Wahyu Makutha Rama : Modal Utama Pemimpin Sejati

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Kita akan kembali membahas tentang kepemimpinan yang sejati. Dan kali ini fokusnya adalah apa yang terdapat di dalam Wahyu Makutha Rama. Satu bagian utama yang harus dimiliki oleh seseorang sebelum ia pantas menerima amanah sebagai pemimpin. Dengannya akan terciptalah kedamaian dan kemakmuran. Tanpanya bisa menimbulkan kekacauan dan kesengsaraan.

Adapun mengenai prinsip yang akan dijabarkan ini terhimpun dari petunjuk Ilahi dan pemahaman para leluhur kita dulu, ditambah lagi dengan perenungan diri sendiri di masa kini. Dimana seharusnya kita bisa memahami peran dan posisi diri kita yang sebenarnya di dunia ini.

Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti uraian berikut ini:

1. Hakekat dari Wahyu Makutha Rama
Kata Makutha Rama berarti kebenaran Tuhan yang bersifat memancar. Sehingga Wahyu Makutha Rama disini berarti suatu petunjuk hidup yang berasal dari pancaran cahaya Ilahi. Dan karena sumbernya langsung dari Tuhan, maka seseorang akan terbimbing dalam setiap tindakannya. Seumpama air adalah sumber dari kehidupan, maka air yang mengalir dari sumber itu adalah pancarannya.

Lalu makna dari Wahyu Makutha Rama ini adalah pelajaran hidup agar kita pun sadar bahwa tujuan dan kewajiban Manusia di dunia ini yaitu bisa mencerminkan atau memancarkan sifat Tuhannya. Semakin banyak seseorang bisa mencerminkan sifat Tuhan (kebaikan, ikhlas, cinta, persaudaraan, dll) dalam hidupnya, maka akan semakin kaya pula dirinya dalam mendapatkan berkah dan kasih sayang dari Tuhan. Sehingga apapun tindakannya akan berujung pada kebaikan dan kemuliaan, yang tidak untuk dirinya sendiri, melainkan juga mereka yang ada di sekitarnya.

Catatan: Wahyu yang dibahas disini bukanlah Wahyu Kenabian yang diterima khusus oleh para Nabi dan Rosul, tetapi sesuai dengan kebudayaan Jawa yang diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu karunia dari Tuhan yang diperoleh Manusia secara gaib. Wahyu juga tidak dapat dicari, tetapi hanya diberikan oleh Tuhan kepada seorang yang pantas. Sedangkan Manusia hanya dapat melakukan upaya dengan menekuni “mesu raga” dan “mesu jiwa” dengan jalan tirakat, puasa, ber-semedhi, ber-tapa brata dan berbagai jalan lain yang berkonotasi melakukan olah batin. Tapi tidak setiap kegiatan laku batin itu akan mendapatkan Wahyu, selain atas kehendak atau anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan kata Wahyu menurut kamus Purwadarminta mempunyai pengertian suatu petunjuk Tuhan atau ajaran Tuhan yang perwujudannya bisa dalam bentuk mimpi, ilham dan sebagainya.

Jadi, seorang pemimpin sejati itu – fokus kita disini adalah yang memimpin sebuah bangsa dan negara – haruslah mendapatkan Wahyu Makutha Rama ini dan terus mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena pribadi yang akan mengembalikan kejayaan Manusia itu juga haruslah mendapatkan bimbingan langsung dari Sang Maha Pencipta. Segala tindakannya harus berdasarkan petunjuk dari Tuhan, bukan atas dasar keinginan dan nafsunya sendiri. Yang tentunya akan memberikan dampak yang sangat baik bagi kehidupan makhluk di dunia ini. Tapi untuk bisa mendapatkan itu semua, seseorang harus tekun dalam menjalankan Panca Dasa Brata yang akan dibahas dalam poin selanjutnya. Tanpa hal itu, mustahil baginya menerima Wahyu Makutha Rama, apalagi Wahyu Keprabon (hak atas kepemimpinan bangsa dan negara).

2. Panca Dasa Brata Kotamaning Prabu
Wahai saudaraku. Kita tentu menyadari bahwa sebelum Manusia diciptakan, maka Alam Semesta jauh lebih dulu diciptakan. Karena itu, pada dasarnya alam itu adalah “saudara tua” bagi Manusia. Dan sebagai seorang “adik”, maka tak ada salahnya jika Manusia itu mau meniru sifat-sifat yang dimiliki oleh “kakaknya” – yang terkandung di dalam Alam Semesta itu. Dan Alam Semesta yang dimaksudkan disini minimal ada lima belas, yaitu:

1. Kisma atau Partala (Tanah)
2. Tirta (Air)
3. Agni (Api)
4. Bayu (Udara/Angin)
5. Ardi atau Giri (Gunung)
6. Tasik atau Sagara (Samudra, Lautan)
7. Bhuwana (Bumi)
8. Candra (Bulan)
9. Surya (Matahari)
10. Kartika (Bintang)
11. Hima atau Mega (Awan)
12. Bajra (Halilintar)
13. Upala atau Watu (Batu)
14. Wit atau Tanem (Tumbuhan)
15. Pasu atau Satwa (Hewan)

Nah, ke lima belas sifat di atas adalah apa yang disebut dengan Panca Dasa Brata Kotamaning Prabu atau yang berarti lima belas keilmuan dan laku tirakat kehidupan yang harus diterapkan oleh seorang pemimpin selama hidupnya, atau lebih mudahnya adalah 15 ilmu kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Ini merupakan sebagian dari hakekat Wahyu Makutha Rama yang sesungguhnya, yang harus di miliki oleh seorang pemimpin sejati. Tanpa hal ini, maka seseorang takkan bisa menerima Wahyu Keprabon yang sejati, yang bisa menjadi bukti kelayakannya sebagai seorang pemimpin besar.

