Kerajaan Salakanagara dan Keturunannya

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Dalam setiap pembahasan tentang kerajaan-kerajaan yang muncul di era tarikh Masehi, khususnya di tanah Jawa, Sumatera dan Kalimantan, maka tidaklah bijak jika kita tidak mengaitkannya dengan kerajaan Salakanagara. Kerajaan kuno ini bisa dikatakan sebagai asal-usul dari banyak kerajaan besar yang pernah ada di kawasan barat Nusantara. Memang ada banyak distorsi sejarah disini, bahkan ada yang menganggapnya sebagai mitos belaka. Namun begitu kami akan tetap mencoba untuk menjelaskannya sebisa mungkin, yang disarikan dari berbagai sumber dan diskusi. Tujuannya hanya untuk membuka cakrawala pikiran kita tentang jati diri bangsa ini.

Untuk lebih jelasnya mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Asal usul kerajaan
Berdasarkan naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa I sarga 1, yang di tulis oleh Pangeran Wangsakerta, maka diriwayatkanlah sebagai berikut:

/jwah tambaya ping prathama sa kawarsa riking wus akweh wwang bharata nagari tekan jaruadwipa mwang nusantara i bhumi nusantara// denira pramanaran dwipantara nung wreddhi prethiwi// pantara ning sinarung teka n jawadwipa/ hana nupakriya wikriya/ hansing mawarah marahaken sanghyang agama/ hanasing luputaken sakeng bhaya kaparajaya/ ya thabhuten nagarinira/ mwang moghangde nikang agong panigit ring nusa nusa i bhumi nusantara//

Terjemahannya:
“Kelak, mulai awal pertama tahun Saka disini telah banyak orang orang negeri Bharata (India) tiba di Pulau Jawa dan pulau pulau di bumi Nusantara. Karena Nusantara terkenal sebagai tanah yang gembur. Di antara mereka, yang tiba di Pulau Jawa, ada yang berdagang dan mengusahakan pelayanan, ada yang mengajarkan Sanghyang Agama (ajaran agama), ada yang menghindarkan diri dari bahaya yang akan membinasakan dirinya, seperti yang telah terjadi di negeri asalnya, yang menyebabkan mengungsi ke pulau-pulau di bumi Nusantara”

Jadi, karena mereka semua mengharapkan kesejahteraan hidupnya bersama anak isterinya, terutama para pedagang dan pendatang, banyak yang berasal dari wangsa Calankayana, wangsa Saka dan wangsa Pallawa di bumi negeri Bharata (India). Dua wangsa inilah yang sangat banyak berdatangan disini (pulau Jawa), dengan menaiki beberapa puluh perahu besar kecil. Mereka yang dipimpin oleh Sang Dewawarman ini mula-mula tiba di Jawa Kulwan (Barat) dengan tujuan untuk berdagang dan mengusahakan pelayanan. Mereka sering datang kesini, dan saat kembali mereka lalu membawa rempah-rempah ke negerinya. Disini, Sang Dewawarman telah bersahabat dengan warga masyarakat di pesisir Jawa Kulwan (Barat), Agni Nusa (Pulau Api) dan Pulau Sumatera sebelah selatan. Terlebih Sang Dewawarman juga sebagai duta dari wangsa Saka di tanah India.

Permulaan pertama tahun Saka, di pulau-pulau Nusantara telah banyak golongan warga masyarakat yang menjadi pribumi di tiap dusun. Di antaranya ada yang bermusuhan, ada juga yang berkasih-kasihan, berbimbingan tangan. Dukuh itu ada yang besar, ada yang kecil. Dukuh besar ada di tepi laut, atau tidak jauh dari muara sungai. Selang berapa lama kemudian berdatanganlah orang lain atau yang dari wilayah lain. Terutama pedagang dari negeri Bharata (India), negeri Singhala (Sri Langka), negeri Gaudi (Bangladesh), negeri China dan sebagainya.

Dan ramailah kemudian dukuh-dukuh di tepi laut. Dengan demikian, ramai pula perdagangan antara pulau-pulau di bumi Nusantara dengan negara lain dari benua utara sebelah barat dan timur. Tetapi, yang banyak datang dari negeri Bharata (India). Golongan pendatang dari negeri Bharata (India) itu dipimpin oleh Sang Dewawarman, tiba di dukuh pesisir Jawa Kulwan (Barat). Para pendatang itu bersahabat dengan penghulu dukuh dan warga masyarakat disini. Adapun penghulu atau penguasa wilayah pesisir Jawa Kulwan (Barat) sebelah barat, namanya terkenal, yaitu Aki Tirem atau Sang Aki Luhur Mulya namanya yang lain. Selanjutnya, puteri Sang Aki Luhur Mulya, namanya terkenal Pwahaci Larasati (Pohaci Larasati), diperisteri oleh Sang Dewawarman. Dewawarman ini, disebut oleh mahakawi (pujangga besar) sebagai Dewawarman pertama. Ia yang mendirikan kerajaan Salakanagara sekitar tahun 52 Saka atau 130 Masehi.

Akhirnya semua anggota pasukan Dewawarman menikah dengan wanita pribumi. Oleh karena itu, Dewawarman dan pasukannya tidak ingin kembali ke negerinya. Mereka menetap dan menjadi penduduk disitu, lalu mereka beranak pinak. Beberapa tahun sebelumnya, Sang Dewawarman menjadi duta keliling negaranya (wangsa Saka) untuk negeri-negeri lain yang bersahabat, seperti kerajaan-kerajaan di Ujung Mendini, Bumi Sopala, Yawana, Syangka, China, dan Abasid (Mesopotamia), dengan tujuan mempererat persahabatan dan berniaga hasil bumi, serta barang-barang lainnya.

Lalu, tatkala Aki Tirem sakit, sebelum meninggal ia menyerahkan kekuasaannya kepada sang menantu. Dewawarman tidak menolak diserahi kekuasaan atas daerah itu, sedangkan semua penduduk menerimanya dengan senang hati karena tahu karakter dan kemampuan yang dimilikinya. Demikian pula para pengikut Dewawarman, karena mereka telah menjadi penduduk disitu, lagi pula banyak di antara mereka yang telah mempunyai anak, mereka pun setuju.

Setelah Aki Tirem wafat, Sang Dewawarman menggantikannya sebagai penguasa disitu, dengan nama penobatannya yaitu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara, sedangkan isterinya Pohaci Larasati langsung menjadi permaisuri, dengan nama penobatannya yaitu Dewi Dwanu Rahayu. Sang Dewawarman lalu mendirikan kerajaan yang diberi nama Salakanagara (salaka = perak, nagara = negara, sehingga berarti negara penghasil perak yang berlimpah). Ini terjadi pada sekitar tahun 52 Saka atau 130 Masehi.

Daerah kekuasaan Salakanagara, meliputi Jawa Kulwan bagian barat dan semua pulau di sebelah barat Nusa Jawa. Laut di antara pulau Jawa dengan Sumatera, masuk pula dalam wilayahnya. Oleh karena itu, daerah-daerah sepanjang pantainya, dijaga oleh pasukan Sang Dewawarman, sebab jalur ini merupakan gerbang laut. Perahu-perahu yang berlayar dari timur ke barat dan sebaliknya harus berhenti dan membayar upeti kepada kerajaan Salakanagara. Dan pelabuhan-pelabuhan yang ada di pesisir barat Jawa Kulwan (barat), Nusa Mandala (sekitar pulau Panaitan), Nusa Api (Krakatau), dan pesisir Sumatera bagian selatan, dijaga ketat oleh pasukan Sang Dewawarman.

Wangsa Dewawarman akhirnya memerintah di bumi Jawa Kulwan (barat), dengan kerajaan bernama Salakanagara dan ibukotanya di Rajatapura (Kota Perak). Konon kota Rajatapura inilah yang disebut Argyre oleh Claudius Ptolemeus dalam tahun 150 Masehi. Sebuah kota yang terletak di daerah Teluk Lada Pandeglang, Banten. Filosof Yunani ini juga merupakan seorang ahli bumi (geografi). Ia lalu menyebutkan sebuah negeri bernama Argyrè yang terletak di wilayah Timur Jauh. Negeri ini terletak di ujung barat pulau Labodio (Papua) yang selalu dikaitkan dengan Yawadwipa yang kemudian juga di asumsikan sebagai pulau Jawa. Argyrè sendiri berarti perak yang kemudian ”diterjemahkan” oleh para ahli sebagai Merak (wilayah pelabuhan di Banten) di masa sekarang.

Kota besar lainnya lagi, Agrabhintapura (Tanjung Kidul), ada di wilayah sebelah selatan. Agrabhintapura ini dipimpin oleh raja daerah yang bernama Sweta Limansakti. Ia merupakan adik dari Sang Dewawarman sendiri. Sedangkan adiknya yang lain, yang bernama Senapati Bahadura Harigana Jayasakti, di angkat menjadi raja daerah penguasa mandala Hujung Kulon.

