Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Bangsa Arya dan Kisah Peradabannya

Wahai saudaraku. Siapa yang tidak pernah mendengar nama bangsa Arya? Satu bangsa yang berperadaban tinggi dan kehidupannya menjadi perhatian khusus selama ribuan tahun. Tak jarang pula mereka menjadi acuan dalam membangun peradaban dunia. Dan itu adalah hal yang wajar, sebab mereka bisa membuktikan keunggulannya. Pengaruhnya pun sangat luas, mulai dari Eropa Barat, Timur Tengah, Asia Barat, Asia Tengah, Asia Timur, Asia Selatan dan Nusantara. Tidak hanya di masa lalu, tetapi hingga sekarang.

Lalu siapakah sebenarnya bangsa ini? Bagaimana pula kisah hidupnya? Nah, untuk lebih jelasnya mari ikuti penelusuran berikut:

1. Awal kisah dan asal usul
Kisah ini bermula setelah proses transisi zaman yang mengerikan usai. Periode zaman ke enam (Nusanta-Ra) pun telah digantikan dengan periode zaman ke tujuh (Rupanta-Ra). Manusia yang selamat dalam pergantian zaman kala itu, yang berbeda rasnya, lalu diperintahkan untuk menyebar ke segala penjuru Bumi. Di tempatnya masing-masing, mereka lalu membangun kehidupan barunya, dari awal lagi. [baca: Azkariyah: Negeri di Penghujung Zaman]

Lalu, setelah ±2.000 tahun berikutnya, atau sekitar ±15.000 tahun yang lalu, umat manusia yang menyebar di sepenjuru Bumi itu telah berhasil mendirikan kerajaannya masing-masing. Terhitung ada sekitar ±65 kerajaan besar di seluruh dunia dan mereka hidup dalam dinamika yang menarik. Meskipun mereka berbeda ras, bangsa dan bahasanya, namun belum pernah terjadi perang besar. Semua masalah di antara mereka tetap bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Keadaan dunia pada masa itu masih relatif aman dan tertib.

Begitulah yang terjadi di dunia, khususnya di kawasan Mellayurin (penamaan Nusantara kala itu). Ada banyak kerajaan yang berdiri dan mereka hidup dalam kedamaian dan peradaban yang tinggi. Namun semua itu berubah terutama ketika perang besar pun terjadi. Pada saat itu, seorang putri yang berasal dari kerajaan Ahtapura (sekitar Jawa Barat) yang bernama Tiyasati memimpin pasukan untuk melawan Prabu Rah-Amurtar dari kekaisaran Tasidam (ibukotanya di sekitar Wonosobo, Jawa Tengah). Sang Prabu sangat berambisi untuk bisa menguasai dunia. Siapapun yang menentangnya akan dihabisi. Tak peduli apakah dia itu adalah orang lain atau justru malah kerabatnya sendiri. [baca: Ratu Tiyasati: Pemimpin Besar Nusantara]

Gambar 1. Ilustrasi pertempuran Ratu Tiyasati

Dalam pertempuran dahsyat itu, Prabu Rah-Amurta memimpin lebih dari 700.000 pasukan siap tempur, sementara koalisi dari lima kerajaan (Sihandipa, Diwanta, Karsulin, Hamingga, dan Yisacara) – dimana sang putri bergabung – terdiri dari ±500.000 pasukan. Putri Tiyasati mengabdi pada kerajaan Sihandipa (ini adalah kerajaan leluhurnya, di sekitar Palembang) lantaran kerajaannya (Ahtapura) sudah dikuasai oleh kekaisaran Tasidam. Setelah berjuang dengan gigih, akhirnya sang putri dan pasukannya berhasil memenangkan pertempuran besar itu. Selang dua tahun kemudian, ia lalu menggantikan kedudukan raja di Sihandipa, yaitu Prabu Wirantuka, lantaran anak tunggalnya telah gugur. Tak lama kemudian, setelah menikah dengan Pangeran Wilayana, Ratu Tiyasati pun memproklamirkan kerajaan barunya. Kerajaan itu bernama Attalani dengan pusat pemerintahannya tetap berada di ibukota kerajaan Sihandipa (yaitu Hindapa), di tanah Swinarma (penamaan pulau Sumatera kala itu), tepatnya di sekitar Palembang sekarang. Seiring berjalannya waktu, kerajaan ini lalu menjadi kemaharajaan yang besar, terhormat dan sangat disegani oleh seluruh dunia pada masanya. Banyak kerajaan yang memilih untuk bergabung, sehingga wilayahnya hampir meliputi seluruh kawasan Asia Tenggara sekarang.

Ya. Kemaharajaan Attalani tetap berdiri dalam kemakmuran dan kedamaian selama lebih dari 1.000 tahun. Hanya saja pada akhirnya ibukota kerajaannya (Hindapa) harus berpindah ke dimensi lain. Sebelum berpindah, tampuk kekuasaan di kemaharajaan Attalani lalu diserahkan kepada kerajaan Yisacara. Namun karena hanya sebagai pengganti, kerajaan ini tak mampu menyamakan diri dengan keagungan kerajaan inti yang dulu berpusat di kota Hindapa. Oleh sebab itulah akhirnya kemaharajaan Attalani pun terbagi-bagi dan runtuh. Karena setelah 70 tahun berlalu – sejak kota Hindapa berpindah dimensi – mulai ada perpecahan di antara mereka. Satu persatu kerajaan yang dulunya bergabung dalam kemaharajaan Attalani mulai memisahkan diri. Dengan jalan berperang, akhirnya kerajaan-kerajaan yang ada kala itu mendirikan kembali kerajaan lamanya yang berdaulat. Tanah Swinarma (pulau Sumatera), Jiwani (pulau Jawa, Madura, Bali, NTB, NTT, Timor Leste), Bilsunawa (pulau Kalimantan), dan Ruwandil (Malaysia, Thailand, Myanmar, Kambodia, dan Vietnam) kembali terpecah belah ke dalam banyak kerajaan. Hal ini lalu menyebabkan seringnya terjadi perang dan kekacauan.

Selain itu, huru hara terus berlangsung selama ratusan tahun kemudian. Sampai pada akhirnya ada upaya untuk menyatukan kembali ke empat wilayah itu (Swinarman, Jiwani, Bilsunawa, dan Ruwandil) agar seperti sebelumnya. Seperti yang pernah di lakukan oleh penguasa dari kerajaan Namusta, yang dulunya berpusat di sekitar Cirebon sekarang. Namun hanya dua wilayah saja yang berhasil disatukan, yaitu Swinarma dan Jiwani. Karena itu kondisi di tanah Jawa dan Sumatera sempat mengalami kedamaian, hanya saja ini tak berlangsung lama. Karena kerajaan ini pun akhirnya runtuh akibat perang saudara dan bencana alam. Dan setelah ±500 tahun kemudian atau sejak sekitar ±13.500 tahun silam, justru tak ada lagi peradaban besar di Nusantara. Semuanya hancur berserakan, tertimbun oleh abu vulkanik dan menjadi hutan belantara yang lebat. Tinggallah masyarakat yang hidup dalam suku-suku yang terpisah.

Untuk itu, bisa dibilang sejak saat itu wilayah Nusantara seperti tak bertuan dan sepi dari peradaban besar, karena yang ada hanyalah tinggal wilayah-wilayah kesukuan saja. Dan barulah sejak beberapa ratus tahun kemudian mulai bermunculan kerajaan-kerajaan baru yang cukup besar. Hal ini terus berlanjut selama ribuan tahun. Disini tentu ada masa bangkit dan runtuhnya, ada pula waktu perdamaian dan pertempuran di antara mereka. Tapi selama itu pula ada yang sempat mendirikan bangunan monumental yang spektakuler – seperti halnya kuil, taman, piramida dan menara – sebagai simbol kejayaan dan atau rasa syukur mereka kepada Tuhan. Hanya saja kini telah hancur atau “menghilang” dan sedikit orang saja yang masih bisa mengetahui dan meyakininya.

Kembali ke kemaharajaan Attalani, maka perlu diketahui bahwa yang menjadi penyebab utama runtuhnya adalah kondisi akhlak dari para pembesar/bangsawan yang merosot tajam, dan mereka semakin larut dalam kesenangan duniawi yang semu serta mengutamakan ego pribadinya. Keserakahan dan kemaksiatan terjadi dimana-mana. Terlebih kelima pusaka warisan dari Ratu Tiyasati, yang biasanya menjadi tolak ukur bagi siapapun yang berhak menjadi Maharaja/Maharani di kemaharajaan Attalani telah raib. Hal ini yang menjadi sumber masalah besar. Setiap raja/ratu yang ada di setiap kerajaan lalu merasa paling berhak untuk menjadi pemimpin tertinggi. Tak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya mereka saling bertikai dan rela berperang habis-habisan demi mendapatkan jabatan tertinggi itu. Mereka telah dibutakan oleh nafsu dan angkara murka. Ini adalah kisah tragis yang selalu berulang dari zaman ke zaman.

2. Migrasinya bangsa Arya
Disebabkan oleh perebutan kekuasaan dari para raja/ratu di wilayah kemaharajaan Attalani, akhirnya justru menimbulkan perpecahan yang memilukan. Wilayah Nusantara, khususnya yang ada dibagian barat dan tengah kembali terbagi-bagi dan menjadi penyebab runtuhnya kemaharajaan Attalani. Lalu sejak runtuhnya kemaharajaan Attalani itu, maka tak ada lagi kejayaan yang serupa, khususnya di kawasan Nusantara. Konflik demi konflik sering terjadi di hampir semua wilayah Nusantara, belum lagi ditambah dengan bencana alam seperti gunung meletus, gempa bumi, dan kekeringan, sehingga menjadi penyebab utama kehancuran besar dan memaksa penduduknya untuk melakukan exodus (mengungsi ke luar negeri).

Secara bergelombang, sebagian manusia yang tinggal di Nusantara kala itu terpaksa harus pergi dari tanah kelahirannya, sementara sisanya memilih untuk tetap tinggal dengan apapun resikonya. Mereka yang berkulit terang dan putih hampir semuanya memilih untuk bermigrasi ke utara, hanya sedikit yang tetap ingin tinggal. Sedangkan yang berkulit gelap, sawo matang dan kuning langsat lebih memilih untuk tetap tinggal di Nusantara, hanya sebagian kecilnya saja yang ikut bermigrasi bersamaan dengan rombongan yang ke utara. Mereka yang memilih tinggal ini tetap hidup selama ribuan tahun kemudian, dengan tetap mempertahankan tradisi, budaya dan keyakinan dari para leluhurnya – meskipun pada akhirnya terjadi pergeseran nilai dan maknanya.

Keturunan mereka yang memilih tinggal di Nusantara ini masih ada sampai sekarang, khususnya di wilayah bagian barat dan tengah Nusantara. Meskipun tak sehebat leluhur mereka di kemaharajaan Attalani, beberapa kerajaan yang telah mereka dirikan tetap memiliki peradaban yang tinggi. Dalam hal arsitektur bangunan misalnya, mereka tetap bisa membangun taman, kuil dan piramida yang besar, yang hingga kini masih bisa “di lihat puing-puingnya” di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Di antara kerajaan besar yang pernah mereka dirikan jauh sebelum tarik Masehi adalah Maltarama, Artaraya, Karimun, Tarturaka, Ganehasa, Zayamata, Bumayasasta, Medang Kamulan, Gasopati, dan Artimanggala. Semuanya merupakan kerajaan yang berperadaban tinggi, dengan kemakmuran yang berlimpah. Salah satu taman yang paling mahsyur dan pernah dibangun oleh keturunan dari  kemaharajaan Attalani ini adalah yang bernama Hungtapala. Di bangun pada masa kerajaan Maltarama (di sekitar Jawa Barat sekarang) pada sekitar ±13.317 tahun lalu sebagai hadiah dari Raja Yagoya kepada permaisurinya yang bernama Putri Nagayo. Sang permaisuri adalah sosok yang cantik jelita, yang berasal dari kerajaan Kartayama. Dulu kerajaan ini berada di sekitar Malaka-Malaysia sekarang.

