Bahasa Sanskerta dan Keunggulannya

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Di antara bahasa yang paling tua dan masih diketahui sekarang ini adalah Sanskerta. Bahasa ini pula yang digunakan dalam kitab suci Veda (Weda) sejak ribuan tahun silam. Saking tuanya, maka namanya pun sampai telah berganti. Dan sebelum nama Sanskerta itu menjadi populer digunakan, maka bahasa yang digunakan dalam kitab suci Weda itu dikenal dengan nama Daiwi Wak (sabda/bahasa Dewa).

Bahasa Sanskerta ini mulai digunakan secara luas sejak 1.700 tahun sebelum Masehi. Sementara itu, usianya diperkirakan lebih tua lagi karena mengingat pada awalnya tradisi menulis belum berkembang. Sehingga karena itulah akan sulit untuk bisa memastikan usia sebenarnya dari bahasa kuno ini. Dan tidak menutup kemungkinan bahasa ini sudah ada sejak 10.000 tahun lalu, atau justru lebih tua lagi.

Dalam sejarahnya, bahasa Sanskerta tak bisa dipisahkan dengan kitab Weda. Adapun tokoh yang terkenal dalam meneliti kitab itu adalah Rsi Panini. Ia juga yang merintis penggunaan tata bahasa Daiwi Wak yang tertuang dalam kitab bernama Astadhyayi. Kitab ini sampai sekarang masih dijadikan pedoman utama dalam mempelajari Sanskerta.

Setelahnya ada pula Rsi Patanjali yang menuliskan kitab Bhasa. Kitab ini lebih membantu seseorang dalam memahami bahasa Sanskerta. Penerus dari kedua Begawan itu adalah Rsi Katyayana atau yang lebih populer dengan nama Rsi Wararuci. Ia kemudian memberikan keterangan-keterangan tambahan dalam tata bahasa Astadhyayi karya Rsi Panini. Sehingga bertambah lengkaplah pengetahuan tentang bahasa kuno ini.

Untuk lebih jelasnya mari ikuti uraian berikut ini:

1. Asal usul
Bahasa Sanskerta kini telah digolongkan ke dalam cabang bahasa Indo-Arya dari rumpun bahasa Indo-Eropa. Bersama dengan bahasa Iran kuno (Persia), bahasa Sanskerta termasuk ke dalam rumpun bahasa Indo-Iran dan dengan ini bagian dari kelompok bahasa-bahasa Indo-Eropa, yang juga mencakup cabang Balto-Slavik. Sehingga bahasa Sanskerta merupakan salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih dikenal hingga sekarang.

Lalu muncul di India sebagai bentuk halus atau sikap yang berbudaya dalam berbicara. Pengetahuan akan bahasa Sanskerta merupakan sebuah penanda kelas sosial. Sehingga bahasa ini terutama diajarkan kepada anggota kasta-kasta tinggi, melalui analisis yang seksama oleh para tatabahasawan Sanskerta; seperti halnya Rsi Panini.

Catatan: Kami belum mengetahui apa nama sebenarnya dari bahasa ini. Karena Daiwi Wak atau Sanskerta itu hanyalah gelar yang diberikan dengan maksud tertentu bagi bahasa kuno ini. Nama aslinya sudah di lupakan.

Sebagai bahasa terpelajar di India kuno, bahasa Sanskerta berada di samping bahasa-bahasa Prakerta yang merupakan bahasa rakyat dan akhirnya berkembang menjadi bahasa-bahasa Indo-Arya modern (bahasa Hindi, Assam, Urdu, Bengali dan lainnya). Dan kebanyakan bahasa Dravida dari India kuno – yang meskipun bagian dari rumpun bahasa yang berbeda – sangat dipengaruhi oleh bahasa Sanskerta, terutama dalam bentuk kata-kata pinjamannya. Bahasa Kannada, Telugu dan Malayalam memiliki jumlah kata pungut (serapan) yang terbesar, sementara bahasa Tamil memiliki jumlah yang sedikit.

