Kota Syamhana : Benteng Pertahanan Terakhir Bumi

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Pada kesempatan kali ini izinkanlah kami menyampaikan satu lagi kisah masa lalu yang luar biasa. Ada hikmah yang bisa diambil bagi kita yang hidup di akhir zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Karena hakekat dari masa lalu itu adalah guru yang memberikan pelajaran yang sangat berharga. Dan kehidupan Manusia di muka Bumi ini akan senantiasa silih berganti, ada kebangkitan dan ada pula kehancurannya. Bahkan yang pernah terjadi di masa lalu bisa saja akan terjadi kembali di masa kini.

Sebab, kehidupan dunia ini tidaklah linear, melainkan circle. Akan terus berulang hingga pada akhirnya berhenti lantaran Hari Kiamat pun datang. Semuanya akan berakhir pada masa itu, dan siapapun akan melanjutkan kehidupannya yang abadi di akherat. Disanalah semuanya akan dimintai pertanggungjawaban atas segala yang pernah ia lakukan di dunia ini. Yang patuh akan mendapatkan kebahagiaan, sementara yang membangkang akan menerima siksaan yang sangat perih. Demikianlah ketetapan yang telah Hyang Aruta (Tuhan YME) atur bagi semua makhluk. Tak ada yang mampu menghindarinya, karena takkan ada pula yang bisa melawan kehendak-Nya.

Nah, untuk mempersingkat waktu mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Kisah ini terjadi pada masa jauh sebelum tarikh Masehi, tepatnya saat menjelang pertengahan zaman ke enam (Nusanta-Ra). Ketika itu wilayah Afrika Utara masih menghijau dan gurun Sahara belum terbentuk (masih dipenuhi hutan dan padang rumput). Begitu pula dengan kawasan Malhiyasa (penamaan Nusantara kala itu) yang masih menyatu dengan Asia, Pasifik, Australia dan New Zealand. Kondisi ini jelas sangat berbeda dengan apa yang bisa kita lihat sekarang. Peta dunia telah berulang kali berubah dan peradaban Manusia pun sering bangkit dan hancur. Terus seperti itu selama miliaran tahun belakangan.

Dan pada suatu masa, kondisi kehidupan di Bumi ini penuh dengan angkara murka dan pembangkangan terhadap ajaran Tuhan. Kian hari semakin parah dan teramat susah untuk diperbaiki. Hal ini lantas membuat seorang utusan Tuhan bermunajat untuk menemukan cara dalam menyelamatkan mereka yang berhati baik. Nabi yang bernama Asilah AS itu lalu menyendiri di sebuah puncak bukit dan mengheningkan cipta dengan sangat khusyuk. Selama tiga hari beliau melakukan hal itu, sampai akhirnya turunlah Malaikat Jibril untuk menyampaikan Wahyu Ilahi. Pada saat itu Nabi Asilah AS diperintahkan untuk membangun peradaban baru yang kelak menjadi tempat yang termasyhur. Tapi sebelum itu, ia diperintahkan untuk menemui Nabi Khidir AS di suatu tempat yang tersembunyi.

Singkat cerita, setelah mendapatkan Wahyu Ilahi yang disampaikan oleh Malaikat Jibril itu, sang Nabi segera menemui seniornya, Nabi Khidir AS. Ternyata beliau pun sudah mendapatkan petunjuk untuk membantu Nabi Asilah AS dalam membangun peradaban yang baru. Kehidupan disana akan menjadi contoh teladan bagi generasi selanjutnya, terutama yang hidup di zaman yang berbeda. Siapapun akan beruntung jika bisa tinggal disana.

Waktu pun berlalu dan kedua Utusan Tuhan itu mencari lokasi yang paling tepat untuk membangun sebuah kota. Tapi ternyata itu tidak mudah, karena meski telah berulang kali mencari namun tidak bisa menemukannya. Mereka tetap harus melalui ujian kesabaran dan ketekunan. Sampai akhirnya tiba-tiba muncullah Nabi Syis AS di hadapan keduanya. Ternyata beliau pun mendapatkan petunjuk untuk memberi tahu dimanakah lokasi yang paling tepat untuk membangun sebuah kota yang megah. Dan uniknya, ketika mereka sampai di lokasi yang dimaksudkan, atas izin Tuhan tempat yang ada disana seketika berubah bentuk menjadi lebih indah. Lalu atas bantuan dari bangsa Peri, Jin dan Manusia yang telah moksa, maka kota besar itu pun dibangun dengan sangat megah dan mempesona. Atas petunjuk Tuhan kota tersebut lalu diberi nama Syamhana, atau yang berarti Kota Matahari (cahaya).

Catatan: Demikianlah kemuliaan dari para Nabi. Tidak ada satupun tindakan mereka yang berdasarkan hasrat keinginan pribadi. Semuanya hanya atas petunjuk Ilahi (Wahyu). Mereka pun mendapatkan ujian yang sangat berat dan melebihi siapapun. Hanya para Nabi yang bisa seperti ini, karena semakin tinggi pohonnya maka semakin kencang pula anginnya.

Lalu, setelah kota itu selesai dibangun, maka atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME) keberadaannya harus disembunyikan untuk sementara waktu. Mereka yang akan tinggal disana terlebih dulu haruslah dari kalangan Manusia yang terpilih dan mendapatkan bimbingan dari ketiga Nabi. Mereka itu berasal dari berbagai ras yang ada di seluruh Bumi. Awalnya hanya ada sekitar 30 pasangan saja, tapi lambat laun jumlah ini terus bertambah dan akhirnya menjadi sebuah kaum tersendiri. Atas petunjuk Hyang Aruta (Tuhan YME), kaum tersebut diberi nama Hasufiyah atau yang berarti khusyuk dalam kemuliaan diri.

2. Kota Syamhana yang masyhur
Pada masa itu, setelah 5 generasi berikutnya hiduplah seorang gadis cantik bernama Kaelah. Ia tinggal bersama kedua orang tua dan tiga saudaranya. Sebagai anak yang bungsu, Kaelah amat di sayang dan ia hidup dalam kecukupan. Karena itulah sang gadis tumbuh sebagai anak yang cerdas dan periang. Ia tak memiliki sifat iri, dengki dan pendendam, lantaran sangat menghormati sesamanya dengan penuh kasih sayang.

