Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Kisah 9 Bangsawan

Wahai saudaraku. Sekali lagi kami mengajak Anda sekalian untuk kembali menelusuri ranah kehidupan masa lalu. Sebuah kisah yang telah dilupakan dalam sejarah formal bangsa-bangsa di dunia kini. Padahal apa yang terkandung di dalamnya adalah sesuatu yang penting diketahui dan memiliki hubungan yang erat dengan masa kita sekarang. Ada pesan-pesan tersirat yang bisa diambil dan dijadikan pedoman hidup.

Nah, untuk lebih mempersingkat waktu mari ikuti penjelasan berikut ini:

1. Awal kisah
Kisah ini terjadi pada masa pertengahan zaman kelima (Dwipanta-Ra), tepatnya sekitar 150 juta tahun silam. Ketika itu hiduplah seorang guru bijak yang tersohor dimana-mana. Namanya adalah Kahayana. Saking terkenalnya, sang Begawan sampai menarik perhatian dari banyak bangsawan di seluruh dunia untuk berguru kepadanya. Hanya saja tidak semua orang bisa menjadi muridnya. Siapapun akan diseleksi secara ketat dan langsung oleh sang Begawan sendiri. Murid yang ia angkat adalah pribadi yang unggul, memenuhi beberapa kriteria dan sesuai dengan standarnya sendiri. Tak bisa dipaksakan.

Suatu ketika, dalam waktu yang berurutan datanglah sembilan orang dari negeri yang berbeda ke asrama sang Begawan. Mereka itu adalah para bangsawan yang ingin sekali menjadi murid dari sang Begawan dan takkan kembali sebelum sukses menimba ilmu darinya. Setiap dari mereka itu tidak datang secara bersamaan, karena satu persatunya tiba pada setiap selang satu bulan sekali. Artinya selama sembilan bulan lebih akhirnya berkumpullah ke sembilan bangsawan itu di kediaman sang Begawan. Setelah melalui serangkaian tes, mereka lalu diterima sebagai murid oleh sang Begawan. Namun setelah genap setahun kemudian barulah mereka bisa memulai latihan dan menimba ilmu yang diperlukan.

Adapun nama dan asal dari ke sembilan bangsawan itu adalah sebagai berikut:

1) Kal Aen, berasal dari negeri Selbaron.
2) Hullar, berasal dari negeri Misiga.
3) Syamanta, berasal dari negeri Ardayan.
4) Nasyirin, berasal dari negeri Yusyala.
5) Dirunggal, berasal dari negeri Gulenas.
6) Asim, berasal dari negeri Turtanaru.
7) Kritag, berasal dari negeri Doriyaki.
8) Tarema, berasal dari negeri Hamatuh.
9) Istahari, berasal dari negeri Noromaci.

Semua dari mereka itu masih perjaka dan gadis (belum menikah) dan merupakan bangsawan tinggi di kerajaan yang berbeda. Setiap pangeran dan putri itu pun berasal dari bangsa atau bahkan ras yang berbeda pula. Mereka tinggal di wilayah yang tidak sama, bahkan berbeda lokasi benuanya. Dan selama perjalanan menuju ke asrama-nya Begawan Kahayana, mereka melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Mereka hanya berjalan kaki atau sesekali menunggangi hewan dan berpakaian ala pengembara biasa. Tidak pernah sekalipun mereka itu mengaku sebagai bangsawan. Bagi mereka yang terpenting itu bukanlah kedudukan sosial, tetapi ilmu pengetahuan yang luas dan perbuatan yang selalu baik. Sungguh para pemuda yang terbaik. Dan ini sudah menjadi suratan takdir yang telah ditentukan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME). Tentulah ada maksud dan tujuannya.

Ya. Begitulah kisah ini dimulai dari kediaman Begawan Kahayana, yang pada masa itu berada di sebuah negeri yang bernama Asiyantah. Adapun lokasinya berada di sekitar kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta sekarang. Hanya saja pada saat itu kondisi topografi dan geografi disana sangat berbeda dengan sekarang. Karena ada satu gunung berapi raksasa setinggi ±5.270 mdpl (meter dari permukaan laut). Gunung tersebut diberi nama Prabutala, dan baru meletus secara eksplosif (meledak) pada sekitar ±800.000 tahun silam. Sejak saat itu, gunung tersebut menghilang dari muka Bumi. Masih bisa dilihat tapi hanya tinggal sisa-sisanya saja. Tepatnya di kawasan wisata yang kini dikenal dengan nama Gunung Purba Nglanggeran. Lokasinya berada di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul. Posisinya sekarang masuk dalam deretan Pegunungan Baturagung.

Adapun peristiwa meletusnya gunung Prabutala ini terjadi pada waktu wilayah Jogjakarta masih berada dibawah kekuasaan sebuah kerajaan bernama Gapiratala. Kerajaan ini hidup di sekitar ±800.000 tahun yang lalu dan beribukota di sekitar kabupaten Sleman-Jogjakarta bagian utara sekarang (lebih dekat ke kabupaten Muntilan dan Magelang, Jateng). Kondisi di kerajaan ini sangat makmur dan berperadaban tinggi. Namun demikian, akibat dari letusan gunung berapi raksasa ini, maka kerajaan Gapiratala ini pun hancur dan akhirnya terkubur oleh abu vulkanik lalu hilang dari sejarah dunia. Sementara itu, dampak lain dari letusan gunung berapi ini adalah perbukitan yang ada di sekitar wilayah utara Jogjakarta saat itu terkena tekanan yang sangat besar dari perut Bumi. Akibatnya bukit-bukit tersebut terdesak naik ke atas, terus menerus ke atas oleh magma yang juga bergerak ke arah atas hingga menjadi sebuah gunung berapi. Prosesnya sangat cepat. Dan sejak itulah “lahir” gunung-gunung yang kini disebut dengan nama Merapi dan Merbabu.

Tentang betapa dahsyatnya letusan gunung berapi raksasa ini hampir tiada bandingnya. Itu karena letusannya mengakibatkan gempa bumi dahsyat yang berkekuatan sekitar 12 SR dan menyebabkan tsunami setinggi ±100 meter. Selain itu, selama ±7 tahun berikutnya Bumi terus menerus diselimuti oleh abu vulkanik yang berasal dari muntahan gunung Prabutala itu, bahkan menutupi sinar matahari. Abu vulkanik yang menutupi sinar matahari selama bertahun-tahun ini lalu menyebabkan perubahan iklim yang sangat drastis di seluruh dunia. Hingga pada akhirnya Bumi pun memasuki era zaman es yang baru, yang menyebabkan banyak kematian dan perubahan wajah Bumi secara drastis hampir di seluruh belahan dunia.

