Kerajaan Nawali: Sang Pemimpin Dari Timur

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Kali ini kita akan membahas tentang sebuah kerajaan yang sangat kuno yang pernah ada di timur Nusantara. Kerajaan ini berdiri pada masa akhir periode zaman ketiga (Dirganta-Ra). Sebuah kerajaan yang termasuk dari tiga kerajaan tersohor di seluruh dunia. Wilayah kekuasaannya sangat luas, peradabannya tinggi, kehidupan mereka makmur dan menjadi salah satu dari tiga pemimpin dunia. Baik para pejabat atau rakyatnya telah disegani dunia lantaran mereka selalu mengutamakan kebajikan dalam setiap perilakunya.

Nah, untuk mempersingkat waktu, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Dahulu kala, tepatnya di periode zaman ketiga (Dirganta-Ra), wilayah Bumi ini benar-benar dibagi ke dalam lima zona kawasan, yaitu Timur, Tengah, Barat, Utara dan Selatan. Kawasan Timur terdiri dari semua wilayah Asia Timur, Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara (Nusantara), Pasifik, Eropa Timur, Samudera Hindia bagian selatan, Samudera Pasifik bagian barat, benua Australia, dan New Zealand sekarang. Kawasan Tengah terdiri dari semua wilayah di Benua Amerika, Greenland, Iceland, sebagian Samudera Atlantik, dan Samudera Pasifik bagian utara dan selatan sekarang. Kawasan Barat terdiri dari semua kawasan Asia Barat, Timur Tengah, Benua Afrika, Eropa Barat, Eropa Utara, Samudera Hindia bagian barat dan sebagian Samudera Atlantik sekarang. Sedangkan untuk kawasan Utara dan Selatan, maka terdiri dari semua wilayah yang kini dikenal dengan Arctic (Kutub Utara) dan Antarctica (Kutub Selatan).

Begitulah lebih kurangnya jika disesuaikan dengan kondisi geografi Bumi saat ini. Cukup susah untuk menjelaskannya bila harus disesuaikan dengan keadaan sekarang, karena ada begitu banyak perubahan topografi wilayahnya. Yang dulu ada sekarang tidak ada, yang dulu daratan sekarang sudah menjadi selat dan lautan, yang dulu hutan dan padang rumput sekarang sudah menjadi gurun, yang dulu kering sekarang bersalju, yang dulu ada gunungnya sekarang sudah tidak ada, sebaliknya yang dulu tidak ada gunungnya sekarang ada yang menjulang tinggi. Begitu pun sebaliknya, karena memang ada banyak sekali yang berubah. Dan seperti itulah kondisi riil di muka Bumi ini, berulang kali pernah terjadi perubahan. Daratannya kadang timbul lalu tenggelam, menyatu lalu kemudian berpisah. Terus seperti itu dalam periode waktu tertentu. Dan setiap periode zamannya akan terasa sangat berbeda.

Nah, pada masa itulah sebuah kerajaan yang bernama Nawali pernah berdiri. Lokasinya berada di zona kawasan Timur Bumi, atau lebih tepatnya kini berada di sekitar antara pulau Papua, Maluku dan Filipina sekarang. Kerajaan ini tidak berdiri sendiri, karena ada banyak kerajaan yang menjadi bawahannya. Dari semuanya itu, maka terhitung ada 4 kerajaan inti dan satunya lagi sebagai kerajaan utama (pusat kerajaan); itulah yang bernama Nawali. Keempat kerajaan inti tersebut membawahi empat wilayah yang berbeda, yang didalamnya terdapat beberapa kerajaan. Bisa dibilang, kerajaan inti tersebut adalah wakil dari kerajaan Nawali di setiap daerahnya. Sehingga apapun yang terjadi di setiap kawasan akan diselesaikan oleh setiap kerajaan inti yang ada. Jika tidak bisa diselesaikan juga, barulah akan ditangani oleh kerajaan utama alias pemerintah pusat.

Adapun empat kerajaan yang disebut sebagai kerajaan inti yaitu: Naksamalaya, Sumanilaya, Girsanalaya, dan Zirtanalaya. Dibawah kerajaan inti tersebut, maka masih ada lagi kerajaan kecil lainnya yang juga bagian dari kerajaan Nawali. Semuanya telah terintegrasi dengan sangat baik sebagai sebuah negara federasi. Dan dikarenakan keadilan dan kesejahteraan telah merata di semua wilayah dan kerajaan, maka selama jutaan tahun tak pernah terjadi pergolakan. Semuanya hidup dengan aman dan damai. Mereka sangat puas dengan keadaan yang stabil itu.

Pendiri kerajaan Nawali ini bernama Niratta atau yang bergelar Sri Nirattamuyaka Jinahiyasya Alwinastika. Seorang yang berilmu tinggi, bijaksana dan penuh kewibawaan. Dibawah pemerintahannya, kerajaan Nawali tumbuh menjadi yang terbesar dan terhebat di kawasan Timur. Satu persatu kerajaan yang ada ikut bergabung dan menciptakan perdamaian di dalam kawasan selama ribuan tahun. Hingga pada akhirnya, kerajaan Nawali ini menjadi yang termahsyur di seluruh dunia pada masanya. Dan berhasil pula menyatukan semua negeri atau kerajaan yang berada di zona kawasan Timur Bumi dalam satu negara federasi selama jutaan tahun.

Sebelum menjadi raja, Niratta pernah berguru kepada seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Huriya AS. Selain berbagai ilmu pengetahuan, sang Nabi pun memberinya benda pusaka yang bisa digunakan untuk kerajaan yang kelak ia dirikan. Adapun pusaka tersebut adalah mahkota Sirama, tongkat komando Mirtama, dan kitab ilmu pengetahuan Wirtatama. Ketiga benda pusaka itulah yang menjadi modal utama bagi sang raja dalam memimpin kerajaan. Terus diwariskan dari generasi ke generasi, dan menjadi syarat mutlak bagi siapapun yang ingin menjadi raja berikutnya. Artinya, seorang raja pengganti itu haruslah mampu memegang, mengangkat, dan menggunakan ketiga pusaka tersebut dengan sempurna. Hanya orang yang berhati bersih dan memiliki kemampuan yang cukup saja yang bisa memenuhi syarat tersebut. Dialah sosok yang terpilih dari langit, sedangkan tiga benda pusaka itu sebatas untuk menunjukkannya agar tidak terjadi kekisruhan dalam menentukan siapakah yang paling berhak menjadi raja.

2. Penduduk
Adapun ciri fisik dari mereka yang tinggal di wilayah kerajaan Nawali ini – yang berasal dari kaum aslinya, maka mereka itu berkulit kuning langsat, bentuk wajah sedang atau cenderung agak lonjong, berhidung mancung, mata berwarna hitam kecoklatan, rambut berwarna hitam, alis rapi dan tebal, sementara bibirnya tipis. Dari semua ciri-ciri tersebut, tentunya mereka ini berpenampilan menawan, bahkan untuk standar manusia pada masa itu. Dan bila dibandingkan dengan manusia sekarang, maka kita ini tak ada apa-apanya.

Untuk ukuran tubuhnya, maka tinggi mereka saat itu rata-rata antara 15-17 meter. Umur mereka sangat panjang, karena rata-rata sampai di atas 850 tahun, bahkan lebih dari 1000 tahun. Ini belum lagi bagi mereka yang rajin olah batin dan ber-tapa brata, sebab akan mencapai umur ribuan tahun lamanya. Yang seperti ini banyak sekali di antara mereka. Karena sudah menjadi tradisi bahwa mereka akan sering ber-tapa brata untuk tujuan khusus. Hingga pada akhirnya mereka pun bisa meninggalkan alam dunia fana ini dengan jalan moksa.

Lalu, sedikit berbeda dengan di wilayah lainnya, maka di kemaharajaan Nawali ini terdapat perbedaan ras, kaum atau bangsa yang mencolok. Dan karena negara mereka dibagi ke dalam lima kerajaan inti, maka penduduknya berbeda-beda di setiap kerajaannya. Adapun di antaranya yaitu:

1) Kerajaan Naksamalaya
Penduduknya dominan berkulit putih, bentuk wajah lonjong, berhidung mancung, mata berwarna biru, rambut berwarna pirang atau keemasan, alis rapi, dan bibirnya tipis. Ukuran tubuh dan rata-rata umurnya sama dengan panduduk di kerajaan Nawali.

2) Kerajaan Sumanilaya
Penduduknya dominan berkulit hitam, bentuk wajah sedang, berhidung mancung, mata berwarna hitam, rambut berwarna hitam, alias rapi dan tebal, dan bibirnya sedang. Ukuran tubuh dan rata-rata umurnya sama dengan panduduk di kerajaan Nawali.

3) Kerajaan Girsanalaya
Penduduknya dominan berkulit kuning kemerahan, bentuk wajah agak bulat, berhidung sedang, mata berwarna kehijauan, rambut berwarna hitam kemerahan, alis agak tebal, dan bibirnya pun agak tebal. Ukuran tubuh dan rata-rata umurnya sama dengan panduduk di kerajaan Nawali.

4) Kerajaan Zirtanalaya
Penduduknya dominan berkulit gelap, bentuk wajah oval, berhidung sedang, mata berwarna hitam kecoklatan, rambut berwarna hitam, alias sedang, dan bibirnya pun sedang. Ukuran tubuh dan rata-rata umurnya sama dengan panduduk di kerajaan Nawali.

Begitulah gambaran fisik dari mereka yang hidup di wilayah kemaharajaan Nawali. Selebihnya ada ciri khas yang lain tapi bukan yang dominan. Karena itulah disini kami hanya menjelaskan yang dominannya saja, khususnya di setiap kerajaan inti tersebut.

Tentang kehidupannya sehari-hari, maka di setiap kerajaan inti punya tata caranya sendiri yang merupakan tradisi lokal. Hanya saja, karena mereka tergabung di dalam kemaharajaan Nawali, maka ada beberapa aturan dan tata cara yang sama seperti ritual ibadah, gotong royong, saling berbagi, silaturahmi, hukum (pidana dan perdata), ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Semua kerajaan menerima hal itu, sebab memang bagus, mudah diterapkan, dan memberikan manfaat. Terlebih semua itu adalah bimbingan dari Hyang Aruta (Tuhan YME) yang dibawa oleh seorang utusan yang bernama Nabi Huriya AS. Peristiwa tersebut terjadi sebelum kerajaan Nawali didirikan oleh raja Niratta.

3. Simbol negara
Oleh karena sudah berbentuk kerajaan yang berdaulat, maka tentulah mereka memiliki simbol yang menjadi ciri khas dari negaranya. Simbol itu lalu tertuang di dalam lambang negara yang diberi nama Asmatinaya dan bendera negara yang diberi nama Hagamarta. Yang semuanya itu sudah ada sejak masa kepemimpinan raja pertama mereka (Niratta). Lambang ini lalu digambarkan di atas background yang berwarna biru laut. Setiap detilnya memiliki makna filosofis yang mendalam dan menjadi pedoman dasar bagi kehidupan mereka dalam berbangsa dan bernegara.

Lalu, bendera kerajaan Nawali ini berwarna dasar merah darah. Pada bagian tengah bendera itu lalu digambarkan atau dibordirlah lambang negara yang berwarna emas di dalam sebuah lingkaran cahaya. Lambang negara itulah yang menjadi simbol utamanya. Dan sama dengan makna dari lambang negaranya, maka gambar lingkaran dan warna merah pada kain bendera juga memiliki makna yang mendalam, yaitu gagah berani dan bersikap kesatria dalam menjalankan aturan Tuhan.

Selain itu, ada satu simbol perjuangan yang senantiasa mereka pakai terutama dalam ranah pertempuran. Simbol ini berupa gambar burung Aswali yang berwarna emas dan biasanya ada di panji-panji perjuangan kerajaan. Adapun bentuknya mirip burung Peonix warna emas tapi pada bagian atas kepalanya justru mirip kepala burung merak. Simbol ini sangat dikenal dimana-mana, khususnya di zona kawasan Timur.

Catatan: Lambang, bendera dan panji-panji kerajaan Nawali ini tak bisa kami tampilkan disini, ada protap yang harus diikuti.

4. Tata kota dan bangunan
Tentang posisinya, maka letak dari pusat kemaharajaan Nawali ini berada di pesisir laut Sinmora (penamaan Samudera Pasifik kala itu). Pusat kotanya berada di sepanjang garis pantai yang kontur tanahnya tidak selalu rata alias ada yang datar dan ada pula yang berbukit. Sementara istana kerajaannya berada tepat di atas bukit batu yang berada tepat di tepi laut Sinmora. Bangunan istana dan gedung-gedung kotanya menghadap ke arah timur, sehingga pada setiap harinya bisa dengan mudah menyaksikan indahnya pemandangan matahari terbit (sunrise). Sungguh memukau.

Tentang detil bangunannya, maka terdiri dari berbagai gaya arsitektur yang mirip dengan ciri khas dari bangsa Mesir, Babylonia, Yunani, Maya-Aztec, Skandinavia, China-Jepang-Korea, Persia, India dan candi-candi yang ada di kawasan Asia Tenggara di periode zaman kita ini (Rupanta-Ra). Karena itulah, dalam satu kota selalu terdapat beragam gaya arsitektur bangunannya. Semuanya itu terlihat indah dan megah, sebab dikerjakan dengan sangat rapi dan halus. Dan tentunya mereka telah menerapkan teknologi yang canggih demi mendapatkan hasil yang memuaskan dan bertahan lama.

Lalu untuk bahan dasar yang digunakan, mereka telah memakai batu marmer, pualam, granit, giok, dan berbagai logam mulia (emas, perak, perunggu, platinum, dll). Agar tampilannya lebih menawan, maka penggunaan kaca, berbagai batu permata, kristal dan intan berwarna-warni adalah hal yang biasa. Semuanya dikerjakan dengan sangat teliti dan halus, sehingga tampak begitu indah dan mewah. Bahkan ada satu lagi yang unik dari mereka yaitu telah membangun kota yang berada tepat di atas dan di bawah lautan. Semuanya dibangun dengan teknologi yang luar biasa, yang kita sekarang belum memilikinya. Posisi kota yang disebut dengan Quadestya ini berada tepat di depan istana kerajaan yang jaraknya sekitar 25-30 kilometer di lepas pantai. Bahkan masih ada lagi yang lebih istinewa dari kaum ini, dimana mereka telah membangun satu kota yang berada di awan. Ya, kota tersebut mengambang di udara karena mereka sudah menguasai teknologi anti gravitasi dan menciptakan peralatan yang bisa membuat setiap benda mengambang dengan stabil. Kota yang disebut dengan Syamuralaya ini berada di sebelah barat atas istana kerajaan dengan ketinggian yang bisa diatur. Rata-rata berada di ketinggian antara 5-15 kilometer dari permukaan tanah. Mereka yang terpilih diizinkan untuk tinggal atau berkunjung kesana selama beberapa waktu. Untuk bisa tiba disana, mereka akan menaiki Mosinda (semacam mobil terbang) yang bentuknya bermacam-macam.

Selanjutnya, mengenai tata kotanya maka di setiap wilayah yang ada di kemaharajaan Nawali sangat memperhatikan segala unsur alam. Semua kota yang dibangun harus memenuhi beberapa kriteria dan penuh perhitungan agar menciptakan keseimbangan dan keharnomisan hidup. Tidak hanya untuk manusia, tetapi bagi makhluk lainnya. Tak ada yang mengabaikan hal ini, karena mereka sendiri telah sampai pada pribadi yang sadar diri dan bijaksana. Segala sesuatu yang berakibat buruk atau menyimpang dari kebajikan tak pernah mereka lakukan. Karena itulah sepanjang sejarah kehidupannya, warga yang hidup di kemaharajaan Nawali ini senantiasa hidup makmur dan bahagia. Mereka tak pernah tertimpa bencana alam atau wabah penyakit, karena semua orang mau menjalani hidup yang benar dan selaras dengan kondisi alam semesta. Dan meskipun mereka telah membangun begitu banyak gedung dan kota yang besar, namun semuanya diatur sedemikian rupa agar tetap harmonis dengan lingkungan sekitarnya. Megah tapi sekaligus tampak alami.

5. Kejayaan
Dalam kehidupan di kemaharajaan Nawali ini, maka antara magic dan science telah berpadu. Artinya, antara ilmu pengetahuan ilmiah dan ilmu batiniah telah menyatu dalam kehidupan masyarakatnya. Perpaduan kedua hal itu menimbulkan manfaat yang luar biasa. Karena itulah terjadi keseimbangan hidup yang memang diinginkan oleh setiap insan yang berakal. Sebab, selain bisa menguasai sains dan teknologi, mereka juga sangat menguasai ilmu kanuragan, kadigdayan dan kesaktian lainnya. Inilah yang menjadi cikal bakal bagi mereka untuk membangun peradaban yang sangat tinggi dan menjadi mercusuar dunia pada masanya.

Adapun contoh kejayaan yang telah mereka capai pada saat itu adalah sebagai berikut:

1) Hukum dan ketatanegaraan
Untuk urusan pemilihan seorang Hisara (raja) atau Misara (ratu), kaum Nawali telah menentukan sebuah konsep yang tertata rapi. Dimana seorang penguasa akan ditunjuk langsung oleh rakyatnya melalui perantara Dastanaya (dewan/majelis umat) setelah musyawarah mufakat. Hanya saja pada periode pertamanya raja Niratta atau yang bergelar Nirattamuyaka Jinahiyasya Alwinastika bisa menjadi Hisara (raja) tanpa musyawarah. Itu disebabkan tak ada raja sebelum dirinya dan dialah pula yang mendirikan kerajaan Nawali. Disamping itu, ia menerima jabatan itu atas penunjukkan langsung dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Disini Nabi Huriya AS sendiri yang menyampaikan dan melantiknya.