2. Tentang asal usul dari Aki Tirem, mertuanya Dewawarman I
“…/ hana pwa sang panghulu athawa pangamasa mandala pasisir Jawa Kalwan / bang kulwan ika prarrucnaran aki tirem athawa sang aki luhunnulya ngaranira waneh //”

Artinya: Adapun penghulu atau penguasa wilayah pesisir barat Jawa Barat sebelah barat, namanya Aki Tirem atau Sang Aki Luhur Mulya nama lainnya.

Selanjutnya, dalam naskah Wangsakerta itu disebutkan pula tentang silsilah dari leluhur Aki Tirem, yaitu:

“Aki Tirem putera dari Ki Srengga namanya. Ki Srengga adalah putera dari Nyai Sariti Warawiri namanya. Nyai Sariti puteri dari Sang Aki Bajukpakel namanya. Sang Aki Bajulpakel putera dari Aki Dungkul namanya, ia dari Swarnabhumi sebelah selatan dan kemudian berdiam di Jawa Barat sebelah barat. Selanjutnya Aki Dungkul putera dari Ki Pawang Sawer namanya, yang berdiam di Swarnabhumi sebelah selatan. Ki Pawang Sawer putera dari Datuk Pawang Marga namanya, yang berdiam di Swarnabhumi sebelah selatan. Datuk Pawang Marga putera dari Ki Bagang namanya, yang berdiam di Swarnabhumi sebelah utara. Ki Bagang putera dari Datuk Banda namanya, yang berdiam di dukuh di tepi sungai. Datuk Bagang putera dari Nesan namanya, yang berdiam di wilayah Langkasuka (Thailand selatan). Sedangkan nenek moyang-nya itu berasal dari negeri Yawana (di wilayah India barat) sebelah barat”

Sezaman dengan kehidupan Aki Tirem, maka ada tiga kerajaan di sekitar Jawa bagian barat. Kerajaan itu bahkan masih berhubungan dekat dengan Sang Aki Tirem sendiri. Adapun di antaranya yaitu:

1) Agni Nusa (negera api)
Nama resminya adalah Mandala Agni Nusa. Mandala Agni Nusa atau negara api adalah kerajaan kecil di tempat yang kini dikenal sebagai gugus kepulauan Krakatau, di Selat Sunda. Disebut Negara Api karena memang di pulau itu ada gunung berapi Krakatau yang senantiasa aktif sepanjang zaman. Kerajaan ini mendului kerajaan Salakanagara yang didirikan oleh Sang Dewawarman I. Namun di abad ke-2 Masehi, Dewawarman I selaku raja Salakanagara saat itu, mempersatukan wilayah kerajaan Agni Nusa ke dalam wilayah kerajaan Salakanagara.

2) Jampang Manggung
Kerajaan ini didirikan oleh Aki Sugiwanca yang tiada lain adalah adik kandung dari Aki Tirem sendiri, mertua Dewawarman I. Kerajaan Jampang Manggung ini terletak di sekitar kaki gunung Manangel, kecamatan Cianjur-Jawa Barat sekarang.

3) Nusa Mandala
Kerajaan ini merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu, yang berkedudukan di pulau Sangeang. Tidak jelas mengenai asal-usul dan kisah dari kerajaan ini.

Selain itu, masih di sekitar awal abad Masehi, ada beberapa kerajaan lain yang berada di sekitar Jawa bagian barat sekarang. Seperti:

1). Hujung Kulwan (Hujung Kulon)
Kerajaan ini berkedudukan di Ujung Kulon, Pandeglang-Banten. Berdiri sekitar abad 2 Masehi dengan wilayah kekuasaan sekitar kabupaten Pandenglang sekarang. Kerajaan ini merupakan kerajaan kecil yang menjadi bawahan dari Salakanagara. Pada tahun 368 Masehi, pamor Salakanagara pun menurun, akibatnya kerajaan Salakanagara dan Hujung Kulon menjadi bawahan kerajaan Tarumanagara.

Raja pertama dari kerajaan ini bernama Senapati Bahadura Harigana Jayasakti, adiknya Dewawarman I. Sementara adik dari Dewawarman I yang lainnya yaitu Sweta Liman Sakti di angkat menjadi raja daerah Tanjung Kidul dengan ibukotanya Aghrabintapura. Tidak diketahui banyak mengenai kerajaan Hujung Kulon ini. Kecuali kelak ada salah satu rajanya yang terkenal yang bernama Darma Satyanagara menikahi Tirta Lengkara, puteri sulung Dewawarman III. Sepeninggal mertuanya itu, Darma Satyanagara akhirnya menjadi raja Salakanagara dengan gelar Dewawarman IV (160-174 Saka/238-252 M).

2) Tanjung Kidul (Aghrabintapura)
Kerajaan ini didirikan oleh Prabu Sweta Liman Sakti, adik kandung dari Dewawarman I. Kerajaan ini sezaman dengan Aki Sugiwanca dari kerajaan Jampang Manggung yang tak lain adalah adik kandung dari Aki Tirem, mertua Dewawarman I. Lokasi kerajaan ini disebut pulau Panaitan, sebuah pulau yang langsung berhubungan dengan Selat Sunda – yang bernama pulau Peucang, luasnya sekitar 17.500 Ha – termasuk kawasan pelestarian suaka alam taman nasional Ujung Kulon sekarang.

3) Jayasinghapura
Kerajaan ini adalah penerus dari kerajaan Salakanagara yang berdiri sejak tahun 340 Masehi. Beribukota di Jasinga, sekitar Bogor bagian barat sekarang. Raja yang paling terkenal adalah Darmawirya alias Dewawarman VIII. Kemungkinan besar pusat kerajaan ini adalah cikal bakal untuk ibukota kerajaan Tarumanagara. Wilayah kerajaan ini berada di sekitar Sajira di sebelah barat, Tanggerang di sebelah utara, Bayah di sebelah selatan, dan Cikaniki di sebelah timur. Sedangkan pendiri dari kerajaan Jayasingapura ini adalah Wirasinga. Tentang nama ibukotanya Jasinga adalah pemberian dari Sang Hyang Mandiri yang sekaligus menobatkan Wirasinga sebagai penguasa baru di Jasinga.

4) Aruteun (Holotan)
Kerajaan ini berlokasi di Jakarta sekarang. Pada tahun 430, 433, 434 dan 452 Masehi, kerajaan ini pernah mengirimkan utusan ke Tiongkok untuk meminta bantuan atas gangguan dari kerajaan tetangganya (Tarumanagara). Tapi apa daya, kerajaan ini justru akhirnya takluk kepada kerajaan Tarumanagara di tahun 452 Masehi. Sejak saat itu, kerajaan Aruteun (Holotan) menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara.

3. Kisah keturunan Prabu Dewawarman I
Selama berdiri, kerajaan Salakanagara ini pernah dipimpin oleh 9 orang raja. Semuanya masih anak keturunan atau kerabat dekat dari pendiri kerajaan (Dewawarman I). Dan dari raja pertamanya, yaitu Prabu Dewawarman I, maka akan menurunkan raja-raja di Nusantara, khususnya di tanah Jawa, Sumatera, Madura, Bali, Lombok dan Kalimantan.

Nah, untuk lebih jelasnya, mari ikuti penelusuran garis keturunan (silsilah) dari setiap raja-raja yang pernah memimpin kerajaan Salakanagara itu. Darinya kita pun bisa mengetahui jejak silsilah raja-raja lainnya, yang sampai kepada raja-raja di kerajaan Tarumanagara, Bakulapura (Kutai Martadipura), Indraprahasta, Kendan-Galuh, Medang (Mataram), Sriwijaya, Malayu, Dharmasraya, Kalingga, Jenggala-Kahuripan, Daha-Kadiri, Singhasari, Pajajaran dan akhirnya Majapahit. Berikut ini penelusurannya:

Dewawarman I alias Prabu Darmalokapala Aji Raksa Gapura Sagara (52-90 Saka/130-168 M) yang berasal dari kerajaan wangsa Saka, India selatan, menikah dengan Dewi Pohaci Larasati (putri Aki Tirem), menurunkan Digwijayakasa Dewawarmanputra alias Dewawarman II (90-117 Saka/168-195 M).

Dewawarman II menikah dengan putri keluarga raja Singhala (Sri Langka). Dari pernikahan itu melahirkan Prabu Singasagara Bimayasawirya alias Dewawarman III (117-160 Saka/195-238 M). Dalam masa pemerintahannya terjadi serangan bajak laut dari negeri China yang dapat dihadapi dan ditumpasnya. Dewawarman II lalu melakukan huhunean (painitran: perjanjian) dengan Maharaja China dan raja-raja di India.

Dewawarman III menikah dengan seorang putri dari Jawa Tengah. Dari pernikahan itu lahir putri tertua mereka yang bernama Tirta Lengkara. Ia lalu menikah dengan raja dari kerajaan Hujung Kulwan (kulon) bernama Darma Satyanagara. Kelak ia menggantikan mertuanya sebagai penguasa Salakanagara bergelar Dewawarman IV (160-174 Saka/238-252 M).

Dari perkawinan antara Dewawarman IV dan Tirta Lengkara, maka lahirlah putri sulung yang bernama Mahisa Suramardini Warmandewi. Bersama suami yang bernama Darmasatyajaya atau yang bergelar Dewawarman V, ia memimpin kerajaan Salakanagara selama 24 tahun (174-198 Saka/252-276 M).