Catatan: Pada masa itu semua wilayah Nusantara masih dalam satu daratan yang luas dan menyatu dengan benua Asia dan Australia.

2. Menuntut ilmu
Jauh sebelum Begawan Kahayana menerima ke sembilan bangsawan sebagai muridnya, ia pernah mengasingkan diri di tengah lembah untuk ber-semedhi. Di hari yang ke tujuh ia lalu didatangi oleh seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Hils AS. Kedatangan sosok yang sangat kharismatik itu membawa misi dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Beliau lalu berkata: “Dengarkanlah ini wahai saudaraku Begawan. Ketahuilah bahwa engkau telah mendapatkan tugas untuk mempersiapkan 9 orang pemuda dari bangsa yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menjalankan tugas besar nan mulia bagi dunia. Dan ingatlah bahwa suatu saat nanti gerbang dimensi itu akan terbuka (dengan sendirinya) sebagai ujian. Ini akan menimbulkan masalah dan mengganggu keseimbangan dunia. Karenanya, bekalilah murid-muridmu itu dengan ilmu yang cukup dan sesuai dengan bakat dan karakternya. Ajarkan pula kepadanya tentang kebijaksanaan agar mereka selalu dalam kesucian. Dan pesankan kepada mereka untuk menjalankan tugas yang mulia itu terus menerus, sampai batas waktu yang DIA tentukan nanti. Semoga kebaikan dan keselamatan untuk kalian semua”

Dengan perasaan takjub sang Begawan menerima tugas itu. Dan untuk lebih memperjelas keadaan, ia lalu bertanya kepada sang Nabi tentang apa yang sebaiknya di lakukan sampai ia bisa mempersiapkan ke sembilan pemuda itu? Nabi Hils AS pun memberikan beberapa petunjuk, salah satunya dengan meminta sang Begawan untuk ber-tapa brata agar bisa mendapatkan berbagai benda pusaka sakti untuk bekal perjuangan anak muridnya nanti. Sang Begawan pun melaksanakan petunjuk itu setelah sang Nabi raib dari pandangannya. Selama puluhan tahun kemudian Begawan Kahayana menjalankan tapa brata yang sulit tanpa henti. Sampai pada akhirnya ia berhasil mendapatkan berbagai benda pusaka sakti untuk bekal perjuangan ke sembilan muridnya nanti. Begitulah semuanya telah dipersiapkan dengan baik.

Waktu pun berlalu. Ketika ke sembilan bangsawan datang ke asrama Begawan Kahayana, pada saat itu keadaan dunia masih relatif aman. Setiap negara bisa hidup berdampingan secara damai. Hubungan diplomatik dan perdagangan terbilang lancar dimana-mana tanpa ada hambatan yang berarti. Karena itulah, saat mendengar ada seorang bijak di tanah Swinanta (penamaan tanah Jawa kala itu), banyak orang yang ingin berguru. Termasuklah di antaranya ke sembilan putra mahkota tersebut. Sebuah kebanggaan tersendiri jika bisa diterima sebagai murid oleh sang guru. Selain berilmu tinggi, sang Begawan juga sangat bijaksana dan waskita.

Singkat cerita, ke sembilan murid itu lalu diajak untuk mengasingkan diri oleh sang Begawan. Tidak hanya disatu tempat, namun di beberapa tempat lainnya di seputaran Melanaya (penamaan Nusantara kala itu). Memang awalnya mereka berlatih di hutan lereng gunung Prabutala, tapi itu hanya untuk tingkat dasarnya dan berlangsung selama 3 tahun saja. Selanjutnya mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Setelah 15 tahun kemudian, barulah sang Begawan memerintahkan para muridnya itu untuk melakukan tapa brata khusus. Setiap orang harus menjalani bentuk tapa brata yang berbeda sesuai dengan bakat dan karakternya. Sang guru sudah tahu mana yang terbaik bagi setiap muridnya itu.

Setiap bangsawan memiliki ciri khas yang berbeda dan sesuai dengan bakat serta karakter dasar mereka. Sang Begawan tinggal melatihnya agar para Asya (sebutan bagi muridnya) itu bisa mengembangkan dirinya dan mengeluarkan kemampuan terbesar yang mereka miliki. Dan setelah cukup berlatih tentang berbagai keahlian khusus, para Asya itu lalu diperintahkan untuk melakukan dua jenis tapa brata di suatu tempat. Yang pertama selama 5 tahun di sebuah hutan rimba, di tengah lembah, di pinggir sungai, di pinggir telaga, di tepi pantai, di dalam gua, dibawah pohon, di dekat air terjun, dan di puncak bukit. Bentuk dan caranya bermacam-macam, setiap muridnya tidak sama. Setelah berhasil, tapa brata yang kedua harus di lakukan di puncak gunung yang berbeda. Artinya, setiap murid harus ber-tapa brata di puncak gunungnya masing-masing. Lama waktunya adalah 25 tahun dengan tiga tahapan yang berbeda, yaitu: lima tahun pertama harus ber-tapa brata menghadap ke arah barat dengan cara duduk bersila. Lima tahun kedua menghadap ke arah timur dengan cara berdiri di atas kedua kaki. Sedangkan untuk di lima belas tahun terakhir mereka harus ber-tapa brata menghadap ke arah barat dengan cara berdiri di atas satu kaki. Jika berhasil, setiap bangsawan akan mendapatkan anugerah yang luar biasa.

Waktu pun berlalu selama beberapa tahun. Di tahun terakhir tapa brata-nya, ke sembilan Asya itu berpindah ke dimensi lain. Disana mereka lalu mendapatkan berbagai anugerah seperti kesaktian, berumur sangat panjang dan selalu awet muda. Dan ketika mereka kembali lagi ke alam nyata dunia, oleh sang Begawan setiap muridnya itu lalu diberikan dua buah benda pusaka. Selain untuk digunakan sendiri oleh mereka, pusaka tersebut bisa juga diwariskan kepada penerusnya nanti. Tujuannya tentu hanya untuk kebaikan dan kesejahteraan dunia. Dan dengan pusaka itu, siapapun murid mereka nanti atau dari bangsa dan belahan bumi manapun mereka berasal akan saling mengenal. Kedua pusaka tersebut adalah tanda pengenal bagi diri mereka, tak bisa dipalsukan. Mereka akan terikat langsung dalam persaudaraan ke sembilan murid bangsawan, atau disebut dengan para Asyara.

