Kekaisaran Magadha dan Kaitannya Dengan Raja Nusantara

Wahai saudaraku. Sehubungan dengan artikel sebelumnya yang membahas tentang kehidupan bangsa Arya dan keterkaitannya dengan sejarah kerajaan di Nusantara, maka tak lengkap jika tidak mengulik tentang kerajaan-kerajaan yang pernah ada di tanah India. Sebut saja kerajaan Magadha yang merupakan negara kuat pada Zaman Besi yang sangat luas wilayahnya di India kuno. Dipimpin oleh dinasti Maurya sejak tahun 321 – 185 SM. Yang bermula dari kerajaan Magadha di dataran India-Gangga (Bihar, Uttar Pradesh timur dan Bengali modern) di sisi timur anak benua India, kekaisaran ini beribukota di Pataliputra (Patna modern).

Dinasti Maurya didirikan oleh Raja Candra Gupta Maurya di Pataliputra (sekarang disebut Patna) di Magadha, India timur laut. Pada 322 SM, Candra Gupta Maurya naik tahta setelah berhasil melakukan kudeta pada dinasti Nanda. Masa pemerintahan Candra Gupta Maurya ini merupakan persinggungan antara India dengan bangsa asing, tepatnya kekaisaran Macedonia yang dipimpin oleh Alexander Agung. Peristiwa ini berlangsung 2 tahun sebelum Candra Gupta Maurya naik tahta. Kedatangan Macedonia selain dengan maksud politis, juga dengan maksud menyebarkan kebudayaan barat ke timur. Pasca ekspansi bangsa Barat adalah kemunculan budaya Hellenisme, yakni perpaduan antara budaya Timur dengan budaya Barat (Hellenis : Yunani, yang sedang berkembang saat itu).

Candra Gupta Maurya naik tahta beberapa saat pasca kematian Alexander Agung. Ia berhasil menguasai daerah yang sebelumnya dikuasai oleh Macedonia, dan bahkan berhasil menjalin hubungan dengan musuh Alexander Agung, Seloucos Nicator (penguasa Yunani di Asia Barat) yang kemudian banyak membantu Candra Gupta Maurya dalam menuliskan sejarah India.

Dengan wilayah sekitar 5.000.000 km², Maurya merupakan salah satu kekaisaran terbesar pada masanya, dan yang terbesar di anak benua India. Pada puncak kejayaannya, kekaisaran Maurya membentang ke utara di sepanjang perbatasan alami Himalaya, dan ke timur hingga tempat yang kini disebut Assam. Ke barat, Maurya berkuasa melampaui Pakistan modern, menganeksasi Balokhistan, Iran bagian tenggara dan sebagian besar Afghanistan, termasuk provinsi Herat dan Kandahar modern. Maurya lalu meluas ke wilayah India bagian tengah dan selatan pada masa kaisar Candra Gupta Maurya dan Bindusara, namun tidak meliputi sejumlah kecil daerah kesukuan tak terjamah dan berhutan di dekat Kalinga (Orissa modern), hingga raja Asyoka Wadhana berhasil menaklukan wilayah tersebut. 60 tahun setelah berakhirnya pemerintahan raja Asyoka, Maurya mulai mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh pada tahun 185 SM dengan berdirinya dinasti Sungga di Magadha.

Untuk lebih jelasnya, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Asal usul kerajaan
Kerajaan ini awalnya diperintah oleh raja-raja yang bukan berasal dari kebudayaan Weda (Hindu). Ibukota pertama dari kerajaan ini berada di Rajgir yang bernama Rajagriha. Kerajaan tersebut bernama Magadha dan menjadi kerajaan yang terkemuka di tanah India dengan ibukotanya yang baru, Patalipura. Ini adalah sebuah kota pertahanan di pesisir sungai Gangga.

Wilayah kekuasaannya meliputi daerah Bihar, Benggala dan sebagian Uttar Pradesh. Wangsa Nanda dan Maurya adalah di antara yang pernah memerintah di kerajaan ini. Wangsa Maurya akhirnya membangun sebuah kekaisaran yang terkemuka dalam rentang sejarah di India, yakni kekaisaran Maurya. Kerajaan ini sangat kuat dan tak terkalahkan sebelum invasi dari Alexander Agung (kaisar dari Macedonia: kekaisaran Yunani) ke tanah India.

Pada awal abad ke-7 sebelum Masehi, di India bagian utara berdiri kerajaan yang sering disebut dengan kerajaan Arya. Hal ini diduga karena didominasi oleh budaya yang dibawa oleh bangsa Arya (yang berasal dari Asia Tengah) setelah bangsa Dravida (suku asli India) tersingkir ke kawasan Asia Selatan. Zaman bangsa Arya-lah yang menyaksikan lahirnya kerajaan-kerajaan besar yang ada di tanah India. Karena pada saat itu bangsa Arya yang berhasil menguasai India bagian utara dengan membawa ajaran Weda.

Di India bagian utara telah berdiri kerajaan seperti Gandhara, Kosala, Kasi dan Magadha. Tetapi yang paling terkemuka adalah kerajaan Magadha. Kerajaan ini didirikan oleh dinasti Sisunaga pada sekitar tahun 642 SM (sebelum Masehi), dengan ibukotanya yang berada di Giripraja atau Rajgir. Dan selama berdiri, kerajaan Magadha ini telah dipimpin oleh 5 dinasti, yaitu:

1. Sisunaga (642-413 SM)
2. Nanda (413-322 SM)
3. Maurya (322-185 SM)
4. Sungga (185-75 SM) -> asal usul raja-raja di kerajaan Bakulapura.
5. Kanva (75-28 SM)

Kerajaan Magadha memiliki peradaban yang tinggi dan mereka meninggalkan bukti peradaban mereka seperti tugu, patung, dan kuil. Memang tidak banyak yang tersisa hingga kini, karena pada masa itu bahan baku utama untuk pembuatan patung dan kuil sebagian besarnya dari kayu, bukan batu. Dalam setiap pembangunan, maka di lakukan pendekatan dua seni, yaitu Hellenis Persia dan kebudayaan asli India.

Kerajaan Magadha mengalami puncak kejayaannya pada masa dinasti Maurya (322-185 SM), tepatnya pada masa raja Asyoka Wardhana. Namun sepeninggalan raja Asyoka, ternyata kerajaan Magadha ini justru mengalami kemundurannya. Adapun yang menjadi penyebab utama kemunduran itu adalah:

1. Pembagian kekaisaran Maurya akibat kudeta dan perang.
2. Lemahnya penguasa Maurya setelah meninggalnya raja Asyoka.
3. Tekanan ekonomi pada kekaisaran Maurya.
4. Administrasi yang sangat terpusat.

Setidaknya ke empat faktor itulah yang menjadi penyebab utama mengapa kerajaan Magadha pada akhirnya runtuh. Kerajaan yang sangat hebat dan berkuasa itu pada akhirnya runtuh setelah lebih kurang 500 tahun berdiri. Sepeninggalan kerajaan ini, maka ada kerajaan lain yang merupakan keturunan mereka yang mendirikan kerajaan baru tapi tak pernah lagi sebesar dan seagung kerajaan Magadha ini. Bisa dikatakan kerajaan Magadha adalah kerajaan terbesar yang pernah ada di tanah India pada periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra).

2. Bangkitnya kekaisaran Maurya
Kekaisaran ini merupakan perkembangan dari kerajaan Magadha. Mulai ada sejak kekuasaan di kerajaan Magadha telah diperintah langsung oleh wangsa Maurya. Orang yang mendirikan wangsa Maurya itu bernama Chandra Gupta Maurya. Pusat pemerintahannya dulu berada di Pataliputra (sekarang disebut Patna) di Magadha, India Timur Laut. Pada sekitar tahun 322 Masehi, Chandra Gupta naik tahta hasil dari kudeta yang ia pimpin kepada wangsa Nanda. Pada masa pemerintahan Chandra Gupta ini pula maka terjadi persinggungan antara bangsa India dengan bangsa asing, tepatnya dengan kekaisaran Yunani-Macedonia yang dipimpin oleh Alexander Agung. Peristiwa ini berlangsung sejak 2 tahun sebelum Chandra Gupta menaiki tahtanya.

Gambar 1. Foto: Kota Pataliputra

Chandra Gupta naik tahta beberapa saat pasca kematian Alexander Agung. Ia berhasil menguasai daerah yang sebelumnya telah dikuasai oleh Macedonia, dan bahkan berhasil menjalin hubungan erat dengan musuh Alexander Agung, yaitu Seleukos Nicator (penguasa Yunani di Asia Barat), yang kemudian banyak membantu Chandra Gupta dalam menuliskan sejarah India.

Kedatangan kekaisaran Macedonia selain dengan maksud politis, juga dengan maksud menyebarkan kebudayaan barat ke timur. Pasca ekspansi dari bangsa barat itu adalah kemunculan budaya Hellanisme, yakni perpaduan antara budaya timur dan barat (Hellenis: Yunani, yang sedang berkembang saat itu).

Adapun daftar raja-raja Magadha dari wangsa Maurya yaitu:

1. Chandra Gupta Maurya (322-….. SM) -> pendiri dinasti dan kekaisaran Maurya.
2. Bindusara (….. – 273 SM)
3. Asyoka Wardhana (273-232 SM) -> Raja termahsyur kekaisaran Maurya.
4. Suyasas
5. Dasaratha
6. Sanggata
7. Salisuka
8. Somasarman
9. Sasadharman
10. Brihadratha (….. – 185 SM) -> raja terakhir kekaisaran Maurya.