Suatu ketika, Kaelah berkunjung ke ibukota kerajaannya. Tempat yang disebut Syamhana itu menawarkan pemandangan yang sangat mengagumkan. Terdapat banyak gedung megah yang berkubah atau pun tidak, yang dinding dan lantainya berlapis emas dan perak. Ada pula bangunan-bangunan yang menawan yang pilar-pilar besarnya terbuat dari pualam berwarna putih yang berkilauan. Dimana-mana, gedung yang ada telah dihiasi dengan banyak batu permata warna-warni dan berbagai taman bunga yang mempesona yang terdapat banyak kolam dan air mancurnya. Ada pula piramida yang berundak warna putih yang dibangun dengan sangat megah. Jalan-jalan yang ada pun dibuat dari kepingan-kepingan marmer yang berwarna krem yang dipadukan dengan yang berwarna hitam atau hijau. Tak ada kota yang seindah itu di dunia.

Di tempat lain, baik di pusat kota atau pun di beberapa lokasi lainnya terdapat menara-menara pencakar langit, yang berdiri kokoh dan gagah menampakan kejayaan Syamhana. Ada satu yang paling tinggi dan megah, yang membuat siapapun akan terpana dan sangat mengaguminya. Menara itu diberi nama Almuras atau yang berarti paling perkasa dan mengagumkan. Mengapa begitu? Sebab tingginya saja sekitar ±2.150 meter dan berbahan dasar utama dari batu pualam dan marmer yang berwarna putih. Selain itu, ada banyak emas, perak dan permata yang digunakan untuk mempercantik arsitektur bangunannya.

Ya. Ada lima menara yang didirikan di kota Syamhana itu. Satu yang paling tinggi dan megah berada tepat di tengah kota, sementara empat lainnya menyebar di segala arah (utara, selatan, timur dan barat). Pada setiap puncak menaranya terdapat bola kristal yang berukuran sangat besar dan berwarna putih bening yang akan bersinar terang di malam hari. Dari kelima bola kristal yang bersinar dari setiap puncak menara itu, maka menjadi teranglah seisi kota pada malam harinya. Sungguh indah dan memukau.

Selain itu, tidak salah jika dikatakan bahwa kota Syamhana ini adalah kota yang luar biasa. Di antara alasannya adalah kota tersebut berbentuk bulat melingkar yang dibatasi oleh tiga lapis tembok-benteng berwarna krem yang sangat kokoh. Sementara pintu gerbangnya terbuat dari baja putih yang diukir sangat indah dan beberapa ornamennya ditambahkan emas dan batu permata agar terlihat lebih menarik. Pintu gerbang ini berada di ke empat arah mata angin dan selalu dijaga ketat oleh prajurit pengawal yang terlatih. Tak ada yang bisa masuk tanpa izin atau pengawasan dari mereka ini.

Lalu, kota besar ini terdiri dari tiga lapisan. Setiap lapisan dibatasi oleh tembok yang tinggi dan sangat kokoh. Semakin ke dalam maka kondisi bangunan dan keindahan kotanya kian memukau. Ada pula kanal-kanal air yang jernih dan bisa dijadikan sebagai jalur transportasi khusus. Tepat di pusat kota, maka para pemimpin dan keluarganya, serta para pejabat dan guru yang bijaksana tinggal menetap. Mereka mendapatkan fasilitas yang membuat iri para penguasa di banyak negara. Namun begitu, sesuai hukum ketatanegaraan yang ada, maka setiap warga Syamhana juga mendapatkan fasilitas dan jaminan yang cukup dari kerajaan. Kesenjangan sosial di negeri itu tak begitu kentara, bahkan sudah tak ada lagi. Dan setiap orangnya pun sudah merasa puas dengan posisi dan penghasilannya sendiri. Mereka pun sangat taat dalam menjalankan syariat agama yang diwariskan oleh ketiga Utusan (Nabi Syis AS, Nabi Khidir AS, dan Nabi Asilah AS). Sungguh kota yang indah dan menjadi idaman bagi siapapun yang berakal.

Catatan: Karena sudah berbentuk negara, maka di luar benteng kota Syamhana itu terdapat banyak perkampungan. Mereka semua dibawah perlindungan dari kerajaan Syamhana, karena memang masih bagian dari penduduknya. Mereka pun bisa kapan saja masuk ke dalam kota Syamhana, tapi dengan syarat harus bisa menunjukkan tanda pengenal khusus. Negara yang mengeluarkannya.

Nah, di kota besar itulah gadis cantik bernama Kaelah tinggal untuk beberapa waktu demi menuntut ilmu. Di sebuah Hatsale (universitas) yang bernama Swarunaye ia melanjutkan pendidikan dan akhirnya banyak mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan yang baru. Selama lebih dari lima tahun sang gadis tekun belajar disana. Bersama rekan seangkatannya, banyak hal baru yang bisa di lakukan. Salah satunya adalah mempelajari seluk beluk astronomi dan uniknya jagat raya. Selain itu, ia pun tekun dalam mempelajari cara-cara untuk bisa mengenal diri sejati. Bahkan hal ini pula yang paling ia sukai.

3. Petunjuk mimpi
Suatu malam, ketika Kaelah dan ketiga orang temannya sedang duduk menikmati keindahan Langit, tiba-tiba ia merasakan kantuk yang luar biasa. Karena tak mau mengusik kesenangan dari para sahabatnya – yang asyik memandangi keindahan alam, Kaelah mencari sudut tempat yang agak terpisah dari rombongan. Disana, di bawah bongkahan batu besar, ia lalu tertidur pulas dan bermimpi. Dalam mimpi tersebut, sang gadis melihat ada begitu banyak pesawat terbang dari luar angkasa yang menyerang Bumi. Selain itu, ia juga bisa melihat dengan jelas bermacam bentuk makhluk yang beterbangan yang tujuannya untuk menaklukkan seisi Bumi.

