Kota Syinastra : Kehidupan Syurga di Bumi

Wahai saudaraku. Pada dasarnya pusat peradaban dunia itu selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu bangsa ke bangsa lainnya. Tak ada yang selalu menetap di satu tempat, atau hanya dipegang oleh satu bangsa/ras saja. Karena itulah tak usah heran bila dikatakan bahwa dulu bangsa Nusantara pernah berulang kali memimpin dunia. Hanya saja kita pun tak perlu ngotot dengan mengatakan bahwa bangsa yang tinggal di Nusantara ini ya selalu seperti kita (ciri fisiknya). Karena sebenarnya sering berganti-ganti di setiap zaman yang berbeda. Ras kita ini (Mongoloid) hanyalah salah satunya saja.

Dan karena memang sudah waktunya, maka sesuai protap yang ada, disini kami akan menjabarkan lagi tentang sejarah masa lalu di Nusantara. Tentang sebuah kerajaan besar yang sangat berjaya dan pernah memimpin dunia dari Tenggara-Selatan. Peradabannya sangat tinggi, sehingga patut untuk dijadikan contoh teladan dalam kehidupan ini.

Nah untuk mempersingkat waktu, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Pada mulanya, di masa pertengahan zaman ketiga (Dirganta-Ra), hiduplah sebuah kaum yang bernama Sahinastra. Mereka terkenal dengan kearifan dan kesaktiannya. Dan peradaban mereka ini sangat tinggi untuk ukuran di masa itu, bahkan sekarang. Sebab mereka telah berhasil memadukan antara unsur ilmiah dan batiniah dalam berbagai lini kehidupannya. Sehingga terjadilah keseimbangan dan keharmonisan di seluruh negerinya.

Kisah kesuksesan itu diawali pada masa sebelum kerajaan Armunastra (kerajaan kaum Sahinastra) berdiri. Pada waktu itu, seorang pemuda yang bernama Hamulani mendapatkan sebuah anugerah berupa peti pusaka yang bernama Samiyah. Dan ternyata peti beserta isinya itu pernah dipakai oleh 9 kerajaan sebelumnya, di masa yang berbeda. Adapun yang terdapat di dalam peti pusaka itu adalah:

1. Tombak Palimara
Kelebihannya bisa menembus perisai musuh sekuat apapun itu (nyata atau goib) dan menghantam musuh dalam jumlah yang sangat banyak dari jarak jauh. Bisa juga untuk menghancurkan gunung.

2. Pedang Satiyama
Kelebihannya untuk menghabisi musuh dalam jumlah yang banyak dengan sekali tebasan dan punya kekuatan 5 elemen (air, api, tanah, udara, petir) juga. Bisa pula untuk membelah lautan.

3. Keris Gasoraya
Kelebihannya untuk menembus waktu atau bergerak dengan kecepatan cahaya. Bisa juga memanggil petir dan angin puting beliung untuk menyerang musuh. Dan siapapun yang memilikinya akan bisa membagi dirinya sebanyak 10 sosok atau lebih dengan kesaktian yang sama.

4. Anak panah Harasiya
Jika dipakai maka busurnya akan muncul sendiri. Kemampuannya bisa menyerang sebanyak apapun musuh yang terlihat, sesakti apapun dia. Dan mampu menghancurkan gunung atau membelah lautan. Anak panah ini juga bisa berubah wujud menjadi gelang tangan sehingga mudah dibawa.

5. Mustika Kurilaya
Fungsinya untuk perisai pelindung sebuah kerajaan, seluas yang diinginkan. Selain itu bisa juga memberikan energi penyembuhan dan kekuatan yang besar. Mustika biru ini ada wadahnya, dan besarnya sekitar segenggam tangan. Penampilan dari mustika ini bersinar terang dan pada bagian tengahnya juga bersinar warna putih. Tapi karena warna lapisan batu mustikanya biru, maka ada campuran sinar warna putih dan birunya ketika memancar.

6. Kitab Astrakiyah
Ini adalah kitab ilmu pengetahuan yang membahas tentang berbagai hal. Siapapun yang memilikinya akan mendapatkan kecerdasan dan kesaktian yang luar biasa.

Peti dan ke enam benda pusaka itu adalah pemberian dari Nabi Syis AS. Dan beliaulah sosok yang selalu memberikannya lagi kepada kaum yang berlainan sebagai bukti yang sah bagi seseorang untuk menjadi pemimpin besar. Artinya, ketika sudah waktunya, maka peti dan ke enam pusaka itu akan beliau titipkan kepada sosok yang terpilih. Pusaka itu lalu diwariskan juga kepada keturunannya selama beberapa generasi. Tapi jika batas waktunya habis, maka pusaka tersebut akan beliau ambil lagi untuk disimpan. Di waktu yang lain, barulah pusaka itu beliau titipkan lagi kepada sosok yang terpilih atau kaum yang baru selama beberapa generasi. Demikianlah hal ini sampai terulang sebanyak 9 kali di masa yang berbeda, hingga pada akhirnya kepada Hamulani pula benda pusaka itu kembali dititipkan kepada umat Manusia. Tujuannya sebagai bukti tentang layaknya seseorang memimpin dan alat bantu dalam membangun peradaban yang gemilang.

