Azkariyah: Negeri di Penghujung Zaman

Wahai saudaraku. Terdapatlah kisah pada masa akhir periode zaman ke enam (Nusanta-Ra) yang berlangsung sekitar 17.000-25.000 tahun silam. Saat itu berdirilah sebuah kerajaan yang tersohor di seantero dunia. Sudah ada sekitar 30-an orang hebat yang berkuasa di negeri yang bernama Azkariyah itu. Selama itu, kehidupan disana berjalan dengan lancar dan damai. Mereka pun hidup dalam kemakmuran tanpa ada masalah yang berarti. Di masa kejayaannya, kerajaan inilah yang terhebat.

Selama lebih dari 2.500 tahun, kekayaan dan kekuasaan kaum Himazah itu (pendiri kerajaan Azkariyah) kian bertambah. Baik di daratan maupun di lautan mereka terlihat semakin berjaya, sampai masa pemerintahan Raja Muntanah (raja ke-35). Namun tanda-tanda kemerosotan sudah mulai muncul; karena para pangeran tak begitu cakap dalam meneruskan kepemimpinan sang ayah. Terlebih para bangsawan pun mulai merasa tidak puas jika harus berada dibawah bayang-bayang sang raja. Atas bujukan dari sekelompok orang dan atau kemauannya sendiri, di antara para bangsawan itu lalu berusaha melepaskan diri. Mereka ingin mendirikan kerajaan sendiri yang sesuai dengan keinginannya. Keadaan pun menjadi tidak stabil, dan akhirnya berubah menjadi kekacauan dan bencana. Banyak pertempuran yang menguras energi, nyawa dan harta benda. Kemaharajaan Azkariyah tersebut akhirnya mengalami kemunduran.

Untuk lebih jelasnya, mari ikuti penelusuran berikut:

1. Awal kisah
Kisah ini berawal pada masa kerajaan Himarida masih ada di muka Bumi ini (baca: kisah Prabu Zalya). Lalu pada saat ada rencana untuk berpindah ke dimensi lain, sebagian dari mereka itu ditugaskan untuk meneruskan keturunan dan mendirikan peradaban yang baru di tempat lain. Maka berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Limaridaya setelah 50 tahun kemudian. Bisa dibilang kerajaan ini pada akhirnya cukup dipandang karena mereka masih keturunan dari orang-orang hebat di kerajaan Himarida. Meskipun tak seagung leluhurnya dulu, mereka tetap berjaya di kawasannya. Namun di tahun ke 400-an sejak berdirinya kerajaan Limaridaya, terjadilah kemunduran akibat perpecahan di dalam kerajaan itu. Semuanya di latarbelakangi oleh perbedaan klan yang ada di antara mereka.

Jadi, sebagian dari mereka itu ada yang berdarah murni, namun banyak pula yang telah bercampur (dalam pernikahan) dengan kaum dan kerajaan yang berbeda. Dan memang pada masa itu, di wilayah bekas kerajaan Himarida sudah hidup berbagai ras dan bangsa yang berbeda selama ribuan tahun. Inilah yang menjadi penyebab utama kenapa keturunan kaum Himarida lalu bercampur dengan kaum atau ras lainnya. Dari pernikahan satu ras atau berbeda ras atau berbeda kaum itu lalu memunculkan klan-klan yang berbeda pula. Awalnya tidak mengapa, tapi kemudian di antara klan itu saling bersaing dan merasa paling berhak untuk memimpin dan menguasai kerajaan Limaridaya. Tak ada yang mau mengalah kecuali satu klan yang bahkan dari sejak awal tidak pernah ikut-ikutan dalam perabutan kekuasaan itu. Klan tersebut bernama Rimahida. Mereka ini adalah yang termasuk berdarah murni dan keturunan langsung dari kaum Himarida.

Selanjutnya, disebabkan konflik perebutan kekuasaan antar klan semakin memanas, klan Rimahida lalu memutuskan untuk pergi meninggalkan negerinya. Mereka lalu membuka hutan di wilayah selatan dan mendirikan peradaban baru disana. Mulai dari hanya sebatas kampung saja, lambat laun tempat itu berkembang menjadi sebuah kota yang besar dan makmur. Inilah cikal bakal berdirinya kemaharajaan Azkariyah atau yang berarti terhormat dan tangguh itu. Sebuah kerajaan yang dikemudian hari menjadi yang tersohor dan hampir menyamai kebesaran leluhur mereka di kerajaan Himarida. Namun demikian, sebelum mendirikan kerajaan, mereka sudah lebih dulu mengubah nama kaumnya. Mereka menamakan dirinya sebagai kaum Himazah atau yang berarti unggul dan murni. Sejak itu ada banyak hal yang berubah dalam kehidupan mereka, termasuk bahasa dan aksaranya. Semua itu berasal dari karya cipta mereka sendiri atau petunjuk dari para bijak bestari (Nabi, Wali, Resi, Dewa) yang menjadi guru mereka.

2. Kehidupan penduduk
Adapun mereka yang tinggal di negeri Azkariyah ini awalnya terdiri dari satu kaum saja, tepatnya satu wangsa/klan yang bernama Rimahida. Namun seiring berjalannya waktu mereka lalu mendirikan kaumnya sendiri (Himazah) dan berkembang menjadi bangsa yang makmur. Di kemudian hari, banyak orang-orang yang berasal dari kaum atau ras yang berbeda ikut tinggal di negeri Azkariyah. Awalnya mereka hanya tinggal sementara dan sebatas menjalin hubungan dagang dengan penduduk lokal. Tapi lama kelamaan di antara mereka itu ada yang menikah dan beranak pinak di wilayah kerajaan Azkariyah. Mereka-mereka ini lalu menjadi warga tetap selama berabad-abad dan turut pula membangun kejayaan kaum dan negeri Azkariyah. Kecintaannya pada kerajaan Azkariyah tak perlu diragukan lagi, sudah mendarah daging secara turun temurun.

Maka dari itu, sampai akhir kehidupan kerajaan ini, penduduk yang tinggal di negeri Azkariyah terdiri dari berbagai ras dan golongan yang berbeda. Tinggi mereka saat itu rata-rata antara 2,5-3 meter, bahkan lebih. Ada yang berkulit warna putih, putih kecoklatan, kuning, kuning langsat, kemerahan, coklat, gelap dan hitam. Warna mata mereka ada yang biru, hitam, hitam kecoklatan, coklat, kehijauan dan kekuningan. Warna rambut mereka ada yang hitam, hitam kemerahan, pirang, keemasan, dan merah. Hidung mereka ada yang mancung, sedang dan sedikit pesek. Sedangkan bentuk wajahnya ada yang lonjong, sedang, oval dan agak bulat.

Artinya, hampir semua ras yang ada saat itu sebagiannya tinggal di negeri Azkariyah – sisanya menyebar di seluruh belahan Bumi lainnya. Meskipun berbeda-beda, semua dari mereka itu tetap bisa menjalin hubungan yang baik dan kompak. Perbedaan tidak menjadikan mereka bermusuhan, karena justru mampu meningkatkan harkat dan martabat kehidupannya. Mereka telah disatukan dalam wadah negara yang bernama Azkariyah. Hanya saja memang, setelah kemaharajaan Azkariyah itu runtuh mereka pun harus tercerai berai. Sebagian besar penduduknya lalu menyebar ke berbagai negeri lain untuk menyelamatkan diri atau mencari penghidupan yang layak disana. Dan pada masa berikutnya, mereka-mereka itu menjadi cikal bakal dari peradaban yang tumbuh kemudian, di hampir seluruh belahan dunia.

Catatan: Sejak di periode zaman ke tujuh (Rupanta-Ra) atau zaman kita sekarang ini, waktu semakin cepat berlalu dan ukuran tubuh manusia semakin “dikurangi”. Rata-rata hanya setinggi dibawah 2 meter saja, sangat jarang ada orang yang tingginya lebih dari 2 meter. Begitu pun dengan umurnya, maka tak ada lagi yang lebih dari 250 tahun. Rata-rata hanya bisa sampai di usia yang ke 100-an tahun saja. Itu pun kondisi fisiknya sudah sangat lemah bahkan pikun. Berbeda dengan manusia yang hidup di periode zaman sebelumnya (Nusanta-Ra), karena meskipun wafat pada usia yang ke 200-an tahun, mereka tidak terlihat lemah apalagi sampai pikun. Secara fisik mereka memang terlihat menua dan sedikit keriput, tapi kondisi mereka tetap bugar dan daya ingatannya masih kuat. Sebagian besar dari mereka itu wafat bukan karena penyakit, tetapi karena perang, bencana alam atau memang ajalnya sudah datang.

Tentang cara berpakaiannya, maka di negeri Azkariyah itu terdiri dari berbagai model dan gayanya. Namun demikian, hampir semuanya serba panjang dan atau berjubah atau bersarung (songket) yang dijahit dengan sangat rapi – sebagian ada yang pendek, khususnya untuk yang pria. Warnanya bermacam-macam, tapi dominannya adalah putih, coklat muda, biru dan krem. Pada beberapa sudut pakaian itu biasanya akan ditempelkan pula berbagai pernak-pernik dari batu permata atau mutiara yang indah, bahkan intan bagi kalangan tertentu. Bahan kainnya berasal dari serat tanaman Mudal (sejenis kapas) atau ulat Sittu (sejenis sutera) yang dipintal dan ditenun dengan halus. Mereka juga mengenakan penutup kepala semacam topi yang bahannya sama dengan untuk pakaian atau dari kulit hewan. Topi tersebut bentuknya beragam, dan pada beberapa sisinya ditempelkan pula berbagai jenis batu permata, kristal atau berlian untuk kalangan tertentu. Topi ini dikenakan oleh pria dan wanitanya untuk keperluan tertentu saja, sangat jarang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Memang ada topi untuk keperluan sehari-hari, namun itu khusus untuk berladang atau berkebun. Biasanya yang semacam ini terbuat dari anyaman bambu, rotan atau Sul (semacam rumput tanduk rusa). Bentuknya mirip dengan Caping (topi petani) di zaman sekarang, dengan ukuran yang beragam.

