Pusaka Jayahida dan Perang Akhir Zaman

Wahai saudaraku. Kisah ini terjadi setelah masa kehidupan Nabi Musa AS tapi sebelum masa kehidupan dari Nabi Sulaiman AS. Adapun peristiwanya berlangsung di suatu wilayah yang sekarang dikenal sebagai Nusantara. Dan karena hal ini bukanlah sesuatu yang biasa, maka dampak dan pengaruhnya sampai menyebar ke seluruh Bumi. Ribuan tahun silam, peristiwa ini sangat dikenal oleh bangsa-bangsa yang ada. Namun seiring berjalannya waktu yang begitu lama (puluhan ribu tahun), kisahnya pun hilang dan jauh dari ingatan. Terkubur bersama dengan keagungan peristiwanya sendiri.

Tidak kurang dari 60.000 tahun lalu kisah ini pun dimulai. Semua diawali dengan adanya sebait kalimat syair yang diabadikan dalam ingatan dan tutur cerita para leluhur. Sejak 5.000 tahun sebelumnya, terdapatlah satu nubuwat yang mengatakan akan bangkit satu kejayaan besar di tanah Malayanura (penamaan Nusantara kala itu) pada saat dunia dalam kondisi yang kacau balau. Dari seorang pemuda yang terpilih, maka hal itu bisa terwujud. Semua orang akan bahagia, karena ada kesatria utama yang memimpin mereka. Sang kesatria adalah sosok yang hebat, dari keturunan utama, dan ia adalah pilihan Tuhan serta pewaris benda pusaka yang agung. Dia akan menata dunia dengan hukum Tuhan yang sejati.

Adapun kalimat asli dari nubuwat itu adalah sebagai berikut:

“Nam ‘amo dar haikam sih biyanta waljiyam rutah amorakh. Wijayan mihali ustam hiyan Malayanura hiransu abwam ceya higam. Manyo rak Hyang Aruta selhu ksatriyan dil ilam zuri haola mantara. Hasuli wratun hiyabali Samihada yal donya kwali arman dali Jayahida kisaru taku. Musyaram varoda yangki liyaturi oswadina huram”

Ya. Kalimat nubuwat itu telah dihapal oleh banyak orang, baik tua maupun muda. Bahkan telah pula di tulis dalam kitab-kitab pengetahuan dan prasasti yang diletakkan di tempat umum. Orang tua menyampaikan kepada anak-anaknya, kawan kepada sahabatnya, dan bangsa yang satu menyampaikan kepada bangsa lainnya. Sehingga menjadi hal yang mahsyur bila nubuwat itu juga menjadi harapan besar bagi umat manusia yang memiliki hati nurani. Terlebih pada akhirnya dunia pun memasuki masa kekacauan dan kejahiliyahan. Banyak pula kekacauan dan kezaliman yang di lakukan oleh para penguasa dan siapa saja yang punya kekayaan dan kekuatan. Orang-orang semakin larut dalam dosa dan kekufuran.

1. Awal kisah
Kisah ini bermula dari perintah Hyang Aruta (Tuhan YME) kepada tiga sosok hamba-Nya untuk menempa pusaka yang sakti mandraguna. Ketiga sosok tersebut berasal dari makhluk yang tidak umum diketahui oleh manusia. Golongan mereka ini diberi nama Nurratani. Mereka tinggal sangat jauh dari Bumi karena berada di dimensi khusus urutan ke 77 (Haniyura). Atas kehendak dari Sang Maha Pencipta, bangsa Nurratani ini termasuk ke dalam golongan khusus yang diberi kemampuan istimewa yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Dan atas kehendak Tuhan, tiga dari mereka lalu diperintahkan untuk menempa 3 jenis pusaka yang kelak akan diturunkan ke Bumi untuk manusia.

Lalu, tepat di awal periode zaman ketiga manusia (Dirganta-Ra), Sang Penguasa kehidupan memberikan perintah agar ketiga pusaka itu di tempa oleh bangsa Nurratani secara khusus. Tak berselang waktu, saat perintah telah diterima, tibalah saatnya ketiga sosok yang di tunjuk itu untuk segera menempa ketiga jenis pusaka pilihan. Ketiganya itu berbentuk keris, pedang, dan busur panah. Setiap orang lalu menempa satu jenis pusaka. Dalam menempa ketiganya itu, berbagai teknik dan kemampuan khusus di lakukan. Begitu pula dengan bahan baku pembuatannya yang diambil dari beberapa tempat di dimensi yang berbeda. Karena itulah hasil yang didapatkan sangat jauh berbeda dengan yang pernah terjadi bagi para empu dari golongan manusia ataupun dewa.

Singkat cerita, ketiga pusaka tersebut selesai ditempa. Ada banyak kekuatan dan kesaktian yang dituangkan didalamnya. Siapapun yang memilikinya nanti akan dianugerahi kemampuan yang luar biasa. Namun selama ribuan tahun, pusaka itu masih tersimpan di negeri bangsa Nurratani. Bukan untuk keperluan mereka, tetapi memang belum waktunya untuk diturunkan ke Bumi. Dan barulah setelah 100.000 tahun kemudian, satu di antaranya diturunkan ke Bumi. Pusaka yang pertama diturunkan saat itu adalah dari jenis pedang yang bernama Dwipurayasya. Di turunkan ke Bumi setelah ada seorang Maharesi yang bernama Galhafa ber-tapa brata selama ±19.900 tahun di puncak gunung Mahulta (cikal bakal gunung Bromo sekarang). Sang begawan ber-tapa dengan niat untuk bisa mendapatkan pusaka yang tidak di tempa oleh manusia ataupun dewa dan tidak pula berasal dari Bumi. Tujuannya adalah untuk kemaslahatan orang banyak.

Itulah untuk pertama kalinya pedang Dwipurayasya di turunkan ke Bumi dan dimanfaatkan oleh manusia untuk tujuan yang positif. Lalu di saat Maharesi Galhafa memutuskan untuk moksa, pedang pusaka tersebut raib dari muka Bumi dan kembali ke tempat bangsa Nurratani yang berada di dimensi ke 77 (Haniyura). Setelah lebih dari 1 juta tahun, pedang itu baru diturunkan lagi ke Bumi kepada seorang Maharesi lainnya yang sudah ber-tapa brata di puncak gunung Guran (cikal bakal gunung Fuji) selama ±19.000 tahun. Begawan itu dikenal dengan nama Laginasi. Ia dulu hidup di sebuah negeri yang kini berada di sekitar kepulauan Jepang. Setelah sang begawan memutuskan untuk moksa, pedang pusaka itu raib dan kembali lagi ke tempat asalnya. Dan baru diturunkan lagi 2 juta tahun kemudian setelah ada orang yang ber-tapa brata selama ±18.900 tahun di puncak gunung Wanila (salah satu puncak tertinggi di Himalaya). Sosok tersebut adalah seorang Maharesi yang dikenal dengan nama Hiranka. Ia dulu berasal dari kaum yang tinggal di sekitar daratan India sekarang.

Ya. Kisah seperti di atas terjadi berulang kali selama milyaran tahun, sampai ke periode zaman ke enam (Nusanta-Ra). Ada sebanyak 735 orang yang pernah dipercaya untuk memegang pedang Dwipurayasya ini. Tidak hanya di antara para begawan, tapi juga di antara para kesatria, raja dan ratu. Siapapun yang memilikinya dianugerahi kemampuan yang istimewa, sementara kerajaan yang ia tinggali atau pimpin akan sangat disegani dunia. Tak ada yang berani macam-macam selama pedang pusaka itu masih ada.

Pun, begitu pula dengan kedua pusaka lainnya (keris dan busur panah) juga di turunkan ke Bumi setelah ada orang yang ber-tapa brata dalam kurun waktu tertentu – selama ribuan tahun. Dan sama dengan pusaka pedang Dwipurayasya, maka pusaka keris yang bernama Hidarayasya dan busur panah Karinayasya itu juga berulang kali raib dari muka Bumi lalu diturunkan kembali ke Bumi, kepada sosok yang terpilih. Semua itu terjadi selama kurun waktu milyaran tahun, tepatnya sejak di periode awal zaman ketiga (Dirganta-Ra) sampai ke zaman ke enam manusia (Nusanta-Ra). Begitulah kodrat yang telah ditetapkan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME) bagi kehidupan manusia di muka Bumi ini. Siapapun hanya bisa mengikuti tanpa bisa menghindari. Karena sesungguhnya benda-benda pusaka itu tak bisa lepas dari peradaban manusia itu sendiri. Benda pusaka akan mempengaruhi kebangkitan dan kehancuran, cepat atau lambat.

2. Pemuda pilihan dan pusaka Jayahida
Pada masa akhir periode zaman ke enam (Nusanta-Ra), atau sekitar 50.000-60.000 tahun lalu, hiduplah satu keluarga yang amat sederhana. Mereka tak begitu dikenali meskipun masih bagian utama (ningrat) dari kaum yang bernama Samihada. Kaum ini dulu tinggal di sekitar Swarnas (pulau Sumatera) bagian tengah. Dan tentunya saat itu semua wilayah Nusantara di bagian baratnya masih menyatu dengan daratan Asia. Belumlah ada apa yang sekarang disebut dengan Laut Jawa, Laut Karimata dan Selat Malaka. Semua masih dalam satu daratan yang sangat luas dan menghijau.

Adapun keluarga kecil tersebut terdiri dari seorang ayah yang bernama Aslani dan ibu yang bernama Anamie. Keduanya masih keturunan utama dari keluarga bangsawan yang terhormat, karena leluhurnya adalah pendiri kaum Samihada. Hanya saja sejak kakek buyut dari Aslani masih hidup, mereka telah meninggalkan gelar ningratnya itu dan memilih untuk jadi orang biasa di pedesaan. Lalu dari pasangan suami istri itu, lahirlah tiga orang bersaudara. Yang tertua seorang laki-laki bernama Resama, sementara dua adik perempuannya bernama Marieha dan Mariena. Sebagai keluarga, mereka hidup dalam keharmonisan walaupun terkadang harus menjalani hidup dalam kesusahan.

Sebagaimana tradisi dalam keluarganya, sejak balita Resama dan kedua adiknya terus dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian khusus oleh kedua orang tuanya. Aslani dan Anamie bukanlah orang sembarangan, karena mereka telah mewarisi kemampuan khusus dari para leluhurnya. Karena bimbingan kakek dan ayahnya, mereka berdua bisa menguasai berbagai keahlian yang tak dikuasai oleh banyak orang. Setiap pelajaran disampaikan dengan cara tersembunyi, tak diketahui orang lain selain keluarga mereka sendiri. Dan semua itu memang sudah menjadi kebiasaan yang harus tetap diwariskan. Disini tentunya punya maksud dan tujuannya. Waktulah yang akan membuktikannya.

Suatu ketika, setelah merasa cukup dalam memberikan bekal hidup kepada ketiga anaknya, sang ayah meminta mereka untuk mencari “sesuatu yang berharga” bagi hidupnya nanti. Ketiganya harus pergi ke arah yang berbeda. Sebelum mendapatkan “sesuatu yang berharga” itu, mereka di larang untuk kembali, seberapa lama pun itu. Dan selama mengembara, khususnya bagi Resama, sang ayah meminta ia tak pernah menunjukkan kelebihannya. Artinya, ia harus selalu tampil sebagai orang awam meskipun diabaikan bahkan dilecehkan oleh penduduk. Semua demi melatih kesabaran dan sikap rendah hatinya. Lalu sebagaimana model kehidupan di masa itu, tentu pada akhirnya mereka juga akan ber-tapa brata dalam kurun waktu tertentu. Tujuannya untuk menemukan “sesuatu yang berharga” itu jika memang belum ditemukan. Itu adalah cara terakhir yang harus di lakukan.

Singkat cerita, berangkatlah ketiga bersaudara itu untuk mencari “yang berharga”. Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah. Resama menuju ke arah selatan sampai akhirnya ia pun tiba di gunung Amaru (Semeru sekarang), Marieha ke arah utara hingga akhirnya ia sampai di gunung Hamuji (gunung Fuji) di kepulauan Jepang sekarang, sementara Mariena ke arah timur sampai akhirnya ia tiba di pegunungan Sinhar (Jayawijaya sekarang) di tanah Dilawaya (penamaan Papua dimasa itu). Di tempat-tempat itu ketiganya lalu menjalankan tapa brata yang sangat keras selama puluhan tahun. Setelah waktunya, saat mereka sudah mendapatkan “sesuatu yang berharga”, satu persatu dari mereka pun kembali. Hanya tinggal Resama yang tak kunjung kembali meskipun ia sudah ber-tapa brata di puncak gunung Amaru (Semeru sekarang) selama 90 tahun. Apa yang terjadi sebenarnya belum ada yang tahu.

Gambar 1. Foto: Gunung Fuji/Fujiyama-Jepang

Ketiga bersaudara itu memang bukan orang biasa. Mereka telah dibekali dengan berbagai ilmu dan keahlian khusus. Mulai dari ilmu yang bersifat ilmiah sampai ke yang batiniah telah mereka dapatkan dari kedua orang tuanya. Dan sebagaimana tradisi pada masa itu, wajib bagi mereka untuk menguasai ilmu kanuragan dan kadigdayan. Karena itulah mereka bisa melakukan hal-hal yang unik dan tak biasa, termasuk mampu ber-tapa brata selama puluhan tahun di puncak gunung tanpa bergerak sedikitpun. Dan dengan ber-tapa brata seperti itu, maka ilmu dan kemampuan mereka pun terus meningkat.

Waktu pun berlalu, setelah Marieha dan Mariena mendapatkan “sesuatu yang berharga”, mereka pun segera kembali ke rumah orang tuanya. Marieha mendapatkan sebuah mustika berwarna biru dan kitab ilmu pengetahuan setelah ber-tapa selama 45 tahun, sementara Mariena mendapatkan cincin bermata berlian warna hijau dan juga sebuah kitab pengetahuan setelah ia ber-tapa selama 40 tahun. Pusaka yang mereka dapatkan itu termasuk yang luar biasa dan pernah dimiliki oleh orang-orang terhebat di masa lalu.

Namun, lain halnya dengan kakak tertua mereka, Resama. Setelah ber-tapa lebih dari 90 tahun di puncak gunung Amaru ia belum juga kembali. Sang kakak masih tetap dalam tapa brata yang sangat keras. Dengan berdiri di atas satu kaki, Resama tetap tak tergoyahkan oleh hujan dan badai. Tak ada pula setan demit dan yang sejenisnya mampu mengganggu kekhusyukkan sang pemuda. Semakin lama justru dari dalam dirinya memancar aura magis yang luar biasa. Ini jelas membuat makhluk yang tinggal di alam nyata maupun goib terkagum-kagum sekaligus merasa segan kepadanya. Sang pemuda semakin tampak gilang gemilang.