Pada tahun 320 SM, dinasti Maurya telah menguasai sepenuhnya India barat laut, mengalahkan dan menaklukkan setiap satrap (distrik) yang telah ditinggalkan oleh kaisar Alexander Agung dari Macedonia. Dengan wilayah sekitar 5.000.000 km², kekaisaran Maurya merupakan salah satu dari kerajaan terbesar pada masanya, dan terbesar pula di anak benua India. Pada puncak kejayaannya, kekaisaran Maurya telah membentang ke utara di sepanjang perbatasan alami pegunungan Himalaya, dan ke timur hingga tempat yang kini disebut Assam. Ke barat, dinasti Maurya berkuasa melampaui Pakistan, meng-aneksasi Balokhistan, Iran bagian tenggara dan sebagian besar Afganistan, termasuk propinsi Herat dan Kandahar moderen. Maurya juga meluas ke wilayah India bagian tengah dan selatan pada masa kaisar Chandra Gupta Maurya dan Bindusara, namun tak meliputi sejumlah kecil daerah kesukuan tak terjamah dan berhutan di dekat Kalingga (Orissa sekarang), hingga raja Asyoka berhasil menaklukkan kerajaan itu.

Dibawah Chandra Gupta Maurya, kekaisaran Maurya menaklukkan daerah trans-Indus yang dulunya dikuasai oleh kekaisaran Macedonia-Yunani. Chandra Gupta kemudian memukul mundur invasi yang dipimpin oleh Seleukos I, seorang jendral Yunani dari pasukan Alexander Agung. Dibawah Chandra Gupta dan para penerusnya, perdagangan dalam dan luar negeri, kegiatan agrikultur dan ekonomi, semuanya berkembang dan meluas di seluruh India berkat dibentuknya sistem keuangan, administrasi dan keamanan tunggal yang sangat efisien.

Pada masa raja Asyoka, kekaisaran Maurya sampai pada puncak kejayaannya. Setelah ia menaklukkan kerajaan Kalingga, kekaisaran ini mengalami periode penuh kedamaian dan aman selama separuh abad. Kekaisaran ini juga telah mengalami masa-masa kerukunan sosial, transformasi keagamaan, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Chandra Gupta penganut Jainisme meningkatkan pembaruan dan reformasi sosial dan keagamaan dalam masyarakat Maurya. Sedangkan raja Asyoka Wardhana menganut ajaran Buddha dan menciptakan masa kedamaian dan non kekerasan sosial dan politik di seluruh India. Pada masanya anak benua India bisa hidup dalam kedamaian dan kemakmuran.

Jumlah penduduk kekaisaran Maurya pada masa itu sekitar 50-60 juta orang. Angka ini menjadikan kekaisaran Maurya sebagai salah satu dari kekaisaran yang berpenduduk terpadat pada masanya. Saking mahsyurnya kekaisaran ini, maka pada masa sekarang, Kapital Singa Asyoka (empat patung singa yang menghadap ke empat arah mata angin) di Sarnatha menjadi lambang nasional dari negara India sekarang (saat keterangan ini di tuliskan).

• Asyoka Wardhana, kaisar agung Maurya
Raja Asyoka Wardhana Yang Agung adalah penguasa kekaisaran Maurya dari tahun 273-232 SM. Ia seorang penganut agama Buddha yang taat dan menguasai sebagian besar anak benua India, yang sekarang disebut dengan negara India, Pakistan, Afganistan, sebagian Iran, Bangladesh dan di selatan sampai sejauh Mysore.

Gambar 2. Foto: Lukisan sosok Asyoka Wardhana

Nama Asyoka dalam bahasa Sanskerta berarti tanpa duka. Asyoka adalah pemimpin India kuno yang telah berhasil menyatukan wilayah India yang sangat luas kedalam satu wadah kekaisarannya. Luasnya bahkan melebihi wilayah kedaulatan negara India sekarang ini. Asyoka sendiri adalah putera kandung dari Maharaja Bindusara (raja ke-2 dinasti Maurya) dari seorang selir yang kedudukannya agak rendah yang bernama Subhadrangi – pada akhirnya ia disebut Dharma karena ia mengikuti jalan kebenaran. Asyoka memiliki beberapa kakak dan satu adik yang bernama Drupadh. Karena kepandaian yang meneladani dan kemampuannya dalam berperang, ia dikatakan merupakan cucu kesayangan kakeknya, Maharaja Chandra Gupta Maurya.

Asyoka terus berkembang dengan sering memimpin beberapa regimen tentara dinasti Maurya. Popularitasnya yang naik di seluruh wilayah kekaisaran membuat kakak-kakaknya menjadi cemburu dan iri hati. Mereka cemas bila Asyoka nanti dipilih oleh raja Bindusara untuk menggantikannya sebagai raja Maurya selanjutnya. Kakaknya yang tertua, pangeran Susima, yang merupakan putra mahkota pertama lalu membujuk ayahnya, Bindusara, untuk mengirim Asyoka agar mengatasi sebuah pemberontakan di kota Tashila, di propinsi barat laut Sindhu, dimana pangeran Susima adalah gubernurnya. Tashila adalah sebuah daerah yang terus bergejolak karena penduduknya adalah bangsa Yunani-India yang memang suka berperang dan juga karena pemerintahan kakaknya itu sangat kacau balau. Oleh sebab itu, di daerah ini banyak terdapat milisi-milisi yang mengacau keamanan. Asyoka setuju dan bertolak ke daerah yang dilanda huru-hara itu. Namun ketika berita bahwa Asyoka akan datang menjenguk mereka dengan pasukannya, Asyoka justru disambut dengan hormat oleh para milisi yang memberontak, sementara pemberontakan pun bisa di akhiri tanpa pertumpahan darah. Namun propinsi ini dikemudian hari juga memberontak lagi ketika Asyoka memerintah, namun ditumpas dengan tangan besi olehnya.

Keberhasilan Asyoka membuat kakak-kakaknya jadi semakin cemas akan maksudnya menjadi maharaja penerus. Maka hasutan-hasutan dari Susima kepada Maharaja Bindusara membuat sang raja harus membuang Asyoka. Asyoka kemudian pergi ke Kalingga dan menyembunyikan jati dirinya. Disana ia bertemu dengan seorang nelayan wanita bernama Kaurwaki, dan ia jatuh cinta. Kelak, wanita itu pula yang menjadi permaisuri selirnya yang kedua atau ketiga.

Waktu pun berselang dan ternyata ada pemberontakan lagi, kali ini terjadi di wilayah Ujjayani/Ujjain (Madhya Pradesh, India Tengah). Maharaja Bindusara mengundang Asyoka untuk kembali setelah dibuang selama dua tahun. Asyoka pun pergi ke Ujjayani dan pada pertempuran disana ia terluka parah, tetapi para hulubalangnya berhasil menumpas pemberontakan itu. Asyoka kemudian diobati secara diam-diam sehingga pengikut setia pangeran Susima tidak bisa melukainya. Ia diurus oleh para bhiksu dan bhiksuni yang beragama Buddha. Disinilah ia pertama kali mengenal ajaran Buddha, dan disini pula ia bertemu dengan wanita bernama Devi yang merawat lukanya – ia putri seorang saudagar bernama Widisha. Setelah pulih, Asyoka lalu menikahi Devi. Hal itu tidak bisa diterima oleh Maharaja Bindusara, karena ia tidak mau anaknya menikah dengan penganut agama yang berbeda. Walau sudah berusaha untuk membujuk ayahnya itu, tetap saja izin tak diberikan. Asyoka tidak dibolehkan tinggal di Pataliputra dan ia diperintahkan kembali ke Ujjayani untuk menjadi gubernur disana.

Tahun selanjutnya kehidupan berjalan cukup tenang untuk Asyoka dan istrinya Devi akan melahirkan anak pertama mereka. Sementara itu Maharaja Bindusara wafat. Saat berita anak pertama Asyoka akan lahir menyebar, pangeran Susima langsung berniat untuk membunuhnya, namun si pembunuh justru membunuh ibunya Asyoka. Menurut cerita rakyat, karena hal itu Asyoka murka dan menyerang Pataliputra lalu memenggal kepala kakak-kakaknya termasuk Susima dan membuangnya di sebuah sumur di Pataliputra. Pada saat itu orang menyebutnya sebagai Canda Asyoka atau yang berarti Asyoka si pembunuh dan tak kenal belas kasih.

Asyoka pun naik tahta dan ia segera memperluas wilayah kekaisarannya dalam kurun waktu delapan tahun kemudian dari perbatasan daerah yang sekarang disebut Benggala dan Assam di India Timur, sampai daerah-daerah di Iran dan Afganistan di barat, dari Palmir Knots sampai hampir di ujung jazirah India di sebelah selatan anak benua India.

Sejarah perang terkelam dari Asyoka adalah saat ia menaklukkan kerajaan Kalingga, yang sekarang disebut dengan negara bagian Orissa. Kalingga adalah negeri yang bangga dengan kemerdekaan dan demokrasinya; dengan demokrasi monarki dan parlementernya. Negeri ini bisa dikatakan sebuah pengecualian untuk di Bharata (India) kuno, karena disana ada konsep Rajadharma, yang berarti kewajiban para pemimpin, yang secara dasar telah bersatu padu dengan konsep keberanian dan Kesatriyadharma.