Setelah sadar dari mimpinya, Kaelah sempat terdiam merinding. Astan yang melihat itu langsung mendekat dan bertanya ada apa gerangan? Tak lama kemudian kedua orang temannya yang lain, Diyos dan Sinaya, pun ikut mendekat. Mereka juga bisa merasakan ada sesuatu yang penting yang telah di alami oleh sahabatnya itu. Sementara Kaelah sendiri merasa bahwa mimpinya itu nyata. Seolah-olah ia pun ada disana, di saat kejadian penyerangan Bumi itu terjadi. Dalam hatinya ia sampai berkata bahwa mimpi itu bukan hanya sekedar mimpi, tetapi penglihatan (visi) dari masa depan.

Waktu pun berlalu selama 7 hari kemudian. Sekali lagi Kaelah bermimpi hal yang sama. Bahkan kali ini sahabat karibnya yang bernama Astan pun mendapatkan mimpi yang serupa. Kejadian ini kian meyakinkan diri Kaelah bahwa apa yang ada di dalam mimpi itu adalah gambaran masa depan yang akan terjadi. Dan ketika mimpi yang serupa kembali ia dapatkan, maka 100% Kaelah pun yakin bahwa itu adalah petunjuk Ilahi. Karena itulah, sang gadis segera mencari petunjuk tentang apa yang harus ia lakukan ketika peristiwa mengerikan itu terjadi. Dengan cara menyendiri di hutan, Kaelah dan Astan memutuskan untuk banyak ber-semedhi untuk bisa lebih menjernihkan hati dan pikirannya. Di tempat yang terpisah, keduanya juga melakukan tapa brata dan olah batin lainnya dengan tekun.

Setelah 40 hari, akhirnya apa yang diharapkan terwujud. Kaelah dan Astan bertemu dengan para Nabi yang mulia. Mereka adalah sosok yang dulu membangun kota Syamhana. Karena itulah Nabi Syis AS lalu mengajarkan ilmu sejarah, sains dan teknologi. Nabi Khidir AS mengajarkan ilmu agama, daya energi (kesaktian), dan keTuhanan (tauhid-makrifat). Sementara Nabi Asilah AS mengajarkan ilmu kepemimpinan, hukum ketatanegaraan, sosial, ekonomi dan seni budaya. Karena diajarkan langsung oleh tiga sosok yang istimewa, dalam waktu singkat Kaelah dan Astan berhasil menjadi pribadi yang terbaik. Mereka lalu mendapat mandat untuk memimpin Manusia dalam menghadapi serangan dari luar Bumi.

Catatan: Sebenarnya ketiga Nabi tersebut sangat menguasai berbagai disiplin ilmu, yang ilmiah dan batiniah. Hanya saja pada waktu itu setiap orangnya hanya mengajarkan ilmu sebatas yang telah di perintahkan-Nya saja.

4. Penaklukkan Bumi
Suatu malam ketika Prabu Hanaken (pemimpin ke-5 Syamhana) memandang Langit dari balkon istananya, ia melihat adanya sebuah lingkaran titik-titik cahaya berwarna putih kebiruan muncul di angkasa dengan panjang diameter sekitar 1 Sel (±25 meter). Objek tersebut tanpa mengeluarkan suara dan perlahan-lahan mendekat. Tak lama kemudian ia berhenti beberapa waktu seperti sedang mengamati, lalu mulai bergerak menjauh dengan perlahan menuju ke selatan. Bertambah tinggi naik ke angkasa dan menghilang di kegelapan malam dengan kecepatan yang sangat luar biasa.

Itu baru yang pertama dan saat itu belum ditanggapi serius oleh sang prabu. Sampai pada akhirnya, di 10 hari kemudian ia kembali melihat ada objek yang berbentuk cakram yang pada bagian bawahnya terdapat lampu-lampu yang bersinar terang dan berputar dengan cepat. Dari kejauhan ia mendekat lalu berhenti untuk beberapa waktu, seperti sedang mengamati sesuatu. Tak lama kemudian mengeluarkan suara nyaring yang terdengar “Sriiiingiing… ngiiiing…” dengan sangat jelasnya. Makin lama semakin tinggi frekuensinya, hingga pada akhirnya menghilang seiring dengan melesatnya benda misterius itu ke luar angkasa. Sangat cepat lajunya, seperti kilat.

Selanjutnya, setelah beberapa bulan berlalu, benda asing itu semakin banyak terlihat di angkasa dari pada waktu sebelumnya. Hanya sinar lampunya saja yang terlihat jelas, sementara badan pesawatnya agak samar, bahkan tak terlihat sama sekali. Hingga pada suatu ketika ada yang sengaja menampakkan diri dengan diameternya sekitar 5 Sel (±125 meter). Pesawat itu berbentuk seperti payung tanpa tangkainya (piring terbang) dan berwarna perak mengkilat. Sesekali mengeluarkan suara gemuruh yang bisa terdengar dalam radius puluhan kilometer. Tak melakukan apapun, karena hanya sebatas mengamati saja. Namun akibat dari peristiwa itu jelas membuat panik orang-orang yang melihatnya. Mereka tak tahu pasti apakah gerangan itu, siapakah mereka? Belum pernah ada yang seperti itu dalam sejarah bangsanya. Dalam hati mereka langsung berkata: “Ini pasti serangan yang bertujuan menaklukkan kita“.

Singkat cerita, Prabu Hanaken mengumpulkan semua pejabat dan cendekiawan di istananya. Ia lalu membahas apakah yang sedang terjadi? Siapakah yang telah berdatangan dalam wujud benda angkasa yang bersinar itu? Hal ini tidak bisa diabaikan, karena menyangkut keamanan dan ketertiban dunia.

Seorang cendekiawan bernama Starte maju ke depan dan berkata: “Dari hasil analisa dan perenungan ku, benda-benda angkasa itu adalah mereka yang berasal dari luar Bumi. Jika di lihat dari bentuk dan model pesawatnya, bisa dipastikan bahwa mereka itu terdiri dari berbagai golongan yang berbeda. Ada tujuan khusus mereka datang kesini (Bumi). Ya, untuk menaklukkan peradaban Manusia

Mendengar penjelasan itu, semua orang langsung setuju. Mereka pun merasakan hal yang sama. Dan tanpa berpikir lama, akhirnya mereka mulai merencanakan segala sesuatu untuk persiapan. Hal ini harus segera di lakukan, karena tak ada yang tahu kapankah serangan dari makhluk luar angkasa itu di mulai. Jika mereka tidak segera mempersiapkan diri, maka bisa dipastikan tak ada yang akan selamat atau sekedar hidup merdeka. Karena mereka pun sadar bahwa kekuatan dan teknologi yang dimiliki oleh pasukan antariksa itu jauh di atas mereka.