Dan begitulah Tuhan sudah mengingatkan agar Manusia itu mau berpikir dan merenungi hakekat Alam Semesta ini. Lihatlah, bahwa mereka (Alam Semesta) selalu tunduk dan hanya mengikuti perintah dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Apapun yang mereka lakukan senantiasa akan selaras dengan kehendak-Nya saja. Mereka patuh dan mengikuti apa saja yang telah Tuhan tetapkan baginya. Tanpa berubah dan tanpa pernah protes, apalagi melawan. Sehingga tiada alasan untuk mengabaikan Alam Semesta dan semua sifat-sifatnya itu. Karena lihatlah:

1. Kisma atau Partala (Tanah)
Tanah memiliki sifat sebagai pijakan dan tempat tumbuhnya makhluk hidup lainnya. Ia selalu memberi tanpa pernah meminta. Sabar, tulus dan ikhlas tanpa ada penyesalan walaupun sering dikhianati dan disakiti oleh Manusia atau yang hidup di atasnya.

Karena itu, dengan menjadikan dirinya sebagai pribadi yang mengikuti sifat dari tanah ini, seorang pemimpin itu akan berjiwa besar dan takkan membenci. Ia rela menjadi tumpuan harapan bagi rakyatnya dan akan menerima apa saja – baik dan buruknya – dengan hati yang ikhlas. Pun terus berusaha untuk memberi dan bisa menjadi sumber kekuatan serta gairah hidup bagi rakyatnya. Ini adalah dasar yang penting dalam sebuah kepemimpinan.

2. Tirta (Air)
Perhatikanlah bahwa Air itu selalu mengalir ke bawah dan terus mengikuti alurnya. Tujuan keberadaannya pun hanya untuk menghidupi makhluk lainnya tanpa meminta balasan. Semuanya gratis seberapa pun diperlukan. Tapi jika dikhianati, Air akan berubah menjadi sangat menakutkan dan bisa menghancurkan.

Begitulah seharusnya sifat dari seorang pemimpin. Seperti Air, ia harus sering turun ke bawah untuk mengecek dan memperhatikan kondisi rakyatnya sendiri. Selain itu, ia juga harus bersikap andap asor (rendah hati), tepo seliro (tenggang rasa), dan tidak melakukan sesuatu hanya untuk pencitraan saja. Harus tulus ikhlas dari hati demi kebaikan rakyatnya. Tapi sebagaimana sifat Air yang bisa merusak (banjir, tsunami), maka saat ia dikhianati, atau negeri dan bangsanya dikhianati – oleh siapapun – seorang pemimpin itu harus bersikap tegas dan membela tanpa memihak. Hanya kebenaran dan keadilanlah yang ia pegang teguh sampai mati.

Selain itu, Air juga memiliki sifat dasar yang dingin. Artinya, seorang pemimpin itu harus selalu bisa mengendalikan emosinya. Ia harus tetap berkepala dingin dalam menghadapi situasi atau masalah apapun. Tidak boleh mudah terpancing, karena selalu mengamati dan mengecek terlebih dulu setiap informasi yang datang. Takkan bertindak sebelum yakin pada kebenarannya.

Dan Air pun selalu berubah bentuknya sesuai dengan tempat dimana ia berada. Artinya, seorang pemimpin itu haruslah mempunyai kemampuan untuk bisa menyesuaikan diri dengan siapapun dan kapanpun juga, termasuklah di antara para pengikut atau bahkan musuhnya. Juga dalam kondisi apapun tanpa canggung dan kebingungan.

3. Agni (Api)
Sebagaimana sifatnya yang membakar, Api tak pernah pandang bulu tentang apa saja yang ada dihadapannya. Demikianlah seorang pemimpin itu haruslah berani dan adil dalam bersikap. Ia pun harus patuh kepada hukum dan menyebarkan kepatuhan itu dengan contoh teladan kepada rakyatnya.

Selain itu, Api juga telah memberikan pelajaran bahwa dalam mengelola negara itu seorang pemimpin harus punya semangat yang membara demi kemakmuran rakyat keseluruhan, bukan hanya demi segelintir orang saja. Dia pun harus memiliki visi dan misi yang jelas demi kejayaan bangsanya. Tidak hanya ikut-ikutan orang lain, apalagi justru menjadi pesuruh atau budak dari orang lain. Dia harus merdeka dan menjadi sinar penerang dalam kegelapan bagi kehidupan di negerinya. Harus jelas sifat dan sikapnya, tidak boleh mencla-mencle, dan selalu jujur dalam setiap ucapan dan tindakannya.