Pengaruh bahasa Sanskerta pada bahasa-bahasa ini dikenali dengan wacana Tat Sama (sama) dan Tat Bhava (berakar). Sementara itu bahasa Sanskerta sendiri juga mendapatkan pengaruh substratum dari bahasa Dravida sejak masa yang sangat awal.

# Kaitan dengan bangsa Arya
Bahasa Daiwi Wak atau kemudian dikenal dengan Sanskerta itu sudah ada sejak bangsa Arya belum menetap di tanah India. Menurut kami, pada awalnya bangsa Arya itu datang ke wilayah Asia Tengah dari Nusantara lantaran di negeri asalnya telah terjadi perang besar dan bencana alam. Di Asia Tengah, bangsa Arya ini hidup selama ribuan tahun. Karena hidup secara nomaden, maka dari Asia Tengah itu barulah mereka bergerak menuju ke barat dan selatan. Di barat mereka membentuk kelompok bahasa Centum yang terdiri dari sub-grup Keltik, Jermanik, Latin, Balto-Slavik, Albania, Yunani, dan Tocharia (sudah punah). Sedangkan di selatan mereka membentuk kelompok bahasa Satem yang terdiri dari Sanskerta di tanah India dan Avestan atau Parsua (Persia) di wilayah Iran-Iraq.

Untuk itu, lebih tepat bila dikatakan kalau sebagian besar bahasa yang ada di Eropa Barat berasal dari sebuah bahasa nenek moyang yang sama dengan bahasa Sanskerta dan Avestan (Persia), yakni bahasa Proto Indo-Eropa yang diduga penuturnya datang dari Asia Tengah. Nah mereka yang tinggal di Asia Tengah ini bisa jadi berasal dari Nusantara, jauh sebelum 4000 tahun sebelum Masehi.

Ya. Sejak saat itulah bangsa Arya pun terbagi menjadi dua. Dan khusus yang hidup di kawasan selatan, maka jika di Iran-Iraq mereka memakai bahasa Avestan atau Parsua (Persia), maka di India mereka memakai bahasa Daiwi Wak atau Sanskerta. Keduanya memiliki akar bahasa yang sama. Karena itulah ada banyak kemiripan dalam tata bahasanya. Terbukti dari ayat-ayat yang terdapat di dalam kitab Zend-Avesta dalam agama Mazdayasna (Zoroaster)  dan kitab Weda dalam agama Hindu.

Bangsa Arya ini tiba di Iran-Iraq sekitar tahun 2500-2000 SM. Di wilayah itu mereka kemudian terpecah dua lagi menjadi bangsa Persia dan bangsa Media. Mereka berasimilasi dengan suku-suku setempat seperti Elam. Dari sini, lahirlah bahasa Persia dan bahasa-bahasa Iran lainnya. Sumber sejarah tertulis pertama mengenai orang Persia ini adalah prasasti Assyria (834 SM), dan di dalam prasasti itu ada menyebut tentang orang Parsua (Persia) dan Muddai (Media). Saat itu, orang Asyur (kerajaan yang berpusat di hulu sungai Tigris, Mesopotamia, Iraq) menggunakan istilah “Parsua” untuk merujuk kepada suku-suku di Iran. Kemudian orang Yunani mengadaptasi istilah ini untuk merujuk pada semua peradaban dari wilayah Iran. Ketika orang Persia memeluk agama Islam, orang Arab menggelari mereka dengan nama Fars atau Farsi karena abjad “P” tidak terdapat dalam tulisan Arab (huruf Hijaiyah).

Gambar 1. Foto: Puing-puing istana Apadana yang berlokasi di kota Persepolis.
Dibangun oleh kaisar Darius Agung dan Xerxes I, sang penguasa Persia, pada abad ke-6 SM.

Kawasan Persia kemudian diperintah oleh beberapa kerajaan besar dan membentuk kekaisaran yang kuat. Di antara kekaisaran-kekaisaran itu adalah Akhemenid, Parthia, Sassania, Buwaihidah dan Samania. Mereka masih keturunan bangsa Arya. Selanjutnya pemerintahan yang pernah memimpin di wilayah Persia ialah Seleukus (orang Macedonia-Yunani, bawahan Alexander Agung), Bani Ummayyah, Bani Abbasiyyah, Turki Seljuk, Afshariyah dan Qajar. 