Ketika memberikan peti Samiyah itu, sang Nabi sempat berpesan dengan berkata: “Wahai ananda Hamulani. Berjuanglah! Karena ada masanya kalian yang akan memimpin dan membawa kebaikan bagi umat Manusia. Tugasku hanya menjaga pusaka ini untuk digunakan dengan bijaksana dan penuh rasa tanggungjawab. Pusaka adalah alat dan nilai budaya suatu bangsa, bukan sesuatu yang wajib di agungkan apalagi di sembah. Pusaka ini terkumpul atas kehendak-Nya. Di antarkan dan diserahkan hanya kepada yang berhak lagi pantas”

Ya. Begitulah kisah seorang pemuda yang bernama Hamulani ketika ia mendapatkan anugerah yang besar dalam hidupnya. Adapun peristiwa itu terjadi setelah ia menjalankan tapa brata yang sangat keras selama ±250 tahun di puncak gunung Sujin (dulu berada di sekitar Laut Karimata sekarang). Sementara negerinya sendiri berada di sekitar Jawa Timur sekarang. Setelah mendapatkan peti pusaka Samiyah, Hamulani pun kembali ke negeri kelahirannya dan memulai hidup yang baru disana. Berselang 10 tahun kemudian, ia lalu memimpin kaum Sahinastra untuk mendirikan sebuah kerajaan yang berdaulat. Atas petunjuk yang ia dapatkan dari Nabi Syis AS, kerajaan itu lalu diberi nama Armunastra atau yang berarti kejayaan yang mulia. Mereka pun hidup dalam kemakmuran dan kedamaian.

Dan lambat laun kerajaan Armunastra itu berkembang menjadi besar dan sangat disegani oleh bangsa-bangsa di seluruh kawasan Aslanta, bahkan dunia. Sebuah kebanggaan saat bisa menjalin hubungan diplomasi dan perdagangan dengan negara yang sangat makmur itu. Tak ada pula yang berani macam-macam dengan mereka, karena selain memiliki militer yang sangat tangguh dan peralatan tempur yang canggih, penguasa di kerajaan Armunastra itu juga memiliki peti pusaka yang luar biasa bernama Samiyah. Warisan yang sangat sakti dan terus menjadi penjaga tahta kerajaannya.

2. Pembangunan kota Syinastra
Pada masa kerajaan Armunastra berdiri, seluruh kawasan Nusantara masih menyatu dengan Asia, Madagaskar, Kepulauan Pasifik, Australia, dan New Zealand sekarang. Kehidupan makhluk disana sangat beragam dan berbeda sekali dengan sekarang. Ada banyak ras Manusia, jenis species Hewan, dan varietas Tumbuhan yang sangat unik dan tak di jumpai lagi sekarang. Hidup pula bangsa lainnya seperti Peri, Ruwan, Karudasya, Cinturia dan Naga. Sehingga menambah pesona yang ada disana. Dan apapun yang terjadi di kawasan yang kala itu disebut Aslanta itu, akan menjadi perhatian dunia. Bangkit dan hancurnya peradaban disana juga sangat mempengaruhi kehidupan di Bumi.

Catatan: Pada masa itu ukuran tubuh Manusia masih sangat besar, karena rata-rata tingginya antara 14-16 meter. Mereka semua kuat-kuat dan berumur sangat panjang dengan rata-rata usianya antara 500-700 tahun. Dan banyak pula dari mereka itu yang berumur sampai seribu tahun, bahkan ada yang lebih karena mendapatkan anugerah sampai akhirnya moksa. Dan inilah yang terjadi pada kaum Sahinastra, karena mereka bisa hidup selama ribuan tahun dengan atau tanpa ber-tapa brata.

Kisah pun berlanjut dan waktu sudah berlalu selama ±1.253.000 tahun sejak kerajaan Armunastra didirikan oleh Hamulani. Selama itu tak pernah terjadi kegaduhan yang parah. Memang ada sedikit percikan yang berujung perang dengan kerajaan tetangga, tapi semuanya bisa di atasi dengan baik oleh para penguasa di kerajaan Armunastra. Sampai pada akhirnya, raja ke-553 mereka yang bernama Samulani mendapatkan petunjuk untuk membangun pusat kota yang baru di sebuah tempat yang terletak di sebelah selatan. Posisinya kini berada di antara timur dan selatan Laut Selatan Jawa sekarang. Kalau dari bibir pantainya, kota tersebut kini berada di sekitar ±250 kilometer di tengah lautnya (Samudera Hindia). Kota fenomenal itu lalu diberi nama Syinastra atau yang berarti cahaya kemuliaan. Kota yang sungguh indah alami dan seperti dunia tersendiri yang terpisah dengan peradaban lain di seluruh Bumi.

Jadi, bila kota yang didirikan di tempat yang baru itu (Syinastra) adalah pusat kerajaannya, maka kota yang berada di sekitar Jawa Timur sekarang itu (kota awal) menjadi pusat administrasi pemerintahan. Pusat kerajaan dipimpin oleh sang raja, sementara pusat administrasi pemerintahan dipimpin oleh perdana menteri. Perdana menteri ini adalah sosok yang melaksanakan semua titah dan arahan dari sang raja. Ia diberikan kebebasan untuk bertindak dan mengambil keputusan, dengan catatan harus demi kebaikan bersama. Dalam hal tertentu saja dia harus berkonsultasi untuk mendapatkan persetujuan dari sang raja.