Selain itu, ada pula yang mengenakan sorban tapi ukurannya tak sebesar sorbannya orang Arab atau India di zaman sekarang. Pada sorban tersebut lalu ditempelkan mutiara, batu permata atau intan warna-warni bagi kalangan tertentu. Dan khusus untuk wanitanya, mereka sering mengenakan selendang penutup kepala yang penuh dengan motif dan corak yang berwarna-warni. Adapun sorban dan selendang ini dipakai dalam kehidupan sehari-hari oleh sebagian besar penduduk yang tinggal di negeri Azkariyah. Selebihnya mereka sering mengenakan ikat kepala warna hitam dan merah yang terbuat dari bahan kain khusus atau tidak sama sekali. Lalu untuk rambutnya, baik laki-laki maupun wanitanya hampir semuanya dibiarkan panjang. Ada yang sengaja diurai, ada yang diikat dan ada pula yang dikepang atau pun di gelung membentuk pola tertentu.

Lalu untuk alas kakinya, mereka sudah menggunakan sandal dan sepatu yang terbuat dari bahan kayu, getah pohon Luteh (semacam karet) dan kulit hewan pilihan. Pada kedua jenis alas kaki tersebut, biasanya ditempelkan pula mutiara bahkan batu permata bagi kalangan tertentu. Selain itu, khususnya yang wanita, mereka sudah akrab dengan berbagai jenis perhiasan seperti kalung, anting, gelang, cincin, ikat pinggang, bando, tusuk konde, dan jepit rambut. Semuanya terbuat dari bahan-bahan pilihan seperti emas, batu giok, permata, berlian, kristal dan titanium. Untuk yang pria, mereka cukup dengan mengenakan cincin dan gelang yang bertahtakan permata atau berlian. Hanya kalangan tertentu saja yang memakai kalung dan mahkota kecil dari emas yang bertahtakan permata dan intan-berlian. Sungguh, bangsa Azkariyah ini berselera tinggi dalam urusan fashion. Tidak kalah dengan kita sekarang.

3. Seni budaya dan bahasa
Bangsa Azkariyah ini suka dengan musik, bernyanyi, menari, sastra, lukisan, ukiran, dan memahat. Di kota-kota mereka bahkan dibangun gedung khusus untuk segala bentuk pertunjukan seni budaya. Mirip dengan konsep gedung teater atau galeri seni di zaman kita sekarang. Lalu pada waktu-waktu tertentu diadakanlah pesta meriah kenegaraan yang disebut Santrum. Acara ini di laksanakan pada setiap lima tahun sekali dan berlangsung selama 70 hari. Dalam acara itu juga terdapat berbagai macam pertunjukkan seni dan budaya dari setiap wilayah di kemaharajaan Azkariyah. Pesta rakyat tersebut sangat meriah dan menjadi daya tarik yang istimewa. Diadakan di gedung-gedung Dalsimah (gedung seni dan teater) dan Halturin (alun-alun kota), siang dan malam hari.

Pada setiap kali pesta itu di laksanakan, maka banyak orang yang datang dari berbagai latar belakang. Ada pula tamu undangan yang berasal dari berbagai negara sahabat. Mereka ikut meramaikan suasana pesta besar itu dengan membawa sejumlah rombongan. Bahkan ada kesempatan khusus bagi mereka untuk menunjukkan seni budaya dari negaranya sendiri. Tak ada yang terlewatkan dalam perhelatan akbar itu dan semua orang bisa merasakan kebersamaan. Sungguh menarik dan menyenangkan.

Adapun tentang bahasa yang mereka pergunakan saat itu tampak sangat menarik dan terdengar berwibawa. Disebut dengan nama Himaniyah dan merupakan pemberian khusus dari Nabi Umali AS kepada seorang tokoh utama dalam kaum Himazah (cikal bakal kerajaan Azkariyah). Orang tersebut bernama Alzimatah alias Almira Asyur, sang pendiri kemaharajaan Azkariyah. Dialah yang di kemudian hari memperkenalkan dan mengajarkan bahasa ini kepada kaumnya; Himazah. Lalu sesuai dengan petunjuk dari sang Nabi, maka dalam waktu yang relatif singkat bahasa Himaniyah ini telah menjadi bahasa resmi di kemaharajaan Azkariyah. Dan karena wilayah kerajaan ini juga semakin meluas, maka bahasa Himaniyah pun ikut menyebar kemana-mana dan menjadi bahasa utama penghubung dalam kawasan Mellayusna (Nusantara), khususnya di bagian barat.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah contoh syair yang pernah mereka buat dalam bahasa Himaniyah. Yaitu:

Yamu’alah usram

Mindah sahilatan kursin arbina wajih.
Amsur manihakam yuwarum,
Alsinsin jamijayah sunna balsih.
Hurakatum lamijaya walseh,
Ratmintabu laduniyahi almisihan.
Ya Muakkah,
Amril usdaharus kalsih alhatabih.
Ya Ilahi,
Antin guwartal his nur majayi alhuyanih.
Yasiman urbanah husbram quro.
See rathilah isymarul bakih,
Alwiyan tatani hundaril.

(Syiharah)

Demikianlah bangsa Azkariyah ini telah memiliki peradaban yang tinggi. Dan dalam hal ini mereka tidak kalah dengan kita sekarang, bahkan lebih baik dalam beberapa sisi. Sungguh mengagumkan.

4. Kejayaan Azkariyah
Sejak berdirinya kaum Himazah, waktu pun terus berlalu selama ratusan tahun. Mereka yang merupakan keturunan dari kerajaan Himarida ini akhirnya mendirikan kerajaan baru yang bernama Azkariyah. Semua itu diprakarsai oleh seorang tokoh yang luar biasa dan kharismatik bernama Alzimatah. Dibawah kepemimpinan sosok yang menjadi murid dari seorang Nabi itu, kaum Himazah bangkit dan meraih kejayaannya. Oleh sebab itulah, ia lalu diberi gelar kehormatan dengan nama Almira Asyur atau yang berarti bapak yang agung. Gelar yang semacam ini hanya diperuntukkan bagi dia seorang.

Adapun pusat pemerintahan dari kerajaan ini dulu berada di antara wilayah Solo, Jogjakarta dan Purworejo. Disana mereka hidup makmur dari hasil pertanian, perkebunan, peternakan, tambang, laut, kerajinan tangan, industri dan perdagangan. Semua orang bekerja dengan giat dan menjaga negeri mereka dengan disiplin yang tinggi. Karena itulah, pada akhirnya mereka pun berhasil membangun armada kapal laut yang tangguh. Semua itu bertujuan untuk melindungi negeri mereka dari serangan musuh dan sekaligus untuk keperluan perdagangan antar bangsa di dunia.

Catatan: Bukanlah suatu kebetulan jika pendiri kesultanan Mataram yang bernama Danang Sutowijoyo alias Panembahan Senopati beserta ayahnya yang bernama Ki Ageng Pemanahan pernah membangun kota dengan membabat hutan Mentaok (Kota Gede, Jogjakarta sekarang). Keduanya itu sudah mendapatkan informasi dari para leluhurnya – setelah melakukan tapa brata – bahwa wilayah Jogjakarta itu dulunya pernah menjadi pusat dari sebuah negara yang besar. Dibandingkan dengan di tempat lain, maka disana itu ada energi yang luar biasa, yang sangat baik untuk mendirikan pusat pemerintahan. Ini sangat penting untuk kehidupan lahir dan batin. Karena itulah beliau berdua pun disarankan untuk mendirikan pusat kerajaan disana. Itu sangat baik untuk mereka dan anak cucunya nanti, terlebih jika ingin mengulangi kejayaan masa lalu. Begitulah para leluhur kita dulu saat akan mendirikan sebuah pusat pemerintahan. Dimana mereka harus tahu terlebih dulu tentang latar belakang lokasi dan sejarah masa lalunya. Tidak bisa sembarangan dan sangat berhati-hati agar tujuannya bisa tercapai dan tidak kuwalat. Mereka telah mendapatkan petunjuk dari para leluhurnya lewat jalan mesu raga dan mesu jiwa yang tekun. Tidak seperti sekarang yang bahkan asal-asalan.

Lalu, dengan kondisi ekonomi yang semakin meningkat dan terus berkembangnya ilmu pengetahuan di antara penduduknya, kemaharajaan Azkariyah ini berhasil menciptakan berbagai fasilitas dan peralatan yang canggih. Di antaranya dengan membangun Dasintrum atau semacam gedung penelitian luar angkasa (observatorium) yang di dalamnya terdapat berbagai jenis Gillum (teleskop) berkemampuan tinggi. Selain itu, mereka juga telah berhasil menciptakan Bulram (mobil terbang), Swijam (kapal selam), Vintram (pesawat terbang), bahkan Hiltram (pesawat antariksa berkecepatan cahaya), yang sebagian besarnya ditujukan untuk penelitian, tidak untuk berperang. Peralatan-peralatan itu sangat membantu mereka untuk lebih memahami tentang kehidupan di alam semesta ini. Dengan peralatan canggih yang bertenagakan kristal biru itu, mereka bisa melihat atau menjelajah kemanapun yang mereka mau, termasuk ke luar angkasa. Dan sepanjang sejarahnya, maka dengan pesawat Hiltram itu bangsa Azkariyah pernah berkunjung ke beberapa planet di dalam sistem tata surya kita; seperti Irluh (Venus), Gasuh (Mars), Maruh (Jupiter), Sanuh (Saturnus), Kanuh (Uranus), Jiluh (Neptunus), Zaruh (Pluto), Naruh, Hiluh, Caluh, Yauh dan Wadruh. Atau yang ada diluar sistem tata surya kita; seperti planet Latuh, Kurtuh, Suluh, Blasuh, Fruh dan Ulnuh.

