Keangkuhan Diri

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Cobalah kita bertanya tentang siapakah yang paling angkuh di dunia ini? Renungkanlah dengan seksama dan penuh penghayatan. Lakukan dengan tidak hanya sekali. Niscaya kita akan menyadari bahwa yang paling sombong itu adalah diri kita sendiri. Tak ada yang mustahil disini. Hanya saja tidak banyak yang bisa merasakannya, bahkan tidak peduli sama sekali.

Nah, sikap yang tidak lagi peduli dengan kesadaran diri ini sudah pasti akan menunjukkan ego yang tinggi dari seseorang. Selanjutnya hal ini bisa meningkatkan keangkuhan dalam dirinya. Dan ketika terus menerus di lakukan, maka akan meruntuhkan kebaikan dalam hatinya pula. Ia lalu hidup dalam kenistaan yang tak bertepi dan pembangkangan diri yang semakin keterlaluan. Dan sayangnya hal yang seperti ini tak pernah ia sadari. Bahkan terus dipupuk setiap harinya.

Itulah salah satu dampak buruk dari sikap yang tidak mau sering menginstropeksi diri sendiri. Begitu banyak pribadi yang sukanya menilai orang lain, sehingga lupa dengan keadaan dirinya sendiri. Padahal jangan pernah mengabaikan ego yang bahkan sering tak disadari keberadaannya. Ketika ia muncul di dalam hati dan pikiran seseorang walau sebentar, maka tanpa merenung ke dalam diri sendiri (muhasabah) dengan serius, siapapun takkan mengetahuinya dengan jelas. Bila ini sampai terjadi terus menerus, siapapun akan larut dalam keangkuhan diri tanpa disadari. Semakin lama akan menjadikan hatinya bertambah keras dan akhirnya sampai membatu. Mirip Fir’aun dan Namrud yang terkenal dengan kesombongannya itu.

Lantas apakah dengan segala keburukannya itu Fir’aun dan Namrud tidak kaya dan tidak punya jabatan? Justru mereka punya semua yang hampir tidak bisa dimiliki oleh siapapun. Tapi apakah itu ada artinya? Apakah itu baik dan membawa keselamatan bagi diri mereka? Jawabannya tidak. Karena dengan kelalaian dan keangkuhan itu, baik Fir’aun atau pun Namrud sama-sama tidak selamat. Keduanya memang punya kedudukan yang tinggi, namun tanpa ada kemuliaannya. Mereka pun memiliki harta dan kekayaan yang sangat berlimpah, tapi tak ada satupun yang bisa menyelamatkan dirinya dari azab Tuhan. Di dunia ini mereka mati mengenaskan (Fir’aun mati karena tenggelam di lautan, sementara Namrud mati oleh seekor nyamuk), lalu di akherat nanti harus menerima hukuman yang teramat perih. Semuanya adalah balasan yang setimpal bagi mereka, sebab mereka sendiri telah bersikap angkuh dalam kehidupannya.

Lalu bagaimana dengan diri kita? Bukankah kita masih sering terlupa diri karena sibuk menilai orang lain. Tidakkah kita masih sering menganggap sepele dan malas-malasan tentang kebajikan dalam hidup ini? Atau justru merasa sudah mulia dan mendapatkan jaminan di akherat nanti lantaran hidup dalam kesuksesan dan punya harta yang berlimpah atau kedudukan yang tinggi? Kita pun sering lupa untuk taat kepada-NYA dan ber-muhasabah internal (instropeksi ke dalam diri sendiri), sehingga kesombongan hati kian mengakar di dalam jiwa. Dan kita juga lalai untuk terus belajar; yaitu belajar untuk menjadi seorang murid yang baik di hadapan Sang Guru. Atau berusaha untuk bisa hidup dalam kerendahan hati (tawadhuk) dan hanya sibuk dalam memperbaiki diri. Jika beramal bukan untuk diri kita, jika beribadah pun tidak untuk diri sendiri saja. Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas hanya untuk-NYA.

Untuk itu, apalagi yang mau kita cari kalau bukan ridha Ilahi? Apalagi yang ingin kita capai selain kedekatan dengan DIRI-NYA? Dan apa pula yang lebih baik selain ketundukan diri kita kepada-NYA? Dunia ini hanyalah sementara dan sekedar senda gurau belaka. Tak perlulah kita berlebihan dalam menikmatinya. Cukuplah dengan apa yang kita butuhkan saja, bukan apa yang kita inginkan. Dan ada baiknya kita justru sibuk dalam memperbaiki diri, banyak instrospeksi diri (muhasabah), dan terus menyiapkan bekal kehidupan selanjutnya. Ajak pula kerabat dan sahabat dalam hidup yang wajar dan tetap rendah hati (tawadhuk). Perbanyaklah rasa syukur dan jangan pernah untuk tidak berserah diri (tawakal) kepada-NYA. Dengan begitu, semoga kita terhindar dari hal-hal yang tidak baik dan bisa mendatangkan malapetaka.

