Seni Perhiasan Mengagumkan dari Majapahit

Wahai saudaraku. Untuk kesekian kalinya Wereldmuseum – art Galleries, Rotterdam, kembali mengadakan pameran perhiasan emas murni kuno dari Nusantara. Koleksi yang ditampilkan adalah milik museum dan para kolektor terkemuka dari berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Eropa, dengan tema Goud der Goden Uit Het Oude Java (Perhiasan Emas dari Para Raja/Ratu Jawa Kuno). Acara ini di mulai pada tanggal 2 Oktober 2014 silam dan bertempat di Wereldmuseum Rotterdam, Belanda. Sebelumnya pada tahun 2013, Wereldmuseum juga pernah menyelenggarakan pameran koleksi kain kuno dari berbagai daerah di Indonesia.

Pameran perhiasan emas murni milik raja dan ratu Jawa kuno tersebut dibuka oleh Direktur Wereldmuseum, Stanley Bremer. Pada acara pembukaannya, hadirlah para tamu terbatas dengan persembahan tarian tunggal Jawa tradisional sebagai hiburan. Tarian itu diiringi oleh irama gending Jawa yang dimainkan oleh para pemain Gamelan. Yang uniknya, disini para pemain Gamelan itu justru sebagiannya adalah orang yang berkebangsaan Belanda.

Dalam pameran tersebut, maka digelarlah beragam jenis perhiasan emas dan batu mulia yang pernah dipakai oleh para raja dan ratu kerajaan Buddha abad ke-7 Masehi maupun kerajaan Hindu pada awal abad ke-11 Masehi di wilayah Jawa. Beberapa perhiasan milik raja dan ratu Jawa kuno tersebut dipamerkan dalam bentuk lengkap dan terbuat dari emas murni.

Perhiasan yang saat ini dimiliki oleh museum dan para kolektor tersebut, terdiri dari mahkota, sumping, leontin, gelang, cincin, sabuk, patung Buddha, patung Wishnu, ornamen Gajah, dan hiasan dinding dengan kondisi dan warna emas yang relatif sempurna. Motif perhiasan dibuat sedemikian detail dan sangat halus, sehingga terlihat sempurna pengerjaannya dan selintas agak sulit dibedakan dengan perhiasan yang dibuat dengan teknik pengerjaan secara moderen/sekarang. Demikian pula teknik pengikatan antara cincin atau mahkota emas dengan batu mulia juga menggambarkan tingginya tingkat pengetahuan para ahli perhiasan pada zaman kerajaan Buddha dan Hindu abad ke-7 sampai ke-11 Masehi.

Pameran perhiasan raja dan ratu Jawa Kuno itu, khususnya yang dimiliki oleh para kolektor terkemuka itu mendapatkan sambutan dari berbagai kalangan di Belanda, tidak hanya para ahli sejarah, pengelola museum dan art-gallery, melainkan juga para pecinta perhiasan moderen, kalangan muda, serta kolektor. Mereka semua sangat antusias dengan pameran itu.

Berikut ini adalah sebagian contoh artefak bersejarah dari tanah Jawa dalam pameran tersebut:

Gambar 1. Foto: Perhiasan dari para raja dan ratu Jawa kuno.

Foto-foto koleksi dari saudara Bambang Sujarwanto di atas adalah sebagian dari benda-benda perhiasan emas dari pulau Jawa yang berasal dari abad ke-7 s/d ke-11 Masehi, yang pernah dipamerkan di Wereldmuseum Rotterdam, Belanda pada tahun 2014 silam. Perhiasan para raja dan ratu pada masa itu umumnya digunakan sebagai simbol keagungan dan sekaligus penghormatan kepada para Dewa. Sebagian dari perhiasan tersebut adalah koleksi dari museum-museum di Belanda, dan sebagian lainnya adalah koleksi pribadi para kolektor barang antik di berbagai negara.

Ya. Mungkin banyak yang merasa senang dengan pameran tersebut, atau bahkan sangat bangga. Namun, sebagai anak bangsa yang mencintai warisan leluhurnya, saya justru merasa sedih dengan pameran itu. Alasannya jelas karena barang-barang peninggalan para leluhur kita itu tidak lagi berada di negeri ini. Semuanya bahkan sudah dimiliki oleh para kolektor (mungkin juga “maling”) dari berbagai negara. Padahal katanya kita sudah merdeka selama lebih dari 70 tahun. Lantas mengapa kurang adanya upaya, atau bahkan tidak ada usaha yang serius oleh pemerintah untuk bisa mengembalikan harta kekayaan leluhur kita itu? Mengapa justru tetap saja di negeri lain dan sering dipamerkan disana? Ini sangat menyakitkan dan memilukan.