Sampai pada suatu ketika, tepatnya di tahun ke 99 sejak Resama ber-tapa, turunlah seorang dari Kahyangan menemuinya. Sosok tersebut bernama Sang Hyang Nurrasa. Kedatangannya saat itu adalah untuk mengajak Resama pergi ke dimensi lainnya. Disana sang pemuda akan bertemu langsung dengan banyak sosok mulia dan penuh kewibawaan. Ia juga akan mendapatkan apa yang memang sudah menjadi haknya sejak lahir. Tapi memang sebelum itu terjadi ia harus tetap berusaha, sabar dan berserah diri. Tak ada jalan yang mudah untuk bisa meraih kemuliaan dan kesempurnaan.

Dan hanya dalam waktu sekejap, Resama telah berada di sebuah dimensi yang begitu unik dan sangat indahnya. Dimensi itu berada di urutan yang ke 25, yang disebut Milhatani. Atas izin dari Hyang Aruta (Tuhan YME), disana Resama bisa bertemu dengan banyak sosok yang mengagumkan. Tidak saja Resama yang merasa takjub, sosok-sosok mulia itu juga ingin sekali bertemu dengan sang pemuda pilihan. Sejak lama mereka menantikan peristiwa itu. Maka terjadilah pertemuan yang sangat mengharukan sekaligus menyenangkan.

Pertemuan mereka di dimensi Milhatani saat itu berlangsung sangat hikmat. Banyak dari sosok disana yang memperkenalkan diri dan mau berbagi cerita serta pengalaman hidupnya. Sebagian dari mereka itu adalah para Sang Hyang, Bhatara-Bhatari dan Dewa-Dewi, sebagian lainnya ternyata leluhur dari Resama sendiri yang telah lama moksa. Dan ketika mereka sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba dari arah atas (langit) turun tiga sosok yang bercahaya. Belum pernah mereka bertemu dengan sosok tersebut, yang ternyata adalah mereka yang tinggal di dimensi ke 77 (Haniyura) , yang diberi nama bangsa Nurratani. Dan sebagaimana yang sudah dijelaskan di awal tulisan ini tentang tiga buah pusaka sakti, maka mereka itulah yang dulu menempanya. Itu terjadi jauh sebelum zaman kehidupan Resama.

Singkat cerita, semua yang ada disana segera bersimpuh hormat kepada ketiga sosok agung itu. Meskipun mereka belum pernah bertemu, semuanya langsung tahu bahwa sosok yang tiba-tiba hadir saat itu adalah hamba Tuhan yang mulia. Itu bahkan jelas bisa dirasakan dari pancaran aura dan energinya yang sangat besar yang menyelimuti lokasi pertemuan. Lalu dengan tanpa menunda waktu lagi, salah satu dari ketiganya itu berbicara, katanya: “Wahai kesatria, wahai yang terpilih dari para kesatria pilihan. Bersyukurlah hanya kepada Tuhanmu yang menciptakan. Tunduklah hanya kepada Dia yang Maha Perkasa atas segalanya. Kau bukankah siapa-siapa seperti kami dihadapan-Nya. Kau bukanlah yang mulia seperti kami disisi-Nya. Engkau dan kami adalah sama-sama hamba yang hina yang selalu mengharapkan ridha dan ampunan-Nya. Tak ada yang lebih baik dari itu bagi kita, kita semua”

Setelah mengatakan itu, sosok yang ternyata bernama An-‘Ainira itu diam sejenak. Semua yang mendengarkannya pun terdiam, bahkan ada yang sampai menangis. Mereka amat tersentuh dengan kata-kata barusan. Sebab mereka kembali diingatkan tentang siapakah dirinya dan siapa pula Tuhannya. Tak terkecuali Resama, ia pun ikut bercucuran airmata. Di hatinya terbesit perasaan yang bercampur aduk antara bahagia, sedih dan terharu. Tak lama kemudian An-‘Ainira pun kembali berkata: “Sudah menjadi kehendak-Nya bahwa telah tiba saatnya kehidupan di Bumi harus ditata kembali. Kerusakan yang terjadi sekian lama ini akan diperbaiki. Yang batil akan di singkirkan dengan tegas, sementara yang haq (benar) bisa ditegakkan dengan kokoh. Tak ada yang bisa mencegahnya, karena ini adalah ketetapan yang telah ada sejak awal kehidupan. Semua telah ditulis dalam Kitab yang mulia”

“Wahai kesatria, hai Resama. Engkau adalah di antara anak Adam yang terpilih. Sebagaimana leluhurmu dulu, kau juga harus berjuang atas nama Tuhanmu. Teruslah bersabar dan ikhlas dengan jerih payahmu itu. Dan untuk bisa membantumu nanti, maka dititipkanlah tiga buah pusaka untuk berjuang. Kau bukanlah pemiliknya, karena nanti akan ada yang lebih memilikinya. Maka pergunakanlah dengan bijaksana dan hanya untuk kebenaran saja. Dan terimalah dengan sikap yang rendah hati dan rasa syukur kepada-Nya. Karena hanya Dia-lah yang patut untuk disembah dan diagungkan”

Setelah mengatakan itu, satu persatu dari bangsa Nurratani itu memberikan pusaka pedang Dwipurayasya, keris Hidarayasya dan busur panah Karinayasya. Yang memberikan saat itu adalah sosok yang telah membuatnya sendiri. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya meskipun ketiga benda pusaka itu memang pernah berulang kali di turunkan ke Bumi. Baru kali itu saja ketiganya langsung diterima oleh seorang kesatria dari yang menempanya sendiri. Suasananya pun sangat istimewa, karena terjadi di dimensi ke 25 dan disaksikan oleh para Sang Hyang, Bhatara-Bhatari, Dewa-Dewi, dan orang-orang hebat di masa lalu. Sungguh anugerah yang besar.

Selanjutnya, setelah memberikan ketiga pusaka yang kemudian dikenal dengan sebutan Jayahida itu, An-‘Ainira dan kedua saudaranya dari bangsa Nurratani itu kembali ke tempatnya. Tinggallah Resama dan mereka yang hadir di dimensi ke 25 itu selama beberapa waktu. Selama disana, banyaklah ilmu pengetahuan dan pelajaran berharga yang bisa didapatkan oleh Resama. Semua itu untuk menambah bekal perjuangan yang harus ia lakukan nanti. Dan sesuai dengan penjelasan dari An-‘Ainira, maka kehidupan di muka Bumi harus diperbaiki. Dalam hal ini, Resama punya andil yang sangat penting. Sebab ia adalah seorang kesatria yang harus berusaha mengembalikan keseimbangan dan keharmonisan hidup di muka Bumi sekali lagi. Tugas yang sangat berat.

3. Hati sang pemuda
Perlu diketahui, bahwa apa yang diceritakan di atas adalah proses akhir sebelum Resama menjalankan peran hidupnya yang sebenarnya. Sebelum itu, selama hidup di desa, ia sering mengalami ketidakadilan. Karena dilahirkan dalam keluarga yang amat sederhana, ia pernah beberapa kali mendapatkan hinaan dan caci maki. Orang-orang selalu memandang rendah dirinya, bersikap sinis dan tak jarang pula yang menyakitinya dengan kata-kata yang kasar. Semua disebabkan oleh kemiskinan dan strata sosial keluarga Resama yang dipandang rendah alias cuma rakyat jelata.

Tapi, meskipun ia sering direndahkan, Resama selalu tabah menerimanya. Ia tak pernah marah atau pun membalas kejahatan orang lain kepadanya dengan kejahatan. Dan kalau sudah tak tahan menerima cacian dan hinaan itu, Resama akan segera pergi menjauh ke alam bebas. Disana ia hanya akan duduk merenungi kebesaran Tuhannya dan mengadu hanya kepada-Nya saja. Selama beberapa waktu, Resama akan berdiam diri dan terus memuji-muji Tuhannya dengan kerendahan hati. Itu terus di lakukan sampai pikirannya kembali tenang.

Dan selama bertahun-tahun hal yang seperti itu ia lakoni dengan sabar. Tak ada yang tahu bahwa sang pemuda adalah seorang keturunan bangsawan tertinggi di kaumnya. Resama dan keluarganya itu pun tak pernah mengakui atau menunjukkan kelebihan yang mereka miliki. Setiap hari, mereka selalu hidup dalam kesederhanaan sebagai petani dan peternak biasa. Tak pernah melakukan hal-hal yang mencuri perhatian. Padahal kalau mereka mau, tak butuh waktu lama bagi keluarga hebat itu untuk mengguncang kerajaan. Kemampuan setiap orangnya setara dengan para raja, menteri dan panglima perang.

Namun semua itu ada maksud dan tujuannya sendiri. Apa yang di lakukan sejak kakek buyut Resama itu (mengasingkan diri dari kekuasaan), sudah berdasarkan petunjuk yang diterima dari langit. Sampai waktunya nanti, keluarga terhormat ini harus tetap menyembunyikan diri. Mereka tak diizinkan untuk menunjukkan keistimewaannya di muka umum. Dan ketika dari keturunannya telah menerima ketiga pusaka sakti (Jayahida), barulah mereka akan muncul kepermukaan sebagai pahlawan. Begitulah yang menjadi suratan takdir dari Hyang Aruta (Tuhan YME) kepada mereka. Dan mereka sangat patuh dengan wasiat itu. Sampai pada akhirnya Resama-lah yang terpilih untuk menerima ketiga pusaka sakti buatan bangsa Nurratani.

Adapun tujuan kenapa keluarga Resama harus mengasingkan diri bahkan sejak kakek buyutnya dulu, itu adalah agar mereka tetap dalam kondisi hati dan pikiran yang bersih. Para leluhur mereka itu sudah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Mereka juga tahu bahwa kondisi akhlak manusia akan semakin merosot hanya dalam waktu yang tak begitu lama setelah kepergian mereka. Karena itulah, agar anak keturunannya tak terkontaminasi oleh buruknya pergaulan dunia, mereka memutuskan untuk mengasingkan diri, tidak ikut campur dalam urusan politik dan kekuasaan. Mereka lebih memilih hidup sederhana di pedesaan demi menjaga kemurnian hati dan pikirannya. Dan sebagaimana petunjuk yang telah mereka dapatkan sebelumnya, maka dari keturunan mereka pula akan lahir pemimpin besar yang berhati murni. Nah untuk bisa mewujudkan itu, mereka pun berusaha dengan tetap menjaga kebersihan hati dan pikiran anak keturunannya – dari kondisi dunia yang semakin rusak. Salah satu caranya yaitu dengan mengasingkan diri dan tak ikut-ikutan dalam urusan politik dan kekuasaan.

Ya, begitulah kehidupan dimasa Resama dulu. Saat itu hampir di seluruh dunia telah terjadi kemerosotan akhlak. Tidak sedikit dari manusia yang senang dengan kejahatan dan kemaksiatan. Pertikaian juga sering melanda di berbagai bangsa dan negara, yang semuanya disebabkan oleh keserakahan dan kesombongan diri. Hukum Tuhan telah diabaikan, jika pun masih ada, itu hanya sebatas formalitas belaka. Begitu banyak kemunafikan, dan jarang ada orang yang benar-benar menjalankan perintah dan larangan Tuhan itu dengan sungguh-sungguh. Bahkan sebenarnya banyak sekali yang lupa dengan Tuhannya atau justru tak pernah mengakui tentang adanya Tuhan (ateis). Akibatnya kehidupan dunia kian lama semakin mengkhawatirkan. Dimana-mana telah terjadi kerusakan dan kehancuran yang memilukan.

Maka, kemalangan pun ikut terjadi pada Resama dan keluarganya. Karena mereka hidup sederhana bahkan miskin, banyak orang yang meremehkan diri mereka. Terlebih gaya hidup kaumnya saat itu selalu berpatokan pada harta, jabatan, dan kekuasaan, maka semakin terpinggirkanlah keluarga ini. Mereka terpaksa tinggal jauh di tengah hutan hanya untuk menghindar dari ejekan dan gangguan kaumnya yang jahil. Sesekali saja mereka ke pusat desa atau kota untuk menjual hasil kebun dan ternaknya. Keuntungannya pun tak seberapa banyak, karena hanya cukup untuk bisa bertahan hidup selama beberapa waktu.

Begitulah tahun demi tahun dijalani oleh Resama dan keluarganya. Semua dari mereka adalah pribadi yang sangat tabah dan sabar. Tak pernah mereka mengeluh atau pun berputus asa. Semuanya tetap dijalani dengan ikhlas dan berserah diri. Dalam hati mereka selalu tertanam prinsip bahwa hidup di dunia ini cuma sementara. Tak mengapa menderita sekarang, asalkan nanti di akherat tak menyesal. Tak mengapa sering dihina, asalkan bisa hidup dalam kebaikan hati. Cukuplah menikmati dunia ini sekedarnya saja dan selalu mengutamakan kebenaran dan cinta. Begitulah ajaran yang selalu ditanamkan oleh leluhur mereka secara turun temurun.

Kita kembali ke Resama. Setelah mendapatkan ketiga pusaka sakti yang kemudian dikenal dengan nama Jayahida, Resama akhirnya kembali ke dunia nyata. Tak lama kemudian, sesuai permintaan dari ayahnya dulu, maka ia harus kembali setelah mendapatkan “sesuatu yang berharga”. Namun begitu ia tak segera pulang ke rumahnya. Sang pemuda masih ingin sekedar mampir dan melihat-lihat keadaan dunia setelah lama ia tinggalkan. Maka ada beberapa negeri yang sempat ia singgahi sebelum akhirnya sampai ke desanya.

Dan suatu hari, ketika ia sedang berjalan untuk kembali ke kampung halamannya, di sebuah padang rumput yang luas Resama melihat ada seorang anak kecil yang menggembalakan domba. Begitu banyak domba-domba itu, sampai berjumlah ratusan. Resama penasaran dengan anak itu, karena ia hanya seorang diri. Maka ditanyakanlah kepada sang anak tentang mengapa ia yang menggembalakan ternak, mengapa ia sendirian, dan kemana orang tuanya?

Pertanyaan itu justru dijawab dengan pertanyaan. Sang anak pun berkata: “Apakah seorang anak kecil tak bisa menjadi penggembala?”

