Kerajaan Aryawina: Kejayaan dan Kehancuran Leluhurku

Wahai saudaraku. Pada pertengahan periode zaman keenam (Nusanta-Ra), atau sekitar ±425.000 tahun silam berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Aryawina. Kerajaan ini terbilang sangat besar dan memiliki wilayah yang sangat luas karena meliputi daerah mulai dari negara Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kepulauan Andaman, Vietnam, Kambodia, Laos, Malaysia, Selat Malaka, Laut Karimata, Laut Jawa, sebagian dari Laut China Selatan, pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa sekarang. Dan pada masa itu, bisa dikatakan bahwa kerajaan Aryawina ini adalah sebuah kekaisaran yang besar.

Kehidupan di kerajaan Aryawina ini penuh dengan kemakmuran dan keamanan. Siapapun yang hidup didalamnya akan merasakan kebahagiaan lantaran semua kebutuhan hidupnya bisa terpenuhi. Selain dengan bangsa-bangsa yang ada di Mallayara (penamaan Nusantara di masa itu), mereka juga telah berinteraksi dengan bangsa-bangsa dari belahan Bumi lainnya, seperti mereka yang hidup di daratan Syanin (China), Widrah (India), Hirab (Timur Tengah) dan Masri (Afrika bagian utara).

Untuk lebih jelasnya, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Asal usul kaum
Secara geneologi, kaum ini tetap berasal dari Ayahanda Adam AS tapi dengan pola penyebarannya sendiri. Ceritanya sangat panjang, dan tidaklah mungkin bagi kami untuk harus menyebutkan satu-persatu dari semuanya itu disini. Silsilah kaum ini tetap sampai kepada Ayahanda Adam AS, karena semua manusia itu berasal darinya. Namun karena keterbatasan ruang, disini kami hanya akan menjelaskan garis silsilah dari kaum ini sampai sebanyak satu kali putaran saja. Bermula dari Jawa, lalu ke wilayah Nusantara lainnya, kemudian ke Asia Tenggara lainnya, selanjutnya ke Asia Timur, Asia Tengah, Asia Barat, Eropa Timur, Afrika, Eropa Barat, Asia Selatan, hingga kembali lagi ke Asia Tenggara, pulau Sumatera dan Jawa. Berikut uraiannya:

Kaum Aryawina ini berasal dari kaum yang bernama Birlasya yang hidup selama ±2.750 tahun di wilayah sekitar Jawa Tengah sekarang (pada waktu itu pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Benua Asia masih menyatu). Kaum Birlasya ini berasal dari kaum Camhara yang hidup selama ±2.850 tahun di wilayah Laut Selebes sekarang. Kaum Camhara berasal dari kaum Haskulata yang hidup selama ±1.850 tahun di wilayah antara pulau Maluku dan Papua Barat sekarang. Kaum Haskulata berasal dari kaum Marturia yang hidup selama ±2.800 tahun di wilayah sekitar kepulauan Jepang sekarang. Kaum Marturia berasal dari kaum Balram yang hidup selama ±3.850 tahun di wilayah antara China dan Mongol sekarang. Kaum Balram berasal dari kaum Hisnaro yang hidup selama ±2.755 tahun di wilayah Russia sekarang. Kaum Hisnaro berasal dari kaum Magnara yang hidup selama ±3.250 tahun di wilayah Uzbekistan sekarang. Kaum Magnara berasal dari kaum Hirdakul yang hidup selama ±2.250 tahun di wilayah antara Iraq dan Iran sekarang. Kaum Hirdakul berasal dari kaum Dirtasila yang hidup selama ±2.825 tahun di wilayah Yordania sekarang. Kaum Dirtasila berasal dari kaum Simtamia yang hidup selama ±2.650 tahun di wilayah Turki sekarang. Kaum Simtamia berasal dari kaum Himania yang tinggal selama ±1.975 tahun di wilayah Yunani sekarang. Kaum Himania berasal dari kaum Kistabaya yang hidup selama ±2.620 tahun di sekitar wilayah Tunisia sekarang. Kaum Kistabaya berasal dari kaum Milania yang hidup selama ±3.570 tahun di sekitar wilayah Lybia sekarang. Kaum Milania berasal dari kaum Hurtamah yang tinggal selama ±3.100 tahun di sekitar wilayah Arab Saudi sekarang. Kaum Hurtamah berasal dari kaum Sifir yang tinggal selama ±2.825 tahun di sekitar wilayah antara Pakistan dan Afganistan sekarang. Kaum Sifir berasal dari kaum Mundala yang tinggal selama ±1.567 tahun di sekitar wilayah Syiria/Suriah sekarang. Kaum Mundala berasal dari kaum Milzana yang hidup selama ±1.200 tahun di wilayah antara Mesir dan Libya sekarang. Kaum Milzana berasal dari kaum Kimanupi yang hidup selama ±2.375 tahun di wilayah Yaman sekarang. Kaum Kimanupi berasal dari kaum Hardipo yang hidup selama ±2.100 tahun di wilayah antara India dan Srilangka sekarang. Kaum Hardipo berasal dari kaum Jizaruwa yang hidup selama ±2.625 tahun di wilayah Myanmar sekarang. Kaum Jizaruwa berasal dari kaum Salusimha yang hidup selama ±2.245 tahun di wilayah Thailand bagian selatan sekarang. Kaum Salusimha berasal dari kaum Miralda yang hidup selama ±3.324 tahun di wilayah Philifina sekarang. Kaum Miralda berasal dari kaum Maluyas yang hidup selama ±4.230 tahun di sekitar wilayah Laos sekarang. Kaum Maluyas berasal dari kaum Kusalayu yang hidup selama ±3.230 tahun di wilayah Kambodia sekarang. Kaum Kusalayu berasal dari kaum Latila yang hidup selama ±3.210 tahun di sekitar wilayah Kalimantan Barat sekarang. Kaum Latila berasal dari kaum Siltaya yang hidup selama ±2.276 tahun di wilayah antara Jambi dan Palembang sekarang. Kaum Siltaya berasal dari kaum Hamigaya yang tinggal selama ±4.873 tahun di sekitar Laut Karimata sekarang. Kaum Hamigaya berasal dari kaum Aryamisa yang tinggal selama ±5.256 tahun di sekitar wilayah Jawa Timur sekarang. Dan begitulah seterusnya sampai berulang kali bolak-balik dari dan ke Nusantara, dan pada akhirnya tentu akan sampai juga kepada Ayahanda Adam AS yang hidup di masa periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra) di kota Bakkah/Makkah.

Lihatlah, bahwa jalur migrasi dari kaum Aryawina ini berasal dari pulau Jawa dan kembali lagi ke pulau Jawa meskipun pernah sampai di daratan Asia, benua Eropa dan Afrika. Adapun migrasi tersebut terpaksa harus di lakukan lantaran kaum mereka sebelumnya telah hancur oleh sebab peperangan atau karena di timpa bencana besar (azab Tuhan). Dan maaf bila kami tidak bisa menyebutkan satu persatu dari semua kaum itu hingga pada awalnya yaitu dari kota Bakkah/Makkah (kaumnya Ayahanda Adam AS), karena akan sangat banyak sekali kaumnya. Tidak cukup bila harus dituliskan disini, karena yang di atas saja sudah sebanyak 28 kaum dan berlangsung selama ±80.431 tahun, lalu bagaimana bila milyaran tahun sejak periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra)? Tentu tidak bisa dituliskan di artikel ini. Untuk itulah, sebaiknya kita lanjutkan saja pada pembahasan berikutnya.

2. Kisah pendirian kerajaan
Pada awalnya kaum Aryawina belum menjadi sebuah kaum tersendiri. Mereka masih menginduk kepada kaum Birlasya yang tinggal di sekitar Jawa Tengah sekarang. Namun kemudian ada seorang pemuda yang bernama Mandalaka yang akhirnya mendirikan kaumnya sendiri. Kaum itu lalu diberi nama Aryawina. Jadi, setelah kaum Birlasya hancur akibat meletusnya gunung Kalbinar (gunung Slamet sekarang), sisa-sisa dari kaum Birlasya ada yang hijrah ke negeri lain. Di lokasi yang masih baru itu, yang masih hutan belantara, mereka lalu mendirikan tempat tinggal. Disana mereka tinggal selama beberapa generasi dengan tetap menyandang nama kaum Birlasya.

Catatan: Gunung Kalbinar adalah asal mula dari gunung Slamet sekarang. Di masa lalu gunung Kalbinar ini memiliki ketinggian sekitar ±5.126 mdpl. Pada saat meletus di masa kehidupan kaum Birlasya, gunung tersebut hancur dan menjadi sebuah kaldera. Seiring berjalannya waktu, di kaldera itu muncullah gunung baru yang disebut Girinara, lalu Kasuya, lalu Jamurdipa, lalu Agung, lalu Gora dan kini disebut dengan nama Slamet. Selama ratusan ribu tahun gunung itu terus bertumbuh dan sekarang memiliki ketinggian sekitar ±3.428 mdpl. Sepanjang sejarahnya gunung Slamet ini juga pernah berulang kali meletus, dan yang terakhir terjadi pada tahun 2009 lalu.

Kisah ini bermula ketika seorang pria bernama Miladaya (seorang bangsawan dan kerabat raja) memberikan nasehat kepada raja kaum Birlasya yang bernama Siramaya untuk membawa kaumnya itu hijrah ke tempat lain. Tujuannya adalah untuk menghindar dari dahsyatnya letusan gunung Kalbinar nanti. Dan menurut wangsit yang telah ia dapatkan, maka negeri mereka akan hancur, sementara mereka yang tetap bersikeras untuk tinggal di kota kerajaan Ramijana (nama kerajaan kaum Birlasya) itu akan ikut binasa. Tak ada yang dapat menghindar dari penghakiman itu, karena siklus kehidupan harus berganti lagi.

Tapi, sebagaimana kaum terdahulu yang telah hancur, maka kaum Birlasya ini juga sama. Raja Siramaya tidak mengindahkan peringatan itu. Miladaya yang berniat baik justru dimusuhi dengan berbagai fitnah yang keji. Ia dituduh menyebarkan kabar bohong yang bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan sang raja. Meskipun tak semua orang percaya dengan fitnah itu, keadaan di dalam negeri menjadi panas. Semakin lama justru bertambah gaduh karena Miladaya dan pengikutnya terus ditekan dalam berbagai sisi kehidupan. Atas dasar itulah, akhirnya Miladaya memutuskan untuk hijrah bersama pendukungnya ke tempat lain. Di tengah perjalanan, setelah ber-semedhi selama 2 hari, ia mendapatkan petunjuk lokasi dimana ia dan pendukungnya itu harus tinggal (menetap).

Setelah kondisi di dalam negeri semakin pelik sementara raja Siramaya terus saja mendesaknya dengan berbagai tuduhan, akhirnya Miladaya harus mengajak keluarga dan pendukungnya untuk segera hijrah. Agar tidak terlalu kelihatan, mereka memulai perjalanan itu di malam hari. Setelah 10 hari berjalan, atas petunjuk yang telah didapatkan sebelumnya, ia lalu memimpin rombongannya itu menuju ke sebuah hutan yang berada di antara Malaysia dan Thailand sekarang. Saat itu disana tidak ada kerajaan yang menguasainya (tanah kosong). Tanah itu masih alami dan tanpa ada pemiliknya. Sesampainya disana, selang dua hari kemudian barulah mereka mulai membabat hutan dan berusaha mendirikan kediaman dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar hutan itu.

Kehidupan di tempat yang baru itu terbilang aman dan damai. Terdapat sungai yang mengalir deras, sumber air minum dan yang bisa mengeluarkan air asin (untuk membuat garam) dan tanah yang subur. Dan karena mereka pernah hidup di sebuah negeri yang makmur, maka semua kemampuan dalam mengolah tanah lalu mereka terapkan disana. Awalnya semua hasil penen hanya dipergunakan untuk memenuhi semua kebutuhan hidup mereka sendiri. Tapi setelah 10 tahun berlalu, mereka mulai menjual hasil panen itu ke beberapa kerajaan yang ada. Meskipun jauh, dengan tekun dan sabar mereka tetap membawa hasil panenan itu dengan menggunakan kereta kayu. Dan ternyata hasilnya cukup lumayan untuk bisa memenuhi setiap kebutuhan warga di desa mereka.

