Assariya : Penguasa Agung Malapiyas

Wahai saudaraku. Pada kesempatan ini sekali lagi kami mengajakmu untuk kembali mengulik kisah masa lalu Manusia, khususnya yang hidup di kawasan Nusantara. Ada banyak peristiwa besar dan menakjubkan yang bisa kita ambil hikmahnya. Karena pada dasarnya kehidupan dunia ini selalu berulang dari zaman ke zaman. Apa yang terjadi di masa kini, sebenarnya pernah terjadi di masa lalu.

Nah, untuk mempersingkat waktu mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Dahulu kala berdirilah sebuah kerajaan besar di pertengahan zaman kelima (Dwipanta-Ra), atau sekitar ±110 juta tahun silam. Namanya adalah Assariya atau yang berarti kejayaan yang gemilang. Adapun kerajaan ini didirikan oleh seorang tokoh yang kharismatik bernama Dhamuru. Selain cerdas dan berilmu tinggi, sosok ini adalah orang yang sangat berwibawa dan penuh kebijaksanaan. Sifat dari seorang Kesatria utama dan Begawan mulia ada di dalam dirinya sekaligus.

Pada masa itu, sebelum kerajaan Assariya berdiri, di timur kawasan Malapiyas (penamaan Nusantara kala itu) telah lama berdiri sebuah kerajaan yang besar. Kerajaan itu bernama Santurah, dengan ibukotanya yang bernama Dasirah. Selain terbilang sangat makmur, kerajaan ini juga memiliki kekuatan militer yang sangat disegani dunia. Kapan saja mereka bisa menyatakan perang atau berdamai dengan negara manapun.

Catatan: Pada masa itu seluruh kawasan Nusantara masih menyatu dengan wilayah Asia, Pasifik, dan Australia, sehingga membentuk sebuah daratan yang maha luas. Dan khususnya di wilayah yang sekarang disebut dengan Kepulauan Pasifik dan Benua Australia, maka disana ada banyak kerajaan yang berperadaban tinggi.

Lalu, pada suatu masa kerajaan Santurah ini dipimpin oleh seorang raja yang kurang baik. Ia adalah sosok yang arogan dan gemar berperang hanya untuk bisa menunjukkan kehebatannya. Pertempuran yang ia lakukan tak jauh dari ego dan keinginan untuk bisa disegani oleh dunia. Karena itulah, sejak di lima tahun kepemimpinannya, raja yang bernama Basurah itu telah berulang kali menyerang negeri-negeri tetangganya. Selama itu pula ia dan pasukannya terus meraih kemenangan sehingga membuatnya semakin besar kepala dan tinggi hati. Sampai pada akhirnya ia harus berhadapan dengan pasukan yang sangat tangguh dibawah komando seorang pemuda bernama Dhamuru. Ia adalah seorang pangeran dari kerajaan Hamigala (sekitar antara Purworejo, Jogjakarta, Wonogiri, Pacitan dan Laut Selatan sekarang).

Singkat cerita, pertempuran terbesar pun tak bisa lagi dihindari. Saat itu di kawasan Malapiyas telah terbagi menjadi dua kubu. Satu dibawah komando Raja Basurah, sementara yang lainnya dibawah komando Pangeran Dhamuru. Kedua belah pihak ini bisa dikatakan seimbang dengan jumlah masing-masing pasukannya lebih dari 2 juta orang. Dan pertempuran besar itu pun terjadi di lokasi yang telah disepakati, yaitu di lembah Gamasa (sekitar Laut Banda sekarang).

Pertempuran besar itu berlangsung selama 3 hari. Meskipun terbilang seimbang, akhirnya bisa dimenangkan oleh aliansi pasukan Dhamuru. Raja Basurah gugur dalam pertempuran itu karena berhadapan langsung dengan Pangeran Dhamuru yang terkenal sakti mandraguna. Dan berdasarkan hukum kebiasaan yang ada serta dari kesepakatan aliansi pasukan Dhamuru, maka tahta kerajaan Santurah bisa diteruskan oleh putra mahkotanya, anak dari Raja Basurah yang bernama Matsurah. Ia yang berhak memegang kendali atas kerajaan Santurah, namun tetap harus tunduk kepada penguasa di kerajaan Hamigala. Maklumlah dalam pertempuran di lembah Gamasa itu kerajaan Santurah berada dalam posisi yang kalah. Masih beruntung kerajaan itu tidak dihancurkan.

Dan waktu pun berlalu. Tujuh tahun setelah pertempuran di lembah Gamasa, ayah dari Pangeran Dhamuru yaitu Prabu Zalakiyan, memutuskan untuk turun tahta. Ia berencana untuk segera mengasingkan diri sebelum akhirnya moksa. Tahta kerajaan Hamigala ia serahkan kepada putra mahkota, yaitu Pangeran Dhamuru. Dibawah kepemimpinannya, kerajaan besar itu bisa tetap aman dan makmur. Bahkan atas kesepakatan dari para raja dan ratu di kawasan Malapiyas, maka Prabu Dhamuru lalu diangkat sebagai pemimpin tertinggi di seluruh kawasan Malapiyas. Ia lalu bergelar Amastira (pemimpin agung), sementara kerajaannya berubah nama dari Hamigala menjadi Assariya atau yang berarti kejayaan yang gemilang. Dan pusat pemerintahan dari kemaharajaan ini tetap berada di kota Mahinasta, ibukota kerajaan Hamigala sebelumnya.

2. Kekosongan raja
Selama beberapa generasi sejak Prabu Dhamuru mendirikan kemaharajaan Assariya, keadaan di seluruh kawasan Malapiyas tetap aman dan stabil. Tapi sejak raja ke-35 yang bernama Matsaru memimpin, maka keadaan di beberapa wilayah mulai memanas. Ada upaya dari beberapa bangsawan, khususnya di wilayah selatan (sekitar Samudera Hindia dan Benua Australia sekarang) untuk memisahkan diri dari kemaharajaan Assariya. Apapun cara telah mereka tempuh, bahkan dengan jalan berperang. Dan ini membuat suasana menjadi semakin gaduh. Di beberapa wilayah bahkan tak bisa lagi aman seperti dulu.

Dan peristiwa nahas pun akhirnya terjadi. Dimana telah terjadi kekosongan raja di pusat pemerintahan Assariya. Penyebabnya karena raja ke-37 yang bernama Asmurasa gugur akibat di sergap oleh musuh bebuyutannya (kaum Hora) di lembah Sirglap. Saat itu ia sedang menuju ke negeri Martuel, tempat dimana anak dan istrinya dititipkan ketika ia harus berperang menghadapi raja penyihir Dalimuk. Setelah sang raja diketahui wafat, tahta kerajaan lalu di pegang oleh saudaranya yang bernama Syaturu. Ia menjadi pejabat sementara raja dengan nama istilah sebagai Musari, sampai anak kakaknya (putra mahkota) siap menerima tahta kerajaan.