“Tentu saja bisa, tak ada larangan untuk itu” jawab Resama singkat.

“Lantas apakah untuk menggembalakan domba-domba ini membutuhkan orang dewasa atau pemikiran dewasa?” tanya anak itu kembali.

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Resama diam sejenak untuk berpikir kemudian menjawabnya dengan berkata; “Tidak butuh orang dewasa untuk mengaturnya, tetapi butuh pemikiran yang dewasa untuk bisa menjalankan amanah”.

Mendengar jawaban seperti itu, si anak kecil pun tersenyum lalu kembali berkata; “Maukah tuan membantuku menggiring domba-domba ini sampai ke kandangnya?”

Permintaan itu langsung ditanggapi oleh Resama dengan sikap yang senang dan segera membantunya. Dan ketika di suatu tempat, anak kecil itu tiba-tiba berubah wujud. Ia berpenampilan sebagai orang dewasa yang sangat kharismatik. Ternyata sosok tersebut adalah seorang utusan Tuhan yang sedang menyamar. Beliau itu adalah Nabi Hamira AS, yang saat itu mendapatkan petunjuk untuk menguji Resama sebelum ia mulai menjalankan tugasnya nanti. Setelah itu, sang Nabi pun banyak memberikan petuah dan bimbingan kepada Resama. Semuanya pun diingat dengan baik-baik oleh sang pemuda.

Singkat cerita, setelah bertemu dengan anak kecil yang ternyata Nabi Hamira AS, Resama kembali melanjutkan perjalanan. Cukup lama ia berjalan dan sempat singgah di beberapa kota. Selama itu, Resama telah melihat dengan jelas betapa kondisi kehidupan manusia sudah semakin maju tapi disertai dengan kemunduran akhlak. Memang sejak ia pergi dulu kemerosotan akhlak sudah terjadi, tapi sekarang telah sedemikian parahnya. Kemaksiatan dan kebejatan perilaku sudah terang-terangan di lakukan. Orang-orang tak memiliki rasa malu meskipun ia melakukan hal yang memalukan, bahkan menjijikkan. Banyak yang sudah melanggar kodrat dirinya sendiri sebagai lelaki ataupun wanita. Begitu pula semakin banyak yang melanggar tuntunan dan aturan Tuhan dengan alasan kebebasan hak. Mereka telah lupa diri dan berperilaku yang tak sepantasnya sebagai manusia. Sungguh amat menyedihkan.

Melihat hal itu, maka benarlah apa yang telah disampaikan oleh An-‘Ainira bahwa kehidupan dunia harus ditata kembali. Kerusakan yang terjadi harus diperbaiki demi keharmonisan dan keseimbangan hidup semua makhluk. Karena jika tidak, maka apa jadinya generasi yang akan datang? Tak ada gunanya hidup mewah namun penuh dengan kerusakan dan kejahatan. Apa artinya jika bisa hidup kaya tapi selalu bergelimang dosa dan pembangkangan. Manusia itu seharusnya bersikap mulia dan menjadi contoh yang baik. Bukannya justru malah seperti binatang liar yang tak berakal.

Ya, begitulah keadaan yang harus dilihat oleh Resama selama perjalanannya. Walaupun ia ingin segera memperbaikinya, namun sang pemuda sadar bahwa saat itu belum waktunya. Ia masih harus bersabar karena semuanya ada cara dan jalannya sendiri. Segala sesuatunya itu harus direncanakan dengan baik dan sesuai pula dengan petunjuk langit. Maka dari itulah Resama belum melakukan apa-apa selain mengamati. Ia memang harus kembali dulu ke rumah untuk bertemu dengan keluarganya. Selain untuk melepas rindu, ia pun merasa ada sesuatu yang sangat penting yang akan disampaikan oleh kedua orang tuanya nanti.

Dan benarlah dugaannya, bahwa sang ayah mewariskan benda pusaka yang menjadi simbol kebesaran dari kaumnya. Siapapun yang memilikinya dan menggunakannya untuk kebaikan akan sangat dihormati. Dan ia memiliki hak untuk meng-klaim hak atas kepemimpinan dari kaum Samihada. Tak ada yang boleh menolak, karena itu sudah tercatat dalam konstitusi dan hukum dasar di kaum Samihada. Adapun benda pusaka tersebut berupa cincin raja, stempel kerajaan, dan tongkat kekuasaan yang hanya dipegang oleh keturunan raja Jayinam (sosok pendiri kaum Samihada) yang terhormat. Selama ini, semua pusaka itu sangat di rahasiakan dari siapapun. Hanya ayah dan ibunya Resama saja yang tahu.

Saat itu, sebagaimana pesan dari leluhurnya dulu, maka sudah waktunya ketiga pusaka tersebut untuk diwariskan kepada Resama. Semua itu bukan hanya karena Resama adalah anak yang tertua, melainkan karena ia memang layak untuk menerimanya. Bahkan sang anaklah yang akhirnya terpilih sebagai pemimpin besar yang akan menata dunia. Karena itulah, pada saat dipegang oleh Resama, ketiga pusaka itu langsung bersinar terang. Seolah-olah ketiganya baru terbangun dari tidur yang panjang.

4. Menegakkan hukum Tuhan
Sebelum membenahi dunia, maka yang pertama kali harus ditata ulang adalah kehidupan di desanya. Setelah mendapatkan petunjuk dari Nabi Hamira AS saat ia menyendiri, Resama dan keluarganya harus datang ke pusat desa untuk melakukan revolusi disana. Tak butuh waktu lama, karena orang-orang segera sadar bahwa nubuwat yang hampir diabaikan itu ternyata benar. Leluhur mereka tak berdusta tentang masa depan, sebab kini muncul seorang pemuda yang kharismatik di tengah-tengah mereka. Dan mereka tak pernah menyangka, bahwa sosok yang dinantikan itu adalah dia yang dulunya sering mereka ejek dan hinakan. Dialah Resama yang terkenal sebagai pemuda miskin dan terabaikan.

Dan mereka tak bisa berkata-kata lagi setelah Resama dan keluarganya itu bisa menunjukkan bukti bahwa mereka adalah pewaris sah dari Jayinam, sang pendiri kaum Samihada. Melihat ketiga bukti yang ada (cincin, stempel, tongkat kerajaan), satu persatu orang-orang mulai percaya dan memberi hormat. Terlebih ketika dari tubuh Resama dan ketiga pusaka tersebut memancarkan sinar yang terang ke segala arah, semua orang langsung tertunduk di hadapan Resama. Mereka melakukan itu tanpa diminta, berangkat dari kemauan hati mereka sendiri. Maka dalam waktu singkat, keluarga yang dulunya terhina itu segera jadi yang terhormat. Semua orang menaruh simpati, segan dan sekaligus cemas. Mereka mulai bertanya-tanya dalam hati apakah Resama dan keluarganya itu akan balas dendam atas perbuatan buruk mereka di masa lalu. Tapi yang terjadi tidak demikian. Resama dan keluarganya telah memaafkan semua perbuatan kaumnya. Saat ini adalah waktunya untuk menata kembali kehidupan dan mulai membangun kejayaan kaum yang semestinya.

Waktu pun berlalu, kabar tentang Resama dan keluarganya telah sampai ke istana kerajaan kaum Samihada. Raja yang memimpin saat itu termasuk di antara mereka yang telah lupa diri. Ia terlarut dalam kekufuran dan senang melakukan perbuatan nista. Karena itu, ketika ia mendengar kemunculan Resama sebagai pewaris sah dari tahta kerajaan kaum Samihada, ia langsung berprasangka buruk. Dalam waktu singkat, ia dan para menterinya pun segera mengatur siasat untuk menghabisi Resama dan keluarganya. Tujuannya adalah untuk menghilangkan dualisme kepemimpinan di dalam kaum Samihada. Mereka tak mau tersingkirkan setelah sekian lama menikmati kekuasaan. Mereka pun tak peduli lagi dengan ketetapan dalam konstitusi dan hukum dasar kaumnya yang mengatakan bahwa hak kepemimpinan tertinggi dari kaum Samihada selalu berada di tangan pewaris raja Jayinam (sosok pendiri kaum) yang mewarisi tiga pusaka utama kaumnya.

Singkat cerita, dengan membawa ribuan pasukannya, raja kaum Samihada (yang sebenarnya hanyalah sebagai penjaga tahta) yang bernama Kurata itu segera menyerang desa tempat tinggal Resama dan keluarganya. Dengan serangan penuh dan membabi buta, ia ingin segera membunuh sang pemuda hanya demi merebut tiga pusaka utama kaumnya. Penduduk desa pun akan mereka habisi, karena dinilai telah menampung para pemberontak. Tapi Resama dan keluarganya itu bukanlah orang biasa. Bersama-sama penduduk desa, maka hanya dalam waktu yang singkat mereka berhasil mengalahkan pasukan raja zalim itu. Dan karena sang raja tetap angkuh meskipun sudah diingatkan, maka dalam pertarungan yang adil ia pun harus tewas ditangan Resama. Sang raja meregang nyawa setelah terkena ajian Margilas yang sangat mematikan dari Resama.

Setelah kejadian itu, maka semua orang dari kaum Samihada semakin mengagumi Resama dan keluarganya. Dan karena memang sudah menjadi haknya, terlebih saat raja Kurata pada akhirnya tewas, maka tibalah waktunya untuk Resama dan keluarganya itu tinggal di istana kaum Samihada. Tak lama kemudian, oleh kaum Samihada, Resama lalu diangkat menjadi raja mereka. Saat dilantik, Resama langsung memakai nama gelar kebesarannya yaitu Man-Amurata Resama Jayahida Arya Himanara Pasya. Gelar yang seperti itu baru pertama kalinya di kaum Samihada.

Waktu pun berlalu. Resama dan keluarganya hidup di istana kerajaan yang bernama Hadiraya. Disana mereka tak hanya bersantai-santai seperti kebanyakan para bangsawan, karena dalam waktu singkat semua orang diajak untuk segera berbenah. Kerajaan yang telah lama hidup dalam arus yang salah segera dibenarkan kembali. Sistem ketatanegaraan dan struktur kepempimpinan dalam kerajaan juga dirombak, lebih disempurnakan. Dan tanpa terkecuali, setiap orang pun harus bahu membahu dalam menegakkan hukum dan aturan Hyang Aruta (Tuhan YME). Dengan niat yang sungguh-sungguh, setiap orang diharapkan menjadi manusia yang sejati. Dan sebagai raja, Resama sendiri adalah orang pertama yang menerapkannya. Begitu pula dengan keluarganya, mereka selalu menjadi suri tauladan bagi kaumnya. Tapi karena kedua orang tua Resama sudah terlalu tua untuk urusan negara, mereka hanya bersedia untuk menjadi panasehat rajanya saja. Itu pun cuma sebentar. Setelah merasa cukup dan melihat kaumnya berhasil bangkit, tak lama kemudian Aslani dan Anamie pun memutuskan untuk mengasingkan diri. Itu di lakukan karena keduanya merasa sudah waktunya untuk segera moksa dan berkumpul dengan leluhurnya dulu.

Seiring berjalannya waktu, apa yang terjadi di kaum Samihada telah menyebar ke negeri tetangga. Semakin lama kebangkitan kaum yang sebelumnya terpuruk itu mencuri perhatian bangsa dan negara lain di dunia. Mereka teringat kembali dengan nubuwat tentang kebangkitan yang akan dimulai dari Malayanura (Nusantara). Karena itu, di kemudian hari terdapat tiga golongan dalam menyikapinya. Ada yang menerimanya, tapi ada pula yang menolak dan tak peduli. Mereka yang menerimanya baik secara perorangan atau dalam lingkup kerajaan, segera meminta bergabung dengan Resama dan kaumnya. Sedangkan yang menolaknya, ada yang mulai mengatur siasat untuk menghancurkan kaum Samihada. Mereka ini benar-benar manusia yang telah lupa diri dan rusak akhlaknya. Dengan menghalalkan segala cara, mereka hanya ingin menjadi yang terhebat dan tetap hidup dalam kesenangan duniawi semata. Mereka pun berusaha untuk menghancurkan kaum Samihada dalam beberapa pertempuran tapi tak pernah berhasil. Sementara itu, mereka yang tak peduli dengan kebangkitan kaum Samihada, memang benar-benar tak peduli. Akibatnya mereka ini hanya menjadi korban dari perseteruan antara kedua kubu di atas.

Maka dari itu, dimulailah tahap selanjutnya bagi Resama untuk menegakkan hukum Tuhan di Bumi. Setelah negerinya dipenuhi dengan kebaikan dan kemakmuran, ia mulai menerima permintaan tolong dari mereka yang hidup tertindas. Dimanapun ketidakadilan berkuasa atau kemaksiatan merajalela, Resama dan pasukannya akan datang menghancurkannya lalu menggantikannya dengan tatanan yang baru. Satu persatu raja dan kerajaan yang menyimpang dari kebenaran bisa ditaklukkan. Rakyat disana segera dibebaskan dari penderitaan dan kejahiliyahan dengan berpatokan pada hukum Tuhan. Sehingga pada akhirnya, satu persatu kehidupan di muka Bumi kian membaik dan harmonis. Orang-orang mulai kembali pada jalan kebenaran yang sejati.

Tapi karena wilayah daratan di Bumi pada masa itu sangatlah luas, maka masih banyak negeri yang hidup dalam kejahiliyahan. Para pemimpinnya lalu bersekutu untuk bisa menghancurkan kaum Samihada dan para pendukungnya. Tak tanggung-tanggung, karena dari mereka itu ada yang sampai bersekutu dengan raja setan dan makhluk kegelapan lainnya. Tujuannya tentu hanya untuk bisa mengalahkan kesaktian Resama dan kekompakan dari kaumnya itu. Mereka juga ingin meleyapkan kebenaran Tuhan dari muka Bumi ini. Apapun caranya akan mereka tempuh asalkan bisa menang.