Sedangkan di tanah India, pada sekitar abad ke-16 SM, bangsa Arya pun tiba ke wilayah ini secara bergelombang dan menetap di dataran rendah sungai Gangga, Yamuna dan Sindhu. Disana mereka lalu berkembang pesat. Akibat dari perkembangan bangsa Arya ini, penduduk aslinya (bangsa Dravida) mulai tersingkir dan menjadi golongan yang paling rendah; yaitu berkasta Sudra. Pembagian kasta ini oleh bangsa Arya dimaksudkan agar tidak terjadi percampuran antara penduduk asli (Dravida) dan bangsa Arya, karena nama Arya sendiri berarti mulia. Hal ini biasa di lakukan oleh bangsa penakluk atau penguasa di sebuah wilayah pada masa lalu.

Adapun kasta dalam bangsa Arya saat itu dibagi menjadi 4 strata yaitu:
1) Kasta Brahmana, untuk para pendeta.
2) Kasta Ksatrya, untuk raja dan kesatria.
3) Kasta Waisya, untuk pedagang dan pengusaha.
4) Kasta Sudra, untuk buruh dan petani.

Dan tidak jauh berbeda dengan di wilayah Iran-Iraq, maka di tanah India ini bangsa Arya juga berhasil membangun peradaban yang tinggi, bahkan sampai berpengaruh kuat di Nusantara. Di antara kerajaan bangsa Arya yang pernah ada di seputaran India-Pakistan-Bangladesh yaitu Angga, Magadha-Maurya, Wangga, Kalingga, Nasi, Kosala, Karu, Pancala, Gandhara, Kanauj (Gupta), dan Kamboja. Semuanya merupakan kerajaan yang besar, bahkan kekaisaran yang agung yang sangat disegani pada masanya.

Gambar 2. Foto: Stupa Sanchi yang dibangun oleh Raja Ashoka (penguasa
termahsyur di kekaisaran Magadha-Maurya) pada abad ke-3 SM.

Catatan: Menurut pandangan kami, bahasa Daiwi Wak atau lebih dikenal dengan Sanskerta itu sesungguhnya berasal dari seorang Dewa penghuni Kahyangan dan diajarkan kepada seorang Begawan yang terpilih di Nusantara. Awalnya dibawa oleh bangsa Arya dari Nusantara ke Asia Tengah dan akhirnya sampai juga ke wilayah Iran-Iraq dan India pada masa sebelum era Masehi. Dari India lalu kembali lagi ke Nusantara melalui keturunan bangsa Arya pada masa-masa awal tarikh Masehi. Mereka itu berasal dari wangsa Saka, Pallawa, Calangkayana (Wangga), Sungga, dan Warman, yang ketika itu harus bermigrasi keluar dari tanah India. Ada banyak pertempuran dan serangan besar ke negeri mereka. Dan mereka memilih Nusantara untuk berhijrah karena saat itu kondisinya relatif aman dan sama saja dengan pulang kampung. Di Nusantara, khususnya di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan mereka lalu mendirikan kerajaan baru seperti Salakanagara, Bakulapura-Kutai Martadipura, Tarumanagara, Indraprahasta, Kendan-Galuh, Malayupura dan Kalingga. Ini menurut perkiraan kami loh, bisa saja benar atau justru malah keliru.

2. Kedudukan
Dahulu, bahasa Sanskerta ini hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu. Tidak sembarang orang bisa mengucapkan kata-kata dalam bahasa ini. Karena secara terminologi kata Sanskerta itu sendiri berarti sikap yang berbudaya. Sehingga bahasa ini pun dianggap bahasa yang sempurna. Maksudnya, bahasa Sanskerta itu adalah lawan dari bahasa Prakerta atau bahasa rakyat biasa.

