Multiverse : Bukti Keagungan Tuhan

Wahai saudaraku. Langit beserta isinya diciptakan dengan jutaan misteri yang belum kita ketahui. Mungkin ada yang membuat kita takut, tapi misteri itu juga bisa membuat kita semakin bergairah untuk mengetahuinya. Dan siapapun berhak untuk terus mencari tahu atau berusaha untuk semakin memahami seluk beluknya. Tujuannya akan membuat dirinya bisa mengerti tentang kebesaran Tuhannya.

Ya. Dari sekian banyak benda Angkasa, maka selain Planet ada sejumlah Bintang (benda langit yang memancarkan cahaya seperti Matahari dengan ukuran yang lebih besar atau lebih kecil dari Matahari) yang sangat banyak di dalam dan luar Galaksi kita. Adapun yang bisa di deteksi kini baru mencapai ±30 miliar triliun (3×10²²) buah saja, masih banyak lagi yang belum dideteksi. Sehingga perumpamaan Planet-Planet di Angkasa itu seperti ketika kita memungut seluruh pasir dan kerikil di pantai dan ditambah lagi dengan miliaran pantai lainnya seperti yang ada di Bumi ini.

Dan berdasarkan temuan selama ini, maka Bumi tempat kita berpijak adalah debunya, yang bahkan lebih kecil dari debu di Angkasa Raya. Lalu apalagi ukuran kita sebagai Manusia, jelas amat sangat sangat sangat kecil. Sehingga tak ada kepantasan sedikitpun untuk bersikap sombong dan besar kepala. Hanya orang bodoh saja yang melakukan hal yang sekonyol itu.

Nah, untuk membuktikan itu semua mari ikuti uraian berikut ini:

1. Ukuran Bulan, Planet dan Bintang
Bulan adalah benda angkasa yang mengitari Bumi sehingga dianggap sebagai Satelit alaminya. Sedangkan Planet adalah benda astronomi yang memiliki gravitasi sendiri, yang kadang terdapat kehidupan di atasnya atau tidak, dan bersama-sama dengan benda lainnya (Planet dan Satelit-nya) mengitari pusat Galaksi. Di Jagat Raya ini, ada begitu banyak Satelit seperti halnya Bulan. Bahkan ada banyak Planet selain Bumi yang memiliki Satelit lebih dari satu, misalnya Jupiter yang memiliki 67 Satelit dan Saturnus yang memiliki 62 Satelit. Adapun tentang ukurannya, maka sesuai dengan perkiraan dari para ahli, maka Bulan itu memiliki diameter sekitar ±3.500 kilometer, sedangkan Bumi berukuran ±13.000 kilometer.

Gambar 1. Bumi dan Bulan.

Sedangkan untuk ukuran diameter Planet-Planet yang lainnya, maka di dalam Galaksi kita (Bima Sakti) bisa diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Merkurius (5.000 km)
2. Ganymede (5.500 km)
3. Mars (7.000 km)
4. Venus (12.500 km)
5. Bumi (13.000 km)
6. Kepler 10c (31.000 km)
7. Neptunus (50.000 km)
8. Uranus (51.000 km)
9. Saturnus (123.000 km)
10. 2Mass Jo523-1403 (125.000 km)
11. Jupiter (150.000 km)
12. HD 100546 b (900.000 km)
13. Matahari (1.400.000 km)

Mulai dari sini, maka sesuai dengan ukuran dan sifatnya akan dikategorikan sebagai Bintang. Yaitu:

1. Sirius A (1.500.000 km)
2. Pollux (12.800.000 km)
3. Arcturus (36.000.000 km)
4. Aldebaran (64.000.000 km)
5. Rigel (90.000.000 km)
6. Pistol Star (140.000.000 km)
7. Antares (1.250.000.000 km)
8. Betelgeuse (1.550.000.000 km)
9. VY Canis Majoris (2.000.000.000 km)
10. UY Scuti (2.500.000.000 km) -> Bintang ini adalah Bintang merah raksasa di Rasi Scutum. Bintang ini adalah Bintang terbesar kedua yang telah diketahui Manusia hingga saat ini.
11. Westerlund 1 BKS AS -> Bintang ini merupakan Bintang yang terbesar yang diketahui oleh Manusia kini. Berukuran sekitar ±16.64 miliar kali lebih besar dari Matahari.

Gambar 2. Bintang Westerlund 1 BKS AS.