Sungguh ironis, di saat kita ingin mengetahui lebih banyak tentang sejarah kebesaran bangsa ini atau sekedar ingin melihat sedikit buktinya saja justru harus melihatnya di tempat lain, di negara yang sangat jauh disana. Itu pun karena ada pameran, jika tidak maka akan lebih sulit lagi, bahkan hanya sekedar untuk bisa melihatnya. Maklumlah sebagian besar barang peninggalan itu justru sudah menjadi koleksi pribadi para kolektor barang antik. Tentulah mereka menyimpannya ditempat khusus yang tidak sembarang orang bisa mengaksesnya.

Dan begitu malangnya nasib bangsa ini, sudahlah pernah dijajah berdarah-darah kini peninggalan sejarahnya pun masih banyak di luar negeri. Akibatnya, semakin banyak dari bangsa kita yang masih berkecil hati dan minder lantaran tak pernah tahu sejarahnya yang asli. Tidak sedikit yang bahkan tidak pernah bangga dengan bangsanya sendiri dan terus saja mengekor – secara membabi buta – kepada bangsa lain. Padahal dulu, leluhur kita itu bahkan sudah mencapai puncak peradaban manusia. Khususnya mengenai seni perhiasan, maka kita bisa berbangga, karena para empu dan pande di zaman dulu sudah menguasai berbagai teknik yang sangat maju untuk ukuran dimasanya. Berikut ini penjelasannya:

1. Seni perhiasan pada masa kerajaan Majapahit
Dari penggalian arkeologi di situs Trowulan (kota pra Islam terbesar di Indonesia (Miksic 1990; 46)) dan berdasar berbagai temuan emas yang ada, telah menunjukkan bahwa teknik pengolahan perhiasan di Majapahit sudah mencapai puncaknya. Hal itu disebabkan berbagai teknik pembuatan seni perhiasan emas telah di kenal baik (Kartodirjo Dkk 1993; 254). Dengan kata lain kerajaan Majapahit memang di kenal sebagai kerajaan besar dan berbagai jenis tinggalan arkeologisnya jelas menunjukan corak kebudayaan yang bermutu tinggi. Namun sayang, ternyata tinggalan perhiasan dari masa Majapahit itu kini tidak sebanyak yang di harapkan. Telah hilang tak tentu rimbanya.

Gambar 2. Foto: Perhiasan gelang, kalung dan cincin dari era Majapahit.

Sebenarnya dari situs Trowulan banyak di temukan perhiasan emas, hanya saja banyak yang tidak sampai ke museum karena setidaknya pada tahun 50-60an banyak orang yang mencari emas di situs ini yang ketika menemukannya justru diam-diam mereka jual. Dan sekarang lahan di Trowulan ini (di kabupaten Mojokerto, Jawa Timur) bahkan telah di jadikan bahan untuk pembuatan batu bata. Padahal dari temuan perhiasan emas dari masa lampau akan dapat di jadikan sebagai bahan kajian ilmiah dan sebagai rujukan perkembangan seni rupa di masa mendatang (Wiyosoyudoseputro 2005;26). Dan anehnya, penelitian tentang emas Jawa kuno telah di abaikan bila di bandingkan dengan artefak yang terbuat dari batu dan perunggu (Miksic 1990; 23). Padahal bagaimana pun juga emas itu lebih berharga dari pada batu dan perunggu.

Pembuatan perhiasan di Majapahit mayoritasnya menggunakan bahan emas, salah satu penyebabnya karena memiliki pulau-pulau yang kaya dengan sumber daya alam tersebut. Pada masa pengaruh kebudayaan India hadir di Nusantara atau disebut dengan masa Hindu Buddha, maka khususnya di pulau Jawa (dari abad 5-15 Masehi) memang belum di temukan situs penambangan logam secara besar-besaran. Hanya saja pada masa itu masyarakat Jawa telah memanfaatkan benda-benda logam dalam kehidupan mereka (Timbul Haryono 2002; 6).