Untuk itulah, seorang pemimpin juga wajib meneladani sifat Api yang berarti menjadi pengobar semangat dan memiliki peran sebagai motivator dan inovator bagi pengikutnya. Selain itu, ia juga harus bersikap netral dan tegas dalam urusan hukum dan keadilan sosial di dunia ini. Dengan begitu ia pun akan terus dicintai dan dihormati.

4. Bayu (Udara atau Angin)
Udara atau Angin itu selalu bergerak dan ada di setiap ruangan. Sangat halus dan tak bisa dipegang, tapi akan sangat menghancurkan jika berkumpul menjadi badai. Dan tentu sifat yang paling utama dari unsur ke empat ini adalah ia sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk pernapasannya. Tak ada Udara atau Angin ini, maka takkan ada pula kehidupan di atas Bumi ini.

Nah begitulah seharusnya keberadaan seorang pemimpin. Ia memang sangat diperlukan rakyatnya demi kejayaan bangsa dan negaranya. Ia pun haruslah sosok yang layak dan punya kapasitas yang cukup untuk memimpin. Tidak hanya kebetulan atau karena ada banyak kepentingan yang mendukungnya dari belakang sebagai pejabat. Atau justru hanya sebatas kong kalikong demi ego, harta dan popularitas.

Oleh sebab itu, seorang pemimpin harus bisa membuat suasana kepemimpinan tetap sejuk, harmonis, dan menyegarkan – bukan malah sering “melucu” atau membuat malu atau membuat gaduh. Dan sebagaimana sifat Udara atau Angin, maka seorang pemimpin itu harus mampu berada di manapun dan kapanpun juga demi rakyatnya. Ia pun harus selalu bergerak dan terus berinovasi demi kebaikan bersama. Juga tetap bersikap lembut dan santun kepada siapapun.

Tapi ketika ada yang melecehkan bangsa dan negerinya, atau berbuat kezaliman di atas Bumi ini, maka sebagaimana sifat Angin yang bisa menjadi badai, seorang pemimpin itu harus bisa bangkit dan menghancurkan musuhnya. Ia akan menyatukan rakyatnya dan memimpin mereka dalam meraih kemenangan – bahkan di medan perang. Bukan justru diam saja ketika ada yang merendahkan martabat bangsa dan negaranya, atau menebar teror dan kekejian dimana-mana. Atau hanya pandai berkata-kata dan pencitraan namun tanpa tindakan yang nyata. Alias hanya sekedar bicara dan beretorika saja demi menenangkan suasana. Atau hanya takut kalau rakyatnya sampai marah dan menggulingkan kekuasaannya jika ia tak berpidato apa-apa, sehingga apapun yang dia katakan hanya sebatas formalitas belaka. Bahkan penuh dusta dan penipuan.

5. Ardi atau Giri (Gunung)
Lihatlah bahwa Gunung itu selalu menancap sebagai pasak/pakunya Bumi. Ia tak bergerak dan kokoh ditempatnya. Dan keberadaan Gunung juga menjadi penyebab suburnya lahan garapan, sehingga menimbulkan kemakmuran bagi siapapun yang tinggal di sekitarnya. Artinya, seorang pemimpin itu harus bisa menaklukkan nafsu dan godaan duniawi yang menipu, musuh abadi Manusia. Ia mesti bersikap teguh pendirian dan tak mudah tergoda dengan apapun yang keliru dan salah. Seindah dan semenarik apapun itu, tak ada keinginan dihatinya untuk mendekat jika itu tak lagi sesuai dengan kebenaran. Karena justru ia akan memerangi apapun yang tak sesuai dengan hukum Tuhan. Sehingga ia lebih memilih hancur ketimbang harus mengikuti sesuatu yang salah dan penuh dusta.

Ya. Keberadaan Gunung pun senantiasa memberikan isyarat bahwa sebagai seorang pemimpin itu ia harus bersikap kesatria yang gagah perwira. Sikap dan gerak-gerik tubuhnya berwibawa dan mantap, alias tidak letoy dan senang cengegesan. Rela berkorban jiwa raga demi bangsa dan negaranya. Dan rakyatnya selalu menjadi prioritasnya dalam berjuang dan membangun peradaban yang gemilang.

Dan ketika ia mengikuti sifat dari Gunung ini, maka baginya kehidupan di atas dunia ini harus tertata rapi dan jauh dari pengaruh kegelapan – yang timbul oleh karena bebasnya nafsu di lakukan. Seorang pemimpin harus tak bergeming dalam prinsip kezuhudan (tidak terlalu mencintai duniawi) dan sering mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah sementara. Segala kenikmatannya hanyalah semu dan tipu daya. Dan ia akan selalu mengajak dan atau memberi contoh teladan tentang kehidupan yang bisa mempersiapkan bekal akherat. Sehingga menjadi aman sentosalah dirinya dan rakyatnya. Negerinya pun akan makmur dan diridhoi oleh Tuhan Sang Maha Pemberi karunia.