Selanjutnya, setelah masa raja Niratta, maka mekanisme penunjukkan seorang pemimpin itu berlangsung dengan cara musyawarah. 10 orang Dastanaya (dewan/majelis umat) yang akan menentukan siapakah yang layak menjadi Hisara (raja) atau Misara (ratu) selanjutnya. Adapun Dastanaya ini sendiri adalah kumpulan dari orang-orang yang sangat dihormati, dituakan, berilmu tinggi, bijaksana dan dapat dipercaya di dalam kerajaan Nawali.

Sebelumnya, para Dastanaya (dewan/majelis umat) itu akan mengamati orang-orang yang nantinya akan menjadi calon pemimpin. Semua gerak-gerik dan kemampuan diri si calon terus di perhatikan sejak lama. Sedangkan yang dijadikan patokannya adalah sebagai berikut:

1. Jujur dalam setiap ucapan dan tindakannya.
2. Memiliki sifat yang tangguh dan penuh rasa tanggungjawab.
3. Bersikap rendah hati dan penyayang.
4. Tidak terlalu mencintai duniawi (zuhud) dan setia.
5. Harus cerdas dan menguasai berbagai bidang keilmuan: ilmiah dan batiniah.

Masa jabatan bagi seorang Hisara (raja) atau Misara (ratu) sebenarnya untuk seumur hidup, tetapi dalam kenyataannya tidak pernah terjadi demikian. Setiap Hisara (raja) atau Misara (ratu) tidak ada yang menjabat sampai mati tua, karena biasanya ia akan mengundurkan diri setelah merasa cukup atau apa yang ia targetkan di dalam masa kepemimpinannya sudah tercapai. Mereka semua tahu kapan ia harus memegang jabatan dan kapan pula harus melepaskannya. Ini juga bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada yang lainnya. Terlebih mereka pun ingin bisa segera mencapai moksa.

Untuk pergantiannya, maka pada awalnya Prabu Niratta sendiri yang menunjuk siapakah penggantinya. Setelah itu, barulah di lakukan penunjukkan langsung oleh para Dastanaya (dewan/majelis umat) seusai melakukan seleksi dan musyawarah mufakat. Alasan utama dalam pergantian ini adalah karena sang pemimpin mengundurkan diri sebelum ia mengasingkan diri dari kehidupan duniawi. Dan mengenai siapakah penggantinya nanti, maka jauh sebelumnya telah dipilih orang-orang yang memenuhi kelima syarat di atas. Mereka lalu diseleksi dalam sebuah wawancara dan tes kemampuan khusus. Hasilnya akan menentukan siapakah calon-calon terbaik untuk menggantikan raja sebelumnya. Kemudian, selain telah memenuhi lima syarat di atas dan lulus seleksi, maka ada satu syarat lagi yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk bisa menjadi raja atau ratu. Hal itu adalah harus bisa memegang, mengangkat, dan menggunakan ketiga benda pusaka warisan dari Prabu Niratta, sang pendiri kerajaan. Hanya yang terbaik dan terpilih saja yang bisa memenuhinya.

Selanjutnya, mengenai hukum yang diterapkan di kemaharajaan Nawali ini sudah lengkap. Semuanya ditentukan berdasarkan hukum dan aturan dari Hyang Aruta (Tuhan YME), juga kondisi dan kebutuhan mereka pada saat itu. Adapun di antaranya yaitu:

1) Perzinahan: (1) Bagi yang belum menikah, maka hukumannya adalah diikat ke pohon secara terpisah di hutan selama 3 tahun (dalam pengasingan ini, akan ada yang meninggal atau gila). Keduanya tetap diberi makan dan minum namun hanya dalam jumlah yang terbatas. Setelah itu, keduanya lalu dinikahkan. (2) Bagi pelaku yang telah menikah (perselingkuhan) atau janda atau duda, maka hukumannya adalah di rajam sampai mati di tengah kota.
(3) Khusus untuk kasus perkosaan, maka si pelakunya akan dikenai hukuman cambuk 50 kali dan di gantung sampai mati di alun-alun kota. (4) Khusus pelaku penyimpangan seksual (homosex, lesbian, incest (sex sedarah), bestially (sex dengan hewan), pedophilia (sex dengan anak kecil) dsb)) akan dikenai hukuman rajam sampai mati.

2) Pencurian: Semua jenis pencurian, baik itu banyak ataupun sedikit dan dengan alasan apapun, maka hukumannya adalah si pelaku akan di arak keliling kota sementara ia harus berteriak dengan mengatakan “Aku malu dengan perbuatanku ini. Aku merasa bersalah dan tidak akan mengulanginya lagi. Jika aku mengulanginya lagi, maka aku pun bersedia menerima hukuman yang lebih berat”. Setelah di arak, ia akan diikat di pohon selama tiga hari. Diberi makan dan minum, tetapi hanya sedikit. Selanjutnya ia bisa bebas dari hukuman. Jika ia melakukan pencurian lagi, maka tangannya akan dipotong. Jika masih tetap mencuri, maka akan dipenjara seumur hidup. Semua hartanya disita oleh negara.

3) Penipuan: Pelaku akan dikenai hukuman mengganti kerugian si korban sebanyak dua kali lipat atau lebih, sesuai keputusan hakim. Jika sampai merugikan orang banyak dan negara, maka semua harta miliknya juga disita oleh negara.

4) Penganiayaan: Pelaku akan dikenai hukuman qisas (balas) sebanyak dua kali lipatnya. Yang memberikan hukuman adalah si korban atau algojo kerajaan.

5) Pembunuhan: (1) Di sengaja, maka hukumannya adalah di hukum mati dengan cara di gantung. (2) Tidak di sengaja, maka pelaku akan di hukum dengan cara ia harus menanggung nasib keluarga korban atau mengabdi kepada keluarga si korban selama 25 tahun atau sampai keluarga si korban mau mengikhlaskannya. Jika belum, maka pelaku harus terus menerus menjamin kehidupan atau mengabdi kepada keluarga si korban.

6) Fitnah: Pelaku akan dikenai hukuman kerja bakti pada negara selama 5-10 tahun. Jika sampai menimbulkan korban luka atau meninggal, pelaku akan dikenai hukuman yang sama dengan pelaku penganiayaan atau pembunuhan.

7) Pengkhianatan: Pelaku akan dikenai hukuman penjara selama minimal 25 tahun atau sampai dihukum mati dengan cara dipancung.

8) Persengketaan: Semua aturannya sudah ditetapkan dalam kitab hukum perdata milik kerajaan yang sesuai dengan hukum syariat Nabi Huriya AS.

9) Durhaka: Bagi anak yang telah durhaka kepada kedua orangtuanya, terlebih ibunya, maka ia pun harus menerima hukuman yaitu mengantarkan orangtuanya tersebut kemanapun yang mereka inginkan dengan cara harus menggendongnya. Biasanya pada waktu itu sang ibu akan meminta anaknya untuk menggendongnya tetapi harus melalui perbukitan. Jika masih mengulangi kedurhakaannya, si anak akan menerima hukuman dari negara yaitu di penjara dan kerja bakti di pertambangan selama 5-10 tahun. Tergantung permintaan dari orang tuanya atau sesuai keputusan hakim.

10) Kekerasan dalam rumah tangga: Korban harus memilih di antara tiga hukuman bagi si pelaku, yaitu di cambuk sebanyak 25 kali, atau dipenjara selama 2 tahun, atau memberi maaf dengan syarat si pelaku mau bertobat dan tidak mengulangi kejahatannya itu. Jika ia tetap mengulanginya lagi, negara akan memberikan hukuman dengan memerintahkan para algojo untuk memukuli si pelaku, mencambukinya, dan memasukkannya ke penjara selama 5 tahun. Jika masih saja melakukan kekerasan, si korban disarankan untuk segera mengajukan perceraian, sementara si pelaku akan dikenai hukuman penjara selama 10 tahun dengan terlebih dulu mendapatkan balasan dua kali lipat dari kekerasan yang telah ia lakukan kepada si korban. Para algojo kerajaanlah yang melaksanakannya.

11) Kerusakan lingkungan: Pelaku akan dikenai hukuman penjara selama 20-25 tahun atau lebih sesuai dengan keputusan hakim. Jika sampai menyebabkan korban luka atau tewas, ia akan dikenai hukuman yang sama dengan penganiayaan atau pembunuhan.

Demikianlah sekilas gambaran tentang hukum yang berlaku di kemaharajaan Nawali. Terhadap hukum tersebut, kaum ini sangat patuh dan bisa dibilang hampir tak ada yang pernah melanggarnya. Karena itulah, di seluruh wilayah kemaharajaan Nawali selalu dalam keadaan aman dan tertib. Siapapun akan merasa nyaman dan betah untuk tinggal dan berlama-lama di negeri itu. Sungguh membuat iri saja.

2) Struktur kepemimpinan
Kerajaan Nawali ini juga telah mengenal hirarki kepemimpinan yang kemudian di tuangkan dalam bentuk struktur pemerintahan. Semuanya di sesuaikan dengan kebutuhan mereka saat itu. Dimana pemimpin tertinggi dari negaranya adalah Hisara (raja) atau Misara (ratu), yang di angkat atas dasar penunjukkan oleh para Dastanaya (dewan atau majelis umat yang berjumlah 10 orang) melalui seleksi yang ketat dan musyawarah mufakat. Setelah itu, ia juga harus mampu memegang, mengangkat, dan menggunakan tiga benda pusaka pemberian dari Nabi Huriya AS.

Selanjutnya, dalam bertugas, seorang Hisara (raja) atau Misara (ratu) akan di awasi oleh Dastanaya (dewan atau majelis umat). Sedangkan untuk memudahkan dalam menjalankan tugasnya, maka ia akan dibantu oleh dua orang Giyanara (penasehat urusan ilmiah dan batiniah), beberapa Mantranara (menteri) dan pejabat lainnya. Adapun di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Isar (wakil raja di setiap kawasan)
Jabatan ini dipegang oleh orang-orang yang terpilih dan diangkat langsung oleh Hisara (raja) atau Misara (ratu). Tugasnya adalah memimpin atau mengkoordinir semua raja yang ada di setiap kawasannya. Ia bertanggung jawab penuh kepada Hisara (raja) atau Misara (ratu).

2. Mantranara Hukrasaya (menteri sosial dan ketertiban)
Menteri ini membantu Hisara (raja) atau Misara (ratu) dalam urusan hukum dan undang-undang yang ada bagi masyarakat. Atau bagaimana caranya bisa mengatur kehidupan kaum agar tetap aman dan damai dengan mengikuti hukum Tuhan yang benar.

3. Mantranara Prataya (menteri kemakmuran)
Menteri ini membantu Hisara (raja) atau Misara (ratu) dalam urusan mengatur masalah pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pertambangan, kerajinan tangan, industri, dan semua jenis kebutuhan pokok di dalam negeri Nawali.

4. Mantranara Kubaraya (menteri kesejahteraan)
Menteri ini membantu Hisara (raja) atau Misara (ratu) dalam urusan perekonomian. Bagaimana mengatur kehidupan kaum agar lebih maju dan sejahtera. Di dalam kementerian ini ada departemen yang khusus mengurusi perdagangan, jual beli (di dalam atau luar negeri) dan mengatur kehidupan pasar agar tetap teratur dan bisa selalu membawa keuntungan.

5. Mantranara Mirtanaya (menteri sains dan teknologi)
Menteri ini membantu Hisara (raja) atau Misara (ratu) dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Tentang bagaimana meningkatkan taraf kehidupan kaum dengan cara memajukan teknologi dan peradabannya.

6. Mantranara Zarukaya (menteri pertahanan dan keamanan)
Menteri ini membantu Hisara (raja) atau Misara (ratu) dalam urusan pertahanan dan keamanan negara. Dijabat langsung oleh Makuyara (panglima militer).

7. Sinawaliya (gubernur atau raja bawahan)
Jabatan ini dipegang oleh para raja atau ratu yang ada di setiap daerah atau kerajaan yang termasuk dalam wilayah kemaharajaan Nawali. Bersama-sama dengan Isar, merekalah yang mengelola negerinya dan menjaga ketertiban penduduk. Apapun yang akan diputuskan harus dikonsultasikan kepada Isar sebelum mendapatkan restu dari Hisara (raja) atau Misara (ratu). Dan karena Sinawaliya ini sebenarnya berkedudukan sebagai patner/sahabat dari Hisara (raja) atau Misara (ratu), mereka bisa berkonsultasi langsung kepada Hisara (raja) atau Misara (ratu) tanpa hambatan birokrasi. Kedudukan mereka dalam kemaharajaan Nawali tetaplah istimewa dan mendapatkan otonomi yang luas.

8. Mahikimaya (hakim agung), Akimaya (hakim daerah)
Mereka ini adalah orang-orang yang memimpin pengadilan dan memutuskan berbagai perkara. Selain itu mereka juga berfungsi sebagai ulama atau rohaniawan.

Catatan: Di setiap kementerian terdapat beberapa departemen dan direktorat yang mengurusi masalah yang berbeda. Mereka ini membantu para menteri dalam mengelola negara (SDA dan SDM). Tidak hanya berada di pusat, tapi juga di setiap daerah/kerajaan.

3) Perekonomian
Tidak ada pajak dalam ketatanegaraan mereka. Tidak perlu, karena negara dan rakyatnya mampu mengelola sumber daya yang ada (SDA dan SDM) untuk kemakmuran hidupnya. Mereka tetap bisa memutar roda perekonomiannya dengan lancar dengan mengandalkan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kelautan, pertambangan, kerajinan tangan, textile, perdagangan, dan industri. Semuanya dijalankan dengan teratur dan dikelola oleh sistem yang terkendali mutu. Pemerintah yang menjamin semuanya itu bisa berjalan lancar, aman dan tertib. Rakyat pun turut serta dan menikmati hasilnya dengan penuh keadilan dan kebijaksanaan.

Selain itu, pasar-pasar mereka sudah moderen karena dibangun dari bahan-bahan pilihan. Setiap pedagang dan pembelinya langsung melakukan tawar menawar harga dengan arif. Alat pembayarannya terbuat dari uang koin emas atau perak yang biasa disebut Mayar. Disamping itu, ada pula yang menggunakan uang digital berbentuk kartu chip dengan terlebih dulu mengisinya di kantor kas negara yang dikenal dengan nama Baltayar. Selain untuk pengisian uang digital atau yang disebut Mahiyar itu, kantor Baltayar ini juga berfungsi untuk tempat menabung dan menyimpan harta kekayaan warga – terutama perhiasan. Dalam hal ini tak ada bunga atau pungutan apapun. Negara yang mengelola dan menanggung semua biayanya. Penduduk hanya tinggal memanfaatkannya saja dengan gratis.

4) Sistem pendidikan
Dalam urusan pendidikan, di kemaharajaan Nawali ini sudah ditetapkan dua cara dalam belajar mengajarnya. Pertama di lakukan di komplek sekolah yang disebut Singkapaya, dan yang kedua di sebuah akademi khusus yang disebut Sindapaya. Kedua sistem itu harus ditempuh oleh para anasa (murid) dalam waktu yang berbeda. Artinya, selama enam bulan pertama mereka akan belajar di Singkapaya (sekolah), selanjutnya di enam bulan kedua mereka akan belajar di Sindapaya (akademi). Begitulah seterusnya sampai beberapa tahun. Selama di Singkapaya (sekolah), setiap anasa (murid) akan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan ilmiah (fisika, kimia, hitungan, teknik, dll), sementara di Sindapaya (akademi) setiap anasa (murid) akan mempelajari seluk beluk ilmu kebatinan (kanuragan, kadigdayan) dan kebijaksanaan. Di Sindapaya (akademi) inilah mereka mendapatkan kesempatan untuk bisa mengasah kemampuan tersembunyi dalam dirinya dan menguasai berbagai ilmu kesaktian serta tasawuf. Sedangkan di Singkapaya, mereka hanya berkesempatan untuk bisa menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selama di Sindapaya (akademi), setiap anasa (murid) akan mengikuti tata cara dan anjuran dari para atunaya (guru Begawan). Mereka juga menginap di asrama yang ada di Sindapaya (akademi). Semua kebutuhan hidup pun harus mereka penuhi sendiri dengan cara bercocok tanam dan beternak. Tidak ada pengecualian disini, karena itu juga demi melatih kemandirian mereka. Dan apa yang didapatkan oleh setiap anasa (murid) akan sesuai pula dengan niat dan usaha mereka sendiri. Sang guru hanya sebatas pembimbing dan menunjukkan jalan kesuksesannya. Karena itulah tidak ada jenjang pendidikan atau pun standar khusus untuk kelulusannya. Setiap anasa (murid) berhak menentukan apa yang ingin dia raih dan cita-citakan. Sindapaya (akademi) dan para atunaya (guru Begawan) hanya sebagai fasilitas dan perantaranya saja.

Sementara itu, khusus untuk di Singkapaya (sekolah), maka tidak ada juga jenjang pendidikan yang ditentukan. Sistem belajar dan mengajar yang ada disana seperti layaknya seminar di zaman kita sekarang. Jadi, setiap anasa (murid) akan duduk di dalam kelas, di atas kursi yang terbuat dari kayu. Kursi-kursi ini layaknya bangku kuliah di zaman sekarang, yang disertai dengan mejanya. Semua kursi anasa (murid) di susun berbaris ke belakang setengah lingkaran dan menghadap ke papan tulis berwarna hitam yang terbuat dari kayu. Untuk menulis di atas papan tulis itu, maka digunakanlah batu kapur yang berwarna putih, dengan penghapus yang terbuat dari kain. Dimasa berikutnya sudah menggunakan imu atau spidol pada masa sekarang, karena papan tulisnya berwarna putih. Bahkan selanjutnya juga menggunakan semacam proyektor LCD untuk menampilkan semua materi pelajaran.