Sungguh, leluhur kita dulu sudah memiliki peradaban yang tinggi, bahkan kita sekarang seperti tidak ada apa-apanya. Dan semua planet itu pernah mereka kunjungi untuk tujuan penelitian dan maksud yang dirahasiakan. Dengan menggunakan Hiltram (pesawat antariksa berkecepatan cahaya) mereka bisa sampai disana dengan selamat dan dalam waktu yang singkat. Bahkan ada satu lagi pesawat khusus yang ditujukan untuk penjelajahan antar galaksi. Pesawat super canggih itu disebut dengan Mulhatram atau biasa juga disebut Multram. Mulai dari ukuran, fasilitas dan kemampuannya, maka pesawat ini jauh melebihi Hiltram. Bahkan satu buah pesawat Hiltram bisa masuk ke dalam Multram itu, dan ini memang selalu di lakukan saat mereka melakukan penjelajahan. Sehingga dengan pesawat Multram itu, mereka yang terpilih dari kaum Azkariyah – khususnya para ilmuwan – pernah menjelajah sampai ke galaksi lainnya. Terhitung sebanyak enam kali pesawat Multram ini pernah berhasil melakukan penjelajahan antar galaksi yang berbeda; yaitu Grislah, Marsilah, Urmiyah, Salmuah, Bilbiyah, dan Warunyah. Pada kali yang ke tujuh, maka atas petunjuk yang telah didapatkan oleh Ziranah (nama pemimpin rombongan), pesawat dan awaknya itu tidak perlu lagi kembali ke Bumi. Mereka harus terus menjelajah ke galaksi lainnya – atau menetap disana – tanpa pernah kembali sejak masa raja ke-34 (Halmiyakah) masih memimpin. Selanjutnya, hanya sesekali saja mereka berkunjung ke Bumi, entah karena kangen atau mendapatkan petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Itu pun terjadi pada saat menjelang kehancuran kemaharajaan Azkariyah (pada masa raja ke-37; Usnayah) dan beberapa kali di masa yang lain pada periode zaman yang berbeda (zaman kita sekarang; Rupanta-Ra). Termasuklah ke kemaharajaan Attalani (tunggu artikel berikutnya).

“Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para Rosul) sedang orang-orang itu belum sampai menerima sepersepuluh[1] dari apa yang telah KAMI berikan kepada orang-orang terdahulu itu namun mereka mendustakan para Rosul-KU. Maka lihatlah bagaimana dahsyatnya akibat dari kemurkaann-KU” (QS. Saba’ [34] ayat 45)
[1] Kita sekarang bukanlah generasi yang terkuat dan paling cerdas. Kemampuan manusia saat ini ternyata belum sampai di angka sepersepuluh dari kaum terdahulu. Mereka dulu (leluhur kita) jauh lebih hebat dari pada kita sekarang. Begitulah dengan bangsa Azkariyah. Teknologi dan peradaban mereka jauh lebih hebat dari yang telah kita capai kini.

***

Tambahan info: Di sekitar kabupaten Bantul, Gunung Kidul dan Sleman – yang ada di propinsi Jogjakarta sekarang, sebenarnya terdapat tiga komplek bangunan yang sangat megah dan memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari komplek Candi Prambanan. Ketiganya itu adalah peninggalan dari kemaharajaan Azkariyah. Bukan sebagai tempat ibadah atau pun pemujaan, karena ini lebih kepada monumen dan taman rekreasi. Dibangun pada masa kejayaan Azkariyah dulu dan selamat dari kehancuran dalam perang besar dan transisi zaman. Hanya saja memang hingga saat ini masih belum “muncul ke permukaan”, masih tersembunyi. Bisa dilihat, tapi hanya dengan mata ketiga dan setelah bisa menembus dinding perisai goibnya (dengan kata kunci rahasia) serta berhasil “melewati” para penjaganya. Itupun tidak untuk semua orang, sebab khusus bagi yang diizinkan saja.

Berikut ini kami jelaskan sedikit tentang ketiga candi tersebut, yaitu:

1. Candi Huramanatakah
Jika Anda memang berhasil melihat candi peninggalan kemaharajaan Azkariyah, maka di salah satu komplek percandiannya itu – demi kerahasiaannya, sengaja tidak kami jelaskan detil lokasinya disini, ada protap – terdiri dari satu bangunan terbesar yang berada tepat di tengah. Bangunan candi utama ini didampingi oleh 4 buah candi besar yang posisinya berada tepat di ke empat arah mata angin. Selain itu, ada pula 100 buah candi prajurit (candi penjaga) yang ukurannya lebih kecil dan mengelilingi kelima bangunan candi utama dalam posisi berlapis-lapis. Artinya, ada 105 buah candi besar-kecil yang berada di komplek percandian milik kemaharajaan Azkariyah ini.

Mengenai detil bangunan, maka pondasi bangunannya terbuat dari bahan dasar batu kapur yang dicampur dengan getah kayu Kuling lalu dicetak dan dijemur sehingga menjadi sangat keras. Sementara dinding dan lantainya terbuat dari batu marmer berwarna putih yang dihaluskan. Pada setiap dinding batu marmer itu terdapat ukiran relief yang menceritakan tentang kisah-kisah heroik dan romantis. Selain itu, di beberapa sudut bangunan terdapat pula ukiran dari emas yang indah dan berbagai jenis permata warna-warni yang berkilauan. Ada pula ruangan yang sangat indah yang berada tepat di bagian dalam bangunan candi utamanya. Di dalam ruangan itulah terdapat berbagai jenis patung dari emas, batu pualam, dan giok, dan ada pula beberapa batu kristal dan intan-berlian yang berkilauan, yang diletakkan di atas sebuah tempat khusus dari emas.

Selain itu, candi-candi yang ada di dalam komplek Huramanatakah ini berukuran tinggi dan bentuknya meruncing ke angkasa. Berwarna dominan putih dan lebih megah bila dibandingkan dengan Taj Mahal yang ada di India. Sementara luas areanya 3-4 kali lebih luas dari seluruh komplek Candi Prambanan sekarang. Dibangun atas dasar rasa syukur dan persembahan tulus dari raja ke-3 (Napah atau yang bergelar Alhimazah) kepada Tuhan. Sungguh mewah dan mengagumkan.

2. Candi Taramunakah
Di tempat lain terdapat komplek candi kedua yang diberi nama Taramunakah (sengaja tak kami berikan detil lokasinya, ada protap). Adapun kisah pendirian dari komplek candi kedua ini masih terkait dengan komplek candi yang pertama (Candi Huramanatakah). Sebab, jika komplek candi yang pertama dibangun oleh raja ke-3 (Napah alias Alhimazah), maka yang mendirikan komplek candi kedua ini adalah anaknya yang bernama Ramishawarah.

Latar belakang pendirian komplek Candi Taramunakah ini adalah bahwa Ramishawarah (sebelum menjadi raja) menginginkan seorang anak laki-laki. Sebenarnya ia sudah dikaruniai 5 orang puteri dari 5 orang isteri. Tapi itu tidaklah cukup, karena Ramishawarah sangat mendambakan seorang putera yang kelak bisa mewarisi semua kemampuannya. Karena itulah, akhirnya ia ber-tapa brata selama beberapa waktu untuk mendapatkan petunjuk Ilahi.

Singkat cerita, Ramishawarah menerima petunjuk dan akhirnya mendapatkan seorang putera yang sesuai dengan keinginannya. Lalu sebagai bentuk rasa syukur, Ramishawarah mendirikan sebuah komplek percandian untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Komplek percandian itu lalu ia beri nama Taramunakah. Selanjutnya, di kemudian hari Ramishawarah pun mewarisi tahta kemaharajaan Azkariyah dari ayahnya, Raja Napah atau yang bergelar Alhimazah itu. Setelah menjadi raja ke-4 di kerajaan Azkariyah, Ramishawarah lalu memakai gelar resminya sebagai Alkurahizah. Dimasa pemerintahannya, kejayaan negeri Azkariyah semakin tak terbendung.

Adapun mengenai detil percandiannya, maka di komplek percandian Taramunakah ini terdapat 5 buah candi besar. Satu berada di tengah, sementara yang lainnya berada di ke empat arah mata angin; dalam posisi mengelilingi. Yang di tengah adalah yang terbesar dan paling indah. Bentuk arsitekturnya sekilas mirip dengan bangunan stupa-stupa yang berada di tingkat teratas Candi Borobudur, hanya saja ukurannya jauh lebih besar dan megah. Selain itu, tentunya bangunan Candi Taramunakah ini lebih indah dan unik karena ada percampuran bentuk yang mirip dengan candi-candi (pagoda) yang ada di Thailand atau Myanmar sekarang (lancip/meruncing ke atas). Lalu ada banyak lubang cahaya yang berbentuk bulat pada dinding bagian atas bangunan candi ini sebagai jalan masuknya cahaya. Sehingga bila dilihat dari dalam bangunan candi akan terlihat indah dan menarik.

Kemudian, di dalam bangunan candi utamanya (yang berada di tengah) terdapat sebuah ruangan yang didalamnya terdapat sebuah alat pengukur waktu yang terbuat dari emas. Bentuk dari alat yang diberi nama Sirtulam ini adalah bulat lingkaran dan disanggah oleh beberapa tiang khusus. Pada alat itu terdapat banyak ukiran dan simbol-simbol khusus yang menjadi penanda atau patokan dalam perhitungan. Alat ini berfungsi untuk menghitung waktu (jam), kalender (hari, bulan, tahun), menghitung musim (tanam, panen, penghujan, kemarau), dan astronomi lainnya. Lalu untuk menggunakan alat ini, mereka telah memanfaatkan sinar matahari dan bulan sebagai penandanya. Jika cuaca sedang mendung atau gelap, maka digunakanlah cahaya kristal yang diatur khusus. Semuanya sudah sangat diperhitungkan dengan teliti dan selalu tepat.

Tentang bahan bangunannya, Candi Taramunakah ini berbahan dasar batu hitam (bukan andesit) yang dilapisi dengan batu putih yang dihancurkan/dihaluskan (semacam kapur tapi setelah dicampur dengan bahan tertentu dan mengering, maka akan menjadi sangat keras dan tidak bisa luntur) untuk dijadikan pelapis dinding batu hitam tersebut. Dikerjakan dengan sangat rapi dan halus, sehingga terlihat begitu indah. Terdapat pula beberapa ukiran relief yang dipahat di atas dinding candinya, yang menggambarkan berbagai kisah. Lalu dibawah bangunan Candi Taramunakah ini terdapat pula ruangan bawah tanah yang dihiasi dengan berbagai lampu hias. Meskipun tak terlihat banyak ukiran pada dindingnya, ruangan bawah tanah ini tetaplah indah dan mewah. Dan yang lebih unik lagi adalah bahwa ruangan bawah tanah tersebut juga terhubung langsung dengan istana kerajaan Azkariyah melalui beberapa terowongannya. Sungguh unik dan menawannya komplek Candi Taramunakah ini.