Catatan: Kaum Hasufiyah sudah tidak asing lagi dengan pesawat terbang, karena mereka pun telah berhasil menciptakannya. Hanya saja, pesawat antariksa yang datang dari luar Bumi saat itu memiliki teknologi yang lebih canggih. Ini yang membuat mereka penasaran dan merasa cemas dengan nasib kehidupan di Bumi selanjutnya.

Waktu pun berlalu selama 5 bulan. Pada saat itu, Kaelah dan Astan sudah kembali ke kota Syamhana. Disana keduanya segera mendapatkan kabar bahwa telah berdatangan pesawat antariksa yang bukan milik Manusia di Bumi. Pesawat-pesawat itu memang belum melakukan apapun, hanya saja semua orang pun sadar bahwa suatu saat nanti mereka pasti akan menyerang. Terlebih pada masa itu, hampir di seluruh negara telah terjadi kemerosotan akhlak. Ini sangat berpengaruh pada keseimbangan alam, dan menjadi penyebab utama rentannya pertahanan di Bumi. Maka inilah waktu yang paling tepat bagi mereka itu untuk datang menyerang Bumi. Sebab Manusia yang seharusnya menjadi penjaga utamanya sudah berada dalam kondisi yang paling lemah dan bodoh.

Mengetahui hal itu, kedua taruna itu langsung menyadari bahwa inilah yang dimaksudkan dalam mimpi mereka sebelumnya. Bahwa kehidupan di Bumi teramcam oleh invasi dari makhluk yang berasal dari Galaksi atau Alam Semesta atau Dimensi lainnya. Dan memang guru-guru mereka (ketiga Nabi) juga sudah mengingatkan bahwa ini akan terjadi, cepat atau lambat. Terlebih salah satu tujuan dibangunnya kota Syamhana itu adalah untuk menjadi benteng pertahanan terakhir di Bumi, yang mampu melawan serangan besar itu. Jika kota Syamhana dan penduduknya berhasil ditaklukkan, maka seisi Bumi akan sepenuhnya ditaklukkan. Takkan ada lagi kebebasan, karena Manusia akan dijadikan budak.

Singkat cerita, Kaelah dan Astan menghadap kepada Prabu Hanaken di istananya untuk menawarkan solusi. Karena keduanya adalah murid dari ketiga Nabi, apa yang telah mereka sampaikan langsung diterima oleh semua pembesar Syamhana. Dan memang apa saja yang disampaikan itu bisa diterima akal dan sangat logis. Mulai dari menghubungi semua kerajaan untuk menyatukan kekuatan, membangun ulang sistem pertahanan kota Syamhana dan melatih secara khusus pasukan yang ada, sampai dengan mempersiapkan semua logistik dan kebutuhan medis untuk menghadapi serangan mematikan nanti.

Hanya saja sangat disayangkan tak banyak kerajaan yang mau bersatu padu. Bahkan mereka tak percaya tentang akan adanya serangan dari makhluk luar Bumi itu. Mereka ini adalah orang-orang yang telah dibutakan oleh kesenangan duniawi. Karena itulah, hanya dalam waktu singkat negeri mereka pun berhasil ditaklukkan oleh makhluk luar angkasa itu. Tak ada yang tersisa dari mereka itu kecuali kehancuran. Seluruh kota yang mereka bangun dengan susah payah telah porak poranda, hancur lebur bersamaan dengan jutaan nyawa yang melayang.

Hal ini pun terus berlangsung di semua kawasan di Bumi, di timur dan barat atau utara dan selatan telah terjadi kehancuran dan pembataian massal yang keji. Tak ada yang mampu mencegahnya, karena musuh yang datang dari luar angkasa itu memiliki teknologi dan kesaktian yang luar biasa. Hampir mustahil untuk bisa mengalahkan mereka dengan kemampuan rata-rata Manusia di Bumi saat itu. Meskipun sebenarnya mereka lebih hebat dari Manusia yang hidup di zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra), tapi dihadapan musuh yang datang dari luar angkasa itu mereka tak berarti apa-apa. Sekuat apapun mereka melawan, hasilnya tetaplah kekalahan dan kebinasaan.

Hingga pada akhirnya tinggal beberapa kota saja yang masih bertahan, termasuk kota Syamhana. Mereka bisa bertahan karena mau mengikuti arahan dari kaum Hasufiyah di kota Syamhana. Selain Prabu Hanaken dan Starte, maka Kaelah dan Astan adalah sosok yang paling berpengaruh saat itu. Apapun yang mereka usulkan membuahkan hasil yang baik. Maklumlah keduanya adalah murid dari ketiga Nabi. Dan ini terus berlangsung sampai batas waktu yang tak bisa dipastikan. Terlebih mereka sendiri belum berhadapan langsung dengan pemimpin pasukan yang menyerang Bumi saat itu.

Sungguh, dimana-mana perang berkecamuk mengerikan. Kehancuran demi kehancuran terus dialami oleh negeri-negeri Manusia. Korban jiwa sudah tak terhitung lagi, baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat jelata. Kedahsyatan serangan makhluk luar angkasa itu seperti badai gurun yang merusak dengan cepat. Seperti wabah penyakit menular yang sangat mematikan hanya dalam waktu beberapa menit saja. Dan di hari ke tujuh sejak pertama kali serangan terjadi, kini tinggallah negeri Syamhana dan 10 kerajaan koalisinya yang masih bertahan. Mereka tetap melawan dengan segala daya upaya yang ada. Meskipun banyak jatuh korban, keadaan mereka masih relatif paling baik dari kerajaan-kerajaan yang tinggal di kawasan lainnya.

Singkat cerita, tibalah saatnya puncak pertempuran terjadi. Saat itu, dengan kekuatan yang mengerikan, pasukan luar angkasa itu datang ke negeri Syamhana. Tapi karena kota ini bukanlah kota sembarang, maka tak mudah bagi mereka untuk bisa menaklukkannya. Disana ada para kesatria utama yang berilmu tinggi dan teknologi yang dimilikinya juga sangat maju. Tak mudah bagi mereka untuk bisa menembus sistem pertahanan negeri itu. Selain ada pasukan yang sangat tangguh, maka ada perisai pelindungnya yang sangat kokoh.