3. Tugas yang abadi
Di periode zaman kelima (Dwipanta-Ra), maka ada satu ketetapan Tuhan yang mengikat. Hal ini agak sedikit berbeda dengan semua zaman yang sudah terjadi sebelumnya. Karena pada masa itu, tepatnya sejak di masa pertengahan zamannya, di setiap kurun waktu tertentu portal antar dimensi akan terbuka dengan sendirinya. Ini sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur kehidupan, yang merupakan bagian dari ujian bagi umat manusia. Akibatnya, muncullah gejolak masalah yang sangat pelik dimana-mana dengan tujuan untuk menyeleksi siapakah yang beriman dan siapa pula yang tidak. Adapun waktu terbukanya portal dimensi itu selalu dalam rentang waktu 5 juta tahun sekali. Sehingga dalam kurun waktu 5 juta tahun sekali pula ke sembilan bangsawan (para Asya) itu pun muncul dengan tujuan untuk menertibkan dunia. Hal ini sesuai dengan informasi yang telah disampaikan oleh Nabi Hils AS kepada Begawan Kahayana sebelumnya.

Di negerinya, setiap bangsawan itu lalu mendirikan sebuah kuil khusus yang sangat indah namun tersembunyi di balik perisai goib. Lokasinya berada di beberapa tempat terahasia di sepenjuru Bumi ini. Siapapun yang ingin datang kesana haruslah tahu alamat dan memiliki kunci rahasianya. Tanpa hal itu, maka takkan bisa terjadi. Sebab, kekuatan mantra yang melindungi kuil-kuil tersebut tak bisa ditembus oleh siapapun. Hanya bagi mereka yang tahu kunci rahasianya saja. Begitulah keadaannya sampai hari ini, tidak berubah. Dan tujuan utama didirikannya kuil-kuil itu adalah untuk tempat pertemuan khusus di antara mereka (para Asya), juga bagi para muridnya nanti (Asyara). Di kuil itu mereka bisa berkomunikasi secara langsung alias tatap muka.

Lalu, meskipun setiap bangsawan memiliki jenis kemampuan (ciri khas) yang berbeda, mereka itu memiliki kekuatan yang setara. Dan hanya ada satu orang saja yang berbeda, yaitu bangsawan pertama yang utama. Artinya, ada satu orang lagi yang akan menggenapi kumpulan dari para Asya itu agar menjadi 10 orang. Tapi bangsawan ini belum ada dan masih ditunggu kehadirannya untuk bersatu dan memimpin ke sembilan bangsawan itu. Sosok tersebut adalah yang sebenarnya pemimpin agung dari ke sembilan bangsawan ini. Bahkan dialah pula yang telah dinantikan oleh semua kesatria.

Selanjutnya, setelah tugas dari ke sembilan bangsawan itu selesai pada masanya, mereka lalu berpindah ke dimensi lain. Di masa yang lain (setiap 5 juta tahun sekali) mereka akan muncul dan mencari seorang murid untuk diajari berbagai keahlian khusus. Tujuannya agar di waktunya nanti sang murid bisa bekerjasama dengan murid lainnya (dari setiap bangsawan lainnya) untuk bisa menertibkan dunia, sekali lagi. Meskipun ingin, tapi ke sembilan bangsawan itu tidak bisa terlibat secara langsung dalam urusan di Bumi ini, karena memang bukan lagi tugas utamanya. Hanya jika sang pemimpin utamanya muncul (sosok yang telah dijelaskan oleh Begawan Kahayana), barulah ke sembilan bangsawan itu akan kembali bertugas. Mereka akan mengikuti sang pemimpin tertinggi yang telah lama dinantikan. Disini tentu akan ada pertempuran yang maha dahsyat.

Ya. Sejak kepindahan mereka ke dimensi lain, maka sudah 30 kali para Asya itu harus kembali lagi ke muka Bumi ini. Alasannya tentu untuk mendidik ke sembilan murid yang terpilih dalam menjaga ketertiban dunia. Dan memang pada saatnya pula ke sembilan murid para Asya itu (para Asyara) lalu bekerjasama dalam menegakkan keadilan. Perang besar pun terpaksa harus terjadi, karena pada saat itu kejahatan memang sudah merajalela dimana-mana. Hanya dengan pertempuran sajalah semuanya itu bisa dikembalikan ke titik normal. Setelah semuanya normal, barulah peradaban yang indah bisa kembali diwujudkan.

4. Menegakkan ketertiban dunia
Satu hal yang bisa kami ceritakan disini adalah selain ke sembilan Asya (sebutan bagi ke-9 murid Begawan Kahayana) yang sedang menempa dirinya, ternyata di tempat lain ada pula orang-orang yang juga berguru kepada sosok yang sangat misterius. Mereka itu berjumlah sembilan orang – yang juga para bangsawan di kerajaan yang berbeda – dan berguru kepada tiga orang misterius. Sama dengan ke sembilan Asya, maka ke sembilan bangsawan ini juga berlatih tentang berbagai keahlian khusus. Oleh guru-gurunya itu, mereka juga diperintahkan untuk ber-tapa brata selama beberapa waktu. Setelah usai, mereka pun menerima pusaka andalan yang sakti mandraguna. Ke sembilan bangsawan jenis kedua ini lalu dikenal dengan sebutan Malar.

Ya. Para Malar itu akhirnya memiliki kemampuan yang luar biasa. Namun jika ilmu yang didapatkan oleh para Asya bersifat positif dan membawa kebaikan, maka yang didapatkan oleh para Malar itu cenderung negatif, panas dan menimbulkan masalah. Memang pada akhirnya mereka bisa menjadi sangat terkenal dan meraih kedudukan yang tinggi, tapi tak ada berkah di dalamnya. Akibat ilmunya itu, satu persatu masalah yang besar pun bermunculan. Terus bertambah, sampai pada akhirnya menjadi sumber utama perang dan bencana dimana-mana. Ini sangat merugikan banyak kalangan, terutama rakyat kecil.

Singkat cerita, suatu ketika portal antar dimensi terbuka dengan sendirinya di sebuah tempat di wilayah Barat. Hal itu tidak disia-siakan oleh para Malar untuk segera menggalang kekuatan dengan bekerjasama dengan makhluk-makhluk serakah dari dimensi lain. Dan seperti gaung yang langsung bersambut, ajakan itu diterima dengan suka cita oleh pasukan kegelapan. Mereka akhirnya bersama-sama dalam menaklukkan kerajaan-kerajaan yang ada di kawasan Barat. Berikutnya tinggal yang berada di kawasan Timur.

Begitulah ke sembilan Malar itu berkoalisi dan semua pasukan kerajaannya dikerahkan untuk menaklukkan dunia. Siapapun yang tidak mau tunduk kepada mereka akan diperangi, bahkan jika perlu dihancur leburkan tanpa ampun. Keserakahan dan kesombongan telah menguasai hati dan pikiran mereka. Tak ada kepuasan sampai mereka bisa menguasai dunia sepenuhnya. Dan memang hal itu tak bisa lagi dihindari, sebab kekuatan pasukan dan kesaktian para Malar sudah menjadi momok yang menakutkan dimana-mana. Ada banyak kerajaan yang tunduk bahkan tanpa melakukan perlawanan sedikitpun. Mereka mengaku kalah sebelum berperang.