6. Tasik atau Sagara (Samudera, Lautan)
Secara alami, Samudera itu sangat luas melebihi luasnya daratan. Artinya, pemimpin itu harus memiliki wawasan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam Samudera. Disamping wawasan yang luas, seorang pemimpin itu juga harus berjiwa lapang dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Selain itu, Samudera juga bersifat menampung seluruh air dan benda-benda yang mengalir kepadanya. Disini berarti seorang pemimpin itu harus memiliki sifat yang mau menampung semua kebutuhan, kepentingan, isi hati dari rakyatnya, dan harus bersifat aspiratif demi kepentingan orang banyak. Tanpa hal ini, maka tak patutlah ia disebut sebagai pemimpin.

7. Bhuwana (Bumi)
Bumi itu ibarat ibu kandung kita sendiri. Ia memiliki peran sebagai ibu yang memiliki sifat keibuan, yang terus memelihara dan menjadi pengasuh, pendidik, serta pengayom bagi makhluk yang hidup di atasnya. Bumi juga memiliki atmosfer yang melindungi semua makhluk yang hidup di Bumi dari radiasi Matahari. Tanpa atmosfer, Bumi tidak mungkin menjadi tempat tinggal yang layak bagi makhluk hidup. Dengan atmosfer pula benda-benda langit seperti meteor akan tertahan dan terbakar habis saat memasuki orbit Bumi. Artinya, seorang pemimpin itu harus bisa menjadi pemelihara, pengasuh, pendidik, pengayom, serta pelindung bagi siapapun yang mengikutinya. Bahkan ia rela bertaruh nyawa untuk hal ini.

Selain itu, Bumi juga merupakan tempat untuk mencari nafkah dan mencari sumber kehidupan. Artinya, seseorang itu jika telah sanggup menerima amanah sebagai pemimpin, maka ia harus memikirkan kesejahteraan rakyatnya dan mampu memakmurkan semuanya. Ia juga harus bisa menjadi sumber kedamaian dan ketertiban orang banyak dengan setiap gagasan dan aturan yang ia terapkan. Tak boleh menindas atau mengabaikan hak orang lain. Harus mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang dirinya sendiri. Dan penuh kasih sayang serta bijaksana kepada semua rakyatnya, seperti seorang ibu kepada anak-anaknya.

8. Candra (Bulan)
Bulan memiliki sifat-sifat yang menyenangkan bila dipandang. Siapapun akan senang melihat Bulan, karena Bulan juga diibaratkan sebagai gambaran kehidupan yang romantis dan suasana yang sangat didambakan dalam memadu cinta. Artinya, seorang pemimpin itu harus berpenampilan menarik (bukan mewah), penuh wibawa dan kharismatik. Meskipun ia bersikap rendah hati dan berpakaian sederhana, tapi tak pantas baginya untuk berbuat sesuatu yang merendahkan kedudukannya. Tak boleh baginya untuk bersikap konyol atau yang melanggar norma dan kepantasan. Dan apapun yang ia ucapkan harus dipikirkan dulu sekaligus tak boleh ditarik kembali, apalagi sampai melanggar janjinya sendiri. Jika itu ia lakukan, maka sebenarnya dirinya hanyalah seorang pendusta yang munafik dan sangat tak pantas menjadi pemimpin.

Dan bagi seorang pemimpin, maka ia harus memperlakukan pengikutnya dengan dilandasi oleh hati nurani. Dalam memperlakukan seseorang, ia harus penuh rasa kemanusiaan (humanis), lemah lembut, penuh perhatian, dan kasih sayang. Pemimpin juga harus memperhatikan harkat dan martabat pengikutnya sebagai sesama. Dan meskipun ia seorang kepala negara, itu bukan berarti dirinya lebih tinggi dari orang lain. Ia harus selalu menghormati semuanya, karena sadar bahwa jabatan itu hanyalah sementara, bersifat amanah, dan akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di akherat. Berat sekali beban menjadi seorang pemimpin itu, dan sungguh tak seharusnya menjadi rebutan.

9. Surya (Matahari)
Sifat menerangi yang dimiliki oleh Matahari dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai “Gawe pepadang marang ruwet rentenging liyan” yang berarti harus mampu membantu mengatasi kesulitan atau memecahkan problematika yang dihadapi oleh pengikutnya. Artinya, seorang pemimpin itu memiliki peran sebagai pengarah dan pengendali, sebagai sumber kekuatan yang digunakan untuk “memengaruhi” pengikutnya menuju kebaikan, dan keberadaannya sangat dibutuhkan oleh orang lain.

Dan seorang pemimpin itu harus bisa berusaha untuk membuat dunia ini menjadi terang benderang. Yang dapat dimaknai adanya peningkatan dari ketidaktahuan menjadi tahu, dari kebodohan menuju pandai, dan dari ketidakberdayaan menjadi berdaya. Ia pun harus menjadi juru selamat bagi rakyatnya, baik selama di dunia maupun di akherat nanti. Bukan malah sebaliknya membuat keadaan semakin kacau dan memalukan.