Bahasa Prakerta (atau berarti “alami”) adalah nama kumpulan bahasa-bahasa di India kuno yang merupakan bahasa rakyat jelata. Bahasa ini sudah ada jauh sebelum bangsa Arya tiba di tanah India dan biasanya adalah lawan dari bahasa Sanskerta yang merupakan bahasa yang tinggi dan dibawa oleh bangsa Arya. Misalkan dalam sebuah buku biasanya digambarkan seorang raja atau brahmana akan berbahasa Sanskerta, namun seorang petani hanya memakai bahasa Prakerta. Kedua bahasa itu jelas sangat berbeda.

Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik di India, sebuah bahasa liturgis dalam agama Hindu, Buddha, dan Jainisme. Bahkan sekarang menjadi salah satu dari 23 bahasa resmi di India. Statusnya pun sama di beberapa negara, terutama Nepal. Dan posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa. Sangat dihormati.

Selain itu, bahasa Sanskerta ini muncul dalam bentuk pra-klasik sebagai bahasa Weda. Dan yang terkandung dalam kitab Rg Weda merupakan fase yang tertua dan paling spesial. Teks ini diperkirakan berasal dari tahun 1700-an SM, atau bisa jadi malah lebih tua. Sehingga bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua.

Ya. Pada mulanya, kemunculan bahasa Sanskerta ini tidaklah dipandang sebagai suatu bahasa yang berbeda dari bahasa lainnya. Tetapi karena bentuknya yang lebih halus dan budaya berbicaranya yang tinggi, maka bahasa ini kemudian dianggap “spesial”. Bahkan dulu bagi siapapun yang mempunyai pengetahuan tentang bahasa Sanskerta ini akan dianggap memiliki kasta yang tinggi atau terpelajar. Ia akan dihormati.

Untuk itu, beberapa ilmuwan mencoba melakukan penelitian dan mempelajari bahasa Sanskerta ini dengan serius. Salah satunya adalah Sir William Jones. Ia pun berkata: “Bahasa Sanskerta memiliki struktur yang menakjubkan, lebih sempurna dari bahasa Yunani, lebih luas dari bahasa Latin dan lebih berbudaya daripada keduanya, namun memiliki keterkaitan kuat dengan keduanya baik dalam bentuk dasar kata kerjanya atau tata bahasa, tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan. Karena ikatan antara bahasa Sanskerta, bahasa Yunani, dan bahasa Latin yang sangat erat ini, maka wajar jika ahli bahasa beranggapan bahwa mereka muncul dari sumber yang sama (kemungkinan sumber tersebut sudah tidak ada)”

3. Sejarah pembelajaran
Bahasa Sanskerta merupakan bahasa yang cukup sulit dikuasai. Karena itu, yang diketahui sampai sekarang ini tidak lantas tiba-tiba bisa di mengerti. Ada proses yang panjang hingga di masa lalu bisa dipahami secara luas. Di antara orang-orang yang berjasa dalam menyebarkan pemahaman (ilmu pengetahuan) tentang bahasa Sanskerta ini yaitu:

1) Rsi Panini
Awalnya bahasa dalam kitab Weda itu sulit dipahami dan hanya disampaikan secara lisan. Dan sebelum kitab Weda mulai diselidiki, Maharesi Panini mulai menyusun sebuah tata bahasa pada sekitar tahun 700-an SM. Tata bahasa itu lalu disusun dalam sebuah kitab yang bernama Astadhyayi. Kitab ini sampai sekarang masih dijadikan pedoman pokok dalam mempelajari bahasa Sanskerta.