Lalu, sebagaimana kebiasaan dari para penjajah, maka semakin lama dimana-mana telah terjadi ketimpangan sosial yang parah. Negeri-negeri yang dikuasai hidup dalam penderitaan. Mereka dikenai pajak yang tinggi dan harus rutin mengirimkan upeti berupa bahan makanan pokok dan perhiasan yang nilainya tidak sedikit. Jika mereka menolak atau sampai telat membayarnya, akan diberikan hukuman yang berat. Tidak sedikit yang harus meregang nyawa karena urusan ini. Sungguh kebiadaban terus merajalela dan orang-orang semakin menderita. Hanya kuasa Tuhan-lah yang bisa mengubah keadaan pelik itu.

Dan benarlah apa yang telah dipersiapkan oleh Begawan Kahayana. Dimana para muridnya (Asya) telah membekali diri jauh sebelum kekacauan dunia itu terjadi. Meskipun di negeri mereka terbilang masih aman, tapi saat melihat ada penduduk di negeri lain yang dijajah oleh para Malar, mereka tak bisa tinggal diam. Sesuai kesepakatan, ke sembilan Asya lalu menggalang kekuatan untuk kembali menertibkan dunia. Keadilan dan kemanusiaan harus ditegakkan kembali meskipun harus dengan jalan berperang. Dan memang sudah tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh untuk mewujudkan hal itu. Sebab para Malar dan sekuturnya itu (pasukan kegelapan) sudah lupa diri dan larut dengan ego dan keserakahannya sendiri. Takkan bisa dikalahkan selain dengan jalan bertempur.

Perlu diketahui bahwa para Malar itu telah menguasai semua wilayah yang kini disebut dengan Timur Tengah, Asia Barat, benua Afrika dan Eropa Barat. Disana mereka mengendalikan keadaan dengan segala bentuk kezaliman. Hal ini jelas sangat berpengaruh bagi semua wilayah lainnya di muka Bumi. Terutama bagi mereka yang tinggal di seputaran kawasan Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Timur, Erope Timur dan Nusantara saat itu. Karena itulah, sesuai dengan tugas yang telah diterima sebelumnya, ke sembilan bangsawan (para Asya) lalu menyatukan kekuatan untuk menghadapi para Malar dan sekutunya. Dan memang target penaklukkan selanjutnya – oleh para Malar – adalah kawasan mereka.

Singkat cerita, ketika negeri Simeon (sekarang berada di sekitar antara India dan Pakistan) berhasil ditaklukkan oleh para Malar, tak ada waktu lagi untuk tinggal diam. Sembilan kerajaan yang dipimpin oleh para Asya segera mengumpulkan pasukan dan bergerak menuju Barat. Di perbatasan negeri Simeon dan negeri Darbharu (sekitar India sekarang) itulah nasib dunia lalu ditentukan. Sesampainya di lembah Manarak, pertempuran paling akbar pun terjadi. Para Malar dan Asya sama-sama memiliki kemampuan yang luar biasa. Kedua belah pasukannya pun tangguh dan berjumlah sangat banyak.

Pada masa itu, maka sama dengan di zaman sebelumnya bahwa jumlah pasukan yang terlibat dalam setiap pertempuran terbagi dalam beberapa mitan (divisi pasukan). Setiap divisi akan terdiri dari:

1) 110.350 pasukan Sijar (infanteri: pasukan pejalan kaki yang membawa pedang, tombak, tameng, panah, kapak dan gada).
2) 55.610 pasukan Ditar (kavaleri: penunggang hewan dan kereta perang)
3) 10.575 pasukan Mikhur (artileri: persenjataan berat seperti pelontar batu dan api, dan bom panah).
4) 35.500 pasukan Sakar (pasukan cadangan).
5) 10.000 pasukan Wasr (pasukan urusan logistik dan kesehatan).

Sehingga setiap mitan (divisi pasukan) tempur saat itu berjumlah sekitar ±222.035 orang prajurit. Adapun perbandingan dari kedua belah pihak sangatlah jauh. Pasukan para Malar terdiri dari 10 mitan (divisi) dengan total pasukan ±2.220.350 tentara ditambah dengan sekitar 20.000 pasukan kegelapan, sedangkan dipihak para Asya hanya terdiri dari 8 mitan (divisi) dengan total pasukannya sekitar ±1.776.280 orang. Sehingga pasukan yang terlibat dalam perang besar saat itu berjumlah sekitar ±3.996.630 orang plus 20.000 pasukan sekutunya para Malar. Angka tersebut sangatlah banyak, dikarenakan pasukan di kedua belah pihak adalah gabungan dari setiap mitan (divisi pasukan) kerajaan yang ada di kedua kawasan.

Sementara itu, dalam setiap pertempurannya, maka terdapat berbagai bentuk formasi tempur pasukan. Adapun di antara formasi yang sering dipakai oleh pasukan perang saat itu adalah:

1. Cakiratusa (formasi cakram)
2. Hakaribaya (formasi bulan sabit)
3. Rasuttra (formasi trisula)
4. Sansapra (formasi burung elang)
5. Krasodanam (formasi kura-kura)
6. Maktubaral (formasi buaya)
7. Patsamala (formasi bunga teratai)

Pertempuran yang kemudian dikenal dengan nama Manarak itu berlangsung selama 21 hari. Dimulai pada saat matahari muncul di ufuk timur dan harus segera diakhiri pada saat matahari terbenam. Kedua belah pihak bertarung di dataran Manarak dan setiap harinya terjadi pertempuran yang sengit dan sangat mengesankan. Dalam setiap pertarungan yang terjadi dalam 21 hari tersebut, kesatria yang tidak terbunuh dan berhasil mempertahankan nyawanya adalah pemenangnya, karena pertempuran tersebut adalah pertempuran menuju kematian. Siapa yang bertahan hidup dan berhasil memusnahkan lawan-lawannya, dialah pemenangnya. Hal itu harus dipertahankan sampai di akhir pertempuran.

Begitu pula yang terjadi dengan para Malar dan Asya. Siapapun di antara mereka yang masih hidup adalah pemenangnya. Hanya saja itu tidaklah cukup, karena saat itu mereka sudah bertekad untuk bertarung sampai mati dengan segala kekuatan yang ada. Kemenangan akan dirasakan nikmat jika musuhnya bisa tewas dalam pertarungan yang adil. Kesaktian adalah kuncinya.

