Valhadir : Negeri Lima Bangsa

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Tersebutlah kisah di awal-awal periode zaman kelima (Dwipanta-Ra), tepatnya di seputaran kawasan Asia, Pasifik, Australia dan New Zealand. Pada masa itu, makhluk yang disebut sebagai bangsa Peri, Karudasya, Cinturia dan Naga masih hidup di muka Bumi ini. Mereka berdampingan dengan Manusia, namun tak begitu dekat karena bahkan hampir tak saling kontak kecuali dengan orang-orang tertentu saja. Ke empat bangsa lain itu memang lebih memilih menghindari kontak langsung dengan Manusia. Demikianlah keputusan yang telah mereka ambil sejak awal kemunculan mereka di periode zaman kelima (Dwipanta-Ra) berlangsung.

Perlu diketahui bahwa pada masa itu, seluruh kawasan Nusantara masih menyatu dengan wilayah Asia, India Kepulauan Pasifik, Australia dan New Zealand. Membentuk sebuah daratan benua yang maha luas, yang menampung berbagai keunikan dari kehidupan makhluk. Dan kawasan tersebut pada masa itu oleh bangsa Peri disebut dengan Antariel, sementara bangsa Manusia menyebutnya Parusala, yang keduanya berarti negeri yang indah dan menawan. Karena apa yang ada pada saat itu sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Anda boleh saja membayangkannya dengan kisah dongeng Narnia, meskipun apa yang terjadi pada masa itu bukanlah sebuah dongeng. Semuanya adalah fakta yang telah di anggap mitos dan legenda pada masa sekarang.

Nah, untuk lebih jelasnya mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Semua kisah yang diceritakan disini berawal sejak kehidupan di muka Bumi ini sudah berada di akhir periode zaman ke empat (Swarganta-Ra). Pada masa itu, sesuai dengan hukum universal yang telah Hyang Aruta (Tuhan YME) tetapkan, maka kondisi Bumi harus mengalami peremajaan. Perilaku Manusia sudah tidak bisa lagi ditolelir. Karena itulah pemurnian total harus terjadi untuk menciptakan kehidupan di atas Bumi kembali normal seperti sedia kala. Keseimbangan harus diwujudkan lagi.

Dan ketika waktu yang sudah ditetapkan tiba, maka saat itu juga terjadi bencana yang maha dahsyat di seluruh Bumi. Dimana-mana terjadi huru-hara dan kegaduhan besar akibat gunung-gunung meletus, gempa bumi, hujan badai, tsunami, dan “serangan” meteor dari langit. Bumi terus di daur ulang. Satu persatu negeri yang telah berdiri selama jutaan tahun segera hancur luluh beserta penduduknya yang sangat banyak. Semuanya di musnahkan tanpa ada yang tersisa. Semuanya mati kecuali bagi mereka yang telah di selamatkan sebelum peristiwa mengerikan itu (pergantian zaman) terjadi.

Lalu, setelah waktu di Bumi memasuki periode zaman kelima (Dwipanta-Ra), maka kira-kira setelah 1.000 tahun berikutnya, barulah Manusia yang telah di selamatkan dari penghakiman di akhir zaman ke empat itu (Swarganta-Ra) segera di kembalikan ke Bumi. Mereka lalu di perintahkan untuk menyebar dan mendirikan peradaban mereka masing-masing. Setiap golongan harus mendirikan peradaban baru yang sesuai dengan karakter dan ciri khas mereka sendiri. Pada masa itu, setiap rasnya punya keunikannya masing-masing. Dan mereka inilah yang kelak menjadi cikal bakal dari semua Manusia yang hidup di Bumi sampai hari ini.

Catatan: Pada saat itu mereka yang terpilih untuk diselamatkan dari pemurnian total dibawa ke sebuah dimensi khusus yang berada jauh di luar sistem tata surya kita. Disana kondisinya sangat berbeda dengan di Bumi. Setahun disana akan sebanding dengan 100 tahun di Bumi. Karena itulah, cukup tinggal selama 10 tahun saja, itu akan sama dengan 1.000 tahun di Bumi. Waktu yang cukup untuk bisa menjadikan Bumi ini siap di huni kembali oleh bangsa Manusia.

Waktu pun terus berlalu, setiap ras atau golongan Manusia yang hidup kembali di Bumi telah membangun peradaban yang tinggi di negerinya masing-masing. Mereka masih hidup dalam kerukunan dan tak pernah berselisih sampai menyebabkan pertempuran. Lalu, pada sekitar 50.000 tahun berikutnya, atas kehendak-Nya maka satu persatu makhluk lainnya turut hadir meramaikan Bumi. Mereka kembali ke muka Bumi ini setelah lama menghilang (berpindah ke dimensi lain). Mereka itu dimulai dari bangsa Peri yang pertama kalinya muncul dan secara berurutan menyusul pula bangsa Karudasya, Cinturia, dan Naga. Ke empat golongan itu menempati beberapa wilayah yang jauh dari kota-kota yang telah dibangun oleh Manusia. Dan seperti halnya bangsa Manusia, mereka juga membangun peradaban yang tinggi, bahkan lebih indah dari yang telah dibangun oleh bangsa Manusia.

Catatan: Sekedar mengingatkan, bahwa bangsa Karudasya itu berwujud campuran antara Manusia dan Hewan yang berkaki empat, khususnya kuda dan mereka bisa berbicara seperti Manusia. Sementara bangsa Cinturia itu berwujud campuran antara Manusia dan Hewan yang hidup di air khususnya ikan dan yang bisa terbang khususnya burung, dan mereka juga bisa berbicara seperti Manusia. Sedangkan bangsa Naga itu adalah makhluk yang tak jauh berbeda dengan gambaran dalam mitologi yang ada sekarang, khususnya yang berasal dari Yunani, Skandinavia dan China. Wujudnya secara umum ada dua jenis, ya seperti gambaran Naga di Eropa (ular berkaki empat dan bersayap) dan di China (ular berkaki empat). Meskipun tidak semuanya, maka di antara para Naga itu ada yang mampu berbicara layaknya Manusia dan ada juga yang bisa terbang meskipun ia tidak memiliki sayap. Di antara ke empat bangsa itu, para Naga-lah yang berjumlah paling sedikit, jarang ditemui dan hidupnya sangat terasing.

2. Petualangan sang Pangeran Peri
Sebelumnya, ada tiga klan bangsa Peri yang menempati Masyarda (Bumi). Sebenarnya bangsa ini hanya terdiri dari satu jenis saja ketika mereka datang di permulaan zaman kelima (Dwipanta-Ra). Namun atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME), mereka pun akhirnya terbagi menjadi tiga kelompok. Setiap kelompok lalu di perintahkan untuk membangun negerinya sendiri di tempat yang berbeda.

Adapun ketiga kelompok Peri itu bernama Asvari, Fanya, dan Elwan. Mereka hidup secara terpisah, Asvari tinggal di selatan, Fanya di timur, sementara Elwan di sebelah Barat. Dan mereka membangun peradabannya di luar perbatasan negeri-negeri Manusia. Jarang sekali mereka menjalin hubungan langsung dengan bangsa Manusia dan tak pernah pula mau berurusan dengan apapun masalah Manusia kecuali terpaksa. Hanya dengan kalangan tertentu saja mereka mau berinteraksi, terutama dari jenis kesatria, raja dan orang bijak.

