Kebenaran Yang Tersembunyi

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Dalam kehidupan ini siapa pun bisa mengalami suka dan dukanya. Tak ada yang mampu menghindarinya, karena itu sudah menjadi bagian utama dari dunia ini. Sebagai pribadi, kita harus tetap semangat dalam menjalani apa saja yang sedang dan akan terjadi nanti. Tak ada manfaatnya untuk mengeluh atau berhenti, karena berhenti sendiri akan berarti mati. Mati walau pun ragamu masih tetap dalam keadaan hidup.

Oleh sebab itu, apabila seorang hamba mengalami kesulitan, maka yang pertama kali ia lakukan adalah mengatasinya dengan berupaya sendiri. Bila itu gagal, maka ia akan mencari pertolongan kepada sesamanya dan berharap akan berhasil. Namun jika itu masih tetap gagal, maka pada akhirnya ia akan mencari bantuan kepada Sang Penciptanya; Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Pengasih. Seseorang akan berdoa kepada-NYA dengan kerendahan hati dan penuh pujian yang tinggi. Setelah itu, jika ia bisa menemukan solusi – atas petunjuk-NYA, maka ia akan segera mengatasi kesulitan hidupnya itu dengan sendirian dan ia pun takkan berpaling kepada sesamanya. Demikian pula saat ia meminta bantuan dari sesamanya, maka ia takkan berpaling kepada mereka. Ia hanya akan mengingat-NYA, dan inilah hamba Tuhan yang baik.

Namun, bila kesulitan itu tak juga menemukan penyelesaian, seseorang akan memasrahkan dirinya kepada Sang Khaliq. Dan terus seperti itu di dalam setiap doa, mengadu, menangis, mengemis, dan harap-harap cemas kepada-NYA. Ia akan terus merendahkan diri dan memuji-muji-NYA sepenuh hati. Hanya saja DIA pun maha kuasa untuk membiarkan seseorang merasa letih dan jenuh dengan usaha dan doa-doanya sendiri. Apa yang menurut hamba-NYA itu sudah baik, maka DIA bisa saja untuk tidak mengabulkan apa yang diinginkan oleh hamba-NYA itu sebagai ujian. Ujian terus menerus, hingga si hamba merasa sedemikian kecewa terhadap segala fasilitas dan sarana duniawi ini. Tapi ia tak pernah berputus asa dari rahmat-NYA dan hanya berlalu dari segala sarana dan fasilitas itu, bahkan dari segala aktivitas dan upaya duniawi. Hingga pada akhirnya ia pun hanya akan bertumpu pada ruhaninya sejak saat itu. Ia pun telah mulai berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Nah, pada tingkatan ini kehendak-NYA lalu mewujud melalui sebuah perjalanan. Sang hamba akan mengalami hal-hal yang luar biasa dan belum pernah ia rasakan sendiri. Ia baru akan melihat tiada yang lain kecuali setiap kehendak-NYA saja. Dari sanalah ia akan tiba pada ke-Esa-an Tuhannya dalam tahap haqqul yaqin (tahap tertinggi dalam keyakinan sebab diperoleh setelah bisa menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati sendiri). Sebab, memang tak ada yang melakukan segala sesuatunya kecuali DIA. Tak ada penggerak dan tak ada penghenti selain DIA. Tiada manfaat dan tiada mudharat, tiada cahaya dan tiada kegelapan, tiada kebaikan dan tiada kejahatan, tiada keuntungan dan tiada kerugian, tiada yang memberi dan tiada pula yang meminta, tak ada awal dan tak ada akhir, tak ada kehidupan dan tak ada kematian, tak ada kebangkitan dan tak ada kehancuran, tak ada kelimpahan dan tak ada kemiskinan, tak ada keindahan dan tak ada pula keburukan, kecuali hanya karena-NYA saja. Semua tetap dalam kebijaksanaan-NYA. DIA-lah Sang Maha Esa dan Berkuasa atas segalanya, yang telah mengaturnya dengan sangat teratur.

Lalu, atas pemahaman itu seorang hamba baru akan menyadari bahwa dirinya itu hanyalah seperti bayi yang baru lahir di tangan seorang bidan, bagai wayang kulit ditangan dalangnya, atau bagaikan bola putih diujung tongkat pemain golf. Seperti mayat yang sedang di mandikan, seseorang tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah. Meskipun berputar-putar dan jungkir balik dalam berbagai keadaan, ia takkan berani protes dan selalu sabar. Ia hanya akan berserah diri sepenuhnya kepada DZAT yang menciptakannya meskipun sudah tak berdaya lagi. Karena dengan demikian ia baru akan lepas dari ikatan duniawi, bahkan dirinya sendiri dan melebur dalam kehendak-NYA. Inilah jalan kebenaran yang sejati.

