Kebangkitan Di Negeri Yang Terpilih

Wahai manusia. Pada selayaknya, rakyat akan menuruti apa kata pemimpinnya. Rakyat hanya akan patuh padanya, sebab apa yang di lakukan oleh sang pemimpin itu pasti baik. Pemimpin adalah “wakil Tuhan” di Bumi. Maka sudah seharusnya apa yang ia lakukan hanyalah kebenaran. Jika tidak, maka ia bukanlah pemimpin yang sejati, melainkan seorang pecundang.

Dan sekarang ini banyak pemimpin atau raja yang telah mengkhianati amanah dari Sang Pencipta. Mereka tidak lagi berjiwa kesatria, dengan melakukan perbuatan yang tidak baik dan sesuai kelayakan. Bahkan ada dari mereka itu yang merasa sudah menjadi Tuhan dan berhak melakukan apa saja yang mereka suka. Padahal apa yang mereka lakukan itu, besar ataupun kecil, punya tanggungjawabnya sendiri kepada Sang Penguasa Jagat. Tak ada yang istimewa disini, karena setiap pribadi itu sama saja di hadapan-Nya. Setiap orang tak berbeda kecuali iman dan ketaqwaannya. Justru ketika seorang pemimpin telah melakukan kesalahan, maka dosanya itu jauh lebih banyak. Berkali lipat bila dibandingkan dengan rakyat biasa. Semua bisa begitu karena memang tanggungjawab seorang pemimpin itu sangatlah berat.

Untuk itu, raja bisa saja berubah, pemimpin pun akan berganti. Tapi Nusantara tetaplah Nusantara. Dan jika raja atau pemimpin bangsa yang tinggal di Nusantara ini terus menyimpang dari jalan kebenaran sejati, maka ia akan digantikan dengan yang lain. Bahkan ketika mayoritas penduduk yang tinggal di Nusantara ini juga ikut berpaling dari kebenaran, maka mereka juga akan digantikan oleh bangsa yang lain. Dimana bangsa tersebut pastinya lebih baik dari bangsa yang ada di Nusantara ini sekarang. Sebab, di wilayah Nusantara ini telah berulang kali berganti kaum dengan latar belakang ras dan golongan yang berbeda. Mereka dulu pernah hidup selama ribuan tahun dan membangun peradaban yang tinggi disini, sebelum akhirnya terpaksa hijrah (exodus/migrasi) ke tempat lain untuk menghindari bencana besar.

Ya. Setelah mereka pergi, barulah bangsa kita sekarang yang menghuni negeri kepulauan ini. Ribuan tahun sebelumnya, tanah Nusantara pernah dihuni oleh berbagai bangsa dari ras yang berbeda. Sementara nenek moyang kita dulu masih tinggal menyebar di berbagai belahan Bumi. Memang pada awalnya mereka (leluhur kita) juga hidup di Nusantara, tepatnya ketika masih berupa satu daratan yang luas (belum terpisah ke dalam ribuan pulau), khususnya yang di bagian baratnya. Mereka juga pernah membangun peradaban yang tinggi dan menjadi guru bagi bangsa yang lain. Namun pada akhirnya mereka harus bermigrasi (exodus/hijrah) karena terjadi perang besar dan atau bencana dahsyat. Ribuan tahun lamanya mereka hidup menyebar di berbagai belahan dunia. Dan baru kembali lagi ke Nusantara, khususnya di bagian baratnya, sekitar antara 15.000-30.000 tahun silam. Sejak saat itulah, bangsa kita tinggal lagi disini, di Nusantara.

Mengapa bisa seperti itu? Mengapa seolah-olah para leluhur kita itu bisa kompak untuk kembali lagi ke tanah Nusantara? Itu bisa terjadi, sebab para pemimpin mereka saat itu adalah orang-orang yang hebat. Meskipun mereka hidup di negeri dan lokasi yang berbeda, mereka tetap memegang teguh prinsip dan ajaran asli bangsa Nusantara. Karena itulah, suatu ketika mereka mendapatkan wangsit (petunjuk goib) untuk membawa rakyatnya kembali ke tanah leluhurnya, di Nusantara. Alasannya bahwa nanti, akan muncul kebangkitan terbesar dari tanah Nusantara yang akan berpengaruh di seluruh dunia. Nah, yang akan mewujudkannya adalah keturunan mereka.