Pada abad 15, Van Gog terheran-heran ketika menyaksikan bagaimana emas di Jawa masih lebih murah dari pada perak, dan hanya bisa memperkirakan penyebabnya adalah pada penjarahan kuburan pra Islam dengan begitu banyak emas yang di tanam. Sehingga ia lalu mempunyai kesimpulan bahwa emas sebelumnya pasti pernah di tambang atau di impor dalam jumlah besar-besaran. Perak tidak begitu banyak terdapat di Asia Tenggara, secara keseluruhan Asia Tenggara relatif kaya dengan emas dan miskin dalam perak (Anthony Reid 2001; 112). Sehingga kedudukan emas dan perak itu sebagai perhiasan penentu status serta inventasi yang memastikan bahwa dimana saja ada kekayaan disitu pasti ada tukang emas (Anthony Reid 2001; 113).

Gambar 3. Foto: Perhiasan kalung, gelang dan cincin dari era Majapahit.

Selain itu, ramainya perniagaan laut dan sungai mendorong adanya keahlian produksi hampir semua jenis barang keramik dan logam. Desa-desa yang sepenuhnya hanya mengerjakan pot dan pecah belah dari tanah, pengambilan kapur atau peleburan logam bisa saja di tempatkan dekat dengan sumber bahan mentahnya yang terpenting. Akan tetapi kota-kota besar dengan perniagaanlah yang menarik, menjadi pusat kerajinan, disitu berdiam para konsumen terkaya dari kerajinan-kerajinan istimewa, termasuk istana raja-raja. Juga menjadi tempat bertemunya jalur-jalur pedagangan lokal maupun internasional. Jalur bagi hasil keahlian lokal dapat di angkut dan saling di pertukarkan. Karena itu wajar saja jika di berbagai tempat perajin ahli bermunculan di pinggir kota besar. Di ibukota-ibukota kerajaan tempat berpusatnya manufaktur, istana itu sendiri merupakan pusat permintaan yang besar (Anthony Reid 2011; 114-117).

Dan benar adanya, bahwa pada masa Majapahit emas telah banyak dipergunakan untuk memperindah apa saja. Ini sesuai dengan keterangan dari seorang pastor penjelajah Italia yang bernama Odorico Mattiuzzi ketika ia berkunjung ke ibukota Majapahit pada sekitar tahun 1321-1322 Masehi. Dalam bukunya, ia lalu menulis kesaksian; “….. ada sebuah pulau yang sangat besar, namanya Jawa,….. Maharaja di pulau ini mempunyai banyak istana yang sangat mengagumkan. Karena saking besarnya, anak tangga atau undak-undakannya pun besar, luas, dan tinggi. Bahkan, anak-anak tangganya diselang-seling dengan emas dan perak. 

Bahkan, jalanan atau trotoar di istana disusun menggunakan satu ubin emas dan satu ubin perak yang berselang seling. Demikian juga dengan dinding istananya, berlapis emas. Di bagian luarnya banyak ukiran-ukiran kesatria-kesatria dari emas. Banyak dari kepala patung kesatria tersebut dikelilingi lingkaran-lingkaran emas, seperti orang-orang suci (santo).

Sangat menakjubkan, karena seluruh lingkaran-lingkaran tersebut ditaburi permata. Selain itu, langit-langit istana dibuat dari emas murni. Singkatnya tempat ini lebih kaya dan lebih mewah dari pada tempat manapun di dunia saat ini.” 

Lalu, selain catatan di atas, pastor  Odorico Mattiuzzi juga telah menuliskan keterangan berikut ini:

“……Maharaja mempunyai bawahan tujuh raja bermahkota. Pulaunya berpenduduk banyak, merupakan pulau terbaik kedua yang pernah ada. Raja pulau ini memiliki istana yang luar biasa mengagumkan karena sangat besar (dan mewah). Di setiap tangga dan ruangannya berlapis emas dan perak. Bahkan langit-langit serta atapnya pun bersepuh emas. Kini Khan Yang Agung dari Mongol (kaisar China saat itu) beberapa kali berperang melawan kerajaan ini. Akan tetapi, ia selalu gagal dan Maharaja ini selalu berhasil mengalahkannya”.

Sungguh, ini adalah sebuah kesaksian yang membuat kagum siapapun pada kejayaan Majapahit. Hanya saja entah mengapa kesaksian dari pastor tersebut tidak banyak dipakai oleh para sejarawan di Barat. Bahkan orang Nusantara saat ini (Indonesia) mungkin tidak percaya dengan catatan tersebut. Tetapi fakta dan kenyataannya ada beberapa catatan atau kesaksian sejenis yang menyatakan bahwa Majapahit itu merupakan kerajaan yang sangat hebat nan luar biasa. Sangat kaya dan sangat jaya dimasanya. Baca: Kemegahan Majapahit: Dalam kesaksian penjelajah dunia.