Di depan kursi para anasa (murid) ada satu kursi dan meja untuk seorang atuya (guru). Posisinya berada dibawah kursi para anasa (murid), sehingga kondisi di ruangan kelas ini lebih mirip ruang seminar audiovisual pada zaman sekarang. Di dalam ruang kelas ini terdapat satu lemari yang berfungsi sebagai tempat tas dan alas kaki (sepatu atau sandal) bagi para murid. Ada pula beberapa bunga atau tanaman hias yang berada di dalam pot. Terdapat juga dua jendela kaca yang berbentuk bulat untuk sirkulasi udara. Tentunya jendela ini bisa dibuka tutup untuk mengatur pencahayaan di dalam kelas. Ruang kelas ini sangat nyaman untuk proses belajar mengajar.

Catatan: Selain di dalam kelas (indoor), materi pelajaran juga disampaikan oleh para atuya (guru) di luar kelas (outdoor). Hal ini bahkan sering di lakukan karena terbukti sangat bermanfaat.

Setiap anasa (murid) menerima berbagai pelajaran sejak awal masuk ke Singkapaya (sekolah). Secara bertahap, materinya disampaikan oleh para atuya (guru) yang berkompeten. Adapun ilmu pengetahuan yang di ajarkan disini yaitu:

1. Milnawaya (ilmu alam dan biologi)
2. Zartunaya (ilmu fisika dan kimia)
3. Kisauraya (ilmu astronomi dan kosmik)
4. Tilanakaya (ilmu pertanian dan perkebunan)
5. Asahitaya (ilmu peternakan dan perikanan)
6. Sinoabaya (ilmu hitungan)
7. Ranusoya (ilmu ekonomi dan perdagangan)
8. Jiwantaya (ilmu kesehatan dan kedokteran)
10. Tattanaya (ilmu hukum dan ketatanegaraan)
11. Karyanaya (ilmu seni, sastra dan budaya)
12. Purbanaya (ilmu sejarah, antropologi dan arkeologi)
13. Waltunaya (ilmu arsitek dan bangunan)
13. Roursaya (ilmu teknik dan elektronik)
15. Dinaroya (ilmu agama)
16. Girtanaya (ilmu beladiri dan kanuragan) -> disini hanya untuk tingkat dasar, karena selanjutnya harus didapatkan di Sindapaya (akademi).

Semua mata pelajaran itu diterima oleh para anasa (murid) dari para atuya (guru) yang cerdas. Untuk bisa menghidupkan suasana dan membangkitkan kreativitas dari para anasa (murid), maka forum diskusi di wasinah (perpustakaan) dan praktek langsung di amutah (laboratorium) atau lapangan juga sering di lakukan. Bagi setiap anasa (murid) pun dibolehkan untuk memilih sebagian saja dari semua mata pelajaran itu, yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Tak ada paksaan dalam menentukan konsentrasi ilmu yang ingin dikuasai. Semua anasa (murid) berhak memilih tanpa ada paksaan dari atuya (guru) atau pihak Singkapaya (sekolah). Kurikulum mereka sifatnya tidak kaku alias bebas tapi selalu bertanggungjawab. Sebab tetap ada standar khusus yang ditentukan untuk kelulusan. Di antaranya harus bisa menghasilkan karya cipta yang bagus dan berguna untuk kepentingan orang banyak. Dari setiap karya cipta itulah, maka pihak Singkapaya (sekolah) akan memberikan musarah (ijazah) kepada anasa (murid) yang bersangkutan. Satu karya cipta akan mendapatkan satu ijazah. Dua karya cipta akan mendapatkan dua ijazah. Begitulah seterusnya, karena mereka sangat menghargai hasil karya seseorang. Ijazah itulah yang berguna bagi para anasa (murid) dalam kehidupan mereka nanti di tengah-tengah masyarakat.

Adapun di dalam Singkapaya (sekolah) ini tidak ada struktur jabatan, karena hanya terdiri dari para atuya (guru) dan anasa (murid)-nya saja. Mereka pun tidak pernah membutuhkan para penjaga sekolah, karena kondisi di dalam negara mereka sangat aman dan terkendali. Tidak pula memerlukan petugas kebersihan, sebab telah di tanggung sendiri oleh para anasa (murid) dengan penuh kesadaran dan bergotong royong. Selain itu, hanya ada muah (koki) dan asistennya saja yang bertugas untuk menyiapkan sarapan dan makan siang bagi para anasa (murid) dan atuya (guru). Semua biayanya ditanggung oleh negara, alias gratis bagi para anasa (murid) dan atuya (guru). Para atuya (guru), muah (koki) dan asistennya digaji oleh negara.

Proses belajar mengajar dimulai sejak jam 07.00-13.00, dengan waktu sarapan jam 07.30 dan istirahat makan siang jam 12.30-13.00. Selanjutnya bebas untuk melakukan riset dan diskusi sampai jam 15.00. Sekolah di laksanakan selama 5 hari berturut-turut lalu libur selama 2 hari, begitulah seterusnya sampai 6 bulan. Tidak ada batasan umur untuk bisa sekolah. Tidak pula ada ujian khusus untuk bisa naik tingkat, lantaran yang ada hanyalah sistem setor hasil karya kepada sang guru. Khusus untuk pelajaran sastra, maka setiap murid harus menyetor hasil karya mereka kepada gurunya di setiap 5-7 hari sekali. Sedangkan untuk pelajaran seni (lukis, pahat, dll), maka setiap murid harus menyetorkan hasil karyanya pada sang guru di setiap 10-15 hari sekali. Tidak ada ujian kelulusan bagi para anasa (murid). Yang ada hanyalah setor karya cipta terbaik demi mendapatkan musarah (ijazah) yang di keluarkan oleh sekolah. Dan tidak ada batasan waktu disini, karena setiap orang akan belajar di Singkapaya (sekolah) ini sampai ia bisa dan menguasai apa yang diinginkannya. Selebihnya ia akan mengembangkan sendiri secara mandiri, lantaran mereka pun sangat cerdas.

5) Teknologi
Tentang teknologinya, bangsa Nawali ini telah sampai pada puncak peradaban manusia. Tolak ukur untuk hal itu adalah selain telah membangun kota di bawah laut (Quadestya) dan yang di atas awan (Syamuralaya), mereka juga telah berhasil membangun armada luar angkasa yang biasa disebut dengan Magistra. Armada ini merupakan pesawat terbang super canggih yang mampu menjelajah antar galaksi dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Berbentuk bulat oval, berwarna silver, dengan ukuran yang sebesar kota Jogjakarta sekarang. Segala fasilitas untuk bertahan hidup ada didalam pesawat ini. Misalnya ada taman, kolam, perkebunan, apartemen, dll. Di dalam pesawat ini juga terdapat banyak Mosinda (semacam mobil terbang), Lowas (pesawat tanpa awak/drone), dan Matran (pesawat berkecepatan cahaya) untuk beberapa keperluan diluar Magistra. Dan dalam keadaan tertentu mereka akan mengirimkan beberapa Soul (robot humanoid) untuk terlebih dulu melakukan pengamatan sebelum manusia yang dikirim. Karena itulah, pada setiap kali menjelajah angkasa, mereka akan menempuh waktu selama puluhan tahun. Tak ada masalah apapun disini, karena semua kebutuhannya telah dipersiapkan dengan sangat baik, apapun itu.

Lalu, tentang peralatan tempur dan berbagai senjatanya, maka tak perlu lagi dipertanyakan. Karena mereka sudah menciptakan apa yang masih dalam imajinasi para ilmuwan sekarang. Semua jenis peluru sudah sangat lama mereka tinggalkan, karena telah digantikan dengan laser. Satu bom kristal yang berukuran sekepalan tangan saja bisa menghancurkan sebuah kota besar tanpa radiasi kimia. Bom yang jika dimasa kita sekarang disebut granat ini, diberi nama Sitar. Daya ledaknya seperti bom atom, yang ternyata memiliki beberapa level yang berbeda – meskipun tetap berukuran sekepalan tangan. Selain isinya, maka warna dan desain bentuknya saja yang berbeda. Nah, bom yang semacam ini tidak mereka pakai untuk keperluan di Bumi, tetapi lebih kepada untuk penjelajahan luar angkasa. Biasanya untuk menghancurkan meteor atau asteroid yang menghalangi jalur penerbangan mereka.

Selain itu, mereka juga sudah menciptakan alat teleportasi yang disebut Stranta, dan mesin waktu yang disebut Waktras. Hanya Stranta yang sering dipergunakan, sebab Waktras tidak boleh sembarangan dipakai. Hanya oleh kalangan tertentu dan untuk tujuan yang sangat khusus saja. Begitu juga dengan mesin yang bisa membuatkan portal antar dimensi yang disebut Usantra telah berhasil mereka bangun. Alat ini bisa membuka portal untuk lima buah dimensi lainnya. Dan sama dengan Waktras, maka mesin super canggih ini sangat jarang digunakan dan hanya bagi kalangan khusus saja. Demikianlah Nabi Huriya AS telah memperingatkan mereka sejak sebelum mesin-mesin itu berhasil dibangun. Jika di langgar, maka dampaknya akan sangat buruk bagi kehidupan manusia.

Catatan: Semua teknologi mereka ini memanfaatkan energi kristal dan kosmik. Energi murni ini belum dimiliki, bahkan belum dipahami oleh manusia sekarang.

Selain itu, meskipun mampu menciptakan berbagai varietas tanaman dan species hewan baru, bangsa ini tak mau melakukannya secara luas. Begitu pula saat mereka bisa mengubah unsur dasar elemen alam, mereka pun tak mau menggunakannya secara luas. Semua itu hanya sebatas penelitian di amutah (laboratorium) dan sekedar untuk menguji batas kemampuan teknologi mereka saja. Sungguh hebatlah mereka ini dalam hal mengendalikan dirinya.

Ya, bangsa Nawali ini telah sampai pada puncak peradaban manusia yang bahkan tidak bisa dicapai oleh kita sekarang. Sehingga benarlah apa yang sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an tentang kehebatan kaum-kaum terdahulu. Dimana kita sekarang sebenarnya tidak sampai pada angka sepersepuluh dari kemampuan mereka. Berikut ini kalimat terjemahannya:

“Dan tidakkah mereka berjalan-jalan di muka Bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan nasib orang-orang sebelum mereka padahal orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya (sangat tinggi peradabannya) dari mereka…” (QS. Fatir [35] ayat 44)

“Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para Rosul) sedang orang-orang itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa yang telah KAMI berikan kepada orang-orang terdahulu itu namun mereka mendustakan para Rosul-KU. Maka lihatlah bagaimana dahsyatnya akibat dari kemurkaann-KU” (QS. Saba’ [34] ayat 45)

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa di masa lalu, kaum-kaum yang ada sudah memiliki kemampuan yang sangat hebat dan jauh melebihi kita sekarang. Kemampuan manusia saat ini, yang merasa paling tinggi peradabannya, bahkan tak sampai seperseluh dari kemampuan mereka dulu. Mereka dulu (leluhur kita) jauh lebih hebat dari pada kita sekarang. Ukuran fisik mereka saja jauh lebih besar dan kuat dari kita. Teknologi, peradaban dan kesaktian mereka pun jauh lebih unggul dari pada yang sudah kita capai saat ini. Sehingga marilah kita lebih banyak instrospeksi diri dan selalu rendah hati. Semua demi kebaikan dan keselamatan kita sendiri.

6) Militer
Sejak awal berdiri, kaum ini sudah mengenal dunia kemiliteran. Hanya saja pada masa itu masih sederhana, karena hanya sebatas membentuk sepasukan orang yang siap bertarung untuk mempertahankan wilayah dan melindungi kaumnya. Belum ada pendidikan khusus seperti halnya di sekolah, karena yang ada hanyalah sebatas latihan ilmu beladiri dan kanuragan saja. Siapapun yang terpilih, maka ia akan diajari beberapa strategi pertempuran yang sudah diwariskan oleh kaum mereka sebelumnya; yaitu kaum Gasuliya.

Namun seiring berjalannya waktu dan sesuai dengan kebutuhan, akhirnya sejak di masa Hisara (raja) yang ke-3 (Widhanitaru Bunahiyasal Putrahiyaka) kerajaan ini mengkhususkan dirinya untuk mendirikan tempat pelatihan khusus dalam kemiliteran. Akademi itu disebut dengan Musantira. Adapun syarat untuk bisa masuk kesana adalah sebagai berikut:

1. Laki-laki atau wanita dewasa.
2. Sehat jasmani dan ruhani.
3. Bersikap disiplin, pantang menyerah dan setia.
4. Jujur, ikhlas dan zuhud (tidak terlalu mencintai duniawi).

Lalu, mengenai sistem pendidikannya maka harus ditempuh selama minimal 5 tahun. Lokasinya indoor (di kelas) dan outdoor (di alam bebas). Selama itu, calon prajurit akan mendapatkan pelatihan beladiri, mempelajari cara menggunakan berbagai macam senjata, cara bertahan hidup (survival) dan mempelajari berbagai teknik bertahan dan menyerang dalam pertempuran. Khusus untuk yang terpilih dari semua siswa, mereka akan mengikuti pelatihan khusus selama 3-5 tahun. Selama itu, setiap prajurit akan dibekali dengan berbagai keahlian khusus untuk pertempuran (ilmiah dan batiniah) dan strategi perang rahasia. Mereka yang lulus dalam pelatihan inilah yang dimasa kita sekarang disebut sebagai perwira. Dan mereka ini akan tergabung di dalam sebuah pasukan khusus yang disebut dengan Bartosara. Pasukan ini sangat ditakuti oleh musuh dan disegani oleh kawan. Selain sangat tangguh, mereka ini juga punya kemampuan untuk berkamuflase dengan mengubah wujudnya dan bisa tidak terlihat alias menghilang.

Nama pasukan kerajaan Nawali ini adalah Garhatukara. Mereka semua dibawah komando seorang panglima yang disebut dengan Makuyara. Di bawah Makuyara ini terdapat tiga angkatan perang yang disebut dengan Hartira (pasukan darat), Yartira (pasukan laut), dan Swartira (pasukan udara). Setiap golongan pasukan itu lalu dipimpin oleh seorang jendral yang disebut Dentra. Semua pejabat tinggi militer ini (Makuyara dan Dentra) adalah orang-orang yang terbaik di pasukannya, cerdas dan sakti mandraguna. Semua orang pun sangat menghormatinya, sebab mereka memang layak untuk itu.

7) Bahasa dan aksara
Adapun mengenai bahasa dan aksaranya, maka sejak awal peradabannya mereka ini sudah menggunakan bahasa dan aksaranya sendiri. Keduanya berasal dari pemberian Nabi Syis AS kepada leluhur mereka yang mendirikan kaum Nawali. Bahasa tersebut bernama Muyyata, sedangkan aksaranya bernama Tiyyata. Berikut ini contohnya:

Akyatakaya

Sukanitakaya burhinaya murtahaga, akhmural zarhigala kiramataki.
Sindarujana mastunatra, lamiktadunya ahwagani sinsin syahmaru.
Kwarina sahin yajanikaya, lakung tabaruka usmanurakya.
Ya Ilah, malmanukayah buhirayata, swinamataru aswan dilakinaya.
Yahikamlah mudyaratuka suja, syiratubayani ilhamtarunga.
Ma’abutanaka rujakitamum, sahilak firtatanuha alwatarukyah.

(Zarharuya)

Catatan: Arti dari syair di atas dan bentuk aksaranya tidak bisa kami sertakan disini, ada protap yang harus dipatuhi.

Ya. Bahasa Muyyata dan aksara Tiyyata diperkenalkan oleh Nabi Syis AS kepada generasi awal kaum Nawali. Sudah diajarkan bahkan sejak sebelum Prabu Niratta mendirikan kerajaan Nawali. Oleh sang Nabi, bahasa dan aksara itu diajarkan ketika mereka baru saja bermukim di tempat yang baru. Selama beberapa waktu, sang Nabi mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, termasuk bahasa dan aksara itu. Sebelum meninggalkan kaum Nawali beliau pun sempat berkata bahwa “Suatu saat nanti bahasa dan aksara ini akan dipakai oleh banyak negara, bahkan di seluruh dunia. Saat itu terjadi, maka itulah bukti bahwa kerajaan Nawali telah menjadi pemimpin dunia”. Dan itu memang terbukti, sebab apa yang disampaikan oleh sang Nabi adalah wahyu dari Tuhan.

8) Waktu dan kalender
Sejak awal kehidupannya, kaum ini telah mengenal penghitungan waktu. Semua pengetahuan itu telah di dapatkan oleh para leluhur mereka (pendiri kaum Nawali) dari Nabi Syis AS. Beliaulah orang yang mengajarkan sistem perhitungan waktu dan kalender kepada leluhurnya, lalu diturunkan kepada mereka. Adapun di antaranya yaitu:

1 harya (hari) = 24 akta (jam)
1 akta (jam) = 60 dum (menit)
1 dum (menit) = 60 mit (detik)

Dari pengetahuan itulah, maka agar memudahkan mereka dalam mengetahui waktu, diciptakanlah semacam jam mekanik yang biasanya disebut dengan waksadaya. Jam ini telah mereka ciptakan sejak di ±100 tahun kehidupan kerajaan Nawali. Jam dinding ini terbuat dari berbagai variasi bahan. Ada yang terbuat dari emas, perak, dan besi. Tergantung kemampuan dan selera dari setiap orangnya. Biasanya ditempelkan pada dinding bagian dalam rumah dengan ukuran rata-rata 3×3 meter. Ada pula yang dipasang di sebuah menara setinggi ±500 meter. Di puncak menara itu terdapat satu buah jam bulat di setiap sisinya. Terbuat dari emas dengan diameternya sekitar 50×50 meter. Selanjutnya bahkan telah diciptakan jam digital, hanya saja model yang seperti ini biasanya untuk keperluan khusus, tidak umum berada di rumah-rumah penduduk.