10. Kartika (Bintang)
Secara alami, Bintang itu dapat menunjukkan arah di waktu malam. Bintang juga dapat diibaratkan sebagai dambaan dari cita-cita, tumpuan harapan, dan sumber inspirasi. Artinya, seorang pemimpin itu harus memiliki cita-cita yang tinggi, visioner (berpandangan jauh kedepan), pemberi arahan, sumber inspirasi, dan menjadi tumpuan harapan.

Dan menjadi seorang pemimpin itu tentulah harus cerdas dan apapun yang di lakukannya mestilah yang terbaik, terukur dan penuh pertimbangan. Ada semangat kemajuan di dalamnya, dan itu harus ia tularkan kepada rakyatnya agar bangsa dan negaranya maju serta meraih kejayaan. Tujuannya tiada lain kecuali demi kebaikan bersama dan tidak hanya sebatas ketika ia masih menjabat saja, tetapi sampai kepada generasi berikutnya.

Demikianlah ke-10 laku tirakat yang harus dijalani oleh seorang pemimpin seumur hidupnya. Dahulu kala, para leluhur kita mensyaratkan agar sebelum memangku jabatan sebagai raja atau ratu, seseorang itu harus menguasai minimal Dasa Brata (10 laku tirakat) di atas. Itulah sebagian yang terkandung di dalam Wahyu Makutha Rama. Yang berarti wejangan dan pola hidup yang baik dan sesuai dengan kebenaran, yang mulia dan sesuai pula dengan kemanusiaan. Dan ini harus dimiliki oleh seorang pemimpin, karena jika tidak akan menyebabkan negaranya menjadi kacau, hilang kewibawaan, melarat dan diterpa banyak bencana.

Selain itu, ada 5 sifat dari Alam Semesta yang perlu ditiru oleh seorang pemimpin. Yaitu:

11. Hima atau Mega (Awan)
Awan merupakan makhluk di angkasa yang terdiri dari sekumpulan uap air. Ia sering “berlarian” kesana dan kemari, selaras mengikuti pergerakan hembusan Angin. Awalnya, Awan hanya berbentuk gumpalan kecil namun lama kelamaan akan berkerumun lalu membesar. Dan seiring waktu, Awan yang besar itu akan mengalami kejenuhan di ketinggian angkasa yang terbuka. Dengan adanya kejenuhan ini, maka partikel awan yang berupa uap air itu akan mengkristal kemudian menjelma sebagai bulir-bulir air. Karena bobot air yang lebih berat dari pada uapnya, air pun jatuh dalam bentuk rintik yang biasa kita sebut dengan hujan.

Selain itu, Tuhan Yang Maha Esa memang adil dan senantiasa menjawab kebutuhan makhluk yang beraneka ragam. Walaupun kadang Dia memberikan suasana yang cerah nan terik, tapi sesekali juga menciptakan jenis angkasa yang memberikan keteduhan. Keteduhan itu, tak lain diciptakan oleh Sang Maha Kuasa lewat Awan yang sengaja Ia kumpulkan di angkasa. Dengan Awan tadi, akan terbentuklah bayangan yang tentunya meneduhkan bagi setiap makluk yang ada dibawahnya (di permukaan Bumi).

Nah, dari Awan ini maka seorang pemimpin itu bisa mengambil pelajaran untuk selalu bisa membawa keteduhan dimanapun ia berada. Selain itu, Awan juga mengajarkan tentang persatuan. Karena saat kita menengadah ke angkasa yang berawan, pastinya kita akan melihat Awan itu dengan berbagai ukuran. Ada yang besar, sedang, sampai yang kecil. Awan yang berukuran paling besar sebenarnya hanyalah kumpulan dari beberapa Awan yang berukuran lebih kecil, dan faktanya mereka memiliki ketinggian yang berbeda. Tapi walaupun begitu, mereka memiliki sifat alami yang saling mengikat dan bersatu untuk menjadi sebuah kesatuan Awan yang besar dan akhirnya menjadi rintik hujan yang bisa menyirami Tanah. Sehingga dari peristiwa alam inilah kita bisa memahami, bahwa persatuan itu amatlah penting bila menginginkan sebuah kekuatan dan kesatuan yang berukuran besar.

Selanjutnya, Awan juga mengajarkan bahwa di dunia ini jumlah dan besaran itu tak patut dibanggakan. Apapun itu, semuanya bermula, mengalami proses, dan akan hancur pada waktunya. Seperti Awan yang hadir sendiri-sendiri lalu berkumpul menjadi besar dan menciptakan hujan, yang akhirnya pun menghilang dan bisa terbentuk lagi pada saat yang lain. Sehingga ego dan kesombongan diri itu haruslah selalu dihilangkan. Jika tidak maka akan sangat merugikan.

12. Bajra (Halilintar)
Halilintar adalah makhluk yang biasanya muncul pada musim hujan. Di saat angkasa memunculkan kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan, itulah sosok Halilintar yang sedang bekerja. Dan beberapa saat kemudian disusul dengan suara menggelegar yang disebut Guruh. Perbedaan waktu kemunculan ini disebabkan oleh adanya perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan cahaya.