Setiap kelompok Peri ini dipimpin oleh raja dan ratu yang bijaksana, penuh wibawa dan kharismatik. Kelompok Asvari dipimpin oleh seorang raja bernama Sir el-Tasiyan dan pasangannya el-Niwari. Sedangkan kelompok Fanya dipimpin oleh seorang raja bernama Sir el-Ristran dan pasangannya el-Mesari. Sedangkan kelompok Elwan dipimpin oleh seorang raja bernama Sir el-Inggran dan pasangannya el-Sinari. Ketiga pemimpin kelompok tersebut adalah sosok yang berilmu tinggi dan mampu hidup sangat lama tanpa pernah menua dan melemah. Dan ketika sudah hidup lebih dari 100.000 tahun di Bumi, satu persatu dari mereka itu lalu memutuskan untuk kembali ke dimensi mereka sebelumnya. Tampuk kekuasaan bangsanya ia serahkan kepada anak keturunannya yang berhak.

Kisah pun berlanjut. Pada masa raja kedua bangsa Peri Asvari yang bernama Sir el-Sindian, maka putranya yang bernama el-Mastian mencetuskan niatan untuk kembali menyatukan ketiga bangsa Peri dengan membangun sebuah kota yang tersembunyi. Kota tersebut haruslah istimewa dan siapapun bisa berkunjung kesana – termasuk Manusia – dengan syarat berhati baik, sopan santun terjaga dan untuk bisa menjalin silaturahmi. Bagi yang melanggar salah satu dari ketiganya akan dihukum berat, tidak ada pengecualian dalam hal ini. Dan mereka yang tinggal di kota tersebut akan disebut sebagai Simayar, atau yang berarti orang yang beruntung. Sedangkan negerinya sendiri disebut dengan Valhadir atau yang berarti negeri yang damai dan sangat di idam-idamkan.

Begitulah kisah ini dimulai. Namun sebelum el-Mastian mempunyai ide tersebut, suatu ketika ayahnya; raja Sir el-Sindian sempat menghilang untuk beberapa waktu. Ketika el-Mastian mencari ayahnya itu di dekat perbatasan negeri Manusia, ia bertemu dengan seorang wanita dari golongan Manusia yang membuatnya jatuh hati. Setelah ayahnya kembali ke istana, justru el-Mastian yang kemudian menghilang. Ia tak pernah kembali ke istana selama beberapa tahun. Ternyata el-Mastian memutuskan untuk tinggal di negeri Manusia, Puramila namanya. Di negeri itu ia tinggal di sebuah desa terpencil, tempat dimana gadis yang ia cintai itu tinggal. Sang gadis bernama Naliya. Parasnya sungguh cantik, perangainya santun dan budi pekertinya sangat baik.

Suatu ketika, tepatnya di tahun ke lima ia tinggal di desa yang bernama Mituna itu, ketika sedang menyendiri di tepi sebuah telaga, el-Mastian mendapatkan sebuah visi tentang kehidupan di Bumi selanjutnya. Ia pun melihat sebuah kota yang begitu indah dan dihuni oleh berbagai bangsa. Kehidupan disana terlihat sangat rukun dan damai meskipun di tempat lain terjadi kekacauan dan kesemena-menaan.

Setelah mendapatkan visi tersebut, el-Mastian segera mengambil posisi duduk bersila. Ia ber-semedhi untuk mendapatkan petunjuk tentang apa yang seharusnya ia lakukan. Di hatinya terbesit niatan untuk tinggal disana, bahkan ikut membangun negeri tersebut demi menciptakan kedamaian di muka Bumi. Itu muncul setelah ia pun melihat dalam visi tersebut kehancuran akan terjadi dimana-mana, khususnya di kawasan Antariel.

Singkat cerita, setelah sehari semalam ber-semedhi, el-Mastian mendapatkan petunjuk lewat sosok leluhurnya yang bernama Asmurayasya. Seorang raja Peri yang pernah hidup di Bumi pada milyaran tahun sebelumnya dan sudah berpindah ke dimensi lain. Sang leluhur pun berkata: “Wahai ananda, apa yang kau lihat sebelumnya adalah kebenaran. Itulah kabar masa depan yang perlu kau persiapkan di masa kini. Sebelum kekacauan terjadi di seluruh kawasan Antariel, bangunlah sebuah kota yang terbaik, yang menjadi tempat tinggal orang-orang yang baik. Negeri tersebut haruslah kokoh dan selalu tersembunyi. Atas kehendak-Nya, kau akan mendapatkan bantuan saat akan membangunnya. Lakukanlah dengan tulus dan semangat pengabdian”

Begitulah yang disampaikan oleh sosok leluhur dari el-Mastian. Mendengarkan penjelasan itu, ia bersemangat dan entah kenapa ia pun ingin segera kembali ke negerinya, di Eydana (ibukota bangsa Peri Asvari). Dan sesampainya disana, ia langsung menemui ayahnya untuk menceritakan apa yang telah di alaminya. Tanpa mengurangi sepatah kata pun, el-Mastian lalu menjelaskan apa yang pernah disampaikan oleh leluhur mereka, yaitu Raja Asmurayasya.

3. Membangun negeri Valhadir
Mendengar penjelasan dari anaknya itu, Raja Sir el-Sindian langsung percaya. Karena tak ada yang tahu mengenai sosok Asmurayasya itu kecuali beberapa orang saja di negeri bangsa Peri. Itu pun tak pernah diceritakan kembali, karena kisahnya sudah sangat lama terjadi, milyaran tahun silam sebelum generasi pertama dari bangsa Peri Asvari lahir. Sosok agung tersebut tidak akan muncul kecuali hanya dalam situasi yang sangat penting.

Waktu pun berlalu dan Raja Sir el-Sindian memerintahkan kepada anaknya, el-Mastian, untuk memulai proyek pembangunan. Tapi sebelum itu, el-Mastian perlu mencari lokasi yang tepat untuk membangun kota tersebut. Kerabat mereka di kedua negeri (Fanya dan Elwan) juga diberi tahu tentang pembangunan itu. Mereka setuju dan berniat mengirimkan bantuan jika diperlukan.

Dan berangkatlah Pangeran el-Mastian untuk mencari lokasi yang paling tepat dalam membangun sebuah negeri baru. Tapi setelah berjalan kesana-kemari tak juga ia temukan. Sepertinya ini adalah ujian bagi el-Mastian tentang kesabaran, ketekunan dan kesungguhannya. Bahkan negeri para kerabatnya (Fanya dan Elwan) pun telah ia datangi, tapi tak ada satupun lokasi yang paling cocok dan sesuai dengan apa yang pernah ia lihat dalam visi tersebut. Sampai pada akhirnya, setelah 3 bulan mencari, el-Mastian memutuskan untuk berhenti. Di suatu tempat di tengah padang rumput yang berada di kaki sebuah bukit ia pun duduk merenung. Tak lama kemudian sang pangeran mengambil posisi duduk bersila dan akhirnya larut dalam meditasi. Hal ini ia lakukan sebanyak beberapa kali.

El-Mastian terus saja ber-semedhi selama beberapa waktu. Dan ketika ia sampai pada keheningannya, ia kembali mendapatkan petunjuk untuk meneruskan perjalanan ke arah selatan. Dan ternyata arah yang dimaksudkan itu adalah perbatasan negerinya sendiri (Asvari) yang disebut Ouslam. Lalu ketika ia sudah berjalan selama tiga hari dengan cara memutari perbukitan hijau, tanpa ia kira ternyata ada sebuah tempat tersembunyi yang sangat indah. Lokasi tersebut berada di sebuah lembah yang subur dan di kelilingi oleh pergunungan yang tinggi. Ada banyak jenis tanaman langka disana, begitu pula dengan hewan yang cantik-cantik. Sumber airnya pun berlimpah dan cuaca disana tidak begitu panas namun tidak pula terlalu dingin. Semuanya terasa pas dan menyenangkan.

