Ratu Tiyasati: Pemimpin Besar Nusantara

Wahai saudaraku. Kisah ini terjadi pada hitungan lebih dari tiga ribu tahun sejak periode zaman ke tujuh (Rupanta-Ra) dimulai, atau sekitar 13.000-17.000 tahun silam. Saat itu manusia sudah kembali menyebar di sepenjuru Bumi. Mereka terbagi ke dalam ±65 kerajaan, dimana mereka pun hidup dalam dinamika yang menarik. Belum pernah terjadi pertempuran besar, karena semua persoalan di antara mereka masih bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Hingga semuanya berubah sejak banyak manusia, terutama pemimpinnya mulai lupa diri dan senang mengikuti angkara murka.

Adapun tokoh yang diceritakan disini adalah sosok yang luar biasa dan menjadi pemimpin yang terbaik. Tak ada bedanya dengan kaum laki-laki, sang ratu pernah mengukir namanya dalam deretan pahlawan besar dunia. Sama dengan Dewi Sridana, ia juga memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia dan mampu memimpin dengan cerdas dan bijaksana. Dibawah pemerintahannya, keadaan manusia menjadi lebih baik dan sejahtera.

Nah, untuk lebih jelasnya mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Suatu ketika di Mellayurin (penamaan Nusantara kala itu), tepatnya di sebuah negeri yang bernama Ahtapura (sekitar antara Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat sekarang), hiduplah seorang raja yang bijak. Ia telah dikaruniai semua kebaikan duniawi, termasuk isteri yang cantik dan seorang anak gadis yang rupawan. Sehubungan ia sudah merasa tua, maka sudah waktunya pula bagi sang raja yang bernama Hilmatasa itu untuk mencarikan suami bagi anak gadisnya. Sang Putri bernama Mutiyani, sosok yang anggun dan cerdas. Semua orang pun suka dan menyayanginya.

Singkat cerita, pernikahan Putri Mutiyani pun di laksanakan dengan meriah di istana selama 7 hari 7 malam. Orang yang beruntung mempersunting sang bunga kerajaan Ahtapura itu adalah seorang pangeran dari kerajaan Sihandipa (sekitar Palembang sekarang). Pangeran yang bernama Zimakiya itu terkenal tampan dan berwibawa. Banyak pula kemampuan dan kesaktian yang ia kuasai. Sehingga sangat serasi dengan Putri Mutiyani. Tak ada yang menyangsikan hal itu, karena memang demikianlah faktanya.

Sebenarnya Pangeran Zimakiya itu bukanlah orang asing bagi kerabat istana Ahtapura. Nenek dari Raja Hilmatisa yang bernama Dinarila berasal dari kerajaan Sihandipa. Ia adalah puteri dari raja ke-7 kerajaan Sihandipa itu (Prabu Miltarunka), yang menikah dan menjadi permaisuri dari Raja Kalinyata, penguasa ke-6 di kerajaan Ahtapura. Jadi, bisa dibilang pernikahan kedua bangsawan tinggi itu adalah pernikahan sesama kerabat. Kalau pun bernuansa politik maka tak menjadi soal, sebab kedua mempelainya telah saling mencintai.

Tahun-tahun pun berlalu, kehidupan kedua sejoli itu pun tetap harmonis dan bahagia. Mereka telah di anugerahi sepasang anak yang rupawan. Yang tua seorang wanita yang bernama Tiyasati, sementara yang bungsu adalah pria yang bernama Yakarinata. Keduanya tumbuh sebagai pemuda yang unggul dan bijaksana. Menurun dari sifat kedua orangtuanya sendiri. Hanya saja, keadaan pun segera berubah setelah Putri Mutiyani wafat karena sakit. Sebab terlalu dalam mencintai isterinya itu, Pangeran Zimakiya sempat terguncang (stres) dan tak mempedulikan hidupnya lagi. Atas bantuan dari seorang Begawan, akhirnya ia bisa sembuh dan kembali hidup normal.

Waktu pun berlalu, Pangeran Zimakiya lalu menggantikan mertuanya untuk memimpin kerajaan Ahtapura sebagai raja ke-9. Sejak awal kepemimpinannya, kondisi negara tetap aman. Hanya saja sang prabu sering menyendiri di atas menaranya. Hingga suatu ketika ia merasa telah mendapatkan firasat bahwa dirinya akan menjadi pemimpin besar dunia. Lalu tanpa merenungkannya lebih hati-hati, Prabu Zimakiya segera memutuskan untuk pergi dari istana dan menyendiri di hutan wilayah selatan lalu berpindah ke hutan Yasun (sekitar antara Garut dan Tasikmalaya) dan akhirnya sampai di pedalaman hutan Suju (sekitar Cilacap, Jawa Tengah sekarang). Urusan negara ia titipkan kepada kedua anaknya dan para menteri kerajaan.

2. Migrasi dalam penaklukkan
Sudah lebih dari 57 purnama Prabu Zimakiya meninggalkan istananya. Selama itu tak ada kabar apapun darinya dan tak ada pula yang tahu dimana keberadaan sang raja saat itu. Hanya saja, suatu ketika terdengar kabar bahwa Prabu Zimakiya telah menjadi penguasa di kerajaan Tasidam. Sebuah kerajaan yang baru berdiri dibekas kerajaan Antida (di sekitar Wonosobo-Magelang-Temanggung, Jawa Tengah sekarang). Di kerajaan itu, sang prabu memakai nama gelar sebagai Rah-Amurtar.

Mendapat kabar seperti itu, Putri Tiyasati mengutus dua orang pengawal pribadinya untuk memastikan kebenaran dari berita itu. Keduanya lalu menuju ke negeri Tasidam. Disana mereka harus menyamar sebagai rakyat biasa dan bergerak dengan sangat hati-hati. Selama menjalankan tugas sebagai mata-mata, mereka harus mengumpulkan semua informasi yang diperlukan dan melaporkan langsung kepada Putri Tiyasati. Mereka juga tak boleh mengaku sebagai utusan dari sang putri, bahkan kepada Prabu Zimakiya jika sampai tertangkap. Apapun yang mereka lakukan harus dalam kerahasiaan. Disini nyawalah yang menjadi taruhannya.

Singkat cerita, apa yang disaksikan oleh kedua utusan Putri Tiyasati itu diluar perkiraan. Raja yang sebelumnya dikenal sangat baik hati dan bijaksana telah berubah menjadi angkuh dan arogan. Sungguh tak disangka bahwa Prabu Zimakiya telah menjadi sosok yang diktator, ambisius, dan sangat kejam. Tak ada lagi kebaikan yang terlihat dari diri sang prabu. Seperti Rahwana, ia telah meninggalkan kebaikan budi dan sikap yang mulia. Tiap hari yang ada hanyalah kejahatan demi kejahatan saja. Siapapun yang berani menentangnya akan dihukum keji atau dibinasakan. Bertangan besi adalah kebiasaannya kini. Jika tidak, maka ia akan bersikap licik dan munafik.

Berita yang disampaikan oleh kedua utusan Putri Tiyasati itu membuat semua orang yang ada di istana lantas tertegun tak percaya. Tapi apa mau dikata, sang prabu memang sudah berubah. Ia telah melupakan kebaikan yang dulu selalu di lakukannya. Bahkan ada laporan bahwa sang raja telah mempersiapkan pasukan besar untuk menaklukkan semua kerajaan yang ada di tanah Jiwani (penamaan pulau Jawa kala itu). Tujuannya hanya untuk kebanggaan diri dan agar dipandang mulia di seluruh dunia. Siapapun yang menentangnya akan dihancurkan. Dan setelah diselidiki, maka benar adanya bahwa sang raja sudah mulai menggerakkan puluhan ribu pasukannya untuk menguasai semua kerajaan yang ada di tanah Jiwani. Selang beberapa tahun kemudian, satu persatu wilayah yang ada di bagian tengah dan timur pulau Jawa telah berhasil ditaklukkan. Pasukan yang tersisa dari kerajaan taklukkan wajib untuk tunduk dan mengikuti komando Prabu Rah-Amurtar. Karena itulah, semakin lama jumlah pasukannya pun semakin banyak.

Singkat cerita, akhirnya giliran kerajaan Ahtapura yang harus berhadapan langsung dengan pasukan Prabu Rah-Amurtar. Kerajaan ini adalah yang terakhir di Jiwani (tanah Jawa) yang belum ditaklukkan. Jika sudah, maka sepenuhnya tanah Jiwani menjadi kekuasaan dari kerajaan Tasidam. Prabu Rah-Amurtar alias Zimakiya akan menjadi penguasa tunggal di tanah Jiwani. Ini berarti wilayah kekuasaannya sangat luas, sebab pada saat itu pulau Madura, Bali, NTB, NTT, dan Timor Leste masih bersatu dengan tanah Jawa. Sehingga ketika kerajaan Ahtapura dapat ditaklukkan, maka kekuasaan kerajaan Tasidam menjadi yang terluas di bagian barat Mellayurin (Nusantara).

Pertempuran dari kedua kerajaan pun berlangsung sengit. Sebagai raja ke-9 Ahtapura, Prabu Zimakiya tentu sangat memahami seluk beluk pasukan dan topografi wilayah kerajaan Ahtapura. Ini sangat menguntungkan baginya. Karena itulah setelah berjuang dengan keras, akhirnya tiada pilihan lain bagi para pembesar kerajaan Ahtapura kecuali pergi meninggalkan kerajaannya. Semua kerabat istana, termasuk Putri Tiyasati harus mengungsi ke luar negeri, tepatnya ke kerajaan nenek buyutnya di tanah Swinarma (pulau Sumatera). Di kerajaan Sihandipa itu, Putri Tiyasati dan rombongannya diterima dengan baik. Disana mereka lalu mengamankan diri dalam waktu yang cukup lama. Sementara itu, kerajaan Ahtapura sudah dikuasai sepenuhnya oleh bala pasukan kerajaan Tasidam. Sungguh miris, dimana Prabu Zimakiya yang sebenarnya masih menjabat sebagai raja ke-9 Ahtapura, harus kembali ke istananya sendiri tapi dengan cara kekerasan. Itu pun karena keangkuhan dan kelupaan dirinya sendiri.

Ya, kisah hidup manusia itu memang unik dan berliku. Bahkan ada hal-hal yang aneh dan tak seharusnya begitu. Tapi apa mau dikata, semuanya adalah pilihan dan akan tunduk pada garis hidup yang telah ditentukan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME). Begitulah yang terjadi di dalam kisah ini. Ada cerita yang membuat sesak di dada, tapi sebaliknya ada yang membanggakan dan terasa luar biasa.

3. Petunjuk yang menyesatkan
Setelah pergi dari istananya, Prabu Zimakiya lalu menyendiri di wilayah selatan dan akhirnya ia berpindah ke hutan Yasun (di sekitar antara Garut dan Tasikmalaya). Karena merasa belum puas, sang prabu kembali berpindah tempat dan kali ini ia memasuki pedalaman hutan Suju (di sekitar Cilacap, Jawa Tengah sekarang). Disana, setelah menemukan tempat yang cocok, maka selama 7 bulan lebih ia ber-tapa brata dengan niat untuk mendapatkan kesaktian dan ingin menjadi penguasa dunia. Dan tepatnya setelah 7 bulan 10 hari sang prabu ber-tapa, ia didatangi oleh sesosok pria yang mengaku sebagai seorang Dewa yang bernama Aswandira. Penampilannya saat itu memukau, karena sangat tampan dan berpakaian serba indah. Dari tubuhnya memancarkan sinar yang terang. Siapapun akan terpesona dan merasa takjub kepadanya.

Sosok tersebut kemudian memberikan kesaktian dan tiga buah pusaka berupa gelang, cincin dan kristal mustika hitam kepada Prabu Zimakiya. Katanya sang raja akan bisa mencapai semua keinginannya dan tak ada yang bisa mencegahnya. Dengan pusaka sakti itu, ia akan lebih mudah mewujudkan setiap kemauannya. Hanya saja, untuk memulai semua itu ia harus melaksanakan kurban. Semakin banyak kurban yang ia berikan akan membuat dirinya semakin kuat dan berjaya. Dan tak tanggung-tanggung lagi bahwa kurban yang dimaksudkan itu adalah jiwa manusia.