Namun pada waktu itu Rsi Panini menegaskan bahwa bahasa yang dipakai dalam kitab suci Weda itu dengan nama Daiwi Wak (sabda/bahasa Dewata). Sedangkan Astadhyayi itu adalah tata bahasa khusus sebagai pedoman pokok dalam mempelajari bahasa dalam kitab Weda (Sanskerta) sampai dengan saat ini. Kata “Asta” berarti delapan, sementara “Dhyayi” berkaitan dengan ajaran suci dan pengetahuan kuno. Jadi, ke delapan bagian/bab dari tata bahasa Daiwi Wak atau Sanskerta ini merupakan petunjuk konteks tata bahasa normatif atau preskriptif yang terutama mengatur cara pemakaian yang baku dan bukan deskriptif. Meskipun demikian, tata bahasa ini juga memuat bagian-bagian deskriptif terutama mengenai bentuk-bentuk kata dalam Weda yang sudah tidak dipakai lagi pada zaman Rsi Panini.

2) Rsi Patanjali
Selanjutnya, barulah pada abad ke-5 SM, bahasa itu mulai dikenal dengan nama Sanskerta. Itu terjadi setelah Rsi Patanjali menulis kitab yang bernama Bhasa. Nama Sanskerta yang untuk pertama kali diperkenalkan oleh Rsi Patanjali ini, awalnya bertujuan untuk menyebutkan nama bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa pergaulan Bharatawarsa, di India. Kemudian bahasa itupun dibedakan pula dari bahasa Pali, yaitu bahasa yang dipakai oleh orang-orang Maghadhi di dalam penyebaran agama Buddha.

Jadi, sejarah pertumbuhan bahasa Sanskerta setelah hadirnya kitab Bhasa oleh Rsi Patanjali itu kemudian membantu dalam mempercepat proses pertumbuhannya di kemudian hari. Sehingga dalam abad ke-8 Masehi saja, bahasa Sanskerta sudah menjadi bahasa percakapan sehari-hari.

3) Rsi Katyayana
Setelah Rsi Panini berhasil menyusun kitab Astadhyayi dan Rsi Patanjali yang menulis kitab Bhasa, jejak mereka diikuti oleh Rsi Katyayana atau yang lebih populer dengan nama Rsi Wararuci. Pada abad ke 9-10 Masehi beliau menulis keterangan-keterangan tambahan atas karya Rsi Panini disamping juga sebagai penulis kitab Sarasamuscaya. Kitab ini telah diterjemahkan di Indonesia ke dalam bahasa Kawi (bahasa Jawa Kuno) pada waktu zaman keemasan Hindu di Jawa dan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1970.

Sarasamuscaya adalah kitab yang memuat 511 sloka (ayat) yang isinya mengandung sejumlah ajaran tentang moral dan etika. Disusun oleh Begawan Wararuci kira-kira pada abad ke 9-10 Masehi. Kitab ini ditulis dengan dua bahasa yaitu Sanskerta dan bahasa Kawi (Jawa Kuno). Banyak yang menyebut Rsi Wararuci lahir di Nusantara karena kitab ini ditemukan dengan terjemahan dalam bahasa Kawi dari aslinya, Sanskerta. Kedua bahasa itu dipersandingkan. Namun, tidak ada kepastian bahwa beliau itu lahir di Nusantara, karena bisa saja kitab Sarasamuccaya itu datang dari India dan diterjemahkan ke dalam bahasa Kawi oleh seseorang yang tidak mau disebutkan namanya. Hal-hal yang anonim seperti ini jamak dalam kesusastraan Hindu dan Buddha di era kerajaan-kerajaan di tanah Jawa.

Kitab Sarasamuscaya ini dimaksudkan oleh Rsi Wararuci sebagai intisari dari Astadasaparwa (Mahabharata), gubahan Maharsi Wiyasa. Kata “Sara” artinya intisari, sedangkan “Samuscaya” artinya himpunan. Inilah himpunan dari instisari ajaran etika yang ada di dalam Astadasaparwa (Mahabharata). Karena itu, di dalamnya memuat tentang tata susila yang sesuai dengan norma, etika, nilai dan tingkah laku. Adapun semuanya bisa tertulis berkat sari-sari ajaran yang dikumpulkan oleh Maharsi Wiyasa di masa lalu. Begawan Wiyasa sendiri adalah orang yang mengumpulkan ayat-ayat kitab suci Weda. Kebesaran jiwa sang Maharsi Wyasa ini menjiwai banyak orang hebat, khususnya nenek moyang keturunan Bharata. Beliau adalah penegak keadilan dan kebenaran pada masa lalu.