Sampai pada akhirnya, lapisan pertama dari perisai pelindung negeri Syamhana itu – yang berada di luar batas kota – dapat ditembus oleh pasukan antariksa jahat. Karena itulah tak dapat ditunda lagi bagi kedua belah kubu pasukan untuk saling beradu ketangkasan dalam perang. Dan sejak saat itulah, pertarungan antara makhluk luar angkasa dengan Manusia mencapai puncaknya. Keduanya sama-sama mengeluarkan segala kemampuan yang ada.

Ya, pertempuran kala itu sangat mengerikan sekaligus mengagumkan. Para kesatria yang terlibat dari kedua belah pasukan sama-sama berilmu tinggi. Karena itulah teknologi tak lagi menjadi andalan mereka. Dan sesuai dengan apa yang digambarkan dalam mimpi Kaelah dan Astan sebelumnya, maka memang banyak makhluk dari luar angkasa itu yang bisa terbang kesana kemari. Mereka terdiri dari yang bersayap ataupun tidak. Wujud mereka pun ada yang menyeramkan, tapi sebaliknya justru sangat rupawan. Ada pula di antara mereka itu yang mirip dengan Manusia, dan ada pula yang serupa dengan bangsa Peri, hanya sedikit yang seperti bangsa Jin. Semuanya jelas memiliki kekuatan yang berada di atas rata-rata Manusia. Bahkan jika mati, maka ia bisa hidup kembali.

Waktu pun berlalu selama beberapa jam. Pertempuran terus saja berlangsung sengit dan berkali-kali Bumi sampai berguncang hebat. Hingga pada akhirnya terlihat bahwa pasukan luar angkasa itu mulai unggul. Hanya saja untuk bisa menaklukkan kaum Syamhana tidaklah mudah. Terlebih mereka memiliki dua orang kesatria utama yang menjadi murid dari ketiga orang Utusan Tuhan. Dan selain mendapatkan berbagai ilmu dari para Nabi, Astan sendiri telah menerima cincin pusaka dari Nabi Syis AS yang bernama Hasmiel. Salah satu keutamaan dari cincin itu adalah jika dicium dan dibacakan kalimat khusus (mantra), maka akan memanggil para Malaikat yang siap bertempur.

Karena itulah, lantaran keadaan yang sudah terdesak dan mengkhawatirkan, akhirnya Astan menggunakan cincin pusaka itu. Tak lama kemudian turunlah sepasukan Malaikat yang mengenakan baju zirah berwarna putih bercampur emas. Di antara mereka ada yang memegang senjata dan ada pula yang tidak. Penampilan mereka itu bercahaya sekaligus terlihat sangar. Ada yang bersayap dan ada pula yang tidak. Dan tanpa berkata sepatah pun, mereka langsung menyerang pasukan luar angkasa itu. Dalam waktu singkat sudah banyak yang tewas, terus seperti itu tanpa bisa dihentikan.

Tapi pasukan luar angkasa itu bukanlah pasukan sembarangan. Selain memiliki teknologi super canggih, di antara mereka banyak yang berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Oleh sebab itu tetap saja tak mudah mengalahkan mereka semua, meskipun para Malaikat sudah turun membantu. Dan sesuai dengan petunjuk-Nya, maka ketika pasukan Manusia sudah mulai kewalahan, tiba-tiba Nabi Khidir AS muncul dalam balutan cahaya yang berkilauan. Siapapun yang melihatnya pasti terpana dibuatnya. Penampilan beliau yang seperti itu belum pernah di lihat oleh siapapun yang hidup saat itu, termasuk Kaelah dan Astan.

Awalnya tak ada yang tahu siapakah gerangan sosok yang hadir dengan tiba-tiba itu, kecuali para Malaikat yang langsung memberi hormat. Begitu pula dengan Astan dan Kaelah yang memang sudah mengetahui bahwa sosok tersebut adalah guru mereka sendiri. Hanya saja penampilan beliau kali ini tak seperti dulu waktu mereka berguru. Sangat berbeda dan auranya sungguh mengagumkan. Beliau terlihat seperti seorang kesatria yang sangat perkasa yang siap menghancurkan seluruh dunia.

Singkat cerita, sejak kemunculan Nabi Khidir AS yang secara tiba-tiba itu, maka pertempuran pun segera mereda. Bahkan akhirnya berhenti lantaran semua pasukan luar angkasa dapat beliau hentikan dengan satu kalimat perintah saja. Kalimat itu bisa langsung menjadikan mereka semua lumpuh seketika, sesakti apapun dirinya. Dan beliau pun berkata: “Hai kalian para Sakhtur (pasukan luar angkasa) enyahlah. Janganlah kalian mengusik Bumi ini. Kembalilah ke asalmu. Tak usah kemari (Bumi) lagi sampai batas waktunya nanti!

Setelah memberikan peringatan itu sang Nabi lalu diam dengan tatapan yang tajam. Mereka yang melihatnya jadi ngeri sendiri. Dan semua pasukan luar angkasa yang ada saat itu tak bisa berbuat apa-apa lagi. Setelah bisa pulih dari lumpuhnya, maka karena telah di “marahi” oleh sang Nabi, mereka pun segera berkemas dan pergi meninggalkan Bumi. Tak ada yang tertinggal, sebab mereka tahu betul apa akibatnya nanti. Tak ada yang bisa menandingi seorang Utusan yang sedang mengemban tugas dari Hyang Aruta (Tuhan YME).

Lalu, setelah pasukan luar angkasa itu pergi meninggalkan Bumi, Nabi Khidir AS berpesan kepada semua Manusia yang ada di medan pertempuran itu. Apa yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang hakekat kehidupan ini dan berbagai hal yang menyangkut masa depan. Termasuk tentang kelahiran dari seorang Utusan terakhir (Rosul) dan seorang keturunannya yang akan menjadi pemimpin besar umat Manusia. Juga mengenai perang terbesar dalam sejarah Alam Semesta. Siapapun yang mendengarkannya merasa sangat puas dan ingin bisa hidup dimasa itu. Dan tak menutup kemungkinan bahwa itu bisa saja terjadi.