Ketika melihat lokasi tersebut, saat itu juga el-Mastian merasa bahwa itulah tempat yang ia cari-cari. Apa yang ada  disana memang sesuai dengan apa yang pernah ia lihat dalam visinya. Dan ketika sudah berada cukup lama disana, tak lama kemudian turun seorang Malaikat menemuinya. Sosok tersebut bernama Gilbar dan mendapatkan tugas untuk menyampaikan petunjuk dari Tuhan. Kepada el-Mastian sang Malaikat pun berkata: “Wahai pemuda, bersyukurlah hanya kepada-Nya sebab hanya Dia-lah pula yang memberikan petunjuk. Bersemangatlah dalam menjalankan tugas yang telah Ia berikan dengan mengajak semua pemimpin bangsa (Peri, Manusia, Karudasya, Cinturia dan Naga) untuk bekerjasama. Bangunlah sebuah negeri yang terindah untuk melindungi apapun yang patut di lindungi nanti. Jika kalian tulus dan mampu bergotong royong, niscaya akan ada anugerah yang besar dari-Nya untuk kalian semua”

Demikianlah apa yang disampaikan oleh Malaikat Gilbar kepada el-Mastian. Dan petunjuk itu segera di laksanakan oleh sang pangeran dengan kembali menemui ayahnya di istana. Sang ayah setuju dan ia sendiri yang datang ke negeri para kerabat sebangsanya (Fanya dan Elwan) untuk bisa menyampaikan petunjuk dari Malaikat Gilbar itu. Dengan kesaktiannya, Raja Sir el-Sindian pun datang ke negeri bangsa Manusia, Karudasya, Cinturia dan Naga dalam waktu singkat untuk menyampaikan kabar yang sama. Lalu karena yang menyampaikannya adalah seorang raja dari bangsa Peri yang terhormat, setiap pemimpin bangsa itu pun percaya dan segera menuju ke lokasi yang telah ditentukan.

Satu persatu dari setiap pemimpin bangsa yang tinggal di kawasan Antariel kala itu (yang terpilih) hadir dengan berbagai cara. Ada yang bisa terbang dengan kesaktiannya, ada yang menunggangi hewan atau menaiki kendaraan terbang, dan ada pula yang bisa bergerak secepat kilat atau juga berteleportasi. Sehingga terkumpullah 9 sosok pemimpin yang terhormat, di antara yaitu:

1. Sir el-Sindian (raja Peri Asvari)
2. Sir el-Nantarin (raja Peri Fanya)
3. Sir el-Ismiran (raja Peri Elwan)
4. Armandira (raja bangsa Manusia dari kerajaan Antakira)
5. Misati (ratu bangsa Manusia dari kerajaan Sirdante)
6. Katanurah (raja bangsa Manusia dari kerajaan Himbala)
6. Gwasal (raja bangsa Karudasya dari kerajaan Gasalum)
8. Kamuya (raja bangsa Cinturia dari kerajaan Mansubiya)
9. Haktra (raja bangsa Naga dari kerajaan Trusai)

Setelah semuanya berkumpul, tiba-tiba dari arah langit turun seorang Malaikat yang sangat rupawan. Sosok tersebut adalah yang pernah bertemu dengan el-Mastian sebelumnya, yaitu Malaikat Gilbar. Sang Malaikat lalu memerintahkan semua pemimpin, termasuk el-Mastian untuk berdiri menyebar ke sekeliling lokasi dalam radius sekitar 50 kilometer. Tapi jika ke-9 raja berdiri membentuk lingkaran, el-Mastian justru diperintahkan untuk berdiri tepat ditengah-tengah lingkaran itu. Lalu, setelah semuanya berada diposisinya masing-masing, sang Malaikat menyampaikan petunjuk lain dengan cara telepati. Semuanya bisa mengetahuinya dengan jelas dan segera melakukan apa saja yang diperintahkan oleh sang Malaikat. Atas izin Tuhan, tak lama kemudian muncullah semacam dinding perisai tembus pandang yang berbentuk kubah dan menutupi semua area dalam radius 50 kilometer itu.

Catatan: Pada waktu itu, awalnya raja bangsa Naga yang bernama Haktra itu masih berpenampilan seperti seorang Naga putih yang sempurna. Tapi tak lama kemudian ia segera mengubah dirinya menjadi seperti seorang raja dari golongan Manusia. Ini memang salah satu keistimewaan yang ia miliki. Begitu pula dengan Gwasal (raja bangsa Karudasya), dan Kamuya (raja bangsa Cinturia). Mereka juga segera mengubah wujudnya menjadi seperti raja Manusia tak lama setelah berada di lokasi pertemuan itu.

Tak lama kemudian, setelah perisai tersebut terbentuk, Malaikat Gilbar meminta agar semua orang berkumpul di sekeliling el-Mastian. Lalu karena semuanya sudah berkumpul, Malaikat Gilbar langsung mengajak agar mereka semua berdoa dan melantunkan puji-pujian kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Tak lama kemudian tiba-tiba turun beberapa sosok Malaikat ke lokasi itu dan segera mengubah topografi di wilayah itu menjadi lebih indah dan unik. Mereka juga menanam beragam jenis benih tanaman yang dapat tumbuh dengan sangat cepat dan berbuah atau berbunga indah. Selanjutnya, mereka memerintahkan berbagai jenis Hewan yang hidup di kawasan Antariel untuk tinggal di negeri yang baru dibangun itu. Demikianlah para Malaikat menjalankan tugasnya.

Setelah itu, muncul pula rombongan dari kalangan bangsa Jin dan Peri yang berpenampilan sangat rupawan. Mereka ini berasal dari dimensi lain dan ternyata sangat ahli dalam urusan arsitektur bangunan. Dan memang, hanya dalam hitungan beberapa hari saja semua gedung dan apapun yang dibutuhkan di kota yang baru tercipta itu telah selesai dibangun. Mereka bekerja dengan sangat cepat dan rapi. Tentang keindahannya, maka tak perlu dipertanyakan lagi, karena tak ada yang seindah itu di seluruh Bumi ini (di alam nyatanya). Inilah salah satu anugerah yang pernah disampaikan oleh Raja Asmurayasya dan Malaikat Gilbar sebelumnya.

Catatan: Meskipun negeri Valhadir ini sangat indah dan para Dewa-Dewi juga sering berkunjung kesana, tetapi levelnya masih berada dibawah negeri Hur’Anura. Dalam segala hal, negeri Hur’Anura tentu lebih unggul karena dibangun oleh para Nabi dan Malaikat. Namun demikian, siapapun tetap sangat beruntung jika bisa tinggal disana.

Ya. Apa saja yang ada di negeri Valhadir itu begitu indah dan tertata rapi. Tidak ada negeri Manusia kala itu – termasuk sekarang – yang seindah keadaan disana. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan kehidupan disana tidak kalah dengan Kahyangan para Dewa-Dewi, sebab disana sungguh terasa aman sentosa. Dan orang-orang yang tinggal disana pun memiliki budi pekerti yang luhur, senantiasa beriman tulus kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) dan sangat bijak dalam menjalani kehidupan ini.

Dan satu lagi yang unik dari negeri itu, dimana ketika berada disana seolah-olah kita langsung terpisah dengan kehidupan di muka Bumi lainnya. Waktunya pun tidak lagi terikat dengan yang ada di Bumi, tidak sama. Mereka yang hidup disana bahkan tak termakan usia, alias selalu muda dan kuat. Dan apapun yang terjadi di seluruh dunia ini takkan berpengaruh dengan negeri Valhadir. Negeri itu tersembunyi dan tak bisa diketahui oleh siapapun tanpa izin dari para penjaga yang berada di luar batas dinding perisai goibnya. Hal ini memang harus di lakukan demi menjaga keharmonisan dan keamanan negeri itu sendiri. Terlebih di kemudian hari keadaan di seputaran wilayah Antariel menjadi kacau balau dan penuh kezaliman.

