Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Kaum Aslantinasya dan Bahasa Kuno Nusantara

Wahai saudaraku. Dalam kesempatan kali ini kami akan berbagi sedikit tentang bahasa yang pernah dipakai oleh leluhur kita, khususnya mereka yang pernah hidup di Nusantara. Bahasa yang digambarkan dalam sejarah ini adalah bahasa yang sudah punah meskipun dulu sempat menyebar luas hampir di seluruh belahan Bumi. Alasannya karena bahasa tersebut digunakan pada masa yang sudah begitu lama; milyaran tahun silam. Sehingga dengan sendirinya lalu menghilang dari ingatan manusia.

Adapun nama dari bahasa tersebut adalah Ahmur. Satu bahasa tersendiri yang berbeda dengan bahasa yang dipakai oleh Ayahanda Adam AS dan keturunannya di kota Bakkah (Makkah). Namun begitu, orang yang mengajarkan bahasa tersebut adalah keturunan langsung dari Ayahanda Adam AS sendiri. Tentunya disini hanya berdasarkan petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME), bukan atas hasrat keinginannya sendiri. Peristiwa itu terjadi beberapa waktu sebelum ia diperintahkan untuk kembali ke kota Bakkah (Makkah). Kepada kaum yang bernama Aslantinasya, tokoh yang bernama Syahil AS itu lalu mengajarkan bahasa tersebut sampai mereka benar-benar menguasainya.

Untuk lebih jelasnya, mari ikuti uraian berikut ini:

1. Awal kisah
Pada suatu malam, seorang keturunan dari Ayahanda Adam AS yang bernama Syahil diminta untuk datang ke rumah sang bapak manusia. Saat di rumah tersebut, Ayahanda Adam AS lalu menyampaikan petunjuk Ilahi yang ia terima. Beliau pun berkata: “Wahai puteraku sayang. Aku telah mendapatkan petunjuk bahwa dirimu harus mengemban tugas dalam membangun sebuah peradaban. Engkau akan mendirikan sebuah kaum yang besar namun terpisah jauh dari kami. Apakah engkau bersedia wahai puteraku sayang?”

Mendengar itu, eyang Syahil AS pun menjawab dengan berkata: “Wahai Ayahanda, diri ini bukanlah siapa-siapa. Yang hanya patuh kepada-Nya. Jika Ia menugaskan seperti itu, akan ku lakukan tanpa keragu-raguan”

Ayahanda pun tersenyum dan kembali berkata: “Wahai puteraku sayang. Sungguh beruntung dan sungguh anugerah yang luar biasa memiliki putera yang patuh atas kehendak-Nya”

Yang dibalas oleh eyang Syahil AS dengan berkata: “Wahai Ayahanda, sungguh beruntung pula diri ini menjadi puteramu dan menjalankan kehendak-Nya”

Mendengar jawaban seperti itu Ayahanda pun kembali tersenyum lalu berkata untuk menjelaskan: “Wahai puteraku sayang. Akan banyak cobaan yang kau alami nanti. Akan ada rintangan yang silih berganti. Tetapi ingatlah kepada-Nya dan berserah dirilah. Dan kaum yang akan kau pimpin itu berilah nama Aslantinasya. Manfaatkanlah ilmu yang kau pelajari disini, yang berasal dari-Nya. Dan teruslah berusaha dengan sungguh-sungguh, karena kejayaan besar akan menyertai kalian”

Demikianlah pembicaraan yang terjadi pada malam sebelum keberangkatan eyang Syahil AS menuju tempat yang kita kenal sekarang sebagai Nusantara. Ayahanda Adam AS pun telah memberikan denah lokasi dimana mereka akan tinggal dan nama kaum yang akan menetap disana; yaitu Aslantinasya. Dan sebenarnya, jauh sebelum pembicaraan di malam itu terjadi, Ayahanda Adam AS telah mengajarkan kepada eyang Syahil AS satu bahasa dan aksara baru yang kelak harus ia pergunakan sebagai alat komunikasi bagi kaumnya. Adapun nama bahasa itu adalah Arturasya, sementara aksaranya bernama Syinlatasya.

Catatan: Kepada semua keturunannya (anak, cucu, cicit, dst), Ayahanda Adam AS memanggil mereka dengan sebutan puteraku atau puteriku sayang, begitu pula dengan kebiasaan dari Ibunda Hawa AS – disini tentunya dalam bahasa mereka saat itu. Sebaliknya, pada masa itu semua keturunan mereka memanggil beliau berdua dengan sebutan ayahanda atau ibunda. Ini berlaku selama keduanya masih hidup di atas Bumi ini.

Singkat cerita, tiga hari kemudian, tepatnya di pagi harinya, eyang Syahil AS dan istrinya Mizana beserta 10 pasangan lainnya pergi meninggalkan kota Bakkah (Makkah) menuju ke arah tenggara. Tepatnya di sebuah kawasan yang kini berada di antara pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Filipina, Kamboja, Malaysia, dan Thailand, atau yang kita kenal pula sekarang dengan wilayah Laut China Selatan+Laut Karimata+Laut Jawa. Dan perlu diketahui pula, bahwa pada saat itu belum ada ketiga lautan itu, karena disana masih berupa daratan yang sangat luas. Begitu pun dengan semua kawasan Eropa, Asia, Nusantara, Australia dan New Zaeland yang pada waktu itu masih bersatu dalam satu daratan yang maha luas.