Singkat cerita, begitulah selama beberapa generasi kehidupan kaum Birlasya ini berlangsung. Setelah merasa cukup, Miladaya lalu memutuskan untuk menjauh dari kehidupan duniawi. Ia merasa sudah waktunya untuk mengasingkan diri dan akhirnya moksa. Jabatan pemimpin kaum lalu diserahkan kepada anaknya yang bernama Siradaya. Setelah merasa cukup, Siradaya menyerahkan jabatan itu kepada anaknya yang bernama Hidaraya. Dari Hidaraya lalu diserahkan kepada anaknya yang bernama Maridahaka. Nah di masa Maridahaka inilah pada akhirnya nanti jabatan sebagai pemimpin kaum Birlasya lalu diserahkan kepada anaknya yang bernama Mandalaka. Mandalaka sendiri bisa mendirikan kaum dan kerajaannya sendiri, yang bernama Aryawina.

Waktu pun berlalu selama hampir 700 tahun. Meskipun hanya sebagai sebuah kelompok masyarakat, keadaan kaum Birlasya tetap dalam kemakmuran. Hanya saja keadaan yang seperti itu tak membuat Mandalaka bin Maridahaka puas. Ia merasa bahwa kaumnya itu bisa lebih dari itu, karena memang mereka dulu adalah kaum yang besar dan terpandang di zamannya. Atas perasaan itulah, akhirnya Mandalaka memutuskan untuk berpetualang mencari ilmu dan pengalaman hidup ke negeri lain. Dengan bekal ilmu dan pengalaman yang cukup nanti, ia merasa bisa membangkitkan kejayaan dari kaumnya sekali lagi.

Lalu atas restu dari kedua orang tuanya, Mandalaka pergi ke arah utara sampai ke daratan China, ke barat sampai ke tanah India dan akhirnya balik ke tenggara sampai ke tanah Kalimantan, Jawa dan Sumatera sekarang. Selama beberapa tahun ia berpetualang ke berbagai negeri untuk mencari orang pintar dan berguru kepadanya. Dan karena memang niatnya baik, maka segala yang diinginkan telah di dapatkan. Beberapa orang begawan yang berilmu tinggi bersedia menjadi gurunya. Oleh mereka itu, Mandalaka lalu diajari berbagai ilmu pengetahuan seperti agama, hukum ketatanegaraan, ekonomi, perhitungan, perbintangan (astronomi), pertanian, dan tentunya kesaktian. Karena Mandalaka adalah sosok pemuda yang cerdas dan sangat berbakat, hanya dalam waktu singkat ia bisa menguasai semua disiplin ilmu tersebut. Hanya tinggal kini ia harus lebih memperdalam ilmu kanuragan dan kadigdayan-nya saja.

Suatu ketika Mandalaka yantrik di pertapaannya Resi Miharima yang berada di sekitar Jambi-Riau sekarang. Disana, oleh sang begawan ia lalu ditempa keras dalam berbagai ilmu kesaktian untuk bekal hidupnya nanti. Dan Resi Miharima sendiri sudah mengetahui bahwa suatu saat nanti Mandalaka akan menjadi seorang raja besar yang sangat disegani di seluruh Mallayara (penamaan Nusantara saat itu). Hanya saja sampai latihan dan pelajarannya selesai, sang begawan tidak pernah menceritakan tentang hal itu kepada sang pemuda.

Berbagai kesaktian sudah Mandalaka kuasai, seperti terbang, menghilang, masuk ke dalam Bumi, mengubah-ubah wujud dan mengendalikan elemen alam. Semuanya tidak ia dapatkan hanya dari Resi Miharima saja, tetapi juga dari Resi yang lainnya yang tinggal di Syanin (China), Widrah (India), dan Hirab (Timur Tengah). Hanya saja memang Resi Miharima adalah orang yang paling banyak menempa Mandalaka dalam urusan ilmu kebatinan dan kesaktian. Karena itulah, setelah pelajarannya berakhir, sang begawan lalu menjelaskan apa yang seharusnya di lakukan oleh sang pemuda demi masa depannya nanti. Resi Miharima lalu menyarankan agar Mandalaka pulang ke desanya. Tapi sebelum tiba disana, ia harus menjalankan tapa brata selama beberapa tahun. Dan karena niatnya sejak awal adalah ingin membangkitkan kejayaan kaumnya lagi, maka jadikanlah itu juga sebagai niat utama dalam tapa brata-nya itu.

Waktu pun berlalu, kini tibalah saatnya Mandalaka untuk berpisah dengan gurunya. Sebelum pergi, Resi Miharima memberikan sebilah keris pusaka bernama Ristala dan busur panah sakti bernama Minaris kepada Mandalaka sebagai kenang-kenangan dan bekal perjuangannya nanti. Selama perjalanan pulang, Mandalaka sempat singgah di sebuah negeri yang kondisinya mengagumkan. Negeri tersebut bernama Yarimaya, yang sekarang berada di sekitar Malaka. Disana ia menyaksikan kehidupan penduduk yang sangat makmur dan berperadaban tinggi. Hanya saja, mereka tak lagi peduli dengan hukum Tuhan, bahkan dengan Tuhan pun mereka sudah tak lagi mengenalnya. Mereka tak menyembah apapun atau siapapun (ateis). Hidup mereka diatur oleh kebijakan rajanya saja. Karena itu, tak heran bila di negeri itu kemaksiatan telah merajalela.

Tapi karena niat utamanya adalah pulang ke kampung halamannya demi memenuhi nasehat dari gurunya, Mandalaka hanya singgah sebentar saja di Yarimaya. Setelah merasa cukup, ia segera meninggalkan negeri itu dan terus berjalan ke arah barat. Selang beberapa waktu, sebelum tiba di desanya Mandalaka sampai di sebuah hutan yang sangat lebat. Tak ada manusia yang mau datang kesana, sebab hutan itu pun terkenal dengan ke angkerannya. Meskipun begitu, kondisi disana sebenarnya sangat indah dan menyejukkan mata. Ada pula bukit yang menjulang tinggi dan ditumbuhi oleh pohon-pohon rindang yang sangat besar. Tepat dibawah bukit tersebut ada sebuah air terjun yang sangat jernih airnya. Mengikuti kata hatinya, Mandalaka lalu memutuskan bahwa disanalah ia akan menjalankan tapa brata sesuai dengan saran dari Resi Miharima.

Singkat cerita, selama 10 tahun Mandalaka menjalankan tapa brata. Selama itu, ada empat cara yang harus ia lakukan. Satu tahun pertama ia harus ber-tapa dengan cara ngalong di atas cabang pohon. Artinya ia harus ber-tapa brata dengan posisi kaki di atas (menempel pada cabang pohon), sementara kepalanya berada dibawah. Tiga tahun berikutnya ia harus ber-tapa dengan cara duduk bersila. Selanjutnya pada tiga tahun berikutnya ia harus ber-tapa dengan cara berdiri di atas kedua kakinya. Dan yang terakhir ia harus ber-tapa brata selama 3 tahun dengan cara berdiri di atas kaki satu. Semuanya harus di lakukan tanpa jeda sehari pun.

Selama ber-tapa, tentu banyak godaan yang datang menguji keteguhan hati Mandalaka, seperti cuaca yang ekstrim dan angin kencang. Tak jarang pula makhluk halus penghuni hutan datang mengganggu dan bersikap jahil. Tapi karena Mandalaka sudah berniat dan ia juga telah dibekali ilmu yang cukup, maka semua ujian itu dapat dilalui. Bahkan semakin lama dari dalam tubuhnya memancar aura yang begitu besar. Dan di tahun yang ke sepuluh, dari tubuh Mandalaka terpancar cahaya yang terang ke sepenjuru hutan. Pada saat itulah, tak ada lagi makhluk halus atau kasar yang berani mendekatinya. Semua akan menyingkir dan hanya bisa melihat sosok pemuda yang mengagumkan itu dari kejauhan saja.

Dan pada akhirnya, terjadilah hal yang tak di sangka-sangka sebelumnya. Dari Kahyangan turunlah seorang Bhatara yang bernama Simaratria tepat dihadapan Mandalaka yang sedang ber-tapa brata. Sang Bhatara lalu berbicara: “Bangunlah hai pemuda kesatria. Tapa brata-mu telah usai dan kini sudah waktunya mendapatkan hasilnya. Apa yang kau inginkan akan tercapai. Bangunlah, dan nikmatilah anugerah ini”

Mendengar perintah itu, Mandalaka akhirnya membuka mata. Di lihatnya bahwa saat itu ada sosok rupawan yang berdiri tepat dihadapannya. Bentuk fisiknya tegap dan menawan. Sosok tersebut tidak mengenakan pakaian berjahit kecuali hanya selembar kain yang berwarna putih bercampur biru dan keemasan yang diselempangkan di pundak dan juga menutupi sebagian dadanya. Celananya terbuat dari selembar kain warna putih kebiruan yang dibalutkan ke pinggang dan kaki, membentuk seperti celana panjang. Ia juga mengenakan mahkota, anting, kalung, ikat pinggang, gelang tangan dan kaki, dan sepatu yang semuanya berwarna keemasan dilengkapi batu-batu permata. Dari dalam tubuhnya memancar cahaya yang terang sekaligus menyejukkan. Belum pernah Mandalaka melihat sosok yang sebagus itu. Karena itu, sesaat kemudian ia segera bersimpuh dihadapan sang Bhatara untuk menghormatinya.

Bhatara Simaratria lalu meminta Mandalaka berdiri dan mendekat kepadanya. Setelah dekat, tanpa berkata-kata sang Bhatara lalu menurunkan kesaktian kepada sang pemuda. Dalam waktu singkat, ilmu itu telah menyatu ke dalam diri Mandalaka. Setelah menurunkan ilmunya, Bhatara Simaratria lalu berpesan, katanya: “Ananda Mandalaka. Apa yang ku turunkan kepadamu ini sudah menjadi hakmu. Kau bisa mendapatkannya atas laku tapa brata-mu yang sungguh-sungguh. Ilmu ini akan berguna untukmu dalam berbagai keperluan, tapi tak bisa digunakan untuk sesuatu yang jahat. Tidak pula bisa diturunkan lagi. Maka pergunakanlah dengan bijak, dan jangan pernah kau merasa memilikinya. Jangan pula merasa bangga dengan apa yang telah kau dapatkan. Karena sejatinya kau sendiri bukan siapa-siapa dan tetap akan seperti itu. Kepada Hyang Aruta (Tuhan YME)-lah sebaiknya kau bersyukur dan berserah diri sepenuhnya. Karena tak ada yang abadi, tak ada yang sakti kecuali Dia”

Mendapati penjelasan seperti itu, Mandalaka hanya bisa tertunduk dan menekur diri. Tak terasa airmatanya menetes karena merasa masih memiliki banyak kesombongan. Ia pun berpikir apakah layak menerima anugerah itu. Melihat itu sang Bhatara hanya tersenyum, lalu melanjutkan kata-katanya: “Wahai kesatria. Bersemangatlah! karena tugas besar sudah menantimu. Bangkitlah dan teruslah berusaha dalam kesabaran. Dan jika kau ingin mendirikan sebuah kerajaan bagi kaummu, maka ber-tapa brata lah sekali lagi. Lakukan selama 5 tahun dengan cara berdiri. Jika tapa brata-mu memenuhi syarat, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Hyang Aruta (Tuhan YME) akan merestuimu”

Begitulah pesan yang disampaikan oleh sang Bhatara. Setelah mengatakan itu, ia lalu memberikan sebilah tongkat pusaka yang bernama Syilmarasya kepada Mandalaka. Tongkat itu merupakan tongkat kekuasaan untuk seorang raja besar, yang bisa memimpin dunia. Setelah memberikan itu sang Bhatara kembali berpesan, katanya: “Wahai kesatria. Ini adalah tongkat kekuasaan yang bisa dipegang oleh mereka yang berhak dan layak. Jadikan ia sebagai simbol kekuasaan dan kepemimpinanmu nanti. Dan nanti di kemudian hari, siapapun yang mampu memegangnya adalah yang berhak meneruskan kepemimpinanmu. Tapi jika sudah tak ada lagi yang bisa, maka ia akan hilang dengan sendirinya. Jika itu sampai terjadi, waspadalah! sebab akan terjadi huru-hara dan kehancuran besar. Keturunanmu akan kembali terpecah belah dan terpuruk”

Setelah mengatakan itu, Bhatara Simaratria lalu kembali ke Kahyangan. Tinggallah Mandalaka yang masih tak percaya bahwa ia baru saja mendapatkan anugerah yang tak terkira sebelumnya. Dan sebagai seorang pemuda yang patuh, ia lalu melanjutkan tapa brata-nya di hari itu juga. Selama 5 tahun lebih ia ber-tapa brata dengan cara berdiri menghadap ke arah barat.