Nah, dari peristiwa di atas maka seorang pemimpin itu bisa mengambil pelajaran hidup yang berharga. Ada banyak peringatan dari Halilintar ini, seperti berikut ini:

1. Suara Halilintar yang menakutkan. Ini adalah peringatan bagi seorang pemimpin agar ia selalu tunduk-takut dan patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Suara Halilintar yang menggetarkan itu menakutkan. Ini sebagai peringatan agar suara dari seorang pemimpin, kata-katanya itu, harus mampu menggetarkan hati rakyatnya agar tergerak untuk menciptakan kemajuan dan kebangkitan bersama. Kata-katanya harus bernuansa kebaikan, kemuliaan dan menyerukan pada persatuan. Setiap kata-kata dari seorang pemimpin itu harus berbobot dan atau “menakutkan” agar siapapun tidak tergerak untuk melakukan kesalahan dan dosa. Dan kata-katanya itu juga harus mampu menggetarkan hati musuh-musuhnya sehingga tidak berani macam-macam kepada bangsa dan negaranya.
3. Halilintar tidak pernah memilih targetnya. Ini berarti seorang pemimpin itu tidak boleh memilah-milih (berpihak), karena siapapun dia kalau benar ya harus dibela dan kalau dia salah maka harus tetap dihukum. Membela dan menghukum itu harus tegas, seperti Halilintar yang tak pandang bulu saat menyambar targetnya.
4. Halilintar selalu menyambar benda yang tertinggi. Ini adalah peringatan agar siapapun tidak boleh tinggi hati, sombong, dan merasa puas diri, supaya tidak mendapatkan hukuman-kutukan dari Tuhan. Artinya, seorang pemimpin itu harus tetap sadar diri tentang siapakah dirinya yang sebenarnya, yang tidak lebih dari seorang makhluk yang fana dan tak berdaya.
5. Halilintar kecil (Petir) akan selalu mengikuti Halilintar yang besar (Bledheg). Ini artinya seorang pemimpin itu harus mampu menjadi teladan agar rakyatnya bisa mencontoh dan mengikuti kebenaran dalam dirinya. Teladan bukan hanya sebatas ucapan dan nasihat, tapi lebih kepada sikap dan perbuatannya sehari-hari.

13. Upala atau Watu (Batu)
Batu merupakan makhluk yang banyak kita jumpai di setiap lahan terbuka. Sifatnya keras dan tahan lama, sehingga bisa dimaknai sebagai pelajaran kepada Manusia untuk tetap memegang teguh prinsip kebenaran tanpa batasan waktu. Kokoh dan tak berubah sampai batas usianya nanti.

Lalu apabila Batu itu digosok, maka ia akan menampilkan corak-corak tertentu yang indah dan memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dari pada Batu yang cuma menjadi bagian dari beton. Namun tidak semua Batu itu dapat memunculkan coraknya. Karena di antara Batu yang memiliki potensi, mereka pun harus melalui proses yang sulit dan berliku. Bahkan tidak jarang pula Batu itu menjadi pecah ketika sedang di proses, dan ini menyebabkan si Batu menjadi kurang berharga, bahkan tak bernilai lagi.

Seperti itu pula seorang Manusia, dimana Tuhan sudah memberikan potensi besar kepada setiap dirinya. Hanya saja untuk memunculkan “corak yang indah” sehingga seorang Manusia itu memiliki nilai lebih dibandingkan dengan yang lainnya, maka dibutuhkan proses yang tidak mudah, tidak bisa instan dan penuh rintangan. Jika ia gagal, maka akan menjadi seperti batu yang gagal diproses, tak bernilai lagi. Begitulah seorang pemimpin yang sejati. Tak ada jalan yang mudah baginya untuk meraih kehormatan itu. Harus sabar dan tekun tanpa menyerah.

Dan pada akhirnya ia pun harus ingat bahwa pada suatu saat nanti akan ada sebuah batu yang di atasnya tertulislah sebuah nama yang tiada lain adalah namanya sendiri. Itulah batu nisan yang menunjukkan tak ada yang abadi di dunia ini. Siapapun itu akan mengalami kematian, cepat atau lambat. Inilah peringatan bahwa segala sesuatu itu pasti ada batasnya. Begitulah jabatan pemimpin itu tak bisa selamanya di pegang. Akan diambil jika sudah waktunya nanti, dan siapapun yang pernah memegangnya akan dimintai pertanggungjawaban yang tidak mudah.

14. Wit atau Tanem (Tumbuhan)
Perhatikanlah para Tumbuhan yang selalu tumbuh ke atas. Ini berarti seorang pemimpin itu harus terus berusaha untuk meraih mimpi dan cita-cita – yang baik – setinggi mungkin. Setiap hari seorang pemimpin itu juga harus bertumbuh dan terus berkembang (ilmu pengetahuan dan kemampuannya)  untuk menjalani kehidupan ini serta meraih tujuan yang sejati sebagai makhluk Tuhan.