Namun, semua itu bisa saja berubah dan tak sesuai dengan harapan para leluhur kita dulu. Dan jika anak keturunan mereka (kita sekarang) tak segera mempersiapkan diri atau memang tak pernah layak karena masih terlupa diri, maka anugerah kepemimpinan dunia akan diserahkan kepada bangsa yang lain. Ketetapan waktu kebangkitan itu tidak bisa diubah atau dimundurkan. Tuhan hanya akan memberikan amanah kepada bangsa yang telah siap dan layak (memenuhi syarat) untuk menerimanya. Mengenai hal ini, sejarah dunia telah membuktikannya di beberapa masa yang telah berlalu.

“….. Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)” (QS. Muhammad [47] ayat 38)

Sungguh, pergantian suatu kaum dengan kaum yang lain itu adalah perkara biasa. Banyak contoh tentang hal ini. Misalnya bangsa Indian di benua Amerika yang telah bergeser dan digantikan oleh bangsa lain dari benua Eropa. Begitu pula dalam sejarah peradaban Islam yang telah membuktikan banyak terjadi pergantian kepemimpinanya. Dimana pada awalnya kepemimpinan umat Islam diserahkan kepada bangsa Arab yang dimulai oleh Nabi Muhammad SAW lalu dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar ibn Kaththab, Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abu Thalib) dan beberapa orang pemimpin dari Bani Umayyah. Di masa Daulah Umayyah, peradaban Islam sempat menjadi mercusuar dunia, terlebih ketika masih berpusat di Andalusia-Cordoba (Spanyol). Tapi setelah mereka mulai menyimpang dari kebenaran sejati, hak kepemimpinan itu lalu diambil dan diserahkan kepada Bani Abbasiyah yang berada di negeri Iraq-Iran. Di masa Daulah Abbasiyah ini, peradaban Islam kembali berjaya dan memimpin dunia. Namun ketika mereka juga telah menyimpang, maka hak kepemimpinan itu lalu diambil dan diserahkan kepada orang-orang Kurdi yang kemudian berpuncak pada masa Khalifah Shalahuddin Al-Ayyubi dan anak-anaknya. Di masa mereka, peradaban Islam kembali berjaya dan bisa memimpin dunia. Tapi setelah mereka ikut menyimpang, maka hak atas kepemimpinan itu diambil dan diserahkan kepada bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir. Di antara mereka itu adalah Quthuz, Baybars, dan Qalawun. Merekalah orang-orang Mamluk dan dimasa mereka inilah kejayaan peradaban Islam kembali terjadi. Hanya saja ketika mereka juga ikut berpaling dari kebenaran, maka amanah kepemimpinan itu lalu diambil dan diserahkan kepada bangsa Turki. Dimulai dari Utsman Ortughrul sampai kepada Sultan Muhammad Al-Fatih dan Sultan Sulaiman Al-Qonuni, maka peradaban Islam kembali memimpin dunia. Hanya saja kejayaan itu kembali sirna. Ketika para pemimpin Daulah Utsmaniyah ini juga berpaling, maka hak atas kepemimpinan umat Islam diambil dan hingga kini belum diserahkan kepada satu bangsa pun dimuka Bumi ini. Belum ada bangsa yang ditunjuk untuk memimpin umat Islam di seluruh dunia menuju kejayaannya. Kemungkinan besar adalah bangsa Nusantara, tapi hingga kini masih belum layak dan memenuhi syarat. Entahlah kalau nanti.

Oleh sebab itu, meskipun negeri yang ditunjuk untuk memulai kebangkitan terbesar itu adalah Nusantara, tapi bangsa yang melakukannya belum tentu bangsa yang tinggal di Nusantara sekarang. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika bangsa kita ini akan kembali tersingkir, sementara bangsa lain yang akan menguasai negeri ini. Karena pada dasarnya, negeri khatulistiwa ini memang sudah dipilih untuk munculnya kebangkitan besar – yang bisa menata dunia sekali lagi. Dari tanah pertiwi inilah semua itu akan dimulai dan menjadi pusat peradaban dunia. Hanya saja, tidak harus bangsa kita ini yang mewujudkannya. Ada begitu banyak bangsa lain diluar sana (Inggris, Jerman, Russia, Chechnya-Bosnia, Turki, dll) dan lihatlah mereka telah bersiap. Makanya bisa jadi kita hanya akan tersingkir oleh kekuatan bangsa lain yang jauh lebih hebat dan layak. Nasib bangsa ini pun tidak menutup kemungkinan akan kembali terusir dan harus mengembara ke berbagai negeri lain – seperti yang pernah dialami oleh para leluhur kita dulu. Karena hak atas kepemimpinan itu hanya akan diserahkan kepada mereka yang pantas dan telah memenuhi syaratnya.