Demikianlah gambaran singkat mengenai betapa luasnya ukuran benda-benda Angkasa itu dan beragamnya kehidupan di luar Bumi ini. Sungguh tak pantas bagi kita untuk bersikap angkuh dan merasa paling hebat sendiri. Karena sudah seharusnya kita sebagai makhluk untuk selalu rendah hati dan berbuat kebaikan.

Catatan: Ingat! Semua data tentang Satelit, Planet dan Bintang di atas tetaplah sebatas perkiraan dan sebagai gambaran bagi para pembaca sekalian. Bisa benar, tapi bisa juga salah. Tak ada yang benar-benar tahu pastinya kecuali Yang Menciptakannya.

2. Galaksi, Cluster, dan Supercluster
Galaksi adalah kumpulan dari miliaran Planet, Satelit, dan Bintang. Tempat keberadaan kita ini disebut dengan Galaksi Bima Bakti. Untuk ukurannya, maka diperkirakan berdiameter sekitar ±100.000 tahun cahaya. Satu tahun cahaya itu sama dengan ±9,5 triliun kilometer. Sehingga diameter Galaksi Bima Sakti kita itu adalah sekitar ±950.000 triliun kilometer dan itu masih belum berbatas. Dan memang sangat luas, tapi bukanlah yang terluas. Karena di luar sana masih banyak Galaksi lainnya yang berukuran lebih besar. Sedangkan Matahari yang berada di dalam Galaksi Bima Sakti itu hanyalah 1 dari sekitar 200 miliar Bintang yang bergerak dan berputar bersama-sama dengan semua Planet mengelilingi inti Galaksi Bima Sakti.

Sungguh, ada ratusan miliar Bintang di Galaksi kita dan hampir semua Bintang itu dilingkari/dikelilingi oleh setidaknya minimal satu Planet. Galaksi Bima Sakti adalah tempat kita berada, dan di dalam Galaksi inilah Matahari dan semua Bintang serta Planet yang ada terus bergerak mengelilingi pusat dari Bima Sakti itu. Waktu yang dibutuhkan oleh Matahari untuk menyelesaikan satu putaran mengelilingi pusat Galaksi Bima Sakti itu adalah selama ±226 juta tahun cahaya.

Gambar 3. Ilustrasi bentuk dari Galaksi Bima Sakti.

Sementara itu, diprediksi ada sekitar ±30 miliar trilliun (3×10²²) buah Bintang di Alam Semesta kita. Karena itu dan dari sinilah kita harus memperluas skalanya dari kilometer menjadi satuan cahaya. Dan perlu diketahui bahwa 1 hari cahaya itu = 25.900.000.000 kilometer. Sehingga ukuran Galaksi Bima Sakti itu diprediksi memiliki diameter sekitar ±115.000 tahun cahaya. Sedangkan jarak antara Galaksi Bimasakti dan Galaksi terdekatnya (Andromeda) = ±2.500.000 tahun cahaya. Sangat luas dan jauh.

Gambar 4. Beragam Galaksi yang terlihat dari teleskop luar angkasa Hubble.

Dan sebenarnya Galaksi itu dibedakan menjadi dua, yaitu Galaksi Besar dan Galaksi Kecil. Jumlah Galaksi Besar (large galaxy) ada sebanyak ±350 miliar buah, sedangkan Galaksi Kecil (dwarf galaxy) ada sekitar ±7 triliun buah. Dan Galaksi Bima Sakti kita adalah bagian dari kumpulan Galaksi lain yang membentuk sebuah gugusan Galaksi yang disebut Cluster[1]. Diprediksi ada sekitar ±25 miliar Cluster yang ada di Alam Semesta kita. Lalu Cluster ini berkumpul membentuk apa yang disebut dengan Supercluster[2]. Jumlahnya diprediksi ada sekitar ±10 Juta Supercluster di Alam Semesta kita ini.

[1] Satu Cluster berisi serangkaian Galaksi; bisa puluhan, ratusan, atau bisa juga ribuan Galaksi di dalamnya.
[2] Super Cluster adalah serangkaian (gugusan) dari beberapa Cluster. Satu buah Supercluster ini juga bisa termasuk di dalam satu Supercluster yang lainnya, yang ukurannya jauh lebih besar. Istilah yang dipakai untuk gugusan Supercluster yang lebih besar ini adalah Mega Supercluster.

Gambar 5. Cluster Galaksi. 