Sungguh mengagumkan, karena lokasi taman ini – pada masa itu – berada tepat di atas sebuah bukit yang ada di arah depan istana kerajaannya. Di dalam kawasan taman ini terdapat beragam bunga warna-warni dan kolam air yang jernih serta banyak ikannya. Tepat di tengah-tengah taman, maka berdirilah sebuah piramida dengan ketinggian sekitar ±75 meter, sedangkan lebarnya adalah ±101 meter. Tipikal bangunannya berbentuk piramida yang berundak, dengan jumlah keseluruhannya adalah 33 undakan. Adapun bahan bangunannya terbuat dari batu andesit berwarna hitam. Dikerjakan dengan sangat detil, rapi dan penuh ketelitian. Sangat megah piramida ini, karena pada bagian dalamnya terdapat lorong-lorong, ruangan dan anak tangga yang bisa mengantarkan siapapun untuk naik sampai ke puncak bangunannya. Di dalam bangunan piramida itu juga di hias dengan berbagai perkakas dari keramik dan emas, bahkan terdapat patung-patung singa dan burung merak yang juga terbuat dari emas.

Selanjutnya, memasuki era Masehi, maka ketika salah satu keturunannya (Dewi Pohaci Larasati binti Aki Tirem) menikah dengan seorang keturunan bangsa Arya dari tanah India (Dewawarman atau yang bergelar Prabu Darmalokapala Aji Raksa Sagara, sang pendiri kerajaan Salakanagara), maka beberapa keturunannya pun berhasil menjadi pemimpin besar yang namanya masih dikenal luas hingga sekarang. Di antaranya seperti Wamseragen atau yang bergelar Sri Maharaja Mulawarman Naladewa (raja ke-3 Bakulapura, sekaligus pendiri kerajaan Kutai Martadipura), Sri Maharaja Purnawarman (raja ke-3 kerajaan Tarumanagara), Ratu Shima/Syima atau yang bergelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara (ratu ke-4 kerajaan Kalingga), Sang Wretikandayun atau yang bergelar Sri Maharaja Suradarma Jayaprakosa (raja ke-4 Kendan, sekaligus pendiri kerajaan Galuh), Dapunta Hyang Sri Jayanasa (pendiri kerajaan Sriwijaya), Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (pendiri kerajaan Medang), Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya (raja ke-4 kerajaan Kadiri), Dyah Nararya Sang Rama Wijaya alias Raden Wijaya atau yang bergelar Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana (pendiri kerajaan Majapahit), dan Gajah Mada (Patih Amungkubhumi kerajaan Majapahit). Semua tokoh itu adalah orang-orang yang hebat, cerdas dan berilmu tinggi.

Sementara itu, bagi mereka yang bermigrasi dari Nusantara akhirnya sampai menyebar kemana-mana di berbagai penjuru Bumi, khususnya ke arah utara (Asia Tengah). Di tempat yang baru itu mereka kembali membangun peradaban, yang sumber utamanya tetap berasal dari kebudayaan dan tradisi yang pernah ada di Nusantara. Disamping mereka juga ber-akulturasi dengan tradisi dan kebudayaan lokal, sehingga menciptakan ciri khas yang baru.

Gambar 2. Perkiraan jalur migrasi bangsa Arya.

Atas peristiwa di atas, maka itulah yang menjadi penyebab utama kenapa sebagian besar penduduk Nusantara kala itu bermigrasi ke arah utara, tepatnya sampai ke wilayah Asia Tengah sekarang. Disana mereka lalu mendirikan kaum dan peradaban yang baru yang sumber utamanya tetap berasal dari Nusantara. Mereka itu dikenal sekarang dengan nama bangsa Arya. Arya disini berarti mulia dan terhormat.

Catatan: Pada masa itu, secara fisik orang-orang yang hidup di Nusantara berbeda dengan sekarang, lebih beragam. Termasuklah yang menjadi para pembesar dan bangsawan di kemaharajaan Attalani. Mereka inilah bangsa Arya yang dimaksudkan. Yang penampilan fisiknya bermacam-macam, karena Arya disini sebenarnya bukan berarti satu golongan ras tertentu. Arya itu adalah kumpulan dari orang-orang yang berperadaban tinggi dan terhormat yang memiliki tradisi, budaya, cita-cita dan falsafah hidup yang sama. Jadi tidak hanya terdiri dari satu ras saja, melainkan bermacam-macam dan tetap dalam satu kesatuan negara. Begitulah adanya kehidupan di Nusantara ini, sudah berulang kali pernah berganti peradabannya. Di antara mereka ada yang terdiri dari satu ras saja, namun tak sedikit yang merupakan kumpulan dari banyak ras manusia; contohnya kemaharajaan Nawali, Kaminos, Himarida, dan Azkariyah. Bangsa Arya hanyalah salah satu dari bangsa yang besar dan terhormat, karena penuh keberagaman tapi tetap satu juga. Inilah makna dari bhineka tunggal ika yang seharusnya.

Setelah hijrah dari Nusantara, awalnya mereka yang bermigrasi itu senang hidup berpindah-pindah (nomaden). Mereka sempat menetap di beberapa kawasan, khususnya di Asia Tengah, dan mendirikan peradaban baru disana. Setelah cukup mapan, mereka lalu mendirikan sebuah bangsa tersendiri dengan nama Aryawinata atau yang berarti mulia dan terhormat yang tertata dan bisa menata. Nama itu terinspirasi dari sikap dan peradaban leluhur mereka di Nusantara. Dan akhirnya cukup disebut dengan nama Arya saja. Setelah beberapa ribu tahun, mereka kembali bermigrasi. Bencana alam berupa kemarau panjang dan wabah penyakit, atau perang saudara telah memaksa bangsa ini untuk meninggalkan tempat tinggalnya di Asia Tengah. Mereka kembali mengembara kemana-mana, terutama ke wilayah Eropa Barat, Asia Barat, dan Asia Selatan.

Ya. Secara bergelombang mereka bergerak ke beberapa wilayah di kawasan barat dan selatan. Dalam pergerakan itu, bangsa Arya ini sudah melengkapi dirinya dengan pasukan yang tangguh dan teknologi peralatan yang sangat maju di zamannya. Bahkan lebih maju dari setiap negeri yang mereka tuju. Itulah kenapa di saat mereka memasuki sebuah negeri, maka jika terjadi konflik dengan penduduk lokal, mereka selalu berhasil memenangkannya. Mereka lalu menjadi penguasa disana dan akhirnya mendirikan kerajaan besar selama berabad-abad.

4. Tradisi dan budaya 
Di Asia Tengah, bangsa Arya ini hidup selama ribuan tahun. Mereka telah membangun peradabannya sendiri, yang cukup maju. Meskipun sebagai kaum pengembara, mereka mempunyai kemampuan bersyair yang tinggi. Syair-syair pujian itu diajarkan melalui lisan dan tulisan, terutama ketika suatu keluarga atau bangsanya memperingati kepahlawanan nenek moyang mereka, khususnya pada hari kematian pahlawan tersebut. Dan khusus bagi mereka yang akhirnya tinggal di tanah India, maka kesusasteraannya dibagi menjadi beberapa periode, yaitu Weda, Brahmana dan Uphanisad. Semuanya itu bermula sejak di Asia Tengah dan berlanjut sampai ke tanah India. Sementara yang hidup di wilayah Iran-Iraq, mereka lebih mengenalnya dengan Yasna, Gathas, Visparat, Videvdat (Vendidad), dan Zend-Avesta.

Lalu, meskipun bukan dari kebiasaan mereka di Nusantara, maka sejak hidup di Asia Tengah akhirnya mereka mempunyai tradisi untuk menceraikan isterinya. Karena laki-laki sangat penting dalam kehidupan berkeluarga, makanya apabila seorang wanita tidak dapat melahirkan anak laki-laki, ia akan diceraikan oleh suaminya. Dan jika sang suami meninggal dunia, maka isterinya harus menaiki pancaka (menara kayu) untuk dibakar bersama jenazah suaminya sebagai tanda kesetiaan.

Selain itu, tolak ukur kekayaan dari bangsa Arya ini adalah berdasarkan jumlah hewan ternak yang dimiliki; misalnya sapi yang banyak atau kuda yang hanya dimiliki oleh orang kaya saja. Bangsa Arya juga mempunyai kegemaran melakukan lomba perang-perangan ataupun sekedar lomba memanah sasaran tertentu. Ada pula lomba adu kekuatan seperti melempar balok kayu dan olah raga bergulat, serta adu ketangkasan dalam ilmu kanuragan dan menggunakan senjata. Tari-tarian merupakan kesenian penuh kegembiraan dalam bangsa Arya, yang diiringi oleh alat musik gendang, seruling dan sitar. Lalu meskipun bukan tabiat asli di negeri asal mereka (Attalani: Nusantara), masyarakat Arya ini akhirnya sangat gemar bermain judi dan menenggak minuman keras yang  dibuat dari anggur atau perasan batang tanaman soma.

Catatan: Setelah hidup selama ribuan tahun di Asia Tengah, terjadilah pergeseran nilai tradisi dan budaya dalam bangsa ini. Ada beberapa hal yang berubah dari asalnya di Nusantara dan atau bercampur dengan kebudayaan lokal. Akibatnya banyak terjadi perubahan mendasar dalam sistem sosial dan kepercayaan mereka. Hal inilah yang kemudian dibawa kemana-mana saat mereka bermigrasi lagi. Di tempat yang baru, mereka menerapkan sistem sosial dan kepercayaan dari Asia Tengah itu (yang sudah tidak murni lagi dari Nusantara), bahkan masih saja dipengaruhi lagi oleh tradisi dan budaya lokal dimana mereka akhirnya menetap. Hasil akhir dari semua itulah yang kini secara luas diketahui dunia, khususnya yang dari Persia dan India.

5. Membangun peradaban besar
Di karenakan hidupnya lebih bersifat nomaden lalu di tambah dengan adanya bencana kekeringan, wabah penyakit, dan perang saudara, maka dari Asia Tengah itu bangsa Arya lalu bergerak lagi secara bertahap menuju ke arah barat dan selatan. Di barat mereka membentuk kelompok bahasa Centum yang terdiri dari sub-grup Keltik, Jermanik, Latin, Balto-Slavik, Albania, Yunani, dan Tocharia (sudah punah).  Disana mereka lalu mendirikan kerajaan besar seperti Athena, Argos, Sparta, Macedonia, Romawi, Kelt, Skythia, Bavariia, Visigoth, dan Saxon. Sedangkan di selatan mereka membentuk kelompok bahasa Satem yang terdiri dari Sanskerta di tanah India dan Avestan atau Parsua (Persia) di wilayah Iran-Iraq.

Untuk itu, lebih tepat bila dikatakan kalau sebagian besar bahasa yang ada di Eropa Barat berasal dari sebuah bahasa nenek moyang yang sama dengan bahasa Sanskerta dan Avestan (Persia), yakni bahasa “Proto Indo-Eropa” yang penuturnya datang dari Asia Tengah yang sebelumnya dari Nusantara. Nah mereka yang tinggal di Asia Tengah ini berasal dari Nusantara, jauh sebelum 4.000 tahun sebelum Masehi. Sebagaimana uraian di atas.