Dan persekutuan jahat itu dipimpin oleh seorang raja penyihir yang bernama Barlunos. Ia berasal dari negeri yang berada di antara Yunani dan Macedonia sekarang. Negeri itu bernama Morasan. Sebuah negeri yang sangat besar dan terkenal sangat kuat dan makmur. Peradaban mereka tinggi dan menjadi pemimpin kejayaan di wilayah barat. Tak ada yang tidak pernah mendengar tentang kerajaan ini, karena mereka juga sering menaklukkan negeri lainnya. Tujuannya tentu berbeda dengan Resama dan kaum Samihada, sebab jika kerajaan Morasan ini berperang maka tujuan mereka hanya untuk mengeruk kekayaan dan menjajah. Bahkan lebih buruknya lagi, karena dipimpin oleh seorang penyihir, maka kesesatannya pun disebarkan di semua negeri jajahannya. Kebiasaan untuk mengorbankan 13 gadis perawan dalam ritual menyembah Halta (yang sebenarnya raja setan) harus di laksanakan pada setiap bulan ketujuh menurut kalender mereka. Tidak boleh ada tuhan yang lain atau ajaran agama yang lain. Semua orang dipaksa untuk mengikuti keyakinan sang kaisar. Jika ada yang membangkang, maka ia akan disiksa atau bahkan dibunuh secara keji.

Nah, kondisi yang memilukan itu telah berlangsung selama puluhan tahun. Semakin lama maka pengaruh dari kekaisaran Morasan ini terus menyebar di wilayah barat dan utara Bumi. Mulai dari Eropa Barat, Eropa Utara, Eropa Timur, Afrika Utara, Timur Tengah dan sebagian wilayah Asia telah dibawah pengaruh kekaisaran Morasan ini. Terpaksa atau tidak, banyak kaum dan kerajaan yang telah berada di dalam kendali penuh kerajaan Morasan. Jika kaisar Barlunos menitahkan mereka untuk berperang, maka mereka pun akan berperang. Dan ketika ia mengajak untuk bersekutu, maka tak ada raja ataupun kaum yang berani menolaknya. Tak ada yang mau berselisih dengan kerajaan besar itu jika tak ingin negerinya dihancurkan. Mereka selalu lemah dihadapan sang kaisar dan jutaan pasukannya.

Begitulah kondisi yang terjadi di wilayah barat dan utara. Dan karena raja Barlunos telah mendengar ada seorang raja tersohor di Malayanura (Nusantara) yang membela kaum tertindas dan mempromosikan ajaran Tuhan, ia lalu kebakaran jenggot. Oleh sebab Barlunos adalah abdinya Halta (raja setan), tak ada alasan baginya untuk tidak segera memerangi mereka yang beriman. Maka dengan kekuatan penuh, sang raja pun segera menyatakan perang kepada Resama dan pendukungnya. Dan akhirnya terjadilah perang yang sangat dahsyat yang mengguncang dunia.

Ya. Perang saat itu adalah perang dunia yang sebenarnya. Mengapa begitu? sebab bukan lagi demi kekayaan, kekuasaan atau pun wilayah. Perang besar saat itu hanya untuk menunjukkan siapa yang unggul di antara kebenaran dan kejahatan. Karena itu, kondisinya sangat berbeda dari perang yang pernah terjadi pada umumnya. Dan kekuatan yang dikeluarkan saat itu bahkan sampai diluar kebiasaan. Mengapa begitu? sebab yang ikut berperang bukan hanya manusia atau yang tinggal di alam nyata dunia ini, tetapi juga mereka yang berasal dari dimensi lainnya. Sungguh pertempuran yang dahsyat.

5. Perang dunia akhir zaman Nusanta-Ra
Perlu diketahui bahwa sejak masa pertengahan periode zaman keenam (Nusanta-Ra) sedang berlangsung, yang namanya ilmu sihir itu sudah ada dan sering mendominasi kehidupan manusia. Lalu sejak di masa kehidupan Nabi Musa AS khususnya, maka ilmu sihir itu masih tetap menjadi yang favorit. Meskipun sebenarnya tidak baik, beberapa kerajaan bahkan sangat mengandalkan para tukang sihir untuk bisa menjalankan roda pemerintahannya. Hal ini terus berlangsung sampai puluhan ribu tahun lamanya, sampai di masa kehidupan Resama. Dan salah satu kerajaan yang mengutamakan ilmu sihir itu adalah kekaisaran Morasan. Bahkan rajanya sendiri adalah pemimpin tertinggi dari para penyihir sakti.

Kembali pada kisah selanjutnya. Sebelum perang dunia terjadi, kaisar Barlunos telah memerintahkan semua raja bawahan dan sekutunya (termasuk tukang sihir) untuk berkumpul di pusat kerajaan Morasan. Di istana yang megah itu, mereka lalu membahas tentang bagaimana caranya menghancurkan kekuatan kaum Samihada yang dipimpin oleh Resama. Kabar tentang kemahsyuran sang pemuda sudah menyebar kemana-mana seperti angin. Ini jelas mengganggu pamor dan keagungan dari penguasa Morasan. Dan kaisar Barlunos tak ingin ada sosok lain yang setara dengan dirinya atau bisa menyainginya. Sehingga harus segera dihilangkan dengan berbagai cara yang jitu.

Singkat cerita, semua raja bawahan dan sekutu kerajaan Morasan sudah diperintahkan untuk mengirimkan pasukan terbaiknya. Mereka lalu berkumpul di luar kota kerajaan Morasan dan setelah 3 minggu kemudian mulai bergerak menuju ke Malayanura (Nusantara). Tujuannya tiada lain kecuali untuk berperang dan mengalahkan Resama dan para pendukungnya. Atas perintah raja Barlunos, apapun harus mereka lakukan. Bagaimanapun caranya yang penting mereka bisa menang.

Pada masa itu, setiap kali pertempuran besar terjadi maka kedua belah pihak yang bertentangan akan mengerahkan pasukan dalam jumlah yang sangat banyak. Dan khusus untuk perang dunia saat itu, mereka terdiri dari beberapa divisi yang didalamnya terdapat beberapa jenis pasukannya. Nah untuk pasukan gabungan kekaisaran Morasan kala itu sudah terkumpul 50 divisi. Setiap divisi terdiri dari 5.000 pasukan berkuda (kavaleri), 1.000 pasukan gajah, 3.000 kereta kuda, 35.000 orang prajurit pejalan kaki (infanteri) yang di lengkapi dengan berbagai senjata (pedang, tombak,panah, gada, dan ketapel), 1.000 pasukan artileri (persenjataan), dan 5.000 pasukan cadangan, urusan kesehatan dan logistik. Artinya, ada sekitar ±50.000 orang pasukan siap tempur dalam setiap divisinya. Dan jika dikalikan dengan 50 divisi yang ada, maka ada sekitar ±2.500.000 pasukan yang berada dibawah komando kaisar Barlunos saat itu. Satu pasukan yang sangat besar untuk ukuran dimasa itu, bahkan dimasa kita sekarang. Semua bisa terjadi karena pada masa itu ada sekitar 75 kerajaan besar kecil yang telah bergabung di dalam koalisi kerajaan Morasan.

Sementara itu, dikubu pasukan Resama tak sebanyak pasukan raja Barlunos. Jika koalisi kerajaan Morasan sudah terdiri dari 50 divisi, maka di pihak koalisi kaum Samihada terdiri dari 35 divisi pasukan saja. Hanya ada sekitar 50 kerajaan besar kecil yang berada dibarisan pasukan yang membela kebenaran itu. Jumlahnya tak lebih dari 1,8 juta pasukan saja. Jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah pasukan pimpinan raja Barlunos. Namun demikian, tak ada alasan bagi Resama dan pasukannya untuk takut dan melarikan diri. Sebab mundur saat itu sama saja dengan bunuh diri. Dan sudah jelas apa tujuan dari kaisar Barlunos dan pasukannya itu. Mereka sangat membenci siapapun yang hidup dalam cahaya kebenaran Ilahi. Dengan segala kemampuannya, mereka pun ingin menyebarkan ajaran sesat dari tuhan mereka yang bernama Halta itu ke seluruh dunia.

Waktu pun berlalu dan kabar tentang perang dunia telah menyebar ke segala penjuru. Pasukan dibawah komando raja Barlunos sudah mulai bergerak menuju ke Malayanura (Nusantara) yang kala itu masih berupa daratan yang sangat luas. Mereka bergerak melalui wilayah yang sekarang ini disebut negara Turki. Hanya saja pada masa itu daratan Asia masih menyatu dengan Eropa. Dua wilayah negara Turki dimasa sekarang yang terpisah masih menyatu. Selat Bosphorus yang menjadi pemisah antara benua Asia dan Eropa disana juga masih belum ada. Karena saat itu yang ada hanyalah daratan luas dan menghijau.

Gambar 2. Foto: Selat Bosphorus-Turki

Maka melalui daerah itulah (Turki sekarang) pasukan dibawah pimpinan raja Barlunos terus bergerak melewati beberapa wilayah lain yang kini disebut dengan negara Iraq, Iran, Pakistan, India, Bangladesh, Burma/Myanmar, Thailand, Kamboja dan Vietnam. Dari wilayah yang disebut Tunggana (Thailand-Kamboja-Vietnam sekarang), pasukan besar itu terus bergerak melewati daerah yang kini sudah menjadi Laut China Selatan dan Laut Karimata. Disanalah mereka akhirnya bertemu dengan pasukan koalisi pimpinan Resama. Disana pula perang dunia akhir zaman keenam (Nusanta-Ra) pun terjadi. Satu perang yang sangat dahsyat.

Setiap melewati sebuah negeri, tak lupa pula pasukan raja Barlunos itu juga menaklukkannya. Karena itulah, banyak kerajaan yang raja dan pasukannya akhirnya terpaksa menyingkir ke arah selatan atau tenggara, menuju ke Malayanura (Nusantara) untuk menyelamatkan diri. Disana mereka pun berharap bahwa Resama dan pasukannya itu mau menerima mereka untuk bergabung. Resama pun menerimanya dengan senang hati, karena ia pun butuh pasukan besar untuk melawan kekuatan pasukan raja Barlunos. Dan memang apa yang terjadi saat itu akan menentukan bagaimana kehidupan di muka Bumi selanjutnya. Jika Resama dan pendukungnya sampai kalah, maka kehidupan dunia akan dipenuhi dengan kejahatan. Seisi Bumi akan dikendalikan oleh kegelapan yang pekat.

Dan setelah 3 tahun kemudian, maka tibalah saatnya kedua pasukan yang bertentangan itu bertemu di sebuah daratan yang sangat luas, yang sekarang berada di sekitar Laut China Selatan dan Laut Karimata. Suasana yang ada saat itu sangat menegangkan, sebab telah berhadapan dua kubu pasukan yang berjumlah jutaan. Semua peralatan dan perlengkapan perang terbaik sudah dibawa. Para prajurit yang sangar dan gagah berani juga telah berdiri saling berhadapan. Tinggal menunggu perintah saja, mereka pun akan segera bertempur sampai mati.

Tapi diluar dugaan orang-orang yang tinggal di Malayanura (Nusantara) saat itu. Raja penyihir yang bernama Barlunos itu tak terlihat seperti seorang penyihir jahat. Ia justru berpenampilan layaknya seorang raja yang agung lengkap dengan baju zirah yang begitu menawan. Jika tidak tahu, maka siapapun takkan sadar bahwa sosok rupawan itu adalah seorang penyihir yang sangat kejam. Sudah begitu banyak darah yang mengalir atas perintahnya. Sangat banyak nyawa dari orang-orang yang tak bersalah harus melayang hanya atas keinginannya. Sosok bengis itu sangat pandai menipu dengan penampilannya.

Selanjutnya, karena kedua belah pihak sudah berada di tempat yang sama, maka pertempuran besar pun akan dimulai. Sebagaimana tradisi pada masa itu, maka kedua pemimpin pasukan harus bertemu dulu di tengah-tengah medan pertempuran. Mereka harus membicarakan beberapa hal yang bisa disepakati sebagai aturan dalam perang. Misalnya tentang apa yang boleh dan tak boleh di lakukan oleh setiap pasukan, atau tentang kapankah pertempuran bisa dimulai dan diberhentikan. Semua orang setuju dengan perundingan itu. Hanya saja, mereka tak bisa meraih kata sepakat untuk berdamai saja ketimbang berperang. Keduanya sama-sama tetap dalam pendiriannya semula. Raja Barlunos tetap ingin berkuasa dan menyebarkan keyakinan sesatnya di tanah Malayanura (Nusantara), sementara Resama tak pernah setuju dengan keinginan itu. Sang pemuda tetap akan melawan walau sehebat apapun serangan dari pasukan raja bengis itu. Lebih baik mati berkalang tanah dari pada harus tunduk pada kesombongan dan kebatilan.

Dan terjadilah pertempuran yang sengit di antara kedua belah pihak. Baik pasukan raja Barlunos dan Resama sama-sama melakukan perlawanan yang hebat. Keduanya bertempur dengan gagah berani, entah karena memang berani atau hanya terpaksa saja. Terlebih sebagian pasukan yang ada dibawah komando raja Barlunos adalah mereka yang ditaklukkan dengan paksa, maka mau tidak mau mereka harus ikut berperang jika tak ingin lebih menderita. Berbeda dengan pasukan dibawah pimpinan Resama. Mereka itu adalah orang-orang merdeka yang berperang karena ingin menegakkan keadilan. Bagi mereka tak ada pilihan selain berperang dalam mempertahankan kebebasan hidupnya. Terlebih ada pahala yang besar bagi siapapun yang gugur saat berjuang di jalan kebenaran. Pahala yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang berjiwa kesatria.

Di medan pertempuran itu, kedua belah pasukan mengatur strategi dan formasi perang dalam berbagai model (bentuk). Mereka berperang di beberapa titik lokasi dan dibagi-bagi ke dalam beberapa formasi yang rumit. Setiap formasi memiliki bentuk dan pemimpinnya sendiri. Satu formasi tempur akan dihadapi oleh satu formasi tempur lainnya. Sehingga pertempuran saat itu terlihat sangat berwarna dan menegangkan. Dan karena berlangsung sengit bahkan sejak awal pertempuran, tak lama kemudian banyak yang telah menjadi korban. Darah pun berceceran dimana-mana lalu mulai mengalir dan menganak sungai. Tak ketinggalan pula burung-burung nazar ikut berpesta. Membuat suasana pada saat itu terasa semakin mengerikan.

Di lain tempat, meskipun raja Barlunos adalah orang yang sakti dan pasukannya sangat banyak, ia tak begitu sesumbar. Karakter raja yang satu ini memang unik. Kadang ia menjadi sangat beringas dan angkuh, tapi dilain waktu ia justru menjadi sosok yang pendiam, sangat teliti dan penuh perhitungan. Oleh sebab itulah, jauh sebelum pertempuran, sang raja sudah merencanakan banyak hal dengan hati-hati. Semua telah dipikirkan dengan matang, sebab ia tak mau gegabah saat menghadapi Resama dan pasukannya di medan pertempuran. Dan itu terbukti dengan sikapnya yang mengerahkan pasukan secara bertahap sesuai dengan level keahliannya. Tak ada yang boleh maju tanpa perintahnya. Semuanya sudah diatur dengan tertib dan disiplin. Para kesatria yang berilmu tinggi “disimpan” dulu, sementara prajurit kelas rendahan disuruh maju dan segera menyerang. Strategi itu terbukti ampuh dan sangat menguntungkan, sekaligus bisa mengukur batas kemampuan lawannya.

