Zalya: Sang Kesatria Utama

Wahai saudaraku. Pada masa dahulu, di akhir periode zaman ke enam (Nusanta-Ra) atau tepatnya di sekitar 25.000-35.000 tahun silam kisah ini pun terjadi. Satu peristiwa yang besar yang menunjukkan tingginya ego dan keserakahan manusia. Bagaimana tidak, sebab setelah peradaban mereka semakin maju dan penuh dengan kemakmuran, banyaklah dari mereka itu yang justru merasa tidak puas dan kufur nikmat. Para penguasa bahkan saling bersaing dengan berbagai cara demi menunjukkan siapa yang terbaik di antara mereka. Mereka tak peduli lagi dengan kebaikan budi dan larut dalam kesenangan duniawi. Dengan begitu, mereka bahkan merasa bisa menjadi yang terhormat dan paling mulia.

Ya. Peristiwa ini terjadi setelah wilayah Nusantara yang berada di bagian beratnya terpisah dengan benua Asia (disini karena Laut China Selatan sudah ada). Sebelum itu, atas kehendak Hyang Aruta (Tuhan YME) maka terjadilah perubahan drastis di muka Bumi. Wilayah Nusantara bagian baratnya pernah di hantam bencana dahsyat sebagai wujud pemurnian total kehidupan. Akibat dari begitu banyaknya bangsa yang kufur, maka sebagian besar manusia – khususnya yang tinggal di bagian barat Nusantara – harus tewas terkena azab Tuhan. Hanya sebagian dari mereka saja yang selamat dengan terlebih dulu hijrah ke daratan lain. Mereka inilah yang kemudian hari menjadi cikal bakal manusia yang tinggal di bagian barat Nusantara. Setelah lebih dari dua ribu tahun, keturunan mereka yang hidup menyebar di berbagai belahan dunia akhirnya kembali ke Nusantara, khususnya di bagian baratnya dan mulai membangun peradaban sekali lagi. Kisah mereka inilah yang akan kita bahas dalam tulisan ini.

1. Awal kisah
Kisah ini bermula pada saat kerajaan Gumarsati yang berada di sekitar Laut Jawa sekarang sedang berselisih dengan kerajaan Haktiram yang tinggal di sekitar Laut Karimata sekarang. Penyebab dari permusuhan itu adalah bahwa mereka sedang memperebutkan kota Syamula yang berada tepat di perbatasan negeri mereka. Mengapa sampai begitu? Sebab di kota tersebut tumbuh sebatang pohon raksasa yang merupakan pemberian dari seorang Dewa dari Kahyangan yang bernama Bhatara Hanggarisya. Pohon itu diberi nama Mustril, atau yang berarti keajaiban besar. Sudah tumbuh di kota Syamula bahkan sebelum kota itu berdiri.

Pada masa lalu, pohon itu hanya berada di halaman rumah seorang Resi yang bernama Radinaya. Sang begawan mendapatkan benih pohon keramat itu setelah ia melakukan tapa brata selama 5 tahun. Oleh Bhatara Hanggarisya, pohon itu sengaja diberikan sebagai hadiah tapi sekaligus ujian. Dan karena pohon tersebut memiliki berbagai macam khasiatnya, lambat laun akhirnya banyak orang yang tinggal di sekitarnya. Mereka yakin bahwa dengan tinggal di dekat pohon itu bisa mendapatkan keuntungan. Dan selang beberapa tahun kemudian, di sekitar rumah Resi Radinaya itu telah berkembang menjadi sebuah perkampungan. Dari perkampungan itu akhirnya menjadi sebuah kota yang makmur yang diberi nama Syamula atau yang berarti nyaman dan makmur.

Sejak ditanam oleh Resi Radinaya, pohon Mustril itu sudah berumur ribuan tahun. Tidak seperti pohon biasa, pohon keramat itu tumbuh sangat besar dan menjulang tinggi ke angkasa. Tidak ada pohon yang sebesar itu dan jenisnya pun sangat berbeda dari pohon kebanyakan. Kulit dan batang kayunya sangat keras seperti besi, sementara daunnya berwarna hijau, kuning dan merah, yang akan rontok hanya dalam waktu 10 tahun sekali. Selain memiliki keistimewaan seperti mampu memberikan kemakmuran hidup, maka pada setiap 55 tahun sekali pohon tersebut mengeluarkan buah yang ajaib. Jika di makan, siapapun akan berumur sangat panjang, tidak pernah sakit dan kekuatannya meningkat drastis.

Begitulah kisah ini dimulai. Akibat ingin menguasai pohon Mustril itu, maka sudah puluhan tahun kedua kerajaan itu (Gumarsati dan Haktiram) terus bertikai tanpa menunjukkan siapa yang menang. Sampai pada akhirnya mereka bersepakat untuk membagi dua jatah memakan buah Mustril itu di setiap kali pohonnya berbuah. Tapi masalah lain pun timbul. Akibat memakan buah dari pohon keramat itu, para raja dan bangsawan pun berumur sangat panjang, tak pernah sakit, dan kekuatannya meningkat drastis. Hal ini justru membangkitkan kesombongan pada setiap raja dan bangsawan di kedua kerajaan. Mereka tak peduli lagi dengan tata krama dan kebaikan budi. Dan akhirnya mereka kembali berperang, bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya. Semua kemampuan ilmiah dan batiniah telah mereka kerahkan sepenuhnya. Tak ada yang mau mengalah. Sehingga akibat dari pertempuran itu, kedua kerajaan ini mengalami kerugian yang sangat besar di semua lini kehidupannya, yang berujung pada kehancuran.

Kisah pun berlanjut. Menjelang azab Tuhan datang ke wilayah Nusantara bagian barat, tiba-tiba pohon keramat yang diberi nama Mustril itu layu dan akhirnya mati. Sebagian orang langsung menyadari bahwa itu adalah pertanda buruk. Yang percaya dengan isyarat itu segera menjauh untuk mencari tempat yang aman. Dan menjelang pemurnian total itu terjadi, ada beberapa orang suci yang datang memberikan kabar bahwa akan datang bencana yang sangat besar di tanah Malayaru (penamaan Nusantara saat itu). Tidak akan ada yang selamat kecuali mereka yang telah berserah diri dan mempersiapkan dirinya. Dan saran dari para orang suci itu adalah mereka yang tinggal di kedua kerajaan (Gumarsati dan Haktiram) khususnya harus segera hijrah/migrasi ke tempat lain. Sebab akan datang gempa dahsyat, gunung-gunung meletus, hujan badai dan banjir bah yang akan menenggelamkan negeri mereka. Dan benar adanya bahwa azab itu akhirnya datang dan sampai menciptakan Laut Jawa dan Laut Karimata sekaligus. Peristiwa ini pun terjadi di sekitar 35.000 tahun silam. Hanya saja kedua lautan itu sempat menjadi daratan lagi – dengan muncul ke permukaan – selama ribuan tahun karena ada perubahan gerak lempengan Bumi. Sampai akhirnya kembali tenggelam dan menjadi lautan lagi seperti yang ada sekarang.

Singkat cerita, setelah azab itu selesai dan wilayah Nusantara bagian baratnya sudah terpisah-pisah oleh lautan, mereka yang selamat lalu hidup di tanah perantauan. Di antara mereka itu ada yang masuk/tinggal di kerajaan lain, sebagian lainnya hidup di tanah tak bertuan. Disana mereka membabat hutan dan mulai membangun kehidupan kaumnya lagi dari awal. Selang beberapa ratus tahun kemudian, keturunan mereka berhasil mendirikan kerajaannya masing-masing. Ada sekitar 10 kerajaan besar dan kecil, dan ini terus bertambah seiring berjalannya waktu. Semuanya menjalin hubungan yang baik dalam urusan dagang dan diplomasi. Sampai akhirnya mereka mulai berselisih dan memilih jalan perang untuk menyelesaikan masalah.

2. Petualangan Zalya
Waktu pun berlalu tidak kurang dari 3.000 tahun. Mereka yang telah kembali dari perantauan lalu menetap di Sulayu (pulau Sumatera), Jahwina (pulau Jawa) dan Asyula (pulau Kalimantan) telah mendirikan kerajaannya masing-masing. Tidak kurang dari 20 kerajaan besar dan kecil yang ada saat itu. Awalnya mereka hidup rukun dan damai, tapi kemudian mulai berselisih. Semua itu disebabkan mereka saling berlomba untuk menjadi yang terhebat. Ajaran budi pekerti yang luhur lambat laun mereka tinggalkan. Walau tidak semuanya, banyak dari kerajaan-kerajaan itu yang bersikap angkuh dan tak mau kalah. Bila perlu mereka harus berperang demi memuaskan hasratnya pada tanah/wilayah, harta dan kekuasaan.

Dan terjadilah apa yang sebenarnya tak diinginkan oleh semua orang. Banyak dari kerajaan yang saling bertikai, sementara yang lainnya bersekutu agar memiliki kekuatan untuk menyerang musuh. Maka dimana-mana keadaan menjadi semakin runyam, gaduh dan tidak stabil. Di antara kerajaan saling curiga dan membenci. Mereka juga sering berselisih karena masalah yang sepele. Hanya karena beda negara saja seseorang bisa dimusuhi, bahkan dijebloskan ke dalam penjara tanpa pengadilan. Sebagian ada yang dibebaskan dengan membayar tebusan, sebagian lainnya tak tahu nasibnya alias hilang entah kemana. Hampir semua kerajaan melakukan itu, sehingga kehidupan mereka menjadi semakin aneh dan memilukan. Dan ini terus berlangsung selama puluhan tahun. Selama itu belum ada solusi atau sosok yang mampu mendamaikan semua pihak yang berselisih.