2. Sejarah pengolahan perhiasan
Bangsa Nusantara telah mempunyai kemampuan dalam mengolah berbagai benda kebutuhan, khususnya dari bahan material logam, jauh sebelum adanya pengaruh budaya dari luar. Hal ini sudah berlangsung sejak ribuan tahun sebelum tarikh Masehi. Karena itu, secara hipotesis Dr JLA Brandes pernah menyatakan bahwa jauh sebelum mendapatkan pengaruh dari kebudayaan India, bangsa Nusantara memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam bidang metalurgi. Pengetahuan metalurgi merupakan salah satu dari 10 unsur kebudayaan yang telah dimiliki bangsa Nusantara yaitu wayang, gamelan, ilmu irama puisi, membatik, mengerjakan logam, sistem mata uang, ilmu pelayaran, astronomi, penanaman padi, dan birokrasi pemerintahan. (Timbul Haryono 2008;60).

Barulah pada awal abad Masehi sebuah proses baru pengolahan logam di kepulauan Nusantara di mulai, yaitu asimilasi serta adaptasi dari kebudayaan India. Banyak teori mengenai cara pengaruh India itu masuk ke Nusantara. Dugaan paling tua adalah tentang akulturasi orang India dengan para pemimpin lokal. Juga di perkirakan bahwa penyebaran keagamaan India (Hindu, Buddha) serta keterampilan teknik mungkin disebarkan dari para pedagang India. Setelah itu tekanan diberikan kepada peranan para pendeta India dalam memperkenalkan agama India itu di kepulauan Nusantara.

Gambar 4. Foto: Perkakas dan perhiasan emas abad ke-7 s/d 11 Masehi di tanah Jawa.

Pertukaran budaya dan material pada masa itu di lakukan dengan cara berlayar mengarungi samudera. Orang-orang Nusantara pergi untuk berdagang, sekaligus untuk sekedar menyaksikan sendiri keajaiban yang menakjubkan di negeri lain serta untuk memperoleh keterampilan baru. Sementara itu orang-orang India yang berlayar ke Nusantara adalah para brahmana dan pedagang yang mengharapkan bisa mendapatkan penghidupan baru yang menguntungkan bagi komunitas mereka. Maklumlah, negeri asal mereka pada saat itu sedang dilanda huru-hara yang memilukan. Itulah sebab utama kenapa mereka harus exodus (migrasi) ke Nusantara.

Demikian pula dengan perkembangan seni pada saat itu, seni rupa gaya Hindu-Buddha di Nusantara bukanlah semata-mata produk dari pendalaman pikiran atau persepsi dari teori dan kaidah seni atau ikonografi dari tradisi seni rupa India, akan tetapi hasil dari pengolahan dan intepretasi para seniman Nusantara juga. Hasil dari peleburan kedua tradisi seni rupa itu (Nusantara dan India), melalui penghayatan sesuai dengan tuntutan budaya Hindu-Buddha kala itu (abad 7-15 M), maka lahirlah kebudayaan baru di Nusantara. Terpengaruh dari luar namun tidak menghilangkan yang asli lokal.

Sehingga kedatangan agama Hindu dan Buddha di Nusantara bukannya melenyapkan kebudayaan asli nenek moyang kita, yang sudah ada jauh sebelumnya, melainkan lebih memperkaya kebudayaan Nusantara itu sendiri, khususnya di tanah Jawa. Kebudayaan itu lalu menjadi lebih terkenal dengan berdirinya kerajaan besar seperti Majapahit. Kontak dan sintesa dengan kebudayaan lain itu bahkan mencetuskan kebudayaan dan kesenian yang harmonis, dinamik dan unik sesuai dengan jiwa masyarakat. Semua menjadi kreasi yang unik berupa ornamen-ornamen yang digoreskan pada berbagai bidang, termasuk pada dinding-dinding candi. Dan hiasan di candi-candi itu di antaranya adalah arca dan relief.

Gambar 5. Foto: Arca emas Garudha Mukha dari kerajaan Kahuripan (atas),
dan perhiasan bandul kalung dari emas (bawah).

Catatan: Untuk lebih detilnya tentang contoh peninggalan dari emas milik kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara, silahkan Anda klik judul artikel berikut ini: Kemajuan peradaban Nusantara tempo dulu.

3. Teknik pengolahan 
Bangsa Nusantara, khususnya para leluhur kita sudah mengenal berbagai teknik pengolahan material logam. Hasil yang didapatkan pun berkelas, tidak hanya untuk kalangan sendiri, tetapi juga untuk di ekspor ke luar negeri. Semua itu bisa terjadi karena pada dasarnya bangsa Nusantara ini termasuk bangsa yang unggul. Jauh dari kata primitif yang sering disebutkan para penjajah.

