Kaum Aryadinah dan Kekaisaran Nurasanggara

Wahai saudaraku. Dalam kesempatan ini, kami mengajak Anda sekalian untuk kembali mengulik sejarah masa lalu. Masa dimana manusia sudah hidup dalam keteraturan dan peradaban yang tinggi. Dan kaum yang akan kita bahas kali ini bernama Aryadinah. Atas prakarsa dari seorang pemuda, kaum ini lalu mendirikan sebuah kekaisaran yang bernama Nurasanggara. Kerajaan besar itu berpusat di Milanura, sebuah kota yang dulu pernah ada di sekitar antara Serang-Banten, Ujungkulon dan Sukabumi sekarang.

Ya. Kaum ini hidup pada masa akhir periode zaman ke enam (Nusanta-Ra), tepatnya di sekitar antara 150.000 – 160.000 tahun silam. Kaum yang terpandang ini pernah dipimpin oleh Syam Aire, pendiri kekaisaran dan seorang raja yang termahsyur. Sementara sosok yang menjadi cikal bakal berdirinya kekaisaran ini bernama Syam Hiyadala. Setelah berjuang cukup lama, akhirnya ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan bernama Sanggara yang berlokasi di sebuah kawasan di antara Bengkulu dan Lampung sekarang. Di masa keturunannya, secara perlahan tapi pasti, peradaban yang dimiliki oleh kaum ini beranjak maju dan terpandang. Sampai pada akhirnya mereka bisa mendirikan kekaisaran Nurasanggara yang berpusat di antara Serang-Banten, Ujungkulon dan Sukabumi sekarang. Sejak saat itu, negeri mereka bahkan menjadi pusat peradaban dunia.

Adapun ciri khas dari peradaban mereka ini menyerupai apa yang ada pada masa leluhurnya dulu, yaitu kaum Artamia. Mereka pun bercorak agraris dan maritim yang kuat. Sungguh mengagumkan kaum ini. Dan begitulah manusia yang pernah hidup di Nusantara pada masa lalu. Mereka bukanlah bangsa yang tak berbaju dan tak mengenal peradaban (primitif). Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang hebat dan pernah menjadi guru bagi semua bangsa di dunia.

Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Asal usul
Kaum Aryadinah sebenarnya masih ada kaitannya dengan kaum-kaum terdahulu, khususnya kaum Aryawina, Hilbatar dan Artamia. Dari ketiga kaum itulah mereka ini berasal, dan seperti leluhurnya dulu mereka juga mampu mendirikan kerajaan besar yang termahsyur.

Ya. Dalam semua sisi kehidupan, kaum Aryadinah ini tak jauh berbeda dengan pendahulunya; kaum Aryawina. Mereka juga menguasai ilmu kanuragan dan kadigdayan yang sangat tinggi, bahkan sebagian dari mereka ada yang bisa berbicara dengan hewan dan tumbuhan. Untuk sesama mereka, jika mau kaum ini pun bisa berkomunikasi jarak jauh, atau yang kini disebut dengan telepati. Mereka sering melakukannya, terlebih jika ada yang perlu dirahasiakan.

Selain tentang penguasaan dalam ilmu kanuragan dan kadigdayan, kaum ini juga sangat menguasai sains dan teknologi. Ada banyak peralatan sehari-hari yang telah mereka ciptakan dan sangat membantu kehidupannya. Karena itulah, mereka bisa menjadi pusat peradaban dunia. Banyak bangsa yang berguru kepada mereka, dan mereka pun sangat terbuka untuk itu asalkan demi kemaslamatan bersama.

Dan khusus tentang asal usul dari kaum Aryadinah ini, berikut diberikan uraian singkatnya, yaitu:

Kaum Aryadinah ini berasal dari kaum yang bernama Winayah. Kaum ini hidup selama ±1.659 tahun di wilayah sekitar antara Jambi dan Sumatera Barat sekarang (pada waktu itu pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan daratan Asia masih menyatu). Kaum Winayah ini berasal dari kaum Gilmah yang hidup selama ±1.850 tahun di wilayah sekitar Kalimantan Barat sekarang. Kaum Gilmah berasal dari kaum Mikalatan yang hidup selama ±2.750 tahun di wilayah Makassar sekarang. Kaum Mikalatan berasal dari kaum Dinakitu yang hidup selama ±2.650 tahun di wilayah sekitar kepulauan Philifina sekarang. Kaum Dinakitu berasal dari kaum Humaria yang hidup selama ±2.130 tahun di wilayah antara Taiwan dan China sekarang. Kaum Humaria berasal dari kaum Litamia yang hidup selama ±2.245 tahun di wilayah kepulauan Jepang sekarang. Kaum Litamia berasal dari kaum Hiyagala yang hidup selama ±3.763 tahun di wilayah Kepulauan Hawaii sekarang. Kaum Hiyagala berasal dari kaum Samora yang hidup selama ±2.880 tahun di wilayah Mexico sekarang. Kaum Samora berasal dari kaum Goar yang hidup selama ±3.535 tahun di wilayah Amerika sekarang. Kaum Goar berasal dari kaum Yinusi yang hidup selama ±2.760 tahun di wilayah Venezuela sekarang. Kaum Yinusi berasal dari kaum Arthenus yang tinggal selama ±2.275 tahun di wilayah Peru sekarang. Kaum Arthenus berasal dari kaum Limayus yang hidup selama ±3.620 tahun di sekitar wilayah Kepulauan Solomon sekarang. Kaum Limayus berasal dari kaum Harpah yang hidup selama ±2.540 tahun di sekitar wilayah Australia bagian utara sekarang. Kaum Harpah berasal dari kaum Marmanah yang tinggal selama ±2.300 tahun di sekitar wilayah Papua sekarang. Kaum Marmanah berasal dari kaum Dimarah yang tinggal selama ±2.485 tahun di sekitar wilayah antara NTT dan Timor Leste sekarang. Kaum Dimarah berasal dari kaum Julakah yang tinggal selama ±1.117 tahun di sekitar wilayah Ambon sekarang. Kaum Julakah berasal dari kaum Zanamah yang hidup selama ±2.287 tahun di wilayah antara Bali dan Lombok sekarang. Kaum Zanamah berasal dari kaum Biyasal yang hidup selama ±2.225 tahun di wilayah sekitar Laut Jawa sekarang. Kaum Biyasal berasal dari kaum Moroja yang hidup selama ±3.990 tahun di wilayah sekitar Laut China Selatan sekarang. Kaum Moroja berasal dari kaum Ruwandaya yang hidup selama ±2.595 tahun di wilayah Thailand sekarang. Kaum Ruwandaya berasal dari kaum Miragard yang hidup selama ±4.245 tahun di wilayah India bagian timur sekarang. Kaum Miragard berasal dari kaum Dartaru yang hidup selama ±2.327 tahun di wilayah Afganistan sekarang. Kaum Dartaru berasal dari kaum Hasiram yang hidup selama ±3.248 tahun di sekitar wilayah Iran sekarang. Kaum Hasiram berasal dari kaum Irdi yang hidup selama ±2.830 tahun di wilayah antara Oman dan Yaman sekarang. Kaum Irdi berasal dari kaum Isma’un yang hidup selama ±3.470 tahun di sekitar wilayah antara Makkah dan Madinah sekarang. Kaum Isma’un berasal dari kaum Hidirma yang hidup selama ±2.236 tahun di wilayah Ethiopia sekarang. Kaum Hidirma berasal dari kaum Jagayani yang hidup selama ±4.355 tahun di sekitar Kepulauan Maldewa sekarang. Kaum Jagayani berasal dari kaum Simarathu yang tinggal selama ±5.585 tahun di sekitar wilayah India bagian selatan sekarang. Kaum Simarathu berasal dari kaum Wirtarathu yang hidup selama ±3.687 tahun di sekitar Pulau Nias sekarang (saat itu pulau ini masih menyatu dengan pulau Sumatera). Kaum Wirtarathu berasal dari kaum Mimtala yang hidup selama ±4.920 tahun di sekitar wilayah Laut Karimata sekarang. Kaum Mimtala berasal dari kaum Artarama yang hidup selama ±5.132 tahun di sekitar Jawa Timur sekarang. Dan begitulah seterusnya sampai berulang kali bolak-balik dari dan ke Nusantara, dan pada akhirnya akan sampai pada kaum Aryawina, Hilbatar dan Artamia. Jika diteruskan lagi, akan sampai juga kepada Ayahanda Adam AS yang hidup di masa periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra) di kota Bakkah/Makkah.

Lihatlah, bahwa jalur migrasi dari kaum Aryadinah ini berasal dari pulau Sumatera dan kembali lagi dari Pulau Sumatera dan akhirnya ke Pulau Jawa meskipun pernah sampai di benua Amerika, Australia, Asia dan Afrika. Dan sebagaimana kaum yang lainnya, adapun migrasi tersebut terpaksa harus di lakukan sebab kaum mereka sebelumnya telah hancur oleh peperangan atau karena di timpa bencana besar (azab Tuhan). Dan sekali lagi maaf bila kami tidak bisa menyebutkan satu persatu dari semuanya itu disini – hingga pada awalnya yaitu dari kaumnya Ayahanda Adam AS, karena akan sangat banyak. Tidak cukup bila harus dituliskan disini, karena yang di atas saja sudah sebanyak 30 kaum dan berlangsung selama ±93.691 tahun. Bahkan semua kaum yang sudah disebutkan di atas saja belum sampai pada kaum Aryawina, apalagi kaum Hilbatar dan Artamia yang hidup ratusan ribu tahun sebelum kaum Aryadinah. Untuk itulah, sebaiknya kita lanjutkan pada pembahasan berikutnya.

2. Awal kisah
Semua kisah tentang kaum Aryadinah ini bermula sejak akhir periode zaman ke empat (Swarganta-Ra) masih berlangsung. Saat itu, selama kurun waktu ±2 Milyar tahun lebih terdapat sebuah peti yang berisi benda-benda pusaka. Peti tersebut di turunkan dari langit melalui seorang Malaikat. Pusaka-pusaka itu pernah dipergunakan oleh kaum-kaum yang menjadi murid dari para Nabi di masa lalu. Dan sepanjang sejarahnya, hanya orang yang terpilih saja yang bisa mendapatkan amanah untuk bisa memilikinya. Itu pun hanya sementara, karena setelah cukup waktu, peti tersebut langsung menghilang. Di masa yang lain, barulah ia bisa dimiliki oleh seorang pemuda yang terpilih.
Awalnya peti itu diberikan langsung oleh seorang Malaikat yang bernama Antar’amun kepada seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Zamirat AS. Peti tersebut berisi berbagai jenis benda dan senjata pusaka. Ada batu mustika, keris, pedang, busur panah, tombak, mahkota, tongkat, ikat kepala, bola dunia (semacam globe), gelang, cincin, ikat pinggang, baju rompi, jubah, selendang, cermin, cawan dan 3 buah kitab ilmu pengetahuan. Semuanya memiliki kemampuan yang berbeda-beda, dan siapa pun yang memakainya akan mendapatkan kekuatan dan kelebihan yang luar biasa. Dan semua benda pusaka itu tak bisa dipergunakan untuk sesuatu yang salah, karena hanya akan mendatangkan bencana.

Saat pertama kali diberikan oleh Malaikat Antar’amun, peti yang bernama Hudharasya itu hanya berisi batu mustika, keris, pedang, busur, cermin, jubah, mahkota dan tongkat saja. Namun seiring berjalannya waktu, benda pusaka yang ada di dalam peti tersebut bertambah. Itu bisa terjadi karena ada beberapa sosok agung yang meletakkan benda pusaka lainnya disana. Di antara mereka itu adalah Nabi Syis AS, Nabi Khidir AS, Nabi Harkasyi AS, Nabi Luwiyas AS, Nabi Nuh AS, Sang Hyang Girimutara, Sang Hyang Guru dan Bhatari Aramisa. Di waktu yang berbeda, mereka itu memasukkan satu atau dua benda pusaka ke dalam peti Hudharasya. Dan meskipun peti tersebut berukuran kecil, maka semua benda pusaka itu muat di dalamnya. Bahkan sebenarnya peti itu bisa menampung benda apapun dan sebanyak apapun. Maklumlah peti itu sendiri termasuk benda pusaka, dari langit pula asalnya.

Selama 2 milyar tahun lebih, peti Hudharasya ini diwariskan kepada beberapa kaum melalui perantara Nabi yang diutus. Namun sejak di masa akhir periode zaman kelima (Dwipanta-Ra), giliran para Dewa atau Resi yang menjalankan tugas itu. Tapi disini mereka tidak bisa langsung memberikannya, karena hanya boleh menyampaikan petunjuk kepada seorang pemuda untuk bisa mendapatkan peti tersebut. Dan siapapun yang memilikinya nanti bisa menjadi raja yang termahsyur, dengan kerajaan yang terpandang di seluruh dunia. Tentu disini adalah sosok pemuda yang bersih hatinya dan bersifat kesatria.

Sungguh, kehidupan manusia itu sangatlah unik. Apa yang dikira selama ini tentu banyak yang keliru. Manusia bukanlah makhluk kemaren sore yang baru mengenal kehidupan dan peradaban dunia. Mereka adalah makhluk yang unggul yang sejak awal memang sudah diciptakan dalam bentuk fisik yang sempurna. Mereka juga sudah sangat lama hidup di muka Bumi ini (milyaran tahun). Selama itu, telah begitu banyak kisah yang silih berganti – di periode zaman yang berbeda-beda – dengan model peradaban yang beragam. Telah banyak kaum yang dibangkitkan sampai mereka bisa memiliki peradaban yang luar biasa, tapi tak sedikit pula yang akhirnya dihancurkan karena kekufuran mereka sendiri. Dan semuanya itu adalah bagian dari takdir kehidupan yang harus dipilih oleh manusia. Kita sekarang ini hanya secuil dari panjangnya sejarah manusia. Bukan pula yang terhebat, karena dulu ada banyak kaum yang jauh lebih hebat dari kita sekarang.

Dan seperti yang disampaikan pada kisah sebelumnya, maka yang terdapat di dalam tulisan ini sudah terlupakan selama puluhan ribu tahun. Padahal kaum Aryadinah itu adalah termasuk kaum yang paling berjaya di Bumi ini. Di masa lalu, mereka menjadi pusat peradaban dunia dan hidup dalam keseimbangan jiwa dan raganya. Dan karena sudah menjadi hukum kehidupan, maka semuanya harus melalui jalan yang berliku. Ada proses yang harus ditempuh dan ada harga yang harus dibayar untuk bisa mencapai kejayaan itu. Tak ada jalan yang mudah dalam meraih kesuksesan.

3. Kisah pendirian kaum dan kerajaannya
Kisah ini bermula saat pemimpin kaum Winayah (yang tinggal di sekitar antara Jambi dan Sumatera Barat sekarang) memutuskan untuk memindahkan kerajaannya ke dimensi lain. Setelah kaum Winayah hidup selama ±1.650 tahun, pemimpin ke-9 mereka yang bernama Syam Ragusla mendapatkan petunjuk untuk memindahkan negerinya ke dimensi ketiga (Galatasyi). Jadi, pada saat ia sedang ber-semedhi selama 10 hari di tengah hutan, Syam Ragusla ditemui oleh seorang begawan yang bernama Resi Gatramurna. Sang begawan lalu memberikan kabar bahwa kaumnya itu akan berpindah ke dimensi ketiga, sebab mereka memang layak untuk itu. Atas petunjuk dari sang begawan itu juga, maka sebelum berpindah, sebagian dari mereka harus ada yang hijrah ke tempat lain dan mendirikan kaum yang baru disana. Kaum tersebut harus diberi nama Aryadinah atau yang berarti manusia (kaum) yang kuat-hebat dan mulia. Setelah cucu mereka lahir, barulah mereka diizinkan untuk menyusul kaumnya yang telah lebih dulu berpindah dimensi.

Tepat sekitar ±1.659 tahun sejak kaum Winayah berdiri, maka diputuskanlah bahwa mereka harus berpindah ke dimensi lainnya. Tiga bulan sebelum berpindah, ada sekitar 25 keluarga yang diperintahkan untuk hijrah ke tempat lain dan mendirikan hunian baru disana. Di kemudian hari, setelah generasi ketiga mereka lahir, barulah mereka diizinkan untuk menyusul kaumnya yang telah lebih dulu berpindah ke dimensi ketiga (Galatasyi). Sesampainya disana, mereka segera disambut oleh kaumnya. Sejak saat itu mereka pun menjalani kehidupan yang baru disana. Tentunya dalam rasa dan suasana yang sangat berbeda. Maklumlah, dimensi kehidupannya pun sudah jauh berbeda.

Waktu pun berlalu, setelah tiga bulan kemudian kaum Winayah berpindah ke dimensi lain. Tinggallah 25 keluarga yang ditugaskan untuk mendirikan kaum yang baru di tempat lain. Tempat tersebut sekarang berada di sekitar antara Bengkulu dan Lampung. Disana, karena telah dibekali dengan berbagai keahlian, maka hanya dalam waktu yang relatif singkat mereka bisa mendirikan perkampungan yang makmur. Lambat laun, perkampungan itu menjadi tempat tujuan dari para pedagang dari berbagai negeri. Sebagian dari mereka ada yang hanya sekedar mampir untuk mencari rempah-rempah atau apa saja yang bisa diperjual belikan di manca negara, tapi ada pula yang akhirnya menetap disana. Setelah beberapa puluh tahun, perkampungan itu menjadi sebuah negeri yang bernama Sanggara atau yang berarti bangkit kembali dan berjaya. Orang yang menjadi raja pertama di kerajaan itu bernama Syam Hiyadala. Di generasi mereka yang kelima, negeri tersebut sudah menjadi sebuah kerajaan yang terpandang.

4. Petualangan untuk mendapatkan peti dari langit
Pada masa raja ke-7 kerajaan Sanggara yang bernama Syam Amihate, terjadi perubahan yang mendasar di kerajaan Sanggara. Saat itu, ia memiliki sepasang anak yang rupawan. Yang putra bernama Aire, sementara yang putri bernama Serila. Jika adiknya, Serila, adalah sosok yang lemah lembut dan lebih senang berada di istana, maka Aire adalah sosok pemuda yang suka berpetualang. Awalnya selama 10 tahun ia dan adiknya itu berguru kepada seorang Resi yang bernama Kayalima. Tapi setelah dirasa cukup belajar di padepokan sang Resi, sebelum kembali ke istana, Aire meminta izin kepada ayahnya untuk berpetualang mencari ilmu dan pengalaman hidup selama beberapa tahun. Ayahnya itu pun setuju.

Setelah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya, Aire segera memulai petualangannya ke beberapa negeri di Mellahayur (penamaan Nusantara saat itu), Syinhala (daratan China) dan Hindala (India). Selama berpetualang, ia mendapatkan banyak ilmu dan pelajaran hidup. Kepada beberapa orang bijak, Aire senang berguru kepada mereka dan akhirnya menguasai berbagai disiplin ilmu kehidupan. Selama lebih dari 15 tahun ia terus mencari ilmu dan pengalaman hidup, tapi selama itu pula ia belum menemukan apa yang sebenarnya ia cari. Aire tetap merasa seperti orang yang kehausan di tengah gurun pasir. Lima belas tahun lebih ia mencari ilmu dan pengalaman hidup, tapi selama itu pula ia masih belum menemukan apa yang benar-benar sreg dihatinya. Terus saja dicari, namun tak pernah kunjung ditemui.