Ketika Dewawarman V yang merangkap sebagai Senopati Sarwajala (panglima angkatan laut) gugur dalam perang menghadapi serangan bajak laut, sang Rani Mahisa Suramardini Warmandewi melanjutkan pemerintahannya seorang diri sampai tahun 211 Saka (289 M). Walau saat itu gerombolan bajak laut dapat di tumpas, tapi Dewawarman V gugur karena di panah dari belakang.

Penguasa Salakanagara berikutnya adalah Prabu Ganayanadewa Linggabumi, putera sulung dari Dewawarman V alias Sang Mokteng Samudera (yang mendiang di lautan). Prabu Ganayanadewa Linggabumi menjadi penguasa di Salakanagara sebagai Dewawarman VI selama 19 tahun (211-230 Saka/289-308 M). Lalu dari perkawinannya dengan seorang puteri India, ia mempunyai beberapa orang putra dan putri. Putera sulungnya, yang kemudian menjadi Dewawarman VII bernama Prabu Bima Didwijaya Satyaganapati. Ia memerintah Salakanagara dari tahun 230-262 Saka/308-340 Masehi. Anak yang kedua puteri bernama Salaka Kancana Warmandewi yang menikah dengan menteri kerajaan Gaudi (Benggala/Banglades) di India bagian Timur. Putri yang ketiga bernama Kartika Candra Warmandewi. Ia menikah dengan seorang raja muda dari Yawana. Lalu putera yang ke empat bernama Ghopala Jayengrana. Ia menjadi seorang menteri kerajaan Calangkayana, India selatan. Puteri yang kelima bernama Sri Gandari Lengkaradewi, yang menikah dengan seorang menteri panglima angkatan laut di kerajaan Pallawa, di India. Dan putera bungsu dari Dewawarman VII ini bernama Skandamuka Dewawarman Jayasatru. Ia kemudian menjadi senopati Salakanagara yang gagah berani.

Puteri sulung dari Dewawarman VII yang bernama Spatikarnawa Warmandewi kelak bersama suaminya menjadi penguasa Salakanagara. Dewawarman VII punya hubungan yang erat dengan kerajaan Bakulapura (cikal bakal kerajaan Kutai Martadipura) karena pertalian kerabat dengan permaisurinya. Kakak sang permaisurinya itu menikah dengan penguasa Bakulapura yang bernama Atwangga bin Sang Mitrongga bin Sri Gedongga. Mereka keturunan wangsa Sungga dari Magadha, India, yang pergi mengungsi tatkala negerinya dilanda oleh serangan musuh. Dari perkawinan kakak permaisuri ini dengan Atwangga, maka lahirlah Kudungga (kakek Mulawarman, pendiri Kutai Martadipura). Kudungga ini lalu menggantikan ayahnya; Atwangga bin Mitrongga bin Sri Gedongga menjadi penguasa Bakulapura. Kelak Kudungga digantikan oleh Aswawarman yang merupakan ayah dari Mulawarman (pendiri Kutai Martadipura).

Ketika Dewawarman VII wafat, tibalah di Rajatapura (ibukota kerajaan Salakanagara) seorang senopati yang bernama Krodamaruta dari Calankayana. Ia datang bersama beberapa ratus orang anggota pasukannya yang bersenjata lengkap. Krodamaruta adalah keturunan dari Dewawarman VI yang ke empat (Ghopala Jayengrana) yang telah menjadi meteri di kerajaan Wangga (Calankayana). Saat itu Krodamaruta langsung merebut kekuasaan dan tanpa menghiraukan adat istiadat dalam pergatian raja di kerajaan Salakanagara. Ia melakukan kudeta dan segera merajakan dirinya sendiri sebagai penguasa Salakanagara. Padahal saat itu ada pewaris tahta yang sah, yang bernama Spatikarnawa Warmandewi, putri sulung Dewawarman VII. Atas sikap Krodamaruta itu, tentu pihak kerajaan dan rakyatnya menjadi tidak suka. Dan ternyata Krodamaruta pun tak lama menjadi raja. Ia tewas saat berburu di hutan karena tertimpa batu besar yang berasal dari atas bukit. Akibat peristiwa itu, ia hanya menjadi raja selama 3 bulan saja. Dan akhirnya Spatikarnawa Warmandewi dinobatkan sebagai rani di kerajaan Salakanagara pada tahun 262 Saka (340 M).

Pada tahun 270 Saka, sang rani ini (Spatikarnawa Warmandewi) menikah dengan saudara sepupunya bernama Darmawirya, yang merupakan putera dari Sri Gandari Lengkaradewi (putri Dewawarman VI). Ia bersuamikan seorang panglima angkatan laut (senopati sarwajala) kerajaan Pallawa. Lengkaradewi beserta suami dan puteranya itu datang ke Rajatapura (ibukota kerajaan Salakanagara) pada tahun 268 Saka (346 M) sebagai pengungsi, karena negaranya telah dikuasai oleh Maharaja Samudragupta dari wangsa Maurya. Sang rani (Spatikarnawa Warmandewi) ini lalu bersama dengan suaminya, yang kemudian bergelar Dewawarman VIII itu memerintah di kerajaan Salakanagara sejak tahun 270-285 Saka (348-363 M).

Dewawarman VIII punya beberapa orang putra dan putri. Yang sulung adalah seorang puteri bernama Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi atau Dewi Minawati. Puteri yang sangat cantik ini kelak diperistri oleh Maharesi Jayasinghawarman Gurudarmapurusa atau Rajadirajaguru Jayasinghawarman, pendiri kerajaan Tarumanagara. Putera yang kedua bermana Aswawarman. Ia diangkat anak sejak kecil oleh Sang Kudungga, penguasa Bakulapura. Ia lalu dijodohkan dengan puteri Sang Kudungga dan dari pernikahan ini kemudian lahirlah Mulawarman, pendiri kerajaan Kutai Martadipura. Aswawarman ini kelak menjadi seorang raja dengan kekuasaaan yang besar di Bakulapura. Kekuasaan ini lalu diwariskan kepada putranya bernama Mulawarman, yang pada akhirnya justru mendirikan kerajaan Kutai Martadipura. Puteri yang ketiga bernama Dewi Indari yang kelak diperistri oleh Maharesi Santanu, raja Indraprahasta yang pertama (pendiri). Putera yang lainnya tinggal di Swarnadwipa (Sumatera) dan menurunkan raja-raja disana. Di antara keturunannya nanti adalah raja-raja yang ada di kerajaan Malayu dan Dharmasraya, hingga akhirnya sampai ke Dapunta Hyang Sri Jayanasa (pendiri Sriwijaya) dan Adityawarman (keturunan raja Dharmasraya) yang kemudian menjadi pendiri kerajaan Malayapura di daerah Sijunjung, Sumatera Barat. Anggota keluarganya yang lain tinggal di Yawana dan Samananjung. Sementara puteranya yang bungsu menjadi putra mahkota dan ia lalu menggantikan ayahandanya Dewawarman VIII sebagai raja Salakanagara dengan gelar Dewawarman IX. Akan tetapi saat itu ia harus menjadi bawahan dari raja di kerajaan Tarumanagara, karena kerajaan itu sudah menjadi besar dan sangat kuat.

Selain itu, permaisuri dari Dewawarman VIII itu ada dua orang. Yang pertama adalah Spatikarnawa Warmandewi yang menurunkan raja-raja di Jawa Barat (Tarumanagara, Indraprahasta, Kendan-Galuh, Pajajaran) dan Kalimantan (Bakulapura-Kutai Martadipura). Dan yang kedua yaitu bernama Candralocana (putri seorang brahmana dari Calankayana, India) yang kelak menurunkan raja-raja di tanah Sumatera (Malayu, Sribuja, Sriwijaya, Dharmasraya), Semananjung, Jawa Tengah (Kalingga, Medang). Lalu khusus dari kerajaan Medang, maka trah Prabu Dewawarman tetap diteruskan sampai ke raja-raja di kerajaan Kahuripan, Kadiri, Singhasari dan Majapahit. Sedangkan pendiri Majapahit sendiri, yaitu Raden Wijaya, adalah keturunan langsung dari dua kerajaan besar, yaitu Singhasari dan Galuh. Ayahnya yang bernama Rakryan Jayardama adalah seorang putra mahkota di kerajaan Galuh, karena ia adalah anak dari Prabu Guru Darmasiksa (raja ke-22 kerajaan Galuh). Sementara ibunya seorang putri di kerajaan Singhasari lantaran masih keturunan langsung dari Sri Rajasa Sang Amurwabhumi (pendiri kerajaan Singhasari).