Singkat cerita, saat tapa brata-nya sudah lebih dari lima tahun, satu kejadian luar biasa pun terjadi lagi. Dari Kahyangan turunlah seorang Dewi yang bernama Sanggarwani. Sang Dewi turun dari Kahyangan atas perintah dari raja para Dewa disana. Setelah berada di hadapan Mandalaka, Dewi Sanggarwani lalu berkata; “Bangunlah wahai kesatria. Sudah cukuplah tapa brata yang harus kau lakukan. Bangunlah untuk menerima apa yang sudah menjadi hakmu selama ini”

Mendengar perintah itu Mandalaka perlahan membuka matanya. Dihadapannya saat itu sudah ada sosok yang begitu rupawan dan cantik. Seumur hidupnya, Mandalaka belum pernah melihat sosok wanita yang secantik itu. Ia terlihat sangat anggun sekaligus berwibawa. Senyumannya sangat menawan dan meneduhkan hati. Dan seperti Bhatara Simaratria, dari dalam tubuh sang Dewi juga memancar cahaya yang terang. Oleh sebab itu, sama ketika bertemu dengan Bhatara Simaratria, segera saja Mandalaka bersimpuh dihadapan sang Dewi sebagai tanda hormat.

Melihat itu, Dewi Sanggarwani hanya tersenyum lalu berbicara; “Wahai ananda. Apa yang kau inginkan akan segera terwujud. Itu memang sudah menjadi hak dari kelahiranmu. Namun demikian, kau harus tetap menjalani kodrat kehidupan dunia ini. Kau harus tetap berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendapatkannya. Karena Hyang Aruta (Tuhan YME) itu amat suka dengan hamba yang gemar berusaha dan berserah diri. Karena itu, tetaplah engkau seperti ini dan jangan pernah lupa tentang siapa dirimu yang sebenarnya. Kau bukanlah siapa-siapa meskipun nanti bisa memiliki apa-apa. Tidaklah hebat dirimu, selain hanya atas izin dan kehendak-Nya saja. Maka teruslah bersikap rendah hati, pandai bersyukur dan tunduk patuh hanya kepada-Nya saja. Sebab tiada yang kuasa, tiada yang mulia selain Dia”

Mendengar itu, Mandalaka hanya bisa terdiam sambil menangis tersedu. Melihat itu sang Dewi hanya tersenyum lalu melanjutkan kata-katanya: “Ananda Mandalaka. Ketahuilah, bahwa atas petunjuk Hyang Aruta (Tuhan YME), aku akan membantumu mendirikan sebuah istana. Istana itu akan menjadi pusat dari pemerintahanmu. Pimpinlah kaum dan rakyatmu dengan sikap yang benar. Jadilah seorang pemimpin yang teguh dalam memegang amanah dan berusahalah untuk selalu bijaksana. Dengan begitu kau akan tetap menjadi hamba-Nya yang beriman”

Setelah mengatakan itu, tiba-tiba Mandalaka dan Dewi Sanggarwani berpindah ke tempat lain, ke sebuah lembah yang menghijau. Disana terdapat tanah datar yang cukup luas, yang berada di tengah hutan belantara. Tak lama kemudian, sang Dewi mengheningkan cipta seperti memohon kepada Tuhan. Setelah itu, hanya dengan menepuk satu kali permukaan tanah, tiba-tiba di depan mereka muncul sebuah istana yang sangat megah. Seluruh bangunannya terbuat dari berbagai jenis batu yang mengkilat (sejenis marmer, giok dan pualam), bahkan emas, perak dan permata. Tak ada sambungan pada setiap sudut bangunannya, seolah-olah istana itu berasal dari satu bongkahan batu raksasa yang dipahat. Pada setiap puncak kubah istana itu terdapat kristal yang bisa memancarkan cahaya terang pada malam hari. Di istana itu juga terdapat banyak taman bunga dan buah-buahan yang indah. Ada banyak pula air mancur dan kolam hias di beberapa sudut taman istana. Lalu tepat di belakang bangunan utama istana, ada sebuah telaga yang airnya sangat jernih. Di atas telaga itu pun berdiri satu bangunan tanpa dinding yang sangat indah. Di atas tiang-tiangnya yang berjumlah puluhan, bangunan itu seolah-olah mengambang di atas air. Di kemudian hari, bangunan ini sering dipergunakan untuk jamuan makan atau pentas seni dalam skala kecil.

Ya, keindahan komplek istana itu akan membuat siapapun yang melihatnya terpana. Begitulah kondisi Mandalaka yang saat itu hanya bisa terkagum tak percaya. Sungguh indah istana itu dan belum pernah ia melihat bangunan yang seperti itu walau telah banyak negeri yang ia kunjungi selama ±25 tahun petualangannya. Setelah semuanya muncul dihadapan mereka, Dewi Sanggarwani lalu berpesan: “Ananda Mandalaka. Bersyukurlah atas anugerah ini. Bersyukurlah hanya kepada-Nya saja. Aku hanya sebagai perantaranya saja, bukan yang menciptakannya. Dan ada satu syarat yang harus kau tunaikan nanti. Setelah tinggal di istana Mur`ainun ini, kau harus segera membangun kejayaan kaummu. Setelah itu, pikirkanlah cara untuk bisa memperbaiki keadaan di negeri Yarimaya karena mereka telah ingkar. Kepada raja dan rakyatnya, berilah teguran yang halus untuk kembali ke jalan yang benar. Jika mereka menolak, maka berilah ancaman dengan menceritakan kisah kehancuran kaum-kaum terdahulu. Dan jika mereka masih tetap menolaknya, maka perangilah mereka. Taklukkan negeri Yarimaya, karena itu adalah hukuman yang pantas bagi mereka”

Mendapati penjelasan itu, Mandalaka hanya bisa berkata siap. Dan karena ia pernah singgah di negeri itu serta melihat kerusakan yang terjadi disana, maka tak ada alasan baginya untuk tidak mengikuti petunjuk dari sang Dewi. Dengan semangat ia akan melaksanakan tugas itu. Semua demi keadaan yang lebih baik, dan ia memang tak menyukai pembangkangan, terutama kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Mengetahui hal itu, sang Dewi merasa puas dan akhirnya ia kembali ke Kahyangan. Tinggallah Mandalaka seorang diri yang masih terkagum-kagum dengan keindahan bangunan istana Mur’ainun itu. Selang beberapa waktu, ia baru kembali ke desanya untuk mengajak keluarga dan rakyatnya untuk tinggal di kota yang baru itu. Atas petunjuk dari para leluhurnya, maka nama kaum Birlasya harus diubah menjadi Aryawina atau yang berarti mulia dan berjaya. Nama ini sama dengan nama kerajaan yang ia bangun nanti. Tujuannya sebagai bentuk kebangkitan dari kaum leluhurnya dulu, khususnya yang bernama Aryamisa.

3. Utusan istimewa
Di istana Mur’ainun semua kebijakan segera di pusatkan. Apa yang penting diutamakan, sementara yang lainnya akan menyusul kemudian. Atas kerja keras dan kesabaran, maka hanya dalam waktu yang relatif singkat, kaum Birlasya bisa membangun kejayaan kaumnya lagi. Dari tahun ke tahun, keadaan ekonomi tumbuh semakin membaik. Begitu pula dengan urusan pendidikan, agama, dan kesehatan selalu diutamakan bagi setiap penduduk. Dan tak ketinggalan pula dengan urusan militer yang juga selalu ditingkatkan, baik kemampuan dari para prajuritnya atau pun peralatan perangnya. Semuanya telah diperhitungkan dengan detil dan dikelola dengan sangat baik. Tentunya bertujuan untuk kemananan dan kedaulatan negara mereka. Karena itulah kehidupan kaum Aryawina pun menjadi sangat makmur dan sejahtera.

Waktu pun berlalu selama 10 tahun. Setelah ayahnya memutuskan untuk moksa, Mandalaka menjadi pemimpin bagi kaum Birlasya. Ia lalu memakai gelar raja dengan nama Sri Maharaja Arya Hismara Mandalaka Pasya. Dalam waktu singkat sudah banyak pembangunan yang telah dicapai, baik itu di darat maupun di air (sungai, laut). Lalu sesuai dengan petunjuk dari para leluhurnya, nama kaum harus diganti menjadi Aryawina atau yang berarti mulia dan berjaya. Nama ini juga menjadi nama resmi dari kerajaannya. Sementara nama ibu kota kerajaan adalah Din Amartah atau yang berarti kota yang indah dan makmur.

Selanjutnya, sesuai dengan petunjuk dari Dewi Sanggarwani, maka Mandalaka segera memberikan peringatan kepada kerajaan Yarimaya untuk kembali ke jalan yang benar. Kepada rajanya yang bernama Danhima, ia lalu mengirim surat yang isinya menyarankan agar mereka segera meninggalkan kekufuran yang telah sekian lama di lakukan. Tapi karena tak di tanggapi dengan serius, maka pada kesempatan yang kedua Raja Mandalaka menyampaikan kisah kehancuran kaum-kaum terdahulu. Tentang bagaimana mereka itu dihancurkan akibat dari kemaksiatan dan kekufuran yang telah mereka lakukan. Hukum Tuhan yang universal selalu berlaku bagi siapapun yang ingkar pada setiap perintah dan larangan-Nya, cepat atau lambat, dan dalam bentuk yang berbeda-beda.

Tapi, semua upaya dalam mengingatkan itu tak begitu ditanggapi oleh raja dan rakyat di negeri kaum Yarimaya. Mereka terlupa diri dan tak lagi menyadari kesalahan diri mereka sendiri. Setiap hari tetap saja kekufuran merajalela dan mereka larut di dalamnya. Sepanjang tahun tetap saja mereka anti pada aturan agama dan anti pula kepada Tuhan. Mereka hanya percaya pada diri mereka sendiri. Tak ada yang mereka ikuti kecuali hukum yang mereka buat sesuka hatinya. Karena itulah, perbuatan maksiat seperti perzinahan, homo dan lesbi semakin marak di tengah-tengah kehidupan mereka. Mabuk minuman keras, korupsi, curang dalam dagang, sifat kikir, dusta, serakah dan sombong juga terus menjangkiti kehidupan kaum Yarimaya ini. Tak ada lagi yang bisa diharapkan, karena kebaikan telah hilang dari hati mereka.

Setelah 1,5 tahun berlalu, suatu ketika Mandalaka kedatangan seorang utusan dari kerajaan tetangga. Saat itu yang datang adalah seorang kesatriawati yang bernama Hayanisa. Ternyata ia adalah seorang putri dari raja Misalmani, penguasa di kerajaan Winangun (di sekitar antara Riau dan Sumatera Utara sekarang). Adapun tujuan dari kedatangannya saat itu adalah meminta bantuan karena negerinya sedang diserang oleh kaum Yarimaya. Dengan segala kerendahan hatinya, sang putri berharap agar Raja Mandalaka bersedia memenuhi permintaannya itu.

Untuk itu, karena telah mendapat arahan dari Dewi Sanggarwani, juga oleh kelembutan hatinya sendiri, Raja Mandalaka segera memenuhi permintaan itu. Ia pun merasa memang sudah waktunya harus angkat senjata untuk memberantas kebatilan dari kaum Yarimaya itu. Jika dibiarkan, maka hanya akan mendatangkan kebatilan yang semakin banyak. Untuk itu, segera saja ia memerintahkan kepada panglimanya untuk mempersiapkan prajurit tempur dan semua peralatan perang kerajaannya. Tujuan mereka adalah menyelamatkan kerajaan Winangun dari kezaliman kaum Yarimaya. Jika memungkinkan, karena merekalah keadilan Tuhan akan ditegakkan. Kaum Yarimaya yang telah ingkar itu akan ditumpas habis.