Namun apa yang direncanakan tak sesuai dengan kenyataannya. Syaturu dikhianati oleh perdana menterinya sendiri dengan bertindak secara diam-diam memburu sang permaisuri dan anaknya sampai ke negeri Martuel. Hanya saja usaha itu tak berhasil karena telah diketahui oleh penguasa di kerajaan Martuel yang bernama Sagaye. Jadi, sebelum pasukan elit suruhan perdana menteri itu berhasil menangkap atau membunuh permaisuri dan anaknya itu (putra mahkota), Raja Sagaye telah menyembunyikan keduanya di tempat yang aman. Disana mereka hidup bersama para pengawal dan pelayan yang tetap setia selama bertahun-tahun. Sampai keadaan dirasa sudah kembali aman.

Namun sekali lagi apa yang direncanakan tak sesuai dengan kenyataannya. Perburuan terhadap permaisuri dan putra mahkota tak kunjung berakhir. Ini menyebabkan mereka harus terus menyembunyikan jati dirinya. Begitu pula bagi orang-orang yang mengikuti mereka (pengawal dan pelayannya). Sampai akhirnya mereka memilih untuk memulai hidup yang baru yang jauh dari hiruk pikuk kekuasaan dan politik. Sang putra mahkota pun akhirnya menikah dengan wanita pilihannya dan menurunkan putra dan putri yang rupawan. Selama 5 generasi berikutnya kehidupan mereka tetap seperti itu, sebagai penduduk desa yang hidup terasing.

Ya. Mereka tinggal jauh di dalam hutan lebat di pegunungan. Hanya sesekali saja mereka keluar dan berinteraksi dengan Manusia lainnya. Walau tidak suka bertengkar atau membunuh makhluk hidup sekadar untuk menyenangkan diri, mereka tetaplah sangat berani dan masih bisa bertempur. Mereka tetap berlatih menggunakan berbagai senjata dan mahir dalam urusan ini. Begitu pun dengan ilmu kanuragan dan kadigdayan, karena hampir setiap orangnya telah menguasainya sejak remaja.

Sementara itu, di kerajaan Assariya, maka tampuk kepemimpinannya tetap dipegang oleh pejabat pengganti raja atau yang biasa disebut Musari. Ada hukum yang mengatur bahwa tahta kerajaan hanya bisa dipegang oleh keturunan langsung dari Prabu Dhamuru. Dan sejak wafatnya Prabu Asmurasa, maka belum ada orang yang dapat membuktikan bahwa dirinya itu adalah keturunan langsung dari Prabu Dhamuru dan berhak atas tahta. Ada ciri khas pada fisiknya dan ada beberapa benda pusaka yang hanya bisa dipegang oleh keturunan asli dari sang pendiri kerajaan. Jadi, selama belum ada yang bisa menunjukkan bukti bahwa ia adalah pewaris sah atas tahta kerajaan Assariya, maka selama itu pula kerajaan besar ini akan dipimpin oleh Musari (pejabat sementara raja) dan keturunannya. Ketetapan ini sudah menjadi hukum yang sangat mengikat (konstitusi negara) sejak masa kepemimpinan Prabu Dhamuru.

3. Kembalinya pewaris tahta
Telah lama tahta kerajaan Assariya ditinggal pergi oleh pewarisnya. Terhitung sudah lima generasi sejak menghilangnya permaisuri dan putra Prabu Asmurasa. Sejak saat itu, kekuasaan di kemaharajaan Assariya dipegang oleh Syaturu dan keturunannya. Dan karena sudah berlangsung selama beberapa generasi, akhirnya keturunan ke enam dari Syaturu yang bernama Kamuru merasa bahwa dirinya berhak atas tahta kerajaan Assariya. Ia ingin segera mengangkat dirinya sebagai raja yang sah. Terlebih sudah begitu lama tak ada seorang pun yang mengklaim dirinya sebagai pewaris sah dari Prabu Asmurasa.

Ya, keinginan untuk menjadi raja sudah semakin kuat di dalam diri Kamuru. Sebagai Musari (pejabat pengganti raja), ia memang telah memegang semua kekuasaan baik sipil dan militer di kerajaan Assariya. Hanya pusaka utama warisan Prabu Dhamuru saja yang tak ia miliki, dan baginya itu tak menjadi soal. Karena itulah, Kamuru mulai mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk memengaruhi para menteri dan bangsawan yang ada untuk mendukungnya. Bagi yang menolak, ia bahkan tak segan-segan untuk bertindak kasar atau bahkan sampai bertempur menumpahkan darah. Hal ini jelas menyebabkan kegaduhan semakin merajalela.

Oleh sebab itu, ada beberapa menteri yang masih setia pada hukum kerajaan dan mencoba untuk mencari pewaris sah dari Prabu Dhamuru. Mata-mata dan orang pilihan telah disebarkan ke segala penjuru untuk mencari informasi tentang keturunan dari Prabu Asmurasa yang dulu menghilang. Dan pencarian itu membuahkan hasil. Seorang mata-mata terbaik mendapatkan informasi dari seorang Begawan bahwa memang keturunan dari Prabu Asmurasa itu masih ada. Hanya saja mereka terus menyembunyikan jati dirinya dan hidup jauh dari keramaian kota.

Mendapatkan kabar itu, seorang kesatria yang merupakan putra dari seorang menteri lalu diutus untuk mencari keturunan dari Prabu Asmurasa itu. Selain bertugas untuk menemukan pewaris tahta kerajaan Assariya, ia juga harus menyampaikan kabar bahwa telah terjadi pengkhianatan di kerajaan leluhurnya; Assariya. Pejabat sementara raja yang memimpin (Kamuru) ingin menduduki tahta dengan cara apapun. Karena itulah sudah menjadi kewajiban dari pewaris sah Prabu Asmurasa untuk kembali dan mengambil haknya atas tahta. Hukum tertulis kerajaan telah mengaturnya demikian. Jika tidak, pertumpahan darah akan terus terjadi dan semakin memilukan.

Singkat cerita, utusan yang bernama Hilas itu mulai mencari keberadaan dari keturunan Prabu Asmurasa. Selama lebih dari 3 bulan akhirnya ia mendapatkan titik terang, bahwa ada sebuah desa yang berada jauh di pedalaman hutan. Tidak seperti orang kebanyakan, mereka itu hidup menyendiri dari peradaban dunia. Dan uniknya mereka itu tidak hidup secara primitif, tetapi dengan peradaban yang cukup tinggi. Sangat berbeda dengan umumnya penduduk di pedesaan pada masa itu. Berbagai teknologi ramah lingkungan sudah mereka gunakan untuk membantu kehidupannya sehari-hari. Ini jelas membuktikan bahwa mereka itu bukanlah orang biasa.