Ya. Setelah seseorang bisa melebur dalam kehendak-NYA, ia takkan melihat kecuali Tuhannya saja. Tak ada yang diketahui dan tak ada lagi yang dipahami kecuali DIA. Jika melihat sesuatu, maka itu adalah kuasa-NYA. Jika mendengar sesuatu, maka itu adalah ilmu-NYA. Dan terberkahilah ia dengan nikmat yang tinggi itu karena kedekatan dengan-NYA. Beruntunglah ia melalui kedekatan itu, sebab kemuliaan hidup dan keridhaan-NYA menjadi terpenuhi. Selanjutnya ia hanya akan merasa enggan dan menolak segala sesuatu kecuali DIRI-NYA. Ia akan selalu rindu dan terus mengingat-NYA dalam kecintaan yang tinggi. Tumpuannya kini hanyalah kepada-NYA, sehingga ia berbusana dari cahaya-NYA dan termuliakan oleh berkah keilmuan-NYA saja. Sungguh indah sekali.

Tapi, apakah yang dijelaskan di atas sudah benar? Apakah demikian seharusnya?

Wahai saudaraku. Apa yang telah diuraikan di atas adalah tidak salah tetapi belum benar. Itu terjadi karena sejak awal sudah tidak lagi tepat adanya. Karena sebaik-baik yang perlu di lakukan itu adalah dengan menyerahkan segala urusan hanya kepada-NYA saja (tawakal). Di atas telah di jelaskan bahwa seorang hamba langsung berusaha dengan tangannya sendiri, dan ketika gagal ia akan meminta bantuan kepada sesamanya. Begitu pun seterusnya sampai pada akhirnya ia baru menyerahkan segala urusan itu hanya kepada-NYA saja dan berhasil pula memahami hakekat Tuhannya yang sejati. Nah urutan inilah yang keliru; seolah-olah Tuhan itu adalah ban serap atau baru dibutuhkan hanya jika sudah terdesak/kepepet saja. Ini sungguh keterlaluan. Karena seharusnya, apapun itu, selama hidup di atas dunia ini kita harus terlebih dulu menyerahkan semua urusan itu hanya kepada-NYA – kemudian segera berusaha dengan maksimal lalu kembali berserah diri lagi. Inilah bukti nyata jika kita sudah memuliakan DIRI-NYA. Karena yang mulia itu harusnya paling di utamakan dan terlebih dulu diingat ketimbang yang lain. Inilah bentuk cinta yang sejati.

Sungguh inilah prinsip yang benar dan jangan pernah dibalik! Kita harus tawakal (berserah diri) kepada Tuhan seumur hidup, bahkan tanpa jeda sedetik pun. Dan jangan sampai kita mengabaikan-NYA – seperti urutan proses di atas, yaitu dengan mendahulukan usaha dan makhluk dari pada tawakal kepada-NYA – padahal DIA adalah Yang Maha Kuasa dan Mulia, yang tak ada ketundukan selain kepada-NYA. Tak ada tujuan selain DIRI-NYA. Sehingga jika DIA adalah Tuhanmu, maka dahulukanlah DIRI-NYA dalam segala urusan dan dari segala sesuatunya. Jangan kau muliakan sesuatu selain DIRI-NYA. Jangan kau memulai sesuatu sebelum berserah diri dan memohon kepada-Nya. Sebab hanya DIA-lah pula yang bisa mengabulkan setiap keinginan dan membebaskan jiwamu dari segala ikatan. DIA-lah pula yang bisa memberikan petunjuk agar engkau berhasil dalam hidupmu. Dan alangkah baiknya jika dirimu senantiasa lebih dulu ber-tawakal hanya kepada-NYA.

Sehingga bersikap rendah hatilah yang sesungguhnya. Karena kemuliaan itu juga terletak pada saat menghargai dan mensyukuri keadaan yang ada. Semuanya itu (suka duka, anugerah bencana, indah jelek, dll) merupakan ujian dari-NYA yang harus diterima dengan lapang dada. Bila sesuatu telah ditentukan-NYA bagimu, tentulah sesuatu itu akan datang kepadamu disaat engkau suka atau pun tidak suka. Tugasmu adalah berserah diri dan menghilangkan ke-diri-anmu sendiri. Ikutilah setiap kehendak-NYA itu dengan ketulusan hati tanpa berpikir apa untung dan ruginya. Tetaplah sebagai hamba sahaya-NYA yang patuh dan sabar, niscaya ada kebaikannya untukmu.

Dan mari kita lebih berhati-hati serta tetap memperhatikan yang hakiki dan sejati. Jangan melakukan sesuatu yang terlihat benar padahal itu keliru. Tempatkan sesuatu itu tepat pada tempatnya agar jalan hidup kita tidak tersesat. Semoga kita termasuk golongan yang beruntung dan diselamatkan-NYA nanti. Rahayu _/|\_

Jambi, 07 September 2017
Harunata-Ra

Iklan

3 respons untuk ‘Kebenaran Yang Tersembunyi

    creativityarchitect said:
    Oktober 20, 2017 pukul 6:27 am

    Hallo

    creativityarchitect said:
    Oktober 20, 2017 pukul 6:29 am

    Tetap semangat untuk menjalani hidup ini

      oedi responded:
      Oktober 21, 2017 pukul 12:31 am

      Terima kasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s