Kemudian, sebagai kaum yang besar mereka pun telah mengenal sistem kalender dari sejak awal peradaban mereka. Semua berdasarkan petunjuk dari Nabi Syis AS. Dimana dalam satu tahun itu hanya terdiri dari 360 harya (hari) saja, tidak kurang dan tidak lebih, yang dibagi ke dalam 12 mulaya (bulan). Setiap mulaya (bulan) berlangsung selama 30 harya (hari). Hanya saja disini mereka tidak mengenal istilah minggu, karena dalam satu tahun itu akan dimulai dari hari ke 1 sampai hari ke 360, meskipun ada bulan-bulannya.

Adapun nama-nama bulan dalam sistem kalender mereka yaitu:
1. Mukana
2. Makasi
3. Mukala
4. Mukada
5. Mukaya
6. Mukafa
7. Mukatam
8. Mukapas
9. Mukahan
10. Mukazal
11. Mukaris
12. Mukajun

Sedangkan untuk nama-nama harinya, akan mengikuti sistem angka yang ada di dalam bahasa Muyyata lalu di tambahkan kata “Ri”. Misalnya, hari pertama akan disebut Mulari, hari kedua disebut Julari, hari ketiga disebut Tulari, hari keempat disebut Kulari, hari kelima disebut Sulari, dan begitulah seterusnya. Artinya, dalam satu tahun itu terdapat 360 hari yang nama-namanya berbeda karena mengikuti urutan angka yang terdapat dalam bahasa Muyyata.

9) Lain-lain
Mereka sangat memperhatikan urusan seni dan budaya. Karena itulah ada perayaan khusus yang diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu. Ini sudah menjadi agenda rutin kerajaan, yang pesertanya dari semua kalangan di dalam dan luar negeri. Adapun nama perayaan itu adalah Qiramaya, dan akan diselenggarakan di alun-alun istana atau gedung-gedung Haliyam (kita sekarang mengenalnya sebagai gedung teater atau balai pertemuan atau galeri seni) yang ada di kota-kota kerajaan.

Selain itu, berkat latihan yang disiplin, mereka telah berhasil mengendalikan elemen alam (tanah, air, api, udara, petir dan ether) sesuai dengan keinginan mereka. Meskipun tidak semua orang, cukup banyak yang menguasainya. Lalu, mereka juga berhasil membangkitkan dan menguasai indera ketujuh, bahkan yang ke delapan – meskipun ini tidak untuk semua orang. Dengan itu mereka bisa melawan atau bahkan meniadakan hukum fisika yang berlaku di Bumi. Mereka juga bisa bertelepati dan mampu berbicara dengan hewan dan tumbuhan berkat penguasaan indera ke tujuh dan ke delapan itu. Dan sebagaimana yang sudah menjadi sifat dasar mereka yang bijak, kemampuan itu tak pernah disalahgunakan. Hanya dipakai jika memang diperlukan. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka lebih senang menjadi orang biasa dan tetap rendah hati. Karena itulah meskipun sudah memiliki kesaktian dan teknologi yang super canggih – termasuk alat komunikasi hologram bernama Misal – mereka akan memilih untuk berinteraksi langsung. Setiap obrolan di lakukan secara tatap muka demi menjaga kebersamaan, empati dan rasa persaudaraan mereka. Semua di lakukan dengan ketulusan hati. Hingga pada akhirnya satu persatu dari mereka lalu memilih untuk naik level kehidupannya, yaitu dengan jalan moksa. Sungguh indah dan menakjubkan.

6. Zarharuya, pemuda pilihan langit
Selama berdirinya kemaharajaan Nawali, setidaknya pernah terjadi satu kali pertempuran dahsyat atau kita sekarang menyebutnya perang dunia. Itu terjadi karena para penguasa zona kawasan (Timur, Tengah, dan Barat) saling berebut pengaruh di seluruh dunia. Dan setelah dua penguasa kawasan terlibat pertempuran, akhirnya mau tidak mau penguasa zona Timur, di kemaharajaan Nawali, harus turun gelanggang. Dengan alasan untuk menjaga diri dan demi ketertiban dunia, kemaharajaan Nawali tampil dengan perkasa di medan pertempuran. Bisa saja mereka menghancurkan leburkan semua pasukan dari kedua kawasan itu (Tengah dan Barat), tapi itu bukanlah sikap yang bijak. Itu hanya akan menyebabkan kehancuran yang tidak diperlukan, dan ini sangat merugikan bagi semua pihak.

Dalam pertempuran itu, kita tidak bisa membandingkannya dengan PD I dan PD II yang pernah terjadi di periode zaman kita ini (Rupanta-Ra). Sebab, pada masa itu pertempurannya masih dengan cara kesatria. Meskipun mereka berteknologi canggih, tapi bagi mereka yang namanya pertempuran itu hanya diikuti oleh para kesatria yang gagah berani. Siapapun yang berperang tapi mengandalkan persenjataannya, ia akan dianggap pecundang. Ini bukanlah gaya mereka pada masa itu. Artinya, siapapun yang bertempur maka ia hanya akan mengandalkan ilmu kanuragan dan kadigdayan-nya saja. Segala macam persenjataan hanya sebatas pelengkap saja. Ada yang memang mereka andalkan, tapi itu hanya jika senjata tersebut berupa benda pusaka yang sakti mandraguna. Karena itulah mereka hanya menggunakan senjata seperti pedang, tombak, panah, kapak dan gada saja. Pertempuran pun selalu di laksanakan di sebuah lembah atau lapangan yang luas. Begitulah norma dan adat pertempuran pada masa itu. Semua kerajaan mengikutinya, yang melanggar akan merasa sangat malu dan dikucilkan dalam pergaulan dunia.

Nah, jauh sebelum perang besar itu terjadi, pada suatu ketika putera raja ke-1.501 (Harusataka Misbulanawi Simudaraya) yang bernama Zarharuya menjalani hidup yang jauh dari kemewahan atau hiruk pikuk istana. Meskipun ia adalah seorang putera raja, sang pemuda lebih memilih hidup yang sederhana. Setelah menyelesaikan pendidikan di Singkapaya (sekolah) dan Sindapaya (akademi), Zarharuya melakukan pengembaraan ke banyak negeri. Selama belasan tahun, apapun pekerjaan ia lakukan seperti menjadi tukang kebun, pekerja pabrik, penggembala ternak dan berbagai pekerjaan sosial. Tak ada rasa malu dan risih, yang penting halal dan bermanfaat untuk orang lain akan ia lakukan. Di sela-sela kesibukannya itu, sang pemuda tetap rutih ber-semedhi untuk tetap menjaga rasa dihatinya. Terkadang ia mencari tempat yang sepi di alam bebas hanya demi mendapatkan ketenangan jiwa.

Singkat cerita, ketika ber-semedhi di dekat sebuah telaga, Zarharuya mendapatkan petunjuk untuk melakukan tapa brata di tepi pantai selama 10 tahun. Ketika ia menjalankan tapa brata itu, Zarharuya didatangi oleh seorang Begawan. Sosok kharismatik itu bernama Maharesi Wiltanaya, dan ia sudah hidup sejak 1 milyar tahun sebelumnya, atau tepatnya pada masa kehidupan kaum Malwani (di sekitar Kediri sekarang). Dihadapan Zarharuya, sang Begawan lalu berkata: “Wahai kesatria, cukupilah tapa brata-mu itu. Sudah waktunya engkau mendapatkan petunjuk. Berhentilah, dan dengarkan pesan Ilahiah ini”

Mendengar itu, Zarharuya perlahan-lahan membuka matanya. Dihadapannya kini ada seorang pria yang tampak sangat berwibawa. Saat diperhatikan dengan seksama, Zarharuya merasa sosok tersebut tidak asing lagi. Ketika diingat-ingat, ternyata sang Begawan pernah hadir dalam mimpinya. 13 tahun silam, ia pernah bertemu dengan sang Begawan di dalam sebuah mimpi. Dan mimpi tersebut sama persis dengan apa yang sedang terjadi padanya kini. Sepertinya mimpi tersebut sebenarnya adalah kejadian yang akan terjadi dimasa depan.

Saat melihat sang Begawan dan ia sudah mengingat akan mimpinya dulu, Zarharuya segera bersimpuh layaknya seorang murid kepada gurunya. Melihat itu, sang Begawan tersenyum dan memintanya untuk segera bangkit. Lalu ia sedikit berbincang-bincang dengan sang pemuda, sekedar berkenalan dan basa-basi. Setelah itu, sang Begawan baru menyampaikan petunjuk untuk sang pemuda. Katanya: “Wahai ananda, apa yang kau lakukan ini sudah tepat namun belum lengkap. Masih ada lagi yang harus kau lakukan. Tujuannya pun tidak hanya untuk dirimu sendiri, melainkan demi kehidupan manusia. Kau harus berjalan ke arah selatan, dan teruslah berjalan sampai kau temukan air yang melawan arus (dari bawah ke atas). Dari sana kau harus kembali berjalan ke arah timur sampai kau bisa menemukan dua tebing putih yang saling berhadapan seperti pintu gerbang. Di puncak tebing itu, ber-tapa brata-lah selama 15 tahun. Berhentilah sampai ada yang mendatangimu. Dia akan memberikan air yang ditempatkan di dalam daun Sulan (semacam keladi). Minumlah air tersebut dan ikutilah apa saja yang akan beliau tunjukkan kepadamu. Patuhilah, sampai kau bisa bertemu dengan seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Syis AS. Beliau akan membimbingmu agar bisa memenuhi tugas dan tujuan hidupmu yang sebenarnya”

Mendapatkan petunjuk itu, Zarharuya hanya bisa diam dan mengikutinya. Awalnya ada rasa tidak percaya lantaran ia merasa tak pantas, tapi setelah mendapatkan wejangan dari sang Begawan akhirnya sang pemuda meneguhkan hatinya. Setelah Maharesi Wiltanaya raib dari pandangan, satu hari kemudian Zarharuya mulai beranjak ke arah yang disampaikan oleh sang Begawan. Berselang 45 hari kemudian barulah ia menemukan air yang melawan arus (dari bawah ke atas). Air itu berbentuk pancuran yang sumber airnya berasal dari batu datar yang ada disana. Dari batu datar itu pancaran airnya langsung memasuki celah yang terdapat di atas tebing batu yang berwarna kebiruan. Lokasi itu tersembunyi dibawah rindangnya pepohonan dan berada tepat di sebuah lembah yang misterius. Takkan disadari oleh manusia biasa jika disana ada fenomena yang sangat unik.

Singkat cerita, di dekat pancuran air misterius itu Zarharuya sempat ber-semedhi selama 7 hari. Setelah itu ia kembali melanjutkan perjalanan ke arah timur. Di hari ke 55 barulah sang pemuda menemukan dua tebing batu yang saling berhadapan. Sesuai dengan petunjuk Maharesi Wiltanaya, maka ia lalu ber-tapa brata di pucak tebing itu selama 15 tahun. Di tahun yang terakhir, ia bertemu dengan seorang Bhatara yang bernama Asyirah. Sesuai dengan apa yang pernah disampaikan oleh Maharesi Wiltanaya, sang Bhatara itu hadir dengan membawa air dalam sebuah daun dan meminta agar Zarharuya segera meminumnya. Air tersebut sangat berkhasiat untuk kesehatan, awet muda dan terhindar dari berbagai racun dan penyakit mematikan. Sungguh beruntung saat bisa meminumnya.

Selanjutnya, Bhatara Asyirah menyampaikan beberapa hal dan ia memberikan petunjuk tentang bagaimana caranya Zarharuya bisa bertemu dengan Nabi Syis AS. Ini sangat penting, karena darinya sang pemuda akan mendapatkan pelajaran hidup yang berarti. Sang Nabi akan memberikan pencerahan yang takkan ia dapatkan dari orang lain. Sebagaimana kedudukannya di sisi Hyang Aruta (Tuhan YME), sang Nabi memiliki keilmuan yang sangat luas dan dihormati oleh penduduk Langit dan Bumi. Mulai dari para Malaikat, Sang Hyang, Bhatara-Bhatari sampai Dewa-Dewi dan Resi sangat segan kepadanya. Mereka semua tahu bahwa sang Nabi sudah begitu tinggi maqom (kedudukan)-nya. Sungguh beruntung jika bisa mendapatkan bimbingan dan wejangan khusus dari sang utusan Tuhan itu, karena beliau adalah guru di atas guru.

Waktu pun berlalu dan Zarharuya melakukan apa yang disampaikan oleh Bhatara Asyirah. Dengan sabar dan tekun ia mengerjakannya selama beberapa waktu, sampai pada akhirnya ia benar-benar bertemu dengan Nabi Syis AS. Sang Nabi lalu memberikan wejangan dan mengajaknya untuk berpetualang ke berbagai negeri. Sesekali sang Nabi pun mengajaknya untuk berkunjung ke dimensi lain atau alam semesta yang lain demi mempelajari beberapa hal. Pengembaraan tersebut berlangsung selama 10 tahun. Sang pemuda begitu semangat dalam mengikuti ajakan dari sang Nabi. Ia tak menginginkan apa-apa lagi kecuali menjadi pribadi yang lebih baik dihadapan Tuhannya.

Sampai pada suatu ketika, sang Nabi menyampaikan bahwa Zarharuya harus menjalankan tapa brata selama 175 tahun di puncak gunung Kaswaru (sekitar kepulauan Jepang, tapi sekarang sudah tidak ada karena sudah menjadi lautan). Tujuannya untuk mendapatkan anugerah keilmuan yang berguna bagi orang banyak, terutama dalam menghadapi pertempuran yang dahsyat nanti. Mendapatkan petunjuk itu, Zarharuya menurutinya dengan suka cita. Meskipun berat, tetap saja ia ber-tapa brata dengan cara berdiri di atas satu kaki. Di puncak gunung Kaswaru itu, pada tahun ke 175 tubuhnya berpindah ke dimensi lain, tepatnya ke dimensi ke-10 (Palatasyi). Disana Zarharuya bertemu dengan para leluhurnya, Nabi, Resi dan Dewa-Dewi. Dalam pertemuan itu, ada banyak ilmu pengetahuan baru yang didapatkan oleh sang pemuda. Semuanya demi kesempurnaan dirinya, juga untuk bekal pertempuran dahsyat nanti.

Singkat cerita, Zarharuya menerima anugerah ilmu pengetahuan dan kesaktian yang luar biasa dari mereka yang hadir disana. Selain itu, ia juga menerima beberapa benda pusaka seperti pedang Samura, busur panah Kawira, baju zirah Murdara, tombak Jamura, cincin Aswiras, dan mahkota Mulyara. Keenam pusaka tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa. Sangat cocok dimiliki oleh Zarharuya, terlebih untuk kepentingan dalam menghadapi perang besar yang akan terjadi nanti. Sungguh pemuda yang terpilih.

Catatan: Sebagai tambahan informasi, sosok eyang Zarharuya itu memiliki ciri fisik yang berwarna kulit kuning langsat, bentuk wajah cenderung agak lonjong, berhidung mancung, mata berwarna hitam kecoklatan, rambut hitam lebat yang panjangnya sebahu, alis rapi dan agak tebal, bibirnya tipis, dan mukanya bersih tanpa brewok tapi memiliki kumis dan jenggot yang rapi. Dan sebelum menjabat sebagai Hisara (raja) beliau hanya memakai satu anting dari emas yang bertahtakan batu safir biru di telinga sebelah kanannya, tanpa mengenakan mahkota. Setelah menjadi raja, barulah ia memakai mahkota dan anting tersebut tetap dipakai sehari-hari.

Selain itu, ada tiga mahkota yang dimilikinya, satu yang merupakan warisan dari Prabu Niratta (sang pendiri kerajaan), dan satunya lagi yang beliau dapatkan setelah ber-tapa brata. Mahkota yang dari Prabu Niratta dipakai saat penobatan, sementara mahkota yang ia dapatkan dari ber-tapa digunakan pada saat memimpin sidang kerajaan atau menerima tamu kenegaraan. Sementara mahkota yang ketiga adalah mahkota yang berukuran lebih kecil dan inilah yang biasanya beliau kenakan sehari-hari di istana. Di luar istana, eyang Zarharuya tak pernah memakai mahkota. Sedangkan di medan perang ia akan mengenakan mahkota khusus yang sepaket dengan baju zirahnya. Ini hanya dipakai saat berperang saja.

Kembali ke kisah petualangan Zarharuya. Singkat cerita, setelah mendapatkan keenam pusaka di dimensi ke-10 (Palatasyi), tak lama kemudian Zarharuya segera kembali ke alam nyata dunia. Sesuai dengan petunjuk dari para leluhurnya, sang pemuda harus kembali ke negerinya. Disana ia harus membantu ayahnya dalam mengurus negara. Dan karena ia memang sosok yang unggul, maka tidak butuh waktu lama nama dan ketenarannya diketahui semua orang, di seluruh kawasan Timur. Hal ini menjadi kebahagiaan dari sang ayah, Raja Harusataka Misbulanawi Simudaraya (raja ke-1.501). Ia bersyukur bahwa sepeninggalnya nanti, kerajaan Nawali tetap bisa dipimpin oleh seorang yang mumpuni. Selain punya kesaktian yang luar biasa, Zarharuya juga memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan yang cukup. Dan meskipun di dalam hukum ketatanegaraan telah ditetapkan bahwa tidak ada tahta warisan, sang raja yakin bahwa puteranya itulah yang akan menggantikannya nanti. Semua syarat yang harus dimiliki oleh seorang raja telah dimiliki oleh anaknya itu.