Catatan: Setelah semua gedung dan bangunan di kota Valhadir selesai dibangun, tak lama kemudian dinding perisai yang berbentuk kubah itu raib dari pandangan. Begitu pula dengan semua yang ada di dalam perisai tersebut ikutan raib. Negeri Valhadir ikut menghilang, dan hanya akan terlihat hutan belantara saja bagi siapapun yang tak diizinkan untuk bisa melihat kondisi yang sebenarnya atau berkunjung kesana. Siapapun juga harus tahu caranya untuk bisa masuk kesana dan mempunyai medali khusus yang berasal dari pemberian ke 9 pemimpin.

Jadi, negeri Valhadir itu hanya bisa dikunjungi dengan terlebih dulu mendapatkan izin dari para penjaga perbatasannya. Caranya dengan menunjukkan sebuah medali khusus yang berasal dari negeri Valhadir (yang telah diberikan kepada ke 9 raja dan ratu). Para penjaga perbatasan ini berasal dari bangsa Peri dan Jin yang memiliki kemampuan khusus dan mampu hidup selama ribuan tahun tanpa menua dan melemah. Dan akan digantikan hanya ketika ia sudah memutuskan untuk kembali ke dimensi asalnya dulu.

Lalu jika tetap memaksa ingin masuk ke negeri Valhadir setelah di larang oleh para penjaga perbatasannya (karena tak membawa medali), siapapun akan bertaruh nyawa. Ia akan terjebak di dalam rimba yang membuat bingung tanpa bisa keluar atau bahkan lautan ilusi yang tak bertepi. Seseorang akan mengalami ujian yang sangat berat dan bisa bermacam-macam untuk membuktikan kesungguhan dan keteguhan hatinya. Hanya yang beruntung dan tahan ujian saja yang bisa menemukan gerbang rahasia untuk bisa keluar dari ilusi yang mengerikan itu. Setelah berhasil keluar, ia pun tidak lantas bisa masuk ke negeri Valhadir, sebab tetap masih harus mendapatkan izin dari penjaga gerbangnya. Dan penjaganya pun masih harus mendapatkan persetujuan dari penguasa negeri Valhadir untuk bisa mengizinkan seseorang itu masuk. Disini biasanya izin akan diberikan karena siapapun yang lulus dari ujian ilusi di perbatasan negeri Valhadir adalah sosok kesatria yang layak untuk tinggal disana.

Kisah pun berlanjut. Setelah pembangunan negeri Valhadir selesai, tak lama kemudian ke 9 pemimpin bangsa yang ada segera bermusyawarah. Dalam perundingan itu, mereka lalu menyepakati bahwa Pangeran el-Mastian di angkat sebagai pemimpin di negeri Valhadir itu. Ia pun boleh memakai gelar sesuai tradisi dari bangsa Peri yaitu Sir el-Mastian. Tapi sesuai kesepakatan bersama, sang pangeran juga mendapatkan gelar resmi sebagai Sir el-Mastian Dastu Sri Valhadiran.

Dan sebagai pemimpin tertinggi di Valhadir, Sir el-Mastian lalu berkantor di pusat kota yang disebut Eskalion atau yang berarti kota yang damai dan bercahaya. Dari sana ia pun bertugas menjaga negeri tersebut tetap aman sentosa dan harus memerintah dengan sikap yang bijaksana. Siapapun dari bangsa Peri, Manusia, Karudasya, Cinturia, dan Naga tetap berhak untuk tinggal disana. Hanya saja memang ada syarat ketat yang harus dipenuhi terlebih dulu, khususnya dengan bisa menunjukkan sebuah medali yang berasal dari negeri Valhadir itu. Dan setiap pemimpin bangsa yang hadir saat itu, diberikan sebanyak 515 buah medali. Semuanya tak bisa dipalsukan karena bukan buatan tangan Manusia. Bisa diberikan kepada siapapun yang diinginkan, tapi dengan syarat haruslah untuk orang-orang yang baik dan sudah terbukti kebaikannya. Siapapun yang berhasil tinggal di negeri Valhadir itu lalu disebut sebagai bangsa Simayar atau berarti orang yang beruntung.

Ya. Kehidupan di negeri Valhadir memang begitu indah, hanya saja menurut Sir el-Mastian semuanya itu justru terasa hambar tanpa kehadiran seorang kekasih disampingnya. Meskipun kehidupan di Valhadir begitu damai dan sejahtera, ia justru semakin tak bergairah lantaran selalu teringat kepada gadis yang ia cintai, Naliya. Tak ada yang lebih indah ketimbang Naliya. Begitulah kondisi hati seorang yang sedang jatuh cinta, tak peduli apakah dia itu dari bangsa Manusia atau pun Peri. Sehingga Sir el-Mastian pun ingin mengajak Naliya dan keluarganya itu untuk segera pindah ke negeri Valhadir. Meskipun di negeri itu sudah banyak bangsa Peri dan Manusia yang tinggal disana, namun tanpa adanya seorang Naliya disisi membuat hidupnya terasa sunyi.

Karena itulah, Sir el-Mastian pergi meninggalkan negeri Valhadir untuk menemui Naliya di desa Mituna. Sang raja tidak membawa pengawal bahkan tak mengenakan pakaian kebesarannya. Ia datang seorang diri dan hanya mengenakan pakaian yang dulu biasa ia kenakan, pakaian bangsa Peri biasa. Singkat cerita, Naliya dan keluarganya bersedia untuk tinggal di negeri Valhadir. Disana mereka melanjutkan kehidupan dengan penuh kebahagiaan. Dan akhirnya, setelah menikah dengan Naliya selama 50 tahun, Sir el-Mastian mendapatkan sepasang anak yang rupawan. Sehingga kian sempurnalah kebahagiaan yang ia peroleh.

Catatan: Kehamilan dan kelahiran bagi mereka yang tinggal di negeri Valhadir sangat berbeda dengan di tempat lain di seluruh Bumi ini. Meskipun semuanya sehat dan para wanitanya tidak mengalami menopause (tidak mengalami menstruasi lagi), mereka tidak bisa terus-terusan hamil dan melahirkan anak. Angka kelahiran di negeri Valhadir sangat rendah, jarang terjadi. Dan ini tidak menjadi masalah bagi mereka, karena mereka semua telah dianugerahi umur yang sangat panjang. Jadi kehamilan setelah menikah selama 50 tahun itu adalah hal yang biasa dan sangat normal di Valhadir.

Begitulah kisah hidup seorang Peri bernama Sir el-Mastian dan keluarganya di negeri Valhadir. Disana semuanya seperti terpisah dengan kehidupan di muka Bumi ini. Hanya ketika di Bumi sudah terjadi kekacauan yang begitu pelik, barulah mereka yang tinggal di negeri Valhadir itu turut campur untuk membereskan situasi. Itu pun hanya berdasarkan petunjuk Ilahi yang mereka dapatkan. Mereka tak akan bergerak tanpa komando dari Yang Maha Agung. Sebab pada dasarnya mereka memang sudah tak ada urusan lagi dengan peradaban di muka Bumi ini.

4. Huru-hara di Antariel 
Setelah negeri Valhadir selesai dibangun dan Sir el-Mastian menjadi pemimpin disana, kehidupan di kawasan Antariel masih terbilang aman. Hanya saja berselang tiga generasi berikutnya, di negeri-negeri bangsa Manusia mulai terjadi banyak pertikaian. Semua itu terjadi karena mereka saling berlomba-lomba untuk menunjukkan siapakah yang paling hebat dalam kekayaan dan kekuasaannya. Pada kondisi yang semacam itu, Sir el-Mastian teringat akan pesan dari Malaikat Gilbar bahwa salah satu tujuan utama negeri Valhadir dibangun adalah untuk menjadi tempat perlindungan bagi kelima bangsa dari kejamnya pertikaian.