Singkat cerita, hari demi hari berjalan menegangkan. Pertempuran yang terjadi sangat luar biasa. Ada begitu banyak strategi dan formasi tempur yang mengagumkan tampil di medan tempur. Dan ada pula kesaktian dari para kesatria yang luar biasa, yang bahkan belum pernah disaksikan oleh mereka yang hidup saat itu. Kedua belah pihak sama-sama memiliki kekuatan yang seimbang. Hingga pada akhirnya meskipun jumlah pasukannya lebih sedikit, keadaan mulai berpihak pada pasukan para Asya. Karena mereka berpijak pada kebenaran, kemenangan terus mendekati mereka. Para Malar dan pasukannya mulai terpojok dan menanggung kerugian besar.

Hanya saja dikarenakan para Malar mendapatkan bantuan dari 20.000 pasukan kegelapan, maka kemenangan bagi pihak para Asya susah terwujud. Perlu usaha yang maksimal dan kesaktian yang luar biasa dalam menghadapi pasukan kegelapan itu. Terlebih para senopati dan pemimpinnya yang memang sakti mendraguna. Maklumlah mereka itu bukanlah manusia dan berasal dari dimensi lain. Tidak heran bila kemampuan yang mereka miliki levelnya berada di atas rata-rata senopati manusia.

Sampai pada akhirnya, di hari ke 20 pertempuran para Malar menantang para Asya untuk bertarung satu lawan satu. Tujuannya demi menentukan siapakah yang berhak memenangkan pertempuran kala itu. Sebagai kesatria yang sudah lama mempersiapkan diri, tantangan itu segera diterima oleh para Asya. Dan terjadilah pertarungan yang sangat mengagumkan. Satu orang Asya lalu menghadapi seorang Malar. Mereka bertarung dengan menggunakan berbagai kesaktian yang jauh di atas rata-rata manusia. Berbagai jurus, keahlian menggunakan senjata dan ajian kadigdayan yang sangat tinggi terus saja mereka keluarkan. Selama sehari semalam mereka terus bertarung tanpa henti. Lokasinya pun berpindah-pindah, karena mereka bisa terbang dan menghilang.

Lalu di hari ke 21 pertempuran para Malar dan Asya mulai mengeluarkan berbagai senjata pusaka terbaik untuk menyerang lawan. Akibatnya keadaan di medan pertempuran menjadi sangat gaduh dan menakutkan. Sebagian pasukan sampai berhenti bertarung dan bergerak menjauh demi menyelamatkan dirinya. Dan itu pun belum berakhir disitu saja, karena selanjutnya para Malar dan Asya itu lalu mengeluarkan kemampuan mereka dalam mengendali berbagai unsur alam (tanah, air, api, udara, ether, petir, dll). Dampak kehancurannya sungguh luar biasa. Karena itulah, pertempuran kedua belah pasukan saat itu sampai berhenti. Semua orang hanya bisa menjauh namun tetap ingin menyaksikan pertarungan tak masuk akal itu dari kejauhan.

Ya. Pertarungan para Malar dan Asya kala itu sungguh mengagumkan. Mereka sama-sama memiliki kesaktian yang luar biasa. Belum pernah ada yang hidup dimasa itu menyaksikan kekuatan yang seperti itu. Bumi terus berguncang dan suara berisik yang menggelar pun kerap mewarnai lokasi pertempuran. Hingga pada akhirnya, tepat setelah matahari mulai turun ke ufuk barat keadaan mulai mencapai titik penentuannya. Sesakti apapun para Malar ternyata tak mampu menandingi ilmu dari para Asya. Dan atas izin dari Hyang Aruta (Tuhan YME), satu persatu dari Malar itu dapat dikalahkan. Hanya saja lantaran kesaktian yang dimilikinya pula, ke sembilan Malar itu tak bisa mati. Mereka lalu melarikan diri dengan cara menghilang ke dimensi lain. Sejak saat itu tak pernah lagi terdengar kabar tentang para Malar itu. Setidaknya selama para Asya masih hidup di atas Bumi ini.

Selanjutnya, setelah para Malar itu dapat dikalahkan, maka pertempuran di dataran Manarak itu belum berakhir. Masih ada pasukan kegelapan yang dipimpin oleh seorang panglima bernama Hadatir. Karena berasal dari dimensi lain, tentu kesaktian yang ia miliki tidak main-main. Hanya saja saat itu yang menghadapinya adalah para Asya yang terpilih. Karenanya, setelah bertarung selama 30 menit akhirnya Hadatir kalah dan melarikan diri. Pasukannya yang tersisa lalu diperangi. Sebagian berhasil dikalahkan dan tewas, sementara sisanya kabur melarikan diri menuju portal dimensi yang masih terbuka.

Singkat cerita, setelah pasukan kegelapan itu berhasil dikalahkan pertempuran besar itu pun berakhir. Sesuai aturan dan fakta yang ada, kemenangan sepenuhnya berada di pihak para Asya. Sisa-sisa pasukan para Malar (dari golongan manusia) diperintahkan untuk kembali ke negerinya masing-masing. Tidak diizinkan untuk berbuat keributan atau kezaliman lagi. Jika itu sampai terjadi, maka para Asya takkan segan-segan untuk menghabisi mereka tanpa ampun. Dunia harus kembali ditertibkan dan semua orang bisa hidup dalam kedamaian.

Lalu, karena portal dimensi yang terbuka saat itu menjadi salah satu sumber dari semua masalah yang ada, makanya harus segera ditutup kembali. Caranya adalah para Asya harus menutupnya dengan menggabungkan kekuatan mereka sendiri dan pusaka yang diberikan oleh Begawan Kahayana. Atas izin dari Tuhan Sang Penguasa Jagat, maka portal antar dimensi itu bisa ditutup. Jika suatu saat nanti terbuka, maka lokasinya tidak akan sama lagi. Bisa muncul dimanapun secara acak di atas Bumi ini. Begitulah ketetapan yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang bisa menolak atau pun mengubahnya.

5. Akhir kisah
Setelah pertempuran di dataran Manarak itu selesai, ke sembilan Asya lalu kembali ke negeri mereka masing-masing. Disana mereka memimpin rakyatnya dalam kebijaksanaan. Pada kurun waktu tertentu, mereka akan bertemu di salah satu kerajaan karena memang tergabung dalam sebuah aliansi persaudaraan yang diberi nama Asyanta. Lalu setelah memerintah selama beberapa puluh tahun, satu persatu dari ke sembilan Asya itu turun tahta dan mengasingkan dirinya di alam bebas. Tak lama kemudian mereka pun berpindah ke dimensi lain.

Meskipun demikian, kepergian mereka itu bukan berarti tugasnya selesai. Karena jika dibutuhkan para Asya akan muncul lagi di Bumi ini untuk membantu manusia. Khususnya sebelum portal antar dimensi itu terbuka, ke sembilan Asya ini akan muncul dan memilih sembilan orang pemuda (pria dan wanita) untuk dijadikan sebagai muridnya. Ke sembilan murid itu lalu disebut sebagai para Asyara. Merekalah yang meneruskan tugas dari para Asya dalam menjaga ketertiban dunia. Hal ini akan terjadi pada setiap 5 juta tahun sekali.