Mendengar itu, awalnya Prabu Zimakiya merasa tak sudi. Ia masih memiliki rasa kemanusiaan dan takut dosa. Tapi lantaran jiwanya masih terguncang setelah kematian isterinya, ditambah dengan rayuan dan tipu muslihat dari sosok yang mengaku sebagai Dewa itu sangatlah hebat, tak lama kemudian sang raja pun menyerah. Seperti orang yang terhipnotis, Prabu Zimakiya menuruti saja apapun yang dikatakan oleh sosok misterius itu. Seperti robot yang sepenuhnya dikendalikan oleh orang lain, ia tak bisa menolaknya. Otaknya telah “dicuci” oleh raja kegelapan.

Singkat cerita, setelah mendapatkan kesaktian dan pusaka dari sosok yang mengaku sebagai Dewa itu, Prabu Zimakiya mulai melancarkan niatnya. Sebagaimana pesan dari sosok misterius itu, sang raja lalu mencari cara untuk bisa mengorbankan manusia sebagai tumbal bagi cita-citanya. Dan sungguh kebetulan, disaat ia berjalan di pinggiran hutan, sang raja melihat ada seorang wanita yang tersesat. Entah setan mana yang menguasai hati dan pikirannya, saat itu Prabu Zimakiya langsung menyergap si wanita tanpa ampun. Dan benar, hanya dalam waktu singkat si wanita sudah berhasil ia tawan lalu dibunuh dengan cara menusuk jantungnya tepat di waktu matahari mulai tenggelam (magrib). Sementara mayatnya ia tinggalkan begitu saja tanpa dikuburkan.

Setelah membunuh si wanita dengan niatan sebagai tumbal, tak lama kemudian Prabu Zimakiya merasakan ada kekuatan yang bertambah pada dirinya. Ia merasakan ada energi yang besar langsung memasuki tubuhnya, dan dengan itu ia pun merasa semakin kuat dan sakti. Karena itulah, ia pun bertambah yakin dengan apa yang telah dikatakan oleh sosok yang memberinya petunjuk. Menurut keterangan dari sosok yang sebenarnya raja setan itu, maka semakin banyak ia menumbalkan manusia maka semakin pula ia bertambah sakti dan berjaya. Oleh sebab itu, untuk beberapa waktu sang raja masih mencari tumbal manusia, satu persatu, dan tak peduli apakah ia laki-laki atau wanita. Namun akhirnya itu tidaklah cukup, sang raja merasa bahwa sudah waktunya untuk meraih apa yang ia cita-citakan selama ini. Yaitu menjadi penguasa terhebat di dunia.

Lalu, ketika sang raja sedang memikirkan apa yang akan ia lakukan, datanglah sosok yang ternyata bernama asli Bizardug itu dihadapannya. Sang raja belum tahu bahwa yang mengaku sebagai Dewa itu sebenarnya adalah raja setan yang sedang menipu dirinya agar tersesat dan menjadi kaki tangannya. Bizardug pun memberikan “wejangan” liciknya dengan berkata: “Sudah waktunya engkau menjalankan niatmu yang sebenarnya. Untuk mencapai tujuan, maka tak ada salahnya mengorbankan banyak manusia. Itu sangat lumrah dalam sebuah perjuangan. Dan agar dirimu bisa menjadi penguasa yang terhebat, maka taklukkanlah dulu Raja Marsuta, penguasa kerajaan Antida. Tidak dengan berperang, tetapi menyerangnya dari dalam”

Singkat cerita, Prabu Zimakiya mengikuti apa yang dikatakan tuannya itu (Bizardug). Ia lalu mengabdi kepada Raja Marsuta di kerajaan Antida. Karena memiliki banyak kemampuan, hanya dalam waktu singkat sang prabu bisa menjadi orang kepercayaan Raja Marsuta. Lalu dengan ilmu sihirnya, Prabu Zimakiya yang menyamar sebagai cendikiawan bernama Silung itu dengan leluasa bisa memengaruhi pikiran Raja Marsuta. Awalnya memang ia terlihat hebat dan berkharisma, namun akhirnya justru menderita sakit keras dan menjadi lupa ingatan selama beberapa bulan. Karena tak ada yang mampu mengobatinya, raja muda itu akhirnya wafat dalam kondisi yang mengenaskan tanpa istri dan keturunan.

Selanjutnya, baru saja 10 hari setelah Raja Marsuta wafat, Prabu Zimakiya sudah menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Tanpa persetujuan dari kerabat istana, ia lalu mengambil alih tahta kerajaan Antida. Yang berani menentangnya langsung ditantang untuk berduel sampai mati. Dan karena Prabu Zimakiya memang sakti mandraguna, maka siapapun yang menantangnya bertarung akhirnya tewas. Tak ada yang diberi ampun, karena semuanya dibunuh. Bahkan Prabu Zimakiya justru semakin senang membunuh orang-orang yang menentangnya untuk dijadikan tumbal kekuatan dan cita-citanya.

Ya. Sejak mengabdi di kerajaan Antida, selama itu pula Prabu Zimakiya tidak pernah menggunakan nama aslinya. Dan ketika berhasil menjadi raja di kerajaan itu, ia lalu memakai nama gelar sebagai Rah-Amurtar. Seolah-olah ia ingin menutupi jati dirinya yang sebenarnya; sebagai raja ke-9 di kerajaan Ahtapura. Dan itu semua atas petunjuk dari tuannya, si raja setan Bizardug.

Begitulah ceritanya kenapa Prabu Zimakiya akhirnya menjadi penguasa yang kejam dan sadis. Sejak ia baru menjadi raja, nama kerajaan Antida segera diganti menjadi Tasidam atau yang berarti penakluk yang kuat. Setelah merasa cukup dengan segala persiapannya, ia lalu memerintahkan pasukannya untuk mulai menaklukkan kerajaan lain. Tentu disini ia sudah memperhitungkan segala sesuatunya dengan detil dan teliti. Sang raja bukan orang sembarangan, karena sejak masih menjadi pangeran di kerajaan Sihandipa ia sudah dibekali dengan banyak pengetahuan tentang strategi perang. Maka sejak itulah, nama kerajaan Tasidam dan Prabu Rah-Amurtar menjadi momok yang menakutkan dimana-mana. Semakin lama semakin luas pula kekuasaan dan kekejiannya, tanpa ada yang mampu membendungnya.

4. Mengenal kebenaran sejati
Setelah berada di kerajaan Sihandipa, Putri Tiyasati masih terpukul dengan apa yang sudah terjadi. Tak disangka bila ayah yang selama ini ia cintai dan kagumi itu justru berbuat keji. Bagaimana bisa ia menjadi sosok yang arogan, serakah dan tak manusiawi seperti itu? Sangat jauh berbeda dengan yang dulu. Dan itu terlihat jelas dengan ambisinya untuk bisa menjadi raja yang terhebat dalam sejarah manusia tapi dengan menghalalkan segala cara. Ia ingin menjadi penguasa yang terhebat di dunia, tak peduli jalannya.

Untuk menenangkan hatinya dan mencari kebenaran yang sejati, sang putri lalu memutuskan untuk menyendiri di tengah hutan. Selama 10 hari ia menjauh dari manusia dan akhirnya ber-tapa brata di bawah pohon Dimal (sejenis beringin) yang ada di tepi kali Sumati. Pada hari yang ke-40, tepatnya pada waktu matahari mulai tergelincir ke arah barat, sang putri didatangi oleh seorang Begawan. Sosok kharismatik itu bernama Maharesi Alwani. Beliau ini sudah hidup sejak periode zaman ke empat (Swarganta-Ra). Atas izin dari Tuhan, ia bisa hidup di beberapa zaman yang berbeda. Hanya saja memang tidak terus-terusan tinggal di muka Bumi ini, karena lebih sering hidup di dimensi lainnya.

Sang Begawan lalu berkata; “Wahai ananda, sudahilah tapa bratamu itu. Saat ini terimalah petunjuk yang menjadi hakmu dan bisa menuntun jalan hidupmu nanti. Bangkitlah, dan ikutilah peranmu”

Mendengar itu, perlahan-lahan Putri Tiyasati membuka mata dan ia segera melihat sesosok pria yang berdiri tepat dihadapannya. Walau pun ia tidak mengenali sosok tersebut, sang putri segera memberi hormat dengan mencakupkan tangan di dada dan menundukkan kepalanya. Melihat itu sang Begawan pun tersenyum dan kembali berkata; “Ananda Tiyasati, untuk menemukan yang sejati kau harus berjalan ke arah barat. Teruslah ke barat sampai engkau melihat satu pohon besar yang bercabang tiga dan berdaun tiga warna. Ber-tapa brata-lah disana selama beberapa waktu dan berhenti saat ada yang membangunkanmu”

Mendengar penjelasan itu, entah mengapa sang putri langsung percaya. Karena disampaikan oleh seorang Begawan, setiap kata-katanya mengandung energi yang besar dan menimbulkan semangat dalam hati. Setelah Maharesi Alwani raib dari pandangan, tak lama kemudian Putri Tiyasati mulai berjalan ke arah barat. Selama lima hari ia masih tetap berjalan, dan hanya sesekali saja beristirahat untuk sekedar makan, minum atau tidur sejenak. Sampai pada akhirnya, di hari yang ke tujuh sang putri melihat sebatang pohon yang sesuai dengan petunjuk dari Maharesi Alwani. Pohon tersebut memang sangat besar, bercabang tiga, sementara daun-daunnya berwarna merah, kuning dan hijau. Belum pernah ia melihat pohon yang seperti itu. Selain menawan juga terkesan sangat mistis.

Sesuai dengan petunjuk dari Maharesi Alwani, selang lima hari kemudian sang putri mengambil posisi untuk ber-semedhi dibawah pohon besar itu. Selama 13 bulan penuh ia tidak beranjak dari tempat duduknya dan tak pernah membuka mata sekalipun. Sampai pada akhirnya ia merasa ada begitu banyak benda yang menimpa tubuhnya. Ternyata itu berasal dari bunga-bunga yang berguguran dari pohon yang kemudian diketahui bernama Hiyasal itu. Bunga-bunga itu menimbulkan rasa panas dan dingin sekali di kulit sang putri. Akibatnya, ia sampai terbangun dari tapa brata-nya dan sedikit terkejut karena bagaimana bisa pohon yang dikiranya tak mungkin berbunga itu justru berbunga sangat indah dan lebat. Bahkan saat itu sudah mengungurkan bunganya dimana-mana, yang sangat banyak. Sang putri sampai hampir tertimbun dibuatnya.

Singkat cerita, di saat Putri Tiyasati sibuk membersihkan dirinya dari bunga-bunga itu, tiba-tiba dari arah langit terdengar suara yang bergemuruh. Tak lama kemudian ada seberkas cahaya berwarna putih kebiruan yang mendekati dirinya. Setelah berada tepat dihadapannya, cahaya itu lalu berubah wujud menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Ternyata ia adalah seorang Dewi dari Kahyangan, yang bernama Bhatari Nisya. Penampilannya sungguh anggun dan rupawan, penuh wibawa dan sangat kharismatik. Belum pernah Putri Tiyasati melihat sosok yang seperti itu, karena dari tubuhnya bahkan memancarkan sinar yang terang. Baginya ini adalah anugerah yang sangat besar dan mengharukan.