Akhirnya, karena masih penasaran dengan apa yang sebenarnya ia cari, Aire lalu memutuskan untuk ber-tapa brata di sebuah lereng gunung yang bernama Sulita (cikal bakal gunung Papandayan sekarang). Ia sangat mendambakan petunjuk yang tidak biasa. Karena itulah dengan hati yang tulus dan sikap yang khusyuk, selama dua tahun lebih ia melakukan tapa brata dengan cara duduk bersila menghadap ke arah timur. Setelah dua tahun, Aire didatangi oleh seorang Bhatara yang bernama Altarama. Sosok bijak dan sangat kharismatik itu turun dari Kahyangan untuk memberikan petunjuk kepada Aire. Katanya: “Bangunlah hai kesatria. Sudah cukuplah tapa bratamu itu. Kini dengarkan apa yang seharusnya kau lakukan”

Mendengar perintah itu, perlahan-lahan Aire membuka mata. Dihadapannya telah hadir seorang yang luar biasa. Belum pernah ia bertemu dengan sosok yang seperti itu. Karena dari dalam tubuhnya memancar sinar yang berkilauan, yang membuat siapa pun akan merasa takjub. Ia tak memakai pakaian yang berjahit, hanya saja ada selendang warna putih bercampur keemasan yang diselempangkan di pundak. Selendang itu berukuran panjang dan sebagiannya melingkar di tangan kanannya. Ia pun tak mengenakan celana, selain kain panjang yang berwarna putih bercampur keemasan yang dilipat sedemikian rupa hingga membentuk seperti celana panjang. Sang Bhatara memiliki bentuk tubuh yang tegap serta dada yang berbidang. Sangat rupawan dan ia juga memakai berbagai perhiasan yang berkilauan seperti mahkota, kalung, anting, ikat pinggang dan gelang. Di telapak kakinya terpakai sepasang sepatu yang berwarna emas. Sungguh memukau sekali sosok tersebut, terlebih dari tubuhnya pun memancar cahaya yang terang menyejukkan.

Tak lama kemudian, sang Bhatara meminta Aire mendekat dan berdiri tepat di hadapannya. Setelah dekat, tanpa berkata-kata lagi sang Bhatara langsung meletakkan tangan kanannya tepat di atas dada Aire. Dalam waktu sekejap, ternyata sang Bhatara menurunkan ilmu kepada sang pemuda. Setelah cukup, ia pun berkata: “Ananda Aire. Apa yang ku turunkan ini akan sangat berguna untukmu. Ini memang sudah menjadi hak yang harus kau terima, sebab dirimu akan menempuh jalan (perjuangan) yang berat. Akan ada pula tugas yang harus kau tunaikan demi ketertiban dunia. Untuk itu, bersemangatlah dan teruslah engkau berserah diri kepada-Nya. Tetaplah rendah hati, karena kau bukanlah siapa-siapa. Kau bukanlah yang terhebat. Dan teruslah engkau bersyukur, tetaplah engkau sadar bahwa tak ada yang sakti, tak ada yang mulia di dunia ini kecuali Dia. Dia saja”

Mendapati penjelasan itu, Aire hanya bisa terdiam sambil meneteskan airmata. Ia tak kuasa menahan tangisannya itu ketika diingatkan oleh sang Bhatara tentang siapakah dirinya dan siapa Tuhannya. Melihat itu, Bhatara Altarama hanya tersenyum dan melanjutkan kata-katanya: “Wahai kesatria. Ada lagi yang harus kau lakukan. Ber-tapa brata lah sekali lagi selama 15 tahun. Adapun caranya ada tiga jenis. Pertama dengan cara berbaring miring ke kanan selama 5 tahun. Selanjutnya dengan cara berdiri di atas kedua kaki selama 5 tahun. Dan yang terakhir kau harus ber-tapa brata selama 5 tahun dengan cara berdiri di atas satu kaki. Saat waktunya tiba nanti, tapa brata itu harus di lakukan di puncak gunung dan dalam posisi tubuh menghadap ke arah barat. Selain itu, harus di lakukan dengan tanpa jeda sehari pun. Jika aturan itu sampai di langgar, maka tapa bratamu akan gagal”

Demikianlah yang disampaikan oleh Bhatara Altarama kepada Aire. Karena sudah percaya sepenuhnya, sang pemuda pun menurutinya dengan senang hati. Setelah menyampaikan petunjuk itu, Bhatara Altarama segera kembali ke Kahyangan. Tinggallah Aire yang masih diam menekur diri. Selang beberapa waktu, Aire mulai mendaki sampai ke puncak gunung Sulita (cikal bakal gunung Papandayan). Disana ia melakukan tapa brata sesuai petunjuk dari Bhatara Altarama sebelumnya. Banyak godaan dan ujian yang harus ia hadapi, tapi karena Aire telah dibekali dengan berbagai ilmu dan pengetahuan, semua itu bisa ia lalui. Tahun demi tahun berlalu dan semakin lama dari dalam tubuhnya memancar aura magis yang kuat. Bahkan di ketiga tahun terakhir tapa brata-nya, dari tubuh Aire terus memancar cahaya yang terang ke segala arah. Sejak saat itu, tak ada lagi makhluk yang berani mendekati tubuh sang pemuda.

Catatan: Pada masa Aire, gunung Papandayan masih belum ada. Disana hanya ada gunung Sulita yang memiliki ketinggian sekitar ±5.126 mdpl. Setelah gunung Sulita meletus secara eksplosif (meledak), barulah muncul anak gunung yang diberi nama Mulhi. Beberapa ribu tahun kemudian nama ini terus berubah-ubah sampai pada akhirnya diberi nama Urmalaya, lalu Danghyang dan kini menjadi Papandayan. Gunung ini termasuk dalam karakter gunung berapi aktif, yang berada di kabupaten Garut, Jawa Barat dengan ketinggian sekitar ±2.665 mdpl. Sepanjang sejarahnya, ada banyak letusan dahsyat yang pernah terjadi. Misalnya pada sekitar tahun 1772 Masehi. Pada saat itu, dampak letusannya sampai menghancurkan 40 desa dan menewaskan sekitar ±2.957 orang. Sementara daerah yang tertutup longsoran mencapai radius ±10 kilometer dengan lebar ±5 kilometer. Sungguh mengerikan jika gunung ini meletus, bahkan jauh sebelum di tahun 1772 itu pernah juga terjadi letusan yang lebih dahsyat, tepatnya sekitar ±2.557 tahun sebelumnya. Saat itu, khususnya penduduk yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa harus mengungsi ke tempat lain, terutama ke sekitar Lampung, Bengkulu dan Jawa Timur sekarang.

Singkat cerita, setelah ber-tapa brata selama ±15 tahun, tiba-tiba Aire berpindah ke dimensi lain, tepatnya ke dimensi yang ke tujuh (Ramatasyi). Disana ia tinggal selama 50 tahun, tapi sebenarnya akan sama dengan lima tahun saja di bumi. Selain mendapatkan pelajaran ilmu dari para leluhurnya yang sudah moksa, ia juga mendapatkan sebuah peti khusus yang berisi benda-benda pusaka. Peti itu berasal dari langit dan bernama Hudharasya.

Dulu, di periode akhir zaman ke empat (Swarganta-Ra), peti itu diturunkan dari langit kepada Nabi Zamirat AS melalui seorang Malaikat yang bernama Antar’amun. Fungsi dari peti dan isinya itu adalah untuk bekal seorang kesatria dalam memimpin kaumnya dan menata kehidupan dunia. Karena peti itu bukanlah peti biasa, makanya tak perlu dibawa-bawa. Ia akan muncul dengan sendirinya cukup dengan merapalkan mantra. Tentunya disini hanya bisa di lakukan oleh sosok yang terpilih dan memang berhak atas kepemilikan peti itu.

Nabi Zamirat AS adalah seorang utusan Tuhan yang bertugas untuk membimbing beberapa kaum di masa lalu. Melalui beliau, satu dua kaum yang telah mendapatkan peti Hudharasya bisa mencapai puncak peradabannya. Setelah itu, di masa yang lain, peti Hudharasya ini secara bergantian menjadi pusaka utama dari sebuah kaum atau kerajaan yang terpilih. Itu berlangsung selama 2 milyar tahun lebih, dengan para Nabi yang bertugas sebagai sosok perantaranya – karena peti ini disimpan di suatu tempat (dimensi lain) yang sangat rahasia dan hanya para Nabi saja yang bisa mengambilnya. Hingga pada akhirnya, sejak di akhir periode zaman kelima (Dwipanta-Ra), kebiasaan itu berubah. Yang awalnya hanya para Nabi, maka selanjutnya menjadi tugas dari para Dewa dan Resi. Tapi mereka ini (para Dewa dan Resi) tidak langsung memberikannya, karena hanya sebatas membimbing agar seseorang layak dan bisa menerima peti tersebut.

Itulah yang terjadi pada Aire saat itu, sebab Bhatara Altarama hanya memberikan petunjuk cara agar sang pemuda layak menerima peti Hudharasya. Dan karena sang pemuda bukan orang biasa dan memiliki keinginan yang tulus, akhirnya ia bisa mendapatkan peti itu. Banyak godaan dan ujian yang harus ia lalui selama ber-tapa. Tapi lantaran sudah bersungguh-sungguh dan selalu berserah diri kepada Hyang Aruta (Tuhan YME), maka semua yang sulit itu bisa dikerjakan dan membuahkan hasil. Aire pun menerima amanah untuk memiliki peti Hudharasya setelah lebih dari 25.000 tahun menghilang dari muka Bumi.

5. Pertemuan yang berkesan
Sezaman dengan kehidupan Aire, ada sebuah kerajaan yang bernama Nusawira. Kerajaan ini terbilang besar dan berada di sekitar antara Serang-Banten, Ujungkulon dan Sukabumi sekarang. Pada saat Aire masih ber-tapa brata di puncak gunung Sulita, terjadilah perselisihan antara kerajaan Nusawira dan kerajaan Jilmaruk yang berdomisili di tanah Hindala (India). Masalah itu bermula karena penguasa di kerajaan Jilmaruk yang bernama Sri Maharaja Hilamugtana Dilya berhasrat untuk bisa menguasai jalur perdagangan di kawasan selatan, khususnya di Mellahayur (Nusantara) bagian barat. Ia ingin menjadi penguasa tunggal yang bisa mengendalikan semua perdagangan di kawasan tersebut atau memonopoli sepenuhnya. Jika tidak bisa dengan cara yang damai, sang raja akan menggunakan cara-cara kekerasan dan perang. Penjajahan juga sudah ia persiapkan untuk bisa memenuhi semua keinginannya itu. Ia benar-benar ingin menaklukkan semua kerajaan di Mellahayur (Nusantara), bahkan di seluruh dunia.

Selain itu, Raja Hilamugtana juga berkeinginan untuk menikahi putri penguasa kerajaan Nusawira yang terkenal akan kecantikannya. Putri tersebut bernama Sinawari, permata terindah di kerajaan Nusawira. Hanya saja itu tak pernah terjadi lantaran Raja Kiswaruta tak mau anaknya dipersunting oleh orang yang ingin menguasai kerajaannya. Sang raja juga sudah mengetahui betapa jahatnya rencana Raja Hilamugtana kepada negerinya nanti, juga kepada kerajaan lain yang ada di kawasan barat Mellahayur (Nusantara). Pernikahan itu hanya untuk menaikan ego dan melegalkan apa yang akan ia lakukan nanti. Karena itulah, Raja Kiswaruta menolak lamaran dari Raja Hilamugtana dan siap menghadapi semua resikonya. Ia tak mau rakyatnya menderita dan negerinya hancur berantakan karena kejahatan yang akan di lakukan oleh penguasa kerajaan Jilmaruk itu. Terlebih ia pun tak ingin putri kesayangannya itu ikut menderita karena bersuamikan seorang pria yang biadab.

Singkat cerita, dua bulan sebelum kerajaan Jilmaruk menyerang negeri Nusawira, Putri Sinawari memutuskan untuk menyepi di tengah hutan. Tujuannya saat itu adalah untuk mendapatkan petunjuk tentang apa yang harus ia lakukan dalam menghadapi serangan dari kerajaan Jilmaruk nanti. Sebagai seorang putri raja, ia berkewajiban untuk membantu ayahnya dengan menemukan solusi terbaik bila pertempuran besar itu harus terjadi. Dan setelah ber-semedhi selama 5 hari, sang putri kedatangan seorang begawan yang bernama Resi Wadinayasa. Dalam pertemuan itu, sang begawan memberikan petunjuk dengan berkata: “Wahai ananda Sinawari. Berjalan engkau ke arah timur. Teruslah berjalan selama beberapa hari. Bila nanti sudah bertemu dengan segerombolan perampok yang ingin berbuat jahat kepadamu, saat itulah engkau baru akan menemukan solusi bagi kerajaanmu. Kau akan menemukan permata yang tersembunyi”

Tak banyak yang disampaikan oleh sang begawan, karena setelah itu ia langsung raib dari pandangan. Kini tinggallah Putri Sinawari yang berjalan ke arah timur sesuai petunjuk sang begawan. Setelah 3 hari berjalan, di pinggiran sebuah hutan ia dihadang oleh segerombolan perampok yang ingin memperkosanya. Kepala perampok itu terkenal sakti dan sering berbuat cabul kepada para korbannya. Bahkan jika terpaksa, membunuh adalah perbuatan yang biasa baginya.

Melihat kecantikan Putri Sinawari, bukan hanya raja perampok itu saja yang ingin menggagahi sang gadis, semua anak buahnya juga ingin. Tapi karena sang gadis bukanlah wanita sembarangan, maka hasrat itu tak mudah diwujudkan. Meski tak seimbang, sang putri bisa bertahan setelah dikeroyok oleh 20 orang perampok. Melihat anak buahnya tumbang satu persatu, raja perampok yang bernama Gaelan itu akhirnya maju menghadapi sang putri. Pertarungan pun terjadi cukup lama dan sengit di antara mereka berdua.

Tak jauh dari sana, seorang pemuda yang baru turun gunung sedang duduk di tepi sebuah sungai. Dialah Aire, yang saat itu sedang beristirahat dan menikmati pemandangan. Saat duduk santai di atas sebongkah batu yang ada di pinggir sungai, Aire mendengar ada pertarungan sengit yang terjadi di seberang sungai. Semakin lama, suara pertarungan itu kian kentara. Tak lama kemudian bahkan terdengar suara dentuman yang cukup keras. Mendengar itu, Aire langsung melesat ke sumber suara. Dari atas pohon, ia bisa menyaksikan sebuah pertarungan yang tak seimbang. Seorang wanita muda dikeroyok oleh segerombolan perampok cabul.

Atas peristiwa itu, sebagai seorang kesatria, Aire tak bisa hanya tinggal diam. Dalam sekejap ia sudah berada di tengah-tengah pertarungan. Pada saat raja perampok itu (Gaelan) melepaskan ajian Lijara (berupa api) ke arah Putri Sinawari, saat itulah Aire tiba-tiba berdiri di depan sang putri. Dalam sekali gerakan tangannya, pukulan jarak jauh itu ditepisnya dengan mudah. Begitu pula saat Gaelan berkali-kali melepaskan pukulan jarak jauh yang mematikan ke arah Aire, semuanya pun ditepis dengan mudah oleh sang pemuda. Sampai akhirnya raja perampok itu kehabisan tenaga dan mengaku kalah dihadapan Aire.

Setelah kejadian itu, Aire tidak membalas perbuatan Gaelan dengan kejahatan yang sama. Ia justru berkata: “Apa maksud dari semua ini? Mengapa kalian justru hidup sebagai perampok dan pemerkosa? Itu adalah perbuatan yang sangat hina, karena hidup dari kejahatan kepada orang lain adalah kebodohan? Bumi dan langit takkan sudi menerima orang sehina perampok. Maka segeralah bertobat dengan membersihkan hati dan jiwamu. Jangan menundanya, sebelum kalian menyesal untuk selamanya”

Mendengar itu, Gaelan dan anak buahnya tertunduk malu. Tak lama kemudian, bahkan mereka sampai meneteskan airmata karena menyesal. Gaelan berjanji untuk segera bertobat dan terus memperbaiki diri. Mendengar itu, Aire kembali berkata: “Baiklah kalau begitu. Ku doakan kalian bisa menemukan kembali kebaikan dalam dirimu. Dan jika suatu saat nanti bangsamu membutuhkan, segeralah penuhi kewajiban itu. Jangan sia-siakan kesempatan yang masih tersisa untukmu. Kembalilah ke jalan yang benar dengan berbuat baiklah kepada sesama. Itulah jalan penebusan dosamu”

Sekali lagi, mendengar penjelasan itu, Gaelan dan anak buahnya hanya bisa tertunduk haru. Mereka berjanji bila nanti bangsanya membutuhkan tenaganya, mereka semua bersedia ikut serta. Mereka siap menjalani tugas yang berat atau bahkan harus mempertaruhkan nyawanya sendiri. Melihat itu, baik Aire dan Putri Sinawari merasa senang. Tak ada dendam dan kebencian. Mereka pun saling memaafkan.

Singkat cerita, setelah Gaelan dan anak buahnya pergi untuk memperbaiki diri, tinggallah Aire dan Putri Sinawari yang berada di tengah hutan itu. Sebagai orang yang ditolong, Putri Sinawari langsung berterima kasih kepada sang pemuda. Tapi entah mengapa, keduanya tetap bersikap rendah hati. Mereka tak benar-benar jujur tentang siapakah diri mereka yang sebenarnya. Memang keduanya sudah memperkenalkan dirinya dengan nama aslinya, namun mereka tak menceritakan bahwa mereka itu adalah seorang bangsawan. Bila Sinawari adalah putri dari Raja Kiswaruta, maka Aire adalah putra mahkota di kerajaan Sanggara. Keduanya sama-sama bangsawan tinggi di kerajaan mereka masing-masing.

Lalu, setelah mereka saling berkenalan, Putri Sinawari pun bercerita bahwa tujuannya melakukan perjalanan ke arah timur adalah demi mengikuti petunjuk dari Resi Wadinayasa. Karena negerinya akan diserang oleh kerajaan Jilmaruk, Putri Sinawari berusaha untuk menemukan solusi yang terbaik bagi kerajaannya. Setelah ber-semedhi selama 5 hari, ia mendapatkan petunjuk dari Resi Wadinayasa. Dan ternyata permata tersembunyi yang dimaksudkan oleh sang begawan itu adalah diri Aire sendiri. Sang putri bisa merasakannya setelah melihat Aire bisa mengalahkan segerombolan perampok dengan sangat mudahnya tanpa mencelakai mereka. Sang pemuda pun bisa menyadarkan mereka untuk segera kembali ke jalan yang benar. Karena itu, selanjutnya Putri Sinawari meminta kesediaan Aire untuk berkunjung ke negerinya. Jika berkenan, sang putri juga berharap Aire mau membantu mereka saat menghadapi serangan dari kerajaan Jilmaruk nanti.

Mengetahui itu, sebagai seorang kesatria Aire bersedia untuk membantu. Ia mau berjuang bersama-sama rakyat di negeri Nusawira, bahkan sampai titik darah penghabisan. Semua itu ia lakukan karena memang Aire sendiri tak pernah setuju dengan penindasan dan sikap yang semena-mena. Ia akan berada di garis depan saat kezaliman dan kesombongan itu merajalela. Sehebat apapun musuh, ia takkan mundur. Dan selama hayat masih berada dikandung badan, selama itu pula ia akan tetap berjuang. Itulah sikap Aire, yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Singkat cerita, Putri Sinawari dan Aire meninggalkan hutan itu dan segera menuju ke negeri Nusawira. Sepanjang perjalanan, Putri Sinawari menceritakan apa saja yang menjadi penyebab utama kerajaan Jilmaruk hendak menyerang negerinya. Mulai dari keserakahan Raja Hilamugtana yang ingin menguasai jalur perdagangan di kawasan barat Mellahayur (Nusantara), sampai hasratnya yang ingin mempersunting putri Raja Kiswaruta, penguasa kerajaan Nusawira. Menurut sang putri, Raja Hilamugtana itu adalah sosok yang angkuh dan ia memiliki keinginan untuk menjajah negeri-negeri di kawasan Mellahayur (Nusantara). Apa lagi kalau bukan untuk menumpuk kekayaan dan memuaskan syahwat duniawinya. Ia juga terkenal sebagai sosok penguasa yang jahat, cabul dan sering mempermainkan wanita. Karena kesaktian yang dimiliki, raja bengis itu justru semakin jumawa (sombong) dan ingin segera menjadi kaisar dunia.