Catatan: Menurut hemat kami, siapapun yang menjadi pemimpin besar Nusantara nanti, yang akan membangkitkan kejayaan negeri ini lagi, maka ia berasal dari garis keturunan raja-raja di kerajaan Salakanagara. Dan tidak menutup kemungkinan pula bahwa sosok tersebut masih terhubung langsung dengan penguasa Salakanagara melalui jalur silsilah raja-raja di kerajaan Majapahit -> Singhasari + Galuh-Kendan -> dan Tarumanagara. Dan tidak menutup kemungkinan juga bila di dalam dirinya mengalir darah raja-raja di kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura, Kalingga, Sriwijaya, Medang, Kahuripan, Kadiri, Dharmasraya, dan Pajajaran. Sang pemimpin besar itu memang terpilih, berasal dari keturunan yang terbaik, namun selalu tersembunyi sebelum waktu kemunculannya. Tak ada yang menyadari bahwa ia masih keturunan bangsawan yang terhormat.

4. Daftar raja-raja
Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah daftar raja-raja yang pernah memimpin kerajaan Salakanagara, yang dimulai dari Dewawarman I sampai ke Dewawarman IX, dan keturunanya. Yaitu:

1. Dewawarman I alias Prabu Darmalokapala Aji Raksa Sagara (52-90 Saka/130-168 M).
2. Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra alias Dewawarman II (90-117 Saka/168-195 M) -> putera sulung Dewawarman I.
3. Prabu Singasagara Bimayasawirya alias Dewawarman III (117-160 Saka/195-238 M) -> Putra sulung Dewawarman II.
4. Tirta Lengkara (Puteri sulung Dewawarman III) >< Darma Satyanagara alias Dewawarman IV (160-174 Saka/238-252 M).
5. Mahisa Suramardini Warmandewi (puteri sulung Tirta Lengkara dan Dewawarman IV) >< Darmasatyajaya alias Dewawarman V (174-198 Saka/252-276 M). Selanjutnya ia (Mahisa Suramardiri Warmandewi) memimpin kerajaan dari 174-211 Saka (252-289 M).
6. Prabu Ganayanadewa Linggabumi alias Dewawarman VI (211-230 Saka/289-308 M) -> putera sulung dari Dewawarman V.
7. Prabu Bima Didwijaya Satyaganapati alias Dewawarman VII (230-262 Saka/308-340 M) -> putera sulung dari Dewawarman VI.
8. Salaka Kancana Warmandewi alias Spatikarnawa Warmandewi (puteri sulung Dewawarman VII. Memerintah dari tahun 262-270 Saka/340-348 M) >< Darmawirya alias Dewawarman VIII (270-285 Saka (348-363 M).
9. Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi atau Dewi Minawati (puteri sulung Dewawarman VIII) -> puteri sulung Dewawarman VIII. Ia menikah dengan Maharesi Jayasinghawarman Gurudarmapurusa atau Rajadirajaguru Jayasinghawarman (raja pendiri kerajaan Tarumanagara). Dari sinilah maka garis keturunan Prabu Dewawarman I akan di teruskan sampai ke raja-raja di kerajaan Kendan-Galuh, Kalingga, Sriwijaya, Medang, Dharmasraya, Jenggala-Kahuripan, Daha-Kadiri, Singhasari, Pajajaran dan Majapahit.
10. Aswawarman (putera kedua Dewawarman VIII. Ia jadi menantu Maharaja Kudungga, raja Bakulapura) -> Ia lalu menjadi raja di kerajaan Bakulapura (di Kalimantan Timur), dan sekaligus ayah dari Mulawarman (pendiri kerajaan Kutai Martadipura).
11. Dewi Indari (puteri ketiga Dewawarman VIII) -> Ia menikah dengan Maharesi Santanu, pendiri kerajaan Indraprahasta.
12. Putera yang lainnya tinggal di Swarnadwipa (Sumatera) dan menurunkan raja-raja disana. Di antara keturunannya nanti adalah raja-raja yang memimpin di kerajaan Malayu dan Dharmasraya, hingga akhirnya sampai kepada Dapunta Hyang Sri Jayanasa (pendiri Sriwijaya) dan Adityawarman yang kemudian menjadi pendiri kerajaan Malayapura (Pagaruyung) di daerah Sijunjung, Sumatera Barat.
13. Putera bungsu menjadi putra mahkota dan menggantikan ayahnya yaitu Dewawarman VIII sebagai Dewawarman IX pada tahun 285 Saka (363 M) -> disini ia hanya menjadi raja bawahan dari kerajaan Tarumanagara. Salakanagara saat itu hanyalah kadipaten dari kerajaan Tarumanagara.

5. Penutup
Demikianlah sejarah dan kisah dari keturunan Prabu Dewawarman I di kerajaan Salakanagara. Kerajaan ini menjadi cikal bakal dari banyak kerajaan besar yang pernah ada di Nusantara, khususnya yang berada di pulau Jawa, Sumatera, Bali, Lombok dan Kalimantan. Dari Prabu Dewawarman I dan Dewi Pohaci Larasati itulah, maka semua pemimpin terbaik itu berasal, semua kerajaan itu bisa berdiri. Hingga pada akhirnya sampailah pada raja-raja di kerajaan Wilwatikta (Majapahit), khususnya pada diri Prabu Wijaya (pendiri kerajaan) untuk meneruskannya. Di masa kerajaan inilah, keturunan dari Prabu Dewawarman (wangsa Warman) mencapai puncak kejayaannya. Kerajaan yang mereka bangun menjadi yang terbesar di Nusantara.

Dan kini, meskipun kerajaan Majapahit sudah lama runtuh, namun keturunan dari Prabu Dewawarman I dan Dewi Pohaci Larasati itu masih tetap ada. Mereka masih berasal dari garis silsilah yang sama, khususnya dari kesultanan Mataram Islam, melalui garis Danang Sutowijoyo alias Panembahan Senopati, pendiri kesultanan Mataram Islam. Dari Danang Sutowijoyo inilah; yang merupakan keturunan dari Pati Hudhara alias Brawijaya VIII (raja terakhir Majapahit), maka keturunan Prabu Dewawarman itu tetap ada hingga hari ini. Dan akan tetap ada sampai kembalinya kejayaan Nusantara lagi.

Semoga bermanfaat. Rahayu… _/|\_

Jambi, 26 Desember 2017
Harunata-Ra

Catatan akhir: Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber dan diskusi. Perlu adanya koreksi dan perbaikan.

29 respons untuk ‘Kerajaan Salakanagara dan Keturunannya

    rakeyan said:
    Januari 5, 2018 pukul 8:06 am

    Salam Mas Oedi(ku)…..

    Pertamax (komentar) nie Mas Oedi.
    Wedaran tentang Kerajaan Salakanagara dan Keturunannya (termasuk Resume / CATATAN Dia, Sang Terpilih) yg mantap & keren), acungan JEMPOL untuk Jenengan.
    Nuwun sewu… & Izinkan saya berkomentar (dan berbagi) di Artikel KERAJAAN SALAKANAGARA DAN KETURUNANNYA.

    Pada suatu waktu dalam MIMPI (Anugrah Ilahi) Saya dipertemukan & berdialog dgn DIA, SANG TERPILIH, ternyata apa yg di wedar di ARTIKEL ini, oleh Jenengan tentang Darah (DNA) Dia adalah benar, bahkan….. DIA ber DNA relatif komplit (menurut istilah Saya) Raja MhaResi; Raja Pandhita & Raja Wali (maksudnya Mha Resi yg menjadi Raja, dst…..), dimana DNA-nya pun tdk saja dari Nusantara, pun dari “Barat Jauh” dan “Utara Jauh” (menurut Istilah Saya, bhs tersirat krn terbentur SOP & TOR)).

    DIA, SANG TERPILIH tsb mengenal dgn baik Para Leluhur-nya, pun Para – para yg lain-nya, terklasifikasi dlm beberapa ring, terutama ring 1 (para top markotop di Zaman-nya masing2 yg ngaping-ngejaring), termasuk yg pernah menjadi PENGUASA TOP MARKOTOP SELUAS NUSANTARA (3 Era; Era Majapahit, Era XXXXXXX & Era Post Kemerdekaan/NKRI).

    Nama-nya & Sosok-nya pun dikenal (dirindukan & dinantikan ) di Alam Para Malaikat, Alam Para Sanghyang & Alam Para Jin (Saya menyederhanakan menjadi 3 Golongan Pokok), tetapi….. di Alam Manusia (mayoritas) belum dikenal, pun tidak dikenal, diabaikan & terabaikan (tersembunyi rapih di tempat terang/keramaian), mungkinkah krn belum waktu-nya…?

    Untuk menjadi PEMIMPIN (PENGUASA) di Nusantara ini ada (paling tidak) 2 HAL SYARAT PEMBEDA (selain persyaratan lain-nya yang sudah standard, yang telah baku & legal), yaknik : “SENSE of ART” (Seninya Memimpin, termasuk Finishing touch) & ”POWER from GOD (Legitimasi), “ yg harus di miliki demi & untuk KELANCARAN & KEBERLANJUTAN, ESTETIKA & KEMANFAATAN, BENTENG & BULLDOZER serta KEBERHASILANNYA, tanpa ke 2 hal tsb akan sangat sulit & kesulitan menghadapi (melawan & menundukan) INTERN (pun EXTERN) para Oportunis, para Hipokrit, para Durjana, para Sengkuni & para Brutus, karena….. ia, dia dan mereka itu telah EKSIS lebih dulu, dgn SDM yg mumpuni, PENGARUH & KEKUASAAN yg telah menancap & mengakar, dgn PERENCANAAN (SKENARIO) & AKSESIBILITAS yg aduhai, pun SPIRITUALITAS yg di atas rata-rata, bahkan….. PENDANA-AN YG UNLIMITED..