ATAU, makna sebenarnya dari kata “bangsa” itu adalah sebatas namanya saja, bukan termasuk penduduknya. Artinya, bisa saja orangnya sama dan negerinya pun sama tapi nama bangsanya saja yang berganti. Contoh, di Nusantara ini sekarang kan semua orang yang tinggal dari Sabang sampai Merauke, dari pulau Miangas sampai ke pulau Rote, semua bersepakat telah menamakan dirinya sebagai bangsa Indonesia. Nah, nama Indonesia inilah yang bisa saja berganti baru – oleh sebab revolusi atau lainnya – meskipun orang-orangnya masih tetaplah mereka yang hidup di Nusantara sekarang. Bangsa yang bernama baru itulah – yang juga memiliki hukum ketatanegaraan baru – yang akan menerima amanah dari Tuhan untuk memimpin dan menata dunia ini dari Nusantara. Dan kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi. Sebagaimana kemungkinan di atas yang juga bisa terjadi.

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…..” (QS. Ali-‘Imran [3] ayat 140)

Artinya, kebangkitan terbesar itu memang akan tetap berpusat di Nusantara, karena negeri ini memang sudah terpilih sejak dulu. Hanya saja tidak harus bangsa kita yang mewujudkannya. Terlebih jika sikap dari bangsa ini sendiri – terutama pemimpinnya – tak lagi sadar diri dan menyimpang dari jalan kebenaran hakiki, maka hak atas kepemimpinan dunia itu akan diserahkan kepada bangsa lain atau siapapun yang telah memenuhi syarat. Tidak ada yang tak mungkin bagi-Nya atau yang tak bisa Dia ubah, apalagi bangsa ini sudah tak peduli. Hanya bagi mereka yang telah berusaha dan bersiap dirilah, maka anugerah atas kepemimpinan itu akan diserahkan. Waktunya tak bisa lagi ditunda. Akan tetap sesuai dengan jadwal-Nya, meskipun bangsa kita ini belum pantas.

Semoga bangsa ini bisa terpilih seperti negerinya (Nusantara) yang sudah dipilih. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang terpilih untuk mewujudkan kebangkitan terbesar itu. Rahayu _/|\_

Jambi, 13 Juli 2017
Harunata-Ra

Iklan

6 thoughts on “Kebangkitan Di Negeri Yang Terpilih

  1. Saya juga tidak tau mas odi kenapa negeri ini Seperti ini. semua sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan drastis zaman semua sudah bersiap seperti negara Elizabeth, negara Nordic, negara yunan, negara Persian, negara Cynob(ukra Russia Siberian) negara cyin, negara Yamamoto,negara paman sam, negara ginseng, negara further Pula negara ISIS. Semua sudah siap menghadapi keganasan pergeseran zaman bahkan diam diam rakyatnya pun sudah di bekali persiapan khusus .
    Sekali lagi bukalah kesadaran untuk negeri ini
    ?kapan kita siap? Wahai melayu Aryan kapan kalian menyiapkan?

    1. Terima kasih mas Penegakdarma karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Ya itulah anehnya negeri ini, lebih tepatnya bangsa ini. Dari dulu selalu sering melupakan sejarah dan tak mau belajar dengan apa yg bahkan sudah terjadi sekarang ini, di hampir seluruh dunia… Padahal nenek moyang kita telah mengingatkan dg mewarisi bbrp ramalan, dan ramalan itu pun telah terbukti benar.. Skr tanda-tanda transisi zaman pun sudah makin jelas terlihat, tapi ttp saja bangsa ini, khususnya para elit, gak bersiap. Sangat disayangkan.. 😦

      Atau memang karena kebodohan dan kesombongannya sendiri, sehingga bila bangsa lain sudah bersiap, bangsa ini (khususnya pemerintah) justru gak ngapa-ngapain.. Khusus para elitnya bahkan terus saja sibuk dg politik dan intrik yg makin gak jelas dan selalu rebutan jabatan dan kekuasaan tok. Mrk semakin lupa dg byk hal yg sebenarnya lebih penting bagi bangsa ini.. Kebenaran, keadilan dan kemuliaan makin hilang di negeri ini, dan mereka sepertinya gak peduli lagi.. Sungguh miris.