Ya. Dikarenakan raja Barlunos menerapkan strategi tempur yang bertahap, maka waktu yang dibutuhkan dalam perang besar itu menjadi lama. Setelah tiga hari, belum ada yang terlihat menang. Kedua belah kubu masih sama-sama kuat dan terus menyerang dengan gigih. Mereka terus berkutat dengan formasi-formasi tempur yang kadang berubah-ubah. Meskipun suasana di medan pertempuran saat itu menjadi sangat menarik, tetap saja tak banyak mengubah keadaan. Kedua pasukan masih seimbang dalam berbagai hal.

Gambar 3. Ilustrasi beberapa bentuk formasi tempur

Sampai pada akhirnya tibalah saatnya para kesatria pilihan raja Barlunos harus turun gelanggang. Satu persatu dari mereka mulai bertarung menghadapi para kesatria dari kubu Resama. Pertarungan saat itu sangat menarik, karena para kesatria yang terlibat pertempuran langsung mengeluarkan berbagai macam keahlian khusus. Mereka pun menggunakan senjata pusaka yang bermacam-macam jenisnya, juga ilmu ajian yang luar biasa kehebatannya. Membuat siapapun merasa rugi jika tak melihat secara langsung pertarungan sengit itu.

Ya. Suasana sejak hari ke empat pertempuran selalu diwarnai dengan pertarungan di antara para kesatria yang sakti mandraguna. Kedua belah pihak sama-sama hebat dan tak mudah untuk dikalahkan. Suara dentuman keras dan ledakan yang besar sesekali mengikuti jalannya pertempuran. Semua itu berasal dari senjata pusaka atau pun ajian dari para kesatria yang bertarung. Mereka benar-benar mengeluarkan seluruh kemampuan yang ada. Tujuannya tentu untuk bisa cepat mengalahkan lawan atau menjadi pemenang dalam perang dunia saat itu.

Singkat cerita, di hari ke-7 pertempuran mulai terlihat siapakah yang lebih unggul. Pasukan raja Barlunos yang berjumlah sangat banyak itu ternyata mampu ditandingi oleh pasukan Resama yang berjumlah lebih sedikit. Lambat laun mereka bahkan mulai tersudut dikarenakan banyak formasi tempurnya yang akhirnya bisa dihancurkan oleh formasi tempur pasukan Resama. Begitu pula dengan para kesatrianya. Satu persatu suruhan dari raja Barlunos itu mulai tumbang dan terbunuh oleh para kesatria dan senopati pasukan Resama. Keadaan mulai berpihak kepada Resama dan bala pasukannya.

Melihat keadaan seperti itu, raja Barlunos mulai gelisah. Ia lalu memerintahkan para senopatinya, yang terdiri dari para raja bawahan, untuk segera menyerang. Kali ini keadaan justru berbalik. Pasukan raja Barlunos mulai unggul dari pasukan Resama. Para raja yang berperang itu adalah orang-orang yang sakti mandraguna. Hanya para raja di kubu Resama saja yang mampu menahan serangan dan kesaktian mereka. Karena itulah, sekali lagi terjadilah pertarungan yang luar biasa di medan pertempuran. Setiap raja itu bertarung dengan menggunakan senjata pusaka dan kesaktian yang tinggi. Di antara mereka bahkan ada yang bertarung selama berhari-hari tanpa henti. Sungguh ketahanan fisik yang luar biasa.

Sungguh, perang dunia kala itu sangat unik dan menarik. Dan ada satu hal yang luar biasa terjadi tepat di hari yang ke-10 pertempuran. Pada malam harinya, tiba-tiba Resama menghilang dari medan pertempuran. Tak ada yang tahu kemana perginya sang pemuda. Dan ternyata ia menemui raja para hewan yang tinggal tak jauh dari lokasi pertempuran. Raja hewan tersebut bernama Hastra. Ia berwujud kera putih yang memiliki kesaktian khusus. Atas petunjuk Tuhan, Hastra lalu diberikan amanah untuk memimpin semua hewan yang hidup di wilayah barat Nusantara kala itu. Selain Hastra, ada empat raja lain yang memimpin para hewan di wilayahnya masing-masing. Semua raja hewan itu jenisnya berbeda dan mereka tinggal di ke empat arah lainnya (timur, utara, selatan dan tengah). Disana mereka memimpin semua golongan hewan sesuai dengan hukum Tuhan di zaman itu.

Ya. Malam itu Resama diterima dengan sangat baik di tempat kediaman raja Hastra. Dengan menggunakan bahasa khusus, keduanya lalu berbincang-bincang seperti layaknya manusia. Karena kesaktiannya, sang raja hewan pun bisa berbicara dengan lancar seperti seorang manusia. Sementara Resama sendiri memanglah sosok yang unik, karena ia pun mampu berbicara dengan semua jenis hewan. Oleh sebab itu, atas petunjuk yang baru saja ia dapatkan, sang pemuda lalu mengajak raja hewan dan rakyatnya itu untuk ikut berjuang melawan kezaliman raja Barlunos. Semuanya dengan tujuan untuk menegakkan keseimbangan alam dan menciptakan keharmonisan hidup di antara sesama makhluk Tuhan di Bumi.

Singkat cerita, karena sang raja hewan juga telah mendapatkan petunjuk, maka ia pun bersedia ikut berperang dibawah komando Resama. Sang pemuda oleh Hastra sudah diketahui telah dipilih langit untuk memimpin dunia. Karena itu, di hari yang ke-11 pertempuran, tanpa di sangka-sangka oleh semua orang, tiba-tiba datang berbagai jenis hewan yang langsung menyerang pasukan raja Barlunos. Dengan kejadian itu, sontak saja pasukan besar itu menjadi gaduh. Mereka kebingungan saat harus menghadapi serangan dari ratusan ribu hewan-hewan itu. Banyak dari mereka yang menjadi korban dari keganasan hewan yang dipimpin oleh Hastra. Sungguh peristiwa yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Pertempuran pun terus berlangsung. Hastra dan para hewan lainnya tetap bergabung dalam barisan pasukan Resama. Semua orang menjadi tak habis pikir, bagaimana bisa hewan-hewan yang dianggap tak berakal itu bisa bertempur. Terlebih mereka seperti sudah terlatih dan sangat memahami setiap komando yang diberikan oleh rajanya. Hewan-hewan itu seperti manusia dan perilaku mereka saat itu terlihat sangat aneh. Mereka bersikap tak biasa, sebab tak ada yang berisik atau berbuat kacau seperti tingkah laku hewan pada umumnya. Mereka tampak tenang dan sangat serius dalam pertempuran kala itu. Dan setelah perang dunia itu usai, barulah mereka kembali ke tempatnya masing-masing dengan tertib. Semuanya tetap dalam satu komando dibawah pimpinan Hastra. Sosok raja yang bijak meskipun ia berasal dari golongan hewan.

***

Waktu pun berlalu sampai di hari yang ke-12 pertempuran. Saat itu, untuk yang kesekian kalinya kubu pasukan raja Barlunos dapat dipecundangi oleh pasukan Resama. Para raja yang ia utus berperang saat itu, satu persatu dapat dikalahkan, dan sebagian lainnya ada yang sampai tewas di tangan para raja dari kubu Resama. Itu pun ditambah dengan begitu banyak pasukannya yang gugur diterjang keganasan hewan-hewan pimpinan Hastra. Hal ini jelas membuat sang kaisar murka. Ia tak mampu lagi menahan diri dan segera memerintahkan kedua orang panglima andalannya untuk maju dan menyerang dengan kekuatan penuh. Panglima itu bernama Magal dan Sagal. Keduanya adalah sosok kesatria bersaudara yang sakti mandraguna sekaligus ahli dalam ilmu sihir.

Gambar 4. Ilustrasi perang zaman dulu

Ketika Magal dan Sagal menyerang dengan kekuatan besar, pasukan Resama yang menghadapinya selalu dapat dikalahkan. Beberapa raja yang melawannya pun bisa dilumpuhkan. Panglima kepercayaan raja Barlunos itu benar-benar sosok yang luar biasa. Hanya dalam satu kali serangan saja, maka puluhan prajurit dapat dihancurkan dengan mudahnya. Mereka pun tak segan-segan membunuh siapa saja yang berani menghalangi jalan atau berhadapan dengannya. Mereka pun beberapa kali mengeluarkan ilmu sihir untuk menyerang lawannya. Sesekali mereka juga berubah-ubah wujud dan terkadang menghilang dari pandangan musuh. Tipu muslihat sebagaimana kebiasaan para tukang sihir juga mereka keluarkan. Dan hanya dengan menggunakan mantra, maka muncullah berbagai jenis makhluk menyeramkan yang susah dikalahkan. Ini jelas membuat pasukan Resama semakin kewalahan.

Sungguh, Magal dan Sagal itu seperti tak tertandingi oleh siapapun. Senjata pusaka dan kesaktian yang mereka miliki sungguh luar biasa. Sosok perkasa itu seperti batu karang yang tak bergeming saat dihantam badai. Sungguh benar-benar kuat dan sakti, terlebih mereka pun menguasai ilmu sihir tingkat tinggi yang sulit dicari tandingannya. Tapi di dalam pasukan Resama ada dua sosok wanita yang juga sakti mandraguna. Dialah Marieha dan Mariena, adik dari sang pemuda sendiri. Merekalah yang pada akhirnya maju menghadapi kedua panglima jahat itu.

Sama halnya dengan sang kakak, Marieha dan Mariena bukanlah orang biasa. Mereka telah dibekali dengan berbagai ilmu dan juga sering ber-tapa brata. Karena itulah, dengan semangat yang membara keduanya lalu berhadapan langsung dengan Magal dan Sagal itu. Apapun kesaktian dan ilmu sihir yang dikeluarkan oleh kedua panglima itu bisa diatasi oleh Marieha dan Mariena. Mereka bertarung satu lawan satu diberbagai tempat. Terbang kesana kemari juga sering mereka lakukan. Mereka adalah lawan yang sebanding. Tapi yang namanya kebenaran pasti akan menang, maka pada akhirnya Marieha dan Mariena berhasil mengalahkan kedua panglima jahat itu. Awalnya Sagal yang harus tewas terpanggang oleh ajian milik Mariena, selanjutnya Magal yang harus menyusul setelah tubuhnya hancur terkena serangan telak dari Marieha. Sungguh kesatriawati yang luar biasa.

Waktupun terus beranjak sampai dihari ke-13 pertempuran. Kondisi di medan pertempuran kala itu semakin menegangkan. Melihat pertarungan antara Marieha dan Mariena melawan dua sosok panglima andalan raja Barlunos, siapapun pasti terkesima. Belum pernah mereka melihat yang semacam itu, bahkan dalam perang-perang besar sebelumnya. Empat kesatria itu benar-benar orang yang luar biasa. Terlebih Marieha dan Mariena, keduanya benar-benar sosok yang mengagumkan. Jarang ada wanita yang memiliki kesaktian yang sehebat mereka.

Mengetahui panglimanya tewas, raja Barlunos semakin murka. Ia lalu maju ke tengah-tengah medan pertempuran dan langsung menyerang Marieha dan Mariena sekaligus. Selain seorang penyihir, raja Barlunos juga seorang kesatria yang berilmu tinggi. Nah saat itu, meskipun berjauhan karena beda divisi, Resama bisa melihat dengan jelas bahwa kedua adiknya itu akan berhadapan langsung dengan raja penyihir yang paling sakti. Dan benar, bahwa dalam waktu singkat raja Barlunos sudah mengeluarkan ajian untuk menyerang kedua bersaudara itu. Tapi dengan kecepatan kilat, Resama telah lebih dulu berdiri dihadapan kedua adiknya itu. Ia pun berkata: “Cukup. Biar kakanda saja yang menghadapi raja penyihir itu. Sudah kewajibanku sebagai pemimpin pasukan”

Mendengar itu, Marieha dan Mariena segera mengiyakan dan mereka langsung mundur. Tinggallah Resama yang berdiri dalam posisi siap menerima serangan raja Barlunos. Dan ketika ajian Duljar itu dilepaskan, dengan mudahnya bisa ditangkis oleh Resama. Melihat itu, sang raja kian emosi. Dengan kesaktiannya, ia lalu mengubah siang menjadi malam. Matahari yang bersinar terang di siang itu tiba-tiba menghilang entah kemana. Suasana menjadi gelap gulita, yang terdengar hanya suara gelak tawa yang keras dari sang raja penyihir.

Suara tertawa dari mulut raja Barlunos itu bukan sekedar tawa biasa. Ternyata itu juga sihir yang bisa menghipnotis dan atau juga membunuh siapapun yang mendengarnya. Hanya mereka yang berilmu tinggi yang mampu melawan kekuatan sihir itu. Mengetahui itu, Resama langsung bertindak. Ia segera berdiri tegap dengan sikap kedua tangan yang bertumpu di atas dada. Setelah mengheningkan cipta, Resama lalu membacakan mantra khusus untuk menangkal tawa sihir dari raja Barlunos itu. Dalam waktu singkat sihir itu mampu dihilangkan dan pasukannya bisa kembali sadar. Hanya saja suasana gelap masih belum bisa dihilangkan. Itu adalah bentuk sihir lain yang dilancarkan oleh raja Barlunos.

Untuk yang kedua kalinya, Resama kembali mengheningkan cipta. Setelah itu, ia lalu mengeluarkan tongkat pusaka kaum Samihada dan menghentakkannya ke tanah. Setelah dihentakkan, Resama lalu membaca sebait mantra khusus. Tak lama kemudian dari ujung kepala tongkat itu (yang terbuat dari berlian) memancar sinar yang sangat terang. Cahaya itu lalu menerangi medan pertempuran, dan secara perlahan berhasil menghilangkan sihir dari raja Barlunos. Suasana kembali terang benderang seperti sebelumnya.