Ya. Sejak saat itulah bangsa Arya pun terbagi menjadi dua. Dan khusus yang hidup di kawasan selatan, maka jika di wilayah Iran-Iraq mereka memakai bahasa Avestan atau Parsua (Persia), maka di India mereka memakai bahasa Sanskerta. Keduanya memiliki akar bahasa yang sama. Karena itulah ada banyak kemiripan dalam tata bahasanya. Terbukti dari ayat-ayat yang terdapat di dalam kitab Zend-Avesta dalam agama Zoroaster dan kitab Weda dalam agama Hindu. [baca: Bahasa Sanskerta dan keunggulannya]

Bangsa Arya ini tiba di Iran-Iraq sekitar tahun 2500-2000 SM. Di wilayah itu mereka kemudian terpecah dua lagi menjadi bangsa Persia dan bangsa Media. Mereka berasimilasi dengan suku-suku setempat seperti Elam. Dari sini, lahirlah bahasa Persia dan bahasa-bahasa Iran lainnya. Sumber sejarah tertulis pertama mengenai orang Persia ini adalah prasasti Assyria (834 SM), dan di dalam prasasti itu ada menyebut tentang orang Parsua (Persia) dan Muddai (Media). Saat itu, orang Asyur (kerajaan yang berpusat di hulu sungai Tigris, Mesopotamia, Iraq) menggunakan istilah “Parsua” untuk merujuk kepada suku-suku di Iran. Kemudian orang Yunani mengadaptasi istilah ini untuk merujuk pada semua peradaban dari wilayah Iran. Ketika orang Persia memeluk agama Islam, orang Arab menggelari mereka dengan nama Fars atau Farsi karena abjad “P” tidak terdapat dalam tulisan Arab (huruf Hijaiyah).

Gambar 3. Foto: Puing-puing istana Apadana yang berlokasi di kota Persepolis, Iran.
Dibangun oleh kaisar Darius Agung dan Xerxes I, sang penguasa Persia, pada abad ke-6 SM.

Kawasan Persia kemudian diperintah oleh beberapa kerajaan besar dan membentuk kekaisaran yang kuat. Di antara kekaisaran-kekaisaran itu adalah Akhemenid, Parthia, Sassania, Buwaihidah dan Samania. Mereka masih keturunan bangsa Arya. Selanjutnya pemerintahan yang pernah memimpin di wilayah Persia ialah Seleukus (orang Macedonia-Yunani, bawahan Alexander Agung), Bani Ummayyah, Bani Abbasiyyah, Turki Seljuk, Afshariyah dan Qajar.

Sedangkan di tanah India, pada sekitar abad ke-16 SM, bangsa Arya pun tiba ke wilayah ini secara bergelombang dan menetap di dataran rendah sungai Gangga, Yamuna dan Sindhu. Disana mereka lalu berkembang pesat. Akibat dari perkembangan bangsa Arya ini, penduduk aslinya (bangsa Dravida) mulai tersingkir dan menjadi golongan manusia yang paling rendah; yaitu berkasta Sudra. Pembagian kasta ini oleh bangsa Arya dimaksudkan agar tidak terjadi percampuran antara penduduk asli (Dravida) dan bangsa Arya, karena nama Arya sendiri berarti mulia dan terhormat. Hal ini biasa di lakukan oleh bangsa penakluk atau penguasa di sebuah wilayah pada masa itu.

Adapun kasta dalam bangsa Arya saat itu dibagi menjadi 4 strata yaitu:
1) Kasta Brahmana, untuk para pendeta.
2) Kasta Ksatrya, untuk raja dan kesatria.
3) Kasta Waisya, untuk pedagang dan penguasa.
4) Kasta Sudra, untuk buruh dan petani.

Tapi sebenarnya sistem perbedaan kasta ini tidak ada dalam ajaran tradisi dan budaya di negeri asalnya dulu (Nusantara: Attalani). Aturan perbedaan level manusia ini baru ada sejak mereka (bangsa Arya) mengembara dan akhirnya tinggal di tanah India. Sedangkan awalnya dulu hanya sebatas perbedaan bakat dan profesi saja, bukan kelas sosial. Hal inilah yang pada akhirnya bisa kembali ditegakkan di kerajaan Majapahit, meskipun tidak berlangsung lama. [baca: Sistem kasta di era Majapahit: Bukti kehebatan bangsa Nusantara]

Kembali ke bangsa Arya di tanah India. Maka tidak jauh berbeda dengan yang di wilayah Iran-Iraq, maka di tanah India ini bangsa Arya juga berhasil membangun peradaban yang tinggi, bahkan sampai berpengaruh kuat di Nusantara. Di antara kerajaan bangsa Arya yang pernah ada di seputaran India-Pakistan-Bangladesh yaitu Angga, Magadha-Maurya, Wangga, Kalingga, Nasi, Kosala, Karu, Pancala, Gandhara, Kanauj (Gupta), dan Kamboja. Semuanya merupakan kerajaan yang besar, bahkan kekaisaran yang agung yang sangat disegani pada masanya.

Gambar 4. Foto: Stuppa Sanchi yang dibangun oleh Raja Asyoka (penguasa
termahsyur di kekaisaran Magadha-Maurya) pada abad ke-3 SM.

Selain itu, menurut pandangan kami bahasa Daiwi Wak atau lebih dikenal dengan Sanskerta itu (yang digunakan oleh bangsa Arya) sesungguhnya berasal dari seorang Dewa penghuni Kahyangan dan diajarkan kepada seorang Begawan yang terpilih di Nusantara. Ia pun mengajarkannya kepada warga di Nusantara, khususnya yang tinggal di wilayah barat. Jadi awalnya ada di Nusantara lalu dibawa oleh bangsa Arya ke Asia Tengah dan akhirnya sampai juga ke wilayah Iran-Iraq dan India pada masa sebelum era Masehi. Dari India lalu kembali lagi ke Nusantara melalui keturunan bangsa Arya pada masa-masa awal tarikh Masehi. Mereka itu berasal dari wangsa Saka, Pallawa, Calangkayana (Wangga), Sungga, dan Warman, yang ketika itu harus bermigrasi keluar dari tanah India. Ada banyak pertempuran dan serangan besar ke negeri mereka. Dan mereka memilih Nusantara untuk berhijrah karena saat itu kondisinya relatif aman dan sama saja dengan pulang kampung. Di Nusantara, khususnya di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan mereka lalu mendirikan kerajaan baru seperti Salakanagara, Bakulapura-Kutai Martadipura, Tarumanagara, Kendan-Galuh, Indraprahasta, Malayupura, Sriwijaya dan Kalingga. Dari dan kembali lagi ke Nusantara, itulah kisah perjalanannya.

***

Tambahan: Selain yang telah di jelaskan di atas, maka ada hal-hal yang mengagumkan dari bangsa Arya ini dan keturunannya. Mereka telah sampai pada puncak peradaban manusia, khususnya teknologi. Adapun di antara buktinya adalah sebagai berikut:

1) Kisah 9 ilmuwan kerajaan Magadha-Maurya
Ada kabar yang mengatakan bahwa selama sisa kepemimpinanya, raja Asyoka Wardhana mendirikan sebuah organisasi sangat rahasia yang disebut “Sembilan lelaki misterius”. Ke sembilan orang itu adalah para ilmuwan yang terkenal di tanah India pada masa itu. Mereka ini bertugas mengkatalogkan berbagai jenis sumber-sumber sains dan teknologi, juga menciptakannya. Tindakan itu sangat dirahasiakan oleh raja Asyoka. Ia melakukan hal itu karena merasa bahwa penemuan ilmiah yang terbaru itu akan berdampak sangat buruk bila disalahgunakan. Hanya orang tertentu saja yang memiliki akses terhadap penemuan itu.

Ke sembilan lelaki misterius itu menuliskan sembilan buah buku yang saling berkaitan. Adapun di antara buku-bukunya itu adalah yang membahas tentang rahasia dari gravitasi. Yang lainnya menjelaskan tentang bagaimana caranya untuk bisa terbang, membangun Vimana (sejenis pesawat terbang), menghilang, dan menjadi seberat gunung. Semua buku itu kini masih diyakini tersimpan di salah satu perpustakaan terahasia di India, Tibet, gurun Ghobi atau dimana pun; termasuk di Amerika Utara. Bahkan bisa jadi malah di Nusantara. Banyak yang berusaha menemukannya, termasuk Nazi-Jerman, namun tidak ada yang berhasil. Atau mereka telah berhasil tapi selalu merahasiakannya. Karena buktinya dulu Nazi-Jerman telah berhasil membuat pesawat piring terbang yang dikenal dengan nama Haunebu. [baca: Nazi dan sepakterjangnya yang spektakuler]

Gambar 5. Ilustrasi bentuk Vimana

Gambar 6. Foto: Pesawat terbang Haunebu milik Nazi-Jerman

2) Transportasi canggih kerajaan Majapahit
Dikatakan bahwa terdapat aturan bagi setiap Adipati (raja bawahan) untuk menghadap kepada sang Maharaja di pusat kerajaan Majapahit (di Trowulan, Jawa Timur) pada setiap 35 hari sekali. Bila hal itu terjadi di era Majapahit dulu, maka Adipati dari kadipaten Magadha (sekarang Bandung) harus memakan waktu selama dua minggu untuk bisa sampai ke ibukota Majapahit. Karena pada masa itu belum ada jalan raya dan mayoritas daerah sepanjang perjalanan masih berupa hutan belantara, juga belum terdapat sarana transportasi modern seperti sekarang (mobil, motor, kereta api, dan pesawat). Ini belum lagi bagi para Adipati yang memerintah di luar pulau Jawa, seperti Adipati Perlak (Aceh), Kutalingga (Serawak-Malaysia), Tumasik (Singapura), Muaro Tebo (Jambi), Tangaram (Lampung), Tanjung Kutai (Kalimantan Timur), Hutan (pulau Sumbawa), Talaud (Makassar), Wanda (Banda-Maluku), Onin (Papua Barat), dan Adipati di Madagascar (pulau dekat Afrika Selatan), maka waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama lagi. Lantas bagaimanakah dan apakah sarana transportasi mereka saat itu untuk bisa terus menghadiri Pisowanan Agung di Trowulan pada setiap 35 hari sekali? Karena jika tidak hadir akan dianggap memberontak.

Dari kasus di atas, bisa kita bayangkan teknologi jenis apakah yang dipakai oleh para Adipati di kemaharajaan Majapahit untuk berpindah tempat dalam waktu singkat. Karena faktanya pada masa itu wilayah di antara negeri mereka dengan ibukota Majapahit masih banyak hutan belantara, tidak ada jalan raya. Bahkan sebagiannya harus menyeberangi lautan, sementara mereka sendiri harus tetap menjalankan roda pemerintahan di kadipaten-nya masing-masing. Tidak bisa jika terus saja diserahkan kepada Patih (wakil)-nya saja.

Dan apakah mereka hanya berjalan kaki atau mengendarai kuda dengan resiko memakan waktu yang lama di perjalanan dan roda pemerintahan di kadipaten-nya terbengkalai? Karena waktu sebulan, bahkan lebih, hanya dihabiskan untuk di perjalanan saja. Atau justru ada satu cara dan alat transportasi canggih yang memudahkan perjalanan mereka saat itu? Cobalah dipikirkan! Karena menurut pandangan kami sendiri, tentu ada cara atau kendaraan khusus (inventaris kerajaan) yang telah dipakai oleh para Adipati saat itu untuk bisa tertib menghadiri Pisowanan Agung di ibukota Majapahit. Sejauh apapun negerinya tak ada masalah dengan ketepatan waktunya. Sebab mereka sudah memiliki cara atau alat transportasi khusus, yang mereka adopsi dari leluhur mereka (bangsa Arya) yang pernah hidup di tanah India. Atau teknologi rahasia dari ke “Sembilan lelaki misterius” raja Asyoka itu memang telah mereka pergunakan untuk kejayaan Majapahit? Mungkin saja.

Catatan: Meskipun bukti di atas masih berupa hipotesa atau anggapan dari para ahli, namun penulis sendiri meyakini bahwa kedua hal di atas memang pernah ada di masa lalu. Hanya saja tidak tersebar luas, untuk kalangan terbatas, dan akhirnya hilang atau sengaja disembunyikan. Tentu ada alasan yang kuat untuk hal itu.