Waktu pun berlalu dan akhirnya Hilas berhasil sampai di perkampungan tersembunyi itu. Mereka menamakan dirinya sebagai orang Yurisan. Seorang pemimpin yang kharismatik menjadi panutan mereka di segala bidang kehidupan. Ia bernama Sajiyasa, yang merupakan keturunan kelima dari Prabu Asmurasa dengan garis silsilah yaitu Sajiyasa bin Kunamisa bin Hasurasa bin Layakasa bin Ardinasa bin Asmurasa. Dan Sajiyasa ini memiliki seorang putra yang bernama Ariyasa, sosok pemuda yang energik, berilmu tinggi, bijaksana dan penuh wibawa.

Lalu, sebagaimana tugas yang ia emban, maka Hilas langsung menyampaikan bahwa telah terjadi pengkhianatan di kerajaan Assariya. Kamuru yang seharusnya tetap sebagai Musari (pejabat sementara raja) justru berniat untuk mengangkat dirinya sebagai raja yang sah. Tanpa mempedulikan hukum negara, ia bahkan melakukan berbagai cara untuk mewujudkan keinginannya itu. Sudah banyak terjadi pertikaian akibat dari sikapnya itu. Dan jika ini terus dibiarkan, maka pertumpahan darah akan semakin meluas di seluruh negeri. Kerajaan harus diselamatkan dari kehancuran.

Mendengar penjelasan itu, sebagai seorang pewaris sah dari Prabu Asmurasa, Sajiyasa merasa tersentuh. Ia pun sadar bahwa sudah waktunya pewaris yang sah dari tahta kerajaan Assariya untuk tampil kembali dan memperbaiki keadaan. Terlebih memang ada sebuah ramalan yang mengatakan:

Meskipun telah diambil langkah-langkah yang ampuh.
Tak bisa mencegah kembalinya pewaris tahta Assariya.
Meskipun sudah berupaya keras menuntut keinginan.
Emas belum tentu gemerlapan dihadapan rembulan.

Akan ada satu tanda, bahwa seorang utusan mencari desa yang tersembunyi.
Ia lalu menemukannya dan bersahabat dengan pemuda yang sangat diharapkan.
Sang pemuda telah mewarisi tiga pusaka utama milik Prabu Dhamuru.
Dan ia memiliki sifat leluhurnya yang kharismatik dan berilmu tinggi.

Maka carilah sosok yang murah hati dan bijaksana.
Yang dia adalah keturunan orang-orang paling terhormat.
Karena dari abu akan menyala api yang membara.
Dan dari kegelapan akan muncul cahaya yang terang.

Ya. Ini merupakan jalan takdir yang harus dijalani. Tapi karena ia sudah merasa tua dan sudah tidak lagi tertarik dengan hal-hal keduniawian, maka tugas besar itu lalu diserahkan kepada putranya, yaitu Ariyasa. Sebagai keturunan langsung dari Prabu Asmurasa, Ariyasa pun sudah dibekali dengan berbagai keahlian khusus. Bahkan sebenarnya pusaka utama warisan dari Prabu Dhamuru yang sebelumnya dipegang oleh Sajiyasa telah diserahkan kepada Ariyasa, tepatnya sejak 5 tahun sebelum Hilas mendatangi mereka.

4. Perebutan tahta
Setelah semuanya dirasa cukup, Ariyasa beserta 10 orang sahabatnya keluar dari desa mereka untuk menuju ke negeri leluhurnya, Assariya. Hilas menjadi penunjuk jalan yang mumpuni. Selama perjalanan, Ariyasa dan para sahabatnya itu bisa langsung melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mereka pun bisa merasakan dampak buruk atas klaim sepihak yang di lakukan oleh Kamuru. Banyak desa-desa dan perkotaan yang porak-poranda akibat diserang oleh pasukan bengis dibawah perintah Musari itu. Ini semakin memantapkan niat dari Ariyasa untuk segera menuntut haknya atas tahta. Ia tak ingin melihat negeri yang dibangun oleh leluhurnya itu hancur berantakan oleh sebab keserakahan seorang Kamuru.

Catatan: Pada masa itu, geografi dan topografi wilayah di kawasan Malapiyas (seputaran Asia, Nusantara, Pasifik dan Australia) sangat jauh berbeda dengan sekarang. Belum ada lautan disana, karena masih berupa daratan benua yang maha luas. Dan disana telah hidup pula banyak bangsa dengan ciri fisik (ras) yang berbeda. Hampir semua ras manusia yang hidup di Bumi pada masa itu ada di kawasan Malapiyas ini.

1,5 bulan sejak kepergiannya menuju negeri leluhurnya di ibukota Mahinasta, tersiar kabar bahwa Kamuru sudah menyatakan dirinya sebagai penguasa di seluruh kemaharajaan Assariya. Ia melantik dirinya sebagai Sira (raja) yang sah dan penerus langsung Prabu Dhamuru. Selama tiga bulan kemudian ia pun tinggal di istana Muyara untuk mengatur sebagian besar pasukan Asnor untuk menyerang siapapun yang menentangnya. Dan memang ada banyak bangsawan yang menolak klaim tersebut. Mereka masih tetap setia pada hukum negara, bahwa seorang raja atau ratu di kemaharajaan Assariya akan diakui jika ia adalah keturunan langsung dari Prabu Dhamuru dan memiliki tiga benda pusaka warisannya. Ketiga pusaka sakti itu adalah cincin Milasya, pedang Syuwara dan mahkota Hisyala.

Mengetahui hal itu, maka dengan kecerdasannya Ariyasa langsung menghentikan niatnya untuk datang ke ibukota Mahinasta. Takkan ada gunanya lagi jika ia tiba-tiba mengklaim tahta sementara Kamuru sedang berada di atas angin. Terlebih ia pun sedang mempersiapkan pasukan besar untuk menaklukkan siapapun yang menentang kehendaknya, maka ini akan lebih berbahaya lagi. Karena itulah, Ariyasa berinisiatif untuk pergi ke negeri sahabat leluhurnya, yaitu kerajaan Martuel, untuk merencanakan segala sesuatunya disana.