Selain itu, dalam beberapa sejarah lainnya juga diceritakan (disebutkan dalam catatan arsip forum bebas) Rsi Wararuci adalah salah seorang dari “Sembilan Mutiara” di istana raja Wikramaditya. Beliau juga diperkirakan menulis buku-buku Sanskerta lainnya seperti Katantra (buku-IV), Lingganusasana, Wararucisanggraha, Wararucikawya, Puspanetra, Carumati dan Kasika. Demikianlah sang Begawan sebagai sosok yang cerdas dan luar biasa.

4. Contoh bahasa
Adapun contoh kalimat dalam bahasa Sanskerta bisa dilihat dalam kitab Sarasamuscaya karya Rsi Wararuci. Di antaranya seperti yang tertulis dalam sloka (ayat) ke 46 di bagian Kebaikan dan Kebenaran berikut ini:

“Mritye janmanor’thaya jayante maranaya ca, na dharmatam na karmatham trnaniva prthagjanah”

Sloka (ayat) di atas jika di terjemahankan ke dalam bahasa Kawi menjadi seperti berikut:
“Apan purih nikang prthagjana, tan dharma, tan kama, kasiddha denya, nghing matya donyan ahurip, doning patiya, nghing hanma muwah, ika tang prthagjana mangkana kramanya, tan hana patinya ide nika, taha pih, tan hana pahinya lawan dukut, ring kapwa pati doning janmanya, janma doning patinya”

Sedangkan jika di terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia menjadi seperti ini:
“Sebagaian besar manusia di bumi tidak memahami hakekat kebajikan dan kebenaran. Sungguh mereka tidak mengendalikan nafsunya dan hidup mereka hanya untuk menunggu mati, tanpa pernah berusaha untuk memahami hakekat kematian. Hidup yang hampa seperti itu tiada beda dengan rumput yang mati dan tumbuh kembali, tumbuhnya hanya untuk menunggu mati”

Contoh kedua seperti yang tertulis dalam sloka (ayat) ke 80 di bagian Trikaya Parisuda (Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan) berikut ini:

“Mano hi mulam sarvesamindrayanam pravartate, subhasubhasvavashtasu karyam tat suvyavasthitam”

Sloka (ayat) di atas jika diterjemahkan ke dalam bahasa Kawi menjadi:
“Apan ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawrtti ta ya ringsubhasubhakarma, matangnyan ikang manah juga prihen kahrtanya sakareng”

Sedangkan jika diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia menjadi seperti ini:
“Pikiran adalah sumber dari segala macam nafsu, ialah yang menggerakkan dan mengarahkan perbuatan menuju kebajikan atau pun kejahatan. Maka dari itu usahakanlah terlebih dahulu untuk mengendalikan pikiran”

Demikianlah contoh kalimat dalam bahasa Sanskerta. Di ambil dari sloka (ayat) yang terdapat dalam kitab kuno Sarasamuscaya. Sangat dalam maknanya dan bisa dijadikan pedoman hidup.

Catatan: Sepertinya bahasa Sanskerta ini punya bentuk aksara resminya. Hanya saja sudah menghilang dan digantikan oleh banyak aksara lainnya. Di antara aksara itu adalah Pallava/Pallawa (di India bagian selatan) dan Devanagari (di India bagian utara), yang hingga kini masih dikenali.

Aksara Devanagari

Kedua aksara ini banyak ditemukan di wilayah India dan Asia Tenggara; khususnya di pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan untuk menuliskan berbagai kalimat dalam bahasa Sanskerta. Biasanya terdapat di dalam prasasti atau lembaran kitab kuno.

5. Penutup
Wahai saudaraku. Dalam pandangan kami, bahasa Sanskerta itu adalah bahasa yang istimewa. Pengaruhnya pun sangat kuat dalam banyak bahasa di dunia sampai hari ini. Bahkan bahasa Indonesia sendiri sangat terpengaruh dengan bahasa kuno ini. Ada banyak kata dan istilah yang masih dipakai, tapi sedikit orang yang menyadarinya.