Melihat ada sosok yang bercahaya dan sangat kharismatik sedang berdiri dihadapannya, Putri Tiyasati langsung bangkit lalu bersimpuh dan memberi hormat. Ada rasa tidak percaya, namun sang putri segera menguasai dirinya. Tak berselang waktu, Bhatari Nisya pun berkata; “Wahai ananda, aku senang engkau berhasil menjalankan apa yang telah disampaikan oleh Begawan Alwani. Semuanya telah menjadi ketetapan dan petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Tak ada yang bisa menunda atau pun mendahuluinya. Karena itu, tetaplah engkau tunduk dan bersyukur hanya kepada-Nya. Dalam hari-harimu, maka teruslah engkau berserah diri dan jangan pernah lupa untuk selalu bersikap rendah hati. Tetaplah sabar dan ikhlas, karena dirimu bukanlah siapa-siapa kecuali makhluk yang fana dan tak berdaya. Hanya atas karunia dan rahmat-Nya saja, engkau bisa hidup dan menjalani kehidupan ini dengan baik”

Mendengar kata-kata itu, Putri Tiyasati langsung bercucuran airmata. Apa yang telah disampaikan oleh sang Bhatari segera menyadarkan dirinya bahwa ia hanyalah makhluk yang lemah. Tak ada yang bisa menolak kehendak dari Yang Maha Kuasa, karena tugas seorang hamba itu hanyalah berusaha dengan sabar. Masalah hasilnya itu hanya kuasa Tuhan, dirinya tak ada andil apapun kecuali memohon kebaikan dari-Nya saja. Ia pun harus senantiasa tunduk dan berserah diri kepada-Nya tanpa henti. Dengan begitu ia pun akan terselamatkan.

Singkat cerita, Bhatari Nisya menurunkan kesaktian kepada Putri Tiyasati. Selain itu, beliau juga memberikan lima buah pusaka sebagai hadiah dan kenang-kenangan. Kelimanya itu terdiri dari cincin bermata biru yang bernama Aumor, selendang ungu yang bernama Linsaya, cawan emas yang bernama Warunta, busur panah yang bernama Hisamaya, dan sebilah keris ber-luk lima yang bernama Astulasya. Ketiganya itu punya kelebihannya sendiri dan nanti akan membantunya untuk bisa menegakkan keadilan. Selain itu, ketiga pusaka itu akan menjadi pusaka utama dari kerajaan yang kelak ia dirikan. Siapapun yang menggantikan dirinya, harus mampu memegang dan menggunakan ketiga pusaka itu.

Setelah memberikan hadiahnya itu, sang Bhatari pun kembali berkata; “Ananda Tiyasati, apa yang ku berikan kepadamu itu (ilmu dan lima pusaka) bukanlah berasal dariku. Semuanya hanya atas izin dan perintah-Nya saja, sementara diriku adalah perantaranya. Maka pergunakanlah dengan niat dan tujuan yang baik. Tetaplah engkau rendah hati dan pandai bersyukur kepada-Nya. Khusus untuk pusaka, maka kelimanya itu punya kemampuannya sendiri dan tak bisa dipegang oleh sembarangan orang. Ia akan sangat diperlukan dalam perjuanganmu nanti. Untuk itu, sejak masa kepemimpinanmu atau sampai sepeningalmu nanti, jadikanlah ketiganya sebagai pusaka utama kerajaan. Siapapun yang ingin menggantikan dirimu, ia harus mampu memegang dan menggunakan kelima pusaka itu dengan benar. Itulah jalan terbaik untuk menentukan siapakah yang paling layak menjadi pemimpin.

Lalu, ada satu hal yang harus kau lakukan sebelum menjalankan tugas. Belajarlah kepada orang-orang bijak di negeri Hur’Anura. Berdiskusilah dengan mereka tentang apa saja sampai engkau mengerti apa itu kebenaran yang sejati. Bersamaku, kau bisa tiba disana dan kemudian tinggal selama waktu yang dibutuhkan”

Mendengar penjelasan itu, tanpa sadar Putri Tiyasati kembali meneteskan air matanya. Ia tak pernah mengira bisa menerima ilmu dan pusaka dari sosok yang luar biasa seperti Bhatari Nisya. Sang putri merasa bukanlah siapa-siapa, yang pantas mendapatkan anugerah yang sebesar itu. Tapi akhirnya ia sadar, bahwa semuanya itu sudah menjadi kehendak-Nya saja dan sudah seharusnya ia tetap mengikuti. Sehingga ketika mendengar penjelasan tentang tugasnya nanti, sang putri hanya bisa menerimanya dengan tulus dan berniat sabar dan berserah diri kepada Tuhan.

Selain itu, maka tak ada alasan bagi Putri Tiyasati untuk tidak mengikuti petunjuk dari sang Bhatari. Ia sangat senang karena bisa tinggal di negeri yang sangat misterius itu. Meskipun sebenarnya lokasi negeri Hur’Anura itu jauh dari tempat ia ber-tapa, maka karena yang mengajaknya adalah seorang Bhatari semua itu menjadi mudah. Hanya dengan satu kali hembusan napasnya, tiba-tiba muncul dihadapan sang putri sebuah lorong bercahaya yang berbentuk bulat. Ternyata lorong itu semacam gerbang teleportasi untuk bisa sampai ke negeri Hur’Anura. Dan benar, bahwa ketika sang putri melangkahkan kakinya ke dalam lorong tersebut, hanya dalam waktu sekejap ia sudah tiba di depan pintu gerbang kota Hur’Anura. Disana, sang putri lalu disambut oleh dua orang wanita yang kemudian mengantarkannya menuju ke pusat ilmu pengetahuan (semacam perpustakaan). Di tempat itu ia lalu mendapatkan banyak sekali ilmu pengetahuan dan informasi yang tidak biasa.

Sejak tiba disana, sang putri tak bertemu lagi dengan Bhatari Nisya karena beliau sudah pergi ke tempat lain – masih di negeri Hur’Anura – bersama seorang petinggi disana. Maklumlah negeri Hur’Anura itu bukanlah negeri yang biasa. Keberadaannya sangat tersembunyi dan tidak ada yang bisa berkunjung kesana tanpa izin. Mereka yang tinggal disana adalah orang-orang yang terpilih dari zaman ke zaman. Karena itulah para penghuni Kahyangan pun sering berkunjung kesana, entah karena untuk sekedar bersilaturahmi atau memang ada urusan yang penting.

Lalu, di negeri Hur’Anura itu, selain banyak menimba ilmu, sang putri juga bisa bertemu dengan para leluhurnya atau dengan mereka yang selama ini hanya ia ketahui dari cerita dan legenda. Karena itu pula ia banyak mendengar kisah-kisah heroik dari masa lalu, langsung dari tokohnya sendiri. Sungguh anugerah yang besar bagi sang putri, bahkan itu menjadi motivasi baginya. Dan setelah lebih dari 25 tahun (untuk ukuran waktu disana, atau hanya 2 tahun untuk ukuran waktu di muka Bumi) belajar dengan tekun, Putri Tiyasati akhirnya bisa menguasai berbagai ilmu dan keahlian tingkat tinggi. Ia pun sudah lebih memahami tentang arti kebenaran yang sejati. Oleh sebab itu, setelah merasa cukup dan memang sudah waktunya ia pun kembali ke negeri Sihandipa.

5. Perang besar
Setelah menempa diri di negeri Hur’Anura, Putri Tiyasati kembali ke kota Hindapa (ibukota kerajaan Sihandipa). Setibanya disana, tak lama kemudian sang putri melatih beberapa orang pengikutnya untuk sekedar menguasai ilmu kanuragan yang telah ia pelajari. Melihat itu, semakin lama banyak yang tertarik dan ikut latihan. Dan karena memang bagus untuk olah raga dan menjaga diri, akhirnya pihak istana kerajaan Sihandipa – melalui rajanya sendiri – meminta kepada Putri Tiyasati untuk menjadi guru beladiri dan mau melatih pasukannya. Permintaan itu lalu ditanggapi serius oleh sang putri, sebab ia telah memprediksikan bahwa cepat atau lambat pasukan Prabu Rah-Amurtar akan mulai menaklukkan tanah Swinarma (penamaan pulau Sumatera kala itu). Mereka harus mempersiapkan diri dalam berbagai hal, terutama kemampuan beladiri militernya.

Singkat cerita, di dekat istana setiap harinya banyak pasukan yang berlatih ilmu kanuragan. Sebagian yang terpilih dari mereka itu lalu mendapatkan pelatihan khusus. Mereka dibekali dengan ilmu kadigdayan dan strategi tempur langsung dari Putri Tiyasati. Karena yang mengajarkannya adalah sosok yang terpilih, maka hanya dalam waktu yang relatif singkat ilmu kadigdayan dan strategi perang itu bisa dikuasai. Ini menjadi bekal yang penting bagi mereka, terutama para perwira dan senopati-nya, bila nanti harus menghadapi pertempuran besar.

Lalu, berselang 11 bulan kemudian raja ke-10 Sihandipa yang bernama Wirantuka telah mendapat kabar bahwa Prabu Rah-Amurtar mulai berulah lagi. Ia dan pasukannya sudah bergerak untuk menaklukkan semua kerajaan yang ada di tanah Swinarma (tanah Sumatera). Tak ada yang mampu membendung kekuatan dari ratusan ribu pasukan itu. Terlebih rajanya sendiri memang sakti mandraguna dan belum pernah dikalahkan. Siapapun yang berhadapan dengannya selalu bisa ditundukkan. Tak jarang pula di antaranya yang sampai harus meregang nyawa tanpa belas kasihan.

Mengetahui hal itu, Prabu Wirantuka menunjuk Putri Tiyasati sebagai penasehat utamanya. Mereka lalu berembuk untuk menentukan apa yang harus di lakukan. Saran dari sang putri lalu diterima. Dimana ia mengajak semua kerajaan yang ada di tanah Swinarma (Sumatera) untuk berkoalisi menghadapi kerajaan Tasidam. Jika ingin tetap merdeka, mau tidak mau mereka harus bersatu. Sebab, pasukan besar dibawah komando Prabu Rah-Amurtar itu terkenal sangat kuat sekaligus bengis. Sejak pertama kali berperang, mereka belum pernah dikalahkan. Karena itu, jika ingin tetap menjadi orang yang merdeka, maka tak ada tempat untuk mengabaikan hal ini. Tak ada lagi pilihan kecuali bersatu dan menghadapi mereka itu di medan pertempuran.

Waktu pun berlalu selama tiga bulan. Kerajaan yang berada di wilayah selatan; yaitu Samijaya (di antara Kalianda-Lampung Selatan, Selat Sunda dan Serang-Banten sekarang), sudah mulai berperang dan akhirnya ditaklukkan oleh pasukan Prabu Rah-Amurtar. Tanpa belas kasihan, negeri tersebut sampai dihancurkan dan penduduknya banyak yang dibantai atau dijadikan tawanan dan budak. Dengan kejadian seperti itu, kerajaan yang lain segera memperkuat penjagaan di perbatasan negerinya. Mereka juga sudah bergabung dengan kerajaan Sihandipa dan kapanpun siap berhadapan dengan pasukan kekaisaran Tasidam itu. Ada empat kerajaan yang berkoalisi dengan kerajaan Sihandipa, yaitu Diwanta, Karsulin, Hamingga, dan Yisacara. Semua kerajaan itu dulunya berada di sekitar kawasan Sumatera Bagian Selatan (Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung dan Jambi), Sumatera Barat, dan Riau sekarang.

Di istana kerajaan Sihandipa, para pemimpin dari lima kerajaan yang berkoalisi terus melakukan rapat koordinasi dan akhirnya memutuskan bahwa Prabu Wirantuka yang menjadi panglima tertinggi dalam pertempuran nanti. Sementara itu, ke empat raja lainnya menjadi jendral pasukan yang memimpin divisinya masing-masing. Artinya, di pihak koalisi pasukan kerajaan Sihandipa itu telah ada empat divisi yang dipimpin oleh setiap rajanya. Dan khusus untuk kerajaan Sihandipa sendiri, maka divisi pasukannya dipimpin oleh Putri Tiyasati.

Sesuai dengan perkiraan, akhirnya pasukan kekaisaran Tasidam itu tiba juga di perbatasan kerajaan Yisacara (sekitar Kotabumi, Lampung sekarang). Sebuah negeri yang berbatasan langsung dengan kerajaan Samijaya. Sebelumnya, pasukan kerajaan Yisacara memang sudah bersiaga di perbatasan negerinya. Lalu karena keadaan sudah semakin genting, pasukan koalisi dari kelima kerajaan pun segera bergerak menuju perbatasan kerajaan Yisacara, yang dikenal dengan nama Batintah. Sehingga ketika pasukan kerajaan Tasidam tiba di lembah Batintah itu, maka pasukan koalisi lima kerajaan sudah menunggu disana. Kapanpun mereka juga siap bertempur habis-habisan dengan bangsa penjajah itu.