Ya. Kedamaian dan kesejahteraan sangat di rindukan oleh penduduk yang tinggal di semua kerajaan. Memang tak sedikit dari mereka yang serakah dan gemar berperang, tapi itu bukan berarti tak ada lagi yang berhati baik. Masih ada segelintir orang yang terus mencari dan berharap untuk bisa mendapatkan solusi bagi kedamaian hidup di tanah Malayaru (penamaan Nusantara saat itu). Dan di antara mereka itu adalah seorang pemuda desa yang tinggal di kerajaan Magayo. Sebuah negeri yang dulu berada di sekitar kabupaten Jepara, Jawa Tengah sekarang. Adapun nama dari pemuda itu adalah Zalya.

Waktu pun berlalu dan Zalya sudah melangkah jauh meninggalkan negerinya. Selama pengembaraan itu, ia pernah bertemu dengan orang-orang hebat dan berguru kepadanya. Berbagai ilmu dan pengetahuan akhirnya ia kuasai. Hingga pada akhirnya Zalya bertemu dengan seorang begawan yang bernama Resi Mangurai. Sang begawan lalu menyampaikan petunjuk yang ia terima kepada Zalya. Dalam petunjuk tersebut, sang pemuda harus berjalan ke arah timur sampai ia bertemu dengan seorang Nabi yang bernama Samuwi AS. Dari Nabi itulah sang pemuda akan mendapatkan petunjuk dan pelajaran yang lebih lengkap.

Singkat cerita, ketika berjalan ke arah timur selama 15 hari, akhirnya Zalya bertemu dengan Nabi Samuwi AS. Di lereng sebuah gunung yang bernama Ristala (sekitar pulau Bali sekarang), mereka bertemu tepat di tepi sungai jernih yang berbatu. Saat itu, dari kejauhan Zalya bisa melihat seorang pria yang sedang duduk di pinggir kali. Tanpa ragu-ragu Zalya pun segera menghampiri sosok paruh baya itu dan menyapanya dengan sopan. Sapaan itu lalu dibalas dengan salam yang lembut dari sang Nabi. Sepertinya ia memang sudah menantikan sang pemuda untuk bisa menemuinya.

Setelah bertegur sapa, Zalya lalu menyampaikan tujuannya. Katanya ia telah mendapatkan petunjuk melalui Resi Mangurai untuk berjalan ke arah timur sampai bertemu dengan seorang Nabi yang bernama Samuwi AS. Setelah berkenalan, ternyata sosok yang telah ia cari selama ini adalah orang yang ada dihadapannya. Mendengar penjelasan itu, ternyata sang Nabi sudah tahu semuanya. Karena itulah, ia langsung menawarkan kepada Zalya apakah ia mau mengikutinya? Yang dijawab langsung oleh Zalya dengan berkata: “Iya, saya akan mengikuti baginda, kemanapun itu

Setelah pertemuan itu, oleh Nabi Samuwi AS sang pemuda lalu diajak mengembara ke beberapa negeri. Disana mereka lalu mengamati dan mengambil hikmah tentang kehidupan ini. Di sela-sela pengembaraan itu, sang Nabi juga sering membekali Zalya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan. Bahkan beberapa kali sang pemuda harus melakukan tapa brata untuk menyempurnakan dirinya. Itu semua adalah bagian dari petunjuk Hyang Aruta (Tuhan YME) untuk sang pemuda sebelum ia tampil sebagai pahlawan. Dan karena Zalya adalah seorang pemuda yang berbakat, ia mampu menyerap semua pelajaran dari gurunya itu. Dengan tekun dan sabar, Zalya menuruti apapun yang disarankan oleh sang Nabi. Tanpa ragu ia pun rajin mengerjakan setiap perintah dari gurunya itu dengan tulus.

Waktu pun terus berlalu. Murid dan gurunya itu masih sering melakukan pengembaraan. Kadang mereka berlaku sebagai manusia biasa, tapi kadang jadi yang luar biasa. Lalu untuk menghemat waktu, sang Nabi memiliki mukjizat berupa tongkat yang bisa membuat dirinya atau orang yang ia inginkan berpindah tempat dalam waktu sekejap. Sejauh apapun itu pasti bisa, bahkan jika diperlukan ia juga bisa membawa seseorang untuk ikut berpindah ke dimensi lainnya. Jadi ketika tongkat itu digunakan untuk berpindah tempat, maka hanya dengan sekali menghentakkannya ke tanah akan terbukalah semacam portal berbentuk bulat yang menunjukkan tempat yang ingin di tuju. Ketika melangkahkan kaki masuk ke dalam portal itu, maka dalam waktu sekejap saja siapapun akan tiba di tempat tujuan. Sejauh apapun itu akan sama waktunya, hanya sekejap mata dan tanpa ada pengaruhnya pada tubuh. Artinya, hanya seperti kita berjalan satu langkah ke depan saja dan tanpa efek samping sedikit pun. Tapi yang semacam ini hanya di lakukan sesekali saja. Mereka lebih sering berjalan kaki untuk sampai di tujuan.

Bersama Nabi Samuwi AS, Zalya telah berkeliling dunia. Ia pernah berkunjung ke wilayah Hajirah (Timur Tengah), Mitragal (Eropa), Kisturam (Afrika), Ilmuya (Amerika), Aswali (Asia Selatan), Ragusa (Asia Tengah dan Timur), Urhasan (Australia) dan lain sebagainya. Begitu banyak pengalaman dan pelajaran hidup yang bisa ia dapatkan, terlebih ketika ia bisa membantu penduduk. Setiap bangsa memiliki ciri khasnya sendiri, ada yang baik dan ada yang kurang baik, ada yang berperadaban tinggi dan ada pula yang masih sederhana. Semuanya itu adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Dan sebagai murid dari seorang utusan Tuhan, Zalya pun dapat dengan mudah memahami itu semua dan mengambil hikmahnya bagi kehidupan.

Suatu ketika setelah mengembara selama 15 tahun lebih, Zalya diajak oleh gurunya itu untuk menyepi di gunung Mahistala (gunung Dieng sekarang, tapi di masa itu belum meletus dengan ketinggian masih sekitar ±4.556 mdpl). Disana ia diajari tentang berbagai hal, termasuk harus menjalankan tapa brata yang sulit di puncak gunung. Semuanya itu ia ikuti dengan tekun, sabar dan ikhlas. Karena itulah Zalya pun mendapatkan hasil yang sepadan. Setelah ber-tapa brata selama lebih dari 10 tahun, Zalya berpindah ke dimensi lain, tepatnya ke dimensi yang ke-7 (Ramatasyi). Disana ia bertemu dengan sosok-sosok yang menakjubkan, termasuklah para leluhurnya yang sebagian besar adalah para raja di masa lalu.

Sementara itu, Nabi Samuwi AS sudah pergi meninggalkan Zalya sebelum ia mulai ber-tapa brata. Sang guru hanya berpesan dengan berkata: “Wahai ananda Zalya, engkau harus tetap menjadi dirimu sendiri dan peka terhadap lingkungan. Perhatikanlah setiap detil yang terjadi dalam kehidupan ini dan ambillah hikmahnya. Lalu ketika dirimu mendapatkan hasil dari tapa brata-mu nanti, maka jangan pernah lupa untuk bersyukur kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) dan semakin menundukkan diri kepada-Nya. Gunakan anugerah itu hanya untuk kebaikan dan mengabdi kepada-Nya. Sebab hidup ini takkan ada artinya tanpa berserah diri kepada-Nya, atau tak berguna sama sekali bila tidak menjadi hamba-Nya yang baik. Tetaplah engkau beriman dan bersikap rendah hati serta patuh hanya kepada Dzat yang menciptakanmu. Itulah jalan hidup yang sejati”

Setelah menyampaikan itu, sang Nabi langsung raib dari pandangan. Tinggallah Zalya yang harus menjalankan tapa brata yang sulit di puncak gunung Mahistala (gunung Dieng sekarang). Dengan posisi duduk bersila lalu dilanjutkan dengan berdiri, Zalya melakukan tapa brata selama lebih dari 10 tahun. Seiring berjalannya waktu, dari dalam tubuhnya memancar aura magis yang sangat besar. Membuat siapapun yang hidup di sekitar gunung Mahistala (makhluk kasar dan halus) menjadi kagum dengan pemuda itu. Dari kejauhan mereka bisa merasakan energi yang begitu besar menyelimuti tempat dimana sang pemuda ber-tapa. Dan semua itu terjadi khususnya sejak di tahun yang ke tujuh, sampai pada akhirnya tubuh Zalya berpindah ke dimensi lain. Semua hanya atas kehendak Tuhan dan terkait dengan peran hidupnya nanti.

Pada awalnya Zalya tak menyadari bahwa tubuhnya sudah berpindah ke dimensi lain. Cukup lama ia tetap dalam posisi ber-tapa brata. Sampai akhirnya ia pun tersadar setelah mendengar suara yang memanggil namanya. Ternyata suara itu berasal dari seorang raja yang hidup di masa periode zaman kelima (Dwipanta-Ra). Ia adalah leluhur Zalya sendiri yang pernah mendirikan sebuah kekaisaran di sekitar 1.500.000 tahun sebelumnya. Kerajaan itu bernama Malgutara, yang ibukotanya dulu berada di sekitar provinsi Jambi sekarang. Sesuai dengan kedudukannya sebagai kaisar, sosok yang bernama lengkap Sri Maharaja Hamuragaya Murtayaka Bultah itu tampak sangat kharismatik dan berwibawa. Senyuman di wajahnya yang tampan terasa menyejukkan dan membuat segan siapapun yang melihatnya.