3. Puncak kejayaan
Jauh sebelum peti pusaka Samiyah mulai dititipkan kepada beberapa kaum, Nabi Syis AS telah mendapatkan petunjuk untuk menuliskan sebuah kitab ilmu pengetahuan. Isinya menjelaskan tentang seluk beluk kehidupan dunia ini, khususnya di atas Bumi. Siapapun yang menerima kitab tersebut akan memiliki ilmu yang cukup untuk membangkitkan kejayaan bagi bangsanya.

Lalu, atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME), kitab yang diberi nama Astrakiyah itu terdiri dari 3.666 halaman. Semuanya dibagi ke dalam 10 pembahasan (bab), yang meliputi:

1. Bab 1 tentang Manusia dan Tuhan.
2. Bab 2 tentang Udara.
3. Bab 3 tentang Tanah.
4. Bab 4 tentang Air.
5. Bab 5 tentang Api.
6. Bab 6 tentang Tumbuhan.
7. Bab 7 tentang Hewan.
8. Bab 8 tentang Jin dan makhluk halus lainnya.
9. Bab 9 tentang Angkasa (astronomi dan energi kosmis).
10. Bab 10 tentang kesaktian (termasuk telepati, telekinesis, teleportasi, dll).

Kitab ini berukuran sekitar 150×100 cm, dengan tebal sekitar 50-55 cm. Tidak terlalu besar untuk ukuran orang pada masa itu, karena masih bisa dipegang dengan satu tangan. Dan kitab ini jelas akan sangat berguna untuk membangun sebuah peradaban yang besar yang tentunya akan sesuai pula dengan aturan dan hukum Tuhan. Itu pun tidak hanya sebatas dalam lingkup kehidupan Manusia saja, tetapi juga makhluk yang lainnya (Jin, Hewan, Tumbuhan, Benda-benda, dll), baik di dunia nyata bahkan di alam gaib. Sehingga tak heran bila pada akhirnya kaum Sahinastra ini berhasil mencapai kejayaan dan menjadi pusat peradaban dunia.

Catatan: Kitab Astrakiyah ini seperti hidup dan bisa muncul atau raib sesuai keinginan dari pemiliknya. Tidak bisa dibaca oleh mereka yang tidak berhak atau yang tak diizinkan. Ada kekuatan khusus yang sengaja diberikan oleh Nabi Syis AS ke dalam kitab pusaka ini agar isinya tidak disalah-gunakan.

Ya. Sebagai murid dari seorang utusan Tuhan yang mulia dan karena mereka sangat patuh mengerjakan apapun yang Nabi Syis AS sampaikan, pada akhirnya kaum ini tampil sebagai Manusia yang terbaik dan memimpin dunia. Level kehidupan mereka terus meningkat, karena telah berhasil melepaskan ego dirinya sendiri. Mereka tetap memiliki tubuh fisik seperti kita sekarang – cuma ukurannya jauh lebih besar, tapi selalu tampak muda dan bahagia. Nafsu dan emosi mereka sangat terkontrol, sehingga kesehatan mereka pun selalu terjaga. Tak ada penyakit serius yang pernah mereka derita, semuanya sehat wal afiat sepanjang hidupnya. Dan ketika mereka sudah merasa cukup waktunya untuk tinggal di Bumi, mereka akan segera berpindah dimensi kehidupan atau moksa.

Hingga pada akhirnya, di kota Syinastra itu (ibukota kerajaan) tidak ada lagi sekolah disana, karena setiap orang tua adalah pengajar dan pelatih bagi anak-anaknya sendiri. Mereka adalah guru yang sangat bijak dan terus membimbing anak-anaknya untuk bisa menemukan pencerahan hidup. Anak-anaknya pun terus menggali potensi pada diri mereka sendiri dan tetap mengembangkannya dengan sangat baik. Karena itulah mereka bisa saja terbang, menghilang dan mengubah wujudnya kapanpun mereka mau. Sebab mereka sudah memiliki kontrol penuh atas diri mereka sendiri (lahir batin). Dan inilah alasannya kenapa rumah sakit pun tidak ada di negeri itu, sebab setiap orang adalah tabib bagi dirinya sendiri. Mereka adalah dokter dan ahli obat yang selalu bisa merawat dan menyembuhkan. Tidak ada juga pasar disana, karena mereka bisa memenuhi semua kebutuhannya sendiri dan saling berbagi.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak terlalu banyak berbicara tapi selalu memberikan kasih sayang dan cinta yang tulus kepada siapapun. Tak ada lagi rasa iri, dengki dan ego di dalam dirinya, karena semuanya telah mereka singkirkan sejak lama. Sehingga mereka pun menjadi sangat cerdas dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi dalam kehidupannya. Karena itulah tidak ada lagi tentara, polisi, jaksa-hakim dan pengadilan di negerinya. Penjara pun tak pernah dibangun oleh mereka, bahkan rumah ibadah pun tak ada, karena setiap orang sudah meraih pencerahan dalam hidupnya. Setiap orang adalah tentara, polisi, jaksa-hakim dan pengadilan bagi dirinya sendiri. Dimana pun mereka berada, maka disanalah rumah dan tempat ibadahnya. Mereka telah memiliki kesadaran yang sangat tinggi dan selalu membebaskan alam pikiran mereka tanpa batas. Bahkan mereka sampai pada sikap untuk tidak lagi membutuhkan materi secara berlebihan, mereka telah terbebas dari pikiran material duniawi. Atau secukupnya saja menggunakan materi, karena mereka sadar bahwa materi itu akan selalu mengikat hati dan jiwanya untuk semakin buruk.