Waktu perang Kalingga ini terjadi di sekitar tahun 265-263 SM. Menurut cerita, salah satu saudara Susima kemungkinan melarikan diri ke Kalingga dan mendapat suaka politik secara resmi disana. Hal ini membuat Asyoka sangat murka, dan oleh para menterinya ia diberi saran untuk menyerang kerajaan Kalingga atas pengkhianatan itu. Maharaja Asyoka lalu meminta Kalingga untuk tunduk kepada kekuasaannya. Dan ketika mereka menolak diktat itu, Asyoka lalu mengirimkan panglimanya untuk menaklukkan Kalingga. Tapi sang panglima dan pasukannya kalah telak dan melarikan diri. Asyoka tercengang dengan itu, dan ia pun memutuskan untuk menyerang sendiri Kalingga. Saat itu, ia mengumpulkan pasukan terbesar yang pernah ada dan belum dikenal dalam sejarah India sampai saat itu. Kalingga melawan dengan sengit tetapi mereka bukanlah tandingan dari pasukan Asyoka yang terkenal sangat kuat. Seluruh wilayah Kalingga dijarah dan dihancurkan, piagam-piagam Asyoka dikemudian hari lalu menyebutkan bahwa disisi kerajaan Kalingga kurang lebih ada 100.000 orang tewas, sedangkan di pihak prajurit Asyoka yang tewas kurang lebih 10.000 orang. Ribuan pria dan wanita juga dibuang.

Gambar 3. Foto: Ilustrasi pertempuran Raja Asyoka Wardhana.

Selanjutnya, seusai perang besar itu Asyoka menjelajah ke seluruh kota dan yang bisa di lihat hanyalah rumah-rumah yang terbakar dan mayat-mayat yang bergelimpangan. Hal ini membuatnya muak dan ia lalu berteriak dengan kata-kata yang menjadi mahsyur; “Apakah yang telah ku perbuat? Apakah ini sebuah kemenangan? Jika ini adalah kemenangan, kemenangan dari apa? Apakah ini kemenangan atau kekalahan? Apakah ini keadilan atau ketidakadilan? Apakah ini keberanian atau pengusiran? Apakah ini keberanian saat membunuh anak-anak dan perempuan? Apakah aku memperluas kekuasaan harus dengan menghancurkan kerajaan lain? Para wanita kehilangan suaminya, bayi-bayi tidak jadi terlahir. Apakah ini tumpukan mayat? Apakah ini pertanda kemenangan atau kekalahan? Apakah burung nazar, burung gagak, burung elang yang membawa pesan kematian atau kejahatan?”

Kekejian dan penaklukkan ini akhirnya membuat Asyoka jenuh dan ingin mencari ketenangan diri. Pada akhirnya ia memeluk ajaran Buddha dan ia memakai jabatannya untuk mempromosikan ajaran falsafah yang relatif baru itu sampai dikenal kemana-mana, sejauh Roma dan Mesir. Sejak saat itu Asyoka yang sebelumnya dikenal sebagai sosok yang sangat kejam (Canda Asyoka), justru mulai dikenal sebagai Dharmasyoka atau Asyoka yang shaleh.

Asyoka lalu mempromosikan aliran Buddha Wibhajyawada dan juga menyebarkannya di dalam wilayahnya dan di seluruh dunia yang dikenal mulai dari tahun 250 SM. Ia bisa dikatakan sebagai orang yang pertama kali dengan serius mengusahakan pembentukan satuan politik Buddha. Ia juga membangun banyak stupppa dan vihara untuk penganut agama Buddha. Selama sisa pemerintahannya, ia juga telah mengatur kebijakan resmi anti kekerasan; Ahimsa. Bahkan penyembelihan dan penyiksaan sia-sia terhadap hewan di larang. Ia membuat undang-undang yang melarang melakukan perburuan hanya untuk olah raga atau mengisi waktu luang saja. Perburuan boleh di lakukan hanya untuk maksud konsumsi saja. Asyoka juga mempromosikan konsep vegetarianisme (tanpa memakan daging). Ia juga menaruh belas kasihan kepada narapidana di penjara dengan memberi mereka cuti satu hari dalam rentan waktu setahun. Ia lalu memberikan kebebasan bagi penduduknya untuk bisa mempraktekkan agama lain seperti Jainisme, Zoroastrianisme, Ajivikaisme, dan politeisme Yunani. Ia juga berusaha meningkatkan ambisi profesional rakyat jelata dengan mendirikan pusat-pusat studi yang sekarang biasa disebut Universitas Nalanda dan Universitas Tashila. Dalam bidang pertanian, Asyoka terus mengupayakan sistem irigasi yang baik. Rakyat diperlakukan sama, apapun derajat, agama, haluan politik, ras, suku bangsa dan kasta mereka. Kerajaan yang berada disekitarnya, yang sebenarnya bisa ditaklukkan ia jadikan sekutu yang terhormat. Asyoka juga telah membangun banyak rumah sakit untuk manusia dan hewan, dan merenovasi jalan-jalan utama yang bisa menghubungkan daerah-daerah di India.

Ada kabar yang mengatakan bahwa selama sisa kepemimpinanya, Asyoka mendirikan sebuah organisasi sangat rahasia yang disebut “Sembilan lelaki misterius”. Ke sembilan orang itu adalah para ilmuwan yang terkenal di tanah India pada masa itu. Mereka ini bertugas mengkatalogkan berbagai jenis sumber-sumber sains dan teknologi, dan juga menciptakannya. Tindakan itu sangat di rahasiakan oleh Asyoka. Ia melakukan hal itu karena merasa bahwa penemuan ilmiah yang terbaru itu akan berdampak sangat buruk bila disalahgunakan. Sembilan lelaki misterius itu menuliskan sembilan buah buku yang saling berkaitan. Adapun di antara buku-bukunya itu adalah yang membahas tentang rahasia dari gravitasi. Yang lainnya menjelaskan tentang bagaimana caranya untuk bisa terbang, membangun Vimana (sejenis pesawat terbang), menghilang, dan menjadi seberat gunung. Semua buku itu kini masih diyakini tersimpan di salah satu perpustakaan terahasia di India, Tibet, gurun Ghobi atau dimana pun; termasuk di Amerika Utara.

Selama menjadi raja, Asyoka Wardhana telah memimpin sekitar 50-60 juta penduduknya. Ia lalu menyapa rakyatnya dengan sebutan “Anak-anakku”. Kata-katanya yang paling terkenal terdapat dalam piagam-piagamnya seperti; “Semua orang adalah anakku. Aku seperti ayah mereka. Seperti seorang ayah yang menginginkan kebaikan dan kebahagiaan untuk anaknya. Aku ingin supaya semua orang selalu bahagia”. Setelah 41 tahun memerintah, ia wafat pada usia yang ke 72 tahun (304-232 SM). Ia telah mewariskan kenangan sebagai raja yang cakap, pembuat undang-undang, pahlawan, pendeta dan pengajar dharma. Selanjutnya dinasti Maurya masih bertahan sampai lebih dari 50 tahun. Selama masa kepemimpinannya, tanah India dapat dipersatukan dan ia meninggalkan banyak prestasi. Ia juga mewariskan bahasa tertulis pertama setelah peradaban Harrapa. Dan berbeda dengan yang di Harrapa, teks-teks Asyoka bisa kita pahami. Bahasa yang dipakai Asyoka dalam menuliskan teks-teks di prasastinya adalah sebuah bentuk bahasa rakyat atau bahasa Prakerta/Prakit, bukan dalam bahasa Sanskerta.

Ya. Asyoka adalah seorang maharaja yang akhirnya mengangungkan dharma dan belas kasihan. Ia lahir pada tahun 304 SM di Pataliputra (sekarang daerah Patna). Sejak kecil ia sudah menjadi anak yang sangat cerdas dan mahir dalam memainkan senjata atau cepat menangkap pelajaran yang diberikan. Tapi seiring itu pula ia tampil sebagai sosok yang temperamen dan pemarah. Ia bahkan digelari Canda Asyoka yang berarti Asyoka yang sangat bengis dan kejam. Ada cerita yang menyebar luas bahwa Asyoka telah membunuh 99 saudaranya dan hanya menyisakan satu saja, yaitu Tissa untuk dijadikan raja. Asyoka juga membunuh saudara tirinya dengan memasukkan mereka ke dalam lubang batu bara hidup-hidup. Asyoka membunuh semua lawan-lawan dalam keluarganya. Asyoka juga telah membunuh 500 menterinya yang diduga tidak loyal lagi kepadanya. Asyoka punya 100-an wanita di dalam haremnya yang akan dibakar sampai mati kalau salah satu dari mereka itu menghinanya. Asyoka adalah seorang pembunuh sadis yang memiliki kamar penyiksaan yang besar, yang dikenal dengan “Neraka di dunia” atau “Neraka Asyoka”.

Asyoka juga mempunyai para algojo yang sangat kejam untuk membunuh siapa saja yang bermusuhan dengan dirinya. Asyoka pernah membunuh sekitar 18.000 pengikut sekte Ajivika di wilayah Pundravardhana (sebelah utara Bengal Barat yang sekuler dan Bangladesh Islam). Dan puncaknya pada perang di Kalingga. Akibat dari ambisinya itu akhirnya justru menewaskan lebih kurang 100.000 orang di pihak Kalingga dan 10.000 di pihak prajurit Asyoka sendiri. Sejak peristiwa yang sangat mengerikan itulah Asyoka akhirnya tersadar dan mengikuti ajaran Buddha lalu menyebarkannya. Ia berubah menjadi sosok raja yang penyayang dan penuh belas kasih. Dan pada masanya pula agama Buddha bisa menjadi agama resmi negara. Ia lalu melakukan sebuah pertemuan akbar dengan para penganut dan penyebar ajaran Buddha. Itu di lakukan karena pada saat itu ada ribuan penyelundup ajaran gelap masuk ke dalam wilayahnya untuk menyesatkan orang. Untuk mengakhiri itu, Maharaja Asyoka lalu menyelenggarakan pertemuan agung. Saat itu ada sekitar 100 orang Arahat (bhiksu agung) yang mengulang kembali pembacaan kitab Tripitaka selama sembilan bulan. Dari pertemuan itulah, maka agama Buddha masih tersebar luas hingga sekarang (saat keterangan ini dituliskan).

