Menemukan Kedamaian Diri

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Dalam waktu sehari atau bahkan berhari-hari kita sering dipenuhi dengan berbagai rutinitas. Tak jarang pula apa yang kita kerjakan itu sangat menguras energi dan waktu. Hal ini pun terjadi berulang kali, sampai pada akhirnya kita menjadi sangat jenuh dan lelah. Dan hanya tinggal sedikit harapan untuk bisa mendapatkan kedamaian hidup, untuk kembali menemukan cahaya yang membahagiakan.

Lantas jika sudah seperti ini apa yang harus kita lakukan? Apa langkah-langkah yang mesti di tempuh agar hati menjadi tenang kembali dan kesadaran diri kian meningkat? Agar kita tetap terjaga dari sikap yang kufur.

Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Caranya dengan meninggalkan sejenak rutinitas yang membelenggu. Sempatkan waktu untuk melarutkan diri dalam kesendirian dan kesunyian. Dan cobalah melakukan puja bhakti kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) dengan cara yang khusus, dalam hal ini ber-semedhi (meditasi). Sebab perilaku ini terbukti bisa menenangkan hati dan menjernihkan pikiran. Para leluhur kita pun sangat mengandalkan ini, karena itulah mereka bisa hidup dalam puncak peradaban manusia.

Ya. Cobalah untuk menemukan waktu dan tempat yang tepat dalam hari-harimu – misalnya jika tidak bisa di alam bebas, cukuplah di tengah malam di dalam kamar. Usahakan untuk tidak diganggu oleh banyak suara dan kebisingan. Setelah itu, duduklah bersila dengan posisi badan tegak. Bawalah kesadaranmu itu kepada dirimu sendiri. Rasakanlah bahwa ada rasa tenang dan sunyi dalam tubuhmu. Pertahankan kondisi tulang belakang dalam posisi yang tegak lurus, dan buatlah sekujur tubuhmu dalam kondisi yang beristirahat. Begitu pula dengan satu bagian tubuhmu kepada bagian tubuh yang lain juga dalam sikap yang tenang (relax).

Setelah itu pejamkan mata dan rasakanlah napasmu bersamaan dengan menenangkan pikiran. Upayakan napasmu itu dalam tempo yang teratur dan mengalir lembut, perlahan-lahan dan lancar. Rasakan seolah-olah napas itu mengalir ke sekujur tubuh, mulai dari atas kepala (ubun-ubun) hingga sampai ke ujung jari-jari kaki. Dan setelah sampai di ujung jari-jari kaki harus kembali lagi ke atas kepala (ubun-ubun). Anggaplah aliran napas ini akan menyucikan dirimu dari dalam tubuh, dan ketika napas itu keluar, hal itu akan mengeluarkan kotoran yang ada. Lakukan secara berulang-ulang, sampai engkau merasa ada limpahan daya hidup, kasih sayang, dan berkah sinar ketika dirimu menarik napas.

Catatan: Silahkan jika ingin menggunakan mantra atau kalimat khusus lainnya untuk bisa lebih cepat masuk dalam kondisi yang hening.

Lalu, teruslah konsentrasi dan bawalah selalu kesadaranmu pada naik turunnya napas yang lembut itu. Sesekali diamkan napas itu di dalam perut, di sekitar pusar. Rasakanlah sampai daerah itu menjadi tenang dan santai ketika engkau menarik napas. Bawalah pikiranmu dengan cara mengheningkan cipta demi mengingat YANG MAHA ESA. Laksanakan sesuai dengan gerak napasmu, dan rasakan naik turunnya yang lembut. Jagalah keadaan ini, pertahankan selama beberapa waktu. Dan ketika merasa cukup, naiklah dari posisi itu menuju pusat ruhani pada jantung. Jika engkau berhasil, maka di pusat ini, di sebelah bawah jantung akan terasa seolah-olah ada pintu gerbang yang terbuka dan engkau bisa memasukinya. Di dalam sana, jadilah sebagai pribadi yang hina-fana dan mulailah melakukan sembah puja kepada YANG MAHA KUASA, YANG MAHA ESA dengan tulus murni.