6. Kesimpulan dan penutup
Wahai saudaraku. Dari penjelasan di atas, dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa bangsa yang dikenal dengan nama Arya itu sebenarnya berasal dari Nusantara. Nama asli dari bangsa ini adalah Aryawinata, namun biasanya cukup disebut dengan Arya saja. Dan bisa dikatakan bahwa nama sebelumnya dari bangsa ini adalah Attalani (merujuk dari asal usul nama negara mereka di Nusantara). Mereka telah ada sejak lebih dari 10.000 tahun silam dan memiliki peradaban yang tinggi. Dan mereka itu sebenarnya bukan hanya terdiri dari satu ras saja, melainkan dari kumpulan beberapa ras manusia yang ada. Awalnya mereka hidup di Nusantara, namun karena huru-hara yang terjadi di negerinya saat itu, mereka lalu bermigrasi ke arah utara sampai ke kawasan Asia Tengah sekarang.

Di Asia Tengah mereka lalu membangun peradaban baru yang sumber utamanya tetap berasal dari kebudayaan yang pernah ada di Nusantara, baik itu bahasa, aksara, tradisi, budaya, teknologi, dan keyakinannya. Meskipun kemudian ada akulturasi dengan kebudayaan lokal, tapi yang dibawa dari Nusantara tetap melekat. Selama ribuan tahun mereka tinggal disana, sampai pada akhirnya ada yang mulai bergerak lagi ke berbagai kawasan. Ada yang ke Eropa seperti ke Anatolia, Yunani, Jerman, Italia, dan Albania. Disana mereka lalu membangun peradabannya sendiri, dengan nama bangsa, bahasa dan kerajaannya sendiri. Kemudian ada pula yang ke arah Asia Barat, di sekitar wilayah Iraq dan Iran sekarang. Disana mereka lalu terbagi dua menjadi bangsa Media dan Persia, dengan peradaban yang mengagumkan. Sedangkan yang bergerak ke arah selatan akhirnya sampai ke anak benua India, tepatnya di sekitar sungai Gangga, Yamuna dan Sindhu. Dari sana mereka mulai membangun peradaban yang besar, yang kemudian menyebar luas sampai ke Pakistan, Afganistan, Bangladesh, Nepal dan Srilangka. Pengaruhnya pun masih sangat terasa sampai kini.

Lalu di sekitar awal-awal abad Masehi, di tanah India terjadi banyak huru-hara yang memilukan. Hal ini membuat sebagian keturunan bangsa Arya harus bermigrasi lagi, tepatnya kembali ke Nusantara (Jawa, Sumatera dan Kalimantan). Mereka berasal dari wangsa Saka, Pallawa, Calangkayana (Wangga), Sungga dan Warman. Di ketiga pulau besar itu, akhirnya mereka pun mendirikan kerajaan baru yang hampir segala sesuatunya masih terpengaruh dengan apa yang pernah ada di tanah India, yang dimiliki oleh bangsa Arya. Meskipun ada beberapa hal yang ber-akulturasi dengan apa yang ada di Nusantara sehingga menjadi ciri khasnya tersendiri. Inilah yang masih bisa kita lihat sampai hari ini.

Adapun kerajaan yang pernah didirikan oleh bangsa Arya kala itu (awal-awal tarikh Masehi) di antaranya seperti Salakanagara, Bakulapura-Kutai Martadipura, Tarumanagara, Malayapura, Kendan-Galuh, Indraprahasta dan Kalingga. Di kemudian hari, keturunan dari trah raja-raja di kerajaan itu lalu mendirikan kemaharajaan yang tersohor di seluruh dunia. Di antaranya adalah seperti Sriwijaya dan Wilwatikta (Majapahit). Hanya saja keduanya pun akhirnya runtuh oleh sebab konflik internal dan pengkhianatan.

Jadi, bangsa Arya itu adalah bangsa yang berasal dari Nusantara lalu menyebar ke berbagai belahan Bumi. Mereka bukan dari satu golongan ras saja, tetapi beragam dan terikat dalam satu kesatuan budaya, tradisi, cita-cita dan falsafah hidup – meskipun kemudian ada pergeserannya. Mereka lalu membawa serta apa yang pernah ada di Nusantara itu kemana-mana, dan akhirnya kembali lagi ke Nusantara – meskipun ada yang tetap tinggal di negeri perantauan. Dan jika seandainya banyak orang di negeri ini yang sadar akan hal tersebut kemudian mau menggali lagi tentang apa saja yang berawal mula dari Nusantara ini, maka kejayaan besar itu akan bangkit. Negeri di khatulistiwa ini bisa kembali memimpin dunia.

“Nusantara itu bukan hanya sebuah tempat, tapi juga sebuah bangsa. Kejayaannya bukan hanya pernah, tapi akan kembali lagi”

Semoga kita termasuk orang-orang yang sadar diri dan bisa menyaksikan kebangkitan Nusantara sekali lagi. Rahayu… _/|\_

Jambi, 25 Januari 2018
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Silahkan untuk percaya atau tidak percaya dengan tulisan ini, tugas kami hanya sebatas menyampaikannya saja. Anda berhak untuk memilih.
2. Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber dan diskusi, ilmiah dan batiniah.
3. Sebagian dari isi tulisan ini masih berupa hipotesa, perlu diperbaiki jika memang salah.
4. Semua angka tahun di atas adalah perkiraan yang paling mendekati. Susah bagi kami untuk memastikan yang sebenarnya.
5. Ada beberapa hal yang tak bisa kami sampaikan disini, ada protap yang harus dipatuhi. Maaf.

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

36 tanggapan untuk “Bangsa Arya dan Kisah Peradabannya

    1. Hmm.. Sama dalam hal apa dulu ini mas Al Jalal?
      Kalo tentang pengembaraannya sih iya.. Keduanya pernah mengembara ke bbrp tempat.. Bahkan bukan hanya keduanya loh, karena bangsa yg skr dikenal dengan orang Arab pun juga pernah mengembara kok.. Suatu masa dahulu mrk sempat tinggal di kawasan yg skr disebut benua Amerika, sampai akhirnya mrk pun mengembara lagi dan tinggal di kawasan Timur Tengah sampai skr.. Begitulah bangsa-bangsa di dunia. Mrk pernah mengembara, hijrah, exodus dan migrasi kemana-mana oleh sebab azab, bencana alam dan atau pertikaian besar di negerinya.. Hingga skr pun ttp sama, seperti halnya orang Iraq, Afganistan, Libya, Suriah dan Rohingya yg terpaksa mengungsi ke luar negerinya akibat bencana alam dan perang..

  1. setahu saya kang oedi bani israel yang di tuntun nabi musa dan nabi isa itu ya leluhur kita juga karna tanah yg di janjikan sama tuhan ya nusantara ini ato indonesia .itu adalah ilham yg sy peroleh kang oedi .klo menurut para penutur gmn kang?

    1. Ya itu juga benar mas Al Jalal.. Kan orang-orang yang tinggal di Nusantara ini sekarang memang “campur aduk”, atau perpaduan dari berbagai bangsa yang ada di dunia. Salah satunya memang berasal dari Bani Israil keturunan Nabi Yakub AS bin Ishaq AS bin Ibrahim AS. Selain itu ada pula yang berasal dari bangsa China, Arab, India, Persia dan Eropa.

      Hanya saja perlu dipahami juga bahwa akan menjadi sedikit berbeda penjelasannya ketika leluhur kita masih hidup sebagai bangsa Attalani (13.000-15.000 tahun silam), asal usul dari bangsa Arya. Masa itu berlangsung sebelum kedatangan Bani Israil dari Timur Tengah ke Nusantara. Kedatangan Bani Israil ke Nusantara, yang akhirnya menjadi salah satu leluhur kita juga, itu terjadi pasca keruntuhan kemaharajaan Attalani. Artinya Bani Israil memang salah satu leluhur kita, hanya saja mereka menjadi leluhur “kedua” setelah bangsa Attalani yang merupakan asal usul dari bangsa Arya. Dan sebagian keturunan dari bangsa Arya pun menjadi salah satu leluhur kita, sebagaimana yang sudah di jelaskan di artikel ini. Hanya saja menurut saya kedatangan Bani Israil ke Nusantara itu lebih dulu dari pada bangsa Arya yang tiba di awal-awal tarikh Masehi.

      Begitu mas AL-Jalal, terima kasih atas kunjungannya lagi, semoga tetap bermanfaat.. :

  2. o ..ya kang kok gk di tulis sejarah makhluk alloh yg lainya seperti kisah awal mulanya bangsa peri bangsa manusia bersayap manusia kuda para dewa dan bathara ,mungkin kang oedi mau berkisah di blog ini karna saya sangat penasaran dengan kisah mereka

    1. Hmm.. Begini ya mas Al Jalal. Saya itu meng-upload tulisan di blog ini sesuai dengan protap saja. Jadi, tidak semua tulisan saya yang bisa di share disini. Sebagian besarnya harus tetap di dalam buku yang sudah dipersiapkan untuk generasi yang akan datang. Kalau pun harus di share, maka akan ada waktunya masing-masing.. Nah sampai sekarang belum ada perintah untuk men-share tentang kisah awal mula bangsa Peri, manusia bersayap (mungkin maksudnya Cinturia), manusia kuda (mungkin maksudnya Karudasya), Dewa-Dewi dan Bhatara-Bhatari… Mungkin nanti, dan silahkan tunggu aja tapi gak janji ya.. MAAF 🙂

      1. Bisa dikatakan begitu.. Hanya saja mungkin ajaran Budi yg dibawanya itu akan berbeda dg yg dipahami secara luas selama ini..

  3. mas oedi punya bahan sejarah tentang wanasaba tidak mas? tolong di share mas kalau ada.
    menurut info yang aku dapat dari video youtube gus Muwafik ada garis keturunan raja/pemimpin tanah jawa/kerajaan jawa

    rahayu kang

    matur nuwun

    1. Rahayu juga mas Awan, nuwun ya atas kunjungannya.. semoga bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. maksudnya Wonosobo yg merupakan kabupaten di Jawa Tengah itu ya? Atau Wanasaba yg mana nih? Kalo yg Wonosobo di Jateng, detil sejarahnya saya belum punya, apalagi jika harus dikaitkan dengan sejarah di era Masehi ini.. Cuma khusus utk di kawasan sekitar Wonosobo-Magelang-Temanggung itu pernah saya singgung sejarahnya di artikel Ratu Tiyasati: Pemimpin besar Nusantara. Disana telah dijelaskan bahwa ada sebuah kerajaan yg bernama Antida yang kemudian berubah nama menjadi Tasidam. Kerajaan itu, ketika dipimpin oleh Prabu Rah Amurtar bahkan menjadi sebuah kekaisaran yang kuat dan akhirnya sampai berperang dengan Putri Tiyasati yg sudah berkoalisi dengan kerajaan lain di tanah Sumatera…Untuk lebih jelasnya silahkan baca aja artikelnya di link berikut ini: https://oediku.wordpress.com/2017/10/29/ratu-tiyasati-pemimpin-besar-nusantara/

  4. Ada yg menarik walaupun menurut saya tidak semuanya benar juga salah, hanya karena mereka ini baru saja berulang tahun 2569 maka ada yg mengaku dari seorang anak sejarawan bahwa kita ini bangsa Nusantara nenek moyangnya berasal dari china disitu “getek” hati saya langsung kritis, dalam hati jgn sampai bikin malu guru saya mpu harunatara…. Hehehe… 😁😬🙏
    Pertanyaan simpel saya kira” dimulai tahun berapa penyebarannya apabila nenek moyang kita berasal dari china, belum maju ke pertanyaan selanjutnya kenapa malah bisa begitu banyak ras dan etnis di negara kita ini dan tak terbalas juga terjawab. Jd Kezeul 😬
    Apa ada kesamaan nama atau berbeda dg bangsa arya yg telah moksa ke dimensi lain itu yg nantinya akan turun gelanggang ikut berperang di akhir zaman ini?
    Nah bangsa mesir yg skrg ini darimana klaim mereka yg mengaku keturunan zaman firaun yg setahu saya kisahnya sj terjadi puluhan ribu tahun kebelakang juga berbeda periode peradaban zamannya, siapa pula yg bangun piramida dan juga apa nama kaumnya, apa sama dg ras arya ini..?
    Salam.
    Rahayu… 🙏

    1. Rahayu juga kang Tufail.. 🙂

      Wah jangan gitulah kang, siapa juga saya ini… Lah wong cuma orang awam yang baru belajar kok.. masih bodoh gini… Blm panteslah disebut guru atau Mpu..