    Oleh karena itulah kenapa GUSTI ALLAH SWT menurunkan Ksatrya Piningit (Saya menyebut-nya Sang PROTAGONIS dan/atau WISANGGENI era modern), “PUTRA IBU PERTIWI & BAPAK LANGIT” (Tanda kutip; Personafikasi, Manifestasi & Representatif).
    Nama-nya dikenal (pun dirindukan & dinantikan ) di Alam Para Malaikat, Alam Para Sanghyang & Alam Para Jin (Saya menyederhanakan menjadi 3 Golongan Pokok), tetapi….. di Alam Manusia (mayoritas) belum dikenal, pun tidak dikenal, diabaikan & terabaikan (tersembunyi rapih di tempat terang/keramaian), mungkinkah krn belum waktu-nya…?

    Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti
    Matur nuwun & Selamat berakhir pekan.

    Rahayu Sagung Dumadi,

      oedi responded:
      Januari 5, 2018 pukul 2:12 pm

      Salam juga mas Rakeyan, terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat.. 🙂

      Wah silahkan aja mas, dengan senang hati kok.. makasih juga loh sudah mau berbagi disini.. Wedaran yang bagus dan saya mendukung itu semua.. Secara saya juga pernah membahas secara khusus ttg sosok terpilih itu dalam bbrp artikel sebelumnya. Kalo mau silahkan baca di link ini: https://oediku.wordpress.com/2015/05/12/sang-avatar-nusantara/ dan https://oediku.wordpress.com/2015/06/09/avatar-dalam-berbagai-agama-hindu-buddha-zoroaster-nasrani-islam/ dan https://oediku.wordpress.com/2016/05/25/akhir-zaman-dalam-pandangan-prabu-jayabaya-dan-kitab-suci/#more-7403 dan https://oediku.wordpress.com/2015/09/29/pemuda-yang-terpilih/#more-6513 dan https://oediku.wordpress.com/2017/11/15/nubuwat-perang-besar-akhir-zaman/, ya itung2 utk tambah wawasan.. 🙂

      rakeyan said:
      Februari 5, 2018 pukul 1:29 am

      Salam Mas Oedi(ku)…..

      Matur nuwun atas Respon-nya, buat Saya, Artikel-artikel di Blog Jenengan tidak hanya BERMANFAAT, akan tetapi……. (Materi Artikel-nya) memiliki CIRI KHAS (BRANDED), POSITIF,KONSTRUKTIF, INSPIRATIF & BERMANFAAT serta STEP AHEAD (paling tdk menambah wawasan & sbg Referensi), mewedar the past, present ‘n the future, tentang KISAH & SEJARAH Para Leluhur (relatif valid), sesama makhluk ciptaan Gusti Allah SWT, pun sesama makhluk astral (dimensi lain) ciptaan Gusti Allah SWT, plus peristiwa (penting) di masa yang akan datang, termasuk (saling mengingatkan, saling menjaga & saling menguatkan) ttg Vertikal (Akhirat) & Horizontal (Dunia), pun kreatifitas & Produksivitas yg rata-rata 3 minggu 2 Judul Artikel.

      Padepokan (Blog) Jenengan termasuk di Klasifikasi TOP MARKOTOP (PAPAN ATAS), betapa tidak…., karena telah (on going) 3,665,595 hits (per 5 Feb 2018), karena….. (empiris & a posteriori-nya, saya men-support Blog-nya Sahabat > 1 jeti) pencapaian Padepokan (Blog) Jenengan > 3 jeti itu, tidaklah mudah & semudah membalikan telapak tangan.

      Pun EMPIRIS-nya memposting (me-release) ARTIKEL yg (ber) branded, positif, konstruktif, inspiratif & ber-manfaat serta step ahead itu tidaklah mudah, apalagi di Zaman (periode akhir) KALABENDU ini, selain membutuhkan waktu, sarana & the goal past, pun… tak kalah sulit-nya (buat se-level Jenengan) meng-HARMONISASIKAN terhadap PAKEM yg ada; Hukum Terbatas & Dibatasi / PROTAP /SOP (secara Vertikal), dan (secara Horizontal) thd Hukum Positif, UU ITE.

      Dalam “membaca” (plus berkomentaria) Artikel Jenengan tidaklah mudah, minimal hanya (relatif) mereka yg (empiris & a posteriori-nya) memiliki Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Kalbu, Kecerdasan Panca Indra, Kecerdasan Intelektualitas & Kecerdasan Tulisan (Writing Skills) nya minimal sudah di level medioker atau pun di atas rata-rata.

      Serta….. tidak setiap individu memiliki “FRAME OF REFERENCES” (talent, family, habit, life stile, culture, education, skill, experiences, etc.) & “KUALIFIKASI” serta “TAQDIR” seperti JENENGAN, termasuk Ilmu RETROKOGNISION dan Ilmu PREKOGNISION (Ilmu WERUH SAKDURUNGE WINARAH ), disamping itu Jenengan slalu ber-QUOTE: “… tugasku hanya menyampaikan dan memberikan peringatan saja…., kalau begitu(kah) seperti peran & tugas-nya Malaikat….. (“Jibril”),” jangan-jangan……. Jenengan (“titisan”) Malaikat (“Jibril”) yang lagi undercover.
      Wouw… keren & mantap……. ACUNGAN JEMPOL buat Jenengan… heheheee…….

      Matur nuwun juga atas di-ingatkan-nya tentang Artikel2 di Blog Jenengan, diantaranya :
      • Sang Avatar Nusantara;
      • Avatar Dalam Berbagai Agama, Hindu, Buddha, Zoroaster, Nasranai, Islam;
      • Akhir Zaman Dalam Pandangan Prabu Jayabaya & Kitab;
      • Pemuda yang Terpilih;
      • Nubuwat Perang Besar Akhir Zaman.

      Semua Artikel tsb di atas keren, ber-branded & step ahead, namun……. untuk kali ini, Izinkan saya untuk berkomen ria (dan “brainstorming”) ttg Artikel berjudul “KEBANGKITAN DI NEGERI YANG TERPILIH” (sedangkan Artkel2 yg lain-nya, pada kesempatan yad).
      .
      Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti
      Rahayu Sagung Dumadi

        oedi responded:
        Februari 6, 2018 pukul 7:48 am

        Salam juga mas Rakeyan.. nuwun juga karena masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
        Waaah.. Apa yang jenengan sampaikan di atas menurutku terlalu berlebihan itu mas… Saya tidaklah seperti itu, jauuuuuh sekalilah… Lah wong cuma seorang yang awam dan masih bodoh gini kok… Blog ini tak lebih hanya untuk sekedar berbagi, yang sebagian isinya memang berasal dari pengalaman pribadi dan pemahaman diri yang hina ini.. Itu pun jika masih ada yang berkenan membacanya… jika tidak kami akan beralih.. 🙂
        Siaap.. silahkan mas utk berkomentar.. Nuwun untuk itu… Rahayu.. 🙂

    Tufail said:
    Januari 9, 2018 pukul 8:12 am

    Saya pernah membaca kisah dari kerajaan Salakanagara ini dari berbagai media dan juga diskusi, nah kalau kita tarik kebelakang +/- 2000 tahun Yg lalu kisah dari “Sang Aki Luhur Mulya” ini kalau tidak melanggar, siapakah leluhur dari Aki Tirem juga lebih mundur kebelakangnya seperti apa pula kisah”nya dari para leluhur kita dari kaum” terdahulu apabila kalau tidak salah di pertengahan Zaman Rupanta-Ra ini ada kisah dari kerajaan Pasturingga dengan Candi Paranatanya yg sangat heroik. Dari situ kayaknya ada kisah terputus atau memang belum waktunya untuk dikisahkan 😁.
    Kalau asumsi dan berandai-andai kayaknya keluarga Aki Tirem adalah mereka” yang melanjutkan tongkat estafet sebagai pusat peradaban yang baru di penghujung zaman kita sekarang ini karena kalau gag terjadi adanya Azab & Bencana atau peperangan besar mereka inilah keluarga yg selamat atau di selamatkan untuk ditugasi membangun peradaban yang baru dekemudian hari kelak.
    Salam.
    Rahayu… 🙏

      oedi responded:
      Januari 10, 2018 pukul 2:15 am

      Rahayu kang Tufail.. nuhun bgt karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Wah kalau gitu sudilah kiranya kang Tufail mau berbagi ttg kisah kerajaan Salakanagara ini, khususnya yg dari hasil diskusinya.. Itung2 kan bisa nambah wawasan saya.. 🙂

      Ttg Aki Tirem, tidak byk yang bisa saya sampaikan disini. Cukuplah dg apa yang telah dituliskan di artikel ini, itulah pembukanya dan yg disesuaikan dg pemahaman umum, sementara yg khusus ttp hrs dirahasiakan, Maaf.

