Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Kemegahan Majapahit: Dalam Kesaksian Penjelajah Dunia

Wahai saudaraku. Ada informasi menarik tentang kemegahan Majapahit yang didapatkan dari seorang pastor dari Italia dan penjelajah berkebangsaan China. Keduanya sama-sama pernah berkunjung ke pulau Jawa, tepatnya di masa kerajaan Majapahit. Catatan dari perjalanan mereka sungguh menarik untuk di simak, karena menjelaskan tentang kejayaan dan kemakmuran dari negeri besar itu.

Nah, untuk lebih jelasnya mari ikuti uraian berikut ini:

1. Perjalanan sang pastor Italia
Sezaman dengan kerajaan Majapahit hiduplah seorang misionaris Ordo Fransiskan dari Czech (Ceko) yang bernama Odorico Mattiuzzi. Ia lahir di Villanova dekat Pordenone, Friuli di Italia Utara, pada tahun 1265 (di Wikipedia disebutkan tahun 1286). Diperkirakan dialah orang Eropa pertama yang mendaratkan kakinya di tanah Jawa. Pastor yang terkenal dengan nama Odorico da Pordenone itu cukup rajin menulis dan tak perlu diragukan lagi tentang kemampuannya. Sebab, sebelum menulis kesaksian tentang Jawa, ia sudah banyak berkarya, baik secara religi maupun kesusastraan. Hanya saja memang namanya tak begitu dikenal lagi, terutama oleh generasi muda di negeri ini.

Dalam bukunya yang berjudul “I viaggi di Frate Odorico” atau yang dalam bahasa Inggrisnya berjudul “The travels of Friar Odoric“, sang pastor menerangkan bahwa ia telah mengunjungi beberapa tempat di Nusantara yaitu Sumatera, Jawa, dan Banjarmasin di pulau Kalimantan. Ia dikirim oleh Paus Yohanes XXII untuk menjalankan misi Katolik di Asia Tengah.

Awal kisahnya terjadi pada sekitar tahun 1300. Saat itu Odorico Mattiuzzi muda bergabung dengan Ordo Fransiskan di Udine. Menjelang pertengahan abad ke tiga belas para saudara dari Ordo Fransiskan mendapat kepercayaan dari Tahta Suci di Vatikan untuk melayani karya misionaris di Asia. Para misionaris yang dikirim itu adalah Yohanes Piano Carpini, William Rubru-quis dan Yoahnes (Giovanni) dari Montecorvino. Odorico kemudian dipanggil untuk menyusul mereka, dan pada bulan April 1318 dia pun berangkat dari Padua-Italia menyeberangi Laut Hitam menuju ke Trebizond, lalu melewati Persia melalui jalan ke Tauris, Sultaniah, dimana pada tahun 1318 oleh Paus Yohanes XII lalu menetapkannya sebagai keuskupan agung Kasham, Yezd, dan Persepolis.  Dia juga mengunjungi Farsistan, Khuzistan, hingga Chaldea dan kemudian kembali ke Teluk Persia, tepatnya di Hormuz. Dari Hormuz perjalanan dilanjutkan dengan berlayar menuju ke Tana di Pulau Salsette, utara Bombay (India).

Dari pulau Salsette dia menuju ke Malabar, Fondaraina (Pandarani) yang terletak 20 mil di utara Calicut, kemudian menuju ke Cranganore yang terletak di selatan Calicut, menempuh sepanjang pantai Coromandel, kemudian ke Meliapur (Madras) dan Srilangka. Kemudian dari situ dia menyeberangi kepulauan Nicobar dalam perjalanannya ke Lamori, suatu kerajaan di Sumoltra (Sumatera). Dia juga mengunjungi pulau Jawa, dan Banjarmasin yang terletak di pantai selatan pulau Kalimantan. Dari sana ia ke Tsiompa (Champa: Kamboja) dan akhirnya tiba di Canton-Guangzhou (China) yang waktu itu dikenal dengan nama Chin-Kalan atau Mahachin.