Kisah pun berlanjut. Kedua belah pasukan telah saling berhadap-hadapan di tengah lembah Batintah. Saat itu lebih dari satu juta pasukan yang telah hadir di medan pertempuran itu. Prabu Rah-Amurta membawa lebih dari 700.000 pasukan siap tempur, sementara koalisi lima kerajaan terdiri dari ±500.000 pasukan. Semuanya telah dibagi dalam setiap divisi dan jenis pasukannya masing-masing. Ada yang tergabung dalam pasukan infanteri (pejalan kaki yang membawa pedang, tombak, tameng, panah dan gada), kavaleri (penunggang kuda, gajah dan kereta perang), dan artileri (persenjataan berat seperti pelontar batu dan api, dan bom panah). Sisanya adalah pasukan cadangan, urusan logistik dan kesehatan.

Catatan: Pada masa itu, setiap pasukannya, baik ia dari golongan prajurit maupun perwira telah mengenakan baju zirah yang kokoh. Jika baju zirah para prajurit berbahan dasar dari kulit hewan pilihan atau besi hitam atau besi putih, maka yang perwiranya menggunakan logam mulia seperti perak dan tembaga. Khusus untuk para senopati dan panglimanya sudah mengenakan bahan dasar dari perak bercampur emas, atau seluruhnya dari emas. Lalu untuk para raja/ratunya telah mengenakan baju zirah yang paling indah dari semua pasukannya. Bahan dasar dan kualitasnya pun yang terbaik, sesuai dengan jabatannya. Dengan begitu, terdapat warna-warni yang menarik dalam barisan pasukan tempur saat itu. Sungguh memukau.

Selanjutnya, dalam setiap pertempuran orang-orang akan bersikap sebagai kesatria sejati. Artinya, mereka hanya mengandalkan ilmu kanuragan dan kadigdayan saja. Persenjataan (pedang, panah, tombak, gada) dan peralatan tempur lainnya hanya sebatas pelengkap saja, tidak menjadi yang utama. Sebab, bagi mereka saat itu maka seseorang akan dianggap kesatria yang terhormat bila ia bisa mengalahkan musuhnya dengan berbagai ilmu kanuragan dan kadigdayan-nya. Kalau pun mereka menggunakan senjata, maka itu harus berupa benda pusaka yang sakti yang didapatkan dengan cara ber-tapa brata. Sehingga, pada masa itu semua kerajaan tidak terlalu mementingkan kemampuan persenjataannya, tetapi lebih kepada strategi tempur, ilmu kanuragan dan kadigdayan sekaligus pusaka yang sakti. Mereka sebenarnya mampu menciptakan peralatan perang yang canggih, hanya saja itu tidak di lakukan. Alasannya karena takkan dianggap hebat dan justru malah seperti pengecut. Sangat berbeda dengan yang terjadi di masa sekarang.

Selain itu, saat berperang mereka juga selalu mengadakannya di medan pertempuran resmi, berhadapan langsung satu sama lain, dan memberi peringatan sebelum bertempur. Tidak ada yang curang, karena itu akan sangat memalukan. Kedua belah pasukan harus bersikap jantan dan bertarung di tengah medan laga yang sebenarnya – biasanya berupa tanah lapang atau lembah yang luas. Setelah itu, bagi pihak yang menyerang, jika mereka menang, barulah akan bergerak untuk menaklukkan kota musuhnya. Pada saat itulah biasanya akan terjadi kerusuhan, penghancuran, bahkan sampai dengan pembantaian (dengan alasan tertentu). Tapi yang jelas pertempuran di medan perang sudah harus selesai dulu baru akan menyerang ibukotanya. Begitulah mereka, tak peduli apakah ia baik atau jahat masih tetap memegang teguh sifat kesatrianya. Sangat berbeda dengan sekarang, yang bahkan tak lagi mengenal sikap kesatria. Yang penting menang walaupun harus curang, licik, bersikap pengecut dan hanya mengandalkan senjata.

Kembali ke medan pertempuran. Ketika matahari mulai beranjak setinggi busur, pemimpin dari kedua belah pasukan saling bertemu di tengah lapangan pertempuran. Dan sebagaimana tradisi pada masa itu, mereka pun bersepakat untuk mematuhi beberapa aturan selama pertempuran. Hanya saja meskipun sudah dibujuk dengan cara baik-baik, pemimpin kerajaan Tasidam, Prabu Rah-Amurtar, tetap pada pendiriannya. Ia masih ingin menaklukkan tanah Swinarma (Sumatera) dan menjadi pemimpin tunggal disana. Siapapun yang menentangnya akan diperangi dan dihancur leburkan tanpa ampun. Demikianlah ia bersumpah dihadapan kelima raja. Ego dan keangkuhan diri telah benar-benar menguasai dirinya.

Sebaliknya, meskipun bukan seorang penguasa, Putri Tiyasati justru bersikap sangat bijaksana. Dengan kemampuan yang dimiliki, ia terus memperkuat pasukan Sihandipa sejak beberapa bulan lalu. Ia pun terus menggugah hati semua orang baik yang tinggal di kota maupun desa – di kerajaan Sihandipa, juga mereka yang tinggal di kerajaan lainnya, untuk bersama-sama menyatukan kekuatan. Sudah banyak jasa yang ia berikan kepada negara, tapi ia merasa itu bukanlah apa-apa. Ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar, bahkan meskipun harus berhadapan dengan ayahnya sendiri. Sang putri terkenal sangat baik dan bijaksana. Sehingga orang-orang pun memberinya gelar Umaniyas atau yang berarti permata yang indah. Itu sangat beralasan, karena selain sebagai wanita yang terhormat dan cerdas, sang putri juga seorang gadis yang sangat cantik.

Kembali ke medan pertempuran. Karena tidak meraih kata sepakat untuk berdamai, akhirnya kelima raja kembali ke pasukannya. Setiap raja lalu menempati posisi mereka masing-masing dalam setiap divisinya. Sesuai kesepakatan, maka setelah terompet sangkakala ditiupkan, sejak saat itulah perang hari pertama dimulai. Kedua belah pasukan telah bergerak dan saling serang dalam berbagai formasi. Tidak lama kemudian terdengar dentingan suara pedang dan tameng yang begitu ramai. Anak panah pun beberapa kali berdesir membelah angkasa. Baru beberapa menit pertempuran berlangsung, di antara prajurit itu sudah banyak yang berteriak kesakitan. Ada yang terpotong tangannya, remuk kakinya, robek perutnya dan tembus dadanya. Semakin lama suasana di medan pertempuran juga bertambah gaduh. Banyak kepala yang terpenggal, sementara darah berceceran dimana-mana dan mulai menganak sungai. Membuat suasana kian menakutkan dan sampai menjelang tengah hari keadaan tidak banyak berubah. Kedua belah pasukan masih saling serang tanpa diketahui siapakah yang lebih unggul.

Pertempuran terus berlanjut dan menyebabkan para senopati dan bangsawan yang hebat harus turun langsung di barisan depan. Suasananya pun semakin menegangkan, karena banyak pula kesatria yang akhirnya mengeluarkan ilmu andalannya. Mereka bertarung dengan gagah berani dan mengeluarkan keahlian yang luar biasa. Tapi malang tak dapat ditolak dan kesedihan pun harus tertumpahkan. Tepat di hari ketiga pertempuran, putra tunggal Raja Wirantuka, sang putra mahkota yang bernama Darsintuka itu harus gugur setelah berhadapan dengan Prabu Rah-Amurtar. Meskipun sang pangeran terbilang sakti, namun kesaktian dari musuhnya itu jauh melebihinya. Setelah sempat dirawat, akhirnya sang pangeran tak mampu bertahan. Ia lalu menghembuskan napas terakhirnya akibat terkena ajian Lisaru milik Prabu Rah-Amurtar. Ini jelas menjadi kesedihan besar bagi Raja Wirantuka, tapi ia tetap bangga karena anaknya itu gugur sebagai pahlawan yang gagah berani. Semua orang pun menaruh hormat kepada sang pangeran muda itu.

Di hari ketiga pertempuran itu juga, setelah berhasil membunuh Pangeran Darsintuka, kekuatan Prabu Rah-Amurtar kian bertambah. Begitu pun saat ia membunuh beberapa kesatria lainnya, maka kesaktian raja kejam itu makin bertambah pula. Sampai akhirnya tak ada seorang pun yang mampu melawannya, apalagi bisa membunuhnya. Dan barulah pada saat Prabu Wirantuka yang menghadapinya, kesaktian Prabu Rah-Amurtar itu seperti tertahan. Tak mudah baginya untuk bisa mengalahkan penguasa dari kerajaan Sihandipa itu. Raja Wirantuka ternyata sakti mandraguna dan bisa mengimbanginya. Keduanya lalu bertarung tanpa henti sampai malam hari, bahkan terus berlanjut sampai di hari ke empat pertempuran. Baik Prabu Wirantuka maupun Prabu Rah-Amurtar, keduanya sama-sama mengeluarkan kesaktian tingkat tinggi.

Pertarungan terus berlanjut tanpa ada yang menang. Karena itulah, Prabu Rah-Amurtar mulai menggunakan kemampuan sihirnya. Ilmu yang ia dapatkan dari raja setan Bizardug itu segera ia keluarkan untuk menghadapi Raja Wirantuka. Dalam waktu singkat, tiba-tiba muncul berbagai makhluk yang tampak menyeramkan dan segera menyerang Prabu Wirantuka dengan sengit. Karena dikeronyok oleh makhluk-makhluk itu, Prabu Wirantuka sampai terpojok. Pada saat itulah, Prabu Rah-Amurtar pun tak menyia-nyiakan kesempatannya. Segera saja ia melancarkan serangan jarak jauh – berupa ajian Kantiga – untuk menjatuhkan Raja Wirantuka. Kelicikan baginya adalah wajib, terutama pada saat ia sudah kewalahan menghadapi musuh.

Dari kejauhan, Putri Tiyasati bisa melihat dengan jelas bila kedua raja itu sedang bertarung. Dan ketika ia melihat bahwa ayahnya, Prabu Rah-Amurta, akan menyerang Raja Wirantuka secara licik, saat itu juga ia mencegahnya. Dengan kecepatan kilat, tiba-tiba Putri Tiyasati berhasil menangkis serangan dari ayahnya itu. Ajian Kantiga milik sang Prabu Rah-Amurtar akhirnya meledak jauh dari medan pertempuran. Siapapun yang melihat kejadian itu sempat kaget dan merasa tak percaya. Bagaimana bisa Putri Tiyasati tiba-tiba muncul di dekat Prabu Wirantuka dan menepis ajian yang lebih hebat dari ajian Lisaru itu. Termasuklah Prabu Rah-Amurtar sendiri, ia tak menyangka ada orang yang mampu menangkis ajiannya itu dengan mudahnya. Dan ia pun semakin terkejut ketika tahu bahwa yang menepis ajian itu adalah puterinya sendiri; Tiyasati. Sejak hari pertama pertempuran, sang prabu tak pernah tahu bahwa puterinya itu ada di dalam barisan pasukan musuh.

Ya. Apa yang terjadi saat itu adalah peristiwa yang memilukan. Sebagai ayah, awalnya Prabu Rah-Amurtar atau yang bernama asli Zimakiya itu sempat tersentuh hatinya. Sudah lama sekali ia tak bertemu dengan anak yang dulu sangat ia sayangi. Sejenak ia pun teringat dengan istrinya dulu, karena wajahnya memang menurun kepada anak gadisnya itu. Sang raja sempat terdiam seribu bahasa. Namun, karena ego dan kesombongan telah menguasai dirinya, Prabu Rah-Amurtar tetap tak peduli. Bahkan tiba-tiba ada amarah yang bangkit dari dalam dirinya. Ia pun merasa sangat tersinggung karena putrinya itu sudah berani melawan dirinya. Tak ada lagi rasa cinta, karena yang tertinggal hanyalah keangkuhan dan angkara murka saja.