3. Universe dan Multiverse
Di dalam Jagat Raya ini ada yang disebut dengan Laniakea[3] atau Mega Supercluster Galaksi Laniakea yang merupakan kumpulan atau gugusan besar dari ratusan ribu Galaksi,  termasuk Galaksi kita (Bima Sakti). Ukurannya diprediksi sekitar ±70 miliar tahun cahaya. Sehingga dari sinilah keluasan Universe (Alam Semesta) itu bisa diprediksi dengan diameter sekitar ±260 miliar tahun cahaya. Tapi meskipun teleskop Hubble[4] yang diameternya 4,27 meter itu digadang-gadang mampu men-caps luasnya Alam Semesta, maka para astronom tetap saja mengalami kesulitan untuk memahami kondisi Alam Semesta yang sebenarnya.

[3] Dalam gugusan Mega Supercluster Laniakea terdapat sekitar lima  Supercluster, yakni: Virgo, Hydra-Centaurus, Pavo-Indus, Fornax-Eridanus, dan Antlia Wall. Laniakea ini memiliki titik pusat gravitasi yang disebut Great Attractor, yang berada dalam Supercluster Hydra-Centaurus. Semua Galaksi, Bintang, Planet, dan lain-lain yang berada di Laniakea bergerak menuju titik pusat gravitasi ini.
[4] Teleskop Hubble adalah sebuah teleskop luar angkasa yang berada di orbit Bumi. Ukurannya hampir sama dengan sebuah bus sekolah. Karena ketebalannya saja mencapai 13,1 meter (43,5 kaki), berdiameter 4,27 meter (14,0 kaki) dan memiliki berat sekitar 11.000 kg. Lensa primer teleskop ini berdiameter 2,4 m (8 kaki), dan beratnya mencapai 826 kg.

Gambar 6. Gugusan Supercluster Virgo.

Gambar 7. Ilustrasi Mega Supercluster Laniakea  => berdiameter ±70 miliar tahun cahaya.

Jadi, secara keseluruhan Universe (Alam Semesta) itu memiliki banyak Mega Supercluster raksasa, seperti Mega Supercluster Laniakea, Coma, Shapley, dan Perseus-Pisces. Sehingga bayangkan betapa maha luasnya Universe itu dan betapa kecilnya diri kita ini jika Galaksi dimana tempat kita berada saja hanya seperti titik debu di sebuah Cluster. Dan kalau kita bayangkan lagi betapa masih banyak hal yang belum kita ketahui, maka siapalah diri kita ini? Apakah layak untuk bersikap sombong??

Gambar 8. Ilustrasi perkiraan dari posisi Supercluster dan Mega Supercluster yang ada.

Sehingga Langit yang kita lihat di atas kita adalah bagian dari Langit pertama yang bahkan ujungnya pun tak pernah bisa tercapai oleh pantauan teleskop secanggih Hubble. Dan di dalam Langit pertama itu tidak hanya terdiri dari satu Alam Semesta saja, melainkan ada banyak Alam Semesta lainnya. Lalu di setiap Alam Semesta itu memiliki hukum dan konstanta fisik yang berbeda.

Gambar 9. Ilustrasi dari Universe (Alam Semesta) kita => berdiameter ±260 miliar tahun cahaya.

Catatan: Jika kita memandang Langit pada malam hari, bisa jadi titik cahaya yang kita lihat itu bukanlah sebuah Bintang. Melainkan sebuah Galaksi atau Cluster atau Supercluster atau Mega Supercluster, atau bahkan Universe lain. Sebab dari kejauhan semuanya itu memang tampak sebagai titik cahaya yang terang. Sungguh luar biasanya fenomena ini.

Ya. Bukti ilmiah tentang eksistensi Alam Semesta lain yang sangat berbeda dari Alam Semesta kita mungkin masih di luar domain sains. Tapi selama dekade terakhir, para ilmuwan-astronom telah berpandangan bahwa Galaksi kita ini (Bima Sakti) hanyalah salah satu dari sekian banyak Galaksi yang ada. Bahkan keseluruhan Alam Semesta kita pun bisa jadi bukanlah satu-satunya pada skala Kosmik segala sesuatu. Ia cuma satu dari sekian banyak Alam Semesta yang tak terhitung, dan masing-masingnya memiliki urusan dan hukumnya sendiri.

Gambar 10. Ilustrasi Universe (Alam Semesta) lainnya dengan hukum alam yang berbeda.