Dari Guangzhou dia menuju ke Zaitoum (Xiamen), pelabuhan terbesar China pada Abad Pertengahan, terus ke Fuzhou dimana dia mendirikan dua rumah Ordo Fransiskan. Dari Fuzhou dia menyeberangi pegunungan menuju Zhejiang dan mengunjungi Hangzhou, yang dikenal dengan nama waktu itu Quinsay, atau Khanzai (kediaman kaisar), sebagai kota terindah di dunia, sampai-sampai Odorico, sebagaimana juga Marco Polo, Marignolli atau Ibnu Batutah, menceritakannya dengan penuh detail. Dari sana ia kemudian menuju ke Nanjing, dan menyeberangi Yangzi, melalui kanal besar dan sungai Huanghe menuju ke Khanbaliq atau Beijing, ibukota kekaisaran Mongol kala itu.

Pada waktu itu, Montecorvino masih menjadi Uskup Agung Beijing, dimana Odorico tinggal selama tiga tahun (sekitar antara 1324-1327). Perjalanannya kembali kurang diceritakan, namun diketahui bahwa dia melalui jalan darat menuju ke Shanxi kemudian melewati Tibet. Dari Tibet dia menuju ke Badachschan lalu Tabriz dan kemudian Armenia, dan akhirnya tiba di kampung halamannya pada tahun 1330. Di bulan Mei 1330, atas permintaan superiornya, Guidotto, Odorico lalu menceritakan seluruh perjalanannya kepada Br. William dari Salogna sewaktu tinggal di biara St. Antonius di Padua. Menurut versi lain dari Henry dari Glatz, yang pada saat itu tinggal di istana Paus di Avignon, dia membuat catatan yang diberikan oleh teman-teman perjalanan Odorico dan menulisnya di Prague pada tahun 1330.

Pada tahun 1331, Odorico Mattiuzzi ingin sekali bertemu dengan Paus Yohanes XXII yang waktu itu ada di Avignon. Tujuannya untuk melaporkan kisah perjalanannya. Namun tubuhnya yang lemah tidak memungkinkan dia untuk menempuh perjalanan yang jauh lagi. Perjalanannya pun berhenti di Pisa karena dia jatuh sakit, dan terpaksa kembali ke Friuli. Sekali lagi dia berhenti di Padua dan kemudian melanjutkannya ke Udine. Disana penyakitnya bertambah parah dan akhirnya wafat dalam usia ke 66 tahun.

# Kesaksian sang pastor atas kemegahan Majapahit
Pada mulanya pastor Odorico Mattiuzzi ini berniat untuk menjelajahi dunia dan mengunjungi wilayah Timur Jauh (Asia Tengah dan Timur). Di setiap wilayah, ia selalu menyempatkan diri untuk singgah cukup lama di tempat tersebut. Sehingga ia bisa mengenal lebih jauh tentang kebudayaan dan peradaban yang ada, serta karakteristik penduduk di wilayah yang ia singgahi. Dan suatu ketika sang pastor sempat berkunjung ke pulau Jawa pada sekitar tahun 1321-1322 Masehi. Saat itu berdiri sebuah kerajaan besar yang berhaluan maritim agraris, yang bernama Wilwatikta (Majapahit).

Di Jawa ia sebenarnya cuma ingin singgah, tapi akhirnya tinggal cukup lama. Dan saat berkunjung ke ibukota kerajaan Majapahit, sang pastor dipersilahkan untuk berkunjung dan bertamu di salah satu istananya. Dalam catatan kesaksiannya ia pun menulis:

“….. ada sebuah pulau yang sangat besar, namanya Jawa,….. Maharaja di pulau ini mempunyai banyak istana yang sangat mengagumkan. Karena saking besarnya, anak tangga atau undak-undaknya pun besar, luas, dan tinggi. Bahkan, anak-anak tangganya diselang-seling dengan emas dan perak.