Ketika akan berangkat, Ibunda Hawa AS memberikan bekal makanan yang beliau masak sendiri kepada mereka yang akan pergi ke tempat yang baru dan berada sangat jauh di luar kota Bakkah (Makkah). Semua yang tinggal di “Induk Kota” tersebut, saat itu pun ikut mengiringi kepergian mereka dengan perasaan yang bercampur antara bangga, terharu dan sedih. Terlebih saat melihat ke-11 pasangan itu pergi dengan tidak membawa apa-apa kecuali pakaian dan peralatan untuk bertahan hidup selama di perjalanan. Mereka pun beranjak ke tempat tujuan hanya dengan berjalan kaki. Dan untuk bisa tiba di lokasi yang telah ditentukan, mereka harus menempuh waktu selama ±200 hari. Banyak pula cobaan dan rintangan yang harus di hadapi selama di perjalanan itu; seperti kekurangan air minum. Ini bisa terjadi lantaran banyak daerah yang mereka lalui saat itu merupakan perbukitan dan pegunungan berbatu, sehingga memang tidak terlalu banyak sumber air yang tersedia. Sedangkan untuk makanan, mereka tidak pernah kesulitan, karena banyak tersedia di sekitar jalur perjalanan.

Sebenarnya bisa saja mereka menggunakan kesaktian yang dimiliki untuk segera tiba di lokasi tujuan. Setiap orangnya memang telah dibekali banyak kemampuan yang luar biasa oleh Ayahanda Adam AS. Tapi mereka memilih hidup yang sesuai dengan hukum kehidupan yang umumnya berlaku di muka Bumi. Mereka tetap harus berusaha dengan sungguh-sungguh, dengan fisik dan tenaganya sendiri, untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Inilah bagian dari ujian yang pernah disampaikan oleh Ayahanda Adam AS sebelumnya. Dimana mereka pun harus tetap bersabar dan tabah dalam setiap menjalani lika-liku kehidupannya. Sebab akan banyak pelajaran, hikmah dan pengalaman hidup yang bisa didapatkan demi kemuliaan hidup. Sungguh begitu rendah hatinya diri mereka ini.

Catatan: Sebelum eyang Syahil AS dan rombongannya hijrah ke Mallayas (penamaan Nusantara kala itu) bagian barat, ada rombongan lain yang lebih dulu hijrah ke berbagai tempat di sepenjuru Bumi. Mereka juga mengemban tugas untuk mendirikan kaum dan peradabannya sendiri. Begitu pula setelah eyang Syahil AS berhijrah, tak lama kemudian menyusul pula rombongan lain yang juga diperintahkan untuk mendirikan kaum dan peradaban baru di tempat lain. Mereka-mereka inilah cikal bakal umat manusia di seluruh dunia yang berasal dari kota Bakkah (Makkah). Setiap mereka itu berbeda ras, bahasa dan adat budayanya. Hanya satu yang sama yaitu asal usul dan keyakinannya. Semua itu bersumber dari ilmu dan pengetahuan yang diajarkan oleh Ayahanda Adam AS dan Ibunda Hawa AS. Namun kemudian, seiring berjalannya waktu, beberapa dari mereka/kaum itu gagal dalam ujian hidupnya. Mereka bahkan tersesat dan akhirnya kufur atas nikmat Tuhan. Akibatnya, azab Tuhan yang sangat perih itu datang membinasakan mereka, agar keseimbangan dunia ini tetap terjaga. Sedangkan yang tetap beriman kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) masih terus menjalani kehidupannya dengan damai.

Kembali ke cerita sebelumnya. Setelah menempuh perjalanan selama ±200 hari, akhirnya mereka pun tiba di tempat yang telah ditentukan. Alasan utama mengapa lokasi itu yang dipilih adalah karena di wilayah itu telah tersedia bahan pangan yang melimpah, sumber air dan barang tambang yang juga berlimpah, iklim yang bersahabat, serta kesuburan tanah yang luar biasa. Sehingga akan sangat cocok untuk tempat membangun sebuah peradaban yang besar dan makmur. Dan memang, dikemudian hari kaum ini mampu membangun sebuah peradaban yang sangat besar, bahkan terbesar di zamannya.

Di tempat yang baru itu, mereka mulai menata kehidupan sesuai dengan yang telah di ajarkan oleh Ayahanda Adam AS selama di kota Bakkah (Makkah). Mereka membangun sebuah rumah untuk setiap pasangan dari mereka dan menatanya dengan cara membentuk lingkaran. Karena telah dibekali dengan berbagai keahlian, setiap pasangan bisa mengerjakannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Hasilnya pun bagus, sementara bahan utama yang mereka pergunakan saat itu berasal dari tanah liat, bebatuan, kayu pohon dan tanaman lainnya yang memang sangat banyak di sekitar mereka. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, mereka hanya cukup mengambilnya langsung dari alam, karena pada saat itu semuanya masih tersedia dengan berlimpah. Namun seiring berjalannya waktu dan dengan bertambah banyaknya jumlah penduduk, mereka pun mulai berternak dan bercocok tanam dengan sungguh-sungguh. Hasilnya pun berlimpah. Selanjutnya mereka mulai memanfaatkan berbagai hasil alam untuk bahan dasar kerajinan tangan dan industri.