      Hmm.. tentang tahun Imlek, mungkin perlu di koreksi dulu. Karena setau saya perhitungannya dimulai sejak kelahiran Huangdi/Kaisar Kuning (seorang tokoh pemimpin dan diakui sebagai leluhur semua orang Tionghoa. Ia adalah salah satu raja pada masa Tiga Penguasa dan Lima Kaisar, seorang pahlawan kebudayaan), pada sekitar tahun 2711 SM. Artinya, jika dihitung dari tahun 2711 SM sampai sekarang (2018 M) ini, maka perhitungan kalender China itu sudah berlangsung 4728 atau 4729 tahun loh, bukan hanya 2569 tahun seperti yang umum diketahui sekarang. Artinya, sejarah yg ini saja banyak yg gak tau, lantas bagaimana bisa mengklaim bahwa orang Nusantara itu semuanya berasal dari China???

      Tentang asal-usul bangsa kita sekarang, memang tidak salah jika dikatakan berasal dari daratan China atau Taiwan. Hanya saja ini bukan berarti semuanya berasal dari sana. Cuma sebagiannya saja yang dari sana, selebihnya ada yang dari kawasan, bangsa dan ras yang lainnya. Dan yang pasti, tentu ada pula yang tetap berasal dari negeri ini, asli penghuni tanah pertiwi ini sejak ribuan tahun sebelum peradaban China (yang diketahui formal selama ini) berdiri. Misalnya dinasti Xia (2100-1600 SM) yang diyakini para sejarawan dunia sebagai dinasti pertama dalam sejarah China. Kalo masih ngotot, itu sama aja dengan bilang orang yang tinggal di kepulauan Inggris itu berasal dari satu bangsa. Padahal mereka itu campuran dari bangsa Britania, Irlandia Gaelik, Anglo-Saxon, Italia dan Normandia-Prancis. Begitu pula dengan bahasanya (bahasa Inggris) yang ternyata berasal dari bahasa yang di pakai oleh ke lima bangsa itu, alias campurannya. Gabungan dari kelima bahasa itulah lalu melahirkan bahasa Inggris yang kita kenal sekarang.

      Setau saya, khususnya bangsa yg bermata sipit itu (China, Korea, Jepang, Mongol) sejak awal-awal periode zaman ini (Rupanta-Ra) sudah tinggal di daratan China dan Asia Timur. Jadi sejak 17.000 tahun silam atau sejak memasuki periode zaman ini, mereka itu telah diperintahkan untuk mendiami kawasan itu. Kalau pun ada yg datang ke Nusantara pada ratusan atau ribuan tahun kemudian, itu hanya atas inisiatif mereka sendiri. Mereka inilah yg kemudian bercampur dengan penduduk lokal yg tinggal di Nusantara dan menurunkan generasi selanjutnya. Kemungkinan mereka inilah yang menjadi nenek moyang dari orang Dayak sekarang.

      Nah, pada masa awal-awal periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra), di Nusantara telah hidup ras manusia yg beragam. Mereka inilah yg kemudian hari mendirikan kemaharajaan Attalani, asal usul dari bangsa Arya. Artinya, bangsa yg bermata sipit itu, sejak awal periode zaman ini sudah hidup di daratan China dan Asia Timur. Sama dengan leluhur kita yg berkulit gelap, sawo matang dan kuning langsat, yg juga sudah tinggal di kawasan Nusantara, khususnya di bagian barat sejak 17.000 tahun silam.

      Catatan: Perlu dipahami betul tentang pergantian zaman yg pernah terjadi di masa lalu. Karena itulah kunci informasi tentang penyebaran manusia di seluruh dunia, dari zaman Ayahanda Adam AS hingga sekarang ini.

      Jadi, baik di daratan China-Korea-Jepang-Mongol atau pun di Nusantara, dulu sudah sama-sama ada penduduknya. Dalam hal ini terjadi sejak 17.000 tahun silam, atau tepatnya sejak memasuki periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Jadi tidak benar jika dikatakan bahwa orang Nusantara saat ini semuanya berasal dari China. Karena kita sekarang ini sebenarnya malah hasil persilangan dari berbagai bangsa dan ras manusia. China hanyalah salah satunya saja dan bukan asal usul yg pertama. Selain China ada lagi dari bangsa Arab, India, Persia, Turki dan Eropa Barat. Dan tentunya ada pula ras yg memang asli dari Nusantara ini, yg tidak hilang sejak kemaharajaan Attalani hancur (sekitar 13.000-14.000 tahun silam). Mereka itulah yg berwarna kulit gelap, sawo matang dan kuning langsat.

      Tentang bangsa Arya atau yg bernama lengkap Aryawinata itu, setau saya mereka tidak berpindah dimensi loh kang. Hanya saja di antara mereka itu memang ada banyak yg bisa moksa – secara pribadi – jika telah memenuhi syarat yg ditentukan. Mereka itu biasanya dari kalangan rohaniawan (resi, begawan), raja-ratu, dan kesatria. Kalo untuk ukuran sebuah kota atau kerajaan sih tidak, karena mereka tidak seperti leluhurnya dulu (bangsa Attalani yg hidup di kota Hindapa) yg diizinkan berpindah ke dimensi lain. Bangsa Arya yg dibahas dalam tulisan saya itu adalah mereka yg pernah hidup di kawasan Asia Tengah, yg kemudian hijrah sampai ke Eropa Barat, Timur Tengah dan India. Kalo tentang bangsa yg akan muncul nanti, yg akan terlibat dalam pertempuran maha dahsyat itu, adalah bangsa-bangsa lain yg punya namanya sendiri. Hidup mereka di zaman yang berbeda. Sebagiannya sudah saya ceritakan di blog ini, dalam berbagai artikel. Ingat! bangsa Aryadinah dan Aryawinata itu tidak sama, mereka hidup di zaman yg berbeda. Kaum Aryadinah hidup di akhir zaman ke enam (Nusanta-Ra) atau sekitar 150.000 – 160.000 tahun silam, sedangkan kuam Aryawinata hidup di zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) atau baru bbrp ribu tahun lalu.

      Tentang bangsa yang hidup di kawasan Mesir, setau saya sih mereka punya alur kisahnya sendiri yg tentunya terkait dengan pergantian zaman ke enam (Nusanta-Ra) dulu. Kisah mereka ini mirip dengan bangsa mata sipit yg di jelaskan di atas, yg diperintahkan untuk mendiami kawasan tertentu. Dalam hal ini mereka diperintahkan hidup di kawasan Afrika Utara sejak 17.000 tahun silam. Sehingga mereka itu tidak sama dengan bangsa Arya yg di jelaskan dalam tulisan saya. Keduanya adalah bangsa yg berbeda, bahkan rasnya pun berbeda. Lalu mengenai peradabannya, atau tentang bagaimana mereka bisa membangun piramida dan kota megahnya itu, yg masih bisa di lihat sekarang, akan terkait dengan kerajaan Maltarama yg pernah ada di Jawa Barat atau kerajaan lainnya di Nusantara. Mereka terinspirasi dengan peradaban besar yg pernah dibangun di kerajaan itu. Bahkan mempekerjakan orang-orang dari pulau Jawa untuk bisa membantu mereka dalam membangun peradabannya di wilayah Mesir. Sedangkan tentang siapakah nama sebenarnya dari bangsa yg pernah tinggal di Mesir itu, belum bisa saya share disini ya kang, ada protap.. maaf 🙂

      Namun bisa saya kasih bocoran sedikit disini, bahwa bangsa yg membangun piramida agung Giza atau kota Memphis yg masih bisa di lihat di Mesir itu sekarang, atau dinasti-dinasti yg ditulis dalam sejarah formal bangsa Mesir kuno selama ini, yg membangun peradaban di Mesir itu, tidaklah sama dengan bangsa yg hidup di masa kehidupan Nabi Musa AS dulu. Fir’aun yg disebutkan di dalam Al-Qur’an, yg menjadi musuh besar dari Nabi Musa AS itu memang ada tapi sungguh tidak sama dengan raja dari bangsa yg membangun banyak piramida yg masih bisa di lihat di Mesir skr.. Rentang waktu kehidupan dari kedua bangsa itu sangat jauh sekali, meskipun mereka hidup di tempat yg sama. Artinya, ada pergantian bangsa-bangsa di wilayah Mesir dalam rentang waktu selama puluhan ribu tahun. Bahkan mereka hidup di tempat yang sama tapi berbeda bangsa dan peradabannya.

      Jadi, bangsa yg hidup di zaman Nabi Musa AS itu berbeda dengan bangsa yang membangun piramida Giza atau kota Memphis itu, yang masih bisa di lihat sampai skr. Dan jarak kehidupannya sangat jauh. Keduanya hidup di zaman yg berbeda. Karena Nabi Musa AS dan Fir’aun itu hidup di periode zaman ke enam (Nusanta-Ra), sedangkan dinasti-dinasti yg membangun kota Memphis atau piramida-piramida yg masih bisa di lihat di wilayah Mesir skr ini hidup di pertengahan periode zaman ke tujuh (Rupanta-Ra). Jadi ada dua bangsa yg sama-sama pernah hidup di Mesir tapi mereka itu berbeda waktu kehidupannya, beda zaman.

      Inilah keuntunganya jika kita bisa tau periode zaman manusia, dari yang pertama dulu (Purwa Duksina-Ra) sampai yg ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Kita tinggal mengikuti patokan periode zaman itu saja. Jadi tinggal cari tau di periode zaman kapankah sebuah bangsa itu hidup, maka kebenaran dari sejarahnya akan terungkap.

      Gitu aja kang yg bisa saya jelaskan, moga bermanfaat.. maaf kalo kurang memuaskan… 🙂

      1. Waw lengkap sekali ini super mantaf.. kalau gag berlebihan sahaya menjura sama sampean… 😀

        Kalau diperkenankan dan tidak melanggar protap kira² ada berapa utusan Hyang Aruta yang diutus pada zaman kita sekarang ini Rupanta-Ra dari awal peradaban sampai Nabi besar Muhammad Saw. Apa ada kemungkinan dari mereka yg ditugaskan untuk membangun peradaban bangsa arya ini dipimpin oleh utusan Hyang Aruta.
        Menarik sekali semakin asyik, nah buat bangsa yg kita kenal skrg ini dari negara Yunani apa sama mempunyai leluhur dari bangsa arya ini.
        Menurut pendapat saya dari banyaknya situs peninggalan sejarah apakah itu Acropolis, Parthenon dlsb dari bangsa Yunani ini saya kira banyak andil dan peran besar dari bangsa Nusanta-Ra kita ini dalam hal pembangunannya, mengingat dari banyaknya kisah dan menjadi patokan dari bahasanya jadi acuan dunia hukum internasional yang akhirnya dari peradabannya yang tinggi sampai kemudian hancur juga runtuh spt yg kita ketahui sekarang ini. Apakah sezaman perdaban bangsa Yunani ini dg bangsa Mesir yg membangun piramida yg ternyata banyak campur tangan dari Kerajaan Maltarama dari Nusanta-Ra kita ini.
        Salaam..
        Rahayu… 🙏

      2. Rahayu juga kang Tufail, syukurlah kalo suka dengan penjelasannya, moga ttp bermanfaat… 🙂

        Hmm.. ttg para utusan Tuhan yang diutus pada zaman ini tentu sangat byk kang, ratusan orang. Ada yg berasal dari mrk yg dilahirkan di zaman ini, tapi ada pula yg berasal dari generasi yg hidup di periode zaman sebelumnya. Untuk brp jumlah pastinya atau siapa aja nama2nya, maaf gak bisa saya share disini, ada protap kang.. maaf 🙂

        Ttg bangsa Arya, setahu saya memang pada awal-awal ketika mrk baru tinggal di kawasan Asia Tengah, ada seorang utusan yang membimbing mrk. Tapi utusan itu tidak menjadi pemimpin mrk, lebih tepatnya hanya sebagai guru yg memberikan bimbingan dan ilmu pengetahuan baru. Pemimpin mrk dipilih dari kalangan mrk sendiri, yg punya keunggulan tersendiri. Tapi seiring berjalannya waktu, dan seperti sikap dari kaum2 terdahulu, maka ajaran dari sang utusan itu lambat laut tergantikan dan hanya sebagiannya saja yg masih dipertahankan… Hal itu masih terlihat dalam bbrp ajaran pokok dalam kitab suci yg dituliskan oleh para Begawan dalam kaum Arya ini..