7. Perang dunia
Suatu ketika, di sekitar tahun ke 755 kepemimpinan Prabu Harusataka Misbulanawi Simudaraya (raja ke-1.501), kondisi dunia mulai memanas. Itu bisa terjadi lantaran penguasa dari zona kawasan Tengah, yaitu kekaisaran Arkanat, berambisi untuk menjadi penguasa bagi seluruh dunia. Untuk mewujudkan hal itu, mereka lalu melancarkan serangan kepada kerajaan-kerajaan yang ada di zona kawasan Barat. Pertempuran demi pertempuran sering terjadi selama kurun waktu 70 tahun lebih. Ada banyak kerajaan di dalam zona kawasan Barat yang ditaklukkan, bahkan pada akhirnya kerajaan pusatnya yang bernama Oshalam pun berhasil dikuasai. Mereka lalu menjadi negeri jajahan dari kekaisaran Arkanat. Siapapun yang tidak sudi menerimanya, mereka lalu mengungsi ke negeri-negeri yang ada di zona kawasan Timur. Disana mereka bisa hidup tenang dalam perlindungan kemaharajaan Nawali.

Catatan: Pada masa itu Samudera Atlantik bagian utara masih belum ada. Disana masih berupa daratan yang sangat luas dan menjadi penghubung dari dua zona kawasan (tengah dan barat atau benua Amerika dan Eropa sekarang). Karena itulah kekaisaran Arkanat memilih untuk lebih dulu menguasai zona kawasan Barat sebab memang lebih dekat dan mudah. Cukup dengan berjalan kaki menyusuri batas wilayah timur negerinya saja – yang berada di Samudera Atlantik sekarang – mereka bisa langsung masuk ke zona kawasan Barat.

Mengetahui hal itu, maka tiada pilihan lain kecuali mempersiapkan diri sepenuhnya. Sebagai pemimpin yang cerdas, Prabu Harusataka segera mempersiapkan semua kekuatan militernya untuk berjaga-jaga bahkan sebelum kerajaan Oshalam berhasil ditaklukkan. Ia bisa menebak bahwa cepat atau lambat kemaharajaan itu akan segera dikuasai oleh kekaisaran Arkanat. Penguasanya yang bernama Mosgaselit itu, tentu ingin sekaligus menjadi penguasa dunia. Kerajaan Oshalam hanya akan menjadi hambatan terbesar untuk bisa menguasai sepenuhnya zona kawasan Barat. Hanya dengan berhasil menundukkan kerajaan Oshalam saja, barulah ia bisa menguasai semua wilayah di zona kawasan Barat. Selanjutnya ia pun baru akan bisa bergerak untuk menaklukkan zona kawasan Timur. Ini harus di lakukan, sebab kerajaan itu akan menjadi batu sandungan yang terbesar baginya. Selama kerajaan Oshalam belum bisa ditaklukkan, maka selama itu pula ia takkan bisa menaklukkan seluruh dunia.

Dan perlu ditegaskan lagi bahwa pada masa itu setiap pertempuran di lakukan dengan cara kesatria. Artinya, meskipun mereka telah menguasai teknologi yang canggih, ternyata kedua belah pihak hanya akan mengandalkan kemampuan ilmu kanuragan dan kadigdayan saja. Semua peralatan dan persenjataan yang dimiliki hanya sebatas pelengkap. Bagi mereka, yang namanya berperang itu ya harus berduel satu lawan satu atau lebih. Caranya boleh dengan mengadu kemampuan ilmu kanuragan atau kadigdayan, bahkan sesekali dengan menggunakan senjata pusaka. Jika tidak begitu, apalagi sampai hanya mengandalkan peralatan tempur, maka siapapun akan dianggap pengecut. Ia akan dicap sebagai pecundang, dan ini sangat memalukan. Lebih baik mati dari pada harus mendapatkan citra buruk seperti itu.

Sementara itu, dalam setiap pertempurannya, maka terdapat berbagai bentuk formasi tempur pasukan. Adapun di antara formasi yang sering dipakai oleh pasukan kemaharajaan Nawali yaitu:

1. Gastur (formasi trisula)
2. Masikat (formasi bulan sabit)
3. Baltaka (formasi cakram)
4. Yakusah (formasi burung elang)
5. Sujajar (formasi kura-kura)

Kelima formasi itu telah dikuasai penuh oleh pasukan kemaharajaan Nawali. Jika diperintahkan, maka dalam waktu singkat setiap pasukan yang ditunjuk akan membentuk sebuah formasi tempur. Dan sebagaimana lazimnya di masa itu, formasi tersebut sangat membantu dalam setiap pertempuran besar. Ada banyak keuntungannya, seperti mengurangi jumlah korban dan bisa menantang pasukan yang lebih kuat atau lebih banyak.

1) Perang hari ke 1-15
Singkat cerita, bersama para pembesar dan semua kesatria terbaik di kemaharajaan Nawali, Prabu Harusataka terus mempersiapkan segala kebutuhan untuk menghadapi serangan yang akan dilancarkan oleh pasukan kekaisaran Arkanat. Anaknya, Zarharuya, kerap diutus sebagai mata-mata dan sesekali harus membantu perjuangan dari kerajaan yang tinggal di zona kawasan Barat, yang kebetulan berbatasan langsung dengan zona kawasan Timur. Dalam semua tugas itu, Zarharuya bisa melaksanakannya dengan baik dan jika sampai harus berperang, maka ia dan pasukannya selalu bisa meraih kemenangan. Sungguh layak baginya menjadi anak dari seorang raja besar, sang penguasa kawasan Timur.

Tapi pertempuran sebenarnya belumlah dimulai. Setelah menaklukkan kekaisaran Oshalam, kekuatan penuh dari kekaisaran Arkanat belum bergerak. Lima tahun lebih raja Mosgaselit hanya menikmati kemenangannya itu di istana kerajaan Oshalam dengan berfoya-foya. Hukum tetap ditegakkan, tapi hanya akan tajam kebawah. Mereka yang menjadi jajahan akan dipersulit dan tak ada keadilan yang semestinya. Semua pasukan kemaharajaan Oshalam yang tersisa harus mengabdi kepada kekaisaran Arkanat. Siapapun yang berani menentang, ia akan dihukum berat bahkan sampai dibunuh. Begitupun setiap warganya harus menyetorkan pajak yang tinggi kepada kekaisaran Arkanat. Jika menolak atau tidak mampu, mereka akan dipenjara atau dijadikan budak yang bekerja tanpa gaji selama beberapa tahun. Keadaan ini jelas menyengsarakan semua penduduk di wilayah kemaharajaan Oshalam.

Dan perlu diketahui. Meskipun pada akhirnya raja Mosgaselit bersifat liar, buas dan angkuh, namun sebelumnya ia adalah sosok yang baik dan kharismatik. Ia mempunyai berbagai ilmu dan kesaktian yang luar biasa. Darimana datangnya semua itu? Tentu saja dari berguru kepada banyak Begawan dan orang yang sakti. Karena itulah sebenarnya ia adalah seorang sarjana yang bukan hanya pandai dalam ilmu peperangan namun juga mempunyai pendalaman atas ilmu-ilmu lainnya, termasuk seni dan sastra. Hanya saja karena ia tak mampu menahan diri dan berhenti untuk mengintrospeksi diri, maka ilmu yang telah dikuasainya itu justru menjadikannya sombong. Dan untuk bisa menjaga egonya itu, pada akhirnya ia pun bersikap arogan, bahkan sampai bersekutu dengan setan. Tujuannya hanya demi mempertahankan kekuasaan dan kenikmatan semu duniawi lainnya. Tapi persekutuan dengan setan itu tentulah ada harganya. Yaitu dengan harus memberikan tumbal darah/jiwa manusia dalam kurun waktu tertentu atau sesuka hatinya. Inilah yang menjadi alasan utama kenapa ia ingin sekali menguasai dunia sepenuhnya. Disadari atau tidak, kian hari raja Mosgaselit telah semakin larut dalam dosa dan kejahatan. Tak ada lagi yang tersisa darinya selain keangkuhan.

Hingga pada akhirnya perang terbesar dunia pun terjadi. Sebelumnya, setelah mempersiapkan segala sesuatunya, raja Mosgaselit langsung memimpin semua pasukannya – termasuk sisa-sisa pasukan kerajaan Oshalam – untuk bergerak menuju ke perbatasan kemaharajaan Nawali. Dari sana, ia berencana masuk ke semua wilayah di zona kawasan Timur meskipun dijaga ketat oleh pasukan kemaharajaan Nawali. Tapi rencana itu terhalang oleh pasukan Garhatukara (nama pasukan kemaharajaan Nawali) yang ternyata sangat tangguh. Dan karena memang sudah diketahui jauh-jauh hari sebelumnya, maka Prabu Harusataka sudah menanti musuhnya itu dengan segala persiapan yang matang. Hampir semua pasukan dikerahkan untuk menghadapi pasukan pimpinan raja Mosgaselit itu. Sisanya tetap berjaga-jaga di beberapa titik kerajaan, terutama di pusat-pusat kota yang ada di seluruh negeri di zona kawasan Timur.

Perlu di ketahui disini bahwa pada masa itu jumlah pasukan yang dikerahkan sangatlah banyak. Setiap pihak memiliki beberapa aksin (divisi pasukan). Setiap aksin (divisi pasukan) berjumlah sekitar ±350.000 prajurit yang terdiri dari:

1) 210.000 pasukan kuri (infanteri: pasukan pejalan kaki yang membawa pedang, tombak, tameng, panah, kapak dan gada).
2) 75.000 pasukan maru (kavaleri: penunggang hewan dan kereta perang)
3) 20.000 pasukan dar (artileri: persenjataan berat seperti pelontar batu dan api, dan bom panah).
4) 35.000 pasukan was (pasukan cadangan).
5) 10.000 pasukan sahl (pasukan urusan logistik dan kesehatan).

Adapun perbandingan dari kedua belah pihak sangatlah jauh. Kemaharajaan Nawali terdiri dari 6 aksin (divisi) dengan total pasukan ±2.100.000 tentara, sedangkan dipihak kekaisaran Arkanat terdiri dari 10 aksin (divisi) dengan total pasukan ±3.500.000 prajurit. Sehingga pasukan yang terlibat dalam perang dunia saat itu berjumlah sekitar ±5.600.000 orang. Angka tersebut sangatlah banyak, dikarenakan pasukan di kedua belah pihak adalah gabungan dari setiap divisi kerajaan di seluruh dunia.

Selain itu, setiap pasukannya baik ia dari golongan prajurit maupun perwira sudah mengenakan baju zirah yang kuat. Jika baju zirah para prajurit berbahan dasar dari kulit hewan atau besi putih atau tembaga, maka yang perwiranya menggunakan zirah dari baja putih yang dicampur dengan perak. Setiap baju zirah ini ada yang berwarna alami, namun ada pula yang sengaja dicat dengan warna tertentu. Khusus untuk para senopati dan panglimanya sudah mengenakan bahan dasar dari baja-nikel yang dicampur dengan perak dan emas, atau seluruhnya dari baja-nikel yang berlapis emas. Lalu untuk para raja/ratunya telah mengenakan baju zirah yang paling indah dari semua pasukannya – biasanya dari emas yang dicampur dengan titanium atau sebaliknya. Bahan dasar dan kualitasnya pun yang terbaik, sesuai dengan jabatan dan kedudukannya. Dengan begitu, terdapat warna-warni yang menarik dalam setiap barisan pasukan tempur saat itu. Tidak hanya dari baju zirah seragamnya, tetapi juga dari warna-warni bendera dan panji-panji pasukan di kedua belah pihak.

Kisah pun berlanjut. Oleh sebab telah berpengalaman dalam banyak pertempuran, raja Mosgaselit lalu membagi tiga pasukannya agar lebih mudah menyerang dari tiga jurusan; dari sisi utara, tengah dan selatan. Tujuannya agar bisa melemahkan persatuan dan kekuatan lawan. Untuk menghadapi itu, Prabu Harusataka pun membagi tiga pasukannya. Setiap kelompok pasukan harus menghadapi satu kelompok pasukan musuh. Yang di sebelah utara di pimpin oleh Makuyara (panglima kerajaan), yang tengah oleh sang prabu sendiri, sedangkan yang di bagian selatan oleh Zarharuya. Berbeda dengan anggapan raja Mosgaselit, ternyata pembagian kekuatan dalam pasukannya itu justru mempersulit dirinya sendiri untuk memberikan perintah. Pasukannya belum terbiasa dengan strategi yang seperti itu. Karena itulah resiko yang harus ditanggung sebenarnya begitu besar.

Kembali ke pertempuran. Sesuai dengan perkiraan, akhirnya pasukan dibawah komando raja Mosgaselit itu tiba di perbatasan zona kawasan Timur. Sesuai perintah, ketiga kelompok pasukannya sudah bergerak menuju ke tempat yang berbeda; utara, tengah dan selatan. Dengan kekuatan masing-masing yang jumlahnya lebih dari satu juta pasukan itu, mereka siap menggempur pertahanan pasukan kemaharajaan Nawali. Dalam angan-angan mereka, pertempuran itu tidak akan berlangsung lama dengan alasan telah memiliki jumlah pasukan yang sangat besar. Belum pernah ada pasukan yang digerakkan untuk menyerang sebuah negeri yang jumlahnya sebesar pasukan mereka saat itu. Ini jelas membuat mereka semakin tinggi hati, banyak sesumbar, dan menyepelekan kekuatan lawan.

Namun apa yang terjadi di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Pasukan Garhatukara yang dimiliki oleh kemaharajaan Nawali bukanlah pasukan biasa. Mereka sangat tangguh dan tidak mudah untuk dikalahkan, bahkan cenderung unggul sejak hari pertama pertempuran. Apalagi pasukan khususnya yang bernama Bartosara itu, kemampuan yang mereka miliki jauh di atas rata-rata pasukan kekaisaran Arkanat. Di tangan pasukan khusus ini sudah begitu banyak korban jiwa yang berjatuhan. Hal ini jelas membuat pertempuran besar kala itu berlangsung sengit dan alot. Sudah 10 hari lebih belum ada yang kelihatan menang. Meskipun berbeda jumlah, kedua belah pihak masih bertahan dan menyerang dengan kekuatan yang seimbang. Mereka terus bertempur dengan gagah berani.

Perlu diketahui, uniknya pada masa itu mereka sudah mengendarai hewan tapi bukanlah kuda. Mengapa begitu? ya sebab di zaman itu kuda yang kita kenal sekarang ini masih belum ada di planet Bumi. Sebagian pasukan, khususnya yang tergabung dalam pasukan kavaleri, mengendarai hewan yang disebut tabara. Hewan jenis ini bentuknya adalah campuran antara kuda, rusa dan domba. Jadi pada bagian kaki, ekor, badan, dan lehernya mirip kuda, lalu pada bagian kepalanya seperti rusa, sedangkan tanduknya mirip tanduk domba. Warna kulitnya dominan coklat muda, meskipun ada juga yang putih, kebiruan dan abu-abu. Hewan ini mampu berlari sangat cepat dan lincah karena ia berkaki enam. Selain itu, ada pula yang mengendarai hewan yang disebut guwara. Hewan jenis ini bentuknya mirip burung unta dengan kaki yang kokoh tapi kepalanya seperti kepala burung alap-alap. Warna bulunya campuran antara hitam, biru, merah dan kuning. Mampu bergerak sangat cepat dan lincah, sehingga menjadi tunggangan utama bagi pasukan kelas penyerbu. Kemudian ada juga yang mengendarai hewan gapra. Hewan jenis ini bentuknya mirip dengan mammoth yang bergading dua tapi juga bercula satu. Ukurannya sangat besar, karena itulah digunakan untuk menarik kereta logistik, dan sebagian lainnya juga untuk berperang. Dan yang terakhir, ada sedikit dari mereka yang mengendarai hewan yang disebut masina. Hewan jenis ini bentuknya campuran antara singa dan burung rajawali; mirip gambaran Griffin dalam mitologi Yunani. Jadi pada bagian kaki belakang, ekor dan badannya mirip singa, tapi di bagian kaki depan, dada, leher, kepala dan sayapnya mirip dengan dengan burung rajawali. Hewan ini tidak banyak jumlahnya dan merupakan kebanggaan tersendiri saat bisa memiliki dan mengendarainya.

Demikianlah gambaran tentang hewan-hewan yang digunakan dalam pertempuran kala itu. Untuk kereta perangnya, sebagian ada yang masih menggunakan kayu dan lainnya dari besi, perak atau emas. Ada yang masih menggunakan roda, tapi sebagiannya lagi sudah tidak. Yang tidak ini karena mereka sudah menggunakan teknologi dalm (anti gravitasi Bumi). Jadi, badan keretanya bisa mengambang setinggi 2-3 meter dari tanah, lalu untuk bisa berjalan maka tetap ditarik oleh hewan tabara atau gapra. Sebenarnya bisa saja kereta ini tanpa perlu ditarik oleh hewan, ya seperti membuat mosinda (mobil terbang), hanya saja itu tidak di lakukan. Menurut mereka, adalah seni yang penting jika kereta perang itu tetap ditarik oleh hewan. Lebih gagah kelihatannya.