Waktu pun terus berlalu dan pada akhirnya dari setiap pasangannya itu (10 pasangan) melahirkan dua pasang anak kembar (4 orang anak). Semuanya dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dan untuk semua anak-anak ini, terdapat sistem pengajaran yang diterapkan oleh eyang Syahil AS, yaitu dengan cara belajar sambil bermain. Di pagi hari tepatnya, beliau akan mendidik anak-anak ini untuk mengenal nama-nama dan istilah yang ada di jagat raya ini. Beliau pun memperkenalkan kepada anak-anak itu berbagai pengetahuan dasar tentang kehidupan dunia ini. Sedangkan ketika di siang atau malam harinya, mereka akan mendapatkan pelajaran langsung dari kedua orang tuanya tentang seluk beluk kehidupan ini, ilmiah dan batiniah. Maklumlah para orang tua mereka itu memang sosok yang cerdas dan punya banyak pengetahuan. Mereka telah dibekali banyak pengetahuan oleh Ayahanda Adam AS dan Ibunda Hawa AS ketika masih tinggal di kota Bakkah (Makkah). Eyang Syahil AS hanya sebatas menambahkannya saja, terlebih saat beliau telah mendapatkan petunjuk yang baru dari Hyang Aruta (Tuhan YME).

Catatan: Selama tinggal bersama kaum Aslantinasya, eyang Syahil AS tidak memiliki keturunan. Itu sudah menjadi kehendak dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Namun sebenarnya beliau sudah punya empat orang anak yang tinggal di kota Bakkah (Makkah). Itu terjadi sebelum beliau diperintahkan untuk hijrah ke Mallayas (penamaan Nusantara saat itu). Dan setelah ±1.100 tahun bersama kaum Aslantinasya, eyang Syahil AS dan istrinya Mizana diperintahkan untuk kembali ke kota Bakkah (Makkah). Selang beberapa tahun kemudian, beliau mendapatkan tugas yang lain dari Ayahanda Adam AS. Yaitu mendirikan kaum yang baru di tempat lain. Kaum tersebut bernama Halkah. Mereka diperintahkan untuk tinggal di wilayah Muartaman (sekitar Afrika bagian tengah sekarang).

Lalu, setelah beberapa tahun, maka semua anak-anak itu (40 anak) akhirnya memasuki tahapan untuk berumah tangga. Syariat yang ditetapkan untuk mereka adalah tidak boleh menikahi saudara kandungnya. Mereka boleh memilih sendiri dan menikahi saudara yang bukan sekandung dengannya (harus anak orang lain). Karena bila menikahi saudara kandungnya sendiri itu terjadi, maka sama saja dengan menikahi diri sendiri. Itu sangat bertentangan dengan hukum Tuhan dan berakibat buruk untuk garis keturunan. Sehingga dalam hal ini mereka tentu takkan mau bersikap konyol dan bodoh. Jadi, intinya aturan yang berlaku pada waktu itu sama dengan yang sudah berlaku di kota Bakkah (Makkah).

Syukurlah, semuanya tetap patuh dengan ketentuan Tuhan itu dan mereka menikah hanya dengan orang yang bukan saudara kandungnya. Setelah menikah, mereka pun membangun rumah tepat di belakang rumah kedua orangtuanya. Tak lama kemudian, setiap pasangan menikah ini lalu di karuniai anak yang tidak jauh berbeda dari orangtuanya, yaitu dua pasang anak kembar yang sehat dan rupawan. Artinya, dari 20 pasangan generasi kedua itu kemudian lahirlah 40 anak laki-laki dan 40 anak perempuan. Totalnya ada 80 anak yang lahir sehat dan rupawan di generasi ketiga kaum ini. Hal ini pun terus bertambah, bahkan sejak di generasi ke empat, maka angka kelahiran dalam kaum ini semakin meningkat. Setiap pasangan tidak hanya melahirkan dua pasang anak kembar saja (4 anak). Karena ada di antara mereka yang sampai melahirkan 3-5 pasang anak kembar (6-10 anak). Sementara jarak antara setiap kelahirannya hanya sekitar 1-3 tahun saja. Cukup singkat, sehingga hanya dalam waktu yang relatif cepat, jumlah kaum Aslantinasya ini sudah banyak. Dan tak lama kemudian mereka pun segera menata pemerintahan yang pada awalnya berbentuk ke-dewanan (dipimpin oleh para tetua kaum). Sampai pada akhirnya sistem seperti kerajaan-lah yang mereka terapkan. Seorang yang terbaik dari mereka lalu dilantik sebagai pemimpin tertinggi, yang disebut dengan Khalifayah. Istilah ini sesuai dengan petunjuk yang didapatkan dari Ayahanda Adam AS, tentunya itu pun berasal dari Hyang Aruta (Tuhan YME).

Untuk diketahui, secara fisik kaum ini bertubuh tegap+langsing+berisi dan memiliki kulit yang berwarna putih kecokelatan alias kuning langsat. Rambut mereka berwarna hitam yang berbentuk lurus atau bergelombang. Mereka berhidung mancung, sementara karakter wajahnya antara lonjong dan oval. Tentang matanya, maka warnanya adalah hitam dan bentuknya tidak sipit. Alis mata mereka tersusun rapi dan terlihat jelas/tebal, sedangkan bulu matanya lebat dan lentik. Untuk yang pria, mereka senang memelihara jenggot dan kumis namun tidak dibiarkan panjang berderai (selalu pendek dan dibentuk rapi). Khusus rambutnya, maka yang pria ini sengaja membiarkannya panjang terurai sebatas bahu atau punggung dan selalu tampak rapi. Sedangkan yang wanitanya, maka semuanya memanjangkan rambut minimal sebatas pinggang; banyak yang sengaja diurai atau diikat, namun tak sedikit pula yang dikepang. Rambut mereka ini sangat lebat dan selalu terlihat halus dan rapi, menambah kesan rupawan dalam setiap penampilannya.