Singkat cerita, raja Hamuragaya lalu mengajak Zalya untuk berjalan-jalan di dimensi ke-7 itu. Cukup lama, membuat Zalya bisa melihat dengan detil tentang betapa indah dan uniknya kondisi yang ada disana. Ada begitu banyak hal yang sangat jauh berbeda dengan keadaan alam nyata dunia, di muka Bumi ini. Bahkan tak sedikit yang memang tidak pernah ada di Bumi ini karena model kehidupan disana juga sangat berbeda. Ada banyak jenis makhluk yang hidup disana yang tak dikenali oleh manusia biasa, dan ada pula beberapa dari bangsa manusia yang telah hidup disana. Mereka itu adalah manusia yang terpilih baik secara perorangan ataupun satu kaum. Semuanya hidup dalam kerukunan dan kepatuhan yang mutlak kepada Hyang Aruta (Tuhan YME).

Suatu ketika, raja Hamuragaya mengajak Zalya berkunjung ke sebuah negeri dimana bangsa Naga tinggal. Disana kondisi alamnya sangat unik, karena begitu banyak bukit-bukit yang menjulang tinggi berbentuk seperti jari-jari tangan. Yang lebih uniknya lagi adalah bahwa ada banyak pula bukit-bukit yang mengambang di udara namun tetap dalam kondisi stabil alias tidak berserakan. Semuanya tetap dalam posisinya masing-masing tanpa bergerak meskipun ada badai. Nah disanalah sebagian dari para Naga tersebut tinggal. Mereka juga berkeluarga yang terdiri dari orang tua dan anak-anaknya, persis seperti manusia. Adapun perilaku dari para Naga tersebut tak seperti hewan di Bumi. Mereka hidup seperti layaknya manusia, mampu berbicara dan telah membangun peradabannya sendiri. Di setiap negerinya, maka diangkatlah seorang raja yang memimpin semua Naga yang ada di negeri tersebut. Di bawah pimpinan sang raja, maka dalam kurun waktu tertentu, mereka akan berkumpul di sebuah aula yang sangat besar untuk berdiskusi dan bermusyawarah. Aula tersebut berada di sebuah pulau, tepatnya di kaki sebuah bukit yang berbatu.

Negeri para Naga yang Zalya kunjungi saat itu bernama Garsakh. Disana hidup berbagai jenis Naga, mulai dari yang hanya berkaki empat sampai yang memiliki kaki dan bersayap. Warna kulitnya juga beraneka ragam, ada yang hijau, merah, keemasan, hitam dan putih. Semua Naga tersebut mampu berbicara, punya kesaktian dan bisa terbang. Ukuran tubuh mereka beragam, ada yang sangat besar dan ada pula yang kecil. Sementara raja mereka adalah Naga yang berkulit warna putih dan bernama Hastrabiyasa. Ia adalah seorang raja yang bijak dan berwibawa. Punya kesaktian untuk mengubah wujud menjadi seperti manusia. Begitu pula sebagian dari rakyatnya juga sangat sakti dan mampu mengubah wujudnya menjadi manusia. Karena itulah negerinya selalu diliputi keamanan dan kedamaian.

Di negeri Garsakh itu Zalya diterima dengan sangat baik. Sepertinya raja dan rakyatnya telah mengetahui bahwa akan datang seorang pemuda dari bangsa manusia yang terpilih ke negeri mereka. Karena itu, beberapa waktu sebelum Zalya dan raja Hamuragaya tiba di negerinya, para Naga sudah berkumpul di aula kerajaan mereka. Semuanya hadir karena ingin menyaksikan langsung sosok pemuda yang telah lama dikabarkan. Sosok yang terpilih untuk menata kembali dunia.

Jika di perhatikan, gunung dan bukit-bukit yang ada di negeri para Naga itu berjajar membentuk lingkaran. Tepat di tengahnya ada sebuah danau yang luas, yang di bagian tengah danau itu ada sebuah pulau yang disanalah terdapat istana dan aula kerajaan. Di tempat itulah, di aula yang sangat besar itu Zalya dan raja Hamuragaya disambut dengan meriah. Mereka langsung diajak masuk ke dalam aula yang ternyata di dalamnya ada sebuah singgasana yang megah. Sejak dibuat, belum pernah ada seorang pun yang duduk di singgasana itu. Semua bisa terjadi karena memang belum ada manusia yang berhak, bahkan tak ada yang berhasil ke negeri Garsakh itu. Ini sudah menjadi suratan dari Yang Maha Kuasa.

Singkat cerita, meskipun ingin tapi sejak awal tak ada Naga yang begitu dekat posisinya dengan Zalya. Ternyata itu disebabkan akan hadir sosok-sosok mulia dari dimensi lain dari berbagai zaman. Para Naga hanya berdiri melingkari sosok pemuda pilihan itu. Dan benar, selang beberapa waktu kemudian hadirlah para raja dan Dewa-Dewi dari Kahyangan di aula para Naga itu. Mereka datang satu persatu dan membuat suasana menjadi semakin sakral.

Seorang dari mereka itu adalah Bhatara Mahisarama. Beliau lalu mewakili semua yang datang saat itu untuk berbicara. Katanya: “Wahai ananda Zalya, bersyukurlah hanya kepada Tuhanmu. Berserah dirilah kepada-Nya dan bersikap rendah hatilah selalu. Kau bukanlah siapa-siapa selain makhluk yang fana dan tak berdaya. Hanya atas izin dan kehendak-Nya saja, dirimu tetap hidup dan mendapatkan kesempatan yang baik. Tiada daya dan upaya selain hanya ingin mendapatkan ridho-Nya”

“Wahai pemuda kesatria, sudah menjadi hakmu untuk menerima hadiah. Atas petunjuk-Nya, engkau adalah orang yang dinantikan selama ini untuk memperbaiki keadaan dunia. Karena itu, sudah waktunya bagimu untuk duduk di atas singgasana itu sebagai simbol kepemimpinan. Ingat! Kau harus menjadi teladan yang baik”

Setelah mengatakan itu, dengan rasa berat Zalya lalu duduk di atas singgasana yang megah itu. Ketika duduk disana, sosok pemuda itu langsung terlihat berkharisma dan penuh wibawa. Ada pancaran cahaya dari dalam dirinya yang belum pernah dilihat sebelumnya. Tak lama kemudian Bhatara Mahisarama memasangkan mahkota di kepala Zalya. Setelah mengenakan mahkota itu, tubuh sang pemuda kian bersinar. Semua yang hadir disana merasa senang dan kagum dengan sang pemuda. Tak salah bila dialah sosok yang sudah dinantikan sekian lama. Zalya adalah pemuda yang paling layak menerima anugerah itu.

Waktu pun berlalu, beberapa sosok yang ikut hadir disana memberikan berbagai ilmu dan benda pusaka. Dan pada giliran terakhir, Bhatara Hanggarasya yang memberikan sebiji benih pohon. Setelah memberikan benih itu, sang Bhatara berkata: “Dengarkanlah wahai kesatria, bahwa benih pohon ini akan tumbuh subur dan jika dibutuhkan ia akan berbuah. Darinya akan hadir manfaat yang banyak. Tapi suatu saat nanti pohon tersebut tentu akan mati. Karena itu benihnya harus disimpan terlebih dulu agar bisa ditanam kembali. Yang bisa menyimpan benih itu hanyalah dari keturunanmu. Jika orang lain, maka takkan berhasil, sebab benih itu akan segera hancur menjadi debu. Pesankan pada anak keturunan untuk selalu menjaga benih itu. Karena di suatu saat nanti ia akan ditanam kembali oleh keturunanmu yang terpilih. Itu akan terjadi pada saat keadaan dunia sedang dipenuhi kerusakan. Ketika benih itu tumbuh, maka sejak saat itulah akan hadir kebaikan dan kejayaan”

Begitulah yang disampaikan oleh Bhatara Hanggarasya kepada Zalya. Sang pemuda pun mendengarkannya dengan penuh hikmat diiringi tetesan airmata. Dalam hatinya masih tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Zalya pun merasa tak layak menerima anugerah saat itu. Karena selama ini ia hanya menjalani hidup dengan apa adanya. Apa yang disampaikan oleh gurunya, Nabi Samuwi AS, selalu ia ikuti hanya karena percaya itulah yang terbaik baginya. Tak ada ambisi dan tak ada pula niatan yang lain, kecuali mendapatkan ridho Ilahi.

Singkat cerita, setelah pemberian bekal kepada Zalya usai dan mereka semua berbincang-bincang sebentar, tiba-tiba dari arah langit turun cahaya yang berpijar. Dari cahaya itu kemudian muncullah sosok yang bersinar terang yang ternyata adalah seorang Malaikat bernama Irham ‘Anami. Kehadirannya saat itu atas petunjuk Ilahi dan untuk memberikan sebuah peti yang berisi benda pusaka. Hadiah itu akan dipergunakan oleh Zalya untuk berjuang menegakkan ketertiban dunia. Atas izin Tuhan, takkan ada yang mampu menghalanginya.

Adapun peti tersebut terbuat dari bahan seperti titanium pada bagian bingkainya, sementara dindingnya dari emas yang berukir indah. Nama peti tersebut adalah Hamudapaksa. Di dalam peti itu ada tiga buah slot yang posisinya bertingkat dan bisa naik dan turun sesuai kehendak pemiliknya. Yang paling atas untuk meletakkan sebuah batu mustika dan mahkota, yang tengah untuk benda pusaka seperti pedang, tombak, busur panah, baju rompi, gelang, dan selendang, sementara yang paling bawah untuk menaruh kitab ilmu pengetahuan. Peti ini berbentuk segi delapan, berukuran cukup besar dan butuh empat orang untuk bisa mengangkatnya. Tapi karena peti itu juga termasuk benda pusaka, maka bagi yang berhak memilikinya ia tak perlu mengangkatnya. Peti itu bisa hilang dan muncul sesuai keinginan dari sang pemilik. Dan di kemudian hari, peti tersebut hanya bisa diwariskan secara turun temurun di keluarga Zalya saja. Siapapun anak keturunan Zalya yang terpilih untuk memilikinya akan disebut Mahipaksa.