Catatan: Pribadi yang seperti warga kota Syinastra inilah yang layak untuk tinggal di negeri Hur ‘Anura atau Valhadir. Dan memang banyak dari mereka itu yang sering berkunjung ke negeri Hur ‘Anura. Sementara ke negeri Valhadir tidak ada, karena dimasa mereka negeri tersembunyi itu masih belum dibangun.

Mereka juga tidak lagi membutuhkan komunitas, apalagi organisasi dan partai politik. Semua itu sudah dianggap kuno sejak lama. Bahkan meskipun mereka tetap memiliki seorang pemimpin, namun tak ada lagi pemerintahan di negeri mereka. Setiap orang telah bebas menentukan pilihan hidupnya dan mengatur dirinya sendiri. Tapi ini tidak berarti mereka lantas hidup bebas sesuka hatinya seperti binatang – seperti manusia sekarang, karena mereka sangat bijak dan anti terhadap setiap perilaku yang menyimpang dari aturan Tuhan. Dan mereka sadar, bahwa apapun yang bertentangan dengan hukum Tuhan itu hanya akan merusak hati dan jalan pikirannya. Hal ini sama saja dengan kebodohan yang mendatangkan kecelakaan memalukan dalam setiap kehidupan.

Karena itu, semua orang yang tinggal di kota Syinastra telah kaya dengan hal-hal keruhanian dan terlepas dari ego yang membelenggu. Mereka sudah penuh kesadaran diri, sehingga tidak lagi membutuhkan aturan hukum dan undang-undang kecuali syariat yang dibawa oleh Nabi Syis AS. Itulah kenapa penampilan mereka selalu tampak menarik, berwibawa dan dari wajahnya terpancar cahaya yang menyejukkan. Mereka sangat santun, murah tersenyum, dan tidak pernah melakukan hal yang sia-sia. Semuanya tertata rapi dan sesuai pada tempatnya. Dan energi-energi negatif tak ada lagi disana, karena semuanya tertolak sebelum bisa masuk ke negeri itu. Semua orang memang telah benar-benar bisa mengendalikan pikiran dan hatinya dengan sempurna.

Sungguh, kota seperti itu tak bisa lagi kita temukan sekarang di muka Bumi ini. Disana telah dipenuhi dengan anugerah alam yang terbaik, yang membuat penduduknya hidup makmur dan sejahtera. Dan ini terus berlangsung selama ribuan tahun lantaran perilaku mereka yang selalu bijaksana dalam mengelola alam. Sehingga dalam kesehariannya, mereka juga tetap bekerja untuk mencari nafkah tapi tidak sampai ngoyo (berlebihan, mati-matian). Mereka tetap menjalankan sunnah kehidupan di Bumi itu untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya saja, itu pun tidak setiap hari. Sehingga mereka bisa memiliki banyak waktu untuk bersantai (relaksasi) dengan keluarganya, berolahraga, dan ber-silaturahim dengan tetangganya. Dan khusus untuk asupan tenaga serta daya tahan tubuhnya, mereka sedikit makan makanan organik karena mampu menyerap energi alam secara langsung. Energi alam itu jauh lebih bermutu dari pada makanan organik yang bergizi.

Lalu pada waktu-waktu tertentu, mereka juga mengadakan pertemuan rutin untuk saling bertukar ilmu pengetahuan dan juga hadiah atau oleh-oleh. Mereka saling berbagi dengan suka cita tanpa ada rasa iri, dengki, angkuh, pamer, pamrih dan prasangka. Mereka adalah masyarakat yang sempurna dan tidak terikat lagi dengan hal-hal material duniawi. Dan meskipun pikiran mereka sudah tercerahkan, namun dengan kerendahan hatinya mereka selalu berusaha untuk membersihkan dirinya sendiri (hati dan pikirannya) secara rutin di setiap harinya – khususnya di waktu senja/magrib. Maka inilah bukti dari keistimewaan mereka, dan semuanya itu berdasarkan pada kesadaran diri yang tinggi. Sehingga tak ada lagi hasrat keinginan daging, juga tak ada pula perlombaan apapun disana, bahkan walaupun itu dalam urusan kebaikan. Karena bagi mereka perlombaan itu hanya akan membangkitkan sikap yang ambisius dan egois, rasa permusuhan dan iri hati, bahkan kesombongan dan puas diri. Begitu pula dengan perdebatan yang tak pernah ada disana, bahkan mereka sampai tidak lagi memerlukan musyawarah mufakat karena sudah penuh kesadaran. Makanya mereka hanya melakukan apa saja yang mereka mau tanpa ada ikatan dosa atau pahala, baik atau buruknya. Semuanya hanya dari dan untuk Tuhannya saja. Diri mereka sudah sangat bijaksana dan dewasa dalam memandang segala sesuatunya di dunia ini. Mereka adalah pribadi Manusia yang sudah paripurna dan waskita.