Waktu pun berlalu. Setelah lima hari berjalan, akhirnya kedua teruna itu sampai di pintu gerbang negeri Nusawira. Sesampainya disana, tak ada yang mengira bila kedua sosok pengembara itu adalah para bangsawan tinggi. Mereka pun bisa dengan leluasa berjalan dan mengamati kondisi penduduk di negeri itu. Tapi pada saat ingin memasuki pintu gerbang kota kerajaan, ada pemeriksaan ketat yang di lakukan oleh pengawal pintu gerbang. Mereka tak ingin ada mata-mata yang berhasil menyusup ke dalam kota untuk mencuri informasi tentang seluk beluk kekuatan mereka. Terlebih saat itu sudah ada informasi akan ada serangan besar-besaran dari kerajaan Jilmaruk, maka tiada pilihan lagi selain memeriksa siapa saja yang ingin masuk ke dalam kota.

Meskipun Putri Sinawari dan Aire sudah berpakaian biasa ala penduduk setempat, tetap saja mereka harus diperiksa. Saat itu, para pengawal pintu gerbang tak menyadari bahwa wanita yang mereka periksa itu adalah seorang putri raja. Sikap mereka pun tegas tanpa ampun, dan baru melunak saat mereka melihat di dalam tas kecil milik wanita itu ada cincin yang hanya dimiliki oleh kerabat dekat raja. Ternyata wanita yang mereka perlakukan sama dengan orang biasa itu adalah seorang putri raja. Dialah Putri Sinawari yang terkenal santun dan baik hati. Putri kesayangan dari Raja Kiswaruta dan permata terindah dari kerajaan Nusawira.

Atas kejadian itu, semua pengawal pintu gerbang segera meminta maaf. Mereka duduk bersimpuh karena tak menyadari sosok sang putri dan bersikap tidak pantas kepadanya. Tapi sebagai wanita yang bijak, sang putri tidak marah. Ia justru senang ketika melihat prajuritnya itu melaksanakan tugas dengan semestinya dan tak pilih kasih. Semua orang memang harus diperiksa demi keamanan negara yang akan berperang.

Melihat itu, Aire hanya bisa tersenyum sendiri. Memang ia telah mengira jika Sinawari itu bukanlah wanita biasa, tapi ia tak menyangka bila sang gadis adalah seorang putri raja. Mengetahui itu, setelah mereka melewati pintu gerbang, Putri Sinawari segera bertanya kepada Aire tentang mengapa ia tersenyum-senyum. Ia merasa sangat penasaran dengan sikapnya itu.

Dijawab oleh Aire dengan berkata: “Hamba tak menyangka bila kenalanku selama ini adalah orang penting. Sejak awal hamba memang sudah curiga bila tuan putri bukanlah orang biasa, tapi jujur tak pernah ku sangka bila tuan putri itu adalah seorang putri raja. Putri Sinawari yang terkenal itu”

Mendapat jawaban itu, Putri Sinawari langsung berkata: “Ah.. apalah arti sebuah nama dan kedudukan. Di istana itu aku memang seorang putri, tapi di luar sini diriku tetaplah manusia biasa. Kita semua sama-sama manusia yang kedudukannya pun sama di hadapan Hyang Aruta (Tuhan YME). Hanya amal baik dan perbuatan kesatria-lah yang membedakan kita semua”

“Untuk itu, maafkan bila selama ini hamba telah berbuat yang tidak pantas kepada tuan putri. Maklumlah hamba ini hanyalah seorang rakyat biasa, sangat awam dalam segala hal, terutama sopan santun” Balas Aire sambil merendahkan diri dan bersimpuh hormat kepada sang putri.

Melihat itu, sang putri segera meminta agar Aire berdiri. Sambil tersenyum ia pun berkata: “Sudahlah, tak perlu terlalu formal. Anggap saja aku ini sebagai sahabatmu. Tak perlu sungkan dan bersikaplah yang sewajarnya saja. Itu lebih baik bagi kita berdua”

“Baiklah tuan putri, hamba akan mengikuti permintaan itu” Balas Aire. Di dalam hatinya sang pemuda masih tetap tersenyum, karena kejadian yang menimpa mereka berdua. Dan Putri Sinawari sendiri belum tahu bahwa sebenarnya Aire itu adalah seorang putra mahkota yang terhormat, yang saat itu seharusnya lebih dihormati oleh sang putri. Tapi dengan kerendahan hatinya Aire memilih untuk berperan sebagai orang biasa yang bukan dari kalangan bangsawan. Ia tetap menutupi jati dirinya yang sebenarnya.

Singkat cerita, kedua teruna itu lalu menuju ke istana kerajaan Nusawira. Disana mereka disambut dengan penuh kehormatan. Putri Sinawari langsung menghadap kepada ayahnya, Raja Kiswaruta, dan menceritakan apa yang sudah terjadi. Ia mengatakan telah mendapatkan petunjuk dan solusi dalam menghadapi serangan dari kerajaan Jilmaruk. Dan saat itu, ia pun memperkenalkan Aire sebagai orang yang berjasa menolongnya dari segerombolan perampok cabul.

Mendengar itu, Raja Kiswaruta merasa puas. Ia mendapatkan semangat dan harapan baru. Selain itu, sang raja juga berterima kasih kepada Aire karena telah menolong putri kesayangannya. Kepada para pelayan istana, sang raja segera memerintahkan untuk menyiapkan semua keperluan dari sang pemuda selama ia tinggal di istana.

6. Perang besar dan menjadi panglima
Selama sebulan lebih Aire tinggal di istana kerajaan Nusawira. Selama itu, maka sesuai dengan janjinya sendiri Aire ikut membantu berbagai persiapan untuk berperang. Ia juga turut melatih pasukan kerajaan itu dalam berbagai kemampuan. Dalam kesempatan tertentu ia juga mengajarkan tentang cara membuat peralatan perang yang baru, yang dirasa bisa menahan serangan dari kerajaan Jilmaruk yang terkenal hebat itu. Semua orang, termasuk para petinggi militer kerajaan Nusawira mau mengikutinya. Karena memang apa yang di lakukan oleh Aire sesuai dengan kebutuhan negeri mereka saat itu.

Waktu pun terus berlalu dan hari-hari penantian kian mendekat. Selang dua hari, telik sandi kerajaan Nusawira sudah memastikan bahwa Raja Hilamugtana dan pasukannya sudah pasti datang menyerang. Mereka pun sudah mulai bergerak dengan tujuan untuk menaklukkan kerajaan Nusawira dan kerajaan-kerajaan lain di tanah Mellahayur (Nusantara), khususnya yang berada di bagian barat. Hal ini tak membuat kaget Raja Kiswaruta dan pasukannya, karena memang mereka sudah siap menghadapi segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Terlebih di dalam barisan pasukan mereka itu sudah ada seorang pemuda yang cerdas dan ahli dalam strategi perang. Dialah Aire yang belum diketahui jati dirinya, kecuali hanya seorang pengembara biasa.

Pada masa itu, maka seperti kehidupan di zaman sebelumnya, setiap pasukan tempur itu terdiri dari beberapa divisi. Dalam satu divisi akan terdiri dari pasukan infantri (pasukan pejalan kaki bersenjatakan pedang, tombak, gada, panah, dll), pasukan kavaleri (pasukan yang mengendarai kuda, gajah dan kereta perang), dan pasukan artileri (yang menggunakan peralatan perang seperti pelontar peluru/batu/api, meriam, dan persenjataan lainnya). Selebihnya adalah mereka yang menjadi pasukan cadangan dan yang bertugas dalam urusan kesehatan dan logistik. Semuanya telah diatur dan dikoordinir dengan sangat baik. Dan di setiap jenis pasukan itu dipimpin oleh seorang senopati yang memiliki keahlian khusus dan sakti mandraguna.

Namun mengenai jumlah pasukan dalam setiap divisinya, maka pada masa kerajaan Nusawira ini tak lagi sama dengan di masa kaum-kaum terdahulu, misalnya pada masa kehidupan kaum Hilbatar. Sebab dalam setiap divisi pasukan saat itu hanya terdiri dari 5.000 pasukan berkuda, 1.000 pasukan gajah, 2.500 kereta kuda, 37.000 orang prajurit pejalan kaki yang di lengkapi dengan berbagai senjata (pedang, tombak, panah, gada, dan ketapel), 1.000 pasukan artileri (persenjataan), dan 3.500 pasukan cadangan, urusan kesehatan dan logistik. Artinya, hanya ada sekitar 50.000 pasukan siap tempur dalam setiap divisinya. Sangat jauh berkurang, karena di masa kaum Hilbatar dulu maka setiap divisi itu terdiri dari 222.020 orang pasukan. Dan sudah tentu dalam setiap kerajaan itu tak hanya terdiri dari satu divisinya saja, karena biasanya ada sekitar 2-6 divisi, bahkan lebih. Sangat besar untuk ukuran peradaban dimasa itu, bahkan bagi kita dimasa sekarang.

Kembali ke medan pertempuran. Dan tibalah saatnya perang besar itu akan segera terjadi. Bersama lebih dari 500.000 pasukannya (10 divisi), Raja Hilamugtana mendekati pantai kerajaan Nusawira dengan berlayar menggunakan kapal perang mereka. Sebelum mendarat, mereka harus menghadapi sistem pertahanan laut milik kerajaan Nusawira. Walau pun jumlah mereka jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan pasukan kerajaan Jilmaruk,  pasukan laut kerajaan Nusawira ini bisa melakukan perlawanan yang sengit. Dengan kapal-kapal yang kokoh, mereka berani menantang kekuatan besar pasukan musuh. Bisa dikatakan, armada tempur mereka itu sangat tangguh, dan jika jumlah mereka seimbang dengan musuhnya saat itu, maka bisa saja armada laut kerajaan Nusawira ini sudah menghancurkan leburkan semua musuhnya.

Tapi, karena jumlah yang tak seimbang, akhirnya armada tempur kerajaan Nusawira itu harus mundur. Mereka harus kembali ke daratan dan bergabung dengan pasukan yang lainnya. Dengan terpaksa, mereka harus merelakan pantai yang sudah sekian lama mereka jaga itu direbut oleh pasukan musuh. Dan setelah pantai itu berhasil direbut, oleh pasukan kerajaan Jilmaruk langsung dijadikan basis komando dan perkemahan mereka. Tenda-tenda segera didirikan, dan kapal-kapal tertentu ditarik sampai ke daratan untuk dijadikan sebagai tempat tinggal para bangsawan. Suasana pun menjadi ramai dan berubah drastis.

Singkat cerita, setelah dua hari akhirnya pasukan Raja Hilamugtana bergerak menuju kota kerajaan Nusawira. Dengan kekuatan penuh mereka terus beranjak dengan gegap gempita. Genderang perang terus ditabuh, membuat suasana menjadi riuh dan semakin menegangkan. Semua penduduk kerajaan Nusawira yang tinggal di sekitar pantai jelas sangat ketakutan. Untuk itu, sehari sebelum pasukan kerajaan Jilmaruk mendarat di pantai, mereka sudah di perintahkan untuk masuk ke dalam benteng kota Nusara (ibukota kerajaan Nusawira).

Dan tibalah masa dimana kedua kerajaan itu harus bertempur. 500.000 lebih pasukan dibawah pimpinan Raja Hilamugtana itu sudah berbaris rapi di depan benteng kota Nusara. Mereka terlihat tangguh dengan baju zirah warna tembaga dan peralatan perang yang sangat lengkap. Dan seperti orang yang kesetanan, pasukan itu juga berteriak-teriak dan terus memaki-maki bangsa Nusawira. Tujuannya tentu untuk menjatuhkan mental lawan. Karena bagaimana tidak, pasukan sebesar itu, yang peralatan tempurnya lebih lengkap dan ditambah lagi dengan seringnya berperang, jelas bisa membuat ciut nyali siapapun lawannya. Tak terkecuali pasukan kerajaan Nusawira, yang tak sedikit dari mereka mulai resah saat melihat begitu banyaknya pasukan musuh. Belum pernah mereka melihat pasukan sebesar itu, yang tujuannya adalah menjajah negeri mereka. Memang di antara mereka itu ada yang pernah berperang, tapi musuh yang mereka hadapi dulu tak sebesar yang datang kali ini. Terlebih pasukan kerajaan Jilmaruk itu sudah terkenal sangat tangguh dan telah banyak menaklukkan kerajaan lainnya.

Melihat pasukannya mulai resah, Raja Kiswaruta segera tampil ke depan dan memberikan pidato yang bersemangat. Kata-katanya sangat menusuk dan tentunya memberikan energi positif. Semua pasukan diingatkan kembali tentang kewajiban mereka pada tanah pertiwi, dan tentang keburukan apa yang bakal terjadi bila mereka sampai menyerah. Dan bagi yang takut mati, sang raja pun menyampaikan bahwa ada surga yang bisa mereka dapatkan, saat mereka mau berjuang demi kemerdekaan. Semua yang disampaikan oleh sang raja membuat setiap orang kembali sadar bahwa mereka adalah kesatria. Dan sebagai seorang kesatria, apa yang lebih baik selain berperang dalam kebenaran. Dan saat itu, panggilan amanah yang suci telah datang kepada mereka. Jadi mereka harus senang menyambutnya walau harus kehilangan nyawa.

Lalu sebagaimana tradisi di masa itu, maka pemimpin dari kedua pihak yang berselisih harus bertemu dan berunding. Mereka pun maju ke tengah medan pertempuran. Tapi karena semuanya sudah jelas sejak awal, maka tak ada kata sepakat dari mereka. Raja Hilamugtana tetap ingin menguasai kerajaan Nusawira. Dengan sombong ia bahkan mengatakan akan melumat habis pasukan kerajaan itu hanya dalam tempo sehari saja. Tak ada yang akan ia ampuni, karena raja dan rakyat kerajaan Nusawira sudah berani meremehkan dirinya. Begitu pula dengan Raja Kiswaruta, karena ia tahu niat busuk dari raja bengis itu, maka tiada pilihan lagi kecuali berperang habis-habisan mempertahankan diri. Baginya, lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup dalam rasa malu dan penjajahan.

Setelah perundingan yang tak membuahkan hasil itu, selang beberapa waktu kemudian terompet perang pun segera dibunyikan. Dengan isyarat itu, kedua pasukan yang saling bermusuhan itu langsung menyerang. Barisan terdepan pasukan kerajaan Jilmaruk segera berlari ke arah musuhnya, sementara yang lainnya masih tetap dalam posisinya. Lain halnya dengan pasukan kerajaan Nusawira. Mereka telah dibagi dua dengan porsi yang diatur sedemikian rupa. Sebagian dari mereka berada di luar benteng kota, sementara sisanya bersiaga di atas tembok benteng dan di dalam kota. Sesekali saja mereka ini membantu menyerang musuh dari belik tembok. Ini adalah bagian dari strategi tempur yang dirancang oleh Aire. Dengan begitu maka terjadilah pertempuran brutal di antara kedua kubu pasukan. Suara teriakan memilukan segera terdengar. Darah pun mulai menganak sungai.

Pada saat itu, Aire bergabung dalam pasukan yang dipimpinan langsung oleh panglima kerajaan Nusawira yang bernama Vantunali. Sesuai dengan kesepatakan, mereka lalu berpencar dan memimpin kelompoknya masing-masing. Saat terjadi pertempuran, Vantunali sempat dikeroyok oleh dua orang senopati dari kerajaan Jilmaruk. Setelah bertarung dengan gigih, akhirnya Vantunali kewalahan. Kedua senopati itu terkenal sakti. Meskipun ia juga berilmu tinggi, tapi karena dikeroyok oleh dua orang yang sakti, akhirnya sang panglima terpojok. Dan satu peristiwa nahas akan terjadi padanya jika saja Aire tidak segera datang membantu. Meskipun Vantunali adalah orang yang sakti mandraguna, maka di keroyok oleh dua orang senopati itu membuatnya kewalahan. Terlebih pada saat senopati kerajaan Jilmaruk yang bernama Mugtaka itu menghantamnya dengan ajian Dartamu, sang panglima pun sempat oleng. Ia hampir saja jatuh tersungkur karena kuatnya serangan ajian itu.

Nah, pada saat Mugtaka hendak membunuh Vantunali dengan ajian Galhatar, pada waktu itulah dalam waktu sekejap Aire sudah berada di depan panglimanya. Ajian milik Mugtaka yang terkenal luar biasa itu bisa ia tepis dengan mudah. Melihat itu, semua orang langsung terheran-heran. Bagaimana bisa ajian sesakti itu seperti tak berarti sama sekali dihadapan Aire. Vantunali yang terkenal sakti saja bisa tewas, namun di hadapan Aire ajian Galhatar itu tak bertaji. Karena itulah, kedua senopati kerajaan Jilmaruk itu segera menyatukan kekuatan mereka dan langsung melepaskan ajian penghancur. Nama ajian itu adalah Baltisa, yang bila dikeluarkan akan mendatangkan gemuruh angin dan ledakan api bercampur petir yang dahsyat. Belum ada yang berhasil menahan serangan dari ajian itu, kecuali dia adalah sosok yang benar-benar sakti.

Melihat itu, Aire bukannya cemas tapi justru hanya tersenyum. Ketika ajian itu di lepaskan, ledakan besar memang terjadi dan asap kehitaman langsung mengepul di udara. Orang-orang tak bisa melihat apa yang terjadi pada diri Aire. Barulah setelah asap itu berkurang, semuanya bisa melihat bahwa sosok pemuda itu tetap berdiri tegak. Penampilannya justru gilang gemilang dan tak ada luka sedikitpun di kulitnya, bahkan baju yang ia kenakan saat itu pun tetap utuh (tak terbakar sama sekali). Padahal, melihat ledakan api yang begitu besar saat itu semua orang pasti mengira tubuh Aire akan hancur luluh. Bukit yang keras saja bisa hancur berantakan jika terkena ajian sedahsyat itu.

Tapi Aire bukanlah pemuda biasa. Ia telah dibekali dengan banyak ilmu dan pengetahuan. Karena itulah, meskipun dihantam dengan ajian penghancur namun tubuhnya tetap utuh. Tanah yang ada di sekitarnya saja yang hancur berantakan, sementara tubuhnya tidak. Sang pemuda justru tampil semakin memukau. Dan dengan gerakan secepat kilat ia sudah bisa mengacaukan konsentrasi kedua musuhnya itu. Aire bergerak liar kesana kemari, susah diamati oleh kedua senopati itu. Lalu pada saat yang tepat, Aire bisa memukul titik kelemahan dari kedua senopati itu. Karena pukulan itu, keduanya langsung jatuh tak sadarkan diri. Pemuda itu pun bisa memenangkan pertarungan tanpa harus membunuh lawannya. Sementara kedua musuhnya itu langsung diikat dengan tali yang telah diberikan mantra khusus – agar mereka tak bisa melarikan diri. Kedua senopati itu lalu menjadi tawanan perang.

Setelah duel antara Aire dan kedua senopati kerajaan Jilmaruk itu usai, pertempuran di depan kota Nusara masih terus berlangsung. Korban jiwa di kedua belah pihak terus bertambah, tapi tak ada yang mau berhenti. Mereka baru benar-benar berhenti saat matahari sudah akan terbenam. Dan sesuai dengan aturan di masa itu, maka perang harus segera berhenti sebelum magrib. Selanjutnya baru akan dilanjutkan esok harinya, di saat matahari sudah bergerak setinggi busur (jam 7-8 pagi).

Singkat cerita, di hari kedua pertempuran semua orang telah siap beradu untung dan nyawa. Mereka harus berusaha untuk menang atau kalah, sebab tak ada pilihan lain kecuali itu. Dan terjadilah pertempuran yang lebih menegangkan dari sebelumnya. Dalam pertempuran itu, semua kesatria langsung turun tangan. Termasuklah Putri Sinawari, karena ia bahkan memimpin sekelompok pasukan wanita berkuda yang bersenjatakan pedang dan panah. Dibawah komando sang putri, pasukan itu mampu bergerak lincah dan banyak menghabisi musuh. Setiap kali mereka bergerak menyerang, maka tak ada pasukan yang bisa membendungnya. Tapi karena jumlah musuh yang teramat banyak, mau tidak mau pasukan itu harus berulang kali mundur dan mengatur strategi yang baru.