Saat semuanya kembali terang, semua orang tak melihat dimanakah raja Barlunos berada. Yang terdengar hanyalah suaranya saja, sementara tubuhnya menghilang. Melihat itu, Resama langsung menggunakan kemampuan mata ketiganya. Dengan ilmu itu, ia bisa melihat dengan jelas tubuh raja Barlunos dari kejauhan. Sang raja memang menggunakan ilmu menghilang agar tak bisa dideteksi oleh musuhnya. Tapi yang ia hadapi saat itu bukanlah orang sembarangan. Resama bisa dengan jelas melihat tubuh sang raja dan langsung mendekatinya untuk membuat perhitungan. Maka terjadilah pertarungan yang sengit. Hanya saja pada saat itu tak ada yang bisa melihat mereka bertarung. Kedua sosok kesatria itu bertarung dengan cara menghilangkan tubuhnya. Yang terdengar hanya suara dentuman demi dentuman saja.

Sampai pada suatu ketika, tiba-tiba dari alam goib terlempar bola-bola api yang menghantam keras medan pertempuran. Bola-bola api itu berasal dari pertarungan kedua kesatria itu. Saking hebatnya pertarungan mereka berdua, dari alam goib kekuatannya sampai tembus ke alam nyata. Dan atas ledakan itu, tidak sedikit prajurit yang terluka, bahkan tewas. Melihat itu, Marieha langsung membuatkan perisai tembus pandang untuk melindungi pasukannya. Dengan cekatan, sang pemudi lalu mengeluarkan mustika yang ia dapatkan dari hasil ber-tapa brata di puncak gunung Hamuji (gunung Fuji sekarang). Dan memang salah satu kemampuan dari mustika itu adalah untuk membuatkan dinding pelindung dari serangan yang mematikan.

Waktupun terus berlalu, sementara itu pertarungan antara Resama dan raja Barlunos masih berlangsung. Pada saat itu tubuh mereka sudah kembali ke alam nyata dan bisa dilihat oleh semua orang. Dan setelah keduanya muncul di alam nyata, tak lama kemudian sang raja mengeluarkan sihir dengan memperbanyak dirinya. Sosok-sosok itu adalah bayangan diri sang raja yang juga punya kemampuan hebat. Melihat itu, Resama cukup membagi dirinya menjadi 10 sosok untuk menghadapi 100 bayangan raja Barlunos itu. Ke sembilan bagian diri Resama diperintahkan untuk menyerang terus-terusan kepada 100 bayangan raja Barlunos, sementara yang satunya (dirinya yang asli) mengamati dimanakah keberadaan sosok raja Barlunos yang asli. Selang beberapa waktu, akhirnya Resama bisa melihat dimana sosok raja Barlunos yang asli. Dengan ajian Gaptamar, Resama langsung menyerang tubuh yang asli itu. Akibat serangan berbentuk sambaran petir itu, sang raja sampai terhuyun dan semua bayangannya pun akhirnya hilang.

Tapi raja penyihir itu memang kesatria yang tangguh. Meskipun sudah dihantam dengan ajian yang mematikan, ia masih tetap berdiri. Ia bahkan balik menyerang dengan kemampuan yang luar biasa. Dan setelah lebih dari satu jam bertarung akhirnya mereka mengeluarkan kemampuan tertingginya. Saat itu, semua orang melihat kedua kesatria itu sudah tampil dalam kondisi yang gilang gemilang. Tubuh mereka pun bersinar laksana bulan purnama yang berkilauan. Dan selang beberapa detik, keduanya itu lalu mengadu kesaktian mereka lagi. Kali ini mereka juga sampai mengendalikan elemen alam untuk menyerang lawannya. Pertarungan pun terus berlanjut sampai beberapa waktu. Hentakan demi hentakan energi besar kian terasa, dentuman demi dentuman terus saja terdengar, dan ledakan demi ledakan yang menghancurkan terus mewarnai pertarungan keduanya. Suasana di medan pertempuran semakin mencekam dan tak sedikit dari prajurit yang ingin lari menjauh. Kesaktian yang dikeluarkan oleh kedua sosok kesatria itu sudah diluar imajinasi. Mereka benar-benar sosok kesatria yang luar biasa.

Tapi dalam satu kesempatan, raja Barlunos tiba-tiba mundur dari pertarungan. Ia segera kembali ke dalam barisan pasukannya lalu menuju ke dalam tenda raja. Melihat tingkah seperti itu, semua orang lalu bertanya-tanya apa yang sedang terjadi? Mengapa raja Barlunos mundur dari pertarungan? Apakah ia terluka parah dan sudah mengaku kalah?

Dan pertanyaan itu segera terjawab setelah sang raja muncul di tengah-tengah pertempuran. Seusai berdiam diri (semedhi) sejenak di dalam tendanya, ia muncul dengan membawa peti kecil dari emas. Ketika dibuka, dari dalam peti itu raja Barlunos mengeluarkan tiga buah batu kristal berwarna hitam, merah dan kuning. Ketiganya lalu diletakkan di atas tanah berpasir yang posisinya terpisah membentuk segitiga. Di sekelilingnya, sang raja lalu membuatkan gambar berupa garis-garis lingkaran yang cukup besar yang dipenuhi dengan beberapa huruf aneh dan motif yang tak dikenali. Setelah menggambarkan itu, raja Barlunos pun membacakan mantra dengan khusyuk.

Melihat itu, semua orang merasa heran dan semakin bertanya-tanya dengan sikap sang raja. Dan ternyata apa yang di lakukan oleh raja penyihir itu adalah cara untuk membuka portal dimensi. Maka dari itu, hanya dalam waktu singkat setelah mantranya dibacakan, tiba-tiba ketiga kristal itu bersinar terang ke arah angkasa. Ada angin yang ikut berhembus kencang dan petir yang menyambar-nyambar. Dan ternyata itulah portal dimensi yang terbuka untuk para sekutunya dari alam goib. Merekalah para serdadu setan yang jumlahnya ribuan.

Hanya dalam waktu singkat, bala pasukan kegelapan itu langsung menyerang dan mengobrak-abrik medan pertempuran. Banyaklah korban jiwa yang berjatuhan, karena pasukan itu membantai siapapun yang ada di hadapannya. Mereka memang tidak biasa dan susah dikalahkan. Semuanya tangguh, karena terdiri dari pasukan darat yang bersenjata lengkap dan mereka yang bisa terbang lantaran memiliki sayap. Semuanya memiliki kesaktian di atas rata-rata manusia.

Melihat itu, tanpa berpikir panjang lagi Resama segera mengeluarkan busur panah Karinayasya dan melepaskan tembakan ke arah para serdadu kegelapan. Dengan pusaka itu, hanya dalam waktu singkat Resama berhasil memukul mundur serdadu kegelapan. Dalam beberapa kali serangan, Resama bahkan berhasil menghancurkan bala tentara setan itu. Sehebat apapun mereka, tak mampu menandingi kesaktian dari busur panah Karinayasya. Hanya dalam satu kali tarikan tali busurnya saja, Resama mampu membunuh 100 serdadu setan. Maklumlah pusaka busur buatan bangsa Nurratani itu bisa mengeluarkan berbagai jenis kesaktian. Salah satunya adalah melepaskan ratusan atau bahkan ribuan anak panah sakti hanya dalam satu kali tarikan tali busurnya.

Melihat sekutunya dapat dihancurkan, sekali lagi raja Barlunos meminta tuannya untuk mengirimkan bantuan. Kali kedua itu yang datang adalah lima sosok kesatria yang menyeramkan. Sebenarnya mereka berpenampilan seperti layaknya manusia yang tampan, hanya saja telinga mereka berbentuk lancip (runcing) dan matanya berwarna merah menyala. Kelimanya itu adalah sosok yang sakti mandraguna, karena itu Resama harus menaikkan level bertarungnya. Dalam waktu singkat sang pemuda sudah mengenakan baju zirah yang sangat indah dan membagi dirinya menjadi lima. Setiap sosok dirinya lalu melawan satu orang kesatria kegelapan itu.

Ya. Resama dan kelima musuhnya itu bertarung dengan menggunakan kesaktian yang sangat tinggi. Mereka terus berubah-ubah wujud dan saling menyerang dengan berbagai senjata pusaka dan ajian yang mengerikan. Suara dentuman dan ledakan yang keras terus mewarnai medan pertempuran. Mereka bertarung kesana kemari, terbang tinggi lalu turun ke tanah dan masuk ke dalam Bumi. Dimana-mana mulai dipenuhi dengan kehancuran, sementara angin terus berhembus kencang disertai petir yang menyambar-nyambar. Semua orang tidak lagi hanya bisa terpukau, melainkan bertambah cemas dan ingin pergi menjauh. Sampai pada akhirnya, setelah bertarung selama lebih dari 2 jam, satu persatu dari kelima kesatria kegelapan itu dapat dikalahkan. Semuanya mati setelah Resama mengeluarkan keris pusaka yang bernama Hidarayasya. Dengan kesaktian keris yang juga bisa membagi dirinya itu, kelima musuh Resama bisa tewas dan akhirnya sirna.

Tapi apakah pertempuran berakhir? Jawabannya tidak. Karena untuk yang terakhir kalinya, raja Barlunos meminta dengan sangat kepada junjungannya itu. Sang majikan pun berkenan membantu dan ia akhirnya datang sendiri ke medan pertempuran. Sebelum ia muncul, tiba-tiba alam bergemuruh kencang. Dan saat sosok yang teramat sakti itu tiba-tiba muncul di medan pertempuran, maka ada semacam hentakan energi yang menghempas ke semua orang. Banyak yang terpental dan terluka oleh hempasan energi itu, kecuali pasukan Resama yang berada di dalam dinding pelindung buatan Marieha.

Melihat sosok yang terakhir muncul itu, semua orang bisa langsung menebak bahwa dialah yang paling sakti. Itu memang betul, karena aura yang memancar dari tubuhnya terasa begitu besar sekaligus menyeramkan. Penampilannya tak mengerikan, karena justru sangat rupawan dan memukau hati. Membuat siapapun akan tertipu bila tak mengetahui bahwa dia adalah raja setan. Dan ternyata sosok itu pula yang sebenarnya disebut dengan nama Halta itu; tuhan yang disembah oleh raja Barlunos dan pengikutnya. Hanya saja pada saat itu tak ada yang tahu kecuali raja Barlunos sendiri.

Lalu terjadilah pertarungan yang lebih mengerikan. Untuk menghindari jatuhnya banyak korban, Resama langsung membuatkan dinding perisai tembus pandang untuk semua pasukan yang ada di medan pertempuran. Ia sudah bisa menebak bahwa raja setan itu akan dengan mudahnya membantai siapapun yang berada di lokasi pertempuran saat itu. Tak peduli apakah ia dipihak musuh atau kawannya sendiri. Tak ada beban baginya dalam membunuh manusia. Terlebih dia sendiri pun sangat membenci manusia.

Awalnya Halta meminta kepada semua yang ada untuk berhenti bertarung. Kepada Resama dan pasukannya, Halta menawarkan mereka untuk bergabung saja dengan raja Barlunos. Halta pun mengajak mereka semua untuk mengabdi kepadanya jika tak ingin dihancurkan saat itu juga. Tapi tawaran itu justru dibalas oleh Resama dengan serangan tiba-tiba. Sebagai seorang kesatria yang sudah memilih untuk menegakkan ajaran Hyang Aruta (Tuhan YME), Resama takkan mau tunduk kepada setan. Gugur dalam berjuang lebih ia sukai dari pada harus mengabdi kepada makhluk terkutuk seperti Halta itu.

Mendengar jawaban dari Resama yang tak mau tunduk kepadanya, Halta langsung berang. Dalam waktu sekejap tubuhnya itu berubah-ubah wujud, kadang tampan dan kemudian menyeramkan. Dan tiba-tiba di medan pertempuran kala itu sudah diliputi oleh cahaya berwarna merah darah. Matahari hilang entah kemana dan suasana menjadi sangat mencekam. Tak lama kemudian orang-orang pun menjadi panik. Itu terjadi karena mereka melihat ada sosok yang serupa dengan diri mereka sendiri. Sosok itu lalu menyerang mereka dengan kekuatan yang setara, tanpa ampun. Kejadian itu lalu menimbulkan banyak korban jiwa yang berjatuhan, khususnya di pihak Resama.

Keadaan pelik seperti itu jelas karena ulah sihir yang dikeluarkan oleh Halta. Karena ia adalah raja setan, maka sihir yang berasal darinya jauh lebih hebat dari yang pernah dikeluarkan oleh raja Barlunos. Resama sendiri hampir kewalahan melindungi pasukannya, sampai akhirnya ia mendapatkan petunjuk dari Nabi Awila AS tentang bagaimana caranya menghadapi sihir itu. Dengan bertelepati, dari jarak jauh sang Nabi langsung memberikan petunjuk kepada Resama.

Ya, akhirnya sihir yang sangat hebat itu dapat dikalahkan. Setelah mendapat petunjuk dari Nabi Awila AS, Resama segera mengheningkan cipta. Pada saat sang pemuda berdiri semedhi, tiba-tiba dari arah langit turun bola cahaya yang berkilauan dan masuk ke dalam tubuhnya. Setelah itu, tubuh Resama langsung bersinar terang sekali. Di tangannya saat itu tiba-tiba muncul sebilah pedang pusaka yang bernama Dwipurayasya. Pedang itu juga ikut bersinar dan hanya dalam sekali sabetan, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras ke segala penjuru. Langit seperti terbelah dan suasana alam yang awalnya berwarna merah darah segera berganti cerah menyegarkan. Sihir yang dikeluarkan oleh sang raja setan akhirnya berhasil dihancurkan saat itu juga.

Tapi Halta adalah sosok yang kesaktiannya luar biasa. Sebenarnya ia masih punya banyak kesaktian dan sihir lainnya. Hanya saja dihari itu ia sedang tak mujur. Lawan yang ia hadapi adalah sosok yang terpilih dan berhati murni. Atas bimbingan langit, hanya dalam satu kali serangan saja kesaktian Halta tiba-tiba seperti rontok. Baju zirah yang ia kenakan sampai hancur terkena sabetan jarak jauh dari pedang Dwipurayasya milik Resama. Sang raja setan itu akhirnya sempoyongan.

Sungguh, kesaktian yang dikeluarkan oleh Resama kala itu tak mampu lagi dilawan. Hanya karena ia adalah setan yang umurnya ditangguhkan sampai Hari Kiamat, maka Halta tak bisa mati saat itu juga. Dan karena raja setan itu memang benar-benar sakti, ia masih bisa bertahan hidup dan akhirnya kabur melarikan diri. Saat akan kabur, ia lalu memerintahkan kepada abdinya (raja Barlunos) untuk segera menyusulnya ke dimensi lain. Disana ia bermaksud untuk mengumpulkan kekuatan lagi dan mengatur siasat untuk kembali menyesatkan manusia di lain waktu.