      Benar kang, bahwa Aki Tirem dan keturunannya itu adalah yg melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Nusantara, khususnya di wilayah bagian baratnya. Sebab asal usulnya bersambung dg para pemimpin besar yg pernah membangun peradaban tinggi di Nusantara. Maltarama, Bumayasasta, Arturaya, Tarturaka, Artimanggala dan Pasturingga adalah contoh kerajaannya.. Karena itulah, menjadi tidak aneh jika keturunan dari Aki Tirem pun menjadi orang besar yang sangat berpengaruh di kerajaan Tarumanagara, Bakulapura, Galuh, Sriwijaya, Medang, Kadiri, Singhasari dan Majapahit… Mrk semua masih mewarisi darah para pemimpin besar di masa lalu, di ribuan tahun bahkan jutaan tahun silam.. Dan tak usah heran jika Dewi Pohaci dan keturunannya yg lain dikatakan sgt cantik dan berkulit kuning langsat, sgt berbeda dg kebanyakan masyarakat Jawa yg berkulit gelap. Sebab mrk memang keturunan yg istimewa, yg berbeda dg kebanyakan org di tanah Jawa skr, baik dlm bentuk fisik, bakat dan kemampuannya..

      Tambahan: Khusus mengenai tokoh yg datang dari tanah India (seperti Prabu Dewawarman, Prabu Rajadirajaguru Jayasinghawarman, Prabu Maharesi Santanu, Prabu Resiguru Manikmaya, dll), menurut saya mrk itu masih ada kaitan langsung dg tanah Nusantara. Toh bangsa pemimpin yang hidup di tanah India, khususnya di era sebelum Masehi (seperti Magadha (Maurya), Kanauj (Gupta) dan Wangga (Calankayana) dll) sebenarnya berasal dari Nusantara. Leluhur mrk itu dulunya pernah tinggal di tanah khatulistiwa ini. Tapi karena ada bencana besar (gunung raksasa meletus, banjir bah, perang dahsyat, dll) akhirnya mrk terpaksa bermigrasi ke tempat lain (setelah kondisinya kembali aman barulah leluhur kita skr yg datang ke tanah Nusantara ini. Karena sebelumnya mrk tinggal di belahan Bumi lainnya). Dari Nusantara mrk (leluhur tokoh dari India itu) lalu ke arah utara, ke beberapa wilayah dan sampai juga ke Asia Tengah. Dari sana mereka terus melakukan penaklukkan ke beberapa wilayah, hingga akhirnya sampai juga di wilayah India skr. Mereka itu lalu dikenal skr dg nama Bangsa Arya. Sebuah bangsa yang membawa peradaban tinggi ke tanah India, dengan ciri khasnya membawa ajaran Sanata Dharma. Artinya, Prabu Dewawarman dan para tokoh lainnya itu, ketika mrk datang ke Nusantara sebenarnya justru sedang pulang kampung. Dan mrk punya rasa dan ikatan batin yg sangat kuat dg tanah ini. Karenanya ada kewajiban untuk membangun peradaban yg tinggi jika disini masih kurang maju.. Dari dan kembali lagi ke Nusantara, itulah kodratnya. Tapi perlu dipahami, bahwa di Nusantara tidak hanya ras seperti kita saja yang mendiami wilayah ini. Ada banyak ras lain yang pernah tinggal disini jauh sebelum kita, salah satunya yg dikenal skr dg sebutan ras Arya itu. Meskipun mrk berbeda ras dg kita, tapi Nusantara adalah negeri leluhur mereka juga. Nusantara adalah induk negeri kedua setelah Makkah.

      Dan sebelum Hari Kiamat, akan selalu ada segolongan orang yang terpilih, yang mereka itu akan selamat dari bencana besar dan ditugasi untuk membangun kembali kehidupan manusia. Keturunan dari pemimpinnya akan memegang tongkat estafet dalam membangun peradaban yg gemilang, sebab mereka mendapatkan Wahyu Keprabon dan ilmu kepemimpinan yang tertinggi. Jika bukan dari keturunanya, maka kejayaan itu akan hilang.. 🙂

      Wassalam.. _/|\_

    Tufail said:
    Januari 10, 2018 pukul 3:26 am

    Panuju, dan saya sangat meyakini leluhur dari Prabu Dewawarman adalah Nusantara kita ini. Karena jelas para pemimpin kita selalu menggaungkan akan jumlah ras dan suku etnik hanya ada dari Nusantara dg 1300 bangsa 300 lebih suku etnik ditambah 700 lebih bahasanya hanya kita Indonesia yg punya, sayangnya hanya segilintir orang yg tahu & peduli sedih kadang” dgn begitu maka Nusantara kita adalah pusat peradaban manusia yg ada sekarang ini mungkin setengahnya atau lebih yg tersebar ke segala penjuru Dunia sekarang ini dan gag heran ada yg bilang leluhur org Jerman dari Padang, Thailand dan negara sekitarnya dan Jawa Kulwan… 😀 walaupun saya belum mempunyai data atau pengetahuannya akan kebenarannya karena mungkin saja. 😁
    Apakah kerajaan” besar Salakanagara dan keturun yg lainnya mereka ini moksa, karena banyak dari itu sudah tidak adalagi tapak dan wujudnya saya curiganya begitu… 😁
    Waktu diskusi dg beberapa teman banyak sekali yg gag percaya bahwa Aki Tirem leluhur kita dari bagian barat jawa ini krn mereka kekeuh dg argumennya bahwa Galuh Pakuan sbg pusat peradaban yg melahirkan raja” Nusantara skrg ini, saya suka bilang stop mem Pajajaran-kan keunggulannya dan kelebihannya karena ada yg lebih bahkan lebih hebat dari kerajaan Pajajaran, maka di Jawa Barat ini mulai banyak pergerakan Pajajaran anyar, cita”nya baik ingin Nusantara ini berjaya lagi maka udh gag anehlah kalau obrolan dari saya gag mereka percaya “ah teu kitu” berbekal pengetahuan dari saudara harun sy hanya bisa mesem”aja “tawadhuk”… 😁.
    Nah kalau berkenan seperti apa sejarah tentang simbol” yg ada di Dunia skrg ini krn mereka kelompok Pajajaran anyar ini meyakini “pokonamah ciri batu satangtung/tugu/monumen tah eta masih ti turunan urang keneh hayam jago jeung sajabana” ditambih simbol Matahari pasti dipake jadi simbol nagarana untuk halhal yg ini saya bisa meyakininya karena banyak sekali kemiripinnya dg yg ada di Indonesia ini dari situs”,Candi” atau bangunan” monumental yg lainnya.
    Salam.
    Rahayu… 🙏

      oedi responded:
      Januari 10, 2018 pukul 4:37 am

      Ya wajarlah kang, secara kan skr bangsa ini bukan dipimpin oleh sistem asli milik bangsa ini sendiri. Jadi gak aneh sih kalo byk yang gak melek sejarah dan sadar diri sebagai bangsa Nusantara yg sejati.. Mungkin emang sudah suratan-Nya harus seperti ini. Bangsa ini harus melewati fase yg sekarang terjadi, sebelum kebangkitannya nanti..

      Hmm… Kisah kerajaan Salakanagara ini mirip dg Majapahit dan Pajajaran, dimana ketiga istananya menghilang atau lebih tepatnya sengaja di pindahkan sebelum kerajaannya hancur atau runtuh atau digantikan oleh kerajaan lain. Maklum leluhur kita itu dulu “wis ngerti sak durunge winarah: sudah tau sebelum kejadian”. Seperti Salakanagara yg digantikan oleh Tarumanagara, dan Majapahit yg digantikan oleh Demak, maka suatu saat yg telah ditentukan – sebelum kerajaannya runtuh – istananya lalu dipindahkan ke tempat yg rahasia, termasuk ke dimensi lain. Para pemimpin dan pembesar kerajaannya pun pada moksa setelah purna tugas. Apa yg skr kita lihat sebagai makam, sebenarnya hanyalah petilasan saja. Inilah hebatnya leluhur kita dulu, mereka telah sampai pada puncak kehidupan manusia. Karena itulah akan sangat susah menemukan jejak fisik sejarah kerajaannya. Terlebih setelah kedua kerajaan itu runtuh, maka ada banyak pihak khususnya kerajaan pengganti yang mengambil alih semua situs peninggalan dan harta milik kerajaan itu. Mereka bahkan mengubah apa yg ada sebelumnya (merenovasi, memugar) seolah-olah seperti mereka yang mendirikan atau menciptakannya. Inilah sebab kenapa jejak sejarah dari kerajaan Salakanagara, Majapahit dan Pajajaran yg sebenarnya itu kian menghilang…

      Wah kalo saya mah dukung aja niat siapapun yg berkaitan dg kebangkitan Nusantara ini. Tapi jadi menarik nih kang kalo Galuh Pakuan itu oleh mrk di anggap sebagai pusat peradaban dunia.. Gak salah tapi gak sepenuhnya benar. Sebab perlu diperjelas dulu, karena tentulah ada yg menjadi asal usul dari Galuh Pakuan itu kan? Mana mungkin si Galuh Pakuan ini tiba-tiba “mak gedeblug” jatuh dari langit trus langsung jadi pusat peradaban dunia… Tentu ada proses dan rentan waktu sejarah yg sgt panjang sampai akhirnya sekelompok orang mendirikan peradaban baru yg dikenal skr dg nama Galuh Pakuan itu.. Itulah kerajaan-kerajaan yg muncul sebelumnya, yang bahkan lebih besar, lebih hebat, dan bisa jadi juga berdiri di tempat yg sama dengan Galuh Pakuan (konsep perputaran roda kehidupan, yaitu dari dan kembali lagi). Namun ttp saja mrk itu bukanlah Galuh Pakuan, dan Galuh Pakuan sendiri juga bukanlah mereka. Ada “seribu” kerajaan besar yg pernah berdiri di wilaya Jawa Kulwan/Kulon. Galuh Pakuan cuma salah satunya saja dan itupun bukan yg terbesar. Ini sgt perlu dipahami oleh mrk yg mau membuka cakrawala ilmunya.

