
Harunata-Ra

Catatan akhir : Silahkan percaya atau tidak percaya dengan tulisan ini. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja. Tak ada tendensi apapun disini, karena kami hanya ingin yang terbaik bagi semuanya.

10 respons untuk ‘Hukum Keseimbangan Dunia

    Yeddi said:
    Juni 25, 2018 pukul 7:01 am

    Apakah berakhirnya Periode Zaman Rupanta-Ra saama waktunya dengan Berkahirnya Periode Zaman Kaliyuga di tahun 2024 Masehi ini Kang Oedi…?

      oedi responded:
      Juni 25, 2018 pukul 2:39 pm

      Terima kasih atas kunjungannya mas Yeddi, semoga ttp bermanfaat.. 😊

      Tentang waktu berakhirnya sebuah periode zaman, maka selain yg sudah pernah terjadi di masa lalu maka saya gak tau lagi mas.. Terlebih yg akan datang nanti itu penuh dg misteri dan banyak kejutannya.. Semuanya hak preoregatif dari Hyang Aruta.. Kita cuma bisa menunggu dan mengetahuinya setelah terjadi..

    awandoku said:
    Juni 25, 2018 pukul 1:51 pm

    Lama menanti postingan mas Oedi, diri ini semakin merasa haus dengan postingan mas Oedi, untuk menambah wawasan dan memahami puzzle” kehidupan

    Mumpung masih dibulan syawal.. Minal aidin wal faidzin mas, mohon maaf lahir batin..

    Mas, beberapa hari lalu saya merasa itu seperti ketemu mas nya pas di mimpi, padahal ketemu nyata aja belum, tapi rasa ini mengatakan seperti bertemu mas Oedi

      oedi responded:
      Juni 25, 2018 pukul 2:51 pm

      Nuwun ya mas Awandoku karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 😊

      Sama2lah mas.. Maafkan juga kalo ada salah kata dan tindakan saya selama ini.. Semoga kita bisa menjadi hamba yg beruntung.. 🙏

      Oh ya? Hmm.. Orang lain gak tuh mas? Tapi kalo iya sih moga aja dalam rangka kebaikan dan mempererat silaturahmi.. 😊

    mujahidinanonymous17 said:
    Juni 25, 2018 pukul 2:41 pm

    Sepertinya jika manusia2 zaman ini bisa keluar dari zaman ini dgn mencapai moksa. Mereka akan sampai di dimensi “Arupanta-ra”. Diambil dari nama “Arupadhatu”. Dimensi yg lebih tinggi dari dimensi dunia ini, yg mengontrol dimensi2 lainnya.

      oedi responded:
      Juni 25, 2018 pukul 3:50 pm

      Terima kasih mas/mbak Mujahidinanonymous17 atas kunjungannya, semoga bermanfaat.. 😊

      Betul, tetap ada kemungkinan yg besar bagi yg berhasil moksa di zaman ini.. Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa lebih istimewa dari mrk yg hidup di periode zaman sebelumnya..

    niq said:
    Juni 27, 2018 pukul 4:42 pm

    Apa ada kaitannya dg pernyataan bhwa Tuhan menciptakan alam semesta dalam 6 hari, lalu pd hari ketujuh Ia diam (berhenti)? jangan2 penciptaan itu masih belangsung dan periode kita hari ini adalah termasuk hari ketujuh dimana Tuhan “membiarkan” peradaban bergulir sekemaunya manusia.

      oedi responded:
      Juni 27, 2018 pukul 5:07 pm

      Terima kasih mas Niq atas kunjungannya, moga bermanfaat.. 😊

      Hmm.. Ttg waktu penciptaan, disini kapasitas ilmu saya masih blm memadai utk menjawabnya.. Takut keliru.. Maaf mas.. 🙏

    maliki said:
    Juni 28, 2018 pukul 9:46 am

    kembalinya ajaran budi sesuai sumpah sabdo polon noyo nengong

      oedi responded:
      Juni 29, 2018 pukul 2:21 pm

      Hmm.. Siapa tuh mas sabdo palon?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s