Selain itu, mereka sudah tidak lagi menggunakan senjata pembunuh (pedang, tombak, panah, senapan, pistol, meriam, rudal, bom, dll) karena itu sudah dianggap kuno dan bukti keterbelakangan mental. Mereka tidak butuh itu lagi, karena sudah penuh cinta dan memiliki kesaktian yang menakjubkan. Tapi ini bukan berarti mereka telah meninggalkan teknologi sepenuhnya. Ada beberapa yang tetap mereka pakai. Dan di antara teknologi super canggih yang masih mereka pertahankan itu adalah pesawat berkecepatan cahaya yang di aktifkan dengan memanfaatkan energi kosmik. Setiap pesawatnya juga telah dibekali dengan senjata kosmik yang jika ditembakkan akan melumpuhkan seberapapun negara yang dijadikan target. Semua peralatan eletronik akan mati total tanpa merusaknya, sementara setiap orangnya akan lumpuh tanpa membunuhnya. Dan senjata khusus ini tidak mengeluarkan suara atau sampai harus menghancurkan apapun (meskipun sebenarnya bisa menghancurkan apapun), karena hanya melumpuhkan sebatas waktu yang diinginkan. Itu semua di lakukan karena mereka tetap menghargai pilihan bebas dari setiap Manusia. Dan senjata ini dikenal dengan nama Mastra, sementara pesawatnya disebut Vasistra. Teknologi super canggih ini hanya akan mereka pergunakan untuk urusan kemanusiaan atau tugas lainnya dari Tuhan.

Mereka juga menyukai pertunjukan seni dan budaya yang bergaya simponi yang mereka ciptakan sendiri. Ada waktu tertentu untuk menikmatinya. Dan sesekali mereka akan berwisata atau melakukan petualangan ke alam bebas selama berhari-hari. Tujuannya adalah untuk lebih menjernihkan pikiran dan meningkatkan kedekatannya pada Sang Maha Pencipta (tadabbur dan tafakur). Ini adalah kebiasaan yang mengakar di dalam kehidupan turun temurun di kaum ini. Sehingga mereka bisa melihat Cahaya Ilahi yang terang benderang itu dalam setiap langkah hidupnya. Meskipun Cahaya-Nya itu berada dimana-mana, tapi mereka bisa melihat Diri Yang Sejati dan Tersembunyi itu dengan lebih jelas dari umumnya penglihatan batin Manusia. Mereka memang sudah di atas rata-rata umat Manusia. Bahkan Dewa-Dewi pun sangat menghormati mereka.

Catatan: Penduduk yang tinggal di kota Syinastra itu tidak hanya terdiri dari satu golongan ras saja. Mereka beraneka ragam namun tetap dalam sikap persaudaraan yang erat.

Sungguh, karena level kehidupannya tinggi, mereka menjadi sosok yang sangat menghormati alam dan makhluk hidup lainnya. Tak ada lagi sikap yang merusak atau semena-mena (menyakiti, membunuh, atau mencemari lingkungan). Dan mereka juga pengendali bagi diri mereka sendiri, sehingga apapun bisa dikendalikan dengan pikirannya saja. Makanya jika mereka ingin suasana hujan, mereka akan segera mendatangkan hujan, tapi jika mereka ingin langit berawan atau cerah, mereka pun akan menciptakan cuaca yang berawan atau cerah. Dan khusus tentang pengendalian elemen alam (air, api, udara, tanah, dan ether), maka sejak lahir setiap orangnya sudah membawa bakatnya sendiri – lantaran kedua orangtuanya bukanlah orang awam. Biasanya satu atau dua elemen yang bisa mereka kendalikan. Lalu setelah berlatih secara khusus, setiap orangnya mampu mengendalikan semua elemen itu dengan mudah. Hati dan pikirannya cukup dipusatkan pada elemen yang diinginkan – atau semuanya, maka saat itu juga bisa segera dikendalikan sesuai kemauannya. Tentulah disini hanya untuk kebaikan saja.

Begitu pun dengan hal-hal yang lain, seperti bisa berbicara dengan Hewan dan Tumbuhan adalah hal yang biasa, atau menciptakan barang-barang yang mereka butuhkan hanya dalam hitungan detik (telekinesis) bukanlah hal yang susah. Sedangkan tentang ber-telepati di antara mereka, maka hal itu sudah dianggap hanya “permainan anak-anak” saja. Dan tidak sedikit dari mereka itu yang sering mondar-mandir ke dimensi lainnya – termasuk ke Kahyangan para Dewa-Dewi – untuk berinteraksi dengan siapapun yang hidup disana. Bahkan di negeri mereka itu memang ada sebuah portal khusus antar dimensi yang bisa digunakan oleh siapapun dari kaum mereka untuk berpetualang. Sungguh negeri mereka ini tak kalah dengan tempat tinggalnya para Dewa-Dewi.

Dan begitulah kondisi dari kaum Sahinastra ini seterusnya. Sebagai pribadi, mereka bisa kembali pada sejatinya diri Manusia yang telah diciptakan oleh Tuhan dengan sangat sempurna. Mereka telah bebas merdeka dengan sepenuhnya (jiwa raga) dengan mengenal lebih dalam tentang hakekat dirinya sendiri dan siapakah Tuhannya itu. Atas bimbingan dari Nabi Syis AS dan juga kemauannya sendiri, akhirnya mereka tampil sebagai kaum yang terbaik. Inilah puncak dari peradaban dunia yang semestinya.