Pada tahun 185 Masehi, kurang lebih 50 tahun setelah mangkatnya kaisar Asyoka Wardhana, penguasa Maurya terakhir yang bernama Birahadratha, dibunuh secara keji oleh panglima perang Maurya saat itu yang bernama Pusyamitra Sunga. Itu terjadi pada saat ia sedang melakukan inspeksi rutin terhadap pasukannya. Pusyamitra Sunga lalu mendirikan dinasti Sunga (185 SM-78 M) dan hanya memerintah sebagian wilayah kekaisaran Magadha yang telah meredup. Dari dinasti Sungga inilah raja-raja di kerajaan Bakulapura berasal.

3. Perang melawan kekaisaran Macedonia-Yunani
Pada sekitar abad ke-7 SM, di India bagian utara telah berdiri beberapa kerajaan seperti kerajaan Ghandara, Kosala, Kasi dan Magadha. Namun di antara kerajaan tersebut yang paling maju serta memiliki pengaruh yang besar di wilayan India adalah kerajaan Magadha yang memiliki kekutan paling besar.

Awal berdirinya kerajaan Magadha yaitu didirikan oleh Sisunaga pada sekitar tahun 642 SM. Ibukotanya terletak di Giripraja atau Rajgir yang sekarang dikenal dengan Rajagriha. Dalam sejarahnya kerajaan ini bermula dari dinasti Sisunaga yang memerintah kurang lebih selama 642-414 SM. Yang kemudian di lanjutkan oleh pemerintahan dinasti Nanda pada sekitar tahun 413-322 SM. Lalu selanjutnya pemerintahan di lanjutkan lagi oleh dinasti Maurya yang memerintah dari tahun 322-185 SM. Setelah dinasti Maurya runtuh, maka pemerintahan digantikan oleh dinasti Sunga yang memerintah dari tahun 185-75 SM. Dan dilanjutkan lagi oleh dinasti Kanwa yang memerintah dari tahun 75-28 SM.

Alexander Agung adalah raja Macedonia-Yunani yang memerintah kerajaan itu selama periode 354-323 SM. Dipandu oleh gurunya yaitu Aristoteles (384-322 SM) seorang filusuf yang menggetarkan dunia. Ia pernah berupaya menaklukkan benua Asia, yang dimulai pada sekitar tahun 334 SM ke wilayah Asia Kecil (yang sekarang menjadi wilayah Turki) dengan membawa serdadu sebanyak 35.000 orang. Dalam waktu singkat ia bisa menaklukan wilayah-wilayah itu dengan cepat.

Alexander sekarang merupakan Raja Agung, dan orang-orangnya berharap perjalanan tugasnya berakhir. Tetapi Alexander tidak bisa meninggalkan suatu wilayah tanpa ditaklukan, dan kerajaan-kerajaan di sebelah Timur Laut, antara lain, Baktria dan Sogdiana, belum ditaklukan olehnya. Dia pun mulai bergerak lebih jauh dan lebih ke atas, di atas jajaran gunung-gunung yang memisahkan anak benua India dari pusat daratan Asia. Medan yang harus dilewati sangatlah berat, dan setelah lebih dari tiga tahun berperang, kesetiaan orang-orangnya mulai berkurang.

Gambar 4. Lukisan sosok Alexander Agung

Pertama, putra Jenderal Parmenio dihukum karena berkomplot untuk membunuh Raja, Alexander pun memerintahkan untuk menyiksanya sampai mati, kemudian Parmento juga dibunuh. Kedua, adalah jenderal Cleitus yang melemparkan tuduhan ke Raja, bahwa dia mendapat harta pampasan untuk kemenangan-kemenangan yang dimenangkan dengan darah orang-orang Macedonia. Bahkan Cleitus mencoba menyerang Alexander, akan tetapi Alexander membunuhnya terlebih dahulu menggunakan tombak.

Walaupun kesetiaan orang-orangnya mulai melemah tidak menghentikannya untuk meneruskan penaklukannya lebih jauh ke Timur. Dia tidak peduli jika pasukannya mengikutinya dengan setia atau tidak, dia tetap bermaksud untuk bisa menguasai India. Dan sebelum melanjutkan perjalanannya, Alexander memutuskan untuk menikah dengan seorang putri dari Sogdiana, si cantik Roxanne. Ini adalah perkawinan pertama, yang bisa dikatakan terlambat untuk orang seumurannya. Sekarang yang akan menjadi ratunya adalah seorang gadis dari suku yang menurut orang Macedonia dari golongan budak dan barbar.

Di sisi lain sungai Indus, terdapat penguasa yang menjadi penakluk terbesar wilayah India, penguasa itu bernama Mahapadma Nanda, sang raja di kerajaan Magadha. Dia banyak menaklukkan wilayah India, dan masih bertempur pada usia ke-88 tahun. Ia meninggalkan kerajaannya kepada keturunannya ketika Alexander memasuki India melalui Celah Khayber. Salah satu keturunan Mahapadma Nanda yaitu Dhana Nanda, kemudian menjadi raja Magadha.

Sebelum dia (Alexander) mendapat kesempatan untuk memperoleh kerajaan India yang paling kaya dan paling kuat ini, Alexander harus melewati daratan-daratan yang terletak di antaranya. Tetapi dia tidak pernah sampai cukup jauh untuk menghadapi Dhana Nanda dalam pertempuran terbuka.

Pada awal kedatangannya di India, Alexander memperoleh tawaran untuk membantu raja Tashila/Taxila melawan kerajaan di seberangnya Hydaspe, yang terletak di sungai Jhelum dan dikuasi oleh raja Porus. Alexander menerima tawaran itu, dan setuju untuk membantu Taxiles melawan musuhnya. Kekuatan gabungan pasukan Macedonia dan bangsa India berbaris menuju sungai Jhelum, disana mereka bertemu Porus dan angkatan perang bergajahnya di seberang. Alexander bersama empat ajudannya (Ptolemeus, Perdiccas, Lysimachus, dan Seleucus), memimpin angkatan perangnya menyeberangi sungai dan memulai penyerangan.

Pasukan Alexander menyerang pasukan bergajah Porus, meskipun sempat merasa ngeri ketika menyerang pasukan itu, mereka tetap maju berperang dan mendesak angkatan perang Porus hingga terkepung, dan akhirnya menyerah. Alexander yang terkesan dengan keberanian Porus, memutuskan tidak membunuhnya.

Perang melawan kerajaan Hydaspes ini menyebabkan angkatan perang Alexander menderita banyak kerugian. Dan ketika mereka mengetahui Alexander berniat untuk memimpin mereka melewati sungai Gangga yang lebih lebar dari Indus, dan memiliki pasukan bergajah yang lebih ganas, mereka menolak untuk terus maju. Mendapati penolakan dari pasukannya, Alexander sempat kecewa dan merenung di tendanya selama dua hari. Dia akhirnya menyadari kalau pasukannya tidak mampu meneruskan penaklukannya di India, dia muncul pada hari ketiga dan setuju untuk kembali ke Asia Kecil (Turki). Keputusannya ini mengakhiri perjalanan penaklukannya yang tidak terkalahkan.

4. Penyebab keruntuhan dinasti Maurya
Dalam proses keruntuhannya, dinasti Muarya memiliki sejarah yang dramatis, dikenal sebagai dinasti yang membawa kerajaan Magadha pada masa kejayaan dengan melakukan perluasan kekuasaan hingga hampir menyatukan India melalui peperangannya. Sampai mengalami kemerosotan yang sangat drastis. Ada beberapa faktor yang menarik mengenai runtuhnya dinasti Maurya, yang akan di bahas sebagai berikut:

1) Pembagian kekaisaran Maurya akibat kudeta dan perang
Penyebab langsung pada penurunan tersebut adalah pembagian dari kekaisaran Maurya menjadi dua bagian. “Seandainya pembagian itu tidak terjadi, invasi Yunani dari Barat Laut bisa saja dibendung untuk sementara waktu. pembagian kerajaan juga mengganggu berbagai layanan.”

2) Lemahnya penguasa Maurya setelah meninggalnya raja Asyoka
Suksesi penguasa Maurya yang lemah setelah Asyoka benar-benar mengganggu administrasi Maurya. Lemahnya penguasa ini dapat dibayangkan dari kenyataan bahwa sebanyak enam penguasa bisa memerintah dalam kurun waktu 52 tahun kekaisaran. Dan akhirnya raja Maurya yang terakhir dibunuh oleh panglimanya sendiri yang bernama Pusyamitra Sungga, yang kemudian naik tahta dan mengawali kekuasaan dinasti Sungai di Magadha.

3) Tekanan pada ekonomi kekaisaran Maurya
D.D. Kosambi berpendapat bahwa telah terjadi tekanan terhadap perekonomian Maurya. Dapat dilihat dari tingginya pajak yang ditarik serta melemahnya perdagangan.