Selang 1 hari, setelah semuanya lengkap, Raja Mandalaka segera memimpin pasukannya bergerak menuju kerajaan Winangun. Tidak kurang dari 75.000 orang pasukan pria dan wanita berada dibawah pimpinannya. Mereka berjalan dengan langkah yang penuh semangat. Sepanjang perjalanan, saat mereka sedang beristirahat, Putri Hayanisa menjelaskan kepada Raja Mandalaka tentang seluk beluk kondisi negerinya. Kerajaan Winangun itu berada di sebuah lembah yang diapit perbukitan. Ibu kota kerajaannya dilindungi oleh dinding yang tebal. Karena itu sangat sulit bagi kaum Yarimaya untuk bisa menaklukkannya. Tapi jika sudah dikempung terlalu lama, tentu pada akhirnya kerajaan Winangun harus menyerah. Masalah pun tidak akan selesai disitu saja, karena tidak menutup kemungkinan bahwa kaum Yarimaya akan membantai penduduk dan menghancur leburkan seisi kota. Itu yang sangat dikhawatirkan oleh sang putri. Tapi karena ia adalah seorang kesatria, maka ia tetap tabah. Hanya saja sebagai wanita yang lembut hatinya, sang putri tak dapat lagi menahan airmatanya.

Waktu pun terus berlalu dan pasukan kerajaan Aryawina terus bergerak cepat. Mereka harus sampai tepat pada waktunya. Karena jika tidak, maka kerajaan Winangun bisa hancur berantakan. Kaum Yarimaya itu sudah terkenal dengan kebengisannya. Jika mereka menyerang satu kerajaan, maka sudah menjadi kebiasaan mereka pula untuk tidak berperikemanusiaan. Sudah banyak kerajaan yang mengalami kebinasaan di tangan pasukan besar itu. Meskipun mereka telah melupakan Tuhan dan agama, tetap saja mereka terkenal kuat dan hebat. Pasukan mereka terlatih dan memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia. Raja, panglima dan para senopati-nya sangat ahli dalam bertempur. Di antara mereka juga terkenal dengan ilmu kesaktiannya. Inilah yang membuat takut setiap lawan mereka di medan perang.

Selain berjalan kaki, pasukan kerajaan Aryawina juga bergerak dengan menggunakan kapal-kapal layar. Saat itu masih terdapat sungai besar yang mengalir dari sekitar daerah Yunnan (di daratan China sekarang) lalu melewati negeri mereka yang berada di sekitar antara Thailand dan Malaysia sekarang, kemudian terus menyusuri Selat Malaka dan pada akhirnya sampai melewati kerajaan Winangun di tanah Swarnala (penamaan pulau Sumatera di masa itu). Sungai besar itu oleh penduduk di sekitarnya diberi nama Gosarda. Ia mengalir sampai akhirnya membelah tanah Jawa dan bermuara di Hidamala (nama Samudera Hindia saat itu) yang berada di bagian selatan. Selain besar dan mengalir sangat panjang, sungai Gosarda ini juga bercabang-cabang. Salah satu cabang yang utama biasa disebut Samilda. Sungai Samilda ini mengalir sampai ke Hidamala (nama Samudera Hindia saat itu) yang ada di bagian barat. Karena itu pula sungai Samilda ini menjadi jalur utama perdagangan kaum Aryawina dengan negara lainnya di dunia. Dan banyak pula pedagang dari negeri lain yang akhirnya sampai ke negeri mereka dengan berlayar melewati sungai Samilda ini.

Melewati jalur sungai Gosarda itu, maka hanya dalam tempo beberapa hari saja pasukan pimpinan Raja Mandalaka sudah tiba di negeri Winangun. Tanpa menunggu waktu lagi, mereka lalu bergerak menuju kota Ashamir (nama ibukota kerajaan Winangun). Sesampainya disana, terang saja mereka bisa langsung melihat ratusan ribu pasukan kaum Yarimaya sudah mengepung benteng kota Ashamir itu. Sudah terjadi bertempuran yang sengit dari kedua belah pasukan selama sebulan lebih. Selama itu, kerajaan Winangun masih tetap berusaha melawan dan bertahan.

Pada saat itu, biasanya para senopati, panglima dan raja akan mengendarai kuda atau sebuah kereta perang. Sisanya, semua prajurit tempur akan dibagi ke dalam beberapa divisi, seperti pasukan pejalan kaki yang bersenjatakan pedang, tombak, gada dan panah (infantri), berkuda (kavaleri) dan persenjataan (artileri). Di luar itu ada pasukan lain yang bertugas dalam urusan logistik dan kesehatan. Semuanya akan berada dibawah pimpinan seorang senopati. Di atas para senopati itu ada seorang panglima yang ditunjuk langsung oleh raja. Raja sendiri adalah sosok yang menjadi pemimpin tertinggi dari semua pasukan. Dibawah titahnya saja pasukan akan bergerak dan masuk ke dalam medan perang.

Ya. Pasukan kerajaan Aryawina ini terlihat gagah dan perkasa. Setiap prajurit mengenakan baju zirah dari besi yang dicampur dengan perak, sementara para senopati dan panglimanya mengenakan baju zirah dari besi berlapis emas dan perak. Perbedaan dari keduanya hanya pada helmnya saja, karena milik dari panglimanya lebih bagus dan lebih detil ukirannya. Sedangkan untuk Raja Mandalaka sangat jauh berbeda dari semua pasukannya. Ia baru akan mengenakan baju zirah menjelang pertempuran atau memang dibutuhkan saja. Dan baju zirah itu bisa muncul dengan sendirinya, sebab pelindung tubuh itu adalah pusaka sakti pemberian dari Bhatara Simaratria.

Selain itu, kerajaan Aryawina ini telah memiliki dua bendera resmi negara yang berwarna putih dan merah. Keduanya memiliki nama dan fungsinya sendiri. Di tengah bendera itu terdapat lambang dari negara mereka. Sehingga terlihat menawan bila dikibarkan. Nah pada saat terjun ke medan pertempuran, maka kedua bendera itu akan dibawa serta bersama panji-panji pasukan yang dimiliki oleh setiap divisi. Bendera merah akan dibawa oleh pasukan raja dan panglima, sedangkan bendera warna putih akan dikibarkan di tenda raja dan pasukannya. Selain kedua bendera itu, terdapat pula panji-panji yang berwarna biru untuk pasukan infantri (pejalan kaki), hijau untuk pasukan kavaleri (berkuda), hitam untuk pasukan artileri (persenjataan), dan kuning untuk divisi kesehatan. Sedangkan untuk divisi logistik mereka memakai panji-panji yang berwarna jingga. Di tengah semua panji-panji itu terdapat lambang negara dan simbol divisi pasukan masing-masing. Sungguh menarik dan meriah.

4. Menaklukkan kaum pembangkang
Sebelum sampai di negeri Winangun, Raja Mandalaka mengatur siasat dengan membagi pasukannya sebanyak tiga kelompok. Setiap pasukan lalu di perintahkan untuk berada di ketiga arah saat akan menyerang pasukan kaum Yarimaya. Penyerangan di lakukan secara bertahap. Pasukan yang pertama kali menyerang adalah yang berada di tengah. Mereka pun akan bergerak secara bertahap, alias hanya sebagiannya saja yang maju terlebih dulu, sementara yang sisanya harus bersembunyi dulu dan baru akan menyerang setelah mereka mendapatkan isyarat. Rombongan pasukan ini juga bertugas untuk memecah belah kekuatan musuh dengan cara membagi dua pasukan kaum Yarimaya itu. Setelah itu, pada saat pasukan kaum Yarimaya sedang fokus dalam menghadapi serangan pasukan tengah, barulah pasukan yang berada di sayap kanan akan maju secara tiba-tiba dari persembunyiannya. Hal ini jelas akan memecah konsentrasi dan membuat pasukan kaum Yarimaya bingung. Dalam kondisi seperti itu, maka pasukan yang berada di sayap kiri – yang juga bersembunyi – akan maju dan membuat keadaan semakin kacau balau dan pasukan kaum Yarimaya tambah bingung. Nah disaat pasukan kaum Yarimaya sedang dalam kekalutan dan terpecah belah seperti itulah pasukan lapis kedua yang berada disisi tengah (yang sedang bersembunyi) harus melakukan serangan penghabisan. Dengan strategi itu, diharapkan pasukan kaum Yarimaya bisa ditaklukkan.

Saat itu, pasukan kaum Yarimaya berjumlah lebih dari 200.000 orang. Semuanya terlatih berperang, dan memang sudah biasa berperang. Namun demikian, itu tak lantas membuat nyali dari pasukan Raja Mandalaka menjadi ciut. Mereka yakin bahwa mereka sedang berada dijalan yang benar dan Tuhan pasti akan membantu usaha mereka. Terlebih mereka pun merasa bahwa sudah waktunya kaum Yarimaya itu menerima balasan atas semua kejahatan mereka selama ini. Hukum Tuhan akan berlaku dan mengadili siapapun yang ingkar kepada-Nya. Salah satu caranya adalah dengan dihabisi dalam pertempuran besar.

Ya. Raja dan penduduk yang tinggal di negeri kaum Yarimaya itu (pria dan wanita) sudah terlalu sombong dalam kehidupan duniawinya. Selain tak lagi mengindahkan aturan Tuhan, mereka juga sering menyerang bangsa lain yang bahkan tak pernah berurusan dengan mereka. Pokoknya mereka serang saja negeri lain itu, entah karena ingin mengeruk kekayaan negerinya atau hanya sekedar ingin menunjukkan kekuatan mereka atau untuk sekedar memperluas wilayah kerajaannya. Keserakahan telah menguasai diri mereka, sehingga sudah waktunya pula untuk dihentikan. Mereka akan menerima balasan yang setimpal atas semua kejahatan mereka sendiri.

Kembali ke negeri Winangun. Strategi perang yang di rancang oleh Raja Mandalaka segera di laksanakan. Pasukan yang berjumlah ±75.000 orang itu langsung dibagi tiga. Setiap kelompok segera bergerak ke arah yang telah disepakati. Mereka dipimpin oleh seorang senopati, kecuali pasukan yang berada dibagian tengah. Dalam pasukan itu terdapat dua orang pemimpin. Yang pertama, yang akan menyerang terlebih dulu dibawah pimpinan Raja Mandalaka. Sementara yang lapis keduanya dipimpin oleh Putri Hayanisa. Di dalam rombongan pasukan ini banyak terdapat prajurit wanita yang sangat terlatih. Sebagian dari kerajaan Aryawina, sisanya dari pasukan pengawal sang putri sendiri.

Sebelum memulai penyerangan, Raja Mandalaka memerintahkan seorang pengawal Putri Hayanisa untuk menyusup ke dalam istana kerajaan Winangun melalui jalan rahasia. Tujuannya adalah untuk memberi kabar kepada raja Misalmani tentang kedatangan pasukan kerajaan Aryawina. Di hari yang ditentukan, semua pasukan kerajaan Winangun harus sudah siap untuk bertempur tapi tetap bersembunyi di dalam benteng kerajaannya. Saat terjadi pertempuran nanti, setelah aba-aba dari Raja Mandalaka diberikan, pasukan kerajaan Winangun harus segera keluar dari dalam benteng kota dan ikut menyerang pasukan kaum Yarimaya. Dengan strategi itu, diharapkan kemenangan akan menyertai mereka.

Singkat cerita, tibalah waktunya bagi pasukan kerajaan Aryawina maju mendekati medan pertempuran. Dengan langkah yang berderu, mereka segera mendatangi pasukan yang jahat itu dengan penuh semangat. Melihat itu, Raja Danhima terkejut namun tetap dengan keangkuhannya. Ia menilai bahwa pasukan itu hanya sepasukan kecil yang tak berarti bila dibandingkan dengan pasukannya. Karena itu, ia melakukan satu kesalahan. Sebagian pasukannya lalu diperintahkan untuk segera maju menghadapi pasukan terbaik pimpinan Raja Mandalaka.