Bahkan, jalanan atau trotoar di istana disusun menggunakan satu ubin emas dan satu ubin perak yang berselang seling. Demikian juga dengan dinding istananya, berlapis emas. Di bagian luarnya banyak ukiran-ukiran kesatria-kesatria dari emas. Banyak dari kepala patung kesatria tersebut dikelilingi lingkaran-lingkaran emas, seperti orang-orang suci (santo).

Sangat menakjubkan, karena seluruh lingkaran-lingkaran tersebut ditaburi permata. Selain itu, langit-langit istana dibuat dari emas murni. Singkatnya tempat ini lebih kaya dan lebih mewah dari pada tempat manapun di dunia saat ini.”

Sungguh, ini adalah sebuah kesaksian yang membuat kagum siapapun pada kejayaan Majapahit. Hanya saja entah mengapa kesaksian dari pastor tersebut tidak banyak dipakai oleh para sejarawan di Barat. Bahkan orang Nusantara saat ini (Indonesia) mungkin tidak percaya dengan catatan tersebut. Tetapi fakta dan kenyataannya ada beberapa catatan atau kesaksian sejenis yang menyatakan bahwa Majapahit itu merupakan kerajaan yang sangat hebat nan luar biasa. Sangat kaya dan sangat jaya dimasanya.

Dan tidak hanya oleh Barat, sejarah ini juga seolah-olah ditutupi oleh orang dari Timur Tengah. Padahal tanah Jawa khususnya adalah negeri yang sangat strategis dan kaya. Alasannya tentu hanya untuk menyembunyikan informasi tentang kekayaannya, karena tentu saja wilayah ini akan menjadi incaran bangsa lain jika mereka semua sampai tahu kondisi sebenarnya. Hal ini sangat tidak mereka inginkan, sebab akan merugikan dalam sisi ekonomi-perdagangan (khususnya pada abad pertengahan). Maunya mereka ya hanya mereka saja yang tahu tentang tanah Jawa yang makmur itu, yang hasil buminya bisa mereka jual dengan harga mahal di negerinya (Eropa dan Timur Tengah) atau di belahan Bumi lainnya. Oleh karena itulah dulu rute jalur laut menuju Nusantara sangat di rahasiakan, khususnya yang dari Eropa. Dan serpihan-serpihan sejarah asli tentang negeri yang agung ini sering disembunyikan atau bahkan diputar balikkan oleh kalangan tertentu. Semua hanya demi uang.

Lalu, selain catatan di atas, pastor Odorico Mattiuzzi juga telah menuliskan keterangan berikut ini:

“……Maharaja mempunyai bawahan tujuh raja bermahkota. Pulaunya berpenduduk banyak, merupakan pulau terbaik kedua yang pernah ada. Raja pulau ini memiliki istana yang luar biasa mengagumkan karena sangat besar (dan mewah). Di setiap tangga dan ruangannya berlapis emas dan perak. Bahkan langit-langit serta atapnya pun bersepuh emas. Kini Khan Yang Agung dari Mongol (kaisar China saat itu) beberapa kali berperang melawan kerajaan ini. Akan tetapi, ia selalu gagal dan Maharaja ini selalu berhasil mengalahkannya”.

Sungguh, kerajaan yang disebutkan disini tak lain adalah Majapahit yang dikunjungi oleh sang pastor dalam kurun waktu tahun 1321-1322 Masehi, pada masa pemerintahan Prabu Sri Jayanagara (raja ke-2 Majapahit). Disebutkan juga dalam bukunya tersebut bahwa di pulau Jawa saat itu terdapat banyak cengkeh, kemukus, pala, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Ini jelas menunjukkan tentang kekayaan negeri tersebut, yang jelas sekali bisa menopang kejayaannya. Ini bukanlah isapan jempol belaka, melainkan fakta sejarah.