Selanjutnya, cobalah engkau lihat bahwasannya dirimu sedang berada di sebuah alam bebas yang menghijau. Teruslah melangkah sampai engkau tiba di tepi sebuah sungai suci. Airnya mengalir jernih dan berkilauan indah. Masuklah ke dalam sungai itu dan menyelamlah beberapa saat. Bersihkan juga dirimu sampai bersih. Setelah itu berjalanlah ke sebuah taman alami yang berada di pinggir sungai suci itu. Disana kau akan melihat ada banyak bunga-bunga indah yang bermekaran. Bunga-bunga itu sesungguhnya tercipta dari cahaya. Maka petiklah dengan sikap yang halus dan rendah hati, lalu persembahkanlah bunga-bunga itu untuk bisa memuja SANG MAHA INDAH.

Ya. Bawalah bunga-bunga cahaya itu pada saat engkau telah menemukan bangunan yang sangat megah. Masuklah kedalamnya dengan sikap yang membungkuk dan penuh rasa hormat. Setelah berada di dekat mimbar, dirimu akan melihat ada sebuah altar untuk tempat merenungkan-NYA. Letakkanlah bunga-bunga yang kau bawa itu disana, tepat dihadapanmu yang sedang duduk bersila. Ber-semedhi (meditasi)-lah sampai engkau didatangi oleh sinar-sinar suci yang sebenarnya tanda “kehadiran” SANG ILAHI. Dalam kondisi seperti itu, tetaplah tenang dan biarkan hatimu tetap dalam memuja SANG MAHA ESA, bukan justru kepada sinar-sinar yang mendatangimu itu. Janganlah sekali-kali, karena DIA tak sebanding dengan apapun dan DIA Maha Mengetahui semua isi hatimu. Sementara isi hatimu itulah yang akan menjadi penilaian-NYA terhadap apa yang kau lakukan saat itu.

Lalu buatlah persembahan dirimu dengan cara bersujud yang setulusnya. Rasakan bahwa dirimu itu hanyalah makhluk yang hina-fana, bahkan tak berarti apa-apa di hadapan-NYA. Lakukan itu dengan maksimal, dengan terus menghormat hanya kepada-NYA saja. Biarkan keseluruhan dari semua amal ibadahmu selama ini dirasa tak ada. Serahkanlah apa yang kau lakukan, yang baik itu, hanya dari dan untuk-NYA saja. Sementara yang buruk, maka memohon ampunlah kepada-NYA dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Jadilah hamba yang hina, yang tak ada kemulian sedikitpun kecuali atas kehendak-NYA. Jadilah hamba yang fana, yang tiada kekuatan apapun selain hanya atas izin-Nya saja. Dan tegaskan pada dirimu sendiri bahwa hanya ada satu kekuatan YANG ADIDAYA, yang kepada-NYA saja engkau harus mengabdi dan memuja selamanya. Dirimu sebagai makhluk takkan merasa tenang dan bahagia jika tak melakukan hal itu.

Selanjutnya, ketika engkau selesai dengan sujud bhaktimu itu, maka sembunyikanlah apa yang seharusnya disembunyikan. Bersikaplah rendah hati dan ingatkanlah terus pikiran dan hatimu untuk senantiasa mengingat dan memuja-NYA. Sebab dengan begitu engkau telah mengabdi dengan cara yang lebih baik.

Lalu, keluarlah dari dalam bangunan itu menuju alam nan indah permai. Carilah olehmu tempat yang nyaman untuk duduk. Lihatlah, jika ada sebatang pohon yang rindang maka pergilah ke bawahnya. Ambil sikap duduk yang santai, boleh memejamkan mata atau justru tetap membuka matamu. Berdiamlah sejenak dan nihmatilah suasana yang ada. Terus seperti itu hingga pikiranmu menyatu dengan alam sekitar dan hatimu semakin mengagumi kekuasaan-NYA.

Setelah itu pejamkan kembali matamu dan heningkanlah ciptamu. Dan ketika engkau telah siap menyelesaikan semedhi (meditasi)-mu itu, tariklah napas dalam-dalam dari hidung kemudian tahan selama 3 detik, lalu keluarkan secara perlahan dengan dihembuskan lewat mulut. Jika perlu ulangi ini sebanyak 2-3 kali. Lalu bukalah matamu secara perlahan dan usahakan dengan lembut untuk kembali ke posisi duduk biasa. Berdiamlah untuk beberapa waktu dan rasakan ketenangan akan hadir di hati dan pikiranmu. Dan jika semuanya berjalan lancar, engkau telah menemukan kedamaian diri.

Lakukanlah hal ini (semedhi/meditasi) dengan teratur. Semoga bermanfaat. Rahayu.. _/|\_

Jambi, 17 Januari 2018
Harunata-Ra

Catatan: Tata cara di atas hanyalah salah satu di antara teknik yang bisa di lakukan. Silahkan pilih sesuai dengan keyakinan pribadi.