Ya, pada saat Malaikat Irham ‘Anami tiba-tiba hadir, semua yang berada di aula bangsa Naga itu segera memberi hormat. Begitu pula saat ia berpamitan untuk kembali ke alamnya, mereka semua mencakupkan tangan di dada dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Tak lama kemudian, setelah merasa cukup, satu persatu dari sosok yang hadir di aula itu ikut berpamitan, kembali ke tempatnya semula. Dengan berat hati Zalya melepas kepergian mereka itu. Dan akhirnya tinggallah raja Hamuragaya dan para Naga yang semakin terpesona dengan sang pemuda.

Atas permintaan dari para Naga, raja Hamuragaya dan Zalya tinggal selama beberapa waktu di negeri Garsakh. Selama itu, keduanya banyak berdiskusi dengan para Naga, bahkan tak lama kemudian turut pula hadir bangsa lainnya seperti Jin, Peri, Cinturia, dan Karudasya. Mereka semua ikut bergabung dalam perbincangan itu dan saling berbagi pengetahuan. Sungguh suasana yang teramat indah, sampai akhirnya Zalya harus kembali ke Bumi. Ia harus menjalankan tugas dan peran hidupnya di dunia. Dengan rendah hati dan tetap berserah diri kepada Tuhan, sang pemuda menjalankan amanah itu dengan sungguh-sungguh.

3. Mendirikan kerajaan
Sekembalinya ke Bumi, Zalya ingin segera pulang ke kampung halamannya di kerajaan Magayo. Sudah begitu lama ia pergi meninggalkan sanak keluarganya disana. Ada rindu yang menyelimuti hatinya. Ia ingin sekali bertemu dengan kedua orang tua dan adik-adiknya. Karena itulah, selang satu hari kemudian Zalya langsung berjalan kembali ke rumahnya. Untuk mempersingkat waktu, sesekali ia menggunakan kemampuan yang dimiliki. Zalya mampu bergerak sangat cepat, bahkan terbang.

Sebenarnya bisa saja Zalya terbang dan tiba di rumahnya dalam waktu singkat, namun itu tak ia lakukan. Ia sengaja lebih banyak berjalan kaki untuk bisa mengamati kondisi negeri yang ia lewati. Apakah sudah ada perbaikan semenjak kepergiannya menyepi di gunung Mahistala (gunung Dieng sekarang) dulu. Namun ternyata tak ada perubahan yang berarti, karena justru semakin banyak kerusakan yang terjadi. Di antara kerajaan masih sering bertikai dan menimbulkan perang yang merusak kehidupan. Para pembesar negeri pun semakin larut dan kesenangan duniawi yang keliru. Akibatnya penduduk terus menderita dan selalu menjadi korban. Kehidupan dunia pun telah di ambang kehancurannya.

Lalu ketika Zalya tiba di negerinya, betapa ia terkejut. Negeri yang dulunya makmur itu kini terlihat miskin dan kumuh. Kekeringan sering melanda negeri itu sejak para pembesar kerajaannya semakin senang bermaksiat, menipu dan memeras rakyatnya. Pajak yang sangat tinggi dikenakan pada setiap warga, dan bagi yang menolak langsung di tangkap dan dijebloskan ke penjara. Dan jika ada yang berani memberontak, siapapun akan dihukum mati tanpa ada pengadilan. Hal ini jelas membuat kehidupan penduduk semakin memprihatinkan. Karena itulah Zalya langsung berkeinginan untuk memperbaiki keadaan yang pelik itu. Berperang pun akan ia lakukan demi membela hak rakyat yang telah di rampas oleh pemimpinnya sendiri.

Setibanya di kampung halaman, seketika itu juga Zalya bisa menyaksikan pemandangan yang tragis. Petugas pajak dengan keji telah memeras dan menyakiti penduduknya. Ada pula yang ingin membawa seorang gadis untuk dijadikan tawanan sampai orang tuanya mampu melunasi pajak disertai denda keterlambatannya. Melihat itu, Zalya tak bisa lagi tinggal diam. Dengan gerakan yang sangat cepat, semua prajurit yang ada saat itu telah ia pukuli. Mereka lalu diberi pilihan untuk segera bertobat atau bertarung sampai mati. Dengan tawaran itu, banyak yang segera menyerah dan ingin bertobat. Tapi ada dua orang yang justru memilih untuk bertarung. Satu persatu menyerang Zalya, tapi dengan mudahnya dikalahkan. Dan pada saat seorang dari mereka tewas, satunya lagi segera melarikan diri untuk melaporkan kejadian itu kepada komandannya. Atas laporan dari anak buahnya, sang komandan yang bernama Tagu itu lalu mengirimkan pasukan untuk menumpas Zalya. Bersama puluhan anak buahnya, maka dengan penuh keangkuhan sang komandan berangkat ke desa dimana Zalya tinggal.

Di desa yang bernama Mudaka itu, setelah membantu warga yang di peras, Zalya segera menemui keluarganya di rumah. Mereka sangat senang akhirnya Zalya bisa kembali. Terutama kedua adiknya, mereka sangat merindukan kakaknya itu. Sebab sewaktu Zalya pergi dari rumah, keduanya masih kecil-kecil. Kini mereka sudah dewasa dan menjadi pemuda yang rupawan.

Singkat cerita, keesokan harinya pasukan yang berada dibawah komando Tagu itu sudah tiba di desa Mudaka. Tanpa peringatan, mereka langsung mengobrak-abrik rumah penduduk bahkan sampai membakarnya. Alasannya untuk mencari tempat persembunyian Zalya, padahal sang pemuda tak pernah bersembunyi. Atas tindakan itu, sebagai seorang kesatria Zalya pun tak bisa diam saja. Ia langsung maju seorang diri menghadapi sepasukan bengis itu. Ketika melihat sosok Zalya, Tagu segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang. Kata “bunuh dia” adalah yang berulang kali keluar dari mulut Tagu. Pasukan yang mendengarnya pun mengikuti tanpa ragu-ragu. Mereka sama-sama telah dikuasai oleh kesombongan dan angkara murka.

Singkat cerita, hanya dalam waktu beberapa menit saja pasukan itu sudah berhasil dikalahkan oleh Zalya. Tinggal Tagu yang sebenarnya ketakutan tapi karena ego ia pun maju menghadapi Zalya. Komandan pasukan itu cukup tangguh, tapi ia tak sebanding dengan Zalya. Karena itulah pada akhirnya ia harus meregang nyawa di tangan Zalya. Bisa saja ia diampuni, tapi karena berpura-pura menyerah dan akhirnya menyerang dari belakang, oleh Zalya ia terpaksa dibunuh. Terlebih sebelum itu Zalya sudah menerima informasi dari penduduk bahwa Tagu telah berulang kali membunuh warga karena ia menolak membayar pajak yang kelewat tinggi. Disamping itu, Tagu juga pernah beberapa kali membawa gadis perawan untuk memuaskan nafsu birahinya. Sehingga mati ditangan Zalya sangat pantas baginya. Untuk manusia jahat seperti itu semua orang pun tentu setuju.

Waktu pun berlalu, warga yang melihat kehebatan Zalya segera ingin belajar kepadanya. Zalya pun senang dengan permintaan itu, tapi ia tidak serta merta mengajarkan tentang ilmu kesaktian. Terlebih dulu ia hanya membekali penduduk dengan ilmu keTuhanan dan ilmu untuk lebih mengenal diri sendiri. Hal-hal yang mendasar dalam kehidupan ini terus Zalya ajarkan kepada semua orang sampai mereka benar-benar paham tentang arti kehidupan ini. Dan itu sebagai bekal kesiapan diri mereka sebelum mempelajari ilmu kesaktian. Tanpa itu, semuanya akan berakhir sia-sia.

Karena itulah, selama beberapa waktu dan setelah banyak dibekali dengan ilmu mengenal diri dan Tuhan, sikap penduduk menjadi lebih tenang, pandai bersyukur dan terus berserah diri kepada-Nya. Mereka juga tetap bersemangat dalam upaya memperbaiki keadaan mereka yang terpuruk. Berbagai teknik pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan lalu mereka terapkan. Bagaimana cara untuk mendapatkan air yang berlimpah dan membangun irigasi yang baik pun mereka kerjakan dengan serius. Semua pengetahuan itu berasal dari Zalya yang telah banyak menimba ilmu kepada para guru dan Nabi Samuwi AS. Selain itu, Zalya juga bisa belajar dari kitab pengetahuan yang ia terima dari malaikat Irham ‘Anami. Disana terdapat banyak pengetahuan tentang berbagai disiplin ilmu. Sehingga hanya dalam waktu yang relatif singkat mereka berhasil menciptakan desa yang makmur dan sejahtera. Bahkan desa Mudaka itu akhirnya menjadi desa percontohan bagi desa-desa lainnya. Mereka mulai mengadopsi sistem yang sudah diterapkan di desa Mudaka, baik lahir maupun batinnya.

Waktu pun berlalu dan kehidupan di desa Mudaka kian makmur. Satu persatu desa yang ada di sekitarnya memilih untuk menyatukan diri dan meminta Zalya sebagai pemimpin mereka. Karena itu lambat laun desa Mudaka berubah menjadi sebuah kota yang ramai. Dan berbeda dengan kota yang lain, kehidupan di kota Mudaka laksana di surga. Selain makmur, orang-orang yang tinggal disana sangat ramah, baik hati, memiliki budi pekerti yang luhur dan sangat menghargai lingkungan hidup. Tidak ada lagi sifat iri, dengki, pamrih dan serakah. Meskipun mereka punya kemampuan lebih, tapi karena telah dibekali ilmu tentang kesejatian diri, mereka bisa hidup mulia dan sangat rendah hati. Sungguh kehidupan yang sangat indah.