4) Administrasi yang sangat terpusat
Prof. Romila Thapar berpandangan: “Sistem administrasi Maurya begitu terpusat yang memungkinkan penguasa mampu menggunakannya baik untuk keuntungan pribadi maupun kepentingan kerajaan Magadha sendiri. Pada tingkat yang sama itu bisa menjadi berbahaya bila penguasa yang lemah kehilangan kontrol pusat dan memungkinkan terjadi kehancuran dimana-mana.

Melemahnya pusat kontrol di bawah Maurya kemudian menyebabkan melemahnya administrasi secara otomatis. Pembagian kekuasaan setelah kematian Asyoka telah memberikan pukulan lebih lanjut kepada pemerintah Maurya yang terpusat di bawah penguasa yang lemah, yang mengarah ke penurunan dan disintegrasi kekuasaan Maurya.

Faktor lain yang memberikan kontribusi terhadap penurunan dinasti Muarya telah digambarkan dalam pemberontakan kaum brahmanis terhadap kelompok kebijakan Pro-Buddhis Asyoka serta para pengikutnya. Pemberontakan rakyat terhadap pemerintahan Maurya setelah kematian Asyoka”.

5. Peninggalan sejarah
Orang-orang India pada masa itu menguasai seni seperti membuat patung dan kuil, namun peninggalan-peninggalan itu hampir tidak ada lagi. Para ahli mengatakan adanya peninggalan-peninggalan seni tersebut seperti patung dan kuil itu banyak dibuat pada masa kerajaan Magadha terutama dinasti Maurya pada masa raja Asyoka, yang mana ukiran serta pahatan-pahatannya berkembang dan mempunyai mutu yang tinggi. Namun perkembangan itu tidak begitu terang, dikarenakan menurut para ahli bahwa hasil-hasil seni tersebut terbuat dari kayu ataupun bahan-bahan yang tidak awet, sehingga peninggalan-peninggalan itu tidak berbekas lagi. Selain itu, para ahli juga menemukan hal-hal yang aneh tentang hilangnya peninggalan-peninggalan tersebut, namun para ahli tidak berani untuk mengambil kesimpulan.

Gambar 5. Foto: Stuppa Sanchi yang dibangun oleh Raja Asyoka (penguasa
termahsyur di kekaisaran Magadha-Maurya) pada abad ke-3 SM.

Dalam dinasti Maurya, yang dipakai untuk setiap hasil karyanya bukan hanya memakai satu aliran saja, melainkan ada dua, yaitu seni Hellenis-Persia dan seni India asli. Dan pada masa dinasti Maurya terutama saat raja Asyoka memimpin, banyak didirikan stuppa (bangunan tempat ibadah agama Buddha). Ada sekitar 84.000 buah, yang berfungsi untuk menyimpan peninggalan-peninggalan keramat Sri Buddha dan peninggalan orang keramat lainnya. Namun stuppa-stuppa yang didirikan itu sudah hampir lenyap, tinggallah tugu-tugu Asyoka sebanyak 35 buah yang kini telah ditemukan kembali. Selain itu juga mendirikan tugu-tugu batu yang ditulisi dengan maklumat-maklumat mengenai agama dan mengenai hal-hal yang berlaku sebagai tanda peringatan.

Tugu batu peninggalan Maurya itu tingginya antara 10-15 meter. Batang tugu itu terdiri dari satu batu saja, yang dipahat sangat halus. Seni upam ini berasal dari negeri Persia. Di atas batang tugu terdapat pula sebuah batu besar, yang dinamakan kapital. Kapital tersebut terdiri dari tiga bagian. Bagian bawah disebut lonceng, yang sebenarnya menyerupai bentuk bunga teratai yang terbalik. Di atas bunga teratai itu terdapat sebuah lempeng batu yang berfungsi sebagai alas patungnya (yaitu untuk bentuk atasnya).

Selain itu, ada pula yang disebut Abakus. Lempeng batu atau abakus ini seringkali diukir dengan gambar binatang-binatang, seperti gajah, lembu jantan, kuda, dan singa, yang semuanya mempunyai arti kiasan. Pada tiang-tiang Asyoka ini lalu dipahatlah patung binatang, tepat di atas abakus itu dan kadang-kadang lebih dari seekor. Dan kini satu yang bekasnya masih ada dan termasuk disebut “Tugu empat dari kapitel”.

Gambar 6. Foto: Patung Singa Asyoka

Adapun aksara yang dipakai oleh kekaisaran Maurya, khususnya pada masa raja Asyoka Wardhana berkuasa ialah tulisan Karoshthi yang berasal dari luar India melalui Persia. Bentuk hurufnya sangat baik sekali dan pada umumnya dipahatkan ke dalam batu. Sementara bahasa yang mereka gunakan adalah Sanskerta dan Prakerta.

Aksara Kharosthi adalah sebuah aksara yang dulu pernah dipakai di Gandhara (kini Afganistan dan Pakistan) untuk menulis bahasa Prakerta Gandhari dan bahasa Sanskerta. Aksara ini juga banyak digunakan di Asia Tengah. Aksara Kharosthi dipakai mulai abad ke-4 atau 3 SM hingga berhenti dipakai di wilayah asalnya pada abad ke-3 Masehi. Aksara Kharosthi juga digunakan di Baktria, Kekaisaran Kushan, Sogdiana, dan di wilayah-wilayah sepanjang Jalur Sutra, dengan beberapa peninggalan hingga abad ke-7 ditemukan di daerah sejauh Khotan dan Niya.

Gambar 7. Foto: Artefak tulisan Kharosthi pada media kulit, kertas dan kayu.

Para ilmuwan masih berdebat mengenai apakah aksara Kharosthi berkembang secara perlahan atau merupakan karya dari seseorang. Analisis terhadap bentuk-bentuk hurufnya menunjukkan kebergantungan terhadap abjad Aram dengan banyak modifikasi untuk menuliskan bunyi-bunyi yang dimiliki bahasa-bahasa di India. Sebuah teori menyebutkan bahwa aksara Aram tiba bersamaan dengan penyerbuan kekaisaran Akhemeniyah terhadap wilayah Sungai Indus (kini Pakistan) tahun 500 SM untuk kemudian berkembang selama lebih dari 200 tahun hingga bentuknya pada abad ke-3 SM seperti yang ditemukan pada Dekret Asyoka di barat laut Asia Selatan. Akan tetapi, bentuk pertengahan dari aksara Kharosthi ini belum pernah ditemukan sementara tulisan pada pahatan batu dan uang logam mulai dari abad ke-3 SM menunjukkan bentuk-bentuk yang serupa. Sebuah pahatan dalam bahasa Aram dari abad ke-4 SM ditemukan di Sirkap, menjadi bukti keberadaan aksara Aram di India sebelah barat laut pada masa itu. Menurut arkeolog Sir John Marshall, hal ini membuktikan bahwa aksara Kharosthi dikembangkan dari aksara Aram (aksara yang dipakai dalam bahasa Aram, oleh masyarakat Aram yang tinggal di daerah sekitar Syiria (Suriah) sekarang dan Mesopotamia (Iraq). Aksara ini digunakan sekitar abad ke-10 SM).

Gambar 8. Tabel berbagai aksara di dunia.

Aksara Kharosthi hanya memiliki satu huruf untuk bunyi vokal yang digunakan untuk bunyi-bunyi vokal di awal kata. Bunyi vokal selain “A” di awal kata menggunakan huruf “A” dengan tanda. Urutan untuk bunyi vokal adalah A E I O U. Tidak terdapat pembedaan untuk bunyi vokal panjang dan pendek di aksara Kharosthi. Keduanya menggunakan penanda vokal yang sama.

Aksara Kharosthi juga digunakan dalam kegiatan keagamaan Buddha di Gandhara untuk merekam kejadian-kejadian alam. Dalam agama Buddha aliran Tantra, catatan diikutkan di dalam ritual dan diabadikan dalam bentuk mantra. Pada umumnya ditulis dari kanan ke kiri. Setiap suku kata pada bentuk dasarnya berbunyi /a/ dengan bunyi vokal lain ditunjukkan dengan tanda. Richard Salomon dari University of Washinton menunjukkan bahwa huruf-huruf aksara Kharosthi ini memiliki urutan sebagai “Arapacana” seperti berikut:

A Ra Pa Ca Na La Da Ba Da Sa Va Ta Ya Sta Ka Sa Ma Ga Stha Ja Sva Dha Sa Kha Kṣa Sta Jna Rtha (atau Ha) Bha Cha Sma Hva Tsa Gha Tha Na Pha Ska Ysa Sca Ta Dha.

Lihat keterangan di tabel aksara pada Gambar 8 di atas.

6. Hubungan dengan kerajaan di Nusantara
Hubungan antara kekaisaran Magadha dan kerajaan-kerajaan di Nusantara sangatlah erat, khususnya dengan kerajaan yang berdiri pada awal-awal tarikh Masehi. Di antaranya adalah kerajaan Bakulapura yang ada di Kalimantan Timur. Kisahnya berawal dari Sang Kudungga bin Atwangga bin Mitrongga bin Sri Gedongga yang berkuasa pada sekitar tahun 350-375 Masehi. Keluarga terpandang ini sudah beberapa generasi berada di Ratnadwipa (Kalimantan) dan menjadi penguasa. Beberapa ratus tahun sebelumnya, keluarga itu datang dari India lalu berbaur dengan warga pribumi, menikah dan beranak pinak di pulau Kalimantan. Garis silsilah mereka dimulai dari Pusyamitra Sungga yang menurunkan wangsa Sungga (dinasti ke empat) di kerajaan Magadha.