Iklan

4 respons untuk ‘Menemukan Kedamaian Diri

    Tufail said:
    Januari 26, 2018 pukul 10:20 am

    …”Dalam kondisi seperti itu, tetaplah tenang dan biarkan hatimu tetap dalam memuja SANG MAHA ESA, bukan justru kepada sinar-sinar yang mendatangimu itu. Janganlah sekali-kali, karena DIA tak sebanding dengan apapun dan DIA Maha Mengetahui semua isi hatimu…
    Mmh.. besar sekali keinginan diri ini untuk bisa melakukan hal ini, tapi masih ada keraguan yg menghalangi kira” saya takut apa ya…? 😊😀
    Buat pemula apa ada batasan waktu yg dibutuhkan, apa ada tombol on/off juga apabila terjadi hal” yg tidak diinginkan karena posisi ini sadar gag sadar kayaknya, sebaiknya dzikir apa yg dilantunkan untuk memuja-Nya…?
    Kalau diperkenankan lagi apa mantra atau kalimat khusus yg saya bisa ucapkan.
    Memang afdolnya ada saudara Harun sih di samping saya yg sudah mumpuni untuk mengarahkan belajar praktek langsung, “ee bukan gitu.. gini loh bro… 😁 😀
    Tp terus terang saya mau mempelajarinya banyak manfaat dan juga kebaikan yg bisa didapat.
    Semoga Hyang Aruta selalu berkenan memberikan kita Rahmat dan Kemuliaan juga Keselamatan dunia maupun akherat.
    Salam.
    Rahayu… 🙏

      oedi responded:
      Januari 26, 2018 pukul 5:12 pm

      Aamiin.. Semoga kita selalu dalam bimbingan dan perlindungan-Nya.. 🙂

      Hmm.. Saya kurang tau juga apa yg kang Tufail takutkan? Mungkin hanya karena kurang pede atau justru kurang latihan aja.. Harus sering mencoba walau tetap gagal.. Untuk membuat permata jadi indah menawan, maka asa byk proses yg harus dilakukan.. Gak bisa hanya sekali cara aja.. Butuh kesabaran dan ketekunan sampai menghasilkan kualitas yg memukau..

      Tentang aturan, waktu, zikir, mantra dan cara latihan meditasi, jelas sekali perlu guru pembimbing yg mumpuni kang.. Harus juga bertemu langsung alias tatap muka.. Sehingga sang guru bisa membimbing langsung agar sang murid tak salah arah, celaka dan salah kaprah.. Nah dalam hal ini saya bukan orang yg tepat kang, belum pantes utk ngajari karena masih terlalu awam dan cetek ilmunya.. Maaf 🙂

    Asaja said:
    April 12, 2018 pukul 6:19 pm

    Wah tumben bang Haru bikin tulisan tentang ajakan aplikatif kaya gini, apakah ada misi tersembunyi atau malah mencari penerus atau teman sesama pencari kedamaian diri? hehe bercanda bang.
    Oh iya,waktu baca sampe bagian nafas awal jadi keinget salah satu trid di forum K tahun 2011an, mungkin bang Haru tau juga, dan sebenernya malah prasangka ane bicara bahwa bang Haru ma yang bikin trid adalah orang yang sama. hehehe
    Tapi gapapa, walaupun beda genre dan cara pembawaannya, ilmu dan wawasannya tetap ditunggu.

    Rahayu _/|\_

      oedi responded:
      April 13, 2018 pukul 1:17 am

      Rahayu juga mas Asaja, makasih karena masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat.. 🙂

      Hmmm.. sebenarnya gak tumben juga sih mas, pernah kok beberapa kali yg beginian.. Tapi emang yg kali ini lebih fokus aja.. 🙂

      Kalo tentang tujuannya, ya sebenarnya hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan kembali aja kok.. Tentang apa2 yg udah semakin di lupakan orang banyak, padahal ini sangat dibutuhkan oleh setia pribadi. Terlebih kondisi zaman skr udah makin memprihatinkan.. Tentu ada visi dan misinya disini, karena dunia skr sudah mendekati masa transisi zaman.. Hanya bagi yg telah mempersiapkan dirinya saja yg bakal selamat.. Nah apa yg disampaikan di artikel ini adalah salah satu bentuk persiapan bagi yg mau selamat nanti..

      Hmm.. tentang forum yg mas Asaja sebutkan itu saya gak tau mas… Belum pernah baca atau ngikuti infonya.. Maaf..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s