Di kerajaan Martuel, Ariyasa disambut dengan suka cita oleh penguasa disana. Raja yang bernama Nagaye itu sangat mengetahui hubungan erat antara kedua leluhur mereka. Dulu, antara Raja Sagaye dan Prabu Asmurasa telah mengikat hubungan sebagai saudara angkat. Karena itulah, Raja Nagaye pun kini menganggap Ariyasa sebagai saudara angkatnya pula. Apapun yang diperlukan oleh Ariyasa akan ia usahakan, dan perjuangan yang bagaimanapun akan ia bantu. Terlebih memang sudah waktunya keturunan sah dari Prabu Asmurasa untuk kembali ke tahta kerajaan Assariya.

Ya. Raja Nagaye sudah mengetahui pelantikan Kamuru sebagai raja di kemaharajaan Assariya. Mata-mata yang ia sebarkan juga sudah memberikan informasi bahwa Kamuru sudah mempersiapkan pasukan besar untuk menaklukkan siapapun bangsawan yang menentangnya. Karena itulah, ketika Ariyasa tiba di negerinya, sang raja langsung berkoordinasi dengan jajarannya untuk membantu mengembalikan tahta kemaharajaan Assariya kepada yang berhak. Jika tidak, maka kehancuran besar akan melanda seluruh kawasan Malapiyas, tak terkecuali negeri Martuel.

Singkat cerita, sesuai dengan hasil musyarawah, maka Raja Nagaye segera mengirimkan surat ajakan untuk berkoalisi kepada semua raja, ratu dan bangsawan yang menolak klaim dari Kamuru. Dalam surat tersebut juga dijelaskan untuk segera membentuk aliansi pasukan demi menghadapi serangan besar dari pasukan yang berada dibawah komando Kamuru. Syukurlah hampir semua yang mendapatkan surat itu menerimanya, hanya 3 kerajaan saja yang tidak. Mereka memilih untuk bersikap netral atas konflik tersebut.

Dan waktu pun berlalu, hingga tibalah saatnya kedua kubu pasukan saling bertarung di sebuah lembah yang disebut Ouras. Satu lokasi yang sangat luas yang kini terletak di Samudera Hindia bagian timur (di antara Pulau Jawa dan Benua Australia sekarang). Tidak kurang dari 3 juta pasukan yang terlibat dalam pertempuran itu. Semua peralatan tempur telah dikerahkan, baik yang tradisional maupun yang canggih. Kedua belak pihak sama-sama bersikeras untuk memenangkan pertempuran. Tanpa kenal takut, mereka saling bantai dan mengalirkan darah segar.

Sungguh, pertempuran kala itu sangat mengerikan sekaligus mengagumkan. Segala kemampuan telah dikerahkan, para kesatria dan bangsawan tangguh juga bertarung dengan gagah berani. Mereka terus mengeluarkan berbagai keahlian ilmu kanuragan dan kadigdayan. Membuat suasana menjadi semakin gaduh lantaran sering diguncang oleh ledakan dari berbagai senjata pusaka dan ajian.

Dan sampailah di hari ke lima pertempuran. Saat itu antara Kamuru dan Ariyasa telah saling berhadapan di tengah medan pertempuran. Sebagaimana tradisi pada masa itu, maka semua orang lalu menghentikan pertempuran. Mereka berdiri membentuk lingkaran mengelilingi kedua kesatria perkasa itu. Dan ketika keduanya mulai bertarung, maka sejak saat itu pula suasana yang paling menegangkan terjadi. Sesekali keduanya saling mengeluarkan ajian dan senjata pusaka yang luar biasa. Bahkan mereka tidak lagi bertarung di satu tempat, melainkan kemana-mana dengan cara terbang dan menghilang.

Begitulah keadaan di medan pertempuran itu semakin memanas. Kamuru dan Ariyasa terus bertarung dengan mengeluarkan semua kemampuan yang ada. Awalnya mereka seimbang, tapi akhirnya Ariyasa mulai terlihat unggul. Terlebih ketika sang pemuda mengeluarkan kemampuan untuk mengendalikan berbagai elemen alam (tanah, air, api, udara, ether), maka semakin terlihat bahwa kemampuan Kamuru masih dibawah Ariyasa. Dan puncaknya adalah ketika Ariyasa mengeluarkan kesaktian khusus dengan mengendalikan petir dan halilintar yang berwarna-warni yang sangat mengerikan. Ini tidak untuk membunuh musuhnya, tetapi hanya untuk memperingatkan agar Kamuru segera berhenti melawan.

Namun peringatan itu tak begitu diindahkan. Dengan ego dan kesombongannya, Kamuru tetap saja berusaha menyerang Ariyasa. Hingga pada akhirnya ia harus menerima sengatan yang sangat menyakitkan dari halilintar yang dikendalikan oleh Ariyasa. Untung saja dirinya bukanlah orang biasa, sehingga tubuhnya tak sampai hancur berkeping-keping.

Ya. Pada akhirnya Kamuru harus mengaku kalah kepada Ariyasa. Tapi itu bukan berarti ia telah berhenti dan menyerah. Tak lama kemudian Kamuru tiba-tiba pergi menjauh dari medan pertempuran dan membaca mantra khusus untuk meminta bantuan makhluk goib. Dan yang datang pada saat itu adalah raja kegelapan yang bernama Muwarak. Bersama satu kompi pasukannya (100 orang), ia langsung menyerang Ariyasa tanpa ampun.

Tapi, Ariyasa bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah seorang penerus Prabu Dhamuru yang telah menguasai berbagai keahlian khusus. Karena itulah tanpa mundur selangkah pun Ariyasa maju dengan melancarkan serangan balik yang mematikan. Pedang warisan Prabu Dhamuru yang bernama Syuwara itu ia pakai untuk menebas pasukan kegelapan, dan dengan mudahnya bisa menumbangkan mereka. Setiap kali tebasan, puluhan pasukan dibawah komando raja Muwarak itu tewas terpotong. Sesakti apapun mereka tak mampu menahan kekuatan dari pedang pusaka itu. Dan ketika harus menghadapi pasukan yang tersakti, maka cincin Milasya juga mulai ia gunakan. Dengan cukup niat dihati, cincin pusaka itu mengeluarkan energi yang sangat dahsyat yang langsung membakar setiap musuh yang ada di sekelilingnya. Sesakti apapun mereka tak bisa menangkis serangan itu. Dalam hitungan detik saja, siapapun yang terkena serangan dari kesaktian cincin pusaka itu mati terbakar.