Berdirinya wangsa Sungga di kerajaan Magadha setelah menggulingkan wangsa Maurya. Terjadi pada sekitar tahun 185 Masehi, kurang lebih 50 tahun setelah mangkatnya Kaisar Asyoka Wardhana. Pada saat itu penguasa wangsa Maurya terakhir, Brihadratha, dibunuh oleh panglima perang Maurya saat itu yang bernama Pusyamitra Sungga. Itu terjadi pada saat ia sedang melakukan inspeksi rutin terhadap pasukannya. Sedangkan yang menjadi penyebabnya adalah karena terjadi perselisihan di antara sang raja dengan panglimanya itu. Terlebih keduanya berbeda paham dalam politik dan keyakinannya. Raja Brihadratha beragama Buddha, sementara Pusyamitra Sungga beragama Hindu.

Tindakan yang di lakukan oleh Kaisar Asyoka pada masa kepemimpinanya telah membuat proses pemersatuan India menjadi sebuah ambisi dari seorang raja yang ingin berkuasa dengan segala kekejamannya. Hingga pada suatu saat sang raja terpengaruh oleh kebijaksanaan seorang pendeta agama Buddha yang bernama Upagupta, sehingga raja berubah menjadi orang bijak serta belas kasihan terhadap sesama. Raja Asyoka memasuki salah satu aliran dalam agama Buddha dan menjadi seorang bikhsu serta bertekat untuk mengembangkan ajaran Buddha ke seluruh penjuru daerah kekuasaannya. Padahal nenek moyangnya adalah penganut setia Hindu dan Jainisme. Hal ini lalu menjadi salah satu penyebab tergulingnya dinasti Maurya dari kekaisaran Magadha.

Asyoka adalah satu-satunya raja yang sangat berperan atas berkembangnya agama Buddha. Dia seakan-akan melawan nenek moyangnya yang selalu menjadikan agama Hindu sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaannya. Namun pada akhirnya eksistensi agama  Buddha yang begitu besar berhasil disingkirkan di Magadha, karena banyaknya yang menolak ajaran Buddha, terutama dari kalangan Brahmana agama Hindu. Puncaknya adalah kematian raja terakhir dinasti Maurya, Brihadratha, di tangan Pusyamitra Sungga pada tahun 185 SM.

Karena itulah bisa di katakan bahwa Pusyamitra Sungga adalah aktor intelektual yang berperan penting dalam mengembalikan keberadaan agama Hindu yang sempat tenggelam pada masa raja Asyoka Wardhana. Ia lalu mendirikan wangsa-nya sendiri yang bernama Sungga (185 SM-78 M) dan hanya memerintah sebagian wilayah kekaisaran Magadha yang telah meredup. Dari dinasti Sungga inilah raja-raja di kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura berasal.

Jadi, ketika di kemudian hari wangsa Sungga dikalahkan dan dikuasai oleh wangsa Kusan (Kucanawamsa) atau Kanva, banyak di antara anggota keluarga Sungga ini, baik laki-laki dan perempuan yang mengungsi ke berbagai negara. Salah satu anggota dari wangsa Sungga bersama keluarga dan pengiringnya tiba di salah satu pulau di Nusantara, tepatnya pulau Kalimantan bagian timur sekarang. Mereka berbaur dengan warga pribumi, menikah, beranak pinak dan mendirikan sebuah desa yang diberi nama Kutai. Setelah berkembang menjadi kerajaan kecil lalu diubah namanya menjadi Bakulapura. Bakula yang berarti tanjung (muara), sedangkan Pura memiliki arti kota.

Beberapa generasi selanjutnya dari keluarga keturunan wangsa Sungga ini lahirlah Sang Kudungga bin Atwangga bin Mitrongga bin Sri Gedongga. Lalu puterinya yang bernama Dewi Gari yang bergelar Maharatu Sri Gari diperisteri oleh Sang Aswawarman, putera kedua dari Prabu Darmawirya alias Dewawarman VIII (raja ke-8 Salakanagara) dengan Spatikarnawa Warmandewi (putri Prabu Dewawarman VII). Sementara kakak perempuan dari Prabu Dewawarman VIII yang bernama Dewi Minawati alias Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi menjadi permaisuri dari Rajadirajaguru Jayasinghawarman, sang pendiri kerajaan Tarumanagara.

Catatan: Raja-raja di kerajaan Salakanagara merupakan keturunan dari Dewawarman, seorang bangsawan dari wangsa Saka yang berasal dari India. Begitu pula dengan kerajaan Tarumanagara, maka pendirinya (Rajadirajaguru Jayasinghawarman) berasal dari Wangsa Calangkayana (Wangga) yang juga datang dari tanah India. Dari raja-raja di kerajaan Tarumanagara kemudian trah wangsa Calangkayana (Wangga) dan wangsa Sungga ini sampai pada raja-raja di kerajaan Galuh, Sriwijaya, Medang, Kahuripan, Kadiri, Singhasari, Pajajaran, dan Majapahit. Baca ini: Kerajaan Salakanagara dan Keturunannya.  

Secara khusus, sebelum pernikahan antara Aswawarman dengan Dewi Gari, maka hubungan antara kerajaan Salakanagara dan Bakulapura sangatlah erat. Itu terjadi karena Prabu Darmawirya alias Dewawarman VIII telah lama bersahabat dengan penguasa Bakulapura, sebab Sang Kudungga itu adalah saudara sepupunya dari pihak ibu. Artinya permaisuri Prabu Dewawarman VII memiliki kakak yang menikah dengan penguasa Bakulapura saat itu yang bernama Atwangga, ayah dari Sang Kudungga. Karena itulah Aswawarman diangkat anak sejak kecil oleh Sang Kudungga dan ia tinggal di Bakulapura.

Makanya, Aswawarman dengan istrinya (Dewi Gari) masih bersaudara satu buyut. Karena itu, setelah Sang Kudungga wafat, maka Aswawarman yang menggantikannya sebagai penguasa di Bakulapura pada tahun 375-400 Masehi. Dalam masa pemerintahannya, Bakulapura menjadi kerajaan besar dan kuat sehingga dialah yang dianggap sebagai pendiri dinasti (wangsakerta). Selama hidupnya, Aswawarman memiliki tiga orang putera. Yang sulung bernama Wamseragen atau yang bergelar Maharaja Sri Mulawarman Naladewa dan kelak menggantikan dirinya menjadi penguasa Bakulapura tahun 400-446 Masehi. Di bawah pemerintahannya kerajaan Bakulapura menjadi semakin kuat dan besar. Ia adalah raja yang sangat berwibawa dan membawahi kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Kini, para ahli sepakat bahwa Sri Mulawarman itu juga yang mendirikan kerajaan Kutai Martadipura. Baca: Kerajaan Bakulapura: Bukti Persaudaraan Nusantara.

7. Penutup 
Sungguh pencapaian luar biasa yang pernah diraih oleh kerajaan Magadha, khususnya pada saat dipimpin oleh wangsa Maurya. Kekaisaran ini adalah yang terluas di tanah India, tepatnya di periode zaman Rupanta-Ra ini. Pengaruhnya pun masih terasa hingga hari ini. Tidak hanya di tanah India, tetapi juga di Nusantara. Ada banyak hal yang masih tetap mempengaruhi orang-orang di zaman sekarang (saat keterangan ini di tuliskan).

Tapi memang, tak dapat dipungkiri bahwa semua pencapaian itu tak luput dari perang dan pertumpahan darah. Kejadian itu mengingatkan kita bahwa untuk bisa mencapai suatu tujuan, maka harus ada pengorbanan. Hanya saja, kalau bisa tetap harus diusahakan untuk tidak melalui jalan perang dan pertumpahan darah. Itu akan jauh lebih baik. Tapi kalau setelah berusaha dan tak ada jalan lain selain berperang, maka sebagai kesatria haruslah tetap maju. Tak boleh ada kata mundur, karena gugur di medan laga adalah kehormatan.

Semoga tulisan ini bermanfaat… Rahayu.. _/|\_

Jambi, 02 Februari 2018
Harunata-Ra

[Disarikan dari berbagai sumber dan diskusi]

Iklan

8 tanggapan untuk “Kekaisaran Magadha dan Kaitannya Dengan Raja Nusantara

  1. Salamun alaikum Harunata-Ra, nambah terus wawasan saya akan sejarah dari leluhur kita kaum” terdahulu maka gag bosan”nya saya sinau sejarah dari sampean senang sekali… 😁
    Apa ada kesamaan nama atau memang tersambung yg meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dg kerajaan Magadha dan juga Pataliputra yg ada dari daerah Jawa Kulwan?
    Banyak kisah lalu lalang yg bercerita tentang epos Mahabharata & Ramayana yg konon katanya kisah asli dari tanah Nusantara kita ini karena sama sampeanlah yg mumpuni saya berpatokan kalau dari orang lain saya masih ada keraguan, mmmh… Masa sich… 😁😀 Tp kalau sumbernya dari Bro Harun merembes aja sulit untuk mencari bantahan ditambah mencari padanan katanya yg tepat… 😁
    Apa betul daerah Majalengka yg artinya dari kata Maha Raja Alengka berasal, kira” kejadiannya ada di periode zaman peradaban keberapakah..? Lalu kenapa dari kisah punokawan ada figur yg ditokohkan bernama Semar atau ada yg menyebut beliau ini seorang utusan Hyang Aruta, sedangkan dari klaim mereka yg berasal dari Hindustan tdk mengenal dari ketokohan tsb, semoga dr semua pertanyaan saya tidak melanggar protap!😀
    Salam.
    Rahayu… 🙏