Dan suatu ketika, dua kerajaan besar yang tinggal di kawasan Antariel terlibat perselisihan yang sengit. Keduanya sampai bertempur memperebutkan wilayah perbatasan kedua negeri mereka yang bernama Dumol. Alasannya karena disana terdapat barang tambang istimewa berupa butiran logam yang sangat langka yang disebut Orthilas. Logam ini lebih berharga dari pada emas dan perak, dan lebih kuat dari pada baja dan titanium. Selain itu, disana juga terdapat gunung-gunung yang didalamnya terkandung berbagai batu permata yang sangat berharga dan menjadi simbol keagungan. Di antara yang paling berharga itu adalah apa yang disebut dengan Qwasil. Ini adalah batu mulia yang sangat langka, sehingga keindahan dan nilainya pun jauh di atas intan-berlian.

Catatan: Orthilas adalah logam yang berwarna putih mengkilat melebihi titanium dan hanya dengan cara khusus untuk bisa mengolah atau menempanya. Orthilas ini anti karat dan memiliki daya tahan yang sangat mengagumkan (melebihi kerasnya titanium) sekaligus lebih ringan dari besi dan baja. Jika dijadikan senjata akan sangat tajam dan bisa memotong atau menembus logam apapun. Sedangkan Qwasil adalah batu mulia yang berwarna putih bening dan bisa berpijar dengan terang. Meski warna dominannya adalah putih bening, tapi di dalamnya tercampur beragam warna yang berpijar seperti merah, kuning, jingga, ungu, biru dan hijau, yang menyatu dengan warna putih bening yang dominan itu. Dan satu ciri khas yang tidak terdapat pada intan-berlian adalah dimana Qwasil ini jika tersentuh oleh jari saja akan berdenting nyaring melebihi suara dentingan logam. Akan terdengar suara “tiing-ngiingiiiing” jika di ketuk, atau “sriing-sriingiiiing” bila di gosok bahkan oleh satu jari tangan. Karena itulah nilai dari Qwasil ini jauh lebih berharga dari pada intan-berlian atau batu mulia lainnya.

Lokasi dimana tempat Qwasil dan Orthilas itu berada terletak di dekat sebuah lembah yang terdapat danau “kaca” yang diapit dua kaki gunung. Ada dua puncak gunung bersalju yang menjulang tinggi di atasnya. Saking jernihnya danau yang bernama Malkan itu sampai cahaya bintang-bintang bisa terpantul jelas di atas airnya dan membentuk semacam rangkaian mutiara di atas mahkota yang sangat indah. Air dari danau tersebut mengalir sampai ke lembah yang lain dalam bentuk sungai yang bisa dilayari oleh kapal-kapal berukuran besar. Sungai yang diberi nama Sowarin itu mengalir sangat jauh dan bercabang dua sampai akhirnya melewati kedua negeri yang saling berselisih itu.

Adapun kedua negeri yang bertikai itu bernama Zalhatan dan Admaruk. Jika negeri Zalhatan berada di sebelah timur, maka negeri Admaruk ada di barat. Meskipun mereka bertetangga, tapi ciri fisik kedua bangsa ini sangat berbeda, penduduknya berbeda ras. Karena itu pula mereka pun merasa tak ada salahnya jika sampai berperang, toh mereka pun bukan saudara dan memang bangsa yang jauh berbeda. Siapapun yang menang akan dianggap sebagai yang terbaik dan berhak menjadi pemimpin tertinggi di wilayah mereka.

Singkat cerita, karena merasa takkan mampu melawan seorang diri, kedua negeri itu lalu menggalang bantuan dari kerajaan lain. Mereka langsung membentuk sebuah aliansi pasukan yang terdiri dari puluhan kerajaan. Di kubu Zalhatan yang dipimpin oleh Raja Murdarai terdapat sekitar 40 kerajaan, sementara itu di pihak Admaruk yang dipimpin oleh Raja Korasa tergabung sekitar 45 kerajaan. Dalam urusan jumlah pasukan dan peralatan perangnya, meskipun terdapat selisih 5 buah kerajaan, namun kedua kubu ini bisa dikatakan seimbang. Tidak kurang dari 2 juta pasukan yang terlibat dalam pertempuran besar itu. Semuanya terlihat kuat dan siap melibatkan diri dalam pertarungan sengit.

Catatan: Khusus untuk ke sembilan kerajaan (Asvari, Fanya, Elwan, Antakira, Sirdante, Himbala, Gasalum, Mansubiya, dan Trusai) tidak mau terlibat dalam pertempuran itu. Mereka menyadari bahwa alasan dalam pertikaian itu tidaklah cukup kuat, karena hanya berdasarkan ego dan keserakahan diri. Mereka lebih memilih untuk tidak ikut-ikutan dan bersikap netral. Sebab lebih senang hidup secara damai dan bersahabat dengan siapapun.

Waktu pun berlalu dan pertempuran besar di lembah Morari dekat perbatasan Dumol itu pun tak bisa dihentikan lagi. Sesuai dengan kesepakatan, maka setelah sangkakala ditiupkan, sejak saat itulah perang besar pun dimulai. Hasil dari pertempuran itu akan menentukan siapakah yang berhak menguasai wilayah perbatasan Dumol. Karena itu kedua belah kubu langsung mengerahkan pasukan dalam jumlah yang sangat besar dan menyebabkan kegaduhan yang memilukan. Di hari pertama saja, sudah ribuan pasukan yang tewas mengenaskan, belum lagi bagi mereka yang terluka parah dan sedang berjuang melawan kematian.

Tapi sebelumnya, sebelum pertempuran besar itu terjadi, sebenarnya kegaduhan sudah terjadi dimana-mana. Penindasan dan kekejian terus saja mewarnai negeri-negeri di seluruh kawasan Antariel. Semua disebabkan oleh para penguasa dan bangsawan di berbagai negeri terus mengikuti hasrat keinginan semu duniawi dan larut dalam keserakahannya. Mereka saling berlomba-lomba untuk menjadi yang paling kaya dan terhebat peradabannya – meskipun dengan menghalalkan segala cara. Dalam kondisi tersebut, Sir el-Mastian beserta rakyatnya yang hidup di negeri Valhadir tidak ikut dalam perlombaan itu tapi memberikan bantuan kepada mereka yang tertindas. Mereka keluar dari negeri yang tersembunyi itu untuk menyelamatkan siapapun yang teraniaya. Setiap bangsa yang ada mereka bantu tanpa memandang apa ras dan golongannya. Hanya saja memang tidak bisa semua penduduk yang tinggal di kawasan Antariel yang bisa mereka tolong, karena ada hukum teritorial dan mereka tetap tidak mau kontak senjata dengan kerajaan lain. Selalu menghindari pertemuan langsung dengan pasukan atau pejabat pemerintahan di kerajaan lain.

Oleh sebab itu, hanya sebagian saja penduduk yang bisa mereka bantu atau sampai harus dibawa ke negeri Valhadir. Mereka itu adalah dari kelima bangsa yang hidup di kawasan Antariel (Manusia, Peri, Karudasya, Cinturian dan Naga). Tapi disini tidak untuk selamanya, karena setelah pertempuran besar di lembah Morari usai dan kondisi di kawasan Antariel telah kembali aman, mereka yang dibawa ke negeri Valhadir itu harus kembali ke negeri mereka masing-masing. Tidak ada yang boleh menetap, kecuali bagi mereka yang memiliki medali khusus warisan dari ke 9 pemimpin.