Selanjutnya, untuk bisa memenangkan pertempuran, Raja Hilamugtana bahkan memerintahkan pasukan khusus yang mengendarai mesin terbang berbentuk pipih (piring terbang). Pesawat itu bertenaga kristal dan biasa disebut Kartil. Kendaraan jenis ini sangat jarang dimiliki karena dibutuhkan teknologi yang khusus dan kemajuan peradaban yang tinggi. Dan kerajaan Jilmaruk adalah satu di antara bangsa yang sudah mencapai puncak peradaban manusia. Mereka telah berhasil menciptakan pesawat terbang yang dilengkapi dengan berbagai senjata seperti senapan, bom dan rudal. Pesawat yang disebut Kartil ini pun bisa membawa penumpang sebanyak 5-10 orang. Ketika mengudara, pesawat ini akan mengeluarkan bunyi halus yang terdengar seperti suara “wing-wing-wing”. Semakin cepat ia melaju, maka tempo dari suara “wing-wing-wing” itu akan semakin cepat pula.

Adapun pasukan khusus yang baru diturunkan itu berjumlah 5 pesawat Kartil. Di hari pertama pertempuran mereka tak pernah terlihat karena memang tidak berada di lokasi. Mereka masih berada di negerinya di tanah Hindala (India) dan baru tiba setelah terbang melewati Simadala (Samudera Hindia) dengan kecepatan 3 kali lipat kecepatan suara. Ternyata itu adalah bagian dari strategi perang yang telah dirancang oleh Raja Hilamugtana. Meskipun angkuh, sosok tersebut masih tetap cerdas dan penuh perhitungan.

Di medan pertempuran, setelah kedatangan pasukan yang mengendarai pesawat Kartil, keadaan pun segera berubah. Kubu pasukan kerajaan Nusawira sempat kocar-kacir dan banyak yang gugur karena serangan mendadak dari udara. Bahkan kota Nusara pun tak luput dari serangan pesawat Kartil itu. Beberapa gedung bahkan sampai hancur berantakan terkena rudal dari pesawat-pesawat itu. Korban jiwa dari rakyat sipil pun tak dapat dihindari.

Melihat keadaan sudah semakin pelik saat itu, Aire segera mengeluarkan peti Hudharasya dengan cukup membacakan mantranya. Setelah muncul, dari dalam peti itu Aire mengeluarkan batu mustika yang berwarna biru. Dengan gerakan secepat kilat, Aire pun segera masuk ke dalam kota Nusara, tepatnya di istana kerajaannya. Disana ia lalu meletakkan batu mustika itu yang ternyata bisa mengeluarkan perisai tembus pandang ke seluruh bagian kota. Perisai itu sangat kokoh, karena meskipun diserang berulang kali dengan menggunakan rudal, tetap tak bisa ditembus. Alhasil, kota Nusara kembali aman dari segala serangan yang menghancurkan.

Ya. Pertempuran di hari kedua itu jauh lebih seru dari yang pertama. Pesawat Kartil telah berulang kali melancarkan serangan yang mematikan dari udara. Tak ada yang mampu mencegahnya, sampai pada akhirnya Aire mengeluarkan busur panah sakti dari peti Hudharasya. Dengan busur itu ia bisa mengeluarkan sejumlah anak panah yang mampu menghancurkan bukit. Meskipun hanya sebuah anak panah, namun dampak yang bisa ditimbulkannya sangat mematikan. Jika anak panah itu sampai mengenai sasaran (dan tak ada yang bisa lari dari anak panah ini karena selalu mengejar sampai dapat), apapun itu, maka akan terjadi ledakan yang dahsyat. Cukup satu anak panah saja, maka sudah bisa menghancurkan sebuah pesawat Kartil. Begitulah kesaktian dari busur pusaka yang tersimpan di dalam peti Hudharasya itu. Dan hanya dengan menggunakan busur itu, Aire bisa mengalahkan semua pasukan udara milik kerajaan Jilmaruk hanya dalam waktu singkat.

Melihat itu, Raja Hilamugtana langsung berang. Ia segera memerintahkan panglima perangnya yang bernama Galmatisu untuk menyerang Aire. Menurutnya, sosok pemuda itulah yang menjadi penghalang utama bagi kemenangan mereka. Jika ia berhasil dikalahkan, maka tak ada lagi yang bisa menahan serangan mereka. Dan mereka baru akan menang hanya jika telah berhasil membunuh Aire.

Mendapat perintah dari rajanya, Galmatisu segera maju ke arah Aire. Melihat itu, sang pemuda hanya tersenyum. Ia sudah siap menghadapi siapapun dalam pertempuran itu. Sesakti apapun lawannya, Aire takkan gentar. Kematian baginya hanyalah satu tahapan lain untuk menuju kesempurnaan diri. Dan terjadilah pertarungan yang sengit di antara kedua kesatria itu. Pasukan yang sedang bertarung di sekitar mereka pun sampai berhenti. Semuanya ingin menyaksikan langsung kedua kesatria itu beradu kesaktian. Dan memang, keduanya adalah sosok yang sakti mandraguna. Keduanya sama-sama bisa mengeluarkan senjata pusaka yang sakti dan ajian yang mematikan. Mereka juga mampu mengendalikan elemen alam dengan sangat mudahnya. Terbang kesana kemari dan membagi diri juga sering mereka lakukan. Semua itu di lakukan hanya untuk bisa menjatuhkan lawan dalam waktu singkat.

Tapi apa yang diharapkan tak berjalan mulus. Pada awalnya Galmatisu merasa akan dengan mudah mengalahkan Aire. Namun kenyataannya sang pemuda jauh lebih sakti dari yang dia kira. Semua serangan mematikan yang telah ia lancarkan tak berarti dihadapan Aire. Justru sang pemuda terlihat semakin memukau. Dan ketika ia sudah mengenakan baju zirahnya yang berkilauan itu, Aire terlihat kian gilang gemilang. Seperti Bhatara Indra sendiri yang turun dari Kahyangan.

Singkat cerita, setelah bertarung selama lebih dari 2 jam, Aire baru benar-benar serius. Tanpa basa-basi lagi, ia bergerak secepat kilat dan melancarkan serangan yang mematikan ke arah Galmatisu. Pedang sakti yang ia pegang saat itu langsung memenggal kepala sang panglima. Dalam waktu sekejap kepala itu langsung menggelinding di tanah. Hanya saja sesuatu yang luar biasa pun terjadi. Meskipun sudah dipenggal, Galmatisu tak bisa mati. Ia bahkan tertawa dan kepalanya itu bisa kembali menyatu dengan tubuhnya. Ketika di penggal sekali lagi, tetap saja Galmatisu bisa hidup kembali. Itu terjadi sampai tiga kali. Hingga pada akhirnya Aire pun paham, bahwa sebenarnya Galmatisu memiliki ajian Darhitam. Siapapun yang menguasai ajian ini bisa hidup kembali setelah dibunuh. Tetap bisa hidup kembali meskipun terus dibunuh berulang kali. Semua baru bisa berakhir sampai diketahui penapesan (titik kelemahan) dari ajian itu. Mirip dengan ajian Pancasona atau Rawarontek yang masih dikenal sekarang. Hanya saja level dari ajian Darhitam ini lebih tinggi dari kedua ajian itu. Dan yang bisa mengalahkannya tentu harus memiliki ajian dan pengetahuan yang lebih tinggi dari pemilik ajian Darhitam.

Nah, setelah mengetahui kelemahan dari ajian milik musuhnya itu, Aire segera memenggal kepala Galmatisu. Tapi sebelum sampai menyentuh tanah, kepala itu ia tangkap dan dibawa menjauhi tubuhnya ke arah yang berlawanan. Artinya, jika tubuhnya sedang menghadap ke arah timur, maka kepalanya harus dibawa ke arah barat. Wajahnya pun harus menghadap ke arah barat, sementara kepalanya itu jangan sampai menyentuh tanah. Selanjutnya, kepala itu harus dibakar tapi tidak bisa dengan menggunakan api biasa. Harus menggunakan ajian Agniratas, atau ajian lainnya yang setingkat dan bisa mengeluarkan api yang sangat panas. Dengan begitu, disaat kepalanya itu terbakar, maka tubuhnya juga akan ikut terbakar. Jika kepalanya hancur atau meleleh, maka tubuhnya pun akan ikut hancur atau meleleh. Pada saat itulah, sosok yang memiliki ajian Darhitam baru benar-benar mati.

Waktu pun terus berlalu. Setelah berhasil mengalahkan Galmatisu, sebagai seorang kesatria dan karena sudah kepalang tanggung, Aire langsung menantang siapapun untuk berduel dengannya. Tak terkecuali Raja Hilamugtana. Tujuannya saat itu hanya untuk segera mengakhiri pertempuran itu, Aire juga menantang sang raja untuk beradu kemampuan sampai mati. Siapa yang bisa bertahan atau tetap hidup dalam duel itu akan memenangkan pertempuran.

Mendengar tantangan itu, maka sebagai seorang kesatria pilih tanding, Raja Hilamugtana pun menyambutnya. Tiba-tiba ia sudah berubah wujud dan menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Ia menjadi raksasa dengan rambut panjang yang berpijar. Dalam wujud seperti itu sang raja terlihat sangat mengerikan. Ia menjadi sosok yang semakin beringas dan tak peduli lagi antara kawan atau pun lawan. Siapapun yang berada didekatnya ia bunuh dengan memukul dengan gada atau menginjak-injaknya. Melihat itu, semua orang lari menjauh, tak ada yang berani mendekat dan bisa melawannya. Selain menakutkan, sosok raksasa itu juga kebal terhadap berbagai jenis senjata.

Dengan suara yang berat dan menggelegar, raksasa itu berkata: “Aku menerima tantanganmu hai bocah tengik. Sudah lama aku tak bertemu dengan lawan yang sebanding. Keluarkanlah semua kemampuanmu. Dalam waktu singkat kau pasti mati ditanganku”

Melihat sosok lawannya telah berubah wujud seperti itu, Aire hanya tersenyum. Walau diancam akan dibunuh, ia tak pernah gentar sedikitpun. Sang pemuda hanya diam, tapi dalam waktu sekejap ia sudah berubah wujud menjadi raksasa. Penampilannya tak seperti Raja Hilamugtana, karena masih tetap seperti kesatria yang gagah rupawan. Hanya ukuran tubuhnya saja yang sebesar bukit. Dan terjadilah pertarungan di antara kedua raksasa itu. Keduanya terlihat seimbang dan sama-sama telah memporak-porandakan medan pertempuran. Semua orang menjauh, tak ada yang berani mendekat. Mereka hanya bisa melihat pertarungan itu dari kejauhan.

Dalam satu kesempatan, tiba-tiba Raja Hilmanugtana mengeluarkan sayap di punggungnya. Ia lalu terbang ke atas dan menyerang Aire dari angkasa. Semua serangan itu bisa ditangkis oleh Aire, sampai pada akhirnya ia pun ikut terbang ke angkasa. Dari baju zirahnya itu tiba-tiba keluar sayap berwarna keemasan yang mengkilat. Setelah itu, maka terjadilah pertarung sengit di udara dalam kecepatan yang sangat tinggi. Suara dentuman demi dentuman pun sering terdengar. Setiap kali ada dentuman, tanah yang berada di medan pertempuran sampai bergetar hebat. Awan gelap pun menggelayut yang diiringi oleh sambaran petir berulang kali. Ini menunjukkan betapa dahsyatnya pertarungan dari kedua kesatria itu.

Sampai pada akhirnya, tubuh Raja Hilamugtana terhuyun dan jatuh ke Bumi. Saat itu, sebagian tubuhnya sudah melepuh akibat terkena serangan Aire. Tak lama kemudian sosok raksasa itu pun menyusut ke ukuran aslinya. Begitu pula Aire, tak lama kemudian ia turun ke tanah dan mengubah ukuran tubuhnya seperti biasa. Ia langsung mendekati Raja Hilamugtana dengan sikap waspada. Karena terlihat musuhnya sudah lemah, sebagai seorang kesatria yang sejati Aire tak mau membunuhnya. Ia masih memberi ampun dan sang raja juga mengaku kalah dengan meminta dikasihani oleh Aire. Dengan mengiba ia mengatakan itu, tapi ternyata hanya sekedar siasat licik. Dan ketika Aire berbalik arah, sang raja bengis itu segera menyerangnya dari belakang dengan sebilah keris yang bisa terbang sendiri. Serangan itu sangat mematikan. Tapi karena Aire kebal dari berbagai macam senjata, terlebih ia masih mengenakan baju zirah sakti pemberian Bhatara Altarama, maka tak terjadi apa-apa pada dirinya. Justru keris itu bisa ia kendalikan.

Lalu, karena perbuatan curang itu, maka Raja Hilamugtana harus menerima akibatnya. Tak lama kemudian, Aire sudah mempersiapkan diri untuk mengeluarkan ajian yang sangat mematikan. Ajian itu bernama Altari. Siapapun yang terkena ajian itu takkan ada yang selamat. Dan meskipun seseorang memiliki ajian yang tak bisa mati – seperti ajian Darhitam milik panglima Galmatisu, tetap saja akan mati bila terkena ajian itu. Kecuali sosok tersebut memiliki kesaktian melebihi ajian Altari, atau ia adalah seorang yang levelnya setara dengan para Dewa di Kahyangan.

Dan peristiwa tragis pun terjadi. Raja Hilamugtana akhirnya mati mengenaskan setelah terkena ajian Altari milik Aire. Tubuhnya hancur berkeping-keping dan akhirnya musnah. Melihat itu, semua orang terdiam seribu bahasa. Ada perasaan kagum yang bercampur takut dihati mereka. Melihat seorang pemuda memiliki kesaktian yang luar biasa seperti itu, siapapun akan merasa cemas sekaligus bangga. Itulah yang terjadi kemudian. Baik dari kubu kerajaan Nusawira maupun Jilmaruk, semua orang tertunduk hormat kepada Aire. Beda dari sebelumnya yang bersorak-sorak setelah Aire berhasil mengalahkan Galmatisu, kali ini mereka hanya bisa diam. Tatapan mereka masih terus menunduk, sampai akhirnya Aire sendiri yang meminta mereka berdiri dan melihat kepadanya.

Setelah semuanya berdiri, Aire pun berkata: “Wahai semuanya. Mengapa kalian membuatku malu kepada Tuhanku? Aku ini bukanlah siapa-siapa. Tak ada yang hebat dariku, karena semuanya hanyalah pinjaman dari-Nya. Jika kalian ingin tunduk dan memuja, maka kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) lah itu di lakukan. Sesama kita ini, yang ada hanyalah rasa cinta dan persaudaraan. Tak seharusnya kita bermusuhan. Tapi aku, sebagai seorang kesatria takkan bisa menerima kezaliman dan ketidakadilan. Jika hal itu merajalela, maka atas izin dari Tuhanku, akan ku hancurkan siapapun yang berbuat nista”

Mendengar kata-kata itu, semua orang jadi semakin kagum dengan sosok pemuda itu. Ada rasa bangga, cinta dan hormat kepadanya. Apa yang telah dikatakan Aire memang benar adanya, bahwa semua yang kita miliki ini hanyalah sebatas pinjaman. Tak pantaslah kita berbangga diri atau membalas pemberian-Nya itu dengan berbuat kejahatan. Jika itu sampai terjadi, maka bersiaplah menerima akibat buruknya. Di dunia atau pun di akherat nanti, orang yang berbuat nista akan menerima azab yang perih.

Singkat cerita. Dengan terbunuhnya Raja Hilamugtana, maka sesuai kesepakatan sebelumnya, kemenangan berada di pihak kerajaan Nusawira. Sebagian dari mereka yang menyangkalnya dapat ditumpas oleh para senopati dan pasukan kerajaan Nusawira. Sebagian lainnya justru telah menyerah dan meminta ampunan. Kepada mereka ini, Aire menyarankan kepada Raja Kiswaruta untuk memberikan kesempatan kedua. Mereka akan diampuni hanya jika mau kembali ke jalan yang benar. Dan itu harus dibuktikan dengan memperbaiki apapun yang telah mereka rusak sebelumnya. Begitu pun setelah mereka kembali ke negerinya di tanah Hindala (India), mereka harus kembali membangun peradaban manusia dengan benar, tidak lagi berbuat yang tidak sesuai dengan hati nurani. Dan sesuai dengan aturan pada saat itu, maka kerajaan Jilmaruk harus menjadi negeri bawahan kerajaan Nusawira. Mereka tetap merdeka dan tidak akan dijajah, hanya saja harus selalu menginduk kepada kerajaan Nusawira.

Selanjutnya, berselang waktu dua bulan kemudian, panglima kerajaan Nusawira yang bernama Vantunali memutuskan untuk turun jabatan. Ia merasa sudah cukup waktu untuk mengabdi sebagai seorang panglima. Selain sudah tua, Vantunali berniat untuk segera mengasingkan diri dan mencapai moksa. Tentang jabatan panglima kerajaan, ia serahkan kembali kepada Raja Kiswaruta. Baginya sang raja tentu akan bijak dalam memilih penggantinya nanti. Dan karena dimintai pendapat tentang siapakah orang yang layak untuk meneruskannya, Vantunali pun langsung berkata: “Tiada yang lebih pantas selain ananda Aire tuanku”

Mendengar jawaban itu, sang raja pun setuju. Bahkan sebenarnya ia sudah memikirkan bahwa Aire akan ia lantik menjadi panglima kerajaan. Sudah sewajarnya sang pemuda itu mendapatkan jabatan, karena begitu besar jasanya kepada negara. Dalam pertempuran melawan kerajaan Jilmaruk, jika Aire tak ikut dalam barisan mereka, maka tak ada harapan bagi kerajaan Nusawira masih kokoh berdiri. Musuh mereka saat itu sangat kuat dan sudah banyak menaklukkan kerajaan besar lainnya. Hanya Aire yang mampu mengalahkan kesaktian dari panglima Galmatisu dan Raja Hilamugtana. Kedua sosok mengerikan yang sangat sakti itu belum pernah terkalahkan sebelumnya.

Dan akhirnya Aire pun menjadi panglima tertinggi di kerajaan Nusawira. Setelah didesak berulang kali oleh Putri Sinawari, akhirnya Aire baru mengakui tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Sesuai dugaan sang putri, Aire memanglah seorang bangsawan. Tapi seperti pikiran Aire terhadap dirinya dulu, Putri Sinawari juga tak menyadari bahwa Aire itu adalah seorang putra raja. Ia baru tahu jika sebenarnya Aire itu adalah putra mahkota di kerajaan Sanggara sehari sebelum pelantikannya sebagai panglima kerajaan. Ini merupakan kejutan bagi seisi istana. Karena sebelumnya orang-orang mengira bahwa Aire itu hanyalah seorang pemuda biasa. Tak ada yang mengira jika ia adalah seorang putra mahkota yang suatu saat nanti akan menjadi raja di kerajaan Sanggara. Sungguh pribadi yang rendah hati.

7. Perebutan tahta dan menyatukan kekuasaan
Sebagai seorang panglima tertinggi di kerajaan Nusawira, Aire segera menata ulang semua urusan militer yang ada. Setiap golongan pasukan selain memiliki prajurit level umum, ada yang dilatih menjadi pasukan khusus. Untuk pasukan yang khusus ini, mereka langsung dibawah bimbingan Aire sendiri. Setiap mereka dibekali ilmu dan pengetahuan yang sesuai dengan bakat mereka masing-masing. Dengan begitu, kapanpun dan dimana pun pasukan kerajaan Nusawira ini berada mereka akan siap bertempur.

Selain memajukan bidang militer, Aire juga membantu urusan lainnya seperti ekonomi, pertanian, pendidikan, kesehatan, arsitektur dan mekanik. Semua pengetahuan itu ia dapatkan dari orang bijak yang pernah menjadi gurunya dulu, ditambah lagi dengan informasi yang terdapat di dalam 3 buah kitab yang tersimpan di dalam peti Hudharasya. Dan sesuai harapan dari semua orang, perlahan tapi pasti kerajaan Nusawira menjadi kian makmur, aman dan sejahtera.