Jadi, pada masa tersebut bentuk ragam hias yang sebelumnya sudah ada yaitu bentuk-bentuk geometris tetap dipakai sebagai hiasan pada benda-benda hasil budaya. Lalu di padukanlah bentuk-bentuk non geometris itu dan selanjutnya muncul ragam hias berupa penggambaran manusia, dunia tumbuh-tumbuhan, dan dunia binatang. Semua itu di gubah sedemikian rupa sehingga terwujud suatu bentuk tertentu. Bentuk alam yang asli di stiril oleh seniman, maupun yang berdasarkan ragam yang bersifat turun temurun. Rupanya pengaruh Hindu memberikan perkembangan dengan motif hiasan (ragam hias) dan seni relief (Lestari 2010;11).

Kemudian berbagai teori dan kaidah seni rupa yang berasal dari India dengan tuntunan agama Hindu dan Buddha nya itu telah menjiwai para seniman seni rupa di Nusantara. Sehingga kegiatan dalam seni adalah untuk menjamin keberlangsungan hidup beragama yang berdasarkan tata kehidupan masyarakat agraris Nusantara, yang menempatkan raja dan keluarganya sebagai penguasa tertinggi yang sederajat dengan Dewa (Wiyosoyudhoseputro 1990-1992;35).

Keterampilan perajin Jawa Timur misalnya bahkan telah mencapai tingkat yang lebih tinggi di bandingkan dengan awal klasik. Desain yang rumit telah menggunakan teknik chasing, granulation dan filigri. Gaya telah berubah sepenuhnya dari orang klasik awal ke klasik akhir. Klasik akhir lebih disukai dengan ornamen yang sangat padat meliputi seluruh permukaan benda (Miksic 1990;109).

Gambar 6. Foto: Berbagai jenis perhiasan dari emas peninggalan era Majapahit.

Jadi, penggunaan perhiasan sebagai sarana upacara juga bisa kita ketahui dari prasasti-prasasti Jawa kuno yang menyebutkan serangkaian upacara penetapan Sima (desa perdikan). Dalam upacara tersebut ada pemberian hadiah (pasek-pasek) kepada para pejabat, antara lain berupa kain (widihan), cincin, serta uang emas dan perak. Dalam Kitab Sumanasantaka (sekitar abad 12 M) bahkan menyebutkan hadiah yang diberikan itu (misalkan gelang, kalung, dan cincin) di peruntukkan bagi mereka yang menguasai tingkat kepandaian dalam bidang seni musik, tari dan sastra.

Untuk itu, ketika melihat penggunaan perhiasan yang cukup luas serta di dukung ketersediaan emas di kepulauan Nusantara yang sangat banyak, maka dapat di mengerti bahwa pembuatan dan pemakaian perhiasan pada masyarakat Nusantara kuno sangat banyak. Tinggalan arkeologi yang berupa perhiasan berasal dari seluruh periode kebudayaan, sejak masa pra sejarah sampai ke masa kerajaan Majapahit. Dan jika dicermati, semuanya terbilang rapi dan bentuknya bagus.

Dari masa pra sejarah misalnya di temukan topeng emas di situs Gilimanuk. Pada umumnya perhiasan dari masa pra sejarah di temukan dalam situs kubur dan merupakan perlengkapan penguburan yang di kenakan pada si mati. Dari periode klasik Indonesia, baik masa Jawa Tengah abad 8-10 Masehi maupun Jawa Timur abad 10-15 Masehi, jenis perhiasan lebih bervariasi corak maupun bentuknya (Endang Sri Hardiati 2006; 124-125).

Perhiasan di Majapahit kebanyakan berupa mahkota, jamang, tusuk konde, suping (hiasan telinga), bandul, selempang dada, kelat bahu (gelang lengan), gelang tangan, cincin dan jempang (penutup kelamin anak perempuan). Teknik pengerjaan perhiasan meliputi teknik dalam pembentukan, teknik pembuatan hiasan dan teknik penyelesaian. Teknik pembentukan dasar di lakukan menggunakan teknik cetak dan teknik tempa. Teknik cetak yang di gunakan ada dua macam, yaitu cetak langsung dan cetak acire perdue. Teknik cetak langsung yaitu teknik mencetak dengan cara menuangkan logam cair langsung ke dalam cetakan. Sedangakan cetak acire perdue terlebih dahulu membuat model positif sesuai dengan bentuk yang akan di buat. Model tersebut di buat dari bahan lilin yang kemudian dibalut dengan tanah liat. Model ini kemudian di bakar hingga lilin itu meleleh keluar dan terbentuklah cetakan negatif. Oleh karena itu teknik ini sering disebut dengan istilah Lost Wax Casting. Selanjutnya di teruskan dengan proses penuangan logam cair ke dalam rongga cetakan tersebut.