        Ttg bangsa Yunani, coba kang Tufail cermati lagi tulisan di atas, khususnya pada gambar peta yg saya tampilkan. Lihatlah bahwa mrk yg membangun peradaban besar di Yunani itu berasal dari Asia Tengah melalui kawasan Turki. Mrk yg tinggal di Asia Tengah asal usulnya sama dengan bangsa Arya, yaitu dari Nusantara. Dan khususnya pada point kelima udah dijelaskan bahwa: “Di karenakan hidupnya lebih bersifat nomaden lalu di tambah dengan adanya bencana kekeringan, wabah penyakit, dan perang saudara, maka dari Asia Tengah itu bangsa Arya lalu bergerak lagi secara bertahap menuju ke arah barat dan selatan. Di barat mereka membentuk kelompok bahasa Centum yang terdiri dari sub-grup Keltik, Jermanik, Latin, Balto-Slavik, Albania, Yunani, dan Tocharia (sudah punah). Disana mereka lalu mendirikan kerajaan besar seperti Athena, Argos, Sparta, Macedonia, Romawi, Kelt, Skythia, Bavariia, Visigoth, dan Saxon. Sedangkan di selatan mereka membentuk kelompok bahasa Satem yang terdiri dari Sanskerta di tanah India dan Avestan atau Parsua (Persia) di wilayah Iran-Iraq”. Ini artinya mrk yg mendirikan peradaban tinggi di Yunani pada sebelum tarikh Masehi juga berasal dari bangsa yg sama dg bangsa Arya yg akhirnya tinggal di kawasan Timur Tengah (Mesopotamia-Iraq dan Persia-Iran) dan India. Leluhur mereka itu dulunya pernah tinggal di kawasan Nusantara. Tepatnya di kemaharajaan Attalani.

        Ttg bangunan di Yunani, hemat saya sih mrk itu benar-benar membangunnya sendiri. Hanya saja karena dahulu nenek moyangnya pernah tinggal di Nusantara, maka ada bbrp hal yg tetap terilhami dari apa yg pernah ada di Nusantara. Kemampuan leluhur mrk yg pernah tinggal dan membangun kota-kota di kemaharajaan Attalani tetap menurun pada mrk, mengalir dalam darahnya menjadi bakat yg hebat.

        Ttg zamannya, maka antara bangsa Yunani (yg membangun gedung2 yg bisa dilihat skr ini) itu tidaklah sezaman dg bangsa Mesir yg membangun piramida yg masih bisa dilihat skr. Keduanya hidup di masa yg berbeda, berjarak ratusan atau ribuan tahun. Bangsa Mesir jelas lebih dulu dari bangsa Yunani. Hanya saja perlu dipahami, bahwa di kedua wilayah itu (Yunani dan Mesir) manusia yg tinggal disana sama-sama seumuran. Artinya, sejak 17.000 tahun silam sudah ada manusia yg mendiami kedua wilayah itu dengan ciri dan kebudayaannya masing-masing. Khusus utk yg di wilayah Yunani, disana baru ada peradaban yg besar setelah bangsa Arya yg berasal dari Asia Tengah tinggal di sana. Sementara yg tingga di wilayah Mesir tidak tergantung dari bangsa Arya. Mrk berdiri sendiri, meskipun dalam membangun mrk membutuhkan keahlian bangsa lain, khususnya dari Nusantara.

        Gitu aja kang menurut yg saya ketahui.. maaf kalo kurang memuaskan.. 🙂

  5. Aihh kok gag mudeng ya saya tentang bangsa yunani ini… 😊😬

    Nah kalau tidak melanggar protap sudilah kiranya, menorehkan secuil saja 😀. Pada saat masa kenabian Muhammad Saw, di Nusanta-Ra kita ini itu sezaman dg kerajaan apa yg sedang manggung pada zamannya saat itu karena kalau tidak salah perhitungan ada selisih +/- sekitar 500 tahun antara Hijriah dg Masehi yang mana ada banyak kerajaan besar setelah Tarumanagara atau Bakulapura atau juga setelahnya yg awalnya dari kerajaannya Aki Tirem, ada cerita konon yg penuh gempita bahwa pada masa saat kenabian Nabi Besar Saw berbarengan dg kerajaan Wilwatikta & Pajajaran kalau menurut pendapat saya sih kayaknya sebelum dua kerajaan yg dua ini. Yang lebih menarik konon pula bahwasanya Nabi Besar Saw, pada saat melakukan perjalanan dari Masjidil Harram menuju Al-Aqso menggunakan teknologi terbang dari Nusanta-Ra kita ini… Hmm 🤔 saya gag ada kuasa untuk mengiyakan atau menolak cerita konon ini. Karena ada yg menarik bahwa pada masa kerajaan Wilwatikta ada Pisowanan Agung di Trowulan pada setiap 35 hari sekali? Yg mana teknologi tercanggih pun belum ada yg mengenal dibanding dg pada masa sekarang ini.

    Wah asik nih lagi khusyu nulis rupanya kira² di kasih judul apa buku yg lagi dibuat… Kepo saya nih…! 😁 kalau ada yg bisa dibantu saya bantu 😊😆

    Salam…
    Rahayu… 🙏

    1. Rahayu juga kang Tufail…

      Hehe.. mungkin cuma butuh wkt yg lebih byk utk membaca lagi kang.. tentang sejarah tuh emg kadang njelimet dan mumet.. perlu kesabaran dan tekun yg tinggi.. 🙂

      Iya kang, skr emg lagi fokus nyelesain kitab yg satu ini.. mumpung lagi banyak bahan dan idenya, jadi cepat2 dikerjakan, takut lupa n datang penyakit malasnya hehe… 🙂

      Wah mau banget dibantu kang, tapi maaf tugas ini memang harus saya tuntaskan sendiri. Ini amanah yg hrs saya selesaikan sendiri. Lagian akan susah kalo dikerjain barengan dg orang lain, ntar akan susah utk singkronisasi antara satu bagian dg bagian lainnya.. namanya juga dua kepala hehe.. 🙂

      Hmm.. dari awal kitabnya sudah ada judulnya kok kang, bahkan sebelum mulai dituliskan. Sesuai dg petunjuk yg didapatkan. Tapi maaf gak bisa saya share disini, blm waktunya.. Cuma bisalah saya kasih tau sedikit ttg isinya, bahwa kitab ini terdiri dari bbrp Naktah (bagian) dan Sloka (ayat-ayat)-nya.. Gaya penulisannya lebih kpd sastra puisi, yg membahas ttg berbagai seluk beluk kehidupan. Termasuklah byk pesan dan nasehat, sejarah masa lalu, cinta, kasih sayang, perang, kepahlawanan, petualangan, kesedihan, kelicikan, iri-dengki-hasut-fitnah, kebangkitan, kehancuran, dll. Ya semoga bisa berguna utk generasi yg akan datang.. 🙂

      Nah berikut ini saya kasih cuplikannya:

      Naktah 24
      Wadiniyah Nagari
      (Negeri Wadiniyah)

      Sejak di bagian ini maka di mulailah kisah epik yang secara khusus dituturkan oleh sang Begawan agung. Sosok terhormat yang waskita dan hidupnya jauh dari kotoran duniawi. Dalam sebuah Gita (syair), sang Begawan pun bercerita:

      1. Wahai ananda. Ada sebuah kerajaan yang berdiri dengan segala keagungannya. Disana hiduplah orang-orang bijak dan luhur budi pekertinya. Negeri itu bernama Wadiniyah, yang sangat terkemuka di seluruh dunia.
      2. Keindahan istananya benar-benar indah, bagaikan Syurga. Taman-tamannya tak kalah indah dari Kahyangan milik para Dewa. Keadaan disana aman sentosa, di musim apapun itu. Tak ada yang berduka kecuali saat mereka ditinggal mati kerabatnya.
      3. Berbagai batu mulia dan permata manik-manik sangat banyak disana, sementara perhiasan emas dan perak sudah menjadi barang yang biasa. Semuanya seolah-olah tersenyum kepada dunia, bahwa tak ada yang seindah kota Almurata itu (ibukota kerajaan Wadiniyah).
      4. Ada sebuah kraton milik seorang putri misalnya. Tempat ini sungguh menakjubkan. Disana intan berlian bertaburan dimana-mana, sementara emas dan perak melapisi semua dinding, atap dan lantainya. Begitu pula dengan kaca dan kristal banyak digunakan disana. Semuanya berkilauan sangat indah dan tak ada bandingannya. Di tambah dengan taman-taman yang menawan, tempat para gadis bercengkerama.
      5. Dst…..

      Naktah 33
      Kuradhiya Maratuk Abdi
      (Pelajaran Diri Yang Bimbang)

      Setelah usai menyampaikan ke 25 sirat (ayat) dalam naktah (bab) 32: Kurthah Arungga (Kesedihan Arungga), sang Begawan berhenti sejenak. Ia lalu memejamkan matanya seraya mengingat peristiwa di masa lalu itu. Setelah merasa cukup, ia pun kembali berkata:

      1. Arungga pun merasa kian sedih. Dalam keadaan gundah seperti itu, kedua matanya lalu penuh dengan air mata. Ia bahkan merasakan dirinya tanpa semangat dan harapan lagi.
      2. Dalam hatinya sang kesatria sampai berkata: “Lebih baik hidup sebagai pengemis dari pada harus membunuh orang yang bahkan tak ku kenali. Hanya sebagiannya saja yang ku tahu dan pernah berhubungan dengannya”
      3. “Apakah harus dengan membunuh untuk bisa mendapatkan gelar pahlawan? Mengapa dengan membunuh baru akan diakui sebagai kesatria yang gagah berani? Ah.. Siapalah yang menentukan tradisi ini? Apakah dia sendiri tak pernah melihat pertumpahan darah yang mengerikan?”
      4. “Oh Suras.. Berikan nasihatmu, karena aku tengah ragu. Bimbang dengan tindakanku sendiri. Benarkah, salahkah, atau justru tak ada artinya?”
      5. Dst….

      Gitu kang cuplikannya.. semoga nanti bisa bermanfaat untuk anak cucu… 🙂

      Tentang kerajaan yg sezaman dg Rasulullah Muhammad SAW, maka khusus di wilayah barat pulau Jawa ada kerajaan Tarumanagara, sedangkan di wilayah tengah pulau Jawa ada kerajaan Mataram. Kerajaan Tarumanagara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasinghawarman pada tahun 280 Saka (358 M). Sang prabu adalah menantu dari Prabu Dewawarman VIII (sang penguasa kerajaan Salakanagara ke-8) karena menikahi putri sulungnya yg bernama Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi atau Dewi Minawati. Jadi karena Rasulullah SAW itu hidup sejak sekitar tahun 570/571 sampai 632 Masehi, maka itu sezaman dengan keturunan Prabu Jayasinghawarman yang menjadi raja ke-8; Kertawarman (561-628 M) sampai raja ke-9; Sudhawarman (628-639 M).