Kembali ke pertempuran. Pasukan raja Mosgaselit telah menyebar ke ketiga jurusan. Yang ke utara dan selatan berjumlah 1 jutaan orang pasukan, sementara yang ke tengah berjumlah lebih dari 1,5 juta pasukan. Jumlah ini memang sengaja terbanyak dari yang lain, sebab dipimpin langsung oleh raja Mosgaselit dan menjadi titik utama penyerangan. Dan sebagaimana yang sudah diatur sebelumnya, maka yang menghadapi pasukan tengah ini adalah Prabu Harusataka sendiri. Bersama pasukan yang juga terbanyak, sang raja langsung turun ke medan perang. Pertempuran itu berlangsung selama 15 hari. Selama itu masih belum ada yang keluar sebagai pemenang. Meskipun diserang bertubi-tubi, Prabu Harusataka dan semua pasukannya tetap bertahan dan tetap berusaha membalas serangan musuh. Ini membuat raja Mosgaselit merasa semakin berang.

Singkat cerita, dengan perjuangan yang gigih selama 15 hari, akhirnya pasukan yang disisi selatan yang dipimpin oleh Zarharuya berhasil memenangkan pertempuran. Sebagian besar pasukan kekaisaran Arkanat tewas, sisanya dijadikan tawanan. Karena itulah ia dan sebagian besar pasukannya bergabung ke barisan pasukan tengah yang dipimpin oleh ayahnya, Prabu Harusataka. Sisanya diperintahkan untuk tetap di perbatasan selatan untuk berjaga-jaga. Dan ketika Zarharuya tiba di perbatasan tengah (pada hari ke 20), saat itu sedang terjadi pertempuran yang sengit. Berbagai kemampuan, strategi dan formasi tempur terus dikerahkan oleh kedua belah pihak. Mereka beradu kekuatan selama berhari-hari. Tak ada yang mau mengalah dan dikalahkan.

Catatan: Dalam pertempuran itu, maka pemandangan orang yang bisa terbang, atau yang mengeluarkan berbagai ilmu ajian dahsyat, atau yang mengendalikan berbagai elemen alam, atau yang memakai berbagai jenis senjata pusaka yang mengagumkan, adalah biasa. Para kesatria bertarung dengan kemampuan yang luar biasa sekaligus mengerikan. Karena itulah terkadang mereka sampai harus bertarung di tempat lain yang jauh dari medan pertempuran. Meskipun sangat luas, lapangan pertempuran itu tak cukup besar bagi mereka untuk mengadu kesaktian.

2) Perang hari ke 23-36
Pertempuran sengit terus berlanjut sampai beberapa hari kemudian. Lalu, di hari ke 23 pertempuran, raja Mosgaselit mulai merasa kewalahan untuk bisa menaklukkan pasukan kemaharajaan Nawali. Tak seperti anggapannya, pasukan musuhnya itu sangat tangguh dan ulet. Meskipun jumlah pasukan yang ia pimpin lebih banyak, ternyata itu tak begitu berpengaruh dalam perang dunia saat itu. Apapun yang mereka rencanakan selalu terbaca, dan apa saja serangan yang mereka berikan dapat ditahan. Bahkan tak jarang pasukan dibawah komando Prabu Harusataka itu balik menyerang dengan sengit. Dan pukulan yang telak sudah didapatkan oleh si raja bengis itu. Dimana pasukannya yang menyerang perbatasan selatan sudah berhasil dikalahkan. Karena itulah, untuk mengurangi resiko, sang raja lalu memerintahkan pasukan yang ada di utara segera bergabung ke pasukan tengah. Rencananya ia dan sisa kekuatan yang dimiliki itu akan dikerahkan sepenuhnya untuk melumat pasukan tengah kemaharajaan Nawali. Setelah itu ia akan merengsek masuk ke semua wilayah zona kawasan Timur.

Sungguh, yang terjadi pada saat itu luar biasa. Betapa tidak, belum pernah ada yang hidup saat itu melihat jumlah pasukan yang sebanyak itu. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah pasukan yang siap bertempur. Dengan niat dan tujuannya masing-masing, kedua belah pihak saling serang dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada. Dimana-mana telah terjadi kegaduhan, sementara darah segar pun terus mengalir dan mulai menganak sungai. Sebuah kengerian yang nyata-nyata menakutkan bagi prajurit biasa atau pun para kesatria. Banyak dari mereka yang pernah terlibat di berbagai pertempuran, tapi belum ada yang pernah melihat yang sedahsyat pada saat itu. Perang besar itu memang benar-benar bisa dikatakan sebagai perang dunia yang sebenarnya.

Selanjutnya, dihari ke 36 pertempuran, raja Mosgaselit maju ke barisan depan pasukannya dengan menaiki kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor tabara pilihan. Dengan gagah berani ia langsung menyerang lawan, yang diikuti oleh pasukan pengawalnya. Banyak korban yang berjatuhan ditangannya, dan ia merasa sangat bangga dengan hal itu. Ada energi tambahan yang masuk ke tubuhnya setiap kali ia membunuh. Ini jelas membuatnya senang. Hingga pada akhirnya ia harus berhadapan langsung dengan Prabu Harusataka dan mendapatkan perlawanan yang sengit. Selama dua hari dua malam keduanya saling mengadu kesaktian. Awalnya seimbang, tapi akhirnya Prabu Harusataka mulai terpojok. Kesaktian dari raja Mosgaselit memang lebih unggul dan hampir membuat Prabu Harusataka tewas. Dalam sebuah serangan telak, meskipun terluka parah Prabu Harustaka masih bisa bertahan. Namun jika terkena serangan yang sama untuk kedua kalinya, maka tak ada harapan untuk bisa bertahan hidup. Sang prabu bisa saja gugur di tangan raja Mosgaselit.

Melihat itu, sebagai anak yang berbakti, Zarharuya tak bisa tinggal diam. Ia langsung melesat mendekati ayahnya itu secepat kilat dan memberikan bantuannya. Dalam sekejap, Zarharuya mengeluarkan ajian Tipasa untuk menangkis serangan mematikan dari raja bengis itu. Prabu Harusataka lolos dari kematian, dan ia diminta untuk mundur agar mendapatkan perawatan. Tinggallah Zarharuya yang kini harus menghadapi raja yang terkenal sangat sakti itu. Dan sebagai seorang kesatria yang murni, ia tidak merasakan takut sedikit pun. Dihatinya cuma terbesit keinginan untuk bisa mengalahkan raja jahat yang sudah menebarkan kematian dimana-mana.

Singkat cerita, kedua sosok kesatria itu bertempur dari jarak jauh – dari atas kereta perang masing-masing. Mereka asyik melepaskan senjata pusaka, khususnya anak panah ke arah lawan. Tentu yang mereka gunakan saat itu bukanlah busur panah biasa, sebab mampu mengeluarkan banyak anak panah hanya dalam sekali tarikan tali busurnya. Selain itu, senjata pusaka yang mereka gunakan itu juga mampu mengeluarkan serangan hebat seperti ledakan bom ke arah lawan. Kekuatannya hanya bisa ditandingi dengan kemampuan yang sama. Karena itulah tak ada yang mendekati kedua kesatria itu saat mereka sedang bertarung. Lebih baik menjauh ketimbang jadi korban tewas sia-sia.

Waktu terus berlalu, keadaan pun mulai berpihak ke pasukan yang kini dipimpin oleh Zarharuya. Melihat itu, raja Mosgaselit mulai bertindak curang. Ia mengerahkan pasukan udara yang dilengkapi dengan persenjataan canggih. Pesawat ini sebelumnya berada jauh dari medan pertempuran. Setelah di perintahkan oleh rajanya untuk menyerang, barulah mereka bergerak ke medan perang. Sehingga dari arah barat, tak lama kemudian muncullah beberapa pesawat tempur canggih yang siap menyerang pasukan darat kerajaan Nawali. Dalam hitungan menit, pesawat-pesawat itu langsung melepaskan tembakan peluru dan rudal yang mematikan ke arah pasukan Nawali. Serangan itu menimbulkan kepanikan dan korban jiwa yang tidak sedikit. Karena itulah, Zarharuya langsung memerintahkan satu pesawat super canggih milik kemaharajaan Nawali untuk muncul di medan perang. Dan hanya dalam hitungan detik saja tiba-tiba muncullah pesawat yang sangat besar di atas lokasi pertempuran. Hal itu jelas membuat raja Mosgaselit dan semua pasukannya terkejut. Belum pernah mereka melihat pesawat yang modelnya seperti itu. Disamping ukurannya sangat besar, maka tampilannya juga sangar dan mengagumkan. Persenjataannya pun terlihat sangat canggih dan mengerikan. Belum lagi mereka sempat menyerang, pasukan musuh sudah ketakutan.

Sebenarnya pesawat super canggih yang disebut Multasar ini mampu menghancurkan pasukan kekaisaran Arkanat, bahkan mudah sekali. Cukup beberapa kali serangan saja akan selesai. Tapi hal itu tidak di lakukan. Mereka hanya ingin mengingatkan bahwa pertempuran saat itu harus tetap dengan cara kesatria. Terlebih juga untuk menghentikan kebrutalan dari pesawat tempur kekaisaran Arkanat yang telah menyerang pasukan Nawali tanpa ampun. Dalam bahasa manusia, kemunculan pesawat Multasar itu seperti hendak berkata: “Bukan kalian saja yang punya pesawat. Teknologi kami bahkan jauh lebih hebat dari kalian. Kembalilah berperang dengan cara kesatria, bukan malah justru menjadi pengecut”.

Tapi, karena raja Mosgaselit memanglah sosok yang angkuh, ia tetap memerintahkan pasukan udaranya itu untuk menyerang. Hanya saja serangan mereka tak berarti apa-apa bagi pesawat Multasar. Tak ada satupun peluru atau rudal yang berhasil merusak badan pesawatnya. Ada perisai energi yang sangat kokoh yang menutupi semua badan pesawat, tak dapat ditembus. Dan ketika merasa cukup dengan “permainannya”, pilot pesawat Multasar segera melancarkan serangan balasan. Sekali serang, semua pesawat tempur Arkanat itu meledak di udara. Semuanya terkena kejutan energi partikel kosmik yang sangat besar. Hanya dalam sekejap saja, maka setiap benda atau mesin atau kendaraan yang ditargetkan akan meledak atau hancur lebur terkena serangan itu. Begitu pun bila ditargetkan kepada pasukan darat, maka sekali serangan saja akan menyebabkan kematian jutaan orang. Sungguh mengerikan.

Melihat kejadian itu, pertempuran sempat berhenti. Atas perintah Zarharuya, maka pesawat Multasar pun raib dari pandangan. Beberapa menit kemudian barulah raja Mosgaselit kembali menyatakan perang. Berbeda dari sebelumnya, meskipun sang raja sudah marah-marah, kali ini hampir semua orang dalam pasukannya menjadi sangat malas. Sebagian dari mereka berpikir tentang apa gunanya pertempuran tetap dilanjutkan, toh mereka pun sudah jenuh dan hampir kalah. Banyak hal yang baru dan luar biasa sudah terjadi pada hari itu. Ini jelas membuat sebagian pasukan terguncang dan ingin lari dari pertempuran. Tapi karena takut dengan kekejaman dari rajanya, pasukan kekaisaran Arkanat tetap saja berperang. Lebih baik mati di medan laga dari pada harus mati karena di hukum oleh sang raja bengis. Begitulah suasana tetap berlanjut sampai magrib pun tiba. Dan sesuai kesepakatan, maka pertempuran di hari ke 38 itu pun berakhir.

3) Perang hari ke 39-40; puncak pertempuran
Keesokan harinya, raja Mosgaselit telah memerintahkan semua senopati, raja bawahan dan panglimanya untuk menyerang secara serentak. Setiap divisi juga diperintahkan untuk ikut menyerang dibawah komando masing-masing senopati, raja dan panglima pasukannya. Setiap orang harus mengerahkan semua kemampuannya semaksimal mungkin. Siapapun yang mundur akan segera dibunuh. Sehingga terjadilah pertempuran yang dahsyat. Para kesatria yang ada lalu mengadu ketangkasan dan kesaktian mereka. Tak lama kemudian suara teriakan kesakitan dan dentuman demi dentuman mulai terdengar riuh. Ajian dan senjata pusaka yang luar biasa saling beradu. Menyebabkan ledakan besar dan getaran kuat juga sering terjadi. Ini jelas menjadikan pertempuran saat itu terlihat sangat mengagumkan sekaligus menakutkan. Para kesatria benar-benar mengeluarkan kesaktian andalan mereka.

Singkat cerita, dikarenakan ego yang teramat besar dan ingin meraih kemenangan secara mutlak, raja Mosgaselit mulai menggunakan ilmu sihir tingkat tinggi. Ia segera mengubah siang yang terang menjadi malam yang gelap dan menutupi medan pertempuran dengan kabut tebal. Siapapun akan sulit untuk melihat dengan jelas, bahkan kabut itu beracun dan membuat siapapun bisa lemas atau bahkan lumpuh saat menghirupnya. Hanya mereka yang punya kesaktian lebih saja yang tak terpengaruh. Nah, disaat seperti itulah raja Mosgaselit memerintahkan sekutunya dari alam kegelapan – ribuan pasukan setan – untuk datang menyerang. Akibatnya banyak sekali prajurit dari kubu pasukan Zarharuya yang berguguran. Tubuh mereka tercabik-cabik seperti diterkam oleh binatang buas. Peristiwa ini membuat suasana kian mencekam.

Melihat itu, Zarharuya segera mengeluarkan tombak pusaka Jamura untuk mengatasi keadaan. Ia lalu menghentakkan pangkal tombak itu ke tanah sebanyak dua kali. Dalam sekejap, maka dari ujung tombak itu muncul cahaya yang sangat terang dan bisa menghilangkan kabut sihir dari raja Mosgaselit. Tak lama kemudian sang pemuda mengeluarkan busur panah Kawira dan menembakkan anak panah pusakanya ke arah langit. Tak lama kemudian terdengar suara ledakan yang menggelegar dan pijaran api yang sangat terang. Setelah itu, perlahan-lahan kegelapan yang ada berubah menjadi terang kembali. Kekuatan sihir raja Mosgaselit pun bisa dikalahkan.

Namun, ternyata itu bukanlah ilmu sihir satu-satunya yang dimiliki oleh sang raja. Karena berikutnya ia langsung menurunkan batu-batu yang membara (berapi) dari arah langit ke arah medan perang. Untung Zarharuya sigap dan bisa segera bertindak dengan menghentakkan kembali pangkal tombak pusakanya itu sebanyak tiga kali untuk menciptakan dinding perisai tembus pandang bagi semua pasukan yang ada di medan pertempuran. Ternyata raja Mosgaselit tidak lagi menghiraukan keberadaan musuh atau bahkan pasukannya sendiri. Baginya saat itu adalah bisa menang meskipun ia harus kehilangan banyak pasukan.

Selanjutnya, disamping hujan batu berapi itu terus terjadi, maka pasukan kegelapan yang sebelumnya telah menyerang tetap saja menyerang. Mereka belum sepenuhnya dikalahkan. Mereka ini berwujud menyeramkan, karena bentuk tubuhnya saja campuran antara manusia dan hewan buas. Kulitnya ada yang tebal dan kasar, sementara cakarnya tajam seperti pisau. Selain itu mereka juga memiliki taring yang panjang dan tanduknya bermacam bentuk, membuat tampangnya semakin menyeramkan. Ukuran tubuhnya lebih besar dari manusia dan berperawakan sangat kekar. Bergerak sangat gesit, bisa terbang dan jika menyerang maka tak pernah mengampuni. Bukan hanya pasukan Zarharuya saja, ternyata pasukan dari raja Mosgaselit pun tak luput dari serangannya. Terlebih sebagian dari mereka itu memang senang meminum darah, terutama darah manusia. Karena itulah perang besar kala itu menjadi kesempatan bagi mereka untuk segera memuaskan rasa dahaganya, khususnya pada darah manusia. Kesempatan ini takkan mereka sia-siakan.

Mengetahui hal itu, Zarharuya meminta panglima kemaharajaan Nawali untuk maju menghadapi setan-setan itu. Bersama para raja dan kesatria lainnya, sang panglima maju dengan lincah. Dengan kesaktian di atas rata-rata pasukan, mereka bisa menghadapi ribuan pasukan kegelapan itu. Tinggal beberapa petingginya saja yang belum bisa dikalahkan. Maklumlah mereka itu memang sakti mandraguna dan tak bisa mati. Jika dibunuh maka ia akan hidup kembali, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Sampai pada akhirnya Zarharuya menyarankan agar sang panglima yang bernama Sunabaya itu bersama dengan para raja dan senopati lainnya untuk segera menyatukan kekuatan. Mereka harus menggunakan kemampuan telepati dan memanfaatkan indera ketujuhnya semaksimal mungkin. Selain itu, mereka juga harus melakukan penggabungan energi chi (chakra) yang dimiliki dan menyalurkannya (transfer energi) kepada siapa saja yang paling membutuhkan dalam setiap pertarungan. Dengan begitu, mereka akan mampu menandingi kesaktian dari para senopati pasukan kegelapan itu. Khusus untuk panglimanya akan dihadapi sendiri oleh Zarharuya.