Singkat cerita, dengan sikap yang penuh amarah Prabu Rah-Amurtar segera menyerang anak gadisnya itu. Awalnya Putri Tiyasati tak tega melawan ayahnya sendiri, tapi karena sang ayah tidak lagi memiliki kebaikan hati dan terus menyerangnya tanpa ampun, sang putri pun memberikan perlawanan. Setiap serangan yang Prabu Rah-Amurta berikan dapat ia hadapi dengan kekuatan yang sama. Semakin hebat serangannya, semakin kuat pula pertahanan dan balasan yang diberikan oleh sang putri. Prabu Rah-Amurtar sampai kewalahan, dalam hatinya ia pun berkata bagaimana bisa ada yang mampu menahan semua serangannya itu. Sudah banyak raja dan kesatria yang berduel dengannya selama ini, di setiap pertempuran sengit, tapi tak ada satupun yang sebanding dengan anak gadisnya itu. Begitulah sang prabu merasa sangat heran dan penasaran.

Ya. Putri Tiyasati seolah-olah tak bergeming, kokoh seperti batu karang di tepian pantai. Bahkan tak jarang pula ia memberikan balasan yang bisa membuat ayahnya itu sampai terpojok. Tapi karena sang prabu memang sakti mandraguna, maka ia masih bisa bertahan dan terus memberikan serangan yang membuat siapapun cemas. Tanpa diperintah, satu persatu pasukan yang ada mulai bergerak menjauh. Mereka tak mau terlalu dekat dengan dua kesatria yang sedang bertarung itu. Sangat beresiko.

Namun, Putri Tiyasati bukanlah gadis biasa. Ia telah mendapatkan kesaktian dari Bhatari Nisya dan berbagai ilmu lain dari para bijak di negeri Hur’Anura. Apa yang sudah ia keluarkan selama menghadapi Prabu Rah-Amurtar saat itu belumlah semuanya. Dan sebagai wanita yang berhati lembut, ia masih terus berusaha untuk bisa menyadarkan ayahnya itu. Ia pun merasa tidak tega jika harus membunuh ayahnya sendiri. Di dalam hatinya sendiri telah terjadi perang batin antara harus mengampuni atau tidak. Hanya saja ketika sang ayah sudah melampaui batas dengan mengeluarkan ajian Galtum untuk membunuhnya, secara otomatis sang putri pun mengeluarkan salah satu ilmu andalannya; yaitu ajian Maltara untuk mempertahankan diri.

Maka terjadilah adu kekuatan antara ajian Galtum milik Prabu Rah-Amurtar dan ajian Maltara milik Putri Tiyasati. Sebelum keduanya melepaskan ajiannya itu, tiba-tiba suasana jadi mencekam. Angin berhembus kencang, sementara petir ikut menyambar-nyambar ke segala arah. Suara gaduh segera memenuhi medan pertempuran, sedangkan kedua belah pasukan sampai berhenti bertarung. Mereka semua langsung menyaksikan bahwa pada saat itu keduanya akan segera mengadu kesaktiannya. Tak ada yang berani mendekat, karena hal itu akan berakibat fatal bagi dirinya sendiri.

Dan akhirnya kedua kesatria perkasa itu segera melepaskan ajiannya. Jika Prabu Rah-Amurtar berteriak, maka Putri Tiyasati hanya diam saja. Ini bukan lantaran ilmu sang putri tak hebat, sebab terlihat jelas kelima elemen (tanah, air, api, petir, udara) bisa ia kendalikan dengan mudah lalu digunakan untuk menyerang musuhnya. Melihat itu, sebenarnya timbul rasa cemas di hati Prabu Rah-Amurtar. Belum pernah ia menghadapi musuh yang sehebat itu. Ia pun merasa bahwa kesaktiannya kini berada dibawah puterinya itu. Hanya saja seperti sebelumnya, ego dan keangkuhan diri telah menguasai dirinya. Sang prabu tetap melepaskan ajiannya itu dengan harapan bisa membunuh anaknya sendiri.

Namun kali ini malang bagi sang prabu. Ajian yang paling ia andalkan itu dapat dikalahkan oleh ajian milik Putri Tiyasati. Ibarat kucing yang berhadapan dengan singa, ajian Prabu Rah-Amurta dengan mudahnya bisa dikalahkan. Bahkan si pemilik ajian Galtum itu harus merasakan hempasan energi yang sangat keras. Jadi, setelah kedua ajian itu (Galtum dan Maltara) beradu lalu terjadi ledakan yang sangat keras, ternyata energi yang begitu besar langsung berbalik dan memukul tubuh Prabu Rah-Amurtar. Akibatnya, sebagian dari tubuh sang prabu sampai menghitam karena lebam.  Ia pun sempat muntah darah. Hanya saja karena ia sakti mandraguna, maka pukulan energi seperti itu tak sampai membunuhnya. Sang prabu masih bisa berdiri meskipun ia sudah sempoyongan.

Lalu, karena ia merasa akan segera kalah, maka yang harus di lakukan saat itu adalah menggunakan kekuatan sihir. Dan dalam waktu yang singkat ia mulai merapalkan mantra khusus untuk memanggil kekuatan kegelapan. Tak tanggung-tanggung saat itu ia meminta junjungannya, Bizardug, untuk mau membantunya langsung. Dan seperti gaung yang bersambut, permintaan itu segera dikabulkan oleh sang majikan dengan mengirim tiga orang komandannya untuk menyerang. Ketiga sosok tersebut segera membuat gaduh dengan mengubah diri mereka menjadi raksasa yang menakutkan. Mereka pun segera membantai banyak orang di medan perang. Sungguh mengerikan.

Melihat itu, Putri Tiyasati segera mengeluarkan keris Astulasya pemberian Bhatari Nisya. Dalam waktu sekejap, ketika keris pusaka itu dihunuskan, maka terpancarlah sinar yang sangat terang ke angkasa. Seiring itu pula tanah pun ikut bergetar dan sampai retak-retak. Dan ketika sang putri mengayunkan tangan kanannya ke arah para komandan setan itu, maka dalam hitung sepersekian detik petir yang menyilaukan pun segera menyambar keras. Ketiga utusan raja kegelapan itu tak mampu menangkis serangan itu. Meskipun mereka berusaha maksimal, akhirnya tewas mengenaskan dan hancur menjadi debu.

Sungguh, apa yang terjadi saat itu membuat siapapun cemas sekaligus terpukau. Belum pernah mereka menyaksikan sosok yang sehebat Putri Tiyasati. Gadis cantik itu tampak gilang gemilang, penuh wibawa dan sangat perkasa. Kekuatan yang ia keluarkan sudah bukan level manusia lagi. Itu jelas terlihat saat ia bisa mengalahkan Prabu Rah-Amurta dan membunuh ketiga komandan setan dengan mudah. Tinggal si raja setan; Bizardug sendiri yang belum ia hadapi. Dan kemungkinan besar ia juga akan berhasil. Sebab sang putri selalu memberikan kejutan di setiap pertarungannya.

Dan benar, tak lama kemudian muncullah si raja kegelapan, Bizardug, ke tengah medan pertempuran. Dengan posisi yang terus mengambang di udara, ia tampil layaknya seorang Dewa yang bercahaya. Melihat itu, awalnya semua orang percaya bahwa yang hadir kala itu adalah memang Dewa dari Kahyangan. Tapi Putri Tiyasati segera menyadarkan mereka dengan mengatakan bahwa yang hadir itu bukanlah seorang Dewa. Dia itu sebenarnya raja setan yang bernama Bizardug. Dijelaskan pula bahwa sang putri mendapatkan informasi tersebut dari seorang Nabi yang bernama Zamirat AS sebelum pertempuran saat itu terjadi. Sang Nabi sudah memperingatkan dirinya, bahwa dalam pertempuran besar itu akan hadir junjungan dari Prabu Rah-Amurtar. Sosok tersebut akan menipu dengan berpenampilan seperti Dewa dari Kahyangan, padahal sebenarnya ia adalah seorang raja busuk. Ia akan menyamarkan dirinya untuk membuat orang-orang terpesona. Tujuannya hanyalah untuk menyesatkan umat manusia.

Untuk itu, setelah Putri Tiyasati menjelaskan siapa sebenarnya sosok yang baru muncul itu, semua orang pun tersadar. Melihat itu, Bizardug menjadi emosi dan berubah ke dalam wujud aslinya yang sangar dan bersayap. Sesaat kemudian ia segera menyerang sang putri dari jarak jauh. Oleh serangan itu, tiba-tiba tubuh Putri Tiyasati bercahaya. Dalam waktu sekejap, muncul pula baju zirah yang indah, berwarna emas bercampur biru, hijau, merah, dan putih yang menutupi tubuh gadis cantik itu. Dengan perlindungan dari seperangkat baju zirah sakti itu, serangan yang dilancarkan oleh Bizardug tak berdampak apapun pada sang putri. Begitu pula saat serangan berikutnya, tak ada satupun yang menyebabkan sang putri terluka atau bahkan kalah. Ia masih tetap berdiri kokoh dan siap menghadapi raja kegelapan itu sampai kapanpun.

Singkat cerita, karena musuhnya selalu berada di udara, Putri Tiyasati pun ikut terbang. Dan terjadilah pertarungan paling sengit di antara kedua sosok tersebut. Mereka terbang kesana kemari, bahkan sang raja kegelapan sering mengubah-ubah wujudnya dan mengeluarkan banyak ajian dan senjata pusaka. Ledakan demi ledakan, dentuman demi dentuman terus mewarnai jalannya pertarungan mereka. Suasana di medan pertempuran semakin mencekam dan porak poranda. Kesaktian yang dikeluarkan oleh kedua kesatria itu belum pernah disaksikan oleh semua orang yang hidup saat itu. Tak sedikit yang ketakutan dan menjauh dari medan pertempuran.

Sampai pada akhirnya, baik Bizardug maupun Putri Tiyasati memutuskan untuk mengeluarkan ilmu andalannya. Keduanya pun mempersiapkan diri untuk mengeluarkan ajian yang lebih sakti lagi. Mereka segera duduk bersila dan saling berhadapan. Tak lama kemudian tiba-tiba cuaca berubah mendung, petir menyambar-nyambar, laut berguncang, angin berhembus kencang, dan tanah pun ikut bergetar hebat. Semua elemen alam yang ada bermunculan di sekeliling tubuh kedua kesatria itu. Tak lama kemudian semuanya pun bergerak untuk saling menyerang. Jadi, yang bertarung saat itu adalah elemen alam yang telah dikendalikan oleh kedua kesatria itu saja.

Ya. Adu kesaktian dari kedua kesatria itu sangat mengagumkan. Semakin lama keduanya terus meningkatkan kekuatannya, bahkan Bizardug sampai harus membagi dirinya menjadi lima dan mengepung Putri Tiyasati. Menghadapi itu, sang putri pun ikut membagi dirinya dan berdiri menghadap ke segala arah. Dengan begitu ia bisa tetap berhadapan langsung dengan semua duplikat Bizardug dan menangkis setiap serangannya. Pertarungan pun terus di lanjutkan sekian lama.

Sungguh, suasana pada saat itu sangat menegangkan. Gemuruh suara ledakan terus terdengar seiring elemen-elemen alam itu saling beradu. Guncangan demi guncangan pun ikut mewarnai jalannya pertarungan. Siapapun yang ada di sekitar medan pertempuran semakin cemas dan sangat ketakutan. Ingin segera pergi tapi merasa sangat rugi jika tak menyaksikan langsung pertarungan akbar itu. Dunia seperti mau kiamat saja, begitulah ucapan dari sebagian pasukan yang ada.