      Ttg simbol2 yg ada di dunia skr ini saya belum bisa berkomentar kang, fokus saya tidak disana.. biarlah yg ahli saja yg menjelaskannya.. Tapi ttg simbol matahari, setau saya itu merupakan simbol yg baru. Belum lama dipakai oleh leluhur kita, ya gak lebih dari 2000 th belakangan. Contohnya tentang kerajaan Majapahit yg selama ini jamak diyakini memiliki simbol negara berbentuk sinar matahari yang dikenal dg nama Surya Majapahit, maka sebenarnya itu keliru. Sebab aslinya Raden Wijaya tidak pernah memakai simbol itu, Surya Majapahit itu bukanlah simbol atau lambang resmi kerajaan Majapahit yg didirikan oleh Raden Wijaya. Itu hanyalah simbol lain, yg bahkan dibuat pada masa raja-raja setelah Raden Wijaya. Simbol asli kerajaan Majapahit itu jauh lebih indah dan berkharisma, maklumlah dulu untuk bisa membuat simbol kerajaannya Raden Wijaya harus ber-tapa brata sekian tahun dulu kok. Simbol itu adalah anugerah yg didapatkan setelah olah jiwa yg keras.. Dan bentuknya tak ada kaitannya dg matahari atau pun kebudayaan tanah India. Sementara Surya Majapahit itu kental sekali dg bentuk matahari serta budaya dan ajaran yg datang dari India, misalnya simbol atau ukiran para dewa yg menempati segala arahnya itu..

      Dulu sekali leluhur kita gak pakai simbol matahari, dalam versi apapun. Dan nanti akan muncul simbol yg tidak dikenal selama ini tapi merupakan inti dan kesimpulan dari semua simbol kejayaan yg pernah ada di Nusantara ini… Saat itulah kejayaan yg terbesar dalam peradaban dunia akan hadir.. Sampai skr ini saya belum melihatnya, tapi waktunya semakin dekat.. 🙂

    Bahasa Sanskerta dan Keunggulannya – Perjalanan Cinta said:
    Januari 15, 2018 pukul 6:00 am

    […] khususnya di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan mereka lalu mendirikan kerajaan baru seperti Salakanagara, Bakulapura-Kutai Martadipura, Tarumanagara, Kendan-Galuh, Malayupura dan Kalingga. Ini menurut […]

    Suryo said:
    Januari 21, 2018 pukul 4:31 pm

    Kalau menurut orang2 tua, kejayaan Nusantara tidak lama lagi akan terwujud. Tidak lebih lama dari tahun 2030. Jadi bersiap-siaplah untuk menyongsong kebangkitan dan kejayaan Nusantara.

      oedi responded:
      Januari 22, 2018 pukul 1:21 am

      Oke, terima kasih atas kunjungannya mas Suryo.. Semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Ttg waktunya saya kurang tau, tapi yg jelas tanda”nya sudah makin jelas.. Makanya kita harus bersiap.. Semoga kita termasuk orang yg bisa menyaksikan dan menikmati kebangkitan itu.. 🙂

    Bangsa Arya dan Kisah Peradabannya – Perjalanan Cinta said:
    Januari 30, 2018 pukul 6:36 am

    […] khususnya di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan mereka lalu mendirikan kerajaan baru seperti Salakanagara, Bakulapura-Kutai Martadipura, Tarumanagara, Kendan-Galuh, Indraprahasta, Malayupura, […]

    Kekaisaran Maurya – Perjalanan Cinta said:
    Februari 17, 2018 pukul 3:24 am

    […] Catatan: Raja-raja di kerajaan Salakanagara merupakan keturunan dari Dewawarman, seorang bangsawan dari wangsa Saka yang berasal dari India. Begitu pula dengan kerajaan Tarumanagara, maka pendirinya (Rajadirajaguru Jayasingawarman) berasal dari wangsa Calangkayana (Wangga) yang juga berasal dari tanah India. Dari raja-raja di kerajaan Tarumanagara kemudian trah wangsa Calangkayana (Wangga) dan wangsa Sungga ini sampai pada raja-raja di kerajaan Galuh, Sriwijaya, Medang, Kahuripan, Kadiri, Singhasari, Pajajaran, dan Majapahit. Baca ini: Kerajaan Salakanagara dan Keturunannya.   […]

    […] Catatan: Raja-raja di kerajaan Salakanagara merupakan keturunan dari Dewawarman, seorang bangsawan dari wangsa Saka yang berasal dari India. Begitu pula dengan kerajaan Tarumanagara, maka pendirinya (Rajadirajaguru Jayasingawarman) berasal dari wangsa Calangkayana (Wangga) yang juga berasal dari tanah India. Dari raja-raja di kerajaan Tarumanagara kemudian trah wangsa Calangkayana (Wangga) dan wangsa Sungga ini sampai pada raja-raja di kerajaan Galuh, Sriwijaya, Medang, Kahuripan, Kadiri, Singhasari, Pajajaran, dan Majapahit. Baca ini: Kerajaan Salakanagara dan Keturunannya.   […]

    […] Catatan: Raja-raja di kerajaan Salakanagara merupakan keturunan dari Dewawarman, seorang bangsawan dari wangsa Saka yang berasal dari India. Begitu pula dengan kerajaan Tarumanagara, maka pendirinya (Rajadirajaguru Jayasinghawarman) berasal dari wangsa Calangkayana (Wangga) yang juga berasal dari tanah India. Dari raja-raja di kerajaan Tarumanagara kemudian trah wangsa Calangkayana (Wangga) dan wangsa Sungga ini sampai pada raja-raja di kerajaan Galuh, Sriwijaya, Medang, Kahuripan, Kadiri, Singhasari, Pajajaran, dan Majapahit. Baca ini: Kerajaan Salakanagara dan Keturunannya.   […]

    R.ay Wulan said:
    Mei 2, 2018 pukul 7:46 pm

    Salam Rahayu…saya keturunan Mangkunegaran,bergaris lurus dgn Mataram,sedang suami memiliki garis lurus dari keraton Solo,tapi maaf,wajah kami dan anak2 kami seperti kebanyakan orang jawa pada umum nya…apa iya berarti kami bukan keturunan Nyai Pohaci?

      oedi responded:
      Mei 3, 2018 pukul 4:36 am

      Rahayu juga mbak R.ay Wulan, nuwun atas kunjungannya.. semoga bermanfaat.. 🙂

      Hmm.. Kalo emang garis silsilah mbaknya berasal dari keluarga kraton Mataram Islam, tentulah mbaknya berasal dari keturunan Dewi Pohaci. Itu tidak bisa di pungkiri lagi sebab semua raja Mataram Islam itu memang keturunan dari Dewi Pohaci khususnya melalui raja2 di kerajaan Salakanagara, Tarumanagara, Kendan-Galuh (asal usul Raden Wijaya; pendiri Majapahit dari sisi ayahnya), Kalingga, dan Medang (asal usul raja2 di kerajaan Kahuripan, Kadiri, Singhasari, dan Majapahit (asal usul Panembahan Senopati (pendiri kesultanan Mataram) dari sisi ayahnya)…

      Nah terkait dg ciri fisik – terutama wajah – yg seperti kebanyakan orang Jawa, maka itu disebabkan pada zaman dahulu, sejak sebelum Dewi Pohaci lahir dan akhirnya menjadi Ratu di kerajaan Salakanagara, di tanah Jawa sudah ramai dihuni oleh Manusia yg berbeda suku dan ciri khas fisiknya.. Nah khususnya mrk yg tinggal di bagian tengah dan timur pulau Jawa, maka ciri fisiknya sedikit berbeda dg mrk yg berada di bagian barat.. Kalo di barat byk yang berkulit kuning langsat, maka yg di bagian tengah dan timur justru berkulit agak gelap (kecoklatan).. Lalu ketika anak keturunan dari Dewi Pohaci yg berkulit kuning langsat menjadi penguasa di beberapa kerajaan yg berada di Jawa Tengah (Kalingga, Medang) dan Jawa Timur (Kahuripan, Kadiri, Singhasari dan Majapahit), maka anak keturunan dari Dewi Pohaci itu lalu menikah dengan orang-orang yg berasal dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, yg mereka itu berciri khas kulitnya agak gelap (kecoklatan).. Dari pernikahan inilah akhirnya para penguasa dan anak keturunannya yg berkuasa di Jateng dan Jatim selanjutnya pun ada yg berkulit kuning langsat dan ada pula yg berkulit agak gelap (kecoklatan).. Mereka yg berkulit agak gelap (kecoklatan), maka keturunannya pun tetap agak gelap (kecoklatan) karena terus menikah dg mereka yg tinggal di bagian tengah atau timur Jawa – yg berkulit agap gelap (kecoklatan).. Dan ada saja dari keturunan mrk yg berkulit kuning langsat, yg itu disebabkan memang masih mewarisi DNA dari Dewi Pohaci.. Mereka ini ada yg benar2 mirip dg mereka yg berdomisili di Jawa bagian barat, tapi ada pula yg berkulit kuning langsat tapi wajahnya ttp sama dg orang Jawa pada umumnya..