Kisah pun berlanjut. Setelah menyampaikan nubuwatnya, Nabi Khidir AS segera raib dari pandangan. Di medan pertempuran yang berlangsung di negeri Syamhana itu, yang terjadi kemudian adalah mengobati siapapun yang terluka dan menguburkan mereka yang telah wafat. Setelah itu, di lakukan pembangunan kembali atas segala kerusakan yang terjadi, terutama di negeri Syamhana dan kerajaan koalisinya. Di tempat lain baru di laksanakan setelah beberapa waktu kemudian, setelah negeri Syamhana dan kerajaan koalisinya kembali hidup normal.

Dan pada akhirnya kehidupan di seluruh Bumi kembali normal. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari serangan pasukan luar angkasa itu. Orang-orang yang sebelumnya angkuh dan ingkar dari ketentuan Tuhah tapi selamat segera sadar dan berusaha untuk kembali beriman. Negeri Syamhana menjadi pusat dari peradaban dunia dan mengajarkan tentang kebajikan yang mestinya di lakukan. Para utusan dari setiap kerajaan yang ada lalu diterima untuk belajar disana. Setelah mereka lulus, mereka diperintahkan untuk kembali ke negerinya masing-masing dan menyebarkan semua ilmu pengetahuan yang telah di dapatkan di kota Syamhana. Sehingga karena itulah, pada akhirnya kehidupan di Bumi bisa kembali aman dan makmur. Keseimbangan dunia pun kembali terwujud.

Selanjutnya, karena merasa sudah waktunya maka Prabu Hanaken akhirnya turun tahta. Sebagaimana hukum yang berlaku (konstitusi negara), maka ia tak bisa mewariskan kedudukannya. Siapapun yang menggantikannya haruslah orang yang terbaik dan bisa memenuhi syarat mutlak untuk menjadi pemimpin tertinggi kaum Hasufiyah. Dan ternyata orang itu adalah sahabat Kaelah sendiri, yaitu Astan. Dia memang layak untuk jabatan tersebut, sementara Kaelah di lantik menjadi Satruwe atau pemimpin tertinggi bagi para cendekiawan. Dan pada akhirnya mereka berdua pun menikah, sehingga bisa memimpin kaum Hasufiyah bersama-sama selama 75 tahun. Setelah merasa cukup, keduanya pun meninggalkan semua urusan di Bumi ini dengan cara moksa, berpindah ke dimensi lainnya.

5. Aksara dan bahasa
Sebagai kaum yang besar, tentulah di negeri Syamhana itu telah menggunakan bahasa yang kompleks dan aksara yang lengkap. Jika nama bahasanya adalah Diyase, maka nama aksaranya adalah Maltuwe. Keduanya merupakan pemberian dari Nabi Syis AS, yang beliau ajarkan kepada 30 pasang orang yang pertama kali tinggal di kota Syamhana. Mereka itulah yang kemudian mengajarkan kepada anak keturunannya atau orang-orang yang kemudian ikut tinggal di kota Syamhana.

Berikut ini contoh syair dalam bahasa Diyase :

Syantillah

Hommet tah eratah kandisal bigam hasila urmaniyah.
Sajilatan makh arthana bilahati, wasiyanu rantah asurahi.
Thes hasekiyu dane wazinerta Jawinala, kam serket nanmer irenite. 
Hortan ahajer mense, den anajeb Ilahiyah neitlu qas kastunahi.
Sekohan liyena harentapa nyejarah, sehantalu wajani biyah.
Khaba sanakhte amket huni kufuyya saferunta.
Derjefa hanikh menkarae kafrani uskaf, netare unasa menkaurah.

(Kaelah)

Catatan: Karena protap, maka syair di atas tidak bisa kami berikan terjemahannya. Begitu pula dengan bentuk aksaranya tak bisa juga kami sampaikan disini. Maaf.

6. Daftar pemimpin
Dalam sejarahnya, kota Syamhana pernah dipimpin oleh 55 Amare (pemimpin tertinggi) yang arif dan bijaksana. Karena itulah kehidupan disana penuh dengan kemakmuran dan kepatuhan pada Tuhan YME. Memang pernah terjadi kegaduhan – sebagaimana cerita di atas, namun secara umum mereka hidup dalam keadaan aman dan sentosa.

Adapun nama-nama Amare (pemimpin tertinggi) yang pernah menjabat di negeri Syamhana adalah sebagai berikut:

1. Sinayat -> Pemimpin pertama yang dilantik langsung oleh ketiga Utusan (Nabi Syis AS, Nabi Khidir AS, Nabi Asilah AS)
2. Astrante
3. Zamoru
4. Mugalas
5. Hanaken
6. Astan, atau yang bergelar Hal Sanostrayan (Tuan yang agung dan perkasa).
7. Menre
8. Niqirat
9. Siblatar
10. Uskaruh
11. Yendru
12. Senetta
13. Kalshora
14. Wihappe
15. Rimkatu
16. Hibren
17. Anthois
18. Syeba
19. Damruna
20. Karemal
21. Mantabi
22. Ksetya
23. Hathor
24. Nimtef
25. Raffat
26. Bhetera
27. Sangken
28. Tatsera
29. Nemhatta
30. Nushan
31. Gharat
32. Muyyaru
33. Zebagan
34. Knefture
35. Jisanta
36. Anemu
37. Menthali
38. Setemgaf
39. Lutnifah
40. Horsyah
41. Tevren
42. Knibre
43. Senrena
44. Jefaktur
45. Wahufta
46. Nahasen
47. Ultiyes
48. Benrel
49. Osenta
50. Hosfrah
51. Nemtya
52. Fenkalus
53. Tetsha
54. Syemai
55. Tasseru -> pemimpin terakhir negeri Syamhana. Di masanya pula negeri ini dipindahkan ke dimensi lain.