4. Akhir kisah
Wahai saudaraku. Sebagaimana takdir kehidupan di muka Bumi ini, maka kehidupan seperti di Syurga yang ada di kota Syinastra itu harus berakhir. Tapi disini bukan berarti musnah atau hancur akibat bencana. Disebabkan mereka sudah menjalani hidup dengan kebijaksaan yang sempurna, kaum Sahinastra yang tinggal di kota Syinastra itu lalu diperintahkan untuk berpindah ke dimensi lainnya, yang lebih tinggi levelnya. Disana mereka terus menjalani kodrat kehidupannya sampai hari ini.

Adapun peristiwa berpindahnya kaum Sahinastra ini terjadi pada masa raja mereka yang ke-655 atau setelah ±1.520.000 tahun berdirinya kerajaan mereka; Armunastra. Pada saat itu, 3 bulan sebelum waktu kepindahan, raja yang bernama Kamulani itu bertemu dengan Nabi Syis AS di pinggiran kota Syinastra. Sang Nabi lalu mengabarkan bahwa mereka harus berpindah ke dimensi lainnya. Sudah bukan waktunya lagi mereka tinggal di Bumi ini, karena level kehidupannya tidak lagi sesuai dengan tingkat spiritual yang sudah mereka capai. Dengan berpindah ke dimensi yang lebih tinggi, maka pencapaian spiritual mereka itu baru akan meningkat lagi, lagi dan lagi.

Dan atas izin dari Hyang Aruta (Tuhan YME), maka setelah Matahari mulai tergelincir ke arah barat, maka sejak saat itulah kaum Sahinastra dan kota Syinastra berpindah tempat. Semuanya raib tak berbekas. Dan tak lama kemudian, tiba-tiba lokasi dimana kota Syinastra itu pernah berada segera ditumbuhi oleh pepohonan dan terus menjadi hutan yang sangat lebat. Selama ribuan tahun tetap seperti itu, sampai akhirnya dihuni kembali oleh Manusia lainnya – sebenarnya berasal dari kaum Sahinastra yang tinggal di kota lain dan tidak ikut pindah dimensi – yang membangun kota disana. Mereka ini juga bisa hidup makmur dan sejahtera, hanya saja tidak lagi seunggul penduduk kota Syinastra.

Demikianlah kisah dari kota Syinastra itu berakhir. Lalu, khusus untuk kita yang hidup di akhir periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra), sang pendiri kerajaan Armunastra; Prabu Hamulani, sempat berpesan dengan lembut. Adapun kalimatnya sebagai berikut:

“Wahai semuanya. Saat ini Bumi kalian memang telah menderita oleh sebab perilaku Manusia. Tapi bukan berarti kalian harus berputus asa dengan mengubah alur kehidupan dunia. Meskipun tujuanmu adalah untuk keadilan, namun tindakanmu itu bisa saja justru mengecewakan keharmonisan atau mengganggu keseimbangan. Pahamilah dulu arti sesungguhnya dari keseimbangan itu, yang sedang terjadi sekarang. Dan tetaplah kalian berserah diri pada ketentuan yang telah Dia gariskan. Teruslah memperbaiki diri dan biarkan hukum Tuhan yang menentukan tetap berlangsung sebagaimana mestinya.

Sungguh, disini bukanlah hakku untuk menghakimi, karena semuanya itu akan tetap apa adanya. Tugas kalian adalah tetap bersyukur dan rendah hati, serta mencari kebenaran yang tersembunyi di pusat keabadian. Teruslah belajar, karena tujuannya adalah untuk lebih mengetahui sifat-sifat yang tak diketahui, yang tak dipahami dalam kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas. Tekun dan bersabarlah dalam hal ini. Niscaya kalian pun akan beruntung”

Untuk itu, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, Manusia itu memang sudah dibekali dengan berbagai kemampuan yang istimewa. Hanya saja sebagian besar dari kemampuan itu masih tersembunyi dan perlu untuk dibangkitkan. Olah rasa dan olah spiritual yang tekun adalah salah satu caranya. Tujuannya agar diri Manusia itu mampu mengenali dirinya sendiri dan terus membangkitkan kesadaran yang ada demi kebaikan dirinya sendiri. Dan akhir dari semua itu adalah untuk bisa merdeka dan bisa mengenali Tuhannya dengan benar. Setelah ia mengenali hakekat Tuhannya dalam arti yang sesungguhnya, maka seorang Manusia itu baru akan kembali kepada-Nya dalam keadaan yang tenang dan diridhoi. Inilah puncak dari kebahagiaan yang sejati.

Dan mungkin apa yang pernah terjadi di kota Syinastra itu bisa kembali terulang. Akan tiba waktunya sekelompok orang yang terpilih di akhir zaman ini (Rupanta-Ra) untuk tinggal di suatu negeri yang sangat indah dan permai. Tidak jauh berbeda dengan kondisi di kota Syinastra, maka kehidupan disana pun seperti di Syurga. Hanya yang pantas dan memenuhi syarat saja yang bisa tinggal disana. Bagi yang tidak, maka tak usahlah berharap. Jalanilah hidupmu sesuka hatimu, tapi ingat bahwa setiap pribadi itu akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya nanti.