    1. Wa`alaikumsalam kang Tufail, syukurlah kalo bermanfaat.. nuwun karena masih mau berkunjung… 🙂

      Tentang kaitan langsung antara kerajaan Magadha dan Pataliputra yang ada di tanah India dengan Jawa Kulwan, khususnya pada era awal-awal Masehi, setau saya sih tidak ada. Tidak bisa juga dikatakan ada “tongkat estafet kepemimpinannya” secara langsung. Kondisi di kawasan India saat itulah yg membuat semuanya terjadi. Jadi, hanya sebatas ada pemimpin di Jawa Kulwan yg hidup di awal-awal tarikh Masehi, yg berasal dari salah satu wilayah kerajaan yang masuk dalam kekuasaan dari kekaisaran Magadha itu saja. Lebih seperti kebetulan saja, atau sebenarnya mereka itu seperti mendapatkan wangsit untuk hijrah ke Jawa dan mendirikan kerajaan baru disana. Tapi bukan berarti melanjutkan tongkat kepemimpinan Magadha yang pernah ada di tanah India. Karena di Nusantara, mereka harus memulai sejarah yg baru. Yang lama di India sudah tutup buku gitu.. hehe .. 🙂

      Tentang penamaan yg sama, itu tidak lebih dari sekedar untuk mengenang tempat tinggal mereka (asal usul rajanya) di tanah India sebelumnya. Karena itulah namanya jadi sama, meskipun di tempat yg berbeda. Ini sama saja dengan nama kerajaan Indraprahasta yg pernah ada di Cirebon dulu. Nama kerajaan ini sama persis dengan nama kerajaan milik Pandawa Lima dalam kisah Mahabharata versi India. Tapi apakah itu kerajaan yg sama? Jawabannya tidak, karena kerajaan Indraprahasta yg pernah ada di Cirebon itu didirikan oleh Maharesi Santanu pada sekitar tahun 285 Saka (363 Masehi). Sang Maharesi berasal dari daerah sungai Gangga, di India. Ia mendirikan kerajaan itu setelah menjadi menantu dari raja Salakanagara ke-8. Seperti halnya dengan Maharesi Jayasinghawarman (pendiri kerajaan Tarumanagara), Maharesi Sentanu beserta para pengikutnya meninggalkan negeri asalnya untuk bisa menyelamatkan diri dari pasukan kerajaan Kanauj pimpinan Samudra Gupta, yg pada waktu itu sedang memperluas wilayah kerajaannya di tanah India. Sementara kerajaan milik Pandawa Lima, yaitu Indraprahasta atau pun dengan nama yg lain dalam versi Jawa itu berdiri sangat sangat sangat jauh sebelum era Masehi. Kesimpulannya, nama yang sama itu bukan berarti tempat dan sejarahnya pun sama. Bisa jadi itu hanya sebuah kebetulan saja, atau tokoh pendirinya sengaja memberikan nama yg sama untuk mengenang atau berdoa agar kejayaan negerinya sama dengan kejayaan dari sebuah kerajaan besar di masa lalu.

      Tentang epos Mahabharata dan Ramayana, menurut sepengatahuan saya kisah itu tidak semata-mata terjadi di Nusantara saja atau pun di tanah India tok. Tetapi terjadi di kedua wilayah itu secara bersamaan. Artinya, kerajaan Hastinapura atau pun Amarta dalam versi Jawa alias Indraprahasta kalo dalam versi India itu berada di kedua kawasan itu (Nusantara dan India). Begitu pula dengan kerajaan Kosala alias Ayodhya dan Alengka juga berada di kedua kawasan itu (Nusantara dan India). Karena itulah, perang yg terjadi pada masa kedua epos itu bisa dikatakan sebagai perang dunia pada zamannya. Alasannya karena telah melibatkan dua kawasan yg sangat luas. Belum lagi karena ada ratusan kerajaan yg ikut serta.

      Sebagai contoh, pada masa lalu di Jawa Timur telah disusun beberapa kisah dalam bentuk yang disebut Kakawin (puisi cerita). Semua kakawin itu ditulis dalam bahasa Jawa Kuno yg disebut Kawi. Adapun di antara kakawin yang dikenal luas adalah Ramayana, Bharatayudha, dan Arjunawiwaha atau Smaradahana. Kakawin-kakawin tersebut sesungguhnya bukan salinan dari karya asalnya, melainkan di tulis ulang berdasarkan ingatan dan informasi yg didapatkan kembali (maklum leluhur kita itu bisa ngobrol langsung dengan mereka yg sudah moksa untuk dapat info sejarah di masa lalu). Artinya, kakawin itu memang bukan karya aslinya dulu, tapi bukan pula copy paste dari kitab atau cerita2 yg datang dari India. Meskipun perlu diakui memang ada sedikit terpengaruh dengan alur cerita yg datang dari tanah India sejak awal2 abad Masehi. Alasannya mudah, sebab memang ada kesamaan cerita yg dikenal di Jawa dengan yg datang dari India selanjutnya, di beberapa bagiannya. Maklumlah kisah yg masyhur itu terjadi di kedua wilayah itu (Nusantara dan India) sekaligus.

      Tentang daerah Majalengka skr, menurut saya tidak ada kaitannya sama sekali dengan kisah epos Ramayana yang asli di masa lalu. Alasannya sebab peristiwa dalam epos tersebut terjadi sudah sangat sangat sangat lama di masa lalu, jauh sebelum nama Majalengka ada di Jabar. Pada masa itu, Nusantara masih dalam satu daratan dan hal ini banyak sekali tidak dipahami oleh mereka yg mencoba untuk mengupas sejarah masa lalu, khususnya epos Ramayana dan Mahabharata. Banyak yg selalu mengaitkan sejarah keduanya itu dengan bentuk geografi dan topografi pulau Jawa skr.. Padahal sangat jauh berbeda. Tentang kapan terjadinya kisah Ramayana atau Mahabharata, gak bisa saya kasih tau disini skr kang, ada protap, maaf.. 🙂

      Nah kisah Ramayana atau pun Mahabharata itu bisa diketahui kembali sebab ada seorang Bhatara yg menuturkannya kembali kepada seorang Resi yang rajin olah batin. Lalu kenapa ada nama Majalengka di Jawa Barat? menurut saya itu hanya kebetulan saja, atau memang dulu ada orang yg memberi nama itu untuk mengenang peristiwa di masa silam yg fenomenal. Intinya, namanya bisa saja sama atau hampir mirip tapi bukan berarti sejarah dan kejadiannya pun sama. Harus tau dulu di zaman kapan itu terjadi dan bagaimana kisah sebenarnya. Karena sejarah kehidupan manusia di muka Bumi ini sudah sangat sangat sangat lama berjalan. Karena itulah, sesuai petunjuk yang saya dapatkan, untuk mudahnya memahami sejarah itu maka ada kunci dalam membuka lembaran sejarah peradaban manusia yang sebenarnya. Yaitu kita harus tau dulu di periode zaman yang manakah peristiwa itu terjadi. Di antara periode zaman itu adalah Purwa Duksina-Ra, Purwa Naga-Ra, Dirganta-Ra, Swarganta-Ra, Dwipanta-Ra, Nusanta-Ra, dan Rupanta-Ra. Semuanya itu sudah berlansung selama milyaran tahun. Kita sekarang ini hidup di akhir periode zaman ke tujuh (Rupanta-Ra).

      Untuk menjawab pertanyaan tentang kenapa di tanah India tidak mengenal tokoh Punokawan, khususnya Semar? Ya itu karena mereka belum mengetahui semua kisah yang sebenarnya di masa lalu. Lantas mengapa justru orang di tanah Jawa yg bisa tau?

      Itu disebabkan orang di tanah Jawa masih memegang teguh warisan sejarah leluhurnya. Ingat apa yg telah saya jelaskan di kisah bangsa Arya, dimana pasca keruntuhan kemaharajaan Attalani, sebagian penduduk Nusantara kala itu, khususnya yang berkulit gelap, sawo matang dan kuning langsat tetap tinggal di Nusantara. Nah mereka inilah yg masih mewarisi kisah sebenarnya di masa lalu. Makanya informasi tentang Semar alias Sang Hyang Ismaya itu masih diketahui. Ini masih ditambah lagi dengan fakta bahwa orang-orang di Nusantara, khususnya di masa kerajaan Kadiri sampai Mataram Islam dulu ada yg bisa berhubungan langsung dengan mereka yg telah moksa untuk mendapatkan informasi sejarah masa lalu. Apa yg mereka dapatkan lalu di catat dan di jadikan pakem dalam cerita wayang purwa. Lalu karena ada pengaruh dari India melalui kitab-kitab Purana-nya, maka semua informasi itu dikolaborasikan. Jadilah apa yang kita kenal sekarang dengan kisah Pedalangan.

      Sementara mereka yg migrasi ke utara, yg kemudian disebut bangsa Arya itu, sudah tidak lagi mengingatnya. Ada begitu banyak distorsi sejarah, karena mereka telah berakulturasi dengan tradisi, budaya dan sejarah masyarakat di tempat tinggal mereka yang baru, khususnya di Asia Tengah dan akhirnya di tanah India. Inilah kenapa mereka yg hidup di tanah India tidak lagi mengenal tokoh-tokoh luar biasa seperti Semar, padahal beliau sangat dihormati di Kahyangan karena berkedudukan di atas semua Bhatara-Bhatari dan Dewa-Dewi.