Hingga pada akhirnya, setelah berdoa dengan khusyuk, dari arah langit tiba-tiba turun cahaya putih kebiruan dan langsung masuk ke dalam tubuh Putri Tiyasati. Oleh peristiwa itu, kekuatan sang putri pun bertambah drastis. Sehingga dengan satu kali serangan pamungkas saja ia mampu mengalahkan Bizardug. Meskipun tak bisa mati, raja kegelapan itu sampai babak belur dibuatnya. Ia sudah tidak mampu lagi bertarung, karenanya ia pun segera kabur dengan menghilang dari pandangan. Sang putri ingin segera mengejarnya, tapi seketika itu pula ia mendapat semacam petunjuk untuk tidak melakukannya. Itu sudah bukan lagi tugasnya.

Melihat itu, semua orang serasa tak percaya. Musuh yang teramat sakti itu bisa dikalahkan oleh seorang gadis muda. Putri Tiyasati memang terkenal sakti, tapi tak semua orang bisa mengira kesaktiannya kala itu sungguh luar biasa. Belum pernah ada yang melihat kemampuan yang sehebat itu. Sehingga tak aneh bila kemudian banyak yang mengatakan bila sang putri memanglah sosok yang terpilih dan layak menjadi pemimpin dunia. Dari hati mereka masing-masing, semua orang menjadi sangat kagum dan menghormati sang putri. Kecuali Prabu Rah-Amurtar, ia justru tetap angkuh dan tak mau kalah. Entah karena malu atau memang sudah tidak waras, ia kembali menyerang anak gadisnya itu tanpa ampun.

Tapi malang tak dapat ditolak, untung pun tak dapat dicari. Sang Prabu harus meregang nyawa setelah dihantam kesaktian puterinya sendiri. Secara otomatis, dalam kondisi yang belum kembali normal sepenuhnya, Putri Tiyasati masih dalam posisi siaga dan segera melepaskan ajian balasan ketika di serang – ini untuk mempertahankan dirinya. Hanya saja, yang keluar pada saat itu sungguh luar biasa. Sang prabu tak mampu menahan serangan balik yang sangat mematikan dari Putri Tiyasati. Setelah beberapa menit, akhirnya ia pun tewas dengan tubuh melepuh.

Ya. Peristiwa yang terjadi antara anak dan ayahnya itu sangatlah tragis. Keduanya berada disisi yang berseberangan. Yang satu hanya menginginkan keadilan dan kebenaran, sedangkan yang satunya lagi justru larut dalam ego dan keangkuhan diri. Sang ayah terlena dengan ambisinya yang keliru, sehingga harus menerima hukuman yang setimpal. Semua orang pun bersyukur, hanya saja sebagai seorang anak yang berbakti, Putri Tiyasati tetap bersedih hati. Lalu, meskipun ia tak menyukai perbuatan jahat ayahnya itu, sang putri tetap merawat jasad ayahnya dengan layak. Ia kebumikan tubuh sang ayah dengan tetesan airmata. Ada rasa sedih dan miris, tapi tak ada rasa penyesalan dihatinya. Sebab sang putri sudah memahami apa itu kebenaran yang sejati. Tak peduli dengan siapapun, kebenaran harus tetap ditegakkan.

Dan berakhirlah pertempuran besar yang di kemudian hari dikenal dengan nama Hirantukah. Setelah Prabu Rah-Amurtar gugur, semua pasukannya diberikan pilihan untuk tetap berperang sampai mati atau segera menyerah. Putri Tiyasati sangat paham bahwa mereka yang terlibat dalam perang itu sebagian besarnya karena dipaksa dan mendapat ancaman dari Prabu Rah-Amurtar. Karena itu, bagi yang menyerahkan diri akan segera dimaafkan namun dengan catatan harus mau mengabdi kepada kebenaran dan bersedia untuk kembali membangun negerinya masing-masing. Untuk mengawasi kegiatan itu, maka ditunjuklah para pemimpin dari kalangan bangsawan di lima kerajaan (Sihandipa, Diwanta, Karsulin, Hamingga, dan Yisacara). Merekalah orang-orang yang bertangungjawab atas ketertiban dan kemakmuran di setiap negeri yang ada. Sedangkan bagi yang tetap menolak, maka ditempuhlah cara dengan bela pati, alias bertempur sampai mati.

6. Menjadi Ratu dan kisah cinta yang unik
Setelah semua urusan perang di lembah Batintah selesai, setiap pasukan dari kelima kerajaan kembali ke negerinya masing-masing. Begitu pula dengan Raja Wirantuka, ia dan semua bala pasukannya termasuk Putri Tiyasati segera kembali ke kerajaan Sihandipa. Sesampainya di istana, meskipun menang, Raja Wirantuka masih berkabung atas kematian putra mahkotanya. Karena ia hanya memiliki seorang putra, maka hanya ada satu harapan, yaitu menjadikan Putri Tiyasati sebagai anak angkatnya sekaligus sebagai pewaris tahta kerajaan Sihandipa. Keinginan sang raja pun cuma satu, dimana semua orang mau menerima keputusan itu karena sang putri memang layak menerimanya.

Atas keinginan tersebut dan karena semua orang sudah tahu siapa sebenarnya Putri Tiyasati, tak ada yang menolaknya. Semua orang, terutama para pembesar istana setuju bila Putri Tiyasati menjadi pewaris tahta kerajaan. Jasanya sudah begitu besar terhadap rakyat dan negara, dan jika ditelusuri lagi maka sang putri juga masih keturunan langsung dari raja ke-7 kerajaan Sihandipa (Prabu Miltarunka). Sehingga tak menjadi soal bila sang putri menjadi penguasa disana. Sebab trah raja-raja di kerajaan Sihandipa itu masih tetap akan berlanjut melalui anak keturunanya nanti.

Singkat cerita, kesedihan atas kehilangan puteranya membuat Raja Wirantuka tak pernah pulih sepenuhnya. Setelah dua tahun berlalu sejak perang Hirantukah, akhirnya sang prabu memutuskan untuk turun tahta. Ia ingin segera mengasingkan diri untuk lebih menenangkan hati dan bisa mencapai moksa. Dan sebagaimana keputusan sebelumnya, maka yang menggantikan dirinya sebagai pemimpin di kerajaan Sihandipa adalah Putri Tiyasati. Dengan berat hati, sang putri pun menerima jabatan itu. Di kemudian hari ia menjadi penguasa yang tersohor dan sangat disegani dunia.

Selanjutnya, berselang dua tahun sejak ia naik tahta, muncullah niat untuk mendapatkan seorang pendamping. Ratu Tiyasati tidak membatasi siapa calon suaminya nanti, apakah ia seorang bangsawan atau tidak. Yang penting ia berilmu tinggi dan memiliki kebijaksanaan. Karena itulah, ia pun memohon kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) agar sudi mempertemukan dirinya dengan jodoh yang sepadan dan beriman. Dan doa itu pun dikabulkan dengan melalui perantara liburan ke alam bebas.

Suatu ketika sang ratu sedang berwisata ke alam bebas, tepatnya di pinggiran hutan Kaliya. Disana ia bertemu dengan seorang pemuda yang menawan hatinya. Tanpa disengaja, sang ratu melihat ada sesosok pria yang begitu santun dan sangat baik hati. Dengan diam-diam sang ratu terus memperhatikan saat ada seekor rusa yang terluka parah – karena di serang oleh macan – diobati oleh sang pemuda. Hukum alam sudah berlaku semestinya, hanya saja sang pemuda masih tetap ingin menolong si rusa. Dia lalu mengambil beberapa jenis daun tanaman, mengunyahnya dan kemudian menempelkan ramuan obat itu pada luka yang ada di tubuh si rusa. Setelah berkonsentrasi dan membacakan mantra khusus, dengan ajaib luka tersebut bisa sembuh total. Rusa yang sebelumnya hampir tewas itu akhirnya mampu berdiri. Tak lama kemudian ada lagi yang luar biasa, si rusa lalu berbicara dengan si pemuda dan memberi hormat kepadanya sebelum pergi. Sang pemuda pun mampu berbicara dengan si rusa, dan dengan sikap yang rendah hati ia pun melepaskan kepergian si rusa itu untuk kembali ke dalam hutan Kaliya. Ia merasa senang karena masih bisa menolong sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Menyaksikan peristiwa itu, Ratu Tiyasati merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Ada rasa kagum sekaligus rasa suka pada sang pemuda. Karena itulah ia pun memberanikan diri untuk menemui sang pemuda. Mereka pun saling menyapa. Ternyata pemuda yang bernama Wilayana itu sebenarnya sudah tahu kalau sang ratu sedang memperhatikan dirinya. Ia pun bisa menjelaskan tentang siapakah nama si ratu, dari mana asalnya, dan apa saja yang pernah ia lakukan dulu, terutama di medan perang Hirantukah.

Mendengar penjelasan itu, sang ratu terdiam seribu bahasa. Ia kini bertambah yakin bahwa Wilayana itulah yang selama ini dinantikan. Sang pemuda memang bukan seorang raja atau bangwasan tinggi kerajaan, tapi pancaran wajahnya menunjukkan perbawa seorang pemimpin besar. Dan itu semakin terlihat jelas oleh mata batin sang ratu, bahwa Wilayana memang berilmu tinggi dan bukan orang biasa.

Singkat cerita, kedua sejoli itu lalu berkenalan lebih dekat. Ternyata, Wilayana juga pernah singgah di negeri Hur’Anura untuk belajar tentang banyak hal disana – ia lebih dulu dari sang ratu. Ceritanya setelah ber-tapa brata selama 3 tahun, Wilayana lalu bertemu dengan Bhatari Nisya dan diajak ke negeri Hur’Anura. Di negeri itu, ia juga bertemu dengan Nabi Zamirat AS dan banyak belajar kepadanya. Sang Nabi pula yang menjelaskan bahwa jodohnya nanti adalah seorang putri yang cantik dan kharismatik. Ia tak perlu mencari, sebab sang putrilah yang akan menemuinya. Jika memang sudah waktunya, mereka berdua akan dipertemukan oleh seekor rusa yang terluka parah.

Mendengar itu, Ratu Tiyasati menjadi tersipu malu. Sebagai seorang wanita mulia, ia sampai tak bisa berkata-kata lagi. Wajahnya pun memerah dan sikap tubuhnya jadi salah tingkah. Namun Wilayana mampu mencairkan suasana dengan memancing tawa canda si ratu. Ia pun bercerita tentang kisah lucu yang pernah ia alami selama berpetualangan di berbagai negeri. Ternyata sang pemuda itu pernah menjelajah di hampir semua tempat di Bumi. Begitu pun saat ia bercerita tentang berbagai masalah pelik yang harus ia hadapi, sang ratu menunjukkan perhatian yang serius.

Tak disangka, ternyata Wilayana juga pernah membantu beberapa kerajaan dalam satu pertempuran besar. Lokasi dari kerajaan-kerajaan itu berada jauh di tanah Palsinaya (penamaan benua Amerika kala itu). Namun tak sama dengan Ratu Tiyasati, Wilayana tidak diperbolehkan menetap di negeri itu, apalagi sampai menjadi pejabat disana. Ia harus terus mengembara untuk membantu sesama sampai ia bertemu dengan jodohnya. Nah, sesuai dengan petunjuk yang ia dapatkan, maka ketika sedang berada di negeri Sihandipa, maka Wilayana merasa sudah waktunya untuk menetap. Dan ternyata benar, jodoh yang ia nantikan itu akhirnya datang menemuinya. Dialah Ratu Tiyasati yang sudah tersohor di seluruh negeri.

Waktu pun berlalu dan kedua sejoli itu pun berpisah untuk sementara waktu. Sejak pertemuan di hutan Kaliya, suasana hati Ratu Tiyasati selalu berbunga-bunga ketika ia mengingat Wilayana. Karena tak bisa bertemu setiap hari, rasa rindu untuk segera bersatu semakin memenuhi hatinya. Tapi ia adalah seorang wanita, maka sudah sepantasnyalah Wilayana sendiri yang datang menyunting dirinya. Begitulah seharusnya.