Melihat pasukannya tewas mengenaskan satu persatu, raja Muwarak tak bisa lagi menahan dirinya. Ia langsung maju dan menyerang Ariyasa dengan kekuatan besar. Dalam sekejap ia mengeluarkan senjata pusaka berupa tombak yang berpijar dan melemparkannya ke arah Ariyasa. Mendapati serangan itu, Ariyasa langsung menangkisnya dengan menyabetkan pedang Syuwara. Akibatnya terjadilah benturan energi yang sangat keras yang bisa mengguncang medan pertempuran. Benturan itu juga menimbulkan suara ledakan yang sangat keras dan memekakkan telinga. Semua yang menyaksikan peristiwa itu bertambah ngeri dan semakin menjauhi pusat pertempuran. Tak ada yang berani mendekat, mereka hanya bisa menyaksikan pertarungan paling akbar itu dari kejauhan.

Begitulah seterusnya, berbagai senjata pusaka telah dikeluarkan oleh Muwarak untuk menyerang Ariyasa. Tapi semua itu dapat dikalahkan oleh kesaktian dari cincin Milasya atau pedang Syuwara. Hal ini jelas membuat raja Muwarak semakin naik pitam, dan ia segera mengeluarkan ajian-ajian andalannya. Tapi sekali lagi Ariyasa adalah pemuda yang terpilih. Jika tidak menggunakan senjata pusaka, ia mengeluarkan ajian yang juga luar biasa. Dan pada akhirnya Ariyasa mengubah penampilannya dengan tiba-tiba memakai baju zirah pusaka pemberian Malaikat Zabani. Dengan memakai baju zirah yang bernama Murlamsya ini, sang pemuda takkan bisa dikalahkan lagi. Apapun ajian yang menyerangnya akan tertolak, bahkan kembali kepada tuannya sendiri.

Ya, itulah yang terjadi pada Muwarak. Ketika ia mengeluarkan ajian yang merupakan gabungan dari kekuatan semua unsur alam, maka ajian itu tak mempan dihadapan Ariyasa. Bahkan energi yang dilepaskan itu, ketika mendekati tubuh Ariyasa, justru terserap masuk ke dalam baju zirah Murlamsya. Hal ini membuat siapapun yang melihatnya jadi terpana. Tapi sebagai raja kegelapan, Muwarak pun tak kenal menyerah. Ia kembali mengeluarkan ajian yang lebih tinggi dengan menciptakan kumparan energi warna-warni yang daya kekuatannya terasa sangat besar.

Melihat itu, Ariyasa tak bisa hanya berdiam diri saja. Ia segera mempersiapkan diri dengan mengeluarkan kesaktian tingkat tinggi yang sangat langka. Dari dalam tubuhnya segera memancar sinar yang terang, dan tak lama kemudian muncul empat sosok yang ukurannya berbeda. Ke empat sosok itu berdiri di belakang Ariyasa dan menyalurkan energi sangat besar ke tubuhnya. Lalu dari kedua telapak tangannya muncul sekumpulan cahaya warna-warni yang menyilaukan mata.

Sungguh, ketika Ariyasa mengeluarkan kesaktiannya itu, alam segera bergemuruh, tanah bergetar, air berguncang, angin berhembus kencang dan petir menyambar-nyambar. Suasana pun kian mencekam, membuat siapa saja yang ada merasa sangat ketakutan dan segera menyingkir jauh. Dan sebenarnya, ketika melihat Ariyasa mengeluarkan kesaktiannya itu, Muwarak sudah menyadari bahwa ia takkan mampu mengalahkan sang pemuda. Tapi ego dan kesombongan telah menguasai dirinya. Karena itulah raja kegelapan itu tetap saja melepaskan ajian andalannya ke arah Ariyasa.

Dan apa yang terjadi sesuai dengan perkiraan. Ajian andalan milik Muwarak kala itu tak ada artinya dibandingkan dengan kesaktian Ariyasa. Sang raja kegelapan harus tumbang setelah ia terkena energi dahsyat yang dilepaskan oleh Ariyasa. Setelah terbakar dan tubuhnya tercabik-cabik, raja kegelapan itu pun akhirnya tewas. Tinggallah kini Kamuru yang diam tak percaya dan merasa sangat ketakutan. Namun untuk lari dari medan pertempuran ia sudah tak kuat lagi. Tubuhnya terluka parah dan hampir pingsan.

Demikianlah akhirnya pertarungan akbar itu bisa dimenangkan oleh Ariyasa. Siapapun yang ada di medan pertempuran itu tak pernah menyaksikan peristiwa yang semacam itu. Sungguh, Ariyasa adalah sosok pemuda pilihan yang pantas menuntut haknya atas tahta Assariya. Terlebih ia juga terkenal bijaksana dengan bukti tak mau membunuh musuh yang sudah tidak berdaya. Meskipun Kamuru telah berbuat kejahatan besar, Ariyasa tetap menyerahkan keputusan akhir pada pengadilan dan hukum yang berlaku. Dan sesuai dengan aturan yang ada di kerajaan Assariya, setiap pengkhianatan akan dihukum mati, bisa dengan cara dipancung atau pun digantung. Begitulah kisah akhir dari Kamuru. Ia harus mati di pancung akibat berkhianat terhadap tahta kerajaan.

5. Menjadi raja agung dan membangun kejayaan bangsa
Setelah perang besar di lembah Ouras berakhir, bersama dengan para raja yang membantunya berjuang, Ariyasa datang ke kota Mahinasta. Disana ia disambut dengan suka cita oleh penduduknya, terlebih sudah begitu lama pewaris dari Prabu Dhamuru tidak tinggal di kota itu. Setelah keadaan memungkinkan, tak lama kemudian sang pangeran diangkat sebagai raja yang sah di kemaharajaan Assariya dengan gelar kehormatannya adalah Srimastira  atau yang berarti cahaya peradaban dunia. Dibawah kepemimpinanya, negara kembali aman dan stabil. Kehidupan masyarakatnya pun tetap makmur dan terus meningkat peradabannya.

Dan beberapa tahun kemudian, Ariyasa menikah dengan adik kandung dari Raja Nagaye yang bernama Marena. Atas pernikahan itu, ia lalu di anugerahi tiga orang putra dan seorang putri yang rupawan. Yang tertua bernama Hadirasa, yang kelak menggantikannya sebagai Sira (raja) ke-39. Dan selanjutnya estafet kepemimpinan di kemaharajaan Assariya tetap dilanjutkan oleh keturunannya, sampai pada raja yang ke-146 yang bernama Danurasa. Ia adalah penguasa ke-153 sekaligus raja terakhir di kemaharajaan Assariya.

Adapun tentang peradabannya, negara Assariya termasuk yang terbaik dalam sejarah manusia. Kota-kota yang mereka bangun terbilang megah dan berbahan baku utama terbaik. Dan khususnya di ibukota Mahinasta, maka keindahan istana negaranya benar-benar sangat indah, bagaikan Syurga. Taman-tamannya tak kalah indah dari Kahyangan milik para Dewa-Dewi. Berbagai batu mulia dan permata warna-warni sangat banyak disana, sementara perhiasan emas dan perak sudah menjadi barang yang biasa.