3. Candi Sisiramunakah
Yang terakhir adalah candi yang diberi nama Sisiramunakah. Candi ketiga ini dibangun oleh raja ke-13 (Azmuntanah) dari bahan dasar batu marmer warna putih (sengaja tak kami berikan detil lokasinya, ada protap). Bentuknya menyerupai limas (piramida) yang berundak-undak dengan ukuran tinggi sekitar ±1.500 meter dan lebarnya sekitar ±1.000 meter. Bangunan ini sangat aman dan stabil, karena sudah disertai dengan teknologi anti gempa dan sambaran petir. Dimana kedua hal itu belum dimiliki oleh manusia pada masa sekarang.

Pada puncak candi/piramida ini terdapat sebuah bangunan terbuka (tanpa dinding karena hanya ada pilar-pilar) yang atapnya berbentuk kubah. Di bagian dalam-tengah bangunan itu terdapat altar dari batu pualam yang diperuntukkan bagi anak raja yang baru lahir. Artinya, setelah sang bayi lahir, ia akan dibaringkan di atas altar tersebut sejak pagi hari sampai malam. Jadi, saat berada di atas altar tersebut sang bayi akan langsung merasakan energi alam sekitar selama ia dibaringkan disana. Ini menjadi tradisi utama di kemaharajaan Azkariyah. Tujuannya agar si anak (pangeran atau putri) mendapatkan kekuatan alam dan kesehatan yang lebih. Ini sesuai dengan petunjuk yang didapatkan oleh Raja Azmuntanah sebelumnya, dan ini pula yang menjadi alasan kenapa ia mendirikan bangunan semegah itu.

Lalu, untuk bisa sampai di puncak candinya atau altar pembaringan bayi, maka terdapatlah 1.001 anak tangganya. Jadi, sang ayah (raja) akan menggendong si jabang bayi dengan menaiki semua anak tangga candi satu persatu sampai ia tiba didepan altar. Sesampainya disana, si bayi segera dibaringkan di atas altar itu sejak pagi hari sampai malam. Kedua orang tuanya, serta para kerabatnya akan menunggui di sekitar altar itu sampai ritualnya selesai. Sungguh uniknya tradisi yang pernah ada di kemaharajaan Azkariyah ini, dan begitu megahnya pula bangunan Candi Sisiramunakah itu. Piramida agung Ghiza di Mesir seperti tidak ada apa-apanya.

Demikianlah penjelasan tentang candi dan piramida yang telah dibangun dengan sangat indah dan megah pada masa kemaharajaan Azkariyah. Ketiganya masih ada dan kokoh berdiri, selamat dari kehancuran akibat perang dan bencana transisi zaman. Hanya saja kini tak bisa dilihat langsung oleh mata biasa karena tersembunyi dibalik perisai goib. Butuh kemampuan khusus dan terpilih untuk bisa melihatnya. Dan selain dari ketiga candi itu maka masih ada lagi yang lain, karena di masa kerajaan Azkariyah ini memang banyak candi dan piramida yang telah dibangun, bahkan tidak hanya di sekitar ibukota kerajaannya. Ada juga yang dibangun di wilayah lain atau di negeri lain – yang menjadi bagian dari kemaharajaan Azkariyah – sebagai hadiah. Hanya saja tidak perlu kami jelaskan disini. Cukuplah diwakili oleh ketiga candi itu saja.

Catatan: Ketiga candi itu telah berpindah atau lebih tepatnya sengaja disembunyikan sejak 5 tahun sebelum kerajaan Azkariyah runtuh. Karena itulah, “hilangnya” ketiga candi tersebut sebenarnya merupakan pertanda terakhir akan runtuhnya kerajaan Azkariyah. Begitulah hal-hal yang luar biasa masih sering terjadi pada masa itu, yang menurut orang sekarang hanya sebatas dongeng dan khayalan belaka.

***

Adalah Alziyamah atau yang bergelar Alhiram Asyur (pemimpin yang agung), raja ke-5, yang membangun Min-Swaunor, dimana belakangan menjadi pelabuhan yang sangat ramai di pesisir selatan. Di tambah dengan kondisi kota Ismaliyah (ibukota kerajaan) yang gedung-gedungnya ia bangun sangat indah dan berbahan dasar pilihan yang berwarna-warni (marmer, pualam, giok, emas, perak, dll), maka sejak saat itu pula kerajaan Azkariyah menjadi semakin terpandang dimana-mana. Penerusnya, Alturaimah (raja ke-6) pun tetap menjaga dan menciptakan pelabuhan dan kota itu sebagai yang terbesar di kawasan barat Mellayusna (penamaan Nusantara kala itu). Dibawah Raja Alturaimah ini, maka dimulailah garis keturunan para Raja Kapal yang perkasa. Dan bersama saudaranya, Elhuimah yang menjadi Sihakuram (perdana menteri), ia membangun angkatan laut yang sangat tangguh dan paling disegani.

Awalnya, dibawah kepemimpinan Raja Alturaimah kerajaan ini tidak berhasrat untuk memperluas wilayah atau sampai menaklukkan kerajaan lain. Tapi karena pada saat itu kondisi di wilayah Mellayusna (Nusantara) sedang kacau, akhirnya mereka harus terlibat pertempuran. Banyak pula negeri yang meminta bantuan atau perlindungan dengan perjanjian akan langsung bergabung dengan kerajaan Azkariyah. Dalam persekutuan itu, laskar tempur dari kerajaan Azkariyah selalu menang dalam setiap pertempuran. Tak ada yang mampu menandingi kehebatan dari pasukan yang sangat terlatih itu. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama kerajaan Azkariyah berhasil memperluas kekuasaannya di sepanjang pantai barat Aswana (penamaan kawasan pulau Sumatera kala itu) dan selatan Juwanta (penamaan kawasan pulau Jawa kala itu). Dan inipun terus berlanjut sampai ke masa pewarisnya. Dan untuk memperingati kemenangan-kemenangannya sebagai panglima pasukan, Raja Alturaimah lalu dinobatkan oleh rakyatnya dengan gelar Altasurah Asyur atau yang berarti penguasa lautan dan pantai yang agung.

Catatan: Atas kuasa Tuhan, dalam waktu yang relatif singkat daratan yang dulunya tenggelam menjadi lautan – pasca azab di masa kerajaan Gumarsati dan Haktiram – lalu naik ke permukaan dan kembali menjadi daratan yang luas. Setelah lebih dari seribu tahun, kawasan yang sekarang disebut Laut Jawa, Laut Karimata, Selat Makasar dan sebagian Laut China Selatan itu kembali menjadi hutan dan padang rumput. Sehingga pada masa itu mulai dari Myanmar, Thailand, Malaysia, Kambodia, pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sumba, sampai ke Timor Leste sekarang kembali bersatu. Garis pantai di selatan pulau Jawa masih sangat berbeda dari sekarang. Sebagai contoh, bibir pantai di kawasan Parangtritis-Jogjakarta saat itu masih menjorok ke tengah lautan sejauh 20-30 kilometer. Artinya, jika Anda berkunjung ke pantai Parangtritis sekarang, maka Anda bisa langsung membayangkan bahwa pada masa lalu disana itu belum menjadi pantai. Kawasan itu masih berada di tengah daratan yang subur. Karena bibir pantainya saja masih berada di sekitar 20-30 kilometer ke tengah lautan (Samudera Hindia) dari yang sekarang. Dan di bibir pantai itulah Min-Swaunor yang merupakan pelabuhan terbesar milik kemaharajaan Azkariyah pernah berdiri. Sangat ramai, karena menjadi tempat persinggahan dan perdagangan antara bangsa-bangsa di dunia.

Sejak Raja Altasurah Asyur alias Alturaimah (raja ke-6) memimpin kerajaan dan ia berhasil menguasai hampir semua wilayah pantai barat dan selatan Mellayusna (Nusantara), tak ada musuh yang berani menentang kedahsyatan dari armada Dasturah milik kemaharajaan Azkariyah. Mereka lebih memilih untuk bergabung dari pada harus bermusuhan. Sebab itu memang lebih baik dan bisa cepat meningkatkan taraf hidup mereka sendiri. Dan Raja Alturaimah ini memimpin kerajaan selama ±172 tahun, masa pemerintahan terlama dari seluruh garis keturunan Raja Alzimatah, sang pendiri kerajaan.

Karena itu, sejak dimasa Raja Alturaimah pula kerajaan Azkariyah ini telah mencapai puncak kejayaannya dan menjadi pusat peradaban dunia. Di kemudian hari, wilayahnya sudah meliputi negeri Liwayan (sekitar Myanmar dan Bangladesh sekarang) di sebelah barat laut sampai ke pinggiran Halumis (sekitar antara pulau Mindanao-Filipina dan pulau Sulawesi sekarang) di utara, lalu di timur sampai ke Fisturin (Timor Leste sekarang), hingga di selatan dan baratnya sampai ke Swarunamaya (penamaan Samudera Hindia kala itu). Selain itu, di tempat lain mereka bahkan telah menguasai hampir semua pesisir barat Marinatya (penamaan benua Australia kala itu) dan pesisir selatan serta tenggara Hamsilatra (penamaan benua Afrika kala itu). Disana mereka lalu mendirikan koloni baru yang hidup berdampingan dengan penduduk lokal. Meskipun tak seluas wilayah kerajaan Himarida, orang-orang tetap mengakui bahwa kemaharajaan Azkariyah itu sangat agung. Semuanya bersikap takjub dan begitu senang jika bisa terlibat kerjasama dengan kerajaan yang sangat kuat tersebut. Tak ada yang berani ambil resiko untuk berselisih dengan mereka.