Rata-rata orang yang memimpin di negeri ini menjabat selama minimal 70 tahun. Karena itu, dalam sejarahnya negeri Syamhana ini sempat berdiri selama ±3.997 tahun. Selama itu, mereka yang memimpin haruslah sosok yang terbaik dan terpilih. Tidak ada tahta warisan disini, karena setiap orang berhak menjadi pemimpin bagi kaum Hasufiyah. Yang penting ia telah memenuhi semua kriteria dan syarat mutlak sebagai seorang pemimpin tertinggi di kaum Hasufiyah. Di antaranya:

1. Sehat jasmani dan rohani.
2. Berjiwa kesatria dan rendah hati.
3. Bersikap zuhud pada dunia.
4. Menguasai ilmu yang diwariskan oleh ketiga Utusan (Nabi Syis AS, Nabi Khidir AS, dan Nabi Asilah AS).
5. Mampu memakai pusaka warisan dari Nabi Syis AS.

Demikianlah lima syarat minimal yang mutlak dimiliki oleh seseorang ketika ia akan memangku jabatan sebagai pemimpin tertinggi (Amare) kaum Hasufiyah. Tanpa satu dari kelimanya, maka siapapun takkan layak untuk duduk di singgasana Syamhana. Hanya sosok yang terpilih saja yang bisa, tak bisa dipaksakan atau pun di rekayasa.

7. Akhir kisah
Wahai saudaraku. Kota Syamhana adalah salah satu di antara kota-kota yang terbaik yang pernah dimiliki oleh Manusia. Sehingga patut untuk ditiru oleh kita sekarang, terutama mengenai kepatuhan penduduknya dalam mengikut ajaran dan hukum Tuhan. Sebab, hanya dengan begitulah maka anugerah dan perlindungan-Nya akan senantiasa hadir. Dan lihatnya, meskipun telah diserang oleh pasukan yang sangat kuat dari luar angkasa, kota orang-orang yang beriman itu mampu bertahan – bahkan mereka menjadi benteng terakhir kehidupan Manusia di Bumi ini. Selain karena penduduknya memiliki keahlian khusus, mereka pun akhirnya mendapatkan bantuan dari Langit. Dalam hal ini, Sang Maha Kuasa tidak pernah meninggalkan mereka selama mereka beriman.

Pun, lihatlah bahwa di masa lalu sebenarnya tak ada perbedaan antara kaum pria dan wanita. Dalam ajaran Tuhan yang sejati yang dibawa oleh para Nabi utusan-Nya, seorang wanita itu tetap bisa meraih apa yang ia cita-citakan. Kaelah misalnya, ia bisa melanjutkan pendidikannya di sebuah Hatsale (universitas) yang amat terkenal bernama Swarinamu ituBahkan pada akhirnya ia pun mendapatkan kedudukan yang tinggi sebagai Satruwe atau pemimpin dari para cendekiawan di kota sekelas Syamhana. Itu bukan jabatan yang sembarangan, karena merupakan jabatan tertinggi kedua setelah Amare (pemimpin tertinggi kaum Hasufiyah).

Artinya, apa saja pencapaian yang diinginkan, siapapun berhak meraihnya asalkan ia mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Dan tidak bijak ketika ada larangan terhadap satu golongan untuk tidak boleh – kecuali alasan syariat – untuk melakukan apa saja yang dia mau. Asalkan itu demi kebaikan dan tujuan yang mulia, maka sebaiknya diizinkan. Karena pada dasarnya setiap diri Manusia itu bebas menentukan hidupnya. Apapun yang ia kerjakan itu akan menjadi tanggungjawab dirinya sendiri. Tentu disini harus tetap ada batasannya agar tidak kebablasan.

Sungguh mengagumkan apa yang terjadi di Kota Matahari (cahaya) itu. Tapi karena takdir Tuhan sudah ditetapkan, maka tak selamanya mereka itu (kaum Hasufiyah) bisa tinggal di muka Bumi ini. Atas perintah-Nya yang disampaikan oleh Nabi Asilah AS, maka sebagai bonus atas keimanannya, kota Syamhana dan semua penduduknya harus berpindah dimensi kehidupan. Hanya 25 pasang orang saja yang diperintahkan tinggal sementara di Bumi. Mereka harus menjalankan tugas untuk menurunkan generasi yang mewarisi kemampuan dari kaum Hasufiyah. Mereka ini lalu menyebar ke segala penjuru dan akhirnya membangun peradaban baru disana. Selama beberapa generasi, keturunan mereka menjadi pemimpin di banyak negeri.

Demikianlah kisah ini berakhir. Semoga tetap bermanfaat. Rahayu… 🙏

Jambi, 17 Mei 2018
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan sebelumnya, maka tak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Semuanya kembali kepada diri Anda sekalian. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Ada banyak hal yang tak bisa kami sampaikan disini. Beberapa detilnya harus tetap dirahasiakan dulu, ada protapnya. Maaf.
3. Mari kita semakin eling lan waspodo. Teruslah mempersiapkan diri, sebelum peristiwa yang sangat mengerikan itu (Al-Malhamah al-Kubro) terjadi.

14 respons untuk ‘Kota Syamhana : Benteng Pertahanan Terakhir Bumi

    Tufail said:
    Mei 25, 2018 pukul 3:18 pm

    Salamun’alaikum Harunata-Ra semoga kita selalu dalam naungan dan kasih sayang-Nya terlebih di bulan suci skrg ini.
    Ngeri sekali ya ngebayanginnya di bumi hanguskan d hantem habishabisan sama pasukan Sakhtur apa masih d bawah komandonya Zire ato Widastu mereka itu semua? dari keseluruhan apa tidak ada lagi kawasan atau negara yg selamat selain dari kota Syamhana ini?
    Terus apa ya maksudnya nyerang planet bumi ini yang secara d atas kertas mereka jauh lebih unggul segala galanya, dan ya memang semuanya terjadi atas izin dan kehendak-Nya pula semua itu pasti terjadi. Nah apa melanggar protap detail lokasinya kota Syamhana berada tidak d sebutkan..😀

    Salam
    Rahayu… 🙏

      oedi responded:
      Mei 27, 2018 pukul 3:29 am

      Wa`alaikumsalam kang Tufail.. Semoga kita bisa mengambil hikmah di bulan suci ini.. 🙂