      Sedangkan kerajaan Mataram yg ada di sekitar Jogjakarta dan Jawa Tengah, didirikan oleh Prabu Anggara Wiseta pada sekitar tahun 301 Saka (379-an Masehi). Kerajaan ini dulunya menguasai wilayah sekitar antara Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Salatiga, Boyolali, Surakarta, Sragen, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten dan Jogjakarta sekarang. Nah kehidupan Rasulullah SAW itu, jika dibandingkan dengan kerajaan Mataram ini maka akan sezaman dengan penguasanya kala itu yg bernama Sri Kencana Wulan. Sang ratu merupakan keturunan ke-4 dari Prabu Anggara Wiseta. Bahkan sebenarnya antara sang Ratu dan Rasulullah SAW pernah bertemu pada saat peradaban umat Islam di kota Madinah baru bbrp tahun dibangun.

      Catatan: kerajaan Mataram ini tidak sama dengan kerajaan Medang (yg sering disebut dg Mataram kuno atau Mataram Hindu oleh para sejarawan) yg didirikan oleh Prabu Sanjaya pada tahun 654 Saka (732 M). Beda kerajaan meskipun lokasinya bisa dibilang sama, sama-sama di kawasan sekitar antara Jogja dan Jawa Tengah skr. Dan tentunya tidak sama pula dg kesultanan Mataram yg didirikan oleh Panembahan Senopati tahun 1587 Masehi di Jogja. Kebetulan saja nama kerajaan dan lokasinya sama, karena Panembahan Senopati terinspirasi oleh kerajaan besar yg pernah ada di sekitar Jogjakarta dan Jawa Tengah itu. Beliau merasa sebagai penerus kejayaan leluhurnya dulu, yg berasal dari trah raja-raja Mataram kuno itu. Juga karena beliau pun ada trah dari Tarumanagara yg kebetulan penyebutan namannya hampir mirip (Ma-TARAM dan TARUM-anagara). Jadilah kesultanan yg ia dirikan bernama Mataram, ada unsur Mataram dan Tarumanagara nya sekaligus.

      Nah, dari semua penjelasan di atas, ini bisa langsung mematahkan anggapan bahwa kehidupan Rasulullah SAW itu sezaman dg kerajaan Wilwatikta dan Pajajaran. Alasannya bahwa kerajaan Wilwatikta itu didirikan oleh Raden Wijaya pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 Saka (1293 M), sementara kerajaan Pajajaran didirikan oleh Prabu Siliwangi pada sekitar tahun 1225 Saka (1303 M). Jadi ada selisih ratusan tahun, dan Rasulullah SAW hidupnya jauh sebelum kedua kerajaan itu. Yang benar adalah bahwa beliau itu hidup sezaman dg kerajaan Tarumanagara dan Mataram.

      Tentang perjalanan Isra` wal Mi`raj, setau saya sih beliau gak pake kendaraan apapun. Buat apa juga, lah wong beliau adalah manusia yg sangat istimewa gitu kok.. Dengan bantuan dari Malaikat Jibril tentu beliau bisa berpindah tempat dg sangat cepat melebihi kecepatan cahaya. Toh para Malaikat kan emg bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya kalo naik turun Langit. Dan bisa dibilang gak ada makhluk yg bergerak melebihi kecepatan para Malaikat kecuali bagi yang DIA kehendaki. Apalagi perjalanan saat itu adalah yg sgt istimewa dan spesial.. Belum lagi mukjizat yg beliau terima sendiri, yg tentunya bisa bergerak melebihi kecepatan para Malaikat.

      Satu contoh mudah, ini kisah tentang pemindahan singgasana Ratu Bilqis dari kerajaan Saba` ke kerajaan Nabi Sulaiman AS yg sgt jauh jaraknya. Seorang Jin saja bisa memindahkannya sebelum sang Nabi bergeser dari tempat duduknya, artinya cuma butuh wkt 1-2 detik aja. Ini belum lagi manusia shalih (Syekh) yg akhirnya terpilih memindahkannya karena bisa lebih cepat dari Jin. Itu baru bangsa Jin dan Syekh loh, gimana dg kecepatan dari Malaikat Jibril yg merupakan pemimpin dari para Malaikat? Bagaimana pula kalo utk keperluan peristiwa yg sangat istimewa seperti Isra` wal Mi`raj itu?? Skr sampeyan tentu paham.. 🙂

      Jadi, bila dibandingkan dg kecepatan berpindah yg di lakukan oleh para Malaikat atau yg terjadi pada saat Isra` wal Mi`raj nya Rasulullah SAW malam itu, yg melebihi kecepatan cahaya, maka semua teknologi tercanggih pun serasa kuno, udah ketinggalan zaman.. Jadi rasanya kok maksa banget ya kalo harus menghubung2kan antara teknologi super canggih dg peristiwa Isra` wal Mi`raj.. Jangan gitu ah.. ntar bisa kuwalat … hehehe 🙂

      Gitu aja kang, maaf kalo kurang memuaskan, maklumlah cuma orang awam gini.. 🙂

  6. Waw… Kerdil sekali memang menungso menungso zaman now ini, lagian kok bisa bisanya ya kadang saya heran punya pemikiran kayak gitu bisanya cuma cocokologi aja. Hampura Hyang Aruta takut kuwalat saya… Shollu alan nabi…
    Mantafff… Kalaulah bro harunatara ini pleboy… 😁😀. Saya yakin dengan penguasaan bahasa juga ditambah pula dgn pengatahuan yang lainnya membuat syair syair yg indah apa gag ngantri tu harim harim… Hehehe… 😁. Pelet dari eropa, jepun ato amriki udah gag ada artinya 😀. Apalagi mau dibikin dijadikan lirik lagu… Ihh ngeri 😬
    “Kuradhiya Maratuk Abdi” Pelajaran Diri Yang Bimbang keren nih bisa dijadikan lirik… Hahaha… 😂😀

    Pada masa itu apakah hanya ada dua kerajaan ini saja yg sezaman di Nusanta-Ra kita ini
    Tarumanagara & Mataram, kalau kerajaan Sriwijaya, ini Kira² dimulai pd tahun keberapa tepatnya.
    Luar biasa ternyata ada yang pernah bersua beberapa dari leluhur kaum² terdahulu dari Nusanta-Ra kita ini yang telah bertemu dengan Rasulullah Muhammad SAW, sungguh luar biasa. Apa ada kaitannya pertemuan sang ratu Sri Kencana Wulan tsb silaturahmi dg keluarga dari jalur ibundanya Rasulullah?
    Nah pada saat itu dari mereka yang berjumpa apakah sudah ada yg mengikuti ajaran sang Nabi dgn bersyahadat? Mengingat sejarah panjang agama Islam ini membutuhkan sekurangkurangnya 800 tahun untuk bisa seperti skrg di Nusanta-Ra kita ini dari sejarah agama Kapitayan. Apa betul para wali ini berjumlah seperti yg umum diketahui, masa sih! kayaknya sih gag! Dan asalnya dari negeri bermata sipit pula?
    Semoga Hyang Aruta memperkenankan kita bertemu dgn nabi besar Rasulullah Muhammad SAW juga di kumpulkan bersama orang orang shalih di akherat nanti.
    Salam…
    Rahayu… 🙏

    1. Rahayu juga kang Tufail..

      Ya begitulah faktanya kang.. Ilmu cocokologi sering jadi idola.. Tapi semua bisa terjadi mungkin karena kurang baca, minim data dan gak mau lagi cari info terbaru aja.. Makanya yg di terima dari satu sumber langsung di amini sebagai fakta yg valid meskipun salah bgt.. Semoga aja makin byk yg mau melek, sadar diri dan mau terus menggali sejarah yg benar..

      Wahaha.. Pengen sih jadi pleboy kang, tapi apa daya gak memenuhi syarat.. Byk kurangnya, kurang keren, kurang modal, kurang pinter ngibul hehehe.. 😀

      Waduh.. Saya gak pinter bikin lirik apalagi lagu kang.. Wong nyanyi aja faless kok.. Gak mungkinlah bisa pelet.. Tar di lempar botol minuman.. Hehe.. 🙂

      Ttg kerajaan yg sezaman dg Nabi Muhammad SAW, setahu saya sih tentu tidak cuma dua itu aja kang.. Ada byk sekali malah.. Coba aja akang pikir, dulu sewaktu Prabu Purnawarman sedang memperluas wilayah kerajaannya, maka ada sekitar 48 kerajaan besar kecil yg hrs beliau taklukkan.. Itu semua berada di kawasan Banten, Jakarta, Jawa Barat dan sebagian kecil Jawa Tengah skr loh.. Bayangkan aja gimana di kawasan lain di pulau Jawa yg juga ada byk kerajaan yg memerintah. Dan ini belum lagi yg ada di tanah Sumatera dan Kalimantan, bahkan Sulawesi, Maluku, Papua, dll.. Jadi ada byk kerajaan lain yg hidup sezaman dg beliau.. Contoh, di Sumatera misalnya ada kerajaan Singindo (yg ada di kawasan Kerinci-Merangin, Jambi), Tubo (Muaro Tebo, Jambi), Kantoli (Kuala Tungkal, Jambi), Malayupura (Batang Hari, Jambi), Malayu Sribuja (Palembang), dll. Nah kalo di Kalimantan sendiri misalnya ada kerajaan Bakulapura- Kutai Martadipura. Semua kerajaan itu sudah ada sejak abad ke 3-5 Masehi. Dan tentu masih byk yg lain yg saya gak tau detilnya..

      Kalo kapan berdirinya Sriwijaya, setau saya sih pada abad ke-7 Masehi atau tepatnya antara tahun 640-670 Masehi oleh tokoh bernama Dapunta Sri Jayanasa atau yg bergelar Dapunta Hyang Sri Jayanasa Syailendra Satiyakalasa Mauliwarmandewa. Asal usulnya bermula dari sosok yg bernama Wamsejenjat alias Maharaja Dijayawarman bin Aswawarman bin Dewawarman VIII. Ibu dari Wamsejenjat bernama Putri Sri Gari alias Mahasuri Dewi Gari binti Sang Kudungga bin Atwangga bin Mitrongga. Sang Kudungga adalah pendiri kerajaan Bakulapura. Dari pernikahan antara Wamsejenjat dan putri raja Campa (sekitar Kambodia), maka lahirnya keturunan yg menjadi raja-raja di kerajaan Malayapura di Swarnabhumi (pulau Sumatera), khususnya Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Selain itu, Dapunta Hyang Sri Jayanasa juga masih keturunan dari Prabu Purnawarman (raja ke-3 kerajaan Tarumanagara). Itu terjadi karena anak dari Prabu Purnawarman yang menikah dengan salah satu pangeran dari kerajaan Malayapura (asal usul orang tua Dapunta Sri Jayanasa). Bahkan beliau sendiri juga bagian tak terpisahkan dari kerajaan Tarumanagara, sebab ia adalah menantu dari Prabu Linggawarman (raja ke-12 Tarumanagara) karena telah menikahi anak bungsu sang prabu yang bernama Sobakancana.

      Tentu aja kang, leluhur kita itu emang luar biasa.. Nusantara itu sudah sejak ribuan tahun lalu ramai.. Maklum kan berada di kawasan segitiga emas dunia, sangat strategis lokasinya dan berlimpah kekayaan alamnya.. Orang2nya pun suka menjelajah dan mengarungi samudera sampai ke Eropa Barat, Afrika dan Timur Tengah utk berdagang.. Di Afrika mrk dagang rempah-rempah, terutama cengkeh utk bahan pengawetan Mumi. Trus kalo di Eropa, selain dagang rempah-rempah, mrk juga ekspor kayu Jati untuk bahan baku istana rajanya.. Nah kalo ke Timur Tengah, mereka dagang rempah-rempah dan perhiasan, termasuk ke Kota Makkah dan Yastrip (nama sebelum jadi Madinah).