Waktu pun berlalu selama lebih dari dua tahun. Suatu ketika, Aire mendapatkan kabar dari telik sandi yang ia kirimkan ke negerinya, kerajaan Sanggara. Sang mata-mata memberi informasi bahwa di kerajaan Sanggara telah terjadi kudeta. Tahta dari Raja Syam Amihate telah direbut oleh adiknya sendiri yang bernama Yukamae. Selain Raja Syam Amihate, ibu dan adiknya Aire berhasil memoloskan diri. Sekarang mereka tinggal di tempat yang aman di sebuah perkampungan kecil di lereng gunung Artu (di sekitar Laut Karimata sekarang). Tinggallah Raja Syam Amihate yang menjadi tawanan di penjara bawah tanah.

Mendapatkan kabar itu, Aire segera menyiapkan diri untuk pulang ke negerinya di kerajaan Sanggara. Atas izin dari Raja Kiswaruta, ia membawa sekitar 10.000 orang pasukan. Mereka lalu bergerak cepat untuk bisa menyelamatkan Raja Syam Amihate yang di penjara. Dan sampailah mereka di dekat perbatasan negerinya. Sebelum bergerak lebih jauh, Aire telah memerintahkan pasukannya untuk mendirikan tenda dan menginap selama beberapa hari disana.

Lalu, kepada beberapa orang anak buahnya, Aire memberikan perintah khusus. Di antara mereka itu adalah Gaelan dan 10 anah buahnya yang dulu pernah ingin merampok Putri Sinawari. Karena mereka sudah punya banyak pengalaman sebagai pencuri, perampok dan orang jahat, kepadanya Aire lalu menugaskan untuk menyusup ke dalam kota Sanggara. Mereka harus mengumpulkan semua informasi penting yang bisa menjelaskan tentang kekuatan dan kelemahan dari Yukamae dan pasukannya. Semua itu segera di laksanakan dengan mudah oleh Gaelan dan anah buahnya. Mereka segera menyamar dan berbaur dengan penduduk. Tidak sulit bagi mereka karena tampang mereka sangat meyakinkan. Ya maklumlah, dulu kan mereka ini pernah jadi orang jahat, culas dan licik. Jadi sangat pengalaman untuk urusan nyamar menyamar.

Setelah dua hari, Gaelan kembali ke tenda Aire tapi sendirian. Sisa anak buahnya ia perintahkan tinggal di dalam kota untuk tetap memata-matai semua pergerakan pasukan Yukamae. Dan jika sudah waktunya nanti, anah buahnya itu akan memberikan isyarat penyerangan kepada Aire. Mendengar penjelasan itu Aire merasa puas. Bersama yang lainnya, mereka kembali mengatur siasat berdasarkan semua informasi yang didapatkan dari Gaelan. Kali ini pertempuran di lakukan dengan cara senyap (sembunyi-sembunyi).

Singkat cerita. Sesuai waktu yang telah disepakati. Sehari kemudian anak buah Gaelan yang berada di dalam kota memberikan isyarat dengan mengirimkan seekor burung. Isyarat itu lalu ditanggapi dengan langsung menggerakkan pasukan secara bertahap mendekati gerbang kota Sanggara. Satu persatu, setiap kelompok harus bergerak secara pelan-pelan dan bila perlu tak bersuara. Semuanya harus sudah tiba di posnya masing-masing, di tiga arah mata angin, tepat pada waktunya. Setelah semuanya berada di posnya masing-masing, barulah Aire dan kelompoknya akan menyerang secara mendadak ke gerbang kota. Seolah-olah semua pasukannya berada disana.

Ya. Karena Aire sudah mengetahui semua seluk beluk kota Sanggara, tidak butuh waktu lama bagi pasukannya untuk bisa menembus gerbang kota. Semua pasukan Yukamae sempat panik dan gelagapan (kaget, bingung) menghadapi serangan mendadak seperti itu. Mereka tidak siap, terlebih sebagian dari mereka sendiri tak ingin berperang. Mereka itu tidak pernah setuju atas kudeta yang di lakukan oleh Yukamae. Jika tidak karena terpaksa, maka tak ada tuan bagi mereka selain Raja Syam Amihate.

Ketika berhasil memasuki gerbang kota, Aire segera memerintahkan sebagian pasukannya untuk membuka pintu gerbang lainnya dari dalam. Dan ketika waktunya dirasa tepat, Aire melepaskan anah panah berapi ke angkasa sebagai tanda penyerangan bagi kelompok pasukan lainnya. Melihat aba-aba itu, semua kelompok pasukan yang bersiap di ketiga arah segera menyerang ke dalam kota. Dan atas perintah Aire, mereka tidak melakukan tindakan yang biadab. Mereka tak boleh menyakiti penduduk yang tidak bersenjata. Hanya kepada prajurit yang bersenjata dan melawan saja mereka boleh bertindak tegas, kalau bisa tak sampai harus membunuhnya.

Dan hanya dalam waktu 2 jam saja, Aire dan pasukannya sudah berhasil menguasai kota Sanggara. Tak ada perlawanan yang sengit dari pasukan kerajaan itu. Hanya pendukung setia dari Yukamae saja yang bertindak bodoh dengan mati-matian bertarung membela tuannya. Selebihnya justru mendukung serangan Aire karena mereka tahu bahwa pemimpin pasukan yang menyerang negeri mereka saat itu adalah sang putra mahkota sendiri. Orang yang memang berhak atas tahta kerajaan setelah Raja Syam Amihate.

Kini tinggal Yukamae yang masih bersikukuh dengan pendiriannya. Sudah jelas pasukannya kalah, namun adik kandung raja itu tetap tak mau menyerah. Ia bahkan menantang Aire untuk adu kesaktian. Awalnya Aire menolak, tapi karena sudah terlebih dulu diserang ia pun melawan. Yukamae memang orang yang sakti mandraguna, tapi kemampuannya itu masih jauh dibawah Aire. Karena itulah, hanya dalam waktu singkat ia sudah bisa dikalahkan. Ajian demi ajian yang di keluarkan oleh Yukamae terasa hambar dihadapan Aire. Dan karena tak mau berlarut-larut dalam pertarungan itu, Aire segera meringkus pamannya itu dalam satu kali serangan. Dengan kecepatan kilat, Aire bergerak mendekat dan langsung menyerang titik vital di tubuh Yukamae. Karena serangan itu, sang paman segera jatuh dan tak berdaya lagi.

Setelah kejadian itu, karena merasa sang paman sudah melakukan perbuatan yang keji, berkhianat kepada raja dan negaranya sendiri dan menimbulkan banyak korban jiwa, maka Aire segera mengambil semua kesaktiannya. Tak ada yang tersisa bagi Yukamae kecuali rasa malu dan penyesalan. Dan itu tak sampai disitu saja. Karena setelah semua keadaan kembali normal, maka sesuai dengan hukum kerajaan, Raja Syam Amihate menjatuhkan hukuman mati kepada Yukamae. Sebagai seorang kakak, Raja Syam Amihate merasa sedih dan tak tega, tapi sebagai seorang raja ia harus bersikap adil. Hukum tidak boleh memihak. Siapapun yang salah, maka dia harus dihukum sesuai dengan kesalahannya. Dan hukuman atas pengkhianatan di kerajaan mereka adalah mati dengan cara digantung atau dipenggal.

Waktu pun terus berlalu selama satu tahun. Karena merasa sudah cukup waktunya, Raja Syam Amihate berniat untuk segera turun tahta. Jabatan raja lalu ia serahkan kepada Aire yang merupakan putra mahkota. Setelah menjadi raja, Aire pun memakai gelar yang sama dengan ayahnya yaitu Syam Aire. Nama Syam ini berarti pemimpin besar yang bersinar (terpandang). Dan ketika ia akhirnya menikah dengan Putri Sinawari dari kerajaan Nusawira, Aire juga menerima tahta dari mertuanya – sebab Putri Sinawari adalah anak tunggal. Dengan dua jabatan raja itu, maka gelar kebesaran Aire pun bertambah. Peristiwa itu terjadi tepatnya pada saat Aire menyatukan kedua kerajaan (Sanggara dan Nusawira) menjadi Nurasanggara. Dan gelar raja yang ia pilih saat itu adalah Syam Aire Hisansantanu Arya Tamarani Pasya. Gelar yang cocok untuk seorang raja besar seperti Aire.

Selanjutnya, ketika Aire menjadi raja dari kedua kerajaan (Sanggara dan Nusawira), maka keduanya lalu dilebur menjadi satu dengan nama Nurasanggara. Nama tersebut adalah gabungan dari nama kedua kerajaan mereka, yang dalam bahasa mereka bisa berarti negara yang kuat, terus bangkit dan bercahaya. Pusat negara besar ini berada di kota Nusara (ibukota kerajaan Nusawira) yang juga diganti namanya menjadi Milanura atau yang berarti kota yang bercahaya. Semua itu dengan pertimbangan bahwa lokasi ibukota kerajaan Nusawira itu lebih strategis bila dibandingkan dengan ibukota kerajaan Sanggara. Sementara itu, kerajaan Sanggara akhirnya menjadi negeri bawahan setingkat propinsi yang dipimpin oleh seorang Mura (raja) atau Muri (ratu) bawahan. Dan untuk yang pertama saat itu langsung dipegang oleh adiknya sendiri yang bernama Serila. Jabatan itu akan terus diturunkan kepada kerabat raja atau ratu yang tinggal disana.

Setelah nama Nurasanggara itu resmi digunakan sebagai identitas kerajaan, tak lama kemudian satu persatu kerajaan tetangga seperti kerajaan Mustali (di Jawa Tengah), Puraniwa (di Jawa Timur), Iltaya (di sekitar antara Laut Jawa dan Kalimantan Barat), Lambas (di antara Bali dan Lombok, Wirtaga (di sekitar Laut Karimata), dan Jartuman (di sekitar antara Jambi-Sumatera Barat-Riau) akhirnya memilih bergabung dengan kerajaan Nurasanggara. Bahkan seterusnya semakin banyak kerajaan dan kaum yang tinggal di kawasan Mellahayur (Nusantara) yang memilih untuk bergabung. Alasannya bahwa dibawah kepemimpinan kaum Aryadinah ini semua penduduk bisa hidup aman dan sejahtera. Dan itu terbukti dengan melihat di kerajaan Nurasanggara itu ada sosok-sosok hebat seperti Syam Aire yang bisa membuat kehidupan penduduknya menjadi tenang dan makmur. Terlebih mereka juga bisa menyaksikan bagaimana indahnya kehidupan penduduk di negeri itu. Disana aturan Tuhan benar-benar ditegakan dengan sepenuh hati. Dimana-mana tidak ada lagi kejahatan dan kemaksiatan. Hidup mereka rukun dan damai, karena tak ada lagi sifat iri, dengki dan benci yang bersarang di hati. Semua orang lebih mengutamakan cinta, gotong royong dan persaudaraan. Karena itulah hanya dalam waktu yang relatif singkat mereka bisa membangun sebuah peradaban yang besar dan paling gemilang.

8. Kehidupan penduduk dan peradabannya
Kaum ini termasuk manusia yang paling unggul. Apa yang mereka capai di masa lalu telah sama dengan kita, bahkan lebih baik. Untuk lebih jelasnya, kami akan uraikan sebagai berikut:

1) Arlatin (kehidupan penduduk)
Mereka yang tinggal di wilayah kekaisaran Nurasanggara ini adalah orang-orang yang hebat. Memang semuanya tidak langsung bisa terjadi, karena butuh usaha keras dan harus tekun selama bertahun-tahun. Dimulai dari pribadi para bangsawan dan pembesar negara sampai ke rakyat jelata, mereka semua bahu membahu membangun peradaban yang gemilang. Tak ada perbedaan di antara mereka dalam urusan ini. Setiap orang harus semangat dan mengerjakan apa yang menjadi bidang dan keahliannya.

Kaum ini juga telah menemukan satu metode khusus untuk bisa meningkatkan daya dan kemampuan dalam diri manusia. Dengan mengikuti metode khusus tersebut secara tekun dan setelah mendapatkan bimbingan langsung dari para ahlinya, setiap orang bisa membangkitkan kemampuan tersembunyi dalam dirinya. Oleh sebab itulah, banyak dari kaum ini yang bisa berhubungan jarak jauh (telepati) dan bahkan mampu berkomunikasi dengan hewan dan tumbuhan. Mereka juga bisa mengendalikan elemen alam, tetapi hanya untuk tujuan membangun atau mempertahankan diri.

Sejak awal, kaum ini telah mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi Awila AS. Dan setelah Nabi Zamirat AS datang ke kota mereka, mereka pun mengikuti apa yang disampaikan oleh sang Nabi, terlebih inti ajaran yang disampaikan oleh kedua Nabi tersebut sama. Karena itulah tak ada permasalahan dalam keseharian mereka. Dan karena mereka termasuk orang-orang yang taat, kaum ini memiliki karakter yang rendah jati, penuh tata krama dan sopan santun. Tak ada yang berbicara kasar, tapi jangan coba-coba untuk melecehkan mereka itu dengan cara menghina agama dan Tuhan yang mereka sembah atau berbuat zalim kepada sesama, karena itu akan menyulut semangat mereka untuk bertarung sampai mati. Mereka juga sangat tekun dalam setiap usahanya, tidak mudah menyerah dan apabila mereka sampai berhasil, mereka langsung banyak bersyukur kepada Tuhannya.

Selain itu, di dalam kehidupan penduduk, maka setiap orangnya akan senang berbagi dan bergotong royong. Kepada siapapun mereka akan senang melakukannya tanpa rasa pamrih. Dan semua aturan Hyang Aruta (Tuhan YME) yang mutlak selalu mereka ikuti dengan tulus. Terlebih ketika Nabi Zamirat AS berkesempatan tinggal bersama mereka selama beberapa waktu, mereka pun semakin bertambah alim. Peristiwa itu terjadi karena sang Nabi telah mendapatkan wahyu untuk mengajarkan kepada penduduk Nurasanggara itu tentang arti hidup yang sebenarnya. Dan ternyata mereka senang menyambutnya dan segera menunaikan apa saja yang telah disampaikan oleh sang Nabi dengan tekun. Sehingga kehidupan mereka semakin baik, aman, makmur dan sejahtera.

Ya, bisa dikatakan kaum ini adalah di antara kaum yang terbaik dari semua manusia. Mereka telah hidup dengan cara yang seimbang, baik jiwa dan raganya. Semua orang saling bahu membahu untuk bisa meraih kebaikan hidup. Tak pernah ada perdebatan, karena yang terutama itu justru rasa cinta, diskusi, musyawarah dan gotong royong. Tak pula ada pajak atau yang sejenisnya – kecuali zakat dan sedekah – di negeri mereka, sebab negara mereka mampu membiayai dirinya sendiri dengan mengelola semua potensi yang ada (SDA dan SDM) dengan sangat baik. Dan ketika merasa sudah cukup waktu untuk hidup di muka Bumi ini, satu persatu dari mereka memilih jalan kesunyian. Mereka akan segera menyepi di alam bebas sebelum akhirnya bisa moksa.

2) Nattradin (tata kota)
Sebagai bangsa yang besar, kerajaan Nurasanggara tentu sudah menata peradaban mereka. Di dalam maupun di luar kota, kerajaan Nurasanggara telah menata dengan sangat teratur semua kebutuhan hidup mereka dan fasilitasnya. Semuanya telah diatur sedemikian rupa tanpa terlewatkan. Adapun di antara yang telah mereka tata itu adalah sebagai berikut:

1. Istana dan kantor pusat pemerintahan
2. Alun-alun kota
3. Pemukiman penduduk
4. Tempat ibadah
5. Pasar
6. Taman kota
7. Pusat seni budaya
8. Pusat kesehatan
9. Pusat pendidikan
10. Pusat penelitian
11. Pusat militer
12. Kawasan industri
13. Lahan pertanian dan perkebunan
14. Lahan peternakan dan perikanan
15. Kawasan pertambangan
16. Hutan lindung dan padang rumput

Setidaknya 16 hal di atas yang telah mereka bangun dan dikelola dengan sangat baik. Ada ketentuan dan protap yang sangat dipatuhi oleh semua orang. Karena itu, kehidupan di dalam kota-kota yang mereka bangun menjadi sangat nyaman untuk ditinggali. Semua orang betah tinggal lama-lama disana, termasuk mereka yang berasal dari negara lain.

3) Puratana (gedung dan bangunan)
Sebagai bangsa yang besar dan maju, tentunya kaum Aryadinah ini telah membangun banyak gedung yang megah dan berukuran raksasa. Dan bangunan yang paling megah di negara mereka, khususnya di kota Milanura, adalah istana raja. Bangunan megah ini oleh mereka biasa disebut dengan Hasirapura. Sudah selesai dibangun oleh Syam Aire setelah ia menjadi kaisar di kerajaan Nurasanggara. Dengan tujuan untuk siramah (tempat tinggal) bagi raja dan keluarganya, sekaligus sebagai pusat pemerintahan. Dan untuk bisa lebih jelasnya tentang bagaimana kondisi istana sang raja ini, mari ikuti uraian berikut:

1. Pingratam an tampuru (pintu gerbang dan tembok istana)
Terdapat satu pintu gerbang istana yang terbuat dari emas yang diukir, dengan tinggi ±35 meter, lebar ±20 meter dan tebalnya ±1-2 meter. Pintu gerbang ini telah di desain khusus dan berukir indah. Ciri khas dari pintu gerbang ini terdapat ukiran sebatang pohon besar dan enam buah simbol cahaya. Posisi dari pintu gerbang ini langsung menyatu dengan tembok yang kokoh, dengan tinggi ±30 meter, lebar ±5-6 meter dan panjang ±500 x 500 meter.

Bahan untuk membuat tembok ini adalah campuran antara batu alam+pasir besi dan getah pohon Kupra yang berfungsi sebagai perekatnya. Selain itu, di beberapa bagian tembok ini terbuat dari balok-balok batu raksasa – seberat ribuan ton – yang disusun rapi tanpa perlu perekat. Hanya cukup dengan teknik kuncian pada beberapa sudut batu yang ditumpuk itu. Tembok istana ini dicat dengan cat khusus berwarna putih kemerah-merahan.

Di pekarangan istana ini terdapat ladarsa (taman) yang indah di lengkapi dengan bunga yang berwarna warni, pepohonan yang rindang, bonsai, air mancur, serta rumput yang menghijau di sekeliling halaman istana. Untuk bisa sampai di depan teras istana, maka akan ada jalan yang terbuat dari kepingan-kepingan batu alam yang disusun rapi membentu pola-pola tertentu. Semua dikerjakan dengan sangat halus dan rapi.

2. Rusta (teras depan istana)
Untuk bisa naik ke atas teras depan istana, maka setiap orang harus menaiki ±15 buah anak tangganya. Teras ini berukuran ±30 x 20 meter. Dimana terdapat 4 buah tarma (pilar) besar berwarna putih bercorak dengan tinggi sekitar ±35 meter dan berdiameter ±2-3 meter. Bentuk pilarnya ini bergaris-garis dengan sedikit membesar pada bagian bawah dan atasnya. Sedangkan talni (lantai)-nya berbentuk kotak-kotak yang berwarna hitam bercorak abu-abu, yang terbuat dari batu marmer. Dan semua bahan bangunan di teras ini terbuat dari batu marmer.

3. Rustama (teras dalam istana)
Untuk bisa tiba di teras dalam istana, maka setiap orang sekali lagi harus menaiki ±10 buah anak tangganya. Teras ini berukuran ±100 x 10 meter, dengan pilar yang berjumlah 10 buah. Pilar ini baik ukuran dan warnanya sama dengan pilar yang ada di teras depan. Bahkan warna dan bentuk lantainya pun sama dengan lantai di teras depan.

4. Tanratam (pintu masuk balairum istana)
Setelah melewati teras dalam, seseorang harus berjalan sejauh ±10 meter untuk bisa sampai di pintu masuk balairung istana. Pintu ini sungguh indah dan mewah, karena semuanya (kusen dan daun pintu) terbuat dari emas murni lengkap dengan ukiran motifnya yang beragam. Ciri khas dari pintu ini adalah ukiran lambang negara pada bagian tengahnya. Lambang tersebut lalu di kelilingi oleh simbol cahaya. Banyak pula motif ukiran dalam pintu ini. Lalu pada beberapa sudutnya terpampang batu mulia yang berwarna warni. Sungguh indah pintu ini.