Dan, tak ada salahnya bagi kita untuk kembali mempelajari bahasa ini. Takkan rugi, karena justru bisa mendatangkan keuntungan yang besar. Tidak hanya bagi kalangan tertentu, melainkan untuk siapapun yang haus akan ilmu dan pengetahuan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang terbuka dalam wawasan hati dan pikirannya. Rahayu… _/|\_

Jambi, 13 Januari 2018
Harunata-Ra

(Disarikan dari berbagai sumber dan diskusi)

7 respons untuk ‘Bahasa Sanskerta dan Keunggulannya

    arif said:
    Januari 16, 2018 pukul 1:04 am

    mas tolong bahas juga bahasa Lontara

      oedi responded:
      Januari 16, 2018 pukul 11:02 am

      Maksudnya aksara yg dimiliki orang Bugis-Makassar ya?
      Hmm.. Kita liat nanti aja ya mas Arif, jujur saya blm punya detil bahannya.. Tidak mendalami juga sih.. Sepertinya kalo orang Bugis atau Makassar yg menerangkan tentang itu akan lebih pantas.. 🙂
      Oke, terima kasih atas kunjungannya, moga bermanfaat.. 🙂

    Widya said:
    Januari 20, 2018 pukul 1:03 pm

    Mas oedi,apa bahasa yg tdp di tulisan2 sebelumnya itu adlh bahasa sanskerta?

      oedi responded:
      Januari 21, 2018 pukul 12:30 am

      Bukan mbak Widya.. Itu bahasa yg berbeda, dan sebagiannya lebih tua dari bahasa Sanskerta.. Udah ada sblm bahasa Sanskerta mulai dipakai.. Setiap tulisan itu pun diberikan contoh kalimat dalam bahasa yg berbeda-beda.. Baru di artikel ini saya khusus memberikan penjelasan dan contoh bahasa Sanskerta.. 🙂

    Tufail said:
    Januari 26, 2018 pukul 9:46 am

    Kemungkinan besar bahasa Syansyakarta yg tercipta ratusan juta tahun silam sudah tidak sama lagi dg bahasa Sansekerta yg ada skrg ini. Mungkin cuman nyomot namanya doang. 😀 atau yang dikatakan bahasa Daiwi wak itu, mungkin!
    Selalu menarik untuk dipelajari kira” dimana bisa dapat kitab kuno Sarasamuscaya dan juga kitab” yg lainnya. Tapi yg jelas harus ada guru yg mumpuni juga tentunya, kalau tiba” saya “ma’gedeblug” dikasih saudara Harunata-ra salah satu kitab kuno sama juga boong 😁😀.. Gimana bacanya lha wong bahasa Indonesia aja masih belum tamat belajarnya.😁
    …”Bahkan bahasa Indonesia sendiri sangat terpengaruh dengan bahasa kuno ini. Ada banyak kata dan istilah yang masih dipakai, tapi sedikit orang yang menyadarinya”… Nah saya salah satunya yg masih sedikit dan menyadarinya. Kalau saudaraku berkenan kira” kata perkatanya “saeutik” saja ditorehkan buat sahaya yg masih haus akan ilmu pengetahuan juga wawasan ini… 😀 😁
    Semoga Hyang Aruta selalu membukakan hati dan fikiran kita untuk selalu terus menerus mau belajar tentang ke Agungan dan Kebesaran-Nya. Wabil khusus buat saudaraku Harunata-ra semoga segala niat baik dan fikiran positiv yang ada padamu tak’kan pernah sirna.
    Salam.
    Rahayu… 🙏

      oedi responded:
      Januari 26, 2018 pukul 4:53 pm

      Aamiin.. Nuhun kang Tufail utk kunjungan, dukungan dan doanya.. 🙂

      Ya seiring berjalannya waktu, bahasa yg digunakan oleh manusia itu terus berubah, berganti dengan berbagai cara.. Karena itu, sebelum bahasa Sanskerta menjadi alat komunikasi bagi bangsa Arya, tentu ada bahasa yg lebih tua lagi.. Dan bahasa Syansyakarta itu jelas sangat berbeda dg bahasa Sanskerta.. Ada rentan waktu selama ratusan juta tahun di antara kedua bahasa itu.. Meskipun asalnya sama2 dari Nusantara.. Dan sebenarnya di bbrp artikel saya telah bbrp kali menuliskan contoh bahasa kuno yg lebih tua dari Sanskerta.. Tentu kang Tufail sudah baca…