      Atau memang bangsa ini sudah memenuhi syarat utk dihancurkan, kalo tidak semua ya 99% nya. Yg tersisa nanti, adalah mrk yg terpilih dan akan menjadi cikal bakal generasi selanjutnya. Sisanya akan musnah bersama transisi zaman ini. Karena sejarah telah membuktikan, bahwa menjelang dihancurkan, suatu kaum itu akan bersikap lalai, kufur dan menjauh dari kebenaran sejati. Jika bangsa lain semakin baik dan terus mempersiapkan diri, mereka justru gak peduli. Karena itulah kehidupan mrk pun dipenuhi dg perbuatan yg konyol, tolol dan egois meskipun mrk itu tampaknya pintar. Keserakahan, kesombongan, iri, dengki, fitnah dan tak peduli dg ajaran Tuhan adalah yg sering mrk lakukan. Ya persis bgt dg kondisi di negeri ini skr..

      Akhirnya, saya pribadi hanya bisa berusaha utk jadi hamba yg lebih baik aja deh. Semampunya akan terus mengajak dan mengingatkan ttg kesejatian.. Apapun yg terjadi nanti, semua adalah hak prerogatif Tuhan, karena Dia lebih tau mana yg terbaik bagi bangsa ini.. Mungkin saja kehancuran besar bagi bangsa ini adalah yg terbaik utk masa depan, khususnya di zaman yg baru nanti.. Toh bila tanpa bangsa ini pun, maka atas izin Tuhan kehidupan dunia bisa tetap berjalan harmonis kok.. 🙂

  2. Sebuah cerita mungkin bisa menggambarkan Indonesia sekarang
    Tapi aku lupa ceritanya mas nggak terlalu panjang dan rumit saya hanya ingat judulnya
    “Saat Malaikat berdialog dengan Hamba Allah sebelum fajar menyingsing” (Usai shalat subuh)
    .
    Cukup saya kita disini termasuk yang line komen Dan anda jadi penontonya dulu aja mas odi untuk yang lainya juga.

  3. Hmm ttg cerita yg itu saya blm pernah baca.. Kayaknya seru.. 🙂
    Wah menurutku bukan hanya cerita mas, tapi fakta sejarah masa lalu sudah terulang lagi di negeri ini. Tinggal endingnya aja yg belum..
    Jadi ya selain menonton ayo kita sama” ttp mengingatkan dan mengajak pada kebenaran.. Diterima ato gak ya terserah..

  4. Salam Kenal & Rahayu Mas Oedi…..
    Nuwun sewu… izin berteduh (hang out… dan berkomen ria) di Padepokan Jenengan yg teduh, asri skaligus WINGIT ini….. (yaa Padepokan-nya, pun EMPU-nya Blog)… heheheee…….
    Padepokan yg berdiri kokoh, tangguh, bersahabat, ELEGAN skaligus WINGIT ini, memiliki BRANDED, ANTI MAINSTREAM & STEP AHEAD (bahkan me-wedar yg OUT THE BOX), sehingga sebagian (materi) Artikel-nya membuat saya terhenyak… serta wait ‘n see (krn saya belum mengalami-nya secara empiris), dan sebagian lagi membuat saya tersenyum (manis)…..
    Dan saya banyak “belajar” dari Padepokan Jenengan.

    Satu hal yg perlu di garis bawahi, Artikel-nya (Materi-nya) positif, konstruktif, edukatif & bermanfaat, serta tidak pernah lepas dari (secara) VERTIKAL (me-Langit) & HORIZONTAL (mem-Bumi), pun me-wedar the past, now ‘n the future…., bahkan (Padepokan ini) bisa menjadi TOR (Term of References) bagi Mereka2 yg sedang diperjalankan & dipengalamankan oleh GUSTI ALLAH SWT.