Dan satu peristiwa yang luar biasa pun terjadi. Singkat cerita, ketika pertempuran di lembah Morari sedang sengit-sengitnya terjadi dan kedua belah pihak sudah saling menghancurkan di hari ke tujuh pertempuran, pada saat itulah Sir el-Mastian mendapatkan petunjuk untuk ikut terlibat dan menyudahi pertempuran besar itu. Dan karena mereka yang tinggal di negeri Valhadir adalah orang-orang yang luar biasa bahkan dari berbagai zaman, maka tugas itu bisa di laksanakan dengan cepat. Meskipun negeri mereka berada jauh dari lembah Morari, maka hanya dalam hitungan detik saja mereka sudah tiba di medan pertempuran itu. Kesaktian yang mereka keluarkan saat menghadapi musuh di kedua belah pihak pun sungguh menakjubkan. Sebab tidak hanya untuk bisa menghadapi kesaktian dari para kesatrianya saja, tetapi juga dari persenjataan canggih yang ada di medan pertempuran itu.

Catatan: Pada masa itu, meskipun mereka sudah menciptakan berbagai persenjataan yang canggih, tetap saja perang yang terjadi harus di lakukan dengan cara kesatria. Artinya, mereka bertempur dengan saling berhadap-hadapan langsung (duel) di medan tempur. Setiap orang bertarung dengan cara mengadu ketangkasan memakai senjata (pedang, tombak, panah, kapak, dan gada) dan ajian kesaktian secara langsung sampai diketahui siapakah yang tumbang. Tradisi pada masa itu adalah seseorang tidak akan dianggap hebat jika ia hanya mengandalkan persenjataannya; seperti Til (pistol), Midal (tank), Kram (meriam), Arsal (rudal), dan Viswal (pesawat tempur) – kecuali senjata pusaka. Ia harus menguasai ilmu kanuragan dan kadigdayan lalu mempraktekkannya di medan perang. Bertarung secara langsung adalah kehormatan bagi mereka, gugur di medan perang adalah kemuliaan. Jika tidak, siapapun akan dianggap sebagai pecundang dan pengecut. Ini terasa sangat memalukan dan semua orang menghidari itu.

Lalu, senjata pusaka yang Sir el-Mastian dan pasukannya gunakan saat itu juga bisa menghancurkan banyak pasukan bertameng atau bahkan pesawat tempur dan tank yang canggih milik kedua belah pihak. Semua dari mereka juga tidak mempan senjata dan bisa terbang, menghilang atau mengubah-ubah wujudnya sesuka hati. Hal ini jelas membuat pertempuran saat itu menjadi tak seimbang lagi. Karena hanya dalam waktu beberapa jam saja, Sir el-Mastian dan pasukannya berhasil memenangkan pertempuran. Mereka tidak memihak salah satu dari kedua kubu yang bertikai itu. Tetapi lebih kepada menghancurkan siapa saja yang tetap bersikeras untuk pamer kemampuan dengan berbuat kerusakan.

Singkat cerita, pertempuran besar itu pun berakhir dengan keputusan bahwa setiap raja dan kerajaan yang bertikai harus berdamai. Mereka harus kembali ke negerinya masing-masing dan menata kehidupan terbaik disana. Jika mereka masih saja menolak atau tetap berbuat kerusakan di muka Bumi, maka pasukan bangsa Simayar (penduduk negeri Valhadir) tidak akan segan-segan menghancurkannya. Selain itu, hak atas wilayah perbatasan Dumol menjadi milik dari negeri Valhadir. Bangsa Simayar adalah pengawas dan penjaga wilayah itu. Siapapun yang mencoba-coba untuk mengusik ketenangan disana akan berhadapan langsung dengan mereka (pasukan negeri Valhadir). Tak ada yang boleh menambang apapun disana tanpa izin dari penguasa Valhadir.

Ya, begitulah akhir dari huru-hara yang terjadi di seluruh kawasan Antariel kala itu. Selanjutnya, dalam kurun waktu yang cukup lama kondisi di seluruh kawasan Antariel tetap aman dan damai. Setiap perselisihan bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan, tidak perlu bertempur. Bangsa Simayar (penduduk negeri Valhadir) selalu menjadi rujukan dalam ketatanegaraan dan sering di minta sebagai penengah jika masalah antar kedua belah pihak tak bisa diselesaikan. Sungguh wilayah Antariel pada masa itu terasa bagaikan di Syurga.

5. Akhir kisah
Setelah perang besar di lembah Morari berakhir, maka selama 150.000 tahun lebih kehidupan di Antariel terbilang aman dan damai. Memang ada pertikaian yang terjadi, begitulah kodrat kehidupan di muka Bumi ini, tetapi semuanya terbilang kecil dan tak sampai mengakibatkan kerusakan yang parah. Kelima bangsa yang tinggal di kawasan Antariel pun bisa hidup berdampingan dan menjalin hubungan dengan baik, terutama perdagangan (ekspor-impor). Mereka juga saling bertukar ilmu pengetahuan dan informasi dalam hal pendidikan dan ekonomi. Membuat kehidupan di setiap negeri berjalan normal dan bisa mencapai kemakmuran.

Hanya saja karena roda kehidupan harus selalu berputar, maka pada masa-masa tertentu akan terjadi kekacauan lagi. Semua bersumber dari perilaku makhluk yang kadang baik dan kadang pula buruk. Untuk beberapa kali, hal tersebut bisa diatasi oleh bangsa Simayar (penduduk negeri Valhadir). Namun ketika mereka benar-benar diperintahkan untuk tidak lagi terlibat dengan apapun masalah di Bumi (di alam nyatanya), sejak saat itulah semua permasalahan di Antariel khususnya harus diselesaikan sendiri oleh mereka yang tinggal disana. Penduduk negeri Valhadir tidak diperkenankan lagi ikut terlibat langsung. Mereka hanya diizinkan membantu satu atau dua orang kesatria saja, itu pun hanya sebatas sharing (tukar pengalaman dan berbagi ilmu pengetahuan). Tidak akan terlibat langsung dalam masalah di negeri mereka. Hal ini mulai terjadi sejak 550.000 tahun setelah perang besar di lembah Morari.

Begitulah sejarah kehidupan di Bumi ini terus berlanjut. Dan meskipun mereka yang hidup di negeri Valhadir tidak lagi terlibat dengan urusan di muka Bumi, maka bangsa Peri, Karudasya, Cinturia dan Naga tetap hidup berdampingan dengan Manusia. Di kawasan Antariel, ke empat bangsa itu terus ada sampai jutaan tahun kemudian. Mereka hidup berdampingan dengan Manusia tapi seperti waktu sebelumnya yang tidak berinteraksi langsung dengan mereka. Bangsa Simayar (penduduk Valhadir) selalu menjaga jarak dan hidup terasing dari negeri-negeri Manusia. Hanya dalam waktu dan kondisi tertentu saja mereka akan bekerjasama dengan Manusia.

Demikianlah kisah ini berakhir, semoga bermanfaat.. Rahayu _/|\_

Jambi, 20 Maret 2018
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan sebelumnya, maka disini pun tak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Semua kembali kepada diri Anda sekalian untuk memilih. Silahkan menganggapnya sebagai fakta atau justru sekedar dongeng pengantar tidur. Tugas kami hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Hingga kini negeri Valhadir itu masih ada dan penduduknya tetap hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan. Dari zaman ke zaman selalu ada Manusia yang diizinkan untuk tinggal disana, tetapi dengan syarat harus memiliki medali khusus warisan dari ke 9 pemimpin atau mampu melalui ujian ilusi yang sangat berat di perbatasan negeri tersebut.
3. Maaf sebelumnya karena disini kami tidak bisa memberikan detil lokasi dimana negeri Valhadir itu berada. Ada protap yang tak mungkin dilanggar.