Tambahan info: Pada saat tengah sibuk memerangi pasukan kegelapan, dikubu Zarharuya mendapatkan bantuan yang tak terduga. Saat itu, tiba-tiba dari arah timur datang burung-burung yang menjadi simbol negara mereka. Ada sekitar 5 burung Aswali yang beterbangan di lokasi pertempuran dan kemudian mereka langsung menyerang para prajurit yang ada dipihak kekaisaran Arkanat. Burung-burung itu memang unik, sebab mereka berukuran sangat besar dan bisa menembakkan api yang berwarna merah atau biru dari mulut/paruhnya ke arah musuh. Siapapun yang terkena api tersebut akan tewas seketika. Dampaknya seperti ledakan bom yang disertai sambaran petir. Dan pemimpin dari burung-burung itu bahkan bisa mengubah dirinya menjadi pijaran api yang berwarna biru bercampur merah dan hijau. Ketika itu terjadi, maka serangan yang dilancarkan menjadi sangat berbahaya. Tak ada yang mampu menangkis kesaktian dari burung ajaib itu. Namun karena mereka disini hanya sekedar membantu, maka akhirnya mereka pun harus pergi sebelum pertempuran usai. Kehadiran mereka saat itu sebenarnya hanya untuk meningkatkan semangat dan moril pasukan kemaharajaan Nawali saja.

Singkat cerita, satu persatu dari para senopati kegelapan itu berhasil dikalahkan oleh para senopati, raja dan panglima pasukan Nawali. Tinggallah panglima kegelapan yang harus dihadapi oleh Zarharuya. Saat itu, panglima kegelapan yang bernama Busarakh itu langsung mengubah wujudnya menjadi raksasa setinggi gunung. Dengan kekuatannya ia melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah Zarharuya. Mendapati serangan seperti itu sang pemuda terus menangkisnya dengan mudah. Tak mau ketinggalan, ia pun mengubah wujudnya menjadi raksasa yang sangat menyeramkan. Maka terjadilah pertarungan yang mengerikan dari kedua raksasa itu. Mereka yang ada di lokasi pertempuran sampai berhenti bertarung lalu bergerak menjauh. Semua orang hanya ingin menyaksikan pertarungan tak masuk akal itu dari kejauhan. Dan setelah beberapa waktu, terlihat jelas Zarharuya mulai unggul. Lalu dengan satu kali serangan memakai pedang pusaka Samura, ia pun berhasil membunuh si pemimpin pasukan kegelapan itu. Tubuhnya terbelah, lalu terbakar hebat dan akhirnya sirna.

Melihat itu, raja Mosgaselit sempat terdiam tak percaya. Ia benar-benar heran tentang bagaimana bisa sekutunya itu dikalahkan dengan mudahnya oleh seorang pemuda. Tapi karena egonya yang sudah menyundul langit, sekali lagi sang raja tak mau menyerah. Setelah merapal mantra khusus, ia segera mengubah wujud dan mengeluarkan kesaktian berupa petir yang menyambar-nyambar dari tangannya. Petir itu lalu ditembakkan langsung ke arah Zarharuya. Sungguh mematikan dan belum ada yang pernah mengeluarkan kesaktian semacam itu. Hanya saja Zarharuya sudah siap menerima serangan itu dengan ajian Kastanu. Dan akhirnya serangan sedahsyat itu mampu ia tangkis, bahkan diserap lalu dikembalikan ke arah raja Mosgaselit. Mendapatkan serangan balik itu, sang raja mencoba untuk bisa menangkisnya. Hanya saja karena sudah dilipatgandakan kekuatannya oleh Zarharuya, akhirnya sang raja terdesak dan sampai terpental jauh. Meskipun tidak sampai terbakar hangus, namun tubuhnya sampai memerah seperti bara api. Dan karena kesaktiannya, sang raja hanya merasa lemas dan tak bisa melanjutkan pertarungan. Energinya sudah terkuras habis.

Lalu, dengan sisa kemampuan yang dimiliki, raja Mosgaselit segera ber-semedhi untuk meminta bantuan kepada tuannya yang paling hebat. Raja kegelapan itu bernama Patseka Mor. Karena janjinya, ia pun datang untuk membantu sang raja kejam itu dalam menghadapi Zarharuya. Dan karena ia sudah menyaksikan jalannya pertempuran dari istananya di alam goib, Patseka Mor langsung menyerang Zarharuya dari udara. Serangan perdana itu sampai mengguncang medan pertempuran dengan keras. Dan itu hanya untuk mengukur kemampuan dari lawannya saja. Yang ternyata memang terbukti sakti dan memiliki hal yang istimewa di dalam dirinya.

Singkat cerita, Patseka Mor tertawa dengan sangat keras sementara energi yang mengikutinya sampai menyebabkan gempa dan angin ribut. Menyaksikan itu, siapapun akan merasa cemas. Terlebih tubuh si raja setan itu terus berubah-ubah bentuk dan ukurannya. Kadang tampan kadang mengerikan, kadang besar kadang kecil. Membuat orang-orang semakin cemas dan ingin lari dari medan pertempuran. Hanya yang berjiwa tangguh saja yang tak bergeming. Karena justru mereka ingin sekali bisa terus menyaksikan pertarungan paling dahsyat itu sampai usai. Peristiwa semacam itu hanya bisa disaksikan sekali dalam seumur hidup.

Dalam satu kesempatan, Patseka Mor mengeluarkan kemampuan dalam mengendalikan air yang dialiri dengan listrik. Tak tanggung-tanggung, saat itu ia mengerahkan air dalam bentuk tsunami yang sangat besar untuk menyerang semua pasukan di medan perang. Ia tak peduli apakah itu kawan atau pun lawan, yang penting menyerang saja. Melihat itu, Zarharuya segera memanfaatkan kekuatan cincin pusaka yang bernama Aswiras untuk menangkis serangan tsunami buatan si raja setan. Ketika air tsunami dahsyat itu mendekati lokasi pertempuran, Zarharuya mengangkat cincin yang melekat dijari manisnya itu tepat menghadap ke arah datangnya tsunami. Keajaiban pun terjadi, dimana air bah itu lalu terpencar ke arah atas dan samping (kanan-kiri) medan pertempuran. Karena itulah semua pasukan yang ada disana terselamatkan. Tak lama kemudian semuanya pun kembali normal, sementara air tsunami itu sudah ditenangkan oleh Zarharuya lalu dikembalikan lagi ke tempatnya semula di lautan.

Melihat itu, Patseka Mor langsung mengeluarkan kemampuan dalam menciptakan. Dengan kesaktiannya, tak lama kemudian muncullah pasukan dari tanah yang semuanya bertangan empat. Mereka itu berjumlah 50 orang dan memiliki kemampuan yang tidak biasa. Hanya dengan kesaktian yang sebanding atau lebih tinggi saja barulah akan mampu menghadapinya. Dan hal itu hanya bisa di lakukan oleh Zarharuya. Dengan anugerah kesaktian dan pedang pusaka Samura yang ia dapatkan, sang pemuda segera mengubah tubuhnya dalam ukuran normal lalu membagi dirinya menjadi 10 sosok. Setiap sosok menghadapi lima makhluk ciptaan Patseka Mor itu. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, Zarharuya bisa mengalahkan semuanya. Ke 50 sosok jahat itu dapat dihancur leburkan dengan kesaktian yang terus meningkat.

Menyaksikan itu Patseka Mor langsung emosi dan segera mengubah wujudnya menjadi gagah rupawan lengkap dengan baju zirah yang indah. Tak seperti bayangan orang-orang tentang sosok raja setan, kali ini Patseka Mor justru berpenampilan paling menawan seperti Dewa dari Kahyangan. Di saat itu, terasa begitu besar energi yang terpancar dari sosok baru raja setan itu. Kekuatannya menjadi berkali-kali lipat, dan semua orang – kecuali Zarharuya – sudah jelas takkan mampu melawannya. Karena itulah, sang pemuda segera mengenakan baju zirah terbaiknya yang bernama Murdara. Ketika memakai baju pelindung itu, Zarharuya tampak sangat gagah dan berkharisma. Terlebih baju zirah itu pun berwarna-warni indah dan juga bisa mengeluarkan pancaran sinar yang terang. Selain itu, jika diinginkan maka akan keluar sayap khusus berwarna campuran antara putih, emas dan biru. Sayap itu bisa untuk terbang sekaligus perlindungan tubuh. Meskipun seperti tampilan sayap burung, maka tak bisa dipatahkan atau dipotong karena bukanlah sayap biasa.

Dan pertarungan sengit pun terjadi di antara dua kesatria terbaik itu lebih dari sehari. Mereka tidak lagi bertempur di medan pertempuran, melainkan terbang kesana kemari di seantero Bumi. Bahkan karena kesaktiannya yang luar biasa, keduanya sampai bertarung di luar angkasa. Bagi mereka saat itu, planet Bumi tak cukup luas sebagai medan pertempuran. Hanya luar angkasa saja yang bisa menampung mereka untuk bertarung sepuas hatinya. Dan memang, saat keduanya bertarung adu kesaktian, maka ajian-ajian yang mereka keluarkan sungguh luar biasa sekaligus menakutkan. Mereka yang berada di Bumi bisa menyaksikan pijaran cahaya yang sangat terang di angkasa ketika ajian dari kedua kesatria itu saling beradu. Suara yang menggelegar, hempasan energi yang sangat kuat menerpa, getaran tanah, dan guncangan demi guncangan yang berulang kali terjadi semakin menegangkan suasana. Belum pernah ada yang hidup saat itu menyaksikan pertarungan yang seperti itu. Dengan kesaktiannya, kedua sosok tersebut telah berulang kali berganti wujud dan membagi dirinya.

Sungguh, pertarungan saat itu sangat luar biasa. Terlepas dari apa latar belakangnya, maka baik Zarharuya maupun Patseka Mor adalah sosok yang mengagumkan dan patut diacungi jempol. Mereka berdua benar-benar kesatria yang gagah berani dan sakti mandraguna. Sungguh beruntung pertarungan mereka itu terjadi di luar angkasa, karena jika tidak, maka dimana-mana akan terjadi kehancuran yang memilukan. Bumi tak cukup kuat untuk menahan besarnya energi dan ledakan dari setiap ajian yang mereka keluarkan. Dan terkadang suasana justru mendadak sepi. Itu bukan karena mereka berhenti, tapi lantaran pertarungannya terjadi sangat jauh di luar angkasa sana. Dari Bumi tak bisa lagi terdengar suara ledakan atau mata semua orang sudah tidak bisa lagi melihat apapun dari kedua sosok kesatria itu.

Lalu dalam satu kesempatan, Patseka Mor mengeluarkan cermin ajaib dan melemparkannya tepat di hadapan Zarharuya. Cermin itu bukanlah cermin biasa, karena ketika bayangan Zarharuya memantul diatasnya maka bayangan itu akan keluar dari cermin dalam bentuk sosok yang serupa dengan Zarharuya. Sosok itu lalu menyerang sang pemuda dengan kemampuan yang setara. Sehingga terjadilah pertarungan yang tidak biasa. Zarharuya harus menghadapi dirinya sendiri dengan kemampuan yang seimbang. Hanya saja, meskipun cukup memakan waktu – karena sosok tersebut selalu meniru semua gerakan jurus atau ajian yang dikeluarkan oleh Zarharuya – akhirnya sosok kembaran sang pemuda itu berhasil dikalahkan. Ada kesaktian Zarharuya yang tidak bisa ditiru oleh sosok palsu tersebut. Dan ilmu itu hanya bisa dimiliki oleh Zarharuya seorang, karena sifatnya adalah anugerah. Dengan kesaktian itu, sosok tiruan dari cermin ajaib milik Patseka Mor itu bisa dimusnahkan. Selanjutnya pertarungan kembali terjadi seperti sebelumnya, tanpa kepalsuan.

Ya. Begitulah pertarungan dari kedua sosok yang paling sakti pada saat itu. Keduanya terus bertarung selama beberapa waktu, sampai pada akhirnya mereka bersiap mengeluarkan kesaktian pamungkasnya. Jika Patseka Mor dalam posisi berdiri, maka Zarharuya memilih untuk duduk bersila. Keduanya lalu mempersiapkan diri dan tak lama kemudian dari dalam tubuh mereka keluar berbagai energi yang berwarna-warni. Energi itu sangat dahsyat dan saling beradu di angkasa. Sungguh peristiwa yang luar biasa mengagumkan dan membuat para Maharesi dan Dewa-Dewi di Kahyangan tak ingin ketinggalan untuk menyaksikannya. Siapapun yang melihatnya sampai tak bisa berkata-kata lagi. Belum pernah ada yang hidup saat itu menyaksikan yang seperti itu. Sungguh luar biasa.

Selanjutnya, dengan menggunakan ajian Musafar, Zarharuya membagi dirinya menjadi dua. Sosok yang kedua langsung berdiri di belakang sosok pertama yang duduk bersila. Jika yang pertama (yang duduk bersila) terus mengeluarkan berbagai energi warna-warni, maka sosok yang kedua (yang berdiri) khusyuk menghaturkan doa kehadirat Hyang Aruta (Tuhan YME). Terlihat bahwa sosok kedua itu justru berpenampilan biasa saja, seperti seorang Begawan yang berpakaian serba putih. Tapi sebenarnya sosok itu jauh lebih sakti lagi. Saat ia berdoa, tak lama kemudian dari arah atas turun cahaya yang berwarna putih kebiruan dan masuk ke dalam tubuh Zarharuya. Setelah itu, hanya dengan menunjukkan jari telunjuknya ke arah Patseka Mor, ia langsung menyedot (mengambil) semua energi yang dikeluarkan oleh si raja setan; Patseka Mor. Lalu dengan gerakan yang secepat kilat, sosok kedua dari Zarharuya itu sudah berdiri tepat di depan Patsekat Mor, sangat dekat. Tujuannya adalah untuk mengambil semua kesaktian yang dimiliki si raja setan itu. Tak ada yang tersisa dari Patseka Mor kecuali daya kehidupannya saja.

Dan benar adanya, bahwa dalam hitungan detik maka semua kesaktian Patseka Mor telah diambil darinya. Meskipun ia berusaha untuk melawan, maka tak ada kekuatan yang cukup untuk bisa menandingi kesaktian dari sosok kedua Zarharuya itu. Seperti kucing yang berhadapan dengan singa, Patseka Mor tak bisa berbuat apa-apa lagi dan ia harus mengaku kalah. Sang pemuda telah dianugerahi kesaktian yang sangat luar biasa. Dialah sosok yang terpilih dan bertugas untuk menjaga ketertiban dunia pada masanya.

Singkat cerita, setelah semua kesaktiannya diambil oleh Zarharuya, sosok Patseka Mor itu lalu diperintahkan untuk pergi. Sesuai dengan ketetapan Tuhan, maka raja setan itu takkan bisa mati sampai Hari Kiamat nanti. Tapi dia bisa dikalahkan dengan kecerdasan dan kesaktian. Hanya saja, sebagaimana yang sudah menjadi tabiatnya sejak dulu, maka suatu saat nanti si raja setan ini akan kembali lagi ke Bumi dan menuntut balas. Dia dan pengikutnya akan selalu membuat masalah di dunia ini. Tujuannya adalah untuk bisa menyesatkan hati manusia dan memperbudak diri mereka. Selamanya Patseka Mor dan pengikutnya takkan rela ada manusia yang bisa hidup dalam kedamaian dan keselamatan. Dan sesuai sumpahnya kepada Ayahanda Adam AS dulu, maka sampai Hari Kiamat nanti kebencian mereka kepada umat manusia akan terus ada. Apapun akan mereka tempuh, karena mereka takkan rela jika manusia hidup dalam kepatuhan dan keimanan kepada Hyang Aruta (Tuhan YME).

Akhirnya, dengan kalahnya Patseka Mor maka yang menjadi pemenang dalam perang dunia itu adalah pasukan kemaharajaan Nawali. Tak ada yang bisa menyangkal hal itu, terlebih saat mereka semua bisa menyaksikan betapa luar biasanya pertarungan antara Zarharuya dengan si raja setan. Dan sesuai dengan hukum perang di masa itu, maka pihak kekaisaran Arkanat harus menyerah sementara rajanya, Mosgaselit, harus menerima hukuman mati. Lalu sesuai dengan petunjuk yang didapatkan oleh Zarharuya, maka setiap orang yang ada di dalam barisan pasukan kekaisaran Arkanat dibebaskan. Mereka diperintahkan untuk segera kembali ke negerinya dengan syarat tidak lagi membuat gaduh atau menyerang kerajaan lain. Jika perintah itu sampai dilanggar, maka pasukan kemaharajaan Nawali akan segera menumpas habis mereka atau siapapun yang bertindak arogan.

Ya. Begitulah akhir dari perang dunia pada masa itu. Setelah berjuang selama lebih dari satu bulan, akhirnya kemaharajaan Nawali keluar sebagai pemenang. Semua wilayah yang pernah ditaklukkan oleh kekaisaran Arkanat diberikan kebebasan untuk memilih bergabung dengan kemaharajaan Nawali atau tetap berdiri sendiri. Dan ternyata semua kerajaan justru memilih untuk bergabung dengan kemaharajaan Nawali. Di antara alasannya bahwa disana ada sosok pemimpin yang luar biasa seperti halnya Zarharuya. Selain itu, tentu dikarenakan sistem ketatanegaraan dan tingkat kemakmuran rakyat di kemaharajaan Nawali yang sangat bagus. Sehingga dengan begitu, maka kemaharajaan Nawali, khususnya sejak dipimpin oleh Zarharuya, tampil sebagai pemimpin dunia. Dan untuk memudahkan dalam pengelolaan semua wilayahnya, maka di setiap kawasan lalu di tunjuk satu orang perwakilan yang disebut Isar. Para Isar inilah yang bertugas dalam mengatur dan memimpin semua kerajaan yang ada di kawasannya. Setiap tindakannya merupakan perwakilan dari pemerintahan pusat. Namun demikian, setiap kebijakan dan keputusan yang diambil harus dilaporkan dan dikonsultasikan terlebih dulu kepada Hisara (raja) atau Misara (ratu) di pusat kemaharajaan Nawali. Jika bertentangan dengan kebijakan pusat maka akan dilarang atau dicari solusi yang lain dengan jalan musyawarah mufakat.