Dan sesuai dengan petunjuk yang telah diterima, Wilayana tidak langsung melamar sang ratu. Ia harus mempersembahkan sesuatu yang berharga bagi calon istrinya itu. Dan tanpa disangka-sangka bahwa yang ia berikan bukanlah harta benda yang berlimpah atau istana yang megah, melainkan sebuah kitab sastra yang berisikan kumpulan syair cinta dan kerinduan. Semua syair itu ditujukan kepada jodohnya sendiri (Tiyasati). Selama bertahun-tahun – sebelum bertemu Ratu Tiyasati – kitab itu Wilayana tulis untuk menuangkan rasa rindu dan cinta yang tulus kepada sang calon istri. Selain itu, Wilayana juga memberikan sebuah mustika berwarna putih keemasan yang berfungsi untuk berpindah tempat, termasuk ke negeri Hur’Anura dan dimensi lainnya. Kedua hadiah itu semakin melelehkan hati Ratu Tiyasati. Dengannya ia sudah tak membutuhkan yang lain lagi.

Singkat cerita, lamaran dari Wilayana yang ternyata masih berdarah bangsawan dari raja ke-5 kerajaan Nirtala (sekitar Pakistan sekarang) itu lalu diterima. Pernikahan pun berlangsung di istana setelah 3 bulan kemudian, selama 3 hari 3 malam. Banyak raja dan bangsawan yang hadir dalam acara itu, sementara yang bertindak sebagai penghulunya adalah Nabi Zamirat AS sendiri. Penduduk dari berbagai negeri pun banyak yang hadir. Ini jelas membuat suasana pada saat itu menjadi sangat sakral dan meriah. Semua orang ikut berbahagia dan mendoakan kedua mempelai bisa hidup bahagia dan penuh barokah. Dan itu benar-benar terjadi, sebab mereka lalu dikaruniai tiga orang anak yang rupawan. Satu putera yang tertua bernama Simayana, sementara dua puteri kembarnya diberi nama Milayati dan Kilayati. Ketiganya adalah sosok yang cerdas, sangat berbakat, berakhlak mulia dan disukai oleh semua orang.

Dan berselang tiga tahun setelah penobatannya sebagai ratu, atas masukan dari suaminya, Ratu Tiyasati memutuskan untuk mengganti nama kerajaan Sihandipa menjadi Attalani. Nama itu didapatkan setelah sang suami; Wilayana, melakukan tapa brata selama 101 hari di gunung Halun (di sekitar Pagaralam, Sumatera Selatan sekarang. Adapun gunung tersebut sudah tidak ada, sudah meletus ribuan tahun silam). Arti dari nama itu adalah negeri yang makmur dan beradab. Ini sesuai dengan cita-cita dari semua orang, dan karena terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan penduduknya, di kemudian hari kerajaan-kerajaan yang ada di tanah Swinarma (Sumatera), Jiwani (Jawa, Madura, Bali, NTB, NTT, Sumba), Bilsunawa (Kalimantan), dan Ruwandil (Malaysia, Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Vietnam) satu persatu memilih untuk bergabung dengan kerajaan Attalani. Ratu Tiyasati lalu didaulat sebagai pemimpin tertinggi mereka. Ini cukup beralasan, karena sang ratu sudah terbukti kemampuannya dan sangat berjasa dalam perang besar Hirantukah. Negeri yang ia pimpin juga menjadi sangat makmur karena telah menerapkan sistem ketatanegaraan yang baik – yang didapatkan dari negeri Hur’Anura. Sangat menguntungkan jika bisa bergabung dengannya.

Selanjutnya, setelah memimpin selama ±37 tahun dan merasa putranya sudah mampu menggantikan dirinya, Ratu Tiyasati memutuskan untuk turun tahta. Ia dan suaminya ingin segera mengembara lagi, lalu mengasingkan diri dan akhirnya moksa. Kepada semua rakyatnya, sang ratu sering berpesan untuk tetap menjaga diri dari nafsu yang buruk, saling mencintai, senang bergotong royong dan tetap tunduk hanya pada aturan dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Dengan begitu kehidupan mereka akan tetap makmur dan sejahtera.

Lalu, setelah turun tahta dan sebelum meninggalkan istananya, dihadapan semua orang Ratu Tiyasati pun sempat berpesan dalam dua bahasa yang berbeda. Katanya:

“Ya haulan. Manta ning arofayihan tangku lamasiya dil harbatuh. Jayadiman saruni dahirak, nagari kawula tatanira bayanih. Isymala dahri tel hanafisal kawut roknahi wretan bis-hamarin. Swadina yatu alhatin Hyang Aruta quro mas’alahikam. Tanika juwa Arya namul his Mellayurin katu hwan tarung Sri Maharaja Girantah Swarinamu Yahalisya. Jamikan taning anusastri lamu diyani 1012235790 antra Akh, Sun, Chi, Tar, lan Dir. Himakal sraturin jayadiyam tarin las hanurin”

“Ya albin. Syan endorel uttalien sioname, eldra higam ar kwartah billahiyer tanum. Abthen metra tilaen ruvan nailo, estel galin turagorn sahim. Yomaen edro sawuren hildiyar 0110246810 trandul gamisy tan orhan. Matruin yah bigam tiruen Mellayurin gal bidasin Las, Mas, Khas, Ras, Das an Zas mikna zinael. Ousman yattila vrandu liyaen howan tabus Arya sing hael Sri Maharaja Prajamudya Anantahiral Jayamukti lakun sinsya. Halien tuelu ziman hunaril harunti aulen. Ashan lus innurin salu Hyang Aruta kifayah ilen”

Begitulah pesan dan petunjuk terakhir dari sang ratu kepada rakyatnya. Disampaikan dalam dua bahasa yang berbeda, yang isinya tentang keadaan di masa itu dan yang akan datang. Ada rahasia besar disana. Sangat penting dan bermanfaat bagi yang memahami kode rahasianya. Tapi maaf jika kami tak bisa memberikan artinya disini, ada protap yang harus dipatuhi. Cukuplah Anda sebatas mengetahuinya saja.

7. Daftar raja
Sepanjang sejarahnya, kemaharajaan Attalani pernah dipimpin oleh 25 orang Tiran (maharaja) dan Tarin (maharani). Setiap orangnya memimpin kerajaan dengan bijaksana selama lebih dari 35 tahun, sehingga kemaharajaan ini sempat berdiri selama lebih dari 1000 tahun. Selama itu, tak pernah terjadi kudeta atau pun kerusuhan. Transisi kepemimpinan selalu di laksanakan dengan damai dari orang tua kepada anaknya atau dia yang berhak. Dan tak ada yang bisa memaksakan kehendaknya untuk menjadi raja/ratu, sebab ia harus terlebih dulu bisa memegang dan menggunakan lima benda pusaka warisan Ratu Tiyasati (cincin Aumor, selendang ungu Linsaya, cawan emas Warunta, busur panah Hisamaya, dan keris Astulasya). Tidak bisa sembarangan orang, dan ini sudah menjadi hukum yang mutlak dan tertulis.

Adapun di antara nama-nama penguasa itu adalah sebagai berikut:
1. Tiyasati, bergelar Umaniyas (permata yang indah) -> Ratu terakhir kerajaan Sihandipa sekaligus pendiri kemaharajaan Attalani yang tersohor.
2. Simayana
3. Amarayana -> seorang Tiran (maharaja) yang mendirikan pelabuhan besar Sillanamu di pantai barat Swinarma (Sumatera).
4. Kersayana
5. Haryasayana
6. Maruttana
7. Nabilawati -> seorang Tarin (maharani) yang membangun komplek Candi Astarupa yang indah.
8. Satyabara
9. Asmantata
10. Balsimanta
11. Satinayati -> seorang Tarin (maharani) yang membangun kota Amartani yang megah.
12. Andiramaya
13. Pratawali
14. Aneyala
15. Syafira Hima -> seorang Tarin (maharani) yang membangun komplek Piramida Himadiyah yang megah.
16. Ikbullaja
17. Samburan
18. Yusanawa
19. Tradusina
20. Milanayati -> seorang Tarin (maharani) yang membangun istana Yanuwata yang indah.
21. Naburahikan
22. Rukasara
23. Amirayani -> seorang Tarin (maharani).
24. Timtusaya
25. Yakulinata -> Tiran (maharaja) terakhir di kemaharajaan Attalani. Pada masanya kota Hindapa dan rakyatnya berpindah ke dimensi lain.

Selama dipimpin oleh 25 orang penguasa, kehidupan di kemaharajaan Attalani terbilang sangat makmur. Mereka telah membangun peradaban yang tinggi di zamannya. Meskipun tak sebesar kemaharajaan Azkariyah yang hidup pada akhir periode zaman ke enam (Nusanta-Ra), kemaharajaan ini tetaplah luar biasa. Buktinya mereka berhasil membangun kota-kota yang indah, komplek percandian atau piramida yang megah, dan taman-taman yang mempesona. Semuanya juga bertahan sangat lama, sampai akhirnya hancur akibat perang dan bencana alam atau sengaja dipindahkan ke dimensi lain.

8. Akhir kisah
Sebagaimana yang dijelaskan di atas, setelah menyerahkan tahta kepada putra tertuanya yang bernama Simayana, Ratu Tiyasati dan suaminya; Wilayana, pergi meninggalkan istana. Keduanya lalu berpetualang ke berbagai negeri untuk sekedar berwisata, membantu sesama, dan mengambil hikmah dari kehidupan ini. Selama ±27 tahun hal itu mereka lakukan, dan sesekali saja keduanya kembali ke negeri Attalani untuk melihat perkembangannya. Sampai akhirnya mereka merasa sudah waktunya untuk segera mengasingkan diri dari keduniawian untuk bisa mencapai moksa.

Catatan: Dikarenakan ilmu yang mumpuni, Ratu Tiyasati dan suaminya; Wilayana di anugerahi umur yang panjang dan fisik yang selalu awet muda. Penampilan mereka tetap seperti orang yang berumur 35-an tahun.

Berselang satu tahun semenjak mengasingkan diri, kedua pahlawan besar itu semakin rajin ber-semedhi. Sampai pada akhirnya mereka diizinkan untuk moksa dengan berpindah ke dimensi keabadian. Sejak saat itu, kedua tokoh besar itu tak pernah lagi muncul di muka Bumi, khususnya secara langsung di hadapan penduduk negeri. Hanya kepada mereka yang terpilih saja maka salah satu atau keduanya mau menemuinya (disini tentu karena ada urusan yang sangat penting).

Sementara itu, kemaharajaan Attalani masih tetap bertahan sampai raja yang ke-25. Tapi pada masa raja ke-25 (Yakulinata) itu pula terjadi hal yang luar biasa. Khususnya di kota Hindapa, penduduknya diperintahkan untuk berpindah ke dimensi lain. Karena mereka bisa hidup dalam kebaikan, cinta kasih, dan kepatuhan kepada hukum Tuhan, mereka mendapatkan bonus yang istimewa, yaitu berpindah ke dimensi lain. Sejak saat itu, tak pernah terdengar lagi penduduk kota Hindapa itu hidup di wilayah kerajaan Sihandipa. Baik penduduk dan kotanya telah menghilang karena telah berpindah ke dimensi lain. Lokasi dimana mereka tinggal sebelumnya dalam waktu singkat sudah menjadi hutan belantara. Butuh waktu ratusan tahun kemudian untuk munculnya sebuah kerajaan baru disana. Kerajaan itu bernama Signatapura.

Sementara itu, semenjak ibukota negara Attalani (Hindapa) berpindah ke dimensi lain, tampuk kepemimpinan tertinggi di kemaharajaan itu lalu dipercayakan kepada kerajaan Yisacara. Hanya saja ini tak bertahan lama, karena setelah 70 tahun berlalu mulai ada perpecahan di antara mereka. Satu persatu kerajaan yang dulunya bergabung dalam kemaharajaan Attalani mulai memisahkan diri. Dengan jalan berperang, akhirnya kerajaan-kerajaan itu mendirikan kembali kerajaan lamanya yang berdaulat. Tanah Swinarma (Sumatera), Jiwani (Jawa, Madura, Bali, NTB, NTT, Timor Leste), Bilsunawa (Kalimantan) dan Ruwandil (Malaysia, Thailand, Myanmar, Kambodia, dan Vietnam) kembali terpecah belah ke dalam banyak kerajaan. Dan ini terus berlangsung selama ratusan tahun kemudian. Sampai pada akhirnya ada upaya untuk menyatukan kembali ke empat wilayah itu seperti sebelumnya. Ini pernah di lakukan oleh penguasa dari kerajaan Namusta, yang dulunya berpusat di sekitar Cirebon sekarang.