      Tentang kitab2 kuno itu, jelas itu agak susah dicarikan kang, coba aja di
      Cari di toko buku loak atau kalo gak di internet.. Kalo berjodoh bakal dapat kok..

      Tentang contoh kata Sanskerta yg diserap ke dalam bahasa Indonesia, di antaranya sbg berikut:
      Aji => ajian : mantra kesaktian
      A gama => a (tidak), gama (kacau) = tidak kacau => agama : ajaran atau tradisi suci agar tidak kacau hidupnya
      Aksara => aksara : Huruf tulisan.
      Aneka => aneka : macam-macam
      Angka => angka : bilangan
      Angkara => angkara : kejahatan
      Akasa => angkasa : langit
      Anyaya => aniaya
      Antara => antara
      Antariksa = antarikṣa : luar angkasa
      Anugraha => anugerah : pemberian
      Asrama => asrama : tempat padepokan
      Bhaga => bagai : mirip
      Bhagya => bahagia
      Bhasa => bahasa
      Bhaya => bahaya
      Bhukti => bukti
      Bhusana => buṣaṇa : pakaian
      Chalaka => celaka : musibah
      Carita : cerita
      Cinta => cinta
      Cipta => cipta : inovasi
      Citra => citra : gambar
      Dana => dana : uang
      Danda => denda : hukuman
      Desa => deśa
      Dewasa => dewasa : akil balig
      Dosa => doṣa
      Dusta => dusta : tidak benar
      Duta => duta : wakil, utusan
      Gapura => Gapura : pintu gerbang
      Guna => guna : manfaat
      Guru => guru : pengajar
      Hina => hina : rendah
      Jagat => jagat : dunia
      Jaya => jaya : menang
      Nada => nada
      Nama => nama
      Pada => pada
      Pandai => pandai
      Putera => putera
      Pidana => pidana : hukum kriminal
      Pria => pria
      Puasa = puasa
      Pusaka => pusaka
      Raga => raga : tubuh jasad
      Rasa => rasa
      Restu => restu : persetujuan
      Rupya => Rupiah : perak (asal nama mata uang Indonesia)
      Sabda => sabda : kata, firman
      Saksi => saksi
      Sakti => sakti : kekuatan supranatural
      Sama => sama
      Sastri => santri : seorang pelajar agama 
      Sarana => fasilitas
      Sudara = > saudara
      Segala => segala
      Suci => suci : keramat
      Swasta => swasta
      Tentara => tentara
      Terka => terka : menebak
      Tetapi => tetapi
      Udara => udara
      Vaca => baca : mengartikan tulisan

      Dan masih banyak lagi kata dalam bahasa Indonesia yg berasal dari bahasa Sanskerta.

    Bangsa Arya dan Kisah Peradabannya – Perjalanan Cinta said:
    Januari 30, 2018 pukul 6:36 am

    […] Ya. Sejak saat itulah bangsa Arya pun terbagi menjadi dua. Dan khusus yang hidup di kawasan selatan, maka jika di wilayah Iran-Iraq mereka memakai bahasa Avestan atau Parsua (Persia), maka di India mereka memakai bahasa Sanskerta. Keduanya memiliki akar bahasa yang sama. Karena itulah ada banyak kemiripan dalam tata bahasanya. Terbukti dari ayat-ayat yang terdapat di dalam kitab Zend-Avesta dalam agama Zoroaster dan kitab Weda dalam agama Hindu. [baca: Bahasa Sanskerta dan keunggulannya] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s