Demikianlah tulisan ini berakhir. Semoga bermanfaat… Rahayu 🙏

Jambi, 28 Maret 2018
Harunata-Ra

Catatah akhir:
1. Sama dengan tulisan sebelumnya, maka silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Itu adalah hak Anda sekalian. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja. Percaya syukur, tapi kalau tidak percaya ya tidak apa-apa.
2. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahami isi dari tulisan ini. Jika tidak, maka dirimu hanya akan menghujat dan mengabaikannya saja.
3. Ada banyak hal yang tak bisa kami sampaikan disini, ada protap yang tak bisa dilanggar. Namun demikian, setidaknya uraian di atas bisa memberikan gambaran kepada Anda sekalian tentang sejatinya diri Manusia itu. Sosok makhluk yang pantas untuk dibanggakan di seluruh alam semesta.

Iklan

4 pemikiran pada “Kota Syinastra : Kehidupan Syurga di Bumi

  1. Tufail

    Oow.. Mantafff.. Rindu terus saya sama artikel” ato apapunlah itu namanya yang memuat tulisan” yang spt ini, “out of the box” kata orang zaman nowmah maklumlah saya ngefans sama sampeyan… 😬 😀

    Kira kira dari kaum Syinastra ini Mohon MAAF apa ada juga dari mereka yg Difabel (berkebutuhan khusus) seperti yg ada pada Zaman Rupanta-Ra kita ini, ato hanya ada pada zaman kita skrg ini saja.
    Saya ingat beberapa doa dari para utusan utusan Hyang Aruta yang sejatinya kalau menurut saya yang gag pintar pintar dan selalu saja awam ini kurang Sholeh gimanalah para utusan Hyang Aruta ini kok masih berdoa dan memohon agar di kumpulkan bersama orang orang Shalih di akherat nanti sepertinya apa mereka mereka ini kayaknya Kaum Syinastra yang para para Nabi maksudkan? Ato dari para penghuni Khayangan? ternyata para Dewa Dewi pada zaman Dirganta-Ra ini, sudah ada kisahnya juga ternyata sudah sangat lampau sekali para penghuni Khayangan ini. Apa ada dari setiap zamannya yang di angkat ato lulus ato bingung saya bahasanya gimana dari mereka ini kaum Syinastra yang menjadi penghuni Khayangan, moga moga gag melanggar protap…?

    Memang sungguh keagungan dan kemuliaan yang besar bagi manusia yang sangat sangat beruntung yang di lahirkan pada Zaman Dirganta-Ra ini wabil khusyus kaum Syinastra ini, apalagi kita di yang di titik nadir skrg ini di perkenankan dan sudi oleh Hyang Aruta untuk bisa berkunjung, singgah apalagi menetap sungguh sebuah Kemuliaan, Anugerah dan juga Keberuntungan, bisa di bilang ini syurga mininya Hyang Aruta dari Syurganya di Akherat kelak. Semoga di penghujung penghujung hari sekarang ini Hyang Aruta sudi menggolongkan kita kedalam golongan orang orang yang beruntung juga di selamatkan.
    Salam…
    Rahayu… 🙏

    1. oedi

      Rahayu juga kang Tufail, nuwun karena masih mau berkunjung, moga ttp bermanfaat.. 🙂

      Walaah.. kayak sama artis aja kang.. sapa juga saya ini.. gak pantes, malu ah.. hehe.. 🙂

      Hmm… Setau saya sih gak ada kang, karena pada masa mereka itu belum ada yg, Maaf, yg kini disebut difabel… Manusia yg hidup dimasa itu semuanya sempurna dlm bentuk fisiknya, hanya sifatnya saja yg kadang jahat dan kufur.. Dan menurut info yg saya pahami selama ini, maka orang2 yg berkebutuhan khusus itu mulai adanya sejak periode zaman ke enam (Nusanta-Ra) ampe sekarang (Rupanta-Ra).. Sebelum periode itu gak ada, kalau pun ada cuma satu dua orang aja. Sangat sangat jarang adanya..

      Ttg doa para Utusan-Nya itu, maka itulah bukti nyata akan kepantasan mereka sebagai utusan-Nya. Kerendah-hatian mereka itulah yg menyebabkan mereka tetap berdoa seperti itu. Karena semakin dekat diri seseorang kepada Tuhannya, maka semakin sadar ia pada setiap dosa dan kesalahan yang ia lakukan – yg menurut sebagian besar manusia bukanlah dosa.. Tingkat ilmu dan pemahaman para utusan itu sudah di atas level Manusia, makanya sikap mereka sangat rendah hati dan tak pernah terbesit dihatinya perasaan sebagai hamba yang shaleh, apalagi merasa sudah mulia.. Ini jelas berbanding terbalik dengan sifat dan pemahaman manusia pada umumnya.. Karena para Utusan itu sangat memahami Diri Kekasihnya, makanya mereka selalu merasa khawatir kalau2 DIA berpaling dari hidupnya.. Dan mereka pun sangat paham bahwa DIA sangat berkuasa membolak-balikkan hati seseorang, karena itulah para Utusan itu selalu berdoa keselamatan di dunia dan akherat nanti – meskipun sebenarnya tak perlu karena mereka sudah Maksum (terjaga dari dosa-dosa) lantaran sudah menerima Wahyu Ilahi..