Catatan: Sebelum berpindah dimensi, kelima pusaka warisan Ratu Tiyasati lalu dititipkan kepada raja pengganti yang berasal dari kerajaan Yisacara – untuk bekal ia memimpin kemaharajaan Attalani. Kelima pusaka itu aman dan berguna selama masih dipegang oleh raja yang bernama Sarakul itu. Hanya saja masalah pun mulai timbul setelah sang raja wafat. Kelima benda pusaka itu memang masih ada tapi sering menghilang akibat para pembesar negeri mulai melakukan hal-hal yang melanggar aturan Tuhan. Hingga pada akhirnya kelima pusaka itu tiba-tiba raib dan tak pernah diketahui keberadaannya. Inilah pertanda bahwa kemaharajaan Attalani akan runtuh, sebab tak ada lagi sosok yang layak untuk memimpin.

Ya. Kondisi pribadi setiap pembesar/bangsawan mulai merosot tajam, dan pada generasi berikutnya justru tak lagi elok karena semakin larut dalam kesenangan duniawi dan mengutamakan ego pribadi. Keserakahan dan maksiat terjadi dimana-mana. Ditambah lagi dengan tidak ada lagi kelima benda pusaka yang bisa dijadikan patokan utama untuk menentukan siapakah yang paling layak menjadi pemimpin di kemaharajaan Attalani. Hal ini lalu menjadi sumber masalah di seluruh wilayah kemaharajaan, dan akhirnya menjadi sumber pertikaian di antara mereka. Sebab, setiap penguasa daerah (para raja/ratu bawahan) merasa paling layak menjadi pemimpin tertinggi dan mereka rela berperang untuk memperebutkan jabatan itu.

9. Penutup
Wahai saudaraku. Dalam sejarah umat manusia, kaum wanita itu tak pernah kalah dengan pria. Mereka tetap sebagai pemeran utama. Dan ada banyak kisah luar biasa dari para wanita di masa lalu. Salah satunya adalah Ratu Tiyasati. Mengikuti jejak dari leluhurnya, yaitu Dewi Sridana, ia pun pernah berjuang dalam sebuah perang besar. Setelah menjadi penguasa di kerajaan Sihandipa, sejak saat itu pula Ratu Tiyasati berusaha maksimal untuk membangun peradaban yang makmur. Dan benar, hasilnya adalah bahwa negeri Sihandipa lalu menjadi yang tersohor di seluruh bagian barat wilayah Mellayurin (Nusantara). Bahkan, setelah mengubah namanya menjadi Attalani, banyak pula kerajaan lain yang memilih untuk bergabung. Karena itulah, akhirnya kerajaan Attalani berhasil menjadi sebuah kemaharajaan/kekaisaran yang agung tanpa perlu menaklukkan. Wilayahnya jadi sangat luas. Dan selama berpusat di kota Hindapa, tak ada yang berani mengusik ketenangan dari kemaharajaan Attalani.

Untuk itu, apa yang telah diuraikan di atas adalah upaya untuk mengingatkan kita semua, bahwa siapapun dirimu maka tak ada alasan untuk minder dan berputus asa. Lihatlah, meskipun ia seorang wanita dan telah mengalami peristiwa yang memilukan, Putri Tiyasati tetap tidak menyerah begitu saja. Ia terus membekali dirinya dengan berbagai ilmu dan mencari tentang kebenaran yang sejati. Dengan sikap sabar dan berserah diri tanpa pamrih, akhirnya ia bisa membantu sesamanya dengan sukses. Inilah yang sebaiknya di lakukan oleh setiap orang. Tentang ia menjadi terhormat atau bahkan menjadi penguasa tertinggi bukanlah tujuan utama. Itu hanya sebagai bonus yang tentunya disertai pula dengan tanggungjawab yang besar. Tak ada waktu untuk bersikap malas dan mengabaikan amanah, sehingga harus tetap berpikir dan berusaha untuk membangun negeri serta memakmurkan rakyatnya. Mari kita belajar dari Ratu Tiyasati, dengan begitu kehidupan dunia ini akan lebih indah dan bermakna.

Semoga masih banyak sosok wanita tangguh dan berwibawa, yang mengabdikan dirinya pada kebenaran sejati. Tak pernah tunduk pada perasaan yang terkadang menyesatkan, atau lingkungan yang tidak menguntungkan dan selalu mengedepankan kebaikan untuk sesama. Rahayu… _/|\_

Jambi, 04 Oktober 2017
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan sebelumnya, disini pun tak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Itu adalah hak dan pilihan Anda sekalian. Percaya syukur, tapi kalau tidak ya silahkan. Tugas kami hanya sekedar menyampaikan dan mengingatkan sebatas yang diizinkan saja.
2. Semua foto dan ilustrasi dalam tulisan ini hanya sebatas pemanis saja, bukan gambaran yang sebenarnya.

Iklan

12 pemikiran pada “Ratu Tiyasati: Pemimpin Besar Nusantara

  1. asep jaya permana

    makasih, telah menyuguhkan bacaan yg menarik dan mengulas sejarah peradaban manusia dari jaman ke jaman yg sungguh luar biasa,
    adakah semua dikumpulkan dalam sebuah buku supaya dapat di baca ulang tak terbatas pengguna internet dan yg mengetahui blog ini saja?

    1. oedi

      Iya sama’lah kang Asep Jaya Permana, terima kasih juga karena sudah mau berkunjung, semoga bermanfaat.. 🙂
      Tentang kisah-kisah sejarah manusia, maka sebenarnya sudah dituliskan di dalam sebuah buku khusus, bahkan hingga sekarang masih terus ditambahkan materinya jika memang perlu ditambahkan. Apa yang ada di blog ini hanya sekelumitnya saja, ya sekedar untuk mengingatkan kembali tentang betapa luar biasanya kisah hidup umat manusia itu.. Namun, untuk sementara waktu buku tersebut tidak bisa dicetak secara luas. Masih harus disembunyikan dulu, karena memang belum waktunya untuk diterbitkan. Jika tidak di zaman ini, maka akan terlaksana di zaman yang baru nanti.. Terlebih buku tersebut memang tidak dipersiapkan untuk generasi kita sekarang, tapi mereka yang akan datang, alias untuk bekal hidup anak cucu kita nanti… 🙂

  2. Widya

    Saya juga berpendapat demikian mas oedi…tapi sering sy merenung juga bahwa katanya ada dalil atau pa sy lupa,bahwa apabila suatu negeri dipimpin seorang wanita,maka negerinya tdk akan jaya…isu tersebut jg dihembuskan saat bu mega mau nyapres.tp sy percaya,bahwa banyak ratu hebat dari negeri ini di masa lalu.hati sy spt ada yg ngasi tau gtu..hiks…bgmn mas oedi

    1. oedi

      Hmm.. tentang dalil itu saya kurang paham sih mbak, lebih tepatnya saya gak tertarik untuk berdebat kusir dalam “menjelekkan atau merendahkan kaum wanita”. Saya lebih senang utk berbicara fakta sejarah ttg betapa kaum wanita itu juga bisa tampil sebagai pemimpin yg sgt baik.. Byk keunggulan dari wanita yg tidak dimiliki oleh pria.. Contoh yg paling dekat dg masa kita skr adalah Ratu Shima dari kerajaan Kalingga atau Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dari Majapahit. Beliau berdua adalah sosok yg terkenal dg kecerdasan, sikap yg adil dan bijaksana. Sehingga kehidupan di negerinya menjadi makmur dan sgt maju di zamannya. Selain itu, kalo dalam kisah para Nabi, maka contohnya adalah Ratu Bilqis yg bisa memimpin kerajaan besar Saba’ dg sgt makmur. Itu bahkan sudah terjadi sblm Nabi Sulaiman AS meluruskan tauhidnya. Dan ketika sudah diluruskan, maka kejayaan negerinya itu berlipat ganda. Namun sayang saat sang ratu wafat dan akhirnya penduduk di negeri Saba’ mulai ingkar, maka azab Tuhan pun datang menghancurkan negeri itu. Inilah hukum universal, dimana yg benar akan dibalas dg kemakmuran, sedangkan yg salah akan menerima kehancuran, cepat atau lambat..

      Dan perlu direnungkan juga, knapa sih kaum wanita melulu yg sering disudutkan dg alasan bisa menjadi sumber kehancuran sebuah negeri? Padahal banyak fakta sejarah yg justru membuktikan sebaliknya. Lihatlah banyak kerajaan yg hancur justru ketika dipimpin oleh pria. Gak percaya. Monggo diingat lagi sejarah kerajaan Salakanagara, Tarumanagara, Bakulapura (Kutai Martadipura), Galuh, Indraprahasta, Medang, Malayu, Sriwijaya, Dharmasraya, Kadiri, Singhasari, Majapahit, Pajang, dan Mataram Islam, semuanya itu runtuh pada saat pria yg memimpin loh.. Inilah bukti nyata agar kita tidak terlalu meninggikan pria dengan merendahkan kaum wanita. Semuanya itu tergantung dari orangnya kok..

      Intinya, Tuhan itu selalu Maha Kuasa utk menjadikan siapapun sebagai pemimpin yg terbaik, tak peduli apakah dia itu pria atau wanita. Syaratnya ya apakah dia bisa menjalani hidup ini dg benar sesuai dg kebenaran yg sejati.. Kalo tidak, maka baik ia pria atau pun wanita akan sama” jahat dan bajingannya..

      Okey mbak Widya, nuwun karena masih mau berkunjung, moga ttp bermanfaat.. 🙂

      1. oedi

        Syukurlah kalo setuju dg jawabannya, semoga bermanfaat.. Tetap semangat ya mbak Widya, ayo bangkitkan lagi kejayaan kaum wanita.. 🙂

  3. Ping-balik: Bangsa Arya dan Kisah Peradabannya – Perjalanan Cinta

  4. Wah, Hebat !!! Semoga tulisannya tetap berlanjut mas. Saya tunggu tulisan berikutnya . menambah wawasan Dan pembelajaran banyak nilai Dari berbagai segi kehidupan didalamnya. Semoga selalu bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

    1. oedi

      Syukurlah kalo suka dengan tulisan ini, semoga bermanfaat… 🙂
      Terima kasih ya mbak Bunga atas kunjungan dan dukungannya.. Senang ada seorang bloger yg mau berkunjung.. Btw puisi-puisi di blognya keren2 tuh mbak.. Saya suka bgt yg judulnya “Bebas?” itu.. ttp semangat nulisnya.. tuangkan trus imajinasimu.. 🙂
      Oke, silahkan di tunggu tulisan yg lain, jika tidak ada aral melintang, saya akan terus meng-upload tulisan yg baru disini.. 🙂

  5. Wah trimakasih mas Sudah menyempatkan mampir ke blog Saya yang sudah lama mangkir hehehe. Boleh Saya minta daftar judul buku karya Mas yang sudah bisa di diperjualbelikan? Atau bisa langsung krim via email Saya mas. Saya sangat tertarik dengan tulisan Mas. Semangat berkarya selalu mas 🙏 salaam Rahayu 🙏

    1. oedi

      Rahayu juga mbak Bunga, Sama2lah.. Kadang saya berkunjung kok ke blog-nya temen2.. bisa nambah ilmu kok.. 🙂
      Hayoo knapa berhenti nulis?? ayo dong semangat lagi hehe.. 🙂
      Tentang buku, maaf ya mbak karena blm ada yg diterbitkan.. tapi kalo mau tau apa aja buku yg sudah saya tulis, silahkan berkunjung di link ini: https://oediku.wordpress.com/buku_ku/, disana ada sedikit penjelasannya / sinopsis buku atau novelnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s