Selain itu, salah satu dari para Asya yang bernama Syamanta pernah menyampaikan sebuah pesan kepada rakyatnya. Isinya tentang kebajikan hidup dan kunci rahasia untuk bisa menemukan kuil-kuil yang mereka dirikan. Dari sana siapapun akan bisa bertemu langsung dengan para Asya tanpa penghalang (tatap muka). Berikut ini kalimatnya:

“Eldara hisil unfien ngilta avrodiyat glinggant amor le fival der haur tabunta. Vin amel diyan menel advian tus hayorin enden menakh fuin na suldar. It fuit mae dangga hilam naenol kat ravani hasur. Idahel morn tiltha gasut biyang man salhag eude liyan syilnaen.

Ammen dal tusen dant sayal te vrane ratseon. Ni dannata sit nauva laktu hijas moor sina mermen tulien. Noren nur alea aya Nur icale iyan tsaru ii nera iyen eyaro. Nenya utahima korma ni haryakena Ran, Tan, San, Kan, et Zan ore sindarin luwe ristenin. Hin gwit ilfrin neh iftarin narema naen ifae cayen nartuse nuwen.

Ed aunir ta anore las hardon gnanten allet tus arc tusuwe. Ashandir muth rida nelam savaya ure 101-235-769-840-110 natuu malsun arusun. Idan argaye hal galen amar tulak sahig man janikam ucle. Atavad mer naa inoet amade bas aee-ya esteli nadna hen edras gior. Veleth tavarda estellion na veleth tavarda suttelion oya hedemo ing taliren”

Demikianlah apa yang pernah disampaikan oleh sosok bangsawan luar biasa dan sangat kharismatik itu. Maaf tidak disertai dengan terjemahannya. Sehingga bagi siapapun yang bisa memahami makna tersirat di dalamnya akan sangat beruntung. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga bagi orang lain.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang yang terus mempersiapkan diri dan selamat ketika transisi zaman ini terjadi. Rahayu… _/|\_

Jambi, 19 Desember 2017
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Seperti pada tulisan sebelumnya, maka disini pun tak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Semua kembali kepada Anda sekalian, tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Ada banyak hal yang tak bisa kami sampaikan disini, ada protap yang harus dipatuhi. Pada waktu yang tepat nanti, semuanya akan ditunjukkan.
3. Bukalah cakrawala hatimu seluas mungkin untuk bisa memahami kisah ini. Jika tidak, kau hanya akan menghujat dan melecehkan saja.

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

20 tanggapan untuk “Kisah 9 Bangsawan

  1. kang maaf mau nanya..?apa yang di maksud bersaksi dalam syahadat..bagaimana cara bersaksi dalam isi syahadat tersebut.di tunggu jawaban nya kang.

    1. Hmm knapa mas Yoga Dira bertanya seperti itu? Artikel ini kan tidak membahas ttg syahadat..
      Maaf saya tak bisa memberikan jawaban, ilmu saya masih terlalu cetek utk menguraikan hal itu..

  2. kang boleh tau no wa nya saya ingin saling tukar pengalaman..saya penasaran dengan peradaban bangsa lemurian ..kata nya ada sosok arkhytirema yang mengemban tugas sebagai duta perdamaian antar galaksi dan dimensi alam.di peradaban lemurian..???

    1. Oh gitu yah… info yg menarik tuh.. Kebetulan saya pun udah lama gak dpt info baru ttg Lemuria.. Tapi maaf bgt mas Yoga Dira, saya gak pake WA.. 🙂

  3. oia kang klo dapat info tentang peradaban bangsa lemurian di buat artikel nya kang pasti menarik..tentang sosok arkhytirema sebagai duta perdamaian.

    1. Hmm.. Tentang bangsa Lemuria sejujurnya saya sudah mendapatkan bbrp data dan informasi yg cukup detil, yg lebih saya yakini kebenarannya. Sudah ditulis pula di dalam buku “Sejarah Manusia” lengkap dg gambar dan ilustrasinya (buku ini blm diterbitkan). Mulai dari ciri fisiknya, asal usul kaumnya, sejarah berdirinya, simbol negaranya, hukum dan ketatanegaraannya, perekonomiannya, daftar raja-raja, arsitektur peradabannya, letak negara dan tata kotanya, sistem pendidikan, kesehatan, teknologi, militer, agama, pernikahan, aturan hak waris, seni budaya, bahasa dan aksara, menu makanan favorit, fashion, cara pemakaman, sampai dg kisah tragis keruntuhannya. Setidaknya sudah ada 33 poin pembahasan ttg bangsa ini yg rampung dituliskan. Dan fakta yg saya dapatkan itu juga sgt jauh berbeda dg kedua artikel yg pernah saya upload di blog ini sebelumnya (maklum dua artikel itu sebatas merangkum bbrp artikel yg bertebaran di internet, bukan dari hasil kajian dan penelusuran saya sendiri). Bahkan sgt jauh berbeda dari semua info dan pemahaman orang selama ini ttg bangsa tersebut. Tapi utk sementara waktu blm bisa di share di blog ini, masih hrs di rahasiakan dulu.. Ada protap. Maaf 🙂

      Ttg arkhytirema, entahlah saya kok gak yakin kalo sosok itu benar adanya (dalam artian seorang manusia). Apalagi jika dikaitkan dg bangsa Lemuria yg sebenarnya. Rasanya hanya sebatas fiksi belaka. Ato mungkin justru pengetahuan sayalah yg terlalu cetek, maklumlah cuma orang awam gini sih.. 🙂

      Tapi yg jelas, berdasarkan apa yg saya ketahui selama ini, nama arkhytirema itu tidak sesuai dg semua data dan informasi yg saya dapatkan ttg bangsa Lemuria.. Sgt jauh berbeda dg nama2 dari orang Lemuria yg saya ketahui.. Ya ibarat nama orang China dg orang Arab, yg jelas sekali berbeda kan? Jadi saya pun tak bisa menceritakan ttg arkhytirema kalo hrs dikaitkan dg bangsa Lemuria atau sebagai duta perdamaian antar galaksi dan dimensi. Dalam pemahaman saya, tak ada seorang pun dari bangsa Lemuria yg memakai nama seperti itu. Itu adalah bahasa yg berbeda.. Artinya, dalam versi yg saya ketahui, pahami dan yakini skr maka arkhytirema itu jelas bukan orang Lemuria, sebab nama itu pun bukan dalam bentuk bahasa yg dipakai oleh kaum Lemuria, sgt berbeda. Mungkin saja dia itu dari bangsa lain karena itulah namanya begitu, atau bahkan makhluk lain (bukan manusia, tapi ini akan bertentangan dg konsep cerita yg udah tersebar lewat novelnya). Itu menurut saya loh.. Silahkan kalo ada versi dan pendapat yg lain, monggo.. 🙂