Tentang pakaiannya, baik ia laki-laki maupun wanita sudah memakai bahan kain yang terbuat dari serat tanaman Gisa (semacam kapas) atau ulat Kumal (semacam ulat sutera). Semuanya mereka proses dengan cara memintal, menenun, dan menjahitnya sendiri. Hasilnya pun sangat halus, rapi dan bagus karena dikerjakan dengan hati-hati. Modelnya pun serba panjang, berjubah dan tak ada yang menampakkan aurat. Mereka juga sudah memakai sandal dan sepatu yang terbuat dari kayu atau bahan kulit hewan pilihan. Lalu dalam acara atau moment tertentu, para wanitanya juga senang memakai berbagai perhiasan (gelang, kalung, cincin, anting, dan bando) dari bahan-bahan alami atau yang sudah dibentuk khusus dari berbagai bahan pilihan seperti batu giok, emas, perak, dan titanium. Bentuknya sangat indah, karena bertahtakan intan dan permata. Begitu pula dengan yang prianya, meskipun tak seperti golongan wanita, mereka juga sering memakai perhiasan seperti cincin atau gelang tangan dari emas atau batu giok yang bertahtakan intan dan permata. Sangat menawanlah sosok mereka ini. Dan mereka pun diberikan kecerdasan khusus serta umur yang sangat panjang, bahkan sampai ribuan tahun. Sedangkan ukuran tubuh mereka pada waktu itu sangatlah besar, karena masih setinggi antara 23-25 meter. Tidak jauh berbeda dengan ukuran manusia lainnya di masa itu.

Catatan: Seiring waktu berlalu dan zaman-zaman pun terus berganti, ukuran tubuh manusia terus mengecil. Umur mereka juga semakin singkat dan masa dalam setiap periode zamannya pun terus dikurangi alias semakin pendek. Hal ini juga berlaku bagi makhluk lainnya seperti hewan dan tumbuhan – bahkan keduanya beberapa kali punah lalu digantikan dengan yang baru. Periode zaman dalam kisah ini (Purwa Duksina-Ra) adalah yang pertama dalam sejarah manusia dan berlangsung paling lama dari semua zaman yang ada. Sementara periode zaman ke tujuh sekarang ini (Rupanta-Ra) adalah yang tersingkat dibandingkan dengan semua zaman yang telah berlalu. Semua itu sudah menjadi suratan takdir yang telah ditetapkan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME). Ada maksud dan tujuannya, yang mungkin tidak semua dari kita bisa memahaminya.

3. Penggunaan bahasa
Setelah generasi kedua dari kaum Aslantinasya ini lahir, oleh eyang Syahil AS maka bahasa Arturasya mulai diajarkan dan dipakai bersamaan dengan bahasa yang telah mereka pergunakan sejak di kota Bakkah (Makkah) dulu. Seiring waktu, maka bahasa Arturasya menjadi yang utama, sementara bahasa yang dibawa dari kota Bakkah (Makkah) mulai jarang digunakan atau hanya untuk keperluan tertentu saja. Setelah 10 tahun kemudian, barulah eyang Syahil AS mengajarkan tentang aksara Syinlatasya kepada kaumnya. Dan karena mereka adalah orang-orang yang cerdas, maka hanya dalam tempo singkat mereka pun sudah menguasai bahasa dan aksara tersebut dengan sempurna. Kemampuan itu lalu diwariskan turun temurun dalam kehidupan kaum Aslantinasya.

Ya. Bahasa Arturasya adalah bahasa yang indah dan anggun. Cara pengucapannya pun sangat santun dan mendayu. Tidak bisa diucapkan dengan cara cepat atau pun kasar, karena memang akan susah untuk hal itu. Siapapun yang berbicara dalam bahasa ini diharuskan bersikap santun, pelan-pelan dan berwibawa. Jika tidak, maka akan terlihat aneh dan kurang ajar. Ini akan sangat bertentangan dengan karakter dan sikap dari kaum Aslantinasya itu sendiri.

Namun demikian, semenjak mereka banyak berinteraksi dengan kaum-kaum lainnya, maka timbul kekhawatiran jika nanti bahasa Arturasya ini akan terkontaminasi. Mereka tak ingin bahasa warisan dari Ayahanda Adam AS itu rusak karena bercampur dengan bahasa dari kaum lainnya. Karena itu, untuk keperluan eksternal mereka lalu menciptakan sebuah bahasa khusus yang diberi nama Ahmur – disini tentu berdasarkan petunjuk dari eyang Syahil AS. Bahasa ini sedikit berbeda dengan bahasa Arturasya, tapi tak meninggalkan kesan pada keanggunan dan kesopanannya. Siapapun yang menggunakan bahasa ini tetap akan terlihat berwibawa.

Singkat cerita, kaum Aslantinasya ini setidaknya menguasai tiga bahasa manusia. Pertama bahasa yang dipakai sejak dari kota Bakkah (Makkah), kedua bahasa Arturasya, dan yang ketiga adalah bahasa Ahmur. Jika bahasa Arturasya khusus digunakan secara eksklusif di antara sesama kaum Aslantinasya saja, maka bahasa Ahmur itu bisa digunakan untuk kaum lainnya. Mereka sengaja melakukan itu, karena tak ingin kemurnian dari bahasa Arturasya – yang mereka anggap sangat spesial itu – rusak oleh pengaruh bahasa lain. Sedangkan bahasa Ahmur adalah bahasa yang umum diketahui oleh kaum dan makhluk lain yang hidup di zaman itu. Bahasa ini pun sangat dikenal oleh berbagai kalangan dan mereka sering menggunakannya.