Untuk teknik pembuatan selanjutnya adalah teknik tempa. Teknik ini di lakukan agar bisa menghasilkan bentuk-bentuk wadah yang di lakukan dengan penempaan dari sisi dalam dan di atas permukaan landasan yang cekung atau dari sisi luar pada landasan yang cembung (Haryono 2008; 176-177). Sementara teknik pembuatan hiasan di lakukan dengan berbagai macam cara yaitu penempelan soldering, pemukulan halus dari sisi dalam untuk mendapatkan bentuk relief, penempelan butiran-butiran granulation, pembuatan goresan menggunakan alat grafir, dan teknik pengukiran chasing dan embosing. Penyambungan menggunakan teknik welding sesuai dengan sisi logam yang di ukir, untuk menghasilkan berbagai jenis pahatan pada ornamen yang di buat dan di gunakan alat-alat pahat dari sisi belakang (pemudul) dan alat pemahat dari sisi depan (pengracap). Masing-masing ujung mempunyai bentuk yang beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan. Tahap akhir dari pengerjaan adalah penghalusan (Haryono 3008; 177).

Lalu, berdasarkan temuan beberapa artefak era Majapahit yang di paparkan oleh John Miksic dalam Old javanese gold, maka ada satu teknik lagi yang digunakan untuk membuat perhiasan pada masa Majapahit, yang sering disebut dengan Filigri. Teknik Filigri ini adalah kata yang berasal dari bahasa latin yaitu “filum” yang berarti benang dan “granum” yang artinya “biji”. Sehingga filigri adalah seni atau teknik untuk membuat perhiasan atau pun produk seni yang terbuat dari logam emas, perak, atau tembaga dengan menggunakan benang logam atau kawat halus yang di pelintir, di anyam, di bentuk, dan disatukan dengan patri sehingga menjadi sebuah bentuk tertentu yang indah.

Gambar 7. Foto: Gelang emas dari era Mapajahit dengan teknik filigri.

Sebuah produk filigri adalah produk yang di hasilkan dari kombinasi berbagai potong bidang bentuk yang di satukan. Setelah masing-masing bidang tersebut diisi dengan benang logam yang menggunakan motif-motif tertentu. Produk filigri bisa di aplikasikan pada pembuatan perhiasan, manik-manik, dan benda seni (Sagita 2008; 2021).

Membuat bentuk benang atau kawat (isen-isen), di awali dengan memanasi potongan logam kemudian di pukul berulang-ulang untuk mendapatkan bentuk sebuah batangan emas pipih. Selanjutnya salah satu ujungnya di masukkan ke dalam papan besi berlubang (pengurutan) sesuai dengan diameter yang di inginkan dan di tarik, sehingga seluruh batangan emas di paksa keluar melalui lubang tersebut. Kawat emas yang di hasilkan dalam pemanfaatannya antara lain berupa benang emas tunggal, benang emas yang di jalin dan benang emas rajutan (Timbul Haryono 2008; 178).

Khusus untuk perhiasan yang di lengkapi batu permata, maka ada berbagai teknik yang di gunakan para perajin saat itu untuk memasang batu permata tersebut. Di antaranya seperti berikut ini:

1. Teknik ikat pendem, yaitu memasang batu permata pada cekungan sebagai penjepitnya.
2. Teknik bandhilan, yaitu memasang batu mulia pada kaki-kaki yang terbuat dari kait-kait tipis secara terpisah dari cincin, kemudian batu permata tersebut di masukkan pada lubangnya dan masing-masing bagian di patri pada cincin.
3. Teknik tumpang, yaitu meninggikan logam penahan di sekeliling batu dengan cara melubang-lubangi sehingga bisa menahan batu mulianya.
4. Teknik cakaran, yaitu membuat semacam cakar terpisah dari cincin dan memasukkan batu di antara cakar yang telah di buat kemudian mematrinya pada cincin.

Gambar 8. Foto: Cincin emas dari era Majapahit dengan teknik ikat pendhem.