Sedangkan istana rajanya sungguh menakjubkan. Disana intan berlian, rubi, safir, zamrud, dan merah delima bertaburan dimana-mana, sementara emas dan perak melapisi dinding, atap dan lantainya. Begitu pula dengan kaca dan kristal banyak digunakan disana. Semuanya berkilauan sangat indah dan tak ada bandingannya. Sehingga membuat bangunan istana itu menjadi sangat menakjubkan dan takkan ada di zaman kita sekarang. Di tambah dengan taman-taman yang menawan, tempat orang-orang bercengkerama.

Dan tak ada yang bisa menyangsikan jika kota Mahinasta itu adalah yang terhebat. Sebab segalanya tampak megah, lengkap dengan (arsitektur) bangunan yang sangat memukau, bahkan laskar pasukan yang juga gagah berani. Begitu pula dengan penduduknya. Mereka semua hidup rukun dan penuh kedamaian. Setiap orang siap membantu (dengan tulus) siapapun yang membutuhkan. Dan disana hiduplah orang-orang bijak dan luhur budi pekertinya. Negeri itu lalu menjadi yang terkemuka di seluruh dunia. Keadaan disana selalu aman sentosa dan tak ada yang berduka kecuali saat mereka ditinggal mati oleh kerabatnya.

Selain itu, mereka hanya mengenal dua tingkatan di dalam masyarakatnya, yaitu kalangan bawah dan kalangan atas saja. Secara umum, tidak ada perbedaan yang mencolok dalam kehidupan dari kedua kelompok itu. Bentuk bangunan rumah dari setiap orangnya/tingkatannya juga begitu. Bahkan ada keseragaman bahan bangunannya, khususnya untuk yang di kalangan bawah. Dan mereka yang termasuk kalangan bawah ini bukan berarti hidupnya susah dan miskin, karena mereka tetap hidup dalam kecukupan dan tempat tinggalnya pun terbilang mewah untuk standar kita sekarang. Sungguh kehidupan yang makmur dan sejahtera.

6. Daftar raja-raja
Selama berdiri, kemaharajaan Assariya ini pernah dipimpin oleh 153 raja (Sira), ratu (Sina) dan orang yang menjadi pejabat sementara raja (Musari). Selama itu, terjadi pasang surut kepemimpinan yang ideal. Sempat pula terjadi perebutan tahta yang menelan banyak korban jiwa. Namun demikian, kemaharajaan ini tetap berdiri selama ±18.900 tahun. Kemaharajaan ini juga telah menjadi pemimpin di seluruh kawasan Malapiyas.

Adapun nama-nama dari para penguasa di kemaharajaan Assariya ini adalah sebagai berikut:

1. Dhamuru, bergelar Amastira (pemimpin agung) -> pendiri kerajaan Assariya.
2. Mashiru
3. Hatsaru
4. Kasabaru
5. Halguru
6. Katsuru
7. Jaminaru
8. Atmaniru
9. Sinailin -> seorang Sina (ratu)
10. Buhinaru
11. Hindabaya
12. Ghilaban
13. Pratuyas
14. Rusinamu
15. Werdairu
16. Osmararu
17. Intailin -> seorang Sina (ratu)
18. Ksaturah
19. Darmataru
20. Nirtatasu
21. Halataru
22. Yarumatru
23. Urmanaru
24. Sajinalaka
25. Katsumaya
26. Zuramata
27. Laniyalin -> seorang Sina (ratu)
28. Ismataru
29. Ermadala
30. Bastaru
31. Lamtura
32. Kasbiru
33. Hatsamitra
34. Yuganasa
35. Martadisa
35. Matsaru
36. Gatsurasa
37. Asmurasa
38. Syaturu -> seorang Musari (pejabat penggati raja)
39. Latturu -> seorang Musari (pejabat penggati raja)
40. Kilabaru -> seorang Musari (pejabat penggati raja)
41. Sakiyaru -> seorang Musari (pejabat penggati raja)
42. Atmanaru -> seorang Musari (pejabat penggati raja)
43. Bisataru -> seorang Musari (pejabat penggati raja)
44. Kamuru -> seorang Musari (pejabat penggati raja)
45. Ariyasa, bergelar Srimastira (cahaya peradaban dunia) -> Sira (raja yang sah) penerus tahta Prabu Asmurasa.
46. Hadirasa
47. Umarayasa
48. Daruyasa
49. Kirawasa
50. Zarumasa
….
….
149. Huradasa
150. Sirayasa
151. Kalmirasa
152. Hayarasa
153. Danurasa -> raja terakhir. Dimasa kepemimpinannya pusat kerajaan Assariya (kota Mahinasta) dipindahkan ke dimensi lain.

Pada masa itu, Sira (raja), Sina (ratu) atau sosok yang menjadi Musari (pejabat pengganti raja) di anugerahi umur yang sangat panjang. Karena itulah mereka bisa memimpin kerajaan lebih dari 100 tahun. Dan selama kepemimpinannya, meskipun terdapat konflik internal, maka kondisi kerajaan tetaplah makmur. Hingga pada akhirnya, setelah perebutan tahta di antara Kamuru dan Ariyasa selesai, kondisi di kemaharajaan Assariya tetap aman dan stabil, tidak pernah lagi terjadi konflik perebutan tahta atau konflik internal lainnya. Kemakmuran terus meningkat, dan lantaran sebagian besar dari mereka tetap patuh dengan hukum Tuhan, mereka pun diperintahkan untuk berpindah dimensi kehidupan. Tepatnya pada masa raja ke-146/penguasa ke-153 yang bernama Danurasa, pusat kerajaan (kota Mahinasta) lalu dipindahkan ke dimensi ke lima (Nilbati). Mereka tetap hidup bahagia disana sampai hari ini.

7. Akhir kisah
Wahai saudaraku. Kisah perjalanan hidup Prabu Ariyasa memanglah menakjubkan. Dari seorang pemuda desa terasing akhirnya menjadi penguasa di kerajaan yang sangat besar. Ada begitu banyak lika-liku hidup yang telah ia alami untuk akhirnya sampai pada derajat orang-orang yang bijak dan terhormat. Karena itulah, setelah ia turun tahta dan hendak mengasingkan dirinya menjelang moksa, Prabu Ariyasa sempat berpesan kepada semua keturunan dan rakyatnya. Katanya:

“Wahai semuanya, anak keturunanku. Kehidupan ini hanyalah sementara dan hidup ini pun hanya untuk sementara. Itulah yang harus dijalani, itulah yang harus diyakini. Tapi Tuhanku adalah Tuhan bagi semua dan seluruh alam semesta. DIA-lah Yang Abadi dan Pemilik dari segala yang tampak dan tidak tampak. Tiada yang lain selain DIA, karena DIA-lah Yang Maha Esa.