“…, Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Az-Zukhruf [43] ayat 32)

Memang bahasa Ahmur tersebut lebih mudah dipelajari, dan dikemudian hari bahkan sampai berbaur dengan banyak kata dari bahasa kaum-kaum yang ada di sekitar kawasan timur, tenggara, tengah dan selatan Bumi. Dan akhirnya bahasa Ahmur ini menjadi bahasa umum yang menyebar dari sana lalu menyusuri pantai dan lembah. Lalu karena luasnya penyebaran, maka bahasa ini juga telah digunakan sebagai bahasa penghubung oleh banyak kaum yang ada. Adapun di antara kaum-kaum tersebut seperti Husbani, Enu, Awut, Migih, Albanhiya, Delhuman, Krussedah, Ellturu, Irhilama, Gamtidu, Tamarisya, Alkariyaza, Murakahil, Eilamuc, Hargwel, Tandur, Ordorim, Millanaya, Jampisun, dan Lantanira. Kaum-kaum tersebut sangat akrab dengan bahasa Ahmur ini dan sering menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama jika mereka harus berhubungan dengan kaum lainnya. Jadi bisa dikatakan bahwa bahasa Ahmur ini pada akhirnya menjadi bahasa internasional-kawasan di masa itu.

Catatan: Di antara penduduk kaum Aslantinasya, banyak dari mereka yang bisa menguasai puluhan bahasa lainnya. Itu terjadi karena mereka telah di anugerahi kecerdasan yang luar biasa dan mudah menguasai apa saja yang mereka lihat dan dengarkan. Bahkan ada pula yang bisa menguasai setiap bahasa manusia dalam waktu sekejap setelah ia mendengar atau beriteraksi langsung dengan si pengguna bahasa tersebut. Ini pun tidak butuh waktu lama, cukup hanya beberapa menit saja dan ia sudah menguasai sepenuhnya bahasa tersebut.

Waktu pun berlalu selama puluhan ribu tahun. Kaum Aslantinasya telah membangun peradaban yang besar dan sangat maju. Ibu kota negara mereka yang bernama Aslantin dibangun dengan sangat indah. Di dalamnya telah dipenuhi dengan pepohonan yang rindang, banyak buah-buahan, taman bunga, kolam-kolam ikan dan air mancur yang jernih. Gerbang-gerbangnya ditempa dari baja putih, perak dan emas, sementara jalan-jalannya dilapisi dengan marmer putih. Gedung-gedung yang ada dibangun dengan bahan-bahan pilihan dan penuh cita rasa seni yang tinggi, lengkap dengan gaya arsitektur yang rumit dan memukau. Sehingga bangsa-bangsa yang tinggal di hutan, lembah, pengunungan dan pesisir menjadi senang sekali berkunjung kesana, semuanya terpuaskan. Karena ada banyak sekali keunggulan dari kota ini, begitu berwarna, dan penduduknya hidup dalam kebahagiaan dan kemakmuran. Mereka sangat ramah dan selalu ceria. Para pria dan wanitanya selalu bergairah dalam menjalani hidup, dan anak-anaknya bebas melepaskan canda tawa mereka saat bermain. Tidak ada kesedihan disana, karena kejayaan lahir batin sudah dicapai oleh kaum ini sejak lama.

Tapi kemudian mereka terpaksa harus berperang dengan kaum lainnya – dengan koalisi tiga kaum; Sihamal, Laburinya, dan Yuktamasir – untuk mempertahankan kekuasaan dan pengaruh. Dalam perang besar itu kaum Aslantinasya akhirnya mengalami kekalahan. Mereka tak mampu lagi bertahan dan setelah kejatuhan kota Aslantin (nama ibukota negara mereka), Hilandil sang pemimpin dari sisa-sisa kaumnya memilih untuk kembali ke barat dengan mengarungi Sur’amudiyan (penamaan Samudera Hindia kala itu). Dengan menaiki beberapa kapal, mereka lalu berlayar menyeberangi samudera luas dan berharap bahwa di tanah barat itu ada kehidupan baru yang menanti mereka.

Negeri yang dituju saat itu adalah Mistadin (di sekitar Yaman sekarang). Suatu kawasan yang pada masa itu masih diliputi oleh hutan lebat dan padang rumput yang sangat luas. Lalu ketika mendarat di kawasan itu, ternyata disana sudah banyak yang bermukim, yang sebagian orangnya masih berdarah Aslantinasya. Hanya saja sedikit di antara mereka itu yang ingat dengan bahasa Arturasya. Selain itu, ternyata sudah lama kaum Aslantinasya ini berjumlah lebih sedikit dari pada orang kebanyakan. Meskipun mereka tampil sebagai penguasa yang dihormati dan berumur lebih panjang dari umumnya manusia, mereka berjumlah semakin sedikit. Karena itulah mereka lalu menggunakan bahasa umum (bahasa Ahmur) dalam berhubungan dengan sesama mereka dan juga bangsa-bangsa lain kala itu. Bahasa ini pula yang mereka pakai dalam pemerintahan wilayah yang kemudian mereka bangun di Mistadin. Dan pada akhirnya bahasa Ahmur itu semakin diperkaya dengan kata-kata yang diambil dari bahasa Peri. Maklumlah kaum ini memang sering berinteraksi dengan bangsa Peri saat itu, khususnya dalam urusan perdagangan.