12 respons untuk ‘Valhadir : Negeri Lima Bangsa

    Tufail said:
    Maret 25, 2018 pukul 8:01 am

    Salamun Alaikum Harunata-Ra…
    Wah akhirnya nambah lagi kisah kisah “out of the box” leluhur kita dari kaum kaum terdahulu karena jelas banyak manfaat untuk terus membuka cakrawala berfikir saya dan juga kedalaman hati tentunya, mirisnya manusia zaman now kan semakin hari semakin menyempitkan pikiran dan hatinya kalo saya pribadi gag pernah bosen bacanya apalagi di buat kayak jurnal mingguan gitu… Hehe…. 😁

    Ada yang menarik dari bangsa Cinturia ini yang setengah hewan yang mirip dengan ikan apa sama dengan yang d mitoskan dg “putri duyung” selama ini?
    Dari medali yang dibuat terbatas apa dari dulu hingga sekarang gag ada lagi penambahan kuota buat menjadi kaum Simayar yang mana sungguh beruntung sekali, luar biasa bisa menjadi bagian dari rahayat negeri Valhadir ini?
    Sekira dua tiga tahun yang lalu ramai sekali tentang kisah bangsa Lemuria/Mu ato Atlantis yang merupakan bagian dari leluhur bangsa Nusanta-Ra kita yang konon dahulunya mendiami tanah Swarnabhumi yang jejaknya mendiami sekitaran wilayah bagian utara, apa kisahnya ada pada periode zaman kita sekarang ini? pertanyaannya agak melenceng dari tulisan diatas dan semoga tidak terhalang protap 😀

    Salam…
    Rahayu… 🙏

      oedi responded:
      Maret 26, 2018 pukul 5:06 am

      Wa`alaikumsalam… rahayu juga kang Tufail.. 🙂

      Syukurlah kali suka dengan tulisan ini, nuwun karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Tentang bangsa Cinturia, sebagian dari mereka itu memang ada yang mirip dengan gambaran sosok Siren dalam mitologi Yunani, atau orang kita menyebutnya putri duyung. Hanya saja itu hanya sebagia dari wujud mereka. Ada ras dan bentuk yang lain seperti gambaran Jatayu dalam kebudayaan Jawa.

      Tentang medali, perlu saya jelaskan bahwa ketika seseorang sudah diterima tinggal di negeri Valhadir, maka ia akan mendapatkan sebuah gelang khusus yang terbuat dari bahan Orthilas. Gelang ini tak bisa dipalsukan atau diberikan kepada orang lain, hanya bisa dipakai oleh yang berhak yang menerimanya sejak awal. Kenapa begitu, ya karena gelang itu diberikan sebuah mantra dan khodam khusus, sehingga hanya bisa dipakai oleh yang menerimanya saja, tidak bisa diwariskan. Nah setelah itu, siapapun yang sudah tinggal di negeri Valhadir dan mendapatkan gelang khusus itu, maka ia bisa keluar masuk dengan bebas ke negeri Valhadir tanpa perlu menunjukkan atau membawa medali. Dan medali itu bisa saja ia berikan atau wariskan kepada siapapun yang ia inginkan, dengan catatan dia memang pantas dan terbukti kebaikannya.

      Artinya, jumlah semua medali (515 buah bagi setiap pemimpin) tidak lantas menjadi patokan jumlah orang yang bisa tinggal di negeri Valhadir. Sebab medali itu bisa diwariskan kepada siapapun dan bisa pula berulang kali terjadi.. Lalu dalam kondisi tertentu, medali itu akan dibuat lagi di negeri Valhadir dan diberikan kepada yang berhak, di zaman yg berbeda..

      Tentang bangsa Atlantis dan Lemuria, saya tidak bisa byk menjelaskan disini. Hanya saja perlu saya tegaskan bahwa negeri dari kedua bangsa itu tidak berada di Swarnabhumi atau Jawa atau Kalimantan. Dan keduanya itu juga tidak hidup di periode zaman kita skr (Rupanta-Ra), karena mereka hidup sebelum zaman kita ini.

      Oh ya satu lagi, untuk tambahan wacana dan wawasan kang Tufail, beberapa waktu lalu saya pernah menulis artikel singkat dengan judul “Pencarian tentang bangsa Lemuria yang sia-sia”. Monggo dibaca, semoga nambah cakrawalanya dan lebih tau tentang fakta yang sebenarnya…

      Istilah Lemuria awalnya berasal dari sebuah surat di abad ke-19. Saat itu seorang ahli geologis dari Inggris bernama Philip Sclater dipusingkan oleh keberadaan fosil hewan Lemur yang ditemukan di Madagaskar dan India namun tidak ditemukan di daratan benua Afrika dan Timur Tengah. Kemudian di salah satu artikel yang diterbitkannya di tahun 1864 dengan judul ‘The Mammals of Madagascar’, Philip Sclater mengusulkan bahwa Madagaskar dan India di masa lalu merupakan bagian dari sebuah benua yang lebih besar, dan daratan yang hilang ini diberi nama “LEMURIA”. Teori Sclater ini diterima oleh komunitas ilmuwan pada saat itu untuk menjelaskan mengapa Lemur dapat bermigrasi dari Madagaskar ke India dan sebaliknya di masa lampau. Jadi saat itu belum ada pembahasan tentang peradaban bangsa Lemuria.

      Selanjutnya, dengan munculnya konsep moderen tentang continental drift dan lempeng tektonik, usulan Philip Sclater tentang benua yang tenggelam tidak lagi sesuai. Walaupun demikian ide tentang benua yang hilang ini tidak begitu saja sirna, dan beberapa orang masih percaya bahwa Lemuria merupakan benua yang benar-benar ada di masa lalu. Bahkan mereka juga menambahkannya dengan ide tentang satu peradaban maju yang tenggelam. Namanya pun Lemuria.

      Dari fakta itu, pantas saja hingga sekarang belum ada yang menemukan secara pasti dimana negeri kaum Lemuria itu berada. Lah wong selama ini hanya sebatas perkiraan, bahkan fantasy belaka. Dan kian hari makin banyak orang yang mengekor tentang peradaban bangsa ini. Tidak jauh berbeda dengan kasus pada bangsa Atlantis. Begitupun tentang nama Lemuria sendiri hanyalah sebuah sebutan – yang awalnya dibuat untuk lebih memudahkan dalam memahami tentang migrasi hewan Lemur – dan kebetulan saja memang sama dengan nama kaum yang pernah ada di zaman dulu.

      Dan memang kaum Lemuria itu pernah ada dan benar sekali bahwa mereka sudah punya peradaban yang bahkan lebih maju dari kita sekarang. Hanya saja, siapapun tidak akan bisa tahu kebenarannya jika semua usaha pencariannya hanya berdasarkan asumsi atau bahkan imajinasi. Cari tahu dulu tentang siapa sebenarnya kaum Lemuria itu, di zaman apa mereka hidup, apa ras mereka dan termasuk umat Nabi siapa dulunya? Ketahuilah itu dulu, karena itu juga hal yang sangat mendasar. Jangan hanya sekedar mengekor, karena semua infomasi yang beredar selama ini banyak kelirunya. Dan orang-orang terus saja larut dalam fantasy dan imajinasinya sendiri saat berbicara tentang kaum Lemuria ini. Tak sesuai dengan fakta, alias mengarang bebas.