Dan ketika terompet perang dibunyikan, maka terjadilah pertempuran yang sengit. Pasukan kedua belah pihak saling serang dengan gagah berani. Tak lama kemudian mulailah terdengar suara teriak kesakitan dan darah segar mengalir di atas tanah yang belum kering dari embun pagi. Meski jumlahnya lebih sedikit, Raja Mandalaka dan pasukannya berhasil membagi dua pasukan kaum Yarimaya itu. Melihat itu, sang raja langsung memberikan aba-aba agar pasukan di sayap kanan ikut menyerang pasukan kaum Yarimaya. Akibatnya Raja Danhima dan semua pasukannya terkejut dan sempat panik. Tapi lantaran mereka sudah terbiasa berperang, tak lama kemudian mereka segera membentuk barisan pasukan yang kokoh disisi kanan. Hanya saja ini justru membuat pasukan mereka semakin terpecah belah.

Nah, dalam kondisi pasukan kaum Yarimaya yang sudah terpecah menjadi tiga bagian itu, Raja Mandalaka memberikan aba-aba untuk pasukan kerajaan Winangun yang berada di balik benteng untuk segera menyerang. Hal ini jelas membuat panik dan kacau balau barisan pasukan kaum Yarimaya. Raja Danhima menjadi kalut dan segera turun langsung dalam kancah pertempuran. Namun demikian, karena mereka terlalu meremehkan pasukan Raja Mandalaka, tak banyak yang bisa mereka lakukan. Tapi sekali lagi, karena jumlah mereka yang begitu besar dan pengalaman dalam berperang yang banyak, mereka pun tak mudah untuk ditaklukkan. Pasukan kaum Yarimaya tetap bertahan dengan melakukan perlawanan yang sengit.

Waktu pun berlalu dan kini sudah saatnya bagi pasukan yang berada di sayap kiri untuk bergerak menyerang. Dibawah pimpinan seorang senopati yang perwira, pasukan dari kelompok yang ketiga itu menyerang dengan keras. Kemunculannya yang tiba-tiba membuat Raja Danhima dan pasukannya semakin terkejut. Tak pernah mereka menyangka ada satu lagi pasukan dari arah lainnya. Ini jelas membuat pasukan kaum Yarimaya terpukul dan panik. Mereka bertambah bingung dengan strategi yang seperti itu dan tak siap menghadapinya. Belum pernah mereka menghadapi pertempuran yang sangat berwarna seperti kala itu. Di dalam hati pasukannya bahkan sudah mulai dihinggapi perasaan kalah dan putus asa.

Jadi, kini pasukan kaum Yarimaya sudah dikepung dari ke empat arah mata angin. Dibarisan tengah, mereka pun sudah terbagi-bagi lantaran serangan dari Raja Mandalaka dan pasukan terbaiknya. Ini terus berlangsung selama beberapa waktu, sampai tiba saatnya Raja Mandalaka memberikan isyarat agar pasukan terakhir yang dipimpin oleh Putri Hayanisa untuk ikut menyerang. Mendapatkan aba-aba itu, Putri Hayanisa segera memimpin pasukannya untuk datang menyerang langsung ke tengah medan pertempuran. Dalam formasi yang membentuk mata tombak, mereka bergerak lincah dan terkadang meliuk dalam menyerang musuh. Sangat luarbiasa apa yang mereka pertunjukkan saat itu. Kodrat mereka sebagai seorang wanita tak menyebabkan pasukan itu lemah dan tak berarti. Mereka justru membuat kagum siapapun yang melihatnya. Serangan yang mereka lakukan saat itu seperti tak terbendung lagi. Tak jarang prajurit dari kaum Yarimaya yang mengira bahwa pasukan wanita itu berasal dari langit. Kemampuan mereka di atas rata-rata prajurit. Mereka sangat ahli dalam menggunakan pedang, tombak dan panah. Karena itu, ribuan pasukan kaum Yarimaya akhirnya tewas ditangan mereka.

Sungguh, melihat pemandangan itu siapapun akan terpukau. Dan Putri Hayanisa sendiri adalah yang paling menonjol dari semua pasukan wanita saat itu. Keahliannya membuat para kesatria menjadi iri sekaligus ngeri. Tak terkecuali Raja Mandalaka yang sejak awal terus memperhatikan sang putri dengan perasaan yang berdebar. Meskipun ia sudah mengira bahwa sang putri bukanlah orang biasa, tetap saja sang raja terpesona dengan kemampuan kesatriawati itu. Selain berparas cantik, Putri Hayanisa juga seorang perwira yang hebat. Demi negara dan bangsanya ia telah mencari bantuan sampai ke negeri lain. Dan untuk tegaknya kebenaran, ia pun rela bertaruh nyawa di medan pertempuran. Sangat jarang sosok yang seperti itu, bahkan di zaman para leluhurnya dulu.

Dan sesuai perkiraan dari Raja Mandalaka, maka serangan dari Putri Hayanisa dan pasukannya itu membuat suasana pertempuran berubah drastis. Perlahan tapi pasti, pasukan kaum Yarimaya mulai terlihat kalah. Mereka semakin tersudut oleh serangan yang datang bertubi-tubi dari segala arah yang berbeda. Mereka pun sangat kewalahan dalam menghadapi ketangguhan pasukan wanita pimpinan Putri Hayanisa itu. Setiap mereka melawan, akan dibalas dengan serangan yang mematikan. Pasukan wanita itu seperti tak bisa ditandingi lagi, dan para pria seperti hilang kejantanannya. Sampai pada saatnya mereka benar-benar terdesak dan mulai mengeluarkan pusaka dan kesaktian yang luarbiasa. Para senopati, panglima dan raja Danhima langsung menyerang dengan berbagai pusaka dan kesaktian mereka yang terkenal. Akibatnya banyak pasukan dari kubu Raja Mandalaka yang terluka dan gugur. Pertempuran pun kembali seimbang di antara kedua pasukan.

Melihat itu, para senopati dan panglima pasukan kerajaan Aryawina segera bertindak. Mereka juga mengeluarkan pusaka dan kesaktian andalannya. Maka terjadilah perang tanding yang sangat seru di tengah medan pertempuran itu. Para senopati dan panglima dari kedua kubu pasukan saling beradu kemampuan yang mengagumkan. Suasana pertempuran segera berubah, karena banyak terjadi ledakan dan kegaduhan yang tak biasa. Pada kesempatan tertentu, kedua pasukan bahkan sampai harus menghentikan pertempuran. Itu dikarenakan ada dua orang kesatria atau lebih yang sedang mengadu puncak kesaktian mereka. Rugi sekali rasanya jika tidak menyaksikannya secara langsung.

Singkat cerita, pertempuran terjadi semakin sengit. Tak ada dari mereka itu yang mau mengalah, karena lebih baik mati ketimbang kalah. Dan pertarungan di antara para kesatria, senopati dan panglima pasukan itu bahkan semakin menegangkan. Berbagai pusaka unggulan dan bermacam kesaktian telah dikeluarkan hanya untuk bisa menjatuhkan lawan. Dan setelah terjadi pertarungan yang mengerikan, satu persatu dari para kesatria itu pun akhirnya tumbang. Ada yang terluka parah, pingsan dan bahkan sampai gugur terkena ajian yang mematikan. Adapun yang paling banyak jatuh korban jiwanya saat itu berada di pihak kaum Yarimaya. Hal ini membuat hasil pertempuran semakin jelas, bahwa pihak yang lebih banyak bertahan atau hidup, adalah yang menang.

Namun hasil yang seperti itu belum menyelesaikan pertempuran. Karena sekarang tibalah saatnya bagi para raja yang harus berduel satu lawan satu. Hasil dari pertarungan itu akan menentukan hasil dari semua pertempuran yang berlangsung. Maka majulah Raja Mandalaka dan Raja Danhima ke tengah-tengah medan pertempuran. Dihadapan semua pasukan dari kedua belah kubu, mereka lalu bertarung menggunakan berbagai senjata dan ajian. Pada saat mereka sudah saling berhadapan, saat itu juga kedua pasukan membentuk lingkaran. Mereka menyaksikan kedua pemimpin mereka itu bertarung dengan cara kesatria. Dalam waktu singkat, keduanya sudah bertarung dalam level yang tinggi. Keduanya mulai mengeluarkan senjata pusaka andalannya. Bumi pun segera berguncang hebat, sementara suara dentuman demi dentuman terus berkumandang. Awalnya mereka terlihat seimbang, tapi pada akhirnya Raja Mandalaka yang lebih unggul. Setiap senjata pusaka yang dikeluarkan oleh Raja Danhima bisa dikalahkan oleh kesaktian dari pusaka milik Raja Mandalaka. Sampai pada akhirnya mereka sepakat untuk mengadu kesaktian diri. Keduanya pun mulai mengeluarkan ajian yang levelnya di atas rata-rata para kesatria yang terlibat dalam pertempuran

Ya. Kedua kesatria itu mulai mengeluarkan kesaktian yang sangat tinggi. Mereka mulai terbang kesana kemari dan mengubah-ubah wujudnya. Sesekali mereka masuk ke dalam Bumi dan saling kejar-kejaran setelahnya. Mereka juga terus-terusan mengadu ajian dari jarak jauh, yang membuat suasana di medan pertempuran semakin mencekam. Sampai pada akhirnya keduanya sepakat untuk mengadu ajian pamungkasnya. Dan dalam kesempatan itu, Raja Mandalaka lah yang menjadi pemenangnya. Raja Danhima yang terkenal sakti itu tak mampu menahan serangan dari Raja Mandalaka yang luarbiasa. Pergerakannya yang seperti kilat, tak mampu lagi diimbangi oleh kecepatan gerak Raja Danhima. Ia sangat kewalahan dengan kesaktian Raja Mandalaka. Hingga pada akhirnya, ajian Damarhita miliknya Raja Mandalaka tak bisa ditahan oleh sang raja busuk itu. Setelah terkena petir yang bertubi-tubi dari ajian Damarhita itu, Raja Danhima harus tewas. Tubuhnya melepuh dan hangus terbakar oleh sambaran petir yang mematikan. Hanya karena ia adalah sosok yang sakti, maka tubuhnya tak sampai hancur luluh.

Melihat itu, pasukan kerajaan Aryawina dan kerajaan Winangun langsung bersorak gembira dan mengelu-elukan nama Raja Mandalaka. Sosok pemuda itu memang tak bisa lagi diragukan, baik kesaktian atau pun kepemimpinannya. Namun demikian tidak sama halnya dengan pasukan kaum Yarimaya. Berdasarkan tradisi perang di masa itu, seharusnya mereka segera mengakui kemenangan pasukan Raja Mandalaka. Tapi yang terjadi justru mereka tak mau menyerah. Dengan sombongnya, mereka lantas bersiap untuk kembali berperang habis-habisan. Seorang di antara mereka langsung memimpin pasukan kaum Yarimaya dan memerintahkan mereka untuk segera menyerang pasukan Raja Mandalaka.

Dan terjadilah pertempuran yang sengit di antara kedua pasukan itu. Karena tak mau mengikuti tradisi perang yang ada dan segera mengaku kalah, tibalah saatnya bagi mereka itu (kaum Yarimaya) untuk benar-benar dihabisi. Tak ada lagi kata maaf dan ampunan bagi orang-orang yang sangat bodoh dan keras kepala ini. Dan karena mereka sebelumnya telah hidup dalam gelimang dosa dan maksiat, maka sudah saatnya pula untuk menerima hukuman yang setimpal, yaitu pemusnahan. Tidak dengan bencana alam, tetapi melalui perang yang mengerikan saat itu. Siapapun yang tak mau tunduk atau tetap saja menyerang akan segera dihabisi, dan begitulah adanya aturan perang. Sehingga inilah masa dimana kesombongan kaum yang telah ingkar itu diruntuhkan. Satu balasan yang setimpal bagi mereka karena telah lalai dalam hidup dan lupa pula pada Tuhannya sendiri.