Ya. Kondisi di kemaharajaan Azkariyah sampai ke Raja Muntanah (raja ke-35) masih sangat makmur dan sejahtera. Orang-orang bahkan sampai mengatakan bahwa batu permata di Azkariyah adalah alat permainan anak-anak. Kota-kota yang mereka bangun juga sangat indah, bahkan yang terindah di masanya. Hal ini jelas luar biasa dan membuat kagum siapapun. Namun tanpa disadari, model kehidupan yang semacam inilah, yang terlalu mewah, justru membuat penduduk Azkariyah – khususnya yang tinggal diperkotaan – jadi malas dan senang bersantai-santai. Karena merasa aman dan makmur, para pembesar negerinya pun sampai tidak melakukan apapun untuk mempertahankan kekuasaan yang diwariskan oleh leluhur mereka. Begitu pun dengan militernya yang semakin dikurangi, bahkan sampai setengah dari jumlah sebelumnya. Dan kemunduran Azkariyah bahkan sudah dimulai sebelum Raja Muntanah (raja ke-35) wafat. Putra pewarisnya yang bernama Walhisamah (raja ke-36), bahkan terlalu lengah untuk bisa meredam gejolak yang mengancam keamanan negerinya.

Sungguh, akhirnya keadaan di negeri itu bertambah buruk. Penjagaan terhadap garis pantai dan perbatasan negeri sering diabaikan. Lalu dimasa tuanya, Raja Walhisamah harus mengalami banyak serangan dan pertempuran. Perang saudara pun tak bisa lagi dihindari. Kejadian ini menimbulkan kerugian dan kehancuran besar yang tak pernah diperbaiki dengan sempurna. Dan sampai Raja Walhisamah wafat, keadaan negeri tetap bergejolak (tidak stabil) dan sering terjadi pemberontakan. Ada yang ingin memisahkan diri, ada pula yang ingin menggantikan kekuasaan di Ismaliyah (ibukota kemaharajaan Azkariyah).

5. Daftar raja-raja
Sebagai kerajaan yang berdaulat, Azkariyah pernah dipimpin oleh 37 orang Silnur (maharaja) dan Silnar (maharani). Sebagian dari mereka itu adalah sosok yang mengagumkan, tapi sebagiannya lagi justru yang menjadi penyebab dari kehancuran. Begitulah perjalanan sejarah dari kerajaan besar ini, namun kini telah dilupakan.

Adapun di antara para Silnur (maharaja) dan Silnar (maharani) tersebut adalah sebagai berikut:
1. Alzimatah, bergelar Almira Asyur (bapak yang agung) -> pendiri kemaharajaan Azkariyah
2. Almuztamah
3. Alhimazah alias Napah -> membangun Candi Huramanatakah
4. Alkurahizah alias Ramishawarah -> membangun Candi Taramunakah
5. Alziyamah, bergelar Alhiram Asyur (pemimpin yang agung) -> membangun pelabuhan Min Swaunor dan ibukota Ismaliyah.
6. Alturaimah, bergelar Altasurah Asyur (penguasa lautan dan pantai yang agung) -> raja termahsyur.
7. Alsumadiyah
8. Alhimiyazah
9. Alrukalah -> membangun komplek istana Ilmarin yang sangat indah dan megah.
10. Alzimanutah
11. Rimanala -> seorang Silnar (maharani)
12. Yadiyamah
13. Azmuntanah -> membangun Candi/Piramida Sisiramunakah.
14. Bayudamah
15. Jalkatirah
16. Hemadilah
17. Lirhatamah -> membangun kota Himsauro yang indah dan moderen.
18. Qasbitarah
19. Silmunatah
20. Erhulimah
21. Multahirah
22. Isminala -> seorang Silnar (maharani)
23. Gilhatanah
24. Niyanala -> seorang Silnar (maharani)
25. Dimanuyah
26. Walsujah
27. Rwastanah
28. Kallinamah
29. Winarila -> seorang Silnar (maharani)
30. Bilturamah -> raja yang agung dan sejak dimasanya pula puncak kejayaan teknologi terjadi.
31. Saburatah
32. Waduramah
33. Simanila -> seorang Silnar (maharani)
34. Halmiyakah
35. Muntanah
36. Walhisamah
37. Usnayah -> raja terakhir Azkariyah. Dimasanya kerajaan ini pun runtuh.

Setiap penguasa di kemaharajaan Azkariyah memimpin selama lebih dari 80 tahun dan bisa dibilang sebagai kaisar yang agung. Masa pemerintahannya sangat lama, bahkan sebagian dari mereka itu ada yang memimpin sampai lebih dari 170 tahun. Itu terjadi karena mereka masih dianugerahi umur yang panjang – di atas rata-rata manusia. Karena itulah kemaharajaan Azkariyah mampu berdiri selama lebih dari 3.000 tahun. Selama itu keadaan kerajaan pun terbilang aman dan makmur, tak pernah terjadi kemiskinan. Semua berjalan lancar dan terkendali. Kecuali memang sejak di masa raja ke-36 (Walhisamah) konflik internal semakin sering terjadi dan menjadi sumber utama dari runtuhnya kerajaan ini. Usnayah sebagai raja ke-37 tak mampu lagi mengendalikan keadaan. Huru hara dan kekacauan semakin parah terjadi, banyak pemberontakan dan serangan dari kerajaan lainnya. Sehingga ia pun menjadi penguasa terakhir di kemaharajaan Azkariyah ini.

6. Keruntuhan
Pertanda akan runtuhnya kemaharajaan Azkariyah sebenarnya sudah terlihat di masa kepemimpinan Raja Muntanah (raja ke-35). Memang pada awalnya keadaan negeri masih terbilang aman dan makmur. Namun begitu, tanpa disadari sebenarnya kondisi mental di internal kerajaan sudah tidak baik lagi. Orang-orang semakin larut dengan kenikmatan duniawi yang menipu dan malas untuk bersikap waspada. Kian hari mereka semakin lengah untuk tetap menjaga kedaulatan dan mencegah bibit perpecahan atau pemberontakan bisa timbul.

Tapi apa mau dikata, semuanya pun terlambat. Di masa tuanya dan dalam kondisi yang sakit, Raja Muntanah masih harus ikut berperang untuk memadamkan gejolak di dalam negerinya sendiri. Ada banyak pertempuran yang terjadi, termasuk saat harus menghadapi pasukan para bangsawan timur yang berkoalisi dengan pesaing kemaharajaan Azkariyah; yaitu kerajaan Gulutan (sekitar Papua Barat sekarang). Meskipun bisa menang, namun dalam pertempuran itu kemaharajaan Azkariyah harus mengalami banyak kerugian. Kekuatan kerajaan yang dulunya sangat disegani mulai merosot tajam, dan kerajaan-kerajaan lain memanfaatkan keadaan ini. Mereka terus berusaha untuk bisa mengalahkan pengaruh dari kemaharajaan Azkariyah di kawasan barat Mellayusna (Nusantara) dengan berbagai cara dan taktik. Akibatnya kerajaan besar ini kian tersudut dan mengalami kemunduran.

Singkat cerita, setelah Raja Muntanah wafat di usia yang ke 263 tahun karena sakitnya, ia lalu digantikan oleh puteranya yang bernama Walhisamah. Meskipun raja ke-36 ini berusaha dengan keras, namun selama kepemimpinannya keadaan negara tetap sulit dikendalikan. Semakin banyak para bangsawan atau raja bawahan yang memberontak dan ingin memisahkan diri. Pamornya sebagai penguasa tunggal di kemaharajaan Azkariyah justru kian meredup setelah beberapa kali harus kalah dalam pertempuran. Dan puncaknya, kemaharajaan Azkariyah pun mulai terbagi-bagi dalam beberapa kubu dan wilayah.

Lalu, Raja Walhisamah harus mengalami nasib yang buruk. Ia terluka parah saat harus menghadapi serangan dari koalisi bangsawan Niltana (sekitar Kalimantan Utara dan Brunai sekarang) dengan kerajaan Ulmanak dari utara (daratan China). Meskipun mereka berhasil memukul mundur serangan itu, akibat dari pertempuran besar tersebut kerajaan Azkariyah harus kehilangan pemimpin mereka. Setelah dirawat selama seminggu, racun yang berasal dari anak panah musuh telah menyebar ke sekujur tubuh sang raja. Raja Walhisamah tak tertolong dan ia pun menghembuskan napas terakhirnya di usia yang ke 217 tahun. Tahta kerajaan lalu dilanjutkan oleh anak tertuanya yang bernama Usnayah.

Dimasa pemerintahan Raja Usnayah, kondisi kerajaan semakin memprihatinkan. Wilayah yang dulunya begitu luas telah terpecah belah menjadi beberapa bagian. Tinggallah kerajaan Azkariyah yang masih menguasai wilayah di sepanjang pantai selatan dan sebagian pantai barat Mellayusna (Nusantara). Hingga pada akhirnya benar-benar runtuh setelah mendapat serangan telak dari kerajaan Gulutan (sekitar Papua Barat sekarang) yang berkoalisi dengan kerajaan Siltura dari utara (Korea sekarang) dan Hartappa yang datang dari barat (India selatan sekarang). Ketiga kerajaan besar itu mengatur siasat jitu untuk bisa menaklukkan pusat kerajaan Azkariyah. Serangan kejutan dan tak terkira pun sudah dipersiapkan.

Mulanya pasukan kerajaan Siltura berlayar menuju ke kerajaan Gulutan untuk menyatukan kekuatan mereka disana. Setelah semuanya siap, kedua pasukan besar itu mulai bergerak dengan menumpangi ±15.000 kapal tempur menuju pusat kerajaan Azkariyah (kota Ismaliyah). Tapi sebelum sampai di tujuan, pertempuran sengit pun sempat terjadi di tengah lautan (di sekitar Samudera Hindia yang ada di dekat pulau Sumba sekarang). Itu terjadi karena disana masih terdapat armada tempur kerajaan Azkariyah yang berjaga di wilayah ujung timur kerajaan. Dalam pertempuran yang tak seimbang itu, koalisi pasukan Gulutan dan Siltura berhasil menang. Armada kapal Azkariyah dapat dihancurkan dan tak ada satupun yang tersisa. Setelah itu mereka terus bergerak menuju ke pusat kerajaan Azkariyah yang berada di sekitar Jawa bagian tengah sekarang. Disana mereka harus menghadapi armada yang terkuat milik kerajaan Azkariyah.