Dan setelah ayahnya mengundurkan diri, atas keinginan dari semua orang maka Zarharuya dilantik menjadi raja selanjutnya. Ketika menjabat sebagai raja ke 1.502 di kemaharajaan Nawali, ia memakai gelar Sri Asyifanaka Zarharuya Lusaramuka Jiwanubaya Alhatanakah. Gelar raja ini adalah yang terpanjang dalam sejarah kemaharajaan Nawali. Sangat layak untuk sosok sepertinya. Sebab disamping telah berjasa besar kepada dunia, Zarharuya juga memiliki kecerdasan dan kemampuan di berbagai bidang keilmuan. Nabi Syis AS telah banyak mengajarkan keahlian yang khusus kepadanya, termasuk tentang cara yang benar dalam mengatur dunia. Sungguh sosok yang luar biasa. Namun kemudian ini tidak lantas menjadikannya ingin mengubah hukum ketatanegaraan yang sudah ada. Karena selanjutnya yang menggantikan dirinya sebagai Hasira (raja) atau Misara (ratu) adalah tetap sosok yang terpilih oleh Dastanaya (dewan atau majelis umat) dan mampu memegang, mengangkat dan memakai ketiga pusaka warisan Prabu Niratta. Bahkan oleh Zarharuya, aturan ini tak boleh diubah sampai kapanpun. Jika diubah maka akan menerima kutukannya.

8. Daftar raja-raja
Sebenarnya nama resmi dari kemaharajaan ini adalah Ninawaliya, hanya saja orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Nawali. Dalam sejarahnya, kemaharajaan ini mampu bertahan selama ±2.750.255 tahun. Selama itu, maka terdapat 3.666 orang yang pernah menjadi raja dan ratunya. Semuanya adalah pemimpin yang terbaik dan kharismatik. Karena itulah, kondisi di kemaharajaan Ninawaliya selalu dalam kemakmuran.

Adapun nama-nama Hisara (raja) dan Misara (ratu) yang pernah memimpin kemaharajaan ini adalah sebagai berikut:
1. Sri Nirattamuyaka Jinahiyasya Alwinastika -> pendiri kemaharajaan Ninawaliya.
2. Panastikara Wiratukaya Jir’arahiyasya
3. Widhanitaru Bunahiyasal Putrahiyaka
4. Hisabarukya Dasthanilam Mudyaharusa
5. Ismakunala Ridasahami Yaramurasya
6. Dartinakasa Gilsahamuya Harakatura
7. Warukatara Birmalayasa Dastinamusya
8. Rustatamuka Hisalumada Jampipanasa
9. Kesamudara Baringkatani Wasilamudya
10. Estahanikam Narutakayal Simamantuka
.
.
1500. Nainalaya Simantalani -> seorang Misara (ratu)
1501. Harusataka Misbulanawi Simudaraya
1502. Zarharuya atau yang bergelar Sri Asyifanaka Zarharuya Lusaramuka Jiwanubaya Alhatanakah -> raja termahsyur
1503. Lantuniyafa Gumanitaruh Srunilamata
1504. Wayutakina Bishaluniya Irjantaruna
1505. Mabitarusa Yamandiral Hasyikananta
1506. Luratunaya Risabajaran Hamidamusa
1507. Ousmantaruh Higamulana Disthatanura
1508. Jamintanasya Darunatuka Hilangtanuwa
1509. Mistatanusi Warudabayu Qushalaniya
1510. Aktamudaya Srikanulani Jamilakala
.
.
3657. Wadhinarata Sifanumala Urbanulasa
3658. Himanggalata Ustanibaya Ballunalani
3659. Aumantara Wijanikatar Hur’asmudaya
3660. Milanuratani Srimatanila -> seorang Misara (ratu)
3661. Mahirastatha Urghantakana Hadimanggala
3662. Rushanikata Darutakanis Nilbunarun
3663. Kirenalukan Vaswanalikas Sohabutalir
3664. Mushalataka Yar’amukta Istanulasa
3665. Panamilata Hikosambila Asmudalasya
3666. Wijanilatuka Zunirahayun Aswantunasya -> raja terakhir dan dimasanya pula kerajaan ini dipindahkan ke dimensi lain.

Demikianlah sebagian daftar nama para Hisara (raja) dan Misara (ratu) yang pernah memimpin kemaharajaan Ninawaliya ini. Setiap raja atau ratunya memimpin lebih dari 750 tahun. Semuanya berumur sangat panjang (lebih dari seribu tahun), terlebih mereka itu memang telah memiliki kebijaksanaan, ilmu dan kesaktian yang tinggi. Dan selama berdirinya kemaharajaan ini, maka pada setiap suksesi kepemimpinannya tidak pernah terjadi kerusuhan atau kudeta. Semua berjalan tertib dan lancar sesuai dengan aturan yang berlaku. Setiap orang tidak akan mencampuri apa yang bukan urusannya.

9. Akhir kisah
Kehidupan kemaharajaan Nawali atau yang bernama lengkap Ninawaliya ini sangatlah panjang. Selama itu, ada banyak kejadian yang luar biasa pernah terjadi. Sepelik apapun itu, dengan kesabaran dan perjuangan yang gigih tetap bisa mereka lalui dengan baik. Semua orang bahu membahu untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan hidupnya. Ada banyak pengorbanan yang dibutuhkan, dan itu semua di lakukan dengan ikhlas dan berserah diri kepada Tuhan. Sungguh gambaran dari kaum yang terbaik dan patut dijadikan suri teladan.

Selanjutnya, karena mereka selalu patuh dan melaksanakan perintah Hyang Aruta (Tuhan YME) dengan tulus, mereka yang hidup di pusat negara atau siapapun yang berkenan lalu diperintahkan untuk berpindah ke dimensi ke 10 (Palatasyi). Tidak untuk semua orang, karena ada sekelompok orang yang berjumlah 50 pasang – dari 5 ras yang ada – untuk tetap tinggal di muka Bumi dan meneruskan peradaban di tempat yang baru. Semua ilmu pengetahuan yang mereka miliki sejak di kerajaan Nawali diterapkan di tempat tinggal baru itu. Dan karena mereka adalah orang-orang pilihan, maka hanya dalam waktu yang relatif singkat telah berhasil membangun peradaban yang tinggi. Setelah cicit mereka lahir, barulah mereka ini diizinkan untuk menyusul kaumnya yang lebih dulu berpindah dimensi. Tinggallah anak keturunan mereka yang melanjutkan kisah kehidupan bangsa Nawali itu tapi dengan nama yang baru.

Sementara itu, atas petunjuk yang didapatkan oleh raja terakhirnya (Wijanilatuka Zunirahayun Aswantunasya), maka sebelum berpindah dimensi semua wilayah kekuasaan dari kemaharajaan Ninawaliya ini dibagi menjadi empat. Dua di zona kawasan Timur, dan satu-satu di setiap zona kawasan lainnya (Tengah dan Barat). Seorang Isar lalu ditunjuk sebagai pemimpin disana. Ia membawahi para raja yang ada di setiap zona kawasan. Selanjutnya, nasib dari setiap zona kawasan harus ditentukan sendiri oleh mereka. Selain itu, setiap zona kawasan tidak boleh mencampuri urusan dari zona kawasan lainnya. Mereka tetap diizinkan untuk berinteraksi, terutama dalam urusan perdagangan dan persahabatan, tapi tidak diperbolehkan untuk ikut terlibat dalam urusan politik dan militer dalam negeri lain. Boleh saja terlibat hanya jika diminta dan dalam kondisi yang genting atau bisa mempengaruhi stabilitas kawasan lainnya.

Demikianlah akhir kisah dari kemaharajaan Nawali ini dari muka Bumi. Lalu mengapa mereka mampu bertahan selama jutaan tahun? Apa yang menjadi resep utama mereka sehingga bisa tampil sebagai manusia yang unggul? Jawabannya ada pada tiga pesan utama dari Nabi Huriya AS yang selalu mereka tunaikan. Yaitu:

1. Uzkuriladiyah : Memelihara rasa syukur dan cinta kasih.
2. Kumuruyuhiyah : Tunduk dan patuh kepada Tuhan.
3. Kurumulaziyah : Tetap tawaduk (rendah hati) dan zuhud (tidak terlalu cinta duniawi).

Ketiga hal itulah yang menjadi kunci utama mereka dalam meraih kebahagiaan dan kemuliaan hidupnya. Dan karena mereka selalu menunaikan ketiganya dengan tulus, maka sebagai bonusnya mereka pun diperintahkan untuk berpindah dimensi kehidupan. Tepatnya ke dimensi ke-10 yang bernama Palatasyi. Disana mereka tetap menjalani hidupnya hingga kini dalam kebahagiaan.

Lalu pada suatu ketika, dihadapan para pembesar dan tamu undangan yang menghadiri perayaan berdirinya kemaharajaan Nawali, Nabi Huriya AS sempat bersabda. Katanya:

“Wahai semuanya. Perhatikanlah aku mengatakan yang sesungguhnya. Bahwa akan tiba saatnya nanti cahaya yang paling terang hadir di muka Bumi, tapi orang-orang lebih suka pada kegelapan. Perlahan tapi pasti, mereka akan tergelincir (tersesat) semakin jauh. Hingga pada akhirnya mereka pun menyembah Tuhan namun sebatas namanya, membaca kitab suci tapi sekedar tulisannya, dan berbuat kebajikan namun selalu diiringi dengan pamrih. Segala sesuatunya berjungkir balik, karena yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah. Pada masa itu, siapapun yang berjalan lurus di arah jalan-Nya akan terkucilkan. Mereka yang shalih akan dihinakan, diremehkan, dan tak dipedulikan. Siapapun yang kaya tapi fasik akan dihormati, sebab mereka yang hidup pada masa itu telah menjadikan materi duniawi sebagai ukuran kemuliaan. Fitnah, dusta dan kecurangan bertebaran dimana-mana seperti daun di musim gugur. Yang licik dan munafik akan disanjung, sementara yang bejat (akhlaknya) akan dipuja-puja. Dimana-mana kebatilan terus merajalela. Perang sering terjadi hanya karena alasan yang tak penting. Alam pun ikut bergejolak (gempa, tsunami, gunung meletus, angin ribut, kebakaran, hujan meteor, gerhana, dll) untuk sekedar mengingatkan. Tapi mereka tetap saja memuliakan para pelaku maksiat dan serakah yang terang-terangan atau pun terselubung. Kemuliaan hanya diukur dengan banyaknya harta, jabatan dan ketenaran (popularitas). Apapun akan di lakukan demi memenuhi hasrat keinginan duniawi. Tak ada lagi rasa takut pada balasan di akherat nanti. Orang-orang semakin jauh dari kebenaran yang sejati. Sehingga karena itulah mereka pun larut dalam dosa dan pembangkangan diri. Tak ada lagi yang beriman kecuali sangat sedikit.

Maka waspadalah dan jagalah hati kalian! Disaat menemukan zaman yang seperti itu, tetaplah berpegang teguh pada kebenaran yang sejati yang akan terasa sulit. Jangan mengikuti mereka yang mayoritas. Lalu carilah seorang pemuda yang ditangannya terdapat pedang dan kitab suci. Ia memiliki senyuman yang manis dan sangat memikat hati. Tak dikenali padahal dialah sosok yang dinantikan. Tak dianggap di Bumi, namun ia dipuja-puja di Langit. Darinya akan datang kehancuran dan kebangkitan besar. Semuanya tunduk kepadanya dan mengakui bahwa dialah raja di atas raja”

Begitulah pesan terakhir yang pernah disampaikan oleh Nabi Huriya AS tepat dimasa raja ke 3.665 (Panamilata Hikosambila Asmudalasya) memimpin kemaharajaan Nawali. Jika diperhatikan, rasanya apa yang dijelaskan dalam pesan itu sudah dan sedang terjadi juga pada masa sekarang. Dan karena hal ini telah disampaikan sejak waktu yang begitu lama, maka tentunya mengandung arti yang sangat penting. Apakah kita mau percaya atau tidak itu menjadi pilihan. Bagi penulis sendiri, maka siapapun yang percaya dan mengikutinya akan beruntung di dunia dan akhirat nanti.

10. Penutup
Wahai saudaraku. Apa yang telah diuraikan di atas terlihat begitu panjang tapi sebenarnya itu hanyalah sebagian, belum semuanya. Kami disini hanya diizinkan untuk menyampaikan secara garis besarnya saja. Setidaknya bisa memberikan gambaran kepada Anda sekalian tentang sebuah kisah fenomenal yang telah dilupakan dalam sejarah formal sekarang. Ambillah hikmahnya. Karena tujuannya untuk mengingatkan kembali diri kita tentang hidup yang sejati. Bahwasannya sebagai manusia kita punya kewajiban untuk terus mengenal diri kita yang sebenarnya. Gali terus kemampuan tersembunyi dalam diri kita lalu bangkitkan demi kehidupan yang jauh lebih baik.

Selain itu, sudah sewajarnya kita pun tetap berserah diri dan tunduk patuh hanya kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Karena tiada daya dan upaya melainkan hanya atas izin dan kehendak-NYA saja. Sebagai makhluk, tak ada yang lebih baik bagi kita selain mengikuti setiap perintah dan larangan-Nya. Dan ketika kita sudah berhasil melaksanakannya, maka seperti kaum Nawali dulu, kita pun bisa menciptakan peradaban yang gemilang dan seimbang. Kebahagiaan dan keselamatan pun tak hanya untuk di dunia ini saja, melainkan sampai di akherat nanti. Jika dunia ini hanya bersifat sementara, maka di akherat nanti pasti berlangsung selamanya; kekal dan abadi.

Dan teruslah bersikap rendah hati serta waspadalah dalam hidup ini. Sebab apa yang terjadi pada masa lalu tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi dimasa kita sekarang. Tetaplah mempersiapkan diri, karena tanda-tanda Al-Malhamah al-Kubro (perang maha dahsyat) akhir zaman sudah terjadi. Saat ini adalah masa-masa penantian sebelum waktunya. Tak ada lagi alasan untuk cuek dan tak peduli.

Semoga kita termasuk di antara mereka yang selamat atau diselamatkan nanti. Rahayu _/|\_

Jambi, 30 Nopember 2017
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Seperti pada tulisan sebelumnya, maka disini pun tak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Semua kembali kepada Anda sekalian, tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Jika dirasa ada kesamaan dengan kisah pada tulisan sebelumnya, maka itu memang begitulah adanya. Sebab sejarah kehidupan manusia itu akan terulang lagi di masa-masa tertentu. Semuanya telah diatur oleh Sang Maha Pengatur.
3. Ada banyak hal yang tak bisa kami sampaikan disini, ada protap yang harus dipatuhi. Pada waktu yang tepat nanti, semuanya akan ditunjukkan.
4. Bukalah cakrawala hatimu seluas mungkin untuk bisa memahami kisah ini. Jika tidak, kau hanya akan menghujat dan melecehkan saja.

Iklan

7 respons untuk ‘Kerajaan Nawali: Sang Pemimpin Dari Timur

    Bue said:
    Desember 24, 2017 pukul 3:10 pm

    Hahaahaha blog ini bgitu hebat .. Artikel yang puaaaanjang laksana buku tebal …. Tapi saya baca dua judul saja sudah saling bertolak belakang …. Mungkin penulis blog ini adalah pendongeng yang gagal orbit

      oedi responded:
      Desember 25, 2017 pukul 3:09 am

      Oke, terima kasih atas komentarnya..

    al jalal said:
    Desember 25, 2017 pukul 2:44 pm

    harap maklum kang oedi klo da komentar miring krn mrk terdoktrin ilmuwan barat .
    berbeda dgn kita yg berusaha mencari sejarah para leluhur dan makhluk alloh yg lain yg tergerus oleh zaman dan terlupakan.
    kang oedi kok gk di ceritain tentang nabi khidir dan air kehidupan dan zaman apa?

      oedi responded:
      Desember 26, 2017 pukul 12:01 am

      Nuwun ya mas Al Jalal karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Oh ttg itu saya mah udah maklum banget mas, makanya di bawah setiap artikel udah dicantumkan catatan terakhir, dalam kasus ini khususnya yg di poin ke 4 nya.. 🙂
      Hmm kalo ttg kisah Nabi Khidir AS, blm byk yg bisa saya sampaikan.. Blm diizinkan utk berbagi di blog ini.. Maklum semuanya hrs sesuai protap.. Mungkin suatu saat nanti akan saya share.. Dan jg heran kalo nanti diluar mainstream yg ada selama ini.. 🙂

    Bangsa Arya dan Kisah Peradabannya – Perjalanan Cinta said:
    Januari 30, 2018 pukul 6:36 am

    […] ras saja, namun tak sedikit yang merupakan kumpulan dari banyak ras manusia; contohnya kemaharajaan Nawali, Kaminos, Himarida, dan Azkariyah. Bangsa Arya hanyalah salah satu dari bangsa yang besar dan […]

    Rajasa said:
    Januari 25, 2019 pukul 10:11 am

    Sangat menarik…
    Protap itu apa ya?

      Harunata-Ra responded:
      Januari 25, 2019 pukul 10:15 am

      Syukurlah kalo suka dg tulisan ini.. Terima kasih mas Rajasa karna udah berkunjung, moga bermanfaat.. 😊

      Oh protap itu singkatan dari prosedur tetap.. ya semacam aturan tertentu yg gak bisa di langgar oleh seseorang atau kelompok atau komunitas tertentu.. Artinya, seseorang itu udah terikat dg sebuah janji atau sumpah atau kesepakatan atau perintah tertentu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s