Selanjutnya, setelah perang berakhir dengan tanpa menyisakan kaum Yarimaya – kecuali yang bertobat dan menyerahkan diri, selama 45 hari kemudian Raja Mandalaka dan pasukannya tetap tinggal di negeri Winangun. Selama itu, Putri Hayanisa berkesempatan untuk mengantar Raja Mandalaka agar lebih mengenal negeri dan penduduknya. Hari-hari yang mereka lalui akhirnya menyuburkan perasaan cinta yang sebenarnya sudah tumbuh sejak pertama kali bertemu. Baik Raja Mandalaka atau pun Putri Hayanisa ternyata sudah saling menyukai ketika mereka baru saja bertemu di istana Mur’ainun. Hanya saja, sebagaimana biasanya para pecinta sejati, mereka sangat kesulitan untuk mengungkapkan rasa cintanya. Keduanya masih malu-malu untuk berterus terang.

Namun begitu, cinta akan tetap menemukan jalannya sendiri. Di beberapa kesempatan atau dalam berbagai perjuangan, Putri Hayanisa sering berada di samping Raja Mandalaka. Ia takkan tenang jika sang pujaan hati jauh darinya, terlebih jika itu adalah pertempuran. Awalnya sang putri hanya sebatas membantu sebagai seorang senopati, tapi cinta dari keduanya tak dapat lagi dibendung. Sampai tiba saatnya Raja Mandalaka sendiri yang menyatakan perasaannya kepada Putri Hayanisa. Dan saat mereka berada di negeri Suyarama (di sekitar India selatan sekarang), saat membantu kerajaan itu dari serangan bangsa Mogasi, keduanya bahkan melangsungkan pernikahan. Pestanya baru di laksanakan setelah mereka kembali ke kota Din Amartah, di istana Mur’ainun. Sejak saat itu, Putri Hayanisa tak pernah jauh dari sisi Raja Mandalaka. Sampai akhirnya sang raja harus turun tahta dan ingin moksa, Putri Hayanisa pun ikut bersamanya. Keduanya lalu moksa secara bersamaan setelah mengasingkan diri di gunung selama dua tahun.

5. Membantu negeri yang kesusahan dan menegakkan keadilan dunia
Waktu pun berlalu setelah pertempuran di negeri Winangun. Setelah menghukum kejahatan kaum Yarimaya di medan pertempuran, selama beberapa hari kemudian Raja Mandalaka dan pasukannya segera bergerak menuju ke negeri kaum Yarimaya yang ada di sekitar Malaka sekarang. Setibanya disana, mereka tak mendapatkan perlawanan yang berarti. Oleh sebab itu, hanya dalam waktu beberapa jam mereka sudah bisa menguasai negeri itu.

Setelah berhasil menduduki negeri Yarimaya itu, Raja Mandalaka memerintahkan pasukannya untuk segera membersihkan semua simbol kemaksiatan dan kedurhakaan kaum Yarimaya kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Semua tempat yang membawa pada dosa dan kekufuran segera dihancurkan atau dialih-fungsikan. Penduduk yang tinggal disana diberi dua pilihan, kembali ke jalan yang benar atau segera angkat kaki dari negerinya. Bagi yang mau bertobat, mereka menerima perhatian dan bimbingan yang menyeluruh. Hidup mereka menjadi lebih terarah dan berarti lagi.

Selang satu bulan kemudian, Raja Mandalaka memutuskan untuk kembali ke negerinya. Semua pasukannya diperintahkan untuk segera mempersiapkan bekal perjalanan. Di negeri yang kemudian berganti nama menjadi Wiyanala itu, maka beberapa orang yang paham agama diperintahkan untuk tinggal dan mengajari kaum Yarimaya tentang jalan kebenaran. Sekitar 10.000 orang pasukan pun ditinggalkan disana untuk menjaga keamanan negeri yang baru saja ditaklukkan itu. Selebihnya harus pulang ke negerinya di Aryawina.

Setelah semuanya siap, Raja Mandalaka dan pasukannya mulai bergerak untuk kembali ke negerinya di kota Din Amartah. Namun di tengah perjalanan, Raja Mandalaka mendapatkan informasi bahwa ada satu kerajaan yang sedang dilanda kekeringan dan huru-hara. Negeri itu bernama Baltama, yang dulu berada di sekitar Jambi-Palembang sekarang. Ternyata negeri itu pernah ia kunjungi selama beberapa waktu dulu. Saat itu kerajaan ini makmur dan terpandang. Tapi karena ulah raja dan para pembesar negeri yang serakah dan zalim, negeri tersebut menerima kutukan. Sudah tiga tahun lebih hujan tak pernah turun di negeri mereka, akibatnya banyak terjadi kekacauan dan ketidakadilan. Rakyat terus menderita, sementara para pembesar negerinya asyik berfoya-foya dan selalu menindas rakyatnya sendiri. Meskipun kondisi rakyat sudah sangat menderita akibat gagal panen dan kelaparan, tetap saja para pembesar di negeri itu memungut pajak dengan cara kejam. Bagi mereka yang tak mau membayar akan diseret ke penjara, bahkan tak sedikit pula yang dibunuh dengan cara yang keji. Begitulah hari demi hari yang dilalui di negeri itu. Sangat memilukan.

Mendengar penuturan dari seorang pengembara itu, Raja Mandalaka sempat meneteskan air matanya. Ia merasa sangat kasihan dengan penduduk di negeri Baltama itu. Tapi sebaliknya ia sangat marah dengan sikap para pembesar disana. Oleh sebab itu, ia pun segera memerintahkan pasukannya untuk balik arah dan segera bergerak ke negeri Baltama. Tujuan mereka adalah untuk menghukum raja dan bawahannya itu karena sudah menzalimi rakyatnya sendiri. Bagaimana tidak, pada saat rakyatnya menderita gagal panen dan kelaparan, para raja dan pembesar kerajaan justru hidup dalam gelimang harta dan foya-foya. Bukannya bertobat dan segera mencari solusi atas bencana alam yang melanda negerinya, raja dan bawahannya itu malah semakin menindas rakyat – dengan cara memungut pajak dengan paksa. Dan lebih sadisnya lagi, bagi siapapun yang tak mau bayar pajak, maka ia akan segera di penjara atau dibunuh tanpa pengadilan. Ini sudah sangat keterlaluan, disaat katanya mereka itu (raja dan pembesar negerinya) masih mengaku sebagai orang beriman dan penganut agama Tuhan yang taat.

Tidak butuh waktu lama, maka pasukan besar itu sudah tiba di negeri Baltama. Karena mereka tahu betapa buruknya sikap pemimpin dan para pembesar di negeri itu, semua orang dalam pasukan kerajaan Aryawina itu bersemangat untuk segera berperang. Mereka benar-benar tak bisa memaafkan sikap raja dan pembesar negeri, yang seharusnya melindungi dan mengayomi rakyatnya, justru berbalik menindas bangsanya sendiri. Terlebih mereka pun tak habis pikir, bukannya sadar karena telah dilanda kekeringan – sebagai peringatan Tuhan – tapi raja dan pembesar di negeri Baltama itu justru semakin larut dalam kesenangan duniawi. Rakyat yang kesusahan, bahkan mati kelaparan tak mereka pedulikan lagi. Ini jelas-jelas tak bisa dimaafkan. Karena itu kebenaran dan keadilan harus segera ditegakkan.

Singkat cerita, hanya dalam waktu 5 jam saja Raja Mandalaka dan pasukannya bisa menaklukkan kerajaan Baltama. Raja dan para pembesarnya yang melawan harus tewas dalam pertempuran itu. Sementara bagi yang menyerah dan bersedia kembali ke jalan yang benar segera diampuni, tapi dengan syarat mereka siap membantu rakyat yang sedang kesusahan. Bagi yang sebelumnya pejabat harus bersedia bekerja bersama-sama dengan rakyat jelata. Tak ada yang boleh membangga-banggakan dirinya lagi, meskipun sebelumnya ia bangsawan yang paling terhormat.

Selang dua hari kemudian, tiba saatnya bagi Raja Mandalaka untuk mencarikan solusi bagi negeri yang sedang di landa kekeringan itu. Ia lalu mengumpulkan para petinggi pasukan untuk bermusyawarah. Apa yang seharusnya di lakukan oleh mereka untuk membebaskan negeri yang sebenarnya sangat subur itu dari kehancuran. Kekeringan telah merusak sendi-sendi kehidupan negara. Karena itu, jika tak secepatnya diatasi, maka negeri tersebut akan benar-benar hancur. Kasihan penduduk yang tinggal disana.

Dalam musyawarah itu, salah seorang dari senopati memberikan usulan. Ia berkata: “Wahai peserta sidang, sebaiknya kita mulai menggali sumur di beberapa tempat. Berusahalah semaksimal mungkin sampai menemukan sumber airnya. Tapi jika tak berhasil, maka di antara kita harus ada yang mencari petunjuk Tuhan dengan jalan ber-tapa brata atau yang sejenisnya” Usulan itu sangat bagus dan segera disetujui oleh semua orang. Dan mulai esok hari, mereka segera menggali sumur di beberapa tempat yang dirasa ada sumber airnya. Tapi setelah beberapa hari menggali, tak ada satu pun sumur yang mengeluarkan air. Mereka tak berhasil dalam usaha pertamanya itu. Karena itulah, sesuai hasil musyawarah sebelumnya, di antara mereka harus ada yang ber-tapa brata atau yang sejenisnya untuk bisa mendapatkan petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME).

Ternyata, Raja Mandalaka, panglima pasukan dan semua senopati-nya itu mengajukan dirinya. Mereka semua bersedia ber-tapa brata untuk mencari petunjuk dari Tuhan seberapa pun sulitnya. Dan hari itu juga mereka segera keluar dari kota dan masuk ke dalam hutan untuk ber-tapa brata. Kepemimpinan pasukan diserahkan kepada seorang senopati yang harus mengalah untuk tidak ikut ber-tapa.

Waktu pun berlalu selama 3 hari. Raja Mandalaka dan mereka yang mencari petunjuk masih ber-tapa brata di dalam hutan. Selama itu, semua orang belum mendapatkan petunjuk apapun kecuali Raja Mandalaka. Di sore hari yang ketiga, ia kedatangan tamu istimewa yaitu seorang utusan Tuhan yang bernama Awila AS. Sang Nabi lalu memberikan petunjuk dengan berkata: “Wahai ananda Mandalaka. Ajaklah semua pasukanmu, juga penduduk Baltama itu untuk bermunajat kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Caranya dengan banyak bersujud dan memuji-muji nama-Nya sekhitmat mungkin. Jika niat kalian tulus, maka hujan akan turun dan menyuburkan tanah”

Begitulah yang disampaikan oleh Nabi Awila AS berdasarkan wahyu yang beliau dapatkan. Selain mengatakan itu, beliau juga berpesan; “Sudah tiba waktunya bagimu (Raja Mandalaka) untuk menata ketertiban dunia. Di zaman ini, kondisi dunia sudah semakin kacau balau dan gaduh. Cahaya Ilahi kian redup dan semakin banyak saja negeri yang raja dan para pembesarnya lupa diri. Mereka sungguh sombong dan mengajak rakyatnya untuk hidup dalam kemaksiatan dan kedurhakaan. Jika ini terus dibiarkan, maka tak ada lagi harapan untuk kebaikan dunia. Kehidupan akan hancur berantakan dan tak sempat lagi memunculkan kebahagiaan. Oleh sebab itu, ini harus segera dihentikan. Sebagai seorang kesatria, kau pun harus memimpin orang-orang yang beriman untuk menegakkan keadilan. Penuhilah panggilan itu dengan jalan ketegasan, semangat dan ajakan. Dan jika mereka menolak atau bahkan memerangimu, jadilah seorang kesatria yang tangguh dan tak usah takut. Serahkan segala hasilnya kepada Tuhan”

Setelah mengatakan itu, sang Nabi memberikan sebuah kitab ilmu pengetahuan dan cincin kepemimpinan kepada Raja Mandalaka. Keduanya akan menjadi bekal sang pemuda untuk menata ketertiban dan peradaban dunia. Setelah memberikan itu, sang Nabi segera raib dari pandangan. Tak lama kemudian, Raja Mandalaka kembali ke kota Samguri (nama ibukota kerajaan Baltama). Setibanya disana ia langsung mengajak pasukan dan rakyat Baltama untuk bersujud dan lebih banyak mengangungkan Hyang Aruta (Tuhan YME). Dari hati dan mulut mereka harus keluar kalimat pujian atas nama-Nya. Semua harus di lakukan dengan tulus agar apa yang diinginkan terkabul.