      Sehingga inilah alasannya kenapa mbak R.Ay Wulan, suami dan anak2 wajahnya seperti kebanyakan orang Jawa.. Itu bukan berarti mbaknya, suami dan anak2 tidak dari keturunan Dewi Pohaci. Tetap ada kok trah beliau, tapi memang ada percampuran DNA dg mrk yg berciri khas berbeda (orang yg dulu tinggal di Jateng dan Jatim). Mbaknya dan keluarga skr kebetulan saja mewarisi gen yg dominannya dari sisi orang yg berasal dari Jawa bagian tengah dan timur..

      Sebagai perbandingan, kita semua kan keturunan dari sepasang manusia (Adam dan Hawa), tapi mengapa di muka bumi ini bentuk manusianya kok terdiri dari berbagai jenis ras yg berbeda? Bahkan terus bertambah rasnya. Artinya, meskipun berasal dari satu induk yg sama, tetapi keturunannya bisa saja berbeda bentuknya..

      Gitu aja mbak menurut analisa saya, maaf kalo keliru dan tidak memuaskan.. 🙂

    Budoknano said:
    Agustus 5, 2018 pukul 9:22 am

    Jadi maksudnya aki tirem berasal dari empayar melayu langkasuka dari semenanjung malaysia??

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 14, 2018 pukul 7:20 am

      Terima kasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Ya kalo menurut naskah Wangsakerta sih begitu mas/mbak.. Tapi perlu dicatat bahwa garis silsilah beliau itu tak cuma dari Langkasuka aja, karena telah bercampur dengan mereka yg berasal dari tanah Sumatera, bahkan dari India.. Artinya, tidak bisa juga kita langsung mengatakan bahwa beliau itu asli orang Langkasuka, atau yang berasal dari Langkasuka.. Ada percampuran darah disini, bahkan silang antar ras manusia…

        jaka tingkir said:
        September 3, 2019 pukul 2:30 pm

        Prabu Ganayanadewa Linggabumi menjadi penguasa di Salakanagara sebagai Dewawarman VI selama 19 tahun (211-230 Saka/289-308 M). Lalu dari perkawinannya dengan seorang puteri India, ia mempunyai beberapa orang putra dan putri.

        (1) Putera sulungnya, yang kemudian menjadi Dewawarman VII bernama Prabu Bima Didwijaya Satyaganapati. Ia memerintah Salakanagara dari tahun 230-262 Saka/308-340 Masehi.

        (2) Anak yang kedua bernama Salaka Kancana Warmandewi alias Spatikarnawa Warmandewi yang menikah dengan menteri kerajaan Gaudi (Benggala/Banglades) di India bagian Timur.

        (3) Putri yang ketiga bernama Kartika Candra Warmandewi. Ia menikah dengan seorang raja muda dari Yawana.

        (4) Lalu putera yang ke empat bernama Ghopala Jayengrana. Ia menjadi seorang menteri kerajaan Calangkayana, India selatan.

        (5) Puteri yang kelima bernama Sri Gandari Lengkaradewi, yang menikah dengan seorang menteri panglima angkatan laut di kerajaan Pallawa, di India.

        (6) Dan putera bungsu dari Dewawarman VII ini bernama Skandamuka Dewawarman Jayasatru. Ia kemudian menjadi senopati Salakanagara yang gagah berani.

        “””Puteri sulung dari Dewawarman VII yang bernama Spatikarnawa Warmandewi kelak bersama suaminya menjadi penguasa Salakanagara”””
        maaf mas…masnya bilang ( spatikarnawa warmandewi putri sulung dewawarman VII tapi masih dicatatan masnya di atas klo spartikarnawa warmandewi/salaka kancana warmandewi itu masuk anak kedua dari dewawarman VI )
        jadi yg bner nya yg mana mas???😁😁
        itu saya copy dari catatan masnya di atas 😅😅

        Harunata-Ra responded:
        September 3, 2019 pukul 3:00 pm

        Oh maaf banget mas, di tulisan ini ada kekeliruan, saya lupa menghapus alias pada nama Salaka Kencana Warmandewi.. Jadi Spatikarnawa Warmandewi itu bukanlah nama alias dari Salaka Kencana Warmandewi, itu nama sosok yg lain ato lebih tepatnya memang nama puteri sulung dari Dewawarman VII yg menikah dg saudara sepupunya yg bernama Darmawirya, yang merupakan putera dari Sri Gandari Lengkaradewi (putri Dewawarman VI)..

        Terima kasih atas koreksinya mas Jaka.. sudah saya benerin kok.. 🙂

      jaka tingkir said:
      September 4, 2019 pukul 3:55 am

      maaf juga mas krna banyak pertanyaan yg saya lontarkan 😁😁
      tapi saya suka dgn coretannya mas oedi ini…
      oia mas sebelum salakanagara terbentuk apakah ada kerajaan besar yg lain di nusantara ini???
      krna dari bbrpa situs yg saya temukan ada yg mengatakan bahwasanya ada kerjaan caringin kurung…
      dan beberapa keturunan dari para raja caringin kurung itu menurunkan keturunan yg kelak menjadi nenek moyangnya dari kerajaan lunggai/kutai (keturunan raja caringin kurung IX),,,kerajaan pajajaran prabu sedah/siliwangi (keturunan jaya cakra sangkala/raden gugur putra dari ,saka waskita putra dari jaya cakra raja aringin kurung XI),,,dan nyi blorong (dewi ranggatri cucunya dewi anggista yg masih keturunan dari raja caringin kurung XI)
      jika masnya berkenan berbagi pengetahuan bolehkah masnya berkirim ke alamat email saya di vanderwicjkk@gmail.com
      terimakasih mas salam dari jawabarat tepatnya cianjur 😊😊

    Anwar said:
    September 18, 2019 pukul 2:35 pm

    Ada kerajaan besar di jawa timur “(kanuruhan / kanuruhan) raja dewa simha”. yg mungkin setelah salaka negara.. Apakah ada hubungan dengan aki tirem.,?
    Mohon jawabannya..

      Harunata-Ra responded:
      September 19, 2019 pukul 3:25 am

      Terima kasih mas Anwar utk kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Oke, saya akan coba jawab:

      1. Yg benar itu adalah Raja Dewa Singha, meskipun kata Simha juga berarti sama.. Sang raja mempunyai putera bernama Liswa, yang kelak menjadi raja dg gelar Gajayana. Pada masa pemerintahan Raja Gajayana inilah Kanjuruhan berkembang sangat pesat dan menjadi kerajaan besar yg berdaulat. Sampai akhirnya di abad ke-9 Masehi berada dibawah pengaruh/kekuasaan kerajaan Medang yg berpusat di Jawa Tengah. Dan dalam struktur pemerintahan kerajaan Medang zaman Dyah Balitung (899–911 M), raja Kanjuruhan lebih dikenal dengan sebutan Rakryan Kanuruhan, artinya “Penguasa daerah” di Kanuruhan. Kanuruhan sendiri merupakan perubahan bunyi dari Kanjuruhan.

      2. Kerajaan Kanjuruhan berdiri di sekitar Malang-Jawa Timur jauh setelah Salakanagara, tepatnya pada abad ke-6 Masehi, sezaman dg kerajaan Tarumanagara (abad ke 4-7 M) di Jawa bagian barat. Jadi bisa dibilang tidak ada hubungan langsung dg Aki Tirem, karena Aki Tirem sendiri hidup pada abad ke 1-2 Masehi di sekitar Teluk Lada Pandeglang-Banten. Aki Tirem adalah mertua dari Sang Dewawarman, pendiri kerajaan Salakanagara (asal usul kerajaan Tarumanagara) di tahun 130 Masehi. Dan sesuai dg keterangan dari Naskah Wangsakerta, maka garis silsilah dari Aki Tirem itu berasal dari Swarnabhumi (Sumatera)..

      Gitu aja mas, maaf kalo kurang memuaskan.. 🙂

        Anwar said:
        Oktober 1, 2019 pukul 12:45 pm

        Siap mas.. Terimakasih..

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 1, 2019 pukul 1:40 pm

        Okelah mas.. 👍

    […] dengan pengertian dari nama kerajaan kuno yang pernah ada di Jawa bagian barat dulu, yang bernama Salakanagara. Tapi sesungguhnya leluhur kita dulu berwawasan luas dan senang menyembunyikan makna yang lebih […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s