Sehingga tak layak bagi kita untuk menyekutukan-Nya, atau membangkang atas perintah-Nya. Dan karena kita adalah makhluk yang fana, yang bukan siapa-siapa, maka sudah sepantasnya pula untuk mempercayai-Nya saja. DIA Maha Benar dan Adil bagi setiap ciptaan-Nya. Dari zaman ke zaman DIA terus menjadi Hakim bagi siapapun makhluk-Nya. Dan DIA hanya menetapkan hukum kesatuan (universal) yang mengikat kehidupan. Sehingga IA pun tak perlu lagi bekerja dalam menurunkan bencana. Karena azab yang dirasakan oleh penduduk Bumi adalah akibat dari hukum-Nya yang telah di langgar. Sadarilah itu!

Dan tetaplah kalian bersyukur dan sering mengoreksi diri. Jangan pernah untuk tidak bersikap rendah hati dan perbanyaklah berserah diri hanya kepada-Nya. Teruslah bersabar dan menahan diri atas semua kenikmatan duniawi ini. Niscaya hidup kalian pun akan beruntung dan meraih kesempurnaan”

Itulah pesan dan nasehat terakhir yang pernah disampaikan oleh Prabu Ariyasa dihadapan semua warga kerajaan Assariya. Kata-kata yang disampaikan di halaman istana itu kemudian menjadi acuan utama bagi semua warga kota Mahinasta. Karena itulah, mereka pun akhirnya hidup dalam anugerah dan ridha Ilahi. Dan lantaran tetap berpegang teguh pada syariat yang dibawa oleh Nabi Awiya AS, guru dari Prabu Dhamuru, penduduk di kota Mahinasta akhirnya diperintahkan untuk berpindah ke dimensi kelima (Nilbati). Pada masa raja ke-153 yang bernama Danurasa peristiwa itu pun terjadi.

Sementara itu, sebelum berpindah, maka sama dengan beberapa kerajaan yang telah berpindah ke dimensi lainnya, 5 pasang keturunan dari Prabu Ariyasa diperintahkan untuk tinggal sebentar di Bumi. Mereka bertugas menurunkan trah dari Prabu Ariyasa, dan ketika cucu mereka sudah lahir, barulah mereka itu diizinkan untuk menyusul kaumnya – yang telah lebih dulu berpindah ke dimensi kelima (Nilbati). Anak dan cucu mereka inilah yang kelak meneruskan garis kepemimpinan dari Prabu Ariyasa sampai ribuan tahun kemudian.

Hanya saja, pada akhirnya kejayaan dari kemaharajaan Assariya yang didirikan oleh Prabu Dhamuru semakin meredup sejak raibnya kota Mahinasta. Dan pada puncaknya sampai harus terbagi-bagi menjadi empat kerajaan besar. Sejak saat itulah, kemaharajaan Assariya benar-benar runtuh. Keturunan dari Prabu Dhamuru tetap ada dan mereka juga tetap menjadi penguasa. Namun sayang tidak lagi seagung leluhurnya dulu. Mereka hanya memimpin kerajaan-kerajaan kecil, dan barulah setelah belasan ribu tahun kemudian ada yang sempat beberapa kali mendirikan kemaharajaan yang besar seperti Limara, Kasuda, Hallin, dan Artandiya.

Demikianlah kisah masa lalu ini berakhir. Semoga bermanfaat.. Rahayu.. 🙏

Jambi, 15 April 2018
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan sebelumnya, maka disini pun tak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Semuanya adalah hak Anda sekalian. Tugas kami disini hanyalah sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.  Tak ada tendensi apapun.
2. Ada beberapa hal yang tak bisa disampaikan disini karena ada protap yang harus dipatuhi. MAAF.

Iklan

12 pemikiran pada “Assariya : Penguasa Agung Malapiyas

  1. Asaj

    Wah tulisan baru lagi, membayangkan untuk bisa menulis(atau mungkin lebih tepatnya mengetik) dengan tingkat detail dan massa huruf sebanyak ini jadi penasaran sama tingkat konsentrasinya bang Harunata. Antara ditulis langsung hingga selesai atau bertahap, dua-duanya tetep sulit untuk ditiru oleh awam seperti saya ini.

    Tetapi dari sudut pandang pribadi, rasanya seperti masih ada yang kurang, mungkin karena dengan ga adanya unsur romantika atau tokoh perempuan kali ya. 😀
    Jadi inget tentang artikel yang tentang prambanan dan 1 lagi tentang tokoh perempuan yang mengembara mencari bantuan untuk negerinya yg lg perang, tapi lupa judulnya wkwkwk

    Oh iya, by the way mau nanya sekalian, apakah bang Haru pernah membahas atau mendengar cerita tentang djabaulqa-djabaulsa? Dan menurut bang haru apakah mereka memang ada dan berdiam di salah satu bagian bumi yang sama dengan kita ini sekarang atau di lapisan dimensi lain?
    Lumayan bagus sebenarnya untuk dijadikan referensi baru, apalagi kalau bisa membaca dari sudut pandangnya bang Haru. hehehehe

    Rahayu.

    1. oedi

      Rahayu juga mas Asaj.. terima kasih karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Waaah.. saya pun orang awam kok mas, masih dalam tahap belajar juga.. Apa yang tertulis di blog ini pun hanya sebatas apa yang bisa saya lakukan aja, semampunya.. 🙂

      Ya maaf kalo tulisan ini kurang memuaskan masnya.. Hanya saja perlu dipahami bahwa artikel ini tentu takkan bisa memuat semua kisah cerita kemaharajaan Assariya atau tokoh yang bernama Prabu Ariyasa secara detil.. Semuanya bisa terwujud jika dituliskan dalam sebuah novel.. Terlebih tentang romantisme, tentulah ada dalam kisah kehidupan Prabu Ariyasa, seperti tentang bagaimana pertama kali ia bertemu dg adik kandung Raja Nagaye yg bernama Marena (yg akhirnya menjadi istinya) dan jatuh cinta kepadanya.. Hanya saja memang sengaja tidak saya tuliskan di artikel ini, karena fokusnya memang bukan tentang hal-hal yg berbau romantisme, tetapi lebih kepada perjuangan dan kepahlawanan.. Dan artikel ini sebenarnya hanya ringkasan cerita dari yg sudah saya tulis di dalam buku.. Jadi ada banyak detil cerita yg tak disampaikan disini.. ntar kalo kepanjangan malah bikin bosan para pembaca loh.. takut ah.. hehe.. 🙂