      Tentang pertemuan antara Ratu Sri Kencana Wulan dan Rasulullah saat itu bukan silaturahim antar sesama kerabat dari ibu, tapi lebih kepada sowannya sang ratu kepada Sang Utusan Mulia dan terkait dg tugas kenabiannya, terutama yg berhubungan dg Perang Badar yg akan terjadi pada waktu itu.. Lalu tentang apakah ada yg bersyahadat? jawabannya ada kang, termasuklah sang ratu sendiri. Hanya saja ajaran Islam tidak lantas berkembang luas di tanah Jawa pada waktu itu, memang blm waktunya juga sih.. Dan keIslaman sang ratu tidak lantas mengubah hukum ketatanegaraan Mataram yang sudah ada, karena sang ratu bahkan masih menyembunyikan keyakinannya (tentu ada alasannya sendiri).. Kerajaan ttp berjalan seperti biasanya, hanya saja menjadi lebih baik dari sebelumnya sampai pada akhirnya sang ratu pun moksa..

      Tentang para Wali di Nusantara, khususnya di tanah Jawa, maka tentulah bukan itu saja (Wali Songo). Ada banyak Wali yg hidup di tanah Jawa, apalagi di seluruh kawasan Nusantara, puluhan orang malah.. Hanya saja tidak semua Wali itu yg menunjukkan dirinya, sebagian besarnya justru tersembunyi dan tak diketahui orang banyak.. Emang gitulah ciri kewalian mrk itu. Gitu juga dg para Wali Songo misalnya, mrk itu emg bertugas untuk muncul ke permukaan demi menyebarkan ajaran dan menunjukkan kewibawaan Islam.. Sudah jadi ciri khas kewalian mrk, berbeda dg wali-wali yg lainnya yg ttp harus tersembunyi.. Setiap Wali itu punya maqom (kedudukan) dan tugasnya masing-masing, sangat mungkin berbeda antara satu dg yg lainnya..

      Nah kalo ttg ras dan bangsanya, setau saya para Wali itu bisa dari ras dan bangsa manapun.. Tidak ada eksklusifisme disini, semua kembali kepada diri pribadi utk berusaha mencapai maqom (kedudukan) itu.. Dimata Tuhan, setiap org gak ada bedanya kecuali iman dan kesungguhannya dlm berusaha.. Nah pada waktu era Wali Songo, mulai dari angkatan ke 1 sampai yg ke 8, kebetulan orang dari bangsa yg bermata sipit ada yg tampil ke depan dan terkenal, tapi itu tidak semuanya loh, karena ttp ada yg dari Arab (Makkah dan Madinah), Palestina, Mesir, Maroko, Turki, Iraq, Persia, Uzbekistan, Russia dan India juga kok.. Dan tentunya yg asli dari tanah Nusantara, khususnya Jawa seperti Sunan Kalijaga. Dan menurutku, Wali Songo itu lebih kepada jabatan struktural duniawi, agar lebih jelas, lebih mudah dan tertib mengatur umat, bukan maqom (level) seorang Wali yg sebenarnya. Ato hanya itulah Wali di Nusantara, bukan seperti itu maksudnya.

      Aamiin.. semoga kita berkumpul dengan orang2 yg selamat di akherat nanti.. 🙂

      Gitu aja kang jawaban saya.. maaf kalo kepanjangan atau gak memuaskan.. 🙂

      1. Saya senang banget malah dapat penjabaran yang panjang & luas Hehehe 😁. Bahkan kurang 😬
        minimal dari itu detail kisahnya bisa saya pelajari sebagai bahan renungan juga inspirasi buat saya, terutama nama nama yang baru saya dengar dari para pemimpin besar juga pendiri kerajaan. Luar biasa sebenarnya pemberian nama nama dari para pemimpin ke anak keturunnya sangat sangat agung juga mulia artinya walaupun saya belum tahu arti yang sebenarnya dari nama nama tsb.

        Aduh jadi penasaran apa hal yang akan di musyawarahkan sama Rasulullah Muhammad SAW dg Ratu Sri Kencana Wulan perihal Perang Badar… Hehe 😬 luar biasa tentunya, apa ada bantuan pasukan dr Nusanta-Ra kita ini pada saat berlangsungnya peperangan tsb?
        Kira kira dari nama nama besar kerajaan yang gag umum diketahui dan yang umum dari sejarah formal apa semua itu nga”moksa” dipindahkan ke dimensi yang lain atau hancur akibat musibah dan bencana?
        Sangat menarik apabila gag terhalang protap tentang urutan nama nama besar kerajaan yang pernah berdiri dari awal kerajaan Salakanagara sampai Pajajaran yang moksa. 😊
        Saya penasaran tentang awal kisah candi yang konon lebih tua dari Borobudur yg bernama Candi Cetho & Candi Sukuh dari foto relief yg bertebaran di dunia maya kayak ada kisah panjang perjalan peradaban bangsa bangsa lain di Nusanta-Ra kita ini, mudahmudahan gag terhalang protap. 😁

        Kayaknya udah lama gag mengupload tulisan tentang sejarah “out of the box” lagi tentang kehebatan leluhur kita kaum kaum terdahulu, juga kisah kisah peperangan besar yang pernah terjadi? oia kira kira binatang dinosaurus itu ada di periode peradaban zaman ke berapa, apa ada kemungkinan ada pada peradaban ke 3. Dirganta-Ra juga ke 4. Swarganta-Ra mengingat manusianya saja berbadan diatas 10 meter bahkan lebih.
        Salam…
        Rahayu… 🙏

      2. Rahayu juga kang Tufail.. syukurlah kalo bermanfaat.. 🙂

        Ya gitulah nama2 orang dulu, gak sembarang kasih nama apalagi gelarnya.. Semua dg byk pertimbangan dan pembuktian.. Beda bgt dg skr yg lebih pengennya keliatan keren aja dan kebarat-baratan pula.. kalo pun bagus artinya tapi gak bisa dibuktikan dlm kehidupan sehari-hari.. malah byk yg bagus nama dan artinya tapi kelakuannya minus bgt.. 😦

        Hehe.. Silahkan penasaran kang ttg detil apa yg keduanya bicarakan.. saya gak bisa menjelaskan, ada protap. Tp yg jelas ada bbrp hal yg penting, termasuk ttg perjuangan Nabi dalam menegakkan syiar ajaran Islam wkt itu.. Trus kalo ttg apakah ada bantuan pasukan dari Nusantara, setau saya sih gak ada kang.. sebab pertempuran saat itu hanya di kalangan orang Arab aja dan harus diselesaikan oleh orang Arab pula. Nah dalam hal ini adalah Rasulullah SAW dan para sahabatnya sendiri yg tinggal di Madinah.. Tidak sampai hrs melibatkan bangsa lain yg tinggal di tanah Nusantara, khususnya Jawa… Itulah pembuktian bahwa bangsa Arab memang layak menjadi penerima pertama ajaran Islam itu.. Lihatlah betapa teguhnya hati mrk saat berjuang agar agama Islam itu ttp ada di muka Bumi ini.. tak takut mrk walau pun cuma berjumlah 313/315 pasukan, sementara musuhnya ribuan orang..

        Ttg kisah akhir dari kerajaan besar, maka tidak semuanya yang dipindahkan ke dimensi lain, hanya sedikit saja kok.. selebihnya justru hancur akibat perang dan bencana alam. Sedangkan yg sebagian lainnya cuma istananya aja yg dipindahkan, sedangkan kota dan kerajaanya hancur. Ini seperti kerajaan Majapahit dan Pajajaran.

        Ttg urutan nama-nama kerajaan besar sejak Salakanagara akan susah disebutkan disini, jelimet lantaran byk kerajaan besar itu yg pernah hidup sezaman.. Butuh pembahasan satu persatu baru akan jelas dan runtut… Jadi cukup nama-nama dan urutan yg ini aja yg bisa saya kasihkan utk pedoman: Salakanagara, Bakulapura-Kutai Martadipura, Tarumanagara, Mataram, Indraprahasta, Malayupura, Kalingga, Sriwjaya, Kendan-Galuh, Medang, Kahuripan, Kadiri, Singhasari, Majapahit, dan Pajajaran. Tentu masih ada banyak lagi kerajaan lain yg blm saya ketahui.. 🙂

        Ttg Candi Cetho dan Candi Sukuh, saya gak punya byk bahannya kang, blm fokus menggali kesitu.. maaf 🙂

        Ttg update tulisan, maaf ne kang karena skr saya masih fokus nulis buku dulu.. jadi kurang ada waktu untuk bikin artikel ttg kisah para leluhur.. terlebih rasanya udah cukup juga utk share tulisan ttg mrk itu, kalo kebanyakan ntar jadi bosan pembacanya.. hehe.. 🙂

        Ttg Dinosaurus, setau saya mrk itu hidup di periode akhir zaman ke empat (Swarganta-Ra) dan mrk musnah pada saat pergantian zamannya. Jadi sejak awal zaman kelima (Dwipanta-Ra) hewan jenis Dinosaurus itu sudah gak ada lagi di Bumi ini. Mrk udah musnah lalu digantikan dg jenis hewan yg baru, yg bisa kita lihat skr ini. Dan memang ada sebagian hewan yg hadir sejak awal zaman kelima (Dwipanta-Ra) itu yg sudah musnah skr lalu jadi mitos dan legenda di bbrp daerah atau bangsa..

        Gitu aja kang, maaf kalo kurang memuaskan.. 🙂

  7. Assalamualaikum mas oedi,mashaallah sebelumnya terima kasih atas tulisan” anda yg sangat luas pembahasannya dari berbagai sumber dan mudah di pahami ..Gak nyangka ternyata peradaban manusia dulu sudah hebat” melampaui masanya.. Oiya apa tulisan mas sudah di bukukan ? Kalau sudah judulnya apa & dimana bisa saya dapatkan, terima kasih

    1. Wa`alaikumsalam mas Harry P, terima kasih juga atas kunjungan dan dukungannya.. 🙂
      Syukurlah kalo suka dengan tulisan ini, semoga bermanfaat.. 🙂
      Ya gitulah mas faktanya, dan sebenarnya secara tersirat Al-Qur`an sudah menyampaikannya kok.. jadi apa yg dipahami umum selama ini perlu dikoreksi dan dilengkapi lagi..
      Ttg tulisan2 saya, termasuk yg di share di blog ini, sebenarnya sudah dibukukan kok, hanya saja memang blm siap diterbitkan.. masih dalam proses mas.. doakan aja cepat kelar dan siap terbit.. 🙂

  8. salam kenal kang oedi. menurut saya apa yang di ceritakan di atas akan lebih akurat Kalo di Padukan dengan berita masa lalu yang ada di dalam al’qur’an. saya salut sama kang oedi, luar biasa

    1. Salam kenal juga mas Ardi… terima kasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. oke, tapi karena saya ini orang yg awam banget, tolong dong kasih ayat berita masa lalu di Al-Qur`an yang sesuai dg uraian di atas (ttg bangsa Arya)? Biar lebih akurat seperti saran sampeyan itu… 🙂

  9. salam kenal kang oedi

    saya ajus dari bali.. terkait dengan bangsa arya, bagaimana kaitannya dengan sejarah mahabharata y kang?

    rahayu..

    1. Salam kenal juga mas Ajus, ato harus saya panggil bli neh? hehe.. 🙂

      Hmm.. tentang kisah Mahabharata, setau saya peristiwa itu terjadi jauuuh sebelum bangsa Arya ada.. Beda zaman dan orangnya mas.. Artinya, dalam hal ini bangsa Arya itu sebenarnya hanya menceritakan kembali kisah masa lalu, jadi bukan bangsa mereka sendiri yg mengalaminya.. Ini menurut apa yg saya ketahui mas.. Silahkan utk percaya atau tidak percaya.. 🙂

      Rahayu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s