Tapi hal yang seperti itu justru tak disukai oleh para pembesar kerajaan Magayo. Mereka berniat untuk menyerang kota Mudaka dan menguasai kekayaannya. Dengan pasukan yang berjumlah ±30.000 orang, raja Gabuliya lalu bergerak menuju kota tersebut. Selang dua hari berikutnya mereka sudah tiba di batas kota Mudaka. Tapi disana mereka terkejut karena telah dihadang oleh ribuan pasukan Zalya. Mereka tampak sangar dan gagah berani. Peralatan perang yang dimiliki juga tak kalah hebatnya dengan kerajaan Magayo. Semuanya mereka buat sendiri dari bahan dasar pilihan yang ada di wilayah mereka.

Dan khusus untuk senjata seperti pedang, mata tombak, mata anak panah, dan tameng, bahannya diambil dari kulit pohon Mustril yang ditanam oleh Zalya. Karena benihnya adalah pemberian dari seorang Dewa, maka hanya dalam waktu singkat pohon itu dapat tumbuh sangat cepat dan berukuran raksasa. Kulit pohonnya sangat keras melebihi besi dan tidak mudah terbakar seperti kulit kayu biasa. Bisa ditempa seperti logam dan dengan teknik tertentu, maka senjata yang dihasilkan akan sangat tajam dan kuat. Dan anehnya lagi, di beberapa waktu sebelum terjadi perang, kulit pohon Mustril itu tiba-tiba mengelupas seperti ular yang berganti kulit. Kulit pohon yang terkelupas itulah yang dijadikan bahan dasar untuk membuat senjata. Itulah salah satu keistimewaan dari pohon keramat ini.

Lalu, tanpa ada lagi perundingan, raja Gabuliya memerintahkan pasukannya untuk segera menyerang kubu Zalya. Melihat itu, Zalya dan pasukannya sudah siap berperang habis-habisan. Dan tak lama kemudian terjadilah pertarungan sengit di antara kedua pihak. Meskipun pasukan raja Gabuliya terbilang sangat banyak, tapi tak sebanding dengan kehebatan pasukan Zalya. Walau jumlah mereka lebih sedikit, pasukan dibawah komando Zalya itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia. Selama beberapa tahun, mereka telah dibekali dengan berbagai keahlian, termasuk ilmu kanuragan dan kadigdayan. Karena itu dalam waktu yang relatif singkat, mereka berhasil menyudutkan pasukan raja Gabuliya. Pasukan besar itu seperti tak bertaji lagi. Seperti macan ompong dihadapan singa yang gagah perkasa.

Dan setelah tiga jam berperang, raja Gabuliya dan pasukannya benar-benar terpuruk. Mereka semakin kocak kacir dan terlihat akan kalah. Namun demikian, rajanya tak peduli. Ia masih terus memaksakan kehendaknya pada pasukan untuk terus melawan. Tanpa memikirkan kondisi pasukan yang sudah diambang kehancuran. Melihat itu, Zalya lalu menawarkan kepada siapapun dari pasukan raja Gabuliya untuk menyerah atau bergabung dengan pasukannya. Mereka tidak akan di apa-apakan dengan syarat segera bertobat dan mau membangun negerinya lagi.

Mendengar tawaran itu, lalu ditambah dengan kabar yang mereka dapatkan tentang sosok Zalya yang bijak dan kharismatik, sebagian besar pasukan raja Gabuliya segera bergabung dengan pasukan Zalya. Dengan penuh kesadaran mereka ingin berjuang bersama Zalya dalam membangkitkan bangsanya lagi. Sementara sisanya tetap bersama sang raja kejam itu dan terus memilih jalan perang. Tapi karena ego dan kebodohan itulah mereka dapat dihancurkan dengan mudah. Tak ada yang tersisa dari pasukan itu, kecuali mereka yang menyerah akibat terluka dan bersedia menjadi tawanan. Sedangkan raja Gabuliya harus meregang nyawa setelah berduel dengan Zalya. Karena kecurangannya sendiri, akhirnya ia harus terbunuh setelah ajian yang ia lepaskan saat itu berbalik kepada dirinya sendiri. Dadanya sampai hancur terkena ajian Garhata yang dilepaskannya kepada Zalya. Namun karena sang pemuda bukanlah orang biasa, ajian itu justru berbalik kepada pemiliknya sendiri dan membunuhnya saat itu juga.

Singkat cerita, setelah raja Gabuliya tewas, maka pertempuran itu pun usai. Zalya lalu mengambil keputusan untuk pergi ke istana kerajaan Magayo bersama pasukannya. Disana mereka tak mendapatkan perlawanan yang berarti dari sisa-sisa pasukan raja Gabuliya. Karena itu, Zalya dan pasukannya itu bisa menduduki istana hanya dalam waktu yang singkat. Selanjutnya, dengan sigap Zalya melakukan perubahan total dalam sistem ketatanegaraan. Ada banyak hal yang ditata ulang dan diperbaiki. Selama tiga bulan lebih sang pemuda berada di istana kerajaan Magayo itu untuk mengatur ulang pemerintahannya. Dan setelah semuanya dirasa cukup, Zalya dan pasukannya pun segera kembali ke kota Mudaka. Hanya sekitar 1000 orang pasukannya saja yang diperintahkan untuk tinggal di ibukota kerajaan Magayo. Di antara mereka itu ada pula yang ditunjuk sebagai pejabat yang memimpin dan mengelola negara sebagai wakil dari Zalya.

Ketika di tengah perjalanan menuju kota Mudaka, Zalya merasa ada hal yang meragukan hatinya. Beberapa kali, ia dapat melihat sebuah istana yang indah yang belum pernah ia lihat sebelumnya di dunia nyata. Zalya seperti sedang diperlihatkan tentang sesuatu yang penting. Untuk memastikannya, Zalya lalu memutuskan untuk menyendiri dan melakukan semedhi. Pasukannya diperintahkan untuk beristirahat sembari menunggu sang pemuda selesai mencari petunjuk. Selama dua hari Zalya menyendiri dan ber-semedhi. Di hari yang ketiga, ia didatangi oleh gurunya dulu, Nabi Samuwi AS. Sang guru menerangkan bahwa apa yang ia lihat itu adalah kilasan dari masa depan. Istana megah yang ia lihat itu adalah apa yang seharusnya di bangun. Untuk bisa mewujudkannya, maka ia harus mendapatkan bantuan dari yang bukan manusia. Harus ada kemampuan yang luar biasa yang itu bukanlah dari tangan manusia.

Mendapatkan penjelasan itu, Zalya menjadi paham. Dan sejak saat itu pula ia berniat untuk mendirikan istana dan pusat pemerintahan sendiri. Lokasinya bukan di ibukota kerajaan Magayo tetapi di kota Mudaka. Atas saran dari gurunya, Zalya meminta bantuan dari para sahabatnya yang berasal dari bangsa Jin dan Peri untuk mewujudkan keinginan itu. Mereka itu adalah sosok-sosok yang dulu pernah berdiskusi dan berbagi pengetahuan dengan Zalya ketika ia berada di negeri para Naga (Garsakh). Semuanya pun berkenan dan membantu dengan senang hati. Tak ada alasan bagi mereka untuk menolak, karena sang pemuda telah memikat hati mereka semua.

Waktu pun berlalu. Setibanya di kota Mudaka, selang dua hari kemudian, tepatnya di hari Saha (hari pertama) bulan Guyana (bulan ke tujuh), istana dan komplek pemerintahan itu segera dibangun. Karena dikerjakan oleh bangsa Jin dan Peri, hanya dalam waktu tiga hari saja semuanya pun selesai dibangun. Hasilnya sungguh luar biasa indah dan megah. Khususnya istana raja, maka tak ada yang lebih indah dari pada itu. Berbagai bahan terbaik seperti emas, perak, titanium, batu pualam, marmer, giok, kristal, berbagai jenis permata dan batu mulia pun bertebaran dimana-mana. Semuanya dikerjakan dengan sangat rapi, halus dan memiliki cita rasa seni yang sangat tinggi. Belum ada yang pernah melihat bangunan seperti itu. Setiap gedung dan tamannya dikerjakan secara bergoyang royong oleh kedua bangsa itu (Jin dan Peri). Sehingga motif, karakter dan arsitekturnya menjadi begitu kompleks, rumit dan sangat indah. Dan sesuai dengan selera atau juga kebiasaan dari kedua bangsa tersebut, maka semua bangunan yang ada disana berukuran sangat besar, jauh melebihi ukuran standar gedung buatan manusia di zaman itu. Hanya dengan melihat ukurannya saja, semua orang sudah terpukau. Itu belum lagi bila mereka bisa melihat secara detil setiap keindahan yang ada di dalam istana rajanya. Sungguh luar biasa.

Ya. Istana dan komplek pemerintahan yang dibangun saat itu sangatlah indah dan megah. Dari semua itu, hanya ada satu yang tidak dibuat oleh bangsa Jin atau pun Peri. Itulah singgasana tempat dimana raja akan duduk memimpin kerajaannya. Dan ketika istana raja itu hampir selesai dibangun, tiba-tiba muncul kursi singgasana tepat di ruang balairung istana yang baru saja selesai dikerjakan. Ternyata kursi singgasana itu adalah kursi yang dulu pernah diduduki oleh Zalya ketika ia berada di negeri para Naga. Kursi yang bernama Ringhattasya itu datang dengan sendirinya, seolah-olah harus mengikuti tuannya. Dan memang tak ada yang lebih pantas untuk Zalya selain kursi singgasana itu. Selain bentuknya yang sangat indah, kursi tersebut juga memancarkan aura magis yang besar. Sepadan dengan Zalya, sang pemuda pilihan. Karena itu, dikemudian hari tak ada lagi raja yang bisa duduk disana. Siapapun yang melanjutkan kepemimpinan kerajaan akan duduk di kursi singgasana lain yang dibuat tepat di sampingnya. Tentu dalam hal ini baik ukuran dan bentuknya tak semegah kursi singgasana Ringhattasya itu.