      Tentang Djabaulqa dan Djabaulsa, saya pernah mendengar tentang mereka.. Cukup tau juga ttg kisahnya, yg terkait dg keberadaan gunung Qaf itu.. Hanya saja MAAF kalo skr saya belum bisa berbagi penjelasannya, ada protap yg tak bisa diabaikan.. Namun jika masnya bertanya ttg apakah mereka itu benar adanya? maka jawaban saya adalah benar, mereka memang ada tapi tidak hidup di alam dimensi kita (alam nyata dunia ini). Ada banyak keunikan dari mereka itu, begitu pula dengan tempat tinggal mereka.. 🙂

      Gitu aja mas, maaf kalo tidak bisa menjawab semua pertanyaan sampeyan.. 🙂

  2. ari

    Assalamualaikum mas Oedi, kira-kira semua pusaka leluhur tersebut apa masih ada dan menunggu Satria utama kelak yang bertugas menegakkan kebenaran dan keadilan?

    1. oedi

      Wa’alaikumsalam.. Terima kasih mas Ari atas kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Hmm.. Setau saya sih pusaka2 itu masih ada kok mas, masih tersimpan dg baik.. Hanya saja skr tidak dipegang oleh siapapun dr manusia Bumi.. Tentang apakah akan di amanahkan lagi kpd sosok kesatria utama, saya belum tau mas.. Tapi kemungkinan itu pasti ada.. 🙂

  3. Widya

    Ass, wr,wb. Dua tulisan terakhir mas oedi memiliki Dua pola yg sama. Keturunan utama yg tersembunyi,yg harus kembali tampil…. Apa itu sbg pesan bagi Yg bersangkutan ya Mas oedi bahwa saatnya telah tiba ?…. Lalu bagaimanakah kita tahu seseorang Yg tersembunyi itulah Yg benar dikehendaki ,apa sll ada tanda2nya mas oedi? Dan apakah tanda2nya?oya mas oedi, maaf satu lagi pertanyaan, apakah Cerita ini fiksi/nonfiksi?terimakasih banyak atas
    penjelasannya….. Maaf banyak2 nanya

    1. oedi

      Wa`alaikumsalam… Nyante aja mbak Widya, gak apa kok byk nanya.. Kalo bisa akan saya jawab.. Dan makasih loh sudah mau berkunjung.. moga ttp bermanfaat.. 🙂

      Hmm.. Iya neh mbak, akhir2 ini saya emang tergerak untuk share ttg kisah sosok keturunan utama yg tersembunyi yg tampil sebagai pahlawan besar dunia… Siapa tau bisa jadi inspirasi dan motivasi utk kita skr ini, yg hidup dalam masa-masa menjelang akhir zaman… Dan bagi saya, skr ini pun memang ada sosok kesatria utama yg masih tersembunyi yg suatu saat nanti bakal muncul di pentas dunia..

      Ttg pesan, ya saya cuma bisa menyampaikan aja kok.. Apakah diterima atau tidak oleh yg bersangkutan bukan lagi urusan saya.. Lalu apakah saatnya kini telah tiba? maka itu hanya akan mengikuti apa yg sudah digariskan-Nya saja… Yg bersangkutan tentu lebih tau ttg hal itu.. Tapi yg jelas emang sudah semakin dekat kok waktu penentuan dan ending-nya…

      Ttg bagaimana bisa mengetahui sosok yg tersembunyi itu? maka yg pasti baru akan tau setelah beliau muncul atau seseorang bisa tahu kalo sosok tersebut sendiri yg memberi tahu (dalam hal ini akan disertai dg berbagai peristiwa yg luar biasa juga).. Trus kalo pertanyaannya apakah selalu ada tanda2nya? maka menurut saya sih tidak juga mbak, karena beliau itu sangat misterius dan akan terus menyembunyikan jati dirinya sampai waktu kemunculannya.. Ini bertujuan untuk menunjukkan siapakah yg berbohong atau hanya mengaku-ngaku aja.. Semua tipu daya dan kemunafikan akan terungkap di saat beliau muncul dengan segala kelebihannya..

      Ttg tulisan saya, maka justru saya akan kembali bertanya kepada mbaknya; nah menurut mbak Widya sendiri cerita2 itu fiksi atau tidak? Rasakanlah dengan hatimu walau itu di luar logika atau pemahaman umum yg ada.. Karena di setiap tulisan pun sudah saya jelaskan kedudukannya, dan akan mudah dipahami jika seseorang mau lebih teliti dan detil membacanya… 🙂

      Gitu aja ya mbak penjelasan saya, maaf kalo kurang memuaskan… Maklumlah saya ini cuma orang awam… 🙂

      1. penegakdarma

        Kita tunggu saja, karna dunia masih belum lepas kendali, kehidupan masyarakat masih normal dan sandang pangan juga keuangan masih berjalan normal smestinya .

      2. oedi

        Iya mas kita sih emang tinggal nunggu waktunya aja.. Tapi kalo menurut saya sih, dengan menggunakan kacamata hakekat maka dunia ini terlihat sudah mulai lepas kendali kok, kehidupan masyarakat juga sudah tidak normal sebagaimana mestinya.. Ada banyak yg sudah tidak lagi sesuai dg tuntunan dari Hyang Aruta (Tuhan YME), karena hanya mengikuti pemikiran manusia yg bahkan tak percaya Tuhan..

  4. Widya

    Hiks,sy tdk merasa njenengan berbohong ko mas oedi…. Dan terimakasih banyak atas seluruh penjelasannya…. Barokallah, dan mohon maaf apabila ada salah kata2….

    1. oedi

      Syukurlah kalo gitu mbak Widya, makasih atas kepercayaannya, semoga mbaknya mendapatkan byk kebaikan atas sikap itu.. 🙂

      Waah nyante aja mbak, gak masalah kok.. mau byk bertanya juga gak apa kok.. Saya malah senang.. tapi ya itu mungkin gak semuanya bisa saya jawab.. maklum ilmu saya pun masih cetek bgt neh.. 🙂

  5. penegakdarma

    mas dulukan pernah mengulas cerita dari kaum nabi idris itupun belum lengkap masih belum berlanjut . Mohon untuk di lanjutkan .

    1. oedi

      Hmm.. tentang kaum Nabi Idris AS itu, untuk sekarang saya belum diizinkan untuk melanjutkannya mas Penegakdarma. Ada bbrp hal yg memang masih harus dirahasiakan dulu.. Ada waktunya nanti semuanya akan di share… Maaf.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s