      Jadi, semakin tinggi ilmu dan pemahaman seseorang, maka akan semakin Istiqomah (tekun dalam kebaikan), Tawaduk (rendah hati), Wara` (menjaga diri lahir batin) dan Qona’ah (merasa cukup apa adanya) lah dirinya.. Di hatinya selalu merasa hina di hadapan-Nya, dan senantiasa memohon ampunan dan ridho-Nya saja.. Sifat2 inilah yg menjadi patokan bagi siapa mereka (orang shaleh) yang dimaksudkan oleh para Utusan itu.. 🙂

      Tentang Kahyangan, sebenarnya itu adalah istilah untuk menunjukkan tempat kehidupan lainnya, yang lebih tinggi levelnya dan berada di dimensi yg lain pula.. Dan Kahyangan itu sebenarnya gak cuma ada satu, tapi banyak sekali dan berbeda-beda levelnya. Penghuninya pun bukan hanya dari kalangan Dewa-Dewi, tapi ada makhluk lainnya juga, termasuklah kalangan Manusia pilihan yg sudah moksa.. Hingga kini, tetap ada yang bisa diterima tinggal disana tapi dg syarat yang sangat susah dipenuhi.. 😦

      Iya kang, kisah para Dewa-Dewi itu sudah lama sekali adanya.. Hanya saja pemahaman ttg sosok mereka itu di masa lalu sangat berbeda dg yg ada skr.. Berubah-ubah setiap zamannya.. Dan khusus utk penduduk Syinastra, mereka tidak tinggal di Kahyangan, tetapi di tempat lain yg khusus diciptakan utk mereka.. Kalo kaitannya dg Kahyangan, mereka tentu bisa dengan mudah berkunjung kesana – bahkan sejak mrk masih tinggal di Bumi ini – dan selalu disambut dg suka cita oleh para Dewa-Dewi dan penduduk disana.. Sebab Manusia itu bisa menjadi seperti Malaikat, tapi bisa juga menjadi seperti iblis berbadan manusia. Nah penduduk Syinastra ini termasuk di antara Manusia yang sifatnya menyerupai Malaikat, makanya gak ada alasan bagi para penghuni Kahyangan utk tidak menerima atau menyambut kedatangan mereka disana..

      Ya kita pun sama kang, bahkan sebenarnya lebih beruntung lagi loh dari mrk.. kenapa? karena di zaman ini ada banyak ganjaran pahala yg tidak pernah ada di masa lalu, ada kemuliaan yang tak bisa dicapai oleh mereka dimasa lalu – karena itulah di akherat nanti umat yang shaleh di zaman ini yang paling duluan masuk ke Syurga, yang lain nyusul di belakang.. Dan ajaran dari Hyang Aruta pun telah sempurna diturunkan, tinggal bagaimana kita mau percaya atau tidak, dan mau apa nggak mengaplikasikannya sehari-hari.. Penduduk Syinastra itu untuk bisa dijadikan contoh teladan dan penyemangat diri kita skr, yg hidup di titir nadir kerusakan akhlak.. Inilah pentingnya ilmu sejarah.. 🙂

      Itu aja kang, maaf kalo kurang memuaskan.. semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dan diselamatkan.. 🙂

  2. Tufail

    Memang sungguh sungguh beruntung kita ini menjadi bagian dari umatnya nabi besar Rasulullah Muhammad SAW dengannya Hyang Aruta selalu menjanjikan pahala yang berlipat kepada umatnya sang Nabi SAW.. Shollu alan nabi…
    Dari itu ada penceramah mengatakan saya baru tahu ternyata bahwa dari Sembah Hyang lima waktu itu ada satu kebiasaan tertua yang sudah di ajarkan untuk di amalkan-laksanakan pada kaum” terdahulu para leluhur kita sebelum adanya perintah Syolat lima waktu seperti skr, pada waktu itu yang sekarang dinamakan Syolat Ashar seperti apa kisahnya? Semenjak pada periode zaman keberapa pula ini terjadi apakah pada kaum Syinastra ini dimulainya dari umatnya Nabi Syis AS?

    Salam…
    Rahayu… 🙏

    1. oedi

      Rahayu juga kang Tufail, nuwun karena masih mau berkunjung… 🙂

      Iya kang, beruntung bgt yg hidup di masa sekarang… tapi sebenarnya itu merupakan ujian yg berat, buktinya byk yg terlena dg banyaknya kemudahan dan ganjaran pahala yg diberikan.. gak sadar kalo sebenarnya sudah masuk dalam jebakat riya dan kufur nikmat..

      Ttg apa yg di sampaikan oleh penceramah yg kang Tufail maksudkan itu saya kurang paham… jadi silahkan tanyakan aja langsung ke orang yg ceramah itu dan mintalah dia menjelaskan yg detil.. 🙂

      Ttg kisah sholat Ashar yg dikaitkan dg para leluhur, maka saya juga kurang paham dg apa yg dimaksudkan oleh kang Tufail, jadi saya pun gak bisa jawab.. Maaf.. 🙂

      Catatan: Lima waktu sholat yg dibawa oleh Rasulullah SAW itu sebenarnya mengikuti waktu-waktu ibadah yang telah diterima oleh para Nabi terdahulu. Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya itu adalah waktu dimana para Nabi terdahulu melaksanakan syariat ibadah hablumminallah.. Jika pada masa para Nabi terdahulu hanya melaksanakan satu atau dua atau tiga waktu saja dalam sehari, maka dimasa Rasulullah SAW menjadi 5 waktu sehari. Alasannya karena merangkum semua syariat yang sudah diturunkan sebelumnya untuk lebih menyempurnakan dan memparipurnakannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s