Lalu, tepat dibelakang singgasana raja, terdapat satu ruangan yang khusus diperuntukkan sebagai tempat menyimpan benda pusaka kerajaan, termasuklah benih pohon Mustril. Kunci ruangan itu hanya dipegang oleh Zalya dan siapapun nanti yang meneruskan kepemimpinannya. Jadi disanalah tersimpan peti pusaka Hamudapaksa yang diberikan oleh Malaikat Irham ‘Anami. Peti dan semua isinya menjadi pusaka utama kerajaan dan hanya bisa dipakai oleh yang berhak saja. Meskipun berada di alam nyata duniawi, peti beserta benda pusaka yang tersimpan di dalamnya takkan bisa dipergunakan oleh orang yang tidak berhak. Jika memaksa, ia akan menerima akibat buruk dari kesaktian pusaka itu sendiri.

Selanjutnya, setelah komplek istana dan gedung pemerintahan itu selesai dibangun, maka sejak saat itu pula Zalya berkantor disana. Istana raja lalu diberi nama Mahyurada, sedangkan kotanya tidak lagi bernama Mudaka karena sudah diganti menjadi Himarada atau yang berarti negeri yang damai dan indah. Nama itu diambil dari nama kerajaan yang dibangun oleh Zalya dan kaumnya. Sementara itu, secara tradisi maka harus ada prosesi pelantikan (kenaikan tahta) di kerajaan Himarada. Untuk itulah, tak lama kemudian Nabi Samuwi AS datang berkunjung ke negeri itu. Atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME), beliau sendiri yang melantik muridnya itu, Zalya, untuk naik tahta sebagai raja. Pada saat proses pelantikan, tanpa di sangka-sangka sebelumnya, turut pula hadir para sosok agung dari dimensi lain. Sebagian dari mereka itu adalah yang dulu pernah bertemu dengan Zalya ketika ia berada di negeri para Naga. Di antara mereka itu seperti Bhatara Hanggarisya, Bhatara Mahisarama, Resi Mangurai, dan kaisar Hamuragaya. Selebihnya adalah para Dewa-Dewi dan raja-ratu dari masa lalu yang telah moksa.

Sungguh, suasana kenaikan tahta saat itu terasa begitu hikmat, sakral dan mengagumkan. Betapa tidak, saat itu turut pula hadir sosok agung yang sebelumnya hanya diketahui dari cerita saja. Tak ada yang pernah bertemu langsung dengan mereka kecuali Zalya dan gurunya. Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu memiliki perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa kagum, terpukau, terharu, tapi ada pula rasa segan, ngeri dan malu. Hati mereka terus bergetar sampai para sosok agung tersebut raib dari pandangan. Sementara hanya Zalya sendiri yang tidak terkejut ataupun takut. Ia sudah pernah bertemu dan merasa akrab dengan mereka. Dan ketika ia di lantik menjadi raja, sang pemuda lalu diberi nama gelar oleh mereka itu dengan sebutan Hal-Atakah atau yang berarti kesatria pilihan utama. Lalu oleh Nabi Samuwi AS, nama tersebut dilengkapi menjadi Hal-Atakah Srimantara Zalya Hagiriyama. Nama itu sepadan dengan kedudukan Zalya dan digunakan secara resmi di kerajaan Himarada sebagai simbol kebesaran dan kewibawaan.

4. Perang dan bencana besar
Kisah pun berlanjut. Sejak menjadi raja, Zalya sering dimintai bantuan untuk menyelesaikan persoalan di negeri lain. Mereka juga tertarik dengan sistem yang diterapkan di negeri Himarada. Salah satunya adalah kerajaan Raguhta. Seorang pangeran yang bernama Yahusa pun datang menemui Prabu Zalya untuk belajar dan meminta bantuan. Menurutnya, kerajaannya kini sedang berselisih dengan kerajaan Dalhamus. Pertikaian itu timbul karena raja dan para pembesar di kerajaan Dalhamus ingin menguasai tambang permata dan berlian di negeri Raguhta. Selain itu, penguasa di kerajaan Dalhamus yang bernama Babtan itu ingin pula merebut adik sang pangeran yang bernama Minalisa untuk dijadikan selirnya.

Adapun lokasi dari kerajaan Raguhta itu berada di sekitar kabupaten Bogor sekarang, sementara kerajaan Dalhamus berada di sekitar Lampung. Awalnya kedua kerajaan itu bisa hidup dengan damai dan terus menjalin hubungan dagang dengan lancar. Namun semua itu berubah sejak ditemukannya tambang permata dan batu mulia yang berlimpah di negeri Raguhta. Kerajaan Dalhamus ingin menguasai tambang itu, sekaligus menaklukkan kerajaannya dengan dalil memperluas wilayah. Dan untuk mewujudkan keinginan itu, telah berulang kali kerajaan Dalhamus menyerang kerajaan Raguhta tapi belum berhasil. Kerajaan Raguhta masih tetap bertahan dan terus memberikan perlawanan yang sengit.

Tapi tak selamanya kerajaan Raguhta mampu bertahan setelah berulang kali diserang oleh kerajaan Dalhamus. Karena bertikai selama lebih dari 5 tahun, kerajaan Raguhta akhirnya harus mencari bantuan. Nah ketika raja Hunayasa mendengar kabar tentang keberhasilan Zalya, ia langsung mengutus putranya untuk menemui raja baru itu. Di kerajaan Himarada, pangeran Yahusa segera menghadap kepada rajanya di istana Mahyurada. Dihadapan raja dan para menterinya, pangeran Yahusa lalu menceritakan semuanya. Atas nama raja dan rakyatnya, ia lalu memohon bantuan kepada penguasa kerajaan Himarada untuk menghadapi keserakahan dari raja Babtan dan pasukannya.

Mendengar penjelasan dari sang pangeran, tak butuh waktu lama bagi Prabu Zalya untuk memutuskan mengirim bantuan. Bahkan ia dan beberapa menterinya bersedia ikut berperang karena merasa itu sudah menjadi kewajiban mereka. Terlebih Prabu Zalya sendiri masih ingat dengan pesan dari para leluhurnya dulu bahwa ia harus berjuang dalam memperbaiki kondisi dunia. Jika sudah waktunya, Zalya dan pasukannya harus siap berperang demi menegakkan keadilan dan ketertiban dunia sekali lagi. Itulah panggilan tugas yang mereka rasakan baik di hati maupun di dalam pikirannya. Semua penduduk kerajaan Himarida pun mendukungnya. Mereka yakin bahwa apa yang akan di lakukan itu adalah kewajiban bersama. Menolong mereka yang kesulitan adalah tugas utama dari seorang kesatria.

Singkat cerita, raja Babtan dan pasukannya dapat di pukul mundur oleh pasukan Zalya. Karena terpaksa, raja Babtan memilih untuk mundur dan pulang ke negerinya. Tapi itu bukan berarti ia merasa kalah. Sang raja justru semakin mendendam dan segera menggalang bantuan dari kerajaan lain yang menjadi mitranya. Hasilnya ada sekitar 25 kerajaan yang mau bersekutu dan mengerahkan pasukannya untuk berperang melawan Zalya dan bala tentaranya. Ancaman itu lalu ditanggapi oleh Zalya dan semua sekutunya (yang berjumlah 17 kerajaan) dengan mengerahkan ±950.000 pasukan siap tempur. Mereka siap menghadapi serangan dari persekutuan kerajaan Dalhamus.

Dan terjadilah pertempuran besar di dekat perbatasan negeri Raguhta. Dengan pasukan sebanyak ±1.750.000 orang, koalisi kerajaan Dalhamus merasa bisa memenangkan perang dalam waktu singkat. Namun semua itu tak terbukti. Setelah bertarung selama dua hari, pasukan sebesar itu mulai terlihat kalah. Meskipun jumlah pasukannya jauh lebih banyak dari pihak Zalya, mereka seperti tak berkutik. Menghadapi strategi yang berubah-ubah dan kesaktian dari pasukan Zalya yang di atas rata-rata, tiada pilihan lain kecuali mundur untuk mengatur ulang strategi mereka.

Lalu, ada seorang raja di kubu koalisi kerajaan Dalhamus yang tampil ke depan. Raja tersebut bernama Muwartika, penguasa dari negeri Jamun. Ia termasuk raja yang paling disegani dalam koalisi kerajaan Dalhamus. Kesaktian dan kepintarannya tak perlu lagi diragukan. Dan ketika ia melihat keadaan pasukannya mulai kalah, raja Muwartika mengeluarkan kemampuan andalannya. Ia meminta bantuan dari makhluk dimensi lain. Setan-setan itu hadir dalam wujud para kesatria yang berpakaian hitam-hitam. Sebagian dari mereka itu berperawakan bagus/gagah, sementara yang lainnya justru menyeramkan. Jumlah mereka sekitar ±50.000 pasukan dan dipimpin oleh seorang panglima.

Ketika pasukan setan itu muncul di medan pertempuran, suasana menjadi gaduh. Semua orang terkejut saat melihat ada pasukan yang wujudnya sangat berbeda dari mereka. Terlebih saat mereka itu mulai menyerang, maka begitu banyak korban jiwa yang berjatuhan di pihak Zalya. Ini jelas membuat panik, karena pasukan setan itu seperti tak bisa dikalahkan. Kesaktian mereka berada di atas rata-rata pasukan Zalya. Bahkan pasukan itu bisa sembuh dengan cepat saat terluka, dan mereka juga bisa hidup kembali ketika terbunuh.