      Rahayu juga kang, nuwun karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Jawab:
      1. Pasukan Sakhtur itu jelas tidak dibawah komando Zire ato Diwastu, karena mereka itu golongan yg jahat yg tujuannya menjajah Bumi. Sementara pasukan Zire atau Diwastu justru melindungi Bumi dari kehancuran yg disebabkan oleh makhluk luar angkasa atau bahkan Manusia. Antara pasukan Sakhtur dengan pasukan yg berada dibawah komando Zire ato Diwastu (bukan Widastu loh kang), keduanya saling bertolak belakang. Tujuan dan tugas mereka pun sangat berbeda, saling bertentangan. Bahkan mungkin nanti keduanya akan saling berperang di akhir zaman ini (Al-Malhamah al-Kubro).
      2. Mereka yg ada di luar sana juga tak kalah egoisnya dengan Manusia di Bumi ini. Ada upaya untuk menunjukkan siapakah yg paling hebat di antara mereka dengan cara menaklukkan Bumi. Artinya, siapapun dari mereka yg berhasil menguasai Bumi dan segala isinya, maka ia akan dianggap sebagai yg paling perkasa dan terhormat. Kenapa Bumi? karena planet ini sangat special di seluruh jagat raya dan ada makhluk bernama Manusia yg tinggal di atasnya. Manusia sendiri adalah makhluk yg sempurna diciptakan dan telah ditunjuk sebagai Khalifah. Sehingga jika bisa menaklukkan Manusia, maka gengsi mereka pun akan semakin tinggi di seluruh alam semesta.. Itu salah satu tujuan mereka..
      3. Di dalam tulisan sudah dijelaskan bahwa selain kota Syamhana, maka ada 10 kota kerajaan lain (yg menjadi koalisi Syamhana) yg masih bertahan walau banyak tempat di negerinya yg hancur berantakan. Selain itu masih ada lagi kok, cuma kota-kota itu hanya kota kecil yg tak terlalu diperhitungkan.. Tinggal diduduki aja kok setelah pasukan Sakhtur berhasil menaklukkan kota Syamhana.
      4. Detail lokasi Syamhana tidak bisa dijelaskan, ada protap, karena itulah tidak dituliskan di artikel.

        Tufail said:
        Mei 28, 2018 pukul 10:28 am

        Aih.. Typo aku lupalupa inget Diwastu maksudnya 😀
        Nah ini menarik ternyata ada juga makhluk lainnya yang mempunyai hasrat ingin menguasai planet kita ini, selain kaumnya Sunartaka “en deu geng” apa dari mereka ini pasukan angkasa yg jahat bukan berasal dari planet kita dahulunya krn saya beranggapn mereka ini yg sudah berhasil mencapai keabadian dengan jalan moksa karena bisa dipastikan para Sakhtur ini bisa berpindah Dimensi jugakah? apa kayaknya para Sakhtur ini bukan dari golongan bangsa manusia? Apa ada kemungkinan juga para Sakhtur ini sama melakukan peperangan d dimensi mereka sana kayak d filmfilm perang bintang gitu?
        Bawaan Romadhon kali ya aku kepo sama sampeyan… Hehehe… 😁

        Salam
        Rahayu… 🙏

        oedi responded:
        Mei 30, 2018 pukul 6:21 am

        Rahayu juga kang… 🙂

        Lupa sih gak apa kang, yg penting gak melupakan aja hehe.. 🙂

        Hmm.. atas semua pertanyaan sampeyan itu, silahkan dibaca ulang lagi tulisan di atas, sepertinya sudah dijelaskan kok… Saya cuma menambahkan keterangan aja: (1) Para Sakhtur ini, sebagian dari mereka ada yg bisa berpindah dimensi dg kesaktiannya.(2) Perang itu adalah bagian dari keseimbangan di dunia ini, karena itu para Sakhtur juga terkadang berperang di antara mereka. Ada yg memakai teknologi super canggihnya, ada pula yg hanya menggunakan kesaktiannya saja.

    maliki said:
    Mei 27, 2018 pukul 6:57 am

    6 pemuda

      oedi responded:
      Mei 30, 2018 pukul 6:21 am

      Hmmm… ??

    Ayam Bakar Zingga said:
    Mei 31, 2018 pukul 10:28 am

    kereennn ih isi konten nya

      oedi responded:
      Juni 3, 2018 pukul 1:48 pm

      Syukurlah kalo suka dg tulisan ini.. Terima kasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat.. 😊🙏

    maliki said:
    Juni 5, 2018 pukul 12:23 pm

    Aku melangkah menyusuri dunia
    Mencari arti kehidupan
    Walau rintangan menghalangi
    Aku tetap tabah menghadapinya
    Sibakkan tirai yang menyelimuti diri
    Meraih satu ketulusan
    Tegakkan keadilan seluruh jagad insani
    Cahaya kemenangan menyatu hati

      oedi responded:
      Juni 7, 2018 pukul 6:03 am

      Waah.. kata2 yg bagus mas… ternyata seorang penyair toh.. mantap… 🙂

    KHAIRUL RAHIM said:
    Juni 18, 2018 pukul 4:30 am

    Salamun alaikum Tuan Oedi.
    tulisan yang menarik,
    Bagaimana saya boleh berhubung dengan Tuan..? Ada beberapa perkara yang ingin saya tanyakan kepada Tuan..
    Harap sudi.
    Terima kasih & Salam Aidil Fitri

      oedi responded:
      Juni 25, 2018 pukul 12:23 am

      Wa`alaikumsalam….
      Syukurlah kalau suka dengan tulisan ini, terima kasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. kalau untuk berhubungan, silahkan saja bang Khairul Rahim tuliskan di kolom komentar pada tulisan di blog ini atau bila perlu kirim saja ke alamat email yg sudah saya cantumkan di page (halaman) Tentang_ku yg ada di blog ini.. Jika mampu akan saya jawab, jika tidak ya harap maklum karena saya ini pun cuma orang yg awam… 🙂

    Heri Mustopo said:
    September 4, 2018 pukul 3:25 am

    Assalaamu’alaikum wr wb.
    Salam kenal mas Oedi.
    Salam kenal semuanyaaa….
    Terimakasih atas kisahnya.
    Sangat bermanfaat!

      Harunata-Ra responded:
      September 9, 2018 pukul 3:26 am

      Wa`alaikumsalam…
      Salam kenal juga mas Heri Mustopo, terima kasih juga karena sudah mau berkunjung, syukurlah kalo bermanfaat.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s