      Khusus tentang berbagai penemuan artefak yang dianggap milik bangsa Lemuria itu bukanlah kepunyaan bangsa Lemuria. Itu semua milik bangsa lain yang hidup setelah bangsa Lemuria, dan memang mereka juga punya peradaban yang tinggi. Peradaban bangsa Lemuria tetap tersembunyi hingga kini dan jauh berbeda dengan anggapan sebagian besar orang. Belum waktunya untuk terungkap. Dan hanya beberapa orang saja yang sudah diizinkan untuk mengetahui dengan melihatnya langsung. Mereka itu adalah sosok yang terpilih dan akan terus merahasiakannya sampai batas waktunya nanti.

      Tidak lama lagi fakta sebenarnya tentang kaum Lemuria ini akan terungkap. Akan ada yang menjabarkannya dengan detil. Sekarang bahkan sudah tertulis secara lengkap tentang semua seluk beluk kaum hebat ini. Hanya saja belum saatnya untuk muncul kepermukaan. Waktu yang tepat yang akan menyebarkannya pada dunia.
      Jambi, 17 September 2016

      Nah, pada bangsa Atlantis terdapat kasus yg sama dimana byk orang yg hanya sebatas mengekor informasi, khususnya kpd si Plato. Padahal nama Atlantis itu tak lebih dari sebuah imajinasi atau sebatas pemberian nama saja.. Memang ada bangsa yg dimaksudkan oleh si Plato itu, yg ia dapatkan lewat tutur cerita yg turun temurun sejak ribuan tahun sblm kehidupannya, tapi nama bangsa tersebut bukanlah Atlantis dan mrk hidup jauh sblm tahun yg dia ataupun orang skr perkirakan.. Dan sesungguhnya antara kedua bangsa itu (“Atlantis” dan “Lemuria”) tidak hidup sezaman, apalagi sampai terlibat pertempuran seperti yg dikira byk orang skr.. Maaf kang saya gak bisa share ttg nama sebenarnya kedua bangsa itu dan dimana mrk dulu tinggal.. Ada protap.

      Gitu aja kang, maaf kalo kurang memuaskan.. 🙂

    Awan said:
    Maret 25, 2018 pukul 3:36 pm

    matur nuwun Kang Oedi…
    yang senantiasa memberikan wawasan dan pembelajaran yang dibutuhkan untuk senantiasa menguatkan iman yang seringkali naik turun.
    Sungguh negeri yang begitu indah dan kokoh, penduduknya yang teruji memiliki kemantapan iman dan ilmu yang tinggi, sangat jauh dari pribadi diri ini yang naik turun masih terombang ambing oleh pemandangan lika liku dunia.

    Semoga diri ini dapat menyerap banyak ilmu dari Kang Harunata-Ra, sehingga menyatu dengan darah daging sehingga diri ini dapat membawa anugrah di alam semesta sesuai dengan tugas yang diamanahkan kediri ini.

    maafkan diri ini yang masih buta dan kacau, yang senantiasa membuat kerusakan dan kekacauan di dunia wahai para penghuni Alam Semesta. Maafkan lah diri ini yang selalu berada didalam kebodohan.

    Semoga keselamatan dan kesejahteraan senantiasa buat Kang Oedi dan para ulama yang menguasai ilmu dibidangnya masing-masing serta selalu dalam bimbingan-Nya untuk selalu menjaga keseimbangan antara mikro dan makrokosmos.

    Salam Rahayu

      oedi responded:
      Maret 26, 2018 pukul 5:26 am

      Rahayu juga mas Awan, samalah mas.. nuwun juga karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Iya mas, kita perlu mencontoh mereka yang akhirnya bisa hidup di negeri itu. Tetap memantapkan iman di hati dan zuhud dalam perbuatan. Karena kehidupan dunia saat ini sudah berada di titik nadir kehidupan. Ngeri sekali membayangkan azab yang akan menimpa dan permurnian total yang akan terjadi nanti…

      Waaah.. kita sama-sama belajar dan saling mengingatkan aja mas, disini kebetulan saja saya diberikan kesempatan utk bisa menulis.. tentang wawasan, saya justru masih terlalu awam dan cetek bgt ilmunya.. masih perlu byk belajar lagi.. termasuk kepada sampeyan kok.. 🙂

      Semoga keselamatan dan kesejahteraan juga meliputi diri mas Awan, juga kita semua yang ttp berusaha meraih ampunan dan ridho-Nya.. Semoga keseimbangan itu kembali hadir di dunia ini sehingga menciptakan kesempurnaan diri kita.. 🙂

    al jalal said:
    Maret 27, 2018 pukul 6:26 pm

    salah satu orang yg beruntung kang oedi yg dpt gelang itu dan pernah masuk ke negri itu , ya kan kang

      oedi responded:
      Maret 28, 2018 pukul 1:12 am

      Waaahh.. Siapa juga saya ini mas Al-Jalal? Belum layak kok untuk tinggal disana, dan memang standar seleksinya tinggi banget.. harus sudah memahami betul inti dari Wahyu Makhuta Rama dan mempraktekkan semuanya itu dalam kehidupan ini.. Saya mah masih jauuuuh bgt dari bisa.. 🙂

      Khusus untuk info ttg negeri terahasia ini, maka gak haruslah seseorang itu tinggal atau berkunjung dulu kesana utk bisa menceritakannya.. Bisa saja ada seorang dari mereka yang tinggal disana, yaitu bangsa Simayar, yang keluar dan menemui seseorang untuk menceritakan tentang sejarah dan seluk beluk dari negeri Valhadir itu.. Atau bisa juga seseorang diizinkan melihat dari luar negeri tersebut alias dari jarak jauh dengan mata batinnya.. Atau bisa juga dengan jalan Merogo Sukmo mengikuti panduan seseorang dari bangsa Simayar.. Tentu disini ada maksud dan tujuannya.. 🙂

    […] yang seperti warga kota Syinastra inilah yang layak untuk tinggal di negeri Hur ‘Anura atau Valhadir. Dan memang banyak dari mereka itu yang sering berkunjung ke negeri Hur ‘Anura. Sementara ke […]

    Ivan said:
    April 3, 2018 pukul 3:47 pm

    Ini seperti uwentira bukan mas? Maturnuwun mas 🙏

      oedi responded:
      April 4, 2018 pukul 1:50 am

      Nuwun juga mas Ivan atas kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Hmm.. Kalo konteksnya sih bisa dikatakan sama mas, yaitu sama2 negeri yg tak kasat mata.. Hanya saja level kehidupannya, khususnya spiritual, antara keduanya sgt berbeda.. Kota Uwentira itu lebih mirip dg negeri orang Cendaku atau kota Mentawak kalo di provinsi Jambi, yg juga tak kasat mata tapi masih ada sampai skr.. Gak semua orang bisa liat dan diizinkan masuk kesana.. Sedangkan negeri Valhadir lebih unik dan kondisinya mirip dg Kahyangan para Dewa-Dewi yg tentu jauh lebih mempesona dari negeri Uwentira, Cendaku dan Mentawak.. Levelnya pun jelas lebih tinggi dari ketiga negeri/kota itu..

    Membangun Peradaban Baru « Perjalanan Cinta said:
    September 25, 2019 pukul 7:24 am

    […] Aku ingin tempat seperti Syinastra bisa dibangun kembali, atau mungkin seperti Valhadir dapat kembali muncul di Bumi ini lagi, atau Astana, atau Niwata, atau jika memang diizinkan-NYA […]

    Slamet said:
    Maret 3, 2020 pukul 11:06 am

    Apakah batu/logam mulia itu masih ada di bumi ini bung…?maaf pemula.baru belajar

      Harunata-Ra responded:
      Maret 3, 2020 pukul 11:57 am

      Sebenarnya masih ada tapi sangat langka dan tersembunyi.. Suatu saat nanti akan diperkenalkan lagi pd dunia..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s