Tapi di medan perang itu ada seorang pemuda yang terpilih dan memiliki berbagai pusaka utama. Dengan kesaktian dan pusaka itu ia maju menghadapi pasukan setan itu. Dibantu oleh beberapa orang raja dan para kesatria terbaik, Zalya menghujani pasukan keji itu dengan serangan yang mematikan. Setiap setan yang terkena sabetan pedangnya tak bisa pulih dan akhirnya tewas. Sehingga ini membuat panglima pasukan setan itu merasa ketar-ketir. Ia tak pernah menyangka bila kesaktian pasukannya bisa dikalahkan dengan mudah oleh seorang manusia. Karena itulah, ia pun maju dan menantang sang pemuda untuk berduel sampai mati.

Mendapatkan tantangan itu, sebagai seorang kesatria, Zalya menerimanya dengan senang hati. Tak lama kemudian keduanya sudah saling bertarung dengan mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Dalam waktu singkat suasana di medan perang mendadak berubah. Angin mulai berhembus kencang, sementara petir ikut menyambar-nyambar. Membuat pasukan yang ada merasa cemas dan ingin segera pergi menjauh. Belum pernah mereka melihat yang seperti itu. Kesaktian yang dikeluarkan oleh kedua kesatria itu sungguh luar biasa. Ledakan demi ledakan pun ikut mengiringi di setiap keduanya mengadu kesaktian. Pusaka dan ajian yang mereka keluarkan menggetarkan tanah dan mengguncang air, membuat semua pasukan merasa kian cemas. Dan mereka juga bertarung tidak di satu tempat saja. Keduanya sering terbang kesana kemari, mengubah-ubah wujud dan mengambil apapun yang ada di dekatnya untuk dijadikan senjata melawan musuh. Sampai pada akhirnya mereka harus mengeluarkan ilmu andalannya.

Pada saat akan mengeluarkan ilmu andalannya itu, tiba-tiba tubuh Zalya mendadak berubah. Penampilannya bertambah sangar sementara itu ia juga sudah mengenakan baju zirah yang baru. Saat itu orang-orang menjadi pangling, sebab Zalya tampil dalam wujud yang berbeda. Ada pancaran energi yang luar biasa dari sosok pemuda itu. Membuat siapapun bertambah kagum. Sementara itu panglima setan yang bernama Merbuli itu sebenarnya sudah merasa akan kalah. Tapi karena ego dan kesombongan diri, ia tetap maju dan mengadu kesaktiannya. Akibatnya ia harus babak belur dan akhirnya tewas setelah beberapa ajian andalannya dapat dikalahkan oleh Zalya. Dan tubuhnya sampai hancur setelah ia terkena ajian Mudhara milik sang pemuda.

Lalu, setelah peristiwa terbunuhnya Merbuli, sisa pasukan setan yang ada di medan pertempuran segera melarikan diri. Mereka sadar tidak akan bertahan lama setelah pemimpin mereka dapat dikalahkan. Kunci kesaktian mereka pun berada di tangan sang pemimpin itu. Jika ia kalah, maka pasukannya tidak akan bisa hidup lagi setelah terbunuh. Karena itulah mereka segera kembali ke alamnya tanpa persetujuan dari raja Muwartika, orang yang mengundang mereka. Melihat semua pasukan setan dapat dikalahkan oleh Zalya, semua orang langsung berhenti bertempur. Belum pernah mereka terlibat dalam perang besar semacam itu. Terlebih lagi mereka pun tidak pernah melihat ada orang yang sehebat Zalya. Pemuda itu memang terpilih dan layak dijadikan pemimpin besar.

Oleh sebab itu, hampir semua pasukan memilih untuk ikut bergabung ke dalam kubu Zalya. Mereka merasa ada harapan besar untuk hidup lebih baik jika mengikuti pemimpin seperti Zalya. Belum lagi sudah terbukti bahwa sistem ketatanegaraan yang diterapkan oleh Zalya dan rakyatnya sudah terbukti sangat baik dan sesuai dengan fitrah manusia. Ini yang menjadi alasan yang kuat bagi sebagian besar pasukan untuk segera bergabung dengan mereka yang sebelumnya menjadi musuh. Namun sangat berbeda dengan sikap raja Babtan dan raja Muwartika. Lantaran ego dan kesombongan dirinya, mereka dan pendukung setianya justru ingin melanjutkan pertempuran sampai mati. Dan itu langsung dibalas dengan serangan yang mematikan dari Zalya dan pasukannya. Kedua raja dan pendukungnya itu harus meregang nyawa ditangan para raja dan kesatria yang ada di kubu pasukan Zalya. Setelah kejadian itu, pertempuran pun berakhir dengan kemenangan telak di pihak Zalya.

5. Perdamaian dunia
Setelah perang besar itu usai, semua pasukan yang tersisa dari koalisi kerajaan Dalhamus memilih untuk bergabung dengan koalisi kerajaan-kerajaan di kubu Zalya. Mereka siap menjalankan roda pemerintahan di negerinya dengan mengikuti sistem ketatanegaraan yang diterapkan di kerajaan Himarida. Alasannya tentu karena apa yang telah dicetuskan oleh Zalya adalah yang terbaik bagi kehidupan manusia. Ada keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara kebutuhan jiwa dan raga, lahiriah dan batiniah. Ini yang sebenarnya mereka rindukan selama ini, dan mereka benar-benar ingin memperbaiki kondisi dunia yang sudah terlalu lama dalam kekacauan dan dikuasai oleh keserakahan dan kebodohan.

Singkat cerita, apa yang ada di kerajaan Himarida banyak diikuti oleh puluhan kerajaan lain. Sistem ketatanegaraan itu bahkan terus menyebar ke segala penjuru dengan tanpa ada paksaan. Karena melihat hasilnya yang nyata dalam membangun kejayaan dan kemakmuran, banyak negeri yang tertarik. Mereka mengirimkan utusannya ke negeri Himarida untuk belajar langsung kepada pakarnya disana. Dengan begitu, ketika para duta itu kembali ke negerinya, mereka bisa mengajarkan ilmu yang telah dipelajari di negeri Himarida. Akibatnya, kebaikan dan kemakmuran terus menyebar kemana-mana tanpa memandang bangsa atau rasnya. Dan negeri-negeri yang telah menerapkan sistem yang sama dengan di negeri Himarida itu bahkan memilih untuk bergabung dan meminta Prabu Zalya menjadi pemimpin tertinggi mereka. Ini mirip dengan konsep negara federasi.

Begitulah jadinya kehidupan di muka Bumi dapat kembali seperti sedia kala. Ada banyak negeri yang rakyatnya hidup dalam kesejahteraan. Permasalahan dan konflik antar bangsa hampir tak ada, khususnya di negara federasi Himarida. Semua orang dapat menahan diri dan bersikap manusiawi. Sehingga hanya dalam waktu yang relatif singkat, kedamaian dan ketertiban dunia bisa terwujud. Keadaan ini pun berlangsung selama ribuan tahun. Negeri Himarida lalu menjadi pusat dari peradaban dunia.

6. Akhir kisah
Setelah melewati pertempuran dahsyat dan ketika pulang ke negerinya, prabu Zalya mulai memikirkan untuk berumah tangga. Dan memang sudah waktunya untuk dia mencari pendamping hidup dan meneruskan keturunan. Disini tentu dengan kriteria khusus seperti wanita tersebut harus cerdas, anggun, berwibawa, taat kepada Tuhan dan punya kemampuan dalam olah kanuragan dan kadigdayan. Yang semua itu ternyata ada di dalam diri seorang putri yang bernama Minalisa. Putri tersebut adalah anak dari raja Hunayasa, penguasa kerajaan Raguhta.

Sebenarnya benih cinta itu sudah tumbuh disaat Zalya pernah membantu kerajaan Raguhta dalam menghadapi serangan kerajaan Dalhamus. Sang putri, selain sebagai sosok yang lemah lembut, ia akan turun ke medan perang jika keadaannya memaksa. Dengan kesaktian dan kecerdasannya, banyak hal yang bisa di lakukan. Prestasinya pun terus melejit disaat ia bergabung dalam pasukan koalisi pimpinan Prabu Zalya. Putri Minalisa bahkan dipercaya untuk memimpin ribuan pasukan dalam pertempuran besar itu dan selalu berhasil dalam tugasnya. Inilah yang membuat Prabu Zalya semakin jatuh hati kepada sang putri.

Singkat cerita, pada suatu kesempatan Prabu Zalya harus berkunjung ke negeri Raguhta karena ada urusan negara. Ketika ia bertemu lagi dengan putri Minalisa, pada saat itu juga ada keinginan yang kuat untuk segera meminang sang putri. Dan ternyata di hati putri Minalisa pun ada keinginan yang sama. Sejak pertama kali bertemu dengan Zalya ia sudah jatuh hati kepadanya. Maka tak ada lagi halangan bagi keduanya untuk menikah. Terlebih saat itu raja Hunayasa sendiri sangat setuju dengan perjodohan mereka. Orang tua mana yang berani menolak jika anak gadisnya diperistri oleh Zalya, sang pemimpin besar dunia. Sosok pemuda itu orangnya luar biasa, dan jasanya sudah begitu banyak untuk kehidupan manusia.

Selanjutnya, setelah beberapa hari tinggal di istana kerajaan Raguhta, prabu Zalya akhirnya melamar putri Minalisa. Lamaran itu langsung diterima dengan senang hati oleh keluarga sang putri tapi pernikahan baru bisa di laksanakan tiga hari berikutnya, di istana kerajaan Raguhta. Semua pemimpin kerajaan yang pernah sama-sama berjuang dalam perang besar juga diundang. Acara berlangsung meriah dan sangat berkesan. Dan setelah 55 hari berlalu, Zalya pun memboyong putri Minalisa untuk tinggal di negerinya. Disana pesta pernikahan kedua lalu di laksanakan. Semua kolega di undang sekali lagi untuk memeriahkan acara tersebut.