Untuk itu, begitu banyaknya Universe ini bisa disebut dengan Multiverse. Hanya saja astronom saat ini hanya mampu melihat sejauh sekitar 42 miliar tahun cahaya dari horizon visual kosmik kita. Sehingga mereka pun tak punya alasan untuk memastikan bahwa Alam Semesta itu tak berhenti sampai disitu saja atau memang tak ada lagi yang lainnya di luar batas itu. Karena di luar batas pantauan sejauh 42 miliar tahun cahaya itu boleh jadi ada banyak Alam Semesta lainnya, atau bahkan tak terhingga dan sangat mirip dengan yang kita saksikan ini. Dan pendapat yang terakhir inilah – yang menganggap adanya Multiverse – yang kami yakini.

Catatan: Begitu banyak benda-benda Angkasa dan betapa luasnya Multiverse itu, sehingga belum ada Manusia yang mampu mengukur atau menghitungnya. Dan itu semua belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan semua yang telah diciptakan oleh Tuhan di dalam Waktu. Sebab, Multiverse yang kita bahas di atas hanya berada di satu dimensi kehidupan, atau kita biasa menyebutnya sebagai alam nyata dunia. Ada banyak lagi dimensi kehidupan lainnya – sepengetahuan kami, setidaknya ada sekitar 101 dimensi yang berbeda yang menjadi tempat tinggal dari setiap jenis makhluk-Nya – atau alam goib yang menyerupai bentuk Multiverse kita, atau bahkan melebihi apa yang ada pada dimensi kita ini. Sehingga kita bahkan tak bisa lagi memperkirakannya atau sekedar berimajinasi tentangnya. Sungguh Maha Kuasa-lah Tuhan dalam menciptakan sesuatu. Dan semuanya tak berarti apa-apa bagi-Nya, tidak pula untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. Sebab DIA telah cukup dengan DIRI-NYA sendiri.

Gambar 11. Ilustrasi dari Multiverse. 

Itulah kenapa klaim-klaim serupa telah dilontarkan sejak zaman purba oleh banyak kebudayaan dan agama. Dan kini secara perlahan-lahan para ilmuwan akhirnya harus mengakui tentang sebuah rancangan dari Alam Semesta yang begitu sempurna hingga mengisyaratkan adanya Sang Maha Pencipta. Tak mungkin semuanya itu bisa terjadi dengan kebetulan atau tiba-tiba tanpa ada yang mengaturnya. Hanya saja mereka tetap berusaha menghindari penjelasan yang mencakup hakekat Tuhan ini. Entah karena ego atau justru kebodohan yang tak disadarinya.

Dan tentang kondisi Universe (Alam Semesta) yang mengembang atau semakin bertambah luas, maka ilmu sains moderen telah sepakat dengan ajaran agama, khususnya Islam dan Hindu. Keterangan tersebut seperti yang terdapat di dalam Al-Qur’an surat Az-Zariyat [51] ayat 47 berikut ini:

“Dan Langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya” 

Sementara untuk di ajaran Hindu telah dijelaskan pada kitab Bhagawadgita berikut ini:

“Wahai putera Kunti, pada akhir zaman, semua manifestasi material masuk ke dalam tenaga-Ku, dan pada awal zaman lain, Aku menciptakannya sekali lagi dengan kekuatan-Ku” (Bhagawadgita 9.7)

“Alam material ini, salah satu di antara tenaga-tenaga-Ku, bekerja di bawah perintah-Ku, dan menghasilkan semua makhluk baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Wahai putera Kunti, di bawah hukum-hukum alam material, manifestasi ini diciptakan dan dilebur berulang kali.” (Bhagawadgita 9.10)

Demikianlah Universe (Alam Semesta) dan Multiverse (keberagaman Alam Semesta) itu diciptakan sebagai tempat kehidupan beragam makhluk. Ukurannya maha luas, dan semua angka-angka yang disebutkan di atas itu hanyalah sebatas perkiraan. Tak ada yang tahu pastinya kecuali DIRI Yang Menciptakannya. Lantas apakah kita masih ingin tetap bersikap sombong? Sungguh konyol jika masih seperti itu.

4. Langit yang berlapis tujuh
Sesungguhnya ada Langit yang mewadahi begitu banyak Multiverse. Jumlahnya pun tak cuma satu, tetapi tujuh buah/lapisan. Dan sebatas pengetahuan kami, maka di setiap penjuru Langit itu ada begitu banyak jenis kehidupan yang berbeda, dengan hukum alam yang juga berbeda-beda. Hanya saja, tetap ada sebuah anjuran untuk tetap beriman kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) atau tidak. Disini tentulah dengan konsekuensinya masing-masing, khususnya di akherat nanti.