Catatan: Pada masa itu, bangsa Peri masih diizinkan hidup berdampingan dengan manusia. Meskipun keberadaan mereka sangat jauh dari tempat tinggal manusia, terkadang mereka mau menjalin hubungan langsung dengan bangsa manusia, termasuk urusan perdagangan. Tapi kemudian bangsa Peri ini diperintahkan untuk berpindah ke dimensi lain selama beberapa waktu. Lalu di zaman yang lain, mereka sempat kembali lagi ke Bumi sebanyak beberapa kali dan hidup berdampingan dengan manusia seperti sebelumnya. Sampai akhirnya mereka benar-benar menghilang dan tak pernah kembali lagi sampai hari ini, tepatnya sejak di akhir periode zaman ke enam (Nusanta-Ra). Semua itu sesuai dengan ketetapan dari Hyang Aruta (Tuhan YME).

Selanjutnya pada masa raja-raja kaum Aslantinasya memimpin di Mistadin pada periode kedua (setelah ±17.500 tahun), bahasa yang sudah lebih kompleks ini (bahasa Ahmur) kembali menyebar sampai jauh ke segala penjuru wilayah barat, tengah dan utara Bumi, bahkan di antara musuh-musuh mereka; dan semakin sering digunakan oleh kaum Aslantinasya sendiri di Mistadin. Sehingga lambat laun bahasa Arturasya menjadi langka dan hampir punah, makin tergantikan oleh pamor dari bahasa Ahmur. Hanya segelintir orang saja yang masih lancar berbicara dalam bahasa kuno itu. Mereka itu umumnya dari golongan para bangsawan, cendikiawan dan rohaniawan. Selebihnya hanya menggunakan bahasa Ahmur saja, atau juga bahasa lainnya.

Lalu, pada saat setelah terjadi perang dunia antar bangsa-bangsa penghuni Bumi, bahasa Arturasya menjadi bahasa yang kian langka dan tersembunyi. Hanya dikenal sedikit oleh orang Aslantinasya, dan sehari-hari semakin sedikit pula dipakai secara langsung di antara mereka. Adapun mereka yang masih sering menggunakan bahasa itu kebanyakan tinggal di Galhafin, serta di asrama (padepokan) para bijak Syelon yang merupakan keturunan generasi kelima dari kaum Aslantinasya. Dan rupanya bahasa itu memang terus diwariskan dari generasi ke generasi mereka sebelum kapal-kapal pimpinan Hilandil mengarungi samudera menuju barat. Karena itulah di kedua lokasi itu bahasa Arturasya masih tetap terjaga dengan baik.

Adalah hal yang mengagumkan bahwa saudara sekaum ini masih menggunakan bahasa Arturasya dengan benar dan anggun. Meskipun sudah berlalu selama puluhan ribuan tahun, mereka tetap fasih melafalkan setiap kata dalam bahasa tersebut. Karena itulah, para pembesar kaum Aslantinasya yang tinggal di Aslandin (ibukota kerajaan mereka di negeri Mistadin) ingin menyatukan diri mereka dengan menikahkan anak-anaknya dengan kelompok Galhafin tersebut. Sehingga dikemudian hari bahasa Arturasya bisa selamat dari kepunahan dan semakin banyak digunakan. Dan kaum Aslantinasya pun kembali menggunakan dua bahasa sekaligus, yaitu bahasa Arturasya dan Ahmur. Sementara bahasa yang berasal dari kota Bakkah (Makkah) memang sudah lama tak digunakan lagi, sudah terlupakan kecuali yang terserap ke dalam bahasa Arturasya dan Ahmur. Dan karena lebih mudah untuk dipelajari, bahasa Ahmur pun kembali menyebar luas dan dipakai di banyak negeri. Terlebih saat kaum Aslantinasya ini bisa kembali menjadi kiblat peradaban dunia, maka bahasa Ahmur itu lebih cepat menyebar kemana-mana dan menjadi bahasa internasional lagi.

Ya. Saat berbicara dalam bahasa Arturasya, seseorang harus dalam ekspresi kesopanan. Meskipun terkadang harus menggerakkan tangan, kepala atau pun tubuhnya, maka saat berbicara siapapun harus tetap dalam sikap yang tenang dan anggun. Kata-kata yang diucapkan harus dalam tempo yang pelan, sedikit berirama dan mendayu sendu. Suara yang dikeluarkan dari mulut tetap jelas dan terdengar mengalun indah, tanpa ada yang terasa kasar atau pun terlalu cepat. Senyuman akan sering di lakukan saat berbicara atau ketika sedang diam dihadapan lawan bicara (karena sedang mendengarkan ia berbicara). Tidak ada sikap yang tergesa-gesa atau memotong pembicaraan orang. Itu sungguh tidak sopan dan tak sesuai dengan sifat dan karakter dari kaum Aslantinasya.

Sungguh, kaum ini sangat berwibawa dan anggun. Tapi meskipun begitu, mereka itu sebenarnya tetaplah para kesatria yang tangguh. Dan jika terdesak, maka pertempuran hanya akan dianggap sebagai permainan biasa. Mereka tak pernah takut pada kematian atau mundur dalam perang; kecuali ada alasan tertentu seperti ingin menyelamatkan kaumnya. Ya seperti yang pernah di lakukan oleh Hilandil saat kota Aslantin hancur akibat perang besar. Dan pada setiap kali pertempuran terjadi, biasanya kaum ini akan lebih unggul dan menang. Semua terjadi karena selain pintar, mereka ini juga sakti mandraguna.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini diberikan contoh kalimat dalam bahasa Arturasya. Yaitu:

“Urn hiyaanisya basuldah, kamiiyalasya mar’amun sih damtaahira. Yaa haniyasya, lan syariika ilhamtaril”