3. Catatan sang musafir Tiongkok
Selain pastor Odorico Mattiuzzi, ada pula seorang musafir dari daratan China yang memberikan kesaksiannya. Sosok itu bernama Ma-Huan, yang telah berkunjung ke Majapahit dalam masa akhir pemerintahan Prabu Sri Wikramawardhana (raja ke-5). Catatan perjalanannya dimuat dalam sebuah kronik yang berjudul Ying-Yai-Sheng-Lan.

Ma-Huan sendiri adalah seorang China Muslim yang menulis Ying-Yai-Sheng-Lan, kronik perjalanan ekspedisi Cheng-Ho pada abad ke-15. Ia tidak mengikuti seluruh ekspedisi, tetapi ia menulis banyak tempat yang juga tidak ia kunjungi. Catatannya mencakup wilayah Indocina, Nusantara, Teluk Benggala, Persia, Jazirah Arabia, sampai dengan pantai timur Afrika. Ma-Huan juga sempat melaksanakan ibadah Haji dalam lawatannya ke Makkah.

Perlu diketahui bahwa perjalanan Laksamana Cheng-Ho saat melakukan ekspedisi laut di tahun 1405-1433 Masehi seringkali di dokumentasikan dalam berita China atau kronik China oleh Ma-Huan. Kronik China adalah sebuah catatan perjalanan Laksamana Cheng-Ho yang dibuat oleh Ma-Huan, seorang Muslim China, sang peterjemah sekaligus penulis catatan perjalanan Cheng-Ho saat melakukan perjalanan laut khususnya ke Nusantara dan Teluk Persia. Kronik Ma-Huan dalam sejarah Nusantara sangat penting serta berharga sebagai sumber informasi mengenai kehidupan masyarakat Sumatera maupun Jawa pada masa lalu.

Ya. Dalam sebuah pengembaraannya tahun 1416, Ma-Huan mencatat apa yang dia lihat langsung di Majapahit, khususnya tentang kemakmurannya. Kalimatnya adalah berikut ini:

“…. Tahun ke sebelas Kaisar Yung Lo menerbitkan maklumat kekaisaran kepada kasim Cheng-Ho untuk memimpin kapal angkut harta dan berlayar di laut barat demi membacakan perintah kaisar dan memungut upeti. Aku turut serta sebagai penerjemah kemanapun ekspedisi ini pergi, tak terhitung jutaan li, berbagai negeri dengan beda iklim, musim, topografi dan penduduk. Aku melihat keragaman ini dengan mata sendiri dan menjalaninya sendiri dengan kakiku. Pengalaman ini membuatku percaya bahwa buku berjudul “A Record of The Islands and Their Barbarians” bukan bikinan, bahkan lebih banyak lagi keanehan dan keajaiban yang bisa disaksikan. Maka aku menulis penampilan orang-orang asing ini, setiap negerinya, adat istiadat mereka dan membuka wawasan pembaca nantinya seberapa jauh pengaruh Kaisar kita dibandingkan dengan dinasti-dinasti sebelumnya.”

Lalu di dalam bab yang berjudul “The Country of Chao-Wa (Java)” Ma-Huan pun menulis :

“Negeri ini dulu disebut She-pó. Memiliki empat kota besar tanpa tembok kota dan suburban area (kota di masa Dinasti Ming biasanya dikelilngi tembok, dan suburban area adalah rumah penduduk diluar perimeter tembok kota – alias luar kota/pinggiran). Kapal asing selalu berlabuh pertama kali di kota bernama Tu-pan (Tuban), lanjut ke New Village/Kota Baru (Gresik), Su-lu-ma-i (Surabaya) dan terakhir kota bernama Man-che-po-i (Majapahit) dimana raja tinggal.