Dan lihatlah bahwa Tumbuhan itu juga membutuhkan air, sinar Matahari, dan mineral atau pupuk sebagai faktor utama dalam pertumbuhannya. Begitu juga dengan hidup Manusia yang sangat membutuhkan spirit lahir dan batin, dan berbagai bentuk semangat, cinta dan kasih sayang antar sesama. Jika ini diabaikan, maka akan menyebabkan ketidakseimbangan. Dan bila itu sampai terjadi pada seorang pemimpin, maka kehidupan di atas dunia ini akan berlangsung menyedihkan.

Karena Tumbuhan yang telah tumbuh dan menghasilkan manfaat itu juga harus mengalami masa-masa suramnya dalam menghadapi berbagai masalah. Begitu pula dengan seorang pemimpin, meskipun hidup dalam segala cobaan dan ujian yang berat, maka ia pun harus tetap bisa memberikan manfaat bagi dunia. Bukan justru sebaliknya menjadi beban dan menyengsarakan rakyatnya sendiri.

15. Pasu atau Satwa (Hewan)
Meskipun tak sesempurna Manusia, namun kepada Hewan kita perlu belajar tentang berbagai hal. Misalnya saja ikan Salmon. Ia lahir di sungai, bermigrasi ke laut sampai dewasa, kemudian kembali ke sungai untuk tujuan berkembang-biak dan akhirnya mati. Dan perhatikanlah juga tentang betapa seekor Salmon itu dengan gigih berjuang melawan arus dan melompati air terjun. Sungguh kegigihan yang luar biasa, karena dibutuhkan fokus dan semangat yang tekun untuk bisa sampai ke tujuannya untuk bertelur. Ia selalu berserah diri dan taat menjalani sunnah kehidupan yang telah Tuhan tetapkan baginya. Sekalipun harus mati, ia tetap berusaha semampunya tanpa pernah menghindar.

Itu baru satu jenis Hewan saja, masih banyak lagi yang lain yang patut dijadikan sebagai teladan bagi seorang pemimpin. Seperti Semut yang mengajarkan gotong royong, Gajah yang mencotohkan solidaritas, Elang yang sangat lincah dan gesit atau Siamang yang menunjukkan kesetiaan. Maka ia bisa mengamati dan merenungkannya sendiri dengan melihat dan menghayati seluk beluk kehidupan mereka, para Hewan itu. Sehingga hal ini akan sangat membantu dirinya sendiri untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang seharusnya.

Catatan penting: Seandainya materi tentang Panca Dasa Brata di atas masuk dalam kurikulum pendidikan di negeri ini sebagai mata pelajaran etika yang wajib. Hal ini akan membawa kebaikan dan hal-hal yang positif bagi generasi muda dan yang akan datang. Dan ini jelas lintas agama dan kepercayaan, karena berdasarkan kodrat dan fitrah diri Manusia yang sesungguhnya.

3. Penutup
Wahai saudaraku. Ke lima belas laku tirakat di atas (Panca Dasa Brata) adalah syarat minimal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin sejati. Itulah sebagian dari hakekat Wahyu Makutha Rama yang sesungguhnya, yang akan menjadi modal utama bagi seseorang untuk benar dalam memimpin. Sebuah wejangan dan perilaku hidup yang seharusnya telah menyatu di dalam diri seseorang, khususnya pemimpin negara. Sehingga ia menjadi pantas menerima kedudukan yang sangat terhormat itu.

Makanya seorang pemimpin itu adalah pribadi yang di dalam dirinya terdapat bermacam karakter dan sifat yang utama. Dan semuanya itu harus mampu ia terapkan pada waktu dan kondisi yang tepat, sepanjang hidupnya. Tentunya disini tak boleh ada sikap yang mencla-mencle, karena seorang pemimpin itu harus layak digugu lan ditiru (jadi suri teladan).

Dan kini tengoklah dimana-mana, di negeri ini atau bahkan di seluruh dunia, apakah masih ada tokoh yang tetap melakoni Panca Dasa Brata tersebut? Jika memang ada, maka ia pantas untuk menerima pulung goib dari Wahyu Makutha Rama, yang pada akhirnya bisa menerima Wahyu Keprabon. Dengannya akan layak pula ia menjadi seorang Khalifah (pemimpin besar) bagi sekalian makhluk, sehingga menciptakan kedamaian dan kemakmuran di dunia ini.

Atau yang lebih penting dari itu semua adalah tanyakan pada diri kita sendiri apakah sudah belajar kepada alam tentang Panca Dasa Brata itu? Sudahkah kita meneladaninya? Dan seberapa sering pula kita mengamalkan laku tirakat hidup itu? Karena inilah yang terbaik dan sangat berharga selama hidup kita.