Kemudian, tak jauh berbeda dengan bahasa Arturasya dan terlebih karena terpengaruh dari sikap dan kosakata bangsa Peri yang banyak memengaruhi bahasa ini, maka bahasa Ahmur juga harus diucapkan dalam nada yang pelan dan halus – meskipun tak se-pelan dan se-halus pengucapan dalam bahasa Arturasya. Tak dibenarkan berbicara dengan cepat atau pun kasar, karena itu akan terlihat aneh dan kurang ajar. Harus dalam sikap yang sopan dan anggun. Berikut ini adalah contoh kalimatnya:

“Huwan umbari arnakh, gallikan erenaa biyanti. Riim sudamin vile, asyikan hellah saburatan”

Demikianlah sedikit contoh dari kedua bahasa tersebut. Jika tidak cermat mengamati, maka sekilas akan terlihat sama. Padahal ketahuilah bahwa sesungguhnya keduanya itu sangat berbeda. Maklum kedua bahasa itu memanglah bahasa yang berlainan. Atau bisa dikatakan bahwa perbedaan dari keduanya itu sama dengan perbedaan antara bahasa Kawi (bahasa Jawa kuno yang mati) dengan bahasa Jawa baru (yang dipakai sampai sekarang), atau juga seperti bahasa Melayu tua (yang sudah punah) dengan bahasa Melayu muda (yang masih digunakan sekarang). Keduanya ada kemiripan tapi sangat banyak perbedaannya, baik kosakatanya atau pun sikap dan cara berbicaranya.

Jadi, antara bahasa Arturasya dan Ahmur ini terdapat banyak kata dan istilah yang berbeda, meskipun ada juga beberapa yang tetap mirip dan sama. Itu bisa terjadi, karena keduanya pun telah menyerap beberapa kata dan istilah yang ada dalam bahasa yang telah mereka bawa dari kota Bakkah (Makkah). Atau juga disebabkan bahasa Ahmur itu telah menyerap berbagai kata dan istilah dalam bahasa Asturasya. Maklumlah, yang menggunakan kedua bahasa ini adalah kaum yang sama.

Catatan: Terjemahan dari kedua contoh kalimat di atas tidak bisa kami sampaikan disini. Dan khususnya untuk detil bahasa dari kota Bakkah (Makkah) juga tidak bisa kami jelaskan disini. Ada protap yang harus dipatuhi. MAAF.

4. Akhir kisah
Waktu pun terus berlalu selama ratusan ribu tahun. Adapun kaum Aslantinasya dan kedua bahasanya tetap bertahan selama lebih dari 750.000 tahun. Namun tak dapat dihindari lagi, bahasa Arturasya itu pada akhirnya harus menghilang dan tak dipergunakan lagi. Tinggallah bahasa Ahmur yang masih sering digunakan dibanyak negeri, yang tentunya dengan beberapa perubahan atau penambahan kosakatanya. Orang-orang merasa bangga dan berkelas jika ia menggunakan bahasa ini. Bahkan bahasa Ahmur telah menjadi bahasa utama atau setidaknya sebagai bahasa pengantar yang digunakan oleh banyak kaum di masa itu. Adapun kaum-kaum tersebut seperti Euril, Un, Mahris, Darlim, Islandir, Mewahtah, Gilgalate, Asmuntali, Vorlun, Herupadan, Hijayamanik, Prahiyang, Liste, Qushbab, Rielda, Jorheth, Innayabasa, Kashudarin, Chinlu, Bhirtabul, Artha, Wis’arunta, Zarhigama dan Nindiyalas. Mereka ini tinggal diberbagai wilayah dan belahan Bumi pada masa itu.

Meskipun berbeda ras atau hidupnya dikawasan yang berjauhan, kesemua kaum itu memiliki kemiripan yang kental dalam tata bahasanya. Hanya saja memang terkadang jelas berbeda antara gaya dan logat bicaranya. Itu disebabkan oleh pengaruh yang kuat dari bahasa awal (bahasa ibu) yang mereka miliki sebelumnya. Seperti halnya orang Batak atau orang Jawa atau orang Bali atau orang Bugis atau orang Papua yang berbicara dalam bahasa Indonesia. Kelima suku tersebut punya logat dan ciri khas yang berbeda meskipun sama-sama berbicara dalam bahasa Indonesia.

Ya. Pudarnya penggunakan bahasa Arturasya mulai terjadi sejak begitu banyaknya penduduk negeri Aslandin (nama negara kaum ini) yang memilih untuk berpindah ke dimensi lain. Dengan sendirian atau pun berkelompok, semakin banyak dari mereka ini yang menghilang dari muka Bumi dengan cara moksa atau berpindah tempat (dimensinya). Tinggallah mereka yang masih harus menyelesaikan tugasnya di Bumi. Namun ketika merasa cukup, mereka pun memilih untuk segera berpindah ke dimensi lain. Tidak hanya ke satu dimensi saja, tapi ke banyak dimensi yang ada di alam goib sana. Tergantung kesaktian dan hak mereka masing-masing.

Atas peristiwa itu, lama kelamaan kaum Aslantinasya yang tersisa – yang berdarah murni – semakin sedikit. Sebagian besar dari mereka telah bercampur dengan kaum lainnya, dari ras yang berbeda. Tinggallah segelintir orang saja yang masih berdarah murni dan menguasai bahasa Arturasya itu dengan baik. Mereka ini pun akhirnya memilih pergi dari tanah Mistadin (sekitar Yaman sekarang) untuk kembali ke negeri leluhur mereka di Mallayas (penamaan Nusantara kala itu). Sampai kemudian, setelah generasi ketiga mereka lahir, mereka pun memilih untuk ikut berpindah ke dimensi lain.