Semoga kita di antara para hamba-Nya yang selamat dan beruntung. Rahayu.. _/|\_

Jambi, 01 Januari 2018
Harunata-Ra

Iklan

4 respons untuk ‘Keangkuhan Diri

    Tufail said:
    Januari 9, 2018 pukul 7:38 am

    Salamun’alaikum Harunata-Ra. Semoga kita selalu dalam naungan dan kasih sayang-Nya.

    Kangen juga saya udah lama kita gag bersua & hanya bisa didalam kolom ini sj… 😁. Kemarin” saya melakukan perjalanan kira” bahasa jaman now mah kurang piknik/pakansi… 😀 banyak sekali malah kurangnya. Alhamdulillah saya bisa menjejakkan kaki ke Bromo, lantas beberapa minggu ke pulau Dewata sempat mampir beberapa hari ke Banyuwangi niat hati ingin ke kawah Ijen ternyata kesiangan jalur pendakian sudah ditutup, kurang beruntung Insya Allah semoga masih diberi waktu jg kesempatan ingin sekali lagi kesana, dan memang dari kesemuanya hanya atas izin dan kehendakNya pula saya bisa melakukan perjalanan tsb niatnya mah udah kapan tahu baru dikasih kemarin” kesempatannya. Tapi walau bagaimanapun saya masih iri dgn saudara Harun yang melakukan banyak sekali perjalanan ditambah pengalaman spektakuler banyak hal yg diluar nalar & juga imajinasi saya… 😬 😆 kalau diperkenankan ngetrip menjelajah lagi & masih ada bangku kosong jangan segan” untuk mengajak… 😬😁

    Ngeri memang saya pribadi kadang suka bingung sering dikata sombong terlebih sekira dua tiga tahun belakangan saya sudah menarik diri dari lingkungan bisa dikata sangat jarang sekali nangkring di warung ato tempat lainnya, dg begitu saya hanya bilang malu “era geus kolot” krn dari SD hidup saya udh nangkring/nongkrong…😀
    Salam.
    Rahayu… 🙏

      oedi responded:
      Januari 10, 2018 pukul 12:58 am

      Rahayu kang Tufail.. 🙂
      Hmm udah mau berkunjung dan baca2 lagi di blog ini aja udah senang kok kang.. nuhun, moga ttp bermanfaat.. 🙂
      Wah enak yah bisa jalan2 di byk tempat.. tentu byk hal baru yg didapatkan disana.. Kalo saya mah apalah kang, baru dikit bgt kok tempat yg pernah di kunjungi.. skr malah udah lama juga sih gak ber-adventure ria hehe.. 😀
      Tentang kesendirian, kalo saya justru skr ini sgt dibutuhkan.. karena dg menyendiri kita bisa lebih tau yg terbaik utk diri kita sendiri.. orang lain mah masa bodo.. yg penting kan kita gak ada niatan utk sombong n memutus silaturahim dg mrk.. 🙂

        Tufail said:
        Januari 10, 2018 pukul 3:40 am

        Betul sekali karena kalau tidak salah Iblis itu dikutuk sama Hyang Aruta bukan karena Mabok, Judi ataupun Zina bahkan dulunya bagian dari makhluk” yg soleh.
        Kalau ada rencana adventure bolehlah kalau berkenan ajak”… 😁 😆
        Semoga segala niat baik dan pikiran positif yang ada pada kita tak kan pernah sirna, juga Hyang Aruta berkenan selalu menuangkan rahmat dan keselamatan baik di dunia maupun di akherat nanti.
        Salam.
        Rahayu. 🙏

        oedi responded:
        Januari 14, 2018 pukul 4:03 am

        Iya kang, kesombonganlah yg bikin dia atau siapapun jatuh dalam kehinaan.. Karena itulah, Ayahanda Adam AS pernah berpesan bahwasanya kesombongan itu adalah akar dari semua dosa.

        Siaaap.. Ntar kalo bisa akan saya kabari kang.. Pengen ber-adventure lagi, tapi masih blm bisa.. Masih ada tugas yg kudu diselesaikan dulu.. 🙂

        Aamiin.. Semoga kita selalu dlm lindungan dan limpahan karunia-Nya.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s