Semoga tulisan ini bermanfaat.. Rahayu _/|\_

Jambi, 26 Maret 2018
Harunata-Ra

[Disarikan dari berbagai sumber dan diskusi]

10 respons untuk ‘Wahyu Makutha Rama : Modal Utama Pemimpin Sejati

    […] Wahyu Makutha Rama Kata Makutha Rama berarti kebenaran Tuhan yang bersifat memancar. Sehingga Wahyu Makutha Rama ini berarti suatu petunjuk hidup yang berasal dari pancaran cahaya Tuhan. Dan karena sumbernya […]

    Tufail said:
    April 2, 2018 pukul 12:52 pm

    Waduh ini cocok sekali kalau di sampaikan kepada yang gila jabatan, kedudukan juga kekuasaan sekarang sekarang ini pas banget lagi musim pilkada… 😁
    Kalau bisa 50% saja dari para bakal calon yang akan bertempur untuk pilkada nanti itu lumayan banget, menyerap pesan dari para Leluhur Nusanta-Ra kita ini tentang ajaran dari Wahyu Makhuta Rama tapi kayaknya suatu Hil yang Mustahal ya, mimpi kali yee… 😁
    Salam…
    Rahayu… 🙏

      oedi responded:
      April 3, 2018 pukul 2:53 am

      Rahayu juga kang Tufail, nuwun atas kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Hmm.. gak cuma cocok utk yg nyari jabatan, tapi bagus juga utk materi kurikulum sekolah.. Pemahaman etika dan tata krama itu sangat penting kalo bangsa ini ingin maju dalam arti yg sebenarnya.. Kalo gak, ya akan terus jadi pengekor, penjilat, bahkan jongosnya bangsa lain..

      Iya kang, bisa 50% aja mrk udah bagus bgt.. Tapi entah kenapa saya skr makin pesimis itu bakal terjadi, karena ada banyak faktor yg membuat itu serasa tak mungkin alias mustahil.. Mungkin waktu revolusi terbesar dalam sejarah negeri ini akan segera terjadi, dan hasilnya baru akan mengubah semua yg buruk yg telah diagungkan selama ini oleh mereka2 itu.. semoga saja..

    Asaja said:
    April 12, 2018 pukul 4:42 pm

    Makasih bang udah membuka cakrawala saya untuk kesekian kalinya, sekaligus untuk referensi.baru 🙂
    Sedikit pertanyaan, waktu baca urutan 1-7 dan pindah ke objek langit ngerasa agak aneh waktu tiba-tiba baca di urutan 8 bulan, dan setelah itu baru matahari. soalnya pernah dengar dimana tentang pepatah atau kalimat atau puisi lama tentang surya-candra-kartika, jadi apakah memang dari sudut bang Haru memang ada sesuatu tentang bulan karena sampai disebut sebelum matahari, atau mungkin ada pola penulisan lain yang ingin disampaikan bang Haru?
    Maaf kalau kurang bermutu pertanyaannya dan kurang penting hehe, hanya menuruti kehendak hati saja. Sebenernya masih ingin nimpali lagi tentang bahasan air dan tanah, dan gunung juga, tapi takut kebanyakan dan salah tempat untuk menuliskan hehe. 🙂

      oedi responded:
      April 13, 2018 pukul 1:08 am

      Iya sama2lah mas Asaja, makasih juga karena sudah mau berkunjung, semoga bermanfaat.. 🙂

      Waah nyante ajalah mas, silahkan bertanya apapun. Kalo bisa jawab akan segera saya jawab, tapi kalo gak ya harap maklum.. ilmu saya kan masih cetek banget neh… 🙂

      Hmm.. tentang Bulan, Matahari dan Bintang, maka saya memang sengaja keluar dari doktrin atau kebiasaan yg sudah ada selama ini.. Ada bbrp alasannya, dan salah satunya adalah dengan melihat ukuran, jarak dan sifat dari ketiga benda Angkasa tersebut. Untuk lebih jelasnya ttg hal ini silahkan mas Asaja berkunjung langsung ke tulisan saya ini: https://oediku.wordpress.com/2018/04/06/multiverse-bukti-keagungan-tuhan/#more-10548. Semoga bisa menjelaskan di antara alasan saya itu.. 🙂

    Asyifa Wahida said:
    Juni 18, 2019 pukul 10:11 am

    Mas oedi kulo izin share enggih ….

      Harunata-Ra responded:
      Juni 18, 2019 pukul 1:10 pm

      Silahkan aja.. Moga ttp bermanfaat.. 😊🙏

    Kebebasan Diri « Perjalanan Cinta said:
    Oktober 24, 2019 pukul 3:57 pm

    […] sangat luas yang bisa dipahami dengan salah satu caranya yaitu mendalami apa yang disebut dengan Wahyu Makutha Rama dan tentunya Wahyu Keprabon bagi manusia – sebagaimana yang pernah dibahas dalam blog ini. […]

    m jafar siddiq said:
    Oktober 24, 2019 pukul 4:44 pm

    […] luas yang bisa dipahami dengan salah satu caranya yaitu mendalami apa yang disebut dengan Wahyu Makutha Rama dan tentunya Wahyu Keprabon bagi manusia – sebagaimana yang pernah […]

    […] diiringi oleh wahyu-wahyu yang lainnya seperti: Wahyu Purba, Wahyu Sejati, Wahyu Cakra Ningrat, dan Wahyu Makutha Rama, dan menguasai hal-hal yang lain lagi. Tanpa hal itu, maka tidak pantaslah siapapun itu disebut […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s