Singkat cerita, melihat junjungannya itu kalah dan akhirnya menghilang, raja Barlunos tak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika melawan Resama, sudah dipastikan ia akan segera tewas. Sang pemuda bukan lagi sosok yang pernah ia lawan, sebab tuannya saja bisa dengan mudah dikalahkan. Karena itu, ia pun menuruti perintah dari tuannya itu (Halta) untuk pergi. Tapi sebelum menghilang, raja Barlunos sempat berkata: “Aku terima kekalahanku saat ini, tapi takkan pernah ku akui bahwa kalian lebih baik dari kami. Suatu saat nanti, cepat atau lambat, baik dalam kenyataan ataupun tersembunyi, kami akan terus mengendalikan pikiran dan hati kalian. Siapapun akan kami pengaruhi, sampai kalian semua berada dibawah kaki-kaki kami yang kokoh. Saat itulah, tuhan yang kalian sembah bukanlah Tuhan yang sejati. Kalian sudah tertipu, dan kesalahan kalian akan lebih besar dari pada kami”

Selanjutnya, setelah mengatakan itu raja Barlunos menghilang dan segera menyusul tuannya di dimensi kegelapan. Portal dimensi yang terbuka saat itu lalu dihancurkan bersama dengan ketiga kristalnya oleh Resama. Dengan kejadian itu, maka keadaan di medan pertempuran langsung berubah. Kemenangan berada dipihak Resama dan pasukannya. Sedangkan mereka yang sebelumnya berada dibawah komando raja Barlunos akhirnya menyerah. Dengan perjanjian yang mengikat, mereka lalu diampuni dan boleh kembali ke negeri mereka masing-masing. Dan sebelum mereka kembali, semua orang telah mendapatkan penjelasan bahwa Halta yang dipertuhankan oleh raja Barlunos itu adalah sosok yang sudah dikalahkan oleh Resama. Dialah raja setan yang selalu ingin menyesatkan manusia. Maka tak pantaslah bagi manusia, siapapun dia, untuk menyembah atau mengabdi kepadanya. Dia itu hanyalah makhluk yang licik dan terkutuk. Maka hanya kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) sajalah seseorang itu harus tunduk dan menyembah-Nya.

6. Daftar raja-raja
Setelah berjuang mati-matian, akhirnya Resama dan bala pasukannya bisa memenangkan perang dunia saat itu. Atas jasa dan kepahlawanannya, semua raja yang memimpin di Malayanura (Nusantara) lalu sepakat mengangkat sang pemuda sebagai pemimpin tertinggi mereka. Kota Hadiraya lalu dijadikan pusat dari segala urusan dunia, mulai dari pemerintahan sampai dengan agama. Sejak saat itu, cahaya peradaban dan jalan kebenaran Ilahi kian bersinar terang di seluruh kawasan Malayanura (Nusantara), bahkan menyebar ke seluruh wilayah di Bumi. Orang-orang bisa hidup dalam kebahagiaan yang sejati.

Di negerinya, sepulang dari perang dunia Resama lalu menggantikan nama kerajaannya menjadi Madirahaya, atau yang berarti sangat kuat, beradab dan berjaya selamanya. Sejak saat itu, sang pemuda terus membangun peradaban yang terbaik bagi kaum dan bangsa-bangsa yang hidup di seluruh kawasan Malayanura (Nusantara). Lalu kepemimpinan itu terus berlanjut sampai raja yang ke-26. Selama itu, keadaan negara tetap dalam keadaan damai dan makmur. Semua raja dan ratu yang memimpin adalah orang-orang yang bijak dan penuh kewibawaan. Meskipun sejak raja yang keenam mereka tak lagi memegang pusaka Jayahida warisan Resama (karena ketiganya tiba-tiba menghilang), tetap saja mereka itu adalah pemimpin yang hebat dan berilmu tinggi.

Adapun para raja dan ratu yang pernah memimpin di kerajaan Madirahaya adalah sebagai berikut:

1. Resama, bergelar Man-Amurata Resama Jayahida Arya Himanara Pasya -> pendiri kerajaan
2. Jahirama
3. Duwasima
4. Galimasama
5. Daratulima
6. Manasirama
7. Hamulirama
8. Fastarima
9. Irmaena -> seorang ratu
10. Zangkaruma
11. Lilbayama
12. Hisbayama
13. Namigayama
14. Wantariyama
15. Silanaena -> seorang ratu
16. Usmantama
17. Nantarama
18. Zartarama
19. Murtalima
20. Raniyaena -> seorang ratu
21. Hasulirama
22. Basturama
23. Hikastalima
24. Eslantama
25. Miratama
26. Ratayama -> raja terakhir kerajaan Madiharaya. Di masa kepemimpinannya kaum Samihada berpindah ke dimensi lainnya.

Demikianlah nama raja dan ratu yang pernah memimpin kerajaan Madirahaya. Selain menjadi pemimpin di kerajaannya sendiri, setiap raja dan ratu itu selalu didaulat untuk memimpin persekutuan raja-raja di seluruh Malayanura (Nusantara) pada masanya. Dibawah kepemimpinannya yang arif dan bijaksana, semua negeri di seluruh wilayah Malayanura (Nusantara) saat itu hidup dalam kedamaian dan kemakmuran. Tak ada yang berani macam-macam, karena sang pemimpin akan bersikap tegas kepada siapapun yang melanggar aturan. Sebaliknya, mereka yang selalu patuh pada hukum dan aturan Tuhan akan sangat dihormati.

7. Akhir kisah
Sebagai seorang pria, Resama tentu merindukan seorang istri yang bisa mendampingi hidupnya. Setelah kedua adiknya menikah, selang dua tahun berikutnya Resama melangsungkan pernikahan dengan seorang putri yang bernama Simarani. Sang putri adalah anak dari raja Mahmura dari kerajaan Kasidana (dulu berada di sekitar wilayah Philifina sekarang). Pertemuannya dengan sang istri terjadi saat perang dunia masih berlangsung. Bersama-sama dengan ayahnya, sang putri juga ikut dalam perang besar itu sebagai seorang senopati yang tangguh.

Waktu pun berlalu selama beberapa puluh tahun. Tibalah saatnya bagi Resama untuk undur diri dari jabatan dunia. Tahta kerajaan lalu ia serahkan kepada anak tertuanya yang bernama Jahirama. Dibawah kepemimpinan sang anak, kaum Samihada tetap hidup dalam kemakmuran dan kejayaan. Bahkan sampai raja yang ke-25 pun kehidupan kaum Samihada tak pernah berubah. Mereka masih tetap patuh dan tunduk hanya pada hukum dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Barulah pada masa raja mereka yang ke-26, kehidupan kaum Samihada berubah drastis. Oleh kehendak Tuhan, mereka lalu diperintahkan untuk berpindah dimensi, tepatnya ke dimensi yang kelima (Nilbati).

Ya, kaum Samihada akhirnya harus berpindah ke dimensi lain. Semua lantaran mereka bisa hidup dalam aturan dan hukum Tuhan secara benar. Tapi sebelum semuanya berpindah dimensi, ada sebagian dari mereka yang harus menjalankan tugas khusus. 55 pasangan harus mendirikan kaum yang baru di suatu tempat di Nibastu (penamaan pulau Kalimantan saat itu). Setelah cucu mereka lahir, barulah ke 55 pasangan itu diizinkan untuk menyusul kaumnya yang telah lebih dulu berpindah dimensi. Keturunan mereka yang masih tinggal di Bumi lalu menamakan dirinya sebagai kaum Hanggira.

Dan kaum Hanggira ini adalah penerus dari kejayaan kaum Samihada. Sebagaimana leluhurnya dulu, mereka juga mendapatkan satu nubuwat bahwa dari keturunan mereka nanti akan lahir seorang pemimpin besar yang akan memimpin dunia sekali lagi. Lengkapnya tentang isi nubuwat itu lalu disimpan dengan rapi oleh para petinggi kaum Hanggira. Awalnya nubuwat itu diketahui oleh banyak orang, tapi lambat laun menjadi rahasia yang hanya diketahui oleh beberapa orang saja secara turun temurun. Siapapun yang mengetahuinya sebagai warisan dari leluhurnya sendiri, akan bisa menemukan sosok yang terpilih itu sebelum ia tampil di hadapan dunia.

8. Penutup
Wahai saudaraku. Untuk memahami sejarah kehidupan manusia yang sebenarnya, kau harus melepaskan dirimu dari doktrin. Bebaskan pikiranmu terlebih dulu untuk bisa menerima informasi dan wawasan yang baru. Sebab, tak semua yang disampaikan selama ini benar. Ada banyak yang keliru dan hanya mengada-ada. Dan kita tidak bisa menggunakan standar kehidupan sekarang untuk menilai peradaban di masa lalu. Lain dulu maka lain pula sekarang. Setiap zaman itu punya ciri khas, karakter dan modelnya sendiri. Zaman kita sekarang ini hanyalah riak kecil dari keseluruhan zaman yang pernah dilalui oleh manusia di Bumi.

Dan jangan pernah bersikap sombong dalam hidupmu saat ini. Kepada yang tak berpunya atau mereka yang terlihat bukan siapa-siapa, maka rendah hatilah dirimu. Bisa jadi orang yang terlihat hina itu adalah pemimpin besar yang tersembunyi selama ini. Karena lihatlah contoh bagaimana sosok Resama di atas. Seorang pemuda yang sering dilecehkan bisa menjadi yang paling terhormat. Maka di zaman ini pun tidak menutup kemungkinan ada satu keluarga yang tersembunyi. Seorang anaknya bisa jadi adalah pemuda yang telah dinantikan sejak zaman pertama dulu. Dialah kesatria utama yang akan memimpin dunia dengan hukum dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Dibawah kepemimpinannya, dunia akan kembali ditata ulang menuju cahaya-Nya. Semua itu demi keseimbangan hidup bagi setiap makhluk di muka Bumi ini.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang selalu rendah hati dan beruntung. Rahayu _/|\_

Jambi, 07 Juli 2017
Harunata-Ra

Catatan:
1. Seperti tulisan yang lainnya, disini kami juga hanya sebatas menyampaikan saja. Percaya syukur, tapi kalau tidak ya silahkan, itu hak Anda sekalian. Tidak ada paksaan untuk percaya dengan kisah ini.
2. Ada banyak hal yang tak bisa disampaikan disini. Kami meminta maaf untuk itu,  dengan alasan masih harus di rahasiakan dulu.
3. Bagi yang mau mengambil hikmah dari kisah ini, mari kita sama-sama belajar untuk bersikap kesatria dengan selalu rendah hati. Asah terus kemampuan tersembunyi dalam diri kita, karena kita tidak tahu pasti apa yang akan terjadi esok hari. Tidak menutup kemungkinan perang terdahsyat (perang kosmik) yang telah dikabarkan sejak dulu akan terjadi di zaman kita ini. Tugas kita sekarang adalah mempersiapkan diri.
4. Apapun keyakinan, ras dan bangsamu, mari kita sama-sama berbenah diri. Jangan bersikap lalai dan tak peduli. Karena zaman akan berganti, sementara kehidupan di Bumi ini akan digunakan kembali.

Iklan

18 thoughts on “Pusaka Jayahida dan Perang Akhir Zaman

  1. Minal Aidin Kang Harun…. ! Semakin kesini semakin ngeri dan takut, ada aja “Pinapsueun” hasrat yang suka mancing keributan kalau kurang” sabarmah dan selalu “Elinglanwaspodo” terus. ….”namoha marritan asna Minnah, Muji, Gungtapa, Parubala, Agniraka, Siginjei, Ruwanis, Salhija, an Nulitan….” kira” siapakah lagi mereka ini kalau tidak melanggar protap, juga seperti apa proses evakuasi nantinya… 🙂 Apa ada kesamaan dari cerita Eyang Prabu Siliwangi tentang budak angon yang akan menjadi pemimpin sangat dirindukan oleh penghuni Langit & Bumi. Mudah-mudahan gag melanggar protap seperti apa kisah Leluhur dari kaum” terdahulu tentang Kesenian & Kebudayaan 🙂 apalagi dengan senang hati membacanya pabila mau menceritakan kisah” Para Utusan Hyang Aruta seperti kaum Jalawaya…. Kalau Candi Borobudur itu siapa yang buat, apa betul oleh pasukannya Nabi Sulaiman AS? Semoga kita selalu yang diberi Petunjuk dan dalam lindungan-Nya.
    Salam.
    Rahayu Salawasna _/|\_

    1. Sama2lah kang Tufail, semoga kita bisa lebih baik kedepannya.. 🙂

      Hmm ketakutan yg akang rasakan itu beralasan, karena itu bagian dari pertanda bahwa zaman ini akan berganti. Akan datang masa transisi dan permurnian total di Bumi, bagi yg berhati baik dan terpilih saja yg bakal selamat..

      Pertanyaan pertama itu seharusnya utk artikel sebelumnya yg berjudul Nur’amunatanam. Tapi gak apa deh saya jawab disini. Nama2 itu bukanlah sosok atau kaum atau golongan makhluk tersendiri. Itu nama tempat dan lokasi. Ttg detilnya maaf gak bisa saya jelaskan disini, ada protap.. 🙂

      Tentang gimana evakuasinya nanti, setahu saya gak jauh beda dg apa yg pernah dialami oleh kaum Karimala saat mereka hrs menghadapi transisi zaman kelima (Dwipanta-Ra) ke zaman keenam (Nusanta-Ra) dulu. Nanti akan datang kaum terdahulu utk menyelamatkan yg udah terpilih. Bahkan sebenarnya mrk skr sudah disekitar Bumi kok, cuma blm diperintahkan utk bertindak.

      Tentang kaitan dg Prabu Siliwangi saya blm diizinkan utk berkomentar byk. Emang ada hubungannya sih dg Uga Wangsit sang prabu, terlebih beliau juga termasuk penyambung lidah leluhur dan pemberi peringatan seperti pendahulunya dulu yaitu Prabu Jayabaya. Tapi disini biarlah nanti akan ada waktunya utk dijelaskan secara detil, kalau bukan saya mungkin org lain..

      Tentang seni dan budaya, saya blm diizinkan utk menerangkannya di blog ini. Ada byk contoh sih, bahkan sudah komplit kok sejak generasi pertama manusia.. Tapi ya blm bisa kasih tau skr, masih harus di rahasiakan dulu. Mungkin lain waktu.