Dari New Village (Gresik) setelah berlayar kurang lebih dua puluh li ke selatan, kapal mencapai Su-lu-ma-i (Surabaya). Orang lokal menyebutnya Su-erh-pa-ya. Di sungai air yang mengalir adalah air tawar. Dari sini kapal besar tidak bisa masuk dan kita harus menggunakan kapal kecil”

Selain itu Ma-Huan juga menjelaskan bahwa: “Di Majapahit udaranya terus menerus panas, seperti musim panas di kita (China). Panen padi dua kali setahun, padinya kecil-kecil, berasnya berwarna putih. Disana juga ada buah jarak dan karapodang (kuning), tetapi tidak ada tanaman gandum. Kerajaan itu menghasilkan kayu sepang, kayu cendana, intan, emas, besi, buah pala, cabe merah panjang, tempurung penyu baik yang masih mentah ataupun yang sudah dimasak. Burungnya aneh-aneh, ada nuri sebesar ayam dengan aneka warna merah, hijau, dan sebagainya. Beo yang semuanya dapat diajari berbicara seperti orang, kakatua, merak, dan lainnya lagi. Hewan yang mengagumkan adalah kijang dan kera putih. Ternaknya adalah babi, kambing, sapi, kuda, ayam, itik, keledai dan angsa. Buah-buahannya adalah bermacam-macam pisang, kelapa, tebu, delima, manggis, langsap, semangka, dan sebagainya. Bunga yang penting adalah teratai.

Penduduk di pantai utara di kota-kota pelabuhan seperti Gresik, Tuban, Surabaya, dan Canggu kebanyakan menjadi pedagang. Kota-kota pelabuhan tersebut banyak dikunjungi oleh pedagang asing yang berasal dari Arab, India, Asia Tenggara, dan China

Lalu, Ma-Huan juga memberitakan bahwa ibukota Majapahit berada di pedalaman pulau Jawa. Kemudian istana Majapahit dikelilingi oleh tembok tinggi yang dihiasi tiga pintu gerbang. Selain itu ada kota-kota pelabuhan yang ramai, yang disana ada banyak orang China dan Arab menetap. Penduduk anak negeri datang ke kota-kota tersebut untuk berdagang.

Laporan Ma-Huan selanjutnya menyatakan bahwa di pusat ibukota Majapahit berpenduduk sekitar 200-300 keluarga, suatu angka yang cukup besar untuk zaman itu. Penduduk telah memakai kain dan baju, kaum lelaki berambut panjang dan diuraikan, sedangkan perempuannya bersanggul. Setiap laki-laki mulai yang berumur 3 tahun ke atas, baik orang berada atau orang kebanyakan, mereka mengenakan keris dengan pegangannya yang diukir indah-indah, terbuat dari emas, cula badak, atau gading.

Para pedagang pribumi umumnya sangat kaya, mereka suka membeli batu-batu perhiasan yang bermutu, barang pecah belah dari porselin China dengan gambar bunga-bungaan berwarna hijau. Mereka juga membeli minyak wangi, kain sutra, katun yang baik dengan motif hiasan ataupun yang polos. Mereka membayar dengan uang tembaga Majapahit, dan uang tembaga China dari dinasti apapun laku juga di kerajaan Majapahit.

Selanjutnya, dalam buku yang berjudul Ying-Yai-Sheng-Lan itu, Ma-Huan juga mencatat bahwa di Majapahit banyak bermukim orang Tionghoa atau China dari daerah Canton (Kanton), Chang Chou, Ch’uan, dan Fukien. Menurut Ma-Huan, di daerah Tuban dan Gresik kala itu terdapat sekitar 1000 orang China dari daerah Canton dan mereka tergolong orang-orang kaya. Selain itu ada pula orang-orang asing lain yang sudah banyak bermukim di wilayah Majapahit. Di antara mereka itu yang berasal dari Jambudipa (India), Kamboja, Champa, Yawana, Gada, Kanataka, dan Arab.