Tinggi keseluruhan pintu ini ±25 meter, lebar ±10-15 meter, dan tebalnya ±1 meter. Pada bagian atasnya, baik kusen dan daun pintunya berbentuk seperti kubah masjid. Lalu untuk gagang pintunya juga terbuat dari emas dengan bentuk yang menyerupai tabung lurus. Pada bagian atas dan bawah gagang pintu tersebut memiliki bentuk yang menyeripai kubah masjid. Bahannya terbuat dari batu giok warna hijau yang telah dihaluskan hingga mengkilat.

5. Natayam (balairung istana)
Setelah melewati pintu emas (tanratam), barulah akan bisa memasuki ruangan termewah yang ada di istana ini, yang biasa disebut Natayam. Di dalam ruangan mewah ini terdapat Higamisya (singgasana raja) yang sangat megah, karena terbuat dari emas murni dan bertahtakan batu berlian warna-warni. Di depan singgasana ini ada 7 buah anak tangganya yang terbuat dari batu giok warna putih. Selain itu, di ruangan ini juga terdapat kursi-kursi yang lebih kecil dan  terbuat dari emas murni. Kursi-kursi ini adalah tempat duduk para pembantu raja (menteri) dan para tamu yang sedang menghadap pada sang raja.

Terdapat simata (air mancur) dan surmata (kolam ikan hias) di sisi kanan dan kiri ruangan ini. Terdapat pula 6 buah pilar dengan masing-masing tiga di antaranya berada di sisi kanan dan kiri ruangan ini. Pilar-pilar ini terbuat dari batu marmer yang berwarna hijau daun, dengan tingginya mencapai ±45 meter dan lebar ±3-4 meter. Talni (lantai)-nya terbuat dari marmer berwarna putih yang bercorak abu-abu. Tepat pada bagian tengah lantai ruangan ini terdapat motif pohon dan berbagai pola lainnya yang dibuat khusus dari susunan batu giok berwarna warni. Lalu tampu (dinding) yang ada di ruangan ini terbuat dari batu marmer yang berwarna putih bercorak.

Ya, di dalam ruangan balairung istana ini, maka motif dan pola yang terdapat pada bagian tengah lantainya adalah yang paling indah. Begitu pula yang terdapat pada dindingnya, karena disana terdapat banyak ukiran relief yang beraneka ragam yang dikerjakan dengan sangat halus dan rapi. Belum lagi pada dinding itu juga terdapat banyak batu permata warna warni yang indah, yang akan membuat siapapun terpesona.

Terdapat pula lamdar (plafon) berwarna coklat, yang terbuat dari kayu Lin (semacam kayu jati) yang diukir berbagai motif. Bentuk plafon ini kotak-kotak, yang pada setiap garis pinggirnya terdapat ukiran tumbuhan yang menjalar warna emas, sehingga menambah keindahannya. Di bawah plafon, tepatnya di bagian tengah ruangan terdapat satu buah partala (lampu kristal) yang besar. Lampu ini sangat indah bentuknya, karena kerangkanya saja terbuat dari emas, sedangkan lampu-lampu untuk penerangnya terbuat dari batu kristal putih yang biasa disebut masutra. Batu kristal itu akan bersinar secara otomatis ketika cahaya mulai redup dan atau malam hari telah tiba.

Di dalam ruangan ini – di belakang singgasana raja – terdapat kaisla (semacam bendera besar) yang terbuat dari kain sutra berwarna biru dengan motif lambang yang berwarna keemasan tepat di tengahnya. Kaisla ini dipasang untuk pemanis ruangan dan simbol kejayaan negara. Lalu, di belakang kanan dan kiri singgsasana raja – yang juga di tutupi oleh gorden – terdapat dua buah pintu untuk masuk ke ruangan lainnya. Di antara ruangan itu adalah ruang jamuan makan dan ruang administrasi atau urusan negara.

6. Maduran (ruang jamuan makan)
Ruangan ini diperuntukkan khusus untuk makan bersama. Letaknya di sebelah kanan singgasana raja dan di ruangan yang terpisah. Di dalam ruangan ini terdapat silan (meja makan) yang indah, karena terbuat dari besi putih, perak dan emas, lengkap dengan ukiran pohon. Panjang meja ini sekitar ±15 meter, sedangkan lebarnya ±5 meter. Di meja ini terdapat ±10 buah hurs (kursinya) yang semuanya terbuat dari emas. Meja makan ini hanya diperuntukkan dalam acara resmi kenegaraan dan saat menyambut tamu negara saja.

Selain itu, ada pula meja makan yang juga terbuat dari emas, dengan panjang sekitar ±30 meter dan lebar ±5 meter, dengan kursi yang berjumlah ±50 buah. Meja makan ini di peruntukkan untuk jamuan makan anggota istana dan para Wara (menteri). Dinding ruangan ini terbuat dari batu marmer berwarna krem. Dengan tambahan bunga warna-warni yang diletakkan pada setiap sudut ruangan untuk menambah keindahannya.

7. Kubalam (atap istana)
Penyangga atap terbuat dari campuran besi (±75%) dan tembaga (±25%). Sementara itu, atap istana ini umumnya terbuat dari campuran tanah liat putih (±40%), pasir besi putih (±30%), dan emas (±30%), sehingga daya tahannya luar biasa dan warnanya pun kuning keemasan.

Adapun bentuk dari atap istana ini ada yang berbentuk limas (piramida), segitiga, kerucut, dome (setengah lingkaran), dan yang menyerupai kubah masjid. Sebagian besarnya memang terbuat dari campuran tanah liat putih+pasir besi putih+emas, tapi yang lainnya (pada bagian tertentu) justru terbuat dari emas atau perak murni.

8. Kondisi keseluruhan istana
Secara keseluruhan, panjang istana ini adalah ±300 meter, lebar ±150 meter dan tingginya ±95 meter. Di dalamnya memuat banyak nilam (kamar tidur), baik untuk raja dan keluarganya, para tamu negara, maupun mereka yang bekerja di istana ini. Tampu (dinding) istana secara umum terbuat dari marmer yang berwarna putih bercorak atau krem, sementara talni (lantai)-nya terbuat dari batu marmer atau pualam atau giok warna hitam atau putih atau hijau. Semuanya disatukan dan diatur sedemikian rupa membentuk pola-pola tertentu. Terlihat sangat indah.

Khusus pada dinding istana, maka terdapat banyak ukiran relief giometri dan tumbuh-tumbuhan yang pengerjaannya sangat rapi dan halus. Disela-sela ukiran tersebut ditempelkan pula berbagai jenis permata warna-warni yang indah. Lalu pada sisi depan dinding istana pun terdapat jendela kaca, yang setiap kusennya terbuat dari emas. Adapun bentuk dari kusen ini ada yang persegi panjang, petak dan bulat. Sangat unik dan menarik untuk dilihat mata.

Terdapat pula dua buah menara berwarna putih yang berdiri tepat disamping kanan dan kiri istana. Menara ini bentuknya sangat indah, penuh ukiran relief dan pada puncaknya (atap) terbuat dari emas yang membentuk model seperti kubah masjid. Adapun tinggi dari menara ini sekitar ±125 meter dari permukaan tanah. Terlihat sangat gagah dan megah.

9. Tambahan
Istana ini diperuntukkan bagi para raja dan keluarganya sebagai tempat tinggal. Dalam moment atau acara tertentu, istana ini juga diperuntukkan bagi tamu undangan atau tamu negara. Rakyat biasa boleh mengunjunginya, tapi tidak untuk menginap. Sedangkan untuk pengelolaannya telah di tanggung oleh beberapa orang yang berkompeten. Semua ini memang sudah diatur di dalam sistem ketatanegaraan mereka. Terlebih istana raja ini adalah simbol kejayaan bagi kerajaan mereka. Jika tidak diperhatikan dengan serius, maka akan merusak nama baik negara.

Selain itu, di tempat lain mereka juga telah membangun gedung-gedung bertingkat yang megah dengan mayoritas berwarna putih atau krem. Dan hanya dalam waktu ±100 tahun saja mereka sudah berhasil membangun banyak gedung yang menyerupai candi dan piramida, serta taman-taman permainan yang indah. Semuanya terbuat dari bahan-bahan pilihan yang mampu bertahan selama ribuan tahun. Ada pula terdapat taman-taman bunga dan buah-buahan yang dibuka gratis, serta kanal-kanal yang jernih airnya dan bisa di minum langsung, membuat suasana kota menjadi kian indah.

Lalu, karena di kawasan Mellahayur (Nusantara) sering terjadi gempa bumi, mereka pun mensiasatinya dengan menciptakan peralatan khusus yang bisa meredam getaran gempa. Di setiap sisi kota, mereka lalu membangun sebuah gedung berbentuk piramida, yang didalamnya tersimpan benda-benda rahasia anti gempa. Dan memang, apa yang terdapat di dalam bangunan piramida itu bisa meredam gempa bumi yang sebelumnya sering terjadi. Benda-benda unik tersebut memiliki daya dan energi khusus untuk menyeimbangkan pola dan gerakan alam. Jika diletakkan pada suatu lokasi, maka di sekitar lokasi itu takkan terjadi gempa. Dan selama benda-benda itu masih berada disana, selama itu pula takkan pernah terjadi gempa yang dahsyat. Kalau pun tetap ada, itu hanyalah riak-riak kecil atau memang sudah menjadi takdir Tuhan.

Demikianlah gambaran singkat tentang kondisi gedung dan bangunan – khususnya istana – yang ada pada kehidupan kaum Aryadinah. Sungguh, mereka telah memiliki peradaban yang tinggi dan tidak kalah dengan kita sekarang. Ini terlihat jelas dari bahan bangunan yang digunakan dan arsitektur yang telah mereka kuasai sungguh mengagumkan. Semoga semua ini bisa menambah wawasan dan semangat diri kita untuk terus maju dan berkarya.

4) Madarayang an parahiyang (pendidikan dan penelitian)
Sebelum kekaisaran Nurasanggara berdiri, sebenarnya sudah ada pendidikan yang umum di lakukan di padepokan seorang Resi. Hanya saja, ketika Syam Aire menjadi pemimpin kaum Aryadinah, ia menambahkan sistem pendidikan formal lainnya di sekolah. Dan sejak tahun-tahun pertama kepemimpinnya, Syam Aire sudah mulai membangun sebuah komplek pendidikan yang permanent. Dalam sistem pendirikan itu, ia lalu menetapkan tiga jenjang pendidikan, yaitu:

1. Madrasa (tingkat dasar dan pengenalan) -> sejak usia 6-7 tahun, selama 5 tahun.
2. Humarsa (tingkat penelitian) -> sejak di usia minimal 12 tahun, selama 3 tahun.
3. Darmasa (tingkat pengembangan) -> sejak usia minimal 15 tahun, selama 3 tahun.

Kaum ini telah mendapatkan pendidikan secara gratis dari pemerintah. Semua diwajibkan untuk sekolah demi kebutuhan hidup mereka sendiri dan untuk kebaikan bangsanya juga. Adapun mata pelajaran yang umum diberikan di sekolah pada waktu itu adalah:

1. Amata (ilmu alam: fisika, kimia, biologi, geologi, dll)
2. Dimanta (ilmu hitungan/aljabar/matematika)
3. Gimalata (ilmu perbintangan/astronomi)
4. Ramuta (ilmu sains dan teknologi)
5. Nemosta (ilmu ekonomi)
6. Garmata (ilmu bahasa dan sastra)
7. Jarasta (ilmu sejarah)
8. Bustata (ilmu sosial dan akhlak)
9. Akumuta (ilmu hukum)
10. Ruheta (ilmu agama)
11. Sanuta (ilmu seni dan budaya)
12. Buasta (ilmu kesehatan dan pengobatan)

Taraf pendidikan dari kaum Aryadinah ini sudah tinggi dan maju. Sejak usia belia saja mereka sudah diperkenalkan dengan banyak pengetahuan dasar. Bahkan sejak di tingkat kedua, mereka pun telah melakukan penelitian yang rumit. Sehingga ini jelas memperlihatkan bahwa kaum ini memang memiliki kecerdasan dan peradaban yang tinggi.

Sistem pendidikan mereka telah mengatur bahwa proses belajar mengajar di sekolah hanya berlangsung selama 4 hari berturut-turut, sementara tiga hari sisanya libur. Waktu belajar murid dalam sehari itu hanya selama 5 jam saja, yang dimulai dari jam 7 sampai jam 12 siang. Sebelum belajar atau pulang, sekolah telah menyediakan sarapan pagi dan makan siang gratis untuk semua murid dan guru. Tidak ada PR dan ujian kelulusan. Yang ada hanya belajar mengajar, bermain, olah raga, diskusi, praktek dan mewujudkan hasil karya sesuai dengan minat dan bakat siswa.

Jadi, mereka itu sekolah dalam kondisi yang prima tanpa banyak beban pikiran. Yang penting tetap senang dan santai namun selalu bertanggungjawab dan bisa menghasilkan karya cipta yang sesuai dengan standar kelayakan negara. Dan sudah pasti karya cipta tersebut harus bermanfaat secara luas atau khusus. Sehingga tak ada murid yang sekolah dengan tujuan untuk mendapatkan nilai yang tinggi atau ijazah. Sejak awal mereka semua lebih mengutamakan kemampuan dan karya cipta. Ijazah itu hanya sebatas formalitas saja, tidak terlalu penting bagi kehidupan mereka.

Selain belajar formal di sekolah, para murid juga berguru kepada para Resi di padepokannya. Ini tidak wajib di lakukan, karena hanya pada saat libur sekolah saja – itupun cuma 1-2 hari. Disana mereka belajar lebih banyak tentang agama, ilmu kanuragan dan kadigdayan. Dan pada masa libur panjang sekolah, banyak dari siswa yang memilih untuk menginap di padepokan sang begawan hanya untuk bisa mendalami materi dan prakteknya. Sang guru pun senang dengan hal itu, dan ia akan terus membimbing para muridnya sampai mereka berhasil. Tak ada patokan waktu disini. Semuanya tergantung pada niat dan usaha dari sang murid sendiri.

Sungguh, sistem pendidikan dari kaum Aryadinah ini tidak kalah dengan kita sekarang, bahkan terasa jauh lebih maju dan sangat tertata. Semuanya telah diatur dengan sangat baik oleh pemerintah dan gratis. Sehingga bisa mensejahterakan rakyat secara merata.

5) Wahanaliya (teknologi dan industri)
Syam Aire adalah sosok yang cerdas dan diberi umur yang sangat panjang. Karena itu, selama ia memimpin kekaisaran Nurasanggara, bersama dengan rakyanya itu ia berhasil menciptakan teknologi dan industri yang maju. Banyak suguri (pabrik) yang telah dibangun untuk bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri dan luar negeri mereka. Di antara sektor industri yang dimiliki oleh negara Nurasanggara yaitu:

1. Industri pertanian dan perkebunan (pengolahan bahan makanan)
Industri ini memproduksi berbagai hasil pertanian dan perkebunan ke dalam bentuk kemasan. Contohnya pengepakkan gusa (sejenis padi) dan minuman kalengan dari sari buah.

2. Industri perikanan dan peternakan
Industri ini telah berhasil memproduksi berbagai makanan kaleng dan yang di pack khusus untuk komoditi ekspor. Tidak ada bahan pengawet khusus dalam setiap produk kemasannya. Semua tetap saja alami, namun karena teknik pengemasannya yang bagus, maka makanan ini bisa bertahan/awet selama 3-6 bulan.

3. Industri tekstil
Industri ini telah memproduksi kain dan pakaian jadi. Kain yang biasa mereka produksi terbuat dari serat benang ulat simali (sejenis ulat sutra) atau mutra (sejenis kapas). Mereka bisa memproduksi kain dengan bantuan mesin pemintal benang dan mesin tenun. Sedangkan untuk pakaian jadi, mereka masih menggunakan mesin jahit secara manual. Dan sesekali ada bahan-bahan pelengkap atau aksesoris yang mesti di jahit secara manual dengan tangan. Selain itu, mereka juga telah mengolah berbagai kulit hewan untuk dijadikan sepatu, sandal dan kebutuhan hidup lainnya.

4 Industri kerajinan tangan
Industri ini telah memproduksi berbagai macam perhiasan dan aksesoris dari bahan emas, perak dan batu mulia. Selain itu, juga sudah menghasilkan berbagai jenis produk ukiran dari kayu dan anyaman dari bambu atau rotan.   Ada juga berbagai barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat, kaca dan keramik.

5. Industri elektronik, otomotif dan persenjataan
Industri ini telah menghasilkan berbagai alat atau mesin yang dibutuhkan oleh penduduk. Adapun di antaranya seperti mistan (kompor kristal), damuli (kulkas), jiaga (kipas angin), rist (setrika), liwan (blender), hadus (mesin cuci), datul (gergaji batu), kasul (gergaji besi), jahul (gergaji kayu), gaor (bor kayu), saor (bor besi dan batu), lagti (mesin amplas), malag (mesin ketam kayu), limbar (pompa air), midartu (truk/tronton), galtur (traktor), somal (mesin derek/katrol), kawi (kereta mesin), dan mardar (sejenis mobil). Semua peralatan itu bertenagakan kristal putih. Selain itu, mereka juga telah memproduksi berbagai jenis peralatan perang, seperti pedang, tombak, panah, perisai, rompi besi, baju zirah, kereta perang, kapal perang dan meriam.

5. Industri perkapalan
Industri ini telah memproduksi banyak borat (kapal layar) dan boratas (kapan mesin) yang terbuat dari kayu pilihan. Kapal-kapal ini pun diperjual-belikan tapi hanya khusus dengan negara sahabat atau persemakmurannya saja.

6. Industri khusus
Ada jenis industri yang sangat rahasia di kerajaan ini. Di antaranya adalah pesawat terbang yang biasa disebut Muragas. Kendaraan jenis ini diproduksi sangat terbatas dan bertenagakan kristal biru. Saat terbang bisa melaju dengan kecepatan maksimal 4-5 kali kecepatan suara. Semua pesawat hanya untuk keperluan perang dan penelitian luar angkasa. Hanya sesekali saja boleh dipergunakan oleh warga sipil, itupun hanya bagi raja dan keluarganya, serta para pejabat tinggi negara saja. Selain itu, ada pula kapal selam yang biasa disebut dengan Hirgana. Kapal jenis ini berbentuk seperti ikan pari dan bisa menyelam di kedalaman sungai, danau dan lautan. Tujuannya untuk penelitian bawah air dan pengamanan wilayah perairan kerajaan mereka. Lalu yang terakhir adalah Zuranil. Ini adalah alat teleportasi yang hanya boleh digunakan oleh raja dan para pejabat tinggi negara. Jarak tempuh dari alat ini bisa untuk antar kota dan antar negara. Kecepatannya bisa melebihi 5.000 km/detik.

Dalam dunia industri, kerajaan ini telah mengaturnya dengan sangat teratur. Oleh negara, maka setiap pabrik merupakan badan usaha milik negara, yang langsung berada di bawah Wara (menteri) yang bersangkutan. Adapun struktur di setiap pabriknya adalah sebagai berikut:

1. Wara….. (Menteri…..) -> sesuai dengan bidangnya
2. Dasi (Dewan komisaris)
3. Lirma (Direktur perusahaan)
4. Sara (Kepala pabrik)
5. Paras (Manajer bahan baku)
6. Tiras (Manajer produksi)
7. Diras (Manajer penjualan/marketing)
8. Marsaras (Karyawan)

Untuk bisa bekerja di setiap pabriknya, mereka telah membuat sebuah aturan yang baku. Setiap orang bisa diterima kerja di setiap pabrik bila ia sudah berumur minimal 18 tahun dan maksimal 25 tahun. Selain itu, ia pun harus lulus pendidikan di tingkat Darmasa (tingkat paling atas) dengan menunjukkan ijazah, atau ia mampu menunjukkan keahlian khusus. Jam kerja yang ditentukan oleh pemerintah yaitu selama 8 jam, yang dimulai sejak jam 07.00 hingga jam 15.00. Waktu istirahat adalah tengah hari (12.00) hingga jam 13.00. Makan siang mereka ini telah disediakan secara gratis oleh perusahaan, sehingga para karyawan tinggal mengambilnya di sebuah kantin pabrik dengan menunjukkan tiket makan.