      Perlu diketahui, bahwa tokoh Semar itu adalah nama sebutan dari orang-orang di masa sekarang saja. Tidak ada pada masa Mahabharata dulu. Tujuannya untuk lebih mudah menyampaikan pesan-pesan filosofis yang pernah disampaikan oleh sang tokoh. Nama sebenarnya adalah Sang Hyang Ismaya. Beliau ini memiliki dua orang saudara laki-laki yang bernama Sang Hyang Antogo dan Sang Hyang Manikmaya. Ketiganya memiliki kedudukan yang tinggi di Kahyangan dan sangat dihormati oleh para Dewa-Dewi dan Bhatara-Bhatari. Sang Hyang Manikmaya adalah pemimpin di Kahyangan, beliau juga dikenal dengan nama Sang Hyang Guru. Sementara kakak tertuanya yang bernama Sang Hyang Antogo memilih untuk sering turun ke Bumi agar bisa menuntun orang-orang jahat agar kembali ke jalan yang benar. Lalu Sang Hyang Ismaya sering juga turun ke Bumi untuk menuntun para kesatria utama dalam menjalankan tugasnya. Di antaranya para kesatria tu adalah Pandawa Lima yang hidup di masa kisah epos Mahabharata.

      Tambahan: Tingkatan dari makhluk-makhluk yang tinggal Kahyangan itu adalah: Rsi/Resi -> Maharsi/Maharesi -> Dewa-Dewi -> Begawan -> Bhatara-Bhatari -> Sang Hyang. Tingkatan ini berdasarkan senioritas dan level keilmuan yang mereka miliki. Para Sang Hyang berada di level yang tertinggi dari pada yang lainnya. Tidak ada lagi gelar di atas itu, tapi memang di antara para Sang Hyang itu masih ada level-levelnya lagi. Karena itulah sosok mereka ini tidak begitu diketahui oleh manusia. Hanya penghuni Kahyangan lah yang lebih mengenalnya. Dan perlu di ketahui juga bahwa Tri Murti itu berada di level Sang Hyang ini. Karena itulah mereka juga bergelar Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Siwa, dan Sang Hyang Wisnu. Dan sungguh merendahkan jika kita hanya menyebutnya dengan nama gelar Bhatara Brahma, Bhatara Siwa, dan Bhatara Wisnu saja. Apalagi cuma dengan nama depan Dewa, karena level mereka bukan itu. Kita harus tau yang sebenarnya tentang kedudukan mereka dan benar pula menempatkan gelarnya itu pada tempatnya.

      Adapun beberapa nama Sang Hyang yang masih dikenali skr adalah Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Nurasa, dan Sang Hyang Nurcahya. Semua tokoh itu sangat dihormati oleh para penghuni Kahyangan, baik itu para Rsi/Resi, Maharsi/Maharesi, Dewa-Dewi, Begawan, dan Bhatara-Bhatari. Mereka punya tempat tinggalnya sendiri, yang terpisah dengan Kahyangan tempat tinggal kelima golongan itu. Penghuni Kahyangan sering meminta nasehat dan bantuan dari para Sang Hyang itu jika menemui kesulitan. Dan di masa lalu, khususnya pada masa kisah Mahabharata dan Ramayana, beberaoa tokoh Sang Hyang tersebut pernah terlibat dengan kehidupan manusia di Bumi ini. Mereka membantu para kesatria utama untuk bisa menjalankan tugasnya. Demikianlah Hyang Aruta (Tuhan YME) telah memerintahkan mereka seperti itu. Begitu pula dengan sosok Tri Murti yang tidak terlepas dari kehendak-NYA.

      Itu aja kang yang bisa saya jelaskan, maaf kalo kurang memuaskan.. Rahayu.. 🙂

  2. Waw menarik sekali saya pribadi baru tahu tentang siapa tokoh Sang Hyang Ismaya ini yang sebenarnya. Tokoh yang sangat luar biasa Luhur Mulia juga Bijaksana ternyata, menurut pendapat saya kayaknya kerjaannya para dalang saja tokoh sebesar Sang Hyang Ismaya ini dicirikan berbadan gelap dan membulat dengan beberapa helai kuncir dikepalanya.

    Lama gag berbalas kayaknya habis piknik nih… 😀

    Kayaknya kalau diperkenankan mantaf sekali apabila dikisahkan secuil epos dari kisah besar perang dunia pada zamannya Mahabharata & Ramayana ini mengingat dari namanya saja banyak tokoh besar yang berperang kebayang ilmu juga kesaktian yang digunakan. 😁

    Mungkin agak sensitif pertanyaan saya ini karena mau tidak mau akan berhubungan dengan penganut kepercayaan suatu keyakinan besar di dunia ini, setelah mendapatkan informasi juga wawasan dari Bro Harunatara, apalagi dengan pesan luaskanlah cakrawala berfikir dan juga kedalaman hati, hal itu pula yang saya jadikan pakem sekarang ini. Apa ya hal yang mendasari dari suatu kepercayaan tertentu itu ada manifestasi bahkan diwujudkan dari tokoh yang dianggap Dewa maupun Bhatara bentuk dan penampakannya menyeramkan juga dapat mengakibatkan kehancuran, agak aneh aja karena mengingat dari tingkatannya yang tinggi begitu mulia & bijaksana 🙂

    Salaam…
    Rahayu… 🙏

    1. Rahayu juga kang Tufail.. Syukurlah kalo suka dengan penjelasannya, nuwun dan moga ttp bermanfaat.. 🙂

      Hmm kalo dibilang piknik sih gak kang.. cuma belakangan ini saya lagi fokus untuk nyelesain nulis kitab terbaru, baru dapet 410 halaman.. jadi agak jarang buka blog.. Maaf 🙂

      Ya begitulah keadaannya kini, ada banyak hal yg sudah gak diketahui dan dipahami lagi… fakta kian tergerus waktu dan ditambah pula dengan karangan atau imajinasi yg berlebihan.. Jujur saya pribadi tidak setuju jika Sang Hyang Ismaya di gambarkan seperti dalam pewayangan itu, sebagai sosok Semar. Inginnya beliau tetaplah diceritakan atau digambarkan sesuai aslinya, sesosok penghuni Kahyangan yang bahkan lebih senior dari pada Sang Hyang Manikmaya, sang penguasa Kahyangan. Sebab, beliau itu adalah kakak dari Sang Hyang Manikmaya sendiri. Jadi jelaslah kita harus menghormatinya, jangan lagi meremehkannya dg merendahkan kehormatan dan penggambarannya, padahal para Dewa-Dewi dan Bhatara-Bhatari saja sgt menghormati beliau. Siapa kita yg bersikap remeh?

      Tentang kisah Ramayana dan Mahabharata, untuk skr belum bisa saya share, ada protap kang. Hanya saja sebagai info neh.. kedua kisah itu sebenarnya telah saya uraikan secara detil dalam sebuah buku, yg sgt berbeda dari semua penjelasan pada kitab, buku dan novel yg beredar selama ini.. Ya maklumlah untuk bekal generasi yang akan datang, yg hidup di zaman yg baru nanti. Mrk harus mendapatkan yg sebenarnya. Dan sejak menjelang transisi zaman ini, kebenaran yang sejati ttg kedua kisah itu akan dikembalikan lagi pelan-pelan, karena selama ini sudah byk yg berubah atau diganti. Makanya kalo harus di share skr ini menjadi kurang tepat, karena hanya akan menyebabkan perdebatan dan bahkan pertikaian saja… Saya pun tak suka berdebat dan ribut2, Biarlah waktu yg menentukannya nanti… sekali lagi maaf ya kang.. 🙂

      Dan perlu saya tegaskan juga disini, bahwa pertempuran pada masa keduanya itu bukanlah yang terhebat, ada banyak pertempuran lain di masa sebelum dan sesudah kedua kisah itu yang tentunya lebih dahsyat, beberapanya sudah saya ceritakan di blog ini.. monggo diingat lagi hehe.. 🙂

      Tentang wujud atau posisi para Dewa-Dewi, Bhatara-Bhatari dan Sang Hyang, maka percayalah kang bahwa mrk itu benar adanya tapi tak kasat mata bagi kita. Seperti halnya para Malaikat yg pasti adanya tapi kan gak bisa kelihatan. Para penghuni Kahyangan itu juga punya tugas, kewajiban dan urusannya sendiri. Mereka juga ada keterkaitannya dengan kehidupan di muka Bumi ini, makanya di masa lalu mrk sering berurusan dg manusia. Hanya saja menurut sepengetahuan saya gak semuanya persis seperti yg digambarkan dalam kisah2 selama ini. Sehebat apapun mrk, tetap saja dalam kendali, izin dan kehendak dari Tuhan Yang Maha Esa. Tentang hal ini sebenarnya telah dijelaskan pula dalam kitab suci umat Hindu kok, tepatnya dalam kitab Rig Weda, Sama Weda dan Bhagawadgita.. Hanya saja mungkin lantaran pemahaman yg kurang, akhirnya menimbulkan byk fantasy yang keliru dan penambahan kisah yang tak perlu… bahasa kerennya skr sih lebay gitu hehe… 🙂

      Ya, cepat atau lambat, kebenaran yg sejati tentang siapa diri mrk itu akan terungkap. Mungkin nanti bbrp dari mrk sendiri yg justru langsung menjelaskan dihadapan manusia di Bumi yg selama ini telah keliru memahaminya. Yang percaya atau tidak percaya barulah akan yakin ttg sosok mrk. Pada saat itulah kesempurnaan ajaran agama akan menjadi paripurna.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s