      Tentang kisah para utusan Hyang Aruta seperti kaum Jalawaya, kita lihat aja nanti kang, kalo diizinkan bakal saya share kok, tp skr masih blm..

      Tentang candi Borobudur, bisa saya tegaskan kalau bangunan itu tidak dibangun di zaman Nabi Sulaiman AS. Bangunan megah itu dibangun ribuan tahun setelah kehidupan sang Nabi. Yg membangun ya leluhur kita di masa awal tarikh Masehi. Hanya saja, siapa yg sebenarnya membangun itu bukan seperti yg dikira selama ini. Dinasti Syailendra di kerajaan Medang itu bukan pendirinya, tetapi mrk adalah yg menemukan kembali dan merenovasinya. Sebab sebelumnya sempat tertimbun oleh debu vulkanik dari letusan gunung Merapi, Merbabu dan Sumbing. Dimasa Mpu Sindok, Candi ini kembali tertimbun abu vulkanik letusan Merapi, dan baru ditemukan kembali dimasa kolonial Inggris.

      Sedikit lebih detil ttg candi ini pernah saya tulis di Facebook. Seperti berikut ini:

      Wahai saudaraku. Ku beri tahu sesuatu yang tak dijelaskan dalam sejarah formal. Bahwa di Nusantara dulu ada sebuah kerajaan besar yang dipimpin oleh sebuah wangsa (dinasti) yang sangat kuat dan berpengaruh. Mereka tinggal di luar pulau Jawa, dibawah kepemimpinan seorang raja yang sangat hebat dan kharismatik. Dengan segala persiapan yang matang, pada akhirnya mereka bisa menaklukkan kerajaan Mataram saat itu. Tentunya setelah “menguasai” wilayah di sepanjang pesisir utara Jawa, barulah pasukan besar itu bisa merangsek masuk sampai ke pusat kota Mataram. Pada masa itu kerajaan Mataram telah menguasai wilayah antara Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Salatiga, Boyolali, Surakarta, Sragen, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, dan Jogjakarta sekarang. Dengan begitu kerajaan Mataram ini termasuk dalam jajaran kerajaan terbesar pada masa itu.

      Di sekitar tahun 352 Saka (430-an Masehi) semuanya pun terjadi. Bertepatan dengan tahun-tahun berdirinya Candi Borobudur, maka kerajaan besar itu bisa menguasai tanah Mataram dalam waktu tiga hari. Setelah penaklukkan, kerajaan besar itu menjadi tuan dibekas wilayah Mataram. Meskipun sebagai penakluk, mereka tetap memimpin dengan bijak dan bisa membawa kemakmuran. Sampai pada akhirnya wilayah itu dikuasai penuh oleh wangsa Sanjaya – sebenarnya sejak di masa Sena/Sanna, ayah Sanjaya – dari kerajaan Galuh di tatar Sunda. Wangsa Sanjaya ini lalu secara resmi mendirikan sebuah kerajaan baru yang bernama Medang pada sekitar tahun 654 Saka (732 M). Tetapi kemudian wangsa Sanjaya ini harus tunduk dibawah kekuasaan wangsa Syailendra yang berasal dari Malayapura di pulau Sumatera.

      Itulah kisah yang berhubungan dengan keagungan Candi Borobudur. Karena itu, Dinasti Syailendra dari kerajaan Medang bukanlah pendirinya, melainkan yang menemukan kembali dan pernah merenovasinya (karena saat itu candi ini sudah ada tapi pernah terkubur oleh letusan gunung Merapi, Merbabu dan Sumbing). Eskavasi dan renovasi candi itu dimulai sejak masa raja kedua Medang yang bernama Rakai Panangkaran (di sekitar tahun 692 Saka/770-an Masehi). Lalu pada masa Mpu Sindok (821- 839 Saka/929-947 M) candi ini terkubur kembali oleh letusan gunung Merapi. Sampai pada akhirnya ditemukan kembali oleh seorang arkeolog asal Inggris di akhir abad ke-18 Masehi. Beberapa tahun kemudian, Sir Thomas Stamford Rafles (seorang Gubernur Jendral Inggris yang memimpin Indonesia pada masa peralihan kolonial dari Belanda ke Inggris tahun 1811-1816 M) meneliti dan menggali candi tersebut secara total. Sejak saat itu candi besar ini mulai dikenal luas oleh dunia. Dan akhirnya pada tahun 1973-1983 candi ini dipugar total oleh pemerintah RI yang bekerja sama dengan Unesco. Hasilnya seperti apa yang bisa di lihat sekarang di Magelang.

      Artinya, Candi Borobudur itu lebih tua dan lebih agung dari yang dipahami selama ini. Dan begitulah sesungguhnya, namun tak lagi diketahui oleh banyak orang. Dan jelas, bahwa candi ini tidak dibangun oleh Wangsa Syailendra dari kerajaan Medang, apalagi oleh Nabi Sulaiman AS, karena zamannya berbeda. Ada rentang waktu ribuan tahun lamanya, dan sang Nabi hidupnya jauh sebelum masa pembangunan candi Borobudur itu. Yang membangun candi ini adalah leluhur kita sendiri di masa awal tarikh Masehi.

      Catatan: nama dinasti, nama kerajaan, dan nama tokoh yg termasuk dalam penjelasan di atas, sekaligus siapa pendiri candi Borobudur yg sebenarnya masih sengaja tak disebutkan karena ada protap. Maaf.

      Salam Rahayu.. _/|\_

      1. Masih lebih tua candi yang di buat oleh Sallu dari Pasturingga ya,, 🙂 apa kisah pembuatannya samakah dg kisah Candi Paranata penuh hasut dan intrik? ada pertanyaan lain tentang meditasi ato tapa kaum “Baheula pisan” seperti apa mereka itu menjalankannya bahkan sampai ratus, ribu, hingga belasan ribu tahun logika awam saya bagaimana beliau itu bisa kuat dgn keadaan puasa tp tetap berEnergi bahkan meningkat, selama itu pula apa yang dibaca atau amalan apa yang di ulang “Dzikir” mungkin… 🙂

        Salam Rahayu.. _/|\_

      2. Tentulah kang Tufail, sebab kehidupan Sallu itu berjarak ribuan tahun sebelum masa pembangunan candi Borobudur. Artinya lebih tua candi Paranata.

        Tentang kisah pembangunan candi Borobudur berbeda dg candi Paranata, karena tidak ada intrik, adu domba dan dendam disini, lebih kepada perintah langit, hadiah, penghormatan dan kisah kepahlawanan.

        Tentang tapa brata, perlu pembahasan khusus nih kang. Dan agar lebih jelas akan saya tulis dalam satu artikel. Sudah saya tulis sih tapi belum kelar. Pengennya dalam bahasa yg paling sederhana agar mudah dipahami, terutama oleh generasi skr ini.. Maklum ini kan sudah dianggap mustahil dan dongeng belaka oleh sebagian besar orang.. 🙂

  2. Mas oedi bagaimana tentang banyaknya ufo yg terlihat…apakah itu merupakan kaum terdahulu yg akan memberi evakuasi mhn penjelasannya terima kasih..
    ..

    1. Hmm.. saya tidak begitu mendalami ttg UFO sih mas Wowo, tapi dari apa yg saya ketahui selama ini maka mereka yg bertugas utk mengevakuasi manusia bumi yg terpilih nanti gak pernah menampakkan diri. Mrk sudah ada di sekitar bumi sejak bbrp tahun lalu tapi gak pernah disadari oleh manusia (kecuali bagi bbrp org yg mrk inginkan saja).. Kemampuan ilmu kesaktian dan teknologi mrk jauh di atas kita.. Diluar jangkauan deh.. Makanya dg mudah mrk bisa berkamuflase atau menyembunyikan diri tanpa diketahui…

      Tapi, kemungkinan besar penampakan UFO yg sering terjadi skr ini emang ada kaitannya dg transisi zaman. Bisa jadi pula bahwa mrk itu adalah kaum terdahulu yg sudah tidak tinggal di Bumi ini lagi.. Mrk itu juga datang ke Bumi tapi kemungkinan tidak bertugas utk mengevakuasi manusia. Mrk cuma datang utk memberi peringatan dan nanti akan menyaksikan proses transisi zaman ini..

      Dan tidak menutup kemungkinan juga bahwa UFO itu sebenarnya makhluk dari tempat (planet, sistem tata surya, galaksi) lain yg emang sengaja datang ke bumi. Mengapa begitu? Karena peristiwa yg bakal terjadi nanti sungguh luar biasa dan blm pernah terjadi sebelumnya.. Semua makhluk di jagat raya pun tertarik utk datang ke bumi, sebab bumi akan menjadi pusat dr semua peristiwa dahsyat itu..

      Terlalu byk misteri dan rahasia di alam ini, kita cuma tau secuilnya saja..

  3. assalamu alaikum mas oedi,
    terima kasih atas cerita sejarah yang dibagikan
    banyak sekali wawasan yang diambil dari cerita tersebut.

    mas saya mau bertanya perihal yang ku alami
    mengenai mimpi mimpi saya,
    dan pengamatan yang saya pahami tentang diri ini

    maaf mas sebelumnya, rekomendasi dari mas oedi untuk mencari guru masih belum ketemu gurunya jadi saya rasa bertanya pada mas oedi saja

    jika mas oedi bersedia akan saya kirim via email
    terima kasih mas..

    salam rahayu,

    1. Wa’alaikumsalam..
      Sama”lah mas Awan, terima kasih juga karena masih mau baca, syukurlah kalo ttp bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. Tentang permintaan sampeyan, saya merasa kurang layak. Terlebih mengenai telaah ato tafsir mimpi, maka saya bukan ahlinya.. Gak pas jika saya yg memberi penjelasan, nanti malah jadi salah kaprah..
      Sebaiknya mas Awan ttp cari orang lain saja yg emang ahli atau menguasai ilmu itu. Saya ini cuma orang awam yg baru belajar.. Gak pantas untuk menjelaskan ttg mimpi ato memberi penilaian ttg hasil pengamatan sampeyan… Maaf ya mas.. 🙂

      1. mas kalo gitu saya tanya mas
        tentang perihal tapa ngrame itu gimana maksudnya?
        tata cara lakunya ?

        terima kasih kang oedi

        rahayu

      2. Hmm.. tentang topo ngrame yah?

        Setahu saya, jenis tapa brata ini ada dua macam prakteknya. Pertama memang seseorang ber-tapa brata dengan cara berdiam diri (duduk atau berdiri tanpa bergerak) tapi harus di tengah keramaian, misalnya di dekat persimpangan jalan atau pasar, dengan syarat khusus atau yg sama dg laku tapa brata pada umumnya. Sementara yg kedua adalah seseorang menjalankan tapa brata (lengkap dg syarat dan atau beberapa pantangannya) tapi jika dilihat seolah-olah dia tidak sedang bertapa. Orang yg melakukan tapa ngrame jenis kedua ini akan tetap bergaul dg orang lain tapi intensitasnya dikurangi. Tentunya disini ia juga sgt menjauhi perbuatan maksiat dan dosa, apapun bentuknya. Dia melakukan tapa brata tapi gak ada orang yang tahu, selain yg dia kasih tau. Kehidupannya tampak normal tapi sebenarnya tidak. Ada beberapa hal yg ia lakukan yg tidak disadari oleh orang lain.

        Oh ya tambahan. Kalo sampeyan cermat membaca artikel di atas, maka apa yg di lakukan oleh Resama (seperti ttp bergaul dg penduduk dan selalu bersikap sebagai orang awam, tidak pernah menunjukkan kemampuan di hadapan orang lain dan tetap sabar walaupun dicaci maki) sampai akhirnya ia tampil sebagai kesatria utama dan raja hebat sejak di desanya, itu adalah salah satu contoh laku topo ngrame.. Karena itu, kita harus hati-hati dg orang yg terlihat biasa saja tapi dia gak pernah melawan kalo dihina atau disakiti, karena bisa jadi dia sedang melakoni topo ngrame..

        Itu aja yg bisa saya jelaskan mas Awan, moga bermanfaat.. Maaf kalo kurang memuaskan.. 🙂

  4. AN NABA=berita besar.
    Salammun qoulammirrabirrahim.
    Salam dr tuhan yg maha peyayang.

    Sungguh pemimpin islam tlah datang.
    Dialah al mahdi al muntazhor namanya AL JABIR muhammad jubir bin amir abdullah,sallallahu alaihi wa alainas salam.
    Yg telah di baiat didepan maqom ibrahim as dan azwar aswad tahun 2015.

    1. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya mas Novri hit, semoga bermanfaat.. 🙂
      Hmmm..Tentang hal itu (Imam Mahdi), saya tidak bisa komentar.. Biarlah waktu yg membuktikannya nanti.. 🙂

      1. Salam. Ok mas waktu… Demi waktu sesungguhnya manusia itu dalam kerugian kecuali……. Mas lebih mengerti. Perihal artikel mas hampir semua saya baca. Dan berkaitan dgn seorang yg di dtgkan tuhan semesta alam u pembenahan alam raya ini. Tinggal lagi apakah yg kita tunggu tunggu itu kalau tdk sesuai dgn ilmu dan paham kita,kita mau menerimanya?
        Padahal mas sudah menjelaskan sejarah yg pernah terjadi dan yg sedang terjadi dan yg bakal terjadi yg itu satu jua adanya. Benarnya dulu terjadi ketika nyata terjadi sekarang ini dan pasti terjadi nantinya. Silakan perhatikan dan pahami orang orang yg di utus tuhan semesta alam u pembenahan alam ini. Kebanyakan mrk yg tdk sesuai dgn ahli kitab dan orang orang yg pintar di zamannya.

  5. Mas Odie……Cerita yang saya baca di atas bagus alurnya sama persis cerita Mahabarata, diakhir cerita AKLAK BAIK yang jadi UNGGULAN, ini piwulang yang memang harus disampaikan dengan cara SANEPO(jawa) sejatinya ada di PRIBADI masing-masing individu/manusia. Ada dua jalur yang keduanya memang saling dibutuhkan, “Suka-Duka” & “Nikmat-Derita” tetapi individu harus bisa menimbang secara rinci seberapa tingkat kemubadzirannya, karena kalau tidak akan jadi siksa/adab(arab). Memang betul tidak semua piwulang yang tersirat kalayak mengerti, bisa jadi malah salah faham… Memang demikian adanya sesembahan raja Barlunos tidak bisa dihilangkan karena itu juga masih kehendak HYANG ARUTA……tapi nikmat harus dikendalikan dengan cara budi pekerti yang tidak menyalahi KODRAT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s