Di lain tempat, kerajaan Hartappa yang berada di barat (tanah India) juga bergerak mendekati negeri Azkariyah dengan armada tempur yang berjumlah ±7.000 kapal. Sesuai dengan kesepakatan, di waktu yang telah ditentukan, pasukan dari ketiga kerajaan itu langsung menggempur sistem pertahanan kota Ismaliyah dari tiga jurusan. Baik secara bergantian atau pun berbarengan, mereka akan terus menyerang tanpa jeda sehari pun dalam berbagai formasi tempur. Segala kemampuan mereka kerahkan untuk bisa menang dalam pertempuran besar itu.

Menghadapi serangan yang seperti itu, pasukan kerajaan Azkariyah tak cukup mampu untuk melawannya. Armada kapal terkuat mereka sangat kewalahan dan harus menerima kekalahan yang bertubi-tubi. Terlebih jumlah pasukan mereka saat itu memang tak sebanyak dulu, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan musuhnya. Dan meskipun sudah berjuang mati-matian, tetap saja tak dapat menandingi kekuatan dari musuhnya. Hingga pada akhirnya dalam sebuah serangan pamungkas, armada kapal tempur kerajaan Azkariyah dapat dihancurkan dan kota Ismaliyah pun dapat ditaklukkan dalam tempo ±31 hari. Setelah benteng kota Ismaliyah dapat di tembus, para pembesar kerajaan beserta penduduk kotanya terpaksa melarikan diri. Sebagian yang tertangkap lalu ditawan atau dijadikan budak, sementara yang lainnya dibantai tanpa belas kasihan. Sejak saat itulah kemaharajaan Azkariyah runtuh dan meninggalkan kenangan pahit akan kejayaannya.

Dan sebelum kota Ismaliyah berhasil di taklukkan, Raja Usnayah dan keluarganya sempat menyelamatkan diri dari pembantaian. Mereka pergi keluar kota menuju arah barat dan bersembunyi disana selama beberapa hari. Tapi malang, akhirnya mereka pun harus meregang nyawa setelah tertangkap oleh pasukan elit kerajaan Gulutan. Raja Usnayah sempat bertahan selama beberapa waktu dalam sebuah pertarungan sengit. Namun karena ia dikeroyok oleh orang-orang yang sakti, maka akhirnya harus gugur sebagai kesatria. Jasadnya lalu dibawa ke hadapan Raja Mulsasan (penguasa kerajaan Gulutan) di kota Ismaliyah, namun kemudian kepalanya di penggal dan tubuhnya dibelah menjadi empat bagian. Jasad raja yang sudah di mutilasi itu lalu dikuburkan di tempat yang berbeda sebagai peringatan dan ancaman kepada semua orang. Sungguh tragis. Dan demikianlah akhir kisah dari sebuah kerajaan besar yang sebelumnya pernah tersohor di seluruh dunia.

Catatan: Pada masa itu, model pertempurannya masih dengan cara kesatria. Artinya, mereka bertempur dengan mengadu ketangkasan dan kesaktiannya saja. Mereka benar-benar bertarung satu lawan satu dan tidak pernah menggunakan peralatan yang berteknologi canggih. Itu bukan karena mereka tak bisa membuat senjata yang canggih – lah wong mereka sudah berhasil menjelajah antar galaksi kok, tapi karena prinsip kesatria yang tetap dipegang teguh. Bagi mereka, seseorang akan dianggap sebagai kesatria jika ia bertarung dengan gagah berani tanpa bantuan alat, atau dalam artian hanya mengandalkan kemampuan olah kanuragan dan kadigdayan saja. Senjata seperti pedang, tombak, panah dan ketapel (pelontar batu) hanya sebagai pelengkap pertempuran saja. Karena itulah, pada saat itu mereka bertempur seperti gambaran pertempuran manusia di masa-masa awal abad Masehi. Tapi ini tidak lantas bisa dibilang tradisional atau bahkan primitif, karena suasana pertempurannya sangat menegangkan. Ledakan demi ledakan juga sering terjadi, dimana itu berasal dari ajian yang dikeluarkan oleh para kesatria yang hebat.

7. Akhir kisah dan pergantian zaman
Sebelum kemaharajaan Azkariyah runtuh, sebenarnya terdapat nubuwat yang sudah lama dikabarkan. Adapun mengenai asal usulnya, maka nubuwat suci itu berasal dari seorang Nabi yang bernama Umali AS. Beliau menyampaikan hal itu sehari sebelum pelantikan raja pertama di kemaharajaan Azkariyah; yang bernama Alzimatah. Di hadapan para tetua kaum, sang Nabi menyampaikan nubuwat dengan berkata: “Bahwasannya kerajaan ini akan menjadi yang tersohor dan hampir menyamai keagungan Himarida. Sangat tangguh di darat dan lautan. Dan akan dilimpahi dengan kemakmuran dan kesejahteraan selama beberapa generasi. Tapi sehebat apapun kondisinya, maka suatu saat nanti akan mengalami perpecahan dan kehancuran yang tragis. Semua disebabkan oleh sikap diri yang terlena pada kenikmatan duniawi. Lalu dengan hancurnya kemaharajaan Azkariyah, maka itulah pertanda bahwa kehidupan di Bumi ini akan mengalami pergantian (masa transisi). Zaman ini (Nusanta-Ra) akan segera berakhir dan berganti dengan yang baru (Rupanta-Ra)”

Begitulah awalnya sang Nabi menyampaikan nubuwat kepada para tetua di kemaharajaan Azkariyah. Lalu dimasa Raja Bilturamah (raja ke-30), Nabi Umali AS kembali mendatangi istana kerajaan Azkariyah. Dihadapan raja dan para pembesar kerajaan, beliau pun menyampaikan kabar masa depan dengan berkata: “Proses pergantian zaman itu akan dimulai dengan banyaknya pertanda alam seperti gerhana bulan dan matahari yang terjadi dalam setahun, juga komet (atau meteor) yang sering melintas atau terlihat jelas bahkan di siang hari. Waktu pun terasa semakin cepat berlalu, namun hanya sedikit orang saja yang menyadarinya.

Selain itu, hujan akan salah musim dan ada begitu banyak musibah seperti banjir bah (tsunami), gempa bumi, gunung meletus, angin badai, kebakaran, kekeringan, kelaparan, wabah penyakit dan pertikaian, yang datangnya silih berganti di seluruh dunia. Manusia pada masa itu akan terlena dengan kenikmatan duniawi dan mereka senang berbuat maksiat serta pembangkangan. Sifat iri, dengki, dusta, juil (gosip), pamrih, fitnah, suka berdebat, banyak bermaksiat, tidak amanah, dan curang (menipu, korupsi) adalah yang biasa mereka lakukan. Mereka juga senang dengan popularitas dan kekuasaan, sampai akhirnya lupa diri dan lupa pula dengan Tuhannya sendiri. Standar kehidupan dan ukuran kesuksesan bagi mereka saat itu adalah materi (harta dan kekayaan). Kebaikan budi, karya cipta yang bermanfaat dan agama telah diabaikan. Orang-orang semakin ingkar, egois, pemarah, senang berdebat dan dikuasai oleh angkara murka.

Maka layaklah bagi mereka itu untuk menerima hukuman yang setimpal agar kehidupan dunia ini kembali seimbang. Dan puncak dari semua itu adalah dengan datangnya bencana yang maha dahsyat. Dimana Bumi akan berguncang hebat karena dasarnya (lempengan Bumi) saling bertabrakan dan menyebabkan tanah bergulung-gulung, terbelah-belah dan terangkat lalu dijatuhkan dengan cepat dan akhirnya tenggelam. Gunung-gunung meletus keras, sementara hujan badai dan petir pun turut menyambar-nyambar dengan sangat menakutkan. Belum pernah ada yang hidup saat itu pernah menyaksikan peristiwa yang seperti itu. Sangat mencekam, karena suasana hari menjadi redup dan matahari pun ikut menghilang. Sampai pada akhirnya datang pula air yang sangat berlimpah dan menyapu semua yang hidup di permukaan Bumi. Air itu akan membersihkan semua keburukan yang ada sebelumnya, yang disebabkan oleh manusia. Tak ada yang selamat dalam peristiwa itu kecuali mereka yang sudah mempersiapkan diri atau diselamatkan oleh kekuatan besar.

Karena itulah wahai semuanya, peringatkan anak keturunanmu dari sekarang, agar mereka terhindar dari azab yang menyakitkan itu!”

Demikianlah nubuwat terakhir dari Nabi Umali AS. Dan benar, setelah 50-an tahun runtuhnya kemaharajaan Azkariyah, tak lama kemudian apa yang telah diramalkan itu mulai terjadi. Kehidupan manusia semakin memburuk dan banyak pertikaian dimana-mana. Antar kerajaan saling berlomba-lomba untuk menjadi yang paling unggul dan tak jarang pula mereka itu saling menghancurkan. Selain itu, kehidupan peradabannya pun bertambah buruk, terlebih akhlak manusia yang serasa terjun bebas. Perilaku yang sebelumnya dilarang atau dianggap tabu justru semakin banyak dikerjakan. Orang-orang semakin tak punya rasa malu lantaran senang bermaksiat (berzina, homosex, lesbian, incest (sex sedarah), bestially (sex dengan hewan), pedophilia (sex dengan anak kecil), dsb). Budi pekerti yang luhur semakin jauh dari kehidupan sehari-hari, bahkan sengaja mereka lupakan. Dan hampir setiap orang justru semakin mencintai duniawi yang semu namun lupa dengan kehidupan akherat yang abadi nanti. Yang mereka cari hanyalah materi, sehingga lupa diri dan lupa pula dengan Tuhannya sendiri. Walau pun masih ada yang kelihatan taat beribadah, tapi itu hanya sebatas formalitas belaka. Mereka itu hanya berpura-pura demi meraih sesuatu, yang ujung-ujungnya adalah materi atau popularitas. Mereka inilah golongan orang yang munafik, yang menjadikan agama hanya sebatas topeng, formalitas atau kendaraan politik belaka. Seolah-olah mereka itu adalah sosok yang sangat baik dan alim, padahal sebenarnya keji dan biadab. Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi sekarang.