    Idealnya (Pakem-nya) Kesalehan Vertikal itu harus-lah BERBANDING LURUS & LINEAR dgn Kesalehan Horizontal (tetap lurus, benar, baik, cerdas, piawai & bermanfaat), tetapi… di Zaman KALABENDU ini, justru sebagian…., Kesalehan Vertikal tsb BERBANDING TERBALIK dgn Kesalehan Horizontal (Artificial, Retorika, Hipokritisasi, Transaksional dan Busuk), dan sebagian lagi….. Kesalehan Vertikal PARALEL dgn Kesalehan Horizontal (STMJ, Sholat Tetap Maksiat Jalan, Bertendensi dan Kelewat batas).

    The last but not least bahwa… berdasarkan fakta (Artikel2 yg di posting) EMPU-nya Blog, menunjukan seorang yg sudah di atas rata2…., frame of references, pun… terbiasa berkomunikasi di gelombang theta (bahkan… menangkap vibrasi2 yg ada di semesta….), bertele-komunikasi, sakti mandraguna, weruh sakdurunge winarah… itulah WINGIT-nya heheheee…..
    Kenapa seperti itu (kah)..?

    Karena Empu-nya Blog, paling tidak tlah MEMILIKI & MEMAHAMI Peta Vertikal & Horizontal (the past, now ‘n the future), serta (telah)…….
    Merdeka dari rasa Ego,
    Merdeka dari rasa Nafsu,
    Merdeka dari Kemalasan,
    Merdeka dari rasa Takut & Ketakutan
    Merdeka dari rasa Pesimis, & Ketidak-yakinan
    Merdeka dari rasa Keterlekatan kepada 3 TA (harTA, TahTA & waniTA).

    Serta EMPU-nya Blog mencintai & berdedikasi (tanpa tendensi, sesuai peran-nya peran Penciptaan-Nya) kepada Ibu Pertiwi, Nusantara, Merah Putih, NKRI, yg telah mewarisi & kokoh memegang teguh Budaya Nusantara (spt yg dicontohkan oleh Para Pendahulu-nya, diantara-nya Eyang Mharesi Ratu Galuh, Eyang Batara Tungtang Buana, Eyang Sanghyang Borosngora, Eyang Sunan Kalijaga, Bung Karno, Bung Hatta, Panglima Besar Jendral Sudirman, dll).

    Monggo Mas Oedi ME-WEDAR, apa yg perlu & bisa di wedar, sesuai dgm hukum (ILLAHI) terbatas & dibatasi (PROTAP), saya deprok sambil ngopi untuk “membaca-nya…”
    Think positive, keep learning, work smart ‘n always be grateful
    Smoga bermanfaat & matur nuwun.

    Rahayu Sagung Dumadi,
    Majulahdanjayalahnusantaraibupertiwimerahputihnkri

    1. Salam kenal juga mas Rakeyan, terima kasih sudah mau berkunjung, semoga bermanfaat.. 🙂

      Terima kasih juga untuk komentarnya.. Tapi rasanya saya pribadi gak sebagus itu mas. Diri ini hanyalah orang awam yg bodoh dan terlalu hina untuk dikatakan seperti yg udah mas sampaikan di atas, gak pantas banget.. Begitu pula dg blog ini, hanya sebatas menyampaikan apa yg memang hrs dan bisa disampaikan di masa skr ini. Masa menjelang transisi zaman.

      Khusus tentang artikelnya, memang sengaja di tulis dg memadukan kedua unsur (vertikal dan horizontal), karena hidup itu butuh keduanya utk bisa dikatakan seimbang. Tanpa keseimbangan, tak bisa dikatakan hidup yg sejati. Segalanya akan kacau dan bikin gaduh. Inilah yang terus kami usahakan, karena di masa kita skr hal ini telah diabaikan oleh byk orang. Blog ini berusaha untuk mengingatkan kembali apa yg penting itu. Tujuannya tentu untuk kebaikan bersama. Karena zaman akan berganti dan transisinya nanti akan terasa keras sekali.. Hanya yg sudah bersiap (secara vertikal dan horizontal) saja yg berhasil melaluinya.

      Oke mas Rakeyan, selama diizinkan maka blog ini akan terus menyajikan hal-hal yg positif. Terima kasih atas dukungannya, silahkan membaca.. Semoga tetap bermanfaat.. 🙂

      Rahayu Bagio _/|\_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s