Pada masa lalu, khususnya di kerajaan Majapahit, profesi sebagai seniman perhiasan (pande emas) merupakan sebuah pekerjaan yang istimewa dan mendapat tempat yang di hormati. Di dalam kitab Tantu Panggelaran disebutkan bahwa dalam rangka membuat dasar-dasar kebenaran di pulau Jawa antara lain; Hyang Mahadewa turun ke Bumi menjadi seorang pande emas dan mengajarkan kepada manusia membuat barang-barang perhiasan (Timbul Haryono 2008; 173).

4. Penutup
Wahai saudaraku. Setelah di perhatikan lebih seksama, maka selain penggunaan teknik ilmiah, maka ada hal-hal yang berbau magis dalam pembuatan beberapa jenis perhiasan pada zaman dulu, khususnya di Majapahit. Dimana ternyata ada sebagian perhiasan yang dibuat tanpa ada patri, tanpa cetakan, dan tanpa teknik yang disebutkan di atas. Jadi ada sebagian perhiasan yang pembuatannya seperti menggunakan kekuatan magis dengan cara bahan logam itu seperti di pencet-pencet dengan jari (pijet), yang konon menurut cerita sama dengan cara para empu (seperti empu Ramayadi, Surawisesa, dan Supogati) dalam membuat keris pada zaman dahulu.

Dan di ketahui pula bahwa campuran logam emas yang dibuat pada zaman dahulu itu kadang terdiri dari campuran 5 macam logam, yaitu emas, perak, tembaga, kuningan dan perunggu. Dan campuran dari bahan logam ini sangat sulit untuk di bentuk, karena komposisi logam tersebut sangat sulit untuk menyatu. Dengan cara sistem tempa ternyata tidak akan bisa, sebab kalau di tempa selalu mendapati bahwa bahan logam tersebut retak atau pecah. Hal ini sudah pernah dibuktikan setelah mendapatkan barang perhiasan yang di perkirakan dari masa Majapahit yang kondisinya sudah rusak parah. Barang tersebut langsung di lebur di tukang emas zaman moderen ini dengan maksud untuk di buatkan perhiasan yang baru. Tapi ternyata tukang emas zaman sekarang tidak sanggup untuk membuatnya di karenakan bila di tempa selalu retak dan pecah. Artinya, ada sebuah teknologi pengolahan logam yang mutakhir dan telah dikuasai oleh para empu dan pande leluhur kita. Namun sayang tidak lagi dikuasai oleh generasi kita sekarang.

Akhirnya, kini apakah masih saja ada yang meragukan tentang kelebihan bangsa ini, terutama para leluhur kita dulu? Masihkan kita sekarang ini merasa minder dengan bangsa lain, sampai harus mengekor terus-terusan kepada mereka? Mengapa kita tidak mengasah kemampuan bangsa sendiri, yang sebenarnya mewarisi gen orang-orang yang hebat? Silahkan jawab sendiri. Rahayu.. _/|\_

Jambi, 09 Februari 2018
Harunata-Ra

Referensi:
* Kedutaan Besar RI di Den Hag, Belanda.
* https://www.kemlu.go.id/thehague/id/arsip/siaran-pers/Pages/PAMERAN-PERHIASAN-RAJA-JAWA-KUNO-DI-WERELDMUSEUM-ROTTERDAM.aspx
* https://gpswisataindonesia.wordpress.com/2014/04/09/perhiasan-tradisional-masa-kerajaan-majapahit/comment-page-1/
* https://faldirex.blogspot.co.id/2013/12/sedikit-cerita-perhiasan-era-majapahit.html

Iklan

5 pemikiran pada “Seni Perhiasan Mengagumkan dari Majapahit

  1. Tufail

    Sedih juga baca kisahnya kita sbg anak keturunannya hanya bisa melihat dan mengagumi dari potongan gambar saja gag kurang gag lebih, sempat saya pernah membaca ada berita patung” berbentuk arca batu dari kerajaan Maha Raja Purahita atau Majapahit apa betul itu artinya… 😀 dicuri atau dijual kepada bangsawan dari kerajaan england, yg menambah miris mereka meletakkannya di pekarangan belakang rumah tak terurus pemerintah pernah melakukan negoisasi untuk menarik kembali ke pangkuan ibu pertiwi ini tp pihak ahli waris dr keturunan mereka yg ke lima-enam minta tebusan yg gag masuk akal diatas jutaan poundsterling maka pupus sdh harapan pemerintah kita. 😊😢
    Yang menarik dr semua foto atau ada yg sengaja disembunyikan tak tampak ada mahkota dari Raja & Permaisurinya, menurut pendapat saya memang sudah disembunyikan oleh para leluhur kita “weruh sadurunge winarah” krn saya berkeyakinan pasti mempunyai unsur ghaib gag sembarang org bisa & mampu membawanya. Apalagi sampai hari ini pun teknologi yg ada belum mampu menggabungkan kelima unsur mineral emas, perak, tembaga, kuningan dan perunggu. Ditambah yg mengajarkannya langsung dari khayangan seorang guru Hyang Mahadewa sungguh luar biasa leluhur kita bangsa Nusantara ini.
    Salam.
    Rahayu… 🙏