Pun, banyak manusia yang telah melupakan agamanya dan tidak sedikit yang moralnya rusak parah. Kaum pria semakin banyak yang mengumbar nafsunya, sementara yang wanitanya menjadi pemancing syahwatnya. Semakin banyak pula murid yang berani melawan gurunya, sebaliknya banyak guru yang tak bisa memberikan teladan. Para orang tua lupa dengan tanggungjawabnya, sementara para anak sering mengabaikan kewajiban mereka. Begitu pula para pemimpin tak layak memimpin, sedangkan para pembesar tak seharusnya dihormati, karena mereka itu mencari nafkah atau jabatan dengan cara tidak jujur, dan banyak lagi kepalsuan, kebohongan, kejahatan, dan kezalimannya. Yang semua itu di lakukan dengan atau tanpa sadar. Pada masa ini, uang yang paling berkuasa. Semuanya bisa dibeli dengan uang. Ya, kekayaanlah yang paling diutamakan. Asalkan seseorang memiliki harta berlimpah, maka ia akan dihormati, dipuja dan berkuasa. Budi pekerti tidak lagi dihiraukan, malah orang yang pandai, shaleh dan santun akan menjadi bahan ejekan. Pada masa itu, dengan uang seseorang dapat membeli kehormatannya atau bisa dengan mudah terlepas dari jeratan hukum. Mirip sekali dengan kondisi sekarang.

Selain itu, ada hal lain yang juga miris. Dimana hukum masih ada dan dirancang dengan sangat bagusnya, tapi mereka justru lebih suka melanggarnya sendiri. Tak ada lagi kesadaran hati untuk mematuhi hukum tersebut. Karena jika ada kesempatan, mereka akan memanfaatkannya demi hasrat keinginan pribadi. Tentunya dalam hal ini akan sesuai pula dengan syahwat dan nafsu yang tidak baik. Bahkan semakin hari hukum dan aturan yang ada itu terus diakali dan dimanipulasi demi tujuan pribadi atau golongannya. Keserakahan dan kemunafikan terus menjadi-jadi, mengakar rumput dari pusat sampai ke daerah-daerah. Sehingga hukum dan aturan yang ada tak lebih hanya sebatas formalitas dan alat kepentingan saja. Sungguh buruknya akhlak manusia pada masa itu, dan sayangnya mirip pula dengan yang terjadi sekarang, khususnya di negeri ini. Ibarat sebuah penyakit, maka kerusakan yang ada kala itu sudah seperti kanker Leukimia stadium akhir dan tak bisa lagi di obati. Tak ada solusi untuk kesembuhan, sebab hanya tinggal menunggu matinya saja.

Ya. Menjelang berakhirnya periode zaman ke enam itu (Nusanta-Ra), sifat kebodohan menjadi sangat kuat dan menyelimuti pikiran umat manusia, sehingga mereka pun kehilangan minat akan hal-hal yang baik. Kekacauan dan ketimpangan dalam masyarakat semakin meningkat. Mereka terlalu dungu dan tidak bisa diajarkan pengetahuan rohani tentang tujuan sejatinya kehidupan ini. Mereka itu pintar dan berteknologi tinggi, namun tak dapat mengerti apa yang harus di lakukan dan bagaimana cara hidup yang benar. Karena itu, mereka pasti tidak bisa mengubah cara hidup mereka yang menyimpang karena kebodohan yang sangat kasar. Sehingga hampir setiap manusia pada masa itu menjadi tidak lagi berketuhanan. Mereka justru senang menghina dan memperolok-olok mereka, khususnya para Rosul, Nabi dan orang bijak yang menyampaikan risalah Tuhan. Padahal yang seperti itu hanya akan merugikan dan juga membinasakan diri mereka sendiri. Dan ini benar-benar terjadi pada mereka, tepatnya pada masa transisi zaman terjadi.

“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka Bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu lebih banyak dan lebih hebat kekuatannya [2] serta (lebih banyak) peninggalan-peninggalan peradabannya (artefak) di Bumi. Maka apa yang mereka usahakan itu[3] tidak dapat menolong mereka. Maka ketika para Rosul datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka merasa senang dengan ilmu yang ada pada mereka[4], dan mereka dikepung oleh (azab) yang dahulu mereka memperolok-oloknya” (QS. Ghafir [40] ayat 82-83)
[2] Lebih sakti dan teknologinya pun lebih canggih dari manusia sekarang.
[3] Peradaban tingginya.
[4] Merasa cukup dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki dan tidak merasa perlu dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh para Rosul. Malah mereka meremehkan dan memperolok-olok keterangan yang dibawa oleh para Rosul itu.

Makanya para penyembah Tuhan, orang shaleh, jujur, bijak, suci dan para Nabi yang masih ada menjadi manusia yang unik dan aneh dibandingkan dengan manusia pada umumnya (yang tidak berketuhanan). Sehingga mereka pun semakin terasing dan kemudian mengasingkan diri. Sampai pada akhirnya mereka lalu menghilang satu persatu sebelum transisi zaman terjadi, entah karena moksa atau sengaja berpindah dimensi untuk sementara waktu sampai pergantian zaman selesai. Ini juga mirip dengan kondisi di akhir zaman kita ini sekarang. Disadari atau tidak disadari oleh penduduk Bumi.

Karena itulah, di tengah-tengah banyaknya kekufuran itu, maka satu persatu bencana besar pun datang menghampiri penduduk Bumi, terutama yang berada di kawasan Nusantara. Mereka semua diperingatkan bahwa akan datang bencana yang maha dahsyat yang menjadi algojo pergantian zaman. Dalam “serangan” bencana itu, satu persatu negeri yang ada telah mengalami kemunduran bahkan kehancuran. Sampai pada akhirnya semuanya benar-benar musnah ketika transisi zaman pun terjadi. Dan pada masa peralihan zaman ke enam (Nusanta-Ra) menuju zaman yang ke tujuh (Rupanta-Ra) itu berlangsung, khususnya di wilayah Nusantara bagian barat mengalami bencana maha dahsyat yang langsung mengubah topografinya.

Akibat dari peristiwa itu, maka daratan yang ada di antara pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan – yang sebelumnya bersatu – bahkan sampai tenggelam dan menjadi lautan kembali. Begitu pula yang ada di antara pulau Kalimantan, Sulawesi dan Filipina juga ikut tenggelam lagi menjadi lautan. Dan tak ketinggalan sebagian besar daratan yang berada di kawasan timur juga ikut tenggelam, sebagian kecilnya saja yang masih tampak dipermukaan lautan luas dan menjadi ribuan pulau. Hal yang semacam ini pun terjadi di berbagai wilayah lainnya di muka Bumi. Semuanya merasakan betapa dahsyatnya peristiwa dalam pergantian zaman itu. Tidak ada yang selamat kecuali yang telah mempersiapkan diri dan diselamatkan oleh keadilan Tuhan – lantaran mereka tetap beriman kepada-Nya.

“……, dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasannya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat (lebih sakti dan lebih canggih teknologinya) dari padanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu di tanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka” (QS. Al-Qashash [28] ayat 78)

“Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat sebelum mereka yang telah KAMI binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Tuhan). Maka apakah mereka tidak mendengarkan?” (QS. As-Sajdah [32] ayat 26)

Ya. Saat pergantian zaman itu terjadi, Bumi bergetar sangat hebat, berguncang-guncang seperti sedang diaduk-aduk dalam penggorengan. Tak ada teknologi atau pun peralatan canggih – yang sebelumnya dibanggakan oleh manusia – yang bisa menyelamatkan diri mereka. Semuanya tiba-tiba mati dan tak berfungsi sama sekali, bahkan justru merepotkan saja. Sehingga pada saat itu begitu banyak yang menjadi korban, sebab mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya segelintirnya saja yang selamat, karena mereka telah mempersiapkan diri atau telah berpindah ke tempat lain. Bagi yang tidak, maka tak ada pilihan untuk mereka itu kecuali mati dalam kondisi yang paling mengenaskan. Mereka sangat tersiksa, karena harus melihat dan merasakan langsung dahsyatnya azab Tuhan itu.

“Dan tidakkah mereka berjalan-jalan di muka Bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan nasib orang-orang sebelum mereka padahal orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya (sangat tinggi peradabannya) dari mereka…” (QS. Fatir [35] ayat 44)

“Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah KAMI binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya (lebih sakti dan lebih canggih teknologinya) dari pada mereka ini, maka mereka (yang sudah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” (QS. Qaaf [50] ayat 36)

Namun perlu diketahui, bahwa sejak 10 tahun sebelum transisi zaman itu terjadi, muncullah sosok-sosok dari dimensi lain, termasuk mereka yang berasal dari kaum-kaum terdahulu yang telah berpindah dimensi atau pergi jauh dari Bumi kita. Mereka datang dengan berbagai cara dan metode. Ada yang terang-terangan, namun ada pula yang menyamar. Tujuan mereka hadir saat itu adalah untuk mengingatkan umat manusia, mengajarkan kepada beberapa orangnya dan membawa siapapun yang terpilih dari semua penduduk Bumi ke tempat lain. Orang-orang yang terpilih itu terdiri dari berbagai ras yang ada saat itu. Tidak banyak, karena hanya sekitar 0,1-0,5% nya saja dari setiap ras manusia – bahkan ada ras yang tidak diselamatkan lantaran kekufuran mereka yang melampaui batas, dan mereka itu akhirnya musnah. Dan karena telah berpindah tempat sebelum transisi zaman terjadi di Bumi, mereka yang terpilih itu pun selamat dan terus meningkatkan kesempurnaan dirinya. Kesadaran rohaninya sudah dibangkitkan dan menjadi sebening kristal. Mereka itulah benih-benih awal umat manusia hingga saat ini.