Singkat cerita, setelah beberapa waktu mereka bermunajat kepada Tuhan dalam ketulusan hati, maka turunlah hujan dengan sangat derasnya. Negeri Baltama akhirnya kembali sejuk. Semuanya telah diguyur hujan yang selama ini di nanti-nantikan. Hujan pun tidak hanya turun sekali, karena selama satu bulan penuh, di setiap 3 hari sekali, maka hujan akan turun secukupnya. Oleh sebab itu tanah di negeri Baltama kembali subur, bisa langsung ditanami dan menghasilkan panenan yang berlimpah. Ini merupakan anugerah Tuhan yang harus disyukuri.

Lalu, selang tiga minggu kemudian, karena di rasa cukup, maka Raja Mandalaka segera memerintahkan pasukannya untuk kembali ke negerinya. Sebelum pergi, sang raja bersama rakyat Baltama sudah menunjuk seorang raja baru dari bangsa Baltama itu sendiri. Sementara untuk sekedar membantu pembangunan di negeri itu kembali, Raja Mandalaka memerintahkan sekitar ±1000 orang pasukannya untuk tinggal sementara disana. Di antara mereka itu ada yang memiliki keahlian khusus dalam berbagai bidang kehidupan. Itu akan sangat berguna bagi kerajaan Baltama untuk membangun negerinya. Setelah satu tahun, barulah mereka bisa kembali ke negerinya di kerajaan Aryawina.

Ya. Itulah yang terjadi, bahwa Raja Mandalaka dan pasukannya itu tak berambisi untuk menjadi penakluk kerajaan lainnya. Mereka pun tak berhasrat untuk menguasai negeri yang memang telah berhasil mereka kuasai. Raja Mandalaka dan pasukannya hanya bertugas untuk menegakkan kebenaran saja. Keadilanlah yang selalu mereka junjung tinggi. Karena itu mereka tetap menyerahkan segala urusan kepada rakyat di negeri yang bersangkutan. Bahkan mereka bersedia untuk tetap membantu selama masih dibutuhkan. Sungguh begitulah sifat seorang kesatria yang sejati.

Selanjutnya, Raja Mandalaka dan pasukannya mulai bergerak kembali ke negerinya di kota Din Amartah. Kali ini tak ada alasan bagi mereka untuk singgah di negeri lain dalam waktu lama. Mereka hanya melewati setiap wilayah dengan cara yang damai, kecuali pada daerah tertentu – setingkat desa atau kadipaten – yang terkena musibah. Di wilayah itu mereka akan singgah untuk sementara waktu agar bisa membantu menyelesaikan masalah yang ada. Dan tak pernah ada lagi pertempuran, karena semuanya bisa diatasi dengan jalan damai dan musyawarah. Sehingga karena itulah Raja Mandalaka dan pasukannya menjadi semakin terkenal dimana-mana. Mereka terkenal dengan kehebatan perangnya sekaligus sangat ahli dalam menyelesaikan berbagai masalah yang pelik dengan cara yang praktis.

6. Mendirikan kekaisaran
Sesampainya di kerajaan, Raja Mandalaka dan rakyatnya tak hanya tinggal diam. Mereka tetap membangun kejayaan negerinya dan terus meningkatkan rasa syukur kepada Tuhan. Banyak pembangunan yang mereka lakukan, baik materi dan non materi. Kehidupan ekonomi semakin berkembang, dan mereka terus berdagang sampai ke negeri-negeri yang ada di seberang lautan. Sehingga karena itu pula kehidupan di negeri Aryawina semakin makmur dan berkelimpahan. Perlahan tapi pasti, mereka akhirnya menjadi pusat peradaban dunia.

Ya. Kaum Aryawina telah hidup dalam kemakmuran dan kemuliaan. Bangsa-bangsa di dunia menaruh hormat kepada mereka. Negeri-negeri yang sebelumnya pernah mereka bantu bahkan memutuskan untuk bergabung. Semakian lama semakin banyak saja yang ikut serta dalam persatuan itu, hingga pada akhirnya, atas usulan dari semua bangsa yang bergabung, berdirilah kekaisaran yang juga bernama Aryawina. Raja Mandalaka langsung di daulat sebagai kaisarnya, sementara para raja lainnya tetap menjadi raja di negerinya masing-masing dengan merdeka. Mereka tak berkewajiban untuk membayar pajak ke pusat negara, hanya saja bila mereka memang bersedia – karena punya kelebihan harta – maka siapapun boleh memberikan sumbangan untuk keperluan khusus atau cadangan kekaisaran. Harta itu pun akan dikembalikan untuk kepentingan rakyat yang membutuhkan. Pusat negara hanya bertugas sebagai penyimpanan saja (kantor kas). Karena negeri Aryawirna sendiri sudah lebih dari cukup dalam setiap lini kehidupannya. Justru merekalah yang membantu negeri-negeri lainnya agar bisa membangkitkan kejayaan bangsanya sendiri. Kaum Aryawina hanya sebatas acuan dan kiblat peradaban yang bisa mereka tiru.

Pun, Kaisar Mandalaka pada akhirnya menerapkan sebuah konsep ketatanegaraan yang disebut dengan Mandala, atau yang berarti persatuan antar bangsa-bangsa. Konsep ini mengatur tata cara berbangsa dan bernegara yang benar. Bisa diterapkan dalam sebuah kerajaan, tapi juga bisa berlaku dalam sebuah kekaisaran atau negara kesatuan. Dan konsep ini terbukti sangat unggul dan sesuai pula dengan kultur kehidupan masyarakat di kawasan Nusantara pada saat itu. Semuanya tentu berdasarkan petunjuk dan perenungan dari sang kaisar sendiri. Beliau adalah sosok pemimpin yang sangat diharapkan.

7. Perpecahan dan keruntuhan
Raja Mandalaka di anugerahi umur yang panjang. Selama ±235 tahun ia memimpin kaum Aryawina dan kekaisarannya. Selama itu, wilayah kekaisaran Aryawina terus meluas mulai dari Histan (Bangladesh) di ujung barat sampai ke Wiljaru (pulau Sulawesi) di sebelah timur. Semua bangsa dan kerajaan di kawasan itu masuk dalam wilayah kekaisaran Aryawina. Semakin hari, kehidupan di kawasan itu semakin tertata rapi, aman dan makmur. Tidak pernah terjadi huru hara dan kemiskinan. Semua bangsa bahu membahu membangun kejayaan umat manusia.

Setelah Raja Mandalaka turun tahta dan akhirnya moksa, kepemimpinan digantikan oleh anaknya yang bernama Samhika. Ia memimpin kekaisaran selama ±153 tahun sebelum digantikan oleh anaknya yang bernama Miltanaka yang memimpin selama ±160 tahun. Setelah moksa, Miltanaka digantikan oleh anaknya yang bernama Mahilamaka yang memimpin selama ±132 tahun. Mahilamaka lalu digantikan oleh anaknya yang bernama Gariyalmaka yang memimpin selama ±125 tahun. Dan setelah Gariyalmaka turun tahta, kepemimpinan dari kekaisaran Aryawina diteruskan oleh anaknya yang bernama Hirayalmaka. Ia memimpin selama ±143 tahun.

Pada masa Kaisar Hirayalmaka (raja ke-6), terjadi perubahan besar di kekaisaran Aryawina. Karena ia memiliki tiga orang anak laki-laki, maka kekaisaran akhirnya dibagi tiga. Seorang anak perempuannya tidak mendapatkan bagian karena ia sendiri tak menginginkan itu. Hal ini lantas menjadi sumber masalah yang terjadi di kemudian hari. Meskipun sudah diperingatkan untuk tidak berselisih, akhirnya mereka bahkan berperang. Awalnya mereka bisa hidup secara damai, tapi sejak generasi yang ke tujuh mulai terjadi persaingan di antara pecahan kekaisaran Aryawina itu. Selang 35 tahun kemudian, di antara tiga kerajaan itu mulai berperang. Itu pun berlangsung cukup lama bahkan berlarut-larut tanpa ada penyelesaian. Sampai pada akhirnya mereka benar-benar hancur dan terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil seperti sebelumnya.

Kisah bermula pada saat Kaisar Hirayalmaka melihat sesuatu yang tidak baik yang akan timbul dari sikap ketiga anak laki-lakinya. Ketiganya berambisi untuk menjadi kaisar, sementara hanya satu orang saja yang berhak atas itu. Mereka selalu bersaing dalam segala hal dan ini membuat sang kaisar menjadi semakin khawatir. Ia takut kekaisaran yang telah susah payah dibangun oleh leluhurnya itu hancur berantakan karena perang saudara. Ia pun tak ingin kawasan yang telah ratusan tahun hidup dalam kedamaian dan kemakmuran itu kembali kacau balau seperti dulu. Sungguh Kaisar Hirayalmaka tak ingin itu terjadi.

Tapi siapa yang bisa melawan kehendak takdir. Seberapa pun usaha yang telah di lakukan untuk mencegah musibah itu datang, tetap saja tak berhasil. Sang kaisar hanya mampu mencoba, karena keputusan akhir tetap ada di tangan anak keturunanya nanti. Dan pada saat ia akan moksa, keputusan pun sudah dibuat. Atas dasar untuk menghindari perang saudara, kekaisaran Aryawina dibagi tiga, dengan nama masing-masing yaitu Aryakala, Aryakati dan Aryakasa. Ketiga anak laki-lakinya kemudian di lantik sebagai raja disana. Sementara karena saking sayangnya kepada kedua orang tuanya, maka satu orang anak perempuannya pun ikut moksa. Dan benar, bahwa selang dua tahun kemudian, Kaisar Hirayalmaka beserta istri dan satu anak perempuannya itu akhirnya moksa, berpindah ke dimensi lain. Tinggallah ketiga anak laki-lakinya itu memimpin bangsa-bangsa yang ada di bekas wilayah kekaisaran Aryawina.

Ada satu peristiwa yang buruk telah terjadi, tepatnya pada saat sebelum Kaisar Hirayalmaka turun tahta. Sebelum ia memutuskan untuk membagi kekaisaran, ia pernah meminta ketiga anaknya itu untuk memegang pusaka warisan leluhurnya, yaitu Kaisar Mandalaka. Tapi setelah ketiganya mencoba untuk memegangnya, maka tak ada satupun yang mampu bahkan untuk sekedar menyentuhnya. Ketiganya seperti tak berhak untuk memiliki pusaka-pusaka itu. Bahkan, tanpa dikira sebelumnya, pusaka utama dari kekaisaran Aryawina pun menghilang satu persatu, entah kemana. Sehingga dari peristiwa itu, sebenarnya terdapat isyarat bahwa akan terjadi kehancuran besar di kekaisaran Aryawina, cepat atau lambat. Sudah dekat waktunya bagi kekaisaran itu akan runtuh karena perang saudara.

Dan itu benar-benar terjadi. Di generasi yang ke tujuh setelah kekaisaran Aryawina dibagi, raja-raja di ketiga kerajaan (Aryakala, Aryakati dan Aryakasa) memutuskan untuk berperang demi menunjukkan siapa yang paling layak memimpin semua kawasan di bekas kekaisaran Aryawina. Ketiganya berambisi untuk kembali mendirikan kekaisaran tapi dengan jalan kekerasan. Dan karena tak ada yang mau mengalah, maka pertempuran besar pun terjadi. Ketiga kerajaan habis-habisan mengerahkan semua kemampuannya. Perang itu berlangsung selama 10 tahun lebih, yang menyisakan banyak kehancuran dan penderitaan. Sampai pada akhirnya ketiga rajanya terbunuh, dan wilayah kerajaan pun semakin tercerai berai.