  4. sayang sekali tdk di urai dgn jls negri para asya posisi nya brada dmn skrng,dan petuahnya tdk di sertai arti jd susah untuk memahami maknanya karna bahasa jutaan tahun yg lalu apalagi angka dlm petuah apakah koordinat atau apa jd susah menafsirkan.
    cuma filing saya kuil para asya lebih banyak beredar di nusantara mungkin sekitar ada 5 kuil entah benar atau salah .
    kalau menurut perhitungannya para asya kmbali ke muka bumi 5 juta thn sekali dan pernah turun 30 kali kemungkinan di masa sekarang mereka akan kembali turun entah kapanya turun

    1. Ya saya minta maaf mas Al Jalal karena gak bisa kasih terjemahan dari pesan itu, juga tentang dimana saja negeri dan lokasi kuil-kuil para Asya itu berada. Disini ada protap yang tak boleh dilanggar, saya hanya bertugas menyampaikan sebatas yg di perintahkan saja. Gak lebih dan gak kurang kok.. 🙂

      Tapi, begitulah seharusnya jika mengenai sebuah rahasia besar dan sangat penting bagi dunia. Memang harus sgt terahasia, sehingga butuh perjuangan yg sengit utk bisa menemukan jawabannya.. Gak bisa dong disamakan dengan informasi ttg harga cabe merah di pasaran.. 🙂

      Tentang kehadirannya, betul itu mas.. Mrk itu sudah kembali lagi ke Bumi (hanya saja blm menunjukkan dirinya).. Tapi ttg apakah mereka sudah mendidik para muridnya saya belum tahu.. Kemungkinan besar kali ini mrk justru tidak mengangkat seorang murid pun. Sebab mrk sendiri yang akan turun tangan langsung dibawah komando sang pemimpin tertinggi.. Begitu pula dg murid2 mereka yg pernah ada dulu juga akan ikut berjuang di akhir zaman ini. Sebab akan datang Al-Malhamah al-Kubro (perang maha dahsyat) yg akan mengguncangkan jagat raya..

  5. kalau menurut kang oedi sama para penutur yang kang oedi temui benarkah ada manusia terdahulu yg tinggal di planet lain dan galaxi lain dn beranak pinak sampai sekarang ?
    karna beberapa wktu yg lalu sy mengalami koneksi/ singkron frewkunsinya dgn sosok orang yg ada di planet lain dan galaxi lain .klo planetnya posisiny jaraknya 5 galaxi dari galaxi kita ,cuma sy blm yakin benar penglihatan batin sy ini apa mungkin ini cuma ilusi ukuran sosoknya 2x ukuran manusia bumi rambutny panjang di gelung ke atas pakaianya semacam kayak pendeta tao warna putih ada corak birunya posisinya orang sedang meditasi di pinggir tebing yg tinggi.
    dan saat ini td sy merasakan sosok orng yg sedang mengawasi nusantara menghadap keluar nusantara mengarah kedunia luar nusantara sambil memegang senjata di tangan cuma sosoknya msh samar tdk terlihat dgn jelas.
    mungkin kang oedi bisa ngasih pencerahannya

    1. Hmm.. kalo sampeyan ingat ttg tiga kaum yg pernah saya share, maka kaum Azkariyah telah memiliki Hiltram (pesawat antariksa berkecepatan cahaya), bahkan yg lebih canggih lagi yaitu Mulhatram atau biasa juga disebut Multram (pesawat penjelajahan antar galaksi). Sementara itu kaum yg lebih tua bernama Kaminos punya Hilos (pesawat antariksa berkecepatan cahaya), dan tentunya Milnos (pesawat penjelajah galaksi yang berkecepatan melebihi cahaya). Bahkan kaum Kaminos pun berhasil menciptakan alat teleportasi yang disebut Veunos serta mesin waktu yang dinamakan Ziyenos. Dan satu lagi yaitu kaum Nawali yg telah membangun Matran (pesawat berkecepatan cahaya), Magistra (pesawat jelajah antar galaksi dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya), alat teleportasi yang disebut Stranta, mesin waktu yang disebut Waktras, dan tentunya Usantra (mesin portal antar dimensi).

      Itu artinya, manusia terdahulu telah berkunjung ke bbrp planet yg ada di galaksi kita, juga galaksi yg lainnya. Disini tentu tidak menutup kemungkinan bila mrk dulu pernah menetap di suatu tempat (planet, galaksi), beranak pinak dan membangun peradaban yg baru disana. Atau bahkan mrk sudah berpindah dimensi kehidupan lantaran telah menciptakan mesin pembuka portal antar dimensi. Nah, atas petunjuk yg didapatkan dari Tuhan, sesekali mrk itu kembali atau berkunjung ke Bumi dg armada pesawatnya utk menjalankan tugas khusus. Kadang membantu manusia dlm membangun peradabannya, kadang justru menghancurkannya sebab perilaku manusia yg telah melampaui batas. Ini pernah berulang kali terjadi di masa lalu. Skr pun sedang berlangsung, karena mrk itu emg sudah ada yg mendekati Bumi ini lagi. Hanya saja teknologi manusia Bumi gak bisa mengetahui keberadaan mrk, sebab teknologi mrk itu sgt jauh di atas kita. Oleh mrk kita skr masih dianggap kuno. Hanya dg kontak batin (telepati, rogo sukmo) barulah bisa kontak dg mrk, itu pun kalo mrk mau ato mengizinkannya saja.

      Ttg sosok yg berpakaian ala pendeta Tao, bbrp kali saya pernah bertemu dg yg seperti itu. Ukuran tubuhnya bahkan ada yg 5-7 kali ukuran manusia skr, maklum mrk itu kaum yg hidup jutaan bahkan milyaran tahun silam. Model yg seperti itu emg pernah ada jauh sblm kebudayaan China kuno muncul di Asia Timur dan Asia Tengah.. Dan sampai skr mrk itu masih eksis kok, hanya saja sudah tidak lagi tinggal di Bumi ini. Mrk itu sudah berpindah dimensi kehidupan. Ada yg dg cara moksa, tapi ada pula yg dg menggunakan teknologi super canggihnya. Tapi sesekali mrk itu balik ke Bumi utk menjalankan tugas. Ya seperti yg belakang ini terjadi, dan kini masih berlangsung tapi dg cara rahasia..