“Dan di antara orang-orang yang KAMI ciptakan ada umat/kaum yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat KAMI, nanti KAMI akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui” (QS. Al-‘Araaf [7] ayat 181-182)

Lalu, setelah bencana maha dahsyat itu – yang berlangsung selama satu hari penuh – usai dan keadaan di Bumi sudah normal, mereka yang selamat itu kembali ke Bumi setelah beberapa puluh tahun kemudian. Mereka pun berusaha untuk memulai kehidupannya dari awal lagi, sesuai dengan pengetahuan yang telah didapatkan dari para bijak dan yang waskita. Alam pun sangat mendukung, karena semuanya telah kembali normal seperti sedia kala dan penuh keseimbangan. Dengan begitu, mereka bisa membangun peradaban manusia lagi dalam keadaan yang lebih baik.

Selanjutnya, pada saat itu kesadaran umat manusia akan kebenaran, keharmonisan, dan kejujuran sangatlah tinggi. Budaya mereka sangat luhur, dan moralnya masih suci. Kepatuhan kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) sangat dijunjung tinggi sebagai aturan pokok kehidupan. Hampir tidak ada kejahatan dan tindakan yang melanggar aturan. Dan generasi pertama yang hidup di awal zaman ke tujuh itu (Rupanta-Ra: zaman kita ini) adalah generasi yang terbaik. Mereka tak mau mengulangi kesalahan umat manusia sebelumnya. Dalam kehidupan sehari-hari mereka mampu mencapai keharmonisan bersama meskipun banyak perbedaan, termasuk jenis rasnya. Dengan alam sekitar, mereka sangat menghormatinya dan tak ada lagi niat jahat atau ingin merusaknya. Semua orang selalu menjaga keseimbangan dunia dengan mematuhi semua hukum dan aturan dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Dengan begitu, kehidupan manusia pada masa itu terbilang sangat baik, seimbang dan sesuai dengan kodratnya sendiri sebagai makhluk yang berakal dan memiliki hati nurani.

Dan sikap yang mulia itu mereka wariskan secara turun temurun. Semuanya pun mengikuti dengan tekun dan senang hati selama beberapa generasi. Namun semua itu perlahan-lahan berubah dengan berjalannya waktu. Setelah lebih dari 2.000 tahun, kehidupan manusia kembali tak seimbang, bahkan akhirnya lebih memilukan dari periode zaman sebelumnya. Dalam banyak perang mereka telah saling menghancurkan. Memang masih ada yang memiliki peradaban, namun sebagian besarnya justru hidup dalam kebrutalan dan kebodohan (primitif). Lama kelamaan semakin tidak karuan, dan kehidupan manusia pun sampai jatuh lagi pada masa kegelapan. Butuh waktu seribu tahun lebih untuk bisa munculnya sebuah peradaban tinggi, yang dimulai kembali dari wilayah Nusantara – khususnya yang di bagian barat. Di wilayah itu, kehidupan manusia kembali normal dan teratur sebagaimana mestinya. Selanjutnya, menyusul pula berbagai peradaban besar di wilayah lainnya (Timur Tengah, Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika), satu persatu di hampir seluruh penjuru Bumi ini. Hingga pada akhirnya sampai memasuki masa kehidupan manusia di sekitar lima milenium ini. Termasuklah masa-masa kehidupan kita sekarang.

“……, dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu KAMI pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran);…..” (QS. Ali-‘Imran [3] ayat 140)

8. Penutup
Wahai saudaraku. Kehidupan di Bumi ini berlangsung sesuai dengan periode waktu yang telah ditentukan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME). Setiap zamannya itu memiliki karakter dan modelnya sendiri. Antara satu dengan yang lainnya bahkan berbeda dan memang tak bisa disama-ratakan. Lain dulu maka lain pula sekarang, begitulah faktanya. Ada masa awalnya, lalu masa pertengahan dan masa berakhirnya. Semuanya adalah bagian yang tetap dalam setiap periode zamannya, dan telah diatur dengan sangat teratur oleh Sang Maha Pencipta. Dan itu semua baru akan berakhir ketika Hari Kiamat datang.

Begitu pula dengan periode zaman kita sekarang ini (Rupanta-Ra) yang berjalan sesuai dengan hukum universal itu. Ada masa awalnya, masa pertengahan dan masa akhirnya pula. Dan sesuai dengan informasi yang telah kami dapatkan, kita sekarang ini sudah berada di akhir periode zamannya. Jadi setelah berlangsung selama ±17.000 tahun, maka cepat atau lambat akan datang masa transisi zaman – seperti yang telah dijelaskan di atas, bahkan sepertinya akan lebih dahsyat lagi dari pada itu. Azab dan bencana yang datang saat itu nanti, akan lebih mengerikan dari yang pernah terjadi sebelumnya. 2-3 kali lipatnya. Karena itulah, mari kita semakin mempersiapkan diri dan tetap eling lan waspodo (ingat/sadar diri dan waspada) dalam hidup ini.

“Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka” (QS. Al-Kahfi [18] ayat 59)

Ya. Jika mau mencermati dengan lebih seksama, maka tanda-tanda pergantian zaman ini sudah terlihat jelas di beberapa tahun belakangan. Apa yang disampaikan dalam nubuwat Nabi Umali AS itu masih bisa kita jadikan pedoman hidup saat ini. Dan lihatlah, bahwa semua yang disebutkan disana telah dan sedang terjadi di seluruh muka Bumi ini. Kita pun bisa langsung merasakannya sendiri di tempat kita masing-masing, terlebih dengan cara membuka hati dan pikiran yang terdalam. Dan bisa dibilang kita sekarang ini hanya mengulangi apa yang pernah terjadi di masa lalu, baik dan buruknya. Tinggal menunggu ending-nya saja. Disini tentunya akan sangat menyakitkan.

“Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang terdahulu sebelum mereka. Katakanlah: “Maka tunggulah, sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kamu”. Kemudian KAMI selamatkan Rosul-Rosul KAMI dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas KAMI menyelamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Yunus [10] ayat 102-103)

“……, Dan jika kamu berpaling, niscaya DIA akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu” (QS. Muhammad [47] ayat 38)

Lalu menurut pengamatan kami selama ini, semakin kesini maka kemampuan diri manusia itu semakin rendah dan sifatnya pun semakin rusak. Dan sangat disayangkan pula bahwa kini suasananya terasa lebih buruk dan terus memburuk. Kondisi dunia sudah semakin kacau dan tidak lagi seimbang. Kerusakannya – lahir dan batin – tak bisa di obati lagi, seperti penyakit kanker Leukimia stadium akhir. Dan mungkin takkan lama lagi harus mengalami apa yang pernah terjadi di masa lalu. Yaitu merasakan hukuman atas segala kekufuran dan pembangkangan. Bencana dahsyat dan azab Tuhan yang teramat perih itu akan “menyerang” tanpa pandang bulu. Berlaku bagi setiap golongan demi tegaknya keadilan yang sejati, demi kembalinya keharmonisan hidup di atas Bumi ini lagi. Sehingga tak salah jika sekarang ini kita memang sedang berada di akhir periode zaman ke tujuh, yaitu masa-masa menjelang pergantian zaman terjadi. Dan periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) akan berakhir dengan sangat tragis lalu digantikan dengan zaman yang baru nanti. Itulah zaman Hasmurata-Ra yang indah.

“Jika DIA menghendaki, niscaya dimusnahkan-NYA kamu semua wahai manusia! Kemudian DIA datangkan (umat) yang lain (sebagai penggantimu),…..” (An-Nisaa’ [4] ayat 133)

“Dan sesungguhnya telah KAMI binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar [54] ayat 51)

Untuk itu, sekali lagi kami mengajak siapapun untuk terus memperbaiki diri dan selalu patuh pada hukum dan aturan Hyang Aruta (Tuhan YME). Jangan mengabaikan hal ini dan tetaplah mempersiapkan diri sebaik mungkin; terutama ruhani. Karena tak ada yang lebih baik dari itu jika kita masih menginginkan keselamatan dan kemuliaan hidup.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung dan terselamatkan. Rahayu _/|\_

Jambi, 30 Agustus 2017
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Mungkin ada yang menganggap terlalu banyak hal yang tidak masuk akal atau terasa aneh dalam kisah ini. Maka apapun anggapan Anda itu, kami hanya akan mempersilahkannya saja. Percaya syukur, tapi kalau tidak yang silahkan. Itu adalah hak Anda sekalian dan kami takkan pernah memaksa.
2. Ada beberapa hal yang tak bisa disampaikan disini karena ada protap yang harus dipatuhi. Dan sebagaimana tulisan sebelumnya, maka kami hanya menyampaikan dan mengingatkan saja. Tidak ada tendensi apapun disini, kecuali untuk kebaikan kita bersama.
3. Angka tahun yang disebutkan di atas adalah perkiraan saja. Sulit bagi kami jika harus menentukan yang pastinya, maklum semua peristiwa itu sudah berlalu selama ribuan tahun lalu. Terlebih itu pun terjadi di periode zaman yang berbeda dari sekarang. Ada perbedaan dalam perhitungan hari dan tahunnya – karena ada perbedaan masa/pergerakan waktunya. Ada pula masa jeda antara dua periode zaman – sampai kondisi Bumi layak untuk ditinggali lagi oleh manusia – yang amat susah untuk dipastikan berapa puluh tahun-kah itu? Jadi kami hanya bisa memberikan perkiraan angka tahun yang paling mendekatinya saja. Itu pun berdasarkan informasi yang telah “beliau-beliau” sampaikan, ditambah lagi dengan hasil diskusi dan pemikiran sendiri.

Iklan

8 pemikiran pada “Azkariyah: Negeri di Penghujung Zaman

      1. oedi

        Syukurlah kalo suka dg tulisan ini, terima kasih sudah mau baca.. 🙂
        Hmm.. Kalo untuk kontak nomor Hp, maka biar adil dg yg lainnya juga, dalam hal ini belum bisa saya berikan skr. Cukuplah kita berkomunikasi lewat blog ini saja. Tapi kalo utk sekedar lebih mempererat silaturahim, silahkan saja add Facebook saya, namanya Harunata Ra.
        Sebelumnya mohon maaf.. 🙂

  1. Ping-balik: Bangsa Arya dan Kisah Peradabannya – Perjalanan Cinta

  2. Ping-balik: Hukum Keseimbangan Dunia – Perjalanan Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s