Jadi, penjelasan dari Ma-Huan ini telah menambahkan fakta yang tak terbantahkan lagi, bahwa Majapahit itu adalah sebuah negara besar yang makmur dan terpandang pada masanya.

3. Kesimpulan dan penutup
Wahai saudaraku. Keterangan dari kedua tokoh penjelajah itu sangat menarik dan bisa membuat bangga kita sebagai generasi penerus. Dan untuk melengkapinya, maka dulu di negeri China pernah ditulis sebuah kitab pusaka yang memuat berbagai informasi penting. Salah satunya mengenai kondisi di tanah Jawa. Kitab ini berada di dataran tinggi Tibet. Dalam salah satu keterangannya disebutkan bahwa; “Istana para Dewa yang dijaga harimau, gajah, naga, pheonix, dan badak adalah Jawa. Tempat segala kemuliaan dan ilmu pengetahuan. Yang gunung, sungai dan lautnya memuntahkan emas dan permata

Demikianlah gambaran singkat mengenai kondisi tanah Jawa, khususnya tentang kejayaan dan keagungan kerajaan Majapahit. Tak terbantahkan lagi bahwa nenek moyang kita itu bukanlah orang primitif yang tak kenal peradaban maju. Dan mereka bisa seperti itu karena tetap percaya diri sebagai bangsa Nusantara. Tidak perlu ikut-ikutan bangsa lain, yang belum tentu ilmu dan budayanya lebih baik dan sesuai dengan karakter bangsa sendiri. Sehingga mereka tetap berdikari dan berhasil membangkitkan kejayaan bangsanya sendiri, tanpa dikendalikan oleh bangsa lain. Mereka pun setara dengan bangsa hebat lainnya di seluruh dunia.

Namun sungguh disayangkan, karena pada akhirnya semua itu harus berakhir oleh konflik internal kerajaan dan pengkhianatan. Kerajaan besar itu pun runtuh, bahkan kisahnya hampir hilang ditelan zaman. Tak ada yang mampu mengubah sejarah. Hanya saja kita sekarang tetap bisa kembali seperti itu, ke masa kejayaan itu. Syaratnya bangsa ini mau bersatu dan para pemimpinnya tidak lagi terlalu serakah dalam menumpuk kekayaan dan melangengkan kekuasaannya saja. Mereka harus bisa menahan diri dan pandai mengelola kekayaan negeri ini. Keadilan harus ditegakkan. Tidak lagi “kong kalikong” dengan para investor dan cukong yang berniat menjajah. Pun tidak lagi me-rakyat sesuai dengan versi mereka sendiri. Sebab awalan “me” disini berarti menipu, memanfaatkan dan menindas rakyatnya sendiri.

Semoga kejayaan seperti Majapahit itu bisa kembali lagi ke negeri ini. Tentunya dengan versi yang baru. Rahayu.. _/|\_

Jambi, 20 Januari 2018
Harunata-Ra

(Disarikan dari berbagai sumber)

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

9 tanggapan untuk “Kemegahan Majapahit: Dalam Kesaksian Penjelajah Dunia

  1. mas request runtuhnya kerajaan majapahit dan masuk wali 9 dan satu lagi kenapa sunnan kalijaga tidak melakukan pemberontakan di majapahit

    1. Terima kasih mas Lukman untuk request nya.. tapi maaf kalo ttg keruntuhan Majapahit, juga ttg fakta sejarah asli berdirinya kerajaan itu belum waktunya utk di wedarkan skr.. 🙂

    1. Ttg Borobudur juga sama mas, blm waktunya utk di share.. Terlebih hal itu masuk dalam satu rangkaian pembahasan dg Majapahit yg di runut mulai dari kerajaan Salakanagara.. Jadi harus dijelaskan ttg bbrp kerajaan yg ada sblm Majapahit, bahkan sampai ke Kesultanan Mataram dan Indonesia skr.. Barulah jelas semuanya.. Maaf ya.. 🙏

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s