Sistem kerja mereka ini adalah sif dengan aturan per tiga hari kerja. Sehingga setelah tiga hari bekerja, mereka pun mendapatkan liburan selama tiga hari pula. Ada cuti yang diberikan bagi setiap pekerja yang disesuaikan dengan kebutuhan dari yang bersangkutan. Contohnya, jika ia sakit maka cuti akan diberikan sampai ia sembuh, sedangkan jika ada urusan keluarga atau urusan mendesak lainnya, maka waktu untuk cuti akan disesuaikan oleh perusahaan. Selain itu, mereka juga mendapatkan jaminan kesehatan dan jaminan pensiun dari negara. Upah yang diberikan kepada setiap karyawan dibayarkan pada setiap tiga hari kerja (selesai sif). Sedangkan untuk masa kerja yang ditetapkan bagi setiap orang adalah hingga ia berusia 90 atau 100 tahun.

9. Daftar raja-raja
Syam Aire dianugerahi umur yang sangat panjang. Oleh karena itulah selama lebih dari 250 tahun ia sukses memimpin kerajaan dan membangun peradaban yang paling gemilang. Sejak dimasanya pula kota Milanura sudah menjadi pusat peradaban dunia. Banyak orang yang datang dari berbagai bangsa untuk berwisata atau pun belajar. Dan selama ia bersikap baik, kaum Aryadinah akan dengan senang hati menerimanya. Mereka pun siap berbagi ilmu dan pengalaman – kecuali yang memang harus tetap jadi rahasia negara. Pengetahuan inilah yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Bangsa-bangsa yang lain akhirnya ikut menikmati keberhasilan dan kejayaan. Inilah bukti betapa kaum Aryadinah ini hebat dan sangat terpandang di zamannya.

Tentang para rajanya, maka kerajaan Nurasanggara ini diberi waktu hidup selama ±3.655 tahun. Selama itu, ada sekitar 20 Mura (raja) dan Muri (ratu) yang pernah memimpin. Adapun di antaranya sebagai berikut:

1. Syam Aire Hisansantanu Arya Tamarani Pasya -> pendiri kerajaan
2. Syam Hisaire Arya Tamarani Pasya
3. Syam Bastuire Arya Tamarani Pasya
4. Syam Ambisaire Arya Tamarani Pasya
5. Syam Liwasaira Arya Tamarani Pasya
6. Syam Irtamaire Arya Tamarani Pasya
7. Syam Namalaire Arya Tamarani Pasya
8. Istam Widiyani Arya Matarani -> seorang wanita (ratu)
9. Syam Yaranuire Arya Tamarani Pasya
10. Syam Antabaire Arya Tamarani Pasya
11. Syam Zayanaire Arya Tamarani Pasya
12. Syam Jagadaire Arya Tamarani Pasya
13. Syam Ralmataire Arya Tamarani Pasya
14. Istam Ranaliyani Arya Matarani -> seorang wanita (ratu)
15. Syam Uswataire Arya Tamarani Pasya
16. Syam Mikahaire Arya Tamarani Pasya
17. Syam Dirtasaire Arya Tamarani Pasya
18. Syam Vastiwaire Arya Tamarani Pasya
19. Syam Kaltusaire Arya Tamarani Pasya
20. Syam Isytaluire Arya Tamarani Pasya -> raja terakhir. Dimasanya kota Milanura (ibukota kerajaan Nurasanggara) dipindahkan ke dimensi lain.

Demikianlah nama-nama dari ke 20 orang penguasa di kerajaan ini. Setiap mereka itu telah dianugerahi umur yang panjang. Karena itulah mereka bisa memimpin selama rata-rata 150 tahun. Mereka berhenti memimpin setelah 150 tahun itu pun bukan karena sakit atau wafat, melainkan karena sudah merasa cukup atau memilih untuk segera moksa. Masa hidup mereka di muka Bumi ini umumnya di atas umur 200 tahun. Sangat berbeda dengan lazimnya manusia di zaman itu.

Selama berdiri, pada setiap suksesi (peralihan kekuasaan) selalu berjalan aman dan lancar. Setiap orang telah sadar dengan hak dan kewajibannya. Mereka tak pernah berhasrat untuk mengambil yang bukan haknya. Dan biasanya tahta kerajaan itu akan diturunkan oleh raja kepada anak kandungnya sendiri. Kecuali sang anak sudah tidak tertarik lagi dan jabatan itu harus diserahkan kepada kerabat dekat raja yang tentunya layak. Karena itulah, tidak pernah terjadi kudeta atau kegaduhan di negeri mereka. Semua berjalan normal dan terkendali. Terlebih mereka sudah sadar bahwa jabatan pemimpin itu tidak mudah, seperti memegang bara api di tangan. Karena itu, jabatan itu hanya untuk mereka yang benar-benar pantas dan layak dalam segala sisi. Siapa dia? salah satu syaratnya harus bisa memegang peti Hudharasya, pusaka utama kerajaan Nurasanggara. Tanpa hal itu maka bisa dipastikan seseorang takkan bisa menjadi raja.

10. Akhir kisah
Kaum Aryadinah dan kekaisaran Nurasanggara adalah satu kesatuan yang tak bisa terpisahkan. Mereka akhirnya tampil sebagai peradaban yang besar dan disegani. Selama sejarahnya, kaum ini pernah beberapa kali berperang. Semua pertempuran itu biasanya karena ingin membantu negara lain atau memang telah dimintai bantuan untuk mengusir musuh yang keji. Dan ada satu kali pertempuran dahsyat yang pernah mereka lakukan. Saat itu mereka bertujuan untuk membebaskan bangsa-bangsa yang ada di Umairal (benua Eropa) dari penjajahan kekaisaran Teolarus.

Kekaisaran itu dipimpin oleh seorang raja penyihir yang sangat sakti. Ia pun bisa mengerahkan pasukan dari dimensi lain untuk membantunya berperang. Kondisi ini persis dengan yang pernah terjadi pada masa kehidupan kaum Hilbatar dulu. Bahkan sekali lagi musuh bebuyutan manusia yang bernama Durwaka itu terlibat dalam perang dunia. Ya, raja kegelapan itu kembali unjuk gigi di hadapan manusia.

Namun disini kita tidak akan membahas tentang perang dunia itu. Yang akan kita lanjutkan adalah kisah tentang akhir hidup dari kaum ini. Dimana setelah hidup sekitar ±3.650 tahun, sesuatu yang luar biasa pun terjadi di kaum Aryadinah. Pada masa raja ke-20 yang bernama Syam Isytaluire Arya Tamarani Pasya, tiba-tiba pusaka utama kerajaan (peti Hudharasya) menghilang. Meskipun sudah berusaha di panggil dengan mantra khususnya, tetap saja ia tak mau muncul ke hadapan sang raja. Hal ini jelas membuat bingung, bahkan panik seisi istana. Mereka langsung mengira pasti akan terjadi hal yang buruk kepada mereka.

Untuk menemukan jawaban, sang raja memutuskan pergi menyepi selama beberapa hari di hutan. Dalam posisi ber-semedhi, Raja Syam Isytaluire ditemui oleh Nabi Zamirat AS. Beliau lalu menjelaskan dengan berkata: “Wahai ananda. Hilangnya peti Hudharasya itu bukanlah pertanda buruk bagi kalian. Itu bisa terjadi karena memang harus terjadi dan sudah takdir-Nya. Peti tersebut harus kembali ke tempatnya semula (di alam goib) dan akan diturunkan kembali nanti. Suatu saat, di masa yang lain, akan ada seorang pemuda yang berhak untuk memilikinya. Pada saat itu, maka sama dengan para leluhurmu dulu, akan ada perang besar yang melibatkan banyak bangsa. Siapapun yang berjodoh dengan peti tersebut, maka dialah yang akan menegakkan ketertiban dunia”

Mendengar penjelasan itu, Raja Syam Isytaluire merasa lega. Selama ini ia merasa sangat terbebani dosa karena mengira hilangnya peti tersebut dikarenakan mereka telah menyimpang dari kebenaran. Tapi syukurlah ternyata bukan seperti itu. Selanjutnya ia pun berkata: “Wahai utusan yang mulia, lantas apa yang harus kami lakukan selanjutnya?”

Dijawab langsung oleh sang Nabi dengan berkata: “Sesuai dengan petunjuk yang ku dapatkan (wahyu Ilahi), sudah waktunya kalian untuk menjalani hidup di tempat yang lain. Atas izin-Nya nanti, kalian akan berpindah ke dimensi kelima (Nilbati). Disana kalian akan menjalani kehidupan yang baru dan dengan cara-cara yang baru pula. Tapi sebelum itu, yang harus kalian lakukan adalah memperbanyak rasa syukur kepada Hyang Aruta (YME), selesaikan semua urusan kalian (utang piutang, janji) dengan orang lain atau bangsa lainnya, dan teruslah membantu siapapun yang membutuhkannya. Lakukanlah semua itu selama 5 tahun, sampai pada akhirnya kalian akan diperintahkan untuk mempersiapkan diri sebelum berpindah dimensi”

“Namun demikian” kata sang Nabi berikutnya. “Di antara kalian harus ada yang ditugaskan untuk melanjutkan trah kaum Aryadinah dengan mendirikan kaum yang baru. Perintahkan sebanyak 90 orang untuk melaksanakan tugas itu. Lakukanlah sebelum kalian berpindah dimensi, tepatnya di 90 hari sebelum waktu yang telah ditentukan. Dan setelah generasi ketiga mereka lahir, barulah ke 90 orang tersebut boleh menyusul kaumnya di dimensi kelima (Nilbati). Nanti akan ada yang mengajari mereka tentang bagaimana caranya”

Mendapatkan penjelasan itu, sang raja tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia merasa takjub dengan kabar yang disampaikan oleh Nabi Zamirat AS. Dan karena sudah tak ada lagi urusannya, sang Nabi pun raib dari pandangan. Tinggallah sang raja yang masih menekur diri dan memikirkan tentang hal-hal yang harus ia lakukan bersama rakyatnya nanti.

Dan, suatu ketika sebelum ke 90 orang yang ditugaskan untuk mendirikan peradaban baru itu pergi dari kota Milanura, Nabi Zamirat AS sempat datang menemui kaum Aryadinah. Beliau lalu menyampaikan pesan untuk mereka dan anak keturunannya nanti. Berikut ini adalah pesannya:

“Ya aslin. Sandir nehayata barsilahe eukanamu diangkayang purtal ikadatis. Asratala bahigati lan ekacarya Hyang Aruta asmalun binsayu nurhatasi. Yani maktah estafarutu man anusata lang Swarna Jawi lartidas hizajayani. Manru irkatabu lessarahi Bhumi samutta lambiya jami’alun tuh himatusy. Vratulasahi yangkatila asmuya rula Sri Maharaja Hantasarasyi Arya Bhuwana Jaya Sri Hamukti Pasya. Nekatari yamuk higam sasanira luh’an Nusanta-Ra ursasi jaltalum. Waljibas ratinawa huragnatu lifran igam namel 010245379810 dar samirhanu sufiyah. Majmarul nahikam ratratrin Dev, Bhat, Hing, Rsi, Syekh, Walli, Raj an Ksatriya lissan marile. Lilbasyari rekatuse urangka samidare ostanu lis rumaltan hajagis labiratu husmatare”

Singkat cerita, apa yang disampaikan oleh Nabi Zamirat AS telah mereka laksanakan dengan tekun. Sejak pertama kali mendengar berita akan berpindah dimensi, semua orang menyambutnya dengan gembira, khususnya bagi mereka yang tinggal di ibukota negara (Milanura). Karena itulah, mereka semakin bersemangat dalam berbuat kebajikan. Dan sehari sebelum berpindah, sekali lagi Nabi Zamirat AS mendatangi mereka. Beliau langsung membimbing kaum Aryadinah itu untuk bisa berpindah ke dimensi lainnya.

Dan ketika waktunya sudah tiba, atas izin dari Hyang Aruta (Tuhan YME) kaum Aryadinah itu akhirnya berpindah dimensi. Tidak hanya manusianya saja, tetapi semua yang ada di kota Milanura itu. Dalam waktu sekejap, semuanya telah berpindah ke dimensi kelima (Nilbati). Dan di lokasi bekas kota Milanura itu tiba-tiba tumbuhlah semak dan hutan yang lebat, seolah-olah belum pernah ditinggali sama sekali.

11. Penutup
Wahai saudaraku. Ada banyak kisah dari kaum terdahulu yang menarik untuk kita simak dan diambil hikmahnya. Semua itu memang sudah menjadi suratan dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Manusia disini, selama ia masih hidup di atas Bumi harus memilih di antara dua pilihan, yaitu kebaikan atau kejahatan, kebangkitan atau kehancuran, dan kemuliaan atau kehinaan. Semuanya itu berada di tangan manusia sendiri dan tak ada paksaan. Bahkan Tuhan pun hanya memberikan jalan dan petunjuk – melalui para utusan-Nya – agar setiap diri manusia itu bisa hidup bahagia. Jika manusia percaya dan mengikuti semua petunjuk itu, niscaya mereka akan hidup dalam kenikmatan dan kemuliaan. Sebaliknya, jika manusia tidak lagi peduli dengan hukum Tuhan atau contoh-contoh dari kehidupan kaum terdahulu, maka cepat atau lambat azab yang perih akan menimpa mereka.

Maka, kisah kehidupan dari kaum Aryadinah ini bisa kita jadikan pelajaran yang sangat berharga. Lihatlah bahwa hanya dengan terus berusaha secara gigih, tekun dan selalu tunduk patuh kepada aturan Tuhan, sebuah bangsa itu bisa maju dan berjaya. Terlebih jika setiap pribadi bisa menghilangkan sifat iri, dengki dan benci di hatinya, maka peradaban maju akan cepat menyertainya. Terlebih jika setiap pribadi mampu menyebarkan rasa cinta, diskusi, musyawarah dan gotong royong dalam kehidupan sehari-harinya, niscaya kejayaan dan kebahagiaan hidup akan dirasakan sejak di dunia.

Untuk itu saudaraku, teruslah engkau semangat dalam hidup ini. Jangan biarkan kejahatan menguasai hatimu. Jangan mau jadi orang bodoh yang bodoh. Dan teruslah membiasakan diri dengan banyak diskusi, musyawarah dan gotong royong dalam hidup ini. Para leluhur kita sudah memberikan contoh tentang betapa dahsyatnya sikap itu bagi kemajuan dan peradaban sebuah bangsa. Karena itulah mari kita terus menjaga dan melestarikannya sampai ke anak cucu kita nanti.

Dan berharaplah bahwa suatu saat nanti, mungkin dalam waktu dekat, sosok pemuda yang telah mewarisi peti Hudharasya itu juga bisa hadir ditengah-tengah kita. Tidak hanya untuk gagah-gagahan, tetapi lebih kepada membimbing kita dalam membangun peradaban yang benar dan gemilang. Dan semoga kehidupan yang lebih baik masih menyertai kita, khususnya bagi yang telah mempersiapkan diri selama ini.

Salam Rahayu _/|\_

Jambi, 10 Juni 2017
Harunata-Ra

Catatan tambahan:
1. Ada banyak hal yang tidak bisa disampaikan disisi, itu semua karena ada protap yang harus dipatuhi dan akan sangat panjanglah artikel ini nantinya. Itu akan menjadi tidak baik menurut kami.
2. Seperti tulisan sebelummnya, disini kami pun mempersilahkan Anda sekalian untuk percaya atau tidak percaya. Semua itu adalah hak Anda, kami disini cuma sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja. Percaya syukur, tapi kalau tidak ya tidak apa-apa.
3. Jika dalam tulisan ini terdapat kesamaan kejadian atau kemiripan cerita dengan kisah kaum-kaum sebelumnya, itu sih wajar. Karena pada dasarnya kehidupan manusia itu adalah circle, bukan linier. Artinya, apa yang pernah terjadi pada masa lalu bisa saja akan terjadi lagi di masa berikutnya, bahkan sekarang dan nanti. Semua itu baru akan berakhir setelah Hari Kiamat terjadi.

Iklan

28 thoughts on “Kaum Aryadinah dan Kekaisaran Nurasanggara

  1. Ini ada sosok rahasia lagi spt “Sang Hyang Girimutara dan Sang Hyang Guru” kala boleh tahu mereka ini di tingkat/level apa.. 🙂 apa ada kesamaan dg kisah sang Bhatara Guru yang gag begitu jelas banyak beredar? Kalau di akhir periode Zaman Swargantara ±2 Milyar thn yg lalu kira” sudah brp lama umur dunia kita ini skrg semenjak periode Ayahanda Adam AS diturunkan? Saya bisa bayangin kalau tinggal di kota Milanura dg kemegahan bangunan Istana Hasirapura…! Waawww…🙂 Aryasyi, Martayasyi, Galatasyi, Malkatasyi, Nilbati, Wujudasyi, Ramatasyi, Gulatasyi, Samsyi an Palatasyi kalau tidak salah nama” ini adalah Dimensi tempat Leluhur berada “Moksa” berdasar hak prerogatif dari Hyang Aruta kira” ada berapa banyak jumlah Dimensi tsb? Menjelang Akhir Ramadhan ini apa ada Suplemen/Vitamin dari Kang Harun untuk lebih bisa khusyuk beribadah yang tentu lelakunya tidak “Mainstream”…. hehehe…🙂? setuju dg Kang Harun saya gag mau jadi orang bodoh yang bodoh… Ihh amit” …🙂. Hatur Nuhun Kang Harunata-Ra Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung.
    Salam.
    Rahayu _/|\_

    1. Nuhun kang Tufail karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. Kedua sosok itu ada kaitannya dg Bhatara Guru tapi bukan Bhatara Guru yg byk dipahami selama ini.. Ttg berapa levelnya akan susah dijelaskan, ada byk levelnya sih kang.. Tapi yg jelas kedudukan para Sang Hyang itu berada di atas Bhatara/Bhatari apalagi Dewa/Dewi..
      Ttg umur dunia, saya gak bisa sampaikan disini, selama ini hanya bisa kasih ancang-ancang melalui kisah kaum terdahulu.. Kalo teliti dan jeli, bisa kok utk memperkirakannya, yg jelas bermilyar-milyar tahun deh..
      Ttg kota Milanura dan istana Hasirapura, keduanya sgt indah dan megah kang.. Seumur hidup saya gak pernah sih liat ada yg seperti itu skr, di zaman ini.. Seindah apapun kota dan gedung yg dibangun manusia zaman skr, maka gak ada yg seindah apa dibangun oleh kaum Aryadinah dulu..
      Ttg dimensi, hal ini pernah saya sampaikan di artikel sebelumnya yg membahas ttg jenis elemen, makhluk dan dimensi kehidupan.. Silahkan dibaca lagi deh kang.. Ada byk bgt dimensi itu, dan yg saya jelaskan disana hanya sebagian aja tuh.. Tentu ada yg lain lagi..
      Utk suplemen, menurutku ya hrs lebih byk melakukan tiga hal yaitu muhasabah, tadabbur ilmu dan tafakur. Ketiganya itu adalah kunci utk menemukan ketenangan diri, sementara ketenangan diri adalah kunci utk bisa khusyuk..
      Iya kang, ayo kita sama” utk tidak jadi orang bodoh yg bodoh, karena itu yg sedang byk terjadi skr.. Orang yg seperti itu akan menerima azab yg perih nanti..
      Semoga kita termasuk golongan yg beruntung.. Rahayu bagio _/|\_

  2. Dari keseluruhan cerita ada beberapa hal yang mudah”-an gag melanggar protap dari kisah” kaum terdahulu
    tentang Flora & Fauna jelas akan ada keunikan tersendiri apabila berkenan dikisahkan, juga tentang kulinernya kalau boleh tahu…. hehehe…🙂. Untuk Kaum Aryadinah ini apa ada kesamaan dengan bangsa Arya yang berasal dari sekitaran Cianjur. Nuhun. Salam Rahayu_/|\_

    1. Ttg flora dan fauna, dulu bbrp tahun silam pernah ada kisah yg menjelaskan ttg betapa lebih beragam dan uniknya mrk itu di masa lalu.. tapi artikel itu sudah hrs dihapus sesuai protap.. mungkin kang Tufail blm sempat baca, ato sudah dihapus sebelum sampeyan kenal blog ini.. Jadi kalo hrs menjelaskan lagi ttg flora dan fauna di masa lalu sepertinya blm bisa lagi skr..
      Begitu pula dg kuliner, dulu juga sempat dimuat, tp artikelnya sudah hrs dihapus sesuai protap.. Sepertinya kang Tufail juga gak sempat baca karena udah dihapus..
      Hmm ttg kaitannya, saya malah baru tau ada bangsa Arya yg berasal dari Cianjur kang.. Itu bangsa yg seperti apa? ciri fisik dan ras nya bagaimana? dan tingkat peradaban nya seperti apa? Saya juga gak tau.. Jadi gak bisa bilang ada kaitannya ato tidak dg kaum Aryadinah.. Kalo nama sih bisa aja mirip ato sama, tp itu gak bisa jadi patokan utk keterkaitannya..