    1. oedi

      Rahayu juga kang Tufail.. 🙂

      Iya kang, miris banget kalo tau warisan leluhur kita itu justru ada di luar negeri atau di rumah para kolektor.. Tapi mau bagaimana lagi, kita bisa apa sebagai wong cilik? itu sudah jadi tugas dari pemerintah skr lah.. 😦

      Betul sekali kang, kalo mahkota dan pakaian raja yang asli itu biasanya gak sembarangan, gak semua orang bisa memakai atau menyimpannya. Dan khususnya milik raja Majapahit, sudah disimpan terlebih dulu di tempat yang sangat rahasia. Tak ada yang bisa menyentuhnya kalo bukan yang berhak. Bahkan sebenarnya seperangkat mahkota, baju kebesaran raja, singgasana, cincin stempel, lambang kerajaan, dan istana raja Majapahit yang sebenarnya, yang ada pada masa Raden Wijaya itu, sudah dipindahkan ke dimensi lain jauh sebelum kerajaan itu runtuh. Sampai sekarang masih terjaga dengan sangat baik dan menunggu ada seorang keturunan Raden Wijaya yang terpilih untuk mengambilnya. Ini sama persis dengan istana kerajaan Pajajaran yang juga telah dipindahkan ke dimensi lain.

      Karena itu bohong jika ada orang yang mengaku-ngaku atau menganggap telah menemukannya. Tidak semudah itu dan memang belum waktunya skr. Tapi yg jelas sudah semakin dekat kok waktunya.

  2. rakeyan

    Salam Mas Oedi(ku)…..
    “Membaca” Artikel Seni Perhiasan Mengagumkan dari Majapahit, sungguh terasa pilu & tragis akan realitas-nya, akan tetapi……. Saya punya harapan & keyakinan, bahwa….. KELAK akan ada Anak Cucu (Putra-Putri) Leluhur Nusantara yang menuntaskan permasalahan tsb (dgn cara inventarisasi & membawa pulang ke Nusantara serta dibuatkan Musium khusus).

    Saya Suka dgn CLOSING STATEMENT-nya Jenengan (yg mengingatkan & menyemangati sesama Anak Bangsa, Anak-Cucu Leluhur Nusantara), yakni :
    Akhirnya, kini apakah masih saja ada yang meragukan tentang kelebihan bangsa ini, terutama para leluhur kita dulu? Masihkan kita sekarang ini merasa minder dengan bangsa lain, sampai harus mengekor terus-terusan kepada mereka? Mengapa kita tidak mengasah kemampuan bangsa sendiri, yang sebenarnya mewarisi gen orang-orang yang hebat? Silahkan jawab sendiri. Rahayu.. _/|\_

    Btw……. Saya juga berkomentar dan berbagi (memposting) di Artikel LAGU DOLANAN ANAK ANAK PESAN DAN PREDIKSI KEHIDUPAN BANGSA, dalam Perspektiktif Sisi Lain.
    Matur nuwun & smoga bermanfaat.

    Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti
    Rahayu Sagung Dumadi

    1. oedi

      Salam juga mas Rakeyan… Nuwun karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Iya mas, saya pun berharap itu bisa cpt terwujud, biar aura n energi besar bangsa ini segera kembali.. bahkan kalo perlu dg cara di paksa tuh hehe.. 😀

      Syukurlah kalo suka dengan tulisannya, khususnya closing statement-nya.. ya cuma itu yg bisa saya lakukan, mengajak poro sedulur utk ttp semangat dan percaya diri sebagai bangsa Nusantara.. itu yg bisa membuat kita bertahan dalam percaturan dunia kedepan..

      Iya mas, tadi sekilas saya liat sampeyan kasih koment di tulisan itu, tapi blm saya baca semuanya.. cukup panjang sepertinya… nanti saya baca deh.. 🙂

      Rahayu Bagio.. “Suro diro joyodiningrat, lebur dening pangastuti, rawe-rawe rantas malang-malang putung”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s