Di kemudian hari, keturunan mereka ini sempat mendirikan kerajaan yang baru bernama Aslani (di sekitar Laut Jawa sekarang), tapi tak berlangsung lama; cuma ±13.000 tahun saja. Itu disebabkan mereka pun akhirnya diperintahkan untuk berpindah ke dimensi lainnya. Sehingga semakin langka-lah orang yang menguasai bahasa Arturasya. Yang tersisa dari mereka adalah keturunannya yang bukan berdarah murni dan sangat jarang yang memahami bahasa itu, bahkan akhirnya tak pernah lagi menggunakan bahasa tersebut. Mereka ini telah bercampur dengan kaum lainnya, dan tersebar di beberapa negeri namun tetap menjadi penguasa disana. Mereka pun masih sangat disegani lantaran kemampuan dan kebijaksanaannya.

Dan mengenai bahasa Ahmur, meskipun secara resmi kaum Aslantinasya sudah tidak ada, maka dalam waktu yang cukup lama bahasa itu masih tetap bertahan – meskipun sudah begitu banyak perubahan kosakatanya karena terpengaruh bahasa lain. Namun sesuai dengan kodrat-Nya pula, maka bahasa ini pada akhirnya benar-benar langka setelah 10.000 tahun lebih digunakan pasca menghilangnya kaum Aslantinasya. Hanya sebagian kecil saja yang masih memahaminya, itu pun dalam bentuk tertentu. Tidak dipergunakan lagi dalam percakapan umum sehari-hari, mengikuti bahasa Arturasya yang sudah lebih dulu hilang. Hingga pada akhirnya benar-benar punah kecuali dalam bentuk tulisan yang terdapat di dalam naskah-naskah dan kitab-kitab kuno yang masih tersimpan sebagai koleksi dan warisan.

Catatan: Standar dan model kehidupan di masa lalu tidak sama dengan sekarang. Angka ratusan ribu tahun itu bahkan terbilang singkat bagi peradaban mereka. Dan khususnya pada periode zaman pertama itu (Purwa Duksina-Ra), maka ada banyak kaum atau kerajaan yang bahkan hidup selama jutaan tahun. Itu lumrah dan biasa saja bagi manusia dimasa itu. Sebab umur mereka saja bisa ribuan tahun. Sehingga jangan dibandingkan dengan periode zaman ke tujuh kita ini (Rupanta-Ra). Karena sekarang memanglah teramat singkat dan diri manusianya semakin lemah.

5. Penutup
Wahai saudaraku. Dari penjelasan di atas, maka terlihat jelas betapa hebat dan luar biasanya leluhur kita dulu. Mereka telah memiliki peradaban yang tinggi dan mengagumkan. Kita sekarang bahkan seperti tidak ada apa-apanya. Dari bahasanya saja, kita pun bisa langsung menilai betapa luhur kepribadian mereka saat itu. Dan seandainya masih banyak waktu serta jika diizinkan oleh-Nya, kami pun ingin menggunakan bahasa dan aksara yang pernah mereka pakai itu secara luas di antara kita. Ini adalah sebuah kehormatan, karena bisa memakai bahasa dari kaum yang sungguh luar biasa.

Dan perlu disadari juga, bahwa bahasa dan aksara itu adalah cerminan dari sebuah bangsa. Kita bisa menilai tinggi atau rendahnya peradaban suatu kaum hanya dengan mengamati bahasa yang mereka pergunakan. Semakin kompleks dan indah bahasa tersebut, itu jelas menunjukkan kepribadian bangsa yang sudah tinggi peradabannya. Hal ini takkan lekang oleh waktu, karena bahasa akan menunjukkan kualitas sebenarnya dari sebuah bangsa. Dan bangsa yang beradab itu tentunya memiliki bahasa – dan juga aksara – yang istimewa.

Semoga kita mampu berbicara dalam bahasa yang indah dan anggun sebagai cerminan kepribadian kita. Dan semoga pula tulisan ini bermanfaat. Rahayu.. _/|\_

Jambi, 24 Agustus 2017
Harunata-Ra

Catatah akhir:
1. Seperti tulisan sebelumnya, disini kami hanya sebatas menyampaikan apa yang bisa dan boleh disampaikan. Kami hanya sekedar mengingatkan kembali tanpa tendensi apapun. Percaya syukur, tapi kalau tidak ya silahkan. Itu adalah hak Anda sekalian, dan kami tidak akan memaksanya.
2. Untuk memahami tulisan ini, silahkan Anda buka dulu cakrawala pikiran dan hatimu. Karena ada hal-hal yang bertentangan dengan pemahaman umum selama ini. Lepaskanlah doktrin yang mengikat, yang mengekang kebebasanmu. Dengan begitu kau baru akan menemukan kebenaran yang sejati.
3. Tentang detil contoh bahasa Arturasya dan Ahmur, atau tentang bentuk aksara Syinlatasya, maka tidak bisa kami sampaikan disini. Ada protap yang harus dipatuhi. MAAF.

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

2 tanggapan untuk “Kaum Aslantinasya dan Bahasa Kuno Nusantara

  1. Timah kasih banyak kang yang sudah memberi sebuah dokumen leluhur nusantara,semoga ilmu anda mendapat Ridho dari Gusti Kang Moho Agung,,rahayu

    1. Rahayu juga mas Imam, terima kasih juga atas kunjungan dan dukungannya.. semoga bermanfaat.. 🙂
      Aamiin.. semoga kebaikan dan keselamatan untuk kita semua.. Semoga Hyang Aruta sudi meridhai kita.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s