      1. Wahh… Sayang sekali ya “sim kuring” kurang beruntung apa gag boleh d emailkan saja k saya langsung… hehe…🙂 Loh kok bangsa Arya maksud saya Bangsa Marta yang dari tatar sunda apa masih di rahasiakan kisahnya? Nah yang sekarang lagi Viral mana yang lurus tentang Gajah Mada ato Gaj Ahmada… Hehehe…🙂
        mungkin kang harun ada referensi kisah sebenarnya. Dan lagi kalau tidak melanggar protap seperti apa kisah Prabu Siliwangi versi kang harun… 🙂

      2. Hmm.. tetap gak bisa kang, protapnya udah ditetapkan, saya gak bisa langgar itu.. sekali lagi MAAF.. 🙂
        Lah di atas kang Tufail nulisnya bangsa Arya di Cianjur, jebule ternyata bangsa Marta toh.. hmm sepertinya skr masih harus dirahasiakan dulu, mungkin akan ada waktunya sendiri untuk terungkap.. Kalo bukan saya mungkin orang lain.. 🙂
        Hehe.. update info nih ceritanya.. iya tuh kang viral banget yah ttg nama dan agama sang Maha Patih.. sekaligus bisa ampe bikin ketawa geli… lumayan sih utk hiburan.. hkhkhk.. 🙂
        Kalo pertanyaannya ttg nama sebenarnya dari sang Maha Patih, maka menurut hasil penelusuran kami secara ilmiah dan batiniah (metafisika), jawabannya baik Gajah Mada apalagi Gaj Ahmada, keduanya itu bukan nama asli dari sang tokoh. Gajah Mada hanyalah sebatas nama gelar kehormatan yang beliau dapatkan atas pretasi gemilang yang pernah di lakukan sebelum menjadi Maha Patih Mangkubhumi di Majapahit dan jelas bukan nama diri sebenarnya, sementara Gaj Ahmada itu entahlah, saya sendiri bingung dg nama itu, karena ilmu “gatuk matuk/cocokologi”-nya udah tingkat dewa sih.. bukan level saya lagi hehe.. 🙂
        Terkait dengan tokoh Gajah Mada dan Prabu Siliwangi, Alhamdulillah sudah di tuliskan di buku yg memang dipersiapkan untuk anak cucuku nanti. Disana sudah dituliskan sesuai fakta yg sebenarnya tentang mereka berdua. Siapa sejatinya diri mereka itu dan bagaimana kisah kehidupannya sejak bayi sampai akhirnya moksa. Dan kisah keduanya itu termaktub dalam salah satu sub bab yg menjelaskan tentang seluk beluk kerajaan Majapahit yg sebenarnya. Ada sekitar 256 halaman ukuran A4 untuk sub bab itu (masih bisa bertambah jika ada informasi baru lagi), yg didalamnya menjelaskan tentang kedua tokoh luar biasa itu dan tentunya fakta sebenarnya dari Majapahit dan Pajajaran yg selama ini tak diketahui atau keliru dipahami. Di dalam sub bab itu juga, maka untuk lebih memperjelas faktanya telah diuraikan pula beberapa kerajaan lain yg terkait erat dg kerajaan Majapahit seperti, Pajajaran, Singhasari, Malaya-Dharmasraya, Panjalu-Kadiri, Jenggala-Kahuripan, Medang/Mataram, Sriwijaya, Kalingga, Galuh-Kendan, Indraprahasta, Tarumanagara, Bakulapura, Salakanagara, Saka, Wangga (Calankayana), Kanauj (Gupta), dan Magadha-Maurya. Bahkan dijelaskan pula tentang kerajaan penerus Majapahit seperti Demak, Pajang, Mataram Islam, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta, biar makin jelas deh sejarahnya. Semua kerajaan itu ada yang berdiri di sebelum Masehi dan sebagian lainnya sudah di tarikh Masehi. Ditulis terurut dalam satu sub bab seperti itu agar menjadi terang benderang sejarah raja-raja dan kerajaan di negeri ini. TAPI MAAF, data dan informasinya tidak utk dibagikan sekarang kang, masih harus dirahasiakan dulu sesuai protap.. Kalo mau silahkan menunggu dg sabar hehe.. 🙂
        Namun ada satu cuplikan dari buku yang bisa saya share disini, yaitu:
        “Ada satu peristiwa yang penting untuk diketahui, bahwasannya pada hari Anggara tanggal 15 bulan Caitra tahun 1215 Saka (1291 M) ada sebuah pertemuan rahasia di puncak gunung Ceda (gunung Sumbing sekarang). Saat itu hadirlah Nararya Sang Rama Wijaya, Mahesnata Rahadya dan Wikrayasa Kertanagara untuk bertemu dengan para leluhurnya. Leluhur pun hadir, hampir semua yang pernah memimpin di Nusantara dalam rentan waktu 100 juta tahun terakhir. Saat itulah diputuskan untuk mulai meletakkan dasar kebangkitan Nusantara baru. Prinsip itu tetap ada, perjanjian saat itu masih berlaku sampai nanti. Sampai masa transisi dan pergantian zaman ini (Rupanta-Ra) terjadi”
        Semoga bermanfaat.. 🙂

  3. Waktu membaca di ladarsa terdapat tanaman bonsai, pikiran hamba seolah terlempar saat membayangkannya. *wkwkw
    Pertanyaan yang muncul selanjutnya adl, apakah di masa tersebut sudah seperti masa sekarang dalam pemanfaatan bonsai yang mana identik dengan pot? Ataukah langsung tertanam di tanah? seperti hal nya khayalan hamba yang hadir saat membayangkan tanaman tersebut.
    Terimakasi

    1. Terima kasih juga mas Arvin atas kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Jawaban dari pertanyaan sampeyan itu adalah bahwa ada banyak hal yang ada di masa lalu namun tak ada lagi di masa sekarang, tapi yg ada di masa skr telah ada atau banyak sekali terjadi di masa lalu.. Kita skr bahkan cuma mengulangi saja kok..
      Khusus ttg bonsai, yg dimaksud disini adalah apapun tanaman/tumbuhan yg dikerdilkan itulah bonsai.. Jadi ada yg di tanam di tanah dan ada pula yg khusus di pot. Semua utk lebih mempercantik tampilan taman.. Ya gak jauh bedalah dg yg di masa skr, karena itulah saya menggunakan istilah bonsai agar mudah dipahami para pembaca sekalian.. 🙂

      1. Meleset dikit mas.. gak apa kok.. hehe.. 🙂
        Wah nyante ajalah mas Arvin, kalo bisa akan saya jawab, tapi kalo gak bisa ya harap maklumi, karena saya bukan orang pinter.. masih belajar di tingkat dasar neh.. 🙂

  4. Assalamualaikum,
    Kebetulan banget kang Tufail bahas yg lagi viral saat ini. Manakah yg benar, Gajah Mada atau Gaj Ahmada?
    Trus kalo Hyang Aruta (Allah SWT) memberikan ijin, berkenan kah Mas Oedi menceritakan bagaimana kisah awal mula kerajaan Majapahit? Terima kasih sebelumnya.

    1. Wa`alaikumsalam..
      Terima kasih juga mbak Nadnad, karena masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. untuk pertanyaan mbaknya, silahkan baca balasan saya untuk komentar kang Tufail di atas ya.. sudah dijelaskan disana.. 🙂

      1. Terima kasih untuk jawabannya.
        Nah, hasil pertemuan Nararya Sang Rama Wijaya, dll dengan para leluhur lah yang saya nanti2. Tampaknya akan jadi suatu peristiwa besar pada saat perubahan zaman nanti.
        Wallahua’lam bissawab

      2. Wah nyante aja mbak Nadnad, kalo bisa ya saya jawab, tapi kalo gak tolong maklumi aja, saya kan masih awam.. 🙂
        Sama mbak, saya juga terus menanti terwujudnya prinsip dan perjanjian itu.. Kita semua sekarang sedang menunggu waktu hari “H” nya yg belum tau kapannya tapi pasti akan terjadi.. tanda-tandanya udah semakin terlihat… 🙂
        Iya, akan ada peristiwa yang menggemparkan sekaligu di luar nalar dan logika… beruntunglah bagi yg udah mempersiapkan dirinya..

    1. Terima kasih mas Penegakdarma atas kunjungannya lagi, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Benar, masih di balik tirai dan tersembunyi. Tapi kini tirai-tirai itu sudah semakin menipis dan perlahan-lahan mulai terlihat jelas apa yang disembunyikan itu..

  5. Maaf ms oedi bc tulisan ms oedi ttg masa transisi kok seketika sy ingat mama lauren yg berkata 60% penduduk suatu negara akan lenyap, apakah saat berlangsung perubahan tersebut efeknya seluruh dunia terkena imbasnya pada saat bersamaan waktunya,mhn penjelasannya dan terima kasih

    1. Terima kasih juga mas Wowo karena masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. tentang detilnya sih saya kurang tau juga mas, karena hanya DIA-lah yang tau segalanya nanti. Kita hanya makhluk yang tak tau apa-apa kecuali sedikit, itupun atas petunjuk-Nya juga. Dan berdasarkan petunjuk dan berbagai informasi yang sudah saya dapatkan, maka yg terjadi pada saat pergantian (transisi) zaman itu nanti tidak akan jauh berbeda dengan apa yang pernah terjadi di masa lalu (di setiap transisi zaman), bahkan kali ini bisa lebih buruk lagi atau malah justru yg terburuk. Artinya, akan terjadi musibah dan bencana yg maha dahsyat yg belum pernah terjadi sebelumnya di muka Bumi, dan itu dalam waktu yang bersamaan dan atau silih berganti hingga dimana-mana telah terjadi bencana besar. Makanya tentang hal ini sebenarnya sudah diperingatkan sejak zaman bahelak, di setiap kitab suci agama besar (Zoroaster, Hindu, Buddha, Nasrani, Islam, dll), sabda para Nabi dan ucapan orang-orang bijak. Hanya saja memang, tak semuanya sampai ke kita – bisa jadi karena musnah termakan waktu atau justru karena adanya konspirasi – apalagi kita sendiri cuek dan tak mau mencari tau tentang kisah leluhur…
      Ya. Goro-goro itu akan terjadi di seluruh dunia dan semua yang hidup di muka Bumi ini akan langsung merasakannya. Semua akan dimurnikan kembali, agar kehidupan di Bumi kembali normal dan harmonis seperti dulu. Bahkan di masa kita ini, gejolak transisi zaman ke tujuh (Rupanta-Ra) ini akan lebih buruk dari yang pernah terjadi pada setiap masa transisi zaman sebelumnya, termasuk di masa Nabi Nuh AS dulu. Karena itu, korban jiwa manusia yang akan timbul akibat dari bencana maha dahsyat itu bahkan lebih dari 60% di seluruh dunia. Hanya manusia yang terpilih/terseleksi saja yang akan selamat atau diselamatkan (proses seleksinya sedang berlangsung dan hasilnya sudah kian jelas), dan itu jumlahnya sedikit (tidak lebih dari 25%). Mereka itulah yang akan meneruskan kehidupan manusia di periode zaman yang ke delapan (Hasmurata-Ra) dan menjadi cikal bakal umat manusia selanjutnya. Hal ini persis dengan apa yang pernah terjadi di masa Nabi Nuh AS dulu, dimana mereka yg selamat saat itu menjadi cikal bakal/asal usul umat manusia yang kedua. Dan inilah sunnatullah alias kodrat kehidupan duniawi yang telah ditetapkan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME), yaitu circle, bukan linear. Sehingga mari kita terus mempersiapkan diri dengan banyak beramal sholeh dan berbuat kebajikan. Kalo mau, ingatkan juga sanak keluarga dan kerabat dekat tentang hal ini, ajak mereka untuk berbenah diri dg cara yang santun dan penuh cinta, karena tanda-tandanya sudah semakin jelas di sekitar kita.. Jangan sampai menyesal bila transisi itu terjadi..
      Begitu aja mas yang bisa saya jelaskan, maaf kalo tidak memuaskan.. maklumlah saya ini cuma orang awam.. 🙂

  6. Wahh.. bikin geregeten yah, selalu penuh kejutan Kang Harun ini.. 🙂 pokonya di “antos” selalu dinantikan bacaannya. Btw buku” apa aja yg sudah beredar? Mahesnata Rahadya dan Wikrayasa Kertanagara siapa pula kedua tokoh tsb? hehe…🙂 “mungkin akan ada waktunya sendiri untuk terungkap.. Kalo bukan saya mungkin orang lain.. 🙂” Memang ada berapa penutur sejarah baheula sekaliber kang harun yg akan mengungkap kisahnya kaum” lawas. …? Dulu pernah terjadi di zaman kelima Dwipanta-Ra, yang telah dimusnahkan semua peradabannya kalau di ijinkan spt apa kisahnya pembantaian massal oleh pasukan langit pd zaman itu? Gag mudik..? .. 🙂

    1. Wikrayasa Kertanegara itu bukannya raja Singasari terakhir ya? Alias mertua nya Nararya Sang Rama Wijaya?
      Kalo Mahesnata Rahadya ini yang saya juga baru denger.

      1. Bukan sih mbak Nadnad, emang namanya agak mirip tapi yg dimaksudkan disini bukanlah Prabu Kertanegara yg adalah raja terakhir Singhasari itu..
        Ketiga orang itu adalah tokoh yg sangat penting di zamannya tapi emg skr gak lagi dikenal kecuali Raden Wijaya. Nararya Sang Rama Wijaya alias Raden Wijaya tinggal di Jawa bagian timur, Mahesnata Rahadya tinggal di Jawa bagian tengah, dan Wikrayasa Kertanegara tinggal di Jawa bagian barat. Mereka orang2 hebat, masih satu garis silsilah yg sama yg berasal dari para raja di kerajaan Tarumanagara dan Salakanagara, dan pemegang rahasia terakhir dan kunci kebesaran Nusantara.. Ttg detil siapa jati diri ketiga tokoh itu yg sebenarnya gak boleh di ceritakan, saya udah dilarang..
        Ada waktunya nanti semua akan terang benderang.. Majapahit yg sebenarnya itu akan bangkit kembali tapi dg wajah yg baru..

    2. Biar seru kang kalo penuh kejutan hehe.. 🙂
      Sekali lg nuhun ya kang karena masih mau baca..
      Ttg buku, belum ada yg beredar, karena blm kelar.. Buku yg di tulis itu sepaket yg jumlahnya 15 jilid, tinggal satu jilid yg blm kelar jadi blm bisa naik cetak.. Hrs kelar semuanya dulu, karena semuanya saling berkaitan isinya walau beda disiplin ilmunya..
      Kedua tokoh itu org sgt penting dlm sejarah tp gak dikenali lagi secara umum..
      Hmm saya juga kurang tau, tapi sepertinya ada yg lain di luar sana.. Saya mah cuma orang bodoh atuh kang..
      Ttg pembantaian, saya blm bisa kasih tau, ato mungkin malah gak boleh kasih tau.. Biarkan nanti bakal tau sendiri saat wkt itu datang lagi di akhir zaman kita skr.. Biar lebih seru gitu..
      Skr saya udah di kampung kang, di Jambi..

      1. Semoga kita diberikan keselamatan dan umur panjang agar dapat melihat kebangkitan Majapahit. Aamiin.
        Dan saya juga menantikan terbitnya buku Mas Oedi. Semoga mas diberikan kemudahan dan kelancaran untuk penyelesaian bukunya. Aamiin.

      2. Aamiin.. Semoga aja mbak, karena beruntung bangetlah yg bisa melihat apalagi terlibat dlm kebangkitan itu nanti.. 🙂
        Terima kasih loh mbak Nadnad atas doa dan dukungannya.. Silahkan di tunggu, tapi kalo gak terbit di akhir zaman ini, mungkin baru akan terbit di zaman yg baru nanti.. Kalo bukan saya, mungkin yg lainnya yg akan mewujudkannya.. Kita semua gak tau apa yg akan terjadi esok hari.. Cuma bisa berusaha.. 🙂

  7. Mohon doa restu untuk kemenangan makmur.
    Untuk semua, tandanya sudah jelas semua mulai dari bumi langit cuaca dan hawa dan untuk media seperti televisi saran saya pilih berita saja jangan yang lain .
    Salam.

    1. Mari kita sama2 berdoa aja mas Penegakdarma, semoga yg terbaik bagi kita, khususnya yg udah mempersiapkan diri.. 🙂
      Dan utk skr ini, gak usah latah deh dg yg terjadi di dunia ini, apalagi yg tiba2 viral.. Ttp sadar diri dan byk introspeksi aja.. Salam.

      1. Oh mas oedi bgm dg suara terompet yg terdengar di berbagai negara? Apa itu adalah tanda terang akan segera terjadi pemurnian massal…..mhn penjelasannya terima kasih.

      2. Hmmm.. tentang suara “trompet” itu, sepengetahuan saya itu adalah sebentuk peringatan yg sgt jelas bagi umat manusia, khususnya mrk yg hidup di daerah yg bisa mendengarkan langsung suara “trompet” itu, bahwasannya proses transisi zaman akan terjadi lagi. Bumi akan mengalami revolusi dan perubahan drastis yg amat dahsyat.. Pemurnian total akan terjadi dan kali ini akan lebih dahsyat dr yg pernah terjadi dimasa lalu dan akan dirasakan oleh semua makhluk yg hidup di muka Bumi ini, tak peduli ras, bangsa, jenis dan golongannya.. Karena saking mengerikannya peristiwa itu nanti, makanya sudah diingatkan sejak bbrp tahun silam. Tujuannya agar manusia bisa benar” Sadar dan segera mempersiapkan dirinya, terutama batinnya yg berhubungan dg kebaikan dan keimanan yg murni. Sebab bencana itu teramat dahsyat dan sgt mengerikan, makanya diingatkan, di tegur berulang kali sejak bbrp tahun ini, khususnya di 15 tahun belakangan.
        Suara “trompet” itu dibunyikan oleh Pasukan Langit yg berasal dari divisi sains dan teknologi. Artinya, di antara mrk itu (Pasukan Langit) ada yg sgt ahli dalam urusan sains dan teknologi, jauh melebihi peradaban kita di Bumi ini. Karenanya mrk pun datang dg armada pesawat antariksa yg super canggih, lebih canggih dari yg di film star wars dan star trek deh.. Dan dalam hal ini, mrk tentu juga membawa misi khususnya sendiri, salah satunya utk menunjukkan ttg keagungan Tuhan bagi mrk yg selama ini telah menyembah teknologi.. Bahwasanya dg membangun teknologi yg canggih itu seharusnya manusia tidak tunduk atau bahkan menyembah teknologi, karena seharusnya justru semakin mendekatkan dan menyadarkan diri manusia akan kebesaran dan kemuliaan Tuhannya. Pasukan Langit akan membuktikan hal itu di hadapan semua manusia bumi, saat waktunya tiba nanti..
        Kita liat aja nanti mas Wowo, benar ato salah biarlah waktu yg membuktikannya.. Saya hanya bisa menyampaikan sebatas yg saya dikasih tau.. Tugas saya adalah mengingatkan dan mengajak pada kebaikan saja. Benar salah ya liat aja nanti.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s