      Ttg sosok yg mengawasi Nusantara, setau saya sih skr ini memang ada dan cukup byk jumlahnya. Ada dua jenis, yaitu yg positif dan negatif. Ada yg menghadap ke arah Bumi, tapi ada pula yg ke arah luar angkasa. Keduanya punya tugas dan tujuan yg berbeda. Ada yg baik dan ada pula yg buruk bagi kehidupan di Bumi ini. Mengenai bentuk-wujudnya beraneka ragam, ada yg bagus ada yg menyeramkan, ada yg kecil tapi ada pula yg raksasa.. Maklumlah mrk itu pun tidak hanya dari golongan manusia, karena ada sosok makhluk yg berbeda dan punya kemampuan yg beragam. Di bbrp tempat, khususnya di tanah Jawa skr mrk itu ada. Aura dan energinya terasa banget kok.. Bahkan di bbrp kesempatan kedua energi itu (positif dan negatif) pernah beradu.. Luar biasa, tapi ya gak bisa dirasakan dan disaksikan oleh semua orang..

      Gitu mas al Jalal, maaf kalo kurang memuaskan.. 🙂

  6. mungkin pas pulau jawa ada gempa ya kang,karna bbrp hari sblm gempa yg besr tiap mlm sy merasakan bumi bergetar kcl pas gempaa bsr sy merasakan para leluhur nusantara pada di panggil kumpul untuk bersiap seperti mau perang.

    1. Hmm kalo ttg itu saya kurang tau sih mas.. Tapi kalo mengenai para leluhur kita, sebenarnya mrk sudah bbrp tahun ini sering berkumpul kok, khususnya di tanah Jawa.. Mrk itu dari berbagai golongan seperti para Resi, Wali, Raja, Ratu, dan kesatria terbaik.. Mrk itu memang sudah bersiap utk terlibat langsung dg apapun yg terjadi nanti.. Skr ini hanya menunggu waktu hari “H” nya saja kok.. Saat itulah, orang2 yg gak percaya baru akan percaya..

  7. Baru baru ini saya di temui sosok imam ahlul bait allah dan di ajak ke dimensi bangsa peri ternyata saya di undang untuk mewakili bangsa manusia ternyata semua sudah menunggu saya bukan hanya peri saja bangsalain pun ada malaikat, dewa, jin, elfs dan manusia setengah binatang dan banyak lagi saat itu.
    awal kami berucap yaitu :
    ?bagaimana sudah lelah menjalani hidup sebagai sosok manusia??
    aku hanya bisa menangis saat itu setelah itu aku berkata :
    kenapa aku kebagian era bodoh zolim munafik dan fitnah ini??
    peri pun berkata :
    era mu akan segera berakhir sabarlah akan ada sosok lain selain putra maryam
    ia juga ingin bertemu dengan mu serta orang orang mukmin, seperti anda (mas oedi).
    sabarlah ( semua kompak menjawab )
    Bersabarlah dengan bahasa berbeda beda seperti bahasa umum mereka.
    .
    intinya mas oedi, selalu sadar diri atas perilaku dan menjadi diri sendiri itu lebih baik.
    .
    Salam.

    1. Salam juga mas Penegakdarma.. Nuwun karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Ow gitu yah mas.. Waah sebuah pengalaman yg menarik bgt tuh.. Nuwun utk informasinya ini.. Ttp semangat 🙂

  8. kang sy dpt info tentang nabi adam tmpt turunya pertama kali dan disitulah makamnya .info yg sy dpt makam berada di pulau jawa sktr jateng benar gk kang?
    dan tentang silsilah nabi muhamad beliu msh keturunan dr tanah jawa dr jalur ibu?

    1. Hmm.. dpt info dari mana itu mas Al Jalal?

      Setahu saya sih, beliau itu memang pernah ke tanah Jawa, berulang kali malah (mudah baginya karena kemampuan yg luarbiasa), tapi gak di turunkan disana apalagi sampai dimakamkan disana. Beliau di turunkannya di kota Makkah. Sedangkan ibunda Hawa lah yg diturunkan di tanah Jawa. Karena itulah beliau yg berjalan mencari ayahanda Adam AS selama 60 tahun, sampai akhirnya bertemu di Jabal Rahmah dekat kota Makkah, bukan sebaliknya. Dan saat itu blm ada yg namanya tanah Jawa, sebab Nusantara masih dalam satu daratan dg benua Asia dan Australia.

      Kalo ttg silsilah Nabi Muhammad SAW, saya sendiri meyakini bahwa beliau memang ada darah Jawa nya melalui jalur sang ibu. Itulah kenapa jauh sebelumnya, kedua sosok cikal bakal manusia itu (Adam dan Hawa) diturunkan di tempat yg berbeda. Satu di Makkah dan satunya lagi di Jawa. Itu sebagai isyarat bahwa Nabi yg terakhir akan berasal usul dari kedua tempat itu. Perpaduan dari keduanya itu akan melahirkan kesempurnaan.. Tentang hal ini tentu perlu pembahasan khusus, tak bisa dijelaskan disini, ada protap.. 🙂

  9. Negeri kritag ini Apa sama dg negara Nipong skrg ini, namanya mirip sama kudapannya doraemong… 😁 😬.
    Ngeri” yah pengalaman mas jalal & penegakdarma ini takjub saya dengarnya. Karena sangat jelas memang setiap kejadian juga peristiwa ada maksud dan tujuannya dumogi bisa jgn canggung dan segan untuk di share lebih banyak lagi di kolom ini… 😀 kalau saudara harunmah mpu’nya..😁 🙏

    “Sehingga bagi siapapun yang bisa memahami makna tersirat di dalamnya akan sangat beruntung. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga bagi orang lain” saya kok gag ngerti”yah maklumlah banyak sekali kurangnya dari segala hal malahan, mudahmudahan Harunata-ra saja yg bagi buat orang lainnya saya termasuk didalamnya… 😬 😁
    Semoga Hyang Aruta berkenan mau memberikan petunjuk, menggolongkan kita kedalam orang” yang beruntung dan diselamatkan.
    Salam.
    Rahayu… 🙏

    1. Hahaha… bisa aja kang Tufail neh.. saya malah gak tau ttg itu, bukan penggemar doraemon sih hehe… 😀
      Walah mpunya apaan kang, saya ini mah masih bau kencur, masih awam banget kok… Sampeyan semua tuh yg udah mumpuni.. silahkan di share disini ilmu dan pengalamannya.. 🙂
      Ya mungkin belum waktunya skr kang, bisa jadi nanti akan ngerti sendiri, semua ada waktunya kok.. Saya cuma bisa nyampaikan yg sesuai protap aja, sekali maaf.. 🙂

    1. Wa’alaikumsalam.. Terima kasih mas Ari karena masih mau berkunjung.. Moga ttp bermanfaat.. 😦
      Betul, era itu akan tiba.. Moga aja kita termasuk yg beruntung nanti..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s