Gambar 12. Foto: Memandang Langit yang maha luas.

Adapun pendapat tentang Langit yang berlapis tujuh pun bukanlah sekedar imajinasi. Termasuklah pakar Fisika sekelas Stepen Hawking (almarhum) pun mengakui hal ini, khususnya tentang adanya Multiverse dan bukan lagi sebatas Universe (Alam Semesta) saja. Karena itulah dalam sebuah Hadits riwayat sahabat Nabi yang bernama Abu Dzarr al-Ghifari RA, dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW ketika ditanya tentang berapa besarnya Alam Semesta ini menjawab bahwa besarnya dunia ini (Universe) dibandingkan dengan Langit pertama itu adalah seperti cincin yang dilemparkan ke tengah padang pasir yang sangat luas. Cincin itu adalah dunia (Universe) dan padang pasir itu adalah Langit pertamanya. Demikian pula Langit pertama dengan Langit kedua, perbandingannya seperti cincin yang dilemparkan ke tengah padang pasir yang sangat luas. Begitulah seterusnya sampai berada di luar cakupan Langit ke tujuh (Arsy Ilahi).

Begitu pula di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan mengenai Langit yang beragam itu. Seperti pada ayat berikut ini:

“Allah-lah yang menciptakan tujuh Langit dan seperti itu pula Bumi.” (QS. Ath-Thalaq [65] ayat 12)

“Yang telah menciptakan tujuh Langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk [67] ayat 3)

“Maka Dia menjadikannya tujuh Langit dalam dua hari. Dia mewahyukan pada tiap-tiap Langit urusannya. Dan Kami hiasi Langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS. Fushshilat [41] ayat 12)

Sementara dalam pemahaman agama Hindu, maka keadaan dari Alam Semesta dan Langit itu telah dijelaskan di dalam kitab Srimad Bhagavatam (3.11.41), yang artinya:

Lapisan-lapisan unsur (Langit) yang menutupi alam semesta, masing-masing sepuluh kali lebih tebal dari lapisan sebelumnya, dan kumpulan seluruh alam semesta bersama-sama kelihatan bagai atom-atom dalam kombinasi yang besar.”

Sungguh mengagumkan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang bisa di lihat dari penciptaan Langit dan segala isinya. Apakah kita masih tetap merasa hebat dan punya daya cipta?

5. Penutup
Wahai saudaraku. Dari semua uraian di atas, apakah pantas kita sebagai Manusia ini untuk bersikap sombong?? Lihatlah dirimu sendiri yang jika dibandingkan dengan Bulan saja sudah teramat kecil. Bahkan Bumi yang menjadi tempat tinggal kita pun hanyalah seperti titik debu di luasnya Alam Semesta. Bahkan Alam Semesta itu pun masih terlalu kecil bila di bandingkan dengan ukuran Langit. Dan Langit yang maha luas itu pun hanyalah satu dari sekian banyak Langit yang telah Tuhan ciptakan dengan sangat mudahnya.

Lalu atas semua ciptaan itu, mengapa masih saja di antara kita atau begitu banyak Manusia yang hidup di muka Bumi ini tetap berbuat kekufuran, bahkan menantang Tuhannya? Apakah kita masih juga belum sadar, bahwa sesungguhnya Manusia itu sangat lemah dan fana. Tak ada kebaikan apapun kecuali hanya atas kehendak-Nya, dan tak ada daya cipta satupun selain hanya karena izin-Nya saja. Sehingga tiada lagi pilihan lain kecuali mengikuti setiap perintah dan larangan-Nya dengan tulus. Kita harus penuh kesadaran akan siapakah diri kita ini dan siapa pula Tuhan itu. Semua hanya demi kebaikan dan kemuliaan diri kita sendiri.

Dan apapun yang bisa kita lihat atau rasakan selama ini, maka semuanya itu adalah tanda-tanda dari kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa. Sementara sebagai makhluk yang hina ini, kita harus mau berpikir dan menemukan hikmahnya bagi kehidupan ini. Janganlah sekali pun merasa bangga diri dan sombong. Karena hal itu sama saja dengan kebodohan konyol yang mencelakakan diri sendiri.

Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang senantiasa bersikap rendah hati dan tunduk patuh hanya kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Rahayu.. 🙏

Jambi, 06 April 2018
Harunata-Ra

[Disarikan dari berbagai sumber dan diskusi]

Untuk melengkapi ilustrasi di atas, berikut ini kami sertakan video tentang ukuran benda-benda Angkasa. Silahkan di lihat untuk lebih mudah membayangkannya.

Iklan

17 tanggapan untuk “Multiverse : Bukti Keagungan Tuhan

  1. Apa yang di katakan “putri roro depurti” itu memang benar jangan ringan pikir terhadapnya mas odi ia juga selama ini mencari keberadaan saya dan ingin terus menyambung telepati dengan saya namun saya tolak karna belum saatnya, ia juga pernah menggemparkan dunia media .
    Cari dan temuilah mas odi jika sempat dalam hidup anda. Carilah dia
    Ia juga seperti kami “Sang Penahan Kesabaran” atas cacian AS dan NAZI CORP juga SOVIET BLACK SECRET.jangan hiraukan rakyat mas odi dan jangan salahkan jangan menyerang mereka karna mereka tidak tahu apa apa tentang ini, dan ilmu kita tiada di pendidikan manapun dan setinggi apapun mas odi. Maka rahasiakan yang patut di rahasiakan
    Carilah ia carilah..
    Carilah..

    1. Nuwun mas Penegakdarma karena masih mau berkunjung.. Kirain kmaren udah gakkan pernah lagi.. Hehe.. 😀

      Hmm.. Nuwun juga utk komentarnya.. Tapi siapalah saya ini selain cuma orang yg awam bgt kok.. Gak bisa apa2 loh.. 🙂

    1. Sama2lah mas Al Jalal.. Terima kasih juga karena masih mau berkunjung.. 🙂

      Syukurlah kalo emang sesuai dg pemahaman sampeyan.. Semoga tetap bermanfaat.. 🙂

  2. Maha Besar lagi Maha Luas Hyang Aruta atas segala ciptaannya…
    Sungguh sangat sangat sangat Agung lagi Maha Perkasa Hyang Aruta, bagi saya merupakan sebuah anugerah luar biasa bisa mengetahui secuil dari penciptaan-Nya yang ada d Angkasa sana lha wong yang ada d planet bumi kita ini aja masih terlampau banyak banget awamnya saya ini untuk ukuran seujung debu aja kayaknya masih terlalu besar untuk bisa berimajinasi saja sulit banget merekayasa pikiran ini seperti apa.

    Nah pada kaum” terdahulu para leluhur kita yang waskita mendapatkan bonus pindah dimensi apakah masih sebatas pada tingkat langit ke satu saja apa sudah ada yang di langit berikutnya?
    Dari banyaknya Galaksi yang ada apakah mataharinya juga banyak sebanyak Galaksi yang Hyang Aruta ciptakan?
    Pada masa yang lampau ada kisah dari ustad yang ceramah menerangkan seorang yang mulia utusan Hyang Aruta Idris AS pernah sampai pada langit yang ke empat dan sekarang mendiami tempat tsb pendapat saya mungkin saja bahkan bisa lebih tinggi lagi tingkatan langitnya. 😊
    Sungguh Maha segala-galanya lagi Maha Kuasa Hyang Aruta atas semua ciptaannya.
    Salam…
    Rahayu… 🙏

    1. Rahayu juga kang Tufail.. Nuwun karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Iya kang, tiada alasan sedikitpun bagi kita untuk berlaku sombong.. gak pantes dan konyol banget dah.. Kalo masih waras sih gakkan pernah sombong atau merasa paling hebat sendiri deh.. Hanya orang bodoh saja yg berbuat sombong..

      Ttg leluhur yg pindah dimensi kehidupan, MAAF saya gak bisa cerita lebih detil apakah mrk masih di seputaran Langit pertama atau lainnya.. Ada protap kang.. 🙂

      Ttg yg sejenis Matahari, maka silahkan baca lagi dengan teliti tentang Bintang, karena Matahari sebenarnya dikategorikan sebagai Bintang juga.. 🙂

      Ttg kisah Nabi Idris AS, itu terdapat di dalam Al-Qur`an sehingga pasti kebenarannya.. Hanya saja saya belum diizinkan menceritakan detil kisah yg sebenarnya tentang diri beliau itu dan bagaimana ttg kisah ketika beliau naik ke Langit.. Ada protap yg tak bisa dilanggar.. MAAF.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s