Waktu pun berlalu. Dari pernikahan itu Prabu Zalya memperoleh sepasang anak. Yang tertua laki-laki bernama Manuya, sedangkan yang bungsu adalah wanita yang diberi nama Arminalisa. Khususnya dari Manuya, maka kepemimpinan kerajaan Himarida tetap diteruskan. Adapun nama-nama para raja dan ratu di kerajaan Himarida adalah sebagai berikut:

1. Hal-Atakah Srimantara Zalya Hagiriyama – > pendiri kerajaan
2. Manuya
3. Jagahiya
4. Malgaya
5. Amrudaya
6. Hamtajaya
7. Asmilisa – > seorang wanita
8. Yamudaya
9. Albaniya
10. Husmantaya
11. Zaringkaya
12. Damilaya
13. Wiyalisa – > seorang wanita
14. Basmihaya
15. Yuhamiya
16. Salhamiya
17. Wadinikaya
18. Irtanhaya
19. Luktanaya
20. Qusmantaya
21. Zamaruya
22. Haktunaya
23. Bilbanuya
24. Simalisa -> seorang wanita
25. Kamdahiya
26. Garinaya
27. Namudaya
28. Ambijaya
29. Rikastaya
30. Hilanajaya
31. Ummaniya
32. Yamudajaya -> raja terakhir. Di masanya kerajaan Hamirada dipindahkan ke dimensi lain.

Jadi ada 32 raja dan ratu yang pernah memimpin kerajaan Himarida. Selama itu proses transisi kepemimpinan berjalan lancar dan damai. Semua orang tahu diri dan tahu pula akan posisinya. Terlebih memang tak ada yang bisa menjadi raja atau ratu jika ia tak mampu memegang dan menguasai pusaka utama warisan Prabu Zalya (peti Hamudapaksa). Bahkan itu sudah menjadi hukum tertulis yang sifatnya mutlak.

Ya. Kerajaan Himarida dipimpin oleh orang-orang pilihan. Berbeda dengan manusia biasa, Zalya dan keturunannya itu diberikan umur yang sangat panjang. Rata-rata mereka berumur sampai 350 tahun lebih, jauh melebihi batas usia manusia pada umumnya di masa itu. Dan khususnya bagi para raja dan ratu, setelah turun tahta mereka semua akhirnya moksa.

Selain itu, sejak kembali ke negerinya setelah perang besar berakhir, Prabu Zalya dan rakyatnya terus membangun peradabannya. Ada banyak terobosan baru dalam hal pendidikan dan penelitian. Karena itulah dalam waktu yang relatif singkat mereka sudah berhasil meningkatkan teknologi mereka. Dengan kemajuan itu, kehidupan mereka pun semakin terbantu. Sebab, peralatan yang telah mereka ciptakan memiliki teknologi yang tinggi, tidak kalah dengan kita sekarang. Dan semua itu bisa terwujud karena belajar dari sumber ilmu yang terdapat di dalam kitab pusaka yang Prabu Zalya miliki. Tentunya ditambah lagi dengan semangat keilmuan yang tinggi di dalam diri masyarakat kerajaan Himarada.

Untuk itu, dengan raja atau ratu yang berumur panjang dan peradaban yang tinggi, kerajaan Himarida mampu berdiri lebih dari 7.000 tahun. Selama itu, kehidupan di negeri tersebut selalu makmur dan sejahtera. Dibawah kepemimpinan raja atau ratu yang bijaksana, semua orang bisa hidup dalam kebaikan dan kemuliaan. Karena itulah, pada akhirnya mereka dan kotanya mendapatkan bonus untuk berpindah ke dimensi lain, tepatnya ke dimensi ke-5 (Nilbati). Sebagai kaum yang baik, mereka layak mendapatkan anugerah itu. Sebab selama menjalani kehidupan di muka Bumi ini mereka bisa tetap berperilaku mulia, patuh kepada Tuhan, dan mengedepankan rasa cinta dan kasih sayang.

Tapi sebelum berpindah, beberapa orang dari mereka ditugaskan untuk tetap tinggal di muka Bumi dan mendirikan kaum yang baru. Di antara mereka ini ada yang menyimpan benih pohon Mustril untuk diwariskan turun temurun. Setelah cucu mereka lahir, barulah mereka itu diizinkan menyusul kaumnya yang telah lebih dulu pindah ke dimensi lain. Sebagaimana warga Himarida yang lebih dulu berpindah, disana mereka pun melanjutkan kehidupan sampai hari ini. Hanya saja keadaannya tentu sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di muka Bumi ini. Mereka itu hidup abadi sampai Hari Kiamat nanti.

7. Penutup
Wahai saudaraku. Apa yang telah diuraikan di atas mengandung hikmah dan pelajaran hidup bagi kita semua. Ada banyak hal yang bisa kita jadikan pedoman dan sangat relevan untuk di zaman sekarang. Tapi keburukan yang pernah terjadi dimasa lalu kini sudah terulang kembali. Untuk itu, ada baiknya kita bersikap seperti para leluhur kita dulu untuk segera berbenah diri sebelum kehancuran itu datang. Azab Tuhan tak mengenal waktu dan tidak pula pandang bulu. Bisa datang kapan saja, ketika kehidupan manusia sudah jauh dari cahaya kebenaran Ilahi. Dan azab perih itu bisa hadir dalam dua wajah, yaitu perang dahsyat atau bencana alam. Ingatlah itu selalu!

Dan sebelum tulisan ini kami akhiri, maka izinkanlah kami untuk menyampaikan kalimat doa yang pernah diajarkan oleh Prabu Zalya. Doa tersebut didapatkan dari Nabi Samuwi AS ketika sang pemuda masih berguru kepadanya. Adapun kalimatnya adalah sebagai berikut:

“Walayina makalata, hur’ainasa ya habibana, walaka sudhana. Manunara silasa sumara, ya aryasya ya aryasya. Rakulasa mimtala, ya ormayana ya ormayana. Wujudillah hiya Robbi, ya aryasya ya ormayana”

Semoga kita senantiasa teguh dalam kebenaran Ilahi, sehingga bisa hidup dalam kemuliaan dan keselamatan yang sejati. Rahayu _/|\_

Jambi, 05 Agustus 2017
Harunata-Ra

Catatan:
1. Ada beberapa hal yang tidak bisa kami jelaskan disini. Mohon maaf untuk itu, sebab kami hanya menyampaikan sesuai protap.
2. Perlu dipahami bahwa profil mereka yang tinggal di Nusantara bagian barat saat itu berbeda dengan kita sekarang. Karakter wajah, bentuk mata dan hidung, warna kulit, warna mata dan bentuk fisik mereka sangat berbeda dengan kita sekarang. Mereka lebih rupawan dari kita.
3. Seperti tulisan sebelumnya, maka silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Tak ada paksaan disini dan semua itu adalah hak Anda sekalian. Kami hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja. Percaya syukur, tapi kalau tidak ya silahkan.

Iklan

13 thoughts on “Zalya: Sang Kesatria Utama

      1. Wah sama2lah mas marnopencol, saya yg seharusnya berterima kasih karena sampeyan sudah mau membaca blog ini.. 🙂
        Hmm.. Ttg membangkitkan Kundalini, menurut saya lebih baik sampeyan belajar langsung dg guru yg waskita.. Kalo saya ini jauh dari kata pantas, ilmu saya masih terlalu cetek, masih sgt awam mas.. gak layak memberikan pelajaran atau arahan.. Selain itu, mempelajari Kundalini atau jika ingin membangkitkannya, maka menurut saya seseorang harus belajar dg orang yang mumpuni secara tatap mata langsung, susah atau bahkan gak bisa lewat jarak jauh apalagi cuma lewat tulisan di internet.. Kundalini bukan ilmu sembarangan, ini ilmu tingkat tinggi dan wingit.. Monggo cari guru yg mumpuni dan waskita aja mas.. Kalo saya sgt tidak pantas..

      2. Wah nyante aja mas marnopencol.. Maaf kalo gak bisa bantu.. 🙂
        Terus berusaha mas dan sabar.. Tak ada jalan mudah utk meraih ilmu yg mumpuni.. Dan harus berjodoh dulu dg guru yg paham kundalini.. 🙂

  1. Memang kang harun ini seperti pemuda yg selalu d nantikan 😀 kalau lama gag ngapluoad serasa ada yg hilang hehehe… Nah melihat situasi dan kondisi skrg ini segalanya serba merosot terutama ahklak yg terjun bebas, kira² apa sudah ada yg menanam kembali pohon Mustril yg sangat membantu untuk kemakmuran dan kesejahteraan itu? Sungguh beruntung bisa melihat langsung apalagi mencicip rasa buahnya,,, 😀 apakah nantinya yg akan mengevakuasi setelah terjadinya perang atau sebelumnya? Semoga kita senantiasa teguh dalam kebenaran Ilahi, sehingga bisa hidup dalam kemuliaan dan keselamatan yang sejati. Amiiin ya rab…
    Salam.
    Rahayu _/|\_

    1. Owalah masa segitunya sih kang Tufail.. Gak lah.. Siapa juga saya ini, wong cuma orang awam yg baru belajar kok.. 🙂

      Ttg pohon Mustril, setau saya blm ditanam lagi kang, namun demikian kemungkinan besar benihnya sudah ada kok dan berada di alam nyata ini lagi dan dipegang oleh seseorang, tinggal menunggu apakah di zaman ini akan ditanam atau malah di zaman yg baru nanti, entahlah.. Semua menunggu komando langit..

      Kemungkinan besar evakuasi akan terjadi setelah perang dahsyat selesai.. Siapapun yg berumur panjang akan melihat dan merasakan langsung kengerian perang kosmik itu.. Perang itu termasuk bagian dari proses seleksi bagi siapa saja yg layak utk hidup di zaman yg baru nanti.. Endingnya barulah azab dan bencana maha dahsyat yg mengguncang seluruh dunia.. Setelah itu barulah zaman berganti baru, zaman Hasmurata-Ra.

      Semoga kita selamat dan atau diselamatkan.. Rahayu bagio.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s