Ya. Pertempuran selama 10 tahun itu mengakibatkan kehancuran yang luar biasa. Tatanan kehidupan di kawasan bekas kekaisaran Aryawina berantakan, sementara rakyatnya menderita kelaparan dan wabah penyakit. Dimana-mana keadaan kota menjadi hancur berantakan akibat perang dan ledakan senjata (bom, rudal, meriam) yang mereka pergunakan. Saat itu mereka sudah tidak lagi hanya mengandalkan kesaktian diri, tetapi juga sudah menggunakan teknologi yang maju. Banyak penduduk yang harus mengungsi ke negeri lain, bahkan ke belahan bumi lainnya hanya untuk bisa menyelamatkan diri. Selama ±10 tahun itu, tak ada hasil yang dicapai kecuali kehancuran dan penderitaan saja.

Dan akhirnya, kekaisaran Aryawina yang dulu terkenal hebat, kaya raya, dan memimpin dunia telah hancur berantakan. Ketiga raja yang berseteru pun tewas di medan perang. Akibatnya kerajaan-kerajaan yang terdapat di bekas kekaisaran Aryawina telah semakin terpecah belah. Mereka berdiri sendiri-sendiri lagi, seperti awalnya dulu. Sehingga di beberapa ratus tahun kemudian mereka pun saling berperang seperti dulu. Terus bermusuhan dan jarang sekali menemui kata damai. Semua terjadi karena sudah tak ada lagi kaum atau negara yang menjadi pusat peradaban mereka. Tak ada lagi pemimpin yang mendapatkan Wahyu Keprabon seperti sosok para kaisar kaum Aryawina dulu. Semua pemimpin justru larut dalam keserakahan dan angkara murka. Segala macam cara pun telah mereka halalkan demi memenuhi hasrat keinginannya itu. Sehingga yang tertinggal hanyalah kehancuran dan kekacauan dimana-mana.

8. Penutup
Wahai saudaraku. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah perjalanan hidup kekaisaran Aryawina ini. Dimana ada semangat kebangkitan, teguhnya perjuangan, dan usaha yang tekun dalam kebaikan serta rasa syukur dan tunduk kepada Tuhan. Tapi sebaliknya, kita juga bisa memetik hikmah tentang adanya kehancuran yang besar yang ditimbulkan oleh keserakahan, kesombongan, sifat iri, dan melupakan aturan Tuhan. Dan akibat dari kebodohan itu, maka sehebat apapun peradaban yang telah dibangun, maka akhirnya harus hancur berantakan. Lebih parahnya lagi bahwa kehancuran itu disebabkan oleh perang saudara yang terjadi selama bertahun-tahun.

Tapi, sudah menjadi ketetapan dari Hyang Aruta (Tuhan YME) pula bahwa kehidupan peradaban manusia itu harus silih berganti. Akan ada perputaran peradaban yang mengikuti siklus kebangkitan dan kehancurannya. Sehingga, karena itulah di kemudian hari, di beberapa ribu tahun kemudian, ada seorang keturunan dari Kaisar Mandalaka yang mampu membangkitkan kejayaan kaumnya lagi. Sosok tersebut bernama Anmahalaka. Sang pemuda adalah sosok yang hebat dan mewarisi semua pusaka milik kaum Aryawina. Lalu bersama sisa-sisa kaumnya yang masih setia pada ajaran leluhurnya, ia berhasil mendirikan kerajaan besar yang bernama Astamapura. Kerajaan itu dulu berpusat di tanah Jawa bagian barat sekarang. Disana kehidupan manusia kembali beradab dan makmur. Meskipun bukan sebuah kekaisaran yang besar, tapi banyak pula bangsa-bangsa di dunia yang berkiblat pada cara hidup mereka. Sekali lagi, kaum Aryawina menjadi guru dan acuan bagi kehidupan dunia.

Akhirnya, disini kami hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan kembali apa yang terjadi di masa lalu. Silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Kami takkan bangga atau pun merasa kecewa dengan sikap Anda, karena itu memang hak Anda sekalian. Percaya syukur, tapi kalau tidak ya silahkan. Pesan kami adalah, mari kita sama-sama untuk sadar diri, tentang siapa diri kita yang sebenarnya. Hayatilah keberadaan bangsamu dengan tetap berusaha membangkitkan kejayaannya sekali lagi. Dan bersiaplah selalu, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Apakah dunia ini akan tetap aman damai, atau justru akan hadir perang yang maha besar?

Semoga kita termasuk dalam golongan yang selamat atau pun diselamatkan. Rahayu _/|\_

Jambi, 02 Juni 2017
Harunata-Ra

Iklan

12 thoughts on “Kerajaan Aryawina: Kejayaan dan Kehancuran Leluhurku

  1. Sabarlah menunggu yang dinantikan (seorang pemuda).
    Oia mas odi tau senjata bramastra ngga?? Karena dengan senjata itu semua menjadi benderang di arena padang perang sekaligus membuat nyali ciut kesatria yang jahat karena mahadahsyatnya ajian itu.
    .
    Salam..

    1. Salam juga mas Dikydarma, terimakasih karena masih mau berkunjung.. Semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Iya semua itu ada waktunya.. Sekarang kita sedang menunggu hal itu terwujud.. Sang pemuda muncul dan menata dunia..
      Hmm.. ttg senjata Brahmastra itu saya sedikit tau mas. Kalo gak salah dulu pernah digunakan oleh para kesatria seperti yg hidup di zaman kisah Ramayana dan perang Mahabharata. Senjata itu di antara astra yg terhebat pemberian para dewa khususnya Bhatara Brahma. Biasanya berwujud panah sakti yg kekuatannya sangat menghancurkan. Jarang ada target yg bisa luput dari serangan Brahmastra ini, tapi kekurangannya senjata ini umumnya hanya bisa digunakan sekali seumur hidup, kecuali oleh orang tertentu.. Di antara para kesatria yg pernah memegang senjata ini adalah Parasurama, Sri Rama, Laksmana, Indrajit, Aswatama dan Karna. Tapi senjata ini bukanlah yg terhebat, masih ada lagi yg lebih hebat dari itu.. Misalnya Brahmandada dan Gousalkara.

      1. Ya kalo dampaknya sih bisa dibilang emang mirip bom nuklir mas, hanya saja gak sampai ada radiasinya.. Cuma hancur berantakan, luluh dan terbakar..

  2. Semakin kesini kisahnya mendekati akhir jaman Nusantara, mudah”han masih ada izin dan kesempatan untuk kisah Kerajaan Astamapura… 🙂 ada kisah baru Dewi Sanggarwani disini mereka” ini hidup di jaman periode keberapa hehe… 🙂 ….”Di zaman ini, kondisi dunia sudah semakin kacau balau dan gaduh. Cahaya Ilahi kian redup dan semakin banyak saja negeri yang raja dan para pembesarnya lupa diri.”…. pesan dari Nabi Awila AS sangat relevan — keadaan sekarang sama persis. Kalau tidak melanggar protap spt apa persiapan Ksatria yg akan memimpin pasukan perang nanti terutama tapanya… apa sama dg leluhurnya dahulu ribuan tahun mengingat sang raja kegalapan yg menjadi lawannya…🙂 kira” di negara mana yang akan memantik permulaan perangnya… 🙂. Kalau boleh tahu spt apa kisah para kaum” Kegelapan ini dg kesaktian mumpuni mereka apa ada yang mengajarkannya spt kaum kita… hehe 🙂. Hatur Nuhun kang Harun yang masih mau berbagi kisah kasih leluhur kita banyak sekali manfaat dan hikmahnya yang bisa saya serap — untuk jaman “kiwari”.
    Semoga Hyang Aruta sudi dan berkenan kepada kita — terdaftar dalam golongan yang beruntung.
    Salam.
    Rahayu _/|\_

    1. Sama”lah kang Tufail, nuhun juga karena masih mau berkunjung, moga tetap bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. Tentang kerajaan Astamapura, kita liat nanti aja ya kang, apakah diizinkan ato tidak, terlebih saya blm punya data yg lengkap ttg mereka itu, cuma ada sedikit info, itu pun karena mrk terkait dg kaum Aryawina.
      Ttg para dewa dewi, mrk itu sudah ada jauh sblm zaman keenam (Nusanta-Ra). Untuk detilnya, ada protap yg gak bisa saya langgar, maaf. Biarlah waktu yg membuktikan, ato mungkin nanti mrk sendiri (dewa dewi) yg menjelaskan ttg siapakah mrk itu yg sebenarnya…
      Ttg pesan Nabi Awila AS, sangat wajar apa yg beliau sampaikan itu relevan dg skr, secara kan beliau itu utusan Tuhan, terlebih apa yg disampaikan itu bersifat universal, berlaku sampai Hari Kiamat, terlebih kehidupan manusia itu circle, jadi akan terjadi pengulangan kisah sebanyak bbrp kali.. Keadaan kita skr ini persis dg masa lalu, khususnya saat menjelang transisi zaman.. Jadi tinggal nunggu endingnya aja neh hehe.. 🙂
      Ttg pemuda kesatria dan sepak terjangnya, saya juga gak bisa jelaskan disini, masih ada protap yg gak bisa dilanggar, terlebih beliau itu super rahasia, misteri dan tersembunyi.. Gak byk yg saya ketahui.. Hanya saja beliau itu sudah ada tapi masih merahasiakan jati dirinya. Beliau hidup di sekitar kita, namun tanpa disadari. Dan skr beliau sudah siap untuk “turun gunung” tapi masih hrs menunggu komando Hyang Aruta utk mulai bertindak. Saat itulah semua org akan terkejut.. Dan ada satu hal lagi yg bisa saya kasih tau disini yaitu ciri khas dari sosok tersebut adalah di telapak tangannya ada simbol/lambang Kala Chakra yg memancar terang, yg terbentuk secara alami. Nah jika sampeyan pernah melihatnya pada diri seorang pemuda, kemungkinan dialah orangnya, tapi pasti dia gakkan pernah mengakuinya..
      Tentang detil kaum kegelapan, saya juga gak bisa jelaskan disini kang, ada protap dan blm waktunya di share.. Entahlah kalo nanti dpt izin utk sharing di blog ini..
      Aamiin.. Semoga saja demikian kang, pengen juga sih bisa liat dan hidup di zaman yg baru nanti, di kota yg sgt indah dan megah itu.. 🙂
      Rahayu Bagio _/|\_

  3. Makin ke sini, makin penasaran dengan kisah2 nenek moyang kita di jaman dahulu kala.
    Apalagi Kang Tufail dan Mas Oedi menyebutkan tentang Ksatria yang akan memimpin pasukan perang tersebut.
    Semoga Hyang Aruta (Allah SWT) memberikan ijin agar Mas Oedi bisa terus menceritakan tentang Ksatria tersebut. Aamiin.

    1. Terima kasih mbak Nadnad karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Iya mbak, kisah leluhur kita dulu emang sgt menarik dan luar biasa.. Yg sampai ke kita selama ini umumnya hanya secuilnya aja.. Itu pun cuma yg itu melulu, di ulang-ulang dlm buku, ceramah, film dll sampe akhirnya bosan.. Hehe.. Padahal ada byk kisah yg lain, yg bahkan lebih seru..
      Tentang sang kesatria, sama mbak, saya juga sgt penasaran karena blm bertemu langsung dg beliau.. Dekat tapi jauh, jauh tapi dekat.. Sosok yg luar biasa.. 🙂
      Hmm.. kita liat nanti aja ya mbak, semua ada waktunya sendiri. Saya mah cuma bertugas menyampaikan sebatas yg diperintahkan aja.. Semoga Hyang Aruta masih mengizinkan.. 🙂

    1. Terima kasih mas Suryo atas kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. Kalo pertanyaannya terkait dg bangsa Atlantis yg dikenal skr, yg masih terus diburu, yg berasal dari tulisan Plato itu, maka kaum Aryawina ini tidak ada hubungannya sama sekali. Alasannya karena faktanya gak pernah ada bangsa Atlantis itu, itu cuma nama imajinasi bikinan Plato sendiri, karena dia tidak tahu nama sebenarnya dari bangsa itu. Dia hanya mendapatkan penggalan cerita ttg sebuah kaum yg hebat di masa lalu tanpa ada keterangan nama sebenarnya.
      Tapi kalo pertanyaannya adalah bangsa yg dimaksud oleh Plato, maka kaum Aryawina ini masih ada kaitannya meskipun keduanya terpaut wkt yg sangat lama dan beda zaman. Terlebih keduanya sama2 pernah hidup di Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s